“Bel,
kami mau dengar pengakuan kamu. Apa yang sebenarnya terjadi selama ini?” tanya
Abdi sambil menatap Bellina.
“Ma,
Pa ... aku beneran nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Bellina lirih.
“Kamu
masih nggak mau mengakui kesalahan kamu selama ini?” tanya Mega.
Bellina
menggeleng perlahan. “Aku nggak tahu, maksud Mama apa.”
Mega
tersenyum sinis. Ia memutar rekaman pembicaraan antara Melan dan Bellina.
“Bel,
kamu harus berhasil masuk ke keluarga Wijaya. Hanya ini satu-satunya cara untuk
menguasai harta mereka.” Terdengar jelas suara Melan di dalam alat rekaman
tersebut.
“Tenang
aja, Ma. Aku pasti lakuin apa yang Mama mau. Aku pasti bisa masuk ke keluarga
mereka dengan mudah ...”
....
Bellina
membelalakkan mata mendengar suara rekaman tersebut. “Itu bukan aku, Ma!
Rekaman itu pasti palsu!” serunya.
“Jelas-jelas
ini suara kamu dan Melan. Kamu masih mau ngelak lagi?”
“Ma,
ini nggak seperti apa yang kalian pikirkan. Aku menikah karena aku sayang sama
Lian. Bukan karena uang. Aku nggak pernah ngomong kayak gini. Rekaman ini pasti
palsu. Yeriko, pasti sengaja bikin ini semua buat balas dendam.”
“Kamu
tahu dari mana kalau rekaman ini dari Yeriko?” tanya Lian.
Bellina
langsung gelagapan. Bukankah semua paketan yang dikirim Yeriko bukan atas nama
Yeriko sendiri? Bagaimana bisa ia keceplosan menyebut nama Yeriko.
“Bel,
lebih baik kamu jujur. Aku akan maafin kamu kalau kamu mau mengakui kesalahan
kamu,” tutur Lian.
“Aku
beneran nggak ngelakuin itu semua.”
“Istri
kamu ini benar-benar penjahat!” tutur Mega. “Dia bahkan sengaja membunuh anak
kamu!” seru Mega sambil menatap Lian.
Lian
membelalakkan matanya. Ia langsung menatap wajah Bellina. “Bener, Bel?”
Bellina
menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ngelakuin itu, Li. Semua ini nggak bener!”
seru Bellina dengan mata berkaca-kaca.
“Li,
kamu udah dibohongi sama perempuan ini!” seru Mega.
“Ma,
aku nggak bohong. Aku beneran tulus cinta sama Lian.”
“Kalau
kamu tulus sama anak saya, kenapa masih aja kegatelan ngelirik laki-laki lain?”
Bellina
menggelengkan kepala. “Nggak, Ma. Aku nggak ada suka sama cowok lain.”
“Halah,
alasan! Kamu bunuh anak kamu sendiri, pasti karena kamu simpan laki-laki lain.
Kamu ngincar laki-laki yang lebih kaya dari anak saya?”
“Ma,
Mama jangan termakan omongan orang lagi. Tuduhan Mama ini nggak berdasar.
Bellina nggak mungkin bunuhnya sendiri,” sahut Lian.
“Oh
....kamu masih nggak percaya sama Mama? Kamu mau buktinya?” Mega langsung
menyodorkan sebuah tablet yang dikirim oleh Yeriko dan memutar semua rekaman
kejahatan Bellina. Bellina yang sengaja mencelakai dirinya dan bayinya untuk
memfitnah Yuna. Juga tentang penyerangan yang ia lakukan lewat internet.
Bellina
tercengang karena Yeriko benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak tahu sejak
kapan Yeriko mulai menyelidiki tentang dirinya. Bahkan, ia yang sengaja
menyiksa dokter Heru pun ada dalam rekaman tersebut.
“Ma,
ini nggak sama dengan apa yang terjadi. Aku udah difitnah. Yeriko pasti udah
sengaja malsukan rekaman-rekaman ini.” Bellina bersikeras tak mau mengakui
perbuatannya.
“Bel
...!” sentak Lian. “Kamu tahu kalau ini semua Yeriko yang ngirim?”
Bellina
menganggukkan kepala.
“Jadi,
selama ini dia tahu apa yang kamu lakukan di belakang aku? Yeriko sama Yuna
masih bersikap baik sama kamu, Bel. Aku nggak tahu iblis apa yang sudah masuk
dalam tubuh kamu ini. Tega-teganya kamu mencelakai Yuna terus meneru, juga
membunuh anak kita!” seru Lian kesal. Ia tak menyangka kalau Bellina telah
membohongi dan mengkhianatinya selama ini.
“Li,
aku nggak bunuh anak kita. Semua ini nggak sengaja. Aku nggak mungkin bunuh
anak aku sendiri,” sahut Bellina dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu
bagaimana meyakinkan Lian kalau sebenarnya, ia juga tak sengaja melakukan itu
semua.
“Bel,
lebih baik kamu jujur sama aku. Apa aja yang udah kamu lakuin di belakang aku?
Kamu punya rencana jahat apa lagi?” tanya Lian.
Bellina
menggelengkan kepala sambil menangis. “Nggak ada, Li. Aku nggak ngerencanain
apa pun. Please, kamu percaya sama aku!”
Mata
Lian memerah. Ia sangat kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bellina di
belakangnya. Membuatnya meninggalkan seorang wanita sebaik Yuna dan
terus-menerus mempercayai kebohongan Bellina.
“Aku
nggak nyangka kalau kamu tega ngelakuin ini semua, Bel.” Lian
menggeleng-gelengkan kepala sambil meneteskan air mata. “Aku pikir, selama ini
kamu tulus sayang sama aku. Aku pikir, nggak ada satu hal pun yang kamu
sembunyikan dari aku.”
“Aku
tulus sayang sama kamu, Li. Rekaman itu nggak bener.” Bellina meraih lengan
Lian.
Lian
langsung menepiskan tangan Bellina. Ia merasa sangat bodoh karena selama ini
telah dipermainkan oleh Bellina. Ia juga dengan mudah termakan rayuan dan
mempercayai ucapan Bellina begitu saja.
“Kamu
masih bilang tulus sama aku? Kalau kamu tulus, kenapa kamu bunuh anak kita!?”
seru Lian makin histeris.
Bellina
menggelengkan kepala. “Aku nggak bunuh anak kita. Yuna yang udah bikin anak
kita terbunuh,” jelas Bellina sambil menangis.
“Kamu
masih nyalahin Yuna? Jelas-jelas, semua ini karena sikap kamu sendiri! Kalau
aja kamu bisa bersikap baik sama Yuna. Semuanya nggak akan jadi seperti ini!”
sahut Lian.
Bellina
menggelengkan kepala sambil menangis. Ia tetap tidak mau mengakui kesalahannya
di depan keluarga Lian. Ia tidak ingin Lian membencinya. Namun, ia juga tidak
punya kekuatan untuk membela dirinya sendiri.
“Aargh
...!” teriak Lian sambil menjambak rambutnya sendiri. Di saat ia baru saja
ingin belajar menerima Bellina. Ia malah mengetahui sebuah kenyataan kejam ini.
“Aku selalu belain kamu, karena aku pikir kamu jauh lebih baik dari Yuna. Jadi,
selama ini kamu bohongin aku? Kamu bilang kalau Yuna nggak beneran cinta sama
aku. Cuma suka sama harta yang aku punya. Ternyata, justru kamu yang menikah
sama aku karena harta.”
“Nggak
gitu, Li. Aku beneran cinta sama kamu. Kamu harus percaya sama aku! Aku nggak
mungkin menghianati kamu.”
“Terus,
kenapa kamu bunuh anak kita?” tanya Lian. Mata merahnya menatap Bellina,
menuntut pertanggungjawaban.
Bellina
terdiam. Mulutnya tak sanggup mengatakan apa pun. Hanya air matanya yang
berderai. Semua kalimat yang ingin ia ungkapkan hanya mampu sampai ke
tenggorokan. Tak punya kekuatan untuk keluar dari bibirnya.
“Bahkan
dokter pun mengatakan kalau kamu ibu yang sangat kejam,” tutur Mega.
“Nggak,
Ma. Aku nggak sengaja bunuh anak aku,” tutur Bellina sambil menangis.
“Nggak
sengaja?” Lian menatap tajam ke arah Bellina. “Apa itu artinya kamu memang
membunuh dia? Sengaja atau enggak, membunuh tetaplah membunuh!” seru Lian. Ia
bangkit dari sofa dan melangkah pergi.
“Li,
dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina sambil mengejar Lian.
“Nggak
ada yang perlu dijelaskan, Bel. Lebih baik, kamu introspeksi diri kamu sendiri.
Apa yang sudah kamu lakukan selama ini, benar-benar membuat aku kecewa.” Lian
terus melangkah pergi meninggalkan Bellina.
“Li,
semua ini nggak seperti yang kamu pikir. Aku bener-bener cinta sama kamu. Aku
rela ngelakuin apa pun untuk menebus ini semua. Please, jangan tinggalin aku!”
pinta Bellina terus mengejar langkah Lian.
Lian
tak peduli lagi. Ia mempercepat langkah kakinya dan segera masuk ke dalam
mobil.
“Li,.
Lian ...!” seru Bellina sambil mengetuk kaca mobil Lian. “Buka pintunya, Li.
Dengerin dulu penjelasan aku!” pinta Bellina.
Lian
tetap saja tak ingin mendengarkan apa pun. Baginya, kenyataan yang ia terima
hari ini terlalu pahit. Ia ingin menenangkan hatinya. Lari dari rasa bersalah
pada masa lalu yang semakin hari semakin dalam.
Bellina
terduduk lemas di pekarangan rumah begitu mobil Lian benar-benar meninggalkan
dirinya. Ia menangis penuh kesedihan. Ia tidak tahu bagaimana cara
mengembalikan semuanya seperti semula. Ia tidak menyangka kalau Lian kini
benar-benar meninggalkan dirinya di saat ia baru saja merasakan perhatian yang
belum pernah diberikan Lian sebelumnya.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment