Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 355 : Berusaha Bertahan

 


Bellina membuka matanya perlahan setelah ia tertidur selama empat puluh delapan jam di ranjang rumah sakit.

“Lian ...!” panggil Bellina lirih. Matanya belum bisa melihat wajah Lian dengan jelas. Samar-samar, ia melihat seorang pria sedang berdiri menatapnya. Ia harap, pria itu adalah Wilian.

“Bel, ini aku!” seru Lian sambil menggenggam telapak tangan Bellina. “Kamu udah sadar?”

Bellina mengangguk perlahan sambil tersenyum. Pandangannya semakin jelas. Ia bisa melihat wajah Lian yang sedang menatapnya. Dunianya begitu indah ketika ia mendapati Wilian masih berada di sampingnya. Ia pikir, Lian akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Lian menyingkap anak rambut Bellina. Ia langsung memeluk tubuh istrinya itu. “Maafin, aku! Nggak seharusnya aku meninggalkan kamu sendirian.”

Bellina tersenyum sambil mengelus punggung Lian dengan lembut. “Nggak papa. Aku senang kamu masih ada di sampingku. Aku pikir, kamu bakal ninggalin aku selamanya.”

“Aku nggak akan ninggalin kamu!” tegas Lian. Ia tidak ingin menyesal kedua kalinya. Ia sudah menyia-nyiakan Yuna yang dulu mencintainya dengan tulus. Kali ini, ia tidak ingin kehilangan Bellina yang selalu menyayanginya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencintai Bellina dengan tulus. Melupakan masa lalunya dengan Yuna dan memulai kehidupan mereka dari awal lagi.

Bellina menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Maafin, aku! Aku ngelakuin itu semua, karena takut kehilangan kamu.”

Lian menganggukkan kepala.

“Aku beneran nggak membunuh anak kita. Saat itu, dokter bilang kalau bayiku sudah mati dalam kandungan dan harus dioperasi. Saat aku jatuh dari tangga, aku nggak tahu kalau anak kita, ternyata masih hidup. Aku nggak tahu kenapa dokter sebelumnya mendiagnosis kalau anak aku udah mati,” jelas Bellina sambil menangis.

“Sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kita masih bisa melahirkan anak lagi. Nggak perlu sedih!”

Bellina menganggukkan kepala sambil menangis. “Li, aku sayang sama kamu. Apa kamu juga sayang sama aku?”

Lian menganggukkan kepala.

“Aku pikir, kamu masih terus-terusan mengejar Yuna.”

Lian menghela napas mendengar ucapan Bellina. “Maafin aku karena selama ini selalu mengabaikan kamu dan terus-menerus memikirkan Yuna. Sekarang, aku sadar kalau kamu adalah cinta yang aku miliki sekarang. Yuna nggak akan pernah kembali sama aku. Dia sudah bahagia sama orang lain. Seharusnya, kita juga bisa hidup bahagia.”

Bellina semakin terisak mendengar ucapan Lian. Rasa bersalahnya selama ini justru semakin besar.

“Kamu relakan semuanya, ya!” pinta Lian. “Biarkan sepupu kamu hidup bahagia sama Yeriko dan kita juga bisa bahagia.”

Bellina menganggukkan kepalanya.

“Kalau bukan karena mereka, mungkin kita nggak akan bisa ketemu lagi,” tutur Lian lirih sambil menundukkan kepala.

“Maksud kamu?”

Lian menarik napas dalam-dalam. “Kamu terkurung di dalam gudang itu sangat lama. Andai Chandra nggak dateng nyari aku. Aku nggak mungkin kembali ke rumah dan nolongin kamu. Aku pasti masih di sana, aku sendiri masih nggak tahu, apa aku bisa menolong diriku sendiri.”

“Maksud kamu?”

“Selama tiga hari, Yeriko merintahkan Chandra buat nyari aku. Aku tahu, seharusnya Yeriko membenci aku, Bel. Tapi, dia lebih memilih menolong kita di saat kita sama-sama terpuruk.”

Air mata Bellina semakin mengalir deras. “Aku udah salah, Li. Aku bener-bener ngerasa bersalah karena selama ini udah jahat ke Yuna. Kenapa dia masih mau peduli sama aku?”

Lian langsung memeluk erat tubuh Bellina. “Sebenarnya, dia sayang sama kamu. Nggak mau kamu terus-terusan terjerumus dan salah paham. Mulai sekarang, kamu bersikap baik ke dia ya! Dia nggak akan melukai kamu.”

Bellina menganggukkan kepala. “Aku nggak nyangka, di saat aku terpuruk kayak gini. Yang peduli banget sama aku, justru dia. Harusnya, dia biarin aja aku mati!”

Lian mengelus pundak Bellina dengan lembut. “Kamu tenang dulu!” pintanya. “Yeriko dan Yuna sudah berbaik hati sama kamu. Aku merasa berhutang budi sama dia.”

“Aku nggak tahu gimana menghadapi mereka setelah ini,” tutur Bellina lirih. Ia ingin membenci Yeriko dan Yuna karena telah sengaja menghancurkan hidupnya dengan mengirimkan rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya. Hanya saja, keduanya juga menjadi penyelamat untuk hidup Lian dan dirinya. Hal ini, membuat Bellina semakin tak karuan. Ia ingin membenci, tapi juga merasa berhutang budi.

“Kamu nggak usah khawatir. Yuna pasti maafin kamu, kok. Asal kamu beneran berubah. Jangan menyakiti orang lain lagi!”

Bellina menganggukkan kepala.

“Aku panggil dokter dulu!” Lian bangkit dan bergegas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Bellina.

Beberapa menit kemudian, Lian kembali ke dalam ruangan tersebut bersama dokter yang menangani kondisi Bellina.

Dokter tersebut memeriksa semua kondisi kesehatan Bellina selama beberapa menit.

“Gimana kondisi istri saya, Dok?” tanya Lian.

“Semuanya baik-baik saja. Jaga istri Anda dengan baik!” pinta dokter tersebut. “Kemungkinan besar, trauma psikis dia masih ada. Jika terjadi keanehan dalam dirinya, mohon segera ditangani!”

Lian menganggukkan kepala. “Terima kasih, Dokter!”

Dokter tersebut menganggukkan kepala. Lian mengiringi langkah dokter tersebut keluar dari ruangannya. Ia kembali menghampiri Bellina setelah dokter tersebut pergi.

“Bel, kamu mau makan apa?” tanya Lian.

Bellina menggelengkan kepala. “Aku nggak nafsu makan.”

“Jangan menyiksa diri sendiri!” pinta Lian. “Aku belikan bubur buat kamu. Harus makan banyak! Banyak hal yang harus kita lalui bersama. Oke?”

Bellina tersenyum menatap Lian. Ia menganggukkan kepala.

“Aku pergi dulu! Nggak akan lama,” pamit Lian sambil mengecup kening Bellina.

Bellina mengangguk. Ia merasa sangat bahagia melihat Lian yang begitu perhatian dengannya. “Andai, kamu peduli sama aku seperti ini dari dulu,” bisiknya lirih.

Bellina memejamkan mata sejenak sambil menunggu Wilian kembali menemaninya.

Tak berapa lama, Lian sudah kembali. Membawakan bubur hangat untuk Bellina.

“Makan, ya!” pinta Lian. Ia membantu Bellina untuk duduk. Ia juga menyuap makanan ke mulut Bellina penuh kasih sayang.

Bellina terus menatap Wilian. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya mau menemaninya di rumah sakit. Di saat seperti ini, ia rela untuk tidak sembuh selamanya. Asalkan, bisa bersama Lian setiap hari. Merasakan kasih sayang dan kehangatan Lian seperti saat mereka menjalin cinta untuk pertama kalinya. Hal yang tak pernah ia dapatkan setelah ia menikah dengan pria itu.

“Li, makasih ya! Kamu sudah memaafkan dan menerima aku lagi.”

Lian tersenyum menatap Bellina. “Cuma kamu yang aku miliki sekarang. Aku nggak mungkin menyia-nyiakan itu. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu tetap teguh mencintaiku, sedang aku sibuk mengejar cinta dari wanita lain.”

Bellina menatap Lian. “Asal kamu berhenti mengejar Yuna. Aku akan berhenti mengganggu hidup dia.”

Lian menganggukkan kepala. “Aku janji, mulai saat ini ... aku akan selalu ada buat kamu. Apa pun yang akan terjadi, seberat apa pun masalah yang kamu hadapi. Jangan menutupi dari aku!” pinta Lian.

Bellina menganggukkan kepala. Ia benar-benar bahagia. Ia tak menyangka kalau Lian akan kembali ke pelukannya. Menjalani hari-hari mereka penuh kebahagiaan.

Harusnya, Bellina bisa lebih fokus membuat Lian bahagia di sisinya. Bukannya sibuk memikirkan cara untuk menyingkirkan Yuna. Hingga ia mengabaikan Lian yang hatinya masih terombang-ambing dan bisa saja ... jatuh ke pelukan orang lain. Mempertahankan cintanya, jauh lebih sulit dari mendapatkannya.

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat update bab setiap hari y...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas