Sudah
tiga jam Lian menunggu Bellina di rumah sakit. Namun, istrinya itu tak kunjung
tersadar dari tidurnya. Perasaannya kini semakin tak karuan, ia merasa kecewa
juga merasa bersalah.
“Bel,
bangun ...!” bisik Lian sambil mengecup punggung tangan Bellina. Air matanya
menetes tepat di punggung tangan itu. Penyesalan Lian kali ini, benar-benar
berada di puncak.
Lian
merogoh ponsel dari saku jaketnya. Ia menempelkan ponsel tersebut kw
telinganya.
“Halo,
Pak Lian ...!” sapa seseorang di ujung sana.
“Bisa
bawakan pakaianku sama Bellina ke rumah sakit? Aku di Rumah Sakit Siloam. Kamar
VIP nomor tujuh.”
“Baik,
Pak.”
Lian
langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia memilih untuk menunggu Bellina di
rumah sakit. Ia tidak ingin kembali ke rumah. Sebab, ia pasti akan bertengkar
dengan mamanya sendiri.
Dua
puluh empat jam berlalu ...
Bellina
tak kunjung sadar. Membuat lian semakin panik.
“Dokter,
kenapa istri saya belum sadar juga?” tanya Lian saat seorang dokter masuk ke
dalam ruang rawat tersebut.
“Kondisi
tubuhnya normal. Hanya saja, kesadarannya memang belum kembali. Pak Lian tidak
perlu khawatir. Dia akan tersadar dan pulih seperti biasa. Hanya saja, waktunya
tidak bisa kami perkirakan. Bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama.”
“Dokter
yakin kalau dia akan baik-baik aja?”
Dokter
menganggukkan kepala. “Anda nggak percaya sama dokter?”
“Saya
percaya, Dok. Saya hanya takut kalau dia nggak bisa sadar lagi.”
“Nggak
perlu takut. Detak jantungnya sudah normal. Semua akan baik-baik saja,” tutur
dokter tersebut sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut
setelah memastikan kondisi kesehatan pasiennya.
Lian
kembali menatap wajah Bellina yang masih terbaring di tempat tidur. Ia kembali
duduk di samping ranjang pasien. Ia berharap, Bellina bisa sadar secepatnya.
...
“Si
Lian, bener-bener menguji kesabaranku!” tutur Mega. “Dia udah nggak mau nurut
sama Mamanya lagi.” Mega masih terus mengomel di rumahnya. Terlebih saat
mengetahui putera kesayangannya itu tidak kembali ke rumah, lebih memilih
menemani Bellina di rumah sakit.
“Sudahlah,
Ma. Sebaiknya kita tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka. Mereka sudah
dewasa.”
“Nggak
bisa. Aku tetap nggak terima sama semua yang udah dilakukan Bellina selama ini.
Aku juga nggak mau kalau dia tetap menjadi menantu di keluarga kita. Aku mau
Wilian segera menceraikan Bellina!” tegas Mega.
Abdi
terdiam. Ia tidak ingin membuat puteranya kehilangan orang yang dicintainya.
Juga tidak ingin nama baik keluarganya tercemar karena kelakuan menantunya.
“Kalau
dia nggak mau menceraikan Bellina. Biar aku yang urus semuanya.” Mega keukeuh,
ia menginginkan puteranya itu berpisah dengan Bellina.
“Ma,
mau ke mana?” tanya Abdi.
“Mau
urus perceraian mereka!” sahut Mega. Ia melangkah menaiki anak tangga menuju
kamar Lian. Ia mencari dokumen-dokumen di kamar anaknya itu untuk mengurus
perceraian.
“Ma,
sebaiknya kita pikirkan cara lain untuk menyelesaikan ini semua. Nggak harus
membuat mereka bercerai.”
“Cara
apa lagi? Mau ngasih kesempatan ke Bellina supaya bikin malu keluarga kita
lagi? Aku nggak mau punya menantu keji kayak dia. Sekarang, dia tega bunuh
anaknya sendiri. Besok, kalau dia bunuh keluarga kita, gimana?”
Abdi
terdiam. Ia tak bisa berdebat dengan istrinya sendiri.
“Orang
kayak dia, nggak perlu dikasihani!” ucap Mega kesal.
Setelah
mendapatkan semua dokumen yang ia inginkan. Ia langsung bergegas menuju kantor
pengacara perusahaannya.
“Selamat
pagi, Bu! Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang asisten begitu melihat Mega
masuk ke kantornya.
“Bos
kamu ada?”
“Ada,
Bu.”
Mega
tak bertanya lagi. Ia langsung nyelonong masuk ke dalam ruang kerja pengacara
tersebut.
“Pak,
saya minta uruskan perceraian anak saya!” pinta Mega sambil menyodorkan map ke
hadapan pengacara tersebut.
“Cerai?”
“Iya.”
“Kenapa
bercerai?”
“Nggak
perlu banyak tanya. Aku mau mereka cerai secepatnya!” perintah Mega.
“Oke.”
Pengacara tersebut menganggukkan kepala.
“Aku
tunggu surat cerai itu secepatnya. Kalau bisa, sore ini sudah jadi.”
“Baik,
Bu. Setelah semuanya selesai, saya akan kirimkan surat perceraian ke rumah
Ibu.”
“Oke.
Saya tunggu secepatnya. Saya pulang dulu!” pamit Mega. “Terima kasih sudah
membantu.”
Pengacara
tersebut tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Mega
bergegas kembali ke rumah. Ia harap, Lian bisa menceraikan Bellina secepatnya.
Ia tidak memperdulikan Bellina yang terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.
Ia juga menutupi semua keadaan yang terjadi pada Bellina dari keluarganya.
...
“Pa,
kenapa Bellina beberapa hari ini nggak bisa dihubungi ya?” tanya Melan saat
menikmati sarapan pagi bersama suaminya.
“Sudah
telepon Mega?”
“Sudah.
Katanya, ada di rumah mereka.”
“Ya
sudahlah. Dia pasti baik-baik aja di keluarga Wijaya. Mungkin, Bellina lagi
sibuk.”
“Katanya,
dia sudah mulai masuk kerja. Apa nggak ketemu sama Papa di kantor?”
“Beberapa
hari ini, Papa lebih banyak ketemu klien di luar. Belum ada ke kantor. Nanti,
coba Papa cek ke kantor group.”
Melan
menganggukkan kepala. Ia mulai khawatir dengan keadaan Bellina semenjak
puterinya itu mengatakan kalau Yeriko mulai mengancamnya. “Apa dia lagi sibuk
menyelesaikan masalahnya dengan Yeriko ya? Mungkin, aku aja yang terlalu
khawatir,” batin Melan menenangkan dirinya.
“Oh
ya, sore ini aku mau jenguk Kak Adjie di apartemen. Kamu mau ikut?”
Melan
terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya. Ia teringat kejadian beberapa
hari lalu saat Yuna menyiramnya dengan air panas. Ia tidak ingin mengatakan hal
itu kepada suaminya sendiri.
“Kenapa?”
tanya Tarudi.
“Aku
sudah ada janji ketemu sama temen arisan sore ini.”
“Oh.
Oke.”
Melan
tersenyum. “Aku mau tanya, apa kakak kamu itu nggak pernah mengungkit soal
saham perusahaan?”
Tarudi
menggelengkan kepalanya. “Ingatannya belum kembali. Dia hanya mengingat Yuna
yang masih berusia tiga belas tahun. Sepertinya, dia juga tidak mengingat
penyebab kematian istrinya. Dia nggak pernah mengungkit itu di depanku.”
“Baguslah.
Artinya, kita masih bisa menguasai perusahaan itu sepenuhnya.”
Tarudi
menganggukkan kepala. “Hanya saja, Yuna benar-benar menjadi ancaman besar.”
“Hah!?
Kenapa sama anak itu?”
“Dia
memang sudah berjanji untuk tidak mengambil alih kedudukan di perusahaan. Tapi,
dia tidak menghindari persaingan. Terlebih, suaminya itu ... semua orang tahu
siapa dia.”
“Pa,
asal kita bisa mengendalikan Yuna. Kita bisa mengendalikan Yeriko dan Adjie
sekaligus.”
“Justru
dia yang sulit untuk dikendalikan.”
“Iya
juga ya? Lebih mudah mengendalikan Bellina daripada anak itu.”
“Sudahlah.
Jangan terus-terusan melibatkan anak-anak! Mereka sudah dewasa.”
“Justru
karena semakin dewasa, semakin berbahaya buat kita. Kamu nggak tahu gimana Yuna
terus mengancam kita?”
“Ah,
kamu ini. Selalu aja begitu,” celetuk Tarudi sambil bergegas pergi dari ruang
makan tersebut.
“Pa
...! Aku serius. Jangan sampai perusahaan kita jatuh lagi ke tangan Yuna!” seru
Melan sambil menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh.
Melan
menghela napas. “Kamu udah mulai ngelawan aku juga?” gumamnya kesal.
“Ini
semua gara-gara Yuna yang suka memberontak itu. Sekarang, Rudi sama Bellina
juga mulai ngelawan sama aku.”
Melan
mulai gelisah karena orang-orang di sekitarnya, mulai sulit untuk ia kendalikan
seperti dulu lagi.

0 komentar:
Post a Comment