Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 352 : Bellina yang Malang

 


“Bel, kamu ngapain di sini?” Suara Yuna terngiang-ngiang di telinga Bellina.

Bellina menyandarkan kepalanya ke dinding. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang gelap dan dingin.

“Hahaha ....akhirnya, kamu bakal dibuang dari keluarga Wijaya!”

Suara Yuna kembali terngiang di telinganya. Antara sadar dan tidak. Suara-suara dari banyak orang berkerumun di telinganya.

“Ma ... Ma ...!” Suara bayi kecil terdengar terngiang di telinga Bellina.

“Bel, hidupmu sudah berakhir, hahaha!” Tawa Yeriko terdengar menggema di dinding.

Selama tiga hari tiga malam, Bellina terus menangis di dalam gudang. Mama mertuanya tak pernah membukakan pintu untuknya, bahkan segelas air pun tak ia dapati.

Demam tinggi yang menyerang Bellina, membuatnya terus berhalusinasi. Ia selalu mimpi buruk. Semua orang  sangat bahagia melihat penderitaannya kali ini.

Tubuhnya semakin lemah. Hingga ia tersungkur di lantai. Tak lagi punya kekuatan untuk bangkit.

“Ma, tolong aku!” tuturnya lirih.

“Lian, aku cinta sama kamu ... maafin aku. Aku terlalu lelah.” Suara Bellina hampir tak terdengar lagi.

Mata Bellina semakin sayu. Wajahnya mulai membiru. Nafasnya melemah seiring dengan detak jantung yang perlahan menghilang. Terlalu lelah menghadapi semuanya dan ia hanya ingin tidur dengan tenang.

“Bellina ...!” Suara Lian terdengar jelas di telinganya.

Dalam mimpinya. Lian memeluk erat tubuhnya dan mengecupnya penuh kasih sayang.

“Li, aku sayang sama kamu,” tutur Bellina sambil menatap wajah Lian.

“Aku juga sayang sama kamu,” balas Lian.

“Maafin aku ...!”

“Aku sudah maafin kamu. Kita bisa memulainya dari awal lagi. Kita masih bisa bersama lagi. Jadi keluarga yang bahagia. Melahirkan anak-anak yang lucu. Oke!?”

Bellina mengangguk kecil. Ia menyentuh pipi Lian yang begitu dekat dengannya. Ia merindukan kehangatan yang dulu diberikan suaminya itu. Ia terus tersenyum bahagia karena suaminya telah kembali. Menyayanginya seperti dulu lagi.

Bellina terus bermimpi berada dalam pelukan Lian. Ia tidak ingin lagi terbangun dari mimpi. Menghadapi kenyataan kalau suaminya lebih memedulikan orang lain daripada dirinya.

 

...

 

Lian menatap wajahnya yang sangat kacau di depan cermin. Ia membersihkan darah yang mengalir di pelipis dan pipinya. Ia tak ingin terlihat kacau ketika kembali ke rumah. Ia membersihkan diri dalam waktu yang cukup lama. Setelah semuanya beres, ia bergegas keluar dari hotel.

Sepanjang perjalanan, Lian hanya teringat pada Bellina yang ia tinggalkan di dalam rumah keluarganya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya. Semoga, tidak ada hak buruk yang terjadi pada Bellina setelah ia pergi meninggalkan Bellina begitu saja.

Begitu sampai di rumah. Lian langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar, menyusuri semua sudut ruangan untuk mencari Bellina.

“Bel ... Bellina ...!” seru Lian. Ia bergegas keluar dari kamarnya begitu ia tak mendapati Bellina ada di sana.

Lian menuruni anak tangga sambil mencari sosok mamanya. “Ma, Bellina di mana?” tanyanya begitu mendapati mamanya sedang bersantai di halaman belakang bersama ayahnya.

“Dia di mana, Ma?” tanya Abdi sambil menoleh ke arah Mega.

Mega terlihat berpikir sejenak. Bellina jarang sekali berada di rumah. Membuatnya tidak menyadari kalau ...

“Astaga! Tiga hari yang lalu, Mama ngunci dia di gudang bawah tanah. Mama lupa.” Mega menepuk dahinya.

“Apa, Ma!? Mama tega ngunci dia di dalam gudang? Bener-bener nggak punya perasaan! Mama jauh lebih kejam dari dia!” seru Lian.

“Apa kamu bilang? Masih aja belain istri kamu yang nggak tahu diri itu? Biar dia sadar lagi berhadapan sama siapa,” sahut Mega.

Lian tak ingin berdebat. Ia langsung berlari menuju gudang bawah tanah yang ada di rumahnya.

“Bell, Bellina!” seru Lian sambil menggedor pintu.

 

Hening.

 

“Bellina ...! Ini aku. Tolong, jawab panggilanku, Bel! Kamu baik-baik aja ‘kan?” seru Lian sambil memukul pintu tersebut dengan tangannya.

“Bellina ...!” teriaknya sambil menendang pintu dengan kesal karena ia tak mempunyai kunci untuk membuka gudang tersebut. Kemudian, ia berlari mencari pelayan di rumahnya.

“Mbak, kunci gudang mana!” teriak Lian kesal.

“Sama Ibu.”

“Ma ...! Mama ...!” teriak Lian kembali mencari mamanya.

“Apa sih teriak-teriak?” sahut Mega santai.

“Kunci gudang mana!?” teriak Lian kesal.

Mega langsung mengulurkan kunci yang sudah ada di tangannya.

Lian langsung menyambar kunci dari tangan mamanya. “Mama tahu, nggak ... apa yang udah Mama lakuin ke Bellina ini termasuk tindakan kriminal. Kalau sampai terjadi apa-apa ke dia gimana!?” seru Lian kesal. Ia kembali berlari menuju gudang bawah tanah.

Lian buru-buru membuka kunci pintu gudang. Ia melihat gudang yang gelap begitu pintu itu terbuka. Lian langsung menekan saklar yang ada di sebelah pintu dan masuk ke dalam gudang tersebut.

“Bell ...!” panggil Lian sambil melangkah perlahan. Ia celingukan mencari sosok Bellina di dalam gudang tersebut.

“Bellina ...!” Lian terus mencari tubuh Bellin dan tak henti memanggil namanya.

Matanya, tak juga menemukan sosok Bellina. Ia berbalik menatap pintu gudang tersebut.

“Bellina ...!” teriak Lian saat melihat tubuh Bellina terbaring di belakang pintu tersebut. Ia langsung menghampiri dan memeluk tubuh Bellina yang dingin.

“Bel, bangun!” pinta Lian sambil menepuk-nepuk pipi Bellina.

“Bangun, Bel!” teriaknya dengan suara yang lebih kencang.

Lian memeriksa denyut nadi Bellina yang melemah. Ia melepas jaket yang ia kenakan dan menyelimuti tubuh Bellina.

“Bel ... bertahan, Bel!” pintanya sambil mengangkat tubuh Bellina dan menggendongnya keluar dari gudang tersebut.

Lian menoleh sejenak ke arah mama dan papanya yang menunggu di luar pintu. Ia membenci apa yang telah dilakukan mamanya. Ia tak ingin menghabiskan waktu untuk bertengkar. Saat ini, ia hanya ingin menyelamatkan Bellina. Ia akan sangat bersalah jika terjadi hal buruk pada Bellina.

Ada banyak orang di rumahnya, tak satu pun peduli dengan keberadaan Bellina. Membuat Lian merasa sangat sakit.

Lian langsung membawa Bellina ke mobilnya dan melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.

“Ya Tuhan ... selamatkan Bellina!” pekik Lian dalam hati. “Aku udah menyesal karena nyia-nyiain Yuna. Aku nggak mau menyesal kedua kalinya karena kehilangan orang yang sayang sama aku.”

Begitu sampai di rumah sakit. Bellina langsung dibaringkan di atas brankar dan didorong masuk ke ruang IGD.

Lian menunggu di luar dengan perasaan cemas.

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang IGD dan menghampiri Lian.

“Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Lian.

“Istri Anda baik-baik saja. Untungnya dia cepat di bawa ke sini. Dia kekurangan cairan dan oksigen. Jika terlambat sedikit saja, nyawanya tidak akan tertolong. Beberapa jam lagi, dia akan sadar dan pulih seperti biasa.”

Lian mengangguk penuh bahagia. “Terima kasih banyak, Dokter!” ucapnya lega.

Dokter tersebut mengangguk dan bergegas pergi.

Lian terus menunggu selama beberapa menit sampai Bellina dipindahkan ke ruang rawat pasien. Ia menyesal telah meninggalkan Bellina begitu saja. Jika ia tak kembali ke rumah secepatnya. Mungkin, nyawa Bellina tidak akan tertolong.

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas