Wednesday, February 4, 2026

Ketika Rp10.000 Terasa Lebih Berat dari Beban Dunia



Tentang Anak, Kesehatan Mental, dan Ketimpangan yang Terlalu Dini



Ada kabar yang tidak seharusnya kita baca, tapi tetap terjadi.
Pada 29 Januari 2026, seorang anak SD berusia 10 tahun, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, memilih pergi lebih cepat dari usianya. 
Bukan karena perang. Bukan karena bencana alam. Hanya karena buku dan pulpen seharga sekitar Rp10.000—angka yang bagi sebagian orang bahkan tidak cukup untuk membeli satu gelas kopi. Tapi baginya itu adalah barang mewah yang sulit untuk ia miliki. Membuatnya kehilangan kesempatan untuk hidup. Dia tak lagi bisa menggantungkan cita-citanya pada langit-langit sekolah karena tubuh mungilnya sudah tergantung lebih dahulu. Pergi bersama mimpi-mimpi kecilnya yang sulit ia gapai. 

Berita itu menyayat bukan karena sensasionalnya, tapi karena ia membuka satu kenyataan pahit:
anak-anak kita sedang bertumbuh di dunia yang tidak ramah, dan kita sering terlalu sibuk untuk menyadarinya.

Anak Tidak Pernah Benar-Benar Lemah
Kita sering menyebut anak sebagai makhluk yang polos, ceria, dan belum paham kerasnya hidup. Padahal, banyak anak justru lebih cepat memahami realitas daripada yang kita kira—terutama anak-anak yang lahir dari keluarga dengan tekanan ekonomi berat.
Anak usia 10 tahun mungkin belum mengerti istilah “kemiskinan struktural”, tapi mereka mengerti rasa malu,
mengerti perbandingan, mengerti ketika tidak bisa memenuhi tuntutan sekolah, dan mengerti saat merasa menjadi beban bagi orang tuanya.
Di usia itu, mereka belum punya kosakata untuk berkata:
“Aku lelah.”
“Aku tertekan.”
“Aku merasa gagal.”
Yang mereka punya hanyalah perasaan, dan sayangnya, perasaan itu sering dipendam sendirian.

Kesehatan Mental Anak Bukan Soal Anak yang Rapuh
Kasus ini sering dibaca sebagai tragedi individual. Padahal, ia adalah kegagalan kolektif. Kesehatan mental anak bukan hanya soal ada atau tidaknya psikolog di sekolah.
Ia sangat ditentukan oleh kemampuan sosial anak untuk merasa diterima. Pola parenting yang memahami emosi, bukan sekadar menuntut kepatuhan. Lingkungan yang aman dari perbandingan dan tekanan berlebihan. 

Masalahnya, ilmu parenting hari ini sering terdengar indah di seminar, tapi tidak selalu relevan dengan realitas keluarga miskin.
Bagaimana mungkin orang tua diminta “hadir secara emosional” ketika mereka sendiri:
Lelah mencari makan
Tertekan oleh biaya hidup
Hidup dari hari ke hari tanpa jaring pengaman

Bukan karena mereka tidak peduli.
Tapi karena bertahan hidup saja sudah menghabiskan seluruh energi.

Ketimpangan yang Terlalu Dini
Di satu belahan dunia, anak-anak belajar mengelola trauma karena tidak punya buku tulis. Di belahan lain, anak seusia mereka sedang memilih iPhone terbaru seharga belasan juta rupiah.

Ini bukan tentang iri. Ini tentang ketimpangan yang dirasakan terlalu cepat oleh anak-anak.
Sekolah, tanpa sadar, sering menjadi ruang paling kejam bagi anak dari keluarga tidak mampu:
- Seragam harus sama
- Alat tulis harus lengkap
- Buku harus ada
- Tugas harus sempurna

Padahal tidak semua anak memulai hidup dari garis start yang sama.
Bagi sebagian anak, Rp10.000 adalah kemewahan.
Dan ketika kemewahan itu tak bisa diraih, rasa gagal bisa terasa lebih berat daripada usia mereka sendiri.

Kita Terlalu Sering Menyuruh Anak Kuat
Ironisnya, kita gemar berkata:
“Anak sekarang lemah mental.”
Padahal mungkin yang melemah bukan anaknya, melainkan sistem sosial kita yang gagal melindungi mereka.
Anak-anak yang tumbuh dalam hidup keras sering justru lebih kuat,
tapi kekuatan itu ada batasnya.
Ketika tekanan ekonomi, tuntutan sosial, dan kurangnya ruang aman bertemu,
bahkan anak terkuat pun bisa runtuh—dalam diam.

Yang Seharusnya Kita Pelajari
Tragedi ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita viral, lalu tenggelam oleh kabar lain.
Ia seharusnya membuat kita bertanya:
Apakah sekolah sudah benar-benar ramah bagi anak miskin?
Apakah orang tua mendapat dukungan, bukan hanya tuntutan?
Apakah kita masih suka membandingkan anak, tanpa tahu luka di baliknya?
Kesehatan mental anak tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada keluarga.
Ia adalah tanggung jawab bersama—sekolah, masyarakat, negara, dan kita sebagai sesama manusia.

Jangan Biarkan Anak Berjuang Sendirian
Anak 10 tahun itu mungkin sudah pergi.
Tapi masih ada jutaan anak lain yang hari ini sedang menahan beban serupa, hanya saja belum terdengar.
Jika kita tidak mengubah cara memandang anak, kemiskinan, dan kesehatan mental, maka Rp10.000 berikutnya bisa kembali menjadi alasan kehilangan yang lain.
Dan itu adalah kegagalan yang tidak bisa kita maafkan pada diri kita sendiri.




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas