“Bel,
kamu ngapain di sini?” Suara Yuna terngiang-ngiang di telinga Bellina.
Bellina
menyandarkan kepalanya ke dinding. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan
yang gelap dan dingin.
“Hahaha
....akhirnya, kamu bakal dibuang dari keluarga Wijaya!”
Suara
Yuna kembali terngiang di telinganya. Antara sadar dan tidak. Suara-suara dari
banyak orang berkerumun di telinganya.
“Ma
... Ma ...!” Suara bayi kecil terdengar terngiang di telinga Bellina.
“Bel,
hidupmu sudah berakhir, hahaha!” Tawa Yeriko terdengar menggema di dinding.
Selama
tiga hari tiga malam, Bellina terus menangis di dalam gudang. Mama mertuanya
tak pernah membukakan pintu untuknya, bahkan segelas air pun tak ia dapati.
Demam
tinggi yang menyerang Bellina, membuatnya terus berhalusinasi. Ia selalu mimpi
buruk. Semua orang sangat bahagia melihat penderitaannya kali ini.
Tubuhnya
semakin lemah. Hingga ia tersungkur di lantai. Tak lagi punya kekuatan untuk
bangkit.
“Ma,
tolong aku!” tuturnya lirih.
“Lian,
aku cinta sama kamu ... maafin aku. Aku terlalu lelah.” Suara Bellina hampir
tak terdengar lagi.
Mata
Bellina semakin sayu. Wajahnya mulai membiru. Nafasnya melemah seiring dengan
detak jantung yang perlahan menghilang. Terlalu lelah menghadapi semuanya dan
ia hanya ingin tidur dengan tenang.
“Bellina
...!” Suara Lian terdengar jelas di telinganya.
Dalam
mimpinya. Lian memeluk erat tubuhnya dan mengecupnya penuh kasih sayang.
“Li,
aku sayang sama kamu,” tutur Bellina sambil menatap wajah Lian.
“Aku
juga sayang sama kamu,” balas Lian.
“Maafin
aku ...!”
“Aku
sudah maafin kamu. Kita bisa memulainya dari awal lagi. Kita masih bisa bersama
lagi. Jadi keluarga yang bahagia. Melahirkan anak-anak yang lucu. Oke!?”
Bellina
mengangguk kecil. Ia menyentuh pipi Lian yang begitu dekat dengannya. Ia
merindukan kehangatan yang dulu diberikan suaminya itu. Ia terus tersenyum
bahagia karena suaminya telah kembali. Menyayanginya seperti dulu lagi.
Bellina
terus bermimpi berada dalam pelukan Lian. Ia tidak ingin lagi terbangun dari
mimpi. Menghadapi kenyataan kalau suaminya lebih memedulikan orang lain
daripada dirinya.
...
Lian
menatap wajahnya yang sangat kacau di depan cermin. Ia membersihkan darah yang
mengalir di pelipis dan pipinya. Ia tak ingin terlihat kacau ketika kembali ke
rumah. Ia membersihkan diri dalam waktu yang cukup lama. Setelah semuanya
beres, ia bergegas keluar dari hotel.
Sepanjang
perjalanan, Lian hanya teringat pada Bellina yang ia tinggalkan di dalam rumah
keluarganya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya. Semoga, tidak ada
hak buruk yang terjadi pada Bellina setelah ia pergi meninggalkan Bellina
begitu saja.
Begitu
sampai di rumah. Lian langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia
membuka pintu kamar, menyusuri semua sudut ruangan untuk mencari Bellina.
“Bel
... Bellina ...!” seru Lian. Ia bergegas keluar dari kamarnya begitu ia tak
mendapati Bellina ada di sana.
Lian
menuruni anak tangga sambil mencari sosok mamanya. “Ma, Bellina di mana?”
tanyanya begitu mendapati mamanya sedang bersantai di halaman belakang bersama
ayahnya.
“Dia
di mana, Ma?” tanya Abdi sambil menoleh ke arah Mega.
Mega
terlihat berpikir sejenak. Bellina jarang sekali berada di rumah. Membuatnya
tidak menyadari kalau ...
“Astaga!
Tiga hari yang lalu, Mama ngunci dia di gudang bawah tanah. Mama lupa.” Mega
menepuk dahinya.
“Apa,
Ma!? Mama tega ngunci dia di dalam gudang? Bener-bener nggak punya perasaan!
Mama jauh lebih kejam dari dia!” seru Lian.
“Apa
kamu bilang? Masih aja belain istri kamu yang nggak tahu diri itu? Biar dia
sadar lagi berhadapan sama siapa,” sahut Mega.
Lian
tak ingin berdebat. Ia langsung berlari menuju gudang bawah tanah yang ada di
rumahnya.
“Bell,
Bellina!” seru Lian sambil menggedor pintu.
Hening.
“Bellina
...! Ini aku. Tolong, jawab panggilanku, Bel! Kamu baik-baik aja ‘kan?” seru
Lian sambil memukul pintu tersebut dengan tangannya.
“Bellina
...!” teriaknya sambil menendang pintu dengan kesal karena ia tak mempunyai
kunci untuk membuka gudang tersebut. Kemudian, ia berlari mencari pelayan di
rumahnya.
“Mbak,
kunci gudang mana!” teriak Lian kesal.
“Sama
Ibu.”
“Ma
...! Mama ...!” teriak Lian kembali mencari mamanya.
“Apa
sih teriak-teriak?” sahut Mega santai.
“Kunci
gudang mana!?” teriak Lian kesal.
Mega
langsung mengulurkan kunci yang sudah ada di tangannya.
Lian
langsung menyambar kunci dari tangan mamanya. “Mama tahu, nggak ... apa yang
udah Mama lakuin ke Bellina ini termasuk tindakan kriminal. Kalau sampai
terjadi apa-apa ke dia gimana!?” seru Lian kesal. Ia kembali berlari menuju
gudang bawah tanah.
Lian
buru-buru membuka kunci pintu gudang. Ia melihat gudang yang gelap begitu pintu
itu terbuka. Lian langsung menekan saklar yang ada di sebelah pintu dan masuk
ke dalam gudang tersebut.
“Bell
...!” panggil Lian sambil melangkah perlahan. Ia celingukan mencari sosok
Bellina di dalam gudang tersebut.
“Bellina
...!” Lian terus mencari tubuh Bellin dan tak henti memanggil namanya.
Matanya,
tak juga menemukan sosok Bellina. Ia berbalik menatap pintu gudang tersebut.
“Bellina
...!” teriak Lian saat melihat tubuh Bellina terbaring di belakang pintu
tersebut. Ia langsung menghampiri dan memeluk tubuh Bellina yang dingin.
“Bel,
bangun!” pinta Lian sambil menepuk-nepuk pipi Bellina.
“Bangun,
Bel!” teriaknya dengan suara yang lebih kencang.
Lian
memeriksa denyut nadi Bellina yang melemah. Ia melepas jaket yang ia kenakan
dan menyelimuti tubuh Bellina.
“Bel
... bertahan, Bel!” pintanya sambil mengangkat tubuh Bellina dan menggendongnya
keluar dari gudang tersebut.
Lian
menoleh sejenak ke arah mama dan papanya yang menunggu di luar pintu. Ia
membenci apa yang telah dilakukan mamanya. Ia tak ingin menghabiskan waktu
untuk bertengkar. Saat ini, ia hanya ingin menyelamatkan Bellina. Ia akan
sangat bersalah jika terjadi hal buruk pada Bellina.
Ada
banyak orang di rumahnya, tak satu pun peduli dengan keberadaan Bellina.
Membuat Lian merasa sangat sakit.
Lian
langsung membawa Bellina ke mobilnya dan melaju kencang menuju rumah sakit
terdekat.
“Ya
Tuhan ... selamatkan Bellina!” pekik Lian dalam hati. “Aku udah menyesal karena
nyia-nyiain Yuna. Aku nggak mau menyesal kedua kalinya karena kehilangan orang
yang sayang sama aku.”
Begitu
sampai di rumah sakit. Bellina langsung dibaringkan di atas brankar dan
didorong masuk ke ruang IGD.
Lian
menunggu di luar dengan perasaan cemas.
Beberapa
menit kemudian, dokter keluar dari ruang IGD dan menghampiri Lian.
“Gimana
keadaan istri saya, Dok?” tanya Lian.
“Istri
Anda baik-baik saja. Untungnya dia cepat di bawa ke sini. Dia kekurangan cairan
dan oksigen. Jika terlambat sedikit saja, nyawanya tidak akan tertolong.
Beberapa jam lagi, dia akan sadar dan pulih seperti biasa.”
Lian
mengangguk penuh bahagia. “Terima kasih banyak, Dokter!” ucapnya lega.
Dokter
tersebut mengangguk dan bergegas pergi.
Lian
terus menunggu selama beberapa menit sampai Bellina dipindahkan ke ruang rawat
pasien. Ia menyesal telah meninggalkan Bellina begitu saja. Jika ia tak kembali
ke rumah secepatnya. Mungkin, nyawa Bellina tidak akan tertolong.




