Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 356 : Akhir yang Bahagia

 


Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit sambil merangkul pinggang Yuna dengan hati-hati. Hari ini, mereka sudah membuat janji untuk bertemu dengan dokter di rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Yuna.

“Hati-hati ...!” Yeriko langsung merapatkan tubuh Yuna saat berpapasan dengan beberapa orang yang kebetulan lalu lalang di koridor tersebut.

Yuna menatap Yeriko sambil tersenyum kecil. “Kamu berlebihan banget. Mereka lihat kita kayak orang aneh. Mereka bukan ancaman buat aku.”

“Ah, kamu ini. Aku khawatir kamu ketabrak.”

“Aku kan udah di samping kamu. Pasti baik-baik aja.” Yuna tersenyum kecil. Ia sedikit tidak nyaman karena merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. “Hmm, mungkin perasaanku aja,” batin Yuna.

Yeriko tersenyum. Ia mengajak Yuna untuk duduk di ruang tunggu. Di tangannya, ia sudah memegang bantal duduk. Ia meletakkan bantal tersebut di atas kursi tunggu dan mempersilakan istrinya untuk duduk.

“Makasih ...!” ucap Yuna manja.

  Yuna merasa, sikap Yeriko terlalu berlebihan. Ia melihat ibu hamil yang lain tak ada yang diperlakukan seistimewa itu oleh suaminya. Bahkan, suaminya lebih memilih menemani dari kejauhan. Sedangkan, Yeriko terus menempel kepadanya. Hal ini, membuat pipi Yuna terus menghangat.

“Ay, kita masih ngantri? Bukannya udah buat janji?” bisik Yuna.

“Bukannya kamu sendiri yang bilang, jangan terlalu mencolok di tempat umum?”

Yuna meringis sambil menyandarkan dagu di bahu Yeriko.

“Bellina dirawat di rumah sakit ini,” tutur Yeriko lirih.

“Hah!? Dia sakit apa?” tanya Yuna.

Yeriko menceritakan keadaan Bellina yang sebenarnya setelah ia menemukan Lian.

“Aku nggak nyangka kalau mertuanya Bellina kejam banget. Untungnya, aku nggak jadi nikah sama Lian, hihihi. Nggak kebayang punya mamer begitu,” tutur Yuna.

“Gimana kalau Mama Rully yang begitu?” tanya Yeriko.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Jangan, dong! Aku udah terlanjur jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama,” jawab Yuna sambil meringis.

Yeriko langsung menoyor kening Yuna. “Jadi, kamu lebih dulu jatuh cinta sama mamaku daripada sama aku?”

“Hehehe. Bukannya, harus menggenggam hati mamanya dulu supaya bisa mendapatkan hati anaknya sepenuhnya?”

“Siapa yang ngajarin kamu begitu?” tanya Yeriko.

“Mama Rully.”

Yeriko memutar bola matanya. “Kalian berdua selalu sekongkol buat nindas aku.”

“Kamu juga selalu sekongkol sama ayah.”

“Beda. Aku sekongkol sama ayah buat menyayangi kamu.”

“Oh ya? Co cuwiit! Mamaciih ...!” sahut Yuna menirukan gaya balita.

Yeriko mencubit hidung Yuna gemas.

“Ibu Fristy Ayuna ...!” Terdengar suara seorang perawat memanggil nama Yuna. Ia langsung bangkit dari duduknya. Diikuti Yeriko yang juga mengiringi langkahnya.

“Saya periksa dulu ya, Bu!” tutur perawat dengan ramah. “Buku pink-nya ada?”

Yuna mengangguk. Ia langsung menyodorkan buku pemantauan ibu hamil ke arah perawat tersebut.

“Duduk dulu ya, Bu!” perintah perawat tersebut sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya dan mengeluarkan tensimeter.

Yeriko dengan cepat meletakkan bantal duduk ke atas kursi.

“Perhatian banget suaminya, Bu.” Perawat tersebut tersenyum sambil mengukur tensi Yuna.

Yuna dan Yeriko saling pandang dan tersenyum. Yuna sedikit malu karena perhatian Yeriko yang berlebihan. Tapi, ia juga merasa sangat bahagia.

“Tensinya normal ya, Bu. Ada keluhan?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Masih mual-mual?” tanya perawat itu lagi.

Yuna menggelengkan kepala sambil menahan senyum dan melirik Yeriko yang berdiri di sampingnya.

“Ditunggu sebentar ya, Bu!” pinta perawat tersebut. “Setelah pasien keluar dari ruangan dokter, Ibu bisa langsung masuk. Hari ini, mau USG ya?”

Yuna menganggukkan kepala.

Beberapa menit kemudian, Yuna mendapat giliran pemeriksaan selanjutnya. Yeriko dengan hati-hati menemani istrinya tersebut.

“Selamat pagi, Bu! Silakan baring dulu ya!” pinta dokter tersebut dengan ramah.

Yuna langsung berbaring di atas brankar yang ada di dalam ruangan tersebut. Salah seorang asisten dokter membantu menyelimuti kaki Yuna dan membuka bagian perut Yuna yang mulai berisi.

Yuna merasakan dingin di perutnya saat asisten dokter meneteskan doppler gel di atasnya.

Tak lama kemudian, dokter tersebut mengelus perut Yuna menggunakan alat USG.

Yuna terkejut saat ia bisa mendengar suara detak jantung bayinya.

“Dok, itu beneran anak saya?” tanya Yeriko sambil menatap layar yang menunjukkan gambar janin dalam perut Yuna.

Dokter tersebut menganggukkan kepala. “Detak jantungnya bagus. Sangat sehat. Embrio berkembang dengan baik.”

“Laki-laki atau perempuan, Dok?” tanya Yeriko bersemangat.

“Belum kelihatan. Sepertinya, si Ade masih malu-malu kucing,” jawab dokter tersebut.

“Ah, Dokter bisa aja,” sahut Yeriko.

Yuna tak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya sibuk mengamati layar yang ada di hadapannya. Ia benar-benar tak percaya kalau dirinya akan menjadi seorang ibu. Di perutnya, kini ada sesuatu yang hidup.

Yeriko juga tak henti menyunggingkan senyuman di bibirnya. Matanya langsung mengerjap dan menatap dokter tersebut saat layar yang ia amati tiba-tiba mati.

“Dok, kenapa dimatiin?”

Dokter tersebut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Lihat ini saja!” tuturnya sambil menyodorkan print out yang keluar.

Yeriko meraih foto bayinya dari tangan dokter tersebut. Ia langsung melipat dan menyimpan ke dalam dompetnya.

“Sehat terus, ya! Kalau ada keluhan, langsung disampaikan saat pemeriksaan!”

Yuna menganggukkan kepala.

Asisten dokter membantu Yuna untuk turun dari brankar.

“Ini udah, Dok?” tanya Yeriko.

Dokter tersebut mengangguk sambil tersenyum.

“Dok, saya kan masih pengen lama-lama lihat anak saya!” tutur Yeriko.

“Hush! Nggak boleh ngomong gitu, masih banyak pasien yang antri.”

Yeriko menghela napas. “Oke.”

Yuna tersenyum. Ia menoleh ke arah dokter dan berkata, “terima kasih, Dok. Kami pamit pulang dulu!”

“Hati-hati ya! Semoga sehat selalu sampai lahiran. Diberi kesehatan dan keselamatan untuk ibu dan bayinya.”

“Aamiin ...!”

Yuna dan Yeriko bergegas keluar dari ruang pemeriksaan. Mereka melangkah beriringan menyusuri koridor rumah sakit.

“Yun, itu Lian!” Yeriko menunjuk dengan dagunya ke arah taman yang ada di rumah sakit tersebut.

“Eh, iya. Kita samperin, yuk!” ajak Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. Mereka melangkah bersamaan menghampiri Lian dan Bellina yang sedang bersantai di taman rumah sakit.

Yuna tersenyum menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah Lian dan Bellina. Ia sudah menduga sebelumnya kalau mereka akan memiliki akhir yang bahagia seperti yang ia inginkan.

Di kursi taman, tubuh Bellina menegang saat melihat Yuna dan Yeriko berjalan ke arahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi keduanya. Jika bisa ia lakukan, ia ingin berubah menjadi debu saja. Agar tak perlu menghadapi Yuna dan suaminya yang begitu kejam terhadap dirinya.

“Bel, itu Yuna sama Yeri!” Lian menatap kedatangan Yuna dan suaminya.

Bellina hanya menanggapi ucapan Lian dengan senyuman. Ia benar-benar tidak punya kata yang tepat untuk ia ungkapkan.

Lian langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Yuna. “Kalian di sini juga?” sapa Lian.

Yeriko menganggukkan kepala. “Kebetulan, periksain kandungan istriku. Gimana keadaan istri kamu, sudah membaik?”

Lian menganggukkan kepala. “Makasih, Yer! Kamu sudah peduli sama kami.”

“Sama teman, nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko sambil menepuk bahu Lian. Namun, matanya yang tajam tertuju pada Bellina yang masih bergeming di tempatnya.

Yuna terus tersenyum menatap Bellina. Ia ikut bahagia karena Bellina bisa mendapatkan kebahagiaannya. Ia harap, setelah ini Bellina tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Semua kejadian yang terjadi saat ini, seharusnya bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk Bellina.

Saat mata Bellina tepat bertemu dengan mata Yuna. Ia justru menganggap senyuman Yuna seperti sebuah penghinaan untuknya. Ia mengira kalau Yuna datang hanya untuk menertawakan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Jantungnya semakin berdegup kencang saat Yeriko juga menatap tajam ke arahnya. Ia benar-benar tak memiliki kekuatan sedikit pun untuk menghadapi keduanya.

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat update bab setiap hari y...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas