Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 348 : Lian's Regret

 


“Bel, kami mau dengar pengakuan kamu. Apa yang sebenarnya terjadi selama ini?” tanya Abdi sambil menatap Bellina.

“Ma, Pa ... aku beneran nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Bellina lirih.

“Kamu masih nggak mau mengakui kesalahan kamu selama ini?” tanya Mega.

Bellina menggeleng perlahan. “Aku nggak tahu, maksud Mama apa.”

Mega tersenyum sinis. Ia memutar rekaman pembicaraan antara Melan dan Bellina.

“Bel, kamu harus berhasil masuk ke keluarga Wijaya. Hanya ini satu-satunya cara untuk menguasai harta mereka.” Terdengar jelas suara Melan di dalam alat rekaman tersebut.

“Tenang aja, Ma. Aku pasti lakuin apa yang Mama mau. Aku pasti bisa masuk ke keluarga mereka dengan mudah ...”

....

Bellina membelalakkan mata mendengar suara rekaman tersebut. “Itu bukan aku, Ma! Rekaman itu pasti palsu!” serunya.

“Jelas-jelas ini suara kamu dan Melan. Kamu masih mau ngelak lagi?”

“Ma, ini nggak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku menikah karena aku sayang sama Lian. Bukan karena uang. Aku nggak pernah ngomong kayak gini. Rekaman ini pasti palsu. Yeriko, pasti sengaja bikin ini semua buat balas dendam.”

“Kamu tahu dari mana kalau rekaman ini dari Yeriko?” tanya Lian.

Bellina langsung gelagapan. Bukankah semua paketan yang dikirim Yeriko bukan atas nama Yeriko sendiri? Bagaimana bisa ia keceplosan menyebut nama Yeriko.

“Bel, lebih baik kamu jujur. Aku akan maafin kamu kalau kamu mau mengakui kesalahan kamu,” tutur Lian.

“Aku beneran nggak ngelakuin itu semua.”

“Istri kamu ini benar-benar penjahat!” tutur Mega. “Dia bahkan sengaja membunuh anak kamu!” seru Mega sambil menatap Lian.

Lian membelalakkan matanya. Ia langsung menatap wajah Bellina. “Bener, Bel?”

Bellina menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ngelakuin itu, Li. Semua ini nggak bener!” seru Bellina dengan mata berkaca-kaca.

“Li, kamu udah dibohongi sama perempuan ini!” seru Mega.

“Ma, aku nggak bohong. Aku beneran tulus cinta sama Lian.”

“Kalau kamu tulus sama anak saya, kenapa masih aja kegatelan ngelirik laki-laki lain?”

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak, Ma. Aku nggak ada suka sama cowok lain.”

“Halah, alasan! Kamu bunuh anak kamu sendiri, pasti karena kamu simpan laki-laki lain. Kamu ngincar laki-laki yang lebih kaya dari anak saya?”

“Ma, Mama jangan termakan omongan orang lagi. Tuduhan Mama ini nggak berdasar. Bellina nggak mungkin bunuhnya sendiri,” sahut Lian.

“Oh ....kamu masih nggak percaya sama Mama? Kamu mau buktinya?” Mega langsung menyodorkan sebuah tablet yang dikirim oleh Yeriko dan memutar semua rekaman kejahatan Bellina. Bellina yang sengaja mencelakai dirinya dan bayinya untuk memfitnah Yuna. Juga tentang penyerangan yang ia lakukan lewat internet.

Bellina tercengang karena Yeriko benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak tahu sejak kapan Yeriko mulai menyelidiki tentang dirinya. Bahkan, ia yang sengaja menyiksa dokter Heru pun ada dalam rekaman tersebut.

“Ma, ini nggak sama dengan apa yang terjadi. Aku udah difitnah. Yeriko pasti udah sengaja malsukan rekaman-rekaman ini.” Bellina bersikeras tak mau mengakui perbuatannya.

“Bel ...!” sentak Lian. “Kamu tahu kalau ini semua Yeriko yang ngirim?”

Bellina menganggukkan kepala.

“Jadi, selama ini dia tahu apa yang kamu lakukan di belakang aku? Yeriko sama Yuna masih bersikap baik sama kamu, Bel. Aku nggak tahu iblis apa yang sudah masuk dalam tubuh kamu ini. Tega-teganya kamu mencelakai Yuna terus meneru, juga membunuh anak kita!” seru Lian kesal. Ia tak menyangka kalau Bellina telah membohongi dan mengkhianatinya selama ini.

“Li, aku nggak bunuh anak kita. Semua ini nggak sengaja. Aku nggak mungkin bunuh anak aku sendiri,” sahut Bellina dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu bagaimana meyakinkan Lian kalau sebenarnya, ia juga tak sengaja melakukan itu semua.

“Bel, lebih baik kamu jujur sama aku. Apa aja yang udah kamu lakuin di belakang aku? Kamu punya rencana jahat apa lagi?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala sambil menangis. “Nggak ada, Li. Aku nggak ngerencanain apa pun. Please, kamu percaya sama aku!”

Mata Lian memerah. Ia sangat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bellina di belakangnya. Membuatnya meninggalkan seorang wanita sebaik Yuna dan terus-menerus mempercayai kebohongan Bellina.

“Aku nggak nyangka kalau kamu tega ngelakuin ini semua, Bel.” Lian menggeleng-gelengkan kepala sambil meneteskan air mata. “Aku pikir, selama ini kamu tulus sayang sama aku. Aku pikir, nggak ada satu hal pun yang kamu sembunyikan dari aku.”

“Aku tulus sayang sama kamu, Li. Rekaman itu nggak bener.” Bellina meraih lengan Lian.

Lian langsung menepiskan tangan Bellina. Ia merasa sangat bodoh karena selama ini telah dipermainkan oleh Bellina. Ia juga dengan mudah termakan rayuan dan mempercayai ucapan Bellina begitu saja.

“Kamu masih bilang tulus sama aku? Kalau kamu tulus, kenapa kamu bunuh anak kita!?” seru Lian makin histeris.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak bunuh anak kita. Yuna yang udah bikin anak kita terbunuh,” jelas Bellina sambil menangis.

“Kamu masih nyalahin Yuna? Jelas-jelas, semua ini karena sikap kamu sendiri! Kalau aja kamu bisa bersikap baik sama Yuna. Semuanya nggak akan jadi seperti ini!” sahut Lian.

Bellina menggelengkan kepala sambil menangis. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya di depan keluarga Lian. Ia tidak ingin Lian membencinya. Namun, ia juga tidak punya kekuatan untuk membela dirinya sendiri.

“Aargh ...!” teriak Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Di saat ia baru saja ingin belajar menerima Bellina. Ia malah mengetahui sebuah kenyataan kejam ini. “Aku selalu belain kamu, karena aku pikir kamu jauh lebih baik dari Yuna. Jadi, selama ini kamu bohongin aku? Kamu bilang kalau Yuna nggak beneran cinta sama aku. Cuma suka sama harta yang aku punya. Ternyata, justru kamu yang menikah sama aku karena harta.”

“Nggak gitu, Li. Aku beneran cinta sama kamu. Kamu harus percaya sama aku! Aku nggak mungkin menghianati kamu.”

“Terus, kenapa kamu bunuh anak kita?” tanya Lian. Mata merahnya menatap Bellina, menuntut pertanggungjawaban.

Bellina terdiam. Mulutnya tak sanggup mengatakan apa pun. Hanya air matanya yang berderai. Semua kalimat yang ingin ia ungkapkan hanya mampu sampai ke tenggorokan. Tak punya kekuatan untuk keluar dari bibirnya.

“Bahkan dokter pun mengatakan kalau kamu ibu yang sangat kejam,” tutur Mega.

“Nggak, Ma. Aku nggak sengaja bunuh anak aku,” tutur Bellina sambil menangis.

“Nggak sengaja?” Lian menatap tajam ke arah Bellina. “Apa itu artinya kamu memang membunuh dia? Sengaja atau enggak, membunuh tetaplah membunuh!” seru Lian. Ia bangkit dari sofa dan melangkah pergi.

“Li, dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina sambil mengejar Lian.

“Nggak ada yang perlu dijelaskan, Bel. Lebih baik, kamu introspeksi diri kamu sendiri. Apa yang sudah kamu lakukan selama ini, benar-benar membuat aku kecewa.” Lian terus melangkah pergi meninggalkan Bellina.

“Li, semua ini nggak seperti yang kamu pikir. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku rela ngelakuin apa pun untuk menebus ini semua. Please, jangan tinggalin aku!” pinta Bellina terus mengejar langkah Lian.

Lian tak peduli lagi. Ia mempercepat langkah kakinya dan segera masuk ke dalam mobil.

“Li,. Lian ...!” seru Bellina sambil mengetuk kaca mobil Lian. “Buka pintunya, Li. Dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina.

Lian tetap saja tak ingin mendengarkan apa pun. Baginya, kenyataan yang ia terima hari ini terlalu pahit. Ia ingin menenangkan hatinya. Lari dari rasa bersalah pada masa lalu yang semakin hari semakin dalam.

Bellina terduduk lemas di pekarangan rumah begitu mobil Lian benar-benar meninggalkan dirinya. Ia menangis penuh kesedihan. Ia tidak tahu bagaimana cara mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak menyangka kalau Lian kini benar-benar meninggalkan dirinya di saat ia baru saja merasakan perhatian yang belum pernah diberikan Lian sebelumnya.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas