“Jhen, ayo kita ke butik sekarang!” seru Yuna sambil menarik tangan Jheni.
“Bntar Yun, tunggu Icha dateng,” sahut Jheni dengan suara parau. Ia enggan
bangkit dari tempat tidurnya.
“Si Chandra udah kamu telepon?”
“Chandra pergi bareng Lutfi ntar malam. Sore ini, mereka masih sibuk,”
jawab Jheni sambil memeluk bantalnya.
“Iih ... cepetan mandi, Jhen. Kalo Icha dateng, kita bisa langsung
berangkat.”
“Sabar, Yun. Icha pulang kerja masih tiga puluh menit lagi. Aku mau tidur
sebentar.”
“Sempat-sempatnya masih mau tidur,” celetuk Yuna sambil duduk di samping
Jheni.
“Semalam aku ngejar deadline sampai pagi” sahut Jheni sambil menguap. Ia
mencoba mengangkat kepalanya yang terasa sangat berat.
“Duh, Yuna ... kepalaku berat banget. Kayaknya, ini kasur ada magnetnya.”
Yuna langsung mengetuk kepala Jheni. “Alasan! Bilang aja kalo males bangun.
Buruan bangun, gih. Udah sore, nih.”
Jheni meringis. Ia mengangkat kepala dan tubuhnya dari atas kasur.
Kemudian, berjalan lunglai masuk ke dalam kamar mandi.
Yuna tersenyum kecil. Hari ini, ia akan mengajak Jheni dan Icha mencoba
gaun yang akan mereka kenakan sebagai bridesmaid di acara pernikahan Yuna.
Chandra dan Lutfi juga akan menjadi groomsmen. Mama mertua dan suaminya sudah
menyiapkan semuanya dengan baik. Ia tinggal mengikutinya saja.
“Yun, kamu bikinin kami baju yang mahal kan?” seru Jheni dari balik kamar
mandi.
“Iya. Tapi nggak lebih mahal dari gaun pengantinku!” sahut Yuna ikut
berteriak.
“Yaelah perhitungan amat!” sahut Jheni.
“Kamu minta sama Chandra!”
“Hahaha.”
“Kenapa malah ketawa?” celetuk Yuna lirih.
Beberapa saat kemudian, Jheni keluar dari kamar mandi sambil mengenakan
handuknya. Ia mengganti pakaiannya dengan santai di depan Yuna.
“Jhen, ternyata si Refi masih aja terobsesi sama Yeriko.”
“Hah!? Kirain udah kapok tuh dia gara-gara kasus yang waktu itu.”
“Kakinya dia udah sembuh. Mungkin, dia bakal ganggu Yeri lagi,” tutur Yuna
santai.
“Eh!? Kamu santai banget ngadepin pelakor kayak Refi?”
“Hihihi. Aku sama Yeriko udah punya rencana yang bagus buat ngerjain dia,”
jawab Yuna sambil tertawa.
“Mau jahilin dia?”
tanya Jheni.
“Mau bikin dia
makin kepanasan, hahaha.”
“Bagus, Yun. Biar
hidupnya makin nggak tenang.”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. “Saya suka, saya suka!” serunya mengikuti gaya
Memei Comel di serial anak Upin-Ipin.
“Kenapa si Refi nggak dibalikin aja ke habitatnya!” sahut Jheni kesal.
“Tanya ke pacar kamu itu. Kan sekarang yang urusin dia si Chandra.”
“Chandra nggak pernah ngungkit Refi,” tutur Jheni sambil menyisir
rambutnya.
“Jangan-jangan, dia main belakang sama Refi,” sahut Yuna.
Jheni langsung melempar sisir di tangannya ke arah Yuna. “Sembarangan kalo
ngomong!” dengusnya.
“Hihihi.”
“Kalo sampe si Refi gangguin Chandra, kucekik beneran itu cewek!” tegas
Jheni.
Yuna tergelak menanggapi ucapan Jheni.
“Eh, kamu kok bisa sih santai aja sama Refi. Nggak benci sama orang kayak
dia? Aku aja geregetan banget,” tutur Jheni.
“Aku lagi hamil. Nggak boleh benci dia. Ntar anakku mirip sama dia.”
“Hahaha. Ntar dikira anaknya dia, bukan anakmu.”
“Bukan mukanya yang mirip, tapi kelakuannya. Kalo mukanya sih, harus tetep
mirip aku, dong!” sahut Yuna.
Jheni tersenyum menatap Yuna. Ia masih tidak mengerti, kenapa di dunia ini
masih ada orang yang memiliki hati sebaik Yuna. Yuna kini memiliki segalanya,
jika Yuna menginginkannya, ia bisa dengan mudah menyingkirkan orang-orang yang
menjahatinya.
Tok ... tok ... tok ...!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Jheni. “Icha akhirnya datang juga.”
Ia melangkah keluar dari kamarnya. Yuna juga mengikutinya dari belakang.
Jheni melangkah menuju pintu. Ia langsung membuka pintu rumahnya. “Loh?
Kok, kalian?” Ia mengerutkan keningnya saat melihat Chandra dan Lutfi sudah
berdiri di hadapannya.
Chandra dan Lutfi tersenyum. Mereka langsung menerobos masuk ke rumah
Jheni. “Kalian udah siap?”
“Masih nunggu Icha. Bukannya kalian mau pergi sendiri ntar malam sama
Yeriko?”
“Mmh, setelah dipikir-pikir. Kami bisa menemani kalian ke butik dulu.
Kerjaan, bisa dilanjutkan nanti malam atau besok pagi,” jawab Chandra.
“Yeriko nggak ikut?” tanya Yuna. Ia sangat berharap kalau Yeriko tidak jadi
kerja lembur dan ikut bersamanya ke butik.
“Yeriko lagi ngebut kerjanya. Biar bisa bulan madu, hahaha.” Lutfi tertawa
menanggapi pertanyaan Yuna.
“Yeriko ngejar target. Soalnya mau cuti. Jadi, dia percepat kerjaannya biar
bisa tenang berlibur setelah hari pernikahan.” Chandra menanggapi pertanyaan
Yuna dengan serius.
“Huft ...!” Yuna menghela napas sambil menatap Chandra dan Lutfi. Dua pria
ini memang memiliki sifat dan gaya yang jauh berbeda. Entah mengapa mereka bisa
bersahabat begitu baik.
“Icha belum nyampe sini? Tahu gitu, aku jemput dia dulu.”
“Kamu pacarnya!” seru Jheni kesal. “Kenapa nggak tahu kalo Icha masih di
tempat kerja? Emang kamu nggak punya nomer hape dia!?” dengusnya.
“Hehehe. Tadi si Chandra bilang kalo Icha nunggu di sini. Jadi, aku nggak
kepikiran nelpon dia,” tutur Lutfi.
“Kamu tuh pacar paling nggak jelas,” sahut Jheni.
“Eh, itu dia!” seru Yuna saat melihat Icha lewat kaca jendela.
Jheni tersenyum, ia langsung membukakan pintu untuk Icha. “Kenapa nggak
bareng Lutfi?” tanya Jheni begitu melihat Icha berada di depan pintu.
“Eh!? Dia ke sini?”
“Tuh!” Jheni menunjuk Lutfi yang sedang duduk di sofa dengan dagunya.
Icha tersenyum, ia langsung masuk ke dalam rumah Jheni.
“Langsung berangkat, yuk!” ajak Yuna.
“Sekarang?” tanya Icha.
“Iya. Kita cuma nunggu kamu doang.”
Icha menganggukkan kepala.
Mereka berlima bergegas menuju butik tempat Yuna dan Yeriko memesan gaun
pengantin. Kali ini, mereka akan mencoba baju pendamping pengantin untuk dua
pasang kekasih yang akan mendampingi pernikahan Yuna san Yeriko.
Sesampainya di butik, mereka langsung masuk ke ruang VIP dan mencoba
pakaian yang sudah mereka pesan sebelumnya.
“Yun, di acara nikahan kamu ada acara adatnya atau nggak?”
Yuna menggelengkan kepala. “Aku udah nikah lama, Jhen. Ini kan cuma resepsi
aja. Jadi, nggak perlu pakai acara adat. Acaranya juga tertutup.”
“Mmh ... iya juga, sih. Keluarga Yeriko pasti hati-hati banget ya?”
Yuna menganggukkan kepalanya.
“Kakak Ipar, kenapa jasnya pilih warna mocca kayak gini?” tanya Lutfi
sambil mengamati jas yang sudah melekat di tubuhnya.
“Mama Rully yang atur. Mungkin disesuaikan sama temanya.”
Lufti mengangguk-anggukkan kepala. “Selera emak cantik yang satu emang
berkelas. Kalo mamaku masih hidup. Pasti bakal heboh ngurusin pernikahanku,
sama kayak Tante Rully ke Yeriko,” ucap Lutfi sambil menatap tubuhnya yang
tegap di cermin.
Semua orang terdiam. Tidak ada satu pun yang berani mengungkit soal
mendiang mamanya Lutfi. Mereka takut akan membuat suasana Lutfi memburuk. Hanya
saja, sikap Lutfi memang sangat santai. Mungkin, karena sudah berlalu sangat
lama. Sehingga, Lutfi tidak terlihat sedih sedikitpun saat mengingat mamanya.
Yuna tersenyum kecil. “Kalau bunda masih hidup, dia juga pasti seneng
banget lihat aku menikah sama Yeriko,” batin Yuna dalam hati.
“Yun, si Bellina kamu undang?” tanya Jheni.
Yuna menganggukkan kepala. “Dia masih saudara aku juga, nggak mungkin nggak
aku undang.”
“Jangan sampe dia bikin kacau di acara kamu,” tutur Jheni.
“Tenang aja!” sahut Chandra. “Dia nggak mungkin berani mempermalukan
dirinya sendiri dan keluarganya.”
“Yakin?” tanya Jheni. “Eh, si Reptil diundang apa nggak?”
“Nggak tahu. Kalo soal undangan mah, tanya Yuna aja,” jawab Chandra.
Yuna mengedikkan bahu. “Yeriko sama Mama Rully yang urus.”
“Gawat kalo sampe si Reptil masuk ke acara.”
“Kalo dia datang, aku pasti langsung awasi dia,” sahut Lutfi.
“Reptil siaoa sih?” tanya Icha yang masih kebingungan mendengar pembicaraan
mereka.
“Astaga! Kamu nggak tahu?” tanya Jheni sambil menatap wajah Icha.
Icha menggelengkan kepala.
“Si Refi gila itu. Kami julukin dia Reptil. Hahaha,” ucap Jheni sambil
tertawa.
“Astaga ...!” seru Icha. “Kapan kalian ngasih julukan itu ke dia?”
“Kapan ya? Kapan ya? Kamu ini ... kalo ada orang cerita sering nggak
nyambung. Makanya,kamu nggak tahu kalau kita udah kasih julukan spesial buat
cewek gila yang satu itu.”
Icha meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
((Bersambung…))
.png)
0 komentar:
Post a Comment