Saturday, October 18, 2025

THEN LOVE BAB 42 : KACAU KARENA 2 WANITA

 


Chilton lebih banyak menghabiskan waktunya di asrama sejak ia dekat dengan Ratu. Ia tidak punya keinginan untuk pulang ke rumah apalagi mengenalkan Ratu pada mamanya. Ia tidak ingin mendapat pertanyaan dari mamanya karena membawa wanita yang berbeda.

Chilton seringkali membandingkan Ratu dan Delana. Di matanya saat ini, hanya ada hal negatif tentang Delana. Ia sama sekali tak habis pikir kenapa cewek seperti Delana justru senang berganti dan memainkan perasaan cowok.

Yang ada di kepalanya, cewek yang baik saat ini hanya Ratu. Ratu selalu ada di saat ia perlukan dan sama sekali tidak pernah marah walau ia masih sering memikirkan Delana.

Tiba-tiba ponsel Chilton berdering. Ia menatap layar ponsel dan melihat nama Ratu sedang memanggil.

Chilton tersenyum. “Panjang umur, baru juga dipikirin, udah nelpon aja,” celetuknya.

Chilton langsung menjawab panggilan telepon dari Ratu. “Halo ... kenapa?” tanya Chilton.

“Kamu di mana?” tanya Ratu.

“Di asrama. Kenapa?”

“Bisa ketemu?”

“Kapan?”

“Sekarang.”

“Di mana?” tanya Chilton.

“Di taman depan asrama kamu,” jawab Ratu.

“Oke. Aku ke sana sekarang.” Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya dan bergegas keluar dari asrama. Ia melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di dekat asrama tempat tinggalnya.

Di kursi taman, Ratu sudah menunggu Chilton.

Chilton menatap Ratu dari kejauhan. “Dela ...!” panggilnya berbisik. Chilton langsung mengerjapkan matanya ketika ia melihat gadis yang duduk di kursi taman itu seperti Delana. Padahal, sudah jelas kalau gadis yang sedang menunggunya adalah Ratu.

Chilton melangkahkan kakinya perlahan dan langsung duduk di samping Ratu. “Udah lama nunggu?” tanya Chilton.

Ratu menggelengkan kepala. “Baru aja, kok.”

“Kenapa ngajak ketemu?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Kangen aja sama kamu.”

Chilton tertawa kecil. “Bukannya tadi siang baru ketemu di kampus?” tanya Chilton.

“Iya, sih. Tapi, nggak tahu kenapa aku tiba-tiba kangen sama kamu. Apa ini yang namanya cinta?” tanya Ratu.

Chilton menaikkan kedua alisnya sambil menatap Ratu. “Cinta?” tanya Chilton.

Ratu mengangguk sambil tersenyum. “Setelah banyak hal yang udah kita lewati bareng, emangnya kamu nggak punya perasaan lebih sama aku?” tanya Ratu.

“Eh!?”

“Kamu selalu ada kapan pun aku butuh kamu. Apa kamu masih nggak mau jujur sama perasaan kamu?” tanya Ratu penuh percaya diri. Ia sangat percaya kalau Chilton juga mencintainya dan ia tidak ingin memiliki hubungan menggantung berlama-lama.

“Aku ...”

Ratu mengangkat kedua alisnya. Ia menatap serius wajah Chilton. Menunggu cowok itu mengatakan cinta kepada dirinya.

Chilton balas menatap Ratu. Ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Sebab ia sendiri tidak yakin kalau ia mencintai Ratu. Tapi, dia terbiasa bersama Ratu dan ia tidak ingin mengecewakan gadis itu seperti ia mengecewakan Delana.

“Mmh ... aku boleh tanya sesuatu sama kamu?” tanya Chilton.

“Boleh. Tanya aja!”

“Kalau ada cowok lain yang lebih ganteng dari aku, apa kamu bakal suka sama dia juga?” tanya Chilton.

Ratu tergelak mendengar pertanyaan Chilton.

“Kenapa ketawa?” tanya Chilton heran.

“Pertanyaanmu itu konyol!” sahut Ratu sambil tertawa. “Ganteng dan cantik itu relatif. Mungkin banyak di luar sana cowok yang lebih ganteng dari kamu menurut orang lain. Tapi, di mataku ... kamu tetep yang paling ganteng dan paling baik sedunia,” jelas Ratu.

Chilton tersenyum mendengar pujian dari Ratu.

“Kalo pertanyaannya dibalik, kamu bakal jawab apa?” tanya Ratu.

Chilton tersenyum. “Kamu yang paling cantik di dunia.”

“Ah, kamu bisa aja!” tutur Ratu tersipu.

“Emangnya, kamu mau punya pacar kayak aku?” tanya Chilton.

“Loh? Kenapa nggak mau?”

“Aku punya banyak kekurangan.”

“Cinta itu saling melengkapi kekurangan. Bukan mencari kelebihan. Aku juga punya banyak kekurangan” sahut Ratu.

“Makasih ya! Kamu udah banyak ngertiin aku.” Chilton meraih telapak tangan Ratu dan menggenggamnya. “Kamu mau jadi pacar aku?” tanya Chilton sambil mencium tangan Ratu.

Ratu tersenyum girang saat Chilton mengecup punggung tangannya. “Mau!” jawab Ratu tanpa pikir panjang.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Chilton dan Ratu. Karena mereka memilih merayakan hari jadian mereka dengan berkeliling kota. Semuanya terasa indah. Impian Ratu untuk mendapatkan cinta dari Chilton akhirnya terwujud.

***

Chilton dan Ratu resmi berpacaran. Ini membuat seisi kampus heboh. Semua mahasiswa mengetahui hal itu, tak terkecuali Delana.

Delana hanya memilih berdiam diri di dalam kelas. Ia sama sekali tidak semangat untuk keluar karena semua orang membicarakan Ratu dan Chilton. Ini membuat hatinya benar-benar terluka.

Selama setengah tahun ia dan Chilton bersama, tak membuat Chilton membuka hati untuk mencintainya. Ratu yang baru mengenalnya dalam hitungan minggu, kini sudah resmi menjadi kekasih Chilton.

Delana menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Ia membenamkan wajahnya dalam-dalam dan tak ingin satu orang pun tahu kalau ia adalah satu-satunya orang yang terluka mendengar berita tentang dua sejoli itu.

“Del ... sabar, ya!” Belvina mengelus-ngelus pundak Delana.

“Aku nggak papa,” sahut Delana lirih.

“Ya udah, tunjukin kalo kamu baik-baik aja! Jangan kayak gini!” pinta Belvina.

Delana langsung mengangkat kepalanya. “Kamu bener, Bel.”

Belvina tersenyum sambil menatap Delana. “Kalo kamu terus terpuruk, dia malah seneng lihatnya.”

Delana mengusap air mata yang membasahi pipinya. “Ke kantin, yuk!” ajaknya.

“Ivo mana, ya? Masuk nggak si dia?” tanya Belvina.

“Cari aja ke kelasnya!”

“Oke. Yuk!” Belvina bangkit dari kursi, diikuti dengan Delana. Mereka bergegas menuju kelas Ivona tapi gadis cantik itu memang tidak masuk kelas hari ini. Akhirnya, mereka langsung berjalan ke kantin sambil bercanda ria.

Delana tak ingin menunjukkan kalau dirinya terluka melihat Chilton dan Ratu jadian. Ia harus bisa menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja dan bahagia. Ia ingin sekali bisa mengucapkan selamat pada Chilton dan Ratu. Tapi, ia tak menemui dua orang itu di kantin kampus.

“Del, kabarnya si Alan gimana?” tanya Belvina saat mereka sudah duduk bersama di kantin kampus.

“Baik.”

“Dia nggak godain kamu terus?”

“Masih begitu ai,” jawab Delana.

“Berani banget dia meluk dan cium kamu depan banyak orang.”

“Biasa aja. Namanya juga saudara. Dia mah nggak sama aku aja begitu. Sama sepupu yang lain juga gitu.”

Belvina tertawa kecil.

Sampai mereka selesai makan di kantin, Chilton dan Ratu yang biasanya ada di kantin, tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.

***

Setelah resmi menjadi pacarnya, Chilton lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ratu. Ia mengajak Ratu untuk menikmati makan siang di luar bersama. Tak lagi menghabiskan waktu makan siangnya di kantin kampus.

“Chil, dua hari lagi aku ulang tahun. Aku pengen ngerayain berdua sama kamu,” tutur Ratu sambil bergelayut manja di pundak Chilton.

“Boleh. Mau ngerayain di mana?” tanya Chilton.

“Enaknya di mana ya?”

“Di asrama?” tanya Chilton.

Ratu mengedikkan bahunya. “Aku cuma mau ngerayain berdua sama kamu aja.”

“Di mana?”

“Di tempat yang romantis, dong!” jawab Ratu sambil tersenyum bahagia menatap Chilton.

“Oke. Besok malam aku jemput kamu jam delapan malam.”

“Beneran?” tanya Ratu sumringah.

“Iya,” jawab Chilton.

“Makasih ...!” seru Ratu sambil memeluk erat tubuh Chilton.

Chilton tersenyum sambil mengusap rambut Ratu. Ia memang tak mencintai Ratu, tapi ia tak bisa menolak keinginan gadis itu.

“Oh ya, ntar sore temenin aku belanja, ya!”

“Belanja apa?” tanya Chilton.

“Keperluan bulanan.”

“Oke. Jam berapa?”

“Mmh ... jam empat sore, deh.”

“Siap Ibu Ratu!” sahut Chilton sambil menyolek dagu Ratu.

Ratu tertawa kecil melihat tingkah Chilton yang selalu siap menuruti semua keinginannya.

“Cepetan makannya! Kita harus balik lagi ke kampus. Aku ada mata kuliah penting,” pinta Chilton.

Ratu menganggukkan kepala.

Usai makan siang di luar, mereka kembali ke kampus dan belajar seperti biasanya.

***

Sesuai dengan janjinya. Jam empat sore, Chilton sudah menunggu Ratu di depan pintu gerbang asramanya.

“Lama ya nunggunya?” tanya Ratu begitu ia keluar dan langsung menghampiri Chilton.

“Nggak, kok,” jawab Chilton. Ia menyerahkan helm pada Ratu.

Ratu tersenyum dan langsung memakai helm tersebut.

Chilton menyalakan mesin motor. Ia langsung melajukan sepeda motornya menuju pusat berbelanjaan begitu Ratu sudah duduk manis di belakang punggungnya.

Langkah Ratu berhenti saat melihat deretan tas cantik yang terpajang. “Cantik banget tasnya,” tutur Ratu sambil memerhatikan tas tangan berwarna cokelat dengan hiasan berwarna emas. Tas itu sangat cantik dan terlihat elegan.

“Ambil aja!” pinta Chilton.

“Harganya lumayan mahal. Ntar aku nggak jadi belanja bulanan kalo beli tas ini,” sahut Ratu memasang wajah murung.

“Ntar aku bayarin!” ucap Chilton.

“Hah!? Beneran?” tanya Ratu sambil memerhatikan harga yang tertera di tas tersebut. “Empat ratus lima puluh ribu,” gumamnya.

“Nggak papa. Ambil aja kalo kamu suka.”

“Aargh ...! Makasih sayangku!” seru Ratu. Ia meloncat kegirangan dan langsung mencium pipi Chilton.

Chilton hanya tersenyum. Ia membayar semua barang belanjaan milik Ratu dan itu membuat Ratu semakin bahagia.

***

Chilton merebahkan tubuhnya ke atas kasur setelah selesai menemani Ratu berbelanja. Ia melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan jam delapan malam. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia menyadari kalau ada banyak hal yang harus ia lakukan ketika ia punya pacar.

Ia teringat kalau dua hari lagi adalah ulang tahun Ratu. Ia tak ingin mengecewakan kekasihnya dan ingin memberikan kenangan berharga selama ia menjadi pacar Ratu.

Chilton meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Ia langsung menelepon Zoya.

“Halo, Zoy, kamu di mana?” tanya Chilton.

“Di tempat syuting. Kenapa, Chil?”

“Jam segini masih syuting?” tanya Chilton balik.

“Iya. Lagi padet banget jadwalku.”

“Oh. Aku bisa minta tolong kah?” tanya Chilton lagi.

“Apa?”

“Ada kontak yang punya kafe atau resto bagus di sekitar sini?”

“Mau ngapain?”

“Mau ngerayain ulang tahun cewekku.”

“Wah, gila! Kalian udah jadian? Kapan jadiannya? Aku nggak dikasih kabar.”

“Baru jadian dua hari yang lalu.”

“Selamat, ya! Salam buat Dela!” seru Zoya.

“Bukan sama Dela.”

“Hah!? Sama siapa emangnya?” Zoya terkejut mendengar ucapan Chilton.

“Ratu Sheeva.”

“Oh, si tukang MC itu?” tanya Zoya.

“Iya.”

“Gila kamu ya! Cewek sebaik Dela dibuang demi Ratu,” tutur Zoya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Chilton hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Zoya.

“Yah, sama siapa pun. Aku tetep dukung, kok. Kamu pasti bisa milih mana yang terbaik buat kamu,” tutur Zoya.

“Iya. Yang kutanya ada nggak?”

“Ada.”

“Kafe mana?”

“The Hobbies.”

“Mmh ... boleh juga tuh. Kirim kontaknya ya!”

“Siap!”

Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menatap keluar jendela kamar. Pandangannya tertuju pada taman tempat pengamen jalanan sering menyanyikan lagu. Walau pandangannya jauh, ia bisa melihat kalau Delana ada di sana. Cewek itu senang sekali mendengarkan pengamen itu sedang menyanyi.

Chilton melotot saat melihat pengamen itu mengulurkan tangan ke arah Delana dan mengajak gadis itu bernyanyi bersama. Ia langsung berlari keluar dari kamar. Menuruni anak tangga secepatnya, ia terus berlari sampai ia bisa melihat Delana benar-benar sudah duduk di kursi, tepat di samping pengamen tersebut.

Chilton berdiri tepat di sisi kiri Delana. Ia bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas dan Delana tak akan bisa melihat kehadirannya.

“Mbaknya siapa namanya?” tanya pengamen tersebut.

“Dela,” jawab Delana singkat.

“Mau nyanyi bareng saya?”

“Boleh.”

“Mau lagu apa?”

“Andmesh – Hanya Rindu,” jawab Delana sambil tersenyum.

Pengamen itu langsung tersenyum dan mulai memetik senar gitarnya.

Chilton tak menyangka kalau Dela punya suara yang bagus dan membuat banyak penonton berkerumun ingin menontonnya.

“Ku ingin saat ini, engkau ada di sini. Tertawa bersamaku seperti ... dulu lagi. Walau hanya sebentar Tuhan, tolong kabulkanlah! Bukannya diri ini, tak terima kenyataan. Hati ini hanya rindu ...” Delana tak kuasa meneteskan air mata saat menyanyikan lagu itu. Ia tak hanya merindukan Chilton, tapi juga ibunya sendiri.

Chilton memejamkan matanya dan bergegas kembali ke asrama dengan langkah lunglai. Ia tahu telah menyakiti hati Delana begitu dalam. Tapi, ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa. Ia telah memilih Ratu menjadi kekasihnya dan tak ingin mengecewakannya.

***

Sesuai dengan permintaan Ratu. Chilton sudah menyiapkan makan malam romantis untuk merayakan hari ulang tahun Ratu. Ia juga sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk kekasihnya itu.

Ratu tak pernah protes karena Chilton mengajak jalan keluar menggunakan sepeda motor bebek miliknya. Sehingga Chilton sama sekali tak punya keinginan untuk mengganti sepeda motornya atau pun mengambil mobil di rumahnya. Lagipula, sampai saat ini Ratu masih tidak tahu kalau rumah orang tua Chilton masih di dalam kota ini.

Tepat jam delapan malam, Chilton sudah menunggu Ratu di depan asrama cewek. Chilton mengenakan pakaian rapi. Ia yang terbiasa pakai kaos, kini memilih memakai kemeja dan membuatnya terlihat lebih tampan.

Beberapa kali Chilton menatap wajahnya di kaca spion untuk memastikan kalau wajahnya terlihat keren.

Beberapa menit kemudian, Ratu keluar dari pintu asrama dan berhasil membuat Chilton terpesona.

“Kamu cantik banget!” puji Chilton sambil melongo saat Ratu menghampirinya.

“Ah, masa sih?”

“Iya.” Chilton menganggukkan kepala.

“Makasih.” Ratu tersenyum ke arah Chilton yang masih bengong. Ia meraih helm dari tangan Chilton dan langsung naik ke atas motor cowok itu.

“Ayo, berangkat!” seru Ratu sambil menepuk bahu Chilton.

“Iya.” Chilton langsung menyalakan mesin sepeda motornya dan bergegas pergi ke tempat yang sudah ia pesan sebelumnya.

Ratu terlihat sangat bahagia dengan hadiah makan malam yang diberikan oleh Chilton. Ia tak menyangka kalau Chilton memesan satu rooftop hanya untuk mereka berdua saja.

“Chil, makasih ya hadiah ulang tahunnya. Aku suka banget! Aku nggak bakal lupa sama hari ini,” tutur Ratu sambil bersandar di pundak Chilton.

Chilton tersenyum. “Asal kamu senang, aku bakal ngelakuin apa aja.”

Mata Ratu berbinar mendengar kalimat yang keluar dari Chilton. Ia langsung memeluk tubuh Chilton dengan erat. “Aku nggak tahu harus ngungkapin kayak gimana lagi. Aku bahagia banget malam ini.”

Chilton tersenyum kecil. Ia memeluk pinggang Ratu dan mengajaknya duduk di salah satu meja yang sudah dihiasi lilin-lilin yang begitu indah. Di dekat mereka sudah ada pelayan yang bersiap melayani mereka.

“Kamu mau makan apa?” tanya Chilton.

“Apa aja, deh!”

Chilton tertawa kecil. Ia memanggil pelayan untuk mendekat. Ia meraih kertas dan pena. Memberikan catatan untuk pelayan dan memintanya segera pergi.

“Aku tuh nggak nyangka kalo kamu bisa seromantis ini,” tutur Ratu. Ia masih terkagum-kagum dengan apa yang diberikan Chilton. Ia sama sekali tak menyangka kalau Chilton memperlakukannya begitu istimewa.

Chilton hanya tersenyum menatap wajah cantik Ratu.

Beberapa menit kemudian, makanan sudah terhidang di atas meja dan mereka menikmati makan malam bersama dengan suasana yang sangat romantis.

Tak hanya makan malam romantis, Chilton juga sudah menyiapkan hadiah lain untuk Ratu.

Chilton memanggil pelayan untuk membersihkan meja makan mereka. Ia berbisik pada pelayan tersebut. Pelayan itu menganggukkan kepala.

Beberapa menit kemudian, salah satu pelayan kembali dengan membawa satu buah paper bag berukuran besar dan memberikannya pada Chilton.

“Aku punya hadiah buat kamu. Semoga kamu suka!” tutur Chilton sambil menyodorkan paper bag tersebut pada Ratu.

“Ini buat aku?” tanya Ratu sambil tersenyum bahagia.

Chilton menganggukkan kepala.

Ratu langsung menerima pemberian dari Chilton. “Makasih ya!” Ia segera membuka paper bag tersebut dan melihat satu boneka beruang berwarna merah jambu. Ratu langsung mengeluarkan boneka tersebut dan memeluknya dengan erat.

“Gimana? Suka?” tanya Chilton.

“Apa pun yang kamu kasih, aku selalu suka,” jawab Ratu. Ia memang pandai sekali menyenangkan hati Chilton.

“Semoga bisa jadi teman kamu bermimpi,” tutur Chilton sambil tersenyum.

Ratu tersenyum bahagia menatap Chilton. Ia tak menyangka kalau Chilton senang memberikannya banyak hadiah, menemani ke manapun ia pergi dan selalu ada di saat ia butuhkan.

“Sayang, besok kita jalan-jalan ke pantai yuk!” ajak Ratu.

“Pantai mana?” tanya Chilton.

“Kemala Beach aja, gimana?”

“Boleh. Jam berapa?” tanya Chilton.

“Enak di sana sore-sore gitu.”

“Oke.” Chilton menganggukkan kepala. Ia menyetujui permintaan Ratu. “Udah malam, kita pulang yuk!” ajak Chilton.

“Aku masih pengen berdua sama kamu,” rengek Ratu.

Chilton menghela napas. “Besok kan masih bisa ketemu.”

“Iya, deh,” sahut Ratu dengan wajah murung. Ia masih ingin menghabiskan banyak waktunya bersama dengan Chilton.

Chilton bangkit dari tempat duduknya. Mereka langsung pulang. Chilton mengantarkan Ratu ke asramanya.

“Makasih untuk malam ini,” tutur Ratu saat ia turun dari motor Chilton. Ia melepas helmnya dan memberikannya pada cowok itu.

Chilton tersenyum, ia juga melepas helmnya dan menyangkutkannya di bawah tempat duduknya karena jarak asrama mereka hanya berdekatan dan tidak perlu pakai helm lagi.

Ratu mencium pipi Chilton sebelum ia masuk ke dalam pintu gerbang asramanya.

“Jangan tidur malam-malam!” pesan Chilton.

Ratu menganggukkan kepala dan langsung bergegas masuk ke dalam asramanya.

Chilton tersenyum menatap punggung Ratu yang semakin menghilang. Ia memperbaiki posisi duduknya dan menyalakan mesin motor.

Chilton terkejut karena saat lampu sepeda motornya menyala, ia melihat sosok Delana berdiri di depannya. Gadis itu mengenakan celana jeans panjang dan tubuhnya dibalut dengan jaket berwarna hijau lumut. Rambut panjangnya dibiarkan terurai dan ditutupi dengan penutup kepala.

Chilton mengerjapkan matanya. Ia pikir, Delana hanya ada dalam imajinasinya saja. Tapi, tubuh gadis itu tak kunjung menghilang. Di depannya masih ada tubuh Delana yang tersenyum ke arahnya.

Chilton menutup wajahnya sejenak. Ia membuka matanya perlahan dan gadis di depannya itu sudah menghilang. Chilton menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis yang ada dalam bayangannya itu. Ternyata benar, yang berdiri di depannya hanya sosok Delana yang ada dalam khayalannya.

Chilton langsung menjalankan sepeda motornya perlahan. Ia tahu, Delana tidak mungkin keluar dari rumahnya malam-malam seorang diri.

Chilton langsung memarkirkan sepeda motornya dan masuk ke dalam kamar asrama. Ia tak menyangka kalau sosok Delana masih terus menghantui pikirannya. Bahkan di saat ia sudah merasakan bahagia dengan gadis lain.

Dengan santai, Chilton melepas jaketnya dan meletakkan kunci motor di atas meja. Ujung jemarinya menyentuh sebuah kotak bergambar hello kitty. Kotak bekal itu milik Delana. Membuatnya kembali mengingat gadis itu.

“Aargh ...!” teriak Chilton sambil melempar kotak makan milik Delana ke dinding kamarnya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil menatap kotak bekal yang sudah tergeletak di lantai, tepat di depannya.

Entah kenapa bayangan Delana tak bisa pergi dari pikirannya. Ia bahkan bisa melihat gambar-gambar kenangannya bersama Delana keluar dari kotak bekal itu.

“Apa aku udah gila?” gumam Chilton. Ia merangkak menghampiri kotak bekal milik Delana. Ia bangkit perlahan dan langsung menginjak kotak nasi itu berkali-kali hingga hancur.

“Aku nggak mau ingat kamu lagi, Del!” teriak Chilton. “Kenapa kamu masih terus-terusan ada di pikiran aku?” Chilton mengepalkan tangan dan meninju dinding yang ada di depannya.

Kini ia sudah punya Ratu di sisinya. Ratu jelas jauh lebih baik dari Delana. Tapi, bayangan Delana masih saja menghantui Chilton. Ia berusaha memupuk rasa bencinya pada Delana. Bukannya semakin benci, gadis itu justru terus menerus ada dalam pikirannya bahkan saat ia tak pernah lagi bertemu dengannya.

Chilton mencari ponselnya. Perasaannya kacau dan ia butuh seseorang untuk menemaninya.

“Kamu di mana?” tanya Chilton begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Di rumah. Gimana makan malamnya?” tanya Zoya.

“Aku ke rumahmu sekarang!” seru Chilton tanpa ingin mendengar jawaban Zoya. Ia langsung mematikan ponselnya dan bergegas pergi ke rumah Zoya.

“Kamu kenapa?” tanya Zoya melihat Chilton yang terlihat gelisah. Tak biasanya Chilton datang ke rumahnya tengah malam seperti ini.

Chilton tak menjawab. Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang dan memejamkan matanya.

“Abis tidur sama dia?” tanya Zoya.

“Sembarangan kalo ngomong!”

“Terus, kenapa?”

Chilton mengusap wajahnya. “Aku kepikiran Dela terus.”

Zoya tergelak mendengar ucapan Chilton.

“Malah ngetawain?” dengus Chilton.

“Sebenarnya kamu tuh cintanya sama Dela atau Ratu?”

“Cewekku si Ratu.”

“Kenapa masih mikirin cewek lain?”

“Aku nggak mikirin! Tiba-tiba aja dia sering nongol di pikiran aku.”

Zoya menatap Chilton sambil menggelengkan kepala. “Suatu saat kamu bakal sadar, siapa yang sebenarnya kamu cintai.”

Chilton terdiam. Ia merasa telah banyak melakukan kesalahan. Setelah menolak Delana dan menjadikan Ratu sebagai pacarnya, perasaannya justru semakin tak karuan.

“Gila! Aku nggak pernah sampe kayak gini gara-gara cewek,” celetuk Chilton sambil memijat keningnya.

“Udah. Bawa enjoy aja! Jalani aja! Kalo jodoh, nggak bakal ke mana, kok.” Zoya menepuk-nepuk bahu Chilton.

Chilton tertawa kecil. Ini kali pertama ia merasa harinya kacau karena kehadiran dua wanita dalam hidupnya, Ratu dan Delana ...



((Bersambung...))

THEN LOVE BAB 41 : DIHANTUI BAYANGMU

 



Ratu dan Chilton semakin hari terlihat semakin akrab. Hampir setiap hari mereka terlihat bersama-sama dan begitu mesra. Semua orang di kampus mengira mereka sudah resmi berpacaran.

Pagi-pagi sekali Chilton dan Ratu terlihat jogging bersama. Hampir semua mata memandang mereka.

Chilton menatap wajah Ratu. Ia tersenyum menatap gadis cantik yang ada di depannya itu. Rasanya, tidak terlalu buruk kalau ia harus berpacaran dengan Ratu.

“Chil, besok ada acara, nggak?” tanya Ratu.

“Nggak ada. Kenapa?”

“Temenin aku bisa, nggak?” tanya Ratu.

“Ke mana?”

“Belanja ke mall.”

Chilton menganggukkan kepala.

“Thank you so much!” ucap Ratu sambil bergelayut di pundak Chilton.

Chilton tersenyum sambil mengusap rambut Ratu.

Ia kini mulai membuka hatinya untuk Ratu. Cewek yang beberapa terakhir ini lebih banyak bersamanya.

Keesokan harinya, Chilton memenuhi keinginan Ratu untuk menemaninya berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan.

“Chil, rumah kamu di mana, sih? Kenapa tinggal di Asrama?” tanya Ratu.

“Di luar kota.”

“Oh. Daerah mana?” tanya Ratu sambil memilih pakaian yang akan ia beli.

“Berau,” jawab Chilton ngasal. Ia hanya ingat nama daerah itu karena kebetulan Delana sering menyebut namanya.

“Jauh banget,” celetuk Ratu.

Chilton hanya tersenyum.

“Kamu sendiri dari mana?” tanya Chilton balik.

“Deket aja, dari Penajam.”

Chilton mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu mau beli baju yang mana?” tanya Chilton karena Ratu tak kunjung mengambil satupun pakaian yang sudah ia lihat.

“Bentar, masih bingung,” jawab  Ratu sambil berkeliling, ia mengedarkan pandangannya mencari pakaian yang sesuai keinginannya.

Chilton terus mengikuti Ratu di belakangnya. Semakin lama ia bosan karena Ratu terlalu lama berkeliling di mall.

“Ini bagus, nggak?” tanya Ratu sambil menunjukkan mini dress berwarna biru pada Chilton.

“Bagus,” jawab Chilton singkat.

“Serius?” tanya Ratu. Ia sendiri masih kurang yakin dengan pilihannya.

Chilton menganggukkan kepala. Ia sendiri tidak begitu tahu soal fashion wanita. Ia melihat semuanya bagus.

Ratu meletakkan kembali dress yang ia pegang dan masih mencari pakaian lain yang lebih bagus.

Chilton menghela napas saat melihat Ratu masih belum juga memilih pakaian.

Ratu terus berkeliling sampai akhirnya ia menemukan satu dress yang sesuai dengan keinginannya.

“Ini aja, deh.” Ratu langsung mengambil dan membawanya ke kasir.

Chilton menaikkan kedua alisnya. “Satu aja?”

“Iya.” Ratu menganggukkan kepala.

Chilton menggeleng heran. Ia menahan kekesalan karena berjam-jam ia menemani Ratu berkeliling mall hanya untuk membeli satu pakaian.

“Biar aku yang bayar!” pinta Chilton saat Ratu bersiap membayar belanjaan di meja kasir.

“Serius?”

“Kapan sih aku bercanda?” tanya Chilton balik. “Berapa, Mbak?” tanya Chilton pada petugas kasir.

“Dua ratus enam puluh lima, Mas.”

Chilton langsung mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan memberikan pada petugas kasir.

“Mmh ... kalau tahu bakal dibayarin, aku beli barang banyak tadi,” gumam Ratu dalam hatinya.

“Cari apa lagi?” tanya Chilton.

“Apa, ya?” Ratu mengetuk-ngetuk dagunya sambil berpikir.

“Sekalian aja kalo ada yang mau dicari. Jadi, nggak bolak-balik lagi!”

Ratu tersenyum ke arah Chilton. “Nggak ada, kok. Ini aja.”

“Kamu aneh banget! Berjam-jam di sini cuma beli satu baju,” celetuk Chilton sambil berlalu pergi meninggalkan Ratu lebih dahulu. Ia langsung bergegas menuju parkiran motor.

Ratu mengikuti langkah Chilton sambil berlari. Ia kesulitan mengimbangi langkah cowok itu karena baginya Chilton berjalan terlalu cepat.

“Chil, kamu marah gara-gara kelamaan nemenin aku?” tanya Chilton.

“Nggak marah. Cuma kesel aja!” jawab Chilton sambil memakai helmnya. “Cepetan pake!” pinta Chilton sambil menyodorkan helm pada Ratu.

“Kesel kenapa sih?” tanya Ratu manja.

Chilton menghela napas panjang. “Kamu nggak ngerti gimana rasanya nungguin cewek belanja berjam-jam dan cuma dapet satu baju doang?”

“Cewek emang biasa begitu, kan?”

Chilton menggeleng heran. Ia masih tidak paham dengan jalan pikiran Ratu. Cewek memang ribet dan keinginannya sulit untuk dipahami. “Kenapa nggak beli baju online aja kalo cuma selembar? Kan, nggak perlu capek-capek keliling mall?”

“Kalo aku beli baju online, nggak bisa jalan-jalan dong. Lagian, baju online sering mengecewakan.”

“Itu mall kan punya toko online. Bisa order barang yang sama yang ada di mall itu.”

“Kamu kayaknya paham banget soal belanja online? Kamu sering belanja online?” tanya Ratu.

“Iya. Daripada capek-capek keluar,” jawab Chilton. Ia teringat saat meminta Delana menemaninya membeli pengering rambut untuk mamanya. Delana adalah salah satu cewek yang lebih suka berbelanja online daripada harus berkeliling mall atau pasar. Delana hanya akan pergi ke pasar untuk mencari barang yang sudah pasti akan ia beli.

“Oh iya. Kamu kan dulu deket sama Dela. Dia suka banget belanja online,” tutur Ratu sambil naik motor Chilton.

Chilton langsung menyalakan mesin motornya dan keluar dari parkiran. “Kamu tahu darimana kalo Dela suka belanja online?” tanya Chilton.

“Tahu. Aku kan sekarang sekamar sama dia di asrama.”

Chilton langsung menoleh ke belakang. “Serius?”

“Iya. Emangnya Dela nggak pernah cerita sama kamu?”

Chilton menggelengkan kepala.

“Kalian masih ngajar bareng 'kan?”

“Iya. Tapi jarang ketemu.”

“Kenapa?” tanya Ratu.

“Jam ngajarnya emang nggak ketemu.”

“Bukannya dulu kalian bareng terus?” tanya Ratu.

“Iya. Tapi jadwal ngajar udah diubah. Jadi, jarang banget bisa ketemu sama dia di tempat les.”

“Oh, gitu.” Ratu tersenyum senang. Ia bersyukur karena Chilton tidak punya banyak waktu untuk bertemu dengan Delana lagi. Bisa saja Chilton kembali menyukai gadis itu jika masih sering bersama.

“Kamu mau makan apa?” tanya Chilton.

“Apa, ya?” tanya Ratu balik.

“Beli sate aja, ya!” pinta Chilton.

“Mmh ... boleh.” Ratu mengangguk-anggukkan kepala.

Chilton menarik lengan Ratu ke pinggangnya dan melajukan sepeda motornya.

Ratu langsung memeluk pinggang Chilton dengan erat. Ia tersenyum bahagia karena Chilton semakin hari semakin baik dan bersikap romantis padanya. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Chilton.

Del, aku kangen sama kamu,” bisik Chilton dalam hati kecilnya. Sekalipun ia bersama Ratu. Yang ada dalam hatinya hanyalah Delana. Ia rindu menikmati suasana malam kota Balikpapan bersama gadis itu. Gadis yang telah memberikan banyak warna dalam hidupnya. Walau pada akhirnya ia memilih untuk berpisah. Tapi, ia tidak menyesal pernah mengenal Delana dalam hidupnya.

Chilton berhenti di jalanan dekat asramanya. Di sana, banyak rombong pedagang kaki lima yang berjualan. Begitu juga dengan penjual sate. Tempat ia dan Delana pertama kali sering menghabiskan malam bersama.

Chilton langsung memesan dua porsi sate ayam. Ia menoleh ke arah salah satu pengamen yang bernyanyi di taman sambil bermain gitar. Beberapa bulan lalu, ia menyapa Delana yang sedang asyik mendengarkan lantunan lagu pengamen tersebut.

Chilton mengusap wajahnya. Seluruh kota ini mengingatkan dia pada Delana. Entah kenapa gadis itu benar-benar mengganggu pikirannya. Sudah ditolak tapi masih saja tidak bisa pergi dari hati Chilton. Jika ia terima, Dela akan menyakiti hatinya.

“Kenapa sih senyum-senyum sendiri?” tanya Ratu sambil menoleh ke arah pandangan Chilton.

“Suaranya bagus!” puji Chilton tanpa berkedip menatap pengamen jalanan itu.

“Iya.” Ratu mengambil ponselnya. Ia tidak terlalu tertarik mendengarkan nyanyian pengamen jalanan. Ia lebih memilih berselancar di media sosial untuk mengetahui gosip terbaru.

“Kacang, Kak!” Tiba-tiba seorang anak kecil sudah berdiri di samping Chilton.

Chilton tersadar dari lamunanya dan menatap gadis kecil itu. Gadis kecil yang sama saat ia di tempat ini bersama Delana.

“Nggak, dek! Makasih, ya!” tutur Ratu sambil mengusir anak kecil tersebut.

Anak kecil itu melangkah pergi sambil menunduk sedih.

“Eh, tunggu!” pinta Chilton. Ia bangkit dan menghampiri anak kecil tersebut. “Kakak beli dua puluh ribu, ya!” pinta Chilton. Ia langsung mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari dompet dan memberikannya pada gadis kecil itu.

Anak kecil tersebut tersenyum bahagia karena akhirnya jualannya laku. “Makasih, Kak!” ucap gadis itu sambil memberikan kacang yang sudah selesai ia bungkus.

Chilton tersenyum. “Jaga diri baik-baik ya! Ini sudah malam. Sebaiknya kamu cepat pulang!” tutur Chilton sambil mengelus ujung kepala gadis itu.

“Iya, Kak. Makasih.” Gadis kecil itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.

Chilton tersenyum dan kembali duduk.

“Buat apa sih beli kacang sebanyak ini? Bikin jerawatan aja ntar!” celetuk Ratu.

Chilton tertawa kecil. “Buat dimakan lah.”

Chilton menatap penjual sate yang sedang menghidangkan seporsi sate untuknya. “Paklek, ini dikasihkan aja ke pelanggan yang makan di sini, ya!” pinta Chilton sambil menyodorkan kantong plastik berisi beberapa bungkus kacang goreng yang ia beli dari anak kecil tersebut.

“Wah, siap Mas!” sahut pedagang sate itu dengan senang hati. “Mbak Dela kok sudah lama nggak kelihatan ya, Mas?” tanya penjual sate tersebut.

“Uhuk ... uhuk!” Chilton yang baru saja menyuap sate ke mulutnya langsung batuk begitu mendengar nama Delana disebut.

“Hati-hati makannya!” Ratu langsung menyodorkan segelas es teh yang ada di meja mereka.

“Maaf, Paklek jadi bikin kamu batuk-batuk. Enakin makannya, ya!” tutur pedagang sate tersebut sambil berlalu pergi melayani pelanggan lainnya.

Chilton mengelap wajahnya dengan tisu. Ia tak menyangka kalau akan mendapat pertanyaan seperti itu. Diam-diam, pedagang sate tersebut memerhatikannya bersama Delana.

“Kamu sering makan di sini sama Dela?” tanya Ratu sambil menatap tajam ke arah Chilton.

“Eh!?” Chilton mengangkat kedua alisnya. Ia hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Ratu.

Ratu menghela napas. Ia merasa tidak nyaman karena Delana terus menerus ada di antara dia dan Chilton walau fisik cewek itu tak terlihat.

“Kamu belum bisa lupain dia?” tanya Ratu.

Chilton tak menjawab. Ia asyik melahap sate yang ada di tangannya.

“Sebenarnya, kalian itu pacaran atau enggak sih?” tanya Ratu menyelidik.

“Nggak.”

“Tapi ... kamu cinta sama dia?”

“Nggak!”

“Tapi ...”

“Udah, deh! Nggak usah bahas dia terus!” Chilton membanting piringnya ke hadapan Ratu.

Ratu terkejut melihat Chilton yang tiba-tiba membanting piring di depannya. “Sorry ... jangan marah dong!” Ratu meraih tangan Chilton.

Chilton menepis tangan Ratu. “Aku nggak suka kamu ngomongin orang lain saat kita lagi berdua. Apalagi kamu ngomongin Dela,” tutur Chilton ketus.

“Iya. Maaf!”

Chilton menatap Ratu dan membiarkan cewek itu menghabiskan makanannya karena ia tak lagi bernafsu untuk menghabiskan makanan miliknya sendiri.

***

Ratu langsung masuk kamar saat Belvi sedang asyik bermain game online. Ia terus tersenyum karena merasa kalau Chilton akan segera menjadi kekasihnya.

“Bel, bagus, nggak?” tanya Ratu sambil menunjukkan baju yang baru saja ia beli.

Belvina langsung mengangkat kepala menatap baju yang ditunjukkan oleh Ratu. “Bagus!”

Ratu tersenyum sambil menempelkan gaun itu di badannya. “Iya, dong. Ini dibeliin sama Chilton,” tutur Ratu sambil tersenyum bangga.

Belvina langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menyambar gaun milik Ratu.

“Loh? Kenapa?” tanya Ratu kebingungan.

“Kamu tahu kan kalo Dela masih suka sama Chilton? Kenapa sih kamu malah ngerebut dia dari Dela?” tanya Belvina kesal.

“Siapa yang ngerebut? Orang si Chilton yang mau sama aku.”

“Kepedean amat jadi cewek!” Belvina menarik ujung lengan baju Ratu.

“Pede, dong. Buktinya dia beliin aku baju mahal,” sahut Ratu sambil tersenyum. Ia menarik kembali gaun yang direbut Belvina.

“Mahal apaan? Palingan juga baju harga dua ratus ribuan!?” dengus Belvina.

Ratu terkejut mendengar ucapan Belvina. Ia tidak menyangka kalau baju harga dua ratus ribuan masih termasuk harga murahan untuk Belvina. Padahal, baginya itu harga sudah mahal karena masih banyak harga baju yang lebih murah lagi.

“Kamu ngehina banget sih, Bel? Aku salah apa sih sama kamu?” tanya Ratu.

“Masih nanya salahmu apa? Salahmu udah ngerebut Chilton dari Dela!” seru Belvina.

“Aku nggak ngerebut Chilton. Chilton yang mau sama aku!”

“Bohong!”

“Terserah! Yang jelas aku nggak ngerebut Chilton dari Dela. Orang si Chilton bilang sendiri kalo dia nggak ada hubungan apa-apa sama Dela.”

Belvina mengerutkan hidungnya. Ia mengepalkan tangan dan ingin sekali meninju wajah Ratu, tapi ia tahan. Entah kenapa Ratu terlihat begitu menyebalkan di matanya. Terlebih ia sering pamer, membuat Belvina semakin kesal dengan Ratu.

Ratu sama sekali tidak merasa bersalah. Ia malah tersenyum sinis melihat Belvina menahan emosi. Ia sama sekali tidak takut kalau-kalau cewek tomboy yang ada di hadapannya itu akan menampar atau memukulnya.

Belvina semakin kesal dengan sikap Ratu. Ia memilih untuk keluar dari kamar dan membanting pintu keras-keras.

Penghuni asrama lain yang kebetulan melintas langsung terkejut dan menatap heran ke arah Belvina.

“Apa lihat-lihat!” Belvina mendelik ke arah teman asrama yang memerhatikannya.

Mereka langsung bergegas pergi meninggalkan Belvina sebelum mereka menjadi tumbal kemarahannya.

Belvina langsung keluar dari asrama dan melajukan sepeda motornya menuju rumah Ivona.

Semua orang di rumah Ivona sudah sangat mengenal Belvina. Sehingga ia bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah mewah itu.

“Belvi? Tumben malam-malam gini ke sini?”Ivona mengerutkan  keningnya saat melihat Belvina sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Aku boleh tidur sini?” tanya Belvina.

“Nggak boleh!”

Wajah Belvina langsung merengut.

Ivona meringis ke arah Belvina. “Hehehe ... boleh banget, kok,” lanjut Ivona.

“Makasih ya!” tutur Belvina sambil memeluk Ivona.

Ivona tersenyum. Ia mengajak Belvina masuk ke dalam kamarnya. “Kamu kenapa? Tumben mau nginap di sini? Tiba-tiba pula,” tanya Ivona.

“Aku habis berantem sama Ratu.” Belvina merebahkan dirinya di atas kasur.

“Hah!? Berantem kenapa?”

“Kesel banget aku sama dia. Coba aja kalian berdua tidur di asrama, pasti bakalan kesel juga sama dia. Pengen banget kutabokin tuh anak,” gerutu Belvina kesal.

Ivona menahan tawa. “Kamu tuh kenapa? Tiba-tiba ngomel kayak gitu? Masalahnya apa?” tanya Ivona.

“Si Ratu tuh nggak punya perasaan. Dia ngerebut Chilton dari Dela.”

“What!? Serius?”

“Iya, Vo. Udah gitu, mukanya nggak ada rasa bersalah sama sekali. Rasanya pengen kubejek-bejek tuh mukanya dia biar jelek!”

“Kok, dia bisa kenal Chilton? Gimana ceritanya?” tanya Ivona.

“Astaga ... makanya, kamu tuh rajin masuk kuliah biar nggak ketinggalan gosip!”

“Aku lagi banyak jadwal syuting.”

“Kamu mah enak, syuting terus. Jarang masuk kuliah tapi naik terus,” celetuk Belvina.

“Yang penting kan ngerjain tugas dan ikut ujian,” sahut Ivona sambil tersenyum. “Aku diajarin senior aku kayak gitu. Makanya, aku sibuk banget, Bel. Apalagi kalo deket-deket ujian. Harus bagi waktu buat kuliah dan syuting.”

“Hmm ... jadi kamu kan yang curhat!” seru Belvina kesal. Ia sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ivona.

Ivona tertawa kecil. “Ya udah, aku dengerin kamu curhat.”

Belvina mencebik ke arah Ivona. Rasanya, ia sudah tak semangat untuk menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

“Kok diam?” tanya Ivona.

“Bingung aku.”

Ivona mengangkat salah satu alisnya. “Kenapa kamu malah pergi ke sini? Kalah berantem sama dia?”

“Enak aja! Nggak mungkin lah aku kalah sama dia. Aku Cuma ngalah aja,” sahut Belvina ketus.

“Hmm ... terus, Dela tahu?” tanya Ivona.

“Ya nggak lah. Aku belum ngasih tahu dia. Lagian, mana tega sih aku ngasih tahu dia, Vo. Yang ada, bikin dia sedih lagi.”

“Kasih tahu aja ke dia. Biar dia sadar kalo Chilton nggak pantes buat dia. Biar dia bisa move on dan cari cowok lain.”

Belvina menimbang-nimbang ucapan Ivona.

“Eh, ngomong-ngomong, yang kamu nyarikan cowok buat dia itu gimana?” tanya Belvina.

“Hmm ... aku kenalin dia ke Zoya, seniorku. Ternyata, dia udah kenal duluan dan Zoya itu temen baiknya Chilton.”

“Mereka satu kelas kan?”

“Siapa?”

“Zoya sama Chilton.”

“Masa sih? Zoya nggak pernah cerita ke aku.”

“Astaga ...! Makanya, rajin masuk kuliah!” dengus Belvina.

“Kok, aku juga nggak pernah lihat dia di kampus?”

“Sama kayak kamu. Sibuk syuting.”

“Iya sih. Jadwal syutingnya dia juga jauh lebih banyak dari aku.”

“Masa Zoya nggak pernah bilang kalo dia satu kampus sama kita?” tanya Belvina.

Ivona menggelengkan kepala.

“Tapi, kayaknya dia tahu kalo kamu adik tingkatnya dia.”

“Kamu tahu darimana?”

“Belvi gitu loh. Kalo gosip seputaran kampus aja mah lewat!” seru Belvi bangga.

“Tapi, dia nggak pernah ngungkit soal kuliah kalo ketemu.”

“Yah, namanya juga cowok. Pasti cuek soal begituan. Mungkin, buat dia nggak terlalu penting.”

“Iya juga sih.”

“Eh, si Hendra yang waktu itu kalian ceritain ke aku, ada ke kampus dan nembak Dela.”

“Hah!? Serius?”

“Suer!” Belvina mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Tapi, ditolak sama Dela.”

“Loh? Kenapa? Bukannya dia udah perfect banget ya? Ganteng, kaya, royal ...”

 Belvina mengedikkan bahunya. “Emang Dela nggak cinta kali.”

Ivona menghela napas kecewa. “Gimana caranya carikan cowok buat Dela?”

“Eh, aku baru ingat. Si Alan ada balik ke sini.”

“Alan?” Ivona mengerutkan kening. Ia berusaha mengingat nama orang yang disebut oleh Belvina.

“Alan Satria. Sepupu Dela yang kuliah di Swedia itu.”

“Astaga! Iya, ingat. Si ganteng itu.”

“Sepupu Dela loh ganteng-ganteng semua,” celetuk Belvina.

“Hehe ... iya sih. Tapi, aku belum pernah lihat semuanya secara langsung. Cuma lihat-lihat di foto aja ditunjukin sama Dela.”

“Sama.”

Mereka tertawa bersamaan.

“Eh, tapi pas ulang tahun Dela waktu itu, mereka kan pada datang,” tutur Belvina.

“Tapi aku nggak tahu yang mana-mana. Cuma Alan aja yang aku kenal,” sahut Ivona.

“Iya juga, sih. Lagian, kalo acara pesta gitu banyak banget tamu. Dela juga sibuk, mana sempat kenalin ke kita.”

Ivona tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Eh, si Alan itu bukannya suka sama Dela, ya?” tanya Ivona.

“Iya.”

“Gimana dia kalo ketemu Dela?”

“Mesra banget!”

“Serius?”

“Seisi kampus dibikin ngiri lihat mereka.”

Ivona tertawa kecil. “Alan mah orangnya berani banget.”

“Hmm ... bener! Di kampus aja dengan santainya dia nyium Dela, meluk, dan manggil sayang. Bikin anak-anak cewek pada histeris lihatnya.”

“Histeris kenapa?”

“Alan tuh sekarang ganteng banget. Udah gitu, dia perhatian dan mesra banget sama Dela.”

“Tapi, mereka kan tetep aja saudara.”

“Yang tahu. Kalo yang nggak tahu mereka masih keluarga. Ya, tetep aja pada ngiri lihatnya.”

“Anak-anak bubuhan lain nggak ada komentar lah?” tanya Ivona.

“Pasti ada. Apalagi hari sebelumnya dia baru aja nolak Hendra yang nembaknya di kampus. Asli, si Dela lagi jadi bintang. Buat rebutan cowok-cowok ganteng.”

“Asyik ya?”

“Iya. Tapi, kita tahu lah kalo cintanya Dela cuma buat satu orang aja.”

Ivona menganggukkan kepala. “Setuju!”

Belvina membalas Ivona dengan senyuman.

“Duh, kayaknya seru ya lihat cerita-cerita di kampus. Rasanya, pengen cepet-cepet bisa masuk ke kampus dengan normal.”

“Kamu mah sibuk teros,” celetuk Belvina.

“Aku juga maunya nggak sibuk. Tapi, jadwal syuting masih panjang. Belum lagi syuting iklan dan endorsement.”

“Banyak duitnya.”

“Nggak juga. Cukup aja lah,” sahut Ivona sambil tersenyum.

“Cukup buat beli mobil.”

“Hahaha.” Ivona tergelak mendengar ucapan Belvina.

“Tidur yuk! Aku ngantuk,” ajak Belvina.

“Ayo!” sahut Ivona.

“Besok pagi, temenin aku ke asrama ya!” pinta Belvina.

“Ngapain?” tanya Ivona.

“Aku males berhadapan sama nenek lampir itu sendirian.”

“Astaga! Tinggal pites aja kenapa?”

“Dikira kutu?”

“Ajak Dela juga!” pinta Ivona.

“Jangan lah.”

“Kenapa?”

“Nggak enak kalo Dela tahu aku berantem sama Ratu gara-gara dia. Dela kan nggak enakan gitu orangnya.”

“Hmm ... iya, juga sih.”

“Temenin ya!” pinta Belvina lagi.

“Iya. Tapi, pagi-pagi banget ya! Soalnya jam sembilan aku ada jadwal syuting.”

“Siap. Jam enam aku balik ke asrama.” Belvina menghela napasnya. “Rasanya, aku pengen balik ngekos lagi kalo kayak gini. Tapi, sayang juga duitnya kalo buat bayar kosan. Kan lumayan bisa disimpan buat beli makan atau nambah-nambah bayar kuliah.”

“Ya udah. Sabar aja!” pinta Ivona. “Nggak usah terlalu dipikirin. Lagian, cewek kayak Ratu emang paham kalo ada orang lain yang nggak senang sama dia?”

“Nggak. Mukanya udah tebel banget kayaknya tuh anak. Nggak tahu malu!”

“Udah, ah. Katanya mau tidur?” tanya Ivona.

Belvina meringis. Mereka segera membersihkan wajah, berganti pakaian dan bergegas menuju ruang mimpi.


((Bersambung...)) 

Friday, October 17, 2025

Hati Selapang Yusuf: Belajar Memaafkan Mereka yang Menyakiti Kita




Hati Selapang Yusuf: Belajar Memaafkan Mereka yang Menyakiti Kita


Oleh: Rin Muna

Kadang, hidup memberi kita pelajaran paling berat lewat orang yang paling kita sayangi.
Bukan dari musuh, bukan dari orang asing, tapi dari mereka yang kita kira akan selalu melindungi kita.
Dari sinilah kisah Nabi Yusuf AS mengajarkan sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan manusia biasa, yakni memaafkan tanpa sisa.

Dalam surah Yusuf ayat 8–10, Allah mengisahkan bagaimana saudara-saudara Yusuf merasa iri kepada Yusuf kecil yang disayangi ayahnya, Nabi Ya’qub. Kecemburuan itu berubah jadi niat jahat. Mereka melemparkannya ke dasar sumur dan berbohong bahwa ia telah dimakan serigala.

Bayangkan!
Dikhianati oleh darah sendiri. Diterlantarkan, lalu dibesarkan di negeri asing, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara, semua berawal dari permulaan yang pahit itu. Tapi anehnya, Yusuf tidak menyimpan dendam sedikit pun.

Ketika akhirnya menjadi penguasa Mesir dan berkuasa penuh atas nasib saudara-saudaranya, Yusuf hanya berkata lembut:

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”


Lihatlah, betapa lapangnya hati itu.
Ia bisa saja menghukum, bisa saja menuntut balas, tapi Yusuf memilih untuk melepaskan beban luka dan menggantinya dengan kasih sayang.

Kadang kita salah sangka, mengira orang yang hatinya lapang berarti tidak pernah sakit. Padahal, justru karena hatinya pernah remuk, ia belajar bagaimana cara menyembuhkannya.
Yusuf juga manusia. Ia menangis, ia kecewa, ia rindu ayahnya. Tapi setiap kali luka itu datang, ia tidak menambah luka baru dengan kebencian.

Dalam Tafsir Ibn Katsir, dijelaskan bahwa doa Nabi Yusuf ketika dalam penjara:

“Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.” (QS. Yusuf: 33)

Ini menunjukkan bahwa ia memilih kesucian hati daripada kesenangan sesaat. Ia tahu, menjaga hati lebih penting daripada memenangkan ego.

Begitu juga dalam kehidupan kita sekarang.
Ketika teman kerja menjelekkan di belakang, ketika saudara sendiri iri terhadap keberhasilan kita, atau ketika orang yang kita bantu justru menikam dengan kata-kata, maka itu semua adalah "sumur" kecil yang menanti reaksi kita.
Apakah kita akan menenggelamkan diri dalam amarah, atau belajar berenang menuju permukaan dengan hati yang ringan?

Lapang hati itu bukan teori, tapi latihan harian.
Misalnya, saat seseorang membatalkan janji di menit terakhir, atau teman yang tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan.
Awalnya pasti ada rasa “kok tega sih?”. Tapi perlahan, kalau kita belajar seperti Yusuf, kita akan menemukan kekuatan baru. Kekuatan untuk berkata, “Tidak apa-apa, mungkin Allah sedang mengajarkan aku tentang ikhlas.”

Di rumah, lapang hati bisa terlihat dari bagaimana kita menahan suara saat marah kepada anak, atau bagaimana kita memilih diam saat disalahpahami pasangan.
Di tempat kerja, lapang hati berarti tidak membawa dendam ke dalam pekerjaan, dan tetap profesional walau kecewa.
Di dunia maya, lapang hati berarti tidak membalas komentar kasar dengan komentar kasar, tapi dengan senyum dan doa dalam hati.

Karena lapang hati bukan kelemahan, justru itu tanda kekuatan sejati.
Sebagaimana dikatakan oleh ulama besar, Imam Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin:

“Tanda hati yang bersih adalah ketika engkau tidak merasa senang atas musibah orang yang pernah menyakitimu.”

Itu sulit, tapi bukan tidak mungkin. Yusuf telah membuktikannya.

Yang membuat Yusuf menang bukan tahtanya, tapi cara ia memperlakukan mereka yang menjatuhkannya.
Ketika ia memeluk saudara-saudaranya yang dulu mencelakainya, itu bukan hanya pelukan fisik, tapi pelukan spiritual yang menyembuhkan masa lalu.

Di titik itu, Yusuf sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Ia tak lagi butuh pembuktian, tak lagi mencari balasan. Ia hanya ingin menebar kebaikan karena tahu jika Allah-lah yang menulis cerita dari awal sampai akhir.

Dalam hidup ini, kita juga akan bertemu banyak “saudara” dalam berbagai bentuk: teman, rekan kerja, bahkan orang tua. Karena terkadang saudara justru menjadi orang asing hanya karena tidak bisa menerima siapa kita hari ini.






Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi



Nabi Muhammad SAW: Mukjizat Intelektual dan Cahaya Kecerdasan yang Abadi

Oleh: Rin Muna

Banyak kisah tentang para nabi yang menakjubkan. Nabi Sulaiman dengan kekayaan dan kekuasaannya, Nabi Ayyub dengan kesabarannya, Nabi Yusuf dengan ketampanannya, Nabi Nuh dengan keteguhannya, dan Nabi Musa dengan keberaniannya menghadapi Fir’aun. Namun di antara mereka semua, ada satu sosok yang tidak hanya mulia karena mukjizatnya, tetapi karena kecerdasannya yang melampaui batas manusia , dialah Nabi Muhammad SAW.

Sering kali aku memikirkan tentang sosok Nabi Muhammad SAW. Tentang bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa membaca dan menulis, mampu melahirkan sebuah peradaban ilmu yang mengubah dunia. 
Di sinilah letak mukjizat yang sering terabaikan. Bukan hanya mukjizat Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya, tetapi juga mukjizat intelektual yang menjadikan beliau sebagai sumber inspirasi bagi para pemikir lintas zaman. Bagiku, Rasulullah memiliki kecerdasan intelektual yang sempurna. Beliau bisa mengingat dengan baik setiap wahyu yang Allah turunkan, yang kemudian menjadi Al-Qur'an dan Al-Hadist yang saat ini menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat.

Rasulullah SAW memiliki kecerdasan yang menyeluruh (Intelektual, Emosional, dan Spiritual).

Kecerdasan Rasulullah SAW tidak hanya terbatas pada kemampuan logika atau ilmu pengetahuan, tetapi menyeluruh dalam semua dimensi kehidupan.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyebutkan bahwa Rasulullah memiliki ‘aql al-tam atau  akal yang sempurna. Ini berarti kecerdasan beliau mencakup nalar, intuisi, empati, dan kemampuan sosial yang tinggi.

Dalam setiap situasi genting, beliau menunjukkan keseimbangan yang luar biasa antara akal dan hati. Saat Perang Badar, misalnya, beliau menata strategi militer yang matang. Beliau mmemilih posisi di dekat sumber air, membentuk barisan, dan mengatur logistik pasukan. Namun pada saat yang sama, beliau tetap berdoa dengan linangan air mata, menggantungkan segala keputusan kepada Allah.

Inilah puncak kecerdasan sejati. Yakni ketika logika tidak menyingkirkan iman, dan iman tidak menafikan akal.


Rasulullah SAW diutus kepada bangsa Arab yang kala itu dikenal dengan budaya lisan dan kefasihan berbahasa. Mereka gemar beradu syair, menimbang kata, dan berdebat dalam majelis-majelis sastra. Namun ketika Al-Qur’an turun, para penyair terhebat pun terdiam.

Ayat-ayatnya bukan hanya indah, tetapi mengandung logika, struktur, dan keilmuan yang melampaui batas manusia. Sungguh, aku sangat menyukai ayat-ayat Allah. Terlebih ketika membaca buku terjemahan Al-Qur'an yang diterbitkan pada zaman dahulu. Pilihan diksinya terasa lebih menyentuh hati meski tidak mudah dipahami oleh orang awam, terutama untuk generasi Z dan Alpha seperti sekarang ini.

Allah menegaskan dalam (QS. Yasin: 69) :

“Dan Kami tidak mengajarkan dia (Muhammad) syair, dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang jelas.”


Mukjizat intelektual Rasulullah terletak pada kemampuannya menerima, memahami, dan menyampaikan wahyu dengan ketepatan makna, meski tanpa pendidikan formal. Ia menyampaikan pesan-pesan yang mencakup teologi, hukum, etika, sains, bahkan politik, dengan bahasa yang paling jernih dan rasional.

Para cendekiawan seperti Dr. Maurice Bucaille, dalam bukunya La Bible, le Coran et la Science, menegaskan bahwa tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang bertentangan dengan sains modern. Ini bukti bahwa Rasulullah menerima wahyu yang melampaui kecerdasan manusia pada zamannya.


Dalam sejarah, Rasulullah tidak hanya dikenang sebagai nabi dan rasul, tetapi juga sebagai pemimpin yang visioner dan komunikator ulung.
Beliau mampu mempersatukan suku-suku Arab yang bertikai selama ratusan tahun menjadi satu ummah.

Salah satu contoh nyata kecerdasan sosial beliau tampak saat peristiwa peletakan Hajar Aswad. Saat itu, suku-suku Quraisy hampir berperang karena berebut kehormatan untuk meletakkan batu suci itu.
Rasulullah yang saat itu masih muda, datang membawa solusi sederhana tapi jenius.
Beliau membentangkan selembar kain, meletakkan batu di tengahnya, dan meminta setiap pemimpin suku memegang sisi kain tersebut bersama-sama.

Dengan cara itu, beliau tidak hanya menghindari pertumpahan darah, tetapi juga membuat semua pihak merasa dihormati.
Itulah puncak kecerdasan emosional dan sosial di mana Rasulullah mampu membaca situasi, menenangkan konflik, dan menghadirkan solusi damai tanpa menyinggung siapa pun.


Kadang aku merenung di tengah kesibukan dunia yang sangat bising ini.
Kita sering mengukur kecerdasan dari seberapa cepat kita berpikir, seberapa banyak gelar yang kita miliki, atau seberapa besar inovasi yang kita hasilkan. Tapi Rasulullah mengajarkan bahwa kecerdasan sejati lahir dari ketundukan kepada kebenaran.

Beliau tidak pernah membanggakan dirinya sebagai orang paling cerdas. Beliau justru sering berdoa:

“Ya Allah, tambahkanlah ilmuku.” (QS. Taha: 114



Doa sederhana ini adalah tanda bahwa kecerdasan bukanlah puncak, melainkan perjalanan. Bahwa belajar adalah ibadah, dan memahami adalah bentuk kasih sayang Allah yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Maka benar jika Rasulullah disebut memiliki mukjizat intelektual. Bukan karena beliau menulis buku atau membangun perpustakaan, melainkan karena beliau membangun peradaban berpikir  yang hingga kini masih menjadi sumber inspirasi bagi umat manusia.



Kadang aku berpikir, andai setiap manusia belajar dari kecerdasan Rasulullah, mungkin dunia akan lebih tenang. Karena kecerdasan beliau bukan untuk mengalahkan, tapi untuk memahami. Bukan untuk meninggi, tapi untuk menunduk pada kebenaran.
Dan mungkin di sanalah letak cahaya yang disebut nur Muhammad, sumber ilmu yang tak pernah padam di hati mereka yang mencari.


Sumber Referensi:

1. Al-Qur’anul Karim (QS. Yasin: 69, QS. Taha: 114)


2. Ibnu Khaldun, Muqaddimah (Bab 6: Tentang Akal dan Ilmu)


3. Maurice Bucaille, La Bible, le Coran et la Science, 1976


4. Hamka, Sejarah Umat Islam, Balai Pustaka, 1975










THEN LOVE BAB 40 : KEDATANGAN ALAN UNTUK DELANA

 


Delana masuk ke kampus seperti biasa. Tak ada hal yang istimewa karena saat ini ia tidak sedang dekat dengan siapa pun. Chilton telah pergi meninggalkannya. Hendra juga perlahan menjauh karena permintaan Delana. Entahlah, Delana masih belum mengisi hatinya dengan siapa pun.

Saat sedang asyik melamun di taman kampus, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di saku tasnya dan melihat nama yang tertera pada layar ponsel tersebut.

Delana tersenyum dan langsung menjawab telepon. “Halo ... Alan, apa kabar?” tanya Delana.

“Baik. Kamu di mana?” tanya Delana.

“Di kampus. Kenapa?” jawab Delana sambil balik bertanya.

“Aku di kampus.”

“Hah!? Kampus mana?”

“Kampus mana? Kampusmu lah.”

“Katanya mau minta jemput di Bandara? Kenapa malah udah di sini?” tanya Delana.

Alan hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Delana.

“Kamu di mana, nih? Aku di taman,” tutur Delana sambil celingukan mencari sosok Alan.

“Aku ke sana sekarang,” tutur Alan dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

Beberapa menit kemudian, Alan sudah ada di depan Delana.

Delana berteriak histeris dan langsung memeluk tubuh Alan. “Aku kangen banget sama kamu. Udah lama nggak ketemu!” seru Delana sambil berjingkrak kegirangan.

Alan tertawa kecil melihat sikap Delana yang seperti anak kecil. Ia menepuk-nepuk bahu Delana. “Jangan lama-lama peluknya! Aku nggak bisa bernapas.”

Delana melepas pelukannya. Ia nyengir ke arah Alan. “Lama banget nggak ketemu. Emangnya kamu nggak kangen sama aku?” tanya Delana.

“Kangen, dong!” sahut Alan sambil menjepit dagu Delana.

“Lama banget di Swedia. Betah, ya? Udah punya pacar di sana?” goda Delana.

“Pacar apaan? Aku mah masih sayang sama kamu,” sahut Alan.

Delana tergelak. “I Love You ...!” tutur Delana sambil tertawa kecil.

“Huu ... ngolok!” celetuk Alan sambil merangkul pundak Delana. “Temenin aku keliling kampus, ya!” pinta Alan. “Aku pengen lihat-lihat.”

“Iya. Soalnya kamu kan udah keenakan sekolah di luar negeri.”

“Apa hubungannya?” tanya Alan.

“Udah lupa balik ke sini,” jawab Delana.

“Ini buktinya balik,” sahut Alan.

“Mmh ...” Delana memutar bola matanya. “Kamu sampe kapan di sini?”

“Sampe bosan!” sahut Alan.

“Idih, serius deh aku.”

“Aku sepuluh rius, loh.”

Delana mengerutkan hidungnya. Wajah lucunya membuat Alan tertawa terbahak-bahak.

“Kampus ini nggak banyak berubah, ya?” tanya Alan sambil mengamati sekelilingnya.

“Emangnya apa yang mau berubah?” tanya Delana balik.

“Ya nggak ada sih. Tapi, di sini ada yang beda dari waktu aku masih kuliah dulu.”

“Apa itu?” tanya  Delana.

“Sekarang kampus ini udah ada bidadarinya ya?” tanya Alan.

“Hah!? Mana?” tanya Delana sambil celingukan.

“Ini,” jawab Alan sambil menunjuk Delana dengan dagunya.

“Huu ... ngegombal mulu!” celetuk Delana.

“Eh, kamu udah punya pacar atau belum?” tanya Alan.

“Belum.”

“Sampe sekarang masih jomlo?” tanya Alan sambil tertawa lebar.

Delana mencebik ke arah Alan.

“Berarti, nggak bakal ada yang cemburu kalo aku ngerangkul kamu kayak gini.”

“Astaga ...! Ngapain cemburu? Kita kan saudara.”

“Yah, kali aja ada cowokmu dan dia salah paham,” tutur Alan.

“Mmh ... aman, kok.”

Semua mata memandang ke arah Alan dan Delana yang terlihat sangat dekat dan mesra. Mereka semua mengira kalau Alan adalah kekasih baru Delana, tak terkecuali Ratu. Ia terus mengikuti ke mana Delana dan Alan pergi. Ia tak mau ketinggalan sedikitpun pandangannya pada dua orang itu.

Alan melepas rangkulannya. Ia menggenggam tangan Delana dan mengajaknya ke kantin.

“Mau makan apa?” tanya Delana.

“Soto ayam,” jawab Alan.

“Minumnya?”

“Es teh aja.”

“Oke.” Delana langsung memesankan makanan dan minuman pada pelayan kantin. Ia juga memesan menu yang sama dengan Alan.

Semua siswa di kantin menatap Alan dan Delana.

“Eh, kayaknya kemarin dia baru ditembak sama cowok. Sekarang udah jalan sama cowok lain aja,” celetuk salah satu mahasiswi yang duduk tak jauh dari Delana.

“Iya. Delana bener-bener dah!”

“Jangan-jangan dia tuh punya ilmu pelet? Semua cowok ganteng nempel sama dia,” sahut mahasiswi yang lain lagi.

“Iya. Si Chilton kan sempet deket sama dia lama tuh. Nggak tau kenapa tiba-tiba hubungan mereka renggang. Katanya sih, si Dela selingkuh,” ucap salah satu mahasiswa sambil berbisik.

“Selingkuh sama siapa?”

“Nggak tahu. Mungkin ini cowoknya dia yang bikin Chilton nggak mau lagi sama dia.”

“Bisa jadi, kemarin ada cowok ganteng dan kaya raya juga ditolak. Jangan-jangan ini pacarnya dia.”

“Eh, wait!” seru salah satu mahasiswi sambil memerhatikan wajah Alan.

“Kenapa?” Semua mata tertuju padanya.

 “Itu si Alan bukan sih?” tanyanya.

“Alan?” Semua mata tertuju pada Alan.

“Kakak kelas kita yang pindah waktu dia semester empat itu?”

“Iya.”

“Mirip, sih.”

“Astaga ...! Iya, itu Alan. Kakak tingkat kita!” seru salah satu mahasiswi yang masih satu tingkat dengan Chilton alias kakak tingkat Delana.

Suasana kantin terlalu riuh. Sehingga Delana tak bisa mendengarkan pembicaraan dari mahasiswi lain yang ada di meja berbeda. Tapi, ia cukup tahu kalau mereka sedang membicarakan Delana, entah tentang apa.

“Udah lama banget aku nggak makan ini!” seru Alan saat makanan pesanannya sudah terhidang di atas meja.

“Serius?” tanya Delana.

Alan menganggukkan kepala. “Di Swedia makanan Indonesia mahal-mahal. Aku kan harus hemat tinggal di sana,” tutur Alan.

“Kamu bisa hemat juga?” tanya Delana.

“Jatah bulananku nggak banyak tahu. Kalo buat di sini aja, aku udah bisa traktir sepuluh cewek sehari.”

“Mahal banget, ya di sana?”

“Kalo dirupiahin lumayan,” jawab Alan sambil asyik menikmati soto ayam.

Delana tertawa kecil.

“Nanti aku bikinin soto di rumah. Kamu ke rumah, ya!” pinta Delana.

“Mmh ... iya. Aku denger-denger sekarang kamu pinter masak ya?”

Delana hanya tersenyum  menanggapi pertanyaan Delana.

“Aku jadi ingat banget waktu kamu masih belajar masak dan aku disuruh nyobain,” tutur Alan sambil tertawa.

“Iya. Kamu juga pembote banget! Bilangnya enak sekalinya nggak enak.”

Alan tertawa. “Kan kamu bisa ngerasain sendiri.”

“Tapi kamu habisin makanan nggak enak itu.”

Alan terkekeh. “Terpaksa aja. Kasihan yang udah capek-capek masak kalo nggak di makan.”

Delana tertawa kecil. Mereka menikmati makan siang bersama di kantin kampus. Delana tak peduli dengan banyak mata yang memandang mereka.

“Hei ... Alan ya?” sapa salah satu cowok yang tidak dikenal oleh Delana.

“Hei ... apa kabar?” Alan langsung bangkit dan merangkul cowok itu. “Sini, duduk!” pinta Alan pada cowok itu. Cowok itu langsung duduk di samping Alan. Tepat berhadapan dengan Delana.

“Lama nggak kelihatan. Kapan datangnya, Al?”

“Baru aja tadi pagi. Langsung nemuin si bocil ini,” tutur Alan sambil menunjuk Delana dengan dagunya. “Dia suka nangis-nangis kalo kangen sama aku.”

Cowok itu tertawa kecil menatap Delana. “Kamu pacaran sama Dela?”

“Ngaramputnya! Dia loh adik sepupuku,” sahut Alan.

Cowok itu tertawa kecil. “Udah lama tinggal di luar negeri, masih aja pake  bahasa ngaramput,” celetuknya. “Sorry ... aku nggak tahu kalo kalian sepupuan.”

“Hadeh, masa nggak tahu. Dela ini yang rumahnya di depan situ.” Alan menunjuk arah rumah Delana. “Yang biasanya aku main ke sana kalo pulang ngampus. Kayaknya kamu pernah aku ajak, deh.”

“Astaga! Yang dulu tomboy itu?”

“Nah, iya itu!” jawab Alan sambil menatap wajah Delana. “Dulu penampilannya kayak laki-laki, sekarang kayak bidadari.”

Cowok itu tertawa kecil menanggapi ucapan Alan. “Iya, lah. Sekarang dia jadi rebutan banyak cowok. Kalo dulu, nggak ada yang ngelirik kali, ya?”

“Eh, kalian itu ngomongin orang yang ada di depan kalian,” tegur Delana kesal.

Alan dan temannya tergelak mendengar ucapan Delana. Bagi Alan, wajah kesal Delana adalah ekspresi wajah yang lucu dan dia senang melihatnya.

“Eh, masih main basket?” tanya Alan.

“Masih. Main yuk!”

“Sekarang?” tanya Alan.

“Nggak, lah. Ntar sore aja atau besok pagi.”

“Oh. Kiarain ngajak sekarang. Siang bolong kayak gini mau ngajak main basket. Di sini panas banget!”

“Wah, mentang-mentang udah di luar negeri, sekarang takut panas.”

Alan tergelak. “Nggak juga.”

“Ya udah. Aku balik ke kelas dulu. Besok pagi aku tunggu di lapangan basket ya!” pinta teman Alan sambil menepuk bahu Alan dan berlalu pergi.

Alan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah temannya itu. Ia tak menyangka kalau ada teman kampus yang masih mengenalinya. Dia orang pertama yang menyapa Alan. Kemudian, ada beberapa anak yang ikut menyapa.

Setelah selesai makan. Alan berpamitan untuk pulang ke rumah.

“Del, aku pulang dulu ya!” pamit Alan saat ia sudah berada di parkiran mobil.

Delana menganggukkan kepala.

“Jaga diri baik-baik!” Alan menggenggam pundak Delana dan mencium kening gadis itu.

Delana tersenyum menatap Alan.

“Bye ...!” Alan melangkah mundur sambil melambaikan tangannya. Di depan kampus, sudah ada taksi yang menunggunya. Ia memang belum pulang ke rumah dan masih menggunakan taksi bandara untuk menemui Delana. Ia rindu pada gadis itu. Walau mereka bersaudara, tapi Alan sangat tertarik pada Delana. Delana tidak hanya cantik, tapi dia juga punya kepribadian yang baik.

Delana membalas lambaian tangan Alan. Ia menatap tubuh Alan sampai ia masuk ke dalam mobil dan benar-benar pergi dari hadapannya.

Delana langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menyurusi koridor memasuki kelas.

“Cowok itu siapa?” tanya Ratu yang tiba-tiba menghadangnya.

“Bukan urusan kamu,” jawab Delana tanpa menghiraukan pertanyaan Ratu. Ia tetap menerobos tubuh Ratu. Hal ini membuat Ratu semakin kesal dengan Delana. Ia merasa tersaingi karena Delana cukup dekat dengan banyak pria tampan.

Ratu mendengus kesal ke arah Delana yang sudah berjalan jauh. “Aku harus ngasih tahu Chilton,” gumamnya.

Ratu langsung berjalan menuju kelas Chilton. Sebab ia tahu kalau cowok itu jarang sekali keluar dari kelasnya bahkan di jam istirahat.

“Hai, Chil!” sapa Ratu saat mendapati Chilton sedang sendirian di dalam kelasnya.

“Ada apa?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Kangen aja sama kamu. Kenapa kamu nggak keluar kelas?” tanya Ratu.

“Biasanya juga gini.”

“Kamu nggak lihat tadi ada kejadian seru banget soal Delana,” tutur Ratu.

“Apa?”

“Dela didatengin sama cowok ganteng lagi. Cowok yang ini beda sama cowok yang kemarin. Kemarin, dia baru aja nolak cowok dan sekarang udah jalan sama cowok lain lagi. Udah gitu, mesraaa  banget!” tutur Ratu. “Cowok itu nyium Dela di depan kampus dan si Dela diam aja.”

Chilton tersenyum. “Biar aja. Dia emang suka sama cowok ganteng. Wajar aja kalo dia dikelilingi banyak cowok ganteng. Kamu iri sama dia?”

Ratu menggelengkan kepala. “Aku mah nggak bisa kayak gitu. Aku tuh setia. Nggak bisa gonta-ganti cowok kayak si Dela.”

Chilton tersenyum ke arah Ratu. Sebenarnya, ia sedikit terganggu dengan pernyataan Ratu tentang Delana.

“Udah masukan. Kamu balik ke kelas kamu!” perintah Chilton.

“Oke.” Ratu langsung bangkit dan bergegas pergi meninggalkan Chilton.

Chilton mengusap wajahnya. Ia semakin kesal dengan sikap Delana yang terus-menerus mendekati cowok-cowok tampan secara bergantian. Ia masih merasa sakit hati ketika mengingat kedekatannya dengan Delana. Ia sendiri dilema, Delana terlihat begitu tulus mencintainya, tapi juga mudah berpindah hati pada pria-pria tampan yang lain.


***


Pagi ini kampus terdengar begitu riuh karena Alan dan teman-temannya sudah ada di lapangan basket. Hampir semua cewek di kampus meneriaki nama Alan Satria. Cowok keren yang dulu pernah bersekolah di tempat ini. Setelah kembali dari Swedia, tingkat kegantengan Alan naik tujuh ratus persen dan membuat para mahasiswi tergila-gila.

Delana tak mau ketinggalan. Ia ikut memberi semangat pada Alan. Ia juga membawakan minuman dan handul kecil untuk cowok itu.

“Minum dong, sayang!” pinta Alan sambil mendekat pada Delana.

Para mahasiswi yang ada di dekat Delana berteriak histeris saat mendengar Delana dipanggil “Sayang” oleh Alan.

“Kenapa? Mau dipanggil sayang juga?” tanya Alan yang menyadari reaksi pada mahasiswi tersebut.

“Mau ...!” sahut para mahasiswi serentak.

Alan tertawa kecil. Ia langsung menyambar botol minum yang ada di tangan Delana dan menenggaknya.

Alan kembali ke tengah lapangan sambil melambaikan tangan pada mahasiswi yang tengah berkerumun. Ia mengedipkan mata menggoda para mahasiswi tersebut.

Delana tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alan.

Beberapa menit kemudian, Alan selesai bermain basket bersama teman-temannya. Ia langsung duduk di samping Delana. “Capek!” tuturnya.

“Namanya juga olahraga,” celetuk Delana.

“Iya. Di sini panas banget!” tutur Alan sambil mengibas-ngibaskan kaosnya.

“Ganti baju gih! Bau keringat tahu!” celetuk Delana sambil menutup hidungnya.

“Eh, keringat aku harum tahu!” tutur Alan sambil mengangkat ketiaknya dan mendekatkan ke wajah Delana.

“Iih ... Alan!” seru Delana kesal.

Alan tertawa menatap Delana. “Tasku mana?” tanya Alan.

Delana langsung melemparkan tas Alan.

“Kasar banget ngasihnya,” celetuk Alan.

Delana mencebik ke arah Alan.

“Ikut yuk!” ajak Alan.

“Ke mana?” tanya Delana.

“Ganti baju,” jawab Alan sambil tersenyum nakal.

“Nggak usah mesum ya!”

“Kok, mesum sih?”

“Itu, ngajak ganti baju bareng.”

“Halah ... biasanya juga mandi bareng.”

“Itu dulu, waktu masih kecil!” teriak Delana.

“Apa bedanya sama sekarang?” tanya Alan sambil menahan tawa.

“Beda, lah.”

Alan tertawa. “Aku ganti baju dulu! Tunggu di sini, ya! Jangan ke mana-mana!” pinta Alan. Ia bergegas menuju toilet untuk berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian, Alan sudah kembali dengan pakaian biasa. Ia melemparkan tasnya ke pangkuan Delana.

“Apa-apaan sih!?” celetuk Delana sambil memegangi tas Alan.

“Cuciin baju basketku, ya!” pinta Alan.

“Huu ... dasar!”

“Apa?” tanya Alan mendekatkan wajahnya ke wajah Delana.

Delana menarik tubuhnya menghindari Alan. “Kamu jangan kayak gitu! Nggak enak dilihatin sama orang lain. Dikira kita pacaran.”

“Biar aja,” sahut Alan sambil tersenyum.

Delana tertawa kecil.

“Sayang, hari ini kamu masak apa?” tanya Alan.

“Soto Banjar.”

“Ke rumahmu yuk! Aku laper,” tutur Alan sambil mengelus perutnya.

“Sekarang?”

“Nggak, Tahun depan aja.”

Delana tertawa geli. Ia langsung bangkit dan menggandeng tangan Alan menyusuri koridor kampus untuk keluar dan berjalan menuju rumahnya.

Ia sempat menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Chilton yang juga berjalan beriringan dengan Ratu. Ratu bergelayut manja di lengan Chilton dan cowok itu sama sekali tidak menolaknya.

Delana terlihat semakin kesal. Ia tak mau melepas genggaman tangan Alan dan terus melangkahkan kaki keluar dari kampus.

Tanpa malu-malu, Alan merangkul kepala Delana. Mereka berjalan menyusuri gang ke rumah Delana sambil bercanda ria.

“Lihat tuh! Mereka mesra banget,” tutur Ratu pada Chilton yang masih memandang tubuh Delana dari kejauhan.

“Biar aja. Aku seneng bisa lihat dia bahagia,” tutur Chilton. Ia merasa sedikit lega karena tak lagi merasa bersalah telah menolak Delana. Delana baik-baik saja dan ia tak perlu menyesali keputusannya menolak gadis itu.

Ratu menatap wajah Chilton yang masih belum mengalihkan pandangannya dari gang rumah Delana. Bahkan saat dua orang yang terlihat sangat mesra itu sudah tidak terlihat lagi.

“Masuk, yuk!” ajak Ratu. Ia menarik lengan Chilton dan membalikkan tubuh cowok itu agar segera melupakan kejadian yang baru saja terjadi di depannya.

Chilton melangkahkan kaki memasuki gedung kampus. Di ujung koridor, ia dan Ratu harus berpisah karena mereka berbeda kelas.

Sementara itu, Alan dan Delana sudah sampai di rumah. Mereka terus bercanda sepanjang jalan. Delana sampai menahan sakit perutnya karena Alan terus-menerus membuatnya tertawa.

“Bryan mana?” tanya Alan saat ia sudah berada di dapur Delana.

“Masih sekolah,” jawab Delana sambil menyiapkan racikan soto untuk Alan.

“Dapurmu dari dulu begini-begini aja,” tutur Alan sambil mengedarkan pandangannya. Dapur Delana langsung dilengkapi dengan meja makan. Jadi, ia bisa melihat Delana memasak atau membereskan dapur sambil menikmati makanan yang sudah ada di meja makan.

Alan menghampiri Delana yang masih meracik soto. Ia langsung memeluk pinggang Delana dari belakang dan meletakkan dagunya di salah satu pundak Delana.

Delana menghela napas. “Kenapa?” tanya Delana.

“Aku kangen aja sama kamu,” bisik Alan.

“Tapi nggak usah peluk-peluk juga kali,” celetuk Delana.

“Kemarin, yang meluk duluan waktu aku datang siapa?” tanya Alan sambil menahan tawa.

“Iya, aku,” jawab Delana ketus.

Alan tertawa kecil. “Berarti, sekarang aku boleh peluk kamu kan?”

“Tapi, Al. Kita bukan anak kecil kayak dulu lagi.”

“Apa bedanya sih?”

“Beda lah. Kita sekarang udah dewasa.”

“Kamu udah bisa ngerasain ada yang berbeda saat kita bersentuhan?” tanya Alan.

Delana menggeleng-gelengkan kepala. Ia hanya tak ingin membuat Alan terus menerus menggoyangkan hubungan persaudaraan mereka karena Alan punya perasaan lain pada Delana.

“Aku sudah punya pacar,” bisik Alan. “Kamu nggak perlu khawatir!”

Delana menghela napas. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Alan. “Kalo udah punya pacar, jangan kayak gini sama aku!” pinta Delana sambil melepaskan tangan Alan dari pinggangnya. “Nanti, pacar kamu salah paham.”

“Del, kamu adik dan aku kakakmu. Masa nggak boleh cuma peluk doang?”

Delana tertawa kecil. “Udah, deh. Mending kita makan!” ajak Delana. Ia mematikan kompor karena kuah soto yang ia panaskan sudah mendidih.

Delana menuangkan kuah soto ke dalam racikan soto yang sudah ia letakkan di dalam mangkuk. Ia langsung menghidangkannya di atas meja makan dan mengajak Alan untuk makan.

“Mau pake nasi atau lontong?” tanya Delana.

“Nasi aja!” jawab Alan. Ia langsung duduk di kursi, tepat berseberangan dengan Delana agar ia bisa menikmati wajah gadis yang selama ini ia rindukan.

Delana langsung mengambilkan nasi untuk Alan. Mereka menikmati makan bersama di rumah. Alan sangat menyenangi masakan Delana.

“Masakan kamu enak banget!” puji Alan.

Delana hanya tersenyum.

“Kamu buka usaha resto aja, Del!”

Delana mengedikkan bahunya. “Ribet.”

“Yaelah, kan bisa bayar karyawan.”

“Lihat aja nanti!” sahut Delana sambil tersenyum.

Alan tersenyum sambil menghabiskan soto di mangkuknya. “Kamu balik ke kampus lagi, nggak?” tanya Alan.

“Nggak tahu, nih.”

“Nggak usah, gin! Temenin aku aja!”

“Emangnya mau ke mana?” tanya Delana.

“Nggak ke mana-mana. Pengen di sini aja.”

“Oh.” Delana menganggukkan kepala. Ia membereskan meja makan. Sementara Alan berjalan memasuki ruang keluarga dan langsung menyalakan televisi. Ia duduk di sofa panjang sambil menonton.

Alan sudah terbiasa di rumah Delana seperti di rumahnya sendiri, begitu juga sebaliknya.

Setelah selesai membereskan dapur, Delana menghampiri Alan sambil membawakan cemilan.

“Mau minum bir?” tanya Delana sambil meletakkan satu botol bir di atas meja, tepat di hadapan Alan.

“Boleh,” jawab Alan. Ia langsung menuangkan bir ke gelas yang sudah disediakan oleh Delana dan menenggaknya.

Alan menatap Delana yang masih berdiri di sebelahnya. “Duduk!” pinta Alan.

Delana tersenyum dan duduk di samping Alan.

“Duduknya di pojok sana!” pinta Alan sambil  menunjuk ujung sofa.

Delana langsung menggeser tubuhnya menjauhi Alan. Ia duduk di ujung soda seperti permintaan Alan.

“Nah ... enak kalo kayak gini.” Alan langsung menggeser posisi duduknya dan merebahkan kepalanya di paha Delana.

“Kebiasaan kan?” celetuk Delana begitu melihat kepala Alan sudah berbaring di pahanya.

“Kamu nggak kangen saat-saat kita kayak gini, dulu?” tanya Alan.

“Kangen,” jawab Delana sambil mengusap kepala Alan.

Alan menatap wajah Delana yang ada di atasnya. Andai saja Delana bukan adiknya, ia ingin mencumbu mesra gadis yang bersamanya saat ini. Terlebih saat melihat bibir Delana yang begitu menggoda.

Tak ingin terus menerus menghayalkan hal yang tidak-tidak, Alan memilih memejamkan matanya. Ia masih bisa mendengar suara televisi yang semakin lama semakin hilang.

Delana menghela napas. Alan sudah tertidur pulas di pangkuannya. Ia mengangkat kepala Alan dan mengganti pahanya dengan bantal kursi.

Delana tahu kalau Alan memang sangat manja melebihi adiknya sendiri. Tidak hanya pada Delana ia bersikap seperti ini. Pada ibunya sendiri pun ia melakukan hal yang sama. Bahkan ia tidak pernah malu atau sungkan tidur sambil memeluk erat tubuh ibunya yang juga tante dari Delana.

Delana tersenyum, kehadiran Alan akan membuat hari-harinya selalu ramai. Terlebih saat Alan dan Bryan sudah bertemu. Rumah yang biasanya sepi, pasti akan selalu ramai dengan teriakan mereka berdua.

Mungkin, aku kehilangan banyak kebahagiaan di masa lalu. Tapi, Tuhan selalu punya cara untuk mengganti kebahagiaan yang hilang,” bisik Delana dalam hatinya.

                                                                                     

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas