Thursday, February 5, 2026

Perfect Hero Bab 357 : Ceraikan Dia!

 


“Bel, gimana keadaan kamu?” tanya Yuna sambil menatap wajah Bellina. Ia sangat mengerti bagaimana kegelisahan yang sedang menyelimuti Bellina saat ini. Sehingga, ia memilih untuk menyapa Bellina lebih dulu.

“Baik, Yun.” Bellina tersenyum kecil ke arah Yuna.

“Syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Aku baru aja tahu kalau kamu dirawat di sini. Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu?”

Bellina tersenyum kecil. “Nggak ada apa-apa, kok. Cuma masalah kecil.”

“Kenapa sampai dirawat di rumah sakit?”

“Cuma kecelakaan kecil,” jawab Bellina.

“Oh.”

“Yer, makasih ya! Kalau Chandra nggak nyari aku, aku nggak tahu hari ini akan menjadi hari apa. Mungkin, selamanya aku akan hidup dalam penyesalan.”

“Nggak perlu dibahas lagi. Cukup jaga istri kamu dengan baik. Kami pamit dulu, masih ada banyak hal yang harus kami lakukan.”

Lian mengangguk. “Hati-hati, Yer! Jaga istri dan anakmu dengan baik!”

Yeriko mengangguk. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Yuna dan mengajaknya pergi meninggalkan Lian dan Bellina.

Lian tersenyum. Ia menoleh ke arah Bellina dan menghampiri dia yang masih duduk di kursi taman.

“Aku seneng kalau kamu sama Yuna bisa akur. Jangan berantem lagi ya!” tutur Lian.

Bellina tersenyum sambil menatap Lian. “Namanya juga saudara. Kalau ketemu pengen berantem. Kalo nggak ketemu dicariin.”

Lian terkekeh mendengar ucapan Bellina. “Iya juga, sih. Aku nggak punya saudara yang deket. Jadi, nggak pernah ngerasain itu.”

Bellina tersenyum. Ia bisa merasakan bagaimana kesepiannya menjadi anak tunggal. Jika tak ada Yuna, mungkin di rumahnya juga akan sepi. Biasanya, ia selalu membuat keributan dengan sepupunya itu. Sifat mereka hampir sama. Hubungan darah, membuat mereka memiliki selera yang hampir sama. Menjadi saling berebut dan sama-sama tidak mau mengalah.

Lian tersenyum melihat perubahan yang terjadi dalam diri Bellina. Ia berniat menyiapkan kejutan untuk Bellina setelah mereka keluar dari rumah sakit.

“Balik ke kamar, yuk!” ajak Lian.

Bellina menganggukkan kepala. Ia tak banyak bicara. Lebih banyak mengunci bibirnya agar tak membuat masalah lagi.

Lian memapah Bellina masuk kembali ke dalam bangsal untuk beristirahat. Saat baru membuka pintu, mereka berdua tertegun menatap sosok wanita yang sudah berdiri tegak di dalam ruangan tersebut.

“Mama ...!?” Lian mengerutkan dahi. Tiba-tiba saja, mamanya sudah ada di sana.

Mega menatap Bellina dan Lian sambil mengangkat dagunya. Sifat angkuhnya begitu terlihat, membuat Bellina tak bisa berkata-kata. Ia harus menghadapi banyak hal. Menghadapi rasa bersalahnya kepada Yuna. Juga menghadapi mama mertua yang sekarang berubah membenci dirinya.

“Kamu masih aja nempel sama perempuan ini?” tanya Mega ketus.

“Ma, Bellina lagi sakit. Kenapa Mama malah kayak gini?”

“Dia kelihatan sehat. Paling, cuma pura-pura sakit buat narik simpati kamu.”

Bellina bergeming. Jemari tangannya meremas kuat pergelangan tangan Lian.

Lian bisa menyadari kekhawatiran yang menyelimuti Bellina. Ia tersenyum sambil mengelus punggung tangan Bellina. “Kamu istirahat dulu, ya!” bisiknya.

Bellina bergeming. Ia tak menggerakkan kakinya selangkah pun. Ia lebih memilih berada di samping Lian. Menghadapi mama mertua yang kini berubah membencinya.

“Kayak gini sambutan kamu ke Mama, hah!? Sejak nikah sama perempuan ini. Kamu selalu aja membangkang sama Mama!” seru Mega.

Lian menghela napas. Ia terduduk di sofa. Sungguh, ia tidak ingin melawan mamanya sendiri, juga tidak ingin menyakiti perasaan Bellina.

“Bel, kamu bisa tinggalin anak saya!” pinta Mega sambil menatap Bellina yang duduk di samping Lian.

“Maksud Mama apa?” tanya Lian sambil menatap wajah mamanya.

“Mama mau, kalian berpisah secepatnya.”

“Ma, Bellina masih sakit. Dia belum benar-benar pulih. Kenapa Mama malah menyakiti dia? Mengurung dia selama tiga hari tiga malam di gudang, masih kurang?”

“Masih kurang!” sahut Mega geram. “Mama baru puas kalau dia keluar dari keluarga kita!”

Bellina terdiam. Ia menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Jangan tinggalin aku, please!” tuturnya lirih.

“Nggak usah cari muka di depan anak saya! Kamu tahu gimana baiknya Lian selama ini. Malah kamu manfaatin! Sekarang, dia bahkan berani ngelawan mamanya sendiri.”

Bellina menatap wajah Mega dengan mata berkaca-kaca. “Ma, aku nggak ngerti di mana salahnya. Selama ini, Lian selalu menurut sama Mama. Nggak pernah membantah perintah Mama. Aku juga nggak pernah minta Lian buat ngelawan Mama. Mama bisa hukum aku. Seberat apa pun itu, aku akan jalani. Asal jangan pisahkan kami!” Bellina memohon.

Mega tersenyum sinis. “Kamu sudah bikin keluarga kami malu. Sekarang, kamu bisa membunuh anak kamu sendiri dengan keji. Besok, bisa aja kamu bunuh suami kamu sendiri.”

Bellina menggelengkan kepala sambil berlinang air mata. “Nggak, Ma. Aku bukan pembunuh seperti yang Mama pikirkan. Aku mohon, maafin aku!”

“Sekalipun aku maafin kamu. Aku nggak akan membiarkan anakku hidup sama kamu,” sahut Mega.

“Lian, kamu pulang ke rumah sekarang juga!” perintah Mega.

Bellina menoleh ke arah Lian. Ia berharap, Lian tidak menuruti permintaan mamanya untuk meninggalkan dirinya. Apa yang ia lakukan selama  ini hanya untuk mendapatkan kembali cinta dari Lian. Bagaimana jika akhirnya Lian pergi atas permintaan mamanya sendiri?

Lian menggelengkan kepala.

“Oh, kamu udah mulai membantah Mama?” tanya Mega.

“Lihat, kamu udah berhasil bikin anak saya ngelawan sama saya!” seru Mega sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Bellina.

Bellina tak menyahut. Hanya menatap mama mertuanya penuh kepedihan.

Mega semakin kesal karena Lian tak bisa lagi ia kendalikan sebagai anak kesayangannya. Ia hanya tidak ingin Lian terus terjerumus dalam tipu daya Bellina. Ia ingin menyelamatkan puteranya. Dengan cepat, ia mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja, tepat di hadapan Lian.

“Ini apa?” tanya Lian.

Mega membuka map tersebut. “Ini surat perjanjian perceraian. Kamu tanda tangani!” pinta Mega sambil meletakkan pena di atas dokumen tersebut.

Lian menatap dokumen tersebut dalam waktu yang lama. Membuat perasaan Bellina semakin cemas.

“Kamu pilih Mama atau dia?” tanya Mega sambil menatap Lian.

Lian menarik napas beberapa kali. Ia sangat bimbang jika harus memilih antara kedua orang tuanya atau istrinya.

“Kalau kamu masih pilih dia. Mama akan ambil semua aset yang kamu punya. Termasuk rumah, mobil dan jabatan kamu di perusahaan!” ancam Mega.

Perasaan Bellina semakin tertekan mendengar ancaman dari mama mertuanya. Ia tidak ingin berpisah dengan Lian. Tapi, ia juga tidak ingin membuat Lian menderita karena dirinya.

Lian meraih pena yang ada di atas dokumen tersebut. Ini bukan pertama kalinya mamanya mengancam untuk menarik semua fasilitas mewah yang diberikan keluarganya. Saat masih bersama Yuna. Mamanya juga pernah melakukan ancaman yang sama hingga membuatnya tidur di jalanan selama beberapa hari.

Tubuh Bellina bergetar melihat jari Lian yang menggenggam pena dengan erat. “Jangan lakuin itu, Li. Please ...!” pinta Bellina dalam hati.

Mega tersenyum sinis ke arah Bellina. Ia sangat mengetahui kalau Lian tak bisa hidup tanpa fasilitas yang diberikan oleh keluarganya. Bahkan, jabatannya di perusahaan bisa dengan mudah ia ambil begitu saja.

Lian menengadahkan kepala menatap Mega yang berdiri di hadapannya. “Ma, apa dengan begini ... Mama bisa bikin aku bahagia?”

Mega mengangguk pasti.

“Mama selalu memikirkan apa yang membuat Mama bahagia. Bukan yang membuat aku bahagia,” ucap Lian sambil melemparkan pena yang ada di tangannya.

Mata Mega tertuju pada pena yang melayang dan terhempas ke dinding, kemudian tergeletak di lantai begitu saja. Kali ini, ia benar-benar geram karena anaknya semakin melawan keinginannya.

“Mama nggak perlu urusin urusanku lagi!” pinta Lian dingin.

“Kamu!?” Mega menunjuk wajah Lian penuh kekesalan. “Mama nggak akan nyerah buat misahin kalian!” tegasnya sambil mendekati Bellina dan berusaha memukulnya.

“Ma, jangan sakiti Bellina!” pinta Lian sambil memeluk tubuh Bellina untuk melindunginya.

Mega semakin kesal melihat perlakuan Lian. “Dasar, perempuan jalang!” maki Mega. “Aku nggak akan ngelepasin kamu! Awas kalau sampai berani macam-macam lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup tenang seumur hidup!” seru Mega.

Mega memilih untuk menghentikan pukulannya. Ia akhirnya keluar dari ruangan tersebut sambil menyimpan dendam kepada Bellina.

 

((Bersambung ...))

Terima kasih buat temen-temen yang udah setia menemaniku bercerita setiap hari. Semoga, Perfect Hero selalu bisa menemani hari-hari kalian semua setiap hari. Love you.

@vellanine.tjahjadi

Wednesday, February 4, 2026

Ketika Rp10.000 Terasa Lebih Berat dari Beban Dunia



Tentang Anak, Kesehatan Mental, dan Ketimpangan yang Terlalu Dini



Ada kabar yang tidak seharusnya kita baca, tapi tetap terjadi.
Pada 29 Januari 2026, seorang anak SD berusia 10 tahun, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memilih pergi lebih cepat dari usianya. 
Bukan karena perang. Bukan karena bencana alam. Hanya karena buku dan pulpen seharga sekitar Rp10.000—angka yang bagi sebagian orang bahkan tidak cukup untuk membeli satu gelas kopi. Tapi baginya itu adalah barang mewah yang sulit untuk ia miliki. Membuatnya kehilangan kesempatan untuk hidup. Dia tak lagi bisa menggantungkan cita-citanya pada langit-langit sekolah karena tubuh mungilnya sudah tergantung lebih dahulu. Pergi bersama mimpi-mimpi kecilnya yang sulit ia gapai. 

Berita itu menyayat bukan karena sensasionalnya, tapi karena ia membuka satu kenyataan pahit:
anak-anak kita sedang bertumbuh di dunia yang tidak ramah, dan kita sering terlalu sibuk untuk menyadarinya.

Anak Tidak Pernah Benar-Benar Lemah
Kita sering menyebut anak sebagai makhluk yang polos, ceria, dan belum paham kerasnya hidup. Padahal, banyak anak justru lebih cepat memahami realitas daripada yang kita kira—terutama anak-anak yang lahir dari keluarga dengan tekanan ekonomi berat.
Anak usia 10 tahun mungkin belum mengerti istilah “kemiskinan struktural”, tapi mereka mengerti rasa malu,
mengerti perbandingan, mengerti ketika tidak bisa memenuhi tuntutan sekolah, dan mengerti saat merasa menjadi beban bagi orang tuanya.
Di usia itu, mereka belum punya kosakata untuk berkata:
“Aku lelah.”
“Aku tertekan.”
“Aku merasa gagal.”
Yang mereka punya hanyalah perasaan, dan sayangnya, perasaan itu sering dipendam sendirian.

Kesehatan Mental Anak Bukan Soal Anak yang Rapuh
Kasus ini sering dibaca sebagai tragedi individual. Padahal, ia adalah kegagalan kolektif. Kesehatan mental anak bukan hanya soal ada atau tidaknya psikolog di sekolah.
Ia sangat ditentukan oleh kemampuan sosial anak untuk merasa diterima. Pola parenting yang memahami emosi, bukan sekadar menuntut kepatuhan. Lingkungan yang aman dari perbandingan dan tekanan berlebihan. 

Masalahnya, ilmu parenting hari ini sering terdengar indah di seminar, tapi tidak selalu relevan dengan realitas keluarga miskin.
Bagaimana mungkin orang tua diminta “hadir secara emosional” ketika mereka sendiri:
Lelah mencari makan
Tertekan oleh biaya hidup
Hidup dari hari ke hari tanpa jaring pengaman

Bukan karena mereka tidak peduli.
Tapi karena bertahan hidup saja sudah menghabiskan seluruh energi.

Ketimpangan yang Terlalu Dini
Di satu belahan dunia, anak-anak belajar mengelola trauma karena tidak punya buku tulis. Di belahan lain, anak seusia mereka sedang memilih iPhone terbaru seharga belasan juta rupiah.

Ini bukan tentang iri. Ini tentang ketimpangan yang dirasakan terlalu cepat oleh anak-anak.
Sekolah, tanpa sadar, sering menjadi ruang paling kejam bagi anak dari keluarga tidak mampu:
- Seragam harus sama
- Alat tulis harus lengkap
- Buku harus ada
- Tugas harus sempurna

Padahal tidak semua anak memulai hidup dari garis start yang sama.
Bagi sebagian anak, Rp10.000 adalah kemewahan.
Dan ketika kemewahan itu tak bisa diraih, rasa gagal bisa terasa lebih berat daripada usia mereka sendiri.

Kita Terlalu Sering Menyuruh Anak Kuat
Ironisnya, kita gemar berkata:
“Anak sekarang lemah mental.”
Padahal mungkin yang melemah bukan anaknya, melainkan sistem sosial kita yang gagal melindungi mereka.
Anak-anak yang tumbuh dalam hidup keras sering justru lebih kuat,
tapi kekuatan itu ada batasnya.
Ketika tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan kurangnya ruang aman bertemu,
bahkan anak terkuat pun bisa runtuh—dalam diam.

Yang Seharusnya Kita Pelajari
Tragedi ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita viral, lalu tenggelam oleh kabar lain.
Ia seharusnya membuat kita bertanya:
Apakah sekolah sudah benar-benar ramah bagi anak miskin?
Apakah orang tua mendapat dukungan, bukan hanya tuntutan?
Apakah kita masih suka membandingkan anak, tanpa tahu luka di baliknya?
Kesehatan mental anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada keluarga.
Ia adalah tanggung jawab bersama—sekolah, masyarakat, negara, dan kita sebagai sesama manusia.

Jangan Biarkan Anak Berjuang Sendirian
Anak 10 tahun itu mungkin sudah pergi.
Tapi masih ada jutaan anak lain yang hari ini sedang menahan beban serupa, hanya saja belum terdengar.
Jika kita tidak mengubah cara memandang anak, kemiskinan, dan kesehatan mental, maka Rp10.000 berikutnya bisa kembali menjadi alasan kehilangan yang lain.
Dan itu adalah kegagalan yang tidak bisa kita maafkan pada diri kita sendiri.




Perfect Hero Bab 356 : Akhir yang Bahagia

 


Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit sambil merangkul pinggang Yuna dengan hati-hati. Hari ini, mereka sudah membuat janji untuk bertemu dengan dokter di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Yuna.

“Hati-hati ...!” Yeriko langsung merapatkan tubuh Yuna saat berpapasan dengan beberapa orang yang kebetulan lalu lalang di koridor tersebut.

Yuna menatap Yeriko sambil tersenyum kecil. “Kamu berlebihan banget. Mereka lihat kita kayak orang aneh. Mereka bukan ancaman buat aku.”

“Ah, kamu ini. Aku khawatir kamu ketabrak.”

“Aku kan udah di samping kamu. Pasti baik-baik aja.” Yuna tersenyum kecil. Ia sedikit tidak nyaman karena merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. “Hmm, mungkin perasaanku aja,” batin Yuna.

Yeriko tersenyum. Ia mengajak Yuna untuk duduk di ruang tunggu. Di tangannya, ia sudah memegang bantal duduk. Ia meletakkan bantal tersebut di atas kursi tunggu dan mempersilakan istrinya untuk duduk.

“Makasih ...!” ucap Yuna manja.

  Yuna merasa, sikap Yeriko terlalu berlebihan. Ia melihat ibu hamil yang lain tak ada yang diperlakukan seistimewa itu oleh suaminya. Bahkan, suaminya lebih memilih menemani dari kejauhan. Sedangkan, Yeriko terus menempel kepadanya. Hal ini, membuat pipi Yuna terus menghangat.

“Ay, kita masih ngantri? Bukannya udah buat janji?” bisik Yuna.

“Bukannya kamu sendiri yang bilang, jangan terlalu mencolok di tempat umum?”

Yuna meringis sambil menyandarkan dagu di bahu Yeriko.

“Bellina dirawat di rumah sakit ini,” tutur Yeriko lirih.

“Hah!? Dia sakit apa?” tanya Yuna.

Yeriko menceritakan keadaan Bellina yang sebenarnya setelah ia menemukan Lian.

“Aku nggak nyangka kalau mertuanya Bellina kejam banget. Untungnya, aku nggak jadi nikah sama Lian, hihihi. Nggak kebayang punya mamer begitu,” tutur Yuna.

“Gimana kalau Mama Rully yang begitu?” tanya Yeriko.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jangan, dong! Aku udah terlanjur jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama,” jawab Yuna sambil meringis.

Yeriko langsung menoyor kening Yuna. “Jadi, kamu lebih dulu jatuh cinta sama mamaku daripada sama aku?”

“Hehehe. Bukannya, harus menggenggam hati mamanya dulu supaya bisa mendapatkan hati anaknya sepenuhnya?”

“Siapa yang ngajarin kamu begitu?” tanya Yeriko.

“Mama Rully.”

Yeriko memutar bola matanya. “Kalian berdua selalu sekongkol buat nindas aku.”

“Kamu juga selalu sekongkol sama ayah.”

“Beda. Aku sekongkol sama ayah buat menyayangi kamu.”

“Oh ya? Co cuwiit! Mamaciih ...!” sahut Yuna menirukan gaya balita.

Yeriko mencubit hidung Yuna gemas.

“Ibu Fristy Ayuna ...!” Terdengar suara seorang perawat memanggil nama Yuna. Ia langsung bangkit dari duduknya. Diikuti Yeriko yang juga mengiringi langkahnya.

“Saya periksa dulu ya, Bu!” tutur perawat dengan ramah. “Buku pink-nya ada?”

Yuna mengangguk. Ia langsung menyodorkan buku pemantauan ibu hamil ke arah perawat tersebut.

“Duduk dulu ya, Bu!” perintah perawat tersebut sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya dan mengeluarkan tensimeter.

Yeriko dengan cepat meletakkan bantal duduk ke atas kursi.

“Perhatian banget suaminya, Bu.” Perawat tersebut tersenyum sambil mengukur tensi Yuna.

Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum. Yuna sedikit malu karena perhatian Yeriko yang berlebihan. Tapi, ia juga merasa sangat bahagia.

“Tensinya normal ya, Bu. Ada keluhan?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Masih mual-mual?” tanya perawat itu lagi.

Yuna menggelengkan kepala sambil menahan senyum dan melirik Yeriko yang berdiri di sampingnya.

“Ditunggu sebentar ya, Bu!” pinta perawat tersebut. “Setelah pasien keluar dari ruangan dokter, Ibu bisa langsung masuk. Hari ini, mau USG ya?”

Yuna menganggukkan kepala.

Beberapa menit kemudian, Yuna mendapat giliran pemeriksaan selanjutnya. Yeriko dengan hati-hati menemani istrinya tersebut.

“Selamat pagi, Bu! Silakan baring dulu ya!” pinta dokter tersebut dengan ramah.

Yuna langsung berbaring di atas brankar yang ada di dalam ruangan tersebut. Salah seorang asisten dokter membantu menyelimuti kaki Yuna dan membuka bagian perut Yuna yang mulai berisi.

Yuna merasakan dingin di perutnya saat asisten dokter meneteskan doppler gel di atasnya.

Tak lama kemudian, dokter tersebut mengelus perut Yuna menggunakan alat USG.

Yuna terkejut saat ia bisa mendengar suara detak jantung bayinya.

“Dok, itu beneran anak saya?” tanya Yeriko sambil menatap layar yang menunjukkan gambar janin dalam perut Yuna.

Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Detak jantungnya bagus. Sangat sehat. Embrio berkembang dengan baik.”

“Laki-laki atau perempuan, Dok?” tanya Yeriko bersemangat.

“Belum kelihatan. Sepertinya, si Ade masih malu-malu kucing,” jawab dokter tersebut.

“Ah, Dokter bisa aja,” sahut Yeriko.

Yuna tak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya sibuk mengamati layar yang ada di hadapannya. Ia benar-benar tak percaya kalau dirinya akan menjadi seorang ibu. Di perutnya, kini ada sesuatu yang hidup.

Yeriko juga tak henti menyunggingkan senyuman di bibirnya. Matanya langsung mengerjap dan menatap dokter tersebut saat layar yang ia amati tiba-tiba mati.

“Dok, kenapa dimatiin?”

Dokter tersebut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lihat ini saja!” tuturnya sambil menyodorkan print out yang keluar.

Yeriko meraih foto bayinya dari tangan dokter tersebut. Ia langsung melipat dan menyimpan ke dalam dompetnya.

“Sehat terus, ya! Kalau ada keluhan, langsung disampaikan saat pemeriksaan!”

Yuna menganggukkan kepala.

Asisten dokter membantu Yuna untuk turun dari brankar.

“Ini udah, Dok?” tanya Yeriko.

Dokter tersebut mengangguk sambil tersenyum.

“Dok, saya kan masih pengen lama-lama lihat anak saya!” tutur Yeriko.

“Hush! Nggak boleh ngomong gitu, masih banyak pasien yang antri.”

Yeriko menghela napas. “Oke.”

Yuna tersenyum. Ia menoleh ke arah dokter dan berkata, “terima kasih, Dok. Kami pamit pulang dulu!”

“Hati-hati ya! Semoga sehat selalu sampai lahiran. Diberi kesehatan dan keselamatan untuk ibu dan bayinya.”

“Aamiin ...!”

Yuna dan Yeriko bergegas keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka melangkah beriringan menyusuri koridor rumah sakit.

“Yun, itu Lian!” Yeriko menunjuk dengan dagunya ke arah taman yang ada di rumah sakit tersebut.

“Eh, iya. Kita samperin, yuk!” ajak Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. Mereka melangkah bersamaan menghampiri Lian dan Bellina yang sedang bersantai di taman rumah sakit.

Yuna tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah Lian dan Bellina. Ia sudah menduga sebelumnya kalau mereka akan memiliki akhir yang bahagia seperti yang ia inginkan.

Di kursi taman, tubuh Bellina menegang saat melihat Yuna dan Yeriko berjalan ke arahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi keduanya. Jika bisa ia lakukan, ia ingin berubah menjadi debu saja. Agar tak perlu menghadapi Yuna dan suaminya yang begitu kejam terhadap dirinya.

“Bel, itu Yuna sama Yeri!” Lian menatap kedatangan Yuna dan suaminya.

Bellina hanya menanggapi ucapan Lian dengan senyuman. Ia benar-benar tidak punya kata yang tepat untuk ia ungkapkan.

Lian langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Yuna. “Kalian di sini juga?” sapa Lian.

Yeriko menganggukkan kepala. “Kebetulan, periksain kandungan istriku. Gimana keadaan istri kamu, sudah membaik?”

Lian menganggukkan kepala. “Makasih, Yer! Kamu sudah peduli sama kami.”

“Sama teman, nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko sambil menepuk bahu Lian. Namun, matanya yang tajam tertuju pada Bellina yang masih bergeming di tempatnya.

Yuna terus tersenyum menatap Bellina. Ia ikut bahagia karena Bellina bisa mendapatkan kebahagiaannya. Ia harap, setelah ini Bellina tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Semua kejadian yang terjadi saat ini, seharusnya bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk Bellina.

Saat mata Bellina tepat bertemu dengan mata Yuna. Ia justru menganggap senyuman Yuna seperti sebuah penghinaan untuknya. Ia mengira kalau Yuna datang hanya untuk menertawakan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Jantungnya semakin berdegup kencang saat Yeriko juga menatap tajam ke arahnya. Ia benar-benar tak memiliki kekuatan sedikit pun untuk menghadapi keduanya.

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat update bab setiap hari y...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 355 : Berusaha Bertahan

 


Bellina membuka matanya perlahan setelah ia tertidur selama empat puluh delapan jam di ranjang rumah sakit.

“Lian ...!” panggil Bellina lirih. Matanya belum bisa melihat wajah Lian dengan jelas. Samar-samar, ia melihat seorang pria sedang berdiri menatapnya. Ia harap, pria itu adalah Wilian.

“Bel, ini aku!” seru Lian sambil menggenggam telapak tangan Bellina. “Kamu udah sadar?”

Bellina mengangguk perlahan sambil tersenyum. Pandangannya semakin jelas. Ia bisa melihat wajah Lian yang sedang menatapnya. Dunianya begitu indah ketika ia mendapati Wilian masih berada di sampingnya. Ia pikir, Lian akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Lian menyingkap anak rambut Bellina. Ia langsung memeluk tubuh istrinya itu. “Maafin, aku! Nggak seharusnya aku meninggalkan kamu sendirian.”

Bellina tersenyum sambil mengelus punggung Lian dengan lembut. “Nggak papa. Aku senang kamu masih ada di sampingku. Aku pikir, kamu bakal ninggalin aku selamanya.”

“Aku nggak akan ninggalin kamu!” tegas Lian. Ia tidak ingin menyesal kedua kalinya. Ia sudah menyia-nyiakan Yuna yang dulu mencintainya dengan tulus. Kali ini, ia tidak ingin kehilangan Bellina yang selalu menyayanginya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencintai Bellina dengan tulus. Melupakan masa lalunya dengan Yuna dan memulai kehidupan mereka dari awal lagi.

Bellina menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Maafin, aku! Aku ngelakuin itu semua, karena takut kehilangan kamu.”

Lian menganggukkan kepala.

“Aku beneran nggak membunuh anak kita. Saat itu, dokter bilang kalau bayiku sudah mati dalam kandungan dan harus dioperasi. Saat aku jatuh dari tangga, aku nggak tahu kalau anak kita, ternyata masih hidup. Aku nggak tahu kenapa dokter sebelumnya mendiagnosis kalau anak aku udah mati,” jelas Bellina sambil menangis.

“Sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kita masih bisa melahirkan anak lagi. Nggak perlu sedih!”

Bellina menganggukkan kepala sambil menangis. “Li, aku sayang sama kamu. Apa kamu juga sayang sama aku?”

Lian menganggukkan kepala.

“Aku pikir, kamu masih terus-terusan mengejar Yuna.”

Lian menghela napas mendengar ucapan Bellina. “Maafin aku karena selama ini selalu mengabaikan kamu dan terus-menerus memikirkan Yuna. Sekarang, aku sadar kalau kamu adalah cinta yang aku miliki sekarang. Yuna nggak akan pernah kembali sama aku. Dia sudah bahagia sama orang lain. Seharusnya, kita juga bisa hidup bahagia.”

Bellina semakin terisak mendengar ucapan Lian. Rasa bersalahnya selama ini justru semakin besar.

“Kamu relakan semuanya, ya!” pinta Lian. “Biarkan sepupu kamu hidup bahagia sama Yeriko dan kita juga bisa bahagia.”

Bellina menganggukkan kepalanya.

“Kalau bukan karena mereka, mungkin kita nggak akan bisa ketemu lagi,” tutur Lian lirih sambil menundukkan kepala.

“Maksud kamu?”

Lian menarik napas dalam-dalam. “Kamu terkurung di dalam gudang itu sangat lama. Andai Chandra nggak dateng nyari aku. Aku nggak mungkin kembali ke rumah dan nolongin kamu. Aku pasti masih di sana, aku sendiri masih nggak tahu, apa aku bisa menolong diriku sendiri.”

“Maksud kamu?”

“Selama tiga hari, Yeriko merintahkan Chandra buat nyari aku. Aku tahu, seharusnya Yeriko membenci aku, Bel. Tapi, dia lebih memilih menolong kita di saat kita sama-sama terpuruk.”

Air mata Bellina semakin mengalir deras. “Aku udah salah, Li. Aku bener-bener ngerasa bersalah karena selama ini udah jahat ke Yuna. Kenapa dia masih mau peduli sama aku?”

Lian langsung memeluk erat tubuh Bellina. “Sebenarnya, dia sayang sama kamu. Nggak mau kamu terus-terusan terjerumus dan salah paham. Mulai sekarang, kamu bersikap baik ke dia ya! Dia nggak akan melukai kamu.”

Bellina menganggukkan kepala. “Aku nggak nyangka, di saat aku terpuruk kayak gini. Yang peduli banget sama aku, justru dia. Harusnya, dia biarin aja aku mati!”

Lian mengelus pundak Bellina dengan lembut. “Kamu tenang dulu!” pintanya. “Yeriko dan Yuna sudah berbaik hati sama kamu. Aku merasa berhutang budi sama dia.”

“Aku nggak tahu gimana menghadapi mereka setelah ini,” tutur Bellina lirih. Ia ingin membenci Yeriko dan Yuna karena telah sengaja menghancurkan hidupnya dengan mengirimkan rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya. Hanya saja, keduanya juga menjadi penyelamat untuk hidup Lian dan dirinya. Hal ini, membuat Bellina semakin tak karuan. Ia ingin membenci, tapi juga merasa berhutang budi.

“Kamu nggak usah khawatir. Yuna pasti maafin kamu, kok. Asal kamu beneran berubah. Jangan menyakiti orang lain lagi!”

Bellina menganggukkan kepala.

“Aku panggil dokter dulu!” Lian bangkit dan bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Bellina.

Beberapa menit kemudian, Lian kembali ke dalam ruangan tersebut bersama dokter yang menangani kondisi Bellina.

Dokter tersebut memeriksa semua kondisi kesehatan Bellina selama beberapa menit.

“Gimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Lian.

“Semuanya baik-baik saja. Jaga istri Anda dengan baik!” pinta dokter tersebut. “Kemungkinan besar, trauma psikis dia masih ada. Jika terjadi keanehan dalam dirinya, mohon segera ditangani!”

Lian menganggukkan kepala. “Terima kasih, Dokter!”

Dokter tersebut menganggukkan kepala. Lian mengiringi langkah dokter tersebut keluar dari ruangannya. Ia kembali menghampiri Bellina setelah dokter tersebut pergi.

“Bel, kamu mau makan apa?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak nafsu makan.”

“Jangan menyiksa diri sendiri!” pinta Lian. “Aku belikan bubur buat kamu. Harus makan banyak! Banyak hal yang harus kita lalui bersama. Oke?”

Bellina tersenyum menatap Lian. Ia menganggukkan kepala.

“Aku pergi dulu! Nggak akan lama,” pamit Lian sambil mengecup kening Bellina.

Bellina mengangguk. Ia merasa sangat bahagia melihat Lian yang begitu perhatian dengannya. “Andai, kamu peduli sama aku seperti ini dari dulu,” bisiknya lirih.

Bellina memejamkan mata sejenak sambil menunggu Wilian kembali menemaninya.

Tak berapa lama, Lian sudah kembali. Membawakan bubur hangat untuk Bellina.

“Makan, ya!” pinta Lian. Ia membantu Bellina untuk duduk. Ia juga menyuap makanan ke mulut Bellina penuh kasih sayang.

Bellina terus menatap Wilian. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya mau menemaninya di rumah sakit. Di saat seperti ini, ia rela untuk tidak sembuh selamanya. Asalkan, bisa bersama Lian setiap hari. Merasakan kasih sayang dan kehangatan Lian seperti saat mereka menjalin cinta untuk pertama kalinya. Hal yang tak pernah ia dapatkan setelah ia menikah dengan pria itu.

“Li, makasih ya! Kamu sudah memaafkan dan menerima aku lagi.”

Lian tersenyum menatap Bellina. “Cuma kamu yang aku miliki sekarang. Aku nggak mungkin menyia-nyiakan itu. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu tetap teguh mencintaiku, sedang aku sibuk mengejar cinta dari wanita lain.”

Bellina menatap Lian. “Asal kamu berhenti mengejar Yuna. Aku akan berhenti mengganggu hidup dia.”

Lian menganggukkan kepala. “Aku janji, mulai saat ini ... aku akan selalu ada buat kamu. Apa pun yang akan terjadi, seberat apa pun masalah yang kamu hadapi. Jangan menutupi dari aku!” pinta Lian.

Bellina menganggukkan kepala. Ia benar-benar bahagia. Ia tak menyangka kalau Lian akan kembali ke pelukannya. Menjalani hari-hari mereka penuh kebahagiaan.

Harusnya, Bellina bisa lebih fokus membuat Lian bahagia di sisinya. Bukannya sibuk memikirkan cara untuk menyingkirkan Yuna. Hingga ia mengabaikan Lian yang hatinya masih terombang-ambing dan bisa saja ... jatuh ke pelukan orang lain. Mempertahankan cintanya, jauh lebih sulit dari mendapatkannya.

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat update bab setiap hari y...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 354 : Keluarga yang Kacau

 


Sudah tiga jam Lian menunggu Bellina di rumah sakit. Namun, istrinya itu tak kunjung tersadar dari tidurnya. Perasaannya kini semakin tak karuan, ia merasa kecewa juga merasa bersalah.

“Bel, bangun ...!” bisik Lian sambil mengecup punggung tangan Bellina. Air matanya menetes tepat di punggung tangan itu. Penyesalan Lian kali ini, benar-benar berada di puncak.

Lian merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia menempelkan ponsel tersebut kw telinganya.

“Halo, Pak Lian ...!” sapa seseorang di ujung sana.

“Bisa bawakan pakaianku sama Bellina ke rumah sakit? Aku di Rumah Sakit Siloam. Kamar VIP nomor tujuh.”

“Baik, Pak.”

Lian langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia memilih untuk menunggu Bellina di rumah sakit. Ia tidak ingin kembali ke rumah. Sebab, ia pasti akan bertengkar dengan mamanya sendiri.

 

Dua puluh empat jam berlalu ...

Bellina tak kunjung sadar. Membuat lian semakin panik.

“Dokter, kenapa istri saya belum sadar juga?” tanya Lian saat seorang dokter masuk ke dalam ruang rawat tersebut.

“Kondisi tubuhnya normal. Hanya saja, kesadarannya memang belum kembali. Pak Lian tidak perlu khawatir. Dia akan tersadar dan pulih seperti biasa. Hanya saja, waktunya tidak bisa kami perkirakan. Bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama.”

“Dokter yakin kalau dia akan baik-baik aja?”

Dokter menganggukkan kepala. “Anda nggak percaya sama dokter?”

“Saya percaya, Dok. Saya hanya takut kalau dia nggak bisa sadar lagi.”

“Nggak perlu takut. Detak jantungnya sudah normal. Semua akan baik-baik saja,” tutur dokter tersebut sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut setelah memastikan kondisi kesehatan pasiennya.

Lian kembali menatap wajah Bellina yang masih terbaring di tempat tidur. Ia kembali duduk di samping ranjang pasien. Ia berharap, Bellina bisa sadar secepatnya.

 

...

 

“Si Lian, bener-bener menguji kesabaranku!” tutur Mega. “Dia udah nggak mau nurut sama Mamanya lagi.” Mega masih terus mengomel di rumahnya. Terlebih saat mengetahui putera kesayangannya itu tidak kembali ke rumah, lebih memilih menemani Bellina di rumah sakit.

“Sudahlah, Ma. Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka. Mereka sudah dewasa.”

“Nggak bisa. Aku tetap nggak terima sama semua yang udah dilakukan Bellina selama ini. Aku juga nggak mau kalau dia tetap menjadi menantu di keluarga kita. Aku mau Wilian segera menceraikan Bellina!” tegas Mega.

Abdi terdiam. Ia tidak ingin membuat puteranya kehilangan orang yang dicintainya. Juga tidak ingin nama baik keluarganya tercemar karena kelakuan menantunya.

“Kalau dia nggak mau menceraikan Bellina. Biar aku yang urus semuanya.” Mega keukeuh, ia menginginkan puteranya itu berpisah dengan Bellina.

“Ma, mau ke mana?” tanya Abdi.

“Mau urus perceraian mereka!” sahut Mega. Ia melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Lian. Ia mencari dokumen-dokumen di kamar anaknya itu untuk mengurus perceraian.

“Ma, sebaiknya kita pikirkan cara lain untuk menyelesaikan ini semua. Nggak harus membuat mereka bercerai.”

“Cara apa lagi? Mau ngasih kesempatan ke Bellina supaya bikin malu keluarga kita lagi? Aku nggak mau punya menantu keji kayak dia. Sekarang, dia tega bunuh anaknya sendiri. Besok, kalau dia bunuh keluarga kita, gimana?”

Abdi terdiam. Ia tak bisa berdebat dengan istrinya sendiri.

“Orang kayak dia, nggak perlu dikasihani!” ucap Mega kesal.

Setelah mendapatkan semua dokumen yang ia inginkan. Ia langsung bergegas menuju kantor pengacara perusahaannya.

“Selamat pagi, Bu! Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang asisten begitu melihat Mega masuk ke kantornya.

“Bos kamu ada?”

“Ada, Bu.”

Mega tak bertanya lagi. Ia langsung nyelonong masuk ke dalam ruang kerja pengacara tersebut.

“Pak, saya minta uruskan perceraian anak saya!” pinta Mega sambil menyodorkan map ke hadapan pengacara tersebut.

“Cerai?”

“Iya.”

“Kenapa bercerai?”

“Nggak perlu banyak tanya. Aku mau mereka cerai secepatnya!” perintah Mega.

“Oke.” Pengacara tersebut menganggukkan kepala.

“Aku tunggu surat cerai itu secepatnya. Kalau bisa, sore ini sudah jadi.”

“Baik, Bu. Setelah semuanya selesai, saya akan kirimkan surat perceraian ke rumah Ibu.”

“Oke. Saya tunggu secepatnya. Saya pulang dulu!” pamit Mega. “Terima kasih sudah membantu.”

Pengacara tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Mega bergegas kembali ke rumah. Ia harap, Lian bisa menceraikan Bellina secepatnya. Ia tidak memperdulikan Bellina yang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ia juga menutupi semua keadaan yang terjadi pada Bellina dari keluarganya.

 

...

 

“Pa, kenapa Bellina beberapa hari ini nggak bisa dihubungi ya?” tanya Melan saat menikmati sarapan pagi bersama suaminya.

“Sudah telepon Mega?”

“Sudah. Katanya, ada di rumah mereka.”

“Ya sudahlah. Dia pasti baik-baik aja di keluarga Wijaya. Mungkin, Bellina lagi sibuk.”

“Katanya, dia sudah mulai masuk kerja. Apa nggak ketemu sama Papa di kantor?”

“Beberapa hari ini, Papa lebih banyak ketemu klien di luar. Belum ada ke kantor. Nanti, coba Papa cek ke kantor group.”

Melan menganggukkan kepala. Ia mulai khawatir dengan keadaan Bellina semenjak puterinya itu mengatakan kalau Yeriko mulai mengancamnya. “Apa dia lagi sibuk menyelesaikan masalahnya dengan Yeriko ya? Mungkin, aku aja yang terlalu khawatir,” batin Melan menenangkan dirinya.

“Oh ya, sore ini aku mau jenguk Kak Adjie di apartemen. Kamu mau ikut?”

Melan terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu saat Yuna menyiramnya dengan air panas. Ia tidak ingin mengatakan hal itu kepada suaminya sendiri.

“Kenapa?” tanya Tarudi.

“Aku sudah ada janji ketemu sama temen arisan sore ini.”

“Oh. Oke.”

Melan tersenyum. “Aku mau tanya, apa kakak kamu itu nggak pernah mengungkit soal saham perusahaan?”

Tarudi menggelengkan kepalanya. “Ingatannya belum kembali. Dia hanya mengingat Yuna yang masih berusia tiga belas tahun. Sepertinya, dia juga tidak mengingat penyebab kematian istrinya. Dia nggak pernah mengungkit itu di depanku.”

“Baguslah. Artinya, kita masih bisa menguasai perusahaan itu sepenuhnya.”

Tarudi menganggukkan kepala. “Hanya saja, Yuna benar-benar menjadi ancaman besar.”

“Hah!? Kenapa sama anak itu?”

“Dia memang sudah berjanji untuk tidak mengambil alih kedudukan di perusahaan. Tapi, dia tidak menghindari persaingan. Terlebih, suaminya itu ... semua orang tahu siapa dia.”

“Pa, asal kita bisa mengendalikan Yuna. Kita bisa mengendalikan Yeriko dan Adjie sekaligus.”

“Justru dia yang sulit untuk dikendalikan.”

“Iya juga ya? Lebih mudah mengendalikan Bellina daripada anak itu.”

“Sudahlah. Jangan terus-terusan melibatkan anak-anak! Mereka sudah dewasa.”

“Justru karena semakin dewasa, semakin berbahaya buat kita. Kamu nggak tahu gimana Yuna terus mengancam kita?”

“Ah, kamu ini. Selalu aja begitu,” celetuk Tarudi sambil bergegas pergi dari ruang makan tersebut.

“Pa ...! Aku serius. Jangan sampai perusahaan kita jatuh lagi ke tangan Yuna!” seru Melan sambil menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh.

Melan menghela napas. “Kamu udah mulai ngelawan aku juga?” gumamnya kesal.

“Ini semua gara-gara Yuna yang suka memberontak itu. Sekarang, Rudi sama Bellina juga mulai ngelawan sama aku.”

Melan mulai gelisah karena orang-orang di sekitarnya, mulai sulit untuk ia kendalikan seperti dulu lagi.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas