Icha terus terisak di depan ruang tunggu ruang Instalasi
Gawat Darurat. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang telah ia lakukan pada
Lutfi.
“Cha, Lutfi nggak pernah sampe kayak gini. Apa kamu nggak
bisa menghargai dia sedikit aja?” tanya Chandra yang berdiri di hadapan Icha.
“Hush, jangan bikin suasana tambah runyam!” sela Yeriko.
“Yer, kalau bukan karena keegoisan dia. Lutfi nggak akan
jadi kayak gini,” sahut Chandra kesal.
Icha hanya bisa menangis. Ia tidak bisa memungkiri apa pun.
Semua ini memang ia yang salah. Ia tak punya alasan untuk membela dirinya
sendiri.
“Cha, kamu ngerasa sudah hebat karena bikin Lutfi kayak
gini?” tanya Chandra sambil menatap Icha yang masih terduduk di hadapannya.
“Hiks ... hiks ...!” Icha menengadahkan kepalanya menatap
Chandra. “Aku juga nggak mau kayak gini. Tapi ...”
“Ck, Chan ... dia udah nangis-nangis kayak gini, masih aja
kamu marahin. Kasihan,” bisik Satria.
“Dia aja nggak punya belas kasihan sama sekali sama Lutfi!”
sahut Chandra. Ia masih sangat kesal setiap kali melihat wajah Icha.
“Udah, udah. Kita ngopi dulu! Lutfi pasti baik-baik aja,”
sela Satria sambil menepuk-nepuk bahu Chandra. Ia mengajak Chandra untuk pergi
dari tempat tersebut. Ia bisa menyadari kalau Chandra masih menyimpan emosi
setiap kali berhadapan dengan Icha.
“Yan, tolong beli air minum!” perintah Yeriko pada Riyan
yang masih berdiri di sebelahnya.
“Siap, Pak Bos!” Riyan mengangguk dan bergegas pergi untuk
membelikan air minum.
Yeriko menghela napas sambil duduk di dekat Icha. “Cha,
kenapa kamu jadi seperti ini?” tanyanya.
Icha menghapus air matanya. “Aku nggak tahu kalau semuanya
jadi serumit ini.”
“Apa harus sampai melukai Lutfi?” tanya Yeriko.
Icha menggelengkan kepala. “Aku nggak sengaja melukai
Lutfi.”
Yeriko tersenyum kecil. “Aku udah tahu semuanya dari
Lutfi.”
Icha terdiam sesaat. Ia rasa, tak perlu mengatakan apa-apa
di hadapan Yeriko.
“Apa yang terjadi sama Mama kamu?” tanya Yeriko tanpa
basa-basi.
“Mama!? Kamu tahu?”
Yeriko menganggukkan kepala.
“Aku juga nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama dia.
Sejak kejadian penusukan itu. Dia semakin aneh. Dia suka ngomong sendiri.
Kadang ketawa, kadang ketakutan. Aku nggak bisa ajak dia berkomunikasi.”
“Ayah kamu gimana?”
“Abah belum aku kasih tahu soal kondisi mama. Aku berharap
kalau mama bisa sembuh. Dia masih sibuk ngurus usahanya di Kalimantan. Aku juga
nggak mau bikin abahku khawatir.”
“Dia bukan pura-pura gila buat menghindar dari jeratan
hukum ‘kan?” tanya Yeriko lagi.
Icha langsung membelalakkan matanya. “Kenapa kamu punya
pikiran seperti itu?”
Yeriko tersenyum sinis. “Lutfi mungkin bisa ngelepasin dia.
Tidak dengan aku!” tegas Yeriko.
“Yer, aku mohon ... jangan laporin mamaku!” pinta Icha.
“Kamu laporin aku aja!”
“Kita lihat aja nanti!” sahut Yeriko dingin.
Icha langsung meraih lengan Yeriko. Ia ingin memohon agar
Yeriko melepaskan mamanya.
Yeriko langsung menatap tangan Icha yang menggenggam
lengannya.
“Sorry ...!” tutur Icha lirih sambil melepaskan tangannya
perlahan. “Aku mohon, aku bakal ngelakuin apa aja asal kalian nggak laporan
mama.”
“Kamu nggak lihat, gimana reaksi Chandra? Dia nggak pernah
semarah itu. Apa yang sudah mama kamu lakuin, udah keterlaluan.”
Icha menundukkan kepala sambil meremas jemari tangannya.
“Kalau nyawa Lutfi melayang, kamu bisa ganti pake apa?”
tanya Yeriko lagi.
Icha kembali menitikan air matanya. Sekarang, semua orang
menyudutkan dirinya. Semua yang terjadi pada Lutfi, memang hasil perbuatan
ibunya dan ia siap menanggung semuanya. Mempertanggungjawabkan kesalahan
mamanya di depan semua orang.
“Neneknya Lutfi belum tahu soal ini. Kalau sampai dia tahu.
Aku nggak bisa menjamin kamu dan ibu kamu bisa selamat.”
Icha tak bisa menyanggah ucapan Yeriko. Ia memilih menerima
semua hal yang diucapkan Yeriko dan lainnya saat ini. Ia tahu, semuanya sangat
menghargai pertemanan dan menyayangi Lutfi.
“Udah, Cha. Nggak usah nangis!” pinta Yeriko. “Pusing
kepalaku dengar orang nangis. Kamu temenin Lutfi kalo dia udah selesai dapet
pertolongan dari dokter. Hapus air matamu, dandan yang cantik! Ntar si Lutfi
pingsan lagi kalo lihat mukamu kacau kayak gini,” tutur Yeriko sambil bangkit
dari tempat duduknya.
“Riyan sama yang lain, bakal temenin kamu di sini. Kalo
butuh sesuatu, tinggal ngomong aja. Aku pulang duluan, nggak bisa ninggalin
Yuna terlalu lama,” pamit Yeriko sambil melangkah pergi meninggalkan Icha.
Icha menganggukkan kepala. Ia terus menunggu Lutfi di depan
pintu ruang IGD.
...
Begitu sampai di rumah, Yeriko mengerutkan dahi menatap
istrinya yang masih duduk bersandar di atas tempat tidur. “Kenapa nggak tidur?”
“Eh!? Sudah pulang?” Yuna langsung menoleh ke arah pintu
dan bergegas menghampiri Yeriko.
Yeriko menganggukkan kepala sambil melepas kancing
kemejanya. “Udah tengah malam gini, kenapa nggak tidur?”
“Aku nggak bisa tidur. Gimana Icha? Udah ketemu?” tanya
Yuna.
Yeriko mengangguk sambil melangkah mendekati ranjang dan
merebahkan tubuhnya.
“Terus?” Yuna berdiri tepat di depan kaki Yeriko.
“Apanya?”
“Ichanya gimana? Dia baik-baik aja?”
Yeriko menganggukkan kepala sambil memejamkan mata.
“Sekarang, dia di mana?”
“Di rumah sakit.”
“Hah!? Dia kenapa?”
“Dia baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil mengangkat
tubuhnya dan menatap wajah Yuna. “Lutfi yang masuk IGD lagi.”
“Dia kenapa lagi?”
“Berantem di bar.”
“Dia masih sakit, bisa-bisanya malah ke bar dan berantem,”
gerutu Yuna.
“Kayak nggak tahu Lutfi aja. Kalo punya kemauan, nggak bisa
dicegah,” ucap Yeriko sambil menarik tubuh Yuna ke pangkuannya.
“Terus, gimana keadaan Lutfi sekarang?”
“Baik-baik aja. Kenapa kamu nanyain Lutfi terus? Aku nggak
ditanyain?”
Yuna menautkan alis sambil memerhatikan wajah Yeriko. “Are
you oke?”
Yeriko menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Aku lihat, semua baik-baik aja. Hidung masih
mancung, mata masih dua, telinga masih lengkap, pipi masih mulus, bibir masih
...” Yuna tersenyum dan langsung mengecup bibir Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil. “Lain kali, jangan tunggu aku
pulang, ya!” pinta Yeriko.
“Kenapa?”
“Kasihan si Dedek Bayi kalo diajak begadang terus sama
mamanya.”
“Aku kan nggak bisa tidur kalo belum ditidurin,” sahut Yuna
sambil tertawa kecil.
Yeriko tergelak. “Sini, aku tidurin!” ucapnya sambil
membaringkan tubuh Yuna ke atas kasur. Tangannya yang kekar, mengelus lembut
rambut Yuna sampai ke pinggulnya.
Desahan kecil keluar dari bibir Yuna yang mungil dan
membuat Yeriko semakin bergairah. “Yang aku belikan, pas?” tanya Yeriko sambil
bermain di tubuh istrinya.
Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, ya!”
“Makasih buat apa?” sahut Yeriko.
“Udah dibeliin yang baru. Nggak begah lagi.”
Yeriko tertawa kecil. “Udah kewajiban aku memenuhi semua
kebutuhan kamu.”
Yuna tersenyum sambil memainkan ujung jemarinya di dada
Yeriko. “Besok, aku ke rumah sakit jenguk Lutfi, ya. Icha ada di sana kan?”
Yeriko menganggukkan kepala.
“Sekarang, Icha tinggal di mana?”
Yeriko terdiam sejenak. “Iya ya? Dia tinggal di mana?”
“Kamu nggak cari tahu tempat tinggal dia?”
“Nggak kepikiran. Apalagi dia nangis-nangis terus sambil
nungguin Lutfi di rumah sakit. Besok, kamu tanya langsung aja ke dia!”
Yuna menghela napas dan menganggukkan kepala. Ia harap,
Icha bisa lebih terbuka dan tidak menghindari dirinya lagi.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
nulis.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment