Tuesday, February 10, 2026

Perfect Hero Bab 376 : Be Hero

 


BUG!

BUG!

BUG!

 

Lutfi terus memukuli Juan dengan membabi buta. Ia meluapkan seluruh kemarahannya saat ini ke tubuh Juan.

Tak ada satu pun orang yang berani melerai perkelahian mereka. Juan yang sudah tersungkur di lantai, tak berdaya melawan Lutfi yang sudah duduk di atas tubuhnya.

Satria tertawa terbahak-bahak melihat perkelahian yang ada di depannya. “Nggak ada perlawanan sama sekali. Beraninya mukul cewek. Giliran sama cowok, melempem, kayak kerupuk masuk angin. hahaha.”

Pundak Lutfi naik turun menahan amarah. Ia menatap wajah Juan yang sudah babak belur di tangannya. “Awas kalau sampai berani deketin Icha lagi!” ancamnya sambil mencengkeram kerah kemeja Juan.

Juan tertawa kecil. “Icha udah bukan pacarmu lagi. Dia bisa jadi milik siapa aja.”

“Bangsat, kamu!”

BUG!

Tinjuan tangan Lutfi kembali mendarat di wajah Juan. Ia tak peduli dengan darah segar yang mengalir dari hidung dan mulut pria itu.

“STOP ...!” Manager bar tersebut tiba-tiba datang. “Ada apa ini?” tanyanya.

Lutfi menghentikan pukulan yang hampir mendarat kembali ke wajah Juan. Ia langsung menatap tajam ke arah manager bar tersebut.

“Mas Lutfi?” Manager itu terkejut melihat Lutfi yang berjongkok di hadapannya.

“Kamu kenal?” tanya Satria pada Lutfi.

Lutfi bangkit dan berdiri di hadapan manager tersebut. Ia langsung menarik tangan Icha yang tak jauh darinya.

“Kamu nggak tahu gimana tamu kamu ini memperlakukan karyawan kamu, hah!?” tanya Lutfi kesal.

Manager tersebut menatap Icha yang sedang memegang pipinya. Sisa-sia air mata masih terlihat jelas di sudut-sudut matanya. “Ma ... maafkan saya, Mas!”

“Kamu nggak tahu dia siapa?” tanya Lutfi.

Manager tersebut menggelengkan kepala.

“Dia orangku!” tegas Lutfi sambil menarik lengan Icha keluar dari tempat tersebut.

Manager tersebut tersenyum kecut. Ia menatap Yeriko yang juga ada di sana. “Pak Ye ...!” sapanya canggung.

Yeriko tersenyum sambil menatap manager tersebut. “Dia orangku. Aku ambil!” pintanya.

“Iya, silakan! Maaf, saya nggak tahu kalau dia itu orangnya Pak Ye.”

Yeriko tersenyum sambil menepuk pundak manager tersebut. “Blacklist dia dari sini atau usaha kamu yang saya blacklist.” Yeriko melangkah pergi sambil menendang kaki Juan terlebih dahulu.

Chandra dan Riyan mengikuti langkah Yeriko dari belakang. Mereka sengaja melangkahi kaki Juan tanpa berkata apa-apa.

“Huu ... banci! Beraninya sama cewek doang,” dengus Satria sambil mengetuk kepala Juan.

Mereka berempat bergegas melangkah keluar meninggalkan bar tersebut.

 

Di luar bar, Lutfi terus menggenggam pergelangan tangan Icha sambil melangkahkan kakinya.

“Lepasin, Lut!” pinta Icha lirih sambil menghentikan langkahnya.

Lutfi tak mendengarkan ucapan Icha.

Icha berusaha mempertahankan tubuhnya. “Lepasin, aku!” pintanya lagi.

Lutfi menghela napas sambil membalikkan tubuhnya.

“Cha, kamu itu punyaku. Kenapa malah kerja di bar? Ngelayani cowok-cowok hidung belang itu!” seru Lutfi kesal.

“Kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kamu nggak perlu ikut campur sama urusanku!” pinta Icha sambil menatap wajah Lutfi.

Lutfi membelalakkan matanya mendengar ucapan Icha. “Kita masih punya hubungan kontrak. Aku udah beli kamu. Kamu nggak bisa pergi gitu aja dari aku!” sahut Lutfi.

“Ya. Kamu memang udah beli aku. Tapi, sekarang kita udah nggak bisa punya hubungan apa-apa lagi. Aku nggak bisa menerima kamu sebagai kakakku. Lebih baik, kita nggak usah ketemu lagi!” tegas Icha.

“Cha, kamu masih bisa jadi adikku. Aku bisa nerima kamu sebagai apa pun. Asal, jangan pergi dari aku, please!” pinta Lutfi.

Icha menggelengkan kepala. “Aku bukan siapa-siapa kamu, Lut. Hubungan kita cuma karena uang. Kamu nggak pernah beneran cinta sama aku. Aku juga nggak pernah cinta sama kamu. Sekarang, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku bakal balikin semua hutang-hutangku ke kamu.”

“Aku nggak peduli sama uang itu. Aku cuma mau kamu, Cha!” seru Lutfi sambil menggenggam kedua pundak Icha.

“Kamu nggak peduli sama uang itu karena kamu sudah terlahir sebagai anak orang kaya. Sedangkan aku, hidupku sangat sederhana. Aku nggak bisa terus-menerus berhutang dan terikat sama kamu. Aku bakal balikin semua hutangku dengan usahaku sendiri. Mulai sekarang, kita nggak usah ketemu lagi!” Icha melepas tangan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.

Lutfi terdiam sejenak. Lalu, ia mengejar Icha kembali. “Cha, kita belum terbukti kalau memang kakak-beradik. Sekalipun kamu memang adikku, aku akan tetap sayang sama kamu.”

Icha tak memperdulikan ucapan Lutfi.

“Cha ...!”

“Icha ...!” Lutfi berlari mengejar Icha dan memeluknya dari belakang. “Jangan tinggalin aku!” bisiknya lirih. “Aku bakal ngelakuin apa pun, asal kamu tetap tinggal.”

“Aku nggak bisa,” jawab Icha sambil menahan air matanya jatuh ke pipi.

“Cha, apa kamu nggak bisa menerima aku sebagai kakak kamu?” tanya Lutfi lagi.

Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa, Lut. Aku nggak sanggup menghadapi masa depan setelah ini. Aku nggak akan sanggup ada di samping kamu. Menerima kamu jadi kakakku, artinya harus siap melihat kamu hidup bahagia dengan wanita lain. Biarkan aku pergi dan nggak perlu merasakan sakit yang lebih dalam lagi!” pinta Icha lirih.

Lutfi terus mengeratkan pelukannya. Ia masih tak rela jika harus melepaskan Icha. “Cha, kalau kita memang beneran kakak-beradik. Kenapa harus ada cinta di antara kita? Cinta yang berbeda dengan hubungan saudara,” bisik Lutfi sambil mengendus telinga Icha.

Icha memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam. “Lepasin aku, Lut!” pintanya lirih. “Anggap aja, kita nggak pernah saling mengenal!” lanjutnya sambil meneteskan air mata. Ia melepas pelukkan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.

Lutfi terpaku menatap tubuh Icha yang perlahan menjauh darinya. Ia mengerjap perlahan saat bayangan Icha mulai menghilang dari pandangannya. Wajahnya semakin memucat dan ia kehilangan penglihatannya secara perlahan. Hingga ia tak bisa mengendalikan tubuhnya dan terhuyung ke tanah.

“Lutfi ...!” teriak Chandra dari kejauhan.

Icha langsung memutar kepala saat mendengar teriakan Chandra. Ia melihat tubuh Lutfi yang sudah tersungkur ke tanah. “Lut ... Lutfi ...!” seru Icha sambil berlari menghampiri tubuh Lutfi.

Chandra langsung mengangkat kepala Lutfi dan memangkunya. “Lut ...!” panggil Chandra sambil menepuk perlahan pipi Lutfi. Ia menatap perut Lutfi yang kembali mengeluarkan darah.

Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menangkup wajah Lutfi dengan kedua telapak tangannya. “Bangun, Lut ...!” pintanya sambil menangis. Ia menyingkap baju Lutfi yang berdarah. Tangisan Icha semakin keras saat melihat luka yang ada di perut Lutfi.

“Semua ini salahku,” tutur Icha sambil menatap darah yang mengalir di perut Lutfi. “Nggak seharusnya aku bikin kamu kayak gini.”

Satria langsung membantu mengangkat tubuh Lutfi. “Kita bawa balik ke rumah sakit secepatnya!”

Chandra mengangguk. Mereka segera memasukkan tubuh Lutfi ke dalam mobil Chandra.

Chandra bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit diikuti dengan mobil Yeriko di belakangnya.

Icha terus menangis histeris sambil memeluk kepala Lutfi. Ia telah melukai Lutfi dan sekarang, Lutfi justru mengorbankan diri untuk menyelamatkan dirinya. Perasaan Icha semakin tak karuan.

Sepanjang perjalanan, Icha terus diselimuti rasa bersalah. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Di saat ia berusaha membenci Lutfi dan orang-orang di sekitarnya, mereka justru sangat peduli dengan keadaan Icha.

“Aku harus gimana?” batin Icha. Ia tidak ingin membawa semua orang ke dalam penderitaannya. Semua sahabat Lutfi sangat baik dan hal ini membuat Icha sangat malu. Ia tidak bisa membalas kebaikan semua orang yang begitu peduli dengannya. Ia pikir, dengan menghilang dari kehidupan mereka, itu akan membuat semuanya menjadi lebih baik.

 

 ((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat nulis.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas