“Halo, Bibi!” sapa
Delana begitu ia sudah sampai di rumah Dhanuar. Ia langsung menghampiri Bibi
Kam yang sedang memasak di dapur.
“Halo ...!” sahut Bibi
Kam dan langsung memeluk Delana. “Apa kabar?”
“Baik,” jawab Delana.
Ia melepas pelukannya dan meletakkan tasnya
di atas meja. “Bibi sehat?”
“Sehat,” sahut Bibi Kam
sambil tersenyum.
“Bibi yang nyuruh Dhanu
jemput aku?” tanya Delana. Ia langsung membantu Bibi Kam menyiapkan makanan
untuk mereka nikmati bersama keluarga.
“Iya. Karena Bibi tahu
kalau ayah kamu nggak akan pulang tahun ini. Jadi, bibi nyuruh Alan dan Dhanuar
buat jemput kamu.”
Delana tersenyum. Ia
mengambil beberapa buah kentang dan mengupasnya. “Bibi mau masak apa aja?”
tanya Delana.
“Pakai apron dulu!”
Bibi Kam mengambil apron di lemari dan memberikannya pada Delana.
“Bibi mau bikin
rica-rica bebek. Ini permintaan khusus dari Dhanu.”
Delana
mengangguk-anggukkan kepala. “Kentangnya mau dibikin apa?” tanya Delana.
“Kita bikin sup aja.”
“Oke. Biar Dela yang
buat supnya!” pinta Delana.
Bibi Kam menganggukkan
kepala sambil tersenyum menatap Delana. “Kalau kamu bukan ponakan Bibi, udah
Bibi jadiin calon menantu.”
“Eh!? Kenapa gitu?”
Bibi Kam menghela
napas. “Kamu tahu kan kalau Dhanu itu gonta-ganti pacar terus? Dia pintar cari
pacar yang cantik. Tapi dia nggak pandai memilih calon istri yang baik.”
“Hahaha.” Delana
tergelak mendengar ucapan bibinya.
“Ehem!” Tiba-tiba
Dhanuar sudah ada di pintu dapur.
Delana terdiam. Ia
masih menahan tawa.
“Kamu ngetawain aku,
hah!?” Dhanu menarik kepala Delana dan mencekik dengan lengannya.
“Aku nggak ketawa!” sahut
Delana sambil menahan tawa.
“Masih nggak mau
ngaku?” Dhanuar mengeratkan cekikannya.
“Bibi! Dhanu nakal!”
teriak Delana sambil memukul lengan Dhanu.
“Jangan berlindung sama
Mama! Mama nggak akan belain kamu!” dengus Dhanuar.
Bibi Kam hanya tertawa
sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak heran lagi melihat Dhanu dan Delana
berkelahi seperti anak kecil. Kehadiran mereka selalu membuat suasana ramai.
Belum lagi kehadiran Alan, Bryan dan saudara lainnya.
“Lepasin, Dhan! Nggak
aku masakin nih!” ancam Delana.
“Kamu nggak usah masak!
Ikut aku ke kamar yuk!”
“Ngapain?” tanya
Delana.
“Bercinta,” bisik
Dhanuar di telinga Delana.
Delana mendelik ke arah
Dhanuar. Ia langsung menginjak kaki Dhanu sekuat tenaga.
“Aaargh ...!” Dhanuar
berteriak kencang, membuat Bibi Kam panik melihat anaknya.
“Kenapa?” tanya Bibi
Kam.
Dhanuar menahan sakit
sambil memegangi punggung kakinya. “Dasar monster!” dengus Dhanuar ke arah
Delana.
“Otak mesum!” balas
Delana.
“Kalian kenapa?” tanya
Bibi Kam lagi.
“Dia tuh!” Delana
menunjuk Dhanuar dengan dagunya. “Masa dia ngatain aku ... mmm...” Delana tak
bisa melanjutkan ucapannya karena telapak tangan Dhanuar membungkam mulutnya.
“Aku bercanda!” bisik
Dhanuar menahan kesal.
Bibi Kam melipat kedua
tangannya di dada sambil menatap tajam ke arah puteranya.
“Hehehe. Aku cuma mau
minta bantuin lipatin baju di kamar,” tutur Dhanuar sambil meringis ke arah
mamanya.
“Baju? Bukannya udah
dilipatin sama pembantu?” tanya Delana.
“Sebelum aku jemput
kamu, aku ngeluarin semua bajuku dan belum dilipatin lagi sama pembantu.”
“Oh ya? Terus? Masalah
buat gue!?” Delana mendelik ke arah Dhanuar. Ia melanjutkan aktivitasnya
memasak.
“Lihat, Ma! Delana
kayak monster kan mukanya?” tanya Dhanuar pada mamanya. “Pantes aja sampe
sekarang belum punya pacar,” celetuknya.
Delana sengaja
mengeraskan irisan pisaunya.
Dhanuar melotot melihat
gerakan tangan Delana yang terlihat menahan emosi. Bisa-bisa, pisau di tangan
Delana melayang ke kepalanya. Ia meringis menatap Delana dan langsung berlari
keluar dari dapur.
Bibi Kam hanya tertawa
kecil melihat adegan yang terjadi antara Dela dan Dhanu.
Beberapa menit
kemudian, terdengar suara ribut dari arah luar.
“Mereka udah datang,”
ucap Bibi Kam.
Delana tersenyum. Ia
langsung bergegas keluar dari dapur dan menghampiri tiga cowok tampan yang
sedang bercengkerama di ruang keluarga.
“Hei, kalian udah
datang?” sapa Delana.
“Halo, Sayangku!” balas
Alan dan langsung memeluk Delana.
“Eh, jangan
peluk-peluk! Calon istriku ini!” Dhanuar menarik punggung Alan untuk menjauhi
Delana.
“Apaan sih!?” Alan
menepis lengan Dhanuar.
Delana dan Bryan
tertawa melihat tingkah Dhanuar dan Alan. Mereka biasa bercanda memperebutkan
Delana karena hanya Delana anak perempuan satu-satunya dari keluarga Aubrey.
“Huft, cewek cantik
memang selalu jadi rebutan,” celetuk Delana penuh percaya diri.
Alan, Dhanuar dan Bryan
saling pandang. Mereka tak menyangka kalau Delana penuh percaya diri mengatakan
dirinya cantik.
Delana tersenyum. Ia
membalikkan tubuhnya dan bergegas kembali ke dapur untuk membantu Bibi Kam.
Alan dan Bryan
mengikuti langkah Delana untuk bertemu dengan Bibi Kam.
“Apa kabar, Bibi?”
tanya Alan begitu sampai di dapur. Ia langsung merangkul bibinya dan mengecup
pipi wanita setengah baya itu.
“Bibi bau asap,” tutur
Bibi Kam.
“Nggak papa. Aku suka
bau asap,” tutur Alan. “Bibi masak apa?” tanya Alan.
“Ada, deh. Nanti juga
tahu.”
“Hmm ...”
“Ayah sama Ibu kamu
sudah sampai?” tanya Bibi Kam.
“Mereka sampai sore
ini.”
“Kamu jemput?”
“Nggak. Mereka naik
taksi aja. Langsung ke sini.” Kedua orang tua Alan akan datang dari Swedia.
Ayah Alan adalah orang Italia, sedangkan ibunya merupakan adik kandung dari
Ayah Delana.
Bibi Kam tersenyum. Ia
menatap Bryan yang berdiri di samping Alan. Bryan langsung mencium punggung
tangan Bibi Kam.
“Kamu kelas berapa
sekarang?” tanya Bibi Kam pada Bryan.
“Kelas satu SMA,” jawab
Bryan.
“Nggak terasa ya kalian
sekarang sudah besar-besar. Rasanya, baru kemarin Bibi menggendong kalian.”
Alan dan Bryan
tersenyum menatap Bibi Kam.
“Bibi mau gendong kami
sekarang juga bisa,” tutur Alan sambil tertawa kecil.
“Apa kamu pikir Bibi
punya kekuatan menggendong anak bayi yang tinggi badannya sudah melebihi Bibi?”
Alan tergelak mendengar
ucapan Bibi Kam. “Gimana kalo aku yang gendong Bibi?” tanya Alan sambil
mengangkat tubuh bibinya.
“Hei, turunin Bibi!”
pinta Bibi Kam sambil menepuk bahu Alan.
Delana dan Bryan
tertawa kecil melihat sikap Alan.
Alan langsung
menurunkan tubuh bibinya sambil tertawa.
“Bibi tahu kamu sudah
besar. Nggak perlu menggendong Bibi!” pinta Bibi Kam.
Delana tertawa melihat
kelakuan Alan.
Alan menoleh ke arah
Delana yang masih tertawa. “Mau digendong juga?” tanya Alan.
“Eh!? Enggak,” sahut
Delana sambil menggelengkan kepala.
“Kenapa ketawa-ketawa?
Sini aku gendong!” Alan langsung menghampiri Delana.
“Nggak mau!” teriak
Delana sambil berlari menjauhi Alan.
Alan tak menyerah. Ia
terus mengejar Delana yang masih berlari. Alhasil, suasana menjadi ribut karena
Alan dan Delana terus berkejar-kejaran seperti kucing dan tikus.
“Udah, aku capek!” pinta
Delana menghentikam langkahnya. Ia menunduk memegangi perutnya yang keram
karena berlari sambil terus tertawa.
Alan langsung menyambar
tubuh Delana dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Aargh ... turunin!”
teriak Delana.
Alan tersenyum licik.
Ia berjalan mendekati sofa yang ada di ruang tamu. Ia mengangkat tubuh Delana
lebih tinggi dari kepalanya.
“Alan ...!” teriak Delana.
Ia menutup kedua matanya karena ketakutan. Ia merasa Alan mengangkatnya terlalu
tinggi.
Alan tergelak. Ia
langsung menjatuhkan tubuh Delana ke atas sofa.
“Aduh!” gerutu Delana
sambil memegangi pinggangnya.
“Nggak usah pura-pura
sakit!” Alan melipat kedua tangannya di depan dada.
“Sakit beneran ini,”
sahut Delana sambil memegangi pinggangnya.
“Sofanya empuk. Nggak
bakalan sakit!”
Delana mengerutkan
hidungnya. “Kamu tuh bener-bener nyebelin. Kalo nggak ganggu aku kenapa sih?”
Delana bangkit dan bergegas kembali ke dapur.
Delana menghentikan
langkahnya. Ia menoleh ke arah pintu ruang tamu yang tiba-tiba terbuka. Seorang
pria tampan berkacamata hitam muncul dari balik pintu.
Mata Delana berbinar
menatap cowok tampan yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans berwarna
senada.
“Anshu?” ucap Delana
dan Alan berbarengan.
Anshu tersenyum, ia melepas
kacamatanya dan berjalan menghampiri Alan. “Gimana kabarnya?” tanya Anshu
sambil merangkul Alan.
“Baik.
Kamu gimana?” tanya Alan balik.
“Kelihatannya?” Anshu
memandang tubuhnya sendiri.
Alan tertawa sambil memukul
bahu Anshu perlahan.
“Hai, Del ...!” sapa
Anshu sambil menghampiri Delana.
“Hai ...!” sahut
Delana. Anshu langsung memeluk dan mencium pipi Delana.
“Kamu makin cantik
aja,” tutur Anshu sambil menatap Delana yang masih mengenakan apron. “Bikinin
es teh dong! Aku haus banget,” pinta Anshu.
Delana memutar bola
matanya. “Muji kalo ada maunya doang!” dengus Delana. Ia langsung bergegas
pergi ke dapur.
Anshu tertawa kecil.
Walau Delana seringkali mengomel, tapi ia tahu kalau Dela akan membuatkan apa
yang ia minta.
“Kamu kapan datengnya?”
tanya Alan pada Anshu.
“Ini baru datang.”
“Bukan ini. Maksudnya
sampe Balikpapannya,” sahut Alan.
“Tadi pagi.”
“Oom sama Tante nggak
ikut ke sini?” tanya Alan.
“Banyak kerjaan di
Jakarta.”
“Oh.” Alan
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Anshu Aubrey juga
sepupu Delana. Sifatnya jauh berbeda dengan Alan yang cerewet dan banyak
tingkah. Anshu lebih banyak diam, lebih mirip seperti Bryan.
“Dhanu mana?” tanya
Anshu.
“Di kamar kayaknya,”
jawab Alan.
Anshu langsung
melanglahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamar Dhanuar.
Alan menjatuhkan
tubuhnya di atas sofa. Ia sama sekali tidak tertarik untuk masuk ke kamar
sesama jenis. Ia lebih senang menggoda Delana atau mengganggu Bibi Kam yang
sedang memasak.
Beberapa menit
kemudian, Delana keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi satu buah teko
berisi air es teh dan teman-temannya.
“Pada ke mana?” tanya
Delana pada Alan yang sedang duduk santai di sofa.
“Ke kamar Dhanu.”
Delana menghela napas.
“Anshu nih aneh banget! Minta bikinin es teh tapi malah pergi,” gerutu Delana.
Ia meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja kaca.
“Taruh aja di situ!
Ntar juga turun,” tutur Alan.
“Kamu ngapain di sini
sendirian? Bawain naik sekalian!” pinta Delana.
“Ogah! Emangnya aku
pembantu?” sahut Alan.
Delana berkacak
pinggang menatap Alan. “Maksud kamu, aku ini pembantu!?”
Alan meringis mendengar
ucapan Delana. “Mirip!” ucapnya sambil cengengesan.
Delana mengerutkan
hidungnya. Ia bersiap memukul tubuh Alan sekuat-kuatnya.
Alan langsung melompat
ke belakang sofa sebelum ia ditelan hidup-hidup oleh Delana.
“Panggilin mereka suruh
turun! Aku masih bantu bibi masak,” pinta Delana. Ia langsung bergegas kembali
ke dapur. Tak peduli Alan akan membawakan minuman ke kamar atau memanggil
mereka untuk keluar.
“Anshu udah datang?”
tanya Bibi Kam.
“Udah. Langsung naik ke
kamar Dhanu,” jawab Delana.
“Dia lupa nggak nemuin
Bibi,” ucap Bibi Kam.
“Nggak tahu tuh. Dia
langsung nanya Dhanu. Padahal minta dibikinin es teh tapi malah langsung masuk
kamar.”
Bibi Kam tersenyum. “Mungkin
kangen. Udah lama nggak ketemu.”
Delana
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kembali membantu Bibi Kam untuk
mempersiapkan makan malam.
Beberapa menit
kemudian, Dhanuar, Bryan dan Anshu keluar dari dalam kamar dan langsung
menemani Alan di ruang tamu. Mereka membicarakan banyak hal dan membuat rumah
Paman Kam ramai.
“Del, Bibi buat
brownies tadi pagi. Ada di kulkas. Kasih ke mereka gih!” pinta Bibi Kam.
“Oke.” Delana tersenyum
dan melenggang penuh bahagia. Ia mengambil kue brownies yang sudah
dipotong-potong oleh Bibi Kam dan membawanya ke hadapan saudara-saudaranya.
“Ah, cantik banget!”
puji Anshu begitu Delana muncul membawakan brownies untuk cemilan mereka.
Delana tersenyum manis.
Ia melepas apron yang ia kenakan. “Aku numpang mandi,” tutur Delana pada
Dhanuar.
“Eh!? Di kamarku?”
tanya Dhanuar.
“Iya. Kenapa?” tanya
Delana.
“Di kamar Mama aja!”
pinta Dhanuar.
Delana mengernyitkan
dahinya. “Ada yang dirahasiain ya?” dengus Delana sambil mendekatkan wajahnya
ke wajah Dhanuar.
“Eh!? Nggak ada,” jawab
Dhanuar sambil menggelengkan kepala dengan wajah tegang.
Delana mengerutkan
hidungnya sambil menahan tawa. “Kalo gitu, aku mandi di kamar mandimu aja!” Delana
langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga.
“Jangan!” Dhanuar
langsung melompat dan menghadang Delana untuk naik ke kamarnya.
“Kamu kenapa sih? Aneh
banget!”
“Ada banyak rahasia
cowok yang nggak boleh diketahui sama cewek!” Dhanuar menggenggam pundak Delana
dan menggiringnya untuk masuk ke dalam kamar mamanya.
“Kamu nyimpan cewek di
kamar?” tanya Delana berbisik.
“Idih, nggak lah.”
“Terus apa yang
dirahasiain dari aku? Bilang aja ada cewek di kamarmu makanya aku nggak boleh
masuk.”
“Kalo ngomong suka
sembarangan!” tutur Dhanuar sambil mengetuk kepala Delana.
“Cewek kamu kan banyak.
Ini malam tahun baru dan bisa aja mereka minta ngabisin waktu malam tahun baru
bareng pacarnya.”
“Nggak juga aku bawa
pulang ke rumah. Mending aku ajak main di hotel,” sahut Dhanuar sambil
cengengesan.
Delana menatap tajam ke
arah Dhanuar. “Dasar otak mesum!”
“Udah, cepet mandi!”
Dhanuar langsung mendorong Delana masuk ke dalam kamar mamanya.
Delana mencebik ke arah
Dhanuar dan langsung membanting pintu kamar.
“Eh, gila! Kalo sampe
hidungku hilang, awas aja!” ancam Dhanuar karena Delana membanting pintu dan
nyaris menghantam wajahnya.
Delana tak menyahut. Ia
langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tepat jam enam sore,
kedua orang tua Alan akhirnya tiba dari Swedia.
“Aunty ...!” seru
Delana begitu melihat tantenya sudah ada di ruang keluarga. Ia langsung
menghambur ke pelukan tantenya yang kini tinggal di luar negeri bersama dengan
suaminya.
“Gimana kabarnya
ponakan Aunty? Makin cantik aja?”
“Baik,” jawab Delana
sambil tersenyum.
“Alan di sini gimana?
Dia bersikap baik, kan?”
“Baik banget!” sahut
Delana.
“Dia tinggal di rumah
kamu atau di sini?” tanya Mama Alan.
“Kadang di rumah aku,
kadang di rumah Dhanu,” jawab Delana.
“Sering di rumah
sendiri Kok, Ma,” sahut Alan.
Mama Alan tersenyum. Ia
senang karena anaknya mau tinggal di rumah walau sendirian.
“Oom apa kabar?” tanya
Delana pada Papa Alan.
“Baik.”
Delana tersenyum.
“Paman Kam mana?” tanya
Mama Alan.
“Masih kerja. Sebentar
lagi pulang,” jawab Bibi Kam yang tiba-tiba muncul dari dapur dengan membawa
nampan berisi minuman dan cemilan.
“Biar aku yang bawain!”
Delana langsung bangkit dan membantu Bibi Kam membawa nampan. Ia langsung
meletakkan di atas meja dan menyuguhkan minuman untuk kedua orang tua Alan.
“Lihat, Ma! Calon mantu
rajin banget kan?” tanya Alan sambil menggoda Delana.
Mama Alan langsung
menepuk paha Alan karena tak hentinya menggoda Delana.
“Enak aja! Ini calon
istriku!” sahut Dhanuar sambil merangkul Delana.
Seisi ruangan tertawa
mendengar candaan Alan dan Dhanuar. Sejak kecil, mereka memang terbiasa seperti
itu karena Delana adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga Aubrey.
“Kamu sudah punya pacar
atau belum?” tanya Mama Alan pada Delana.
“Belum,” jawab Delana
sambil tersenyum.
“Sayang banget. Coba
kalo bukan kakaknya Alan, udah aku jadiin menantu.”
“Hahaha.” Semua orang
tertawa mendengar ucapan Mama Alan.
“Ma, emang rela kalo
Delana jadi menantu orang lain?” tanya Dhanuar pada mamanya.
“Mama lebih rela kalo
Dela nikah sama orang lain daripada kamu!” dengus Bibi Kam.
Alan dan yang lainnya
tergelak.
“Dela tuh cewek idaman
mertua. Udah cantik, pinter masak, rajin, sopan dan menyenangkan,” tutur Bibi
Kam.
“Ah, Bibi berlebihan,”
sahut Delana.
“Sayangnya masih jomlo
aja. Nggak laku-laku!” celetuk Alan.
Delana mencebik dan melempar
wajah Alan dengan potongan kue yang ia makan.
“Makanya, suruh sama
aku nggak mau!”
“Nggak tertarik,” sahut
Delana.
“Udah, jangan godain
Dela terus. Kasihan!” sergah Ayah Alan.
Alan dan Dhanuar
tertawa lebar. Mereka memang sangat jahil, berbeda dengan Bryan dan Anshu yang
lebih banyak diam.
“Ma, aku mau pindah
sekolah di sini,” tutur Alan.
“Hah!? Kenapa mau
pindah?” tanya Bibi Kam. “Bukannya sekolah di sana jauh lebih baik?”
“Tapi di sini jauh
lebih menyenangkan,” sahut Alan sambil mengangkat kedua alisnya.
“Pasti ada cewek yang
ditaksir ya di sini?” tanya Delana menyelidik.
“Iya, lah. Kamu
ceweknya!” dengus Alan.
“Aku rasa kamu harus
siap-siap ditolak kalau naksirnya sama aku,” ucap Delana sambil menjulurkan
lidahnya.
“Ma, apa aku kurang
ganteng sampe ditolak sama cewek kayak gini?” rengek Alan pada mamanya.
“Nggak usah lebay!”
Delana mendelik ke arah Alan.
“Sudah, jangan godain
kakak kamu terus!” sela Mama Alan. “Mama tetap nggak ijinin kamu pindah ke
sini.”
“Kenapa?”
“kuliahnya nanggung.”
“Kalo gitu, kuliahnya
di sini ya?” tawar Alan.
“No!”
Alan menghela napasnya.
“Kamu boleh habiskan
waktu liburanmu sepuasnya di sini. Tapi, tetap harus kembali sekolah di Swedia.
Ngerti?”
Alan menganggukkan
kepala. Ia menyerah memperjuangkan keinginannya untuk kuliah di kota
Balikpapan. Ia memang sudah tertarik dengan Delana sejak dulu dan ingin sekali
bisa berada dekat dengan kakak sepupunya itu.
Paman Kam muncul
beberapa saat kemudian. Membuat suasana semakin riuh dengan canda tawa.
Keluarga Aubrey
menghabiskan makan malam bersama di malam pergantian tahun baru.
“Anshu, kamu jadi ikut
pendidikan militer?” tanya Paman Kam saat mereka duduk bersama di meja makan.
Anshu menganggukkan
kepala.
“Hah!? Kamu mau masuk
tentara?” tanya Delana sambil menatap Anshu.
Anshu tersenyum.
“Keren!” ucap Delana
dengan mata berbinar.
“Kalo aku tentara cocok
nggak?” tanya Alan.
“Nggak!” jawab Delana
dan Dhanuar bersamaan.
Alan langsung
mencengkeram dadanya sendiri. “Kalian benar-benar menyakiti perasaanku,”
ucapnya sambil pura-pura terisak.
Delana dan Dhanuar
saling pandang.
“Nggak usah lebay! Aku
cemplungin ke kolam renang nih,” sahut Dhanuar.
“Cemplungin aja!”
teriak Delana.
“Coba kalo berani?
Nggak aku kasih nomer hp-nya.”
“Nomor hp siapa?” tanya
Delana.
“Biasa,” jawab Alan
sambil memainkan alisnya.
Delana mengamati salah
satu pembantu Dhanuar yang sedang menyiapkan api pembakaran untuk barbeque-an.
Anshu yang kebetulan
melihat Delana langsung bangkit dan membantu menyiapkan bara api. Ia mengambil
beberapa jagung untuk dibakar.
Delana langsung
bergegas mengikuti Anshu, begitu juga dengan sepupunya yang lain.
“Dek, kamu mau jagung
bakar?” tanya Delana pada Bryan.
Bryan menganggukkan
kepala.
Delana tersenyum. Ia
mengambil beberapa buah jagung dan membakarnya.
“Ini udah ada,” tutur
Anshu.
“Buat Om sama Tante
aja,” sahut Delana sambil mengedipkan matanya.
Anshu tersenyum.
“Punyaku mana?” tanya
Alan dan Dhanuar bersamaan.
“Bakar sendiri!” jawab
Delana dan Anshu bersamaan.
Alan dan Dhanuar saling
pandang. “Oh, kalian sekarang udah kompakan ya?” tanya Dhanuar.
Delana tersenyum
senang.
“Kamu tunggu di sana
aja! Biar aku yang bakarin, bau asap,” ucap Anshu.
“Beneran?” tanya Delana
dengan mata berbinar.
Anshu menganggukkan
kepala.
“Ah, kamu memang cowok
paling pengertian sedunia,” ucap Delana sambil menyubit kedua pipi Anshu.
“Makasih!” ucapnya sambil berlalu pergi dan bergabung kembali ke meja makan
bersama paman dan bibinya.
“Sini, aku bantu!”
pinta Dhanuar. Ia langsung membantu Anshu, sedangkan Alan hanya berdiri di
sampingnya.
“An, kamu udah punya
cewek apa belum?” tanya Dhanuar.
“Kenapa?” tanya Anshu
balik.
“Paling minta
dikenalin,” sahut Alan.
Anshu tersenyum. “Pasti
aku kenalin kalo aku udah nemuin cewek yang cocok.”
“Jangan! Gawat kalo
dikenalin sama Dhanu,” sahut Alan.
“Kenapa?” tanya Anshu
sambil tertawa kecil.
“Dia ini nggak mandang
pacarnya siapa, semua cewek dipacarin,” bisik Alan.
Anshu tertawa kecil
menanggapinya. “Coba aja kalo berani!”
“Eh!? Nggak berani aku.
Calon angkatan gini. Bisa-bisa aku ditembak mati,” tutur Dhanuar.
Alan dan Anshu tertawa
bersama.
“Udah berapa cewekmu?”
tanya Anshu.
“Mmh ...” Dhanuar
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Itu pertanyaan yang nggak pernah bisa
aku jawab.”
“Saking banyaknya
pacarnya, sampe nggak bisa dihitung,” celetuk Alan.
“Cowok ganteng harus
gitu,” sahut Dhanuar.
“Ada kok, cowok ganteng
yang nggak pernah pacaran.” Alan menunjuk Anshu dengan dagunya.
Dhanuar langsung
menatap tajam ke arah Anshu. “Kamu nggak pernah pacaran?” tanyanya.
Anshu hanya tersenyum
menanggapi ucapan Dhanuar.
“Hadeh ... ganteng
mubazir!” dengus Dhanuar.
“Hahaha. Ganteng
mubazir?” sahut Alan sambil tertawa terbahak-bahak.
“Eh, kamu ngakak kayak
gitu, emang udah punya pacar?” tanya Dhanuar.
“Weits, udah dong!”
Anshu tertawa kecil
sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku kedua sepupunya itu.
“Coba amu tuh kayak
Bryan, pendiem, pinter, ganteng lagi!” tutur Anshu sambil menatap Bryan yang
sedang duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang.
“Sama kayak kamu,
hahaha.” Alan tertawa lebar.
“Ganteng mubazir!”
sahut Dhanuar sambil tertawa lebar.
“Eh, kalian ngobrolin
apaan sih? Kayaknya seru banget?” tanya Delana yang tiba-tiba sudah muncul di
antara mereka.
“Astaga! Kamu kayak
setan aja tiba-tiba nongol,” celetuk Alan terkejut.
“Nah, ini juga salah
satunya ... cantik mubazir!” sahut Dhanuar sambil menunjuk wajah Delana. Ia tak
dapat menahan tawanya.
“Maksudnya?” Delana
mengerutkan hidungnya.
“Cantik-cantik jomlo!
Mubazir!”
“Eh, bukan mubazir! Aku
punya harga diri. Emangnya cewek-cewekmu itu murahan semua!”
“Apa kamu bilang?”
sahut Dhanuar.
“Murahan!”
Dhanuar terdiam. Ia
tidak bisa membela cewek-cewek yang pernah menjadi pacarnya. Karena semua cewek
yang menjadi pacarnya memang bisa dengan mudahnya menjadi teman tidur.
“Nggak bisa ngelak kan?
Huu ...!” Delana mengambil satu jagung bakar dan menoyorkan ke hidung Dhanuar.
“Panas, Del!” Dhanuar
mengusap hidungnya.
Delana tidak peduli, ia
langsung bergegas kembali ke meja makan bersama paman dan bibinya. Ia pikir,
obrolan saudara-saudaranya adalah obrolan seru. Ternyata, hanya membahas soal
perempuan. Sama sekali tidak menarik untuknya.
Malam pergantian tahun
menjadi malam yang seru dan harmonis bagi keluarga Aubrey. Tahun ini, mereka
bisa menikmatinya bersama walau anggota keluarga yang hadir tidak lengkap.
Delana cukup bahagia
karena sepupu-sepupunya merelakan malam tahun barunya untuk keluarga besar.
Bukan dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman yang entah di mana dan apa
yang dilakukan.
((Bersambung...))