Setelah
lima belas menit menunggu, akhirnya Lian bisa melihat Lamborghini Biru masuk ke
pekarangan rumah Yeriko. Ia bisa melihat Yuna turun dari mobil tersebut,
disambut dengan pelukan hangat dari Yeriko yang sudah menunggu di luar pintu.
Kemesraan
kedua insan itu, membuat dada Lian semakin sesak. Andai ia bukanlah pria yang
bodoh. Mungkin, saat ini dialah yang berada di samping Yuna dan menjadi pria
yang paling bahagia di dunia.
Dengan
cepat, Lian melangkahkan kakinya menghampiri Yuna dan Yeriko yang baru saja
ingin melangkah masuk ke rumahnya.
“Yuna
...!” panggil Lian sambil menatap dua punggung yang kini sudah ada di
hadapannya.
Yuna
dan Yeriko langsung berbalik bersamaan.
“Lian?
Ngapain malam-malam gini ada di sini?” tanya Yuna.
“Ada
hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu.”
“Oh
ya? Apa?” tanya Yuna.
Lian
menatap wajah Yeriko. “Aku bisa ngobrol sama Yuna? Sebentar aja!” pintanya.
Yeriko
mengangguk. Ia ingin pergi, namun tangan Yuna sengaja menahan lengan Yeriko.
“Nggak
usah pergi!” pinta Yuna.
Yeriko
menaikkan kedua alisnya sambil menoleh ke arah Lian.
Lian
menarik napas dalam-dalam. Ia kini menyadari kalau Yuna dan Yeriko memiliki
cinta yang begitu kuat, tidak mudah untuk dipisahkan. “Oke. Kamu juga mau suami
kamu tahu kan?” tanya Lian.
Yuna
menganggukkan kepala.
Lian
menatap wajah Yeriko. “Rekaman itu ... sudah sampai ke tangan keluargaku.”
Yeriko
mengangkat kedua alis sambil tersenyum sinis. “Terus?”
“Kamu
udah tahu dari awal, apa yang sudah dilakukan Bellina selama ini?”
Yeriko
mengangguk.
“Kenapa
nggak pernah peringatin aku sebelumnya? Kamu membiarkan dia terus terjerumus
dalam kejahatan dia?” tanya Lian sambil menatap wajah Yeriko.
Yeriko
balas menatap Lian dingin. “Dia istri kamu, apa hubungannya sama aku?” tanya
Yeriko balik.
“Jelas
ada hubungannya. Kamu tahu semuanya. Tapi malah bersikap seolah nggak pernah
terjadi apa-apa!” seru Lian.
Yuna
memandang Lian dan Yeriko bergantian. “Ini sebenarnya ada apa?” tanya Yuna.
“Oh,
jadi kamu juga nggak tahu kalau selama ini Yeriko menyelidiki bahkan mengawasi
Bellina selama dua puluh empat jam?” tanya Lian.
Yuna
mengernyitkan dahi. “Oh, soal rekaman Bellina? Aku nggak perlu tahu sedetail
itu. Aku percaya sama suamiku.”
Lian
menarik napas dalam-dalam. “Jadi, kamu juga udah tahu semua kejahatan Bellina
selama ini?”
Yuna
menganggukkan kepala. “Dia menargetkan aku, gimana aku nggak tahu.”
Mata
Lian memanas. Ia menahan air matanya untuk jatuh. Ia tidak ingin terlihat
konyol di depan Yuna. Hanya saja, kenyataan sudah membuatnya menjadi pria yang
sangat bodoh dan konyol.
“Aku
nggak nyangka. Aku cuma jadi bahan lelucon di depan kalian semua. Cuma aku
sendiri yang nggak tahu gimana Bellina sebenarnya? Padahal aku ini suaminya,”
tutur Lian lirih. Ia merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri.
“Li,
lebih baik kamu urus lagi istrimu itu dengan baik!” pinta Yeriko. “Aku tahu,
kamu pasti bisa merubah dia menjadi lebih baik lagi. Aku cuma berusaha
melindungi istriku. Aku juga nggak mau melukai orang lain yang tidak bersalah.
Jangan biarkan dia terus-menerus melukai Yuna! Selama dia masih ganggu istriku,
aku pasti akan terus melawan dia.”
Lian
meratap menatap wajah Yeriko. Tubuhnya semakin lemas hingga lututnya merosot ke
tanah. Matanya menengadah menatap Yuna yang berdiri di hadapannya.
“Maafin
aku, Yun! Semua ini salahku,” tuturnya lirih.
Yuna
tersenyum menatap Lian. “Aku udah maafin kamu, Li. Lebih baik, kamu tolong
hidup Bellina sebelum dia terperosok lebih dalam lagi!”
Lian
menatap wajah Yuna yang acuh tak acuh terhadapnya. Tangan Yuna menggenggam erat
tangan Yeriko. Membuatnya menyadari kalau kini, Yuna sudah ada dalam genggaman
orang lain dan ia tak punya kesempatan mengajaknya kembali.
“Kenapa
kamu masih bersikap baik sama dia?” tanya Lian.
“Dia?”
Lian
menganggukkan kepala. “Belli sudah melakukan banyak kejahatan ke kamu. Kenapa
kamu masih baik sama dia?”
Yuna
tersenyum sinis. “Aku nggak pernah berbaik hati sama dia. Aku cuma nggak mau
balas apa yang udah dia lakuin ke aku, karena aku benci sama dia. Aku benci
semua hal yang udah dia lakukan ke aku dan aku nggak mau ngelakuin hal yang
sama seperti dia.”
Kebaikan
hati Yuna, justru membuat perasaan Lian semakin sakit. “Apa yang harus aku
lakuin buat menebus semua ini?”
“Aku
nggak butuh penebusan apa pun dari kamu,” jawab Yuna dingin.
“Lebih
baik, kamu urus istri kamu itu, Li. Bahagiakan dia supaya dia nggak perlu iri
melihat kebahagiaan orang lain.” Yeriko ikut menambahkan.
Lian
menatap wajah kedua orang yang di hadapannya dengan perasaan yang tak karuan.
Ia bangkit perlahan dari tanah saat menyadari kalau Yuna dan Yeriko memiliki
cinta yang begitu kuat. Saling mendukung, saling menghargai, saling mencintai
dan melindungi. Cinta yang membuat seisi dunia menginginkannya.
“Maafin
aku, Yun!” Lian berusaha mendekat untuk meraih tangan Yuna.
Yuna
langsung mengeratkan genggaman tangan Yeriko, tak punya keinginan untuk
menyambut tangan Lian.
Lian
menatap tangan Yuna yang berada dalam pelukan tangan Yeriko. Kemudian, ia
menatap tangannya sendiri dan tersenyum payah. Ia kini menyerah untuk meraih
kembali tangan Yuna yang begitu kuat menggenggam tangan Yeriko.
“Semoga,
hidup kalian selalu bahagia,” tutur Lian lirih sambil menurunkan tangannya. Ia
berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan Yuna dan Yeriko.
Yuna
menarik napas menatap kepergian Lian. Sungguh, ia tidak tega melihat wajah Lian
yang begitu menderita. Ia pernah mencintai pria itu, pernah bermimpi
bersamanya. Namun, rasa sakit yang diciptakan Lian di hatinya terlalu dalam. Ia
memilih untuk tidak peduli daripada harus lelah membenci.
Yeriko
bisa menangkap kebimbangan yang ada dalam diri Yuna. Walau bagaimanapun, Lian
pernah menjadi orang yang menemani Yuna melewati hari-hari sulitnya selama
bertahun-tahun. Ia bukanlah orang yang tak mengerti balas budi. Ia hanya ingin,
Lian juga bisa hidup bahagia dengan keluarganya dan menyadari dengan
sendirinya, kalau Yuna tak akan pernah kembali ke pelukannya.
“Kamu
nggak papa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang masih terpaku.
“Eh!?
Nggak papa. Cuma kasihan aja lihat dia.”
Yeriko
tersenyum sambil mengelus pundak Yuna. “Semua akan baik-baik aja. Dia
laki-laki.”
Yuna
menatap wajah Yeriko. “Kamu nggak cemburu, kan?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku percaya sama kamu.”
Yuna
tersenyum, ia langsung memeluk tubuh Yeriko. “Aku udah nggak cinta sama Lian.
Aku cuma kasihan sama dia. Bellina yang melakukan kesalahan, tapi dia yang
menderita seperti ini.”
Yeriko
mengelus lembut rambut Yuna sambil mengecup kepalanya. “Semoga ini bisa jadi
pelajaran buat dia. Dia bisa lebih memperdulikan istrinya. Sebenarnya, dia pria
yang bertanggung jawab. Sayangnya, harus jatuh ke tangan wanita yang salah.”
Yuna
menganggukkan kepala. “Semoga, dia juga bisa membawa Bellina menjadi perempuan
yang baik dan tidak melakukan kejahatan lagi.”
Yeriko
mengangguk setuju. Ia tersenyum sinis, ia tidak ingin siapa pun mengganggu
istrinya, termasuk saudaranya sendiri. Apa yang dia inginkan, selalu bertolak
belakang dengan kebaikan dan kemurahan hati istrinya.
Yeriko
mengeratkan pelukannya sambil mengendus tengkuk Yuna. Ia memejamkan mata seraya
berdoa. Berharap dirinya juga tidak melakukan kejahatan untuk menghadapi
orang-orang yang telah mengganggu ketenangan istrinya.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment