Saturday, October 18, 2025

Perfect Hero Bab 309 : Kemeja untuk Yeriko

 


“Yuna, ini ada apa?” tanya Adjie sambil menghampiri Yuna.

Yuna menghentakkan kaki sambil melepas kemeja dari tangannya. “Dia ngerebut kemeja aku!” jawab Yuna sambil menunjuk wajah Bellina.

Adjie menatap Bellina. “Mereka masih aja suka berebut seperti dua puluh tahun yang lalu,” batinnya.

“Yuna, masih banyak pakaian yang lain. Kamu pilih yang lain aja!” perintah Adjie.

Yuna mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal dengan sikap Bellina. Ia benar-benar tidak terima karena ia ingin membeli kemeja itu untuk Yeriko. Ia terus membuka deretan pakaian yang tergantung di hanger stand dengan kasar.

“Mbak, ada kemeja yang khusus buat suami saya?” tanya Yuna pada pelayan toko yang mendampinginya dari belakang.

“Pak Yeriko ya?”

Yuna menganggukkan kepala sambil melirik ke arah Bellina dengan kesal.

“Sebentar, saya tanyakan.”

“Oke.” Yuna akhirnya tersenyum ke arah Bellina. Ia berharap, kemeja yang dipesan khusus untuk suaminya sudah selesai dan ia bisa dengan mudahnya membuat hati Bellina semakin panas.

“Bu Fristi, ini kemeja pesanan Ibu. Kebetulan, baru aja sampai.” Pegawai toko tersebut menyodorkan sebuah kemeja berwarna maroon ke arah Yuna.

Yuna tersenyum menerimanya. Ia langsung menoleh ke arah Bellina yang berdiri tak jauh darinya. “Kenapa? Mau ngerebut lagi?” tanya Yuna.

Bellina mengunci mulutnya rapat-rapat. Tapi, dalam hati ia terus memaki Yuna tanpa ampun.

Yuna tersenyum sambil menghampiri Bellina. “Look at this!” pintanya sambil menyodorkan kemeja itu ke wajah Bellina. “Udah ada nama Yeriko di kemeja ini. Kalau kamu mau rebutan lagi sama aku. Pesan khusus buat suami kamu itu!” pinta Yuna. “Murah, kok. Cuma lima juta,” lanjutnya sambil tersenyum.

Melan dan Bellina membelalakkan matanya mendengar harga kemeja yang dibeli Yuna.

“Yang ini harganya berapa?” tanya Melan sambil menunjuk kemeja yang ada di tangan Bellina.

“Itu sih murah. Nggak nyampe dua juta. Satu juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan!” sahut Yuna sambil menatap Bellina dan Melan yang terlihat khawatir.

“Kemeja ini mahal banget?” gumam Bellina. Ia segera memperbaiki ekspresi wajahnya saat menyadari ada Yuna di antara mereka.

Yuna tersenyum sinis. “Bukannya, kamu itu istrinya orang kaya? Kenapa beli baju masih harus mikir-mikir? Kamu belanja kayak gini harus izin ke Lian dulu? Hahaha.”

Bellina semakin kesal mendengar ucapan Yuna.

“Kamu jangan asal kalau ngomong!” sentak Melan.

“Aku nggak ngasal, Tante. Tante lihat aja! Anak Tante yang cantik ini, yang katanya sudah menjadi menantu keluarga kaya. Masih takut menghabiskan uang suaminya.”

Yuna tersenyum menatap Bellina. “Kenapa? Lian ngasih ke kamu kartu kredit yang limit. Kalo Yeriko sih, ngasih aku kartu tanpa batas alias unlimited buat aku bersenang-senang.”

Bellina semakin iri dengan apa yang sudah didapatkan Yuna. Yuna, selalu mendapatkan kebahagiaan. Sementara, ia tidak pernah mendapatkan cinta dari  seorang suami dan mama mertuanya.

“Nggak usah pamer!” seru Melan. “Kamu bisa nikah sama Yeriko juga hasil dari jual diri.”

Yuna membelalakkan matanya. “Tante nggak ingat apa yang udah Tante lakuin ke aku?” tanyanya sambil melirik Adjie. Ia tidak ingin perdebatan antara dirinya dan saudaranya itu membuat Adjie menjadi tertekan.

Yuna menarik napas panjang, ia segera melangkahkan kakinya menuju kasir.

“Mereka itu sebenarnya siapa? Kenapa  hubungan kalian terlihat sangat buruk?” tanya Adjie.

“Bukan siapa-siapa, Yah. Orang yang nggak penting sama sekali.”

Adjie terdiam sambil menoleh ke arah Bellina dan Melan. Yuna selalu bilang kalau keluarganya merawatnya dengan baik. Namun, melihat perseteruan Yuna dan tantenya. Adjie bisa melihat kalau Melan memperlakukan Yuna sangat buruk.

 

Dari kejauhan, Bellina terus memikirkan cara untuk melawan dan memperlakukan Yuna. Ia melangkah mendekati Yuna penuh kekesalan. Ia langsung menjambak rambut Yuna tanpa alasan.

 

“Kamu udah gila ya, Bel!?” sentak Yuna sambil berbalik menatap Bellina.

Bellina menatap geram ke arah Yuna. “Kamu itu nggak pantes buat dapetin ini semua.”

“Terus, kamu ngerasa ini semua pantesnya cuma buat kamu?” tanya Yuna sambil tertawa kecil. “Aku kasihan sama kamu, Bel. Kamu itu cuma dimanfaatin sama mama kamu buat menghasilkan uang.”

Melan naik pitam mendengar ucapan Yuna. “Anak nggak tahu diri. Kamu udah Tante besarkan selama ini. Sekarang, malah ngata-ngatain Tante, hah!? Kamu nggak ingat kamu yang dulu seperti apa?”

Yuna tersenyum sinis. “Aku nggak akan pernah lupa gimana Tante memperlakukan aku selama sebelas tahun ini. Aku juga nggak akan pernah lupa kalau Tante pernah mau ngejual aku ke Oom-Oom hidung belang itu!”

Melan mendelik ke arah Yuna. Ia melayangkan telapak tangannya ke wajah Yuna. Namun, tindakannya itu terhenti saat sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya.

“Yeriko?” Yuna terkejut dengan kehadiran Yeriko yang muncul secara tiba-tiba seperti jin.

“Kamu!?” Melan melotot ke arah Yeriko. Ia berusaha melepaskan tangannya.

Yeriko tersenyum sinis. Ia menepis tangan Melan, kemudian merangkul pinggang Yuna agar merapat ke tubuhnya. “Kalian nyerang istriku cuma karena rebutan pakaian?”

“Istri kamu ini yang cari gara-gara duluan!” sahut Melan.

Yeriko tersenyum sambil menatap Melan. “Oh ya? Kalau gitu, kalian boleh pilih pakaian mana aja yang kalian mau. Aku akan bayarin semuanya.”

Yuna mengerutkan dahi. Ia tak menyangka kalau Yeriko justru memberikan hadiah untuk dua wanita itu.

Yeriko menatap wajah Yuna. Ia bisa melihat dengan jelas kesedihan yang tergambar dari wajah Yuna. Namun, ia tidak berniat menjelaskan apa pun.

Melan tersenyum bahagia karena Yeriko kali ini tidak membela istrinya. Ia hanya perlu menunggu Yuna dipermalukan di depan semua orang oleh suaminya sendiri.

Di sebelah Melan, Bellina menatap wajah Yeriko penuh cinta. Ia merasa, hanya pria sempurna seperti Yeriko yang layak bersanding dengan dirinya. Ia mulai membayangkan kehidupan bahagianya kelak bersama dengan Yeriko.

Yuna menatap Bellina dengan mata berapi-api. Ia sangat mengetahui kalau Bellina menginginkan Yeriko. Tatapan mata Bellina benar-benar mengganggunya.

“Ayah nggak kekurangan pakaian. Kamu nggak perlu berebut untuk Ayah!” pinta Adjie sambil menatap Yuna.

“Dia yang ngerebut semua barang-barangku lebih dulu, Yah.” Yuna menatap wajah ayahnya. Kemudian beralih ke wajah Yuna yang masih murung.

 “Tante, Bellina ... kalian nggak mau belanja pakaian hari ini? Aku akan bayarin semua pakaian yang kamu ambil.”

Bellina dan Melan tersenyum penuh kemenangan. Mereka sangat bahagia mendapatkan kesempatan untuk berbelanja sepuasnya.

Yeriko tersenyum kecil. Ia merogoh ponsel dari saku celananya dan menelepon seseorang. “Lakukan sekarang!” perintahnya.

 

Beberapa menit kemudian, Melan dan Bellina mengetahui dari penjaga toko kalau brand toko tersebut sudah selesai diakuisisi oleh Galaxy Group.

“Apa!?” Melan dan Bellina membelalakkan matanya. Mereka tidak percaya kalau Yeriko bisa mengambil alih dalam waktu singkat. Mereka tidak punya pilihan lain selain menerima kenyataan bahwa brand toko  tersebut sudah sudah dimiliki oleh Yeriko.

Yuna juga tak kalah tercengang. Ia masih tidak percaya kalau Yeriko bisa mengakuisisi sebuah brand hanya dengan satu panggilan saja. “Oh, My God! Ini bukan mimpi, kan?” batin Yuna sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Yeriko tersenyum kecil. Ia ingin melihat  apa yang akan dilakukan oleh Melan dan Bellina selanjutnya.

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks for Big support, you’re my booster.

 

Big Love,

@vellanine.tjahjadi

 


THEN LOVE BAB 48 : PERSETERUAN DELANA DAN CHILTON

 


Setelah menghabiskan waktu pergantian tahun baru. Delana kembali masuk kampus seperti biasa.

Ia melangkahkan kakinya menyusuri gang rumahnya untuk bisa menuju kampus yang letaknya tidak begitu jauh.

Delana menghentikan langkahnya saat melihat mobil Chevrolet kuning berhenti tepat di depan kampus.

Seorang gadis cantik turun dari mobil. Wajahnya sudah tak asing lagi di mata Delana. Gadis cantik itu terlihat sangat bahagia.

Delana melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu ketika mobil chevrolet kuning tersebut sudah pergi.

“Pagi, Ratu!” sapa Delana dengan wajah ceria.

Ratu langsung menoleh ke belakang. Ia tak menyangka kalau Delana sudah masuk kampus sepagi ini. “Hai ...!” balas Ratu sambil tersenyum.

“Tumben banget pagi-pagi udah sampe kampus?” tanya Delana.

Ratu tersenyum. Ia menyingkap rambut yang sedikit menutupi wajahnya. “Aku lagi banyak tugas. Kamu sendiri kenapa berangkat ke kampus pagi banget?” tanya Ratu balik.

Delana tertawa lebar. “Aku? Aku mah biasa berangkat sepagi ini. Tiap hari juga berangkatnya jam segini, kok.”

“Oh.” Ratu mengangguk-anggukkan kepala. Ia langsung membalikkan badan dan masuk ke halaman kampus.

Delana tersenyum. Ia mengikuti langkah Ratu sampai mereka berpisah di kelas masing-masing.

Delana duduk berpangku tangan di dalam kelasnya. Ia menunggu Belvina masuk ke kelas sembari memikirkan laki-laki yang baru saja mengantar Ratu. Kenapa Ratu bisa pergi bersama laki-laki lain sementara semua orang tahu kalau ia adalah kekasih resmi dari Chilton.

“Jangan-jangan, Ratu nggak serius sama Chilton? Cuma mau manfaatin doang?” gumam Delana dalam hatinya.

Entah kenapa, Delana begitu resah memikirkannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia memberitahu Chilton kalau Ratu hanya mempermainkannya saja?

“Aargh ...!” Delana mengacak rambutnya sendiri. Ia tak peduli dengan beberapa teman sekelas yang memerhatikan tingkahnya. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ia tak ingin merusak hubungan Chilton dan Ratu. Tapi, ia juga tak sanggup melihat cowok yang ia cintai dipermainkan oleh wanita lain.

“Hei, kamu kenapa?” sapa Belvina begitu ia masuk ke dalam kelas.

“Nggak papa,” jawab Delana.

“Nggak papa tapi mukanya kok kayak gitu? Ada masalah?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala.

“Kamu tuh aneh. Abis ngumpul sama keluarga besar tuh harusnya happy. Ini malah galau. Kenapa? Alan nembak kamu lagi?”

“Ah, kalo dia mah emang suka bercanda. Nggak pernah aku pikirin.”

“Terus, kamu mikirin apa?” tanya Belvina.

“Mikirin Chilton,” jawab Delana lemas.

What!? Mikirin dia lagi?” Belvina membelalakkan matanya. “Please, Del! Move on, Baby!” tuturnya sambil mengusap pundak Delana.

“Ini bukan masalah move on atau nggak move on,” sahut Delana.

Belvina mengernyitkan dahinya. “Terus?”

“Masalahnya ada di Ratu,” bisik Delana.

Belvina langsung menoleh kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. “Kenapa sama dia?” tanyanya berbisik.

Delana langsung menarik kepala Belvina dan membisikkan sesuatu.

“What!?” seru Belvina.

Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Nanti kita bicarain lagi di asrama aja,” bisiknya.

“Aku juga sering lihat dia ketemu sama cowok lain di asrama,” bisik Belvina.

Delana mengangkat kedua alisnya. “Bener-bener tuh anak,” tutur Delana sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sepulang dari kampus, Delana langsung ke asrama. Ia ingin membicarakan banyak hal bersama sahabatnya.

“Bel, menurut kamu si Ratu tuh serius nggak sih sama Chilton?” tanya Delana saat ia sudah ada di dalam kamar.

“Aku kurang tahu juga,” jawab Belvina.

“Kamu kan sekamar sama dia. Masa kamu nggak tahu?”

“Yah, aku tahu dia sering ngobrol sama cowok lain. Tapi, aku positif thinking aja. Bisa jadi itu temennya atau sodaranya.”

“Hmm ... iya juga sih. Mungkin aku yang terlalu berprasangka buruk sama dia.”

“Eh, wait!” Belvina bangkit dari duduknya. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju jendela kamar dan membukanya. “Kalo dia ketemu sama cowok lain, kita bisa lihat dari sini,” tutur Belvina sambil menatap pintu gerbang dan halaman asrama. Kamar mereka berada di lantai dua sehingga bisa melihat dengan leluasa tanpa terlihat.

Delana melompat dari atas ranjang. Ia langsung menghampiri Belvina yang berdiri di depan jendela kamar.

“Bel, menurut kamu, aku harus gimana, ya?” tanya Delana.

“Gimana apanya?”

“Aku kasih tau Chilton atau enggak soal Ratu?” tanya Delana.

“Nggak usah dulu sebelum kita dapet kepastian. Cowok yang bareng Ratu itu pacarnya atau bukan,” jawab Belvina.

“Hmm ... iya juga sih. Tapi, aku nggak tega lihat Chilton dipermainkan kayak gini.”

“Kenapa? Kamu masih cinta sama Chilton?” dengus Belvina.

Delana menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya pada daun jendela. “Kamu kan tahu kalau aku bener-bener cinta sama dia. Banyak hal yang udah aku lakuin demi dia. Apa kamu pikir aku bisa lupa gitu aja?”

Belvina menatap Delana yang mulai murung. “Iya, aku tahu. Sabar ya! Suatu saat kamu bakal lupa kalo kamu udah nggak lihat dia lagi atau punya pengganti lain. Seperti aravin.”

Delana langsung melirik tajam ke arah Belvina.  “Nggak usah sebut-sebut nama dia lagi!”

“Nggak sengaja,” sahut Belvina pelan.

Delana menghela napas. Ia membuang pandangannya ke luar jendela.

Tak sengaja, mata Delana menangkap dua sosok muda-mudi yang sedang bercerangkama begitu akrab.

Ratu dan cowok pemilik chevrolet kuning itu tampaknya memiliki hubungan yang tidak biasa.

“Aku bilang apa, baru aja diceritain udah nongol aja,” celetuk Belvina.

“Dia sering kayak gitu, Bel?” tanya Delana tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh Ratu.

Belvina menganggukkan kepala.

“Aku tahu, Chilton bukan tipe cowok yang bisa berlama-lama bicara kayak dia gini. Mereka ngomongin apaan sih? Kok, lama banget si Ratu nggak naik-naik?” tutur Delana.

Belvina mengedikkan bahunya.

Delana menghela napas. Ia masih menatap Ratu yang mengobrol dengan laki-laki lain.

Ratu terlihat melangkahkan kaki memasuki gedung asrama, tapi laki-laki yang mengobrol dengannya tak kunjung pergi.

Belvina dan Delana langsung melompat ke atas ranjang. Mereka tak ingin Ratu mengetahui kalau mereka sedang memata-matai Ratu.

“Del, bunga apa yang nggak bisa layu meskipun udah nggak ada akar sama daunnya?” tanya Belvina. Ia memberikan tebak-tebakkan untuk mengalihkan perhatian mereka agar Ratu tak curiga saat masuk ke kamar.

“Hmm ... bunga apa ya?” tanya Delana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dan Ratu langsung masuk kamar.

“Hai, kalian udah di sini?” sapa Ratu.

Delana dan Belvina hanya tersenyum menanggapi sapaan Ratu.

“Cepet jawab!” pinta Belvina sambil menepuk paha Delana.

“Nggak bisa, Bel. Pertanyaanya susah banget,” sahut Delana.

“Nyerah ya?”

“Nggak, ah!”

“Yah, apa jawabannya?”

“Nggak tau.”

“Bilang aja nyerah!”

“Iya, oke. Aku nyerah. Jawabannya apa?”

“Bunga bank!” seru Belvina.

“Astaga! Aku kok nggak kepikiran ya?”

Belvina tertawa terbahak-bahak. “Sekarang gantian, kamu yang ngasih tebakannya!”

“Hmm ... apa ya?” Delana mengetuk-ngetuk dagunya.

“Kalian mainan apa sih? Kayaknya seru banget?” tanya Ratu. Ia menatap Delana dan Belvina sejenak kemudian melanjutkan aktivitasnya. Ratu terlihat sibuk memilih pakaian.

“Mau jalan?” tanya Belvina pada Ratu.

Ratu menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Jalan sama Chilton?” tanya Belvina lagi.

“Iya, dong.”

“Oh.” Belvina mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengerti kalau Ratu sedang berusaha menutupi identitas cowok yang bersamanya.

Delana bengong sambil menatap Ratu yang mulai memoles make up di wajahnya.

“Cepet, Del!” pinta Belvina sambil menepuk paha Delana.

“Aku bingung, Bel,” sahut Delana tanpa mengalihkan pandangannya dari Ratu.

“Bingung kenapa sih? Biasanya kamu yang paling pinter main tebak-tebakan,” tutur Belvina.

“Kehabisan bahan. Main yang lain aja!” pinta Delana.

“Idih, culas!” dengus Belvina.

“Culas apanya sih? Ganti, ganti!” sahut Delana.

“Main apaan lagi?” tanya Belvina.

“ABC Lima dasar aja,” jawab Delana.

“Ogah, ah! Kayak anak kecil.”

“Truth or Dare?” tanya Delana.

“Mana enak kalo cuma main berdua doang.”

“Enaknya kita makan berdua aja,” tutur Delana.

“Nah, kalo yang ini aku mau. Mau makan apa kita?” tanya Belvina.

“Kamu maunya makan apa?”

“Hmm ... makan apa aja. Yang penting ditraktir!” seru Belvina.

“Huu ... maunya yang gratisan mulu!”

“Hehehe.”

“Kita ke Cabai Merah aja yuk!” ajak Delana.

“Boleh.”

“Ya udah, siap-siap dah!” pinta Delana.

“Kamu sendiri?”

“Aku mah gini aja udah cukup. Nggak usah dandan juga udah cantik,” sahut Delana penuh percaya diri.

“Percaya!” Belvina mengangguk-anggukkan kepalanya.

Delana hanya tersenyum sambil melirik Ratu yang sudah bersiap keluar dari kamar.

“Aku pergi dulu ya!” pamit Ratu.

Delana dan Belvina menganggukkan kepala.

Ratu bergegas pergi meninggalkan dua orang yang sedang asyik bercengkerama.

Delana dan Belvina saling pandang. Mereka melompat mendekati jendela dan menatap cowok yang sejak tadi bersama dengan Ratu. Cowok itu masih menunggunya di sana.

“Ayo, kita ikutin ke mana mereka pergi!” pinta Delana.

Belvina mengangguk. Ia langsung mencari kunci sepeda motornya dan mereka pun bergegas keluar dari kamar.

“Bel, jangan sampe kita ketahuan ngikutin mereka,” bisik Delana.

Belvina mengangguk. “Kita bersikap santai aja. Seolah-olah kita memang ada keperluan lain.”

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Setelah Ratu masuk ke dalam mobil chevrolet kuning itu, Belvina dan Delana langsung berlari ke parkiran dan menaiki sepeda motor Belvina.

“Cepetan, Bel! Ntar kita kehilangan jejak,” tutur Delana.

“Tenang aja. Mobil itu terlalu menyolok dari lainnya. Kita pasti mudah nemuinnya.”

“Bagus deh.”

Belvina tersenyum. Ia menyalakan mesin sepeda motornya dan bergegas mengikuti mobil chevrolet kuning yang membawa Ratu. Mobil itu masuk ke salah satu pusat perbelanjaan.

Delana dan Belvina terus mengikuti langkah mereka dari kejauhan. Ratu menggandeng cowok itu dengan mesra.

Delana langsung mengeluarkan ponsel dan mengambil beberapa adegan mesra antara Ratu dan cowok itu.

Ratu masuk ke dalam salah satu toko tas branded. Cowok itu juga membelikan tas untuk Ratu.

Mulut Delana menganga begitu melihat Ratu keluar sambil menenteng paper bag berisi tas branded yang baru saja mereka beli.

“Fotoin, Del! Malah ngelamun.” Belvina menyikut Delana.

Delana gelagapan dan langsung mengintai dengan kamera ponselnya.

“Kalo Chilton lihat ini, dia pasti bakal percaya sama aku,” tutur Delana.

“Gimana kalo dia tetep percaya sama Ratu? Ratu itu pandai bersilat lidah dan memutar balikkan fakta,” tutur Belvina.

“Itu terserah dia. Yang penting aku sudah berbaik hati ngasih tahu dia siapa sebenarnya Ratu.”

Belvina tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

“Sekarang kita ngapain lagi? Ngikutin mereka terus?” tanya Belvina.

“Laper, mending kita cari makan aja, yuk!” ajak Delana.

“Ayo! Dengan senang hati ...”

Mereka melenggang menuju salah satu restoran cepat saji. Mereka percaya bahwa hubungan yang dijalani bukan karena saling cinta, pasti tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat, Chilton akan mengetahui bagaimana kelakuan Ratu yang sebenarnya.

***

Delana sudah mengumpulkan beberapa bukti kalau Ratu hanya mempermainkan Chilton. Tapi, ia masih menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya pada cowok itu. Di kampus, ia tak mungkin bisa memberitahukan Chilton karena cowok itu selalu bersama dengan Ratu.

Tiba-tiba ponsel Delana berbunyi. Alarm menunjukkan kalau ia harus berangkat ke tempat les secepatnya.

Delana langsung tersenyum sumringah. Kebetulan, hari ini juga Chilton ada jadwal mengajar. Artinya, ia punya banyak waktu untuk membicarakan hubungan Chilton dan Ratu dengan leluasa.

Delana langsung bersiap untuk pergi mengajar. Ia memoles bedak dan lipstik tipis ke wajahnya.

Delana menghela napas sambil menatap dirinya di depan cermin. Ia mengambil salah satu tasnya dari dalam lemari kaca. Delana memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas. Ia langsung menyambar kunci motor yang ia letakkan di atas meja.

Delana bergegas turun dari kamarnya. “Dek, Kakak berangkat ngajar. Jangan lupa makan ya!” teriak Delana pada Bryan yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga.

“Iya, Kak. Sampe malam?” tanya Bryan.

Delana menganggukkan kepala. “Kalo makanannya gak cukup, delivery aja ya!” pinta Delana.

Bryan menganggukkan kepala.

Delana langsung menyambar helm yang ia letakkan tak jauh dari meja televisi. Ia bergegas pergi ke tempat kursus.

***           

“Hai, Kak Dela!” sapa beberapa murid yang kebetulan berpapasan dengan Delana.

Delana tersenyum sambil membalas sapaan mereka. Ia langsung masuk ke dalam kelas seperti biasa.

Sore ini, Delana mengajar les untuk anak-anak SD seperti biasa. Sambil menunggu Chilton tiba, karena jadwal Chilton mengajar adalah jam delapan malam. Kebetulan, hari ini Delana juga ada jadwal mengajar dari jam delapan sampai sembilan malam.

Setelah jam pelajaran Delana habis. Ia menunggu Chilton datang. Ia duduk di lobi seperti biasa.

Beberapa menit kemudian, yang ditunggi datang. Delana langsung menghadang Chilton di pintu masuk.

“Ada apa?” Chilton mengernyitkan dahi melihat Delana tiba-tiba sudah berdiri di depannya.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” jawab Delana.

“Oh. Ngomong aja!” pinta Chilton sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Nggak di sini,” tutur Delana. Ia menarik lengan Chilton dan mengajaknya untuk bicara empat mata di balkon lantai dua.

“Mau ngomong apa?” tanya Chilton begitu mereka sudah sampai di balkon.

“Ini soal Ratu.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kenapa dia?”

“Dia itu nggak tulus sayang sama kamu. Dia cuma mau manfaatin kamu doang,” jawab Delana sambil menatap wajah Chilton.

“Oh, ya? Kamu tahu dari mana kalo dia nggak tulus sama aku? Selama ini hubungan kami baik-baik aja.”

“Tadi pagi aku lihat Ratu berangkat ke kampus diantar sama cowok lain naik chevrolet kuning. Dia juga jalan sama cowok itu dan cowok itu beliin dia tas branded,” tutur Delana.

“Kamu nggak usah ngada-ngada!”

“Aku nggak ngada-ngada, aku punya buktinya.” Delana merogoh saku bajunya. Tapi, ia tidak mendapati ponselnya. Ia meraba beberapa kantong lain dan ia tersadar kalau ponselnya tertinggal di kelas.

“Del, kamu sama dia itu temenan. Selama aku jalan sama dia, dia nggak pernah jelek-jelekin kamu sama sekali. Kenapa kamu malah jelek-jelekin dia di depan aku!?” sentak Chilton.

Delana terkejut karena Chilton tiba-tiba membentaknya. Ia terpaku dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Chilton.

“Kenapa diam!?” tanya Chilton.

“Mmh ...” Pikiran Delana masih sibuk mencari kalimat yang tepat untuk dikatakan pada Chilton.

“Oh .. aku tahu. Kamu cuma mau bikin pembelaan diri kamu dengan ngatain orang lain, hah!?”

“Maksud kamu?” tanya Delana bingung.

“Bukannya kamu juga sering dijemput sama cowok pakai mobil?” tanya Chilton sambil menatap tajam ke arah Delana.

Delana terpaku mendengar pertanyaan dari Chilton. Ia sama sekali tak menyangka kalau selama ini Chilton memerhatikannya, bahkan soal cowok yang menjemputnya di kampus.

“Kenapa diam? Bener 'kan?” tanya Chilton. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Delana. Membuat Delana semakin gugup dan tidak bisa berbicara apa-apa.

Chilton tertawa sinis. “Kamu sendiri dijemput pakai mobil Porsche. Dia pasti cowok yang kaya raya, kan?” tanya Chilton.

Delana terdiam beberapa saat. “Aku ...”

“Apa?” tanya Chilton menatap tajam ke arah Delana.

Delana gelagapan menadapati tatapan mata Chilton. “Eh!? Yah, terserah aku mau dijemput sama cowok mana aja? Aku nggak punya hubungan sama siapa pun!” seru Delana.

“Oh, jadi kalo nggak punya hubungan sama siapa pun, kamu bebas gonta-ganti cowok?”

“Aku nggak gonta-ganti cowok!”

“Nggak apanya? Jelas-jelas kamu nolak cinta dari pengusaha kaya raya itu. Besoknya kamu udah didatangin sama cowok yang jauh lebih muda, tampan dan pakai mobil mewah. Kamu bahkan dengan senang hati nemenin dia main basket. Setelah itu, kamu masih juga dijemput sama cowok yang pakai mobil Porsche itu. Kamu dengan senang hati pelukan sama dia. Kamu ini jadi cewek murahan banget!”

PLAK!

Delana langsung menampar pipi Chilton begitu ia mendengar kata ‘cewek murahan’ keluar dari mulut cowok yang pernah ia cintai. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Chilton akan mengatakan hal itu.

Chilton langsung memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan dari Delana. Bahunya naik turun menahan emosi, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya sehingga tanpa sengaja mengucapkan kalimat yang tak sepantasnya ia ucapkan pada Delana.

Mata Delana berkaca-kaca menatap Chilton. “Kamu nggak tahu apa-apa soal aku. Beraninya kamu ngatain aku cewek murahan, hah!?” seru Delana sambil mendorong dada Chilton.

“Aku tahu semuanya,” sahut Chilton sambil menahan emosi.

“Tahu apa? Hah!?”

“Kamu ...”

“Iya, aku emang cewek murahan! Puas kamu!?” teriak Delana, tanpa ia sadari air matanya jatuh berderai.

Chilton terpaku melihat Delana tiba-tiba meneteskan air mata dalam emosinya.

“Del ...!” Chilton meraih lengan Delana.

Delana menepis tangan Chilton dengan kasar. “Kamu nggak pernah tahu, berapa banyak air mataku yang jatuh buat kamu. Kamu nggak pernah sadar, berapa banyak cinta yang udah aku kasih ke kamu. Bahkan aku rela ngorbanin perasaan aku sendiri supaya aku bisa lihat kamu bahagia sama orang lain,” tutur Delana sambil menghapus tetesan air mata di pipinya.

“Aku ngelakuin ini buat kamu. Aku tahu kalau Ratu nggak tulus mencintai kamu. Aku cuma pengen kamu bener-bener bisa nemuin cewek yang sayang sama kamu apa adanya. Kalau aku nggak bisa ada di samping kamu, setidaknya ada yang lebih baik dari aku. Lihat kamu bahagia, aku udah bahagia,” tutur Delana.

Chilton terdiam. Ia masih tidak mengerti apakah Delana berkata jujur atau tidak. Sebab, ia seringkali melihat Delana bersama cowok lain.

“Aku udah bahagia sama Ratu. Jadi, jangan ganggu hubungan kami!” pinta Chilton.

“What!? Ganggu!?” Delana masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Chilton. Ia ingin menyelamatkan Chilton tapi malah dianggap sebagai pengganggu.

Chilton tersenyum sinis. “Aku bisa lihat dengan mataku sendiri, siapa kamu sebenarnya. Kamu nggak perlu ngelakuin pembelaan sampe kayak gini. Kamu sampe tega ngejelek-jelekin temen kamu sendiri.”

Delana mengepalkan tangannya. “Kamu tuh bener-bener ...?” Delana menunjuk hidung Chilton. Ia menahan emosi karena semakin ia banyak bicara, cowok itu semakin menyebalkan.

Chilton menurunkan tangan Delana perlahan. “Kamu nggak perlu repot-repot ngurusin hubungan aku sama Ratu. Kamu urus aja diri kamu sendiri dan cowok-cowok kamu yang kaya raya itu!” dengus Chilton, ia langsung bergegas pergi meninggalkan Delana.

Delana mengerutkan hidungnya menahan emosi. “Cowok bodoh!” makinya sambil menatap tubuh Chilton yang semakin menjauh.

Delana membalikkan tubuhnya dan memejamkan mata. “Iih ... bodoh ... bodoh ... bodoh!” Delana memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Kenapa sih aku kayak gini? Lagian, kenapa dia nggak percaya sama aku? Aku tuh kayak gini karena aku peduli sama dia. Ratu tuh nggak beneran cinta sama dia,” gumamnya. Ia mondar-mandir di balkon dan terus berbicara seorang diri.

Delana menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia masih saja tidak mengerti dengan jalan pikiran Chilton. Kenapa cowok itu mudah sekali untuk dibohongi dan dimanfaatkan oleh Ratu. Apa kecantikan Ratu telah menutup semua kelakuan buruknya di depan Chilton?

Delana menghela napas. Ia melangkahkan kakinya dan menuruni anak tangga.

“Hai, Kak!” sapa Randi yang sudah menunggu di ujung tangga.

“Eh!? Kamu dari kapan di sini?” tanya Delana.

“Dari tadi,” jawab Randi sambil memainkan kedua alisnya.

“Kamu nguping pembicaraan Kakak?” tanya Delana.

Randi tersenyum sambil memainkan kakinya. Kedua tangannya ia sembunyikan di dalam saku celananya.

Delana menghela napas. “Siapa yang ngajarin nguping pembicaraan orang lain?” tanya Delana.

Randi tertawa kecil. “Aku nggak sengaja.”

Delana merapatkan bibirnya. Ia langsung melangkahkan kaki kembali ke kelasnya.

Randi terus mengikuti langkah Delana dari belakang. Ia hanya ingin memastikan kalau gurunya akan baik-baik saja sampai di kelas.

“Kamu ngikutin saya?” tanya Delana begitu ia sampai di depan kelas.

“Lebih tepatnya menjaga,” jawab Randi sambil tersenyum.

Delana mengernyitkan dahinya. Ia masih tak paham dengan ucapan Randi. Delana mengedikkan bahunya dan langsung masuk ke dalam kelas.

Randi menatap Delana yang sudah duduk di kursi guru. Ia senang sekali melihat guru cantik itu. Tidak hanya Randi, hampir semua murid menyukai Delana karena ia adalah salah satu guru yang perhatian dan sayang pada murid-muridnya.

Mendengar pertengkaran antara Chilton dan Delana. Membuat Randi merasa kasihan pada Delana dan ingin sekali bisa menghibur gurunya agar tidak bersedih. Terlebih, yang dilakukan oleh Chilton pada Delana sudah sangat berlebihan menurutnya. Delana bukan hanya guru yang baik, dia juga wanita yang baik. Bahkan semua murid cewek di tempat kursus ingin sekali menjadi wanita seperti Delana.


((Bersambung...))

THEN LOVE BAB 47 : AKHIR TAHUN BERSAMA KELUARGA AUBREY

 


“Halo, Bibi!” sapa Delana begitu ia sudah sampai di rumah Dhanuar. Ia langsung menghampiri Bibi Kam yang sedang memasak di dapur.

“Halo ...!” sahut Bibi Kam dan langsung memeluk Delana. “Apa kabar?”

“Baik,” jawab Delana. Ia melepas pelukannya dan  meletakkan tasnya di atas meja. “Bibi sehat?”

“Sehat,” sahut Bibi Kam sambil tersenyum.

“Bibi yang nyuruh Dhanu jemput aku?” tanya Delana. Ia langsung membantu Bibi Kam menyiapkan makanan untuk mereka nikmati bersama keluarga.

“Iya. Karena Bibi tahu kalau ayah kamu nggak akan pulang tahun ini. Jadi, bibi nyuruh Alan dan Dhanuar buat jemput kamu.”

Delana tersenyum. Ia mengambil beberapa buah kentang dan mengupasnya. “Bibi mau masak apa aja?” tanya Delana.

“Pakai apron dulu!” Bibi Kam mengambil apron di lemari dan memberikannya pada Delana.

“Bibi mau bikin rica-rica bebek. Ini permintaan khusus dari Dhanu.”

Delana mengangguk-anggukkan kepala. “Kentangnya mau dibikin apa?” tanya Delana.

“Kita bikin sup aja.”

“Oke. Biar Dela yang buat supnya!” pinta Delana.

Bibi Kam menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap Delana. “Kalau kamu bukan ponakan Bibi, udah Bibi jadiin calon menantu.”

“Eh!? Kenapa gitu?”

Bibi Kam menghela napas. “Kamu tahu kan kalau Dhanu itu gonta-ganti pacar terus? Dia pintar cari pacar yang cantik. Tapi dia nggak pandai memilih calon istri yang baik.”

“Hahaha.” Delana tergelak mendengar ucapan bibinya.

“Ehem!” Tiba-tiba Dhanuar sudah ada di pintu dapur.

Delana terdiam. Ia masih menahan tawa.

“Kamu ngetawain aku, hah!?” Dhanu menarik kepala Delana dan mencekik dengan lengannya.

“Aku nggak ketawa!” sahut Delana sambil menahan tawa.

“Masih nggak mau ngaku?” Dhanuar mengeratkan cekikannya.

“Bibi! Dhanu nakal!” teriak Delana sambil memukul lengan Dhanu.

“Jangan berlindung sama Mama! Mama nggak akan belain kamu!” dengus Dhanuar.

Bibi Kam hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak heran lagi melihat Dhanu dan Delana berkelahi seperti anak kecil. Kehadiran mereka selalu membuat suasana ramai. Belum lagi kehadiran Alan, Bryan dan saudara lainnya.

“Lepasin, Dhan! Nggak aku masakin nih!” ancam Delana.

“Kamu nggak usah masak! Ikut aku ke kamar yuk!”

“Ngapain?” tanya Delana.

“Bercinta,” bisik Dhanuar di telinga Delana.

Delana mendelik ke arah Dhanuar. Ia langsung menginjak kaki Dhanu sekuat tenaga.

“Aaargh ...!” Dhanuar berteriak kencang, membuat Bibi Kam panik melihat anaknya.

“Kenapa?” tanya Bibi Kam.

Dhanuar menahan sakit sambil memegangi punggung kakinya. “Dasar monster!” dengus Dhanuar ke arah Delana.

“Otak mesum!” balas Delana.

“Kalian kenapa?” tanya Bibi Kam lagi.

“Dia tuh!” Delana menunjuk Dhanuar dengan dagunya. “Masa dia ngatain aku ... mmm...” Delana tak bisa melanjutkan ucapannya karena telapak tangan Dhanuar membungkam mulutnya.

“Aku bercanda!” bisik Dhanuar menahan kesal.

Bibi Kam melipat kedua tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah puteranya.

“Hehehe. Aku cuma mau minta bantuin lipatin baju di kamar,” tutur Dhanuar sambil meringis ke arah mamanya.

“Baju? Bukannya udah dilipatin sama pembantu?” tanya Delana.

“Sebelum aku jemput kamu, aku ngeluarin semua bajuku dan belum dilipatin lagi sama pembantu.”

“Oh ya? Terus? Masalah buat gue!?” Delana mendelik ke arah Dhanuar. Ia melanjutkan aktivitasnya memasak.

“Lihat, Ma! Delana kayak monster kan mukanya?” tanya Dhanuar pada mamanya. “Pantes aja sampe sekarang belum punya pacar,” celetuknya.

Delana sengaja mengeraskan irisan pisaunya.

Dhanuar melotot melihat gerakan tangan Delana yang terlihat menahan emosi. Bisa-bisa, pisau di tangan Delana melayang ke kepalanya. Ia meringis menatap Delana dan langsung berlari keluar dari dapur.

Bibi Kam hanya tertawa kecil melihat adegan yang terjadi antara Dela dan Dhanu.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara ribut dari arah luar.

“Mereka udah datang,” ucap Bibi Kam.

Delana tersenyum. Ia langsung bergegas keluar dari dapur dan menghampiri tiga cowok tampan yang sedang bercengkerama di ruang keluarga.

“Hei, kalian udah datang?” sapa Delana.

“Halo, Sayangku!” balas Alan dan langsung memeluk Delana.

“Eh, jangan peluk-peluk! Calon istriku ini!” Dhanuar menarik punggung Alan untuk menjauhi Delana.

“Apaan sih!?” Alan menepis lengan Dhanuar.

Delana dan Bryan tertawa melihat tingkah Dhanuar dan Alan. Mereka biasa bercanda memperebutkan Delana karena hanya Delana anak perempuan satu-satunya dari keluarga Aubrey.

“Huft, cewek cantik memang selalu jadi rebutan,” celetuk Delana penuh percaya diri.

Alan, Dhanuar dan Bryan saling pandang. Mereka tak menyangka kalau Delana penuh percaya diri mengatakan dirinya cantik.

Delana tersenyum. Ia membalikkan tubuhnya dan bergegas kembali ke dapur untuk membantu Bibi Kam.

Alan dan Bryan mengikuti langkah Delana untuk bertemu dengan Bibi Kam.

“Apa kabar, Bibi?” tanya Alan begitu sampai di dapur. Ia langsung merangkul bibinya dan mengecup pipi wanita setengah baya itu.

“Bibi bau asap,” tutur Bibi Kam.

“Nggak papa. Aku suka bau asap,” tutur Alan. “Bibi masak apa?” tanya Alan.

“Ada, deh. Nanti juga tahu.”

“Hmm ...”

“Ayah sama Ibu kamu sudah sampai?” tanya Bibi Kam.

“Mereka sampai sore ini.”

“Kamu jemput?”

“Nggak. Mereka naik taksi aja. Langsung ke sini.” Kedua orang tua Alan akan datang dari Swedia. Ayah Alan adalah orang Italia, sedangkan ibunya merupakan adik kandung dari Ayah Delana.

Bibi Kam tersenyum. Ia menatap Bryan yang berdiri di samping Alan. Bryan langsung mencium punggung tangan Bibi Kam.

“Kamu kelas berapa sekarang?” tanya Bibi Kam pada Bryan.

“Kelas satu SMA,” jawab Bryan.

“Nggak terasa ya kalian sekarang sudah besar-besar. Rasanya, baru kemarin Bibi menggendong kalian.”

Alan dan Bryan tersenyum menatap Bibi Kam.

“Bibi mau gendong kami sekarang juga bisa,” tutur Alan sambil tertawa kecil.

“Apa kamu pikir Bibi punya kekuatan menggendong anak bayi yang tinggi badannya sudah melebihi Bibi?”

Alan tergelak mendengar ucapan Bibi Kam. “Gimana kalo aku yang gendong Bibi?” tanya Alan sambil mengangkat tubuh bibinya.

“Hei, turunin Bibi!” pinta Bibi Kam sambil menepuk bahu Alan.

Delana dan Bryan tertawa kecil melihat sikap Alan.

Alan langsung menurunkan tubuh bibinya sambil tertawa.

“Bibi tahu kamu sudah besar. Nggak perlu menggendong Bibi!” pinta Bibi Kam.

Delana tertawa melihat kelakuan Alan.

Alan menoleh ke arah Delana yang masih tertawa. “Mau digendong juga?” tanya Alan.

“Eh!? Enggak,” sahut Delana sambil menggelengkan kepala.

“Kenapa ketawa-ketawa? Sini aku gendong!” Alan langsung menghampiri Delana.

“Nggak mau!” teriak Delana sambil berlari menjauhi Alan.

Alan tak menyerah. Ia terus mengejar Delana yang masih berlari. Alhasil, suasana menjadi ribut karena Alan dan Delana terus berkejar-kejaran seperti kucing dan tikus.

“Udah, aku capek!” pinta Delana menghentikam langkahnya. Ia menunduk memegangi perutnya yang keram karena berlari sambil terus tertawa.

Alan langsung menyambar tubuh Delana dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Aargh ... turunin!” teriak Delana.

Alan tersenyum licik. Ia berjalan mendekati sofa yang ada di ruang tamu. Ia mengangkat tubuh Delana lebih tinggi dari kepalanya.

“Alan ...!” teriak Delana. Ia menutup kedua matanya karena ketakutan. Ia merasa Alan mengangkatnya terlalu tinggi.

Alan tergelak. Ia langsung menjatuhkan tubuh Delana ke atas sofa.

“Aduh!” gerutu Delana sambil memegangi pinggangnya.

“Nggak usah pura-pura sakit!” Alan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Sakit beneran ini,” sahut Delana sambil memegangi pinggangnya.

“Sofanya empuk. Nggak bakalan sakit!”

Delana mengerutkan hidungnya. “Kamu tuh bener-bener nyebelin. Kalo nggak ganggu aku kenapa sih?” Delana bangkit dan bergegas kembali ke dapur.

Delana menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah pintu ruang tamu yang tiba-tiba terbuka. Seorang pria tampan berkacamata hitam muncul dari balik pintu.

Mata Delana berbinar menatap cowok tampan yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans berwarna senada.

“Anshu?” ucap Delana dan Alan berbarengan.

Anshu tersenyum, ia melepas kacamatanya dan berjalan menghampiri Alan. “Gimana kabarnya?” tanya Anshu sambil merangkul Alan.

“Baik. Kamu gimana?” tanya Alan balik.                        

“Kelihatannya?” Anshu memandang tubuhnya sendiri.

Alan tertawa sambil memukul bahu Anshu perlahan.

“Hai, Del ...!” sapa Anshu sambil menghampiri Delana.

“Hai ...!” sahut Delana. Anshu langsung memeluk dan mencium pipi Delana.

“Kamu makin cantik aja,” tutur Anshu sambil menatap Delana yang masih mengenakan apron. “Bikinin es teh dong! Aku haus banget,” pinta Anshu.

Delana memutar bola matanya. “Muji kalo ada maunya doang!” dengus Delana. Ia langsung bergegas pergi ke dapur.

Anshu tertawa kecil. Walau Delana seringkali mengomel, tapi ia tahu kalau Dela akan membuatkan apa yang ia minta.

“Kamu kapan datengnya?” tanya Alan pada Anshu.

“Ini baru datang.”

“Bukan ini. Maksudnya sampe Balikpapannya,” sahut Alan.

“Tadi pagi.”

“Oom sama Tante nggak ikut ke sini?” tanya Alan.

“Banyak kerjaan di Jakarta.”

“Oh.” Alan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Anshu Aubrey juga sepupu Delana. Sifatnya jauh berbeda dengan Alan yang cerewet dan banyak tingkah. Anshu lebih banyak diam, lebih mirip seperti Bryan.

“Dhanu mana?” tanya Anshu.

“Di kamar kayaknya,” jawab Alan.

Anshu langsung melanglahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar Dhanuar.

Alan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Ia sama sekali tidak tertarik untuk masuk ke kamar sesama jenis. Ia lebih senang menggoda Delana atau mengganggu Bibi Kam yang sedang memasak.

Beberapa menit kemudian, Delana keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi satu buah teko berisi air es teh dan teman-temannya.

“Pada ke mana?” tanya Delana pada Alan yang sedang duduk santai di sofa.

“Ke kamar Dhanu.”

Delana menghela napas. “Anshu nih aneh banget! Minta bikinin es teh tapi malah pergi,” gerutu Delana. Ia meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja kaca.

“Taruh aja di situ! Ntar juga turun,” tutur Alan.

“Kamu ngapain di sini sendirian? Bawain naik sekalian!” pinta Delana.

“Ogah! Emangnya aku pembantu?” sahut Alan.

Delana berkacak pinggang menatap Alan. “Maksud kamu, aku ini pembantu!?”

Alan meringis mendengar ucapan Delana. “Mirip!” ucapnya sambil cengengesan.

Delana mengerutkan hidungnya. Ia bersiap memukul tubuh Alan sekuat-kuatnya.

Alan langsung melompat ke belakang sofa sebelum ia ditelan hidup-hidup oleh Delana.

“Panggilin mereka suruh turun! Aku masih bantu bibi masak,” pinta Delana. Ia langsung bergegas kembali ke dapur. Tak peduli Alan akan membawakan minuman ke kamar atau memanggil mereka untuk keluar.

“Anshu udah datang?” tanya Bibi Kam.

“Udah. Langsung naik ke kamar Dhanu,” jawab Delana.

“Dia lupa nggak nemuin Bibi,” ucap Bibi Kam.

“Nggak tahu tuh. Dia langsung nanya Dhanu. Padahal minta dibikinin es teh tapi malah langsung masuk kamar.”

Bibi Kam tersenyum. “Mungkin kangen. Udah lama nggak ketemu.”

Delana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kembali membantu Bibi Kam untuk mempersiapkan makan malam.

Beberapa menit kemudian, Dhanuar, Bryan dan Anshu keluar dari dalam kamar dan langsung menemani Alan di ruang tamu. Mereka membicarakan banyak hal dan membuat rumah Paman Kam ramai.

“Del, Bibi buat brownies tadi pagi. Ada di kulkas. Kasih ke mereka gih!” pinta Bibi Kam.

“Oke.” Delana tersenyum dan melenggang penuh bahagia. Ia mengambil kue brownies yang sudah dipotong-potong oleh Bibi Kam dan membawanya ke hadapan saudara-saudaranya.

“Ah, cantik banget!” puji Anshu begitu Delana muncul membawakan brownies untuk cemilan mereka.

Delana tersenyum manis. Ia melepas apron yang ia kenakan. “Aku numpang mandi,” tutur Delana pada Dhanuar.

“Eh!? Di kamarku?” tanya Dhanuar.

“Iya. Kenapa?” tanya Delana.

“Di kamar Mama aja!” pinta Dhanuar.

Delana mengernyitkan dahinya. “Ada yang dirahasiain ya?” dengus Delana sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Dhanuar.

“Eh!? Nggak ada,” jawab Dhanuar sambil menggelengkan kepala dengan wajah tegang.

Delana mengerutkan hidungnya sambil menahan tawa. “Kalo gitu, aku mandi di kamar mandimu aja!” Delana langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga.

“Jangan!” Dhanuar langsung melompat dan menghadang Delana untuk naik ke kamarnya.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget!”

“Ada banyak rahasia cowok yang nggak boleh diketahui sama cewek!” Dhanuar menggenggam pundak Delana dan menggiringnya untuk masuk ke dalam kamar mamanya.

“Kamu nyimpan cewek di kamar?” tanya Delana berbisik.

“Idih, nggak lah.”

“Terus apa yang dirahasiain dari aku? Bilang aja ada cewek di kamarmu makanya aku nggak boleh masuk.”

“Kalo ngomong suka sembarangan!” tutur Dhanuar sambil mengetuk kepala Delana.

“Cewek kamu kan banyak. Ini malam tahun baru dan bisa aja mereka minta ngabisin waktu malam tahun baru bareng pacarnya.”

“Nggak juga aku bawa pulang ke rumah. Mending aku ajak main di hotel,” sahut Dhanuar sambil cengengesan.

Delana menatap tajam ke arah Dhanuar. “Dasar otak mesum!”

“Udah, cepet mandi!” Dhanuar langsung mendorong Delana masuk ke dalam kamar mamanya.

Delana mencebik ke arah Dhanuar dan langsung membanting pintu kamar.

“Eh, gila! Kalo sampe hidungku hilang, awas aja!” ancam Dhanuar karena Delana membanting pintu dan nyaris menghantam wajahnya.

Delana tak menyahut. Ia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Tepat jam enam sore, kedua orang tua Alan akhirnya tiba dari Swedia.

“Aunty ...!” seru Delana begitu melihat tantenya sudah ada di ruang keluarga. Ia langsung menghambur ke pelukan tantenya yang kini tinggal di luar negeri bersama dengan suaminya.

“Gimana kabarnya ponakan Aunty? Makin cantik aja?”

“Baik,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Alan di sini gimana? Dia bersikap baik, kan?”

“Baik banget!” sahut Delana.

“Dia tinggal di rumah kamu atau di sini?” tanya Mama Alan.

“Kadang di rumah aku, kadang di rumah Dhanu,” jawab Delana.

“Sering di rumah sendiri Kok, Ma,” sahut Alan.

Mama Alan tersenyum. Ia senang karena anaknya mau tinggal di rumah walau sendirian.

“Oom apa kabar?” tanya Delana pada Papa Alan.

“Baik.”

Delana tersenyum.

“Paman Kam mana?” tanya Mama Alan.

“Masih kerja. Sebentar lagi pulang,” jawab Bibi Kam yang tiba-tiba muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan.

“Biar aku yang bawain!” Delana langsung bangkit dan membantu Bibi Kam membawa nampan. Ia langsung meletakkan di atas meja dan menyuguhkan minuman untuk kedua orang tua Alan.

“Lihat, Ma! Calon mantu rajin banget kan?” tanya Alan sambil menggoda Delana.

Mama Alan langsung menepuk paha Alan karena tak hentinya menggoda Delana.

“Enak aja! Ini calon istriku!” sahut Dhanuar sambil merangkul Delana.

Seisi ruangan tertawa mendengar candaan Alan dan Dhanuar. Sejak kecil, mereka memang terbiasa seperti itu karena Delana adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Aubrey.

“Kamu sudah punya pacar atau belum?” tanya Mama Alan pada Delana.

“Belum,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Sayang banget. Coba kalo bukan kakaknya Alan, udah aku jadiin menantu.”

“Hahaha.” Semua orang tertawa mendengar ucapan Mama Alan.

“Ma, emang rela kalo Delana jadi menantu orang lain?” tanya Dhanuar pada mamanya.

“Mama lebih rela kalo Dela nikah sama orang lain daripada kamu!” dengus Bibi Kam.

Alan dan yang lainnya tergelak.

“Dela tuh cewek idaman mertua. Udah cantik, pinter masak, rajin, sopan dan menyenangkan,” tutur Bibi Kam.

“Ah, Bibi berlebihan,” sahut Delana.

“Sayangnya masih jomlo aja. Nggak laku-laku!” celetuk Alan.

Delana mencebik dan melempar wajah Alan dengan potongan kue yang ia makan.

“Makanya, suruh sama aku nggak mau!”

“Nggak tertarik,” sahut Delana.

“Udah, jangan godain Dela terus. Kasihan!” sergah Ayah Alan.

Alan dan Dhanuar tertawa lebar. Mereka memang sangat jahil, berbeda dengan Bryan dan Anshu yang lebih banyak diam.

“Ma, aku mau pindah sekolah di sini,” tutur Alan.

“Hah!? Kenapa mau pindah?” tanya Bibi Kam. “Bukannya sekolah di sana jauh lebih baik?”

“Tapi di sini jauh lebih menyenangkan,” sahut Alan sambil mengangkat kedua alisnya.

“Pasti ada cewek yang ditaksir ya di sini?” tanya Delana menyelidik.

“Iya, lah. Kamu ceweknya!” dengus Alan.

“Aku rasa kamu harus siap-siap ditolak kalau naksirnya sama aku,” ucap Delana sambil menjulurkan lidahnya.

“Ma, apa aku kurang ganteng sampe ditolak sama cewek kayak gini?” rengek Alan pada mamanya.

“Nggak usah lebay!” Delana mendelik ke arah Alan.

“Sudah, jangan godain kakak kamu terus!” sela Mama Alan. “Mama tetap nggak ijinin kamu pindah ke sini.”

“Kenapa?”

“kuliahnya nanggung.”

“Kalo gitu, kuliahnya di sini ya?” tawar Alan.

“No!”

Alan menghela napasnya.

“Kamu boleh habiskan waktu liburanmu sepuasnya di sini. Tapi, tetap harus kembali sekolah di Swedia. Ngerti?”

Alan menganggukkan kepala. Ia menyerah memperjuangkan keinginannya untuk kuliah di kota Balikpapan. Ia memang sudah tertarik dengan Delana sejak dulu dan ingin sekali bisa berada dekat dengan kakak sepupunya itu.

Paman Kam muncul beberapa saat kemudian. Membuat suasana semakin riuh dengan canda tawa.

Keluarga Aubrey menghabiskan makan malam bersama di malam pergantian tahun baru.

“Anshu, kamu jadi ikut pendidikan militer?” tanya Paman Kam saat mereka duduk bersama di meja makan.

Anshu menganggukkan kepala.

“Hah!? Kamu mau masuk tentara?” tanya Delana sambil menatap Anshu.

Anshu tersenyum.

“Keren!” ucap Delana dengan mata berbinar.

“Kalo aku tentara cocok nggak?” tanya Alan.

“Nggak!” jawab Delana dan Dhanuar bersamaan.

Alan langsung mencengkeram dadanya sendiri. “Kalian benar-benar menyakiti perasaanku,” ucapnya sambil pura-pura terisak.

Delana dan Dhanuar saling pandang.

“Nggak usah lebay! Aku cemplungin ke kolam renang nih,” sahut Dhanuar.

“Cemplungin aja!” teriak Delana.

“Coba kalo berani? Nggak aku kasih nomer hp-nya.”

“Nomor hp siapa?” tanya Delana.

“Biasa,” jawab Alan sambil memainkan alisnya.

Delana mengamati salah satu pembantu Dhanuar yang sedang menyiapkan api pembakaran untuk barbeque-an.

Anshu yang kebetulan melihat Delana langsung bangkit dan membantu menyiapkan bara api. Ia mengambil beberapa jagung untuk dibakar.

Delana langsung bergegas mengikuti Anshu, begitu juga dengan sepupunya yang lain.

“Dek, kamu mau jagung bakar?” tanya Delana pada Bryan.

Bryan menganggukkan kepala.

Delana tersenyum. Ia mengambil beberapa buah jagung dan membakarnya.

“Ini udah ada,” tutur Anshu.

“Buat Om sama Tante aja,” sahut Delana sambil mengedipkan matanya.

Anshu tersenyum.

“Punyaku mana?” tanya Alan dan Dhanuar bersamaan.

“Bakar sendiri!” jawab Delana dan Anshu bersamaan.

Alan dan Dhanuar saling pandang. “Oh, kalian sekarang udah kompakan ya?” tanya Dhanuar.

Delana tersenyum senang.

“Kamu tunggu di sana aja! Biar aku yang bakarin, bau asap,” ucap Anshu.

“Beneran?” tanya Delana dengan mata berbinar.

Anshu menganggukkan kepala.

“Ah, kamu memang cowok paling pengertian sedunia,” ucap Delana sambil menyubit kedua pipi Anshu. “Makasih!” ucapnya sambil berlalu pergi dan bergabung kembali ke meja makan bersama paman dan bibinya.

“Sini, aku bantu!” pinta Dhanuar. Ia langsung membantu Anshu, sedangkan Alan hanya berdiri di sampingnya.

“An, kamu udah punya cewek apa belum?” tanya Dhanuar.

“Kenapa?” tanya Anshu balik.

“Paling minta dikenalin,” sahut Alan.

Anshu tersenyum. “Pasti aku kenalin kalo aku udah nemuin cewek yang cocok.”

“Jangan! Gawat kalo dikenalin sama Dhanu,” sahut Alan.

“Kenapa?” tanya Anshu sambil tertawa kecil.

“Dia ini nggak mandang pacarnya siapa, semua cewek dipacarin,” bisik Alan.

Anshu tertawa kecil menanggapinya. “Coba aja kalo berani!”

“Eh!? Nggak berani aku. Calon angkatan gini. Bisa-bisa aku ditembak mati,” tutur Dhanuar.

Alan dan Anshu tertawa bersama.

“Udah berapa cewekmu?” tanya Anshu.

“Mmh ...” Dhanuar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Itu pertanyaan yang nggak pernah bisa aku jawab.”

“Saking banyaknya pacarnya, sampe nggak bisa dihitung,” celetuk Alan.

“Cowok ganteng harus gitu,” sahut Dhanuar.

“Ada kok, cowok ganteng yang nggak pernah pacaran.” Alan menunjuk Anshu dengan dagunya.

Dhanuar langsung menatap tajam ke arah Anshu. “Kamu nggak pernah pacaran?” tanyanya.

Anshu hanya tersenyum menanggapi ucapan Dhanuar.

“Hadeh ... ganteng mubazir!” dengus Dhanuar.

“Hahaha. Ganteng mubazir?” sahut Alan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Eh, kamu ngakak kayak gitu, emang udah punya pacar?” tanya Dhanuar.

“Weits, udah dong!”

Anshu tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku kedua sepupunya itu.

“Coba amu tuh kayak Bryan, pendiem, pinter, ganteng lagi!” tutur Anshu sambil menatap Bryan yang sedang duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang.

“Sama kayak kamu, hahaha.” Alan tertawa lebar.

“Ganteng mubazir!” sahut Dhanuar sambil tertawa lebar.

“Eh, kalian ngobrolin apaan sih? Kayaknya seru banget?” tanya Delana yang tiba-tiba sudah muncul di antara mereka.

“Astaga! Kamu kayak setan aja tiba-tiba nongol,” celetuk Alan terkejut.

“Nah, ini juga salah satunya ... cantik mubazir!” sahut Dhanuar sambil menunjuk wajah Delana. Ia tak dapat menahan tawanya.

“Maksudnya?” Delana mengerutkan hidungnya.

“Cantik-cantik jomlo! Mubazir!”

“Eh, bukan mubazir! Aku punya harga diri. Emangnya cewek-cewekmu itu murahan semua!”

“Apa kamu bilang?” sahut Dhanuar.

“Murahan!”

Dhanuar terdiam. Ia tidak bisa membela cewek-cewek yang pernah menjadi pacarnya. Karena semua cewek yang menjadi pacarnya memang bisa dengan mudahnya menjadi teman tidur.

“Nggak bisa ngelak kan? Huu ...!” Delana mengambil satu jagung bakar dan menoyorkan ke hidung Dhanuar.

“Panas, Del!” Dhanuar mengusap hidungnya.

Delana tidak peduli, ia langsung bergegas kembali ke meja makan bersama paman dan bibinya. Ia pikir, obrolan saudara-saudaranya adalah obrolan seru. Ternyata, hanya membahas soal perempuan. Sama sekali tidak menarik untuknya.

Malam pergantian tahun menjadi malam yang seru dan harmonis bagi keluarga Aubrey. Tahun ini, mereka bisa menikmatinya bersama walau anggota keluarga yang hadir tidak lengkap.

Delana cukup bahagia karena sepupu-sepupunya merelakan malam tahun barunya untuk keluarga besar. Bukan dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman yang entah di mana dan apa yang dilakukan.


((Bersambung...)) 

THEN LOVE BAB 46 : ADA COWOK BARU LAGI

 


   Chilton memarkirkan sepeda motornya di parkiran tempat wisata Ladang Budaya, Tenggarong. Ia dan Ratu harus menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam melewati Bukit Soeharto untuk bisa sampai ke tempat wisata ini.

Ratu mengajak Chilton berlibur ke Ladaya yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Ladaya adalah Ladang Budaya yang memiliki banyak spot menarik untuk liburan. Selain tempatnya yang asyik, di sana juga ada banyak pertunjukan seni.

“Capek?” tanya Chilton sambil membuka helmnya.

“Lumayan,” jawab Ratu sambil tersenyum. Ia melepas helm dari kepalanya dan memperbaiki posisi tas ranselnya.

Chilton tersenyum. Ia mengusap kepala Ratu dan merangkulnya masuk ke dalam tempat wisata. Sebelum masuk, mereka harus mengantri untuk membeli tiket terlebih dahulu. Kemudian masuk menyusuri koridor yang dihiasi oleh miniatur kereta api yang merupakan outlet penjualan makanan dan minuman.

Chilton membeli beberapa minuman dan cemilan. Kemudian mereka duduk beristirahat di kursi yang telah disediakan.

“Chil, kenapa kamu ngajak ke sini? Tempat ini kan jauh,” tanya Ratu.

“Aku belum pernah ke sini. Kamu pernah ke sini?” tanya Chilton balik.

Ratu menggelengkan kepalanya.

Chilton tersenyum kecil. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan kepala ke dinding.

“Capek?” tanya Ratu.

Chilton menganggukkan kepala.

Ratu menghela napas panjang. “Seharusnya kita nggak jalan sejauh ini.”

“Nggak papa.” Chilton menoleh ke arah Ratu sambil tersenyum.

“Oke. Kalo gitu aku jalan-jalan dulu. Kamu istirahat di sini!” pinta Ratu.

Chilton menganggukkan kepala dan membiarkan Ratu berkeliling sendiri sambil berfoto selfie sesukanya. Ia memilih untuk memejamkan mata sejenak karena perjalanan memang lumayan membuatnya lelah.

“Chil ...! Ayo kita ke atas sana!” ajak Ratu sambil menarik lengan Chilton.

Chilton terkejut, terpaksa ia harus menuruti permintaan Ratu.

“Wah, ternyata di atas ada cafe. Kamu laper, nggak?” tanya Ratu pada Chilton.

“Boleh. Kita makan dulu.”

Ratu tersenyum, ia menggandeng tangan Chilton menaiki anak tangga yang lumayan panjang. Ia terus mengedarkan pandangannya pada setiap sudut area yang ia lewati. Mulai dari arena permainan anak-anak, kandang satwa, villa yang bisa di sewa. Semuanya tertata rapi dan indah.

“Aku tunggu sini! Kalo kamu mau keliling, keliling aja!” pinta Chilton saat ia sudah ada di cafe dan memesan satu cangkir kopi hangat.

“Nggak asyik dong kalo keliling sendirian,” rengek Ratu.

“Aku capek!” sahut Chilton sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kalo gitu, kenapa ngajak ke sini?”

Chilton bergeming.

Ratu menghela napas. Ia tetap duduk menunggu Chilton bangkit dari tempat duduknya.

Enam puluh menit kemudian ...

Ratu menghela napas sambil menatap jam yang ada di layar ponselnya. “Chil, kita udah satu jam duduk diam di sini.”

“Kalo mau keliling ya keliling aja!” pinta Chilton.

“Kamu nggak mau lihat-lihat? Katanya belum pernah ke sini?”

Chilton menghela napas. “Oke.” Ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung membayat makanan dan minuman yang sudah mereka pesan sebelumnya. Mereka bergegas keluar dan berjalan menuruni anak tangga.

“Chil, ada flying fox tuh!” ucap Ratu sambil menunjuk arena flying fox. “Cobain yuk!” ajak Ratu.

Chilton tersenyum dan menuruti keinginan Ratu. Ratu mencoba semua wahana dan permainan yang ada di Ladaya. Ia merasa sayang sekali kalau tidak mencoba semua permainan dan berkeliling ke semua tempat.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam empat sore dan Chilton mengajak mereka kembali ke kota Balikpapan.

“Rasanya, nggak bosen biar seharian di sini,” tutur Ratu saat mereka sudah ada di pintu keluar.

“Suka?” tanya Chilton sambil tersenyum kecil.

Ratu menganggukkan kepala. Ia merasa bahagia karena Chilton memperlakukannya begitu istimewa. Chilton menuruti semua keinginan Ratu. Ratu sama sekali tidak keluar uang sepeserpun  untuk membiayai liburan mereka.

“Chil, orang tua kamu kerja apa?” tanya Ratu saat ia sudah sampai di depan asramanya. Ia berusaha mencari tahu kondisi keuangan keluarga Chilton.

“Kenapa tanya kerjaan orang tua?”

“Nggak papa. Pengen tahu aja.”

Chilton tersenyum kecil. “Masuk gih! Udah malam dan belum mandi.”

Ratu tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Chilton balas tersenyum.

“Makasih ya! Udah ngajak liburan hari ini,” tutur Ratu.

Chilton menganggukkan kepalanya.

“Aku masuk dulu!” pamit Ratu. Ia bergegas masuk ke dalam asrama.

Chilton langsung menyalakan mesin motor dan kembali ke asramanya.

***

Ratu tersenyum sambil menatap tas pemberian dari Chilton. Chilton memang tidak pernah mau mengatakan latar belakang keluarganya. Tapi, ketika ia menerima hadiah tas mahal. Ia merasa lebih tenang karena ia yakin kalau kondisi keuangan keluarga Chilton cukup baik. Ia ingin hubungannya dengan Chilton terus membaik.

Ratu menyalakan ponselnya dan menelepon Chilton.

“Halo, Sayang!” sapa Ratu begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Ada apa?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Kangen aja,” jawab Ratu sambil  tersenyum lebar.

“Bukannya tadi baru ketemu?”

“Emangnya kamu nggak kangen?” tanya Ratu manja.

“Nggak usah kayak anak kecil gitu. Besok juga ketemu di kampus.”

“Hehehe. Oke,” sahut Ratu. “Kamu lagi apa?”

“Mau berangkat ngajar.”

“Kamu masih ngajar di tempat les bareng Dela itu?” tanya Ratu.

“Iya. Kenapa?”

“Nggak papa. Hati-hati ya! Yang rajin ngajarnya!”

“Iya.”

“Bye ...!” Ratu langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menoleh ke arah Belvina yang baru saja memasuki kamar.

“Hai, Bel ...!” sapa Ratu sambil tersenyum manis.

Belvina mengernyitkan dahi. Ia menatap curiga ke arah Ratu karena menyapanya begitu manis. Tak seperti biasanya.

“Ah, kamu jangan salah sangka sama aku!” tutur Ratu. “Suasana hatiku lagi bagus. Jadi, aku lagi nggak mau berantem sama kamu.”

Belvina tersenyum kecil menanggapi ucapan Ratu. Ia tetap saja menyimpan rasa curiga melihat Ratu yang tersenyum sendiri sambil memainkan ponselnya.

***

 Del, hari ini kamu ada acara nggak?” tanya Belvina saat jam istirahat.

“Hmm ... belum ada, sih. Kenapa?”

“Kita rayain tahun baru bareng. Gimana?”

“Mmh ... boleh. Mau rayain di mana?” tanya Delana.

“Di rumah kamu aja, gimana?”

“Ivona bisa?”

Belvina menghela napas kecewa. “Dia udah ada acara sama keluarganya.”

“Uh, cup ... cup... cup!” ucap Delana sambil menepuk-nepuk pundak Belvina. “Kita rayain malam tahun baru di rumahku. Barbeque?” ucap Delana sambil memainkan alisnya.

“Bener ya!”

Delana menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, pulang kuliah kita keluar beli bahan-bahannya. Gimana?”

“Bisa. Jam berapa?” tanya Delana.

“Jam lima sore. Gimana?”

“Boleh.” Delana mengangguk-anggukkan kepala.

“Sip deh! Ke kantin yuk!” ajak Belvina.

“Ayo!”

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia langsung merogoh ponsel yang ia simpan di dalam saku jasnya.

“Dhanuar!?” Ia terkejut melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

“Dhanuar? Siapa?” tanya Belvina menatap Delana.

Delana tersenyum. “Sepupuku.”

Belvina memutar bola matanya. Ia merasa kalau rencananya merayakan tahun baru bersama Delana akan gagal.

“Halo ...!” sapa Delana begitu teleponnya tersambung.

“...”

“Eh!?” Delana menatap wajah Belvina. “Iya.”

Delana langsung mematikan teleponnya. Ia meringis ke arah Belvina.

“Kenapa?” tanya Belvina.

“Hehehe. Pulang kuliah disuruh ke rumah Paman. Dhanuar mau jemput aku. Katanya mau ngerayain tahun baru bareng keluarga besar,” tutur Delana berhati-hati.

“Sorry ...!” ucap Delana sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Belvina menghela napas. “Aku sudah menduga kalo bakal ngelewatin malam tahun baru sendirian lagi,” ucap Belvina sambil berteriak histeris.

“Sst ...!” Delana menempelkan jari telunjuknya di bibir Belvina. “Jangan teriak-teriak kayak anak kecil gini!”

“Kamu nggak ngerti perasaan aku!?” Belvina terisak tanpa mengeluarkan air mata.

Delana menghela napas sambil menatap tajam ke arah Belvina. “Sejak kapan kamu jadi manja kayak gini? Ketularan Ratu?” dengus Delana.

“Eh!?” Belvina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kamu pikir aku nggak tahu setiap tahun kamu menghabiskan malam tahun baru di mana?” tanya Delana sambil melipat kedua tangannya di dada.

“Aku ... Cuma pengen bisa ngabisin malam tahun baru bareng kamu.”

“Nggak usah ngegombalin aku!?”

“Hmm ... Okelah. Aku bakal pulang!” seru Belvina.

“Nah, gitu, dong! Keluarga kamu pasti senang lihat kamu pulang,” tutur Delana sambil menepuk pundak Belvina. “Jadilah puteri yang cantik dan baik.”

Belvina tersenyum. Ia sepertinya memang harus pulang ke rumahnya seperti biasa. Sebenarnya, ia bermaksud menemani Delana melewati malam tahun baru karena ia tahu kalau ayah Delana tidak pulang ke rumah. Tak disangka kalau ternyata ia justru berkumpul bersama keluarga besarnya.

“Bel, jangan sedih gitu!” pinta Delana saat melihat wajah Belvina murung. “Aku janji, setelah malam tahun baru kita barbeque-an di rumahku. Gimana?” tanya Delana sambil menatap wajah Belvina.

Belvina balas menatap Delana. Ia berpikir sejenak. “Aku rasa nggak terlalu buruk,” sahutnya sambil tersenyum.

Delana tersenyum. Mereka bergegas untuk menikmati makan siang di kantin kampus.

“Jam berapa dijemput sama Dhanu?” tanya Belvina.

“Bentar lagi katanya,” jawab Delana.

“Apa? Kita masih ada satu mata kuliah lagi. Mau bolos?” Belvina mendelik ke arah Delana.

“Hehehe.”

“Ckckck.” Belvina menggeleng-gelengkan kepala.

“Halah, yang penting nggak ada ujian mah santai aja. Kalo ada yang nanya, bilang aja aku ada urusan keluarga.”

“Oke.” Belvina menganggukkan kepalanya.

Delana tersenyum manis menatap sahabatnya itu.

“Kayaknya, cuma aku doang yang rajin masuk kuliah,” tutur Belvina.

Delana hanya meringis mendengar ucapan Belvina. Sejak dulu, Delana memang malas belajar. Tapi, ia selalu bisa mendapat nilai baik sekalipun sering tidak masuk sekolah.

“Del ... lihat!” Belvina menyikut lengan Delana sambil melirik ke arah Ratu dan Chilton yang sedang makan bersama.

“Idih, biar aja!” sahut Delana. Ia hanya menoleh sejenak kemudian kembali fokus melahap makanannya.

“Menurut kamu, si Ratu itu tulus nggak sih sama Chilton?” tanya Belvina.

“Mmh ...” Delana memutar bola matanya. “Maybe yes, maybe no!

“Kamu ingat nggak sih? Waktu itu si Ratu ngobrol sama cowok di asrama lama banget?”

Delana mengernyitkan dahinya. “Yang mana ya?”

“Astaga! Masa nggak ingat?”

Delana mengusap-usap kening, ia berusaha mengingat kejadian yang diceritakan oleh Delana.

“Aha, aku ingat!” teriak Delana sambil memukul meja. Membuat semua mata memandang ke arahnya. Ia tersenyum kecil sambil menatap semua siswa yang memandangnya.

“Nggak usah ngagetin juga kali,” celetuk Belvina.

“Hehehe.” Delana meringis.

“Jadi, menurut kamu gimana?” bisik Belvina.

“Apanya?”

“Nggak usah pura-pura bego!” tutur Belvina gemas sambil menjitak kepala Belvina.

“Sakit, Bel!”

“Ya udah, jawab!”

“Aku nggak bisa jawab.”

“Emang susah banget pertanyaanku?”

“Susah! Susah banget! Lebih susah dari tesis.”

“Gaya banget!” Belvina menoyor kepala Delana. “Kayak udah pernah ngerjain tesis aja?”

Delana meringis.

“Del, itu mobil siapa? Keren banget!” Belvina menunjuk mobil Porshce 911 Carrera S berwarna putih yang baru saja memasuki gerbang kampus.

Delana menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Belvina. “Dhanu? Astaga! Dia udah datang!” seru Delana. Ia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas dan bangkit dari tempat duduknya.

“Mau pergi sekarang?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala. Ia menatap jus alpukat miliknya yang belum habis. Dengan cepat ia menyeruput jus tersebut dan bergegas pergi menghampiri Dhanuar.

Kedatangan Dhanuar telah menarik perhatian semua orang. Selain kaya, Dhanuar juga sangat tampan. Hampir semua mahasiswi tertegun melihat Dhanuar yang baru saja keluar dari dalam mobil. Ia terlihat sangat tampan kemeja putih dan kacamata hitamnya yang khas.

“Astaga! Ganteng banget! Dia siapa?” bisik beberapa mahasiswi yang kebetulan melihat kedatangan Dhanuar.

“Pangeran dari kerajaan mana?”

“Jadi pacarnya yang ke sepuluh juga mau!”

“Mobilnya juga keren banget! Pasti orang kaya.”

Hampir semua penghuni kampus membicarakan cowok tampan berkulit putih yang baru saja keluar dari dalam mobil Porsche seharga milyaran rupiah itu. Dhanuar Aubrey adalah anak dari Kamoga Aubrey atau Paman Kam. Paman Kam adalah kakak kandung ayah Delana, Harun Aubrey.

Delana melangkahkan kakinya menghampiri Dhanuar sambil tersenyum.

Dhanuar tersenyum melihat wajah adik sepupunya yang kini telah tumbuh dewasa. Ia langsung memeluk erat tubuh Delana.

“Hei, jangan lama-lama peluknya!” pinta Delana sambil melepas lengan Dhanuar dari pinggangnya.

“Kamu nggak kangen sama cowok paling tampan di dunia ini?” tanya Dhanuar penuh percaya diri.

“Ya, ya, ya.” Delana mengangguk-anggukkan kepala. “Cowok tampan yang playboy!” dengus Delana.

Dhanuar tertawa. Ia merangkul kepala Delana. “Karena ketampanan cowok diukur dari berapa banyak cewek yang bisa ditaklukan,” bisik Dhanuar.

“What!?” Delana mendelik ke arah Dhanuar.

Dhanuar tersenyum sambil memainkan alisnya. “Ayo, masuk!” Ia menarik tubuh Delana untuk masuk ke dalam mobil.

Setelah menutup pintu mobil untuk Delana. Dhanuar mengedarkan pandangannya ke mahasiswi yang berkerumun melihatnya. Ia memberikan ciuman jauh dan melambaikan tangan. Kemudian bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya.

“Kamu tahu, besok akan ada gosip di kampus kalau aku gonta-ganti cowok,” tutur Delana saat ia sudah ada di dalam mobil.

“Oh, ya? Apa kamu mau nyaingin aku?” tanya Dhanuar tanpa menoleh ke arah Delana, ia tetap fokus mengemudi.

“Idih, ogah!” Delana mengedikkan bahunya.

“Terus? Atas dasar apa mereka gosipin kayak gitu?”

“Kemarin, Alan dateng ke kampus. Dia meluk aku, cium keningku di depan semua orang dan manggil aku dengan kata ‘sayang’. Seisi kampus udah heboh gara-gara itu. Apa kamu pikir, hari ini nggak akan heboh lagi karena aku dijemput sama cowok yang beda?”

Dhanuar tertawa kecil.

“Kenapa ketawa?”

“Bilang aja si Alan adik kamu dan aku kakak kamu. Repot amat!”

“Masalahnya, nggak ada yang nanya. Semua udah berpersepsi kalo Alan itu cowokku.”

“Kamu diam aja?”

Delana menganggukkan kepala.

“Yah, nggak papa. Lagian, kamu seharusnya bangga punya pacar seperti aku atau Alan. Ganteng, kaya, perhatian dan dikejar banyak cewek. Kamu beruntung karena punya banyak saudara tampan dan kaya,” tutur Dhanuar sambil tersenyum bangga.

Delana menghela napas. “Karena dari semua saudara ayah. Cuma aku anak perempuan satu-satunya. Jelas aja sepupuku tampan semua. Nggak ada yang cantik.”

“Bener banget! Kamu kalo ngomong kadang suka bener.”

“Dhanu ...!” Delana mendelik ke arah Dhanu.

“Ehem ... iya.” Dhanuar memperbaiki posisi duduknya.

“Eh, Bryan gimana?” tanya Delana saat teringat adiknya.

“Tenang, udah dijemput sama Alan di sekolahnya.”

“Oh ya?” Delana mengelus dada dan bernapas lega. “Syukurlah.”

Dhanuar tersenyum, mereka terdiam beberapa saat.

“Del, kamu udah punya pacar apa belum?” tanya Dhanuar.

Delana menggelengkan kepala.

Dhanuar memerhatikan Delana dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Aku rasa penampilan kamu sudah lebih baik. Kenapa masih nggak ada cowok yang suka sama kamu?”

Delana mengerutkan hidungnya menatap ke arah Dhanuar. “Bukan nggak ada yang mau sama aku. Aku aja yang nggak demen sama mereka!”

“Aha, aku tahu. Kamu pasti ketulahan karena terlalu banyak nolak cowok,” ucap Dhanuar sambil tertawa lebar.

Delana berkacak pinggang dan langsung menyerang Dhanuar.

“Del, jangan! Aku lagi nyetir, ntar nabrak,” pinta Dhanuar berusaha meloloskan diri dari pukulan Delana.

Delana menghentikan aksinya. Ia melipat kedua tangannya di dada. “Kamu belum ngerasain ketulahan karena terlalu banyak mainin cewek?” dengusnya.

Dhanuar tertawa kecil. “Aku nggak pernah mainin cewek. Lagian, aku nggak suka beneran sama mereka. Mereka aja yang kegatelan ngejar-ngejar aku. Zaman sekarang, mana ada kucing yang nolak dikasih ikan. Apalagi ikannya masih segar,” tutur Dhanuar dengan wajah bahagia.

“Ikan masih segar?” Delana mengerutkan keningnya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala. “Sinting!” gumamnya.

“Apa? Kamu bilang apa barusan?”

“Nggak bilang apa-apa,” jawab Delana.

Dhanuar tersenyum dan langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya yang berada di kawasan Mediterania.

***

“Chil, aku boleh tanya sesuatu?” tanya Ratu saat ia makan bersama Chilton di kantin kampusnya.

“Tanya aja!”

Ratu melirik Delana dan Belvina yang duduk di meja makan. Jarak mereka lumayan jauh dan Delana tidak mungkin mendengar pembicaraan mereka.

“Mmh ... waktu kamu deket sama Dela, sering makan di luar bareng?” tanya Ratu.

Chilton menggelengkan kepala.

Ratu tersenyum lega karena tahu kalau ternyata hubungan Chilton dan Delana tak terlihat mesra seperti rumor yang beredar.

“Dia pintar masak. Jarang makan di luar,” tutur Chilton.

Ratu mengangkat kedua alisnya. “Apa itu artinya ...?”

“Dia sering masak buat aku,” sahut Chilton sambil tersenyum.

“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...!” Ratu tersedak mendengar ucapan Chilton.

“Kenapa? Makan pelan-pelan!” Chilton menyodorkan air minum ke arah Ratu.

“Nggak papa,” jawab Ratu sambil meminum air dan mengusap mulutnya.

Chilton tersenyum. “Kenapa? Cemburu?” tanya Chilton.

Ratu menatap wajah Chilton. “Apa sepasang kekasih yang cemburu itu bukan hal yang wajar?”

Chilton tersenyum kecil. Ia meraih tangan Ratu dan menggenggamnya. “Yang jadi pacarku itu kamu. Ngerti kan artinya?”

Ratu menganggukkan kepala. “Tapi, aku nggak pernah masak buat kamu.”

“Nggak masalah.”

Ratu tersenyum karena Chilton sangat mengerti dirinya.

Chilton mengelus pundak Ratu. Mereka menoleh ke arah Delana yang tiba-tiba berlari terburu-buru keluar dari kantin.

Ratu terus mengikuti langkah Delana sampai ia ke pintu gerbang dan menghampiri cowok keren yang baru saja masuk ke halaman kampus. Mata Ratu membelalak saat melihat Delana dan cowok tampan itu berpelukan.

“Dia dijemput sama cowok lain lagi?” tutur Ratu sambil menatap wajah Chilton.

“Biar aja,” sahut Chilton datar. Ia sama sekali tak ingin melihat pemandangan itu, tapi kali ini ia melihatnya sendiri. Ia tak bisa berkata apa-papa, hanya melanjutkan makannya dan tak ingin menoleh ke arah Delana sedetikpun.

Ratu menghela napas. Ia kembali memerhatikan Delana yang memasuki mobil cowok tampan itu.

Dari kemarin Delana dijemput sama cowok-cowok ganteng pakai mobil. Berarti, cowok-cowok Dela pasti orang kaya,” batin Ratu. Matanya silau melihat mobil Porsche berharga milyaran rupiah yang menjemput Delana.

Ratu melirik Chilton yang ada di depannya. Ia merasa kehilangan harapan karena pacarnya hanya mengendarai sepeda motor. Sedangkan cowok yang dekat dengan Delana semuanya mengendarai mobil pribadi. Ia berpikir bahwa tanda orang kaya adalah mengendari mobil mewah dan mahal.

 Diam-diam Chilton memerhatikan Ratu yang tak berkedip melihat adegan Delana dan cowok itu. Ia melihat lewat ekor matanya saat mobil mewah itu keluar dari pintu gerbang. Ia merasakan hal aneh begitu tahu kalau Delana terus-menerus berganti cowok di depan matanya.

Ia pikir, Delana adalah sosok wanita yang baik dan setia. Tapi ia sudah salah menilai Delana. Saat ia mulai menyukai gadis itu. Gadis itu justru membuatnya kecewa dan sakit hati.

Ada hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada hal yang tak bisa diperlihatkan dengan sikapnya. Jauh di dalam hati kecilnya, ia masih merindukan saat-saat Delana memperlakukan dirinya begitu istimewa. Menemaninya melewati banyak hari, memanjakan dan mengajarkan arti tersenyum pada banyak orang.

“Chil ...!” panggil Ratu sambil menepuk tangan Chilton.

“Eh!?” Chilton gelagapan karena ia tak menyadari kalau ia sedang memikirkan Delana.

“Kamu ngelamunin apa sih? Dari tadi dipanggil nggak nyahut,” tutur Ratu kesal.

“Nggak ada.”

“Chil, apa kamu pikir aku ini bodoh banget? Sampe gak bisa bedain orang yang lagi ngelamun sama enggak?”

Chilton menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku mikirin ujian.”

Ratu mengangkat kedua alisnya. “Kamu ada ujian?” tanyanya serius sambil melipat kedua tangannya di atas meja.

Chilton menganggukkan kepala.

“Oh. Kamu pasti bisa melewatinya dengan mudah,” ucap Ratu sambil tersenyum.

Chilton menganggukkan kepala. Ia menyeruput minuman yang tinggal sedikit.

“Apa kamu nggak ada waktu malam ini?” tanya Ratu.

Chilton menatap Ratu sejenak dan langsung menggelengkan kepala.

“Chil, ntar malam kan malam pergantian tahun. Apa kamu bener-bener Nggak bisa ngerayain bareng aku?”

“Nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Aku banyak tugas.”

Ratu menghela napas. “Oke.”

Chilton tersenyum kecil sambil menatap Ratu. Ia melipat kedua tangannya di dada. Ia sudah memutuskan kalau ia akan menghabiskan malam tahun baru bersama mamanya.

Chilton mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Ma, sore ini aku pulang.” Chilton mengirim pesan singkat pada mamanya. Ia berharap mamanya juga punya banyak waktu untuk menghabiskan malam pergantian tahun bersamanya.

“Aku balik duluan!” pamit Chilton sambil bergegas pergi meninggalkan Ratu.

“Loh? Tungguin!” seru Ratu. Ia buru-buru mengikuti langkah Chilton.


((Bersambung...)) 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas