Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 375 : Sexy Served

 


-   W Club –

Dentuman musik keras bergema di seluruh ruangan. Di tengah ruangan, banyak orang yang berdiri sambil terus menggerakkan tubuh mereka seiring dengan irama musik DJ dalam ruangan tersebut. Di lantai dua, pria yang kelebihan uang memilih duduk bersama para wanitanya sambil menikmati beer atau wine.

Di sudut ruangan, terlihat tubuh Icha menjulang tinggi. Ia mengenakan seragam pelayan dan terlihat sangat seksi. Icha memperbaiki posisi topeng yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin ada orang yang mengenali keberadaannya.

“Cha, look! Tempat ini sangat menyedihkan, sama seperti dirimu,” bisik Icha pada dirinya sendiri. “Mereka terlihat sangat bahagia, tapi palsu. Jika di luar sana sudah mendapat kebahagiaan. Mereka tak perlu datang ke tempat ini untuk mencari hiburan.”

Icha menghela napas. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju bar. Ia mengambil beberapa minuman pesanan pelanggan dan membawakannya sampai ke meja pelanggan.

“Hai, cantik ...!” sapa salah seorang pelanggan pada Icha saat ia menyuguhkan dua botol wine. “Temenin kita minum ya!” pinta pria itu dengan santai. Mata dan tangannya mulai liar. Berusaha menjangkit tubuh Icha yang terlihat seksi.

“Maaf, Oom ...! Saya hanya pelayan biasa di sini.”

“Halah, nggak usah jual mahal ...!” tutur pria itu dengan mata liarnya.

Di meja sebelahnya. Juan terus memperhatikan Icha yang sedang digoda oleh beberapa pria. Tangan liar pria-pria itu mulai menyentuh tubuh Icha. Icha terus berkelit dengan sopan agar tidak menyakiti dan membuat marah pelanggannya.

Juan tersenyum sinis. Ia menghampiri seorang pria yang sudah ia kenal sebagai manager di bar tersebut. Ia berbisik sambil memberikan beberapa lembar uang.

“Icha ... Icha! Nggak nyangka kalau aku bisa menikmati kamu semudah ini,” gumam Juan sambil duduk di salah satu meja tamu.

Tak berapa lama, Icha menghampiri Juan sambil meletakkan beberapa wine ke atas meja sesuai pesanan. Kepalanya terus menunduk dan tak berani menatap Juan. Ia berharap kalau Juan tak mengenalinya.

Juan mencondongkan tubuhnya sambil menatap wajah Icha. “Kamu cantik banget,” pujinya sambil meletakkan beberapa lembar uang ke atas nampan yang dibawa Icha sebagai tip.

Icha hanya tersenyum sambil menundukkan kepala. Ia memperbaiki posisi topengnya dan bergegas bangkit.

“Mau ke mana?” tanya Juan sambil menangkap pergelangan tangan Icha.

“Saya masih harus mengantar minuman ke pelanggan yang lain,” jawab Icha sambil membungkuk sopan.

Juan tertawa sinis. “Aku udah bayar manager kamu. Kamu cuma bisa melayani aku sekarang!” pinta Juan sambil menunjuk ke arah manager bar yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Icha menoleh ke arah managernya. Ia tak bisa membantah karena manager tersebut mengisyaratkan agar Icha menemani tamunya itu.

“Ma ... maaf, Mas. Sa ... saya harus ...”

Juan menghela napas sambil menatap Icha. “Icha ... Icha ... kamu pikir, aku nggak bisa ngenalin kamu?” Ia langsung menarik lengan Icha agar duduk di sebelahnya.

Icha membelalakkan matanya menatap Juan. Ia tak menyangka kalau Juan mengenalinya.

“Aku sudah buktikan kalau kamu beneran kerja di bar dan bisa dibeli dengan uang. Kamu tahu kan? Tugasnya pelayan di sini bukan cuma ngantar minuman. Tapi juga harus melayani dan memuaskan pelanggannya.”

Icha tak menjawab. Ia berusaha melepaskan diri dari genggaman Juan. “Lepasin aku!”

“Aku udah bayar mahal supaya bisa berduaan sama kamu. Kamu harus temenin aku minum malam ini ... atau ... aku bakal bikin kamu kehilangan pekerjaan lagi?”

Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia hanya ingin mendapatkan uang dengan cepat untuk membiayai perawatan ibunya dan membayar hutang-hutangnya.

Juan tersenyum sambil memerhatikan wajah Icha. “Aku cuma minta ditemani minum. Itu aja.”

Icha tersenyum kecut. Ia terus melirik manager yang memerhatikan dirinya dari kejauhan. Ia tidak bisa melawan keinginan pelanggannya. Semuanya harus ia kerjakan dengan baik.

“Nah, gitu dong! Aku suka gadis cantik yang penurut,” tutur Juan sambil merangkul tubuh Icha.

Icha menahan napas selama beberapa detik. Sementara, Juan asyik menenggak minuman yang ada di hadapannya.

“Minum ...!” pinta Juan sambil menyodorkan sloki ke bibir Icha.

Icha menggelengkan kepala.

“MINUM ...!” sentak Juan.

Icha masih tak mau membuka mulutnya.

Juan tak sabar menunggu Icha menuruti perintahnya. Tangannya langsung menekan rahang Icha dan membuka paksa mulut gadis tersebut.

“Minum ...!” perintahnya sambil mengucurkan alkohol dari dalam sloki ke mulut Icha.

“Hahaha.”  Juan tertawa bahagia melihat wanita yang pernah menolaknya, kini tunduk kepadanya. Ia terus memberi minuman ke mulut Icha.

Icha menitikan air mata saat Juan memaksa untuk melayaninya.

“Cha, kamu itu cuma barang bekas yang udah nggak diinginkan lagi sama Lutfi. Udah dipake, terus dibuang begitu aja sama dia,” bisik Juan di telinga Icha.

Icha tak menanggapi ucapan Juan. Ia memang wanita yang sangat menyedihkan. Bahkan saat ini, pria yang menjadi pacarnya itu adalah kakaknya sendiri. Ia sendiri masih tak percaya kalau memiliki hubungan darah dengan pria yang ia cintai.

 “Cha, daripada kamu harus keliaran jadi wanita malam. Mending, kamu ikut aja! Aku emang nggak sekaya Lutfi. Tapi, aku masih sanggup memelihara kamu.”

“Kamu pikir, aku binatang peliharaan!?” desis Icha.

Juan terbahak mendengar ucapan Icha. “Bukannya selama ini ... kamu dipelihara sama Lutfi, hah!?” tanya Juan sambil menatap sayu ke arah Icha.

Icha tak menyahut. Ia terus menatap Juan yang sudah berada di bawah pengaruh alkohol. “Cowok payah!” batin Icha. “Baru minum sedikit aja, sudah mabuk.”

Juan terus meracau, berandai-andai menjalani hidupnya bersama Icha.

Icha semakin risih dengan sikap Juan. Ia mencuri kesempatan untuk pergi dari sisi Juan yang sudah setengah mabuk.

“Mau ke mana?” tanya Juan saat Icha baru saja mengangkat pantatnya dari sofa.

Icha menghela napas dan duduk kembali. Ia mulai kesal dengan sikap Juan yang terus-menerus merendahkan dirinya.

Juan tersenyum sambil menatap Icha. Ia sengaja datang ke tempat ini untuk mempermalukan Icha. Rasa sakit dalam hatinya masih begitu membekas saat Icha menolak cintanya mentah-mentah.

Icha menatap wajah Juan yang menyandarkan kepalanya ke sofa. Sementara, tangan Juan masih saja melingkar di bahu Icha. Perlahan, ia menyentuh ujung jemari Juan dan merapatkan ke lehernya.

Juan tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia mengira kalau Icha sudah menyerahkan diri dan akan menjadi miliknya.

“AARGH ...!!!” Juan langsung berteriak saat Icha menggigit pergelangan tangan, tepat di nadinya.

Icha langsung bangkit dan berlari meninggalkan Juan. Ia tidak ingin terus-menerus berada di bawah kendali Juan. Pria yang sengaja mempermalukan dirinya di depan banyak orang.

“Heh!? Perek sialan!” seru Juan sambil bangkit dan mengejar Icha.

Icha terus berlari. Berusaha menerobos beberapa orang yang menghalangi jalannya. Namun, langkahnya tetap tak lebih baik dari Juan.

Dengan mudah, Juan meraih tangan Icha. Ia sangat marah karena Icha berani melawan dirinya. “Aku udah beli kamu. Kamu berani ngelawan aku, hah!?” sentak Juan.

“Lepasin ...!” pinta Icha sambil berusaha melepas pergelangan tangannya dari genggaman tangan Juan.

“Aku nggak akan ngelepasin kamu. Perempuan nggak tahu diri!” sahut Juan sambil melayangkan telapak tangannya ke pipi Icha.

Icha langsung memegang pipinya yang terasa memanas. Air matanya kembali mengalir. Ia tidak menyangka kalau akan diperlakukan serendah ini. Terlebih, semua mata di tempat itu memandangnya begitu rendah.

“Hahaha.” Juan tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat bahagia bisa menyakiti Icha dengan tangannya sendiri.

“Nggak ada yang mau nolongin perempuan jalang kayak kamu!” seru Juan. Ia memiliki keberanian yang sangat besar untuk memukul Icha kembali karena tak ada satu pun orang yang ingin melindungi wanita tersebut.

“Minta tolong, sana! Minta tolong aja!” perintah Juan.

Icha terdiam. Ia hanya memandang orang-orang di sekitarnya dengan tatapan pilu.

 

PLAK ...!

PLAK ...!

PLAK ...!

 

Juan terus tertawa. Ia merasa sangat puas karena bisa melampiaskan kekesalannya selama ini. Akhirnya, ia sudah bisa membalaskan dendam dalam hatinya. Wanita yang dulu menolak cintanya, harus bertekuk lutut di hadapannya. Apa pun cara yang harus ia lakukan.

“Siapa yang mau nolongin dia? Harus berhadapan sama aku!” seru Juan penuh percaya diri.

Semua orang hanya menatap Juan. Mereka mengasihani Icha, hanya saja tak memiliki keberanian melihat Juan yang berapi-api menatap gadis di hadapannya itu.

Tiba-tiba, semua orang menunjuk-nunjuk ke arah belakang Juan.

Juan tersenyum sinis sambil membalikkan badannya.

 

BUG ..!

 

Juan tersungkur ke lantai saat dadanya menerima tendangan keras dari seseorang yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Ia meringis sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia langsung mengangkat wajahnya. Menatap tubuh pria yang menjulang di hadapannya.

“Kamu ...!?” Juan membelalakkan matanya. Tubuhnya gemetar melihat tatapan mata pria yang sudah tak asing lagi di matanya. “Lutfi ...?”

“Aku nggak akan ngebiarin siapa pun menyentuh Icha!” tutur Lutfi sambil mengepal tangannya erat-erat.

Juan menarik kakinya dan menggeser mundur pantatnya menjauhi Lutfi. Ia tak memiliki ilmu bela diri sebaik Lutfi. Terlebih, di belakang Lutfi ada empat orang pria yang bersiap menyerangnya.  Ia memilih untuk melarikan diri.

 

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas