Wednesday, September 24, 2025

THEN LOVE BAB 26 : Cerita Masa SMA

 


“Hai, Bungas!” sapa Aravin saat Delana duduk di kursi taman sekolah.

“Hai ...!” sapa Delana balik dan langsung mempersilakan Aravin untuk duduk di sampingnya.

“Kamu mau lanjut kuliah ke mana?” tanya Aravin.

Delana mengedikkan bahunya. “Nggak tahu. Belum kepikiran,” jawab Delana.

“Ke Jakarta sama aku, gimana?” tanya Aravin.

Delana menatap Aravin. “Serius?’ tanyanya dengan mata berbinar.

Aravin menganggukkan kepala.

Delana menghela napas lesu. “Otakku pas-pasan. Mana bisa ikut satu universitas sama kamu,” gumam Delana.

“Bisa.”

“Caranya?” Delana mengangkat kedua alisnya.

“Aku kasih kamu les tambahan tiap pulang sekolah. Gimana?” tanya Aravin.

“Mmh ...” Delana memutar bola matanya. “Bayarannya mahal ya?”

“Nggak usah bayar,” sahut Aravin.

“Serius?” tanya Delana menatap Aravin dengan ekspresi menahan kebahagiaan. Rasanya, ia ingin memeluk cowok yang ada di depannya itu.

“Eh, tapi ...”

“Kok, ada tapinya?” tanya Delana merengut.

“Aku pengen makan kue buatan kamu pas aku lagi ngasih les tambahan. Jadi, kamu harus siapin cemilan buat aku setiap hari!” pinta Aravin.

“Mmh ...” Delana mengetuk-ngetuk dagunya.

“Katanya lagi belajar masak? Kalo kamu masak menu baru setiap hari, pasti deh kamu bakal jago masak,” tutur Aravin.

“Iya juga ya?” tanya Delana.

“Gimana? Deal?” tanya Aravin sambil mengulurkan tangannya.

“Oke. Siapa takut!?” Delana tersenyum sambil membalas uluran tangan Aravin.

Sejak hari itu, Aravin selalu menyempatkan waktu memberikan pelajaran tambahan untuk Delana sepulang sekolah.

Aravin sangat berharap kalau Delana bisa menghabiskan waktu bersamanya di Ibukota. Ia bersemangat memberikan kursus tambahan untuk Delana.

Delana pun demikian, demi bisa melanjutkan kuliahnya ke Ibukota bersama Aravin. Ia belajar giat siang dan malam. Alhasil, nilai ujian kenaikan kelas selalu bagus dan lebih tinggi dari target yang diinginkan Delana.

“Vin, makasih ya! Berkat kamu, nilai-nilai ujian kenaikan kelasku terus membaik. Nggak tahu deh gimana kalo nggak ada kamu,” tutur Delana saat mereka baru saja menerima rapor kenaikan kelas ke kelas dua belas.

Aravin tersenyum. “Semuanya karena kamu juga giat buat belajarnya.”

“Tapi, kalo nggak ada kamu. Aku nggak mungkin mau belajar. Kamu tahu sendiri kalo aku males belajar apalagi cuma sendirian di kamar. Rasanya sepi banget.”

Aravin tersenyum sambil mengacak ujung kepala Delana.

“Sore ini ada waktu?” tanya Aravin.

“Mmh ... kalo kamu nggak kasih les tambahan, sepertinya ada waktu,” jawab Delana sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.

“Kayaknya emang harus libur supaya kita ada waktu buat ngerayain perkembangan belajar kamu,” tutur Aravin.

“Hah!? Maksudnya? Bikin pesta gitu?” tanya Delana.

“Nggak semua perayaan harus dengan pesta. Kita bisa ngerayain berdua aja. Di pantai,” tutur Aravin.

Delana mengerutkan kening, ia terlihat berpikir. Merayakan sebuah perayaan kecil bersama sepertinya bukan ide yang buruk.

“Gimana?” tanya Aravin.

“Boleh. Pantai mana?” tanya Delana.

“Kamu lebih suka mana? Kemala atau Monpera?” tanya Aravin.

“Dua-duanya aku suka,” jawab Delana.

“Ya udah, kita ke dua tempat sekaligus. Gimana?” tanya Aravin.

“Idih, satu aja lah.”

“Dua-duanya juga nggak papa. Deketan aja pantainya.”

“Hmm ... iya, sih. Tapi, kalo ke sana sore-sore, pasti pulangnya malam. Gimana kalo kita ke Pantai Monpera aja? Kayaknya suasana di sana kalo sore lebih asyik.”

“Oke, deh. Kalo gitu, aku jemput kamu ke rumah jam empat sore ya!” tutur Aravin.

Delana menganggukkan kepala.

 

***

“Bel, si Aravin ngajak aku jalan ke pantai,” tutur Delana pada dua sahabatnya yang kebetulan sedang berada di kamar Delana sepulang sekolah.

“Hah!? Serius?” tanya Ivona.

“Terus?” tanya Belvina menatap Delana.

“Mmh ... ya, nanti jam empat sore dia jemput aku.”

“Kalian itu belum pacaran kan?” tanya Ivona menyelidik.

Delana menggelengkan kepala.

“Tapi, deket banget. Udah kayak orang pacaran aja,” sahut Belvina.

“Kenapa nggak pacaran aja sekalian?” tanya Ivona.

“Masa aku yang mau nembak dia duluan? Gengsi dong!” sahut Delana.

“Iya, juga sih. Jadi, kamu nunggu ditembak sama Aravin?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Kalo seandainya dia nggak akan pernah nembak kamu gimana?” tanya Belvina.

Delana merengut. Ia langsung menimpuk Belvina menggunakan guling yang ia pegang.

“Kok, marah sih? Bisa aja kan dia suka sama kamu tapi nggak punya keberanian buat ngungkapin perasaannya sendiri,” tutur Belvina.

“Eh, dia belum pernah ngungkapin perasaannya ke kamu, Del?” tanya Ivona.

Delana menggelengkan kepala.

“Aneh. Kalian udah deket banget dari SMP. Udah kayak orang pacaran. Ke mana-mana berdua. Udah kayak truck gandeng, tapi nggak ada status yang jelas,” gumam Ivona.

“Aku yakin kalo Aravin suka sama aku,” sahut Delana.

“Itu sih, kita juga tahu. Kalo nggak suka, ngapain dia bantuin kamu berjuang buat dapet nilai bagus? Tujuannya sudah jelas. Dia pengen kamu bisa lanjut kuliah bareng dia kan?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala.

“Kenapa dia nggak nembak kamu sampe sekarang? Kita udah kelas tiga. Dan kalian udah ngejalani banyak hal bareng selama dua tahun belakangan ini. Apa nggak ada keinginan buat pacaran?” Ivona menatap serius ke arah Delana.

“Dia nganggep aku sahabat, gitu juga sebaliknya.”

“Bulshit lah! Mana ada sahabat kayak gitu. Nggak ada kata persahabatan antara dua orang laki-laki dan perempuan. Yang ada saling peduli karena kalian cinta,” tutur Belvina.

Delana bergeming. Ia tak tahu apa lagi yang harus ia sampaikan pada dua temannya itu. Selama ini, Delana dan Chilton nyaman menjadi teman baik. Walau tidak bisa dipungkiri kalau pada akhirnya Delana jatuh cinta pada pria istimewa yang sudah mengisi hari-hari remajanya.

 

***

Tepat jam empat sore, Aravin sudah menjemput Delana dan  mengajaknya pergi ke Monpera. Monpera adalah akronim dari Monumen Perjuangan Rakyat. Terletak di tepi pantai, Monpera menjadi salah satu tempat nongkrong favorite anak-anak muda Balikpapan.

“Mau gado-gado?” tanya Aravin saat melihat penjual gado-gado yang berjualan di tepi taman.

Delana tak langsung menjawab, ia terlihat berpikir.

“Aku traktir. Gado-gado di sini rasanya enak banget.” Aravin langsung menarik lengan Delana. Ia mengajak Delana menikmati gado-gado ditemani semilir angin laut yang menyapa tubuh mereka setiap detik.

“Bung, aku optimis banget kalo kamu bisa masuk Universitas Indonesia,” tutur Aravin.

Delana tersenyum menatap Aravin. “Oh ya? Kamu yakin banget.”

“Iya. Aku lihat perkembangan nilai kamu bagus banget. Jadi, kita bisa satu kampus kalo udah kuliah nanti,” tutur Aravin penuh semangat.

Delana mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menatap langit biru yang mulai berubah jingga.

“Kita ke sana yuk!” ajak Aravin sambil menunjuk jembatan panjang yang menjorok ke laut.

“Ngapain?” tanya Delana.

“Nikmatin sunset.” Aravin bangkit, ia mengulurkan tangannya ke arah Delana.

Delana menyambut uluran tangan Aravin dan mengikuti langkah Aravin menuju jalan panjang yang sengaja dibangun menjorok ke lautan. Di sana, mereka bisa merasakan angin kencang menerpa tubuh mereka.

Aravin duduk di ujung jembatan, menyusul Delana di sampingnya.

“Nggak terasa kita udah berteman lama banget,” tutur Delana.

Aravin mengangkat kedua alisnya. “Kamu baru sadar?’ tanyanya sambil menahan tawa.

Delana mengangguk kecil. “Mungkin aku terlambat menyadari itu.”

Aravin menoleh ke arah Delana yang duduk di sampingnya. Delana tetap serius menatap langit dan lautan yang terbentak luas di hadapannya.

“Aku harap kita bisa kayak gini terus. Jadi teman baik,” tutur Aravin.

DEG!

Tiba-tiba jantung Delana serasa ingin berhenti mendengar kata ‘teman baik’ yang keluar dari mulut Aravin. Sejauh ini Aravin hanya menganggapnya sebagai teman baik. Padahal, Delana berharap lebih dari sekedar teman baik. Delana ingin menjadi kekasih Aravin.

   Aravin menatap wajah Delana. Ia sudah lama menunggu saat seperti ini. Tapi, perasaannya justru mengacaukan semua rencana yang sudah ia susun rapi. Harusnya, hari ini ia bisa mengungkapkan perasaannya pada Delana. Tapi, setiap kali melihat wajah Delana, ia takut kehilangan hari-hari bersama Delana dan membuatnya kehilangan kata-kata. Ia takut kalau Delana akan menolak perasaannya.

Delana mencoba tersenyum, walau di matanya terlukis rasa kecewa. “Aku harap juga begitu,” tutur Delana.

“Nggak terasa, sebentar lagi kita lulus SMA, kuliah dan bakal nikah,” ucap Aravin sambil menatap langit di depannya.

“Eh!? Nikah?”

Aravin tersenyum. “Emang kamu nggak pengen nikah?”

“Ya, pengen lah. Tapi ...”

“Kenapa?”

“Nggak tahu mau nikah sama siapa.”

“Sama orang yang kamu cintai.”

“Aku nggak tau orang itu siapa?” Delana menatap Aravin lewat ekor matanya.

“Suatu saat kamu bakal nemuin orang itu,” sahut Aravin. “Aku selalu membayangkan pernikahan yang indah, punya istri yang baik dan anak-anak yang lucu.”

Delana tertawa kecil mendengar ucapan Aravin. Ia tidak menyangka kalau Aravin punya bayangan masa depan sejauh itu. Ia pun ikut membayangkan dirinya mengenakan sebuah gaun pengantin yang indah. Hampir semua remaja akan selalu memikirkan sebuah pernikahan di masa depan, itu hal yang wajar.

“Kamu sendiri, apa pernah membayangkan kamu pake gaun pengantin?” tanya Aravin sambil menatap wajah Delana.

Delana balas menatap Aravin sambil tersenyum. “Aku rasa itu hal yang biasa dibayangkan oleh hampir semua remaja. Pernikahan impian layaknya pernikahan seorang pangeran dan puteri kerajaan. Itu salah satu alasan kenapa banyak cewek suka sama cerita-cerita Disney.”

Aravin tersenyum. Ia menatap lekat mata Delana. Ia tahu kalau wanita suka diperlakukan secara istimewa. Ia ingin sekali bisa mewujudkan itu. Delana adalah satu-satunya wanita yang ada dalam bayangan masa depannya. Ia berharap, Tuhan akan memberikan jalan yang mudah untuk bisa menyatukan mereka.

“Kita masih terlalu muda buat ngomongin soal pernikahan,” celetuk Delana.

“Why? Banyak yang baru lulus SMA sudah nikah. Bahkan, ada yang masih usia SMA sudah punya anak,” sahut Aravin.

“Hmm ... iya, sih. Tapi, aku belum kepikiran sampe ke sana. Rasanya aneh kalo masih muda dan harus ngurus anak,” tutur Delana.

“Itu tergantung pemikiran orangnya sih. Ada beberapa orang yang pemikirannya sudah dewasa sebelum waktunya. Jadi, ada aja yang nikah muda.”

“Udah, ah. Ngomongin nikah mulu. Aku kan jadi pengen. Cerita yang lain aja!” ucap Delana sambil tertawa kecil.

Aravin tergelak mendengar candaan Delana.

“Malah diketawain!” ucap Delana sambil meninju bahu Aravin.

Aravin hanya menahan tawa sambil mengelus bahunya yang terasa sedikit nyeri.

Mereka menikmati senja di tepi pantai sambil bersenda gurau.

“Vin, kita ke sana yuk! Kayaknya asyik deh!” Delana menunjuk beberapa orang yang sedang bermain air di tepi pantai pantai.

“Yuk!” Aravin langsung bangkit. Ia mengulurkan tangan ke arah Delana dan langsung disambut dengan senang hati oleh Delana.

“Ini jembatan berapa meter ya panjangnya?” tanya Delana sambil menatap jembatan beton yang ia pijak.

“Mau ngukur?” tanya Aravin.

“Kurang kerjaan,” celetuk Delana.

Aravin tertawa kecil. Ia membungkuk di depan Delana. “Ayo, naik!” ajak Aravin menyiapkan punggungnya untuk menggendong Delana.

“Ih, aku bukan anak kecil,” ucap Delana sambil tertawa kecil.

“Punggungku bukan cuma untuk anak kecil kok,” ucap Aravin. Ia menggerakkan kepala sebagai isyarat agar Delana segera naik ke atas punggungnya.

Delana tersenyum. Ia mendekatkan tubuhnya. Meletakkan kedua tangannya di atas bahu Aravin. Dengan cepat Aravin mengangkat tubuh Delana naik ke atas punggungnya.

“Berat?” tanya Delana.

Aravin menggelengkan kepala. Ia melangkahkan kaki sambil menggendong Delana  turun ke tepi pantai. Sesekali ia berlari dan bercanda ingin menjatuhkan Delana dari atas jembatan. Membuat Delana berteriak histeris, kemudian tertawa lagi. Aravin menurunkan tubuh Delana saat mereka sudah berada di bibir pantai.

Delana melepas sandal yang ia kenakan dan membiarkan kakinya basah terkena air laut. Di bawah cahaya matahari yang mulai berganti dengan rembulan, mereka menghabiskan waktu bersama di tepi pantai penuh canda tawa.

 

***

“Hei ...!” Atma menyapa Delana yang sedang mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah.

“Hei ... ngerjain apa?” tanya Delana pada Atma.

“Nyari buku sejarah Kerajaan Kutai.” Atma menunjukkan buku yang ia maksud. “Kamu tumben banget nggak bareng Aravin?” tanya Atma.

“Dia lagi disuruh ke ruang guru,” jawab Delana.

Atma langsung duduk di hadapan Delana.

“Pantesan aja. Biasanya udah kayak gula ama semut,” celetuk Atma.

Delana meringis sambil menatap Atma. Kemudian kembali fokus mengerjakan tugas.

“Del, kamu sama Aravin belum jadian?” tanya Atma setengah berbisik.

Delana menganggukkan kepala.

“Aku kan udah bilang kalo dia itu nggak suka beneran sama kamu. Buktinya, dia nggak pernah ngungkapin perasaannya ke kamu kan? Cuma mainin kamu doang. Kalo dia suka sama kamu, dia pasti udah nembak kamu,” tutur Atma.

Delana mendongakkan kepala menatap Atma. Ia menimbang-nimbang ucapan Atma.

“Del, banyak cowok yang begitu. Deketnya sama siapa, jadiannya sama siapa,” tutur Atma.

Delana menghela napas. Ia sudah seringkali mendengar Atma membicarakan soal keraguan perasaan Aravin.

“Mending sama aku aja!” Atma tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.

Delana mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan Atma walau dia termasuk dalam deretan cowok tampan di sekolahnya.

“Bercanda!” Atma mengibaskan buku di depan wajah Delana. “Serius amat nanggepinnya!” celetuknya.

Delana tersenyum kecil menanggapinya.

“Eh, tapi kalo soal Aravin, aku serius.”

“Udah, deh. Kamu nggak usah jelek-jelekin Aravin terus di depan aku. Biar gimana pun, dia tetep temen kamu.”

“Aku kayak gini karena aku temen dia dan temen kamu juga. Aku nggak mau kalo kamu cuma dipermainin aja sama Dia.”

“Nggak ada yang dipermainkan atau mempermainkan. Kita cuma temenan,” sahut Delana.

Atma tertawa kecil. “Temen tapi demen?”

Delana menyunggingkan sedikit senyum. Ia mulai tidak nyaman dengan pernyataan dan pertanyaan dari Atma.

“Kamu tahu nggak kenapa dia manggil kamu Bungas?” tanya Atma.

“Itu panggilan sayang dia buat aku,” jawab Delana sambil tersenyum ceria.

“Panggilan sayang kok kayak gitu? Kamu tahu nggak artinya apa?”

Delana menggelengkan kepala.

“Dalam bahasa Melayu Sambas, bungas itu artinya cuci muka. Mungkin, maksudnya dia itu kamu harus rajin cuci muka biar nggak kucel,” tutur Atma sambil tertawa.

Delana membelalakkan matanya. “Serius itu artinya?”

“Tanya aja sana!”

“Kata Aravin, itu artinya cantik.”

“Mana berani sih dia jujur di depanmu,” sahut Atma sambil tertawa geli.

Delana langsung sakit hati mendengar pernyataan Atma. Ia sangat kesal dengan sikap Aravin yang hanya pura-pura baik di depannya. Ternyata, ia jauh lebih menyebalkan dari Atma. Kalau memang suka, kenapa harus menghinanya seperti ini.

Delana menutup buku pelajaran. Ia bangkit dari tempat duduknya dan langsung bergegas pergi dengan perasaan kesal.

Delana melangkahkan kaki menyusuri koridor sekolah. Bulir-bulir air matanya berjatuhan di pipi tanpa ia sadari. Ia tak peduli dengan beberapa murid yang menatapnya penuh tanya.

“Kamu kenapa?” tanya Aravin yang kebetulan berpapasan dengan Delana.

Delana menatap wajah Aravin penuh kesedihan dan kekesalan. Ia meninju dada Aravin dan bergegas pergi.

“Bung, kamu kenapa sih?” Aravin menarik lengan Delana.

“Nggak usah panggil aku Bungas!” sentak Delana sambil menepiskan tangannya.

Aravin terkejut dengan ucapan Delana. Ia mengejar Delana dan menarik lengannya. “Kamu kenapa?” tanya Aravin dengan nada tinggi, ia mencengkeram tangan Delana agar tidak pergi dari hadapannya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba cewek itu menangis dan membentaknya. Ini jelas membuatnya merasa bersalah.

“Lepasin!” teriak Delana berusaha melepaskan genggaman tangan Aravin.

“Bilang dulu sama aku, kamu kenapa?” tanya Aravin.

“Aku nggak mau kamu panggil aku Bungas lagi!” seru Delana.

“Kenapa?” tanya Aravin.

“Bungas itu artinya cuci muka kan? Secara nggak langsung kamu udah ngatain aku kucel,” tutur Delana tanpa bisa menahan kesedihan di hatinya.

“Hah!? Siapa yang bilang begitu?” tanya Aravin terkejut.

“Jadi? Bener kan?” tanya Delana saat melihat reaksi Aravin.

“Enggak, Del. Artinya nggak gitu,” sahut Aravin.

“Terus apa?” teriak Delana.

Aravin menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan diri menghadapi Delana yang penuh emosi.

Delana meneepiskan tangan Aravin, tapi Aravin meraihnya kembali.

“Aku bisa jelasin,” tutur Aravin lembut.

“Nggak ada yang perlu dijelasin!” Delana menepiskan kembali tangan Aravin dan berjalan menjauh.

“Dela ...!” teriak Aravin terus mengejar Delana.

Delana tidak peduli, ia terus berjalan menjauhi Aravin.

Aravin berlari lebih cepat dan menghadang tubuh Delana. “Del, dengerin aku dulu!”

“Nggak ada yang perlu didengerin!” seru Delana.

Aravin menggenggam pundak Delana. “Del, asal kamu tahu. Bungas itu artinya cantik. Kamu tuh cewek paling cantik yang selama ini aku kenal. Dan nggak mungkin aku ngatain kamu kucel,” tutur Aravin perlahan.

“Aku nggak percaya!”

“Aku sayang sama kamu. Aku nggak mungkin ngatain kamu kayak gitu!”

Delana tak bisa menerima dengan baik ucapan Aravin. Ia sudah terlanjur sakit hati dan tidak bisa berpikir jernih.

Aravin menatap lekat mata Delana. Tepat di manik mata indah Delana, ada banyangan wajahnya yang sedang tersenyum. Ia tidak bisa membuat Delana salah paham seperti ini. Tidak seharusnya ia membiarkan Delana salah mengartikan panggilan sayang yang ia berikan pada Delana.

“Del ...” tutur Aravin lirih, ia tak berani memanggil Delana dengan kata Bungas lagi karena itu akan menambah emosi Delana. “Aku cinta sama kamu,” ucapnya berbisik.

Delana tertegun mendengar ucapan Aravin. Ia menatap lekat cowok yang ada di depannya. Kata cinta yang diucapkan Aravin seharusnya membuat dia bahagia, tapi hatinya justru tersayat. Ia tak bisa menahan kesedihan. Air matanya mengalir semakin deras. “Aku juga cinta sama kamu. Tapi, nggak seharusnya kamu mulai hubungan ini dengan penghinaan.” Delana menepiskan tangan Aravin dari bahunya.

“Aku nggak ngehina kamu,” sahut Aravin. Ia langsung memeluk tubuh Delana. Ia tak ingin kehilangan gadis yang selama ini ia cintai.

“Lepasin!” sentak Delana sambil mendorong tubuh Aravin. Delana membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi meninggalkan Aravin. Ia merasa begitu terluka dengan sikap Aravin yang mempermainkannya.

“Dela ... dengerin aku dulu!” teriak Aravin sambil mengejar Delana.

Delana menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuh menghadap Aravin yang mengikutinya dari belakang. “Anggap aja kita nggak pernah kenal!”

Aravin menggelengkan kepala. “Aku nggak bisa.”

Delana tidak peduli. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan berlari menjauhi Aravin.

Aravin tetap tak mau menyerah. Ia terus mengejar Delana yang masih menangis.

Delana masuk ke dalam toilet dan mengunci pintu rapat-rapat. Aravin tetap tidak peduli, ia tetap mengejar Delana dan mengetuk pintu toilet.

“Del ... dengerin aku! Aku sama sekali nggak ada niat ngehina kamu sedikitpun.” Aravin melirik beberapa pasang mata cewek sekolah yang menatapnya aneh karena masuk ke dalam toilet cewek.

“Eh!? Cowok kok masuk sini sih?” teriak salah satu cewek.

“Sorry ...! Aku cuma ...” Aravin langsung berlari keluar karena cewek itu berteriak dan membuat yang lain bereaksi mengusir Aravin bersama-sama.

“Aargh ... sial!” umpat Aravin sambil menendang pintu toilet.

Sejak hari itu, hubungan Aravin dan Delana terus memburuk. Mereka tidak lagi menjadi teman baik, tidak pula menjadi sepasang kekasih walau saling mencintai.

 

***

Delana menghela napas sambil menatap isi kotak yang ada di tangannya. Ia menutupnya kembali dan membawanya keluar dari kamar. Ia melangkahkan kaki menuju pintu belakang yang ada di dapurnya. Ia membuang kotak kenangan itu ke dalam tempat sampah.

Delana masuk ke dapur untuk mengambil korek. Ia membakar kotak berisi foto-fotonya bersama Aravin.

Delana tersenyum menatap gambar-gambar Aravin yang berubah menjadi abu satu per satu. Sudah saatnya ia menghapus kenangan masa lalunya dengan Aravin. Ia tidak bisa membiarkan kenangan itu terus ada di dalam rumah dan membawanya kembali pada kejadian beberapa tahun silam.

Saat ini dia sudah bahagia bersama Chilton. Cowok yang selama ini mengisi hari-harinya. Membuatnya belajar mencintai dengan cara dewasa. Membuatnya mengerti bahwa cinta tidak tumbuh begitu saja.

Kata orang, cinta bisa tumbuh dengan sendirinya. Tapi, kataku tidak. Sebab aku tanam benih-benih cinta di hatimu. Kujaga dan kurawat penuh kasih sayang, sampai cinta itu tumbuh,” bisik Delana pada bayangan Chilton yang terlukis di langit. Bayangan yang tersenyum kepadanya. Memberinya sebuah harapan cinta dan kebahagiaan dalam hati Delana.

 

 

Sunday, September 21, 2025

Perpustakaan Desa Sangkuliman - Perpustakaan Mengagumkan di Hulu Sungai Kutai Kartanegara

 


Cerita Septemberku dimulai dari Desa Pela. Salah satu desa wisata yang menjadi destinasi favorite bagi turis mancanegara. Sebab, disinilah hewan langka khas Kalimantan bisa dilihat dan menjadi momen yang sangat langka. Ya, di sinilah pemandangan pesut yang beratraksi di air menjadi hal yang mewah bagi para turis. 

Ceritaku kali ini bukan sekedar tentang Desa Pela dan perairannya yang luar biasa. Namun, ada cerita lain di baliknya. Yakni, cerita di Desa Pela Baru. Masyarakat lokal lebih sering menyebutnya Desa Sangkuliman. 
Desa Sangkuliman memiliki banyak cerita unik. Mulai dari cerita perpindahan penduduknya, cerita tentang wisatanya, juga tentang buku-buku yang terpajang begitu indah dan rapi. 



Yang membuatku lebih kagum lagi, di sini ada sebuah perpustakaan yang dikelola secara pribadi oleh Bapak Rojali. Beliau membagi sebagian sudut rumahnya untuk dijadikan perpustakaan. 

Sebagai pegiat literasi, aku sangat mengerti bagaimana perjuangan mendirikan taman baca atau perpustakaan dengan uang pribadi. Tentunya bukan hal yang mudah. Banyak dilema yang terus bergelut di kepala dan tubuh para pegiat literasi. 

Bahkan, pemerintah desa yang seharusnya memiliki kebijakan untuk menyisihkan anggarannya, masih banyak yang tutup mata dengan kehadiran perpustakaan. Bahkan, mereka menganggap perpustakaan tidak perlu ada dalam keseharian mereka. 

Sebelum kami menuju Perpustakaan BMT (Bertata, Menata, Tertata), kami lebih dahulu mengunjungi Kantor Kepala Desa Sangkuliman. Kami mencoba untuk bertemu dengan Kepala Desa atau Sekretaris Desa. Namun, mereka tidak ada di tempat. Padahal, aku datang bersama Ibu Kepala Bidang Pembinaan Perpustakaan. Sangat disayangkan kami tidak bisa bertemu langsung dengan mereka. Hanya ada staff desa dan satu orang staff desa mendampingi kami ke lokasi perpustakaan. 

"Argh! Ternyata lokasi perpustakaannya masih jauh dari Kantor Kepala Desa," batinku. 

Kami salah memilih dermaga. Harusnya, kami langsung ke Perpustakaan BMT supaya tidak perlu jauh-jauh pergi ke sana. 

Dengan bantuan dari staff desa, kami menuju ke Perpustakaan BMT menggunakan sepeda motor. Letaknya tidak begitu jauh. Tapi cukup ngos-ngosan kalau kami harus jalan kaki. Terlebih ada Ibu Kabid yang datang bersama kami. 



Kami merasa sangat nyaman. Perpustakaan BMT cukup sejuk dam rindang. Ada banyak kegiatan yang telah dilakukan di perpustakaan ini. 
Pak Rojali, selaku pengelola perpustakaan BMT, mengajak kami untuk berkeliling desa Sangkuliman. Namun, kami tidak bisa berlama-lama berkunjung di tempat ini karena ada 4 Perpustakaan Desa yang harus kami kunjungi dalam 1 hari. Hal ini dimaksudkan agar kami bisa meminimalisir biaya perjalanan, biaya makan, dan biaya penginapan. 
Tak hanya itu. Pak Rojali juga menyiapkan banyak makanan/cemilan yang begitu banyak untuk kami. Beliau juga membelikan kami makan siang. Aku tahu, beliau pasti menggu akan dana pribadi untuk menjamu kehadiran kami. Sebab, tidak ada peran dari pemerintah Desa terhadap kegiatan-kegiatan yang kami lakukan, seperti kunjungan ini. 
Kami langsung berpamitan begitu selesai makan siang. Pak Rojali mengantarkan kami sampai di dermaga. Di perjalanan, aku berbincang dengam beliau. Aku menyempatkan diri untuk mengambil video bersamanya selama beberapa detik. Aku harap, video itu bisa aku simpan dan aku tonton beberapa tahun lagi sebagai pengingat bahwa masa mudaku pernah menginjakkan kaki ke tempat yang istimewa ini. 

Saturday, September 20, 2025

Ketika Punya Temen Tukang Manfaatin




Pernah nggak sih kamu punya temen yang datang buat manfaatin kita doang?
Giliran kita butuh, eh, dia pura-pura sibuk. Bahkan, pura-pura nggak kenal sama kita.
Gimana perasaan kamu kalo punya temen yang kayak gini?

Rasanya pasti kesel, Gedeg dan pengen ngomel dari Sabang sampe Merauke.

Itulah hal yang aku alami kalau ada temen yang sengaja datang buat manfaatin doang. Bahkan, dongkolnya itu bisa sampe berlarut sekian lama. Setiap lihat wajah atau denger nama orang itu, rasanya udah mual duluan. Pengen banget kalo orang itu enyah dari muka bumi secepatnya.

Tapi ... makin ke sini aku makin sadar. Sikap aku yang gampang dongkol itu cuma bikin penyakit di hati. Akhirnya, aku sendiri yang nggak bisa hidup tenang kalo masih memendam kekesalan sama seseorang.

Aku yakin, setiap orang pasti pernah punya teman “spesial”—bukan karena perhatian atau peduli, tapi karena jagonya memanfaatkan.
Teman macam ini biasanya datang tiba-tiba, tanpa basa-basi, langsung pada inti: “Eh, pinjam uang dulu ya, besok diganti.” atau “Tolong bikinin tugas dong, aku pusing banget nih.” Kadang juga cuma mampir pas butuh tumpangan, minta traktir, atau sekadar curhat panjang lebar lalu menghilang tanpa kabar.

Awalnya, aku sering kesal. Rasanya kayak dijadikan tempat servis berjalan. Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati: Apa aku ini teman, atau sekadar tempat darurat buat mereka?
Bahkan ada masanya aku sampai menghindari chat masuk. Begitu notifikasi muncul dengan nama si teman, aku bisa langsung menebak: “Oke, ini pasti ada maunya lagi.” Dan benar saja, jarang sekali mereka datang hanya untuk sekadar menyapa atau bertanya kabar.

Lucunya, meski sudah tahu polanya, aku masih sering luluh. Alasannya sederhana: aku orangnya nggak enakan. Kalau ditolak, takut mereka sakit hati. Kalau diabaikan, takut dianggap sombong. Akhirnya, meski sambil mendengus dalam hati, aku tetap membantu juga.

Namun, di balik rasa jengkel itu, perlahan aku menemukan sesuatu yang lain. Aku mulai merenung: kenapa ya aku gampang dimanfaatkan? Apakah aku terlalu baik? Atau justru karena aku memang punya sesuatu yang bisa dimanfaatkan? Bukankah itu artinya aku bernilai?

Lama-lama aku belajar melihat dari sisi lain.
Kalau aku sering dijadikan tempat curhat, berarti aku dipercaya.
Kalau aku sering diminta tolong, berarti aku dianggap mampu.
Kalau ada yang datang ke aku saat butuh, berarti aku punya hal yang mereka nggak punya.

Mungkin, ini memang bagian dari peranku di dunia: jadi orang yang memberi manfaat.

Iya, memang capek kadang. Ada saat aku merasa terkuras, merasa tak dianggap balik, atau bahkan merasa diperlakukan tidak adil. Tapi coba bayangkan jika sebaliknya: hidup tanpa ada yang membutuhkan, tanpa ada yang mengingat, tanpa ada yang merasa aku bisa membantu apa pun. Rasanya akan jauh lebih sepi, lebih menyedihkan.

Jadi sekarang, ketika punya teman tukang manfaatin, aku sudah nggak terlalu sakit hati. Aku belajar pasang batas, iya, supaya nggak bablas jadi korban. Tapi di sisi lain, aku juga mulai bisa tersenyum. Karena ternyata, keberadaanku masih berarti. Hidupku masih bisa dipakai, walau mungkin caranya sering bikin aku geleng-geleng kepala.

Pada akhirnya aku sadar, lebih baik hidupku dimanfaatkan orang lain meski kadang bikin kesal daripada hidup tanpa memberi manfaat sama sekali.
Dan dari situ, aku merasa senang. Karena artinya, aku masih punya alasan untuk merasa berharga. 







Wednesday, September 10, 2025

THEN LOVE BAB 25 : NOSTALGIA MASA SMA

 BAB 25 - NOSTALGIA MASA SMA



Delana menatap dirinya di depan cermin. Ia kini sedikit berubah dari penampilannya ketika SMA yang selalu berambut pendek. Rambutnya sudah tumbuh panjang, membuatnya terlihat seperti wanita sungguhan. Tapi, ada rasa sedih di hatinya. Sepertinya, penampilannya masih kurang baik untuk memikat hati Chilton.

Delana membalikkan tubuhnya dan berbaring di atas ranjang. Wajahnya lesu, matanya sayu tak bersemangat. Ia masih kepikiran dengan sikap Chilton yang tiba-tiba berubah. Entah kenapa, ia takut kehilangan hari-hari yang pernah mereka lalui bersama.

“Kak, aku boleh pinjam laptop?” Bryan tiba-tiba masuk ke dalam kamar Delana.

“Eh!?” Delana mendongakkan kepala, menatap Bryan yang sudah berdiri di tepi ranjangnya.

“Mau pinjam laptop, boleh?” tutur Bryan lagi.

“Oh. Ambil aja!” perintah Delana.

“Di mana?” tanya Bryan.

“Di laci situ!” Delana menunjuk laci yang ada di bawah meja riasnya.

Bryan langsung membuka laci dan mencari laptop milik kakaknya. Ia mengeluarkan beberapa kotak yang tersusun rapi, namun ia tak juga menemukan laptop milik kakaknya.

“Nggak ada, Kak,” tutur Bryan sambil celingukan.

“Hah!? Coba di laci satunya!” pinta Delana.

Bryan langsung membuka laci-laci lain untuk mencari laptop kakaknya.

“Jangan dihambur nah, dek!” pinta Delana sembari melihat kota-kotak barang miliknya yang di dalam laci sudah berhamburan di luar.

“Mana laptopnya?” seru Bryan.

“Duh, aku lupa naruh.” Delana bangkit dari tempat tidurnya. Ia langsung berjalan menuju lemari pakaian dan mencari tas laptop miliknya. “Ini nah, dek.” Delana menunjukkan tas laptopnya berada di laci lemari pakaian.

“Yang jelas kalo ngasih tau!” celetuk Bryan. Ia langsung mengambil laptop milik kakaknya dan bergegas keluar dari kamar.

“Eh, beresin dulu barang-barang kakak!” pinta Delana.

“Iya. Nanti!” serunya sambil berlari pergi.

“Iih ... Dasar!” umpat Delana. Ia melangkahkan kaki mendekati barang-barangnya yang berhambur dan merapikannya satu per satu.

Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak berwarna hitam dengan pita merah di tengahnya. Ia tertegun sesaat, tapi kemudian membuka kotak itu. Kotak kecil itu berisi kenangan selama tiga tahun di masa SMA bersama seseorang yang pernah mengisi hari-harinya dengan keindahan.

 

***

Delana melangkahkan kaki tak bersemangat, ia sedih karena nilai yang ia miliki hanya mampu membuatnya masuk ke kelas reguler. SMA Heksa adalah sekolah menengah yang cukup bergengsi karena memiliki murid yang cerdas dan hampir semua muridnya sukses di berbagai bidang setelah lulus.

Karena sudah terkenal sebagai sekolah yang memiliki siswa cerdas, SMA Heksa membagi kelas menjadi kelas unggulan dan kelas reguler.

“Hai, kenapa lesu banget?” sapa Atma yang sudah berada di samping Delana. Atma adalah teman baik Delana karena mereka dulunya satu sekolah ketika SMP.

“Aku nggak masuk kelas unggulan,” jawab Delana lesu. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding kelas.

“Nggak usah sedih! Aku juga masuk kelas reguler, kok.”

“Serius?”

Atma menganggukkan kepala.

“Aravin gimana?” tanya Delana.

“Dia di kelas unggulan. Kamu tahu lah, dia nggak mungkin masuk kelas reguler kayak kita.”

Delana tersenyum. Ia senang karena salah satu teman baiknya ada yang masuk kelas unggulan di salah satu sekolah ternama di kota ini.

“Hei ... ngomongin apaan? Serius banget!” Aravin menepuk bahu Atma.

“Eh, panjang umur!” seru Atma. “Dari mana?”

“Dari TU.”

“Ngapain?”

“Bayar pendaftaran ulang.”

“Oh.”

“Udah pada makan?” tanya Aravin.

Atma menggelengkan kepala.

“Ngantin yuk!” ajak Aravin.

“Ayo!” sahut Atma dengan senang hati.

Delana masih bergeming di tempatnya.

“Ayo, aku traktir!” Aravin menarik lengan Delana den mengajaknya pergi ke kantin sekolah.

Delana terpaksa mengikuti langkah Atma dan Aravin. Mereka menikmati sarapan di kantin sekolah.

 

***

“Hai ... bungas!” sapa Aravin saat Delana sedang duduk di kantin seorang diri.

“Kok, bungas?”

Aravin tersenyum. “Karena kamu cantik.”

Delana mengangkat kedua alisnya, kemudian tersenyum manis ke arah Aravin.

“Sendirian aja?” tanya Aravin sambil celingukan.

Delana menganggukkan kepala.

“Temen kamu mana?” tanya Aravin.

“Kamu sendiri, temenmu mana?”

“Yaelah, ditanya malah balik nanya.”

Delana tersenyum kecil menanggapi ucapan Aravin.

“Nggak papa kan kalo aku panggil kamu bungas?” tanya Aravin.

Delana tersenyum. “Nggak papa.”

“Syukur, deh. Aku bisa nikmatin senyuman kamu.”

“Sejak kapan kamu jadi tukang gombal?”

Aravin cekikikan. Ia memang sengaja membual di depan Delana hanya untuk menghibur Delana. Toh, candaan seperti itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka.

“Woi ...!” teriak Atma sambil menepuk bahu Aravin.

“Kampret! Jantungku mau copot, cuk!” maki Aravin sambil mengelus-elus dadanya.

Delana hanya tersenyum menatap Atma yang sudah duduk di hadapannya.

“Ma, kamu udah ngerjain tugas biologi?” tanya Delana.

“Hah!? Tugas?” tanya Atma memastikan ia tidak salah dengar.

“Iya. Tugas biologi.”

“Belum kayaknya.”

“Kok, kayaknya sih?”

Atma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Belum bisa mastiin. Aku sendiri lupa.”

“Iih ... dasar pemalas!”

“Tugas yang mana sih?” tanya Aravin.

“Tugas yang disuruh meneliti tentang alat reproduksi.”

“Oh. Itu mah gampang. Ntar aku ajarin.”

“Beneran?” tanya Delana pada Aravin.

“Emangnya mukaku kelihatan kayak orang main-main?”

“Hehehe ... enggak sih.”

“Ya udah. Ntar pulang sekolah, kita ketemu di sini lagi.”

“Hah!? Pulangan? Bukannya kita udah nggak di sini kalo pulang sekolah?”

“Kitanya masih tetap ada. Palingan penjualnya aja yang udah pulang.”

“Terus ngapain kita masih ke sini? Horor banget!”

Aravin tersenyum ke arah Delana. “Apanya yang horor? Siang bolong gini.”

“Berduaan di sini horor banget.”

“Siapa bilang berduaan?”

“Terus?”

“Ada Atma.”

“Ah, aku tetap nggak nyaman. Ketemu di tempat lain aja!”

“Di perpustakaan gimana?” Atma menimpali.

“Perpustakaan mana?”

“Perpustakaan kota.”

“Wah, boleh juga tuh.”

“Oke, pulang sekolah kita ke sana!” tutur Aravin.

 

***

 

Setelah pulang sekolah, Delana, Chilton dan Atma bersama-sama pergi ke perpustakaan kota untuk belajar bersama. Delana merasa lebih nyaman belajar di perpustakaan kota karena tempatnya lumayan asyik dan menyenangkan. Sesekali ia menatap kolam pemancingan yang ada di belakang bangunan gedung perpustakaan. “Asyik banget pada mancing,” gumam Delana.

Aravin menyikut lengan Atma sambil menunjuk Delana yang sedang mengintip beberapa orang yang sedang memancing di kolam belakang.

“Mancing yuk!” ajak Atma.

Aravin menoleh ke arah Atma dan menatapnya selama beberapa detik. “Serius?” tanya Aravin.

“Seriuslah.”

“Nggak bawa pancing,” bisik Aravin.

“Gampang. Sewa aja.”

“Sewa di mana? Kayaknya mereka bawa pancingan sendiri-sendiri,” tutur Aravin sambil celingukan.

Atma juga ikut memerhatikan orang-orang yang sedang duduk di gazebo sambil memancing. Ia mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang bisa jadi kios alat pancing yang mereka cari.

“Iya. Nggak ada toko pancingnya,” tutur Atma.

“Sempet nggak kalo beli?” tanya Aravin sambil melihat jam yang ada di ponselnya.

“Eh, sempat-sempat, Vin. Kita beli aja dulu. Sekalian beli umpannya.”

“Kamu aja yang pergi!” pinta Aravin.

“Kok, gitu?”

Aravin mengeluarkan dompet dari saku celananya dan memberikan beberapa lembar uang kepada Atma. “Beliin dah! Aku sama Dela tunggu di sini.”

Atma menghela napas panjang. “Apa boleh buat?” Ia segera bergegas keluar dari gedung Perpustakaan Kota dan melajukan sepeda motornya menuju pasar klandasan untuk mencari alat pancing.

“Atma ke mana?” tanya Delana saat  menyadari saat Atma keluar dari gedung perpustakaan.

“Mau beli pancingan.”

“Buat apa?”

“Buat dandan. Ya buat mancing lah!” sahut Aravin.

“Mau mancing di mana emangnya?”

“Di situ.” Aravin menunjuk kolam dengan dagunya.

“Serius?”

“Tiga rius!”

“Aku ikut ya!” pinta Delana.

Aravin menganggukkan kepala.

Beberapa menit kemudian, Atma muncul dengan membawa ransel berisi peralatan memancing lengkap. Mereka terlihat sangag senang dan sama-sama pergi memancing di kolam yang ada di dekat gedung perpustakaan kota tersebut.

Delana merasa senang karena mendapat ikan beberapa kali. Sementara Atma mulai kesal karena umpan miliknya tak kunjung mendapatkan ikan.

“Nggak hoki nih aku,” celetuk Atma.

Delana tergelak karena ia yang paling banyak mendapatkan ikan.

“Del, main teka-teki yuk!” ajak Atma.

“Halah .. alasan aja. Padahal sudah males nunggu pancingan nggak dapet-dapet ikan.”

“Daripada bete. Mendingan main tebak-tebakan.”

“Oke. Kamu duluan!” pinta Delana.

“Ikan apa yang bisa nyanyi?” tanya Atma.

“Ii kan Fauzi,” jawab Delana.

“Kok, tahu sih?” celetuk Atma.

Delana hanya tersenyum. Teka-teki yang diberikan Atma, sudah sering sekali ia dengar.

“Kamu, Vin!” pinta Atma.

“Apa?” tanya Aravin yang masih fokus dengan pancingnya.

“Kasih teka-teki! Hadeh, nggak masuk ternyata,” keluh Atma karena Aravin tidak masuk ke dalam pembicaraan mereka dan masih fokus dengan pancingnya.

“Ayam apa yang bisa bertelur di gunung, di lembah, di kandang buaya, pokoknya di semua tempat?” tanya Aravin.

Atma dan Delana saling menatap. Mereka belum pernah mendengar teka-teki yang dilontarkan oleh Aravin.

“Ayam ajaib!” seru Atma.

“Salah.”

“Apa ya?” Delana berpikir mencari jawaban.

“Ah, nyerah-nyerah!” seru Atma.

“Jawabannya apa?” tanya Delana penasaran. Ia dan Atma menatap Aravin dengan serius.

“Ayam betina.”

Atma dan Delana saling menatap begitu mendengar jawaban Aravin. Mereka langsung tergelak.

“Anjiiiirr ...!” umpat Atma sambil tertawa.

“Nyebelin kan kalo dia yang ngasih teka-teki,” celetuk Delana.

Aravin tertawa sambil menatap kedua sahabatnya itu. “Emang bener kan? Mana ada ayam jantan bertelur.”

“Ya, ya, ya.” Atma dan Delana mengangguk-anggukkan kepala.

“Giliran kamu, Del!” seru Atma.

“Males, ah.” Delana mengedikkan bahunya.

“Eh!? Culas!” teriak Atma. “Harus kasih teka-teki dong!”

“Udah kehabisan stock teka-teki lucu,” sahut Delana.

“Teka-teki gombal aja!” pinta Atma.

“Aku tuh orangnya jujur, nggak suka ngegombal,” celetuk Delana.

“Iih ... kugigit juga kamu!” Atma geram dengan sikap Delana.

“Gigit aja!” Delana menjulurkan lidahnya ke arah Atma.

Atma langsung menarik lengan Delana dan terjadi sedikit pergulatan.

“Eh ... eh. Sudah, jangan berantem!” seru Aravin menarik tubuh Delana ke dalam dekapannya. “Biar aku aja yang ngasih teka-teki lagi, gimana?” tanya Aravin pada Atma.

“Ya sudah kalo gitu,” tutur Atma mengalah. Delana kembali duduk di tempatnya.

“Kenapa burung bangau terbang ke selatan saat musim dingin?” tanya Aravin.

“Aish, Vin.” Atma menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ngasih teka-teki yang bener. Jangan ilmiah banget kayak gitu! Otak kita pas-pasan gini,” celetuknya.

“Loh? Gampang itu,” sahut Aravin sambil tertawa.

“Yah, kita mana tau terbang ke selatan karena apa? Apa perlu kutanya dulu burung bangaunya?” tanya Atma.

Delana dan Aravin tertawa mendengar ucapan Atma.

“Tanyain dah!” seru Delana.

“Eh, kamu kan harus jawab juga. Kenapa jadi mihak Aravin?” ucap Atma kesal.

Delana menjulurkan lidahnya, mengolok Atma.

Atma geram. Ia mengepalkan tangan dan mengeratkan gigi-giginya menahan emosi.

“Udah, jangan berantem terus!” tutur Aravin. “Nyerah ya?” tanya Aravin pada Atma dan Delana.

Atma menganggukkan kepalanya. “Nyerah aku.”

“Jawabannya ....” Aravin menatap dua sahabatya bergantian. “Burung bangau terbang ke selatan saat musim dingin karena kalo jalan kaki kejauhan.”

“Setan!” umpat Atma. Ia kesal karena ia pikir jawabannya adalah jawaban akademik.

Delana dan Aravin tertawa menatap Atma. Mereka menghabiskan waktu bersenda gurau di tepi kolam. Masa-masa remaja yang tidak akan pernah terlupakan.

 

***

 

“Hei, bungas!” sapa Aravin saat Delana sedang berdiri di depan mading sekolah.

“Hei ...!” balas Delana menoleh ke arah Aravin yang sudah berdiri di sampingnya.

“Besok pagi jogging bareng di Lapmer yuk!” ajak Aravin.

“Sama siapa aja?” tanya Delana.

“Di sana kan banyak juga orang jogging.”

“Mmh ... iya juga sih. Atma nggak ikutan?” tanya Delana.

“Belum aku ajakin. Nggak tahu dia bisa atau nggak.”

“Ajakin, dah! Ntar aku ajak Belvi sama Ivo juga.”

“Oke, deh.”

“Jam berapa?” tanya Delana.

“Jogging ya pagi lah. Kalo bisa jam enam udah di sana. Kalo agak siang, udah panas. Ntar gosong,” sahut Aravin.

Delana tertawa mendengar ucapan Aravin. “Laki-laki takut behitam.”

Aravin hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Delana.

 

Keesokan harinya, Delana dan kawan-kawan lainnya sudah berkumpul di Lapangan Merdeka. Seperti biasa, tempat ini selalu ramai saat weekend. Banyak yang jogging pada pagi hari. Ada yang berlatih bola. Ada yang sedang melakukan aktivitas penggalangan dana. Ada beberapa komunitas yang sengaja berkumpul tiap hari minggu. Ada juga yang sekedar jalan-jalan untuk berburu salome.

“Del, mau salome?” tanya Belvina saat mereka sudah selesai jogging.

Delana menjulurkan kakinya sambil duduk di trotoar, Aravin juga melakukan hal yang sama di sampingnya. “Mau. Sama es ya!” pinta Delana. Ia merogoh uang di sakunya dan memberikannya pada Belvina.

“Kamu mau, nggak?” Atma bertanya pada Aravin.

“Mau. Beliin ya!” pinta Aravin.

“Sip!” Atma mengacungkan jempolnya ke arah Aravin. Ia kemudian berjalan beriringan bersama Belvina dan Ivona mencari penjual salome favorite mereka.

“Aku pengen es kelapa,” tutur Ivona.

“Kita beli salome dulu,” sahut Belvina karena penjual salome dan es kelapa berjarak lumayan jauh.

“Iya. Tadi si Dela nitip es apa ya?” tanya Ivona.

“Nggak tahu. Nggak ngomong. Es sembarang aja dia mah. Yang penting es.”

“Ya udah. Beliin es kelapa aja semua. Nanti kalo beda-beda dan dia pengen es kelapa juga gimana? Daripada balik lagi, kan capek,” tutur Ivona.

“Iya, deh.” Belvina menghentikan langkahnya di depan penjual salome.

“Paklek, salomenya yang sepuluh ribu dua, campur ya!” tutur Belvina pada penjual salome.

“Pedes apa nggak?” tanya penjual salome.

“Pedes,” jawab Belvina.

“Punyaku yang manis aja, Paklek. Sepuluh ribu juga,” tutur Ivona sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan.

“Aku beli yang tahu aja sepuluh ribu. Sama satu lagi yang pentol kecil sepuluh ribu, nggak usah pake yang telur puyuh,” tutur Atma.

“Pedes atau enggak?” tanya penjual tersebut.

“Pedes.”

Penjual salome tersebut langsung membungkus salome sesuai pesanan masing-masing.

Setelah membeli salome, Ivona, Belvina dan Atma melangkahkan kakinya menuju penjual es kelapa dan memesan enam bungkus es kelapa.

“Satunya buat siapa?” tanya Belvina heran, karena mereka hanya berlima.

“Buat aku,” jawab Ivona sambil meringis.

“Astaga! Kecil aja badannya, makannya banyak,” celetuk Atma.

Ivona mencebik sambil meninju bahu Atma.

Atma tertawa kecil. Ia melihat ke sekeliling dan kebetulan ada dua cewek yang melintas di dekat mereka. “Hai ...!” goda Atma.

“Hai ...!” balas dua cewek tersebut sambil melambaikan tangannya ke arah Atma. Cewek itu terus menatap ke arah Atma sampai tidak melihat jalanan yang ada di depannya dan menabarak orang yang sedang berjalan. “Sorry!” ucap mereka berbarengan.

Atma tertawa kecil melihat adegan dua cewek itu.

“Iseng banget sih!?” celetuk Ivona.

Atma tergelak. “Cuma mau ngetes aja. Gantengku masih awet kan?” ucap Atma penuh percaya diri.

Belvina dan Ivona mendengus ke arah Atma. Atma memang tampan, hampir semua perempuan menyukainya. Tapi, tingkahnya sangat menyebalkan. Dia seringkali menggoda cewek-cewek di sekolah atau di manapun hanya untuk membuktikan pada semua orang kalau dia adalah cowok tampan yang digandrungi banyak cewek.

Sementara tiga temannya asyik mencari makanan, Delana dan Aravin duduk berdua sambil bercerita tentang sekolah mereka dan keseharian mereka di rumah.

Delana merogoh isi tasnya dan memberikan kotak bekal kepada Aravin. “Aku lagi belajar bikin kue, cobain deh!” pinta Delana.

“Oh ya?” Aravin tersenyum menatap Delana dan langsung membuka kotak bekal pemberian Delana. Ia melihat kue cokelat mungil berbentuk doraemon. Aravin mengambil satu buah dan melahapnya. “Enak!” pujinya.

Delana tersenyum. Ia senang karena masakannya mendapat pujian. Ia makin semangat untuk mencoba menu-menu baru.

“Kamu seneng masak?” tanya Aravin.

Delana menganggukkan kepala.

Aravin menatap Delana dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. “Aku pikir, cewek tomboy kayak kamu nggak seneng masak.”

Delana meringis. “Aku udah biasa masak sendiri dari aku masih SMP. Di rumah, ceweknya cuma aku doang. Lagian, siapa lagi yang mau masakin buat keluarga? Masa pembantu mulu? Ntar yang dipuji-puji sama ayah, masakannya pembantu terus,” tutur Delana.

Aravin tergelak mendengar ucapan Delana. “Bagus banget kalo cewek suka masak. Aku suka.”

“Eh!?”

“Eh, lihat deh!” Aravin menunjuk ke tengah lapangan. Seseorang sedang mengulur layangan yang terus memanjang. Dalam satu tali, ada banyak layangan yang tersusun seperti ular naga yang sedang terbang. “Gimana caranya bisa bikin kayak gitu?” gumam Aravin.

Delana menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Aravin. “Ya, bisa. Tinggal bikin aja!” sahut Delana.

“Kalo yang nggak terbiasa bikin, nggak bisa terbang seimbang kayak gitu. Apalagi layangannya banyak,” tutur Aravin. Wajahnya tepat berada di belakang kepala Delana. Mereka sama-sama menatap layangan yang membumbung tinggi ke langit.

“Iya juga ya? Kalo ada satu aja layangan yang nggak imbang, pasti udah jatuh tuh semuanya,” tutur Delana.

“Keren ya?”

“Iya.”

“Keren mana sama aku?” tanya Aravin sambil tersenyum.

Delana langsung memutar kepalanya ke arah Aravin. Ia tertegun karena wajah Aravin begitu dekat dengannya.

Aravin menatap manik mata Delana. Ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di antara sinar-sinar mata Delana. Mata yang begitu tulus memberikan kasih sayang untuk orang-orang di sekitarnya. Mata yang begitu meneduhkan dan membuatnya nyaman berlama-lama tenggelam di dalamnya.

“Woy ...! Malah behimat beduaan di sini!” seru Atma yang tiba-tiba muncul.

Delana dan Aravin gelagapan mendengar teriakan Atma.

“Nih!” Atma menyodorkan salome ke arah Aravin dan langsung duduk di sampingnya.

Sementara Ivona meletakkan bungkusan es kelapa ke depan Delana. Ia dan Belvina duduk bersila di depan Delana dan Aravin.

“Kok, duduk di situ?” tanya Delana.

“Lebih nyaman aja kalo kita ngobrol berhadapan,” tutur Belvina.

Delana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Eh, abis jogging, kakinya jangan ditekuk!” tegur Aravin.

“Oh, iya. Lupa.” Ivona menepuk jidatnya. Ia dan Belvina memilih saling bersandar dan menjulurkan kedua kakinya.

“Del, ntar kalo udah lulus sekolah, kamu mau lanjut kuliah di mana?” tanya Belvina.

Delana mengedikkan bahunya. “Kamu sendiri mau ke mana?”

“Aku mah di sini-sini aja. Nggak usah jauh-jauh. Nggak kuat biayanya kalo harus pulang pergi pas kangen sama kamu, eeaak ...”

Delana dan yang lainnya tergelak mendengar candaan Belvina.

“Kamu, Vo? Mau lanjut ke mana?” tanya Belvina sambil menggoyangkan pundaknya yang menjadi sandaran pundak Ivona.

“Belum tahu juga. Diterimanya di mana, di situ sudah aku kuliah.”

“Kita barengan aja gin!” pinta Belvina.

“Delana emang mau kuliah di dalam kota? Katanya dia mau lanjut ke luar pulau? Cari kampus yang lebih bagus,” tutur Ivona.

“Iya, juga ya?” Belvina terlihat berpikir. “Eh, kamu mau lanjut ke mana?” tanya Belvina pada Aravin.

“Ke Jakarta,” jawab Aravin penuh percaya diri.

“Mmh ... iya sih. Kamu kan pinter. Pasti bisa masuk universitas bergengsi di Ibukota,” tutur Belvina.

“Aku nggak ditanya?” tanya Atma.

“Nggak usah! Kamu mah udah kelihatan masa depannya bakal di sini-sini aja,” sahut Ivona.

“Yee ... nanti kalo aku bisa masuk ke Harvard University, kalian kaget,” celetuk Atma.

“Huu ...!” Ivona melempar wajah Atma dengan daun kering yang jatuh di jalanan.

“Harvard? Di Untri aja belum tentu keterima,” celetuk Belvina sambil mencebik.

“Ngoloknya kamu, Bel!” Atma menimpuk kepala Belvina dengan handuk kecil yang ia pegang.

“Au ... sakit, Ma!” Belvina menyerbu ke arah Atma untuk balas memukul. Namun, Atma langsung bangkit dan menghindari serangan Belvina.

Delana, Aravin dan Ivona tertawa melihat adegan kejar-kejaran antara Belvina dan Atma. Keduanya sama-sama saling mengejek dan tidak ada yang mau mengalah.

“Udah, ah. Capek aku ngeladenin cowok gila kayak kamu!” celetuk Belvina, ia kembali duduk di dekat Ivona.

“Kamu yang gila!” Atma menjulurkan lidahnya.

“Iih ... kamu kalo sama aku pengolokan banget!” Belvina melepas sepatunya dan bersiap melemparkan ke arah Atma.

“Dia kalo sama Delana nggak bisa ngelawan. Giliran sama Belvi, ngece!” celetuk Aravin.

“Yah, beda kelas lah.”

“Iya, emang beda kelas. Aku kelas sepuluh B, kamu kelas sepuluh D,” celetuk Delana.

Semuanya tertawa mendengar ucapan Delana kecuali Atma.

“Bukan itu maksudku!” Atma menggaruk kepalanya kesal. “Aku kalo ngomong sama Dela atau Aravin, pasti kalah mulu,” gumamnya.

“Kepok!” umpat Belvina.

Mereka terus bercanda, walau sering dibuat kesal tapi mereka bahagia. Ejekan yang mereka lontarkan adalah ejekan yang menunjukkan kasih sayang dan kebersamaan sebagai seorang sahabat.

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas