Bellina
membuka matanya perlahan setelah ia tertidur selama empat puluh delapan jam di
ranjang rumah sakit.
“Lian
...!” panggil Bellina lirih. Matanya belum bisa melihat wajah Lian dengan
jelas. Samar-samar, ia melihat seorang pria sedang berdiri menatapnya. Ia
harap, pria itu adalah Wilian.
“Bel,
ini aku!” seru Lian sambil menggenggam telapak tangan Bellina. “Kamu udah
sadar?”
Bellina
mengangguk perlahan sambil tersenyum. Pandangannya semakin jelas. Ia bisa
melihat wajah Lian yang sedang menatapnya. Dunianya begitu indah ketika ia
mendapati Wilian masih berada di sampingnya. Ia pikir, Lian akan meninggalkan
dirinya untuk selamanya.
Lian
menyingkap anak rambut Bellina. Ia langsung memeluk tubuh istrinya itu.
“Maafin, aku! Nggak seharusnya aku meninggalkan kamu sendirian.”
Bellina
tersenyum sambil mengelus punggung Lian dengan lembut. “Nggak papa. Aku senang
kamu masih ada di sampingku. Aku pikir, kamu bakal ninggalin aku selamanya.”
“Aku
nggak akan ninggalin kamu!” tegas Lian. Ia tidak ingin menyesal kedua kalinya.
Ia sudah menyia-nyiakan Yuna yang dulu mencintainya dengan tulus. Kali ini, ia
tidak ingin kehilangan Bellina yang selalu menyayanginya. Ia sudah berjanji
pada dirinya sendiri untuk mencintai Bellina dengan tulus. Melupakan masa
lalunya dengan Yuna dan memulai kehidupan mereka dari awal lagi.
Bellina
menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Maafin, aku! Aku ngelakuin itu
semua, karena takut kehilangan kamu.”
Lian
menganggukkan kepala.
“Aku
beneran nggak membunuh anak kita. Saat itu, dokter bilang kalau bayiku sudah
mati dalam kandungan dan harus dioperasi. Saat aku jatuh dari tangga, aku nggak
tahu kalau anak kita, ternyata masih hidup. Aku nggak tahu kenapa dokter
sebelumnya mendiagnosis kalau anak aku udah mati,” jelas Bellina sambil
menangis.
“Sudahlah.
Semuanya sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kita masih bisa
melahirkan anak lagi. Nggak perlu sedih!”
Bellina
menganggukkan kepala sambil menangis. “Li, aku sayang sama kamu. Apa kamu juga
sayang sama aku?”
Lian
menganggukkan kepala.
“Aku
pikir, kamu masih terus-terusan mengejar Yuna.”
Lian
menghela napas mendengar ucapan Bellina. “Maafin aku karena selama ini selalu
mengabaikan kamu dan terus-menerus memikirkan Yuna. Sekarang, aku sadar kalau
kamu adalah cinta yang aku miliki sekarang. Yuna nggak akan pernah kembali sama
aku. Dia sudah bahagia sama orang lain. Seharusnya, kita juga bisa hidup
bahagia.”
Bellina
semakin terisak mendengar ucapan Lian. Rasa bersalahnya selama ini justru
semakin besar.
“Kamu
relakan semuanya, ya!” pinta Lian. “Biarkan sepupu kamu hidup bahagia sama
Yeriko dan kita juga bisa bahagia.”
Bellina
menganggukkan kepalanya.
“Kalau
bukan karena mereka, mungkin kita nggak akan bisa ketemu lagi,” tutur Lian
lirih sambil menundukkan kepala.
“Maksud
kamu?”
Lian
menarik napas dalam-dalam. “Kamu terkurung di dalam gudang itu sangat lama.
Andai Chandra nggak dateng nyari aku. Aku nggak mungkin kembali ke rumah dan
nolongin kamu. Aku pasti masih di sana, aku sendiri masih nggak tahu, apa aku
bisa menolong diriku sendiri.”
“Maksud
kamu?”
“Selama
tiga hari, Yeriko merintahkan Chandra buat nyari aku. Aku tahu, seharusnya
Yeriko membenci aku, Bel. Tapi, dia lebih memilih menolong kita di saat kita
sama-sama terpuruk.”
Air
mata Bellina semakin mengalir deras. “Aku udah salah, Li. Aku bener-bener
ngerasa bersalah karena selama ini udah jahat ke Yuna. Kenapa dia masih mau
peduli sama aku?”
Lian
langsung memeluk erat tubuh Bellina. “Sebenarnya, dia sayang sama kamu. Nggak
mau kamu terus-terusan terjerumus dan salah paham. Mulai sekarang, kamu
bersikap baik ke dia ya! Dia nggak akan melukai kamu.”
Bellina
menganggukkan kepala. “Aku nggak nyangka, di saat aku terpuruk kayak gini. Yang
peduli banget sama aku, justru dia. Harusnya, dia biarin aja aku mati!”
Lian
mengelus pundak Bellina dengan lembut. “Kamu tenang dulu!” pintanya. “Yeriko
dan Yuna sudah berbaik hati sama kamu. Aku merasa berhutang budi sama dia.”
“Aku
nggak tahu gimana menghadapi mereka setelah ini,” tutur Bellina lirih. Ia ingin
membenci Yeriko dan Yuna karena telah sengaja menghancurkan hidupnya dengan
mengirimkan rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya. Hanya saja, keduanya juga
menjadi penyelamat untuk hidup Lian dan dirinya. Hal ini, membuat Bellina
semakin tak karuan. Ia ingin membenci, tapi juga merasa berhutang budi.
“Kamu
nggak usah khawatir. Yuna pasti maafin kamu, kok. Asal kamu beneran berubah.
Jangan menyakiti orang lain lagi!”
Bellina
menganggukkan kepala.
“Aku
panggil dokter dulu!” Lian bangkit dan bergegas memanggil dokter untuk
memeriksa keadaan Bellina.
Beberapa
menit kemudian, Lian kembali ke dalam ruangan tersebut bersama dokter yang
menangani kondisi Bellina.
Dokter
tersebut memeriksa semua kondisi kesehatan Bellina selama beberapa menit.
“Gimana
kondisi istri saya, Dok?” tanya Lian.
“Semuanya
baik-baik saja. Jaga istri Anda dengan baik!” pinta dokter tersebut.
“Kemungkinan besar, trauma psikis dia masih ada. Jika terjadi keanehan dalam
dirinya, mohon segera ditangani!”
Lian
menganggukkan kepala. “Terima kasih, Dokter!”
Dokter
tersebut menganggukkan kepala. Lian mengiringi langkah dokter tersebut keluar
dari ruangannya. Ia kembali menghampiri Bellina setelah dokter tersebut pergi.
“Bel,
kamu mau makan apa?” tanya Lian.
Bellina
menggelengkan kepala. “Aku nggak nafsu makan.”
“Jangan
menyiksa diri sendiri!” pinta Lian. “Aku belikan bubur buat kamu. Harus makan
banyak! Banyak hal yang harus kita lalui bersama. Oke?”
Bellina
tersenyum menatap Lian. Ia menganggukkan kepala.
“Aku
pergi dulu! Nggak akan lama,” pamit Lian sambil mengecup kening Bellina.
Bellina
mengangguk. Ia merasa sangat bahagia melihat Lian yang begitu perhatian
dengannya. “Andai, kamu peduli sama aku seperti ini dari dulu,” bisiknya lirih.
Bellina
memejamkan mata sejenak sambil menunggu Wilian kembali menemaninya.
Tak
berapa lama, Lian sudah kembali. Membawakan bubur hangat untuk Bellina.
“Makan,
ya!” pinta Lian. Ia membantu Bellina untuk duduk. Ia juga menyuap makanan ke
mulut Bellina penuh kasih sayang.
Bellina
terus menatap Wilian. Ia merasa sangat bahagia karena suaminya mau menemaninya
di rumah sakit. Di saat seperti ini, ia rela untuk tidak sembuh selamanya.
Asalkan, bisa bersama Lian setiap hari. Merasakan kasih sayang dan kehangatan
Lian seperti saat mereka menjalin cinta untuk pertama kalinya. Hal yang tak
pernah ia dapatkan setelah ia menikah dengan pria itu.
“Li,
makasih ya! Kamu sudah memaafkan dan menerima aku lagi.”
Lian
tersenyum menatap Bellina. “Cuma kamu yang aku miliki sekarang. Aku nggak
mungkin menyia-nyiakan itu. Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu
tetap teguh mencintaiku, sedang aku sibuk mengejar cinta dari wanita lain.”
Bellina
menatap Lian. “Asal kamu berhenti mengejar Yuna. Aku akan berhenti mengganggu
hidup dia.”
Lian
menganggukkan kepala. “Aku janji, mulai saat ini ... aku akan selalu ada buat
kamu. Apa pun yang akan terjadi, seberat apa pun masalah yang kamu hadapi.
Jangan menutupi dari aku!” pinta Lian.
Bellina
menganggukkan kepala. Ia benar-benar bahagia. Ia tak menyangka kalau Lian akan
kembali ke pelukannya. Menjalani hari-hari mereka penuh kebahagiaan.
Harusnya,
Bellina bisa lebih fokus membuat Lian bahagia di sisinya. Bukannya sibuk
memikirkan cara untuk menyingkirkan Yuna. Hingga ia mengabaikan Lian yang
hatinya masih terombang-ambing dan bisa saja ... jatuh ke pelukan orang lain. Mempertahankan cintanya, jauh
lebih sulit dari mendapatkannya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat update bab setiap hari y...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment