Chilton merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar yang kosong. Perlahan-lahan, muncul Delana dalam bayangannya. Delana dan semua kisah indah yang pernah mereka lewati bersama.
Chilton merasa dia adalah cowok istimewa di mata Delana. Bagaimana dia tidak merasa seperti itu jika Delana terus-menerus memberikan perhatian lebih untuknya.
Delana rela membuatkannya sarapan setiap hari, menemaninya melakukan banyak hal dan ia tidak pernah marah sekalipun Chilton memarahinya.
Chilton tersenyum sendiri mengingat wajah Delana yang terlihat lucu setiap kali ia menggodanya.
“Del, andai aja kamu itu tipe cewek setia,” gumam Chilton.
Setelah mendengar kisah tentang Aravin dan Delana semasa SMA. Chilton mulai meragukan keseriusan Delana. Ia merasa kalau Delana hanya ingin mempermainkan dirinya. Memberikan begitu banyak cinta untuk Chilton, kemudian meninggalkannya setelah Chilton benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.
Setan dalam hatinya ikut bicara agar ia segera meninggalkan Delana secepat mungkin sebelum ia terlanjur cinta dan sakit hati pada wanita itu. Sedang hati kecilnya berkata kalau Delana punya cinta yang begitu tulus untuknya.
Chilton merogoh ponsel di sakunya. Ia mencari kontak Delana dan langsung meneleponnya.
“Halo ... ada apa, Chil?” tanya Delana begitu panggilannya tersambung.
Chilton terdiam. Ia bingung harus bicara apa dengan Delana. Ia tak ingin melukai perasaan Delana. Tapi, ia juga tidak ingin menelan kepahitan karena ia membiarkan Delana mempermainkan perasaannya.
“Kok, diam?”
“Mmh ... bisa ketemu?” tanya Chilton balik.
“Sekarang?” tanya Delana.
“Iya. Kalo bisa.”
“Aku baru sampe rumah, Chil. Masih capek banget. Besok aja gimana? Ketemu di kampus.”
“Aku maunya sekarang!”
Delana menghela napas. “Di mana?” tanya Delana.
“Di Bekapai.”
“Oke. Aku ke sana sekarang.”
“Oke. Aku tunggu!” Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia segera meraih jaket yang ia letakkan pada sandaran kursi dan bergegas keluar dari rumah.
“Maafin aku, Del!” bisiknya sambil merapatkan jaket. Ia langsung mengendarai sepeda motor ke arah Taman Bekapai.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Delana masih merasa sangat lelah karena baru saja sampai rumah. Tapi, Chilton sudah meneleponnya dan meminta untuk bertemu. Delana sama sekali tidak mengerti, kenapa Chilton mengajaknya bertemu mendadak seperti ini. Terlebih mereka baru sampai rumah karena harus mendampingi murid-murid les mereka mengikuti lomba.
“Kenapa nggak dia aja yang ke asrama sih? Ketemu di sini kan lebih dekat. Dari Prapatan ke rumahku aja udah jauh. Aku disuruh balik lagi ke Bekapai sana. Nggak tahu apa kalo aku capek?” gerutu Delana.
Delana meraih kunci motor yang ia letakkan di atas meja rias. Ia bergegas keluar dari kamarnya dan buru-buru pergi.
“Mau ke mana, Kak?” tanya Briyan yang kebetulan sedang berada di bawah tangga untuk naik ke kamarnya.
“Mau ke luar sebentar.”
“Ke mana?” tanya Briyan. “Ini udah malam.”
“Kakak ada perlu penting.”
“Mau aku antar?” tanya Bryan.
“Mmh ...”
“Ini udah malam, Kak. Kakak juga baru sampe rumah. Emangnya nggak capek?” tanya Bryan.
Delana menghela napas. “Capek banget, sih. Tapi dia maksa buat ketemu sekarang juga.”
“Dia?” Bryan mengernyitkan dahinya.
“Iya. Dia yang waktu itu anterin Kakak pulang pas mabuk.”
“Ngapain ngajak ketemu malam-malam gini? Kayak nggak ada waktu besok aja,” celetuk Bryan.
“Kakak nggak tahu, Dek. Kayaknya ada hal penting yang mau diomongin.”
“Aku anterin ya!” pinta Bryan.
“Hmm ... ya udah, kalo kamu maksa,” tutur Delana.
Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya Delana diantar oleh adiknya. Bryan mengkhawatirkan kakak perempuan satu-satunya itu. Ia tidak akan membiarkan kakaknya keluar malam seorang diri.
“Aku tungguin atau ditinggal, Kak?” tanya Bryan begitu mereka sampai di Taman Bekapai.
“Tinggal aja, dek!” pinta Delana. “Nanti Kakak bisa pesen taksi online,” lanjutnya.
“Mmh ... Kakak lama atau nggak? Kalo sebentar aja, aku tungguin!”
“Kakak belum bisa pastikan.”
“Ya udah. Aku tunggu di rumah temenku yang deket sini. Ntar, Kak Dela telepon aku aja ya kalo udah mau pulang!” pinta Bryan.
Delana menganggukkan kepala. Ia langsung melangkahkan kaki memasuki taman. Ada beberapa pemuda dan pemudi yang sedang asyik bercengkerama. Sama seperti yang dilakukan Delana dan Chilton.
Delana menghampiri Chilton yang duduk seorang diri di kursi taman. “Udah lama nunggu?” tanya Delana.
“Hmm ... lumayan,” jawab Chilton sambil melirik arlojinya.
“Ada apa ngajak ketemu malam-malam gini?” tanya Delana.
“Duduk dulu!” pinta Chilton.
“Penting banget, ya? Kamu kan tahu kalo aku baru aja pulang. Kamu tiba-tiba ngajak ketemuan di sini. Kenapa nggak dari tadi waktu masih nganter anak-anak?” tanyanya.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong aja!” perintah Delana sambil tersenyum. Ia berharap, Chilton akan menembaknya saat ini juga.
Chilton menatap lekat ke arah Delana. Ia tak ingin melukai hati gadis itu. Tapi ia harus melakukannya.
“Del, maafin aku karena aku belum bisa membalas cinta kamu selama ini,” tutur Chilton.
Delana tersenyum. “Nggak papa, kok. Aku bakal nunggu sampai kapan pun itu.”
Chilton tertawa kecil. “Kamu nggak perlu nunggu lagi!”
Delana tersenyum bahagia ke arah Chilton. Apakah itu artinya Chilton akan mengatakan kalau dia juga mencintai Delana?
“Kita cukup berteman aja,” tutur Chilton.
Delana menatap Chilton tanpa berkedip. “Maksud kamu?”
“Aku nggak mau terlalu banyak ngasih kamu harapan. Aku tahu, kita berbeda dan prinsip kita soal cinta itu beda banget. Kita nggak ada kecocokan dan aku nggak mau memaksakan diriku,” ucap Chilton.
Delana terdiam. Ia merasa tubuhnya seperti disambar petir jutaan volt. Ia masih tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Chilton.
Chilton menatap mata Delana yang berkaca-kaca. Ia tahu kalau ia telah melukai gadis itu. Sungguh, ia tidak ingin melupakannya.
“Kita masih bisa berteman,” tutur Chilton sambil tersenyum ke arah Delana.
Delana ingin membalas senyuman Chilton, tapi luka di hatinya telah menghapus semua senyuman indah yang ia miliki.
“Del ...!” panggil Chilton lirih sambil meraih telapak tangan Delana. Ia mengusap lembut punggung tangan Delana.
“Aku salah apa sama kamu?” tanya Delana lirih.
“Kamu nggak salah apa-apa sama aku. Kamu udah ngasih banyak cinta buatku. Cinta yang nggak pernah aku dapetin dari orang lain sebelumnya.”
“Tapi kenapa kita harus berteman? Apa nggak bisa lebih dari itu?” tanya Delana. Ia berusaha menahan air matanya agar tak jatuh ke pipi.
“Maafin aku, Del. Aku nggak bisa nerima kamu jadi orang yang lebih dari seorang teman.”
“Kenapa?” tanya Delana penuh kepedihan.
“Karena cara kita mencintai seseorang sangatlah berbeda. Aku harap kamu bisa memahami bahwa cinta tidak harus memiliki dan tidak semua cinta dibalas dengan cinta.”
Delana tak sanggup lagi mendengar kata-kata yang akan keluar dari mulut Chilton. Ia menepiskan tangan Chilton. Delana bangkit dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Chilton seorang diri.
Chilton merasa terluka melihat gadis itu meneteskan air mata untuknya. Ia tahu kalau ia telah menciptakan banyak luka di hati seorang gadis yang telah memberikan banyak cinta untuknya.
Delana terus berlari keluar dari taman. Ia tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Ia menelepon Bryan dan meminta agar segera dijemput.
“Kak Dela kenapa?” tanya Bryan yang menyadari wajah kakaknya terlihat sangat sedih ketika ia baru sampai untuk menjemput Delana.
“Nggak papa.” Delana mengusap sisa air mata yang jatuh di pipi.
“Kenapa nangis?” tanya Bryan.
“Eh!? Nggak nangis, kok.” Delana tersenyum ke arah Bryan. “Cuma kelilipan debu,” tuturnya sambil mengusap pipi.
“Ayo pulang!” ajak Bryan.
Delana langsung menaiki motor adiknya itu. Ia memeluk erat pinggang Bryan. Menyandarkan kepala pada pundak Bryan dan memejamkan matanya. Ia merasakan pungguung Bryan yang hangat, sehangat punggung Chilton malam itu.
Delana membayangkan semua hari yang telah ia lalui bersama Chilton. Ia masih tak percaya kalau ternyata semua itu hanya semu. Apa yang telah ia lakukan selama ini sama sekali tidak membuat Chilton jatuh cinta kepadanya.
Bulir-bulir air mata Delana jatuh dalam kegelapan malam, seperti harapannya yang sirna begitu saja dan menjadikan harinya kelam. Ia tak menyangka kalau hari-hari yang telah ia korbankan ternyata hilang begitu saja dibawa angin malam.
“Tuhan ... kenapa harus seperti ini?” bisik Delana dalam hati. Ia merasa begitu terluka karena harus kembali kehilangan sebelum ia memiliki. Ia harus kehilangan hari-harinya bersama Chilton. Ia harus kehilangan waktu-waktunya bersama Chilton. Ia harus kehilangan semuanya, canda tawa yang pernah mereka lalui bersama.
Bryan menyadari kalau punggungnya basah oleh air mata kakaknya. Tapi, ia tak ingin bertanya apa pun. Dia hanya membiarkan kakaknya menangis di punggungnya. Ia tidak tahu apa sebabnya. Mungkin karena laki-laki yang ditemui oleh kakaknya itu. Tapi, ia juga merasa tersayat ketika harus melihat kakak yang ia sayangi menangis seperti ini.
Bryan tahu, kakaknya telah melalui banyak hari sulit sejak mereka masih kecil. Menggantikan posisi ibu dalam keluarga di usia yang masih kecil tidaklah mudah. Bryan teringat bagaimana Delana kecil menarik keranjang pakaian kotor untuk dicuci, jemari kecilnya teriris pisau karena ingin menyiapkan makan malam untuknya dan ayahnya. Dan semua bayangan masa lalu bersama kakaknya terlintas di pelupuk mata. Membuatnya tak bisa menahan air mata.
Sebagai laki-laki, Bryan harus kuat dan bisa menjaga kakak perempuannya. Tapi, ia tetap tidak bisa menahan kesedihan ketika melihat kakaknya menangis. Sesulit apa pun hari-hari yang pernah mereka lalui bersama, kakaknya tak pernah mengeluh apalagi melihatnya menangis.
“Udah sampai, Kak.” Bryan memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah. Ia mengusap mata dan pipinya yang basah dengan tangannya sendiri. Ia tak ingin kakaknya tahu air matanya menetes karena melihat air mata kakaknya.
Delana tak bicara apa pun. Ia langsung turun dari motor dan berlari ke arah pintu. Ia membuka kunci pintu rumahnya dan bergegas masuk tanpa menoleh ke arah Bryan sama sekali.
Bryan mengikuti Delana di belakangnya. Delana langsung berlari menaiki anak tangga. Masuk ke dalam kamar dan membanting pintu keras-keras.
Delana menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
“Cowok brengsek!” teriak Delana sambil memukul-mukul bantal yang ada di atas kasurnya.
“Kenapa nggak dari awal kamu ngomong kayak gini? Kenapa kamu ngasih banyak harapan sama aku kalo akhirnya kamu tetep nggak bisa cinta?” seru Delana dalam isak tangisnya.
Delana terus berteriak memaki Chilton sambil terisak. Suaranya terdengar oleh Bryan yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar kakaknya. Akhirnya, ia tahu kalau kakaknya sedang patah hati.
Bryan merogoh ponsel yang ia simpan di saku celananya. Mencari nomor kontak salah satu sahabat kakaknya dan langsung menelepon.
“Ada apa, Bryan? Tumben telepon?” tanya Belvina begitu panggilan telepon Bryan tersambung.
Bryan diam, ia membiarkan suara tangis kakaknya terdengar oleh Belvina.
“Delana kenapa?” tanya Belvina khawatir.
“Kak Belvi ke sini sekarang!” pinta Bryan.
“Oke. Aku langsung ke sana sekarang.” Belvina langsung menutup teleponnya.
Bryan menghela napas. Lebih baik ia memberitahu sahabat kakaknya daripada dia ikut campur urusan percintaan kakaknya sendiri. Ia tidak tahu bagaimana cara menenangkan kakaknya yang sedang patah hati.
Beberapa menit kemudian, Belvina sudah sampai di rumah Delana.
“Delana kenapa?” tanya Belvina begitu Bryan membukakan pintu untuknya.
Bryan mengedikkan bahunya. “Aku rasa dia akan lebih nyaman menceritakan masalahnya sama Kak Belvi.”
Belvina menghela napas. Ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar Delana.
“Del ... Del ...!” panggil Belvina sambil mengetuk pintu kamar Delana yang terkunci.
Delana mendongakkan kepala, menatap ke arah pintu kamar yang diketuk. Suara yang ia dengar tak asing lagi di telinganya.
“Ini Belvi!”
Delana langsung bangkit dan membukakan pintu kamarnya.
“Belvi ...!” serunya sambil memeluk tubuh Belvina. Ia kembali terisak dalam pelukan Belvina.
Belvina mengelus-elus punggung Delana untuk membuatnya merasa lebih tenang. Ia melepas pelukan Delana dan menatap gadis itu. “Cerita sama aku! Kamu kenapa?” tanya Belvina.
Delana melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar dan duduk di atas ranjangnya.
“Chilton, Bel ...!” ucapnya sambil terisak.
“Chilton kenapa? Kecelakaan?” tanya Belvina.
Delana menggelengkan kepala.
“Dia kenapa emangnya?” tanya Belvina.
“Dia nolak aku, Bel,” jawab Delana terisak.
“Nolak? Emangnya kamu udah nembak dia?” tanya Belvina.
Delana menggelengkan kepala.
“Terus? Gimana caranya dia nolak kamu?”
“Dia bilang ... kita cuma bisa temenan aja. Karena kita berdua punya prinsip yang beda dan nggak ada kecocokan,” ucap Delana terputus-putus.
Belvina memeluk tubuh Delana. “Udah, jangan sedih kayak gitu. Masih banyak cowok lain yang lebih ganteng dan lebih baik dari dia.”
“Tapi aku maunya sama dia!” seru Delana.
“Del, kalau kalian jodoh, suatu saat pasti akan bersatu. Tapi, kalau bukan jodoh, nggak bisa dipaksakan karena kamu akan lebih banyak merasakan sakit ketimbang bahagia,” tutur Belvina.
Delana mengusap air matanya. “Aku harus gimana?” tanya Delana.
“Lupain aja dia!” pinta Belvina. “Cowok yang udah bikin kamu nangis, itu nggak pantes ada di sisi kamu. Suatu hari nanti, dia bakal sadar kalo kamu adalah perempuan paling berharga yang udah dia sia-siain.”
“Aku malu, Bel,” tutur Delana lirih.
“Malu sama siapa?” tanya Belvina.
“Malu sama Chilton, malu sama temen-temen kampus karena mereka semua tahu kalo aku ngejar Chilton. Aku bakal dibully habis-habisan di kampus kalo kayak gini,” ucap Delana tak bisa menahan air matanya untuk keluar.
“Udah. Bersikap biasa aja. Seolah-olah nggak terjadi apa-apa. Toh, kalian cuma temen dan emang belum jadian. Chilton masih mau berteman sama kamu, kan? Asal kamu nggak ngomong soal ini ke siapa pun, nggak akan ada yang tahu dan nggak akan ada temen kampus yang ngejek kamu.”
Delana menghela napas. Ia mengusap air matanya. Tapi, tetap saja air mata itu tak bisa berhenti mengalir. Belvina mengusap air mata Delana dan memeluknya kembali.
“Makasih ya, Bel! Kamu selalu ada buat aku kapanpun aku butuh kamu,” tutur Delana lirih.
“Itu gunanya sahabat,” sahut Belvina sambil tersenyum.
Kehadiran Belvina membuat perasaan Delana sedikit tenang. Ia sesekali tersenyum karena Belvina berusaha melempar humor yang membuatnya ingin tertawa dan melupakan masalahnya bersama Chilton malam ini.
“Del, gimana kalo kita nyanyi?” tanya Belvina menatap layar LCD di kamar Delana, tempat biasanya mereka menggila bersama.
“Malam-malam gini, dilemparin batu sama tetangga ntar,” celetuk Delana.
“Hahaha.”
“Kita main apa ya? Ivo belum balik sih,” tutur Belvina.
“Kita tidur aja! Aku ngantuk banget!” ucap Delana yang merasa kelopak matanya begitu berat.
Belvina memerhatikan wajah Delana yang memerah karena menangis terlalu lama. Kelopak matanya juga langsung membengkak dan hal itu membuat Delana tak bisa menahan kantuknya.
“Oke. Mari tidur!” seru Belvina langsung masuk ke dalam selimut.
“Kamu mau tidur di sini?” tanya Delana.
Belvina menganggukkan kepala.
Delana tersenyum, ia menarik selimut dan langsung terlelap.
***
Di tempat lain, Chilton merasa bersalah karena sudah membuat Delana sedih. Ia tahu kalau ucapannya telah melukai hati Delana. Ia tidak mengerti bagaimana cara menghibur Delana agar tidak bersedih. Sebab, dialah penyebab kesedihan Delana.
Chilton melangkahkan kakinya menaiki anak tangga rumahnya. Ia langsung menuju ke arah Balkon rumah. Tempat di mana ia bisa melihat bintang-bintang dan pemandangan kota yang berhias kerlip lampu. Di ujungnya, cahaya air laut berkilauan.
Chilton ingat ketika ia menunjukkan tempat ini pada Delana. Delana sangat senang dengan pemandangan di belakang rumahnya.
Chilton tersenyum mengingat masa-masa indah bersama Delana. Tapi, dialah yang menghancurkan semuanya. Andai Delana tidak mudah menyukai pria lain, mungkin dia akan menjadikan Delana satu-satunya wanita yang ada dalam hatinya.
Ah, tidak! Dia tidak akan menjadikan Delana satu-satunya wanita yang ada di dalam hatinya, sebab Delana sudah ada di dalam hatinya. Tersemat begitu dalam hingga ia tak mampu mengeluarkan dan membuang semua kenangan bersamanya.
“Belum tidur?” sapaan seseorang membuyarkan lamunan Chilton.
“Mama? Belum tidur?” tanya Chilton balik.
“Belum.” Astria menghampiri Chilton dan berdiri di sebelahnya. “Kamu ngapain masih di sini malam-malam begini? Ada yang kamu kangenin?” tanya Astria.
Chilton menoleh ke arah mamanya. Ia merasa mamanya tahu apa yang ia rasakan dalam hatinya. Ia tersenyum kecil ke arah Astria dan kembali menatap langit yang bertaburan bintang-bintang.
“Ma, kalo aku nangisin cewek yang udah sayang sama aku karena kesalahan dia, apa aku salah?” tanya Chilton.
Astria diam, ia mendelik ke arah Chilton. “Siapa cewek itu?” dengus Astria.
Chilton tersenyum kecil. Ia tak menjawab dan malah bergegas pergi, masuk ke dalam kamar, meninggalkan Astria yang kebingungan dengan sikap anaknya itu.
Astria menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya.
***
Keesokan harinya ...
“Del, kamu nggak kuliah?” tanya Belvina saat bangun pagi hari.
Delana menggelengkan kepala. Ia merapatkan kembali selimut ke tubuhnya.
“Hari ini ada ujian, kamu beneran nggak mau kuliah?” tanya Belvina lagi.
Delana masih menggelengkan kepala.
“Kamu takut ketemu dia?” tanya Belvina.
Delana menggelengkan kepala dengan lesu.
Belvina menghela napas. Ia menyerah bertanya atau mengatakan apa saja sebab Delana tidak mau menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku pulang dulu ya!” pamit Belvina.
Delana menganggukkan kepala.
Belvina langsung bergegas keluar dari kamar Delana.
Delana sama sekali tidak ingin mengantarkan Belviba keluar. Ia hanya menatap dinding di depannya.
Kali ini, Delana tidak ingin pergi ke kampus karena perasaannya belum juga membaik. Ia belum siap bertemu dengan Chilton. Sebab ia tahu kalau ia tak bisa lagi bermain dan bercanda dengan cowok itu.
“Chil, kenapa sih kamu tega giniin aku?” tanya Delana berbisik. Ia tak bisa menahan air matanya kembali mengalir dari pelupuk matanya.
“Kak ...!” Suara Bryan membuat Delana mengusap air matanya.
“Ya, Dek.” Delana langsung menoleh ke arah adiknya yang datang sambil membawa nampan.
“Aku buatin susu sama nasi goreng buat kakak.” Bryan meletakkan nampan di atas meja.
“Baik banget! Makasih ya, Dek!” ucap Delana sambil tersenyum.
Bryan menganggukkan kepala. “Kakak habisin ya! Aku nggak mau kakak sakit. Ntar nggak ada yang nyetrikain seragam aku,” tutur Bryan.
Delana memerhatikan Bryan yang sudah memakai seragam sekolah. “Nggak disetrika beneran?” dengus Delana melihat baju seragam Bryan yang masih kusut.
Bryan meringis.
“Sini, Kakak setrikain dulu!” pinta Delana.
“Nggak usah, Kak! Biar bajunya kusut juga aku tetep ganteng, kok.” Bryan menepuk dadanya penuh percaya diri.
Delana tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu. Ia tak menyangka kalau adiknya kini sudah menjadi anak remaja. Bukan Bryan kecil yang dulu lagi.
“Nanti nggak ada yang naksir kalo nggak rapi,” sahut Delana sambil tersenyum.
“Halah, nggak papa. Aku kan mau sekolah, bukan mau cari pacar,” tutur Bryan.
Delana tersenyum bangga sambil mengusap kepala Bryan.
“Kakak istirahat ya!” perintah Bryan. “Aku berangkat sekolah dulu!” pamitnya.
Delana menganggukkan kepala.
“Oh, ya ... di bawah sudah ada bibi yang bersih-bersih rumah. Kalo Kakak butuh sesuatu, ngomong aja sama dia ya!”
Delana tersenyum kecil. Ia merasa Bryan sedang bertingkah seperti dirinya. Atau memang dengan sengaja menirukan kakaknya?
Bryan meringis. Ia langsung bergegas pergi dari kamar kakaknya.
Delana menatap nasi goreng yang terhidang di meja kamarnya. Ia teringat pada hari pertama ia membuatkan nasi goreng berbentuk sepatu untuk Chilton. Hari di mana Chilton memberikan harapan pertamanya.
Air mata Delana kembali menetes mengingat masa itu. Andai hari itu Chilton menolak pemberiannya, mungkin dia akan menyerah saat itu juga dan tidak akan berada begitu dekat dengan Chilton. Setelah harapan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya ... Chilton memilih untuk mengakhiri cerita mereka tanpa hubungan apa pun. Hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu.
Delana membalikkan tubuhnya. Ia tidak ingin menatap nasi goreng buatan Bryan, sebab nasi goreng itu terus mengingatkannya pada wajah Chilton. Cowok yang telah melukainya begitu dalam. Cowok yang telah mengajaknya terbang tinggi, kemudian menjatuhkannya begitu saja. Ia merasa dunianya begitu hancur berkeping-keping seperti kisah cinta mereka.
.png)
0 komentar:
Post a Comment