Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 350 : Give Me Your Pardon

 


Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Lian bisa melihat Lamborghini Biru masuk ke pekarangan rumah Yeriko. Ia bisa melihat Yuna turun dari mobil tersebut, disambut dengan pelukan hangat dari Yeriko yang sudah menunggu di luar pintu.

Kemesraan kedua insan itu, membuat dada Lian semakin sesak. Andai ia bukanlah pria yang bodoh. Mungkin, saat ini dialah yang berada di samping Yuna dan menjadi pria yang paling bahagia di dunia.

Dengan cepat, Lian melangkahkan kakinya menghampiri Yuna dan Yeriko yang baru saja ingin melangkah masuk ke rumahnya.

“Yuna ...!” panggil Lian sambil menatap dua punggung yang kini sudah ada di hadapannya.

Yuna dan Yeriko langsung berbalik bersamaan.

“Lian? Ngapain malam-malam gini ada di sini?” tanya Yuna.

“Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu.”

“Oh ya? Apa?” tanya Yuna.

Lian menatap wajah Yeriko. “Aku bisa ngobrol sama Yuna? Sebentar aja!” pintanya.

Yeriko mengangguk. Ia ingin pergi, namun tangan Yuna sengaja menahan lengan Yeriko.

“Nggak usah pergi!” pinta Yuna.

Yeriko menaikkan kedua alisnya sambil menoleh ke arah Lian.

Lian menarik napas dalam-dalam. Ia kini menyadari kalau Yuna dan Yeriko memiliki cinta yang begitu kuat, tidak mudah untuk dipisahkan. “Oke. Kamu juga mau suami kamu tahu kan?” tanya Lian.

Yuna menganggukkan kepala.

Lian menatap wajah Yeriko. “Rekaman itu ... sudah sampai ke tangan keluargaku.”

Yeriko mengangkat kedua alis sambil tersenyum sinis. “Terus?”

“Kamu udah tahu dari awal, apa yang sudah dilakukan Bellina selama ini?”

Yeriko mengangguk.

“Kenapa nggak pernah peringatin aku sebelumnya? Kamu membiarkan dia terus terjerumus dalam kejahatan dia?” tanya Lian sambil menatap wajah Yeriko.

Yeriko balas menatap Lian dingin. “Dia istri kamu, apa hubungannya sama aku?” tanya Yeriko balik.

“Jelas ada hubungannya. Kamu tahu semuanya. Tapi malah bersikap seolah nggak pernah terjadi apa-apa!” seru Lian.

Yuna memandang Lian dan Yeriko bergantian. “Ini sebenarnya ada apa?” tanya Yuna.

“Oh, jadi kamu juga nggak tahu kalau selama ini Yeriko menyelidiki bahkan mengawasi Bellina selama dua puluh empat jam?” tanya Lian.

Yuna mengernyitkan dahi. “Oh, soal rekaman Bellina? Aku nggak perlu tahu sedetail itu. Aku percaya sama suamiku.”

Lian menarik napas dalam-dalam. “Jadi, kamu juga udah tahu semua kejahatan Bellina selama ini?”

Yuna menganggukkan kepala. “Dia menargetkan aku, gimana aku nggak tahu.”

Mata Lian memanas. Ia menahan air matanya untuk jatuh. Ia tidak ingin terlihat konyol di depan Yuna. Hanya saja, kenyataan sudah membuatnya menjadi pria yang sangat bodoh dan konyol.

“Aku nggak nyangka. Aku cuma jadi bahan lelucon di depan kalian semua. Cuma aku sendiri yang nggak tahu gimana Bellina sebenarnya? Padahal aku ini suaminya,” tutur Lian lirih. Ia merasa sangat kecewa dengan dirinya sendiri.

“Li, lebih baik kamu urus lagi istrimu itu dengan baik!” pinta Yeriko. “Aku tahu, kamu pasti bisa merubah dia menjadi lebih baik lagi. Aku cuma berusaha melindungi istriku. Aku juga nggak mau melukai orang lain yang tidak bersalah. Jangan biarkan dia terus-menerus melukai Yuna! Selama dia masih ganggu istriku, aku pasti akan terus melawan dia.”

Lian meratap menatap wajah Yeriko. Tubuhnya semakin lemas hingga lututnya merosot ke tanah. Matanya menengadah menatap Yuna yang berdiri di hadapannya.

“Maafin aku, Yun! Semua ini salahku,” tuturnya lirih.

Yuna tersenyum menatap Lian. “Aku udah maafin kamu, Li. Lebih baik, kamu tolong hidup Bellina sebelum dia terperosok lebih dalam lagi!”

Lian menatap wajah Yuna yang acuh tak acuh terhadapnya. Tangan Yuna menggenggam erat tangan Yeriko. Membuatnya menyadari kalau kini, Yuna sudah ada dalam genggaman orang lain dan ia tak punya kesempatan mengajaknya kembali.

“Kenapa kamu masih bersikap baik sama dia?” tanya Lian.

“Dia?”

Lian menganggukkan kepala. “Belli sudah melakukan banyak kejahatan ke kamu. Kenapa kamu masih baik sama dia?”

Yuna tersenyum sinis. “Aku nggak pernah berbaik hati sama dia. Aku cuma nggak mau balas apa yang udah dia lakuin ke aku, karena aku benci sama dia. Aku benci semua hal yang udah dia lakukan ke aku dan aku nggak mau ngelakuin hal yang sama seperti dia.”

Kebaikan hati Yuna, justru membuat perasaan Lian semakin sakit. “Apa yang harus aku lakuin buat menebus semua ini?”

“Aku nggak butuh penebusan apa pun dari kamu,” jawab Yuna dingin.

“Lebih baik, kamu urus istri kamu itu, Li. Bahagiakan dia supaya dia nggak perlu iri melihat kebahagiaan orang lain.” Yeriko ikut menambahkan.

Lian menatap wajah kedua orang yang di hadapannya dengan perasaan yang tak karuan. Ia bangkit perlahan dari tanah saat menyadari kalau Yuna dan Yeriko memiliki cinta yang begitu kuat. Saling mendukung, saling menghargai, saling mencintai dan melindungi. Cinta yang membuat seisi dunia menginginkannya.

“Maafin aku, Yun!” Lian berusaha mendekat untuk meraih tangan Yuna.

Yuna langsung mengeratkan genggaman tangan Yeriko, tak punya keinginan untuk menyambut tangan Lian.

Lian menatap tangan Yuna yang berada dalam pelukan tangan Yeriko. Kemudian, ia menatap tangannya sendiri dan tersenyum payah. Ia kini menyerah untuk meraih kembali tangan Yuna yang begitu kuat menggenggam tangan Yeriko.

“Semoga, hidup kalian selalu bahagia,” tutur Lian lirih sambil menurunkan tangannya. Ia berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan Yuna dan Yeriko.

Yuna menarik napas menatap kepergian Lian. Sungguh, ia tidak tega melihat wajah Lian yang begitu menderita. Ia pernah mencintai pria itu, pernah bermimpi bersamanya. Namun, rasa sakit yang diciptakan Lian di hatinya terlalu dalam. Ia memilih untuk tidak peduli daripada harus lelah membenci.

Yeriko bisa menangkap kebimbangan yang ada dalam diri Yuna. Walau bagaimanapun, Lian pernah menjadi orang yang menemani Yuna melewati hari-hari sulitnya selama bertahun-tahun. Ia bukanlah orang yang tak mengerti balas budi. Ia hanya ingin, Lian juga bisa hidup bahagia dengan keluarganya dan menyadari dengan sendirinya, kalau Yuna tak akan pernah kembali ke pelukannya.

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna yang masih terpaku.

“Eh!? Nggak papa. Cuma kasihan aja lihat dia.”

Yeriko tersenyum sambil mengelus pundak Yuna. “Semua akan baik-baik aja. Dia laki-laki.”

Yuna menatap wajah Yeriko. “Kamu nggak cemburu, kan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku percaya sama kamu.”

Yuna tersenyum, ia langsung memeluk tubuh Yeriko. “Aku udah nggak cinta sama Lian. Aku cuma kasihan sama dia. Bellina yang melakukan kesalahan, tapi dia yang menderita seperti ini.”

Yeriko mengelus lembut rambut Yuna sambil mengecup kepalanya. “Semoga ini bisa jadi pelajaran buat dia. Dia bisa lebih memperdulikan istrinya. Sebenarnya, dia pria yang bertanggung jawab. Sayangnya, harus jatuh ke tangan wanita yang salah.”

Yuna menganggukkan kepala. “Semoga, dia juga bisa membawa Bellina menjadi perempuan yang baik dan tidak melakukan kejahatan lagi.”

Yeriko mengangguk setuju. Ia tersenyum sinis, ia tidak ingin siapa pun mengganggu istrinya, termasuk saudaranya sendiri. Apa yang dia inginkan, selalu bertolak belakang dengan kebaikan dan kemurahan hati istrinya.

Yeriko mengeratkan pelukannya sambil mengendus tengkuk Yuna. Ia memejamkan mata seraya berdoa. Berharap dirinya juga tidak melakukan kejahatan untuk menghadapi orang-orang yang telah mengganggu ketenangan istrinya.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas