Thursday, October 9, 2025

THEN LOVE BAB 33 : KEHADIRAN TEMAN KECIL

 


“Del, gimana?” tanya Ivona.

“Gimana apanya?” tanya Delana balik sambil menyesapi jarinya setelah menghabiskan satu porsi kepiting saus dandito.

“Itu si Zoya. Ganteng banget kan?” tanya Ivona.

Delana menganggukkan kepala. Tapi, ia tidak tertarik karena Zoya adalah teman baik Raditya Chilton, cowok yang selama ini ia cintai.

“Kamu nggak tertarik sama dia?” tanya Ivona yang menyadari Delana tidak merespon sesuai keinginannya.

“Dia itu sahabatnya Chilton. Kamu gila nyuruh aku deketin dia? Emangnya aku cewek murahan!” dengus Delana.

Ivona terkekeh. “Ya udah. Kita cari cowok lain.”

Delana menghela napas. “Kenapa sih nasibku gini banget?” tanyanya lesu. Ia melirik ke arah pelayan yang sedang membereskan meja makannya.

Di ujung meja, ada seorang pria yang diam-diam memerhatikan Delana.

“Man, kamu samperin cewek yang ada di meja sana!” Pria itu menunjuk meja makan tempat Delana dan Ivona duduk.

“Cantik banget. Siapa, Bos?” tanya cowok pemilik nama Riko Mandala itu.

“Nggak usah banyak nanya! Kenalan dan minta nomor hp-nya!” sentak pria yang tidak lain adalah bos dari Mandala.

“Iya, Pak Bos.” Mandala langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan perlahan menghampiri Ivona yang sedang menikmati jus buah naga pesanannya.

“Hai ...!” sapa Mandala langsung duduk di samping Ivona tanpa permisi terlebih dahulu.

Delana melongo melihat cowok asing yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Ivona.

Ivona hanya tersenyum kecut menatap cowok yang ada di sampingnya.

“Boleh kenalan?” tanya Mandala.

Ivona memerhatikan cowok tersebut. Cowok yang ada di hadapannya lumayan tampan walau tidak begitu menarik baginya.

Ivona hanya tersenyum. Ia sama sekali tidak berniat untuk meladeni cowok tersebut.

“Mandala. Riko Mandala.” Cowok itu mengulurkan tangan ke arah Ivona.

Awalnya, Ivona tak ingin menyambut uluran tangan Mandala. Tapi, karena ia ingin cowok itu segera pergi. Maka ia membalas uluran tangan Mandala dan menyebutkan namanya.

“Kalian cantik banget tapi pergi makan sendirian. Nggak punya pacar ya?” tanya Mandala.

Delana dan Ivona tak menjawab.

“Kalo kamu namanya siapa?” tanya Mandala sambil menatap Delana.

“Dela.”

“Oh. Dela?”

Delana tersenyum.

“Boleh minta nomer hp kalian?” tanya Mandala.

Delana dan Ivona saling pandang. Cowok yang ada di hadapan mereka cukup berani untuk meminta nomor ponsel mereka.

“Bisa pergi dari sini sekarang?” tanya Ivona sambil tersenyum manis.

“Nomor hp dulu!”

“Pergi!” Ivona melotot ke arah Mandala. Ia lebih terlihat ingin memakan hidup-hidup cowok yang ada di hadapannya itu.

Mandala tak banyak bertanya lagi.  Ternyata cewek cantik yang ia dekati lebih galak daripada bosnya.

Mandala bergegas pergi. Ia menghampiri bosnya yang duduk di meja pelanggan.

Delana mengerjapkan matanya saat melihat pria yang bersama Mandala.

“Vo ...!” Delana menggoyangkan lengan Ivona tanpa mengalihkan pandangannya dari pria tersebut.

“Kenapa, Del?” tanya Ivona heran. Ivona menatap Mandala dan Delana bergantian.

“Kayaknya aku kenal deh cowok yang sama Mandala itu,” tutur Delana.

“Oh ya?” Ivona ikut mengamati wajah pria itu. Tapi ia tidak mengenalnya sama sekali. “Dari cara berpakaiannya, dia pasti bos di perusahaan besar.”

“Masa sih?” tanya Delana sambil menyikut Ivona. Delana tersenyum menatap pria yang bersama Mandala. Pria itu membalas tatapan Delana dan membuat Delana salah tingkah karena ketahuan sedang memerhatikan pria itu.

“Eh, dia senyum ke sini. Jangan-jangan emang temen kamu, Del.”

“Kayaknya sih. Mirip sama Hendra Sutopo. Temen kecilku.”

“Tanyain aja si Mandalanya. Bener nggak nama orang itu Hendra Sutopo?” tutur Ivona.

“Gimana cara nanyainnya?” tanya Delana.

“Samperin aja!” pinta Ivona.

Delana melongo menatap Ivona. “Kamu sadar nggak sih kalo kamu baru aja ngusir dia dari sini?”

Ivona nyengir menanggapi ucapan Delana.

Sementara di bangku yang berbeda. Mandala melaporkan pada bosnya kalau ia tidak berhasil mendapatkan nomor ponsel dua cewek cantik yang diinginkan bosnya tersebut.

“Dapet?” tanya Hendra pada Mandala yang merupakan supir pribadinya.

“Nggak, Bos,” jawab Mandala lirih.

“Goblok!” maki Hendra.

“Ma ... maaf, Bos.” Mandala menundukkan kepala.

“Cuma minta nomor hp aja kamu nggak bisa?” sentak Hendra. Ia menoleh ke arah Delana yang juga menatapnya. Ia tidak pernah lupa dengan wajah gadis itu. Sekalipun mereka lama tidak saling bertemu. Tapi, Hendra kerap kali mengikuti keseharian Delana lewat media sosial.

Mandala tidak menjawab. Ia memilih diam daripada membuat bosnya semakin marah.

Hendra langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan perlahan menghampiri meja Delana.

“Del, cowok itu ke sini,” bisik Ivona.

Delana melirik ke arah cowok itu. Benar ucapan Ivona, cowok itu berjalan perlahan menghampiri mereka.

“Hai ...!” sapa Hendra dan langsung duduk di samping Delana.

Delana mengernyitkan dahinya menatap cowok itu.

“Masih ingat sama aku?” tanya Hendra.

“Hendra ya?” tanya Delana saat melihat bekas luka yang ada di dahi cowok itu.

Hendra tersenyum manis ke arah Delana. “Aku pikir kamu sudah lupa sama aku.”

“Nggak, lah. Aku ingat banget.”

“Oh ya?” Hendra menaikkan dua alisnya sambil tersenyum ke arah Delana.

“Kamu apa kabar?” tanya Delana.

“Baik. Kamu sendiri?” tanya Hendra balik.

“Baik juga.”

“Ehem ...!” Ivona berdehem karena merasa kehadirannya tak dianggap oleh dua orang yang duduk di depannya.

“Oh ya. Kenalin ini temenku. Namanya Ivona.” Delana memperkenalkan Ivona pada Hendra.

Hendra mengulurkan tangannya ke arah Ivona yang duduk di hadapannya. “Hendra Sutopo,” ucapnya sambil tersenyum.

Ivona balas tersenyum. Ia menyambut uluran tangan Hendra sambil menyebutkan nama lengkapnya. “Ivona Kanaya.”

“Kalian udah makan?” tanya Hendra melihat meja Delana masih bersih.

“Udah. Kita baru aja kelar makan. Mau balik nih,” jawab Delana.

“Yah ... padahal aku mau traktir kalian makan,” tutur Hendra kecewa.

“Udah kenyang banget, Hen.” Delana memegangi perutnya yang terasa begah.

“Aku malah kelaperan,” celetuk Hendra.

“Makan lah!” perintah Delana.

“Temenin ya! Jangan pulang dulu!” pinta Hendra.

Delana mengernyitkan dahinya. Ia menoleh ke arah Ivona untuk meminta pendapat dari sahabatnya itu. Ivona menaikkan kedua alisnya sebagai tanda tidak tahu.

Delana menghela napasnya. “Dibayar berapa buat nungguin kamu?” goda Delana.

“Kamu maunya berapa?” Hendra menyondongkan tubuhnya ke arah Delana.

Delana terkejut. Jantungnya berdegup kencang karena sikap Hendra. Ia tidak menyangka kalau Hendra menanggapi ucapannya dengan serius.

“Bercanda!” Delana mendorong wajah Hendra dengan telapak tangannya.

“Serius juga nggak papa.” Hendra tersenyum. Ia menoleh ke arah meja tempat pertama ia duduk. Mandala masih bergeming di tempatnya.

“Man, Mandala!” panggil Hendra setengah berteriak.

Mandala langsung menoleh begitu namanya dipanggil.

“Sini!” Hendra melambaikan tangan memanggil Mandala untuk menghampirinya.

Mandala langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri di samping Hendra. “Ada apa, Pak Bos?” tanyanya.

“Ayo makan! Duduk!” perintah Hendra sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Ivona dengan dagunya.

Mandala bergeming. Ia melirik ke arah Ivona. Ia masih mengingat kejadian beberapa menit lalu saat Ivona mengusirnya.

Delana tertawa kecil menatap Mandala.

“Kenapa sih?” tanya Hendra bingung.

Delana merangkul kepala Hendra. “Tadi dia diusir sama Ivona. Kayaknya masih trauma duduk deket Ivo,” bisik Delana. Ia langsung melepas rangkulannya sambil menahan tawa.

“Serius?” tanya Hendra sambil menahan tawa. Ia mengalihkan pandangannya pada Mandala yang masih berdiri di dekatnya. “Kenapa masih berdiri? Duduk!” sentak Hendra pada Mandala.

Mandala menarik kursi menjauh dari Ivona dan duduk perlahan-lahan.

Ivona menahan tawa. Ia juga ingat beberapa menit yang lalu ia ingin sekali menelan hidup-hidup cowok yang sekarang duduk di sampingnya.

“Kenapa, Mandala? Masih takut sama Ivo?” goda Delana.

“Ah, Mbak Dela bisa aja,” ucap Mandala tersipu.

“Kok, panggil Mbak sih?” protes Delana. “Panggil Dela aja!” pinta Delana.

Mandala tersenyum sambil menatap Hendra yang ada di depannya. Ia tak berani memanggil teman bosnya dengan nama seperti memanggil temannya sendiri.

Delana menatap Mandala dan Hendra bergantian. “Kenapa sih, Hen?” tanyanya heran. “Dia kayak takut gitu sama kamu.”

Hendra hanya tersenyum kecil menanggapinya. Ia memperbaiki posisi duduknya sambil merapatkan kembali jasnya yang terasa longgar.

“Nggak boleh kayak gitu sama temen!” Delana menepuk lengan Hendra.

Hendra melotot ke arah Delana. “Emang dia kelihatan kayak temenku?”

“Eh!? Kenapa jalan bareng?” tanya Delana balik.

“Saya supirnya Pak Hendra, Mbak.” Mandala menengahi. Ia mengangguk sopan ke arah Delana.

“Oh. Supirnya?” tanya Ivona.

Mandala tersenyum ke arah Ivona.

“Aku juga supirnya Dela,” tutur Ivona sambil tertawa kecil.

Delana mengernyitkan dahi mendengar ucapan Ivona. “Aamiin ...!” seru Delana sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.

“Heh!? Kok, diaminin sih!?” protes Ivona sambil menendang kaki Delana.

“Kamu sendiri yang bilang, kok.”

“Amit-amit iih! Jauhkan bala!” Ivona mengetuk-ngetuk kepala dan meja bergantian.

“Makanya, kalo ngomong jangan sembarangan!” celetuk Delana.

Ivona meringis ke arah Delana.

Mandala tersenyum. Ia menyadari kalau Ivona hanya bercanda. Tidak mungkin cewek secantik Ivona menjadi supir pribadi.

“Kamu mau makan apa?” tanya Hendra pada Mandala.

“Terserah aja, Bos.”

“Ya udah.” Hendra langsung memanggil pelayan dan memesan makanan yang dia inginkan.

“Kamu masih kuliah?” tanya Hendra pada Delana.

“Masih. Kamu sendiri?”

“Aku nerusin perusahaan Papa. Sambil kuliah juga sih. Tapi, lebih banyak di tempat kerja timbang di kampus.”

“Enak ya?”

“Enaknya apa?”

“Udah jadi bos.”

“Nggak enak, ah.”

“Masa sih?”

“Iya.”

“Nggak enaknya apa?” tanya Delana.

“Meeting terus di kantor. Aku sampe pusing banget,” jawab Hendra.

Delana tertawa kecil. “Orang penting mah gitu.”

“Kalian cuma berdua aja di sini?” tanya Hendra.

“Kelihatannya?” tanya Delana balik.

Hendra tertawa kecil. Ia tahu telah menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.

“Ndra, lama banget ya kita nggak ketemu,” tutur Delana. “Kamu masih tinggal di kota ini?” tanya Delana.

“Masih. Kadang  ngurus kerjaan ke luar juga.”

“Oh.”

“Eh, mukamu kok nggak asing ya? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Hendra pada Ivona.

Ivona langsung menoleh ke arah Hendra. “Nggak pernah,” jawab Ivona.

Hendra memerhatikan wajah Ivona. Ia merasa pernah melihat gadis cantik yang ada di depannya itu.

“Oh ... mungkin aku sering lihat di ig Dela kali ya?” gumamnya.

“Hah!? Kamu sering lihat ig aku?” tanya Delana terkejut. Rasanya, ia sama sekali tidak pernah berkomunikasi lewat media sosial dengan Hendra. Selain itu, akun instagram miliknya hanya bisa dilihat oleh pengikutnya saja.

Hendra tertawa kecil. “Aku udah lama banget follow kamu, tapi nggak pernah difollback.”

Delana meringis. “Aku nggak tahu akunmu yang mana. Dm dong biar aku follback!” pinta Delana.

“Nggak usah lah. Ntar kamu naksir sama aku,” canda Hendra sambil tersenyum.

“Apaan sih!?” Delana menyikut lengan Hendra.

Makanan pesanan Hendra pun datang. Ia juga memesankan dua gelas jus mangga untuk Delana dan Ivona tanpa konfirmasi pada keduanya terlebih dahulu.

“Ini buat kita?” tanya Delana melihat gelas jus yang sudah ada di hadapannya.

“Iya. Minumlah!” perintah Hendra.

Delana tersenyum kecil. “Kita kan nggak pesan minum.”

“Nggak papa. Masa aku makan, kalian cuma nontonin aja? Anggap aja bonus karena udah mau nemenin aku.”

“Kamunya juga manja banget, makan aja minta ditemenin,” celetuk Delana.

“Ck, bukan manja. Kita udah lama nggak ketemu. Jadi, wajar kan kalo aku kangen sama temen kecilku yang satu ini,” ucap Hendra gemas sambil mengusap ujung kepala Delana.

Delana mencebik ke arah Hendra.

Hendra tertawa kecil. Ia mulai menikmati hidangan yang telah tersedia sambil mengajak Delana bercerita.

“Eh, kabar adik kamu gimana?” tanya Hendra.

“Bryan?” tanya Delana memastikan.

“Iya. Emangnya adik kamu udah nambah kah?” tanya Hendra lagi.

“Nggak lah. Adik aku dari dulu cuma dia.”

“Ya, kali aja bos lakimu nikah lagi dan punya anak.”

Delana menggelengkan kepala.

“Kelas berapa dia sekarang?” tanya Hendra.

“Kelas dua.”

“SMA atau SMK?”

“SMA.”

“SMA di mana?”

“SMA Satu.”

“Pinter dong dia?” tanya Hendra.

“Lumayan,” jawab Delana sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Lama banget nggak lihat dia. Pasti ganteng banget. Kakaknya aja cantik,” ucap Hendra sambil tersenyum ke arah Delana.

“Ah, kamu bisa aja,” sahut Delana tersipu.

“Rumah kamu masih yang dulu?” tanya Hendra lagi.

Delana menggelengkan kepala. “Udah lama pindah.”

“Pindah ke mana?” tanya Hendra.

“Deket sama kampus.”

“Oh, pantesan.”

“Kenapa?” tanya Delana.

“Hari itu aku ada cari rumah kamu. Tapi tempatnya udah berubah. Jadi gedung hotel.”

“Oh ya? Kapan itu?”

“Dah lupa pastinya kapan. Kayaknya setahun belakangan ini deh.”

Delana tertawa kecil. “Ya iya lah. Aku pindah rumah juga pas kelas enam SD. Udah lama banget.”

Hendra mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. “Kalo ada waktu, aku main ke rumah kamu ya!”

“Boleh.”

“Aku pengen lihat si ganteng. Ayah kamu sendiri gimana kabarnya? Sehat kan?” tanya Hendra.

“Sehat. Sekarang dia masih di Berau.”

“Ngapain di sana?” tanya Hendra.

“Ngurusin kerjaan.”

“Oh. Kirain plesiran.”

“Plesiran mah bentar aja. Udah hampir lima bulan belum pulang ke sini.”

“Jadi, kamu berdua aja sama Bryan?” tanya Hendra.

Delana menganggukkan kepala. “Mau sama siapa lagi? Kadang-kadang aku tinggal di asrama kalo lagi sepi. Kadang juga dia sama temen yang lain nginap di rumah.” Delana menunjuk Ivona dengan dagunya.

“Rumahmu deket sama kampus? Kenapa tinggal di asrama?” tanya Hendra bingung.

“Biar ada temen aja. Kalo di rumah kan sering kesepian. Cuma berdua aja sama Bryan. Dia juga sibuk banget kegiatannya di sekolah banyak. Jadi, aku sering di asrama. Tapi, kalo malam di rumah sih. Kasihan Bryan sendirian di rumah.”

“Oh, jadi siang aja kamu di asrama?” tanya Hendra.

Delana manggut-manggut. “Tadinya, aku sering ke kosan Belvi waktu dia masih ngekos. Pas udah dapet asrama. Yah, sekalian aja aku ikut tinggal satu asrama sama dia. Di asrama kan rame tuh.”

“Sama Ivo juga?” tanya Hendra.

Delana menganggukkan kepala. “Tapi, Ivo mah jarang banget ke asrama. Seminggu sekali pun belum tentu.”

Hendra tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Nggak paham aku sama kalian berdua. Buat apa ambil asrama kalo tinggal di asramanya aja jarang? Mending kasih ke mahasiswa lain yang lebih membutuhkan.”

“Yah, selagi ada kamar yang kosong. Why Not?” sahut Delana.

“Eh, aku baru ingat!” seru Delana. Ia menatap Ivona yang duduk di depannya. “Di kamar asrama kita ada anak baru. Kamu udah diceritain sama Belvi atau belum?” tanya Delana.

“Belum,” jawab Ivona.

“Si Ratu satu kamar sama Belvi.”

Ivona yang sedang menyeruput jus mangga langsung tersedak begitu mendengar nama Ratu.

“Ratu? Yang suka jadi MC itu?” Ivona membelalakkan matanya.

Delana mengangguk sambil tersenyum.

“Belvi kok mau?” tanya Ivona.

“Mau aja. Daripada berdebat sama pengawas asrama dan dia yang diusir?”

“Hmm ... dia deket sama penjaga asramanya ya?”

“Terus, tidurnya gimana? Jangan bilang di ranjangku karena aku nggak pernah ke sana!?” dengus Ivona.

“Nggak. Di ranjang yang biasa buat nyimpan barang-barang Belvi itu.”

“Kok, Belvi nggak cerita ke aku ya?”

“Lupa kali dia.”

“Hmm ... bisa jadi.”

Hendra dan Mandala asyik menikmati makan malam sambil mendengar dua wanita cantik yang bersamanya itu bercerita.

“Man, tambah!” perintah Hendra saat melihat makanan Mandala sudah hampir habis.

“Udah kenyang, Bos.” Mandala melirik sejenak ke arah bosnya. Ia merasa ada yang berbeda. Tak biasanya bosnya memperlakukannya begitu baik.

Delana tersenyum menatap Hendra. Di mata Delana, Hendra adalah sosok cowok baik yang sifat dan sikapnya tidak berubah sejak mereka masih kecil. Hendra sangat perhatian dengan Delana dan teman-teman di sekelilingnya.

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia mencari ponselnya di dalam tas dan langsung mengecek nama kontak yang meneleponnya, Bryan.

“Halo ... kenapa, Dek?” tanya Delana pada Bryan.

“Kakak di mana?” tanya Bryan lewat sambungan telepon.

“Lagi makan di Dandito.”

“Aku nggak diajak makan?” tutur Bryan.

“Hehehe. Mau apa? Kakak bungkusin.”

“Mau udang goreng.”

“Idih. Itu di rumah kan udah Kakak gorengin udang.”

“Habis, Kak.”

“Pasti kamu cemilin ya?”

“Hehehe.”

“Ya udah. Kakak bungkusin. Pesen apa lagi?”

“Nggak ada. Itu aja!”

“Nasi masih ada?” tanya Delana.

“Masih.”

“Oke. Kakak beliin udang goreng aja. Beneran nggak ada lagi?” tanya Delana.

“Iya. Itu aja.”

“Besok mau dimasakin apa?” tanya Delana.

“Mmh ... aku mau kepala ikan yang dikuahin itu.”

“Oh, pindang kepala ikan?” tanya Delana.

“Iya.”

“Ya udah. Ntar Kakak mampir ke supermarket dulu cari ikan.”

“Iya. Jangan malam-malam pulangnya!”

“Kenapa?” tanya Delana.

“Kan bawain udang goreng buat aku. Ntar aku udah ketiduran duluan baru Kakak pulang,” jelas Bryan.

Delana terkekeh. “Iya, adikku sayang yang paling ganteng sedunia,” ucapnya gemas. “Ini lagi apa?”

“Belajar.”

“Sip, deh. Rajin belajar ya!”

“Iya, Kak. Udah dulu ya!” Bryan langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Adik kamu?” tanya Hendra begitu Delana selesai menerima telepon.

Delana menganggukkan kepala. Ia mengedarkan pandangannya mencari pelayan restoran. “Mbak!” Delana melambaikan tangan memanggil pelayan.

Pelayan restoran langsung menghampiri Delana. “Ya, Mbak. Ada yang bisa dibantu?” tanya pelayan tersebut.

“Saya pesen udang goreng tepung dua porsi. Dibungkus ya!” pinta Delana.

“Iya, Mbak,” jawab pelayan tersebut dan langsung bergegas pergi meninggalkan Delana.

“Kok, dua? Satunya buat siapa?” tanya Ivona.

“Buat Belvi,” jawab Delana santai.

Ivona tersenyum. Delana memang tidak pernah lupa dengan sahabatnya. Ia sudah menganggap Belvi seperti saudaranya sendiri.

“Aku telepon Belvi dulu!” Delana kembali meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Dengan cepat ia memencet menu panggil pada nomor kontak Belvina.

“Halo, Bel. Kamu di mana?’ tanya Delana begitu panggilannya tersambung.

“Di asrama,” jawab Belvina.

“Mau udang goreng?” tanya Delana.

“Mau lah kalo gratis.”

“Oke. Nanti kamu tidur di rumah aku aja ya!” pinta Delana.

“Hah!?”

“Aku tunggu di rumah. Udah aku beliin udang goreng tepung loh.”

“Sekarang?” tanya Belvina.

“Nanti kalo aku udah pulang. Mau sekarang juga nggak papa. Tapi cuma ada Bryan di rumah.”

“Tunggu kamu balik aja.”

“Sip deh.”

“Ini kamu masih di mana?” tanya Belvina.

“Masih di Dandito.”

“Wuih ... enaknya!? Sama Ivo?” tanya Belvina.

“Iya, sama Ivo,” jawab Delana.

Ivona langsung menyambar ponsel Delana. “Bel, kamu tidur di rumah Dela ya! Aku juga mau tidur di rumah dia.”

“Siap! Jam berapa kalian pulang?” tanya Belvina.

“Ini udah mau pulang, kok. Nunggu pesanan selesai dibungkus. Tapi, Dela masih mau mampir supermarket dulu katanya.”

“Wah ... bakal lama kalo tujuannya ke supermarket.”

“Nggak lah. Dia cuma mau cari ikan, kok.”

“Kalo Dela sih sebentar aja belanja. Yang bikin lama itu kan kamu, Vo,” celetuk Belvina.

“Kok, aku sih?”

“Halah ... udah hafal mati. Pasti mampir-mampir dulu. Cari baju lah, sepatu lah ...”

“Enggak, Bel. Aku nunggu di mobil aja ntar biar nggak silap mata. Hahaha.”

“Serius? Ndak gatel tuh kaki nunggu di parkiran mall?”

Ivona menghela napas. “Kita lihat aja nanti.”

Delana tertawa kecil mendengar ucapan Ivona.

“Nih!” Ivona menyodorkan ponsel Delana.

“Udah?” tanya Delana.

“Udah,” jawab Ivona.

Delana menatap layar ponsel. Panggilan Belvina masih aktif. Ia menempelkan ponsel ke telinganya. “Udah dulu, Bel. Ntar aku telepon lagi kalo udah sampe di rumah.”

“Siap!”

Delana langsung memutuskan sambungan teleponnya.

“Habis ini masih mau ke mall?” tanya Hendra.

Delana menganggukkan kepala.

“Aku temenin ya!” pinta Hendra.

“Eh!? Emangnya kamu nggak sibuk?” tanya Delana sambil menatap Hendra yang masih memakai jas kerjanya.

“Nggak. Ini kan sudah malam. Sibuk apaan?” tanya Hendra balik.

Delana tersenyum. “Ya udah. Ikut aja!”

Hendra tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Delana. “Aku masih kangen sama kamu,” bisiknya.

Delana terdiam. “Ah, kamu bisa aja.”

“Kita kan udah lama nggak ketemu,” tutur Hendra.

Delana hanya tersenyum menanggapi ucapan Hendra. Mereka memang sudah lama tak bertemu. Wajar saja kalau Hendra merindukannya sebagai teman kecil yang dulu sering bermain bersama.

Hendra menatap wajah Delana. “Ternyata aslinya lebih cantik,” bisik Hendra dalam hati sebab ia sering melihat Delana hanya lewat foto.


((Bersambung...)) 

THEN LOVE BAB 32 : CARI COWOK GANTENG

 


“Ivo ...!” teriak Delana saat membuka pintu rumahnya. Ia terkejut karena tiba-tiba Ivona sudah berdiri di depan pintu rumah saat ia ingin berangkat ke kampus.

Ivona tersenyum dan langsung memeluk Delana.

Delana membalas pelukan Ivona dengan erat. “Kangen banget!” serunya.

“Sama. Aku juga kangen banget sama kalian,” balas Ivona.

Delana melepaskan pelukannya dan menatap Ivona. “Vo, kamu sampai di Balikpapan jam berapa?” tanya Delana.

“Tadi malam, jam sembilan,” jawab Ivona.

“Jadi, kamu bangun tidur langsung ke sini?” tanya Delana.

“Ya nggak, lah. Aku masih mandi, masih dandan dulu.”

“Hehehe. Maksudnya, kamu belum ke rumah sodara-sodara kamu, tapi langsung ke rumah aku.”

“Mereka mah gampang. Nggak bakal pergi ke mana-mana. Paling mereka yang ke rumah. Aku nggak perlu repot-repot ke rumah mereka.”

“Hmm ... iya juga, sih. Eh, masuk dulu yuk!” ajak Delana. Ia menarik lengan Ivona untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Bukannya kamu mau berangkat kuliah?” tanya Ivona.

“Ah, gampang!” Delana melemparkan tasnya ke atas sofa.

“Ckckck.” Ivona menggelengkan kepala.

“Kamu sendiri nggak kuliah kan?”

Ivona meringis. Seharusnya ia sudah mulai masuk kuliah hari ini. Tapi, ia memilih tidak masuk dengan alasan masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang.

“Aku telepon Belvi dulu, biar dia ke sini juga,” tutur Delana. Ia merogoh ponsel yang ia simpan di saku kemejanya.

“Kalo dia belum masuk kelas. Biasanya dia datang paling pagi,” sahut Ivona. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.

“Suruh ngabur aja,” ucap Delana sambil tersenyum licik.

“Ini mah namanya bolos berjamaah,” tutur Ivona sambil tertawa kecil.

Delana tertawa menanggapi ucapan Ivona. Ia langsung menelepon Belvina dan memintanya untuk datang ke rumah secepatnya.

“Mau dianya?” tanya Ivona. “Dianya mau?” tanyanya lagi sambil komat-kamit. Kebiasaan masyarakat kota Balikpapan memang sering menggunakan bahasa terbalik. Mungkin itu juga salah satu yang mendasari nama Balikpapan. Ah, analisis di kepala Ivona memang suka semaunya sendiri.

“Kenapa sih kamu?” tanya Delana heran.

“Nggak. Kemarin kan aku ketemu sama temenku di Jakarta. Dia sering heran sama bahasa kita. Kalo nanya sesuatu nggak pernah ketinggalan imbuhan kata ‘kah’. Belum lagi kalo ngomong ditambah-tambahin kata ‘gin’, ‘pang’, ‘ai’ dan bahasa kita yang sering terbalik. Kamu sadar nggak sih?” tanya Ivona.

“Hmm ...” Delana memutar bola matanya sebagai tanda berpikir. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepala. “Emang iya, sih. Terus kenapa? Ada masalah sama temen kamu itu?” tanya Delana.

“Nggak ada masalah. Mereka cuma heran aja. Katanya, aku tuh kalo ngomong atau nanya suka kebalik-balik.”

“Kebalik-balik gimana sih, Vo?” tanya Delana masih terus berusaha mencerna ucapan Ivona.

“Astaga! Kamu masih nggak mudeng!?” seru Ivona.

Delana meringis menatap Ivona.

“Iih ... males banget jelasinnya! Pikir aja sendiri! PR!” dengus Ivona.

“Bidolnya pang anak ini, bikin dongkol!” seru Delana.

Ivona tergelak.

Beberapa menit kemudian, Belvina sudah muncul di depan rumah Delana. Ia langsung menghambur ke pelukan Ivona begitu melihat cewek cantik itu muncul dari balik pintu.

“Iih, kamu nih liburannya lama banget sih!?” gerutu Belvina sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah bersama dua sahabat yang menyambutnya penuh gembira.

“Lama dari mana? Cuma bentaran doang. Rasanya masih belum puas liburannya.”

“Astaga ... Ivo!” seru Belvina. “Dua bulan masih belum puas?”

“Eh, dua bulan itu aku di Jakarta dodol! Di Singapura kan cuma seminggu doang,” sahut Ivona.

Belvina meringis. “Mana oleh-oleh buat aku?” tanya Belvina.

“Tenang. Aku udah siapin oleh-oleh buat kalian.”

“Mana?” tanya Delana yang tidak melihat Ivona membawa apa pun saat masuk ke dalam rumah.

“Masih di mobil. Bentar ya! Wait!” pinta Ivona. Ia bergegas keluar dari rumah Delana.

Ivona kembali masuk ke dalam rumah Delana dengan menenteng empat buah paper bag berukuran besar.

“Wuih ... apa tuh?” tanya Belvina begitu melihat Ivona membawa masuk dengan menenteng empat paper bag besar.

“Ini buat kalian.” Ivona menyerahkan paper bag pada Delana dan Belvina. Mereka masing-masing mendapat dua bagian paper bag.

Delana dan Belvina dengan senang hati menerima dan langsung membuka isi paper bag tersebut.

“Aargh ... ini tas idaman banget!” seru Belvina. “Ini serius buat aku?” tanyanya masih kurang yakin karena harga tas yang ia pegang nilainya tidak sedikit.

“Bercanda!” dengus Ivona. “Ya seriuslah!” lanjutnya.

Delana tertawa kecil melihat kedua temannya yang sedang beradu pembicaraan. Ia melihat tas dan high heels yang dibelikan oleh Ivona.

Delana langsung mencoba high heels pemberian dari Ivona. “Vo, kamu kok tahu ukuran kakiku?” tanya Delana heran. Rasanya, ia tidak pernah memberitahukan ukuran kakinya. Ivona juga tak pernmah bertanya berapa ukuran kakinya. Bagaimana sahabatnya itu bisa mengingat ukuran sepatunya?

“Kalo cuma ukuran sepatu kalian aja mah aku udah hafal mati,” sahut Ivona.

“Seriusan?” tanya Belvina.

Ivona mengangguk-anggukkan kepala.

“Eh, ntar sore ikut aku yuk!” ajak Ivona.

“Ke mana?” tanya Belvina.

Ivona mengedipkan mata ke arah Belvina dan langsung melirik Delana.

Belvina langsung mengerti maksud dari Ivona. “Oh ... aku udah ada janji sama temen. Nggak bisa kalo sore ini,” tutur Belvina sambil melirik Delana.

“Kamu gimana, Del?” tanya Ivona menatap Delana.

“Eh!?” Delana mendongakkan kepala. Ia sibuk membungkus kembali tas dan sepatu pemberian Ivona.

“Nggak dengerin dari tadi kita ngomong?” tanya Belvina.

“Dengerin.”

“Apa yok?” tanya Ivona.

“Ngajak jalan kan?” tanya Delana.

Ivona menganggukkan kepalanya. “Gimana? Bisa?” tanya Ivona.

“Ke mana?” tanya Delana.

“Kita cari cowok ganteng!” seru Ivona.

“Apaan sih!?” sahut Delana.

“Buat ganti si Chilton.”

Delana terdiam. Ia masih merasakan luka di hatinya setiap kali nama cowok itu disebut. Entah kenapa, ia tidak bersemangat untuk membahas apa pun tentang Chilton.

“Udah, jangan murung gitu! You’re beautiful. Di luar sana ada banyak cowok cakep yang bakal nerima kamu apa adanya.” Ivona menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Delana. “Kamu harus bisa buktikan sama dia kalo kamu itu lebih berharga dari yang dia kira. Bikin dia nyesel karena udah nyia-nyiain kamu!” pinta Ivona.

Delana menatap Ivona. Ia mencoba mencerna ucapan Ivona dan ia membenarkan dalam hatinya. Daripada ia sibuk memikirkan Chilton yang membuatnya sakit hati. Lebih baik ia mengikuti ucapan Ivona, membuktikan pada Chilton kalau dia adalah perempuan yang tidak akan pernah bisa dilupakan seumur hidupnya.

“Iya, Del. Mending jalan-jalan sama Ivo. Ivo kan punya stock cowok ganteng lumayan banyak,” sahut Delana.

Delana tersenyum. “Iya. Aku coba, deh.”

“Nah, gitu dong!” seru Belvina dan Ivona bersamaan. Mereka langsung memeluk tubuh Delana.

“Eh, kalian udah sarapan?” tanya Delana.

Ivona dan Belvina saling pandang, kemudian tersenyum. “Masak apa?” tanya mereka berbarengan. Mereka memang sangat suka masakan Delana.

“Aku masak sayur tewel sama goreng ikan asin ditepungin,” jawab Delana.

“Aargh ... ikan asin? Kesukaanku!” seru Ivona langsung bangkit dan berlari ke arah dapur.

Delana menggeleng-gelengkan kepala. “Cantik-cantik doyannya ikan asin,” celetuknya.

Belvina tertawa kecil. Ia langsung mengikuti langkah Ivona yang sudah duduk di meja dapur.

“Bagiin aku!” pinta Belvina sambil menarik toples berisi ikan asin yang sudah digoreng tepung.

“Jangan dihabisin!” seru Ivona. Ia sudah menggigit satu potong ikan asin sambil mengambil nasi dan sayur tewel yang sudah tersedia di atas meja.

“Bryan udah makan?” tanya Belvina pada Delana.

“Udah. Habisin aja!” Delana ikut duduk di meja makan. Ia tersenyum melihat kedua sahabatnya itu melahap masakannya.

“Del, kenapa sih kamu kalo masak selalu enak banget?” tanya Ivona. “Aku kemarin belajar masak nasi goreng aja rasanya pahit,” tuturnya dengan mulut penuh makanan.

“Pahit? Kamu masaknya pake obat?” tanya Delana sambil tertawa kecil.

“Nggak tahu juga. Rasanya nggak enak banget! Nggak sanggup aku makan.”

Delana dan Belvina tergelak mendengar ucapan Ivona.

“Kamu nggak usah ikut-ikutan ketawa!” Ivona menyikut Belvina. “Kamu juga kan nggak bisa masak!” dengusnya.

“Emang. Tapi, kalo masak nasi goreng aja mah masih bisa. Walau nggak seenak nasi goreng buatan Delana.”

“Ah, bener banget! Nasi goreng bikinan Delana emang enak banget. Ntar kalo udah lulus kuliah, kamu jualan nasi goreng aja!” tutur Ivona ngasal.

Delana hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Ivona. Ia tahu kalau Ivona hanya bercanda.

“Iya. Terus nama warungnya nasi goreng cinta!” seru Belvina.

“Biar yang makan pada jatuh cinta,” sahut Ivona sambil tertawa.

“Eh, jangan! Gawat mah kalo semuanya pada jatuh cinta. Cukup satu aja yang jatuh cinta,” tutur Belvina sambil tertawa.

“Hahaha.” Ivona tergelak.

“Nggak usah bahas dia lagi!” dengus Delana.

“Dia siapa?” tanya Ivona.

“Dikira aku nggak tahu kalo kalian lagi nyindir!?” dengus Delana.

Belvina dan Ivona tertawa bersamaan. Mereka senang sekali menggoda Delana. Bukan untuk membuat Delana bersedih, tapi hanya untuk bercanda dan menghibur Delana.

Delana hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Hari-harinya tak pernah sepi jika bersama mereka. Sahabat yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka.

***

Ivona mengajak Delana berjalan-jalan ke taman kota. Di sana, banyak cowok-cowok ganteng yang mengenal Ivona. Tapi, Delana sama sekali tidak tertarik. Baginya, cowok-cowok itu hanyalah pohon-pohon dan bukan Chilton.

 “Hai ...!” sapa Ivona pada beberapa cowok yang sedang berkerumun.

“Hai ... Vo! Apa kabar?” sapa salah satu cowok yang ada di sana. “Baru balik dari Singapura kayaknya nih.”

Ivona hanya tersenyum. Ia melirik Delana yang ada di sampingnya karena beberapa cowok yang ada di sana menatap Delana.

“Oh ya, ini teman aku, namanya Delana.” Ivona memperkenalkan Delana pada teman-temannya.

Delana hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Teman-teman Ivona menyalami Delana satu persatu. Mereka menyebutkan namanya tapi tak satu pun nama yang diingat oleh Delana. Sebab, di dalam pikiran Delana hanya ada Chilton. Ia sama sekali tak bisa mengganti posisi Chilton dari hati dan pikirannya.

Setelah berbincang beberapa menit, Delana mengajak Ivona untuk pergi dari tempat tersebut.

“Balik yuk!” bisik Delana di telinga Ivona.

“Kenapa? Masih sore gini,” sahut Ivona.

Delana merengut. Ia sama sekali tidak nyaman berada di antara cowok-cowok ganteng yang diperkenalkan oleh Ivona.

“Iya, deh.” Ivona akhirnya menyerah dan berpamitan untuk pulang kepada teman-temannya.

Setelah masuk di dalam mobil, Ivona langsung menelepon salah satu seniornya.

“Kamu di mana?” tanya Ivona begitu panggilan teleponnya tersambung.

“...”

“Oke. Aku ke sana sekarang.” Ivona langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Siapa?” tanya Delana yang duduk di samping Ivona.

“Cowok ganteng,” jawab Ivona berbisik. Ia menyalakan mobilnya dan keluar dari parkiran perlahan-lahan. “Aku kenalin kamu sama dia. Anaknya asyik dan kamu pasti bakalan suka sama dia.”

Delana mengerutkan hidungnya. Ia sendiri tidak yakin akan suka dengan cowok lain. Bagaimana Ivona sangat yakin?

Ivona melajukan mobilnya dan memasuki area parkir Plaza Balikpapan.

“Ngapain kita ke sini? Mau shopping?” tanya Delana.

“Udah, ikut aja!” sahut Ivona.

Delana menghela napas. Ia tak berdaya menolak keinginan Ivona. Mereka langsung masuk ke dalam gedung mall dan mendapati keriuhan sebuah acara. Ternyata, di sana sedang ada acara meet and greet dengan salah satu artis terkenal. Ia tidak bisa melihat dengan jelas artis yang ada di sana karena dikerumuni oleh para penggemarnya.

 Ivona mengajak Delana untuk masuk ke salah satu kafe sambil menunggu seniornya datang.

“Rame banget di sana. Meet and greet sama siapa sih, Vo?” tanya Delana sambil menatap kerumunan orang dari balik kaca kafe.

Ivona mengedikkan bahunya. “Kamu mau minum apa?” tanya Ivona.

“Mocktail,” jawab Delana singkat tanpa menatap ke arah Ivona.

“Oke, deh.” Ivona langsung memesankan minuman untuk Delana dan untuknya.

Beberapa menit kemudian, kerumunan para penggemar artis itu mulai pergi satu persatu.

Ivona tersenyum sambil memainkan ponselnya.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Delana heran.

“Nggak papa. Temenku sebentar lagi ke sini.”

Delana hanya tersenyum. Ia tidak terlalu semangat berkenalan dengan teman-teman Ivona. Walau ia sendiri menyadari kalau banyak cowok yang lebih tampan dari Chilton. Tapi yang ia inginkan saat ini hanyalah Chilton, bukannya cowok lain.

“Hai ...!” sapa seorang cowok yang menghampiri meja mereka.

“Hai ..!” balas Ivona. Cowok itu merangkul pinggang Ivona sambil cium pipi kanan cium pipi kiri.

Delana melongo melihat adegan itu. Ia tidak bisa berkedip melihat cowok tampan yang menyapa Ivona.

“Oh ya, ini teman aku. Namanya Delana.” Ivona memperkenalkan Delana pada cowok itu.

Cowok itu tersenyum menatap Delana yang masih melongo ke arahnya. “Hai, Del! Apa kabar?”

Ivona menyentuh pundak Delana dan membuatnya tersadar.

“Eh!? Baik. Kamu apa kabar?” tanya Delana gugup.

“Baik.” Cowok itu tersenyum ke arah Delana.

Delana membalas senyuman cowok yang sudah tak asing lagi di matanya.

“Aku boleh gabung kan?” tanya cowok itu.

“Boleh banget,” jawab Ivona.

“Kabar Chilton gimana?” tanya cowok itu sambil menatap Delana.

“Uhuk ... uhuk ...!” Delana yang sedang menyeruput minuman di tangannya langsung tersedak begitu mendengar nama Chilton di sebut.

Ivona mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan dari temannya itu. “Kamu udah kenal sama Delana?” tanya Ivona.

“Sudah. Waktu itu kita berenang bareng.”

“Oh, jadi temen Chilton yang kamu ceritain itu si Zoya?” tanya Ivona pada Delana.

Delana menganggukkan kepala sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu.

“Emangnya dia cerita apaan?” tanya Zoya pada Ivona.

“Dia cerita kalo ada berenang bareng Chilton dan temennya.”

Zoya tertawa kecil menanggapi ucapan Ivona.

“Udah kelar meet and greet -nya?” tanya Ivona.

“Udah.”

“Seru ya dikerubungin banyak fans?”

“Ah, nggak juga. Lihat!” Zoya menunjukkan luka bekas cakaran yang tergambar di lengan kanannya.

“Hah!? Kenapa itu?” tanya Delana.

“Ditarik-tarik sama fans. Sampe kecakar kayak gini,” jawab Zoya.

“Yang tadi rame dikerubungin itu kamu?” tanya Delana.

Zoya menganggukkan kepala.

“Makanya, jadi cowok tuh jangan kelewat ganteng!” celetuk Ivona.

“Halah ... kayak kamu enggak-enggaknya aja! Aku teriak kalo ada Ivona Kanaya di sini, bakal dikerubungin sama orang!” ancam Zoya.

“Jangan lah!” pinta Ivona. Beberapa orang yang menyadari kehadiran Ivona, memang sering meminta untuk foto bersama. Tapi, tak sedikit juga yang tidak menyadari kehadirannya.

Zoya terkekeh.

“Zoy, sini!” Ivona menarik bahu Zoya dan membisikkan sesuatu ke telinga Zoya.

Zoya mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda mengerti.

“Kalian bisik-bisik ngomongin aku ya?” dengus Delana.

“Idih, kepedean amat!?” seru Ivona. “Kita lagi ngomongin bisnis,” lanjutnya.

Zoya hanya tersenyum ke arah Delana yang menatap tajam ke arahnya dan Ivona.

“Kalian udah makan?” tanya Zoya.

Ivona menggelengkan kepala. “Aku lagi diet,” jawabnya.

Zoya mengernyitkan dahi melihat tubuh Ivona yang sudah terlihat sangat langsing. “Diet?”

Ivona meringis.

“Kamu?” tanya Zoya pada Delana.

“Sama.”

Zoya menghela napasnya. “Kenapa perempuan senang sekali diet? Padahal, lapar itu menyiksa,” celetuknya.

“Kamu nggak pernah diet?” tanya Ivona.

Zoya menggelengkan kepala. “Rajin olahraga. Jadi, nggak perlu diet sampe nggak makan. Lagian, ini kan masih sore. Nggak bakalan bikin gemuk kalo makan jam segini.”

“Kamu laper?” tanya Ivona yang menyadari kalau Zoya sedang berusaha mengajak mereka makan.

“Iya,” jawab Zoya sambil mengelus perutnya.

“Di sini ada dessert food,” tutur Ivona.

“Ah, males. Aku lagi pengen makan kepiting Dandito,” sahut Zoya. “Temenin yuk!” ajaknya.

“Hah!? Mau juga,” tutur Delana.

“Katanya lagi diet?” dengus Zoya sambil tertawa kecil.

“Dia mah nggak bakal diet kalo udah ketemu sama kepiting,” celetuk Ivona.

“Hati-hati kolesterol!” celetuk Zoya.

“Jarang-jarang juga makan kepiting,” tutur Delana.

“Ya udah, yuk!” ajak Zoya.

“Ke mana?” tanya Ivona.

“Ke Dandito, lah.”

“Ish, jauh banget, Zoy.”

“Deket. Cuma sepuluh menit dari sini.”

“Mau jalan kaki kali dia,” sahut Delana.

“Yee ... kamu yang tinggal jalan kaki. Yang bawa mobil kan aku.” Ivona menjulurkan lidahnya.

Delana nyengir ke arah Ivona.

“Udah, nggak usah ribut! Kalian naik mobil aku aja sekalian!” pinta Zoya.

“Aku bawa mobil sendiri.”

“Tinggal aja dulu di sini. Ntar diambil.”

“Ah, nggak deh. Ribet!” Ivona bangkit. Ia merogoh dompet dari dalam tasnya.

“Biar aku yang bayar.” Zoya menahan tangan Ivona agar tak mengeluarkan uang walau hanya satu perak saja.

“Eh!?” Ivona melongo. Ia hanya akan membayar dua gelas minuman yang ia pesan. Untuk apa Zoya membayar sementara dia tidak minum apa pun.

Zoya mengedipkan mata ke arah Ivona. Ia langsung bergegas berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan Ivona dan Delana.

“Kalian udah lama temenan?” tanya Zoya sambil menyusuri koridor mall, keluar ke parkiran mobil.

“Lumayan,” jawab Ivona.

“Aku sama Chilton juga udah temenan dari SMA.”

“Sama!” seru Delana. “Aku sama Ivona juga temenan dari SMA.”

“Oh ya? Berarti udah tahu banget satu sama lain ya?”

Delana dan Ivona menganggukkan kepala.

Sesampainya di parkiran.

“Kamu ikut Zoya aja ya!” pinta Ivona. Ia membuka pintu depan mobil Zoya dan langsung mendorong Delana masuk ke dalam mobil.

Delana mencebik ke arah Ivona yang hanya tertawa kecil ke arahnya.

Zoya tersenyum melihat wanita cantik yang sudah ada di dalam mobilnya. Ia langsung melajukan mobilnya menuju jalan Marsma R. Iswahyudi.

“Kamu mau makan apa?” tanya Zoya pada Delana setelah mereka sampai di restoran Dandito.

“Menu andalan, dong. Kepiting Saus Dandito!” seru Delana.

Zoya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Minumnya apa?” tanyanya lagi.

“Es jeruk aja,” jawab Delana.

“Kamu pesen apa, Vo? Sama aja kah?” tanya Zoya.

Ivona menggelengkan kepala. “Aku nggak suka makanan pedas.” Ivona melihat menu yang tertera. “Aku pesen udang goreng kering sama jus buah naga aja.”

“Catet ya, Mbak!” perintah Zoya pada pelayan restaurant. “Kepiting saus Dandito dua porsi, udang goreng kering 1 porsi. Minumnya jus mangga satu sama es jeruk dua.”

“Kok, jus mangga? Jus buah naga!” protes Ivona.

“Oh, iya.” Zoya menahan tawa karena salah mengingat menu pesanan Ivona. “Jus buah naga ya, Mbak!” pinta Zoya.

“Baik, Mas. Ada lagi?” tanya pelayan tersebut.

“Udah, itu aja!”

Pelayan tersebut langsung bergegas pergi ke dapur untuk memproses pesanan pelanggannya.

“Kamu sering makan di sini?” tanya Delana pada Zoya.

“Lumayan. Kalo ada temen dari luar Balikpapan dateng, pasti aku ajak makan di sini. Kamu sering ke sini juga?” tanya Zoya.

“Nggak sering. Aku jarang makan di luar.”

“Oh.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala.

“Kamu nggak nanyain aku?” tanya Ivona.

“Ah, tahu aja kalo kamu mah. Nggak doyan makan kepiting.”

“Doyan dikit. Kalo yang udah dilepasin dari cangkangnya. Kayak yang kamu masak hari itu, Del.” Ivona menoleh ke arah Delana.

“Bisa pesen kayak gitu.”

“Nggak, ah. Enak makan udang goreng aja.”

“Kamu bisa masak?” tanya Zoya sambil menatap Delana.

“Weits ... jangan salah! Kelihatannya aja dia nggak bisa masak. Aslinya mah dia pinter banget kalo masak. Masakannya dia itu te ope begete!” seru Ivona sambil mengacungkan dua jempolnya.

“Oh ... iya, iya. Chilton pernah cerita kalo masakan kamu tuh enak banget. Jadi pengen nyobain juga masakan kamu kayak apa.”

“Ah, nggak juga. Biasa aja. Masih enak masakan di restoran lah,” sahut Delana.

“Merendah ...” celetuk Ivona.

“Nggak papa, sih. Daripada ngakunya pinter masak tapi aslinya beli di warung. Itu kan hoax,” sahut Zoya.

“Hahaha.” Ivona tertawa mendengar ucapan Zoya. “Pengalaman pribadi ya?” dengusnya.

Zoya tertawa kecil.

Beberapa menit kemudian, makanan pesanan mereka sudah terhidang di atas meja. Mereka langsung menikmati makan sore bersama.

“Aku tuh niatnya pengen ngenalin kalian berdua, ternyata malah udah kenal duluan,” tutur Ivona.

“Tumben kamu mau ngenalin aku sama orang lain,” celetuk Zoya.

Belum sempat Ivona menyahut ucapan Zoya, tiba-tiba ponsel Zoya berdering.

“Halo ...!” Zoya langsung mengangkat panggilan teleponnya.

“...”

“Oke. Saya ke sana sekarang.” Zoya langsung mematikan teleponnya. Ia menyeruput es jeruk yang tersisa setengah gelas sampai habis.

“Aku balik duluan ya!” pamit Zoya. Ia segera membersihkan tangannya dan membayar semua makanan pesanan mereka sebelum akhirnya Zoya meninggalkan Delana dan Ivona yang masih belum menghabiskan makanannya.

Delana dan Ivona menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Zoya buru-buru pergi.

“Orang sibuk emang kayak gitu ya?” gumam Delana.

Ivona mengiyakan ucapan Delana sambil menganggukkan kepala.


((Bersambung...)) 

THEN LOVE BAB 31 : HATI YANG TERLUKA

 


Sudah dua hari Delana tidak masuk kuliah. Ia masih saja mengurung dirinya di dalam kamar. Patah hati membuatnya tak semangat melakukan apa pun. Ia memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar.

Bryan tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita yang sedang patah hati tidak akan mendengarkan ucapan seorang bocah sepertinya.

Bryan meminta Belvina agat terus menghibur kakaknya. Sepulang kuliah, Belvina langsung ke rumah Delana.

“Del, kamu belum mau kuliah?” tanya Belvina saat ia sudah berada di dalam kamar Delana.

“Masih males,” jawab Delana tak bersemangat.

“Udah dua hari nggak masuk kuliah. Apa cintamu sama dia sampe segininya? Masih banyak cowok yang lebih baik dari dia,” tutur Belvina sambil menatap pilu ke arah Delana.

“Bel, andai aja dia nolak aku dari dulu. Aku nggak akan sesakit ini. Setelah setengah tahun kita jalan bareng, main bareng, ngabisin waktu bareng. Dia ngasih aku lampu hijau. Dia ngasih aku banyak harapan. Tapi, tiba-tiba aja dia kayak gini. Aku sudah terlanjur mencintai dia begitu dalam. Dia justru bikin aku hancur.” Delana kembali meneteskan air mata.

Belvina menghela napas dalam-dalam. Jika ia terus menerus membahas Chilton, hanya akan membuat Delana kembali bersedih.

“Udah deh, kita nggak usah bahas cowok kayak gitu. Nggak penting banget!” tutur Belvina.

Delana menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia merasa, tak ada hal lain yang ia pikirkan saat ini selain hatinya yang sangat terluka. Ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya melupakan Chilton dalam hidupnya.

“Jalan, yuk!” ajak Belvina.

“Males, ah!” sahut Delana.

“Kalo kamu ngurung terus kayak gini, bakal ingat dia terus. Mending kita ke luar cari hiburan,” tutur Belvina.

“Cari hiburan ke mana?” tanya Delana.

“Ke Transcity gimana? Di sana banyak wahana permainan yang seru. Yah, itung-itung buat menghibur diri.” Belvina memainkan kedua alisnya.

“Mmh ...” Delana berpikir sejenak. “Boleh, deh.”

“Nah, gitu dong!” seru Belvina.

“Aku mandi dulu,” tutur Delana.

“Hah!? Belum mandi jam segini?”

Delana meringis menanggapi pertanyaan Belvina.

Sembari menunggu Delana mandi dan berganti pakaian. Belvina menelepon Ivona yang belum kembali dari liburannya.

“Hai, Bel...! Apa kabar?” tanya Ivona begitu panggilannya tersambung.

“Baik. Kamu ke mana aja? Susah banget dihubungi,” sahut Belvina.

“Masa, sih? Aku aktif terus, kok.”

“Dari kemarin aku telponin kamu, nggak ada yang angkat.”

“Ah, masa sih? Kamu nggak salah nelponnya kah?”

“Ya, nggak lah.”

“Hmm ... iya juga sih. Dari kemarin keluarga aku juga bilang kalo nomorku sulit dihubungi. Padahal aktif terus, kok,” tutur Ivona.

“Minta ganti baru tuh hp-mu!”

“Enak aja! Aku loh baru ganti hp sebulan yang lalu,” sahut Ivona.

Belvina tertawa kecil.

“Kabar Delana gimana?” tanya Ivona.

“Lagi galau dia.”

“Galau kenapa?”

“Ditolak sama Chilton.”

“What!? Seriusan!?” tanya Ivona terkejut. “Gimana ceritanya?”

“Entahlah. Udah dua hari dia nggak masuk kuliah gara-gara itu.”

“Dua hari? Tega banget baru ngasih tahu aku sekarang!” teriak Ivona lewat telepon.

Belvina menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar teriakan Ivona.

“Kamu tuh susah dihubungi,” sahut Belvina.

“Alesan! Dm di ig atau chat kan bisa.”

“Nggak asyik ngomongin kayak gini lewat chat,” tutur Belvina.

“Kamu tuh banyak alasan. Bilang aja lupa sama aku!” seru Ivona.

Belvina tertawa kecil. “Aku tuh nggak kepikiran ngabarin kamu. Sibuk ngehibur si Dela. Nangis terus dia gara-gara Chilton. Aku sibuk ngurusin dia aja. Udah gitu, pas ada ujian pula.”

“Jahat kamu, Bel! Tega banget nggak ngabarin aku! Kamu anggap aku ini apa?” ucap Ivona terisak.

“Udah, deh. Nggak usah mendramatisir keadaan kayak gini!” sahut Belvina yang mengetahui akting Ivona. “Daripada kamu ngomel, mending kamu cari cara biar si Dela terhibur dan lupain cowok brengsek itu!”

“Hmm ...”

“Eh, udah dulu! Aku mau ngajak Delana jalan. Mumpung dia lagi mau aku ajak keluar, siapa tahu bisa mengalihkan kesediahan dia,” bisik Belvina ke arah ponselnya. Ia melirik Delana yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Oke,” sahut Ivona.

Belvina langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Teleponan sama siapa?” tanya Delana sambil membuka lemari pakaiannya.

“Ivo.”

“Hah!? Kapan dia pulang ke sini?” tanya Delana.

“Nggak tahu. Belum aku tanya.”

“Kenapa dimatiin? Aku belum ngobrol sama dia.”

“Katanya, dia mau nelpon kamu kalo dia udah nggak sibuk,” ucap Belvina berbohong.

“Sibuk liburan terus dia, ya?”

“Yah, mumpung lagi liburan bareng keluarga juga kan? Nggak enak kali sama keluarganya kalo teleponan terus.”

“Kapan ya kita liburan bareng?” tanya Delana.

“Hmm ... mau?” tanya Belvina.

“Pengen, sih. Kayaknya asyik kalo liburan bareng.”

“Nanti, ya! Kalo aku udah punya pacar, baru kita liburan bareng.”

“Kenapa nunggu kamu punya pacar?”

“Asyik aja kalo liburan bareng pacar,” tutur Belvina sambil tertawa kecil.

Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Kamu lagi deket sama seseorang?” dengusnya.

“Mana ada!” sahut Belvina.

“Kenapa ngomongnya kayak gitu?”

“Yah, siapa sih yang nggak mau punya pacar, Del. Kamu aja sering jalan bareng Chilton asyik banget sampe lupa sama kita.”

“Nggak usah sebut nama dia lagi!” pinta Delana ketus.

“Serius? Udah benci sama dia?” tanya Belvina menggoda.

“Tau ah! Kamu kalo ngolokin terus, aku ngga jadi jalan, nih!”

“Iya, iya. Nggak ngolok lagi. Asal kamu udah nggak mewek lagi,” tutur Belvina.

“Iih ... mata aku masih bengkak nggak, sih?” Delana menyentuh  kelopak matanya yang terasa berat.

“Pakein make-up aja! Nggak terlalu kelihatan, kok.” Belvina menghampiri Delana dan mengamati matanya yang masih terlihat bengkak. “Kamu tuh bodoh banget!” celetuk Belvina.

Delana menghela napasnya. “Ya, aku memang bodoh. Aku udah salah jatuh cinta sama cowok kayak dia.”

“Rugi banget kamu ngabisin air matamu buat dia.”

“Kamu tuh nggak ngerti gimana rasanya jadi aku,” tutur Delana lirih.

“Udah. Jangan sedih terus! Mending kita jalan sekarang!” Belvina meraih tasnya ketika Delana sudah hampir selesai mengenakan riasan di wajahnya.

“Bentar, nah! Aku belum siap.”

“Aku tunggu di bawah,” tutur Belvina sambil bergegas keluar dari kamar Delana.

Delana menghela napas. Ia menatap wajahnya di depan cermin. Ia merasa dirinya begitu konyol karena telah menghabiskan banyak air mata untuk Chilton. Padahal, sudah jelas mereka hanya berteman dan Chilton juga memintanya untuk menjadi teman.

Delana tersenyum menatap dirinya sendiri. “Kamu pasti bisa dapet yang lebih baik dari dia,” ucapnya pada bayangannya sendiri. “Tetap semangat dan keep smile!” Delana mengangkat satu  tangan, memberi semangat untuk dirinya sendiri.

Delana meraih tas mungil berwarna cokelat yang ia letakkan di dalam lemari kaca. Ia memasukkan dompet dan ponsel ke dalamnya, kemudian bergegas keluar dari kamar.

Mereka langsung melajukan sepeda motor mereka menuju salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kawasan Daun Village.

“Bel, aku mau naik ayunan putar itu dong!” seru Delana begitu mereka sampai ke wahana permainan.

“Kamu aja ya! Aku nggak tahan naik begituan, pusing aku Del,” sahut Belvina.

“Ya udah, aku naik itu ya!” Delana langsung berlari dan menghampiri petugas yang menjaga permainan ayunan putar. Ia mengulurkan kartu pada petugas tersebut untuk membayar tiket permainan dan bersiap menaiki ayunan putar.

Delana memilih ayunan putar karena ia bisa bebas berteriak meluapkan kesedihannya. Setidaknya, perasaannya bisa lebih lega walau sebenarnya ia ketakutan. Tapi ia memberanikan diri untuk merasakan sensasi lain dalam dirinya. Mungkin saja perasaannya bisa lebih baik setelah ini.

Delana berteriak sepuasnya, sesekali ia tertawa menatap Belvina yang sedang duduk sambil menikmati makanan ringan. Delana melambai-lambaikan tangannya ke arah Belvina. Ia merasa, dirinya seolah-olah sedang terbang melayang-layang. Meninggalkan masa kelam di hari-harinya yang telah berlalu.

Belvina menatap sahabatnya yang terlihat ceria menaiki ayunan putar. Ia memilih untuk duduk santai sambil menikmati segelas es capucino. Ia merasa lega karena akhirnya bisa melihat Delana tertawa.

Delan dan Belvina mencoba semua wahana permainan yang ada sampai mereka kelelahan.

“Pulang, yuk! Aku udah capek,” ajak Delana.

Belvina tersenyum ke arah Delana.

“Kamu nggak capek, Bel?” tanya Delana.

Belvina menggelengkan kepala.

“Iya, sih. Kamu mainnya yang ringan-ringan.”

“Kamu sendiri yang pilih mainan ekstrim,” sahut Belvina.

“Hehehe ... Setidaknya, permainan ekstrim bisa bikin perasaanku lebih baik.”

“Iya, deh.” Belvina tersenyum. Ia merangkul Delana, mereka akhirnya pulang ke rumah.

***

Hari ini, Delana masuk kuliah seperti biasa. Ia menghindari beberapa tempat yang bisa membuatnya bertemu dengan Chilton. Ia sama sekali tidak mau menoleh ke arah taman. Tempat ia dan Chilton sering menghabiskan sarapan bersama. Ia tidak ingin mengingat masa-masa itu.

“Aargh ... akhirnya kamu masuk juga!” seru Belvina. Ia langsung memeluk tubuh Delana begitu Delana masuk ke dalam kelas.

Delana tersenyum. Ia tidak banyak bicara. Ia sedikit gelisah karena takut bertemu dengan Chilton di kampus ini.

Delana mengikuti pelajaran seperti biasa, tak ada yang berbeda. Teman-teman sekelasnya juga tidak ada yang curiga dengan hubungannya dan Chilton.

“Del, ngantin yuk!” ajak Belvina saat jam istirahat.

Delana mengedikkan bahunya. “Aku nitip aja ya!”

Belvina menghela napasnya. “Iya, deh. Nitip apa?”

“Orange juice.” Delana menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan ke arah Belvina.

“Sama apa lagi?”

“Itu aja.”

“Oke.” Belvina langsung bergegas pergi meninggalkan Delana. Ia tahu kalau Delana sedang berusaha menghindari Chilton.

Beberapa menit kemudian, salah satu mahasiswa masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiri Delana.

“Dipanggil sama rektor!” ucapnya pada Delana.

“Apa?” Delana terkejut. Ia mendesah kesal karena sebenarnya ia tidak ingin keluar dari kelas sama sekali.

“Dipanggil rektor,” jawab mahasiswa itu menegaskan kembali.

Delana menghentakkan kakinya dan bergegas keluar dari ruang kelas. Ia menyusuri koridor menuju ruangan rektor.

Langkah Delana terhenti saat melihat Chilton berada tepat di hadapannya. Walau jaraknya masih lumayan jauh, tapi sudah membuat jantung Delana berdegup tak karuan. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi. Ia masuk ke salah satu ruang kelas agar Chilton cepat berlalu dan ia bisa ke ruang rektor tanpa harus berpapasan dengan Chilton.

Delana menyandarkan tubuhnya di belakang pintu.

“Eh, tolongin dong!” Delana menarik lengan salah satu mahasiswi yang baru saja memasuki kelas.

“Apa?”

“Lihatkan Chilton, dong!” pinta Delana. “Dia udah lewat atau belum?” tanya Delana.

“Chilton?” Mahasiswi itu mengernyitkan dahinya. Hampir seisi kampus mengenal Chilton termasuk dia.

Delana menganggukkan kepala.

“Itu!” Mahasiswi itu menunjuk ke arah belakang Delana dengan dagunya.

Delana langsung menoleh dan mendapati Chilton sudah bersandar di bibir pintu. Delana melongo, ia tak menyangka kalau Chilton menghampirinya dan cowok itu bisa tersenyum ke arahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Delana merapatkan bibirnya. Ia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

“Del ...!” panggil Chilton sambil menahan lengan Delana.

Delana tidak menyahut. Ia menepis tangan Chilton dan langsung berlari meninggalkannya begitu saja. Perasaannya tak karuan karena harus berhadapan dengan cowok yang beberapa hari lalu telah menolak cintanya. Ia belum siap menjalin hubungan kembali dengan Chilton walau hanya sebatas teman.

Chilton menggelengkan kepala. Ia tahu kalau Delana terluka. Ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menghibur Delana dan membuat cewek itu tetap bersikap baik padanya. Tapi, dia akan berusaha sebisa mungkin membuat Delana tetap ada di sisinya. Sebab, ia kini rindu pada gadis itu. Gadis baik hati yang telah ia lukai hatinya.

***

Delana menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia mengingat kejadian beberapa jam lalu saat ia berusaha menghindari Chilton tapi cowok itu justru menghampirinya. Tidakkah dia tahu bagaimana perasaan Delana saat itu?

Pikiran Delana terus melayang membayangkan saat-saat ia menghabiskan waktu bersama cowok itu.

Delana bangkit dari tempat tidurnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia langsung merogoh ponsel yang ia simpan di dalam tasnya.

Delana menatap layar ponsel. Ia tersenyum ketika melihat nama ‘Ivona’ yang meneleponnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menjawab panggilan telepon dari Ivona.

“Halo ... Vo! Apa kabar?” tanya Delana.

“Baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?”

“Buruk.”

“Sabar ya!”

“Kamu udah tahu?” tanya Delana.

“Udah. Belvi udah cerita sama aku.”

“Huft, aku kesel banget sama dia. Kenapa dia tuh nggak nolak aku dari dulu? Kenapa coba dia biarin aku berjuang mati-matian buat ngebuktiin kalo aku serius sayang sama dia?” tutur Delana.

“Cowok emang kayak gitu. Giliran kitanya serius, dianya malah main-main.”

Delana menghela napas.

“Eh, aku punya senior yang ganteng banget! Mau aku kenalin sama dia? Kebetulan, dia itu jomlo juga.”

“Nggak sama kamu aja?” tanya Delana lesu.

“Idih. Aku mah udah kayak sodara sama dia. Nggak mungkin lah aku pacaran sama dia.”

“Mungkin aja, kan?”

“Dia bukan tipe aku,” sahut Ivona.

“Wuidih ... gaya!” seru Delana.

Ivona tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapan Delana.

“Kamu kapan balik ke sini?” tanya Delana.

“Tahun depan, Del.”

“Lama banget!? Keburu aku lupa sama kamu.”

“Hahaha.” Ivona tergelak. “Besok aku terbang ke Jakarta.”

“Kenapa ke Jakarta? Langsung ke sini bisa kan?” tanya Delana.

“Bisa, sih. Tapi aku mau ke Jakarta dulu nemuin sepupuku. Soalnya dia nitip belikan barang juga.”

“Oh. Kirain kamu masih mau liburan lagi di Jakarta.”

“Hehehe. Sambil menyelam minum air.”

“Dasar!”

“Kamu liburan ke mana aja, Del?” tanya Ivona.

“Udah tahu, kenapa masih ditanya sih?”

“Wuidih ... sentimen amat, Bu!” seru Ivona.

“Kamu nggak tahu rasanya nahan diri buat makan orang?” celetuk Delana kesal.

“Iya, tahu. Sabar ya! Nanti aku balik ke sana dan kita cari cowok lain yang lebih ganteng daripada si Chilton itu,” tutur Ivona.

“Aku maunya sama dia aja, Vo!” rengek Delana.

“Masih banyak yang lebih ganteng dari dia. Tenang aja, stok cowok ganteng masih banyak.”

“Mmh ... tapi, apa ada yang kayak Chilton?”

“Maksudnya? Yang nyakitin kamu gitu?” tanya Ivona lagi.

“Iih ... bukan itu!”

“Terus? Emang kenyataan kan? Dia cuma bisa nyakitin kamu doang.”

“Iya. Tapi dia itu baik, Vo. Udah gitu cakep, perhatian, penyayang dan romantis banget,” tutur Delana.

“Tetep aja nyakitin!” seru Ivona.

“Mungkin karena masih baru-baru aja aku ngerasa sakit hati banget. Lama-lama juga bakalan lupa. Kayak waktu aku sama Aravin.”

“Oh ... iya ya? Kamu kan dulu juga pernah patah hati sebelum jadian,” ucap Ivona tergelak.

Delana mencebik ke arah ponselnya. “Seneng banget kalo lihat temennya susah!” gumam Delana dalam hati.

“Del, orang lain itu patah hatinya setelah jadian. Lah, ini sebelum jadian udah patah hati duluan,” ucap Ivona sambil tertawa geli.

“Nggak usah ngolok terus!” seru Delana kesal.

“Aku nggak ngolok. Itu kenyataan.”

“Awas aja kamu ya! Kamu nanti bakal ngerasain ditolak cowok kayak gimana.”

“Oh ... No! Nggak bakalan terjadi karena aku bukan tipe cewek yang naksir cowok duluan. Yang ada, aku yang tukang nolak cowok,” tutur Ivona.

“Tersinggung banget aku, eh. Secara nggak langsung, kamu ngataian aku sebagai cewek yang suka sama cowok duluan.”

“Hahaha ... emang kenyataannya iya kan?”

Delana mendengus kesal mendengar ucapan Ivona yang terus saja mengejeknya.

“Udah, nggak usah dimasukin hati! Aku bercanda,kok. Nggak ada salahnya cewek naksir cowok duluan. Zaman sekarang mah udah biasa. Katanya, emansipasi wanita,” tutur Ivona.

“Pret, lah!”

“Kok, Pret sih?”

“Tukang kibul!” seru Delana.

“Emangnya pernah aku ngibulin kamu?” tanya Ivona.

“Pernah.”

“Kapan itu?” tanya Ivona lagi.

“Kamu tuh selalu aja nggak ingat sama dosa alias kesalahan kamu sendiri.”

“Kan ada kamu,” tutur Ivona.

“Kok, aku? Apa hubungannya?”

“Kalo aku salah, ada kamu yang benerin.”

“Ngek!”

“Kok, ngek sih? Kamu tuh ngece memang, Del. Aku udah kangen banget pengen nimpukin kepalamu.”

“Cepetan bulik makanya!” pinta Delana dengan logat Banjar.

“Siap, Bos!”

“Jangan lupa oleh-oleh buat aku!”

“Kamu mau apa?” tanya Ivona.

“Apa aja, lah yang penting mahal.”

“Gila! Orang tuh kalo minta gratisan tahu diri dikit,” sahut Ivona.

“Hehehe.”

“Orang lain tuh mintanya sembarang aja yang penting ikhlas. Nah, ini ... mintanya yang penting mahal,” jelas Ivona.

“Biar beda lah sama yang lain.”

“Hmm ... iya, aja deh. Daripada ribut,” ucap Ivona.

“Hehehe. Gitu dong! Siapa tahu aja dibawain oleh-oleh cowok ganteng,” tutur Delana.

“Mau? Nanti aku bawain cowok paling ganteng sedunia. Spesial buat kamu!” seru Ivona.

“Halah ... kamu tuh suka nipu!”

“Nipu gimana?”

“Kamu toh kalo ngomong suka kebalikannya. Kalo kamu bilang cowok itu ganteng, artinya dia nggak ganteng beneran,” jelas Delana.

“Ya ampun ... tega banget sih kamu ngomong kayak gitu, aku ini sahabat kamu sendiri dan kamu nggak percaya sama aku,” ucap Ivona sambil pura-pura terisak.

“Nggak usah mendramatisir keadaan!” ucap Delana. “Kamu kan paling hobi nge-prank orang,” lanjutnya.

Ivona tertawa terbahak-bahak.

“Eh, udah dulu, ya!” pinta Delana ketika mendengar pintu kamarnya diketuk.

“Oke.” Ivona langsung mematikan sambungan teleponnya.

Delana berjalan perlahan menghampiri pintu kamarnya.

“Ada apa, Dek?” tanya Delana begitu melihat Bryan berdiri di depan pintu kamarnya.

“Kakak udah makan?” tanya Bryan.

“Astaga!” Delana menepuk dahinya. “Iya. Kakak belum masak. Kamu laper ya?” tanya Delana. Ia buru-buru menutup pintu kamar dan bergegas menuruni tangga menuju dapur.

Bryan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kakaknya itu. Ia berjalan santai mengikuti langkah Delana.

“Nggak usah masak, Kak!” pinta Bryan.

“Kenapa? Kamu sudah makan?” tanya Delana menatap Bryan yang sudah berdiri di bibir pintu dapur.

“Belum.”

“Ya udah. Kakak masak dulu!” tutur Delana sambil membuka pintu kulkas. Ia melongo karena tidak ada bahan makanan lain selain telur dan cabai.

Delana menghela napasnya. Patah hati telah membuat harinya kacau. Ia bahkan melupakan keperluan adiknya. Entah apa yang dimakan oleh Bryan selama dua hari lalu. Ia juga tidak memikirkan apakah adiknya punya uang untuk membeli makanan atau tidak.

“Maafin Kakak ya, Dek!” Delana tertunduk lesu. Tidak seharusnya ia mengorbankan adiknya untuk seorang cowok yang telah menyakitinya. Ia hanya membuang-buang waktu memikirkan Chilton yang tidak mencintainya sama sekali.

“Iya, nggak papa.”

“Gara-gara aku, kamu jadi nggak ada yang perhatiin. Dari kemarin kamu makan apa?” tanya Delana.

“Delivery,” jawab Bryan singkat.

“Emang punya duit?”

“Punya, lah.”

“Dari mana? Kakak belum kasih duit jajan.”

“Pinjem sama Kak Belvi.”

“What!?” Delana mendelik ke arah Bryan.

“Bayarin, ya!” Bryan menggoyang-goyangkan alisnya sambil tersenyum ke arah Delana.

Delana menghela napas. Ia tahu, ini memang kesalahannya. Ia lupa memikirkan kebutuhan adiknya sendiri. “Iya, nanti Kakak Biarin!”

“Bayarin, Kak! Bukan Biarin. Lagian, salah Kakak juga nggak kasih uang jajan dan nggak masakin buat aku,” tutur Bryan.

“Iya, Dek. Maafin Kakak, ya!”

Bryan tersenyum kecil. “Iya. Lain kali jangan gitu lagi! Cuma gara-gara cowok aneh itu, Kakak sampe segitunya.”

Delana menghela napas. “Kamu nggak bakal ngerti.”

“Aku emang nggak ngerti, tapi paham.”

“Sama aja, dong?” tanya Delana.

Bryan tertawa kecil. “Kalo sampe dia bikin Kakak nangis lagi. Kuhajar beneran cowok itu. Nggak urus aku biarpun dia lebih tua dari aku,” tuturnya.

“Hush ... nggak boleh kayak gitu!” Delana menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

Bryan terdiam. Ia tidak ingin berdebat panjang dengan kakaknya itu. “Kita makan di luar aja yuk!” ajak Bryan.

“Makan di luar? Di mana?” tanya Delana.

“Tempat biasa.”

“Ocean’s?” tanya Delana lesu. Ia tidak begitu semangat mendengar nama tempat itu. Sebab di sana, ada kenangan bersama Chilton yang tidak mungkin bisa ia lupakan.

“Kenapa?” tanya Bryan.

“Di tempat yang lain aja!” pinta Delana.

“Di mana? Biasanya Kakak paling suka di sana.”

“Udah nggak lagi.”

“Kita makan bebek tempat Pak erTe aja yuk!” ajak Bryan.

“Pak eRTe yang di Gunung Sari?” tanya Delana.

Bryan menganggukkan kepala.

“Oke, deh kalo ke sana.”

Bryan menganggukkan kepala.

Mereka bergegas menuju Rumah Makan Pak eRTe yang terletak di kawasan Gunung Sari.


THEN LOVE BAB 30 : PENOLAKAN CINTA DARI CHILTON

 


Chilton merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang kosong. Perlahan-lahan, muncul Delana dalam bayangannya. Delana dan semua kisah indah yang pernah mereka lewati bersama.

Chilton merasa dia adalah cowok istimewa di mata Delana. Bagaimana dia tidak merasa seperti itu jika Delana terus-menerus memberikan perhatian lebih untuknya.

Delana rela membuatkannya sarapan setiap hari, menemaninya melakukan banyak hal dan ia tidak pernah marah sekalipun Chilton memarahinya.

Chilton tersenyum sendiri mengingat wajah Delana yang terlihat lucu setiap kali ia menggodanya.

“Del, andai aja kamu itu tipe cewek setia,” gumam Chilton.

Setelah mendengar kisah tentang Aravin dan Delana semasa SMA. Chilton mulai meragukan keseriusan Delana. Ia merasa kalau Delana hanya ingin mempermainkan dirinya. Memberikan begitu banyak cinta untuk Chilton, kemudian meninggalkannya setelah Chilton benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.

Setan dalam hatinya ikut bicara agar ia segera meninggalkan Delana secepat mungkin sebelum ia terlanjur cinta dan sakit hati pada wanita itu. Sedang hati kecilnya berkata kalau Delana punya cinta yang begitu tulus untuknya.

Chilton merogoh ponsel di sakunya. Ia mencari kontak Delana dan langsung meneleponnya.

“Halo ... ada apa, Chil?” tanya Delana begitu panggilannya tersambung.

Chilton terdiam. Ia bingung harus bicara apa dengan Delana. Ia tak ingin melukai perasaan Delana. Tapi, ia juga tidak ingin menelan kepahitan karena ia membiarkan Delana mempermainkan perasaannya.

“Kok, diam?”

“Mmh ... bisa ketemu?” tanya Chilton balik.

“Sekarang?” tanya Delana.

“Iya. Kalo bisa.”

“Aku baru sampe rumah, Chil. Masih capek banget. Besok aja gimana? Ketemu di kampus.”

“Aku maunya sekarang!”

Delana menghela napas. “Di mana?” tanya Delana.

“Di Bekapai.”

“Oke. Aku ke sana sekarang.”

“Oke. Aku tunggu!” Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia segera meraih jaket yang ia letakkan pada sandaran kursi dan bergegas keluar dari rumah.

“Maafin aku, Del!” bisiknya sambil merapatkan jaket. Ia langsung mengendarai sepeda motor ke arah Taman Bekapai.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Delana masih merasa sangat lelah karena baru saja sampai rumah. Tapi, Chilton sudah meneleponnya dan meminta untuk bertemu. Delana sama sekali tidak mengerti, kenapa Chilton mengajaknya bertemu mendadak seperti ini. Terlebih mereka baru sampai rumah karena harus mendampingi murid-murid les mereka mengikuti lomba.

“Kenapa nggak dia aja yang ke asrama sih? Ketemu di sini kan lebih dekat. Dari Prapatan ke rumahku aja udah jauh. Aku disuruh balik lagi ke Bekapai sana. Nggak tahu apa kalo aku capek?” gerutu Delana.

Delana meraih kunci motor yang ia letakkan di atas meja rias. Ia bergegas keluar dari kamarnya dan buru-buru pergi.

“Mau ke mana, Kak?” tanya Briyan yang kebetulan sedang berada di bawah tangga untuk naik ke kamarnya.

“Mau ke luar sebentar.”

“Ke mana?” tanya Briyan. “Ini udah malam.”

“Kakak ada perlu penting.”

“Mau aku antar?” tanya Bryan.

“Mmh ...”

“Ini udah malam, Kak. Kakak juga baru sampe rumah. Emangnya nggak capek?” tanya Bryan.

Delana menghela napas. “Capek banget, sih. Tapi dia maksa buat ketemu sekarang juga.”

“Dia?” Bryan mengernyitkan dahinya.

“Iya. Dia yang waktu itu anterin Kakak pulang pas mabuk.”

“Ngapain ngajak ketemu malam-malam gini? Kayak nggak ada waktu besok aja,” celetuk Bryan.

“Kakak nggak tahu, Dek. Kayaknya ada hal penting yang mau diomongin.”

“Aku anterin ya!” pinta Bryan.

“Hmm ... ya udah, kalo kamu maksa,” tutur Delana.

Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Delana diantar oleh adiknya. Bryan mengkhawatirkan kakak perempuan satu-satunya itu. Ia tidak akan membiarkan kakaknya keluar malam seorang diri.

“Aku tungguin atau ditinggal, Kak?” tanya Bryan begitu mereka sampai di Taman Bekapai.

“Tinggal aja, dek!” pinta Delana. “Nanti Kakak bisa pesen taksi online,” lanjutnya.

“Mmh ... Kakak lama atau nggak? Kalo sebentar aja, aku tungguin!”

“Kakak belum bisa pastikan.”

“Ya udah. Aku tunggu di rumah temenku yang deket sini. Ntar, Kak Dela telepon aku aja ya kalo udah mau pulang!” pinta Bryan.

Delana menganggukkan kepala. Ia langsung melangkahkan kaki memasuki taman. Ada beberapa pemuda dan pemudi yang sedang asyik bercengkerama. Sama seperti yang dilakukan Delana dan Chilton.

Delana menghampiri Chilton yang duduk seorang diri di kursi taman. “Udah lama nunggu?” tanya Delana.

“Hmm ... lumayan,” jawab Chilton sambil melirik arlojinya.

“Ada apa ngajak ketemu malam-malam gini?” tanya Delana.

“Duduk dulu!” pinta Chilton.

“Penting banget, ya? Kamu kan tahu kalo aku baru aja pulang. Kamu tiba-tiba ngajak ketemuan di sini. Kenapa nggak dari tadi waktu masih nganter anak-anak?” tanyanya.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

“Ngomong aja!” perintah Delana sambil tersenyum. Ia berharap, Chilton akan menembaknya saat ini juga.

Chilton menatap lekat ke arah Delana. Ia tak ingin melukai hati gadis itu. Tapi ia harus melakukannya.

“Del, maafin aku karena aku belum bisa membalas cinta kamu selama ini,” tutur Chilton.

Delana tersenyum. “Nggak papa, kok. Aku bakal nunggu sampai kapan pun itu.”

Chilton tertawa kecil. “Kamu nggak perlu nunggu lagi!”

Delana tersenyum bahagia ke arah Chilton. Apakah itu artinya Chilton akan mengatakan kalau dia juga mencintai Delana?

“Kita cukup berteman aja,” tutur Chilton.

Delana menatap Chilton tanpa berkedip. “Maksud kamu?”

“Aku nggak mau terlalu banyak ngasih kamu harapan. Aku tahu, kita berbeda dan prinsip kita soal cinta itu beda banget. Kita nggak ada kecocokan dan aku nggak mau memaksakan diriku,” ucap Chilton.

Delana terdiam. Ia merasa tubuhnya seperti disambar petir jutaan volt. Ia masih tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Chilton.

Chilton menatap mata Delana yang berkaca-kaca. Ia tahu kalau ia telah melukai gadis itu. Sungguh, ia tidak ingin melupakannya.

“Kita masih bisa berteman,” tutur Chilton sambil tersenyum ke arah Delana.

Delana ingin membalas senyuman Chilton, tapi luka di hatinya telah menghapus semua senyuman indah yang ia miliki.

“Del ...!” panggil Chilton lirih sambil meraih telapak tangan Delana. Ia mengusap lembut punggung tangan Delana.

“Aku salah apa sama kamu?” tanya Delana lirih.

“Kamu nggak salah apa-apa sama aku. Kamu udah ngasih banyak cinta buatku. Cinta yang nggak pernah aku dapetin dari orang lain sebelumnya.”

“Tapi kenapa kita harus berteman? Apa nggak bisa lebih dari itu?” tanya Delana. Ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh ke pipi.

“Maafin aku, Del. Aku nggak bisa nerima kamu jadi orang yang lebih dari seorang teman.”

“Kenapa?” tanya Delana penuh kepedihan.

“Karena cara kita mencintai seseorang sangatlah berbeda. Aku harap kamu bisa memahami bahwa cinta tidak harus memiliki dan tidak semua cinta dibalas dengan cinta.”

Delana tak sanggup lagi mendengar kata-kata yang akan keluar dari mulut Chilton. Ia menepiskan tangan Chilton. Delana bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Chilton seorang diri.

Chilton merasa terluka melihat gadis itu meneteskan air mata untuknya. Ia tahu kalau ia telah menciptakan banyak luka di hati seorang gadis yang telah memberikan banyak cinta untuknya.

Delana terus berlari keluar dari taman. Ia tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia menelepon Bryan dan meminta agar segera dijemput.

“Kak Dela kenapa?” tanya Bryan yang menyadari wajah kakaknya terlihat sangat sedih ketika ia baru sampai untuk menjemput Delana.

“Nggak papa.” Delana mengusap sisa air mata yang jatuh di pipi.

“Kenapa nangis?” tanya Bryan.

“Eh!? Nggak nangis, kok.” Delana tersenyum ke arah Bryan. “Cuma kelilipan debu,” tuturnya sambil mengusap pipi.

“Ayo pulang!” ajak Bryan.

Delana langsung menaiki motor adiknya itu. Ia memeluk erat pinggang Bryan. Menyandarkan kepala pada pundak Bryan dan memejamkan matanya. Ia merasakan pungguung Bryan yang hangat, sehangat punggung Chilton malam itu.

Delana membayangkan semua hari yang telah ia lalui bersama Chilton. Ia masih tak percaya kalau ternyata semua itu hanya semu. Apa yang telah ia lakukan selama ini sama sekali tidak membuat Chilton jatuh cinta kepadanya.

Bulir-bulir air mata Delana jatuh dalam kegelapan malam, seperti harapannya yang sirna begitu saja dan menjadikan harinya kelam. Ia tak menyangka kalau hari-hari yang telah ia korbankan ternyata hilang begitu saja dibawa angin malam.

“Tuhan ... kenapa harus seperti ini?” bisik Delana dalam hati. Ia merasa begitu terluka karena harus kembali kehilangan sebelum ia memiliki. Ia harus kehilangan hari-harinya bersama Chilton. Ia harus kehilangan waktu-waktunya bersama Chilton. Ia harus kehilangan semuanya, canda tawa yang pernah mereka lalui bersama.

Bryan menyadari kalau punggungnya basah oleh air mata kakaknya. Tapi, ia tak ingin bertanya apa pun. Dia hanya membiarkan kakaknya menangis di punggungnya. Ia tidak tahu apa sebabnya. Mungkin karena laki-laki yang ditemui oleh kakaknya itu. Tapi, ia juga merasa tersayat ketika harus melihat kakak yang ia sayangi menangis seperti ini.

Bryan tahu, kakaknya telah melalui banyak hari sulit sejak mereka masih kecil. Menggantikan posisi ibu dalam keluarga di usia yang masih kecil tidaklah mudah. Bryan teringat bagaimana Delana kecil menarik keranjang pakaian kotor untuk dicuci, jemari kecilnya teriris pisau karena ingin menyiapkan makan malam untuknya dan ayahnya. Dan semua bayangan masa lalu bersama kakaknya terlintas di pelupuk mata. Membuatnya tak bisa menahan air mata.

Sebagai laki-laki, Bryan harus kuat dan bisa menjaga kakak perempuannya. Tapi, ia tetap tidak bisa menahan kesedihan ketika melihat kakaknya menangis. Sesulit apa pun hari-hari yang pernah mereka lalui bersama, kakaknya tak pernah mengeluh apalagi melihatnya menangis.

“Udah sampai, Kak.” Bryan memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah. Ia mengusap mata dan pipinya yang basah dengan tangannya sendiri. Ia tak ingin kakaknya tahu air matanya menetes karena melihat air mata kakaknya.

Delana tak bicara apa pun. Ia langsung turun dari motor dan berlari ke arah pintu. Ia membuka kunci pintu rumahnya dan bergegas masuk tanpa menoleh ke arah Bryan sama sekali.

Bryan mengikuti Delana di belakangnya. Delana langsung berlari menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar dan membanting pintu keras-keras.

Delana menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.

“Cowok brengsek!” teriak Delana sambil memukul-mukul bantal yang ada di atas kasurnya.

“Kenapa nggak dari awal kamu ngomong kayak gini? Kenapa kamu ngasih banyak harapan sama aku kalo akhirnya kamu tetep nggak bisa cinta?” seru Delana dalam isak tangisnya.

Delana terus berteriak memaki Chilton sambil terisak. Suaranya terdengar oleh Bryan yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar kakaknya. Akhirnya, ia tahu kalau kakaknya sedang patah hati.

Bryan merogoh ponsel yang ia simpan di saku celananya. Mencari nomor kontak salah satu sahabat kakaknya dan langsung menelepon.

“Ada apa, Bryan? Tumben telepon?” tanya Belvina begitu panggilan telepon Bryan tersambung.

Bryan diam, ia membiarkan suara tangis kakaknya terdengar oleh Belvina.

“Delana kenapa?” tanya Belvina khawatir.

“Kak Belvi ke sini sekarang!” pinta Bryan.

“Oke. Aku langsung ke sana sekarang.” Belvina langsung menutup teleponnya.

Bryan menghela napas. Lebih baik ia memberitahu sahabat kakaknya daripada dia ikut campur urusan percintaan kakaknya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana cara menenangkan kakaknya yang sedang patah hati.

Beberapa menit kemudian, Belvina sudah sampai di rumah Delana.

“Delana kenapa?” tanya Belvina begitu Bryan membukakan pintu untuknya.

Bryan mengedikkan bahunya. “Aku rasa dia akan lebih nyaman menceritakan masalahnya sama Kak Belvi.”

Belvina menghela napas. Ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Delana.

“Del ... Del ...!” panggil Belvina sambil mengetuk pintu kamar Delana yang terkunci.

Delana mendongakkan kepala, menatap ke arah pintu kamar yang diketuk. Suara yang ia dengar tak asing lagi di telinganya.

“Ini Belvi!”

Delana langsung bangkit dan membukakan pintu kamarnya.

“Belvi ...!” serunya sambil memeluk tubuh Belvina. Ia kembali terisak dalam pelukan Belvina.

Belvina mengelus-elus punggung Delana untuk membuatnya merasa lebih tenang. Ia melepas pelukan Delana dan menatap gadis itu. “Cerita sama aku! Kamu kenapa?” tanya Belvina.

Delana melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan duduk di atas ranjangnya.

“Chilton, Bel ...!” ucapnya sambil terisak.

“Chilton kenapa? Kecelakaan?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala.

“Dia kenapa emangnya?” tanya Belvina.

“Dia nolak aku, Bel,” jawab Delana terisak.

“Nolak? Emangnya kamu udah nembak dia?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala.

“Terus? Gimana caranya dia nolak kamu?”

“Dia bilang ... kita cuma bisa temenan aja. Karena kita berdua punya prinsip yang beda dan nggak ada kecocokan,” ucap Delana terputus-putus.

Belvina memeluk tubuh Delana. “Udah, jangan sedih kayak gitu. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng dan lebih baik dari dia.”

“Tapi aku maunya sama dia!” seru Delana.

“Del, kalau kalian jodoh, suatu saat pasti akan bersatu. Tapi, kalau bukan jodoh, nggak bisa dipaksakan karena kamu akan lebih banyak merasakan sakit ketimbang bahagia,” tutur Belvina.

Delana mengusap air matanya. “Aku harus gimana?” tanya Delana.

“Lupain aja dia!” pinta Belvina. “Cowok yang udah bikin kamu nangis, itu nggak pantes ada di sisi kamu. Suatu hari nanti, dia bakal sadar kalo kamu adalah perempuan paling berharga yang udah dia sia-siain.”

“Aku malu, Bel,” tutur Delana lirih.

“Malu sama siapa?” tanya Belvina.

“Malu sama Chilton, malu sama temen-temen kampus karena mereka semua tahu kalo aku ngejar Chilton. Aku bakal dibully habis-habisan di kampus kalo kayak gini,” ucap Delana tak bisa menahan air matanya untuk keluar.

“Udah. Bersikap biasa aja. Seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Toh, kalian cuma temen dan emang belum jadian. Chilton masih mau berteman sama kamu, kan? Asal kamu nggak ngomong soal ini ke siapa pun, nggak akan ada yang tahu dan nggak akan ada temen kampus yang ngejek kamu.”

Delana menghela napas. Ia mengusap air matanya. Tapi, tetap saja air mata itu tak bisa berhenti mengalir. Belvina mengusap air mata Delana dan memeluknya kembali.

“Makasih ya, Bel! Kamu selalu ada buat aku kapanpun aku butuh kamu,” tutur Delana lirih.

“Itu gunanya sahabat,” sahut Belvina sambil tersenyum.

Kehadiran Belvina membuat perasaan Delana sedikit tenang. Ia sesekali tersenyum karena Belvina berusaha melempar humor yang membuatnya ingin tertawa dan melupakan masalahnya bersama Chilton malam ini.

“Del, gimana kalo kita nyanyi?” tanya Belvina menatap layar LCD di kamar Delana, tempat biasanya mereka menggila bersama.

“Malam-malam gini, dilemparin batu sama tetangga ntar,” celetuk Delana.

“Hahaha.”

“Kita main apa ya? Ivo belum balik sih,” tutur Belvina.

“Kita tidur aja! Aku ngantuk banget!” ucap Delana yang merasa kelopak matanya begitu berat.

Belvina memerhatikan wajah Delana yang memerah karena menangis terlalu lama. Kelopak matanya juga langsung membengkak dan hal itu membuat Delana tak bisa menahan kantuknya.

“Oke. Mari tidur!” seru Belvina langsung masuk ke dalam selimut.

“Kamu mau tidur di sini?” tanya Delana.

Belvina menganggukkan kepala.

Delana tersenyum, ia menarik selimut dan langsung terlelap.

***

Di tempat lain, Chilton merasa bersalah karena sudah membuat Delana sedih. Ia tahu kalau ucapannya telah melukai hati Delana. Ia tidak mengerti bagaimana cara menghibur Delana agar tidak bersedih. Sebab, dialah penyebab kesedihan Delana.

Chilton melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumahnya. Ia langsung menuju ke arah Balkon rumah. Tempat di mana ia bisa melihat bintang-bintang dan pemandangan kota yang berhias kerlip lampu. Di ujungnya, cahaya air laut berkilauan.

Chilton ingat ketika ia menunjukkan tempat ini pada Delana. Delana sangat senang dengan pemandangan di belakang rumahnya.

Chilton tersenyum mengingat masa-masa indah bersama Delana. Tapi, dialah yang menghancurkan semuanya. Andai Delana tidak mudah menyukai pria lain, mungkin dia akan menjadikan Delana satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya.

Ah, tidak! Dia tidak akan menjadikan Delana satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya, sebab Delana sudah ada di dalam hatinya. Tersemat begitu dalam hingga ia tak mampu mengeluarkan dan membuang semua kenangan bersamanya.

“Belum tidur?” sapaan seseorang membuyarkan lamunan Chilton.

“Mama? Belum tidur?” tanya Chilton balik.

“Belum.” Astria menghampiri Chilton dan berdiri di sebelahnya. “Kamu ngapain masih di sini malam-malam begini? Ada yang kamu kangenin?” tanya Astria.

Chilton menoleh ke arah mamanya. Ia merasa mamanya tahu apa yang ia rasakan dalam hatinya. Ia tersenyum kecil ke arah Astria dan kembali menatap langit yang bertaburan bintang-bintang.

“Ma, kalo aku nangisin cewek yang udah sayang sama aku karena kesalahan dia, apa aku salah?” tanya Chilton.

Astria diam, ia mendelik ke arah Chilton. “Siapa cewek itu?” dengus Astria.

Chilton tersenyum kecil. Ia tak menjawab dan malah bergegas pergi, masuk ke dalam kamar, meninggalkan Astria yang kebingungan dengan sikap anaknya itu.

Astria menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya.

***

Keesokan harinya ...

“Del, kamu nggak kuliah?” tanya Belvina saat bangun pagi hari.

Delana menggelengkan kepala. Ia merapatkan kembali selimut ke tubuhnya.

“Hari ini ada ujian, kamu beneran nggak mau kuliah?” tanya Belvina lagi.

Delana masih menggelengkan kepala.

“Kamu takut ketemu dia?” tanya Belvina.

Delana menggelengkan kepala dengan lesu.

Belvina menghela napas. Ia menyerah bertanya atau mengatakan apa saja sebab Delana tidak mau menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.

“Aku pulang dulu ya!” pamit Belvina.

Delana menganggukkan kepala.

Belvina langsung bergegas keluar dari kamar Delana.

Delana sama sekali tidak ingin mengantarkan Belviba keluar. Ia hanya menatap dinding di depannya.

Kali ini, Delana tidak ingin pergi ke kampus karena perasaannya belum juga membaik. Ia belum siap bertemu dengan Chilton. Sebab ia tahu kalau ia tak bisa lagi bermain dan bercanda dengan cowok itu.

“Chil, kenapa sih kamu tega giniin aku?” tanya Delana berbisik. Ia tak bisa menahan air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya.

“Kak ...!” Suara Bryan membuat Delana mengusap air matanya.

“Ya, Dek.” Delana langsung menoleh ke arah adiknya yang datang sambil membawa nampan.

“Aku buatin susu sama nasi goreng buat kakak.” Bryan meletakkan nampan di atas meja.

“Baik banget! Makasih ya, Dek!” ucap Delana sambil tersenyum.

Bryan menganggukkan kepala. “Kakak habisin ya! Aku nggak mau kakak sakit. Ntar nggak ada yang nyetrikain seragam aku,” tutur Bryan.

Delana memerhatikan Bryan yang sudah memakai seragam sekolah. “Nggak disetrika beneran?” dengus Delana melihat baju seragam Bryan yang masih kusut.

Bryan meringis.

“Sini, Kakak setrikain dulu!” pinta Delana.

“Nggak usah, Kak! Biar bajunya kusut juga aku tetep ganteng, kok.” Bryan menepuk dadanya penuh percaya diri.

Delana tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu. Ia tak menyangka kalau adiknya kini sudah menjadi anak remaja. Bukan Bryan kecil yang dulu lagi.

“Nanti nggak ada yang naksir kalo nggak rapi,” sahut Delana sambil tersenyum.

“Halah, nggak papa. Aku kan mau sekolah, bukan mau cari pacar,” tutur Bryan.

Delana tersenyum bangga sambil mengusap kepala Bryan.

“Kakak istirahat ya!” perintah Bryan. “Aku berangkat sekolah dulu!” pamitnya.

Delana menganggukkan kepala.

“Oh, ya ... di bawah sudah ada bibi yang bersih-bersih rumah. Kalo Kakak butuh sesuatu, ngomong aja sama dia ya!”

Delana tersenyum kecil. Ia merasa Bryan sedang bertingkah seperti dirinya. Atau memang dengan sengaja menirukan kakaknya?

Bryan meringis. Ia langsung bergegas pergi dari kamar kakaknya.

Delana menatap nasi goreng yang terhidang di meja kamarnya. Ia teringat pada hari pertama ia membuatkan nasi goreng berbentuk sepatu untuk Chilton. Hari di mana Chilton memberikan harapan pertamanya.

Air mata Delana kembali menetes mengingat masa itu. Andai hari itu Chilton menolak pemberiannya, mungkin dia akan menyerah saat itu juga dan tidak akan berada begitu dekat dengan Chilton. Setelah harapan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya ... Chilton memilih untuk mengakhiri cerita mereka tanpa hubungan apa pun. Hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu.

Delana membalikkan tubuhnya. Ia tidak ingin menatap nasi goreng buatan Bryan, sebab nasi goreng itu terus mengingatkannya pada wajah Chilton. Cowok yang telah melukainya begitu dalam. Cowok yang telah mengajaknya terbang tinggi, kemudian menjatuhkannya begitu saja. Ia merasa dunianya begitu hancur berkeping-keping seperti kisah cinta mereka.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas