Bellina terus menangis di depan rumah. Ia benar-benar
menyesali semua yang telah ia lakukan selama ini. Setiap mengingat raut kecewa
yang tergambar di wajah Lian, membuatnya semakin bersedih. Ia tak bisa lagi
mengembalikan keadaan, juga tak mampu menghadapi kenyataan.
“Kamu udah menyesali perbuatanmu?” tanya Mega sambil
menatap tubuh Bellina.
Bellina langsung memutar kepalanya. “Ma, maafin aku! Aku
nggak bermaksud melakukan ini semua. Aku beneran sayang sama Lian.”
Mega tersenyum sinis. “Apa pun yang keluar dari mulut kamu.
Aku udah nggak percaya lagi. Apalagi, kamu berani memainkan perasaan anakku.
Dua puluh lima tahun, sejak kecil akh sudah menyayangi dan membahagiakan dia.
Kamu, belum genap setahun masuk ke dalam keluarga ini, sudah berani
mempermainkan dan membohongi anakku. Kamu pikir, aku bisa terima ini semua!?”
Bellina semakin terisak mendengar ucapan Mega.
“Mbak, bawa dia masuk!” perintah Mega pada pelayan yang
sudah berdiri di sampingnya.
“Baik, Nyonya.” Pelayan tersebut mengangguk dan
menghampiri Bellina.
Bellina tak melawan sedikit pun. Ia hanya menuruti saja
keinginan Mama mertuanya itu.
“Ikuti saya!” perintah Mega. Ia melangkahkan kakinya masuk
ke dalam rumah. Ia menuruni anak tangga, menuju gudang bawah tanah yang ada di
rumahnya.
“Masuk!” perintah Mega sambil mendorong tubuh Bellina masuk
ke dalam gudang tersebut.
“Ma, jangan lakuin ini ke aku!” pinta Bellina. Ia berharap
kalau mama mertuanya bisa melepaskan dirinya.
“Kamu renungi semua perbuatan kamu di dalam sana!” seru
Mega. Ia langsung menutup pintu tersebut dan menguncinya.
“Ma, aku nggak mau tinggal di sini!” teriak Bellina sambil
menggedor pintu dari dalam.
Mega tak menyahut teriakan Bellina. Ia langsung melangkah
pergi. “Nggak ada yang boleh bukain pintu itu kecuali saya yang merintah!”
tegasnya pada pelayan.
“Baik, Nyonya!”
Mega tersenyum penuh kemenangan. “Rasain! Siapa suruh
mainin anakku? Kamu pikir, aku nggak bisa menghukum kamu!?” gerutu Mega sambil
berlalu pergi meninggalkan Bellina di dalam gudang seorang diri.
Bellina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ia
semakin sedih karena harus terkurung di dalam gudang bawah tanah yang gelap dan
lembab. Seharusnya, ada lampu yang menerangi ruangan tersebut. Namun, hanya
bisa dinyalakan dari luar ruangan.
“Li, aku beneran cinta sama kamu. Aku kayak gini karena aku
cinta sama kamu. Apa selama ini kamu bener-bener nggak pernah ngerasain itu?”
tanya Bellina lirih. Ia meringkuk di sisi pintu sambil menangis.
Rasa iri dan dengki telah membuat hidup Bellina semakin
berantakan. Ia tak bisa mendapatkan kebahagiaan seperti yang dimiliki oleh
orang lain, justru malah kehilangan kebahagiaan yang telah ia miliki. Jika ia
lebih bersyukur atas apa yang sudah ia miliki, tak perlu iri dengan kebahagiaan
saudaranya, dia pasti bisa menjalani kehidupan dengan bahagia.
Di tempat lain ...
Lian merasa sangat kecewa dengan apa yang telah dilakukan
oleh istrinya selama ini. Ia tak menyangka kalau Bellina bisa sekejam itu.
Mencelakai sepupunya sendiri, bahkan sampai membunuh anak darah dagingnya
sendiri.
Saat ini, tak ada hal lain yang ingin dilakukan Lian selain
meminta maaf pada Ayuna. Gadis kecil yang dahulu kerap mendukungnya, melewati
banyak hal sulit bersama.
“Li, aku dapet peringkat satu lagi!” seru Yuna tertawa
ceria dalam balutan seragam putih abu-abu.
“Li, aku masih di perpustakaan. Aku akan kerja keras
dapetin nilai yang baik. Supaya, bisa berjuang bareng kamu mengembangkan
perusahaan orang tua kita!” seru Yuna dalam panggilan video saat ia masih aktif
menjadi mahasiswi di Melbourne University.
“Li, kamu jangan takut! Semua pasti bisa kamu hadapi dengan
baik. Aku akan selalu mendukung kamu!” seru Yuna saat Lian baru saja masuk ke
perusahaan milik ayahnya dan harus menghadapi banyak hal.
Bayang-bayang wajah ceria Yuna di masa lalu, membuat Lian
semakin terluka. Tanpa rasa bersalah, ia justru mengkhianati gadis yang dengan
tulus mencintai dan selalu mendukungnya dari jauh.
Lian terus menatap rumah Yeriko dari kejauhan. Rumah yang
kini menjadi tempat Yuna merajut bahagia bersama suaminya.
“Aargh ...!” Lian memukul setir mobil dan
membentur-benturkan kepalanya. Air matanya jatuh berderai. Menyesali semua hal
yang telah ia sia-siakan selama ini.
“Aku bodoh banget! Aku bodoh banget! Kenapa aku bisa
tertipu sama kebaikan Bellina yang palsu. Sementara, di belakangku ... dia
selalu berusaha untuk menyakiti kamu, Yuna.”
“Harusnya, saat itu ... akulah yang melindungi kamu dari
mereka. Bukannya ikut menyakiti hati kamu. Apa kamu mau maafin aku setelah apa
yang aku lakukan? Setelah apa yang Bellina perbuat ke kamu?”
Lian tak henti-hentinya memaki dan menyalahkan dirinya
sendiri. Ia bukan hanya menyesal telah mengkhianati cinta Yuna. Tapi juga
menyesal karena telah membuat istrinya melakukan banyak kejahatan terhadap
Yuna. Sementara, Yuna dengan besar hati menerimanya. Tak pernah membalas
kekejaman yang dilakukan oleh istrinya.
Semua hal yang dilakukan Bellina di belakangnya, membuat
rasa bersalahnya terhadap Yuna menjadi semakin besar, jauh lebih besar dari
sebelumnya. Ia benar-benar menjadi seorang suami yang gagal. Tak mampu membuat
istrinya bahagia. Tak bisa menjaga rumah tangganya tetap harmonis.
Lian terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan
Yuna kembali. Hingga ia lupa, ia sudah memiliki keluarga yang seharusnya ia
jaga dengan baik, ia cintai sepenuh hati.
“Yun, apa kamu sudah bener-bener bahagia di sana?” tanya
Lian lirih. Ia terus menatap rumah Yeriko dari kejauhan.
Lian berusaha menenangkan hatinya. Ia melepas safety belt
yang mengikat pinggangnya. Mengumpulkan banyak kekuatan untuk menghadapi Yuna
dan Yeriko. Ia hanya ingin meminta maaf atas apa yang telah dilakukan istrinya
selama ini. Ia tidak ingin, hidupnya selalu diselimuti rasa bersalah kepada
Yuna.
Perlahan, Lian keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah
Yeriko.
“Maaf, Mas! Cari siapa?” tanya pria yang berjaga di depan
pintu gerbang rumah Yeriko.
“Ayuna dan Yeriko ada di rumah?” tanya Lian.
“Maaf, Pak Yeri dan Bu Yuna sedang keluar.”
“Ke mana ya?”
“Saya tidak tahu.”
“Oh.” Lian sedikit kecewa. Matanya kemudian tertuju pada
sosok wanita setengah baya yang kebetulan keluar dari pintu rumah Yeriko dan
melangkah menuju pintu gerbang.
“Bi ...!” panggil Lian.
“Eh, Mas Lian. Tumben, malam-malam gini ke sini. Ada apa
ya?” tanya Bibi War.
“Yuna sama Yeriko ke mana, Bi?” tanya Lian.
Bibi War mencoba mengingat-ingat. “Mereka sudah keluar
sejak sore tadi. Mungkin, ke rumah orang tuanya.”
“Kira-kira, mereka pulang jam berapa ya, Bi?” tanya Lian
lagi. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
“Wah, Bibi juga kurang tahu. Kadang, pulang sampai malam.
Bisa juga menginap di rumah orang tuanya.”
“Oh, gitu ya, Bi?”
Bibi War menganggukkan kepala.
“Mmh ... kalau mereka pulang. Tolong sampaikan kalau aku
nyari mereka ya, Bi.”
Bibi War menganggukkan kepala. Ia membuka pintu gerbang
tersebut perlahan dan mengangkat kembali kantong sampah yang ingin ia buang ke
luar.
Lian masih berdiri di depan pintu gerbang tersebut. Ia
berharap, Yuna dan Yeriko bisa kembali ke rumah malam ini juga.
“Mas, mau nungguin mereka balik?” tanya Bibi War sambil
menatap wajah Lian.
Lian menganggukkan kepala.
“Mau masuk dulu?”
“Eh, nggak usah, Bi. Aku tunggu di mobil aja,” jawab Lian
sambil menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri.
“Baiklah. Bibi masuk dulu, ya!”
Lian menganggukkan kepala. Ia melangkah perlahan menuju
mobilnya kembali. Sementara, Bibi War masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu
gerbang rumah tersebut terbuka begitu saja. Sebab ia tahu kalau kehadiran Lian
bukanlah suatu ancaman.
Lian terus menatap arloji di tangannya. Setiap detik yang
berdetak, membuatnya berharap kalau Yeriko dan Yuna akan segera kembali ke
rumah tersebut.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment