Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 352 : Bellina yang Malang

 


“Bel, kamu ngapain di sini?” Suara Yuna terngiang-ngiang di telinga Bellina.

Bellina menyandarkan kepalanya ke dinding. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang gelap dan dingin.

“Hahaha ....akhirnya, kamu bakal dibuang dari keluarga Wijaya!”

Suara Yuna kembali terngiang di telinganya. Antara sadar dan tidak. Suara-suara dari banyak orang berkerumun di telinganya.

“Ma ... Ma ...!” Suara bayi kecil terdengar terngiang di telinga Bellina.

“Bel, hidupmu sudah berakhir, hahaha!” Tawa Yeriko terdengar menggema di dinding.

Selama tiga hari tiga malam, Bellina terus menangis di dalam gudang. Mama mertuanya tak pernah membukakan pintu untuknya, bahkan segelas air pun tak ia dapati.

Demam tinggi yang menyerang Bellina, membuatnya terus berhalusinasi. Ia selalu mimpi buruk. Semua orang  sangat bahagia melihat penderitaannya kali ini.

Tubuhnya semakin lemah. Hingga ia tersungkur di lantai. Tak lagi punya kekuatan untuk bangkit.

“Ma, tolong aku!” tuturnya lirih.

“Lian, aku cinta sama kamu ... maafin aku. Aku terlalu lelah.” Suara Bellina hampir tak terdengar lagi.

Mata Bellina semakin sayu. Wajahnya mulai membiru. Nafasnya melemah seiring dengan detak jantung yang perlahan menghilang. Terlalu lelah menghadapi semuanya dan ia hanya ingin tidur dengan tenang.

“Bellina ...!” Suara Lian terdengar jelas di telinganya.

Dalam mimpinya. Lian memeluk erat tubuhnya dan mengecupnya penuh kasih sayang.

“Li, aku sayang sama kamu,” tutur Bellina sambil menatap wajah Lian.

“Aku juga sayang sama kamu,” balas Lian.

“Maafin aku ...!”

“Aku sudah maafin kamu. Kita bisa memulainya dari awal lagi. Kita masih bisa bersama lagi. Jadi keluarga yang bahagia. Melahirkan anak-anak yang lucu. Oke!?”

Bellina mengangguk kecil. Ia menyentuh pipi Lian yang begitu dekat dengannya. Ia merindukan kehangatan yang dulu diberikan suaminya itu. Ia terus tersenyum bahagia karena suaminya telah kembali. Menyayanginya seperti dulu lagi.

Bellina terus bermimpi berada dalam pelukan Lian. Ia tidak ingin lagi terbangun dari mimpi. Menghadapi kenyataan kalau suaminya lebih memedulikan orang lain daripada dirinya.

 

...

 

Lian menatap wajahnya yang sangat kacau di depan cermin. Ia membersihkan darah yang mengalir di pelipis dan pipinya. Ia tak ingin terlihat kacau ketika kembali ke rumah. Ia membersihkan diri dalam waktu yang cukup lama. Setelah semuanya beres, ia bergegas keluar dari hotel.

Sepanjang perjalanan, Lian hanya teringat pada Bellina yang ia tinggalkan di dalam rumah keluarganya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya. Semoga, tidak ada hak buruk yang terjadi pada Bellina setelah ia pergi meninggalkan Bellina begitu saja.

Begitu sampai di rumah. Lian langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar, menyusuri semua sudut ruangan untuk mencari Bellina.

“Bel ... Bellina ...!” seru Lian. Ia bergegas keluar dari kamarnya begitu ia tak mendapati Bellina ada di sana.

Lian menuruni anak tangga sambil mencari sosok mamanya. “Ma, Bellina di mana?” tanyanya begitu mendapati mamanya sedang bersantai di halaman belakang bersama ayahnya.

“Dia di mana, Ma?” tanya Abdi sambil menoleh ke arah Mega.

Mega terlihat berpikir sejenak. Bellina jarang sekali berada di rumah. Membuatnya tidak menyadari kalau ...

“Astaga! Tiga hari yang lalu, Mama ngunci dia di gudang bawah tanah. Mama lupa.” Mega menepuk dahinya.

“Apa, Ma!? Mama tega ngunci dia di dalam gudang? Bener-bener nggak punya perasaan! Mama jauh lebih kejam dari dia!” seru Lian.

“Apa kamu bilang? Masih aja belain istri kamu yang nggak tahu diri itu? Biar dia sadar lagi berhadapan sama siapa,” sahut Mega.

Lian tak ingin berdebat. Ia langsung berlari menuju gudang bawah tanah yang ada di rumahnya.

“Bell, Bellina!” seru Lian sambil menggedor pintu.

 

Hening.

 

“Bellina ...! Ini aku. Tolong, jawab panggilanku, Bel! Kamu baik-baik aja ‘kan?” seru Lian sambil memukul pintu tersebut dengan tangannya.

“Bellina ...!” teriaknya sambil menendang pintu dengan kesal karena ia tak mempunyai kunci untuk membuka gudang tersebut. Kemudian, ia berlari mencari pelayan di rumahnya.

“Mbak, kunci gudang mana!” teriak Lian kesal.

“Sama Ibu.”

“Ma ...! Mama ...!” teriak Lian kembali mencari mamanya.

“Apa sih teriak-teriak?” sahut Mega santai.

“Kunci gudang mana!?” teriak Lian kesal.

Mega langsung mengulurkan kunci yang sudah ada di tangannya.

Lian langsung menyambar kunci dari tangan mamanya. “Mama tahu, nggak ... apa yang udah Mama lakuin ke Bellina ini termasuk tindakan kriminal. Kalau sampai terjadi apa-apa ke dia gimana!?” seru Lian kesal. Ia kembali berlari menuju gudang bawah tanah.

Lian buru-buru membuka kunci pintu gudang. Ia melihat gudang yang gelap begitu pintu itu terbuka. Lian langsung menekan saklar yang ada di sebelah pintu dan masuk ke dalam gudang tersebut.

“Bell ...!” panggil Lian sambil melangkah perlahan. Ia celingukan mencari sosok Bellina di dalam gudang tersebut.

“Bellina ...!” Lian terus mencari tubuh Bellin dan tak henti memanggil namanya.

Matanya, tak juga menemukan sosok Bellina. Ia berbalik menatap pintu gudang tersebut.

“Bellina ...!” teriak Lian saat melihat tubuh Bellina terbaring di belakang pintu tersebut. Ia langsung menghampiri dan memeluk tubuh Bellina yang dingin.

“Bel, bangun!” pinta Lian sambil menepuk-nepuk pipi Bellina.

“Bangun, Bel!” teriaknya dengan suara yang lebih kencang.

Lian memeriksa denyut nadi Bellina yang melemah. Ia melepas jaket yang ia kenakan dan menyelimuti tubuh Bellina.

“Bel ... bertahan, Bel!” pintanya sambil mengangkat tubuh Bellina dan menggendongnya keluar dari gudang tersebut.

Lian menoleh sejenak ke arah mama dan papanya yang menunggu di luar pintu. Ia membenci apa yang telah dilakukan mamanya. Ia tak ingin menghabiskan waktu untuk bertengkar. Saat ini, ia hanya ingin menyelamatkan Bellina. Ia akan sangat bersalah jika terjadi hal buruk pada Bellina.

Ada banyak orang di rumahnya, tak satu pun peduli dengan keberadaan Bellina. Membuat Lian merasa sangat sakit.

Lian langsung membawa Bellina ke mobilnya dan melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.

“Ya Tuhan ... selamatkan Bellina!” pekik Lian dalam hati. “Aku udah menyesal karena nyia-nyiain Yuna. Aku nggak mau menyesal kedua kalinya karena kehilangan orang yang sayang sama aku.”

Begitu sampai di rumah sakit. Bellina langsung dibaringkan di atas brankar dan didorong masuk ke ruang IGD.

Lian menunggu di luar dengan perasaan cemas.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang IGD dan menghampiri Lian.

“Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Lian.

“Istri Anda baik-baik saja. Untungnya dia cepat di bawa ke sini. Dia kekurangan cairan dan oksigen. Jika terlambat sedikit saja, nyawanya tidak akan tertolong. Beberapa jam lagi, dia akan sadar dan pulih seperti biasa.”

Lian mengangguk penuh bahagia. “Terima kasih banyak, Dokter!” ucapnya lega.

Dokter tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

Lian terus menunggu selama beberapa menit sampai Bellina dipindahkan ke ruang rawat pasien. Ia menyesal telah meninggalkan Bellina begitu saja. Jika ia tak kembali ke rumah secepatnya. Mungkin, nyawa Bellina tidak akan tertolong.

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 351 : Help Yourself

 


Lian melajukan mobilnya menuju salah satu rumah yang ada di kawasan perumahan Kalisari. Rumah yang pertama kali dibeli untuk ia dan Yuna empat tahun lalu. Sayangnya, rumah itu sudah berganti pemilik. Lian menjualnya karena merasa bersalah pada Yuna. Di rumah itulah, Yuna memergokinya berselingkuh dengan Bellina.

Lian menatap rumah penuh kenangan, penuh kesedihan dan penyesalan. Andai waktu bisa diulang lagi. Ia ingin kembali pada saat indah bersama Yuna. Tidak menjadi pria bodoh yang begitu mudah tergoda dengan mulut manis Bellina.

Selama beberapa jam, ia terus menyesali perbuatannya. Ia tak ingin pulang ke rumah, tak sanggup menghadapi masalah rumah tangga yang sedang ia hadapi sekarang. Ia lebih memilih mengurung diri di salah satu kamar Horizon Executive King di Sangri-La Hotel Surabaya.

“Pelayan, bawakan aku bir yang banyak!” perintah Lian.

Pelayan tersebut mengangguk. Ia menuruti semua yang diperintahkan oleh Lian. Beberapa menit kemudian, pelayan tersebut kembali dengan membawa banyak bir untuk Lian.

“Cuma segini? Tambah lagi!” perintah Lian. Ia mengambil satu botol bir dan langsung menenggaknya sampai habis.

“Lian ... Lian ... kamu itu cowok yang payah!” maki Lian pada dirinya sendiri.

“Kenapa aku harus terlahir jadi anak orang kaya? Yang aku kira tulus, ternyata semuanya palsu,” gumam Lian meratapi dirinya sendiri.

“Yang aku pikir benar, tenyata salah,” tuturnya sambil menertawakan dirinya sendiri. “Orang yang menipuku, justru orang yang paling aku percaya.”

Lian terus mengunci diri di dalam kamar hotel selama tiga hari tiga malam dan terus melampiaskan masalahnya bersama botol-botol alkohol yang mengelilinginya. Ia hanya ingin melupakan semua hal yang ia hadapi. Namun, setiap kali terbangun ... ia kembali merasa bersalah. Bersalah pada masa lalunya, bersalah pada anak yang seharusnya bisa ia cintai dan lindungi.

“Aargh ...! Goblok! Goblok! Goblok!” seru Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan. Ia masih saja menenggak bir di hari ketiga ia mengurung dirinya.

“Habis!?” tanyanya pada botol bir yang ia genggam. “Kenapa, kamu juga ikut-ikutan ninggalin aku? Kalian semua, nggak ada yang mau nemenin aku, hah!?” tanya Lian pada botol bir yang sudah berserakan di atas meja dan di lantai kamar.

“Kenapa harus habis!?” seru Lian sambil mengetuk-ngetuk botol ke atas meja. “PELAYAN ...!”

Teriakannya tak mendapat sambutan dari siapa pun. Membuat dirinya semakin kesal, semakin merasa kesepian, semakin merasa ... tak pernah ada satu orang pun yang peduli dengan dirinya.

“Aargh ...!” Lian membenturkan botol bir yang ia pegang ke kepalanya. Ia tak peduli dengan darah yang keluar di pelipisnya. Ia berharap, saat ini bisa kehilangan ingatannya. Melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi.

Di luar pintu, Chandra berusaha menggedor beberapa kali. Namun, tak mendapatkan jawaban. Lian yang menyadari seseorang datang ke kamarnya, hanya menatap pintu tersebut dan tak ingin membukanya.

“Lian ...! Li ...!” panggil Chandra sambil menggedor pintu kamar Lian.

Tak mendapatkan jawaban. Chandra langsung menelepon Yeriko. “Yer, aku udah nemuin Lian. Tapi, dia nggak mau buka pintu kamarnya.”

“Dia nggak mau buka atau nggak bisa buka?” tanya Yeriko.

“Maksud kamu?”

“Kali aja dia udah mati di dalam.”

“Nggak usah nakutin, Yer!”

“Ck, aku nggak nakutin. Udah tiga hari dia ngilang gitu aja. Ninggalin perusahaan semau dia. Kalo bukan asistennya yang telepon Yuna, aku juga nggak tahu dia menghilang.”

“Kenapa nelpon Yuna, bukannya ada istrinya?”

“Nomer Bellina juga nggak aktif.”

“Jangan-jangan, mereka di dalam berduaan,” celetuk Chandra. “Kamu yang bener aja, aku suruh gedorin kamar orang yang lagi enak-enak di dalam.”

“Chan, kamu pinter dikit!”

“Hah!?”

“Kamu udah cek tanggal dia check-in kamar?”

“Udah.”

“Cek di CCTV. Dia masuk sama siapa?”

Chandra menepuk dahinya. “Oke.” Ia langsung mematikan panggilan telepon dan meminta akses pada pihak hotel untuk memeriksa CCTV.

Selama beberapa menit, ia memerhatikan kalau Lian tak pernah keluar dari kamar itu selama tiga hari tiga malam. Tak ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan tersebut selain pelayan yang mengantarkan beberapa botol bir.

“Goblok banget ini anak!” umpat Chandra sambil melangkah keluar dari ruang CCTV sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

“Yer, Yer ... Lian sendirian di dalam. Kayaknya emang mau mati tuh anak. Soal Belli, aku nggak tahu keberadaannya.”

“Kata pamannya Yuna, dia ada di keluarga Wijaya. Pasti baik-baik aja.”

“Oke.” Chandra langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia meminta salah satu petugas hotel untuk membuka kamar yang ditinggali oleh Lian.

Chandra langsung masuk ke dalam kamar. Menyalakan lampu ruangan tersebut dan membuka tirai jendela yang mengarah ke luar.

Lian memicingkan mata saat mendapati cahaya menerpa dirinya. “Kamu siapa?” tanyanya sambil melihat tubuh Chandra dalam bayangan cahaya.

“Kamu ngapain di sini? Udah bosen hidup?” tanya Chandra balik.

“Bukan urusan kamu!”

“Baguslah. Cepet mati lebih baik. Hidupmu nggak berguna juga. Pantes aja Yuna nggak mau sama kamu. Cowok payah!”

Lian langsung menatap tajam ke arah Chandra. Matanya berapi-api dan pundaknya naik turun tak terkendali. Ia mengepal tangan kuat-kuat, tanpa pikir panjang langsung melayangkan kepalan tangannya ke wajah Chandra.

Chandra dengan santai menangkap kepalan tangan Lian. Ia tersenyum sinis sambil menatap tangan Lian. “Kamu selemah ini? Loser!” ucapnya sambil mendorong tubuh Lian hingga tersungkur ke sofa.

“Bangsat, kamu!” Lian kembali menyerang Chandra.

Chandra berusaha bertahan dari serangan Lian. Ia mendorong tubuh Lian dan langsung menghantam wajah Lian dengan satu pukulan.

“Kalo kamu nggak bisa nolong diri kamu sendiri. Gimana mau nolong orang yang kamu sayangi, hah!?” sentak Chandra sambil melayangkan kembali pukulannya ke wajah Lian.

Lian terduduk lemas di lantai. Ia tak lagi menyerang Chandra. Hidupnya, memang sangat payah. Chandra benar, tak seharusnya ia bersikap seperti ini.

“Kamu nggak pernah mikir berapa banyak orang yang khawatir sama kamu? Kamu ninggalin perusahaan gitu aja! Ada berapa banyak karyawan yang bergantung hidup sama perusahaan kamu, hah!?” seru Chandra.

Lian menutup matanya. Ia tak bisa menahan kesedihannya lagi. “Aku  udah gagal, Chan!” seru Lian sambil menangis. “Aku bener-bener nggak berguna!” lanjutnya sambil memukuli kepalanya sendiri.

“Daripada kamu kayak gini, mending kamu mati aja!” tutur Chandra sambil menatap Lian yang terduduk lemas di lantai.

Lian menengadahkan kepalanya menatap Chandra. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Kamu pikirin aja sendiri!” sahut Chandra kesal. “Kamu pikir, cuma kamu satu-satunya orang yang punya masalah hidup? Di luar sana, banyak orang yang hidupnya lebih susah. Cuma masalah keluarga kamu aja nggak bisa survive. Apalagi kamu harus menyelesaikan banyak masalah keluarga di perusahaan kamu. Pikirin! Ada berapa banyak keluarga yang bergantung sama perusahaan kamu. Jangan semaunya sendiri!”

Lian menundukkan kepala. Ia tak bisa menyangkal kalimat yang terucap dari mulut Chandra.

“Buruan selamatkan istri kamu! Bisa jadi, dia dalam bahaya di keluarga kamu sendiri. Sudah tiga hari ini juga, nomornya nggak bisa dihubungi.”

Lian langsung menatap wajah Chandra. Ia sangat mengerti bagaimana perangai ibunya. Ia bangkit dari lantai. Mengusap darah yang keluar dari pelipisnya.

“Jadi cowok, ngerepotin banget!” sentak Chandra. Ia langsung pergi meninggalkan kamar tersebut.

Chandra masih tidak mengerti kenapa Lian harus melampiaskan permasalahannya dengan alkohol hingga separah itu. Lebih tidak mengerti lagi ... Yeriko memintanya untuk membujuk Lian.

“Punya rencana apa lagi si Yeri ini, udah tahu Lian itu musuhnya. Kenapa masih ditolongin? Mati aja di dalam sana! Nggak ada yang ganggu lagi,” gerutu Chandra. Ia bergegas keluar dari hotel dan melaporkan keadaan Lian kepada Yeriko.

 

((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 350 : Give Me Your Pardon

 


Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Lian bisa melihat Lamborghini Biru masuk ke pekarangan rumah Yeriko. Ia bisa melihat Yuna turun dari mobil tersebut, disambut dengan pelukan hangat dari Yeriko yang sudah menunggu di luar pintu.

Kemesraan kedua insan itu, membuat dada Lian semakin sesak. Andai ia bukanlah pria yang bodoh. Mungkin, saat ini dialah yang berada di samping Yuna dan menjadi pria yang paling bahagia di dunia.

Dengan cepat, Lian melangkahkan kakinya menghampiri Yuna dan Yeriko yang baru saja ingin melangkah masuk ke rumahnya.

“Yuna ...!” panggil Lian sambil menatap dua punggung yang kini sudah ada di hadapannya.

Yuna dan Yeriko langsung berbalik bersamaan.

“Lian? Ngapain malam-malam gini ada di sini?” tanya Yuna.

“Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu.”

“Oh ya? Apa?” tanya Yuna.

Lian menatap wajah Yeriko. “Aku bisa ngobrol sama Yuna? Sebentar aja!” pintanya.

Yeriko mengangguk. Ia ingin pergi, namun tangan Yuna sengaja menahan lengan Yeriko.

“Nggak usah pergi!” pinta Yuna.

Yeriko menaikkan kedua alisnya sambil menoleh ke arah Lian.

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia kini menyadari kalau Yuna dan Yeriko memiliki cinta yang begitu kuat, tidak mudah untuk dipisahkan. “Oke. Kamu juga mau suami kamu tahu kan?” tanya Lian.

Yuna menganggukkan kepala.

Lian menatap wajah Yeriko. “Rekaman itu ... sudah sampai ke tangan keluargaku.”

Yeriko mengangkat kedua alis sambil tersenyum sinis. “Terus?”

“Kamu udah tahu dari awal, apa yang sudah dilakukan Bellina selama ini?”

Yeriko mengangguk.

“Kenapa nggak pernah peringatin aku sebelumnya? Kamu membiarkan dia terus terjerumus dalam kejahatan dia?” tanya Lian sambil menatap wajah Yeriko.

Yeriko balas menatap Lian dingin. “Dia istri kamu, apa hubungannya sama aku?” tanya Yeriko balik.

“Jelas ada hubungannya. Kamu tahu semuanya. Tapi malah bersikap seolah nggak pernah terjadi apa-apa!” seru Lian.

Yuna memandang Lian dan Yeriko bergantian. “Ini sebenarnya ada apa?” tanya Yuna.

“Oh, jadi kamu juga nggak tahu kalau selama ini Yeriko menyelidiki bahkan mengawasi Bellina selama dua puluh empat jam?” tanya Lian.

Yuna mengernyitkan dahi. “Oh, soal rekaman Bellina? Aku nggak perlu tahu sedetail itu. Aku percaya sama suamiku.”

Lian menarik napas dalam-dalam. “Jadi, kamu juga udah tahu semua kejahatan Bellina selama ini?”

Yuna menganggukkan kepala. “Dia menargetkan aku, gimana aku nggak tahu.”

Mata Lian memanas. Ia menahan air matanya untuk jatuh. Ia tidak ingin terlihat konyol di depan Yuna. Hanya saja, kenyataan sudah membuatnya menjadi pria yang sangat bodoh dan konyol.

“Aku nggak nyangka. Aku cuma jadi bahan lelucon di depan kalian semua. Cuma aku sendiri yang nggak tahu gimana Bellina sebenarnya? Padahal aku ini suaminya,” tutur Lian lirih. Ia merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri.

“Li, lebih baik kamu urus lagi istrimu itu dengan baik!” pinta Yeriko. “Aku tahu, kamu pasti bisa merubah dia menjadi lebih baik lagi. Aku cuma berusaha melindungi istriku. Aku juga nggak mau melukai orang lain yang tidak bersalah. Jangan biarkan dia terus-menerus melukai Yuna! Selama dia masih ganggu istriku, aku pasti akan terus melawan dia.”

Lian meratap menatap wajah Yeriko. Tubuhnya semakin lemas hingga lututnya merosot ke tanah. Matanya menengadah menatap Yuna yang berdiri di hadapannya.

“Maafin aku, Yun! Semua ini salahku,” tuturnya lirih.

Yuna tersenyum menatap Lian. “Aku udah maafin kamu, Li. Lebih baik, kamu tolong hidup Bellina sebelum dia terperosok lebih dalam lagi!”

Lian menatap wajah Yuna yang acuh tak acuh terhadapnya. Tangan Yuna menggenggam erat tangan Yeriko. Membuatnya menyadari kalau kini, Yuna sudah ada dalam genggaman orang lain dan ia tak punya kesempatan mengajaknya kembali.

“Kenapa kamu masih bersikap baik sama dia?” tanya Lian.

“Dia?”

Lian menganggukkan kepala. “Belli sudah melakukan banyak kejahatan ke kamu. Kenapa kamu masih baik sama dia?”

Yuna tersenyum sinis. “Aku nggak pernah berbaik hati sama dia. Aku cuma nggak mau balas apa yang udah dia lakuin ke aku, karena aku benci sama dia. Aku benci semua hal yang udah dia lakukan ke aku dan aku nggak mau ngelakuin hal yang sama seperti dia.”

Kebaikan hati Yuna, justru membuat perasaan Lian semakin sakit. “Apa yang harus aku lakuin buat menebus semua ini?”

“Aku nggak butuh penebusan apa pun dari kamu,” jawab Yuna dingin.

“Lebih baik, kamu urus istri kamu itu, Li. Bahagiakan dia supaya dia nggak perlu iri melihat kebahagiaan orang lain.” Yeriko ikut menambahkan.

Lian menatap wajah kedua orang yang di hadapannya dengan perasaan yang tak karuan. Ia bangkit perlahan dari tanah saat menyadari kalau Yuna dan Yeriko memiliki cinta yang begitu kuat. Saling mendukung, saling menghargai, saling mencintai dan melindungi. Cinta yang membuat seisi dunia menginginkannya.

“Maafin aku, Yun!” Lian berusaha mendekat untuk meraih tangan Yuna.

Yuna langsung mengeratkan genggaman tangan Yeriko, tak punya keinginan untuk menyambut tangan Lian.

Lian menatap tangan Yuna yang berada dalam pelukan tangan Yeriko. Kemudian, ia menatap tangannya sendiri dan tersenyum payah. Ia kini menyerah untuk meraih kembali tangan Yuna yang begitu kuat menggenggam tangan Yeriko.

“Semoga, hidup kalian selalu bahagia,” tutur Lian lirih sambil menurunkan tangannya. Ia berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan Yuna dan Yeriko.

Yuna menarik napas menatap kepergian Lian. Sungguh, ia tidak tega melihat wajah Lian yang begitu menderita. Ia pernah mencintai pria itu, pernah bermimpi bersamanya. Namun, rasa sakit yang diciptakan Lian di hatinya terlalu dalam. Ia memilih untuk tidak peduli daripada harus lelah membenci.

Yeriko bisa menangkap kebimbangan yang ada dalam diri Yuna. Walau bagaimanapun, Lian pernah menjadi orang yang menemani Yuna melewati hari-hari sulitnya selama bertahun-tahun. Ia bukanlah orang yang tak mengerti balas budi. Ia hanya ingin, Lian juga bisa hidup bahagia dengan keluarganya dan menyadari dengan sendirinya, kalau Yuna tak akan pernah kembali ke pelukannya.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang masih terpaku.

“Eh!? Nggak papa. Cuma kasihan aja lihat dia.”

Yeriko tersenyum sambil mengelus pundak Yuna. “Semua akan baik-baik aja. Dia laki-laki.”

Yuna menatap wajah Yeriko. “Kamu nggak cemburu, kan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku percaya sama kamu.”

Yuna tersenyum, ia langsung memeluk tubuh Yeriko. “Aku udah nggak cinta sama Lian. Aku cuma kasihan sama dia. Bellina yang melakukan kesalahan, tapi dia yang menderita seperti ini.”

Yeriko mengelus lembut rambut Yuna sambil mengecup kepalanya. “Semoga ini bisa jadi pelajaran buat dia. Dia bisa lebih memperdulikan istrinya. Sebenarnya, dia pria yang bertanggung jawab. Sayangnya, harus jatuh ke tangan wanita yang salah.”

Yuna menganggukkan kepala. “Semoga, dia juga bisa membawa Bellina menjadi perempuan yang baik dan tidak melakukan kejahatan lagi.”

Yeriko mengangguk setuju. Ia tersenyum sinis, ia tidak ingin siapa pun mengganggu istrinya, termasuk saudaranya sendiri. Apa yang dia inginkan, selalu bertolak belakang dengan kebaikan dan kemurahan hati istrinya.

Yeriko mengeratkan pelukannya sambil mengendus tengkuk Yuna. Ia memejamkan mata seraya berdoa. Berharap dirinya juga tidak melakukan kejahatan untuk menghadapi orang-orang yang telah mengganggu ketenangan istrinya.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 349 : Past Regrets

 


Bellina terus menangis di depan rumah. Ia benar-benar menyesali semua yang telah ia lakukan selama ini. Setiap mengingat raut kecewa yang tergambar di wajah Lian, membuatnya semakin bersedih. Ia tak bisa lagi mengembalikan keadaan, juga tak mampu menghadapi kenyataan.

“Kamu udah menyesali perbuatanmu?” tanya Mega sambil menatap tubuh Bellina.

Bellina langsung memutar kepalanya. “Ma, maafin aku! Aku nggak bermaksud melakukan ini semua. Aku beneran sayang sama Lian.”

Mega tersenyum sinis. “Apa pun yang keluar dari mulut kamu. Aku udah nggak percaya lagi. Apalagi, kamu berani memainkan perasaan anakku. Dua puluh lima tahun, sejak kecil akh sudah menyayangi dan membahagiakan dia. Kamu, belum genap setahun masuk ke dalam keluarga ini, sudah berani mempermainkan dan membohongi anakku. Kamu pikir, aku bisa terima ini semua!?”

Bellina semakin terisak mendengar ucapan Mega.

“Mbak, bawa dia masuk!” perintah Mega pada pelayan yang sudah berdiri di sampingnya.

“Baik, Nyonya.” Pelayan tersebut mengangguk dan menghampiri  Bellina.

Bellina tak melawan sedikit pun. Ia hanya menuruti saja keinginan Mama mertuanya itu.

“Ikuti saya!” perintah Mega. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia menuruni anak tangga, menuju gudang bawah tanah yang ada di rumahnya.

“Masuk!” perintah Mega sambil mendorong tubuh Bellina masuk ke dalam gudang tersebut.

“Ma, jangan lakuin ini ke aku!” pinta Bellina. Ia berharap kalau mama mertuanya bisa melepaskan dirinya.

“Kamu renungi semua perbuatan kamu di dalam sana!” seru Mega. Ia langsung menutup pintu  tersebut dan menguncinya.

“Ma, aku nggak mau tinggal di sini!” teriak Bellina sambil menggedor pintu dari dalam.

Mega tak menyahut teriakan Bellina. Ia langsung melangkah pergi. “Nggak ada yang boleh bukain pintu itu kecuali saya yang merintah!” tegasnya pada pelayan.

“Baik, Nyonya!”

Mega tersenyum penuh kemenangan. “Rasain! Siapa suruh mainin anakku? Kamu pikir, aku nggak bisa menghukum kamu!?” gerutu Mega sambil berlalu pergi meninggalkan Bellina di dalam gudang seorang diri.

Bellina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia semakin sedih karena harus terkurung di dalam gudang bawah tanah yang gelap dan lembab. Seharusnya, ada lampu yang menerangi ruangan tersebut. Namun, hanya bisa dinyalakan dari luar ruangan.

“Li, aku beneran cinta sama kamu. Aku kayak gini karena aku cinta sama kamu. Apa selama ini kamu bener-bener nggak pernah ngerasain itu?” tanya Bellina lirih. Ia meringkuk di sisi pintu sambil menangis.

Rasa iri dan dengki telah membuat hidup Bellina semakin berantakan. Ia tak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang dimiliki oleh orang lain, justru malah kehilangan kebahagiaan yang telah ia miliki. Jika ia lebih bersyukur atas apa yang sudah ia miliki, tak perlu iri dengan kebahagiaan saudaranya, dia pasti bisa menjalani kehidupan dengan bahagia.

 

Di tempat lain ...

Lian merasa sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan oleh istrinya selama ini. Ia tak menyangka kalau Bellina bisa sekejam itu. Mencelakai sepupunya sendiri, bahkan sampai membunuh anak darah dagingnya sendiri.

Saat ini, tak ada hal lain yang ingin dilakukan Lian selain meminta maaf pada Ayuna. Gadis kecil yang dahulu kerap mendukungnya, melewati banyak hal sulit bersama.

“Li, aku dapet peringkat satu lagi!” seru Yuna tertawa ceria dalam balutan seragam putih abu-abu.

“Li, aku masih di perpustakaan. Aku akan kerja keras dapetin nilai yang baik. Supaya, bisa berjuang bareng kamu mengembangkan perusahaan orang tua kita!” seru Yuna dalam panggilan video saat ia masih aktif menjadi mahasiswi di Melbourne University.

“Li, kamu jangan takut! Semua pasti bisa kamu hadapi dengan baik. Aku akan selalu mendukung kamu!” seru Yuna saat Lian baru saja masuk ke perusahaan milik ayahnya dan harus menghadapi banyak hal.

Bayang-bayang wajah ceria Yuna di masa lalu, membuat Lian semakin terluka. Tanpa rasa bersalah, ia justru mengkhianati gadis yang dengan tulus mencintai dan selalu mendukungnya dari jauh.

Lian terus menatap rumah Yeriko dari kejauhan. Rumah yang kini menjadi tempat Yuna merajut bahagia bersama suaminya.

“Aargh ...!” Lian memukul setir mobil dan membentur-benturkan kepalanya. Air matanya jatuh berderai. Menyesali semua hal yang telah ia sia-siakan selama ini.

“Aku bodoh banget! Aku bodoh banget! Kenapa aku bisa tertipu sama kebaikan Bellina yang palsu. Sementara, di belakangku ... dia selalu berusaha untuk menyakiti kamu, Yuna.”

“Harusnya, saat itu ... akulah yang melindungi kamu dari mereka. Bukannya ikut menyakiti hati kamu. Apa kamu mau maafin aku setelah apa yang aku lakukan? Setelah apa yang Bellina perbuat ke kamu?”

Lian tak henti-hentinya memaki dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia bukan hanya menyesal telah mengkhianati cinta Yuna. Tapi juga menyesal karena telah membuat istrinya melakukan banyak kejahatan terhadap Yuna. Sementara, Yuna dengan besar hati menerimanya. Tak pernah membalas kekejaman yang dilakukan oleh istrinya.

Semua hal yang dilakukan Bellina di belakangnya, membuat rasa bersalahnya terhadap Yuna menjadi semakin besar, jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia benar-benar menjadi seorang suami yang gagal. Tak mampu membuat istrinya bahagia. Tak bisa menjaga rumah tangganya tetap harmonis.

Lian terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan Yuna kembali. Hingga ia lupa, ia sudah memiliki keluarga yang seharusnya ia jaga dengan baik, ia cintai sepenuh hati.

“Yun, apa kamu sudah bener-bener bahagia di sana?” tanya Lian lirih. Ia terus menatap rumah Yeriko dari kejauhan.

Lian berusaha menenangkan hatinya. Ia melepas safety belt yang mengikat pinggangnya. Mengumpulkan banyak kekuatan untuk menghadapi Yuna dan Yeriko. Ia hanya ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukan istrinya selama ini. Ia tidak ingin, hidupnya selalu diselimuti rasa bersalah kepada Yuna.

Perlahan, Lian keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah Yeriko.

“Maaf, Mas! Cari siapa?” tanya pria yang berjaga di depan pintu gerbang rumah Yeriko.

“Ayuna dan Yeriko ada di rumah?” tanya Lian.

“Maaf, Pak Yeri dan Bu Yuna sedang keluar.”

“Ke mana ya?”

“Saya tidak tahu.”

“Oh.” Lian sedikit kecewa. Matanya kemudian tertuju pada sosok wanita setengah baya yang kebetulan keluar dari pintu rumah Yeriko dan melangkah menuju pintu gerbang.

“Bi ...!” panggil Lian.

“Eh, Mas Lian. Tumben, malam-malam gini ke sini. Ada apa ya?” tanya Bibi War.

“Yuna sama Yeriko ke mana, Bi?” tanya Lian.

Bibi War mencoba mengingat-ingat. “Mereka sudah keluar sejak sore tadi. Mungkin, ke rumah orang tuanya.”

“Kira-kira, mereka pulang jam berapa ya, Bi?” tanya Lian lagi. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam.

“Wah, Bibi juga kurang tahu. Kadang, pulang sampai malam. Bisa juga menginap di rumah orang tuanya.”

“Oh, gitu ya, Bi?”

Bibi War menganggukkan kepala.

“Mmh ... kalau mereka pulang. Tolong sampaikan kalau aku nyari mereka ya, Bi.”

Bibi War menganggukkan kepala. Ia membuka pintu gerbang tersebut perlahan dan mengangkat kembali kantong sampah yang ingin ia buang ke luar.

Lian masih berdiri di depan pintu gerbang tersebut. Ia berharap, Yuna dan Yeriko bisa kembali ke rumah malam ini juga.

“Mas, mau nungguin mereka balik?” tanya Bibi War sambil menatap wajah Lian.

Lian menganggukkan kepala.

“Mau masuk dulu?”

“Eh, nggak usah, Bi. Aku tunggu di mobil aja,” jawab Lian sambil menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri.

“Baiklah. Bibi masuk dulu, ya!”

Lian menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan menuju mobilnya kembali. Sementara, Bibi War masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu gerbang rumah tersebut terbuka begitu saja. Sebab ia tahu kalau kehadiran Lian bukanlah suatu ancaman.

Lian terus menatap arloji di tangannya. Setiap detik yang berdetak, membuatnya berharap kalau Yeriko dan Yuna akan segera kembali ke rumah tersebut.

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 348 : Lian's Regret

 


“Bel, kami mau dengar pengakuan kamu. Apa yang sebenarnya terjadi selama ini?” tanya Abdi sambil menatap Bellina.

“Ma, Pa ... aku beneran nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Bellina lirih.

“Kamu masih nggak mau mengakui kesalahan kamu selama ini?” tanya Mega.

Bellina menggeleng perlahan. “Aku nggak tahu, maksud Mama apa.”

Mega tersenyum sinis. Ia memutar rekaman pembicaraan antara Melan dan Bellina.

“Bel, kamu harus berhasil masuk ke keluarga Wijaya. Hanya ini satu-satunya cara untuk menguasai harta mereka.” Terdengar jelas suara Melan di dalam alat rekaman tersebut.

“Tenang aja, Ma. Aku pasti lakuin apa yang Mama mau. Aku pasti bisa masuk ke keluarga mereka dengan mudah ...”

....

Bellina membelalakkan mata mendengar suara rekaman tersebut. “Itu bukan aku, Ma! Rekaman itu pasti palsu!” serunya.

“Jelas-jelas ini suara kamu dan Melan. Kamu masih mau ngelak lagi?”

“Ma, ini nggak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku menikah karena aku sayang sama Lian. Bukan karena uang. Aku nggak pernah ngomong kayak gini. Rekaman ini pasti palsu. Yeriko, pasti sengaja bikin ini semua buat balas dendam.”

“Kamu tahu dari mana kalau rekaman ini dari Yeriko?” tanya Lian.

Bellina langsung gelagapan. Bukankah semua paketan yang dikirim Yeriko bukan atas nama Yeriko sendiri? Bagaimana bisa ia keceplosan menyebut nama Yeriko.

“Bel, lebih baik kamu jujur. Aku akan maafin kamu kalau kamu mau mengakui kesalahan kamu,” tutur Lian.

“Aku beneran nggak ngelakuin itu semua.”

“Istri kamu ini benar-benar penjahat!” tutur Mega. “Dia bahkan sengaja membunuh anak kamu!” seru Mega sambil menatap Lian.

Lian membelalakkan matanya. Ia langsung menatap wajah Bellina. “Bener, Bel?”

Bellina menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ngelakuin itu, Li. Semua ini nggak bener!” seru Bellina dengan mata berkaca-kaca.

“Li, kamu udah dibohongi sama perempuan ini!” seru Mega.

“Ma, aku nggak bohong. Aku beneran tulus cinta sama Lian.”

“Kalau kamu tulus sama anak saya, kenapa masih aja kegatelan ngelirik laki-laki lain?”

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak, Ma. Aku nggak ada suka sama cowok lain.”

“Halah, alasan! Kamu bunuh anak kamu sendiri, pasti karena kamu simpan laki-laki lain. Kamu ngincar laki-laki yang lebih kaya dari anak saya?”

“Ma, Mama jangan termakan omongan orang lagi. Tuduhan Mama ini nggak berdasar. Bellina nggak mungkin bunuhnya sendiri,” sahut Lian.

“Oh ....kamu masih nggak percaya sama Mama? Kamu mau buktinya?” Mega langsung menyodorkan sebuah tablet yang dikirim oleh Yeriko dan memutar semua rekaman kejahatan Bellina. Bellina yang sengaja mencelakai dirinya dan bayinya untuk memfitnah Yuna. Juga tentang penyerangan yang ia lakukan lewat internet.

Bellina tercengang karena Yeriko benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak tahu sejak kapan Yeriko mulai menyelidiki tentang dirinya. Bahkan, ia yang sengaja menyiksa dokter Heru pun ada dalam rekaman tersebut.

“Ma, ini nggak sama dengan apa yang terjadi. Aku udah difitnah. Yeriko pasti udah sengaja malsukan rekaman-rekaman ini.” Bellina bersikeras tak mau mengakui perbuatannya.

“Bel ...!” sentak Lian. “Kamu tahu kalau ini semua Yeriko yang ngirim?”

Bellina menganggukkan kepala.

“Jadi, selama ini dia tahu apa yang kamu lakukan di belakang aku? Yeriko sama Yuna masih bersikap baik sama kamu, Bel. Aku nggak tahu iblis apa yang sudah masuk dalam tubuh kamu ini. Tega-teganya kamu mencelakai Yuna terus meneru, juga membunuh anak kita!” seru Lian kesal. Ia tak menyangka kalau Bellina telah membohongi dan mengkhianatinya selama ini.

“Li, aku nggak bunuh anak kita. Semua ini nggak sengaja. Aku nggak mungkin bunuh anak aku sendiri,” sahut Bellina dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana meyakinkan Lian kalau sebenarnya, ia juga tak sengaja melakukan itu semua.

“Bel, lebih baik kamu jujur sama aku. Apa aja yang udah kamu lakuin di belakang aku? Kamu punya rencana jahat apa lagi?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala sambil menangis. “Nggak ada, Li. Aku nggak ngerencanain apa pun. Please, kamu percaya sama aku!”

Mata Lian memerah. Ia sangat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bellina di belakangnya. Membuatnya meninggalkan seorang wanita sebaik Yuna dan terus-menerus mempercayai kebohongan Bellina.

“Aku nggak nyangka kalau kamu tega ngelakuin ini semua, Bel.” Lian menggeleng-gelengkan kepala sambil meneteskan air mata. “Aku pikir, selama ini kamu tulus sayang sama aku. Aku pikir, nggak ada satu hal pun yang kamu sembunyikan dari aku.”

“Aku tulus sayang sama kamu, Li. Rekaman itu nggak bener.” Bellina meraih lengan Lian.

Lian langsung menepiskan tangan Bellina. Ia merasa sangat bodoh karena selama ini telah dipermainkan oleh Bellina. Ia juga dengan mudah termakan rayuan dan mempercayai ucapan Bellina begitu saja.

“Kamu masih bilang tulus sama aku? Kalau kamu tulus, kenapa kamu bunuh anak kita!?” seru Lian makin histeris.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak bunuh anak kita. Yuna yang udah bikin anak kita terbunuh,” jelas Bellina sambil menangis.

“Kamu masih nyalahin Yuna? Jelas-jelas, semua ini karena sikap kamu sendiri! Kalau aja kamu bisa bersikap baik sama Yuna. Semuanya nggak akan jadi seperti ini!” sahut Lian.

Bellina menggelengkan kepala sambil menangis. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya di depan keluarga Lian. Ia tidak ingin Lian membencinya. Namun, ia juga tidak punya kekuatan untuk membela dirinya sendiri.

“Aargh ...!” teriak Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Di saat ia baru saja ingin belajar menerima Bellina. Ia malah mengetahui sebuah kenyataan kejam ini. “Aku selalu belain kamu, karena aku pikir kamu jauh lebih baik dari Yuna. Jadi, selama ini kamu bohongin aku? Kamu bilang kalau Yuna nggak beneran cinta sama aku. Cuma suka sama harta yang aku punya. Ternyata, justru kamu yang menikah sama aku karena harta.”

“Nggak gitu, Li. Aku beneran cinta sama kamu. Kamu harus percaya sama aku! Aku nggak mungkin menghianati kamu.”

“Terus, kenapa kamu bunuh anak kita?” tanya Lian. Mata merahnya menatap Bellina, menuntut pertanggungjawaban.

Bellina terdiam. Mulutnya tak sanggup mengatakan apa pun. Hanya air matanya yang berderai. Semua kalimat yang ingin ia ungkapkan hanya mampu sampai ke tenggorokan. Tak punya kekuatan untuk keluar dari bibirnya.

“Bahkan dokter pun mengatakan kalau kamu ibu yang sangat kejam,” tutur Mega.

“Nggak, Ma. Aku nggak sengaja bunuh anak aku,” tutur Bellina sambil menangis.

“Nggak sengaja?” Lian menatap tajam ke arah Bellina. “Apa itu artinya kamu memang membunuh dia? Sengaja atau enggak, membunuh tetaplah membunuh!” seru Lian. Ia bangkit dari sofa dan melangkah pergi.

“Li, dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina sambil mengejar Lian.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan, Bel. Lebih baik, kamu introspeksi diri kamu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan selama ini, benar-benar membuat aku kecewa.” Lian terus melangkah pergi meninggalkan Bellina.

“Li, semua ini nggak seperti yang kamu pikir. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku rela ngelakuin apa pun untuk menebus ini semua. Please, jangan tinggalin aku!” pinta Bellina terus mengejar langkah Lian.

Lian tak peduli lagi. Ia mempercepat langkah kakinya dan segera masuk ke dalam mobil.

“Li,. Lian ...!” seru Bellina sambil mengetuk kaca mobil Lian. “Buka pintunya, Li. Dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina.

Lian tetap saja tak ingin mendengarkan apa pun. Baginya, kenyataan yang ia terima hari ini terlalu pahit. Ia ingin menenangkan hatinya. Lari dari rasa bersalah pada masa lalu yang semakin hari semakin dalam.

Bellina terduduk lemas di pekarangan rumah begitu mobil Lian benar-benar meninggalkan dirinya. Ia menangis penuh kesedihan. Ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak menyangka kalau Lian kini benar-benar meninggalkan dirinya di saat ia baru saja merasakan perhatian yang belum pernah diberikan Lian sebelumnya.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas