Wednesday, August 17, 2022

Bab 60 - Susah Cari Kerja

 


Nanda melangkahkan kakinya memasuki salah kantor perusahaan yang membuka lowongan kerja. Bermodalkan laptop pinjaman dari Sonny dan sedikit bantuannya, ia membuat lamaran pekerjaan dan mencoba mencari peruntungannya.

Sayangnya, sudah tujuh perusahaan menolaknya untuk bekerja di sana.

“Maaf, Mas ...! Kami tidak bisa menerima Anda. Posisi yang kami tawarkan tidak sesuai dengan pendidikan Anda. Kami hanya butuh kepala bagian. Pendidikan dan pengalaman kerja Anda terlalu tinggi untuk kami.” Ucapan beberapa HRD perusahaan itu kembali terdengar di telinga Nanda.

Dari tujuh perusahaan yang ia lamar. Lima perusahaan menolaknya dengan alasan pendidikannya. Meski tidak terlalu pintar, tapi Nanda menyandang gelar Master of Bussiness dari salah satu universitas ternama di kota New York. Dua perusahaan lagi, menolaknya tanpa alasan yang jelas.

Nanda menghela napas sembari duduk di bawah pohon yang ada di tepi jalan.

“Minum, Mas?” Seorang pedagang es dawet yang berjualan di sebelah Nanda, langsung tersenyum manis ke arah pria tampan itu.

Nanda menggeleng sambil melirik rombong milik penjual es tersebut. Teriknya matahari, membuat keringatnya bercucuran dan sangat menginginkan sesuatu yang bisa menyegarkan kerongkongannya yang kering. Tapi ia mengurungkan niatnya saat ia menyadari kalau tidak membawa uang banyak di sakunya.

Uang lima ratus ribu yang ia pinjam dari Sonny, sudah hampir habis untuk membayar biaya kendaraan umum dan fotokopi beberapa CV miliknya. Jika tidak berhemat, uangnya bisa ludes dalam sekejap. Ia tidak punya muka jika harus meminjam uang lagi pada Sonny. Meski mereka pernah bersahabat, tapi apa yang ia lakukan pada Sonny tiga tahun silam, masih meninggalkan rasa bersalah di dalam lubuk hatinya.

“Keringetan gitu, Mas. Enak minum yang seger-seger,” tutur penjual es dawet tersebut sambil tersenyum, menatap Nanda penuh harap agar membeli dagangannya.

Nanda tersenyum. “Harganya berapa, Paklek?”

“Lima ribu aja,” jawab penjual es tersebut sambil tersenyum lega. “Mau?”

“Kalau beli setengah gelas aja, bisa?” tanya Nanda lagi.

Penjual es dawet itu menyeringai kesal ke arah Nanda. “Ganteng-ganteng moncer, moso beli es dawet cuma setengah gelas? Cuma nyangkut di tenggorokan, Mas.”

Nanda tertawa kecil melihat reaksi pedagang tersebut. “Iya, deh. Aku beli satu gelas,” ucapnya sembari merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima ribuan.

Nanda menghela napas sambil menatap selembar uang lima ribu di tangannya. Ia menoleh ke arah yang begitu jauh. Tempat di mana Galaxy Hotel hotel dan apartemen-apartemen lain berdiri megah. Saat tempat-tempat mewah itu menjadi bagian dari hidupnya, selembar uang lima ribu tidak berharga. Bahkan, tidak pernah tersimpan di dompet atau sakunya sekali pun.

Kini, ia menatap selembar uang lima ribu itu seperti harta paling berharga dalam hidupnya. Ia sudah pernah jatuh tiga tahun silam. Tapi tangan kedua orang tuanya tetap terbuka untuk memberinya makan, tempat tinggal dan pakaian untuknya.

Nanda mengusap matanya yang basah. Betapa beruntungnya ia bisa terlahir di keluarga kaya raya, tapi ia tidak bersyukur dan berbakti dengan baik.

“Kenapa, Mas? Lagi ngelamar kerja?” tanya pedagang es tersebut sambil menyodorkan segelas besar es dawet ke hadapan Nanda.

Nanda hanya tersenyum sambil mengulurkan uang lima ribu ke tangan pedagang tersebut.

“Alhamdulillah ...! Barokah,” ucap pedagang itu dengan senyum mengembang sambil menciumi uang lima ribu tersebut.

Nanda tersenyum menatap pedagang minuman di tepi jalan itu. Semudah itu cara manusia untuk bersyukur dan bahagia. Uang lima ribu saja, sudah membuat pedagang itu tersenyum bahagia.

Nanda langsung menyeruput es dawet yang ada di tangannya. “Duh, kemanisan, Paklek!” serunya. “Ada air putih lagi?”

“Diaduk dulu tho, Mas,” sahut pedagang es dawet itu sambil memutar jemari tangannya, memberi isyarat pada Nanda untuk mengaduk es dawet yang ada di tangannya.

“Oh.” Nanda tersenyum sambil memperhatikan isi gelas itu sambil mengaduknya perlahan. Biasanya, yang melakukan hal ini adalah asisten pribadi atau pelayan di rumahnya. Yang ia tahu, hanya tinggal minum saja. Ia tidak menyangka jika minum es dawet pun ada caranya. Sama seperti bagaimana cara menikmati wine atau bir yang nikmat.

Nanda langsung menyeruput kembali es dawet tersebut dan merasakan kerongkongannya terlepas dari ancaman kemarau panjang.

“Nanda ...!” seru seorang wanita yang tiba-tiba berhenti di depan Nanda.

Nanda langsung menoleh ke arah wanita cantik yang masih berada di dalam mobil mewah itu. “Karina?” batinnya gusar.

Karina langsung tersenyum lebar dan bergegas keluar dari mobilnya. “Kamu minum es dawet sendirian? Kenapa nggak ajak aku?” tanyanya sambil duduk di samping Nanda.

“Paklek, aku mau satu juga!” pinta Karina sambil menoleh ke arah pedagang es tersebut.

“Siap, Mbak Cantik!”

Karina tersenyum lebar dan menoleh ke arah Nanda. “Kamu ke mana aja akhir-akhir ini? Aku telepon nggak bisa. Aku cari ke rumah dan kantormu, kamu juga nggak ada. Sibuk banget?”

Nanda mengangguk sambil menundukkan kepala.

Karina tersenyum kecil sambil memperhatikan keringat yang membasahi wajah dan leher Nanda. Ia mengeluarkan tisu dari dalam tas tangannya dan mengusapkan ke wajah Nanda.

“Kamu ngapain?” Nanda menjauhkan wajahnya saat tangan Karina tiba-tiba menyentuhnya.

“Wajahmu keringetan, Nan. Kamu abis ngapain? Sini, aku bantu lap wajahmu,” tutur Karina sambil mengulurkan kembali tangannya ke wajah Nanda.

“Aku bisa sendiri.” Nanda menyambar tisu dari tangan Karina dan mengusapkan ke wajahnya. Dahinya mengernyit saat melihat tisu bekas itu berwarna cokelat kehitaman.

“Aku bisa jerawatan kalau kayak gini terus,” gumamnya.

Karina tertawa kecil menatap wajah Nanda. “Walau jerawatan, pasti tetep kelihatan ganteng.”

Nanda menghela napas mendengar ucapan Karina. Ia menyedot cepat es dawet di tangannya dan bangkit dari tempat duduknya. “Makasih, Lek!” ucapnya sembari meletakkan gelas es tersebut ke atas rombong pedagangnya.

“Eh!? Kamu mau ke mana?” tanya Karina sambil merentangkan kedua tangan, menghadang Nanda.

Nanda terdiam sejenak sambil menatap belahan dada Karina yang terbuka dan terekspose di hadapannya. Ia memijat keningnya sekilas dan berbalik menghindari wanita itu.

“Nan, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba jauhin aku?” tanya Karina sambil mengejar langkah Nanda.

“Aku nggak akan jauhi kamu kalau kamu bisa bikin perjodohan kita batal,” sahut Nanda.

Karina menghela napas dan terus mengikuti langkah Nanda.

“Mbak, dawetnya jadi atau nggak?” seru pedagang es dawet yang ada di sana.

Karina tak menghiraukan teriakan pedagang itu dan terus mengikuti langkah Nanda.

Nanda menghentikan langkahnya dan berbalik dengan cepat.

BUG!

“Aw ...!” seru Karina saat ia tidak sempat menghentikan langkahnya dan bertabrakan dengan Nanda.

Nanda menghela napas melihat tingkah Karina. “Nggak usah kayak anak kecil, Rin! Kamu udah pesen minum, kasihan penjualnya.”

“Aku mau minumnya sama kamu, Nan. Kalau kamu pergi, aku pergi juga.”

“Kasihan paklek itu, Rin. Kamu jangan bersikap sesukanya sama orang kecil!” sahut Nanda.

Karina menoleh sekilas ke belakangnya. “Dia bisa jual ke orang lain lagi.”

“Nggak gitu caranya, Rin. Bertanggungjawablah!” perintah Nanda.

“Temenin! Aku nggak mau minum di pinggir jalan kayak gini sendirian,” pinta Karina sedikit manja.

“Aku temenin kamu minum, tapi kamu bayar lima puluh ribu untuk satu gelas! Mau?”

“No problem,” sahut Karina sambil tersenyum.

Nanda tersenyum sambil melangkahkan kakinya menghampiri rombong pedagang es dawet tersebut. Meski hari ini ia tidak punya uang, setidaknya ia masih bisa membantu orang lain menggunakan tangan Karina.

“Paklek, aku pesen es dawetnya lagi dua gelas. Dia yang bayar!” pinta Nanda sambil duduk di kursi plastik yang ada di dekatnya.

Karina tersenyum dan duduk di sebelah Nanda.

“Rin, aku bisa minta bantuan kamu?”

“Bisa. Selama aku bisa, aku pasti bantu kamu.”

Nanda tersenyum menatap Karina yang duduk di sampingnya.  Ia pikir, ia bisa memanfaatkan Karina untuk membantunya sembari memikirkan untuk membuat wanita itu membatalkan perjodohan bisnis yang terjalin dalam keluarga mereka.

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah menjadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat nulisnya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas