Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 354 : Keluarga yang Kacau

 


Sudah tiga jam Lian menunggu Bellina di rumah sakit. Namun, istrinya itu tak kunjung tersadar dari tidurnya. Perasaannya kini semakin tak karuan, ia merasa kecewa juga merasa bersalah.

“Bel, bangun ...!” bisik Lian sambil mengecup punggung tangan Bellina. Air matanya menetes tepat di punggung tangan itu. Penyesalan Lian kali ini, benar-benar berada di puncak.

Lian merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia menempelkan ponsel tersebut kw telinganya.

“Halo, Pak Lian ...!” sapa seseorang di ujung sana.

“Bisa bawakan pakaianku sama Bellina ke rumah sakit? Aku di Rumah Sakit Siloam. Kamar VIP nomor tujuh.”

“Baik, Pak.”

Lian langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia memilih untuk menunggu Bellina di rumah sakit. Ia tidak ingin kembali ke rumah. Sebab, ia pasti akan bertengkar dengan mamanya sendiri.

 

Dua puluh empat jam berlalu ...

Bellina tak kunjung sadar. Membuat lian semakin panik.

“Dokter, kenapa istri saya belum sadar juga?” tanya Lian saat seorang dokter masuk ke dalam ruang rawat tersebut.

“Kondisi tubuhnya normal. Hanya saja, kesadarannya memang belum kembali. Pak Lian tidak perlu khawatir. Dia akan tersadar dan pulih seperti biasa. Hanya saja, waktunya tidak bisa kami perkirakan. Bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama.”

“Dokter yakin kalau dia akan baik-baik aja?”

Dokter menganggukkan kepala. “Anda nggak percaya sama dokter?”

“Saya percaya, Dok. Saya hanya takut kalau dia nggak bisa sadar lagi.”

“Nggak perlu takut. Detak jantungnya sudah normal. Semua akan baik-baik saja,” tutur dokter tersebut sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut setelah memastikan kondisi kesehatan pasiennya.

Lian kembali menatap wajah Bellina yang masih terbaring di tempat tidur. Ia kembali duduk di samping ranjang pasien. Ia berharap, Bellina bisa sadar secepatnya.

 

...

 

“Si Lian, bener-bener menguji kesabaranku!” tutur Mega. “Dia udah nggak mau nurut sama Mamanya lagi.” Mega masih terus mengomel di rumahnya. Terlebih saat mengetahui putera kesayangannya itu tidak kembali ke rumah, lebih memilih menemani Bellina di rumah sakit.

“Sudahlah, Ma. Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka. Mereka sudah dewasa.”

“Nggak bisa. Aku tetap nggak terima sama semua yang udah dilakukan Bellina selama ini. Aku juga nggak mau kalau dia tetap menjadi menantu di keluarga kita. Aku mau Wilian segera menceraikan Bellina!” tegas Mega.

Abdi terdiam. Ia tidak ingin membuat puteranya kehilangan orang yang dicintainya. Juga tidak ingin nama baik keluarganya tercemar karena kelakuan menantunya.

“Kalau dia nggak mau menceraikan Bellina. Biar aku yang urus semuanya.” Mega keukeuh, ia menginginkan puteranya itu berpisah dengan Bellina.

“Ma, mau ke mana?” tanya Abdi.

“Mau urus perceraian mereka!” sahut Mega. Ia melangkah menaiki anak tangga menuju kamar Lian. Ia mencari dokumen-dokumen di kamar anaknya itu untuk mengurus perceraian.

“Ma, sebaiknya kita pikirkan cara lain untuk menyelesaikan ini semua. Nggak harus membuat mereka bercerai.”

“Cara apa lagi? Mau ngasih kesempatan ke Bellina supaya bikin malu keluarga kita lagi? Aku nggak mau punya menantu keji kayak dia. Sekarang, dia tega bunuh anaknya sendiri. Besok, kalau dia bunuh keluarga kita, gimana?”

Abdi terdiam. Ia tak bisa berdebat dengan istrinya sendiri.

“Orang kayak dia, nggak perlu dikasihani!” ucap Mega kesal.

Setelah mendapatkan semua dokumen yang ia inginkan. Ia langsung bergegas menuju kantor pengacara perusahaannya.

“Selamat pagi, Bu! Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang asisten begitu melihat Mega masuk ke kantornya.

“Bos kamu ada?”

“Ada, Bu.”

Mega tak bertanya lagi. Ia langsung nyelonong masuk ke dalam ruang kerja pengacara tersebut.

“Pak, saya minta uruskan perceraian anak saya!” pinta Mega sambil menyodorkan map ke hadapan pengacara tersebut.

“Cerai?”

“Iya.”

“Kenapa bercerai?”

“Nggak perlu banyak tanya. Aku mau mereka cerai secepatnya!” perintah Mega.

“Oke.” Pengacara tersebut menganggukkan kepala.

“Aku tunggu surat cerai itu secepatnya. Kalau bisa, sore ini sudah jadi.”

“Baik, Bu. Setelah semuanya selesai, saya akan kirimkan surat perceraian ke rumah Ibu.”

“Oke. Saya tunggu secepatnya. Saya pulang dulu!” pamit Mega. “Terima kasih sudah membantu.”

Pengacara tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

Mega bergegas kembali ke rumah. Ia harap, Lian bisa menceraikan Bellina secepatnya. Ia tidak memperdulikan Bellina yang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Ia juga menutupi semua keadaan yang terjadi pada Bellina dari keluarganya.

 

...

 

“Pa, kenapa Bellina beberapa hari ini nggak bisa dihubungi ya?” tanya Melan saat menikmati sarapan pagi bersama suaminya.

“Sudah telepon Mega?”

“Sudah. Katanya, ada di rumah mereka.”

“Ya sudahlah. Dia pasti baik-baik aja di keluarga Wijaya. Mungkin, Bellina lagi sibuk.”

“Katanya, dia sudah mulai masuk kerja. Apa nggak ketemu sama Papa di kantor?”

“Beberapa hari ini, Papa lebih banyak ketemu klien di luar. Belum ada ke kantor. Nanti, coba Papa cek ke kantor group.”

Melan menganggukkan kepala. Ia mulai khawatir dengan keadaan Bellina semenjak puterinya itu mengatakan kalau Yeriko mulai mengancamnya. “Apa dia lagi sibuk menyelesaikan masalahnya dengan Yeriko ya? Mungkin, aku aja yang terlalu khawatir,” batin Melan menenangkan dirinya.

“Oh ya, sore ini aku mau jenguk Kak Adjie di apartemen. Kamu mau ikut?”

Melan terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Ia teringat kejadian beberapa hari lalu saat Yuna menyiramnya dengan air panas. Ia tidak ingin mengatakan hal itu kepada suaminya sendiri.

“Kenapa?” tanya Tarudi.

“Aku sudah ada janji ketemu sama temen arisan sore ini.”

“Oh. Oke.”

Melan tersenyum. “Aku mau tanya, apa kakak kamu itu nggak pernah mengungkit soal saham perusahaan?”

Tarudi menggelengkan kepalanya. “Ingatannya belum kembali. Dia hanya mengingat Yuna yang masih berusia tiga belas tahun. Sepertinya, dia juga tidak mengingat penyebab kematian istrinya. Dia nggak pernah mengungkit itu di depanku.”

“Baguslah. Artinya, kita masih bisa menguasai perusahaan itu sepenuhnya.”

Tarudi menganggukkan kepala. “Hanya saja, Yuna benar-benar menjadi ancaman besar.”

“Hah!? Kenapa sama anak itu?”

“Dia memang sudah berjanji untuk tidak mengambil alih kedudukan di perusahaan. Tapi, dia tidak menghindari persaingan. Terlebih, suaminya itu ... semua orang tahu siapa dia.”

“Pa, asal kita bisa mengendalikan Yuna. Kita bisa mengendalikan Yeriko dan Adjie sekaligus.”

“Justru dia yang sulit untuk dikendalikan.”

“Iya juga ya? Lebih mudah mengendalikan Bellina daripada anak itu.”

“Sudahlah. Jangan terus-terusan melibatkan anak-anak! Mereka sudah dewasa.”

“Justru karena semakin dewasa, semakin berbahaya buat kita. Kamu nggak tahu gimana Yuna terus mengancam kita?”

“Ah, kamu ini. Selalu aja begitu,” celetuk Tarudi sambil bergegas pergi dari ruang makan tersebut.

“Pa ...! Aku serius. Jangan sampai perusahaan kita jatuh lagi ke tangan Yuna!” seru Melan sambil menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh.

Melan menghela napas. “Kamu udah mulai ngelawan aku juga?” gumamnya kesal.

“Ini semua gara-gara Yuna yang suka memberontak itu. Sekarang, Rudi sama Bellina juga mulai ngelawan sama aku.”

Melan mulai gelisah karena orang-orang di sekitarnya, mulai sulit untuk ia kendalikan seperti dulu lagi.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas