Lian
melajukan mobilnya menuju salah satu rumah yang ada di kawasan perumahan
Kalisari. Rumah yang pertama kali dibeli untuk ia dan Yuna empat tahun lalu.
Sayangnya, rumah itu sudah berganti pemilik. Lian menjualnya karena merasa
bersalah pada Yuna. Di rumah itulah, Yuna memergokinya berselingkuh dengan
Bellina.
Lian
menatap rumah penuh kenangan, penuh kesedihan dan penyesalan. Andai waktu bisa
diulang lagi. Ia ingin kembali pada saat indah bersama Yuna. Tidak menjadi pria
bodoh yang begitu mudah tergoda dengan mulut manis Bellina.
Selama
beberapa jam, ia terus menyesali perbuatannya. Ia tak ingin pulang ke rumah,
tak sanggup menghadapi masalah rumah tangga yang sedang ia hadapi sekarang. Ia
lebih memilih mengurung diri di salah satu kamar Horizon Executive King di
Sangri-La Hotel Surabaya.
“Pelayan,
bawakan aku bir yang banyak!” perintah Lian.
Pelayan
tersebut mengangguk. Ia menuruti semua yang diperintahkan oleh Lian. Beberapa
menit kemudian, pelayan tersebut kembali dengan membawa banyak bir untuk Lian.
“Cuma
segini? Tambah lagi!” perintah Lian. Ia mengambil satu botol bir dan langsung
menenggaknya sampai habis.
“Lian
... Lian ... kamu itu cowok yang payah!” maki Lian pada dirinya sendiri.
“Kenapa
aku harus terlahir jadi anak orang kaya? Yang aku kira tulus, ternyata semuanya
palsu,” gumam Lian meratapi dirinya sendiri.
“Yang
aku pikir benar, tenyata salah,” tuturnya sambil menertawakan dirinya sendiri.
“Orang yang menipuku, justru orang yang paling aku percaya.”
Lian
terus mengunci diri di dalam kamar hotel selama tiga hari tiga malam dan terus
melampiaskan masalahnya bersama botol-botol alkohol yang mengelilinginya. Ia
hanya ingin melupakan semua hal yang ia hadapi. Namun, setiap kali terbangun
... ia kembali merasa bersalah. Bersalah pada masa lalunya, bersalah pada anak
yang seharusnya bisa ia cintai dan lindungi.
“Aargh
...! Goblok! Goblok! Goblok!” seru Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia
tak sanggup menghadapi kenyataan. Ia masih saja menenggak bir di hari ketiga ia
mengurung dirinya.
“Habis!?”
tanyanya pada botol bir yang ia genggam. “Kenapa, kamu juga ikut-ikutan
ninggalin aku? Kalian semua, nggak ada yang mau nemenin aku, hah!?” tanya Lian
pada botol bir yang sudah berserakan di atas meja dan di lantai kamar.
“Kenapa
harus habis!?” seru Lian sambil mengetuk-ngetuk botol ke atas meja. “PELAYAN
...!”
Teriakannya
tak mendapat sambutan dari siapa pun. Membuat dirinya semakin kesal, semakin
merasa kesepian, semakin merasa ... tak pernah ada satu orang pun yang peduli
dengan dirinya.
“Aargh
...!” Lian membenturkan botol bir yang ia pegang ke kepalanya. Ia tak peduli
dengan darah yang keluar di pelipisnya. Ia berharap, saat ini bisa kehilangan
ingatannya. Melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi.
Di
luar pintu, Chandra berusaha menggedor beberapa kali. Namun, tak mendapatkan
jawaban. Lian yang menyadari seseorang datang ke kamarnya, hanya menatap pintu
tersebut dan tak ingin membukanya.
“Lian
...! Li ...!” panggil Chandra sambil menggedor pintu kamar Lian.
Tak
mendapatkan jawaban. Chandra langsung menelepon Yeriko. “Yer, aku udah nemuin
Lian. Tapi, dia nggak mau buka pintu kamarnya.”
“Dia
nggak mau buka atau nggak bisa buka?” tanya Yeriko.
“Maksud
kamu?”
“Kali
aja dia udah mati di dalam.”
“Nggak
usah nakutin, Yer!”
“Ck,
aku nggak nakutin. Udah tiga hari dia ngilang gitu aja. Ninggalin perusahaan
semau dia. Kalo bukan asistennya yang telepon Yuna, aku juga nggak tahu dia
menghilang.”
“Kenapa
nelpon Yuna, bukannya ada istrinya?”
“Nomer
Bellina juga nggak aktif.”
“Jangan-jangan,
mereka di dalam berduaan,” celetuk Chandra. “Kamu yang bener aja, aku suruh
gedorin kamar orang yang lagi enak-enak di dalam.”
“Chan,
kamu pinter dikit!”
“Hah!?”
“Kamu
udah cek tanggal dia check-in kamar?”
“Udah.”
“Cek
di CCTV. Dia masuk sama siapa?”
Chandra
menepuk dahinya. “Oke.” Ia langsung mematikan panggilan telepon dan meminta
akses pada pihak hotel untuk memeriksa CCTV.
Selama
beberapa menit, ia memerhatikan kalau Lian tak pernah keluar dari kamar itu
selama tiga hari tiga malam. Tak ada orang lain yang masuk ke dalam ruangan
tersebut selain pelayan yang mengantarkan beberapa botol bir.
“Goblok
banget ini anak!” umpat Chandra sambil melangkah keluar dari ruang CCTV sambil
menempelkan ponsel ke telinganya.
“Yer,
Yer ... Lian sendirian di dalam. Kayaknya emang mau mati tuh anak. Soal Belli,
aku nggak tahu keberadaannya.”
“Kata
pamannya Yuna, dia ada di keluarga Wijaya. Pasti baik-baik aja.”
“Oke.”
Chandra langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia meminta salah satu petugas
hotel untuk membuka kamar yang ditinggali oleh Lian.
Chandra
langsung masuk ke dalam kamar. Menyalakan lampu ruangan tersebut dan membuka
tirai jendela yang mengarah ke luar.
Lian
memicingkan mata saat mendapati cahaya menerpa dirinya. “Kamu siapa?” tanyanya
sambil melihat tubuh Chandra dalam bayangan cahaya.
“Kamu
ngapain di sini? Udah bosen hidup?” tanya Chandra balik.
“Bukan
urusan kamu!”
“Baguslah.
Cepet mati lebih baik. Hidupmu nggak berguna juga. Pantes aja Yuna nggak mau
sama kamu. Cowok payah!”
Lian
langsung menatap tajam ke arah Chandra. Matanya berapi-api dan pundaknya naik
turun tak terkendali. Ia mengepal tangan kuat-kuat, tanpa pikir panjang
langsung melayangkan kepalan tangannya ke wajah Chandra.
Chandra
dengan santai menangkap kepalan tangan Lian. Ia tersenyum sinis sambil menatap
tangan Lian. “Kamu selemah ini? Loser!” ucapnya sambil mendorong tubuh Lian
hingga tersungkur ke sofa.
“Bangsat,
kamu!” Lian kembali menyerang Chandra.
Chandra
berusaha bertahan dari serangan Lian. Ia mendorong tubuh Lian dan langsung
menghantam wajah Lian dengan satu pukulan.
“Kalo
kamu nggak bisa nolong diri kamu sendiri. Gimana mau nolong orang yang kamu
sayangi, hah!?” sentak Chandra sambil melayangkan kembali pukulannya ke wajah
Lian.
Lian
terduduk lemas di lantai. Ia tak lagi menyerang Chandra. Hidupnya, memang
sangat payah. Chandra benar, tak seharusnya ia bersikap seperti ini.
“Kamu
nggak pernah mikir berapa banyak orang yang khawatir sama kamu? Kamu ninggalin
perusahaan gitu aja! Ada berapa banyak karyawan yang bergantung hidup sama
perusahaan kamu, hah!?” seru Chandra.
Lian
menutup matanya. Ia tak bisa menahan kesedihannya lagi. “Aku udah gagal,
Chan!” seru Lian sambil menangis. “Aku bener-bener nggak berguna!” lanjutnya
sambil memukuli kepalanya sendiri.
“Daripada
kamu kayak gini, mending kamu mati aja!” tutur Chandra sambil menatap Lian yang
terduduk lemas di lantai.
Lian
menengadahkan kepalanya menatap Chandra. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Kamu
pikirin aja sendiri!” sahut Chandra kesal. “Kamu pikir, cuma kamu satu-satunya
orang yang punya masalah hidup? Di luar sana, banyak orang yang hidupnya lebih
susah. Cuma masalah keluarga kamu aja nggak bisa survive. Apalagi kamu harus
menyelesaikan banyak masalah keluarga di perusahaan kamu. Pikirin! Ada berapa
banyak keluarga yang bergantung sama perusahaan kamu. Jangan semaunya sendiri!”
Lian
menundukkan kepala. Ia tak bisa menyangkal kalimat yang terucap dari mulut
Chandra.
“Buruan
selamatkan istri kamu! Bisa jadi, dia dalam bahaya di keluarga kamu sendiri.
Sudah tiga hari ini juga, nomornya nggak bisa dihubungi.”
Lian
langsung menatap wajah Chandra. Ia sangat mengerti bagaimana perangai ibunya.
Ia bangkit dari lantai. Mengusap darah yang keluar dari pelipisnya.
“Jadi
cowok, ngerepotin banget!” sentak Chandra. Ia langsung pergi meninggalkan kamar
tersebut.
Chandra
masih tidak mengerti kenapa Lian harus melampiaskan permasalahannya dengan
alkohol hingga separah itu. Lebih tidak mengerti lagi ... Yeriko memintanya
untuk membujuk Lian.
“Punya
rencana apa lagi si Yeri ini, udah tahu Lian itu musuhnya. Kenapa masih
ditolongin? Mati aja di dalam sana! Nggak ada yang ganggu lagi,” gerutu
Chandra. Ia bergegas keluar dari hotel dan melaporkan keadaan Lian kepada
Yeriko.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment