- W Club –
Dentuman musik keras bergema di seluruh ruangan. Di tengah
ruangan, banyak orang yang berdiri sambil terus menggerakkan tubuh mereka
seiring dengan irama musik DJ dalam ruangan tersebut. Di lantai dua, pria yang
kelebihan uang memilih duduk bersama para wanitanya sambil menikmati beer atau
wine.
Di sudut ruangan, terlihat tubuh Icha menjulang tinggi. Ia
mengenakan seragam pelayan dan terlihat sangat seksi. Icha memperbaiki posisi
topeng yang ia kenakan untuk menutupi wajahnya. Ia tak ingin ada orang yang
mengenali keberadaannya.
“Cha, look! Tempat ini sangat menyedihkan, sama seperti
dirimu,” bisik Icha pada dirinya sendiri. “Mereka terlihat sangat bahagia, tapi
palsu. Jika di luar sana sudah mendapat kebahagiaan. Mereka tak perlu datang ke
tempat ini untuk mencari hiburan.”
Icha menghela napas. Ia melangkahkan kakinya perlahan
menuju bar. Ia mengambil beberapa minuman pesanan pelanggan dan membawakannya
sampai ke meja pelanggan.
“Hai, cantik ...!” sapa salah seorang pelanggan pada Icha
saat ia menyuguhkan dua botol wine. “Temenin kita minum ya!” pinta pria itu
dengan santai. Mata dan tangannya mulai liar. Berusaha menjangkit tubuh Icha
yang terlihat seksi.
“Maaf, Oom ...! Saya hanya pelayan biasa di sini.”
“Halah, nggak usah jual mahal ...!” tutur pria itu dengan
mata liarnya.
Di meja sebelahnya. Juan terus memperhatikan Icha yang
sedang digoda oleh beberapa pria. Tangan liar pria-pria itu mulai menyentuh
tubuh Icha. Icha terus berkelit dengan sopan agar tidak menyakiti dan membuat
marah pelanggannya.
Juan tersenyum sinis. Ia menghampiri seorang pria yang
sudah ia kenal sebagai manager di bar tersebut. Ia berbisik sambil memberikan
beberapa lembar uang.
“Icha ... Icha! Nggak nyangka kalau aku bisa menikmati kamu
semudah ini,” gumam Juan sambil duduk di salah satu meja tamu.
Tak berapa lama, Icha menghampiri Juan sambil meletakkan
beberapa wine ke atas meja sesuai pesanan. Kepalanya terus menunduk dan tak
berani menatap Juan. Ia berharap kalau Juan tak mengenalinya.
Juan mencondongkan tubuhnya sambil menatap wajah Icha.
“Kamu cantik banget,” pujinya sambil meletakkan beberapa lembar uang ke atas
nampan yang dibawa Icha sebagai tip.
Icha hanya tersenyum sambil menundukkan kepala. Ia
memperbaiki posisi topengnya dan bergegas bangkit.
“Mau ke mana?” tanya Juan sambil menangkap pergelangan
tangan Icha.
“Saya masih harus mengantar minuman ke pelanggan yang
lain,” jawab Icha sambil membungkuk sopan.
Juan tertawa sinis. “Aku udah bayar manager kamu. Kamu cuma
bisa melayani aku sekarang!” pinta Juan sambil menunjuk ke arah manager bar
yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Icha menoleh ke arah managernya. Ia tak bisa membantah
karena manager tersebut mengisyaratkan agar Icha menemani tamunya itu.
“Ma ... maaf, Mas. Sa ... saya harus ...”
Juan menghela napas sambil menatap Icha. “Icha ... Icha ...
kamu pikir, aku nggak bisa ngenalin kamu?” Ia langsung menarik lengan Icha agar
duduk di sebelahnya.
Icha membelalakkan matanya menatap Juan. Ia tak menyangka
kalau Juan mengenalinya.
“Aku sudah buktikan kalau kamu beneran kerja di bar dan
bisa dibeli dengan uang. Kamu tahu kan? Tugasnya pelayan di sini bukan cuma
ngantar minuman. Tapi juga harus melayani dan memuaskan pelanggannya.”
Icha tak menjawab. Ia berusaha melepaskan diri dari
genggaman Juan. “Lepasin aku!”
“Aku udah bayar mahal supaya bisa berduaan sama kamu. Kamu
harus temenin aku minum malam ini ... atau ... aku bakal bikin kamu kehilangan
pekerjaan lagi?”
Icha menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu apa yang
harus ia lakukan sekarang. Ia hanya ingin mendapatkan uang dengan cepat untuk
membiayai perawatan ibunya dan membayar hutang-hutangnya.
Juan tersenyum sambil memerhatikan wajah Icha. “Aku cuma
minta ditemani minum. Itu aja.”
Icha tersenyum kecut. Ia terus melirik manager yang
memerhatikan dirinya dari kejauhan. Ia tidak bisa melawan keinginan
pelanggannya. Semuanya harus ia kerjakan dengan baik.
“Nah, gitu dong! Aku suka gadis cantik yang penurut,” tutur
Juan sambil merangkul tubuh Icha.
Icha menahan napas selama beberapa detik. Sementara, Juan
asyik menenggak minuman yang ada di hadapannya.
“Minum ...!” pinta Juan sambil menyodorkan sloki ke bibir
Icha.
Icha menggelengkan kepala.
“MINUM ...!” sentak Juan.
Icha masih tak mau membuka mulutnya.
Juan tak sabar menunggu Icha menuruti perintahnya.
Tangannya langsung menekan rahang Icha dan membuka paksa mulut gadis tersebut.
“Minum ...!” perintahnya sambil mengucurkan alkohol dari
dalam sloki ke mulut Icha.
“Hahaha.” Juan tertawa bahagia melihat wanita yang
pernah menolaknya, kini tunduk kepadanya. Ia terus memberi minuman ke mulut
Icha.
Icha menitikan air mata saat Juan memaksa untuk
melayaninya.
“Cha, kamu itu cuma barang bekas yang udah nggak diinginkan
lagi sama Lutfi. Udah dipake, terus dibuang begitu aja sama dia,” bisik Juan di
telinga Icha.
Icha tak menanggapi ucapan Juan. Ia memang wanita yang
sangat menyedihkan. Bahkan saat ini, pria yang menjadi pacarnya itu adalah
kakaknya sendiri. Ia sendiri masih tak percaya kalau memiliki hubungan darah
dengan pria yang ia cintai.
“Cha, daripada kamu harus keliaran jadi wanita malam.
Mending, kamu ikut aja! Aku emang nggak sekaya Lutfi. Tapi, aku masih sanggup
memelihara kamu.”
“Kamu pikir, aku binatang peliharaan!?” desis Icha.
Juan terbahak mendengar ucapan Icha. “Bukannya selama ini
... kamu dipelihara sama Lutfi, hah!?” tanya Juan sambil menatap sayu ke arah
Icha.
Icha tak menyahut. Ia terus menatap Juan yang sudah berada
di bawah pengaruh alkohol. “Cowok payah!” batin Icha. “Baru minum sedikit aja,
sudah mabuk.”
Juan terus meracau, berandai-andai menjalani hidupnya
bersama Icha.
Icha semakin risih dengan sikap Juan. Ia mencuri kesempatan
untuk pergi dari sisi Juan yang sudah setengah mabuk.
“Mau ke mana?” tanya Juan saat Icha baru saja mengangkat
pantatnya dari sofa.
Icha menghela napas dan duduk kembali. Ia mulai kesal
dengan sikap Juan yang terus-menerus merendahkan dirinya.
Juan tersenyum sambil menatap Icha. Ia sengaja datang ke
tempat ini untuk mempermalukan Icha. Rasa sakit dalam hatinya masih begitu
membekas saat Icha menolak cintanya mentah-mentah.
Icha menatap wajah Juan yang menyandarkan kepalanya ke
sofa. Sementara, tangan Juan masih saja melingkar di bahu Icha. Perlahan, ia
menyentuh ujung jemari Juan dan merapatkan ke lehernya.
Juan tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia mengira kalau
Icha sudah menyerahkan diri dan akan menjadi miliknya.
“AARGH ...!!!” Juan langsung berteriak saat Icha menggigit
pergelangan tangan, tepat di nadinya.
Icha langsung bangkit dan berlari meninggalkan Juan. Ia
tidak ingin terus-menerus berada di bawah kendali Juan. Pria yang sengaja
mempermalukan dirinya di depan banyak orang.
“Heh!? Perek sialan!” seru Juan sambil bangkit dan mengejar
Icha.
Icha terus berlari. Berusaha menerobos beberapa orang yang
menghalangi jalannya. Namun, langkahnya tetap tak lebih baik dari Juan.
Dengan mudah, Juan meraih tangan Icha. Ia sangat marah
karena Icha berani melawan dirinya. “Aku udah beli kamu. Kamu berani ngelawan
aku, hah!?” sentak Juan.
“Lepasin ...!” pinta Icha sambil berusaha melepas
pergelangan tangannya dari genggaman tangan Juan.
“Aku nggak akan ngelepasin kamu. Perempuan nggak tahu
diri!” sahut Juan sambil melayangkan telapak tangannya ke pipi Icha.
Icha langsung memegang pipinya yang terasa memanas. Air
matanya kembali mengalir. Ia tidak menyangka kalau akan diperlakukan serendah
ini. Terlebih, semua mata di tempat itu memandangnya begitu rendah.
“Hahaha.” Juan tertawa terbahak-bahak. Ia merasa sangat
bahagia bisa menyakiti Icha dengan tangannya sendiri.
“Nggak ada yang mau nolongin perempuan jalang kayak kamu!”
seru Juan. Ia memiliki keberanian yang sangat besar untuk memukul Icha kembali
karena tak ada satu pun orang yang ingin melindungi wanita tersebut.
“Minta tolong, sana! Minta tolong aja!” perintah Juan.
Icha terdiam. Ia hanya memandang orang-orang di sekitarnya
dengan tatapan pilu.
PLAK ...!
PLAK ...!
PLAK ...!
Juan terus tertawa. Ia merasa sangat puas karena bisa
melampiaskan kekesalannya selama ini. Akhirnya, ia sudah bisa membalaskan
dendam dalam hatinya. Wanita yang dulu menolak cintanya, harus bertekuk lutut
di hadapannya. Apa pun cara yang harus ia lakukan.
“Siapa yang mau nolongin dia? Harus berhadapan sama aku!”
seru Juan penuh percaya diri.
Semua orang hanya menatap Juan. Mereka mengasihani Icha,
hanya saja tak memiliki keberanian melihat Juan yang berapi-api menatap gadis
di hadapannya itu.
Tiba-tiba, semua orang menunjuk-nunjuk ke arah belakang
Juan.
Juan tersenyum sinis sambil membalikkan badannya.
BUG ..!
Juan tersungkur ke lantai saat dadanya menerima tendangan
keras dari seseorang yang tiba-tiba muncul dan menyerangnya. Ia meringis sambil
memegangi dadanya yang terasa sakit. Jantungnya berdetak semakin kencang. Ia
langsung mengangkat wajahnya. Menatap tubuh pria yang menjulang di hadapannya.
“Kamu ...!?” Juan membelalakkan matanya. Tubuhnya gemetar
melihat tatapan mata pria yang sudah tak asing lagi di matanya. “Lutfi ...?”
“Aku nggak akan ngebiarin siapa pun menyentuh Icha!” tutur
Lutfi sambil mengepal tangannya erat-erat.
Juan menarik kakinya dan menggeser mundur pantatnya
menjauhi Lutfi. Ia tak memiliki ilmu bela diri sebaik Lutfi. Terlebih, di
belakang Lutfi ada empat orang pria yang bersiap menyerangnya. Ia memilih
untuk melarikan diri.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment