“Ivo ...!” teriak Delana saat membuka pintu rumahnya. Ia terkejut karena tiba-tiba Ivona sudah berdiri di depan pintu rumah saat ia ingin berangkat ke kampus.
Ivona tersenyum dan langsung memeluk Delana.
Delana membalas pelukan Ivona dengan erat. “Kangen banget!” serunya.
“Sama. Aku juga kangen banget sama kalian,” balas Ivona.
Delana melepaskan pelukannya dan menatap Ivona. “Vo, kamu sampai di Balikpapan jam berapa?” tanya Delana.
“Tadi malam, jam sembilan,” jawab Ivona.
“Jadi, kamu bangun tidur langsung ke sini?” tanya Delana.
“Ya nggak, lah. Aku masih mandi, masih dandan dulu.”
“Hehehe. Maksudnya, kamu belum ke rumah sodara-sodara kamu, tapi langsung ke rumah aku.”
“Mereka mah gampang. Nggak bakal pergi ke mana-mana. Paling mereka yang ke rumah. Aku nggak perlu repot-repot ke rumah mereka.”
“Hmm ... iya juga, sih. Eh, masuk dulu yuk!” ajak Delana. Ia menarik lengan Ivona untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Bukannya kamu mau berangkat kuliah?” tanya Ivona.
“Ah, gampang!” Delana melemparkan tasnya ke atas sofa.
“Ckckck.” Ivona menggelengkan kepala.
“Kamu sendiri nggak kuliah kan?”
Ivona meringis. Seharusnya ia sudah mulai masuk kuliah hari ini. Tapi, ia memilih tidak masuk dengan alasan masih lelah setelah menempuh perjalanan panjang.
“Aku telepon Belvi dulu, biar dia ke sini juga,” tutur Delana. Ia merogoh ponsel yang ia simpan di saku kemejanya.
“Kalo dia belum masuk kelas. Biasanya dia datang paling pagi,” sahut Ivona. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.
“Suruh ngabur aja,” ucap Delana sambil tersenyum licik.
“Ini mah namanya bolos berjamaah,” tutur Ivona sambil tertawa kecil.
Delana tertawa menanggapi ucapan Ivona. Ia langsung menelepon Belvina dan memintanya untuk datang ke rumah secepatnya.
“Mau dianya?” tanya Ivona. “Dianya mau?” tanyanya lagi sambil komat-kamit. Kebiasaan masyarakat kota Balikpapan memang sering menggunakan bahasa terbalik. Mungkin itu juga salah satu yang mendasari nama Balikpapan. Ah, analisis di kepala Ivona memang suka semaunya sendiri.
“Kenapa sih kamu?” tanya Delana heran.
“Nggak. Kemarin kan aku ketemu sama temenku di Jakarta. Dia sering heran sama bahasa kita. Kalo nanya sesuatu nggak pernah ketinggalan imbuhan kata ‘kah’. Belum lagi kalo ngomong ditambah-tambahin kata ‘gin’, ‘pang’, ‘ai’ dan bahasa kita yang sering terbalik. Kamu sadar nggak sih?” tanya Ivona.
“Hmm ...” Delana memutar bola matanya sebagai tanda berpikir. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepala. “Emang iya, sih. Terus kenapa? Ada masalah sama temen kamu itu?” tanya Delana.
“Nggak ada masalah. Mereka cuma heran aja. Katanya, aku tuh kalo ngomong atau nanya suka kebalik-balik.”
“Kebalik-balik gimana sih, Vo?” tanya Delana masih terus berusaha mencerna ucapan Ivona.
“Astaga! Kamu masih nggak mudeng!?” seru Ivona.
Delana meringis menatap Ivona.
“Iih ... males banget jelasinnya! Pikir aja sendiri! PR!” dengus Ivona.
“Bidolnya pang anak ini, bikin dongkol!” seru Delana.
Ivona tergelak.
Beberapa menit kemudian, Belvina sudah muncul di depan rumah Delana. Ia langsung menghambur ke pelukan Ivona begitu melihat cewek cantik itu muncul dari balik pintu.
“Iih, kamu nih liburannya lama banget sih!?” gerutu Belvina sambil melangkahkan kakinya masuk ke rumah bersama dua sahabat yang menyambutnya penuh gembira.
“Lama dari mana? Cuma bentaran doang. Rasanya masih belum puas liburannya.”
“Astaga ... Ivo!” seru Belvina. “Dua bulan masih belum puas?”
“Eh, dua bulan itu aku di Jakarta dodol! Di Singapura kan cuma seminggu doang,” sahut Ivona.
Belvina meringis. “Mana oleh-oleh buat aku?” tanya Belvina.
“Tenang. Aku udah siapin oleh-oleh buat kalian.”
“Mana?” tanya Delana yang tidak melihat Ivona membawa apa pun saat masuk ke dalam rumah.
“Masih di mobil. Bentar ya! Wait!” pinta Ivona. Ia bergegas keluar dari rumah Delana.
Ivona kembali masuk ke dalam rumah Delana dengan menenteng empat buah paper bag berukuran besar.
“Wuih ... apa tuh?” tanya Belvina begitu melihat Ivona membawa masuk dengan menenteng empat paper bag besar.
“Ini buat kalian.” Ivona menyerahkan paper bag pada Delana dan Belvina. Mereka masing-masing mendapat dua bagian paper bag.
Delana dan Belvina dengan senang hati menerima dan langsung membuka isi paper bag tersebut.
“Aargh ... ini tas idaman banget!” seru Belvina. “Ini serius buat aku?” tanyanya masih kurang yakin karena harga tas yang ia pegang nilainya tidak sedikit.
“Bercanda!” dengus Ivona. “Ya seriuslah!” lanjutnya.
Delana tertawa kecil melihat kedua temannya yang sedang beradu pembicaraan. Ia melihat tas dan high heels yang dibelikan oleh Ivona.
Delana langsung mencoba high heels pemberian dari Ivona. “Vo, kamu kok tahu ukuran kakiku?” tanya Delana heran. Rasanya, ia tidak pernah memberitahukan ukuran kakinya. Ivona juga tak pernmah bertanya berapa ukuran kakinya. Bagaimana sahabatnya itu bisa mengingat ukuran sepatunya?
“Kalo cuma ukuran sepatu kalian aja mah aku udah hafal mati,” sahut Ivona.
“Seriusan?” tanya Belvina.
Ivona mengangguk-anggukkan kepala.
“Eh, ntar sore ikut aku yuk!” ajak Ivona.
“Ke mana?” tanya Belvina.
Ivona mengedipkan mata ke arah Belvina dan langsung melirik Delana.
Belvina langsung mengerti maksud dari Ivona. “Oh ... aku udah ada janji sama temen. Nggak bisa kalo sore ini,” tutur Belvina sambil melirik Delana.
“Kamu gimana, Del?” tanya Ivona menatap Delana.
“Eh!?” Delana mendongakkan kepala. Ia sibuk membungkus kembali tas dan sepatu pemberian Ivona.
“Nggak dengerin dari tadi kita ngomong?” tanya Belvina.
“Dengerin.”
“Apa yok?” tanya Ivona.
“Ngajak jalan kan?” tanya Delana.
Ivona menganggukkan kepalanya. “Gimana? Bisa?” tanya Ivona.
“Ke mana?” tanya Delana.
“Kita cari cowok ganteng!” seru Ivona.
“Apaan sih!?” sahut Delana.
“Buat ganti si Chilton.”
Delana terdiam. Ia masih merasakan luka di hatinya setiap kali nama cowok itu disebut. Entah kenapa, ia tidak bersemangat untuk membahas apa pun tentang Chilton.
“Udah, jangan murung gitu! You’re beautiful. Di luar sana ada banyak cowok cakep yang bakal nerima kamu apa adanya.” Ivona menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Delana. “Kamu harus bisa buktikan sama dia kalo kamu itu lebih berharga dari yang dia kira. Bikin dia nyesel karena udah nyia-nyiain kamu!” pinta Ivona.
Delana menatap Ivona. Ia mencoba mencerna ucapan Ivona dan ia membenarkan dalam hatinya. Daripada ia sibuk memikirkan Chilton yang membuatnya sakit hati. Lebih baik ia mengikuti ucapan Ivona, membuktikan pada Chilton kalau dia adalah perempuan yang tidak akan pernah bisa dilupakan seumur hidupnya.
“Iya, Del. Mending jalan-jalan sama Ivo. Ivo kan punya stock cowok ganteng lumayan banyak,” sahut Delana.
Delana tersenyum. “Iya. Aku coba, deh.”
“Nah, gitu dong!” seru Belvina dan Ivona bersamaan. Mereka langsung memeluk tubuh Delana.
“Eh, kalian udah sarapan?” tanya Delana.
Ivona dan Belvina saling pandang, kemudian tersenyum. “Masak apa?” tanya mereka berbarengan. Mereka memang sangat suka masakan Delana.
“Aku masak sayur tewel sama goreng ikan asin ditepungin,” jawab Delana.
“Aargh ... ikan asin? Kesukaanku!” seru Ivona langsung bangkit dan berlari ke arah dapur.
Delana menggeleng-gelengkan kepala. “Cantik-cantik doyannya ikan asin,” celetuknya.
Belvina tertawa kecil. Ia langsung mengikuti langkah Ivona yang sudah duduk di meja dapur.
“Bagiin aku!” pinta Belvina sambil menarik toples berisi ikan asin yang sudah digoreng tepung.
“Jangan dihabisin!” seru Ivona. Ia sudah menggigit satu potong ikan asin sambil mengambil nasi dan sayur tewel yang sudah tersedia di atas meja.
“Bryan udah makan?” tanya Belvina pada Delana.
“Udah. Habisin aja!” Delana ikut duduk di meja makan. Ia tersenyum melihat kedua sahabatnya itu melahap masakannya.
“Del, kenapa sih kamu kalo masak selalu enak banget?” tanya Ivona. “Aku kemarin belajar masak nasi goreng aja rasanya pahit,” tuturnya dengan mulut penuh makanan.
“Pahit? Kamu masaknya pake obat?” tanya Delana sambil tertawa kecil.
“Nggak tahu juga. Rasanya nggak enak banget! Nggak sanggup aku makan.”
Delana dan Belvina tergelak mendengar ucapan Ivona.
“Kamu nggak usah ikut-ikutan ketawa!” Ivona menyikut Belvina. “Kamu juga kan nggak bisa masak!” dengusnya.
“Emang. Tapi, kalo masak nasi goreng aja mah masih bisa. Walau nggak seenak nasi goreng buatan Delana.”
“Ah, bener banget! Nasi goreng bikinan Delana emang enak banget. Ntar kalo udah lulus kuliah, kamu jualan nasi goreng aja!” tutur Ivona ngasal.
Delana hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Ivona. Ia tahu kalau Ivona hanya bercanda.
“Iya. Terus nama warungnya nasi goreng cinta!” seru Belvina.
“Biar yang makan pada jatuh cinta,” sahut Ivona sambil tertawa.
“Eh, jangan! Gawat mah kalo semuanya pada jatuh cinta. Cukup satu aja yang jatuh cinta,” tutur Belvina sambil tertawa.
“Hahaha.” Ivona tergelak.
“Nggak usah bahas dia lagi!” dengus Delana.
“Dia siapa?” tanya Ivona.
“Dikira aku nggak tahu kalo kalian lagi nyindir!?” dengus Delana.
Belvina dan Ivona tertawa bersamaan. Mereka senang sekali menggoda Delana. Bukan untuk membuat Delana bersedih, tapi hanya untuk bercanda dan menghibur Delana.
Delana hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Hari-harinya tak pernah sepi jika bersama mereka. Sahabat yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka.
***
Ivona mengajak Delana berjalan-jalan ke taman kota. Di sana, banyak cowok-cowok ganteng yang mengenal Ivona. Tapi, Delana sama sekali tidak tertarik. Baginya, cowok-cowok itu hanyalah pohon-pohon dan bukan Chilton.
“Hai ...!” sapa Ivona pada beberapa cowok yang sedang berkerumun.
“Hai ... Vo! Apa kabar?” sapa salah satu cowok yang ada di sana. “Baru balik dari Singapura kayaknya nih.”
Ivona hanya tersenyum. Ia melirik Delana yang ada di sampingnya karena beberapa cowok yang ada di sana menatap Delana.
“Oh ya, ini teman aku, namanya Delana.” Ivona memperkenalkan Delana pada teman-temannya.
Delana hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepala. Teman-teman Ivona menyalami Delana satu persatu. Mereka menyebutkan namanya tapi tak satu pun nama yang diingat oleh Delana. Sebab, di dalam pikiran Delana hanya ada Chilton. Ia sama sekali tak bisa mengganti posisi Chilton dari hati dan pikirannya.
Setelah berbincang beberapa menit, Delana mengajak Ivona untuk pergi dari tempat tersebut.
“Balik yuk!” bisik Delana di telinga Ivona.
“Kenapa? Masih sore gini,” sahut Ivona.
Delana merengut. Ia sama sekali tidak nyaman berada di antara cowok-cowok ganteng yang diperkenalkan oleh Ivona.
“Iya, deh.” Ivona akhirnya menyerah dan berpamitan untuk pulang kepada teman-temannya.
Setelah masuk di dalam mobil, Ivona langsung menelepon salah satu seniornya.
“Kamu di mana?” tanya Ivona begitu panggilan teleponnya tersambung.
“...”
“Oke. Aku ke sana sekarang.” Ivona langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Siapa?” tanya Delana yang duduk di samping Ivona.
“Cowok ganteng,” jawab Ivona berbisik. Ia menyalakan mobilnya dan keluar dari parkiran perlahan-lahan. “Aku kenalin kamu sama dia. Anaknya asyik dan kamu pasti bakalan suka sama dia.”
Delana mengerutkan hidungnya. Ia sendiri tidak yakin akan suka dengan cowok lain. Bagaimana Ivona sangat yakin?
Ivona melajukan mobilnya dan memasuki area parkir Plaza Balikpapan.
“Ngapain kita ke sini? Mau shopping?” tanya Delana.
“Udah, ikut aja!” sahut Ivona.
Delana menghela napas. Ia tak berdaya menolak keinginan Ivona. Mereka langsung masuk ke dalam gedung mall dan mendapati keriuhan sebuah acara. Ternyata, di sana sedang ada acara meet and greet dengan salah satu artis terkenal. Ia tidak bisa melihat dengan jelas artis yang ada di sana karena dikerumuni oleh para penggemarnya.
Ivona mengajak Delana untuk masuk ke salah satu kafe sambil menunggu seniornya datang.
“Rame banget di sana. Meet and greet sama siapa sih, Vo?” tanya Delana sambil menatap kerumunan orang dari balik kaca kafe.
Ivona mengedikkan bahunya. “Kamu mau minum apa?” tanya Ivona.
“Mocktail,” jawab Delana singkat tanpa menatap ke arah Ivona.
“Oke, deh.” Ivona langsung memesankan minuman untuk Delana dan untuknya.
Beberapa menit kemudian, kerumunan para penggemar artis itu mulai pergi satu persatu.
Ivona tersenyum sambil memainkan ponselnya.
“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Delana heran.
“Nggak papa. Temenku sebentar lagi ke sini.”
Delana hanya tersenyum. Ia tidak terlalu semangat berkenalan dengan teman-teman Ivona. Walau ia sendiri menyadari kalau banyak cowok yang lebih tampan dari Chilton. Tapi yang ia inginkan saat ini hanyalah Chilton, bukannya cowok lain.
“Hai ...!” sapa seorang cowok yang menghampiri meja mereka.
“Hai ..!” balas Ivona. Cowok itu merangkul pinggang Ivona sambil cium pipi kanan cium pipi kiri.
Delana melongo melihat adegan itu. Ia tidak bisa berkedip melihat cowok tampan yang menyapa Ivona.
“Oh ya, ini teman aku. Namanya Delana.” Ivona memperkenalkan Delana pada cowok itu.
Cowok itu tersenyum menatap Delana yang masih melongo ke arahnya. “Hai, Del! Apa kabar?”
Ivona menyentuh pundak Delana dan membuatnya tersadar.
“Eh!? Baik. Kamu apa kabar?” tanya Delana gugup.
“Baik.” Cowok itu tersenyum ke arah Delana.
Delana membalas senyuman cowok yang sudah tak asing lagi di matanya.
“Aku boleh gabung kan?” tanya cowok itu.
“Boleh banget,” jawab Ivona.
“Kabar Chilton gimana?” tanya cowok itu sambil menatap Delana.
“Uhuk ... uhuk ...!” Delana yang sedang menyeruput minuman di tangannya langsung tersedak begitu mendengar nama Chilton di sebut.
Ivona mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan dari temannya itu. “Kamu udah kenal sama Delana?” tanya Ivona.
“Sudah. Waktu itu kita berenang bareng.”
“Oh, jadi temen Chilton yang kamu ceritain itu si Zoya?” tanya Ivona pada Delana.
Delana menganggukkan kepala sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu.
“Emangnya dia cerita apaan?” tanya Zoya pada Ivona.
“Dia cerita kalo ada berenang bareng Chilton dan temennya.”
Zoya tertawa kecil menanggapi ucapan Ivona.
“Udah kelar meet and greet -nya?” tanya Ivona.
“Udah.”
“Seru ya dikerubungin banyak fans?”
“Ah, nggak juga. Lihat!” Zoya menunjukkan luka bekas cakaran yang tergambar di lengan kanannya.
“Hah!? Kenapa itu?” tanya Delana.
“Ditarik-tarik sama fans. Sampe kecakar kayak gini,” jawab Zoya.
“Yang tadi rame dikerubungin itu kamu?” tanya Delana.
Zoya menganggukkan kepala.
“Makanya, jadi cowok tuh jangan kelewat ganteng!” celetuk Ivona.
“Halah ... kayak kamu enggak-enggaknya aja! Aku teriak kalo ada Ivona Kanaya di sini, bakal dikerubungin sama orang!” ancam Zoya.
“Jangan lah!” pinta Ivona. Beberapa orang yang menyadari kehadiran Ivona, memang sering meminta untuk foto bersama. Tapi, tak sedikit juga yang tidak menyadari kehadirannya.
Zoya terkekeh.
“Zoy, sini!” Ivona menarik bahu Zoya dan membisikkan sesuatu ke telinga Zoya.
Zoya mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
“Kalian bisik-bisik ngomongin aku ya?” dengus Delana.
“Idih, kepedean amat!?” seru Ivona. “Kita lagi ngomongin bisnis,” lanjutnya.
Zoya hanya tersenyum ke arah Delana yang menatap tajam ke arahnya dan Ivona.
“Kalian udah makan?” tanya Zoya.
Ivona menggelengkan kepala. “Aku lagi diet,” jawabnya.
Zoya mengernyitkan dahi melihat tubuh Ivona yang sudah terlihat sangat langsing. “Diet?”
Ivona meringis.
“Kamu?” tanya Zoya pada Delana.
“Sama.”
Zoya menghela napasnya. “Kenapa perempuan senang sekali diet? Padahal, lapar itu menyiksa,” celetuknya.
“Kamu nggak pernah diet?” tanya Ivona.
Zoya menggelengkan kepala. “Rajin olahraga. Jadi, nggak perlu diet sampe nggak makan. Lagian, ini kan masih sore. Nggak bakalan bikin gemuk kalo makan jam segini.”
“Kamu laper?” tanya Ivona yang menyadari kalau Zoya sedang berusaha mengajak mereka makan.
“Iya,” jawab Zoya sambil mengelus perutnya.
“Di sini ada dessert food,” tutur Ivona.
“Ah, males. Aku lagi pengen makan kepiting Dandito,” sahut Zoya. “Temenin yuk!” ajaknya.
“Hah!? Mau juga,” tutur Delana.
“Katanya lagi diet?” dengus Zoya sambil tertawa kecil.
“Dia mah nggak bakal diet kalo udah ketemu sama kepiting,” celetuk Ivona.
“Hati-hati kolesterol!” celetuk Zoya.
“Jarang-jarang juga makan kepiting,” tutur Delana.
“Ya udah, yuk!” ajak Zoya.
“Ke mana?” tanya Ivona.
“Ke Dandito, lah.”
“Ish, jauh banget, Zoy.”
“Deket. Cuma sepuluh menit dari sini.”
“Mau jalan kaki kali dia,” sahut Delana.
“Yee ... kamu yang tinggal jalan kaki. Yang bawa mobil kan aku.” Ivona menjulurkan lidahnya.
Delana nyengir ke arah Ivona.
“Udah, nggak usah ribut! Kalian naik mobil aku aja sekalian!” pinta Zoya.
“Aku bawa mobil sendiri.”
“Tinggal aja dulu di sini. Ntar diambil.”
“Ah, nggak deh. Ribet!” Ivona bangkit. Ia merogoh dompet dari dalam tasnya.
“Biar aku yang bayar.” Zoya menahan tangan Ivona agar tak mengeluarkan uang walau hanya satu perak saja.
“Eh!?” Ivona melongo. Ia hanya akan membayar dua gelas minuman yang ia pesan. Untuk apa Zoya membayar sementara dia tidak minum apa pun.
Zoya mengedipkan mata ke arah Ivona. Ia langsung bergegas berjalan menuju kasir untuk membayar pesanan Ivona dan Delana.
“Kalian udah lama temenan?” tanya Zoya sambil menyusuri koridor mall, keluar ke parkiran mobil.
“Lumayan,” jawab Ivona.
“Aku sama Chilton juga udah temenan dari SMA.”
“Sama!” seru Delana. “Aku sama Ivona juga temenan dari SMA.”
“Oh ya? Berarti udah tahu banget satu sama lain ya?”
Delana dan Ivona menganggukkan kepala.
Sesampainya di parkiran.
“Kamu ikut Zoya aja ya!” pinta Ivona. Ia membuka pintu depan mobil Zoya dan langsung mendorong Delana masuk ke dalam mobil.
Delana mencebik ke arah Ivona yang hanya tertawa kecil ke arahnya.
Zoya tersenyum melihat wanita cantik yang sudah ada di dalam mobilnya. Ia langsung melajukan mobilnya menuju jalan Marsma R. Iswahyudi.
“Kamu mau makan apa?” tanya Zoya pada Delana setelah mereka sampai di restoran Dandito.
“Menu andalan, dong. Kepiting Saus Dandito!” seru Delana.
Zoya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. “Minumnya apa?” tanyanya lagi.
“Es jeruk aja,” jawab Delana.
“Kamu pesen apa, Vo? Sama aja kah?” tanya Zoya.
Ivona menggelengkan kepala. “Aku nggak suka makanan pedas.” Ivona melihat menu yang tertera. “Aku pesen udang goreng kering sama jus buah naga aja.”
“Catet ya, Mbak!” perintah Zoya pada pelayan restaurant. “Kepiting saus Dandito dua porsi, udang goreng kering 1 porsi. Minumnya jus mangga satu sama es jeruk dua.”
“Kok, jus mangga? Jus buah naga!” protes Ivona.
“Oh, iya.” Zoya menahan tawa karena salah mengingat menu pesanan Ivona. “Jus buah naga ya, Mbak!” pinta Zoya.
“Baik, Mas. Ada lagi?” tanya pelayan tersebut.
“Udah, itu aja!”
Pelayan tersebut langsung bergegas pergi ke dapur untuk memproses pesanan pelanggannya.
“Kamu sering makan di sini?” tanya Delana pada Zoya.
“Lumayan. Kalo ada temen dari luar Balikpapan dateng, pasti aku ajak makan di sini. Kamu sering ke sini juga?” tanya Zoya.
“Nggak sering. Aku jarang makan di luar.”
“Oh.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala.
“Kamu nggak nanyain aku?” tanya Ivona.
“Ah, tahu aja kalo kamu mah. Nggak doyan makan kepiting.”
“Doyan dikit. Kalo yang udah dilepasin dari cangkangnya. Kayak yang kamu masak hari itu, Del.” Ivona menoleh ke arah Delana.
“Bisa pesen kayak gitu.”
“Nggak, ah. Enak makan udang goreng aja.”
“Kamu bisa masak?” tanya Zoya sambil menatap Delana.
“Weits ... jangan salah! Kelihatannya aja dia nggak bisa masak. Aslinya mah dia pinter banget kalo masak. Masakannya dia itu te ope begete!” seru Ivona sambil mengacungkan dua jempolnya.
“Oh ... iya, iya. Chilton pernah cerita kalo masakan kamu tuh enak banget. Jadi pengen nyobain juga masakan kamu kayak apa.”
“Ah, nggak juga. Biasa aja. Masih enak masakan di restoran lah,” sahut Delana.
“Merendah ...” celetuk Ivona.
“Nggak papa, sih. Daripada ngakunya pinter masak tapi aslinya beli di warung. Itu kan hoax,” sahut Zoya.
“Hahaha.” Ivona tertawa mendengar ucapan Zoya. “Pengalaman pribadi ya?” dengusnya.
Zoya tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, makanan pesanan mereka sudah terhidang di atas meja. Mereka langsung menikmati makan sore bersama.
“Aku tuh niatnya pengen ngenalin kalian berdua, ternyata malah udah kenal duluan,” tutur Ivona.
“Tumben kamu mau ngenalin aku sama orang lain,” celetuk Zoya.
Belum sempat Ivona menyahut ucapan Zoya, tiba-tiba ponsel Zoya berdering.
“Halo ...!” Zoya langsung mengangkat panggilan teleponnya.
“...”
“Oke. Saya ke sana sekarang.” Zoya langsung mematikan teleponnya. Ia menyeruput es jeruk yang tersisa setengah gelas sampai habis.
“Aku balik duluan ya!” pamit Zoya. Ia segera membersihkan tangannya dan membayar semua makanan pesanan mereka sebelum akhirnya Zoya meninggalkan Delana dan Ivona yang masih belum menghabiskan makanannya.
Delana dan Ivona menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Zoya buru-buru pergi.
“Orang sibuk emang kayak gitu ya?” gumam Delana.
Ivona mengiyakan ucapan Delana sambil menganggukkan kepala.
((Bersambung...))
.png)
0 komentar:
Post a Comment