Wednesday, August 17, 2022

Bab 63 - Jarak dan Waktu yang Merenggang

 



Nanda menghela napas lega sembari menutup laptop begitu ia menyelesaikan proposal bisnisnya.

“Akhirnya, kelar juga!” seru Karina sembari meliukkan tubuhnya.

“Thank’s, Rin ...! Kamu udah bersedia bantu aku. Malam ini aku traktir kamu makan sebagai rasa terima kasihku. Mau atau nggak?”

Karina terkekeh mendengar tawaran dari Nanda. “Kamu belum dapet apa-apa, Nan. Kamu mau traktir aku makan dengan uang hasil utangmu ke aku?”

“Hehehe.” Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum malu.

“Kamu traktir aku setelah proposal bisnis kamu ini goal. Gimana? Sementara, biar aku yang traktir kamu dulu dan aku masukin ke daftar utang,” ucap Karina sambil mengusap layar ponselnya.

Nanda tertawa kecil sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Eh, mau reservasi tempat atau order makanannya ke sini?” tanya Karina.

“Order aja, Rin. Aku sembari ngecek ulang MBC yang dikerjain sama tim,” jawab Nanda.

Karina menghela napas. “Kamu udah tutup laptop. Mau buka laptop lagi? Mending istirahat, deh! Besok pagi kamu udah harus persentasi. Kalau kamu bangun kesiangan atau sakit, bisa kacau persentasimu, Nan.”

“Nggak. Aku nggak akan begadang, kok. Aku tahu cara mengatur tubuhku sendiri. Mmh ... setelah presentasi selesai, aku bisa minta tolong sama kamu?”

“Bisa,” jawab Karina sembari melakukan checkout beberapa makanan favorite-nya. “Apa?”

“Antar aku ke Solo!” pinta Nanda.

“Mau ketemu sama mantan istri kamu?” tanya Karina.

“Dia bukan mantan, Rin. Dia masih istriku. Aku nggak pernah ceraikan dia,” sahut Nanda.

“Au, ah. Aku pusing mikirin hubungan kalian yang aneh. Kalau kamu sama dia nggak cerai, berarti aku bakal jadi istri kedua dong kalau perjodohan kita lanjut?”

Nanda mengangguk sambil menatap wajah Karina.

“Serius, Nanda! Kamu sama dia itu sebenarnya cerai atau nggak!?” seru Karina kesal. “Kamu tuh susah banget dipercaya!”

“Enggak,” sahut Nanda.

Karina mengerutkan wajahnya. “Kenapa ortu kamu bilang kalau kamu udah cerai sama istrimu?”

“Aku bukan cerai, Rin. Tapi pernikahan kami dibatalkan sama orang tuanya Roro Ayu,” sahut Nanda.

Karina menahan tawa mendengar ucapan Nanda. “Bukan kamu yang ceraikan istrimu?”

Nanda menggelengkan kepala. “Bukan. Pernikahanku dibatalin sama mertua.”

“HAHAHA.” Karina tertawa keras mendengar ucapan Nanda.

Nanda langsung menyumpal mulut Karina menggunakan gulungan tisu yang ada di tangannya.

“Bweh ... uweek ...!” Karina langsung menyebrulkan tisu tersebut. “Jahat banget, sih!?”

“Ketawamu ngolok, Rin!”

“Hahaha.” Karina tertawa sambil menutup mulutnya. “Abisnya ... kamu selalu bilang kalau kamu adalah playboy paling keren se-Indonesia yang punya banyak cewek dan nggak pernah diputusin sama cewek mana pun. Sekali punya istri, hubungannya diputus sama mertua. Hahaha.”

Nanda menatap kesal ke arah Karina yang terus tertawa di hadapannya.

“Serius. Aku pikir, kamu cerai karena kamu yang ceraikan istrimu ... terus kamu nyesel. Ternyata, kamu bisa juga diputusin. Hahaha.”

“Heh!? Kamu jangan ngomong sembarangan, ya! Kalau nggak terhalang mertua, Roro Ayu itu cinta mati sama aku!” tutur Nanda.

“Oh ya? Kalau cinta mati, kenapa dia bisa pergi dari kamu dan kamu yang ngejar-ngejar dia?” sahut Karina.

“Enak aja! Dia yang ngejar-ngejar aku. Bukan aku yang ngejar dia!” ucap Nanda.

“Oh ya? Kalau sampai besok kamu yang ngejar dia? Taruhan apa?” tanya Karina sambil mendelik serius ke arah Nanda.

Nanda terdiam mendengar pertanyaan Karina. Pikirannya melayang ke tempat yang semuanya kosong karena saat ini ia tidak memiliki apa pun untuk menjadi bahan taruhan.

“Hei ...! Berani taruhan, nggak?” tanya Karina sambil memukul meja di hadapannya.

“Ck. Makanannya udah kamu pesen atau belum?”

“Heleh, ngeles!”

“Serius! Aku laper banget, Rin.”

“Jawab dulu! Berani taruhan atau nggak?” seru Karina.

“Ck. Kamu ini ... masa Nanda nggak berani taruhan?” sahut Nanda sambil menatap wajah Karina. Detik berikutnya, ia mengubah raut wajahnya menjadi masam. “Emang nggak berani, sih.”

“HAHAHA.” Karina kembali tergelak. Sekali ia memegang kartu as Nanda, ia terus menjadikannya sebagai bahan ejekan yang bisa ia layangkan kapan saja kepada pria itu. Bisa berteman seperti ini dengan Nanda, itu jauh lebih baik dan nyaman daripada harus terlibat hubungan bisni yang sekedar formalitas.

 

 

...

 

-Keraton Kesultanan Surakarta-

Hampir seminggu pelayan di istana dibuat ketar-ketir karena Roro Ayu tiba-tiba mengurung diri di dalam ruang perpustakaan selama dua puluh empat jam. Mereka tidak berani melapor pada orang tua Ayu atau pun pada Sri Sultan karena takut dianggap tidak becus melayani puteri mahkota mereka. Tidak tahu apa yang terjadi dengan Roro Ayu hingga membuat para pelayannya kewalahan.

“Ndoro Puteri ...! Sudah waktunya makan malam,” ucap salah satu pelayan sambil mengetuk pintu perpustakaan yang tertutup rapat.

Ayu menghela napas sembari menatap pintu perpustakaan yang tiba-tiba diketuk. Ia menoleh ke arah jam dinding ruangan tersebut yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Setiap berada di depan buku, ia merasa waktunya terasa sangat singkat.

Ayu bangkit dari tempat duduk dan melangkah perlahan menuju pintu. Ia segera membuka pintu tersebut dan menatap Sri yang sudah berdiri di depannya. “Aku nggak mau makan yang lain. Bawakan air mineral dan dua buah pir saja!” perintahnya.

“Ndoro Puteri, sudah tujuh hari ini Ndoro Puteri tidak makan siang sama sekali dan hanya mengambil dua buah pir setiap malam. Kami semua khawatir.”

“Aku puasa,” sahut Roro Ayu.

“Eh!? Bukannya hukuman Ndoro Puteri sudah selesai? Jangan membuat kami khawatir dan menyulitkan kami, Ndoro!” pinta pelayan bernama Sri itu.

“Aku hanya masih ingin berpuasa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku!” pinta Ayu sambil melangkah masuk kembali ke dalam perpustakaan tersebut.

Sri langsung meraih nampan yang disiapkan pelayan lain dan membawakannya masuk ke dalam perpustakaan tersebut. “Ndoro ...!”

“Nggak usah panggil aku seformal itu kalau hanya ada kita berdua!” pinta Ayu.

“Mbak Ayu ... apakah ...?” Sri mengurungkan niatnya untuk melayangkan pertanyaan ke arah Ayu saat wanita itu sudah terlihat serius meneliti buku yang ada di hadapannya.

“Taruh aja buah dan minumannya di meja! Kalau udah nggak ada yang mau dikerjain, keluar dari sini dan jangan ganggu konsentrasiku!” pinta Ayu tanpa mengalihkan pandangan dari buku-buku yang ada di hadapannya.

Sri mengangguk. Ia segera melangkahkan kakinya perlahan keluar dari dalam perpustakaan tersebut. Matanya terus mengarah ke tubuh Ayu yang masih terus menundukkan kepala menatap buku-buku yang ada di hadapannya. Ia tahu kebiasaan majikannya itu. Ketika ada masalah besar dengan hatinya, ia akan pergi ke ruang buku untuk menghibur diri. Hal ini, selalu membuat semua orang khawatir dan tidak tahu bagaimana cara membuat tuan puteri mereka itu kembali ceria seperti biasanya.

Ayu menghela napas sambil memejamkan mata begitu Sri keluar dari perpustakaan dan menutup rapat pintu tersebut. Air matanya menetes perlahan, pelan dan pasti jatuh ke atas buku kuno yang ada di tangannya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Biasanya, ia selalu membaca dan menulis banyak hal tentang bisnis. Tapi kali ini, ia malah menulis tentang sejarah kuno dan setiap ada kisah cinta di dalamnya, makin menambah kesedihannya.

“Kapan aku bisa selesaikan nulis buku kalau perasaanku kayak gini terus!?” seru Ayu dalam hati sambil mengacak isi meja hingga membuat semua barang-barangnya berjatuhan ke lantai.

“Iih ... Nanda brengsek! Kenapa nggak pernah berubah? Emang bener kata orang, sekali playboy, selamanya tetep playboy! Cowok setia itu cuma ada dalam cerita dongeng doang!” serunya sambil menahan amarah.

“Ayu, kamu bego banget, sih!? Kenapa begitu mudah percaya dan maafin dia? Akhirnya, tetep sakit lagi ‘kan?” tutur Ayu sembari menjatuhkan kepalanya di atas meja dan menangis sesenggukan.

Sudah tujuh hari berlalu sejak hukumannya selesai dan Nanda masih belum memenuhi janji untuk menjemputnya. Hal ini, membuat Ayu semakin berpikir negatif dan menganggap kalau Nanda sedang bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana.

“ASYIK-ASYIK AJA TERUS SAMA PEREMPUAN LAIN DI LUAR SANA DAN JANGAN PERNAH TEMUI AKU LAGI!” seru Ayu kesal. Ia terus meracau tak jelas karena Nanda benar-benar tidak mempedulikan kehadirannya lagi dan memilih untuk bersama dengan wanita lain.

“COWOK BRENGSEK! SEKALI BRENGSEK, SELAMANYA TETAP BRENGSEK!”

 

 

((Bersambung...))

 

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat nulisnya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 


Bab 62 - Salah Paham

 


Nanda melangkahkan kakinya bersama Karina sembari memegang konsep bisnis yang ada di tangannya. Ia tahu, tanpa bantuan dari Karina, ia tidak akan bisa melakukan hal seperti ini. Andai saja Roro Ayu tidak mendapatkan hukuman, ia pasti lebih memilih wanita itu untuk berada di sisinya dalam keadaan apa pun.

“Ay, hari ini hukumanmu selesai. Kamu pasti baik-baik aja di sana. Tunggu aku seminggu lagi! Aku akan datang menjemputmu,” batin Nanda sembari tersenyum manis mengingat wajah manis Ayu yang selalu mengisi hari-harinya.

 “Nan ...!” panggil Karina sambil menjentikkan jemarinya di hadapan Nanda.

“Eh!?” Lamunan Nanda terbuyar begitu Karina memanggil namanya.

“Ngelamunin apaan, si?” tanya Karina sambil menatap wajah Nanda. “Dari tadi dipanggilin nggak denger.”

Nanda tersenyum sambil menatap wajah Karina. “Lagi mikir aja,” jawabnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh lantai mall tersebut. Galaxy Mall adalah salah satu property dan usaha milik sahabat papanya.

Jika ia mau, ia bisa saja meminta bantuan sang papa untuk mendapatkan kerjasama dengan Galaxy. Tapi ia tidak ingin melakukannya. Kali ini, ia ingin berusaha dengan tangannya sendiri meski masih ada bantuan Karina di sana. Tak bisa dipungkiri kalau dihidup ini ... ia tidak akan bisa hidup seorang diri.

“Nan, lihat produk ini!” tutur Karina sambil menunjukkan beberapa sample produk yang sudah ia pilih. “Catet deh kelebihan dan kekurangan tiap produk. Kita cari lagi produk yang sama!” ajak Karina lagi.

Nanda mengangguk sambil tersenyum. “Aku kerjain di kantor aja untuk review produknya. Harus aku cobain dulu juga ‘kan?”

Karina mengangguk-anggukkan kepala sambil mengendus aroma sabun mandi yang baru ia ambil di tangannya. Untuk proposal bisnis kali ini, Nanda memilih untuk memproduksi berbagai bahan kebutuhan sehari-sehari dan produk pertama yang akan mereka kerjakan adalah sabun mandi. Ia juga tidak tahu mengapa pria ini memilih produk sabun mandi. Padahal, sudah ada banyak perusahaan yang memproduksi produk yang sama. Mau tidak mau, mereka harus melakukan riset untuk produk sabun yang sudah beredar di pasaran.

“Nan, kenapa kamu pilih bisnis sabun mandi, sih?” tanya Karina sambil memilih semua produk sabun lain yang ada di rak di hadapannya.

“Karena semua orang pakai produk ini setiap hari,” jawab Nanda santai.

“Kalau gitu konsepnya, apa proposal bisnismu bisa diterima? Beras juga semua orang makan setiap hari, Nan.”

“Beras masih bisa digantikan sama bahan pokok lain. Gandum, ubi, kentang dan lain-lain,” jawab Nanda santai sambil membantu membawa trolly belanjaan mereka. “Kalau orang mandi, sabun mandinya bisa diganti sama yang lain?”

“Bisa. Pakai shampoo buat di badan, hahaha.” Karina tergelak sambil membayangkan dirinya sendiri mandi menggunakan shampoo di tubuhnya.

“Kenapa ketawa? Kamu pernah sabunan pakai shampoo gitu?” tanya Nanda sambil ikut tertawa.

“Pernah. Waktu aku SMP dan ikut kegiatan pencinta alam. Aku lupa bawa sabun, Nan. Mandinya di sungai gitu, terus posisiku udah basahan dan cuma ada shampoo doang. Goblok ‘kan?”

“Hahaha.” Nanda tergelak sambil mengacak rambut Karina. “Aku nggak nyangka kalau kamu bisa sekonyol itu.”

Karina ikut terkekeh. “Udah, deh. Nggak usah bercanda terus! Kita cepet balik ke kantor kamu dan kelarin proposal secepatnya. Deadline kita cuma satu minggu, loh.”

Nanda mengangguk sambil tersenyum manis. Ia merangkul pundak Karina sembari melangkah menuju kasir. “Thank’s, ya! Kamu udah mau jadi temen terbaik di saat aku terpuruk,” ucapnya.

Karina mengangguk sambil tersenyum. “Kalau nggak bisa dicintai sebagai istri, masih bisa dicintai sebagai sahabat ‘kan?”

Nanda mengangguk sambil tersenyum.

“Sarangheo ...!” ucap Karina sembari membentuk jari tangannya menyerupai simbol cinta. “Sebagai sahabat. Ingat! Harus carikan aku jodoh yang jauh lebih baik dari kamu. Supaya aku punya alasan yang tepat buat batalin perjodohan kita.”

“Kamu mau jodoh yang gimana?” tanya Nanda sambil menatap wajah Karina. Ia sudah menganggap Karina seperti adiknya sendiri dan ia lebih nyaman bersamanya dengan cara seperti ini.

“Mmh ... yang ganteng, pinter, dewasa dan sayang sama aku,” jawab Karina sambil tersenyum lebar.

“Gampanglah. Di mall ini juga banyak. Lihat, tuh!” ucap Nanda sambil menunjuk ke arah salah satu staff toko tersebut.

Karina langsung mengerutkan wajahnya. “Nggak SPB juga kali, Nan.”

“Kamu nggak cari yang kaya ‘kan?”

“Nggak. Tapi nggak di bawah standar juga!” seru Karina kesal.

“Hahaha.” Nanda tergelak. Ia dan Karina terus bercanda dan segera keluar dari toko tersebut untuk mengurus bisnis mereka.

Di sudut lain ... air mata Ayu jatuh berderai ketika melihat Nanda terlihat mesra dan bahagia bersama wanita lain. Hari ini adalah hari di mana ia menyelesaikan penebusan dosa dan ia sengaja datang ke Surabaya untuk memberi Nanda kejutan. Tak disangka, ia akan bertemu dengan pria itu ketika ia sedang memilih beberapa barang yang akan ia bawakan untuk Nanda.

“Nan, sebenarnya kamu cinta sama aku atau nggak?” lirih Ayu dengan derai air mata. “Kenapa kamu masih jalan sama cewek lain di belakangku?”

“Ndoro Puteri ...!”

Ayu langsung menoleh ke arah pelayan keraton yang ikut bersamanya. “Jangan panggil aku seperti itu! Panggil Mbak Ayu saja!” pintanya.

Pelayan itu mengangguk. “Sudah selesai belanjanya?”

Ayu tersenyum dan meletakkan tumbler couple di tangannya ke rak semula. Tadinya, ia sudah memilih tumbler itu untuk ia berikan pada Nanda. Tapi, ia memilih mengurungkan niatnya setelah melihat apa yang terjadi di depan matanya.

“Mbak, kita kembali ke Solo aja, ya!” pinta Ayu sambil melangkah tak bersemangat. Air matanya terus menetes dan tidak bisa ia hentikan dengan mudah.

“Eh!? Kita baru sampai di kota ini. Katanya, mau kasih surprise buat Mas Nanda?” tanya pelayan itu.

Ayu menggeleng. “Nggak jadi, Mbak. Dia baru aja ngirim pesan kalau dia lagi sibuk dan nggak ada di kota ini. Salahku yang nggak kasih kabar dia lebih dulu.”

“Mbak Ayu nggak usah berbohong. Tadi aku lihat Mas Nanda sama ...?” Pelayan itu menatap wajah Ayu dengan perasaan tak karuan.

Ayu tersenyum sambil mengusap air matanya. “Anggap aja kita nggak lihat apa-apa.”

Pelayan itu mengangguk. “Sri boleh peluk Ndoro Puteri?”

Ayu mengangguk dan langsung memeluk tubuh pelayannya itu. “Hiks ... hiks ... hiks ...!” Tangisnya langsung pecah begitu saja.

“Sabar, ya! Hati manusia memang mudah berubah-ubah. Kalau nanti dia datang lagi ke keraton, Sri yang akan kasih pelajaran untuk dia! Sri nggak akan biarkan dia bikin Ndoro Puteri nangis lagi,” ucap pelayan itu penuh semangat.

Ayu menggeleng sembari mengeratkan pelukannya. “Nggak perlu, Mbak Sri. Kamu nggak perlu melakukan apa pun untuk Ayu. Ayu baik-baik aja. Ayu baik-baik aja, kok.”

Pelayan bernama Sri itu langsung memeluk erat tubuh Ayu. Ia berusaha menghibur majikannya itu dan membawanya kembali ke Solo. Rumah yang mungkin kejam bagi orang lain, tapi tetap nyaman bagi Ayu karena di sana ... tidak ada orang yang akan menyakitinya dan membuatnya menangis sesenggukan seperti ini.

 

((Bersambung...))

Terima kasih sudah menjadi sahabat setia bercerita!

Salah paham adalah hal yang wajib untuk menguji cinta sejati.

So, biarkan dulu Ayu salah paham. Biar bikin Nanda makin uring-uringan. Wkwkwk

 

 

 



 

 


Bab 61 - Bantuan dari Karina

 



“Nan, kalau kamu nggak keberatan. Aku bisa bantu kamu. Kamu bisa kerja di perusahaanku,” tutur Karina setelah mengetahui keadaan Nanda yang diusir keluarga karena menolak perjodohan dengannya.

Nanda menggeleng. “Nggak, Rin. Makasih banget buat niat baikmu. Tapi ... aku nggak bisa menerimanya. Aku nggak mau berhutang budi dan semakin mempersulit hubungan bisnis ini.”

“Jadi, mau kamu gimana?” tanya Karina dengan mata berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak tega melihat keadaan Nanda saat ini.

“Kalau aku miskin dan nggak punya apa-apa lagi, orang tuamu pasti nggak akan mau nerima aku ‘kan?” tanya Nanda.

Karina menggelengkan kepalanya. “Nggak gitu, Nan. Dengan kita menikah, kamu bisa masuk ke perusahaanku dan kita bisa hidup bahagia bareng. Nggak perlu hidup miskin kayak gini, Nan. Demi cintamu ke perempuan itu, kamu sampe rela ngelepasin semuanya? Nggak realistis banget, Nan.”

Nanda tertawa kecil mendengar ucapan Karina. “Kalau realistis, itu bukan cinta. Tapi rasa tanggung jawab.”

“Cinta juga harus bertanggung jawab ‘kan?” tanya Karina sambil menatap wajah Nanda. “Sekarang, mana perempuan yang lagi kamu perjuangkan itu, Nan? Dia ada di saat kamu lagi terpuruk kayak gini? Nggak ada ‘kan?”

“Andai dia dekat, dia pasti selalu ada untukku, Rin,” jawab Nanda sembari tersenyum membayangkan wajah Ayu yang cantik, lembut dan selalu membuatnya tenang.

Karina menghela napas. “Aku udah tahu semua cerita tentang mantan istrimu itu, Nan. Oom Andre bilang, dia wanita jahat yang sudah memenjarakan kamu dan bikin keluarga kalian bangkrut tiga tahun lalu. Kalau dia itu cinta sama kamu, nggak mungkin ngelakuin itu. Kenapa perempuan kayak gitu masih kamu pertahankan? Ada aku yang selalu baik sama kamu, selalu nolong kamu, selalu ada di saat kamu butuh. Kenapa kamu nggak mau lihat aku?”

Nanda menghela napas dan menatap lekat mata Karina. “Rin, andai cinta itu bisa dipilih. Aku jelas akan pilih kamu. Itu lebih rasional. Tapi cinta itu soal hati, bukan pikiran. Cinta itu tentang ketidakmungkinan, tentang ketidaksempurnaan dan tentang ketidakadilan. Makanya, cinta itu bikin orang bodoh saat hati dan pikirannya nggak sejalan.”

Karina menatap wajah Nanda dengan mata berkaca-kaca. “Kamu rela jadi bodoh, jadi badut, jadi sampah demi perempuan itu?” tanyanya. Ia benar-benar merasa sakit karena Nanda tidak pernah melihatnya dan ingin sekali bisa menjadi wanita yang begitu hebat hidup di dalam hati Nanda saat ini. Meski wanita itu sudah menyakiti bertubi-tubi, menjatuhkannya begitu dalam. Tapi Nanda ... tetap saja melihat wanita itu sebagai wanita terbaiknya. Betapa beruntungnya wanita yang bisa dicintai Nanda dan ia juga menginginkan itu.

“Rin, jangan nangis! Sudah banyak air mata wanita di luar sana yang membawaku pada penderitaan dan karma yang berkepanjangan. Saat ini aku bukan siapa-siapa. Aku bukan lagi anak dari keluarga Perdanakusuma. Aku nggak punya apa-apa, nggak akan bisa bikin kamu bahagia,” tutur Nanda.

Karina menggelengkan kepala dan langsung memeluk erat tubuh Nanda. “Aku nggak peduli siapa dan bagaimana kamu saat ini, Nan. Aku akan tetap sayang sama kamu. Asal kamu mau buka hatimu buat aku, aku akan menerima kamu apa adanya. Aku nggak akan menuntut apa pun dari kamu. Kalau kamu nggak bisa kerja, biar aku yang kerja dan kita bisa jadi keluarga yang bahagia,” ucapnya sambil terisak.

Nanda tersenyum kecil sambil mengusap pundak Karina. “Rin, kamu wanita yang baik, cantik, cerdas dan kaya raya. Kamu lebih pantas untuk dicintai daripada mencintai. Wanita yang lebih mencintai lelaki itu ... akan lebih banyak merasakan sakit. Aku bener-bener nggak punya cinta buat kamu dan aku nggak mau melukai hatimu.”

“Huuaa ...! Hiks ... hiks ... hiks ...! Aku harus gimana? Semua keluarga besarku udah tahu kalau kamu calon istriku, Nan. Aku harus ngomong apa sama mereka? Umurku udah nggak muda lagi, aku udah nggak punya waktu buat cari cowok lain lagi,” ucap Karina sambil menangis histeris.

Nanda tersenyum sambil memeluk Karina. “Rin, kamu bukan nggak punya waktu buat cari cowok lain. Ada banyak cowok di luar sana yang selalu mengagumi dan menyukaimu. Kamu terlalu sibuk mengejar pria yang tidak mencintaimu sehingga kamu melewatkan pria-pria yang mungkin bisa mencintaimu dengan sungguh-sungguh.”

Karina melepas pelukan sambil mengusap air matanya. “Apa iya seperti itu?”

Nanda mengangguk sambil tersenyum lembut. “Kalau nggak percaya, cobalah!”

“Coba?” Karina mengerutkan dahi sambil menatap wajah Nanda. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.

Nanda menangkup kedua pipi Karina dan memutar ke arah lain. “Lihat! Di sana ada banyak cowok ganteng! Coba kamu ajak kenalan!”

“Iih ... nggak mau! Nggak kenal,” tutur Karina sambil mengerutkan wajahnya.

“Makanya, kenalan!”

“Kamu kenal sama mereka, nggak?”

“Nggak,” jawab Nanda sambil terkekeh.

“Iih ... ogah, ah! Kalau mau carikan aku jodoh tuh yang kamu kenal. Biar tahu bibit, bebet dan bobotnya. Pas gitu, mereka cowok penipu gimana? Zaman sekarang, banyak cowok yang pura-pura kaya biar bisa gaet mertua kaya!” sahut Karina.

Nanda terkekeh sambil menatap wajah Karina.

“Aku serius!? Nggak usah bercanda, deh!” pinta Karina sambil menepuk paha Nanda. “Jodohin aku sama salah satu temen yang kamu kenal aja.”

“Aku nggak punya teman.”

“Bohong!”

“Serius. Temen-temenku bangsat semua, Rin. Nggak cocok buat kamu.”

“Termasuk kamu?” tanya Karina sambil melirik ke arah Nanda yang duduk di sebelahnya.

Nanda terkekeh sambil menganggukkan kepala. “Aku ketua geng-nya. Kalau anak buahnya brengsek, berarti ketuanya lebih brengsek dari mereka.”

“Hmm ... kalo ketua geng ganteng kayak kamu, aku mau ... kayak Dilan.”

“Dilan siapa?” tanya Nanda.

“Tetangga!” sahut Karina kesal karena Nanda tidak pernah tahu film romansa sekolah yang pernah hits di Indonesia.

“Nah, itu udah punya tetangga yang ganteng. Nikah aja sama Dilan-Dilan itu!” seru Nanda.

“Dilan itu tokoh halu, Nanda! Kamu kudet banget, sih!?” seru Karina kesal.

“Oh gitu?” Nanda tertawa kecil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia tidak mengerti sama sekali maksud Karina.

Karina mengangguk yakin. “Rencana kamu selanjutnya gimana? Beneran mau nolak bantuanku?”

Nanda menghela napas. “Aku nggak mau makin berhutang budi sama keluargamu, Rin.”

“Mmh ...” Karina membuka pesan yang tiba-tiba masuk ke dalam ponselnya. “Eh, handphone kamu mana?”

“Aku nggak punya handphone,” jawab Nanda.

“Astaga Dragon ...! Kamu handphone aja nggak punya? Kalau mau hubungi orang lain, gimana?”

“Langsung datengin aja,” jawab Nanda.

Karina menghela napas. Ia mengeluarkan handphone lain dari dalam tas tangannya. “Pakai ini untuk sementara!”

Nanda menggeleng. “Nggak usah, Rin! Ini terlalu mahal buat aku.”

“Gaya banget, sih!?” dengus Karina sambil tertawa kecil. “Nggak baik menolak bantuan dari orang lain,” lanjutnya sembari memaksa Nanda menerima ponsel darinya.

“Eh, aku dapet info bagus, nih.” Karina langsung menyodorkan layar ponselnya ke hadapan wajah Nanda. “Ada lomba model bisnis dari perusahaan pengembangan marketing. Mau ikutan? Hadiahnya lumayan, loh. Dikasih modal usaha sampai dua milyar.”

“Hah!? Serius? Bukan penipuan ‘kan?” tanya Nanda.

“Bukan, dong. Ini perusahaan besar dan resmi. Mau ikutan, nggak? Kamu jago bikin Model Bussines Canvas. Pasti menang kalau ikutan.”

“Mmh ... tapi untuk kayak gitu, aku harus kerja bareng tim. Aku nggak punya tim apa pun, Rin. Mana mungkin aku bisa.”

“Kamu bisa bentuk tim.”

“Itu semua butuh modal. Aku punya uang dari mana?” sahut Nanda.

“Aku pinjamkan uang untuk kamu, gimana?” tanya Karina. “Jaminannya, kamu harus dapet juara satu!”

Nanda tersenyum sambil menatap wajah Karina. “Kamu mau bantu aku ... tulus atau modus?”

“Tulus, dong! Aku bukan orang yang berpikiran sempit, Nan. Kalau kamu memang mau perjodohan kita batal, kita harus memikirkan cara untuk membuat perjodohan kita batal tanpa memengaruhi hubungan bisnis keluarga kita,” jawab Karina sambil tersenyum manis.

Nanda mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum lebar. “Thank’s, Rin ...! Aku janji, akan bayar semua hutangku ke kamu secepatnya.”

Karina mengangguk sambil tersenyum. Ia memang menyukai Nanda, tapi ia juga tidak begitu takut kehilangan pria ini. Mungkin, ia belum sampai ke level cinta dengan pria ini hingga membuatnya merasa lebih nyaman berteman daripada harus terikat hubungan bisnis yang begitu formal dan membuat mereka canggung.

 

((Bersambung...))

 


Bab 60 - Susah Cari Kerja

 


Nanda melangkahkan kakinya memasuki salah kantor perusahaan yang membuka lowongan kerja. Bermodalkan laptop pinjaman dari Sonny dan sedikit bantuannya, ia membuat lamaran pekerjaan dan mencoba mencari peruntungannya.

Sayangnya, sudah tujuh perusahaan menolaknya untuk bekerja di sana.

“Maaf, Mas ...! Kami tidak bisa menerima Anda. Posisi yang kami tawarkan tidak sesuai dengan pendidikan Anda. Kami hanya butuh kepala bagian. Pendidikan dan pengalaman kerja Anda terlalu tinggi untuk kami.” Ucapan beberapa HRD perusahaan itu kembali terdengar di telinga Nanda.

Dari tujuh perusahaan yang ia lamar. Lima perusahaan menolaknya dengan alasan pendidikannya. Meski tidak terlalu pintar, tapi Nanda menyandang gelar Master of Bussiness dari salah satu universitas ternama di kota New York. Dua perusahaan lagi, menolaknya tanpa alasan yang jelas.

Nanda menghela napas sembari duduk di bawah pohon yang ada di tepi jalan.

“Minum, Mas?” Seorang pedagang es dawet yang berjualan di sebelah Nanda, langsung tersenyum manis ke arah pria tampan itu.

Nanda menggeleng sambil melirik rombong milik penjual es tersebut. Teriknya matahari, membuat keringatnya bercucuran dan sangat menginginkan sesuatu yang bisa menyegarkan kerongkongannya yang kering. Tapi ia mengurungkan niatnya saat ia menyadari kalau tidak membawa uang banyak di sakunya.

Uang lima ratus ribu yang ia pinjam dari Sonny, sudah hampir habis untuk membayar biaya kendaraan umum dan fotokopi beberapa CV miliknya. Jika tidak berhemat, uangnya bisa ludes dalam sekejap. Ia tidak punya muka jika harus meminjam uang lagi pada Sonny. Meski mereka pernah bersahabat, tapi apa yang ia lakukan pada Sonny tiga tahun silam, masih meninggalkan rasa bersalah di dalam lubuk hatinya.

“Keringetan gitu, Mas. Enak minum yang seger-seger,” tutur penjual es dawet tersebut sambil tersenyum, menatap Nanda penuh harap agar membeli dagangannya.

Nanda tersenyum. “Harganya berapa, Paklek?”

“Lima ribu aja,” jawab penjual es tersebut sambil tersenyum lega. “Mau?”

“Kalau beli setengah gelas aja, bisa?” tanya Nanda lagi.

Penjual es dawet itu menyeringai kesal ke arah Nanda. “Ganteng-ganteng moncer, moso beli es dawet cuma setengah gelas? Cuma nyangkut di tenggorokan, Mas.”

Nanda tertawa kecil melihat reaksi pedagang tersebut. “Iya, deh. Aku beli satu gelas,” ucapnya sembari merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan.

Nanda menghela napas sambil menatap selembar uang lima ribu di tangannya. Ia menoleh ke arah yang begitu jauh. Tempat di mana Galaxy Hotel hotel dan apartemen-apartemen lain berdiri megah. Saat tempat-tempat mewah itu menjadi bagian dari hidupnya, selembar uang lima ribu tidak berharga. Bahkan, tidak pernah tersimpan di dompet atau sakunya sekali pun.

Kini, ia menatap selembar uang lima ribu itu seperti harta paling berharga dalam hidupnya. Ia sudah pernah jatuh tiga tahun silam. Tapi tangan kedua orang tuanya tetap terbuka untuk memberinya makan, tempat tinggal dan pakaian untuknya.

Nanda mengusap matanya yang basah. Betapa beruntungnya ia bisa terlahir di keluarga kaya raya, tapi ia tidak bersyukur dan berbakti dengan baik.

“Kenapa, Mas? Lagi ngelamar kerja?” tanya pedagang es tersebut sambil menyodorkan segelas besar es dawet ke hadapan Nanda.

Nanda hanya tersenyum sambil mengulurkan uang lima ribu ke tangan pedagang tersebut.

“Alhamdulillah ...! Barokah,” ucap pedagang itu dengan senyum mengembang sambil menciumi uang lima ribu tersebut.

Nanda tersenyum menatap pedagang minuman di tepi jalan itu. Semudah itu cara manusia untuk bersyukur dan bahagia. Uang lima ribu saja, sudah membuat pedagang itu tersenyum bahagia.

Nanda langsung menyeruput es dawet yang ada di tangannya. “Duh, kemanisan, Paklek!” serunya. “Ada air putih lagi?”

“Diaduk dulu tho, Mas,” sahut pedagang es dawet itu sambil memutar jemari tangannya, memberi isyarat pada Nanda untuk mengaduk es dawet yang ada di tangannya.

“Oh.” Nanda tersenyum sambil memperhatikan isi gelas itu sambil mengaduknya perlahan. Biasanya, yang melakukan hal ini adalah asisten pribadi atau pelayan di rumahnya. Yang ia tahu, hanya tinggal minum saja. Ia tidak menyangka jika minum es dawet pun ada caranya. Sama seperti bagaimana cara menikmati wine atau bir yang nikmat.

Nanda langsung menyeruput kembali es dawet tersebut dan merasakan kerongkongannya terlepas dari ancaman kemarau panjang.

“Nanda ...!” seru seorang wanita yang tiba-tiba berhenti di depan Nanda.

Nanda langsung menoleh ke arah wanita cantik yang masih berada di dalam mobil mewah itu. “Karina?” batinnya gusar.

Karina langsung tersenyum lebar dan bergegas keluar dari mobilnya. “Kamu minum es dawet sendirian? Kenapa nggak ajak aku?” tanyanya sambil duduk di samping Nanda.

“Paklek, aku mau satu juga!” pinta Karina sambil menoleh ke arah pedagang es tersebut.

“Siap, Mbak Cantik!”

Karina tersenyum lebar dan menoleh ke arah Nanda. “Kamu ke mana aja akhir-akhir ini? Aku telepon nggak bisa. Aku cari ke rumah dan kantormu, kamu juga nggak ada. Sibuk banget?”

Nanda mengangguk sambil menundukkan kepala.

Karina tersenyum kecil sambil memperhatikan keringat yang membasahi wajah dan leher Nanda. Ia mengeluarkan tisu dari dalam tas tangannya dan mengusapkan ke wajah Nanda.

“Kamu ngapain?” Nanda menjauhkan wajahnya saat tangan Karina tiba-tiba menyentuhnya.

“Wajahmu keringetan, Nan. Kamu abis ngapain? Sini, aku bantu lap wajahmu,” tutur Karina sambil mengulurkan kembali tangannya ke wajah Nanda.

“Aku bisa sendiri.” Nanda menyambar tisu dari tangan Karina dan mengusapkan ke wajahnya. Dahinya mengernyit saat melihat tisu bekas itu berwarna cokelat kehitaman.

“Aku bisa jerawatan kalau kayak gini terus,” gumamnya.

Karina tertawa kecil menatap wajah Nanda. “Walau jerawatan, pasti tetep kelihatan ganteng.”

Nanda menghela napas mendengar ucapan Karina. Ia menyedot cepat es dawet di tangannya dan bangkit dari tempat duduknya. “Makasih, Lek!” ucapnya sembari meletakkan gelas es tersebut ke atas rombong pedagangnya.

“Eh!? Kamu mau ke mana?” tanya Karina sambil merentangkan kedua tangan, menghadang Nanda.

Nanda terdiam sejenak sambil menatap belahan dada Karina yang terbuka dan terekspose di hadapannya. Ia memijat keningnya sekilas dan berbalik menghindari wanita itu.

“Nan, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba jauhin aku?” tanya Karina sambil mengejar langkah Nanda.

“Aku nggak akan jauhi kamu kalau kamu bisa bikin perjodohan kita batal,” sahut Nanda.

Karina menghela napas dan terus mengikuti langkah Nanda.

“Mbak, dawetnya jadi atau nggak?” seru pedagang es dawet yang ada di sana.

Karina tak menghiraukan teriakan pedagang itu dan terus mengikuti langkah Nanda.

Nanda menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat.

BUG!

“Aw ...!” seru Karina saat ia tidak sempat menghentikan langkahnya dan bertabrakan dengan Nanda.

Nanda menghela napas melihat tingkah Karina. “Nggak usah kayak anak kecil, Rin! Kamu udah pesen minum, kasihan penjualnya.”

“Aku mau minumnya sama kamu, Nan. Kalau kamu pergi, aku pergi juga.”

“Kasihan paklek itu, Rin. Kamu jangan bersikap sesukanya sama orang kecil!” sahut Nanda.

Karina menoleh sekilas ke belakangnya. “Dia bisa jual ke orang lain lagi.”

“Nggak gitu caranya, Rin. Bertanggungjawablah!” perintah Nanda.

“Temenin! Aku nggak mau minum di pinggir jalan kayak gini sendirian,” pinta Karina sedikit manja.

“Aku temenin kamu minum, tapi kamu bayar lima puluh ribu untuk satu gelas! Mau?”

“No problem,” sahut Karina sambil tersenyum.

Nanda tersenyum sambil melangkahkan kakinya menghampiri rombong pedagang es dawet tersebut. Meski hari ini ia tidak punya uang, setidaknya ia masih bisa membantu orang lain menggunakan tangan Karina.

“Paklek, aku pesen es dawetnya lagi dua gelas. Dia yang bayar!” pinta Nanda sambil duduk di kursi plastik yang ada di dekatnya.

Karina tersenyum dan duduk di sebelah Nanda.

“Rin, aku bisa minta bantuan kamu?”

“Bisa. Selama aku bisa, aku pasti bantu kamu.”

Nanda tersenyum menatap Karina yang duduk di sampingnya.  Ia pikir, ia bisa memanfaatkan Karina untuk membantunya sembari memikirkan untuk membuat wanita itu membatalkan perjodohan bisnis yang terjalin dalam keluarga mereka.

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah menjadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat nulisnya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 


Bab 59 - Terlunta-Lunta

 



“Hiks … hiks … hiks …!” Nia terus menangis sesenggukan di dalam kamar karena putera kesayangannya pergi dari rumah tanpa membawa apa pun.

“Nia, kamu jangan nangis terus! Pusing dengernya,” pinta Andre sambil memegangi rahangnya yang terasa ngilu akibat pukulan dari puteranya.

“Kalau nggak mau aku nangis terus, balikin Nanda ke rumah ini. Dia anak kita satu-satunya, kamu tega banget sama anak sendiri. Huuaaa ...!” seru Nia sambil membuang ingusnya dengan kasar menggunakan tisu.

“Aku tahu. Aku juga nggak mau kayak gini. Tapi anak itu ... kalau terlalu dimanja, malah makin ngelunjak. Kita lihat aja! Palingan besok pagi dia sudah balik ke rumah ini dan nuruti kemauan kita. Dia pikir, bisa hidup tanpa orang tua? Siapa yang kasih makan selama ini sampai dia besar? Yang ngasih dia pendidikan dan semuanya? Cuma disuruh nurut sama orang tua aja susah!” sahut Andre sambil menahan kesal.

“Hiks ... hiks ... hiks ...!” tangis Nia semakin keras begitu mendengar ucapan kekesalan dari suaminya itu. Demi apa pun, ia tidak rela melihat puteranya diusir dari rumah dan hidup terlunta-lunta di jalanan.

Andre langsung melangkah keluar dari dalam kamar. Ia enggan mendengarkan tangisan istrinya yang terus merengek meminta Nanda kembali ke rumah mereka. “Anak itu harus dapet hukuman serius supaya nurut,” gerutunya.

Sementara itu, Nanda melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota yang mulai padat. Ia tidak membawa apa pun saat keluar dari rumah, termasuk ponselnya. Ia tidak tahu harus pergi ke mana untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Nanda menghela napas sembari menyandarkan tubuhnya di batang pohon yang ada di tepi jalanan. Ia memerosotkan tubuhnya dan terduduk di atas semen trotoar itu. Saat mengedarkan pandangannya, bibirnya tersungging miring. Kemudian, ia sibuk menertawakan dirinya sendiri.

Nanda menyandarkan kepala sambil menengadah dengan mata terpejam. Delapan tahun silam, ia kerap tertidur di pinggir jalan karena mabuk bersama teman-teman sepergaulannya.

Saat itu, ia tidak tahu apa itu kehidupan. Tidak tahu apa itu tanggung jawab. Tidak pernah memikirkan masa depan dan membayangkan keluarga yang rumit. Yang ia tahu hanyalah bersenang-senang. Dan saat ini, kawan bersenang-senangnya menghilang satu per satu, kemudian sirna. Semuanya sibuk mengurus keluarganya sendiri. Semua sudah memiliki kehidupan dan tanggung jawab masing-masing.

“Nan, kamu ngapain di sini?”

Nanda langsung membuka mata dan menoleh ke arah pria berseragam SMA yang tidak pernah pergi dari sisinya. Ya, pria itu adalah Sonny Pratama. Satu-satunya sahabat terbaik yang ia miliki, tapi semua itu ia hancurkan karena cinta.

Nanda mengerjap tak percaya saat melihat Sonny mengulurkan tangan ke arahnya.

“Bangunlah!” pinta Sonny sambil mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Nanda.

Nanda mengucek matanya dan menatap Sonny yang sudah berubah pakaian. Pria remaja itu sudah terlihat dewasa dengan kemeja putih, celana bahan dan kacamatanya yang khas. Ia memukul-mukul kepalanya beberapa kali. “Kenapa aku halusinasi? Apa karena laper?” gumamnya.

Sonny tertawa kecil sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Nanda. “Kamu laper? Aku traktir makan baso, gimana?”

Nanda memicingkan mata dan menatap serius ke arah Sonny. Ia langsung mengulurkan tangannya, meraih tubuh sahabatnya itu. “Kamu beneran Sonny!?”

Sonny mengangguk. “Mama kamu yang telepon aku dan minta tolong buat nyari kamu,” jawabnya.

Nanda tersenyum kecil dan menyambut uluran tangan Sonny. Ia langsung bangkit dan memeluk sahabat kecilnya itu. “Hidupku nggak henti-hentinya dihancurkan oleh takdir. Aku tahu, ini karma yang harus aku jalani.”

Sonny tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Nanda. “Apa yang kita tanam di dunia ini, akan selalu ada hasilnya. Sekarang, bukan saatnya menyesali masa lalumu. Nanda yang aku kenal, tidak pernah rapuh. Tidak pernah menyerah sekalipun sisa nyawa hanya tinggal sedetik saja.”

Nanda tersenyum sambil dan mengangguk setuju. “Aku nggak pernah bilang mau menyerah, Son. Aku hanya ... huft, banyak hal yang sulit untuk ungkapkan.”

“Mungkin kamu lagi lapar. Jadi, susah ngomong! Makan, yuk! Aku traktir.” Sonny langsung merangkul tubuh Nanda dan mengajaknya pergi ke salah satu warung baso yang ada di tepi jalan.

“Nan, kenapa kamu nggak datang ke acara nikahanku? Sibuk banget atau nggak berhasil bawa Ayu balik ke Indonesia?” tanya Sonny saat ia dan Nanda sudah duduk di meja kosong yang ada di warung tersebut.

“Ck. Aku udah berhasil bawa dia ke Indonesia. Tapi aku nyesel, Son.”

“Nyesel kenapa?”

“Dia harus menjalani upacara suci yang ... argh! Nggak manusiawi banget. Sayangnya, hukum adat di beberapa daerah tertentu masih nggak berubah. Kalau aku tahu aturan keraton kayak gitu, aku nggak akan biarkan dia balik ke Indonesia. Mending aku aja yang pindah ke London,” jawab Nanda sambil mengacak rambutnya yang sudah kotor dan berantakan.

“Ayu pernah cerita ke aku. Hukuman itu memang ada?” tanya Sonny.

Nanda mengangguk. Ia menceritakan semua hal yang harus dialami oleh Ayu untuk menebus dosa masa lalunya dan membuatnya kembali diterima di keluarga keraton.

“Setelah ini, kamu mau ke mana? Aku antar, Nan,” tanya Sonny setelah ia mendengar semua cerita dan keluh-kesah Nanda.

“Nggak tahu, Son. Aku nggak punya tempat tinggal lagi.”

“Mau aku booking hotel buatmu, Nan?” tanya Sonny.

“Nggak punya duit, Son. Aku tidur di pinggir jalan aja,” sahut Nanda tak bersemangat.

“Nan, dulu kamu banyak bantu aku. Mana mungkin aku biarkan kamu tidur di pinggir jalan. Kalau ada yang tahu, aku bisa malu. Masa temennya Dokter Sonny, tidur di jalanan?” sahut Sonny dengan gaya santai yang biasa dilakukan Nanda.

Nanda menghela napas. “Okelah. Aku pasrah. Aku pinjam uangmu dulu! Kalo udah ada uang, aku bakal balikin ke kamu.”

“Nggak perlu, Nan! Kamu nggak perlu kembalikan apa pun. Kalau mau ... kembalikan hatinya Ayu ke aku!” pinta Sonny sambil menepuk-nepuk bahu Nanda.

“Kamu ...!?” Nanda menatap geram ke arah Sonny. “Kamu udah nikah, Son. Masih mau ngembat istri orang juga?”

“HAHAHA.” Sonny tergelak. “Aku guyon, Nan!”

“Aku lagi nggak bisa diajak bercanda, Son. Spaneng banget!”

Sonny tertawa kecil. “Kamu mau apa biar nggak spaneng? Klub malam? Cewek cantik? Aku akan bawa kamu ke tempat yang kamu mau.”

“Ck. Bikin masalah baru lagi kalau begitu, mah. Ayu baru aja baikan sama aku. Nggak usah nyalain kompor yang udah lama mati!” sahut Nanda.

Sonny tergelak. “Jadi, apa rencanamu selanjutnya?”

“Belum tahu,” jawab Nanda lirih. Ia sendiri, tidak tahu apa yang harus ia lakukan karena saat ini ia tidak punya apa-apa dan tidak punya muka untuk meminta bantuan dari orang lain.

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas