Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 351 : Help Yourself

 


Lian melajukan mobilnya menuju salah satu rumah yang ada di kawasan perumahan Kalisari. Rumah yang pertama kali dibeli untuk ia dan Yuna empat tahun lalu. Sayangnya, rumah itu sudah berganti pemilik. Lian menjualnya karena merasa bersalah pada Yuna. Di rumah itulah, Yuna memergokinya berselingkuh dengan Bellina.

Lian menatap rumah penuh kenangan, penuh kesedihan dan penyesalan. Andai waktu bisa diulang lagi. Ia ingin kembali pada saat indah bersama Yuna. Tidak menjadi pria bodoh yang begitu mudah tergoda dengan mulut manis Bellina.

Selama beberapa jam, ia terus menyesali perbuatannya. Ia tak ingin pulang ke rumah, tak sanggup menghadapi masalah rumah tangga yang sedang ia hadapi sekarang. Ia lebih memilih mengurung diri di salah satu kamar Horizon Executive King di Sangri-La Hotel Surabaya.

“Pelayan, bawakan aku bir yang banyak!” perintah Lian.

Pelayan tersebut mengangguk. Ia menuruti semua yang diperintahkan oleh Lian. Beberapa menit kemudian, pelayan tersebut kembali dengan membawa banyak bir untuk Lian.

“Cuma segini? Tambah lagi!” perintah Lian. Ia mengambil satu botol bir dan langsung menenggaknya sampai habis.

“Lian ... Lian ... kamu itu cowok yang payah!” maki Lian pada dirinya sendiri.

“Kenapa aku harus terlahir jadi anak orang kaya? Yang aku kira tulus, ternyata semuanya palsu,” gumam Lian meratapi dirinya sendiri.

“Yang aku pikir benar, tenyata salah,” tuturnya sambil menertawakan dirinya sendiri. “Orang yang menipuku, justru orang yang paling aku percaya.”

Lian terus mengunci diri di dalam kamar hotel selama tiga hari tiga malam dan terus melampiaskan masalahnya bersama botol-botol alkohol yang mengelilinginya. Ia hanya ingin melupakan semua hal yang ia hadapi. Namun, setiap kali terbangun ... ia kembali merasa bersalah. Bersalah pada masa lalunya, bersalah pada anak yang seharusnya bisa ia cintai dan lindungi.

“Aargh ...! Goblok! Goblok! Goblok!” seru Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan. Ia masih saja menenggak bir di hari ketiga ia mengurung dirinya.

“Habis!?” tanyanya pada botol bir yang ia genggam. “Kenapa, kamu juga ikut-ikutan ninggalin aku? Kalian semua, nggak ada yang mau nemenin aku, hah!?” tanya Lian pada botol bir yang sudah berserakan di atas meja dan di lantai kamar.

“Kenapa harus habis!?” seru Lian sambil mengetuk-ngetuk botol ke atas meja. “PELAYAN ...!”

Teriakannya tak mendapat sambutan dari siapa pun. Membuat dirinya semakin kesal, semakin merasa kesepian, semakin merasa ... tak pernah ada satu orang pun yang peduli dengan dirinya.

“Aargh ...!” Lian membenturkan botol bir yang ia pegang ke kepalanya. Ia tak peduli dengan darah yang keluar di pelipisnya. Ia berharap, saat ini bisa kehilangan ingatannya. Melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi.

Di luar pintu, Chandra berusaha menggedor beberapa kali. Namun, tak mendapatkan jawaban. Lian yang menyadari seseorang datang ke kamarnya, hanya menatap pintu tersebut dan tak ingin membukanya.

“Lian ...! Li ...!” panggil Chandra sambil menggedor pintu kamar Lian.

Tak mendapatkan jawaban. Chandra langsung menelepon Yeriko. “Yer, aku udah nemuin Lian. Tapi, dia nggak mau buka pintu kamarnya.”

“Dia nggak mau buka atau nggak bisa buka?” tanya Yeriko.

“Maksud kamu?”

“Kali aja dia udah mati di dalam.”

“Nggak usah nakutin, Yer!”

“Ck, aku nggak nakutin. Udah tiga hari dia ngilang gitu aja. Ninggalin perusahaan semau dia. Kalo bukan asistennya yang telepon Yuna, aku juga nggak tahu dia menghilang.”

“Kenapa nelpon Yuna, bukannya ada istrinya?”

“Nomer Bellina juga nggak aktif.”

“Jangan-jangan, mereka di dalam berduaan,” celetuk Chandra. “Kamu yang bener aja, aku suruh gedorin kamar orang yang lagi enak-enak di dalam.”

“Chan, kamu pinter dikit!”

“Hah!?”

“Kamu udah cek tanggal dia check-in kamar?”

“Udah.”

“Cek di CCTV. Dia masuk sama siapa?”

Chandra menepuk dahinya. “Oke.” Ia langsung mematikan panggilan telepon dan meminta akses pada pihak hotel untuk memeriksa CCTV.

Selama beberapa menit, ia memerhatikan kalau Lian tak pernah keluar dari kamar itu selama tiga hari tiga malam. Tak ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan tersebut selain pelayan yang mengantarkan beberapa botol bir.

“Goblok banget ini anak!” umpat Chandra sambil melangkah keluar dari ruang CCTV sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

“Yer, Yer ... Lian sendirian di dalam. Kayaknya emang mau mati tuh anak. Soal Belli, aku nggak tahu keberadaannya.”

“Kata pamannya Yuna, dia ada di keluarga Wijaya. Pasti baik-baik aja.”

“Oke.” Chandra langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia meminta salah satu petugas hotel untuk membuka kamar yang ditinggali oleh Lian.

Chandra langsung masuk ke dalam kamar. Menyalakan lampu ruangan tersebut dan membuka tirai jendela yang mengarah ke luar.

Lian memicingkan mata saat mendapati cahaya menerpa dirinya. “Kamu siapa?” tanyanya sambil melihat tubuh Chandra dalam bayangan cahaya.

“Kamu ngapain di sini? Udah bosen hidup?” tanya Chandra balik.

“Bukan urusan kamu!”

“Baguslah. Cepet mati lebih baik. Hidupmu nggak berguna juga. Pantes aja Yuna nggak mau sama kamu. Cowok payah!”

Lian langsung menatap tajam ke arah Chandra. Matanya berapi-api dan pundaknya naik turun tak terkendali. Ia mengepal tangan kuat-kuat, tanpa pikir panjang langsung melayangkan kepalan tangannya ke wajah Chandra.

Chandra dengan santai menangkap kepalan tangan Lian. Ia tersenyum sinis sambil menatap tangan Lian. “Kamu selemah ini? Loser!” ucapnya sambil mendorong tubuh Lian hingga tersungkur ke sofa.

“Bangsat, kamu!” Lian kembali menyerang Chandra.

Chandra berusaha bertahan dari serangan Lian. Ia mendorong tubuh Lian dan langsung menghantam wajah Lian dengan satu pukulan.

“Kalo kamu nggak bisa nolong diri kamu sendiri. Gimana mau nolong orang yang kamu sayangi, hah!?” sentak Chandra sambil melayangkan kembali pukulannya ke wajah Lian.

Lian terduduk lemas di lantai. Ia tak lagi menyerang Chandra. Hidupnya, memang sangat payah. Chandra benar, tak seharusnya ia bersikap seperti ini.

“Kamu nggak pernah mikir berapa banyak orang yang khawatir sama kamu? Kamu ninggalin perusahaan gitu aja! Ada berapa banyak karyawan yang bergantung hidup sama perusahaan kamu, hah!?” seru Chandra.

Lian menutup matanya. Ia tak bisa menahan kesedihannya lagi. “Aku  udah gagal, Chan!” seru Lian sambil menangis. “Aku bener-bener nggak berguna!” lanjutnya sambil memukuli kepalanya sendiri.

“Daripada kamu kayak gini, mending kamu mati aja!” tutur Chandra sambil menatap Lian yang terduduk lemas di lantai.

Lian menengadahkan kepalanya menatap Chandra. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Kamu pikirin aja sendiri!” sahut Chandra kesal. “Kamu pikir, cuma kamu satu-satunya orang yang punya masalah hidup? Di luar sana, banyak orang yang hidupnya lebih susah. Cuma masalah keluarga kamu aja nggak bisa survive. Apalagi kamu harus menyelesaikan banyak masalah keluarga di perusahaan kamu. Pikirin! Ada berapa banyak keluarga yang bergantung sama perusahaan kamu. Jangan semaunya sendiri!”

Lian menundukkan kepala. Ia tak bisa menyangkal kalimat yang terucap dari mulut Chandra.

“Buruan selamatkan istri kamu! Bisa jadi, dia dalam bahaya di keluarga kamu sendiri. Sudah tiga hari ini juga, nomornya nggak bisa dihubungi.”

Lian langsung menatap wajah Chandra. Ia sangat mengerti bagaimana perangai ibunya. Ia bangkit dari lantai. Mengusap darah yang keluar dari pelipisnya.

“Jadi cowok, ngerepotin banget!” sentak Chandra. Ia langsung pergi meninggalkan kamar tersebut.

Chandra masih tidak mengerti kenapa Lian harus melampiaskan permasalahannya dengan alkohol hingga separah itu. Lebih tidak mengerti lagi ... Yeriko memintanya untuk membujuk Lian.

“Punya rencana apa lagi si Yeri ini, udah tahu Lian itu musuhnya. Kenapa masih ditolongin? Mati aja di dalam sana! Nggak ada yang ganggu lagi,” gerutu Chandra. Ia bergegas keluar dari hotel dan melaporkan keadaan Lian kepada Yeriko.

 

((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas