Thursday, February 5, 2026

Perfect Hero Bab 357 : Ceraikan Dia!

 


“Bel, gimana keadaan kamu?” tanya Yuna sambil menatap wajah Bellina. Ia sangat mengerti bagaimana kegelisahan yang sedang menyelimuti Bellina saat ini. Sehingga, ia memilih untuk menyapa Bellina lebih dulu.

“Baik, Yun.” Bellina tersenyum kecil ke arah Yuna.

“Syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Aku baru aja tahu kalau kamu dirawat di sini. Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu?”

Bellina tersenyum kecil. “Nggak ada apa-apa, kok. Cuma masalah kecil.”

“Kenapa sampai dirawat di rumah sakit?”

“Cuma kecelakaan kecil,” jawab Bellina.

“Oh.”

“Yer, makasih ya! Kalau Chandra nggak nyari aku, aku nggak tahu hari ini akan menjadi hari apa. Mungkin, selamanya aku akan hidup dalam penyesalan.”

“Nggak perlu dibahas lagi. Cukup jaga istri kamu dengan baik. Kami pamit dulu, masih ada banyak hal yang harus kami lakukan.”

Lian mengangguk. “Hati-hati, Yer! Jaga istri dan anakmu dengan baik!”

Yeriko mengangguk. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Yuna dan mengajaknya pergi meninggalkan Lian dan Bellina.

Lian tersenyum. Ia menoleh ke arah Bellina dan menghampiri dia yang masih duduk di kursi taman.

“Aku seneng kalau kamu sama Yuna bisa akur. Jangan berantem lagi ya!” tutur Lian.

Bellina tersenyum sambil menatap Lian. “Namanya juga saudara. Kalau ketemu pengen berantem. Kalo nggak ketemu dicariin.”

Lian terkekeh mendengar ucapan Bellina. “Iya juga, sih. Aku nggak punya saudara yang deket. Jadi, nggak pernah ngerasain itu.”

Bellina tersenyum. Ia bisa merasakan bagaimana kesepiannya menjadi anak tunggal. Jika tak ada Yuna, mungkin di rumahnya juga akan sepi. Biasanya, ia selalu membuat keributan dengan sepupunya itu. Sifat mereka hampir sama. Hubungan darah, membuat mereka memiliki selera yang hampir sama. Menjadi saling berebut dan sama-sama tidak mau mengalah.

Lian tersenyum melihat perubahan yang terjadi dalam diri Bellina. Ia berniat menyiapkan kejutan untuk Bellina setelah mereka keluar dari rumah sakit.

“Balik ke kamar, yuk!” ajak Lian.

Bellina menganggukkan kepala. Ia tak banyak bicara. Lebih banyak mengunci bibirnya agar tak membuat masalah lagi.

Lian memapah Bellina masuk kembali ke dalam bangsal untuk beristirahat. Saat baru membuka pintu, mereka berdua tertegun menatap sosok wanita yang sudah berdiri tegak di dalam ruangan tersebut.

“Mama ...!?” Lian mengerutkan dahi. Tiba-tiba saja, mamanya sudah ada di sana.

Mega menatap Bellina dan Lian sambil mengangkat dagunya. Sifat angkuhnya begitu terlihat, membuat Bellina tak bisa berkata-kata. Ia harus menghadapi banyak hal. Menghadapi rasa bersalahnya kepada Yuna. Juga menghadapi mama mertua yang sekarang berubah membenci dirinya.

“Kamu masih aja nempel sama perempuan ini?” tanya Mega ketus.

“Ma, Bellina lagi sakit. Kenapa Mama malah kayak gini?”

“Dia kelihatan sehat. Paling, cuma pura-pura sakit buat narik simpati kamu.”

Bellina bergeming. Jemari tangannya meremas kuat pergelangan tangan Lian.

Lian bisa menyadari kekhawatiran yang menyelimuti Bellina. Ia tersenyum sambil mengelus punggung tangan Bellina. “Kamu istirahat dulu, ya!” bisiknya.

Bellina bergeming. Ia tak menggerakkan kakinya selangkah pun. Ia lebih memilih berada di samping Lian. Menghadapi mama mertua yang kini berubah membencinya.

“Kayak gini sambutan kamu ke Mama, hah!? Sejak nikah sama perempuan ini. Kamu selalu aja membangkang sama Mama!” seru Mega.

Lian menghela napas. Ia terduduk di sofa. Sungguh, ia tidak ingin melawan mamanya sendiri, juga tidak ingin menyakiti perasaan Bellina.

“Bel, kamu bisa tinggalin anak saya!” pinta Mega sambil menatap Bellina yang duduk di samping Lian.

“Maksud Mama apa?” tanya Lian sambil menatap wajah mamanya.

“Mama mau, kalian berpisah secepatnya.”

“Ma, Bellina masih sakit. Dia belum benar-benar pulih. Kenapa Mama malah menyakiti dia? Mengurung dia selama tiga hari tiga malam di gudang, masih kurang?”

“Masih kurang!” sahut Mega geram. “Mama baru puas kalau dia keluar dari keluarga kita!”

Bellina terdiam. Ia menatap wajah Lian dengan mata berkaca-kaca. “Jangan tinggalin aku, please!” tuturnya lirih.

“Nggak usah cari muka di depan anak saya! Kamu tahu gimana baiknya Lian selama ini. Malah kamu manfaatin! Sekarang, dia bahkan berani ngelawan mamanya sendiri.”

Bellina menatap wajah Mega dengan mata berkaca-kaca. “Ma, aku nggak ngerti di mana salahnya. Selama ini, Lian selalu menurut sama Mama. Nggak pernah membantah perintah Mama. Aku juga nggak pernah minta Lian buat ngelawan Mama. Mama bisa hukum aku. Seberat apa pun itu, aku akan jalani. Asal jangan pisahkan kami!” Bellina memohon.

Mega tersenyum sinis. “Kamu sudah bikin keluarga kami malu. Sekarang, kamu bisa membunuh anak kamu sendiri dengan keji. Besok, bisa aja kamu bunuh suami kamu sendiri.”

Bellina menggelengkan kepala sambil berlinang air mata. “Nggak, Ma. Aku bukan pembunuh seperti yang Mama pikirkan. Aku mohon, maafin aku!”

“Sekalipun aku maafin kamu. Aku nggak akan membiarkan anakku hidup sama kamu,” sahut Mega.

“Lian, kamu pulang ke rumah sekarang juga!” perintah Mega.

Bellina menoleh ke arah Lian. Ia berharap, Lian tidak menuruti permintaan mamanya untuk meninggalkan dirinya. Apa yang ia lakukan selama  ini hanya untuk mendapatkan kembali cinta dari Lian. Bagaimana jika akhirnya Lian pergi atas permintaan mamanya sendiri?

Lian menggelengkan kepala.

“Oh, kamu udah mulai membantah Mama?” tanya Mega.

“Lihat, kamu udah berhasil bikin anak saya ngelawan sama saya!” seru Mega sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Bellina.

Bellina tak menyahut. Hanya menatap mama mertuanya penuh kepedihan.

Mega semakin kesal karena Lian tak bisa lagi ia kendalikan sebagai anak kesayangannya. Ia hanya tidak ingin Lian terus terjerumus dalam tipu daya Bellina. Ia ingin menyelamatkan puteranya. Dengan cepat, ia mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja, tepat di hadapan Lian.

“Ini apa?” tanya Lian.

Mega membuka map tersebut. “Ini surat perjanjian perceraian. Kamu tanda tangani!” pinta Mega sambil meletakkan pena di atas dokumen tersebut.

Lian menatap dokumen tersebut dalam waktu yang lama. Membuat perasaan Bellina semakin cemas.

“Kamu pilih Mama atau dia?” tanya Mega sambil menatap Lian.

Lian menarik napas beberapa kali. Ia sangat bimbang jika harus memilih antara kedua orang tuanya atau istrinya.

“Kalau kamu masih pilih dia. Mama akan ambil semua aset yang kamu punya. Termasuk rumah, mobil dan jabatan kamu di perusahaan!” ancam Mega.

Perasaan Bellina semakin tertekan mendengar ancaman dari mama mertuanya. Ia tidak ingin berpisah dengan Lian. Tapi, ia juga tidak ingin membuat Lian menderita karena dirinya.

Lian meraih pena yang ada di atas dokumen tersebut. Ini bukan pertama kalinya mamanya mengancam untuk menarik semua fasilitas mewah yang diberikan keluarganya. Saat masih bersama Yuna. Mamanya juga pernah melakukan ancaman yang sama hingga membuatnya tidur di jalanan selama beberapa hari.

Tubuh Bellina bergetar melihat jari Lian yang menggenggam pena dengan erat. “Jangan lakuin itu, Li. Please ...!” pinta Bellina dalam hati.

Mega tersenyum sinis ke arah Bellina. Ia sangat mengetahui kalau Lian tak bisa hidup tanpa fasilitas yang diberikan oleh keluarganya. Bahkan, jabatannya di perusahaan bisa dengan mudah ia ambil begitu saja.

Lian menengadahkan kepala menatap Mega yang berdiri di hadapannya. “Ma, apa dengan begini ... Mama bisa bikin aku bahagia?”

Mega mengangguk pasti.

“Mama selalu memikirkan apa yang membuat Mama bahagia. Bukan yang membuat aku bahagia,” ucap Lian sambil melemparkan pena yang ada di tangannya.

Mata Mega tertuju pada pena yang melayang dan terhempas ke dinding, kemudian tergeletak di lantai begitu saja. Kali ini, ia benar-benar geram karena anaknya semakin melawan keinginannya.

“Mama nggak perlu urusin urusanku lagi!” pinta Lian dingin.

“Kamu!?” Mega menunjuk wajah Lian penuh kekesalan. “Mama nggak akan nyerah buat misahin kalian!” tegasnya sambil mendekati Bellina dan berusaha memukulnya.

“Ma, jangan sakiti Bellina!” pinta Lian sambil memeluk tubuh Bellina untuk melindunginya.

Mega semakin kesal melihat perlakuan Lian. “Dasar, perempuan jalang!” maki Mega. “Aku nggak akan ngelepasin kamu! Awas kalau sampai berani macam-macam lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup tenang seumur hidup!” seru Mega.

Mega memilih untuk menghentikan pukulannya. Ia akhirnya keluar dari ruangan tersebut sambil menyimpan dendam kepada Bellina.

 

((Bersambung ...))

Terima kasih buat temen-temen yang udah setia menemaniku bercerita setiap hari. Semoga, Perfect Hero selalu bisa menemani hari-hari kalian semua setiap hari. Love you.

@vellanine.tjahjadi

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas