Yeriko
melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit sambil merangkul pinggang
Yuna dengan hati-hati. Hari ini, mereka sudah membuat janji untuk bertemu
dengan dokter di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Yuna.
“Hati-hati
...!” Yeriko langsung merapatkan tubuh Yuna saat berpapasan dengan beberapa
orang yang kebetulan lalu lalang di koridor tersebut.
Yuna
menatap Yeriko sambil tersenyum kecil. “Kamu berlebihan banget. Mereka lihat
kita kayak orang aneh. Mereka bukan ancaman buat aku.”
“Ah,
kamu ini. Aku khawatir kamu ketabrak.”
“Aku
kan udah di samping kamu. Pasti baik-baik aja.” Yuna tersenyum kecil. Ia sedikit
tidak nyaman karena merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. “Hmm,
mungkin perasaanku aja,” batin Yuna.
Yeriko
tersenyum. Ia mengajak Yuna untuk duduk di ruang tunggu. Di tangannya, ia sudah
memegang bantal duduk. Ia meletakkan bantal tersebut di atas kursi tunggu dan
mempersilakan istrinya untuk duduk.
“Makasih
...!” ucap Yuna manja.
Yuna
merasa, sikap Yeriko terlalu berlebihan. Ia melihat ibu hamil yang lain tak ada
yang diperlakukan seistimewa itu oleh suaminya. Bahkan, suaminya lebih memilih
menemani dari kejauhan. Sedangkan, Yeriko terus menempel kepadanya. Hal ini, membuat
pipi Yuna terus menghangat.
“Ay,
kita masih ngantri? Bukannya udah buat janji?” bisik Yuna.
“Bukannya
kamu sendiri yang bilang, jangan terlalu mencolok di tempat umum?”
Yuna
meringis sambil menyandarkan dagu di bahu Yeriko.
“Bellina
dirawat di rumah sakit ini,” tutur Yeriko lirih.
“Hah!?
Dia sakit apa?” tanya Yuna.
Yeriko
menceritakan keadaan Bellina yang sebenarnya setelah ia menemukan Lian.
“Aku
nggak nyangka kalau mertuanya Bellina kejam banget. Untungnya, aku nggak jadi
nikah sama Lian, hihihi. Nggak kebayang punya mamer begitu,” tutur Yuna.
“Gimana
kalau Mama Rully yang begitu?” tanya Yeriko.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Jangan, dong! Aku udah terlanjur jatuh cinta sama dia
pada pandangan pertama,” jawab Yuna sambil meringis.
Yeriko
langsung menoyor kening Yuna. “Jadi, kamu lebih dulu jatuh cinta sama mamaku
daripada sama aku?”
“Hehehe.
Bukannya, harus menggenggam hati mamanya dulu supaya bisa mendapatkan hati
anaknya sepenuhnya?”
“Siapa
yang ngajarin kamu begitu?” tanya Yeriko.
“Mama
Rully.”
Yeriko
memutar bola matanya. “Kalian berdua selalu sekongkol buat nindas aku.”
“Kamu
juga selalu sekongkol sama ayah.”
“Beda.
Aku sekongkol sama ayah buat menyayangi kamu.”
“Oh
ya? Co cuwiit! Mamaciih ...!” sahut Yuna menirukan gaya balita.
Yeriko
mencubit hidung Yuna gemas.
“Ibu
Fristy Ayuna ...!” Terdengar suara seorang perawat memanggil nama Yuna. Ia
langsung bangkit dari duduknya. Diikuti Yeriko yang juga mengiringi langkahnya.
“Saya
periksa dulu ya, Bu!” tutur perawat dengan ramah. “Buku pink-nya ada?”
Yuna
mengangguk. Ia langsung menyodorkan buku pemantauan ibu hamil ke arah perawat
tersebut.
“Duduk
dulu ya, Bu!” perintah perawat tersebut sambil menunjuk kursi yang ada di
hadapannya dan mengeluarkan tensimeter.
Yeriko
dengan cepat meletakkan bantal duduk ke atas kursi.
“Perhatian
banget suaminya, Bu.” Perawat tersebut tersenyum sambil mengukur tensi Yuna.
Yuna
dan Yeriko saling pandang dan tersenyum. Yuna sedikit malu karena perhatian
Yeriko yang berlebihan. Tapi, ia juga merasa sangat bahagia.
“Tensinya
normal ya, Bu. Ada keluhan?”
Yuna
menggelengkan kepala.
“Masih
mual-mual?” tanya perawat itu lagi.
Yuna
menggelengkan kepala sambil menahan senyum dan melirik Yeriko yang berdiri di
sampingnya.
“Ditunggu
sebentar ya, Bu!” pinta perawat tersebut. “Setelah pasien keluar dari ruangan
dokter, Ibu bisa langsung masuk. Hari ini, mau USG ya?”
Yuna
menganggukkan kepala.
Beberapa
menit kemudian, Yuna mendapat giliran pemeriksaan selanjutnya. Yeriko dengan
hati-hati menemani istrinya tersebut.
“Selamat
pagi, Bu! Silakan baring dulu ya!” pinta dokter tersebut dengan ramah.
Yuna
langsung berbaring di atas brankar yang ada di dalam ruangan tersebut. Salah
seorang asisten dokter membantu menyelimuti kaki Yuna dan membuka bagian perut
Yuna yang mulai berisi.
Yuna
merasakan dingin di perutnya saat asisten dokter meneteskan doppler gel di
atasnya.
Tak
lama kemudian, dokter tersebut mengelus perut Yuna menggunakan alat USG.
Yuna
terkejut saat ia bisa mendengar suara detak jantung bayinya.
“Dok,
itu beneran anak saya?” tanya Yeriko sambil menatap layar yang menunjukkan
gambar janin dalam perut Yuna.
Dokter
tersebut menganggukkan kepala. “Detak jantungnya bagus. Sangat sehat. Embrio
berkembang dengan baik.”
“Laki-laki
atau perempuan, Dok?” tanya Yeriko bersemangat.
“Belum
kelihatan. Sepertinya, si Ade masih malu-malu kucing,” jawab dokter tersebut.
“Ah,
Dokter bisa aja,” sahut Yeriko.
Yuna
tak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya sibuk mengamati layar yang ada di
hadapannya. Ia benar-benar tak percaya kalau dirinya akan menjadi seorang ibu.
Di perutnya, kini ada sesuatu yang hidup.
Yeriko
juga tak henti menyunggingkan senyuman di bibirnya. Matanya langsung mengerjap
dan menatap dokter tersebut saat layar yang ia amati tiba-tiba mati.
“Dok,
kenapa dimatiin?”
Dokter
tersebut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lihat ini saja!”
tuturnya sambil menyodorkan print out yang keluar.
Yeriko
meraih foto bayinya dari tangan dokter tersebut. Ia langsung melipat dan
menyimpan ke dalam dompetnya.
“Sehat
terus, ya! Kalau ada keluhan, langsung disampaikan saat pemeriksaan!”
Yuna
menganggukkan kepala.
Asisten
dokter membantu Yuna untuk turun dari brankar.
“Ini
udah, Dok?” tanya Yeriko.
Dokter
tersebut mengangguk sambil tersenyum.
“Dok,
saya kan masih pengen lama-lama lihat anak saya!” tutur Yeriko.
“Hush!
Nggak boleh ngomong gitu, masih banyak pasien yang antri.”
Yeriko
menghela napas. “Oke.”
Yuna
tersenyum. Ia menoleh ke arah dokter dan berkata, “terima kasih, Dok. Kami
pamit pulang dulu!”
“Hati-hati
ya! Semoga sehat selalu sampai lahiran. Diberi kesehatan dan keselamatan untuk
ibu dan bayinya.”
“Aamiin
...!”
Yuna
dan Yeriko bergegas keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka melangkah beriringan
menyusuri koridor rumah sakit.
“Yun,
itu Lian!” Yeriko menunjuk dengan dagunya ke arah taman yang ada di rumah sakit
tersebut.
“Eh,
iya. Kita samperin, yuk!” ajak Yuna.
Yeriko
menganggukkan kepala. Mereka melangkah bersamaan menghampiri Lian dan Bellina
yang sedang bersantai di taman rumah sakit.
Yuna
tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah Lian dan Bellina. Ia
sudah menduga sebelumnya kalau mereka akan memiliki akhir yang bahagia seperti
yang ia inginkan.
Di
kursi taman, tubuh Bellina menegang saat melihat Yuna dan Yeriko berjalan ke
arahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi keduanya. Jika
bisa ia lakukan, ia ingin berubah menjadi debu saja. Agar tak perlu menghadapi
Yuna dan suaminya yang begitu kejam terhadap dirinya.
“Bel,
itu Yuna sama Yeri!” Lian menatap kedatangan Yuna dan suaminya.
Bellina
hanya menanggapi ucapan Lian dengan senyuman. Ia benar-benar tidak punya kata
yang tepat untuk ia ungkapkan.
Lian
langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Yuna. “Kalian di sini juga?” sapa
Lian.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kebetulan, periksain kandungan istriku. Gimana keadaan
istri kamu, sudah membaik?”
Lian
menganggukkan kepala. “Makasih, Yer! Kamu sudah peduli sama kami.”
“Sama
teman, nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko sambil menepuk bahu Lian. Namun,
matanya yang tajam tertuju pada Bellina yang masih bergeming di tempatnya.
Yuna
terus tersenyum menatap Bellina. Ia ikut bahagia karena Bellina bisa
mendapatkan kebahagiaannya. Ia harap, setelah ini Bellina tidak akan mengganggu
hidupnya lagi. Semua kejadian yang terjadi saat ini, seharusnya bisa menjadi
pelajaran yang sangat berharga untuk Bellina.
Saat
mata Bellina tepat bertemu dengan mata Yuna. Ia justru menganggap senyuman Yuna
seperti sebuah penghinaan untuknya. Ia mengira kalau Yuna datang hanya untuk
menertawakan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Jantungnya semakin
berdegup kencang saat Yeriko juga menatap tajam ke arahnya. Ia benar-benar tak
memiliki kekuatan sedikit pun untuk menghadapi keduanya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin
semangat update bab setiap hari y...
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment