BUG!
BUG!
BUG!
Lutfi terus memukuli Juan dengan membabi buta. Ia meluapkan
seluruh kemarahannya saat ini ke tubuh Juan.
Tak ada satu pun orang yang berani melerai perkelahian
mereka. Juan yang sudah tersungkur di lantai, tak berdaya melawan Lutfi yang
sudah duduk di atas tubuhnya.
Satria tertawa terbahak-bahak melihat perkelahian yang ada
di depannya. “Nggak ada perlawanan sama sekali. Beraninya mukul cewek. Giliran
sama cowok, melempem, kayak kerupuk masuk angin. hahaha.”
Pundak Lutfi naik turun menahan amarah. Ia menatap wajah
Juan yang sudah babak belur di tangannya. “Awas kalau sampai berani deketin
Icha lagi!” ancamnya sambil mencengkeram kerah kemeja Juan.
Juan tertawa kecil. “Icha udah bukan pacarmu lagi. Dia bisa
jadi milik siapa aja.”
“Bangsat, kamu!”
BUG!
Tinjuan tangan Lutfi kembali mendarat di wajah Juan. Ia tak
peduli dengan darah segar yang mengalir dari hidung dan mulut pria itu.
“STOP ...!” Manager bar tersebut tiba-tiba datang. “Ada apa
ini?” tanyanya.
Lutfi menghentikan pukulan yang hampir mendarat kembali ke
wajah Juan. Ia langsung menatap tajam ke arah manager bar tersebut.
“Mas Lutfi?” Manager itu terkejut melihat Lutfi yang
berjongkok di hadapannya.
“Kamu kenal?” tanya Satria pada Lutfi.
Lutfi bangkit dan berdiri di hadapan manager tersebut. Ia
langsung menarik tangan Icha yang tak jauh darinya.
“Kamu nggak tahu gimana tamu kamu ini memperlakukan
karyawan kamu, hah!?” tanya Lutfi kesal.
Manager tersebut menatap Icha yang sedang memegang pipinya.
Sisa-sia air mata masih terlihat jelas di sudut-sudut matanya. “Ma ... maafkan
saya, Mas!”
“Kamu nggak tahu dia siapa?” tanya Lutfi.
Manager tersebut menggelengkan kepala.
“Dia orangku!” tegas Lutfi sambil menarik lengan Icha
keluar dari tempat tersebut.
Manager tersebut tersenyum kecut. Ia menatap Yeriko yang
juga ada di sana. “Pak Ye ...!” sapanya canggung.
Yeriko tersenyum sambil menatap manager tersebut. “Dia
orangku. Aku ambil!” pintanya.
“Iya, silakan! Maaf, saya nggak tahu kalau dia itu orangnya
Pak Ye.”
Yeriko tersenyum sambil menepuk pundak manager tersebut.
“Blacklist dia dari sini atau usaha kamu yang saya blacklist.” Yeriko melangkah
pergi sambil menendang kaki Juan terlebih dahulu.
Chandra dan Riyan mengikuti langkah Yeriko dari belakang.
Mereka sengaja melangkahi kaki Juan tanpa berkata apa-apa.
“Huu ... banci! Beraninya sama cewek doang,” dengus Satria
sambil mengetuk kepala Juan.
Mereka berempat bergegas melangkah keluar meninggalkan bar
tersebut.
Di luar bar, Lutfi terus menggenggam pergelangan tangan
Icha sambil melangkahkan kakinya.
“Lepasin, Lut!” pinta Icha lirih sambil menghentikan
langkahnya.
Lutfi tak mendengarkan ucapan Icha.
Icha berusaha mempertahankan tubuhnya. “Lepasin, aku!”
pintanya lagi.
Lutfi menghela napas sambil membalikkan tubuhnya.
“Cha, kamu itu punyaku. Kenapa malah kerja di bar?
Ngelayani cowok-cowok hidung belang itu!” seru Lutfi kesal.
“Kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi. Kamu nggak
perlu ikut campur sama urusanku!” pinta Icha sambil menatap wajah Lutfi.
Lutfi membelalakkan matanya mendengar ucapan Icha. “Kita
masih punya hubungan kontrak. Aku udah beli kamu. Kamu nggak bisa pergi gitu
aja dari aku!” sahut Lutfi.
“Ya. Kamu memang udah beli aku. Tapi, sekarang kita udah
nggak bisa punya hubungan apa-apa lagi. Aku nggak bisa menerima kamu sebagai
kakakku. Lebih baik, kita nggak usah ketemu lagi!” tegas Icha.
“Cha, kamu masih bisa jadi adikku. Aku bisa nerima kamu
sebagai apa pun. Asal, jangan pergi dari aku, please!” pinta Lutfi.
Icha menggelengkan kepala. “Aku bukan siapa-siapa kamu,
Lut. Hubungan kita cuma karena uang. Kamu nggak pernah beneran cinta sama aku.
Aku juga nggak pernah cinta sama kamu. Sekarang, kita udah nggak ada hubungan
apa-apa lagi. Aku bakal balikin semua hutang-hutangku ke kamu.”
“Aku nggak peduli sama uang itu. Aku cuma mau kamu, Cha!”
seru Lutfi sambil menggenggam kedua pundak Icha.
“Kamu nggak peduli sama uang itu karena kamu sudah terlahir
sebagai anak orang kaya. Sedangkan aku, hidupku sangat sederhana. Aku nggak
bisa terus-menerus berhutang dan terikat sama kamu. Aku bakal balikin semua
hutangku dengan usahaku sendiri. Mulai sekarang, kita nggak usah ketemu lagi!”
Icha melepas tangan Lutfi perlahan dan melangkah pergi.
Lutfi terdiam sejenak. Lalu, ia mengejar Icha kembali.
“Cha, kita belum terbukti kalau memang kakak-beradik. Sekalipun kamu memang
adikku, aku akan tetap sayang sama kamu.”
Icha tak memperdulikan ucapan Lutfi.
“Cha ...!”
“Icha ...!” Lutfi berlari mengejar Icha dan memeluknya dari
belakang. “Jangan tinggalin aku!” bisiknya lirih. “Aku bakal ngelakuin apa pun,
asal kamu tetap tinggal.”
“Aku nggak bisa,” jawab Icha sambil menahan air matanya
jatuh ke pipi.
“Cha, apa kamu nggak bisa menerima aku sebagai kakak kamu?”
tanya Lutfi lagi.
Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa, Lut. Aku nggak
sanggup menghadapi masa depan setelah ini. Aku nggak akan sanggup ada di
samping kamu. Menerima kamu jadi kakakku, artinya harus siap melihat kamu hidup
bahagia dengan wanita lain. Biarkan aku pergi dan nggak perlu merasakan sakit
yang lebih dalam lagi!” pinta Icha lirih.
Lutfi terus mengeratkan pelukannya. Ia masih tak rela jika
harus melepaskan Icha. “Cha, kalau kita memang beneran kakak-beradik. Kenapa
harus ada cinta di antara kita? Cinta yang berbeda dengan hubungan saudara,”
bisik Lutfi sambil mengendus telinga Icha.
Icha memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.
“Lepasin aku, Lut!” pintanya lirih. “Anggap aja, kita nggak pernah saling
mengenal!” lanjutnya sambil meneteskan air mata. Ia melepas pelukkan Lutfi
perlahan dan melangkah pergi.
Lutfi terpaku menatap tubuh Icha yang perlahan menjauh
darinya. Ia mengerjap perlahan saat bayangan Icha mulai menghilang dari
pandangannya. Wajahnya semakin memucat dan ia kehilangan penglihatannya secara
perlahan. Hingga ia tak bisa mengendalikan tubuhnya dan terhuyung ke tanah.
“Lutfi ...!” teriak Chandra dari kejauhan.
Icha langsung memutar kepala saat mendengar teriakan
Chandra. Ia melihat tubuh Lutfi yang sudah tersungkur ke tanah. “Lut ... Lutfi
...!” seru Icha sambil berlari menghampiri tubuh Lutfi.
Chandra langsung mengangkat kepala Lutfi dan memangkunya.
“Lut ...!” panggil Chandra sambil menepuk perlahan pipi Lutfi. Ia menatap perut
Lutfi yang kembali mengeluarkan darah.
Icha langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan menangkup
wajah Lutfi dengan kedua telapak tangannya. “Bangun, Lut ...!” pintanya sambil
menangis. Ia menyingkap baju Lutfi yang berdarah. Tangisan Icha semakin keras
saat melihat luka yang ada di perut Lutfi.
“Semua ini salahku,” tutur Icha sambil menatap darah yang
mengalir di perut Lutfi. “Nggak seharusnya aku bikin kamu kayak gini.”
Satria langsung membantu mengangkat tubuh Lutfi. “Kita bawa
balik ke rumah sakit secepatnya!”
Chandra mengangguk. Mereka segera memasukkan tubuh Lutfi ke
dalam mobil Chandra.
Chandra bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit
diikuti dengan mobil Yeriko di belakangnya.
Icha terus menangis histeris sambil memeluk kepala Lutfi.
Ia telah melukai Lutfi dan sekarang, Lutfi justru mengorbankan diri untuk
menyelamatkan dirinya. Perasaan Icha semakin tak karuan.
Sepanjang perjalanan, Icha terus diselimuti rasa bersalah.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Di saat ia berusaha membenci
Lutfi dan orang-orang di sekitarnya, mereka justru sangat peduli dengan keadaan
Icha.
“Aku harus gimana?” batin Icha. Ia tidak ingin membawa
semua orang ke dalam penderitaannya. Semua sahabat Lutfi sangat baik dan hal
ini membuat Icha sangat malu. Ia tidak bisa membalas kebaikan semua orang yang
begitu peduli dengannya. Ia pikir, dengan menghilang dari kehidupan mereka, itu
akan membuat semuanya menjadi lebih baik.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment