Friday, July 11, 2025

Perfect Hero Bab 289 : Persiapan Pernikahan Part.2

 


“Jhen, aku nervous banget!” tutur Yuna sambil menggenggam tangan Jheni.

Jheni bisa merasakan telapak tangan Yuna yang begitu dingin. Tidak seperti biasanya. “Aku juga nervous, Yun. Ini pertama kalinya aku jadi pendamping pengantin,” balas Jheni.

“Iih ... aku lebih nervous. Besok gimana ya?”

“Tarik napas, Yun!” pinta Jheni. “Kamu harus rileks. Biar aura wajah kamu itu bisa terpancar.”

“Mmh ... emang bisa gitu ya?”

Jheni tersenyum kecil. “Bisa dong, kamu kan dirias sama make up artist professional.”

Yuna menepuk-nepuk pipinya. “Hmm ... aku kayak mimpi.” Ia mengelus pipi dan kulitnya yang baru saja mendapatkan perawatan tubuh selama seharian penuh.

Jheni tersenyum. Ia ikut bahagia melihat sahabatnya akan melangsungkan pernikahan. “Emang rasanya kayak mimpi ya, Yun? Kayaknya, baru kemarin kita nakal bareng, jalan bareng, seneng-seneng bareng, nangis bareng. Sekarang, kamu sudah mau jadi ibu. Waktu cepet banget berlalu.”

“Iya, Jhen. Nggak terasa kalau masa remaja kita udah habis. Singkat banget ya? Kamu sendiri, belum mikir serius buat nikah sama Chandra?”

Jheni tersenyum menatap Yuna. “Kamu tahu sendiri kalau aku tinggal sama orang tua angkat. Katanya, kalau anak perempuan menikah ... harus nyari ayah kandungnya.”

“Emang kamu nggak pengen nyari orang tua kandung kamu, Jhen?”

Jheni menggelengkan kepala. “Semuanya udah berlalu lama banget. Aku udah bahagia sama orang tua angkatku. Walaupun awalnya, aku sempat syok waktu tahu kalo aku cuma anak angkat. Tapi, aku sekarang bahagia karena mereka memperlakukan aku seperti anaknya sendiri.”

“Aku kagum sama mereka. Bisa sayang sama kamu seperti anak sendiri. Kamu beruntung banget, Jhen. Sedangkan aku, keluargaku satu-satunya malah benci sama aku. Padahal, kami masih ada ikatan darah.”

“Sabar, Yun. Keluarga kamu emang jahat. Tapi, Tuhan ganti dengan suami dan mertua yang sayaaang banget sama kamu. Kamu juga harus bersyukur!” tutur Jheni.

Yuna langsung merangkul tubuh Jheni. “Nggak terasa, kita udah melewati banyak hal di masa-masa remaja kita. Setiap penderitaan, Tuhan selalu menggantinya dengan yang lebih baik. Sekarang, aku lebih banyak takut.”

“Takut kenapa?”

“Aku takut, semakin kita dewasa. Ujian hidup kita akan semakin meningkat.”

Jheni tersenyum menatap Yuna. “Bukannya masalah yang mendampingi kita sampai tua?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Masalah juga yang mengajarkan kita untuk bersikap dewasa. Pada akhirnya, masalah akan berakhir pada dua pilihan. Menjadi orang baik atau menjadi orang jahat.”

“Dan kamu harus memilih menjadi orang baik!” tutur Jheni sambil mencolek hidung Yuna.

“Kamu juga!” balas Yuna sambil tersenyum.

“Umh ...!” Jheni langsung memeluk tubuh Yuna erat-erat. “Aku beruntung punya sohib kayak kamu!”

“Jhen, jangan keras-keras peluknya!” pinta Yuna. “Kasihan si Dedek.”

“Eh, iya. Lupa. Maafin aunty ya!” tutur Jheni sambil mengelus perut Yuna.

“Aunty, aunty? Sok Inggris lu. Panggil Bulek aja, Bulek Jheni!” sahut Yuna sambil tertawa.

“Yaelah, biar kerenan dikit gitu. Lagian, aku kan bukan orang jawa.”

“Chandra kan orang jawa. Nanti, anakku kusuruh manggil paklek, Paklek Chandra. Hahaha.”

Jheni memonyongkan bibirnya. “Kamu ini, kalo ngolok kuat betul. Ntar anakmu mirip aku, baru tahu rasa!”

“Nggak papalah mirip kamu, daripada mirip Bellina.”

“Hahaha. Eh, kamu sama Bellina kan masih ada hubungan darah. Kenapa mukamu sama dia beda banget?”

Yuna mengedikkan bahunya. “Entahlah.”

“Mirip sih sama Maleficent itu. Nggak buang kelakuan sama wajahnya.”

“Hihihi. Udah, ah. Jangan ngomongin mereka!” sahut Yuna. “Ngomongin kamu aja sama Chandra. Gimana?”

“Iish ... struggle banget aku kalo mau nikah sama dia, Yun. Aku denger dari Lutfi, hubungan dia sama papanya nggak begitu baik karena mama tirinya. Kamu bayangin aja, Yun! Bayangin!” tutur Jheni.

“Bayangin gimana?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

“Bayangin aja dulu!” sahut Jheni kesal. “Mama tirinya aja jahat ke dia. Gimana kalo aku jadi menantunya?”

“Terus, gimana ceritanya dia bisa tunangan sama Amara? Apa karena dipaksa mama tirinya itu? Kata Yeri, mereka tunangan karena perjodohan keluarga?”

“Biasa, perjodohan komersial,” celetuk Jheni.

Yuna manggut-manggut tanda mengerti.

“Kayak kamu!” dengus Jheni.

“Iih ... enggak!”

 “Pernikahan komersial,” lanjut Jheni sambil menjulurkan lidahnya.

“Idih, fitnes! Aku nikah sama Yeri bukan karena uang.”

“Awalnya karena uang kan? Buat pengobatan ayah kamu?”

“Tapi, aku kan nggak tahu kalo dia orang kaya banget.”

“Sekarang udah tahu. Gimana perasaan kamu?”

“Biasa aja!” sahut Yuna sambil membuang wajahnya dan menahan tawa.

“Serius? Aku kasih tahu Yeriko, nih!”

“Iih ... aku bercanda!” sahut Yuna.

“Yee ... takut juga.”

“Ntar dikira serius sama dia. Aku udah terlanjur cinta mati sama dia. Gimana dong?”

“Nggak gimana-gimana. Kalian kan udah nikah. Harusnya, yang ngomong kayak gitu tuh aku. Hubunganku sama Chandra masih nggak jelas mau dibawa ke mana.”

“Emangnya, Chandra nggak ngenalin kamu ke orang tua dia?”

Jheni menggelengkan kepala. “Udah kubilang, mama tirinya dia jahat. Aku nggak berani dikenalin sama keluarganya.”

“Kamu yang nggak berani atau dia yang nggak ajak kamu?”

“Aku nggak berani, Yun. Aku belum siap buat masuk ke keluarganya Chandra. Ngebayanginnya aja aku udah parno duluan.”

“Kamu ngapain sih peduliin keluarganya dia. Yang penting, Chandra cinta sama kamu. Kamu juga cinta sama dia. Kalian bisa bersatu. Soal keluarga, itu bisa diurus belakangan.”

“Mmh ... iya juga, sih.”

“Ya udah, ntar aku suruh Chandra ngelamar kamu.”

“Aku belum siap, Yun!” sahut Jheni kesal.

“Kenapa? Kalian bisa menjalin hubungan lebih serius lagi kan?”

“Aku kelarin dulu semuanya. Abis itu baru deh aku nikah sama dia. Aku nggak mau membebani dia dengan banyak hal.”

Yuna memonyongkan bibirnya.

“Kenapa mukamu gitu?”

“Aku merasa tersindir. Sejak aku nikah sama Yeriko. Kayaknya, aku lebih banyak membebani dia.”

“Emang Yeriko bilang gitu?”

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak, sih. Aku aja yang ngerasa begitu.”

“Ya udah, sih. Cinta itu kan butuh banyak berkorban. Setiap hubungan, punya masalahnya sendiri-sendiri. Kamu bisa lebih mudah karena masalahmu datang dari luar. Beda sama aku dan Chandra. Masalah kami lebih rumit karena datang dari keluarga kami sendiri. Aku yang sampai sekarang nggak pernah tahu orang tuaku siapa. Chandra yang sampai sekarang masih sering berantem sama papanya dan mama tirinya itu. Aku sendiri nggak yakin kalau kami bisa melewati semuanya. Aku takut, kedua orang tua Chandra nggak akan merestui hubungan kami karena aku bukan anak orang kaya.”

Yuna merengkuh tubuh Jheni. “Ya udah, kita fighting sama-sama. Tetap seperti dulu, apa pun masalah yang terjadi di depan ...”

“KITA HADAPI SAMA-SAMA!” seru Jheni dan Yuna bersamaan. Mereka tertawa bersama sambil berpelukan.

“Kalian ngobrolin apa sih? Kelihatannya seru banget?” tanya Icha yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ngobrolin pasangan kita, dong!” sahut Jheni antusias.

“Eh, gimana sama Lutfi? Kira-kira, dia bakal ngelamar kamu atau nggak?”

Icha menggelengkan kepala. Ia berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya.

Jheni dan Yuna saling pandang. Mereka tidak mengerti karena Icha terlihat tak bersemangat membahas hubungannya dengan Lutfi.

“Kenapa, Cha? Berantem lagi sama Lutfi?” tanya Yuna.

Icha menggelengkan kepala.

“Terus, kenapa nggak semangat gitu?” tanya Yuna.

Icha terduduk lemas sambil menundukkan kepala. “Aku nggak tahu apa Lutfi beneran cinta sama aku atau nggak.”

“Kenapa?” tanya Jheni.

“Karena di playboy?” tanya Yuna.

Icha menggelengkan kepala. “Sebenernya ...” Ia menatap Yuna dan Jheni yang masih menunggu pengakuan darinya. “Aku sama Lutfi nggak pacaran,” lanjut Icha sambil memejamkan matanya.

“Hah!? Kok, bisa?” tanya Yuna dan Jheni bersamaan.

“Kalian putus?” tanya Jheni.

“Ntar aku yang kasih pelajaran buat itu anak. Bisa-bisanya dia mainin perasaan kamu,” tutur Yuna geram.

“Bukan salah dia, kok. Kami nggak putus. Masih baik-baik aja. Cuma ... hubungan kami hanya sebatas kontrak.”

“Kontrak!?” Yuna dan Jheni saling pandang. Mereka benar-benar tidak mengerti kalau Icha dan Lutfi hanya menjalani hubungan palsu.

“Kok bisa sih, Cha?” tanya Yuna.

Icha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Yuna. “Nanti aku ceritain ke kalian setelah selesai acara resepsi Yuna. Aku nggak mau ngerusak suasana. Hari ini, hari bahagianya Yuna. Jadi kita semua harus berbahagia ya!” Icha langsung merengkuh Jheni dan Yuna sekaligus.

Jheni dan Yuna tersenyum saling pandang. Mereka merasa, ada banyak hal yang disembunyikan oleh Icha selama ini. Mereka berharap kalau Icha tidak akan mengkhianati persahabatan mereka selama ini.

 

 

(( Bersambung ...))


 

 

Perfect Hero Bab 288 : Persiapan Pernikahan Part.1

 


Jam sepuluh malam, Yuna masih mondar-mandir di ruang tamu. Menunggu Yeriko pulang dari perusahaannya. Mendekati hari pernikahan mereka. Yeriko terlihat sangat sibuk, sering pulang sampai malam dan membuat Yuna tidak bisa tidur dengan tenang.

“Mbak, belum mau tidur?” tanya Bibi War.

“Masih nunggu Yeriko pulang.”

“Bibi tidur duluan. Ini, Bibi potongkan buah untuk cemilan malam.”

Yuna mengangguk. “Makasih, Bi!”

Bibi War mengangguk sambil tersenyum. Ia bergegas pergi meninggalkan Yuna dan masuk ke kamarnya.

Yun menatap potongan buah yang ada di atas meja. Ia langsung memakannya satu per satu sambil membaca majalah tentang ibu dan anak. Ia menguap beberapa kali, hingga akhirnya ia tertidur di sofa ruang tamu.

Beberapa menit kemudian, Yeriko kembali dari perusahaannya. Ia terenyuh begitu melihat istrinya menunggunya pulang hingga tertidur di sofa. Yeriko menyentuh tangan Yuna, bermaksud untuk menggendongnya ke kamar tanpa membangunkannya.

“Udah pulang?” Yuna langsung membuka mata begitu merasakan sentuhan di tangannya. “Sorry, aku ketiduran. Aku buatin minum dulu.” Ia bergegas bangkit dari sofa dan melangkah menuju dapur.

Yeriko hanya tersenyum kecil melihat istrinya yang begitu antusias melayaninya.

Tak berapa lama, Yuna kembali ke ruang tamu sembari membawa secangkir susu jahe hangat.

“Akhir-akhir ini, kamu sering pulang malam. Banyak banget kerjaan di kantor?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk sambil melonggarkan dasinya.

Yuna tersenyum. Ia membantu Yeriko melepas jas dan dasinya.

“Kenapa tidur di sini?” tanya Yeriko.

“Aku nungguin kamu pulang. Nggak bisa tidur sendirian.”

Yeriko tersenyum sambil merangkul Yuna. “Besok aku lembur lagi. Apa perlu aku pindahin kamar ke ruang tamu?” tanyanya sambil menahan tawa.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Nggak segitunya juga, kali.”

Yeriko tertawa kecil. “Kalo kamu kayak gini terus, aku nggak bisa tenang lembur di kantor. Jadi kepikiran kamu.”

“Ajak aku lembur!” pinta Yuna. “Di ruang kerja kamu, ada kamar buat istirahat kan?”

“Mmh …” Yeriko memutar bola matanya. “Aku malah nggak konsen kalo kamu di sana. Pengen …” Ia mencondongkan badannya ke tubuh Yuna.

“Pengen apa?”

“Pengen … olahraga malam,” jawabnya sambil tersenyum.

Yuna tertawa kecil.

“Oh ya, gimana si Refi tadi siang?”

“Makin panas deh kayaknya. Mudahan aja dia sadar dan nggak ganggu kamu lagi.”

Yeriko manggut-manggut. “Kenapa kamu masih baik sama dia? Bukannya dia musuh kamu?” tanya Yeriko sambil menyesap minuman hangat yang dibuatkan Yuna.

“Aku nggak pernah anggap dia musuh. Aku cuma nggak mau jadi seperti dia. Aku kasihan aja lihat dia kayak gitu. Aku juga pernah mengalami kesusahan seperti dia. Jauh dari keluarga, nggak ada yang peduli. Di saat seperti itu, aku selalu mengharapkan malaikat Tuhan melindungiku. Aku sudah melewati banyak kesulitan di luar negeri. Andai aku nggak bertemu sama orang-orang yang baik. Mungkin akan tersesat seperti Refi. Memang cukup melelahkan. Tapi, akan lebih baik kalau aku bisa merubah dia jadi wanita yang baik.”

Yeriko tersenyum bangga menatap wajah istrinya. Ia langsung memeluk Yuna dan mengecup lembut kening istrinya itu. “Yun, hati kamu begitu mulia. Aku beruntung banget bisa punya wanita seperti kamu. Andai waktu bisa diganti. Aku ingin lebih dulu mengenal kamu sebelum mengenal cinta.”

Yuna tersenyum sambil menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Belum terlambat kan? Sekarang, aku bersyukur sama semua penderitaan yang udah aku alami di masa lalu. Karena itu semua yang membawaku mengenal dan mencintai kamu.”

Yeriko tersenyum dengan mata berbinar. Ia sangat bahagia memiliki wanita yang cantik, baik hati dan tulus mencintainya. Perlahan, ia mengulum bibir mungil dan manis milik Yuna. Kemudian, menggendongnya naik ke kamar mereka.

 

Keesokan harinya … Yuna dan Yeriko mulai sibuk dengan hari pernikahan mereka. Pagi-pagi sekali, Rullyta sudah berada di rumah Yeriko.

“Yer, kamu hari ini masih kerja?” tanya Rullyta begitu melihat Yeriko turun dari kamarnya dalam keadaan rapi.

“Iya, Ma.”

“Dua hari lagi hari pernikahan kalian. Kamu belum ambil cuti juga?”

“Aku kelarin dulu urusan kerjaan. Biar bisa liburan setelah resepsi,” jawab Yeriko sambil melangkah ke meja makan.

“Liburan ke mana?” tanya Yuna.

“Bukannya kalian belum bulan madu? Mama kasih hadiah buat kalian jalan-jalan ke Amalfi Coast,” jawab Rullyta sambil tersenyum. Ia menikmati sarapan pagi bersama Yuna dan Yeriko.

“Hah!?” Yuna tidak bisa mengungkapkan perasaan bahagianya. Ia tak menyangka kalau Yeriko benar-benar mewujudkan keinginannya untuk berbulan madu ke Amalfi.

“Ma, kenapa dibocorin sekarang!?” dengus Yeriko sambil mengerutkan dahi.

Yuna dan Rullyta tertawa kecil.

“Yer, Yuna ini lagi hamil muda. Mana bisa mau ngasih kejutan rahasia dengan tiba-tiba. Perjalanan ke sana lumayan jauh. Jadi, Yuna harus dapet surat keterangan dokter dulu sebelum berangkat ke sana.”

Yeriko berpikir sejenak. “Apa perjalanan ini aman buat kandungan Yuna?”

“Aman atau nggaknya, itu tergantung gimana keterangan medis dari dokter. Hari ini, mama akan temani Yuna buat dapetin surat itu.”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Selama perjalanan, kamu harus perhatikan waktu istirahatnya Yuna. Nggak boleh sampai kurang tidur, nggak boleh kecapekan dan harus jaga asupan makanannya dia!” pinta Rullyta.

“Oh ya, kalian akan transit dua kali. Pertama di KL, kedua di Istanbul. Kamu manfaatin ini buat istirahat. Jangan dipake buat jalan-jalan!” lanjut Rullyta.

Yuna menggigit bibirnya sambil menahan senyum. “Hmm ... akhirnya, aku bakal ngerasain bulan madu juga sama Yeriko!” serunya dalam hati.

“Kamu jangan seneng dulu!” dengus Rullyta sambil menatap Yuna yang senyum-senyum sendiri.

Yuna spontan merubah ekspresi wajahnya.

“Hari ini, kalau kata dokter kamu nggak bisa bepergian jauh. Terpaksa, bulan madunya ditunda sampai anak kalian lahir,” lanjut Rullyta.

Yuna mengangguk kecil. Sementara, Yeriko menahan tawa melihat ekspresi kekecewaan yang tergambar dari wajah Yuna.

“Mama juga seneng banget jahilin Yuna,” tutur Yeriko dalam hati.

“Oh ya, besok malam kamu udah mulai nginap di Sangri-La!” perintah Yuna.

“Aku?”

Rullyta menganggukkan kepala. “Mama udah atur Jheni sama Icha buat jadi bridesmaid kamu. Jadi, mereka akan temani kamu di sana.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Aku juga, Ma?” tanya Yeriko.

“Nggak boleh! Mama sudah atur kamar lain untuk kamu, Chandra dan Lutfi.”

“Ma, kita kan udah nikah. Yuna juga udah hamil. Kenapa masih nggak boleh satu kamar?”

“Huft, kamu ini ... satu malam aja nggak kelonan sama Yuna, masa nggak tahan!?” seru Rullyta.

“Aku tahan, Ma. Dia gimana?” tanya Yeriko sambil menunjuk Yuna dengan dagunya.

“Eh!?” Yuna melongo saat dua pasang mata itu melihat ke arahnya. “Aku? Aku nggak masalah kok, Ma.”

“Nah, Yuna aja nggak masalah. Kamu aja yang banyak alasan!” dengus Rullyta.

Yeriko menahan tawa mendengar ucapan mamanya.

Mereka menikmati sarapan bersama sembari membicarakan pernikahan yang sudah di depan mata.

Usai sarapan, Yeriko berangkat ke perusahaan untuk menyelesaikan semua rencana proyek beberapa hari ke depan. Sementara, Yuna dan Rullyta pergi ke rumah sakit sembari melihat-lihat persiapan acara pernikahan yang akan digelar secara tertutup di Ballroom Sangri-La Hotel.

 

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 287 : Makin Panas

 


Refi berdiri di depan cermin sembari menatap dirinya yang sangat berantakan. Di beberapa tubuhnya terdapat luka memar berwarna ungu, bekas kiss mark yang dilakukan oleh Deny. Ia mengingat kejadian dua hari lalu di mana ia gagal menjebak Yeriko. Justru bergulat dengan Deny selama dua hari dua malam.

Ia baru saja tersadar dari pengaruh obat yang ia telan sendiri, ia langsung mengusir Deny keluar dari rumahnya.

“Huft, kenapa aku nggak bisa lepas dari laki-laki itu?” ucapnya kesal.

Deny telah mengendalikan Refi sepenuhnya. Refi tidak bisa berbuat apa-apa karena ia hanya mengandalkan Deny sebagai pembantunya. Ia tidak bisa mengandalkan orang lain lagi.

Refi mulai merapikan kamar dan seisi rumahnya yang sangat berantakan.

“Deny sialan!” maki Refi sembari menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh ruangan.

“Kalo bukan karena aku mau manfaatin dia, aku nggak bakalan mau tidur sama cowok kayak dia!” serunya kesal. Ia benar-benar tidak mengerti, sejak ia di Paris hingga kembali ke Indonesia. Deny tidak pernah berhenti mengikutinya.

“Hmm ... sebenarnya, aku yang manfaatin dia atau dia yang manfaatin aku?” gumam Refi.

“Huh, nggak bisa. Aku masih butuh dia sampai aku bisa dapetin Yeriko lagi.”

 

Tok ... tok ... tok ...!

 

 

Refi langsung menoleh ke arah pintu yang diketuk.

“Siapa yang ke sini? Yang tahu aku tinggal di sini cuma Deny, Yeriko sama Chandra. Deny? Baru aja aku usir masa udah datang lagi? Chandra? Biasanya nyamperin aku kalo di rumah sakit doang. Jangan-jangan ... itu Yeriko! Pasti dia datang ke sini mau minta maaf dan menyesali perbuatannya karena udah nyuekin aku.” Refi kegirangan dan langsung melangkah menuju pintu.

Refi langsung membelalakkan matanya begitu melihat wanita yang berdiri di depan pintu. “Kamu? Ngapain ke sini?” tanya Refi.

Yuna tersenyum manis ke arah Refi. “Apa kabar? Kaki kamu udah sembuh?”

“Udah,” jawab Refi ketus.

Yuna menatap Refi yang terlihat sangat berantakan. Di leher dan dadanya terdapat bekas keunguan. “Kamu habis main sama siapa?”

“Main apaan?”

“Kenapa banyak kiss mark di badan kamu?”

Refi tersenyum sambil menatap Yuna. “Cuma Yeriko yang tahu aku tinggal di sini. Menurut kamu, siapa lagi yang bisa main sama aku kalo bukan dia? Kamu nggak tahu kalau suami kamu itu udah selingkuh di belakang kamu. Dia itu nggak beneran sayang sama kamu.”

Yuna menahan tawa mendengar kebohongan yang diciptakan oleh Refi. Kali ini ia tidak akan mudah terprovokasi dengan ucapan Refi karena Yeriko sudah menceritakan kejadian yang sebenarnya.

“Ref, kamu pikir Yeriko bakal tertarik sama perempuan murahan kayak kamu. Jelas-jelas kamu abis tidur sama cowok lain. Masih aja mau ngejar-ngejar Yeriko. Aku yang akan jagain dia supaya nggak jatuh ke dalam pelukan wanita jalang kayak kamu!”

“Heh, kamu jangan ngomong sembarangan ya!” sentak Refi. “Kamu nggak punya bukti kalau aku tidur sama laki-laki lain.”

Yuna tersenyum sinis. “Kamu pikir aku bego? Kissmark sebanyak itu, ngapain aja? Abis masak bareng?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

Refi terdiam. Ia melirik ke arah Angga yang berdiri di belakang Yuna. “Kamu sama siapa? Selingkuhan baru kamu?”

Yuna tersenyum. “Nggak usah ngalihin pembicaraan! Dia supir kesayangannya Mama Rully. Sekarang, dia khusus jadi supir pribadiku.”

Refi mengerutkan bibirnya. Matanya menatap Yuna penuh rasa cemburu. Menjadi istri Yeriko, Yuna mendapatkan banyak fasilitas mewah. Seharusnya, dialah yang ada di posisi Yuna saat ini.

“Oh, kamu ke sini cuma mau pamer semua fasilitas yang udah kamu dapetin dari keluarga Hadikusuma?” tanya Refi tak bersahabat.

Yuna tersenyum. “Jelas, dong. Aku istri sahnya Yeriko Sanjaya Hadikusuma. Aku pantes buat dapetin ini semua.”

“Yun, asal kamu tahu. Apa yang kamu dapetin sekarang, seharusnya itu semua milik aku!” seru Refi. “Aku bakal ambil semuanya dari kamu.

Yuna tersenyum sinis. “Aku tahu, kamu nggak bener-bener cinta sama Yeriko. Kamu cuma terobsesi sama harta yang dia punya.”

“Nggak usah munafik! Aku tahu kalau kamu juga ngincar harta Yeriko,” sahut Refi kesal. Ia melirik cincin berlian yang melingkar di jari Yuna. Cincin itu terlihat mahal dan bentuknya tidak pernah ia lihat. Ia semakin cemburu melihat Yuna menggunakan barang-barang mewah.

Yuna tersenyum puas melihat Refi yang terlihat jelas memiliki rasa cemburu dan ambisi yang besar. “Ref, aku nggak perlu hartanya Yeriko. Saat aku nikah sama dia, aku nggak tahu sama sekali kalau Yeriko pria muda yang bukan Cuma tampan, tapi juga kaya raya.”

Refi semakin kesal mendengarkan ucapan Yuna.

“Sekarang, aku udah tahu kalau Yeriko itu pria kaya yang jadi incaran banyak perempuan. Sayangnya, aku sudah terlanjur jadi istri sahnya dia. Aku nggak bisa menolak lagi semua harta yang dia kasih ke aku.”

“Yeriko baru kenal sama kamu belum sampai setahun. Dia cuma sementara aja kayak gini ke kamu. Cepat atau lambat, dia akan sadar dan balik ke aku lagi.”

Yuna tersenyum menanggapi ucapan Refi. “Aku rasa Yeriko nggak akan ngelakuin itu. Karena sekarang, aku sudah mengandung anaknya dia.”

“Apa!?”

“Kenapa? Kamu masih nggak percaya kalau aku ini istri sahnya Yeriko?” tanya Yuna. “Ref, sebaiknya kamu berhenti ngejar suami orang. Kamu bisa cari kebahagiaan kamu dan hidup dengan damai. Kamu cantik, di luar sana pasti ada pria yang menghargai dan mencintai kamu dengan tulus.”

“Kamu nggak usah sok baik sama aku!” sahut Refi ketus.

“Aku nggak pernah sok baik sama kamu, apalagi mau baik beneran. Aku cuma mau, kamu berhenti mengganggu rumah tangga kami. Yeriko sudah bahagia tanpa kamu. Jangan usik dia lagi!”

Refi tersenyum sinis. “Bilang aja kalo kamu nggak berani bersaing sama aku,” celetuknya.

“Aku rasa, aku nggak perlu bersaing sama kamu. Karena hasilnya sudah pasti kamu yang kalah. Aku takut, kamu makin depresi dan lompat lagi dari gedung.”

“Kamu jangan terlalu percaya diri! Gimana kalo akhirnya aku bisa ambil Yeriko lagi?”

“Aku bakal ambil lagi dari kamu,” jawab Yuna santai sambil tersenyum.

Refi semakin kesal dengan sikap Yuna yang terlihat sangat santai. “Aku nggak akan ngebiarin kamu hidup bahagia!” serunya.

“Sayang banget, Ref. Sekarang aku udah hidup bahagia.”

“Ini cuma sementara Yun. Aku bakal ambil lagi apa yang seharusnya jadi milikku!” seru Refi histeris.

“Oh ya? Minggu ini pesta pernikahan aku sama Yeriko. Aku harap, kamu bisa memikirkan dengan baik dan bisa merubah diri kamu sendiri. Kalau kamu masih keukeuh ganggu rumah tangga kami. Kamu bisa kehilangan semuanya. Kamu bisa tinggal di sini juga karena aku yang minta ke Yeriko!” sahut Yuna mulai kesal.

Refi semakin emosi. Ia benar-benar tidak bisa menerima kalau hubungan Yuna dan Yeriko sangat baik sehingga tidak ada keraguan di antara mereka.

Yuna tersenyum menatap Refi. “Kalau kamu masih nggak mau nyerah dan tetap mau bersaing sama aku. Aku bakal ngelawan kamu sampai akhir. Kamu pikirin baik-baik dulu. Jangan sampai rasa belas kasih kami ke kamu bener-bener hilang!” Yuna berbalik dan melangkah pergi meninggalkan rumah Refi.

Refi menatap kesal. Setelah Yuna benar-benar pergi, ia langsung membanting pintunya keras-keras.

Refi melangkah masuk menuju dapur. Ia mengambil air minum penuh emosi. “Yuna sialan! Kenapa ada perempuan kayak gitu di dunia ini? Kenapa dia nggak terpengaruh sama sekali?” Ia sibuk memikirkan cara mendapatkan Yeriko kembali.

“Aaargh ...!” seru Refi sambil membanting gelas kaca di tangannya hingga pecah berkeping-keping.

Refi mencari ponsel miliknya dan langsung menelepon Yeriko.

“Halo ...!”

“Halo ...! Yer, barusan istri kamu ke rumah aku. Dia sengaja datang buat cari ribut.”

Yeriko tersenyum sinis. “Bukannya kamu sendiri yang udah bikin keributan?” batin Yeriko.

“Istri kamu ngancam-ngancam aku, Yer. Aku takut banget. Aku nggak mau tinggal di sini lagi. Aku mau pindah.”

Di saat yang bersamaan, panggilan telepon Yuna juga masuk. “Kamu nggak perlu pindah. Tetaplah tinggal di situ. Kamu tenang aja! Masalah ini, biar aku yang urus.”

“Oke. Makasih ya, Yer.” Refi tersenyum, ia mengira kalau Yeriko masih peduli padanya dan akan menyelesaikan Yuna untuknya.

“He-em.” Yeriko mematikan panggilan telepon Refi dan menjawab panggilan telepon dari istrinya.

“Halo ... Bundanya anak-anakku yang cantik!” sapa Yeriko begitu ia menjawab panggilan telepon dari Yuna.

“Halo ...! Lagi telepon siapa?”

“Coba tebak, siapa yang barusan telepon?”

“Si Refi?”

“Bener banget.”.

“Yeei ... aku bener, hadiahnya apa?” tanya Yuna bercanda. “Ternyata bener, dia langsung ngadu tuh ke kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. “Dia udah mulai masuk ke perangkap. Kamu udah makan siang?”

“Ini lagi di jalan, mau pulang. Kamu ...”

“Aku makan siang di kantor. Barusan, Bibi antar makanan ke sini.”

“Kenapa nggak nyuruh aku?”

“Kamu istirahat aja di rumah. Jagain si Dedek ya!”

“He-em.” Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hmm ... Ide kamu bagus juga. Ntar aku ceritain di rumah aja kalau kamu udah pulang. Lanjutin kerjanya ya! I love you. Bye!”

“Bye ...!” Yeriko tersenyum menatap layar ponselnya yang sudah mati. Ia tak menyangka kalau istrinya punya keberanian besar untuk menghadapi Refi yang ambisius.


((Bersambung...))

Review Drama Cina "FEUD", Xianxia Drama di iQIYI Internasional

 



Kalau ngomongin soal drama Cina, tentunya menjadi hal yang sangat membahagiakan. Terutama buat aku yang suka banget sama drama Cina karena alur ceritanya yang baik dan pesan moral di dalamnya.

Sudah lama banget aku memilih untuk berhenti nonton drama Cina. Bukan tidak ada sebabnya. Karena nonton drama memang cukup menguras waktuku sampai aku lupa tugasku sebagai tulang punggung keluarga. Ya kali, aku nonton drama terus dan tidak nyari uang. Keluargaku mau dikasih makan drama?

Mmh ... tapi akhir-akhir ini iklan di media sosial benar-benar mengangguku dan menarikku masuk kembali ke dalam dunia drama Cina yang cukup lama aku tinggalkan. Aku pikir hari ini, kenapa aku tidak menggunakan kesempatan baik ini untuk menghasilkan cuan serta kebahagiaan? Aku bisa merasa bahagia menonton banyak film dan drama, juga menghasilkan sedikit cuan dari review drama atau film yang aku tonton. Aku juga bisa mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis buku-bukuku ke depannya.

Beberapa hari lalu, aku mengunduh aplikasi drama karena tertarik dengan drama pendeknya. Kemudian, aku berlangganan VIP untuk bisa menonton full episode. Tentunya, hal ini tidak bisa aku sia-siakan. Aku adalah tim yang tidak mau rugi sedikitpun. Sayang, kan, kalau sudah bayar bulanan dan tidak dimanfaatkan dengan baik. So, aku nyari-nyari tontonan baru, dong.

Di beranda paling atas, aku melihat drama berjudul "FEUD". Wajah khas Bai Lu, salah satu aktris favorite-ku, langsung menarik perhatianku. Aku merasa, drama yang diperankan olehnya memiliki alur cerita yang baik.
Kalau netizen lain melihat drama ini dari kualitas visualnya, aku lebih menikmati alur ceritanya.
Dalam sebuah situs kapanlagi.com, Penayangan Perdana Disambut Kritik Pedas oleh para pengguna media sosial. Mereka menganggap drama ini memiliki kualitas visual yang rendah, efek CGI yang dinilai murahan, serta green screen yang terlalu kentara dan mengganggu kenyamanan menonton.
Tapi buat aku yang tidak begitu paham seni visual, sudah sangat baik. Aku lebih menikmati jalan ceritanya, sehingga tidak begitu memerhatikan detail visualnya.

Seperti apa sih sebenarnya drama ini? Aku bisa menyampaikannya sesuai dengan pandangan pribadiku, mungkin akan berbeda dalam pandangan orang lain.

Yuk, kita kupas all about tentang drama yang satu ini!


Sinopsis:

"FEUD" adalah drama Xianxia, penulis skenario adalah Zhao Na (The Demon Hunter's Romance, Princess Agents) dan Ren Yanan. Disutradarai ileh Zhi Lei [Special Lady] dan Guo Hao [Arsenal Military Academy]. Dibintangi oleh Bai Lu [Moonlight Mystique, Story of Kunning Palace, One and Only], Joseph Zeng [Mysterious Lotus Casebook, Romance on the Farm, A Lonely Hero's Journey], He Ruixian [Warm on a Cold Night], dan Chen Xinhai [Love the Divine Tree, Falling Before Fireworks]. Drama ini mengisahkan tentang Li Qingyue sang Dewi Siling dan Bai Jiusi sang Tetua Agung Dacheng. Mereka berada dalam hubungan benci-tapi-cinta, yang pada akhirnya berhasil mengatasi kesalahpahaman, bersama-sama menghadapi cobaan, dan menyelamatkan dunia. Drama ini telah tayang mulai 6 Juni 2025 di iQIYI Internasional. (Sumber: iQ.com)

Review:

Opening drama ini hampir mirip dengan drama-drama kostum yang lain. Ada beberapa adegan yang mengingatkanku pada adegan drama-drama yang sebelumnya aku tonton. Pada pertengahan episode terdapat klimaks yang cukup seru saat Bai Jiusi dan Dewi Siling berperang. Tetapi kemudian ceritanya berubah menjadi flat/datar ketika mereka yang sebagai dewa turun ke bumi untuk menjalani ujian sebagai manusia.
Namun, di dalam alur cerita yang flat ini, terdapat banyak pesan moral yang bisa kita ambil. Sebab, di sinilah pergulatan batin itu dimulai. Bai Jiusi yang merasa tindakannya selalu benar, mulai meragukan dirinya sendiri. 
Masuk di episode 22, barulah ceritanya lumayan seru dengan konflik-konflik yang menarik dan membuat tidak bosan, meski ada beberapa adegan klise yang aku memilih untuk melewatkannya. 
Kehadiran Xiao Jingsan membuat alur ceritanya lebih menarik dan menegangkan. Sayangnya, di akhir cerita, muncul Dewi Waktu Kuno yang membuat Dewi Siling mampu mengembalikan keadaan. Hal ini menjadi kurang menarik karena takdir buruk harus diubah, padahal peperangan sudah usai. Seolah-olah, adegan tentang bagaimana memperjuangkan keyakinan masing-masing, menjadi tidak ada nilainya.
Dewi Waktu Kuno juga membantu Dewi Siling untuk bertemu kembali dengan Bai Jiusi yang telah mati dan mereka bertemu dalam keadaan yang penuh cinta (berciuman). Ending seperti ini terasa sangat umum. Padahal, aku berharap keduanya bisa membangkitkan kembali jiwa anak mereka yang telah mati dengan berbagai perjuangan keras. Sayangnya, itu tidak terjadi.
Secara keseluruhan, drama ini sangat menarik perhatian. 
Meski banyak memiliki kekurangan secara visual, tapi jalannya ceritanya sangat baik. Aku saja yang masih kurang memahami dunia ilusi dengan alur cerita maju-mundur-maju. Menonton drama yang satu ini tidak boleh dilewatkan sedikitpun karena nantinya bisa salah paham. Aku bahkan sering mengulang episode untuk memastikan aku tidak melewatkannya saat adegan selanjutnya masih memiliki keterkaitan dan menimbulkan pertanyaan baru. 
Buat kamu pencinta drama kostum, aku merekomendasikan drama ini untukmu. Karena kostum-kostum yang digunakan oleh aktor juga sangat menarik dengan warna gradasi yang indah dan aksesoris yang mewah.

Cukup sampai di sini review dari aku. Kalau mau tahu lebih lanjut, kamu bisa langsung menontonnya di aplikasi iQIYI Internasional. Jangan lupa nonton, ya!










Perfect Hero Bab 286 : Otewe Boutique

 


“Jhen, ayo kita ke butik sekarang!” seru Yuna sambil menarik tangan Jheni.

“Bntar Yun, tunggu Icha dateng,” sahut Jheni dengan suara parau. Ia enggan bangkit dari tempat tidurnya.

“Si Chandra udah kamu telepon?”

“Chandra pergi bareng Lutfi ntar malam. Sore ini, mereka masih sibuk,” jawab Jheni sambil memeluk bantalnya.

“Iih ... cepetan mandi, Jhen. Kalo Icha dateng, kita bisa langsung berangkat.”

“Sabar, Yun. Icha pulang kerja masih tiga puluh menit lagi. Aku mau tidur sebentar.”

“Sempat-sempatnya masih mau tidur,” celetuk Yuna sambil duduk di samping Jheni.

“Semalam aku ngejar deadline sampai pagi” sahut Jheni sambil menguap. Ia mencoba mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat.

“Duh, Yuna ... kepalaku berat banget. Kayaknya, ini kasur ada magnetnya.”

Yuna langsung mengetuk kepala Jheni. “Alasan! Bilang aja kalo males bangun. Buruan bangun, gih. Udah sore, nih.”

Jheni meringis. Ia mengangkat kepala dan tubuhnya dari atas kasur. Kemudian, berjalan lunglai masuk ke dalam kamar mandi.

Yuna tersenyum kecil. Hari ini, ia akan mengajak Jheni dan Icha mencoba gaun yang akan mereka kenakan sebagai bridesmaid di acara pernikahan Yuna. Chandra dan Lutfi juga akan menjadi groomsmen. Mama mertua dan suaminya sudah menyiapkan semuanya dengan baik. Ia tinggal mengikutinya saja.

“Yun, kamu bikinin kami baju yang mahal kan?” seru Jheni dari balik kamar mandi.

“Iya. Tapi nggak lebih mahal dari gaun pengantinku!” sahut Yuna ikut berteriak.

“Yaelah perhitungan amat!” sahut Jheni.

“Kamu minta sama Chandra!”

“Hahaha.”

“Kenapa malah ketawa?” celetuk Yuna lirih.

Beberapa saat kemudian, Jheni keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuknya. Ia mengganti pakaiannya dengan santai di depan Yuna.

“Jhen, ternyata si Refi masih aja terobsesi sama Yeriko.”

“Hah!? Kirain udah kapok tuh dia gara-gara kasus yang waktu itu.”

“Kakinya dia udah sembuh. Mungkin, dia bakal ganggu Yeri lagi,” tutur Yuna santai.

“Eh!? Kamu santai banget ngadepin pelakor kayak Refi?”

“Hihihi. Aku sama Yeriko udah punya rencana yang bagus buat ngerjain dia,” jawab Yuna sambil tertawa.

“Mau jahilin dia?” tanya Jheni.

“Mau bikin dia makin kepanasan, hahaha.”

“Bagus, Yun. Biar hidupnya makin nggak tenang.”

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Saya suka, saya suka!” serunya mengikuti gaya Memei Comel di serial anak Upin-Ipin.

“Kenapa si Refi nggak dibalikin aja ke habitatnya!” sahut Jheni kesal.

“Tanya ke pacar kamu itu. Kan sekarang yang urusin dia si Chandra.”

“Chandra nggak pernah ngungkit Refi,” tutur Jheni sambil menyisir rambutnya.

“Jangan-jangan, dia main belakang sama Refi,” sahut Yuna.

Jheni langsung melempar sisir di tangannya ke arah Yuna. “Sembarangan kalo ngomong!” dengusnya.

“Hihihi.”

“Kalo sampe si Refi gangguin Chandra, kucekik beneran itu cewek!” tegas Jheni.

Yuna tergelak menanggapi ucapan Jheni.

“Eh, kamu kok bisa sih santai aja sama Refi. Nggak benci sama orang kayak dia? Aku aja geregetan banget,” tutur Jheni.

“Aku lagi hamil. Nggak boleh benci dia. Ntar anakku mirip sama dia.”

“Hahaha. Ntar dikira anaknya dia, bukan anakmu.”

“Bukan mukanya yang mirip, tapi kelakuannya. Kalo mukanya sih, harus tetep mirip aku, dong!” sahut Yuna.

Jheni tersenyum menatap Yuna. Ia masih tidak mengerti, kenapa di dunia ini masih ada orang yang memiliki hati sebaik Yuna. Yuna kini memiliki segalanya, jika Yuna menginginkannya, ia bisa dengan mudah menyingkirkan orang-orang yang menjahatinya.

Tok ... tok ... tok ...!

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Jheni. “Icha akhirnya datang juga.” Ia melangkah keluar dari kamarnya. Yuna juga mengikutinya dari belakang.

Jheni melangkah menuju pintu. Ia langsung membuka pintu rumahnya. “Loh? Kok, kalian?” Ia mengerutkan keningnya saat melihat Chandra dan Lutfi sudah berdiri di hadapannya.

Chandra dan Lutfi tersenyum. Mereka langsung menerobos masuk ke rumah Jheni. “Kalian udah siap?”

“Masih nunggu Icha. Bukannya kalian mau pergi sendiri ntar malam sama Yeriko?”

“Mmh, setelah dipikir-pikir. Kami bisa menemani kalian ke butik dulu. Kerjaan, bisa dilanjutkan nanti malam atau besok pagi,” jawab Chandra.

“Yeriko nggak ikut?” tanya Yuna. Ia sangat berharap kalau Yeriko tidak jadi kerja lembur dan ikut bersamanya ke butik.

“Yeriko lagi ngebut kerjanya. Biar bisa bulan madu, hahaha.” Lutfi tertawa menanggapi pertanyaan Yuna.

“Yeriko ngejar target. Soalnya mau cuti. Jadi, dia percepat kerjaannya biar bisa tenang berlibur setelah hari pernikahan.” Chandra menanggapi pertanyaan Yuna dengan serius.

“Huft ...!” Yuna menghela napas sambil menatap Chandra dan Lutfi. Dua pria ini memang memiliki sifat dan gaya yang jauh berbeda. Entah mengapa mereka bisa bersahabat begitu baik.

“Icha belum nyampe sini? Tahu gitu, aku jemput dia dulu.”

“Kamu pacarnya!” seru Jheni kesal. “Kenapa nggak tahu kalo Icha masih di tempat kerja? Emang kamu nggak punya nomer hape dia!?” dengusnya.

“Hehehe. Tadi si Chandra bilang kalo Icha nunggu di sini. Jadi, aku nggak kepikiran nelpon dia,” tutur Lutfi.

“Kamu tuh pacar paling nggak jelas,” sahut Jheni.

“Eh, itu dia!” seru Yuna saat melihat Icha lewat kaca jendela.

Jheni tersenyum, ia langsung membukakan pintu untuk Icha. “Kenapa nggak bareng Lutfi?” tanya Jheni begitu melihat Icha berada di depan pintu.

“Eh!? Dia ke sini?”

“Tuh!” Jheni menunjuk Lutfi yang sedang duduk di sofa dengan dagunya.

Icha tersenyum, ia langsung masuk ke dalam rumah Jheni.

“Langsung berangkat, yuk!” ajak Yuna.

“Sekarang?” tanya Icha.

“Iya. Kita cuma nunggu kamu doang.”

Icha menganggukkan kepala.

Mereka berlima bergegas menuju butik tempat Yuna dan Yeriko memesan gaun pengantin. Kali ini, mereka akan mencoba baju pendamping pengantin untuk dua pasang kekasih yang akan mendampingi pernikahan Yuna san Yeriko.

Sesampainya di butik, mereka langsung masuk ke ruang VIP dan mencoba pakaian yang sudah mereka pesan sebelumnya.

“Yun, di acara nikahan kamu ada acara adatnya atau nggak?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku udah nikah lama, Jhen. Ini kan cuma resepsi aja. Jadi, nggak perlu pakai acara adat. Acaranya juga tertutup.”

“Mmh ...  iya juga, sih. Keluarga Yeriko pasti hati-hati banget ya?”

Yuna menganggukkan kepalanya.

“Kakak Ipar, kenapa jasnya pilih warna mocca kayak gini?” tanya Lutfi sambil mengamati jas yang sudah melekat di tubuhnya.

“Mama Rully yang atur. Mungkin disesuaikan sama temanya.”

Lufti mengangguk-anggukkan kepala. “Selera emak cantik yang satu emang berkelas. Kalo mamaku masih hidup. Pasti bakal heboh ngurusin pernikahanku, sama kayak Tante Rully ke Yeriko,” ucap Lutfi sambil menatap tubuhnya yang tegap di cermin.

Semua orang terdiam. Tidak ada satu pun yang berani mengungkit soal mendiang mamanya Lutfi. Mereka takut akan membuat suasana Lutfi memburuk. Hanya saja, sikap Lutfi memang sangat santai. Mungkin, karena sudah berlalu sangat lama. Sehingga, Lutfi tidak terlihat sedih sedikitpun saat mengingat mamanya.

Yuna tersenyum kecil. “Kalau bunda masih hidup, dia juga pasti seneng banget lihat aku menikah sama Yeriko,” batin Yuna dalam hati.

“Yun, si Bellina kamu undang?” tanya Jheni.

Yuna menganggukkan kepala. “Dia masih saudara aku juga, nggak mungkin nggak aku undang.”

“Jangan sampe dia bikin kacau di acara kamu,” tutur Jheni.

“Tenang aja!” sahut Chandra. “Dia nggak mungkin berani mempermalukan dirinya sendiri dan keluarganya.”

“Yakin?” tanya Jheni. “Eh, si Reptil diundang apa nggak?”

“Nggak tahu. Kalo soal undangan mah, tanya Yuna aja,” jawab Chandra.

Yuna mengedikkan bahu. “Yeriko sama Mama Rully yang urus.”

“Gawat kalo sampe si Reptil masuk ke acara.”

“Kalo dia datang, aku pasti langsung awasi dia,” sahut Lutfi.

“Reptil siaoa sih?” tanya Icha yang masih kebingungan mendengar pembicaraan mereka.

“Astaga! Kamu nggak tahu?” tanya Jheni sambil menatap wajah Icha.

Icha menggelengkan kepala.

“Si Refi gila itu. Kami julukin dia Reptil. Hahaha,” ucap Jheni sambil tertawa.

“Astaga ...!” seru Icha. “Kapan kalian ngasih julukan itu ke dia?”

“Kapan ya? Kapan ya? Kamu ini ... kalo ada orang cerita sering nggak nyambung. Makanya,kamu nggak tahu kalau kita udah kasih julukan spesial buat cewek gila yang satu itu.”

Icha meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 

 

((Bersambung…))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas