“Bel, gimana keadaan kamu?” tanya Yuna sambil menatap wajah
Bellina. Ia sangat mengerti bagaimana kegelisahan yang sedang menyelimuti
Bellina saat ini. Sehingga, ia memilih untuk menyapa Bellina lebih dulu.
“Baik, Yun.” Bellina tersenyum kecil ke arah Yuna.
“Syukur deh kalo kamu baik-baik aja. Aku baru aja tahu
kalau kamu dirawat di sini. Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu?”
Bellina tersenyum kecil. “Nggak ada apa-apa, kok. Cuma
masalah kecil.”
“Kenapa sampai dirawat di rumah sakit?”
“Cuma kecelakaan kecil,” jawab Bellina.
“Oh.”
“Yer, makasih ya! Kalau Chandra nggak nyari aku, aku nggak
tahu hari ini akan menjadi hari apa. Mungkin, selamanya aku akan hidup dalam
penyesalan.”
“Nggak perlu dibahas lagi. Cukup jaga istri kamu dengan
baik. Kami pamit dulu, masih ada banyak hal yang harus kami lakukan.”
Lian mengangguk. “Hati-hati, Yer! Jaga istri dan anakmu
dengan baik!”
Yeriko mengangguk. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang
Yuna dan mengajaknya pergi meninggalkan Lian dan Bellina.
Lian tersenyum. Ia menoleh ke arah Bellina dan menghampiri
dia yang masih duduk di kursi taman.
“Aku seneng kalau kamu sama Yuna bisa akur. Jangan berantem
lagi ya!” tutur Lian.
Bellina tersenyum sambil menatap Lian. “Namanya juga
saudara. Kalau ketemu pengen berantem. Kalo nggak ketemu dicariin.”
Lian terkekeh mendengar ucapan Bellina. “Iya juga, sih. Aku
nggak punya saudara yang deket. Jadi, nggak pernah ngerasain itu.”
Bellina tersenyum. Ia bisa merasakan bagaimana kesepiannya
menjadi anak tunggal. Jika tak ada Yuna, mungkin di rumahnya juga akan sepi.
Biasanya, ia selalu membuat keributan dengan sepupunya itu. Sifat mereka hampir
sama. Hubungan darah, membuat mereka memiliki selera yang hampir sama. Menjadi
saling berebut dan sama-sama tidak mau mengalah.
Lian tersenyum melihat perubahan yang terjadi dalam diri
Bellina. Ia berniat menyiapkan kejutan untuk Bellina setelah mereka keluar dari
rumah sakit.
“Balik ke kamar, yuk!” ajak Lian.
Bellina menganggukkan kepala. Ia tak banyak bicara. Lebih
banyak mengunci bibirnya agar tak membuat masalah lagi.
Lian memapah Bellina masuk kembali ke dalam bangsal untuk
beristirahat. Saat baru membuka pintu, mereka berdua tertegun menatap sosok
wanita yang sudah berdiri tegak di dalam ruangan tersebut.
“Mama ...!?” Lian mengerutkan dahi. Tiba-tiba saja, mamanya
sudah ada di sana.
Mega menatap Bellina dan Lian sambil mengangkat dagunya.
Sifat angkuhnya begitu terlihat, membuat Bellina tak bisa berkata-kata. Ia
harus menghadapi banyak hal. Menghadapi rasa bersalahnya kepada Yuna. Juga
menghadapi mama mertua yang sekarang berubah membenci dirinya.
“Kamu masih aja nempel sama perempuan ini?” tanya Mega
ketus.
“Ma, Bellina lagi sakit. Kenapa Mama malah kayak gini?”
“Dia kelihatan sehat. Paling, cuma pura-pura sakit buat
narik simpati kamu.”
Bellina bergeming. Jemari tangannya meremas kuat
pergelangan tangan Lian.
Lian bisa menyadari kekhawatiran yang menyelimuti Bellina.
Ia tersenyum sambil mengelus punggung tangan Bellina. “Kamu istirahat dulu,
ya!” bisiknya.
Bellina bergeming. Ia tak menggerakkan kakinya selangkah
pun. Ia lebih memilih berada di samping Lian. Menghadapi mama mertua yang kini
berubah membencinya.
“Kayak gini sambutan kamu ke Mama, hah!? Sejak nikah sama
perempuan ini. Kamu selalu aja membangkang sama Mama!” seru Mega.
Lian menghela napas. Ia terduduk di sofa. Sungguh, ia tidak
ingin melawan mamanya sendiri, juga tidak ingin menyakiti perasaan Bellina.
“Bel, kamu bisa tinggalin anak saya!” pinta Mega sambil
menatap Bellina yang duduk di samping Lian.
“Maksud Mama apa?” tanya Lian sambil menatap wajah mamanya.
“Mama mau, kalian berpisah secepatnya.”
“Ma, Bellina masih sakit. Dia belum benar-benar pulih.
Kenapa Mama malah menyakiti dia? Mengurung dia selama tiga hari tiga malam di
gudang, masih kurang?”
“Masih kurang!” sahut Mega geram. “Mama baru puas kalau dia
keluar dari keluarga kita!”
Bellina terdiam. Ia menatap wajah Lian dengan mata
berkaca-kaca. “Jangan tinggalin aku, please!” tuturnya lirih.
“Nggak usah cari muka di depan anak saya! Kamu tahu gimana
baiknya Lian selama ini. Malah kamu manfaatin! Sekarang, dia bahkan berani
ngelawan mamanya sendiri.”
Bellina menatap wajah Mega dengan mata berkaca-kaca. “Ma,
aku nggak ngerti di mana salahnya. Selama ini, Lian selalu menurut sama Mama.
Nggak pernah membantah perintah Mama. Aku juga nggak pernah minta Lian buat
ngelawan Mama. Mama bisa hukum aku. Seberat apa pun itu, aku akan jalani. Asal
jangan pisahkan kami!” Bellina memohon.
Mega tersenyum sinis. “Kamu sudah bikin keluarga kami malu.
Sekarang, kamu bisa membunuh anak kamu sendiri dengan keji. Besok, bisa aja
kamu bunuh suami kamu sendiri.”
Bellina menggelengkan kepala sambil berlinang air mata.
“Nggak, Ma. Aku bukan pembunuh seperti yang Mama pikirkan. Aku mohon, maafin
aku!”
“Sekalipun aku maafin kamu. Aku nggak akan membiarkan
anakku hidup sama kamu,” sahut Mega.
“Lian, kamu pulang ke rumah sekarang juga!” perintah Mega.
Bellina menoleh ke arah Lian. Ia berharap, Lian tidak
menuruti permintaan mamanya untuk meninggalkan dirinya. Apa yang ia lakukan
selama ini hanya untuk mendapatkan kembali cinta dari Lian. Bagaimana
jika akhirnya Lian pergi atas permintaan mamanya sendiri?
Lian menggelengkan kepala.
“Oh, kamu udah mulai membantah Mama?” tanya Mega.
“Lihat, kamu udah berhasil bikin anak saya ngelawan sama
saya!” seru Mega sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Bellina.
Bellina tak menyahut. Hanya menatap mama mertuanya penuh
kepedihan.
Mega semakin kesal karena Lian tak bisa lagi ia kendalikan
sebagai anak kesayangannya. Ia hanya tidak ingin Lian terus terjerumus dalam
tipu daya Bellina. Ia ingin menyelamatkan puteranya. Dengan cepat, ia
mengeluarkan dokumen dari dalam tasnya dan meletakkan di atas meja, tepat di
hadapan Lian.
“Ini apa?” tanya Lian.
Mega membuka map tersebut. “Ini surat perjanjian
perceraian. Kamu tanda tangani!” pinta Mega sambil meletakkan pena di atas
dokumen tersebut.
Lian menatap dokumen tersebut dalam waktu yang lama.
Membuat perasaan Bellina semakin cemas.
“Kamu pilih Mama atau dia?” tanya Mega sambil menatap Lian.
Lian menarik napas beberapa kali. Ia sangat bimbang jika
harus memilih antara kedua orang tuanya atau istrinya.
“Kalau kamu masih pilih dia. Mama akan ambil semua aset
yang kamu punya. Termasuk rumah, mobil dan jabatan kamu di perusahaan!” ancam
Mega.
Perasaan Bellina semakin tertekan mendengar ancaman dari
mama mertuanya. Ia tidak ingin berpisah dengan Lian. Tapi, ia juga tidak ingin
membuat Lian menderita karena dirinya.
Lian meraih pena yang ada di atas dokumen tersebut. Ini
bukan pertama kalinya mamanya mengancam untuk menarik semua fasilitas mewah
yang diberikan keluarganya. Saat masih bersama Yuna. Mamanya juga pernah
melakukan ancaman yang sama hingga membuatnya tidur di jalanan selama beberapa
hari.
Tubuh Bellina bergetar melihat jari Lian yang menggenggam
pena dengan erat. “Jangan lakuin itu, Li. Please ...!” pinta Bellina dalam
hati.
Mega tersenyum sinis ke arah Bellina. Ia sangat mengetahui
kalau Lian tak bisa hidup tanpa fasilitas yang diberikan oleh keluarganya.
Bahkan, jabatannya di perusahaan bisa dengan mudah ia ambil begitu saja.
Lian menengadahkan kepala menatap Mega yang berdiri di
hadapannya. “Ma, apa dengan begini ... Mama bisa bikin aku bahagia?”
Mega mengangguk pasti.
“Mama selalu memikirkan apa yang membuat Mama bahagia.
Bukan yang membuat aku bahagia,” ucap Lian sambil melemparkan pena yang ada di
tangannya.
Mata Mega tertuju pada pena yang melayang dan terhempas ke
dinding, kemudian tergeletak di lantai begitu saja. Kali ini, ia benar-benar
geram karena anaknya semakin melawan keinginannya.
“Mama nggak perlu urusin urusanku lagi!” pinta Lian dingin.
“Kamu!?” Mega menunjuk wajah Lian penuh kekesalan. “Mama
nggak akan nyerah buat misahin kalian!” tegasnya sambil mendekati Bellina dan
berusaha memukulnya.
“Ma, jangan sakiti Bellina!” pinta Lian sambil memeluk
tubuh Bellina untuk melindunginya.
Mega semakin kesal melihat perlakuan Lian. “Dasar,
perempuan jalang!” maki Mega. “Aku nggak akan ngelepasin kamu! Awas kalau
sampai berani macam-macam lagi! Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup tenang
seumur hidup!” seru Mega.
Mega memilih untuk menghentikan pukulannya. Ia akhirnya
keluar dari ruangan tersebut sambil menyimpan dendam kepada Bellina.
((Bersambung ...))
Terima kasih buat temen-temen yang udah setia
menemaniku bercerita setiap hari. Semoga, Perfect Hero selalu bisa menemani
hari-hari kalian semua setiap hari. Love you.
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment