Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 378 : Marah Karena Sayang

 


“Jhen, aku titip istriku ya!” tutur Yeriko saat ia baru turun dari mobil untuk mengantar Yuna ke rumah sakit.

Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak Bos!”

“Jangan lupa, yang aku pesenin tadi!” bisik Yeriko di telinga Yuna.

Yuna menganggukkan kepala.

“Aku kerja dulu,” tutur Yeriko sambil mengecup pipi Yuna.

“Eyuuh ... mesra-mesraan teroos ...!” seru Jheni sambil menatap langit.

“Emang kayak gini mesra?” tanya Yuna sambil tersenyum menatap Jheni.

Yeriko tertawa kecil. “Chandra nggak pernah cium pipi kamu kalo mau berangkat kerja?” godanya.

Jheni membelalakkan matanya. “Kita belum nikah. Dia berangkat kerja ya berangkat aja!”

“Emangnya aku nggak tahu kalau kamu sering nginap di apartemen Chandra?” tanya Yeriko.

Jheni mendelik ke arah Yeriko.

Yeriko tertawa kecil dan bergegas melangkah pergi.

“Yun, suami kamu ... bener-bener nyebelin! Lebih nyebelin dari kamu,” tutur Jheni kesal.

Yuna hanya tertawa mendengar ucapan Jheni. “Dia Emang bener ‘kan?”

“Kamu belain dia, hah!?”

“Iya, dong. Suami tercintah ...,” jawab Yuna sambil menarik lengan Jheni masuk ke rumah sakit tersebut.

“Kamu bawain apa buat Lutfi?” tanya Jheni.

“Bubur ayam. Yeri bilang, Lutfi pengen makan bubur ayam.”

“Aku nggak dibawain?” tanya Jheni sambil melangkah menyusuri koridor rumah sakit.

“Masak sendiri!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

“Pelit,” celetuk Jheni sambil mengerutkan hidungnya.

Yuna tertawa kecil. Mereka bergegas menuju bangsal tempat Lutfi dirawat.

Yuna dan Jheni melangkah masuk ke dalam ruang rawat Lutfi. Mereka menghentikan langkahnya saat tatapan mata mereka bertemu dengan sepasang mata milik Icha.

Icha terpaku menatap Yuna dan Jheni. Ia teringat beberapa hari lalu saat bertemu Yuna di kafe. Kali ini, ia benar-benar ingin memindahkan wajahnya ke tempat lain. Terlebih, senyum tulus di bibir Yuna, membuat dirinya merasa bersalah.

“Kakak Ipar? Kenapa ngelamun? Sini!” sapa Lutfi.

Yuna langsung tersenyum ke arah Lutfi. Ia bergegas menghampiri Lutfi sambil meletakkan bubur yang ia bawa ke atas nakas. “Gimana? Udah baikan?” tanya Yuna.

Lutfi menganggukkan kepala.

“Besok, berantem lagi ya!” pinta Yuna. “Biar makin lama di rumah sakit.”

Lutfi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Iya. Aku betah di sini. Banyak perawat cantik.”

“Oh, gitu? Mau aku tusuk lagi? Biar abadi di rumah sakit,” sahut Jheni.

Lutfi tertawa kecil. “Kamu jahat banget, Jhen.”

“Mulutku aja yang jahat. Tanganku nggak akan punya nyali nusuk temen. Apalagi pacar sendiri,” sahut Jheni sambil melirik Icha yang berdiri di sebelah Lutfi.

Icha hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Jheni.

Yuna dan Lutfi saling pandang. Kemudian, mereka menatap Icha dan Jheni yang terlihat sedang berperang dengan batin masing-masing.

“Jhen, jangan gitu!” bisik Yuna. “Icha nggak sengaja melukai Lutfi.”

“Nggak sengaja apanya? Empat hari yang lalu, dia nusuk Lutfi. Abis itu kabur. Sekarang, dia bikin Lutfi masuk rumah sakit lagi. Nggak punya perasaan!”

“Jhen ...!” Yuna langsung menarik lengan Jheni menjauh dari Icha. Ia sangat mengetahui emosi Jheni yang tidak stabil. “Nggak usah merusak suasana. Icha sudah mengakui kesalahannya. Kasihan dia.”

“Kamu ini, Yun. Masih aja mau baik sama orang yang udah jahatin kamu.”

“Jhen, kamu kenapa kayak gini? Icha itu temen kita juga.”

“Biar aja. Biar dia sadar diri.”

“Kalian ini kenapa sih?” tanya Lutfi.

Ketiga wanita itu saling diam.

“Jhen, Icha bukan sengaja nusuk aku. Kamu nggak perlu memojokkan dia seperti ini,” pinta Lutfi.

“Nggak papa, Lut. Emang aku yang salah. Aku pantes buat nerima ini semua,” ucap Icha lirih.

Lutfi menghela napas sambil menatap Jheni.

Jheni masih saja bersikap angkuh. Ia tidak berniat berbaikan dengan Icha, setelah apa yang Icha lakukan di belakangnya.

“Jhen ...!” panggil Yuna lirih sambil menarik lengan Jheni. Matanya memohon agar Jheni bisa bersikap baik dengan Icha.

“Eergh ...! Kamu ini, Cha. Kalo nggak inget temenku, udah aku cakar-cakar sampe habis!” seru Jheni sambil menatap wajah Icha.

Icha tak membalas ucapan Jheni. Ia membiarkan Jheni meluapkan semua amarahnya kali ini. Ia harap, semua ini bisa membuat Jheni mengerti dirinya.

Yuna menatap Lutfi yang masih terbaring di ranjangnya. Kemudian, ia beralih menatap Icha yang masih terpaku di tempatnya. “Cha, ikut aku sebentar!” pintanya sambil menarik lengan Icha.

Yuna bergegas membawa Jheni dan Icha ke taman rumah sakit tersebut untuk membahas masalah yang terjadi pada mereka. Ia tidak ingin, kesalahpahaman antar ketiganya menjadi berlarut-larut.

“Sorry ...!” Icha menundukkan kepala. Hanya kalimat itu yang sanggup keluar dari mulutnya. Sedang kalimat yang lain, tertahan di dadanya dan terasa begitu sesak.

“Kamu nggak peduli sama kita? Kita semua khawatir nyari kamu. Berhari-hari nyari keberadaan kamu. Kenapa sih harus menghindar? Kamu pikir, kamu doang yang punya masalah di sini. Katanya, selama ini kita teman? Apa kita ini nggak berguna buat kamu? Sampe kamu nggak mau menganggap keberadaan kita?” seru Jheni sambil menahan air matanya.

Icha tak bisa menahan air matanya jatuh berderai. “Maafin, aku ...! Aku nggak mau membebani kalian ...”

“Kenapa? Kamu udah hebat? Bisa nyelesaikan semuanya sendiri? Lihat! Kamu malah bikin repot dan bikin semua orang khawatir!” sahut Jheni kesal.

Icha terduduk lemas sambil menutup wajahnya. Ia pikir, pergi adalah cara yang tepat agar tak melibatkan semua orang yang ia sayangi.

“Cha, kalo dari awal kamu nggak ngotot nutupin masalah kamu sendiri. Semuanya nggak bakal kayak gini. Lutfi nggak perlu masuk rumah sakit. Chandra, Riyan, Satria, suaminya Yuna ... mereka nggak akan buang-buang waktu buat nyari kamu dan ibu kamu itu,” tutur Jheni.

“Bahkan semalem, mereka nggak tidur cuma buat mastiin kalo nggak kabur lagi. Kamu sadar, nggak sih? Apa yang kamu lakuin ini, justru bikin repot semua orang!” seru Jheni kesal.

Icha semakin terisak. Ia sangat menyadari apa yang telah ia lakukan saat ini.

“Jhen, udah marahnya!” pinta Yuna sambil memeluk tubuh Icha.

Jheni menatap wajah Icha. “Cha, aku kayak gini karena peduli sama kamu. Kita semua nganggap kamu seperti keluarga. Kamu malah menganggap kita orang lain?”

Icha menggelengkan kepala.

“Ya udah, nggak usah nangis!” seru Jheni. “Sekarang, kita harus mikirin solusi buat permasalahan ini.”

Icha menatap wajah Jheni. Ia langsung menghapus air matanya. Makian dari Jheni, begitu membuatnya bahagia. Sebab, ia tahu kalau Jheni sangat menyayangi dirinya.

“Kamu nggak usah seneng dulu!” tutur Jheni sambil menatap wajah Icha.

Icha terdiam sejenak.

“Kamu harus mau tes DNA sama Lutfi!”

Icha menggelengkan kepala.

“Kenapa?” tanya Yuna.

“Aku takut, Yun.”

“Apa sih yang kamu takutin?”

“Aku takut nerima kenyataan yang sebenarnya.”

“Cha, kamu nggak bakal tahu apa yang sebenarnya kalo nggak mau tes. Bisa aja, kalian nggak punya hubungan apa-apa.”

“Iya. Kamu jangan langsung percaya sama omongan mama kamu. Bisa aja, dia memang mengada-ngada.”

“Yun, golongan darah aku sama Lutfi itu sama. Kenapa masih harus tes DNA? Semua keluarga Lutfi juga sudah mengakui kalau aku adalah bagian dari keluarga mereka.”

“Udah ketemu langsung sama ayahnya Lutfi?”

Icha menggelengkan kepala. “Beliau masih di luar negeri. Tapi, pernyataan nenek dan semua pelayan lama di keluarga itu. Membuat kami yakin kalau kami berdua memang kakak-beradik.”

“Kamu yakin?” tanya Jheni.

Icha menganggukkan kepala.

Jheni memerhatikan wajah Icha. “Muka kamu sama Lutfi, emang mirip sih. Tapi ... aku nggak yakin kalian beneran kakak-adik kalau belum tes DNA.”

“Iya, Cha. Tes dulu ya!” pinta Yuna. “Apa pun hasilnya nanti. Setidaknya, kita sudah berusaha untuk membuktikan. Kalian juga tetap bisa bersama. Saling menyayangi sebagai kakak-beradik. Jangan sampai, masalah ini bikin hubungan pertemanan kita jadi berantakan.”

Icha menatap wajah Yuna. “Maafin aku, Yun. Masalah di kafe kemarin ...”

“Udah, lupain aja!” pinta Yuna. “Aku tahu kamu ngomong itu nggak dari hati.”

Icha langsung memeluk tubuh Yuna. “Maafin aku, Yun ...!” bisiknya.

“Kamu nggak minta maaf sama aku?” tanya Jheni.

Icha tertawa kecil. “Iya. maafin aku, Jhen ...!”

Ketiga sahabat itu saling berpelukan. Semilir angin dan dedauanan yang menari, menjadi saksi hangatnya persahabatan mereka. Sesulit apa pun masalah yang dihadapi, sahabat akan tetap saling berpelukan.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 377 : Cemas

 


Icha terus terisak di depan ruang tunggu ruang Instalasi Gawat Darurat. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lakukan pada Lutfi.

“Cha, Lutfi nggak pernah sampe kayak gini. Apa kamu nggak bisa menghargai dia sedikit aja?” tanya Chandra yang berdiri di hadapan Icha.

“Hush, jangan bikin suasana tambah runyam!” sela Yeriko.

“Yer, kalau bukan karena keegoisan dia. Lutfi nggak akan jadi kayak gini,” sahut Chandra kesal.

Icha hanya bisa menangis. Ia tidak bisa memungkiri apa pun. Semua ini memang ia yang salah. Ia tak punya alasan untuk membela dirinya sendiri.

“Cha, kamu ngerasa sudah hebat karena bikin Lutfi kayak gini?” tanya Chandra sambil menatap Icha yang masih terduduk di hadapannya.

“Hiks ... hiks ...!” Icha menengadahkan kepalanya menatap Chandra. “Aku juga nggak mau kayak gini. Tapi ...”

“Ck, Chan ... dia udah nangis-nangis kayak gini, masih aja kamu marahin. Kasihan,” bisik Satria.

“Dia aja nggak punya belas kasihan sama sekali sama Lutfi!” sahut Chandra. Ia masih sangat kesal setiap kali melihat wajah Icha.

“Udah, udah. Kita ngopi dulu! Lutfi pasti baik-baik aja,” sela Satria sambil menepuk-nepuk bahu Chandra. Ia mengajak Chandra untuk pergi dari tempat tersebut. Ia bisa menyadari kalau Chandra masih menyimpan emosi setiap kali berhadapan dengan Icha.

“Yan, tolong beli air minum!” perintah Yeriko pada Riyan yang masih berdiri di sebelahnya.

“Siap, Pak Bos!” Riyan mengangguk dan bergegas pergi untuk membelikan air minum.

Yeriko menghela napas sambil duduk di dekat Icha. “Cha, kenapa kamu jadi seperti ini?” tanyanya.

Icha menghapus air matanya. “Aku nggak tahu kalau semuanya jadi serumit ini.”

“Apa harus sampai melukai Lutfi?” tanya Yeriko.

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak sengaja melukai Lutfi.”

Yeriko tersenyum kecil. “Aku udah tahu semuanya dari Lutfi.”

Icha terdiam sesaat. Ia rasa, tak perlu mengatakan apa-apa di hadapan Yeriko.

“Apa yang terjadi sama Mama kamu?” tanya Yeriko tanpa basa-basi.

“Mama!? Kamu tahu?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku juga nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia. Sejak kejadian penusukan itu. Dia semakin aneh. Dia suka ngomong sendiri. Kadang ketawa, kadang ketakutan. Aku nggak bisa ajak dia berkomunikasi.”

“Ayah kamu gimana?”

“Abah belum aku kasih tahu soal kondisi mama. Aku berharap kalau mama bisa sembuh. Dia masih sibuk ngurus usahanya di Kalimantan. Aku juga nggak mau bikin abahku khawatir.”

“Dia bukan pura-pura gila buat menghindar dari jeratan hukum ‘kan?” tanya Yeriko lagi.

Icha langsung membelalakkan matanya. “Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?”

Yeriko tersenyum sinis. “Lutfi mungkin bisa ngelepasin dia. Tidak dengan aku!” tegas Yeriko.

“Yer, aku mohon ... jangan laporin mamaku!” pinta Icha. “Kamu laporin aku aja!”

“Kita lihat aja nanti!” sahut Yeriko dingin.

Icha langsung meraih lengan Yeriko. Ia ingin memohon agar Yeriko melepaskan mamanya.

Yeriko langsung menatap tangan Icha yang menggenggam lengannya.

“Sorry ...!” tutur Icha lirih sambil melepaskan tangannya perlahan. “Aku mohon, aku bakal ngelakuin apa aja asal kalian nggak laporan mama.”

“Kamu nggak lihat, gimana reaksi Chandra? Dia nggak pernah semarah itu. Apa yang sudah mama kamu lakuin, udah keterlaluan.”

Icha menundukkan kepala sambil meremas jemari tangannya.

“Kalau nyawa Lutfi melayang, kamu bisa ganti pake apa?” tanya Yeriko lagi.

Icha kembali menitikan air matanya. Sekarang, semua orang menyudutkan dirinya. Semua yang terjadi pada Lutfi, memang hasil perbuatan ibunya dan ia siap menanggung semuanya. Mempertanggungjawabkan kesalahan mamanya di depan semua orang.

“Neneknya Lutfi belum tahu soal ini. Kalau sampai dia tahu. Aku nggak bisa menjamin kamu dan ibu kamu bisa selamat.”

Icha tak bisa menyanggah ucapan Yeriko. Ia memilih menerima semua hal yang diucapkan Yeriko dan lainnya saat ini. Ia tahu, semuanya sangat menghargai pertemanan dan menyayangi Lutfi.

“Udah, Cha. Nggak usah nangis!” pinta Yeriko. “Pusing kepalaku dengar orang nangis. Kamu temenin Lutfi kalo dia udah selesai dapet pertolongan dari dokter. Hapus air matamu, dandan yang cantik! Ntar si Lutfi pingsan lagi kalo lihat mukamu kacau kayak gini,” tutur Yeriko sambil bangkit dari tempat duduknya.

“Riyan sama yang lain, bakal temenin kamu di sini. Kalo butuh sesuatu, tinggal ngomong aja. Aku pulang duluan, nggak bisa ninggalin Yuna terlalu lama,” pamit Yeriko sambil melangkah pergi meninggalkan Icha.

Icha menganggukkan kepala. Ia terus menunggu Lutfi di depan pintu ruang IGD.

 

...

 

Begitu sampai di rumah, Yeriko mengerutkan dahi menatap istrinya yang masih duduk bersandar di atas tempat tidur. “Kenapa nggak tidur?”

“Eh!? Sudah pulang?” Yuna langsung menoleh ke arah pintu dan bergegas menghampiri Yeriko.

Yeriko menganggukkan kepala sambil melepas kancing kemejanya. “Udah tengah malam gini, kenapa nggak tidur?”

“Aku nggak bisa tidur. Gimana Icha? Udah ketemu?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk sambil melangkah mendekati ranjang dan merebahkan tubuhnya.

“Terus?” Yuna berdiri tepat di depan kaki Yeriko.

“Apanya?”

“Ichanya gimana? Dia baik-baik aja?”

Yeriko menganggukkan kepala sambil memejamkan mata.

“Sekarang, dia di mana?”

“Di rumah sakit.”

“Hah!? Dia kenapa?”

“Dia baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil mengangkat tubuhnya dan menatap wajah Yuna. “Lutfi yang masuk IGD lagi.”

“Dia kenapa lagi?”

“Berantem di bar.”

“Dia masih sakit, bisa-bisanya malah ke bar dan berantem,” gerutu Yuna.

“Kayak nggak tahu Lutfi aja. Kalo punya kemauan, nggak bisa dicegah,” ucap Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke pangkuannya.

“Terus, gimana keadaan Lutfi sekarang?”

“Baik-baik aja. Kenapa kamu nanyain Lutfi terus? Aku nggak ditanyain?”

Yuna menautkan alis sambil memerhatikan wajah Yeriko. “Are you oke?”

Yeriko menggelengkan kepalanya.

“Kenapa? Aku lihat, semua baik-baik aja. Hidung masih mancung, mata masih dua, telinga masih lengkap, pipi masih mulus, bibir masih ...” Yuna tersenyum dan langsung mengecup bibir Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. “Lain kali, jangan tunggu aku pulang, ya!” pinta Yeriko.

“Kenapa?”

“Kasihan si Dedek Bayi kalo diajak begadang terus sama mamanya.”

“Aku kan nggak bisa tidur kalo belum ditidurin,” sahut Yuna sambil tertawa kecil.

Yeriko tergelak. “Sini, aku tidurin!” ucapnya sambil membaringkan tubuh Yuna ke atas kasur. Tangannya yang kekar, mengelus lembut rambut Yuna sampai ke pinggulnya.

Desahan kecil keluar dari bibir Yuna yang mungil dan membuat Yeriko semakin bergairah. “Yang aku belikan, pas?” tanya Yeriko sambil bermain di tubuh istrinya.

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, ya!”

“Makasih buat apa?” sahut Yeriko.

“Udah dibeliin yang baru. Nggak begah lagi.”

Yeriko tertawa kecil. “Udah kewajiban aku memenuhi semua kebutuhan kamu.”

Yuna tersenyum sambil memainkan ujung jemarinya di dada Yeriko. “Besok, aku ke rumah sakit jenguk Lutfi, ya. Icha ada di sana kan?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Sekarang, Icha tinggal di mana?”

Yeriko terdiam sejenak. “Iya ya? Dia tinggal di mana?”

“Kamu nggak cari tahu tempat tinggal dia?”

“Nggak kepikiran. Apalagi dia nangis-nangis terus sambil nungguin Lutfi di rumah sakit. Besok, kamu tanya langsung aja ke dia!”

Yuna menghela napas dan menganggukkan kepala. Ia harap, Icha bisa lebih terbuka dan tidak menghindari dirinya lagi.  

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 376 : Be Hero

 


BUG!

BUG!

BUG!

 

Lutfi terus memukuli Juan dengan membabi buta. Ia meluapkan seluruh kemarahannya saat ini ke tubuh Juan.

Tak ada satu pun orang yang berani melerai perkelahian mereka. Juan yang sudah tersungkur di lantai, tak berdaya melawan Lutfi yang sudah duduk di atas tubuhnya.

Satria tertawa terbahak-bahak melihat perkelahian yang ada di depannya. “Nggak ada perlawanan sama sekali. Beraninya mukul cewek. Giliran sama cowok, melempem, kayak kerupuk masuk angin. hahaha.”

Pundak Lutfi naik turun menahan amarah. Ia menatap wajah Juan yang sudah babak belur di tangannya. “Awas kalau sampai berani deketin Icha lagi!” ancamnya sambil mencengkeram kerah kemeja Juan.

Juan tertawa kecil. “Icha udah bukan pacarmu lagi. Dia bisa jadi milik siapa aja.”

“Bangsat, kamu!”

BUG!

Tinjuan tangan Lutfi kembali mendarat di wajah Juan. Ia tak peduli dengan darah segar yang mengalir dari hidung dan mulut pria itu.

“STOP ...!” Manager bar tersebut tiba-tiba datang. “Ada apa ini?” tanyanya.

Lutfi menghentikan pukulan yang hampir mendarat kembali ke wajah Juan. Ia langsung menatap tajam ke arah manager bar tersebut.

“Mas Lutfi?” Manager itu terkejut melihat Lutfi yang berjongkok di hadapannya.

“Kamu kenal?” tanya Satria pada Lutfi.

Lutfi bangkit dan berdiri di hadapan manager tersebut. Ia langsung menarik tangan Icha yang tak jauh darinya.

“Kamu nggak tahu gimana tamu kamu ini memperlakukan karyawan kamu, hah!?” tanya Lutfi kesal.

Manager tersebut menatap Icha yang sedang memegang pipinya. Sisa-sia air mata masih terlihat jelas di sudut-sudut matanya. “Ma ... maafkan saya, Mas!”

“Kamu nggak tahu dia siapa?” tanya Lutfi.

Manager tersebut menggelengkan kepala.

“Dia orangku!” tegas Lutfi sambil menarik lengan Icha keluar dari tempat tersebut.

Manager tersebut tersenyum kecut. Ia menatap Yeriko yang juga ada di sana. “Pak Ye ...!” sapanya canggung.

Yeriko tersenyum sambil menatap manager tersebut. “Dia orangku. Aku ambil!” pintanya.

“Iya, silakan! Maaf, saya nggak tahu kalau dia itu orangnya Pak Ye.”

Yeriko tersenyum sambil menepuk pundak manager tersebut. “Blacklist dia dari sini atau usaha kamu yang saya blacklist.” Yeriko melangkah pergi sambil menendang kaki Juan terlebih dahulu.

Chandra dan Riyan mengikuti langkah Yeriko dari belakang. Mereka sengaja melangkahi kaki Juan tanpa berkata apa-apa.

“Huu ... banci! Beraninya sama cewek doang,” dengus Satria sambil mengetuk kepala Juan.

Mereka berempat bergegas melangkah keluar meninggalkan bar tersebut.

 

Di luar bar, Lutfi terus menggenggam pergelangan tangan Icha sambil melangkahkan kakinya.

“Lepasin, Lut!” pinta Icha lirih sambil menghentikan langkahnya.

Lutfi tak mendengarkan ucapan Icha.

Icha berusaha mempertahankan tubuhnya. “Lepasin, aku!” pintanya lagi.

Lutfi menghela napas sambil membalikkan tubuhnya.

“Cha, kamu itu punyaku. Kenapa malah kerja di bar? Ngelayani cowok-cowok hidung belang itu!” seru Lutfi kesal.

“Kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kamu nggak perlu ikut campur sama urusanku!” pinta Icha sambil menatap wajah Lutfi.

Lutfi membelalakkan matanya mendengar ucapan Icha. “Kita masih punya hubungan kontrak. Aku udah beli kamu. Kamu nggak bisa pergi gitu aja dari aku!” sahut Lutfi.

“Ya. Kamu memang udah beli aku. Tapi, sekarang kita udah nggak bisa punya hubungan apa-apa lagi. Aku nggak bisa menerima kamu sebagai kakakku. Lebih baik, kita nggak usah ketemu lagi!” tegas Icha.

“Cha, kamu masih bisa jadi adikku. Aku bisa nerima kamu sebagai apa pun. Asal, jangan pergi dari aku, please!” pinta Lutfi.

Icha menggelengkan kepala. “Aku bukan siapa-siapa kamu, Lut. Hubungan kita cuma karena uang. Kamu nggak pernah beneran cinta sama aku. Aku juga nggak pernah cinta sama kamu. Sekarang, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku bakal balikin semua hutang-hutangku ke kamu.”

“Aku nggak peduli sama uang itu. Aku cuma mau kamu, Cha!” seru Lutfi sambil menggenggam kedua pundak Icha.

“Kamu nggak peduli sama uang itu karena kamu sudah terlahir sebagai anak orang kaya. Sedangkan aku, hidupku sangat sederhana. Aku nggak bisa terus-menerus berhutang dan terikat sama kamu. Aku bakal balikin semua hutangku dengan usahaku sendiri. Mulai sekarang, kita nggak usah ketemu lagi!” Icha melepas tangan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.

Lutfi terdiam sejenak. Lalu, ia mengejar Icha kembali. “Cha, kita belum terbukti kalau memang kakak-beradik. Sekalipun kamu memang adikku, aku akan tetap sayang sama kamu.”

Icha tak memperdulikan ucapan Lutfi.

“Cha ...!”

“Icha ...!” Lutfi berlari mengejar Icha dan memeluknya dari belakang. “Jangan tinggalin aku!” bisiknya lirih. “Aku bakal ngelakuin apa pun, asal kamu tetap tinggal.”

“Aku nggak bisa,” jawab Icha sambil menahan air matanya jatuh ke pipi.

“Cha, apa kamu nggak bisa menerima aku sebagai kakak kamu?” tanya Lutfi lagi.

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa, Lut. Aku nggak sanggup menghadapi masa depan setelah ini. Aku nggak akan sanggup ada di samping kamu. Menerima kamu jadi kakakku, artinya harus siap melihat kamu hidup bahagia dengan wanita lain. Biarkan aku pergi dan nggak perlu merasakan sakit yang lebih dalam lagi!” pinta Icha lirih.

Lutfi terus mengeratkan pelukannya. Ia masih tak rela jika harus melepaskan Icha. “Cha, kalau kita memang beneran kakak-beradik. Kenapa harus ada cinta di antara kita? Cinta yang berbeda dengan hubungan saudara,” bisik Lutfi sambil mengendus telinga Icha.

Icha memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam. “Lepasin aku, Lut!” pintanya lirih. “Anggap aja, kita nggak pernah saling mengenal!” lanjutnya sambil meneteskan air mata. Ia melepas pelukkan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.

Lutfi terpaku menatap tubuh Icha yang perlahan menjauh darinya. Ia mengerjap perlahan saat bayangan Icha mulai menghilang dari pandangannya. Wajahnya semakin memucat dan ia kehilangan penglihatannya secara perlahan. Hingga ia tak bisa mengendalikan tubuhnya dan terhuyung ke tanah.

“Lutfi ...!” teriak Chandra dari kejauhan.

Icha langsung memutar kepala saat mendengar teriakan Chandra. Ia melihat tubuh Lutfi yang sudah tersungkur ke tanah. “Lut ... Lutfi ...!” seru Icha sambil berlari menghampiri tubuh Lutfi.

Chandra langsung mengangkat kepala Lutfi dan memangkunya. “Lut ...!” panggil Chandra sambil menepuk perlahan pipi Lutfi. Ia menatap perut Lutfi yang kembali mengeluarkan darah.

Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menangkup wajah Lutfi dengan kedua telapak tangannya. “Bangun, Lut ...!” pintanya sambil menangis. Ia menyingkap baju Lutfi yang berdarah. Tangisan Icha semakin keras saat melihat luka yang ada di perut Lutfi.

“Semua ini salahku,” tutur Icha sambil menatap darah yang mengalir di perut Lutfi. “Nggak seharusnya aku bikin kamu kayak gini.”

Satria langsung membantu mengangkat tubuh Lutfi. “Kita bawa balik ke rumah sakit secepatnya!”

Chandra mengangguk. Mereka segera memasukkan tubuh Lutfi ke dalam mobil Chandra.

Chandra bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit diikuti dengan mobil Yeriko di belakangnya.

Icha terus menangis histeris sambil memeluk kepala Lutfi. Ia telah melukai Lutfi dan sekarang, Lutfi justru mengorbankan diri untuk menyelamatkan dirinya. Perasaan Icha semakin tak karuan.

Sepanjang perjalanan, Icha terus diselimuti rasa bersalah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Di saat ia berusaha membenci Lutfi dan orang-orang di sekitarnya, mereka justru sangat peduli dengan keadaan Icha.

“Aku harus gimana?” batin Icha. Ia tidak ingin membawa semua orang ke dalam penderitaannya. Semua sahabat Lutfi sangat baik dan hal ini membuat Icha sangat malu. Ia tidak bisa membalas kebaikan semua orang yang begitu peduli dengannya. Ia pikir, dengan menghilang dari kehidupan mereka, itu akan membuat semuanya menjadi lebih baik.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 375 : Sexy Served

 


-   W Club –

Dentuman musik keras bergema di seluruh ruangan. Di tengah ruangan, banyak orang yang berdiri sambil terus menggerakkan tubuh mereka seiring dengan irama musik DJ dalam ruangan tersebut. Di lantai dua, pria yang kelebihan uang memilih duduk bersama para wanitanya sambil menikmati beer atau wine.

Di sudut ruangan, terlihat tubuh Icha menjulang tinggi. Ia mengenakan seragam pelayan dan terlihat sangat seksi. Icha memperbaiki posisi topeng yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin ada orang yang mengenali keberadaannya.

“Cha, look! Tempat ini sangat menyedihkan, sama seperti dirimu,” bisik Icha pada dirinya sendiri. “Mereka terlihat sangat bahagia, tapi palsu. Jika di luar sana sudah mendapat kebahagiaan. Mereka tak perlu datang ke tempat ini untuk mencari hiburan.”

Icha menghela napas. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju bar. Ia mengambil beberapa minuman pesanan pelanggan dan membawakannya sampai ke meja pelanggan.

“Hai, cantik ...!” sapa salah seorang pelanggan pada Icha saat ia menyuguhkan dua botol wine. “Temenin kita minum ya!” pinta pria itu dengan santai. Mata dan tangannya mulai liar. Berusaha menjangkit tubuh Icha yang terlihat seksi.

“Maaf, Oom ...! Saya hanya pelayan biasa di sini.”

“Halah, nggak usah jual mahal ...!” tutur pria itu dengan mata liarnya.

Di meja sebelahnya. Juan terus memperhatikan Icha yang sedang digoda oleh beberapa pria. Tangan liar pria-pria itu mulai menyentuh tubuh Icha. Icha terus berkelit dengan sopan agar tidak menyakiti dan membuat marah pelanggannya.

Juan tersenyum sinis. Ia menghampiri seorang pria yang sudah ia kenal sebagai manager di bar tersebut. Ia berbisik sambil memberikan beberapa lembar uang.

“Icha ... Icha! Nggak nyangka kalau aku bisa menikmati kamu semudah ini,” gumam Juan sambil duduk di salah satu meja tamu.

Tak berapa lama, Icha menghampiri Juan sambil meletakkan beberapa wine ke atas meja sesuai pesanan. Kepalanya terus menunduk dan tak berani menatap Juan. Ia berharap kalau Juan tak mengenalinya.

Juan mencondongkan tubuhnya sambil menatap wajah Icha. “Kamu cantik banget,” pujinya sambil meletakkan beberapa lembar uang ke atas nampan yang dibawa Icha sebagai tip.

Icha hanya tersenyum sambil menundukkan kepala. Ia memperbaiki posisi topengnya dan bergegas bangkit.

“Mau ke mana?” tanya Juan sambil menangkap pergelangan tangan Icha.

“Saya masih harus mengantar minuman ke pelanggan yang lain,” jawab Icha sambil membungkuk sopan.

Juan tertawa sinis. “Aku udah bayar manager kamu. Kamu cuma bisa melayani aku sekarang!” pinta Juan sambil menunjuk ke arah manager bar yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Icha menoleh ke arah managernya. Ia tak bisa membantah karena manager tersebut mengisyaratkan agar Icha menemani tamunya itu.

“Ma ... maaf, Mas. Sa ... saya harus ...”

Juan menghela napas sambil menatap Icha. “Icha ... Icha ... kamu pikir, aku nggak bisa ngenalin kamu?” Ia langsung menarik lengan Icha agar duduk di sebelahnya.

Icha membelalakkan matanya menatap Juan. Ia tak menyangka kalau Juan mengenalinya.

“Aku sudah buktikan kalau kamu beneran kerja di bar dan bisa dibeli dengan uang. Kamu tahu kan? Tugasnya pelayan di sini bukan cuma ngantar minuman. Tapi juga harus melayani dan memuaskan pelanggannya.”

Icha tak menjawab. Ia berusaha melepaskan diri dari genggaman Juan. “Lepasin aku!”

“Aku udah bayar mahal supaya bisa berduaan sama kamu. Kamu harus temenin aku minum malam ini ... atau ... aku bakal bikin kamu kehilangan pekerjaan lagi?”

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia hanya ingin mendapatkan uang dengan cepat untuk membiayai perawatan ibunya dan membayar hutang-hutangnya.

Juan tersenyum sambil memerhatikan wajah Icha. “Aku cuma minta ditemani minum. Itu aja.”

Icha tersenyum kecut. Ia terus melirik manager yang memerhatikan dirinya dari kejauhan. Ia tidak bisa melawan keinginan pelanggannya. Semuanya harus ia kerjakan dengan baik.

“Nah, gitu dong! Aku suka gadis cantik yang penurut,” tutur Juan sambil merangkul tubuh Icha.

Icha menahan napas selama beberapa detik. Sementara, Juan asyik menenggak minuman yang ada di hadapannya.

“Minum ...!” pinta Juan sambil menyodorkan sloki ke bibir Icha.

Icha menggelengkan kepala.

“MINUM ...!” sentak Juan.

Icha masih tak mau membuka mulutnya.

Juan tak sabar menunggu Icha menuruti perintahnya. Tangannya langsung menekan rahang Icha dan membuka paksa mulut gadis tersebut.

“Minum ...!” perintahnya sambil mengucurkan alkohol dari dalam sloki ke mulut Icha.

“Hahaha.”  Juan tertawa bahagia melihat wanita yang pernah menolaknya, kini tunduk kepadanya. Ia terus memberi minuman ke mulut Icha.

Icha menitikan air mata saat Juan memaksa untuk melayaninya.

“Cha, kamu itu cuma barang bekas yang udah nggak diinginkan lagi sama Lutfi. Udah dipake, terus dibuang begitu aja sama dia,” bisik Juan di telinga Icha.

Icha tak menanggapi ucapan Juan. Ia memang wanita yang sangat menyedihkan. Bahkan saat ini, pria yang menjadi pacarnya itu adalah kakaknya sendiri. Ia sendiri masih tak percaya kalau memiliki hubungan darah dengan pria yang ia cintai.

 “Cha, daripada kamu harus keliaran jadi wanita malam. Mending, kamu ikut aja! Aku emang nggak sekaya Lutfi. Tapi, aku masih sanggup memelihara kamu.”

“Kamu pikir, aku binatang peliharaan!?” desis Icha.

Juan terbahak mendengar ucapan Icha. “Bukannya selama ini ... kamu dipelihara sama Lutfi, hah!?” tanya Juan sambil menatap sayu ke arah Icha.

Icha tak menyahut. Ia terus menatap Juan yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. “Cowok payah!” batin Icha. “Baru minum sedikit aja, sudah mabuk.”

Juan terus meracau, berandai-andai menjalani hidupnya bersama Icha.

Icha semakin risih dengan sikap Juan. Ia mencuri kesempatan untuk pergi dari sisi Juan yang sudah setengah mabuk.

“Mau ke mana?” tanya Juan saat Icha baru saja mengangkat pantatnya dari sofa.

Icha menghela napas dan duduk kembali. Ia mulai kesal dengan sikap Juan yang terus-menerus merendahkan dirinya.

Juan tersenyum sambil menatap Icha. Ia sengaja datang ke tempat ini untuk mempermalukan Icha. Rasa sakit dalam hatinya masih begitu membekas saat Icha menolak cintanya mentah-mentah.

Icha menatap wajah Juan yang menyandarkan kepalanya ke sofa. Sementara, tangan Juan masih saja melingkar di bahu Icha. Perlahan, ia menyentuh ujung jemari Juan dan merapatkan ke lehernya.

Juan tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia mengira kalau Icha sudah menyerahkan diri dan akan menjadi miliknya.

“AARGH ...!!!” Juan langsung berteriak saat Icha menggigit pergelangan tangan, tepat di nadinya.

Icha langsung bangkit dan berlari meninggalkan Juan. Ia tidak ingin terus-menerus berada di bawah kendali Juan. Pria yang sengaja mempermalukan dirinya di depan banyak orang.

“Heh!? Perek sialan!” seru Juan sambil bangkit dan mengejar Icha.

Icha terus berlari. Berusaha menerobos beberapa orang yang menghalangi jalannya. Namun, langkahnya tetap tak lebih baik dari Juan.

Dengan mudah, Juan meraih tangan Icha. Ia sangat marah karena Icha berani melawan dirinya. “Aku udah beli kamu. Kamu berani ngelawan aku, hah!?” sentak Juan.

“Lepasin ...!” pinta Icha sambil berusaha melepas pergelangan tangannya dari genggaman tangan Juan.

“Aku nggak akan ngelepasin kamu. Perempuan nggak tahu diri!” sahut Juan sambil melayangkan telapak tangannya ke pipi Icha.

Icha langsung memegang pipinya yang terasa memanas. Air matanya kembali mengalir. Ia tidak menyangka kalau akan diperlakukan serendah ini. Terlebih, semua mata di tempat itu memandangnya begitu rendah.

“Hahaha.” Juan tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat bahagia bisa menyakiti Icha dengan tangannya sendiri.

“Nggak ada yang mau nolongin perempuan jalang kayak kamu!” seru Juan. Ia memiliki keberanian yang sangat besar untuk memukul Icha kembali karena tak ada satu pun orang yang ingin melindungi wanita tersebut.

“Minta tolong, sana! Minta tolong aja!” perintah Juan.

Icha terdiam. Ia hanya memandang orang-orang di sekitarnya dengan tatapan pilu.

 

PLAK ...!

PLAK ...!

PLAK ...!

 

Juan terus tertawa. Ia merasa sangat puas karena bisa melampiaskan kekesalannya selama ini. Akhirnya, ia sudah bisa membalaskan dendam dalam hatinya. Wanita yang dulu menolak cintanya, harus bertekuk lutut di hadapannya. Apa pun cara yang harus ia lakukan.

“Siapa yang mau nolongin dia? Harus berhadapan sama aku!” seru Juan penuh percaya diri.

Semua orang hanya menatap Juan. Mereka mengasihani Icha, hanya saja tak memiliki keberanian melihat Juan yang berapi-api menatap gadis di hadapannya itu.

Tiba-tiba, semua orang menunjuk-nunjuk ke arah belakang Juan.

Juan tersenyum sinis sambil membalikkan badannya.

 

BUG ..!

 

Juan tersungkur ke lantai saat dadanya menerima tendangan keras dari seseorang yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Ia meringis sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia langsung mengangkat wajahnya. Menatap tubuh pria yang menjulang di hadapannya.

“Kamu ...!?” Juan membelalakkan matanya. Tubuhnya gemetar melihat tatapan mata pria yang sudah tak asing lagi di matanya. “Lutfi ...?”

“Aku nggak akan ngebiarin siapa pun menyentuh Icha!” tutur Lutfi sambil mengepal tangannya erat-erat.

Juan menarik kakinya dan menggeser mundur pantatnya menjauhi Lutfi. Ia tak memiliki ilmu bela diri sebaik Lutfi. Terlebih, di belakang Lutfi ada empat orang pria yang bersiap menyerangnya.  Ia memilih untuk melarikan diri.

 

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas