“Jhen, aku titip istriku ya!” tutur Yeriko saat ia baru
turun dari mobil untuk mengantar Yuna ke rumah sakit.
Jheni mengangguk sambil tersenyum. “Siap, Pak Bos!”
“Jangan lupa, yang aku pesenin tadi!” bisik Yeriko di
telinga Yuna.
Yuna menganggukkan kepala.
“Aku kerja dulu,” tutur Yeriko sambil mengecup pipi Yuna.
“Eyuuh ... mesra-mesraan teroos ...!” seru Jheni sambil
menatap langit.
“Emang kayak gini mesra?” tanya Yuna sambil tersenyum
menatap Jheni.
Yeriko tertawa kecil. “Chandra nggak pernah cium pipi kamu
kalo mau berangkat kerja?” godanya.
Jheni membelalakkan matanya. “Kita belum nikah. Dia
berangkat kerja ya berangkat aja!”
“Emangnya aku nggak tahu kalau kamu sering nginap di
apartemen Chandra?” tanya Yeriko.
Jheni mendelik ke arah Yeriko.
Yeriko tertawa kecil dan bergegas melangkah pergi.
“Yun, suami kamu ... bener-bener nyebelin! Lebih nyebelin
dari kamu,” tutur Jheni kesal.
Yuna hanya tertawa mendengar ucapan Jheni. “Dia Emang bener
‘kan?”
“Kamu belain dia, hah!?”
“Iya, dong. Suami tercintah ...,” jawab Yuna sambil menarik
lengan Jheni masuk ke rumah sakit tersebut.
“Kamu bawain apa buat Lutfi?” tanya Jheni.
“Bubur ayam. Yeri bilang, Lutfi pengen makan bubur ayam.”
“Aku nggak dibawain?” tanya Jheni sambil melangkah
menyusuri koridor rumah sakit.
“Masak sendiri!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.
“Pelit,” celetuk Jheni sambil mengerutkan hidungnya.
Yuna tertawa kecil. Mereka bergegas menuju bangsal tempat
Lutfi dirawat.
Yuna dan Jheni melangkah masuk ke dalam ruang rawat Lutfi.
Mereka menghentikan langkahnya saat tatapan mata mereka bertemu dengan sepasang
mata milik Icha.
Icha terpaku menatap Yuna dan Jheni. Ia teringat beberapa
hari lalu saat bertemu Yuna di kafe. Kali ini, ia benar-benar ingin memindahkan
wajahnya ke tempat lain. Terlebih, senyum tulus di bibir Yuna, membuat dirinya
merasa bersalah.
“Kakak Ipar? Kenapa ngelamun? Sini!” sapa Lutfi.
Yuna langsung tersenyum ke arah Lutfi. Ia bergegas
menghampiri Lutfi sambil meletakkan bubur yang ia bawa ke atas nakas. “Gimana?
Udah baikan?” tanya Yuna.
Lutfi menganggukkan kepala.
“Besok, berantem lagi ya!” pinta Yuna. “Biar makin lama di
rumah sakit.”
Lutfi tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna. “Iya. Aku betah
di sini. Banyak perawat cantik.”
“Oh, gitu? Mau aku tusuk lagi? Biar abadi di rumah sakit,”
sahut Jheni.
Lutfi tertawa kecil. “Kamu jahat banget, Jhen.”
“Mulutku aja yang jahat. Tanganku nggak akan punya nyali
nusuk temen. Apalagi pacar sendiri,” sahut Jheni sambil melirik Icha yang
berdiri di sebelah Lutfi.
Icha hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Jheni.
Yuna dan Lutfi saling pandang. Kemudian, mereka menatap
Icha dan Jheni yang terlihat sedang berperang dengan batin masing-masing.
“Jhen, jangan gitu!” bisik Yuna. “Icha nggak sengaja
melukai Lutfi.”
“Nggak sengaja apanya? Empat hari yang lalu, dia nusuk
Lutfi. Abis itu kabur. Sekarang, dia bikin Lutfi masuk rumah sakit lagi. Nggak
punya perasaan!”
“Jhen ...!” Yuna langsung menarik lengan Jheni menjauh dari
Icha. Ia sangat mengetahui emosi Jheni yang tidak stabil. “Nggak usah merusak
suasana. Icha sudah mengakui kesalahannya. Kasihan dia.”
“Kamu ini, Yun. Masih aja mau baik sama orang yang udah
jahatin kamu.”
“Jhen, kamu kenapa kayak gini? Icha itu temen kita juga.”
“Biar aja. Biar dia sadar diri.”
“Kalian ini kenapa sih?” tanya Lutfi.
Ketiga wanita itu saling diam.
“Jhen, Icha bukan sengaja nusuk aku. Kamu nggak perlu
memojokkan dia seperti ini,” pinta Lutfi.
“Nggak papa, Lut. Emang aku yang salah. Aku pantes buat
nerima ini semua,” ucap Icha lirih.
Lutfi menghela napas sambil menatap Jheni.
Jheni masih saja bersikap angkuh. Ia tidak berniat
berbaikan dengan Icha, setelah apa yang Icha lakukan di belakangnya.
“Jhen ...!” panggil Yuna lirih sambil menarik lengan Jheni.
Matanya memohon agar Jheni bisa bersikap baik dengan Icha.
“Eergh ...! Kamu ini, Cha. Kalo nggak inget temenku, udah
aku cakar-cakar sampe habis!” seru Jheni sambil menatap wajah Icha.
Icha tak membalas ucapan Jheni. Ia membiarkan Jheni
meluapkan semua amarahnya kali ini. Ia harap, semua ini bisa membuat Jheni
mengerti dirinya.
Yuna menatap Lutfi yang masih terbaring di ranjangnya.
Kemudian, ia beralih menatap Icha yang masih terpaku di tempatnya. “Cha, ikut
aku sebentar!” pintanya sambil menarik lengan Icha.
Yuna bergegas membawa Jheni dan Icha ke taman rumah sakit
tersebut untuk membahas masalah yang terjadi pada mereka. Ia tidak ingin,
kesalahpahaman antar ketiganya menjadi berlarut-larut.
“Sorry ...!” Icha menundukkan kepala. Hanya kalimat itu
yang sanggup keluar dari mulutnya. Sedang kalimat yang lain, tertahan di
dadanya dan terasa begitu sesak.
“Kamu nggak peduli sama kita? Kita semua khawatir nyari
kamu. Berhari-hari nyari keberadaan kamu. Kenapa sih harus menghindar? Kamu
pikir, kamu doang yang punya masalah di sini. Katanya, selama ini kita teman?
Apa kita ini nggak berguna buat kamu? Sampe kamu nggak mau menganggap
keberadaan kita?” seru Jheni sambil menahan air matanya.
Icha tak bisa menahan air matanya jatuh berderai. “Maafin,
aku ...! Aku nggak mau membebani kalian ...”
“Kenapa? Kamu udah hebat? Bisa nyelesaikan semuanya
sendiri? Lihat! Kamu malah bikin repot dan bikin semua orang khawatir!” sahut
Jheni kesal.
Icha terduduk lemas sambil menutup wajahnya. Ia pikir,
pergi adalah cara yang tepat agar tak melibatkan semua orang yang ia sayangi.
“Cha, kalo dari awal kamu nggak ngotot nutupin masalah kamu
sendiri. Semuanya nggak bakal kayak gini. Lutfi nggak perlu masuk rumah sakit.
Chandra, Riyan, Satria, suaminya Yuna ... mereka nggak akan buang-buang waktu
buat nyari kamu dan ibu kamu itu,” tutur Jheni.
“Bahkan semalem, mereka nggak tidur cuma buat mastiin kalo
nggak kabur lagi. Kamu sadar, nggak sih? Apa yang kamu lakuin ini, justru bikin
repot semua orang!” seru Jheni kesal.
Icha semakin terisak. Ia sangat menyadari apa yang telah ia
lakukan saat ini.
“Jhen, udah marahnya!” pinta Yuna sambil memeluk tubuh
Icha.
Jheni menatap wajah Icha. “Cha, aku kayak gini karena
peduli sama kamu. Kita semua nganggap kamu seperti keluarga. Kamu malah
menganggap kita orang lain?”
Icha menggelengkan kepala.
“Ya udah, nggak usah nangis!” seru Jheni. “Sekarang, kita
harus mikirin solusi buat permasalahan ini.”
Icha menatap wajah Jheni. Ia langsung menghapus air
matanya. Makian dari Jheni, begitu membuatnya bahagia. Sebab, ia tahu kalau
Jheni sangat menyayangi dirinya.
“Kamu nggak usah seneng dulu!” tutur Jheni sambil menatap
wajah Icha.
Icha terdiam sejenak.
“Kamu harus mau tes DNA sama Lutfi!”
Icha menggelengkan kepala.
“Kenapa?” tanya Yuna.
“Aku takut, Yun.”
“Apa sih yang kamu takutin?”
“Aku takut nerima kenyataan yang sebenarnya.”
“Cha, kamu nggak bakal tahu apa yang sebenarnya kalo nggak
mau tes. Bisa aja, kalian nggak punya hubungan apa-apa.”
“Iya. Kamu jangan langsung percaya sama omongan mama kamu.
Bisa aja, dia memang mengada-ngada.”
“Yun, golongan darah aku sama Lutfi itu sama. Kenapa masih
harus tes DNA? Semua keluarga Lutfi juga sudah mengakui kalau aku adalah bagian
dari keluarga mereka.”
“Udah ketemu langsung sama ayahnya Lutfi?”
Icha menggelengkan kepala. “Beliau masih di luar negeri.
Tapi, pernyataan nenek dan semua pelayan lama di keluarga itu. Membuat kami
yakin kalau kami berdua memang kakak-beradik.”
“Kamu yakin?” tanya Jheni.
Icha menganggukkan kepala.
Jheni memerhatikan wajah Icha. “Muka kamu sama Lutfi, emang
mirip sih. Tapi ... aku nggak yakin kalian beneran kakak-adik kalau belum tes
DNA.”
“Iya, Cha. Tes dulu ya!” pinta Yuna. “Apa pun hasilnya
nanti. Setidaknya, kita sudah berusaha untuk membuktikan. Kalian juga tetap
bisa bersama. Saling menyayangi sebagai kakak-beradik. Jangan sampai, masalah
ini bikin hubungan pertemanan kita jadi berantakan.”
Icha menatap wajah Yuna. “Maafin aku, Yun. Masalah di kafe
kemarin ...”
“Udah, lupain aja!” pinta Yuna. “Aku tahu kamu ngomong itu nggak dari hati.”
Icha langsung memeluk tubuh Yuna. “Maafin aku, Yun ...!”
bisiknya.
“Kamu nggak minta maaf sama aku?” tanya Jheni.
Icha tertawa kecil. “Iya. maafin aku, Jhen ...!”
Ketiga sahabat itu saling berpelukan. Semilir angin dan
dedauanan yang menari, menjadi saksi hangatnya persahabatan mereka. Sesulit apa
pun masalah yang dihadapi, sahabat akan tetap saling berpelukan.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment