Menu BacaanMu
- Perfect Hero (531)
- Puisi (121)
- My Experience (118)
- Rumah Literasi Kreatif (87)
- Novel MLB (80)
- Cerpen (71)
- Then Love (60)
- Belajar Menulis (56)
- Esai (49)
- Artikel (43)
- Puisi Akrostik (43)
- Review Buku (22)
- Review Drama (18)
- Relima Perpusnas RI (16)
- Ekonomi & Bisnis (9)
- Novel The Cakra (8)
- Wisata (8)
- Aku dan Taman Bacaku (7)
- Dasawisma (6)
- Review Aplikasi (6)
- Kumpulan Novel (5)
- Novel ILY Ustadz (4)
- Opini (4)
- Pendamping Nakal (3)
- Biografi Penulis (2)
- Daily (2)
- Donasi (1)
- Dongeng (1)
- JNE (1)
- Product (1)
Monday, September 8, 2025
Catatan Digital di Hari Literasi Internasional 2025
Dalam webinar tersebut, Kepala Perpusnas RI, E. Aminudin Aziz, mengajak kita semua pengelola perpustakaan, guru, pegiat literasi, hingga saya yang kecil ini untuk melakukan transformasi total. Perpustakaan tidak lagi boleh menjadi ruang usang penuh tumpukan buku. Kini, transformasi adalah kata kunci agar Perpusnas tetap relevan di era kecerdasan buatan.
THEN LOVE BAB 24 : TIBA-TIBA DINGIN
BAB 24 : TIBA-TIBA DINGIN
“Chil, kamu di mana?”
tanya Zoya via sambungan telepon.
“Di rumah. Ada apa
Zoy?” tanya Chilton balik.
“Gunung Dubs?”
“Iya.”
“Aku deket rumahmu nih.
Mau mampir boleh kan?” tanya Zoya.
“Nggak boleh!” sahut
Chilton. “Boleh, lah.” Chilton langsung meralat ucapannya. “Bawa minuman, ya!”
pinta Chilton.
“Minuman apa?”
“Bir atau anggur.”
“Gila aja aku disuruh
balik lagi nyari bir. Aku udah di depan rumahmu, nih,” tutur Zoya.
“Oh, ya udah. Masuk
aja!”
“Bukain pintu pagar
rumahmu! Kutabrak nih!” ancam Zoya.
Chilton tertawa kecil.
“Tabrak aja!” tuturnya sembari keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan
keluar ke halaman rumahnya. Ia membukakan pintu untuk Zoya. Chilton menoleh ke
arah mobil Zoya karena dilihat Zoya tidak sendirian di dalam mobil.
Chilton kembali menutup
pintu pagar rumahnya begitu mobil Zoya memasuki halaman rumah. Ia melihat Zoya
keluar dari mobil bersama seorang cowok yang tidak ia kenal sama sekali.
“Dari mana?” tanya
Chilton langsung merangkul Zoya.
“Dari kampus. Kenalin,
ini Atma, temen di kampus.” Zoya memperkenalkan Atma kepada Chilton.
“Atma.” Atma
mengulurkan tangan ke arah Chilton yang langsung disambut baik oleh Chilton.
“Ayo, masuk!” pinta
Chilton. Mereka langsung masuk ke rumah dan menaiki anak tangga menuju kamar
Chilton.
“Kalian satu kelas?”
tanya Chilton.
Zoya menganggukkan
kepala.
“Aku yang sering ngajak
dia ketemu sama bos-bos perusahaan. Biar bisa jadiin dia model iklan,” tutur
Atma.
Chilton tertawa kecil
menanggapi ucapan Atma. Ia sendiri tahu bagaimana kredibilitas Zoya sebagai
seorang artis. Zoya sudah banyak bermain peran dan menjadi model iklan sejak
mereka masih SMA. Ia melihat kalau Atma terlihat seperti pembualan dan
menganggap dirinya adalah bagian penting dari kesuksesan Zoya saat ini.
Zoya hanya tertawa
kecil menatap Chilton. Ia tahu apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu.
“Zoy, kemarin aku lihat
kamu di acara talkshow. Kamu pake sepatu Air Jordan ya kayaknya itu?” tanya
Chilton.
“Iya. Air Jordan 1
Retro yang Black Red.”
“Kena berapa harganya?”
tanya Chilton.
“Sekitar delapan jutaan
aja.”
“Yang ori 'kan itu?”
“Iya.”
“Di mana belinya?”
tanya Chilton.
“Di Jakarta. Kebetulan
yang punya toko masih temen.”
“Masih ada nggak, ya?”
“Kurang tahu ya? Ntar
aku tanyain dia.”
“Tanyain, ya! Bisa
dikirim ke sini 'kan?”
“Bisa.” Zoya langsung
mencari nomor ponsel teman yang ia maksud dan menghubunginya.
“Ini aku beli 200
juta,” tutur Atma sambil menunjukkan sepatu yang ia kenakan.
Chilton mengangkat
kedua alisnya. Ia melirik sepatu yang digunakan oleh Atma, kemudian menatap
Zoya yang terlihat menahan tawa. Chilton menggeleng-gelengkan kepala perlahan.
Ia bisa membedakan mana sepatu ori dan kw.
“Dua ratus ribu kali, ya?” bisik Chilton di telinga Zoya.
Zoya mengedikkan
bahunya, ia pura-pura tidak tahu.
“Weh ... keren banget
sepatumu dua ratus juta. Di mana belinya?” tanya Chilton.
“Ini aku beli di
Paris,” jawab Atma.
Chilton mengangkat
kedua alisnya.
“Parisnya Mall Fantasy
situ nah, Chil,” sahut Zoya.
“Hah!? Serius?” Chilton
menahan tawa. “Kelihatan, sih.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala sambil
menatap sepatu yang melekat di kaki Atma.
“Ah, kamu bongkar
rahasia aja!” celetuk Atma.
“Eh, kalo kamu ngomong
kayak gitu sama cewek atau sama cowok yang nggak pernah beli barang branded,
mereka pasti percaya,” sahut Zoya. “Lihat tuh!” Zoya menunjuk lemari kaca
berisi deretan sepatu koleksi Chilton. “Itu sepatu ori semua.”
Chilton menyunggingkan
senyum. Ia memilih berbaring santai di sofa kamar daripada harus meladeni mulut
bual Atma.
“Hah!? Serius?” Atma
langsung bangkit dan mendekati lemari kaca berisi sepatu. Ia mengamatinya satu
persatu. “Gila! Ini keren-keren!”
Zoya tertawa kecil
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Chil, gimana kabar
Delana? Nggak jalan bareng dia?” tanya Zoya.
“Baik-baik aja,” jawab
Chilton tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya.
Atma mematung begitu
mendengar nama Delana. Nama itu tak asing di telinganya. Nama yang pernah ada
di kehidupan masa lalunya.
Ponsel Atma tiba-tiba
berdering. Ia merogoh ponsel di kantongnya dan melihat nama yang menelepon.
“Panjang umur nih orang,” gumam Atma.
Atma langsung menjawab
panggilan telepon dari pemilik nama lengkap Aravinda Farhan.
“Halo ... Vin, gimana
kabarnya?” tanya Atma sambil duduk di sofa, bersebelahan dengan Zoya. “Udah
lama nggak ketemu, masih di Jakarta?” tanya Atma.
“Iya, Ma. Kamu lagi di
mana?” tanya Aravin lewat telepon.
“Lagi di rumah temen.”
“Kabar Delana gimana?”
tanya Aravin.
“Hah!? Delana? Delana
Aubrey?” tanya Atma.
Chilton langsung
menoleh ke arah Atma begitu nama Delana disebut.
Atma melirik Chilton
dan Zoya yang menatapnya. “Oh. Iya, Vin. Jarang banget ketemu dia. Kita beda
kampus, jadinya nggak ada ketemu.”
“Sudah punya pacar lah
dia?” tanya Aravin.
“Aha ...” Atma kembali
melirik dua temannya yang sudah sibuk dengan ponselnya. Tapi, ia percaya kalau
keduanya pasti mendengar ucapannya. Ia sengaja menaikkan volume suaranya. “Kalo
itu aku kurang tahu, Vin. Bisa jadi sudah banyak cowoknya. Dia kan cantik,
baik, asyik dan nggak bisa dilupain kan?”
Chilton menahan kesal
karena ia menyadari kalau Atma membicarakan Delana, cewek kampus yang sedang
dekat dengannya. Ia menyadari kalau cowok yang diajak bicara oleh Atma adalah
seseorang yang pernah ada di masa lalu Delana. Itu terlihat dari cara Atma
menanggapi pembicaraannya lewat telepon.
“Kamu kenal sama Delana
Aubrey?” Chilton bangkit dari tidur dan menatap Atma serius.
“Kenal. Temen SMA,”
jawab Atma.
Chilton menatap serius
wajah Atma. Ia berharap Atma bisa menceritakan siapa sosok laki-laki yang ada
di balik teleponnya tadi.
“Eh, yang tadi telepon
itu Aravin. Temen SMA yang dulu pernah deket sama Delana.”
Chilton melipat kedua
telapak tangan, ia serius menyimak Atma bercerita.
“Mmh ... Chil, ada air
es kah?” tanya Zoya, ia berusaha mengalihkan perhatian Chilton agar Atma tidak
bercerita yang tidak-tidak pada sahabatnya itu.
“Ada di kulkas bawah,”
jawab Chilton.
“Ambilin dong!” pinta
Zoya.
“Ambil sendiri kenapa?”
sahut Chilton kesal.
“Nggak usah emosi
juga!” Zoya melempar wajah Chilton menggunakan bantal sofa. Ia langsung keluar
dari kamar Chilton. Usahanya untuk mencegah Atma bercerita tidak berhasil. Ia
tahu kalau Atma sangat pandai memberikan bumbu dalam bercerita dan bisa saja
mengubah pandangan Chilton pada Delana.
“Cowok yang kamu
telepon barusan, pernah pacaran sama Delana?” tanya Chilton menyelidik.
Atma menggelengkan
kepala. “Tapi mereka pernah deket banget waktu SMA. Mereka sering belajar
bareng, jalan bareng dan semua perhatian-perhatian Delana bikin Aravin jatuh
cinta. Sayangnya, Delana justru nolak si Aravin waktu Aravin nembak dia. Itu
bener-bener bikin Aravin kecewa. Dia malu banget dan akhirnya milih buat
lanjutin kuliahnya ke luar kota.”
Chilton mengernyitkan
dahinya. Ia masih tidak percaya kalau Delana punya sikap seperti itu,
mencampakkan pria yang pernah begitu dekat dengannya.
“Biarpun sekarang udah
kuliah di luar kota. Aravin masih aja nggak bisa ngelupain Delana.” Atma
menggeleng-gelengkan kepala. “Aku nggak paham apa yang sudah dibuat sama cewek
itu sampe bikin temenku kayak gini,” tuturnya.
“Lagi pada ngomongin
apaan si? Serius banget!” Zoya tiba-tiba muncul membawa tiga botol minuman
dingin.
“Nggak papa,” jawab
Chilton sambil mengusap wajahnya.
Zoya menatap wajah
Chilton. Ia merasakan ada hal yang berbeda di wajah Chilton.
“Ma, pulang yuk!” ajak Zoya.
“Ayo!”
Zoya langsung mengajak
Atma keluar dari rumah Chilton dan mengantarnya pulang ke rumah.
“Kamu cerita apa sama
Chilton?” tanya Zoya saat ia berada di perjalanan pulang mengantarkan Atma
pulang.
“Nggak ada cerita apa-apa. Dia cuma nanya soal
Delana dan aku jawab apa adanya,” jawab Atma santai.
“Kamu jangan cari
gara-gara ya!” ancam Zoya.
“Gara-gara apaan?”
“Aku lihat si Chilton
kesel banget tadi. Pasti ada sesuatu yang nggak dia suka.”
Atma mengedikkan
bahunya. Ia tetap saja merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
Zoya tak lagi bertanya.
Ia memilih untuk diam sampai mobilnya berhenti di depan rumah Atma.
“Nggak masuk dulu?”
tanya Atma begitu ia turun dari mobil Zoya.
Zoya menggelengkan
kepala dan langsung menutup kaca jendela mobilnya. Ia melajukan mobilnya kembali menuju rumah
Chilton. Tanpa menelepon, Zoya membunyikan klakson beberapa kali di depan rumah
Chilton.
Chilton geram mendengar
suara klakson yang terus berbunyi di depan rumah. Ia mengintip dari jendela
kamar dan mendapati mobil Zoya sudah berada di depan pagar rumahnya. Ia
langsung berlari keluar dari rumah sebelum Zoya benar-benar menabrakkan
mobilnya ke pagar rumah.
“Kamu kenapa sih!?
Ngajak berantem memang anak ini,” seru Chilton begitu Zoya keluar dari
mobilnya.
Zoya tidak menghiraukan
ucapan Chilton, ia langsung masuk ke dalam rumah tanpa diminta.
“Kesambet setan apa tuh
anak?” Chilton menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup kembali pintu pagar
rumahnya. Ia melangkahkan kaki memasuki rumah.
Chilton mendapati Zoya
sudah duduk di sofa ruang keluarga. Kakinya dijulurkan ke atas meja dan
menonton televisi dengan gaya santainya.
“Kamu kenapa sih?”
tanya Chilton yang langsung duduk di sampingnya.
“Kesel banget aku sama
Atma,” celetuk Zoya.
“Emang pembualan gitu
anaknya?” tanya Chilton.
Zoya tersenyum sinis.
“Dia cerita apa sama kamu?”
Chilton menghela napas
panjang. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sambil menatap langit-langit
rumahnya. “Dia cerita soal masa lalu Delana.”
“Terus?” Zoya menatap
Chilton serius.
“Dia cewek yang pandai
menakhlukan hati cowok dan meninggalkannya saat cowok itu udah jatuh cinta.”
Zoya mengernyitkan
dahinya. “Aku rasa dia nggak begitu. Dia kelihatan tulus banget.”
“Kamu tahu dari mana
kalo dia tulus?” tanya Chilton. Mendengar ucapan Atma, ia bisa menangkap sebuah
makna kalau Delana adalah tipe cewek yang suka mempermainkan perasaan cowok.
“Kamu percaya gitu aja
sama Atma?” tanya Zoya.
Chilton tertawa sinis.
“Bisa jadi, semua yang dia bilang itu bener. Karena Atma sama sekali nggak tahu
soal kedekatan aku sama Delana. Jadi, nggak mungkin dia ngada-ngada.”
Zoya memutar bola
matanya. “Ya, terserah kamu kalo mau percaya sama Atma. Aku bakal lebih percaya
sama Delana ketimbang sama anak pembualan itu.”
“Kita lihat aja nanti.
Aku juga berharapnya begitu.”
“Apa kamu sudah jatuh
cinta beneran sama dia?” tanya Zoya.
“Apa aku harus
ngungkapin itu pake kata-kata?” tanya Chilton balik.
Zoya menatap Chilton
penuh selidik. Ia tahu, kalau Chilton sebenarnya sudah jatuh cinta. Tapi, ia
sendiri masih ingin memungkiri perasaannya sendiri.
Chilton sendiri tidak
yakin apakah ia jatuh cinta pada Delana atau tidak. Saat mendengar tentang masa
lalu Delana, ia merasa ragu dengan perasaan Delana. Ia merasa, Delana akan
mencampakkan dirinya setelah ia jatuh cinta. Sama seperti cowok yang ada di masa
lalu Delana.
“Chil, kita bukan anak
kecil lagi. Aku rasa kamu bisa bedain mana yang tulus sayang sama kamu dan mana
yang modus,” tutur Zoya.
“Udah, deh. Nggak usah
ngomongin dia terus!” celetuk Chilton.
“Aku bakal ngomongin
dia terus. Karena aku tahu dia cewek yang baik.”
Chilton bangkit dari
duduknya dan berlalu meninggalkan Zoya.
“Chil, aku kayak gini
karena aku peduli sama kamu sebagai sahabat!” teriak Zoya. “Aku nggak mau kamu
salah pilih pasangan hidup!”
Chilton tak menggubris
ucapan Zoya. Ia terus melangkahkan kakinya menaiki tangga dan masuk ke dalam
kamar. Meninggalkan Zoya seorang diri di ruang keluarga.
***
“Hai ... Chil!” sapa
Delana saat mereka bertemu di tempat mengajar.
Chilton hanya tersenyum
dan langsung meninggalkan Delana.
Delana mengernyitkan
dahinya. Ia merasa ada yang berubah dari Chilton. Tiba-tiba ia bersikap
seolah-olah tak mengenal Delana.
“Chil ...!” panggil
Delana sambil mengikuti langkah Chilton.
Chilton sama sekali
tidak menoleh mendengar panggilan dari Delana. Ia tetap saja berjalan sambil
memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia tetap saja terlihat
memesona dengan gaya super cueknya.
“Chil, kamu kenapa
sih?” Delana menarik lengan Chilton. Ia langsung menghadang langkah Chilton dan
menatap cowok itu serius.
Chilton tersenyum sinis
dan menyingkirkan Delana dari hadapannya.
Delana mengerutkan
hidungnya karena kesal. Rasanya, ia ingin berteriak sekuat-kuatnya memanggil
nama cowok yang menyebalkan itu. Entah kenapa, Chilton tiba-tiba bersikap cuek.
Seolah-olah mereka tak pernah saling mengenal atau lebih tepatnya Chilton
sedingin saat pertama kali Delana melihatnya.
Chilton tak
menghiraukan Delana. Ia langsung masuk ke ruang kelas tempat ia mengajar. Ia
tak ingin banyak bicara dengan Delana. Sebab, ia masih merasa kecewa dan sakit
hati dengan perlakuan Delana selama ini. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan
Delana dan membuatnya benar-benar jatuh hati dengan cewek itu.
Delana melangkahkan
kakinya masuk ke kelas. Ia tak bersemangat mengajar dan lebih banyak melamun.
Ia memikirkan sikap Chilton yang tiba-tiba berubah. Entah kenapa ia tiba-tiba
cuek. Padahal, baru kemarin mereka menikmati makan malam bersama. Saling bergurau
sambil minum bir. Begitu cepat Chilton berubah sikap. Semua itu pasti ada
sebabnya.
Setelah jam mengajar
usai, Delana menunggu Chilton di parkiran. Ia bersandar di motor Chilton.
Sebab, Chilton tak mungkin bisa menghindarinya jika ia berada di motor Chilton.
Beberapa menit
kemudian, Chilton keluar dari gedung kursus. Ia melihat Delana yang sudah
berdiri sambil bersandar di motornya. Ia berjalan perlahan mendekati Delana.
Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Ia ingin membenci, tapi ia juga
merindukan gadis yang ada di hadapannya itu. Perasaannya campur aduk tak
karuan. Antara ingin melanjutkan hubungannya dengan Delana atau mengakhiri
secepatnya sebelum semuanya terlanjur.
“Chil, kamu kenapa?”
Delana menatap Chilton. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Chilton yang begitu
dingin menatapnya. Ia merasa sedih saat cowok itu tiba-tiba tidak mau
menghiraukannya sama sekali.
Delana tak bisa menahan
perasaan sedih di dalam hatinya. Ia terbayang masa-masa SMA-nya. Saat ia dekat
dengan Aravin. Menjalani hari-hari indah bersama. Delana memberikan kasih
sayang tulus untuk cowok itu, tapi Aravin justru membuatnya kecewa dan sakit hati.
Chilton menggenggam
pundak Delana. Ia tersenyum pada cewek yang ada di hadapannya itu. Ia tak bisa
membuatnya terluka untuk saat ini. Sebab, ia sendiri tidak tahu apa kesalahan
Delana. Dia tiba-tiba membenci Delana tanpa Delana tahu sebabnya.
“Nggak papa,” jawab
Chilton sambil tersenyum.
“Beneran nggak papa?”
tanya Delana dengan suara berat.
“Iya. Nggak papa. Aku
cuma nggak enak badan,” tutur Chilton.
“Oh,” ucap Delana
dengan suara yang hampir tak terdengar. “Tadi pagi aku nungguin kamu di taman.”
“Aku nggak enak badan.
Kebetulan aku tidur di rumah Gunung Dubs. Jadi, nggak berangkat ke kampus.
Sorry, ya!”
Delana menganggukkan
kepala.
“Aku mau pulang. Bisa
minggir?” tanya Chilton sambil tersenyum.
Delana menepikan
badannya, memberi ruang pada Chilton untuk menaiki motor dan berlalu pergi
meninggalkan Delana yang masih bingung dengan sikap Chilton yang aneh.
Delana tak langsung
pulang ke rumah. Ia pergi ke asrama untuk menemui Belvina.
“Hei, tumben banget ke
sini nggak telepon dulu?” sapa Belvina begitu ia membuka pintu kamarnya.
Delana menghela napas.
“Aku boleh masuk?”
“Sejak kapan aku
ngelarang kamu masuk?” Belvina menepikan tubuhnya, memberi ruang pada Delana
untuk masuk ke kamarnya.
Delana langsung
merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
“Baru pulang ngajar?’
tanya Belvina melihat Delana kelelahan.
Delana menganggukkan
kepala. “Bel, menurut kamu Chilton itu gimana ya?”
“Gimana apanya?” tanya
Belvina.
“Gimana sikapnya sama
aku? Sebenarnya, dia suka sama aku atau enggak sih?” tanya Delana dengan wajah
murung.
Belvina mendekati
Delana. “Kalo dilihat dari sikapnya selama ini. Kayaknya dia udah mulai suka
sama kamu. Buktinya, dia sering ngajak kamu jalan bareng kan?”
“Hmm ... iya juga sih.
Tapi, hari ini aku ngerasa dia beda banget.”
“Beda gimana?”
“Cuek banget. Nggak
kayak biasanya.”
“Perasaan kamu aja
kali, Del,” sahut Belvina.
“Hmm ... semoga aja
emang cuma perasaanku. Tapi, aku tetap kepikiran. Aku udah mikir yang
nggak-nggak tentang dia.”
“Emang kenapa sih sama
dia?” tanya Belvina penasaran.
“Aku juga nggak tahu.
Tiba-tiba aja dia itu cuek dan dingin banget.”
“Kamu ada bikin salah
sama dia?” tanya Belvina.
Delana menatap
langit-langit kamar. Mencoba mencari kesalahan yang bisa saja ia melakukannya
tanpa sengaja.
“Aku rasa nggak ada.
Terakhir jalan bareng, dia hepi-hepi aja.”
“Yakin?” tanya Belvina
lagi.
“Eh!?” Delana langsung
terbangun dari tempat tidurnya. “Aku baru ingat!” serunya sambil berteriak.
Belvina memegangi
dadanya karena terkejut mendengar teriakan Delana. “Jantungku mau copot,
suaramu kurang keras!” maki Belvina.
“Hehehe.” Delana
meringis. “Sorry!” ucapnya.
“Ya udah, ingat apaan?”
tanya Belvina.
“Waktu di kafe kemarin.
Si Zoya itu cipika-cipiki aku. Terus, Chilton kayak marah gitu waktu Zoya cium
pipiku.”
“What!?” Belvina
membelalakan matanya. “Serius? Zoya siapa?’ tanyanya.
“Temennya dia. Artis
yang sering main sinetron itu.”
“Sinetron apaan?”
“Ah, aku nggak ingat
nama sinetronnya.”
“Berarti Zoya itu
cowok?”
Delana menganggukkan
kepala.
“Dan kamu cipika-cipiki
sama dia di depan Chilton?”
Delana menganggukkan
kepala lagi.
“Eh, kamu tuh bego atau
kelewat polos sih!?” sentak Belvina.
“Eh!?” Delana melongo
menatap Belvina.
“Kamu cipika-cipiki
sama cowok lain di depan Chilton. Cowok yang selama ini kamu sukai. Dia itu
udah mulai luluh dan deket sama kamu. Terus, kamu sia-siain gitu aja. Kalo kamu
sampe ciuman sama cowok lain di depan Chilton, bisa aja dia anggap kamu itu cewek
murahan,” cerocos Belvina.
“Cuma cipika-cipiki
doang, Bel. Lagian, buat artis kayak Zoya, itu sudah jadi hal biasa.”
“Iya. Sesama artis
emang udah biasa kayak gitu. Tapi, kamu kan bukan artis.” Belvina mendengus ke
arah Delana.
“Kok, omongan kamu sama
kayak Chilton?” tutur Delana heran.
“Chilton ngomong gitu
juga?” tany Belvina.
Delana menganggukkan
kepala.
“Astaga ...! Kamu udah
bener-bener bikin salah sama dia. Kamu harusnya minta maaf sama dia,” tutur
Belvina.
“Aku udah minta maaf.
Waktu pulang, kami baik-baik aja. Chilton nganterin aku pulang kayak biasanya
dan dia sama sekali nggak ngebahas soal ciuman pipi itu.
“Serius?”
“Dua rius!”
“Tapi, bisa aja si
Chilton sengaja nahan rasa keselnya ke kamu, Dan baru dia luapin sekarang.”
“Masa gitu sih, Bel?”
tanya Delana.
“Terus mau gimana lagi?
Emang masih ada salahmu yang lain lagi?” tanya Belvina.
Delana menggelengkan
kepala.
“Ya udah, Kamu minta
maaf sama Chilton!”
“Sudah, Bel. Aku rasa,
ada hal lain yang bikin dia berubah.”
“Apa?” tanya Belvina.
Delana mengedikkan
bahu.
“Perasaan kamu aja
kali, Del.”
“Semoga aja begitu,”
sahut Delana.
“Ya udah, nggak usah
terlalu dipikirin. Ntar juga pasti baik, kok.”
“Aku nggak mikirin,
tapi kepikiran.”
“Bawa santai aja.
Positif thinking!” pinta Belvina.
Delana menganggukkan
kepala. “Makasih ya, Bel!”
“Selow. Kalo ada
apa-apa, kamu cerita sama aku. Aku bakal bantu semampuku,” tutur Belvina.
“Makasih ...!” Delana
memeluk tubuh Belvina.
“Itu gunanya sahabat
‘kan?” Belvina tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Delana.
“Ya udah. Aku pulang
dulu ya!” pamit Delana.
“Pulang? Kirain mau
nginap di sini,” tutur Belvina.
“Nggaklah. Kasihan si
Bryan, aku tinggal-tinggal mulu.”
Belvina tertawa
menanggapi ucapan Delana. “Dia udah gede. Palingan kalo pas kamu pergi
nge-date. Dia pergi nge-date juga sama gebetannya.”
Delana menatap tajam ke
arah Belvina. “Aku rasa dia nggak begitu.”
“Kamu kan nggak tahu.
Nggak di rumah,” sahut Belvina.
“Tahu, dong! Dia sering
ngajak temen-temennya main ke rumah. Jarang banget dia main di luar. Sesekali
aja main di luar dan selalu bilang sama aku,kok.”
Belvina meringis
mendengar ucapan Delana. “Bercanda, Del. Kamu serius amat nanggepinnya.”
“Jelas aku serius kalo
itu menyangkut keluarga aku.”
“Iya, iya. Pulang gih
sana!” usir Belvina.
“Ngusir?” tanya Delana
mendelik ke arah Belvina.
“Loh? Kamu sendiri kan
yang bilang mau pulang?”
Delana mencebik ke arah
Belvina. Ia langsung meraih tasnya dan bergegas keluar meninggalkan Belvina
yang masih tertawa kecil di dalam kamarnya.
Delana mengendarai
motornya menuju rumah yang tak jauh dari asrama, Pikirannya berkelana,
menerka-nerka apa yang terjadi pada Chilton sehingga cowok itu tiba-tiba
bersikap dingin terhadapnya. Ia terus berdoa agar Chilton bisa menerima
kehadirannya dengan tulus. Ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan cowok
yang selama ini membuatnya menjadi wanita yang istimewa.
THEN LOVE BAB 23 : KERUMITAN YANG AKU SUKAI
BAB 23 - KERUMITAN YANG AKU SUKAI
Chilton, Delana dan Zoya bersama-sama keluar dari area kolam renang.
“Zoy, laper nih. Enaknya, makan di mana ya?’ tanya Chilton.
“Kalo habis berenang gini, kayaknya enak makan ikan bakar,” celetuk Zoya.
Chilton langsung menoleh ke arah Zoya. “Torani!” serunya. Ia dan Zoya saling bertepuk tangan dan berangkulan.
Delana menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh kedua cowok itu. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.
“Kamu bawa motor?” tanya Zoya.
Chilton menganggukkan kepala sambil mengerdipkan matanya.
“Licik!” celetuk Zoya. Ia sangat tahu alasan Chilton mengendarai sepeda motor ketimbang mobil. Sudah pasti, Delana akan memeluk pinggangnya ketika mereka sama-sama naik motor. Sedangkan di dalam mobil, ada jarak di antara mereka yang tak bisa membuat mereka berada sangat dekat.
Chilton tertawa kecil. Ia memasangkan helm ke kepala Delana. Membuat Zoya merasa iri dengan dua makhluk serasi yang ada di dekatnya.
Zoya tak ingin berlama-lama menikmati kemesraan yang terjadi di hadapannya. Ia langsung masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya ke rumah makan yang mereka inginkan.
“Temen kamu baik, ya. Ramah banget. Beda jauh sama kamu,” celetuk Delana saat ia masih di perjalanan.
Chilton tak menggubris ucapan Delana. Ia tetap fokus melajukan motornya ke arah rumah makan yang akan ia tuju bersama Zoya.
Sesampainya di rumah makan. Delana, Chilton dan Zoya langsung di sapa oleh pelayan rumah makan dengan ramah.
“Mau pesan apa, Mbak?” tanya pelayan dengan ramah.
“Mmh ... kepiting masih ada?” tanya Delana.
“Ada, Mbak.”
“Ya udah, kepiting lada hitam aja,” tutur Delana. Ia menoleh ke arah Chilton dan Zoya. “Kalian mau makan apa?” tanya Delana.
“Samain aja!” jawab Chilton dan Zoya serempak. Mereka saling menoleh dan ingin tertawa karena memiliki pemikiran yang sama.
Delana tertawa kecil. “Kepiting lada hitamnya tiga.” Delana mengacungkan ketiga jemarinya ke arah pelayan yang sudah memegang kertas dan pulpen di tangannya.
Delana menoleh kembali ke arah Chilton dan Zoya. “Minumnya apa?” tanya Delana.
“Es teh aja,” jawab Chilton.
“Jus ada, Mbak?” tanya Zoya pada pelayan restoran.
“Ada, Mas.”
“Jus mangga,” tutur Zoya.
Setelah memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, mereka memilih meja untuk makan. Mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengan kolam ikan.
Delana menyukai suasana restoran yang asri dan bersih. Rasanya, seperti sedang menikmati hidangan lezat di sebuah pedesaan.
“Del, kamu dulu sekolah di SMA mana?” tanya Zoya yang duduk berseberangan dengan Delana.
“SMA Heksa,” jawab Delana singkat.
“Oh, ya? Aku punya temen dari SMA Heksa,” tutur Zoya.
Delana hanya tersenyum menanggapinya. Sudah menjadi hal wajar kalau ada teman yang mengenal seseorang yang ada di masa lalu kita. Delana tak ingin banyak berpikir. Sebab, ada banyak siswa di SMA dan belum tentu ia mengenal orang yang dimaksud oleh Zoya.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Zoya.
“Di Gunung Bahagia,” jawab Delana.
“Deket sama kampus?” tanya Zoya.
Delana menganggukkan kepala.
“Iya. Dia ke kampus jalan kaki terus tiap hari,” sahut Chilton yang duduk di sebelah Delana.
“Hah!? Serius? Emangnya deket banget?”
“Deket. Cuma 300 meter, lima menit sampe,” jawab Delana.
“Yang di mananya rumahmu?” tanya Zoya penasaran.
“Kamu tahu gang yang depan kampus itu?” tanya Chilton sambil menatap Zoya serius.
“Tahu.” Zoya menganggukkan kepala.
“Masuk aja gang itu, lurus terus, mentok, belok kanan. Rumah mewah paling pertama sebelah kanan,” tutur Chilton menjelaskan.
“Idih, nggak mewah juga kali. Biasa aja,” sahut Delana.
“Yah, nggak mewah sih. Cuma ukuran 50x50 meter bangunannya, dua lantai,” tutur Chilton.
Delana langsung menyikut Chilton yang ada di sampingnya. “Berlebihan. Nggak nyampe segitu.”
“Terus? Berapa itu pastinya? Tiga puluh meter ada?” tanya Chilton sambil menahan tawa.
“Iih ... nggak nyampe. Palingan cuma dua puluh atau dua puluh lima meteran doang,” jawab Delana.
“Gede banget!” sahut Zoya.
“Kecil, Zoy. Cuma dua puluh lima meter doang!” Chilton menegaskan sambil menatap serius ke arah Zoya.
Zoya tertawa kecil. “Segitu kecil, yang gede seberapa?” celetuk Zoya.
“Satu hektar.”
“Iya. Terus rumahnya berjendela semua. Pagi, buka jendela dari ujung sampe ujung. Pas udah jendela yang terakhir, eh ... udah sore, tutup lagi jendelanya. Gitu aja kerjaannya tiap hari, buka tutup jendela,” ucap Zoya tergelak diikuti tawa Chilton dan Delana.
Saat mereka sedang asyik tertawa, makanan pesanan mereka datang.
Chilton menatap Zoya yang duduk di depannya. Ia senang karena sahabatnya itu bisa menghidupkan suasana. Kalau hanya berdua dengan Delana, ia sering canggung dan tidak tahu harus membicarakan apa selain masalah kampus dan tempat mereka mengajar.
“Del, kamu suka makan kepiting?” tanya Zoya.
Delana menganggukkan kepala.
“Kenapa kamu suka makanan yang rumit?” Zoya mengangkat capit kepiting sambil memerhatikan kepiting di tangannya.
“Rasanya enak.”
Zoya menyondongkan badannya menatap Delana. “Kamu tahu nggak artinya apa?”
“Arti apa?” Delana mengernyitkan dahinya.
“Kamu orang yang suka tantangan. Demi bisa mendapatkan rasa makanan yang enak. Kamu mau berusaha keras buat dapetin itu. Seperti kamu menyingkirkan cangkang-cangkang kepiting itu satu per satu,” tutur Zoya memperbaiki posisi duduknya.
Delana tersenyum. “Iya, kayak cintaku sama dia,” celetuknya.
“Hah!? Dia siapa?” tanya Zoya pura-pura tidak tahu sambil tersenyum kecil melirik Chilton yang ada di samping Delana.
“Ada, deh,” sahut Delana sambil tersenyum.
“Beruntung banget cowok yang dapetin cinta kamu,” tutur Zoya sambil menguyah makanan.
“Makan dulu, nggak usah cerita terus! Ntar keselek,” celetuk Chilton.
“Loh? Kan ... Uhuk ... uhuk ...!” Zoya tersedak makanan yang ia makan.
“Hmm ...!” Chilton bergumam melihat Zoya tersedak, rasanya belum sampai ia mengatupkan mulutnya, Zoya benar-benar tersedak.
“Minum dulu!” Delana menyodorkan air minum sambil menepuk-nepuk bahu Zoya. “Kalo makan hati-hati!” ucapnya.
Zoya langsung meminum air yang diberikan Delana. “Sial!” umpatnya.
“Ya udah, pelan-pelan makannya,” tutur Delana, ia kembali duduk di tempat duduknya.
“Nggak bakal mau dia makan kalo udah keselek kayak gitu,” tutur Chilton.
Delana mengangkat kedua alinya.
“Hilang nafsu makanku,” celetuk Zoya. Ia hanya menyeruput jus yang ada di depannya dan tidak mau melanjutkan makan.
“Lihat aku! Pasti nafsu makannya balik lagi,” canda Delana.
Zoya tergelak mendengar ucapan Delana. “Andai semudah itu,” batinnya.
Delana tersenyum manis menatap Zoya.
“Ntar malam, kita jalan yuk!” ajak Zoya.
Chilton dan Delana saling menatap, kemudian menoleh Zoya bersama-sama.“Ke mana?” tanya mereka bersamaan.
“Aku tunggu di Hobbies jam tujuh malam,” tutur Zoya.
“Oke,” jawab Chilton.
Sementara Delana tak menjawab. Ia masih belum bisa memastikan apakah ia bisa pergi ke tempat itu atau tidak.
“Kenapa?” Zoya menatap Delana yang sedang bengong.
“Eh!? Nggak papa,” sahut Delana. Ia tersenyum ke arah Zoya. “Aku cuma khawatir sama Bryan.”
Zoya mengangkat kedua alisnya. “Bryan?” Di kepalanya tiba-tiba ada tanda tanya besar tentang siapa sosok yang disebutkan Delana.
“Adik aku,” ucap Delana yang menyadari reaksi Zoya.
“Oh.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Chilton menghela napas. “Adik kamu itu kan udah besar. Aku rasa dia bisa ngurus dirinya sendiri.”
“Hmm ... iya, sih. Tapi aku suka khawatir kalau sering ninggalin dia. Dia tuh jarang banget mau makan di luar kayak gini. Kalau aku nggak masakin, dia pasti makan mie instan terus dan itu nggak baik buat kesehatan dia,” jelas Delana.
Chilton melihat jam yang ada di ponselnya. “Kamu khawatir sama makan malamnya dia?” tanyanya.
Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Ini masih jam satu siang. Kita bisa pulang dulu dan kamu masih sempat siapin makan malam untuk dia.”
“Hmm ... iya, juga sih.”
“Kenapa nggak diajak sekalian?” tanya Zoya.
“Dia nggak mau jalan sama temen-temenku,” jawab Delana.
“Ya, apalagi tahu kalo kakaknya mau ngedate sama cowok,” sahut Zoya.
“Apaan sih!?” ucap Delana tersipu.
Usai makan, Delana langsung bangkit dan berjalan menuju meja kasir.
“Chil, dia kebiasaan kayak gitu?” tanya Zoya yang langsung bangkit dari tempat duduknya ketika Delana sudah berada di meja kasir.
Chilton hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Parah nih anak!” tutur Zoya sambil menunjuk Chilton. “Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai laki-laki.” Zoya bergegas menghampiri Delana.
“Biar aku yang bayar!” Zoya menahan Delana agar tidak mengeluarkan uang dari dompetnya.
“Nggak papa. Biar aku yang bayar,” ucap Delana sambil tersenyum.
“Ah, nggak usah!” ucap Zoya kesal. “Biar saya yang bayar, Mba. Berapa semuanya?” tanya Zoya pada petugas kasir. Ia memaksa berdiri di depan Delana dan membuat tubuh Delana harus mundur tertabrak oleh tubuh Zoya.
“Tiga ratus dua puluh lima ribu, Mas,” jawab petugas kasir tersebut.
Zoya merogoh dompet dari saku celana. Ia menyerahkan empat lembar uang seratus ribu rupiah.
Chilton hanya tertawa kecil melihat adegan yang terjadi antara Zoya dan Delana. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Delana.
“Biar aja dia yang bayar,” ucap Chilton sambil memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari Delana dan menggenggamnya erat. “Pulang yuk!” bisiknya.
Delana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengikuti langkah Chilton yang menarik lengannya untuk pergi.
***
“Chil, mampir ke pasar dulu bisa nggak?” tanya Delana saat mereka masih di perjalanan pulang.
“Bisa. Mau ke pasar mana?” Chilton balik bertanya.
“Hmm ... ke BSB aja gin yang dekat,” jawab Delana.
“Cari apa emangnya?”
“Cari bahan masakan buat di rumah.”
“Oh. Oke.”
Chilton segera melajukan sepeda motornya menuju kawasan Balikpapan Super Blok.
Delana tak berlama-lama. Ia hanya membeli beberapa bahan yang ia butuhkan dan langsung pulang ke rumahnya bersama Chilton.
“Aku balik dulu, ya! Jam enam aku jemput,” pamit Chilton saat mereka sudah ada di depan rumah Delana.
Delana menganggukkan kepala. “Makasih ya!” ucapnya sambil mengangkat kantong belanja yang ia bawa.
“Iya. Santai aja,” ucap Chilton.
Delana tersenyum, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu gerbang rumahnya. Baru dua langkah berjalan, ia membalikkan tubuhnya kembali ke arah Chilton. “Kamu pulang ke Gunung Dubs?” tanya Delana.
Chilton menggelengkan kepala. “Ke asrama aja. Kenapa?”
“Nggak papa.” Delana tersenyum, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara Chilton mengendarai motornya menuju asrama.
“Dek, kamu udah makan?” tanya Delana saat masuk rumah dan mendapati adiknya sedang menonton televisi.
“Udah,” jawabnya sambil mengunyah snack yang ada di depannya.
Delana mengamati sekeliling Bryan yang terlihat kotor dan berantakan. “Astaga ...! Jorok banget sih kamu!?” seru Delana melihat beberapa bungkus snack berhamburan di lantai. Kulit kacang dan beberapa botol minuman bersoda. Ia mengambil satu buah cup bekas mie instan yang terletak di atas meja dan menciumnya.
“Ini makanan kapan?” tanya Delana menghindari bau asam yang sudah tercium dari sisa makanan tersebut.
“Tadi malam,” jawab Bryan santai.
“Dek, kakak kan udah bilang kalo mau ajak temen-temen nginap di sini, jangan berantakan!” Delana meletakkan tas ranselnya ke atas sofa dan mulai memunguti sampah satu per satu.
“Nanti aku beresin sendiri,” tutur Bryan.
Delana menghela napas. “Nantinya kapan lagi? Kamu malah asyik makan kayak gitu!” celetuk Delana sambil melanjutkan pekerjaannya membereskan ruang keluarga yang terlihat sangat kacau. Beberapa hari ini asisten rumah tangga Delana tidak akan datang karena anaknya sakit dan harus menunggunya di rumah sakit. Sehingga Delana harus membereskan rumahnya seorang diri.
“Dek, kakak ntar malam mau jalan. Kakak masakin sekarang untuk makan malam. Kamu nggak papa kan di rumah sendirian?” tanya Delana.
“Nggak usah dimasakin, Kak. Aku juga ada janji mau jalan bareng temen-temenku malam ini.”
“Serius?” tanya Delana menatap wajah Bryan dengan seksama.
“Iya.”
“Bagus, deh. Kalo gitu, Kakak bisa istirahat.” Delana melenggang menuju dapur, memasukkan belanjaan ke dalam kulkas dan lemari dapur. Kemudian ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar untuk tidur. Masih ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum ia bersiap pergi makan malam bersama Chilton dan Zoya.
***
Tepat jam enam sore, Delana sudah bersiap. Beberapa kali ia menatap tubuhnya di cermin. Ia khawatir kalau salah memilih pakaian atau menggunakan make up. Ia kemudian terpikir untuk melakukan panggilan video dengan Ivona yang sangat memahami tentang dunia fashion.
“Hai ... cantik banget!” sapa Ivona begitu panggilan video Delana tersambung. “Mau ke mana?” tanya Ivona.
“Mau jalan bareng Chilton,” ucap Delana tersipu. “Gimana penampilan aku, oke nggak?” tanya Delana sambil memamerkan riasan sederhana dan pakaian yang ia gunakan.
“Oke, banget! Dia pasti senang lihat kamu kayak gini.”
“Serius?” tanya Delana masih kurang yakin.
“Serius.” Ivona tersenyum pada Delana. “Selamat menikmati hari valentine ya!” lanjutnya.
“Eh!? Ini hari valentine?” tanya Delana.
“Iya. Astaga! Aku kira kamu mau ngerayain valentine bareng Chilton.”
“Mmh .. aku nggak sadar kalo ini hari valentine.”
“Capek deh!” Ivona memutar bola matanya.
“Kamu sendiri nggak ngerayain valentine?” tanya Delana.
“Ngerayain, dong! Malam ini aku mau clubbing bareng Belvi. Kamu mau ikut?” tanya Ivona.
“Aku udah ada janji jalan bareng Chilton.” Delana memasang wajah murung karena tidak bisa bergabung bersama dengan teman-temannya.
“Ya udah sih. Selamat menikmati waktu-waktumu bersamanya. Kita ngerti kok.”
Delana tersenyum. “Makasih ya!” tuturnya. Ia merasa senang karena punya dua sahabat baik yang sangat mengerti bagaimana keadaan Delana dan bagaimana Delana memperjuangkan cintanya untuk Chilton.
Delana mematikan panggilan videonya dan kembali mengamati tubuhnya di cermin. Ia menatap layar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias. Menunggu telepon dari Chilton.
Beberapa menit kemudian, ponsel Delana berdering. Ia langsung menyambar dan menjawab panggilan telepon dari Chilton.
“Halo ...!” sapa Delana sambil meraih tas yang ia letakkan di atas kursi dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
“Aku udah di depan,” tutur Chilton.
“Oke. Aku turun,” sahut Delana sambil menuruni anak tangga.
Chilton langsung mematikan teleponnya. Beberapa detik kemudian, ia melihat Delana keluar dari pintu rumah. Ia tersenyum menatap Delana yang semakin mendekat ke arahnya.
Delana memakai helmnya sendiri dan langsung naik ke atas motor Chilton.
“Udah siap?” tanya Chilton.
Delana menganggukkan kepala.
Chilton langsung melajukan motornya menuju ke arah jalan Sumber Rejo. Sesampainya di sana, Chilton langsung menelepon Zoya.
“Udah di mana Zoy?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.
“Udah di atas, di rooftop,” jawab Zoya.
Chilton mendongakkan kepala. Ia melihat Zoya sedang berdiri sambil menatapnya. Ia langsung mematikan panggilan telepon, memasukkan ponsel ke sakunya. Ia melepas helm dan mengambil helm Delana yang masih dipegang di tangannya dan turun dari motor.
Chilton menggenggam tangan Delana sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju rooftop. Hobbies Coffee memang tempat yang sangat romantis. Lampu-lampu kecil berwarna kuning yang penuh di atas langit-langit bangunan membuat para pelanggannya seakan-akan sedang menikmati makan malam di bawah taburan bintang-bintang.
Dari rooftop, mereka bisa melihat indahnya lampu kota Balikpapan di malam hari.
“Udah lama nunggu?” tanya Delana saat mereka sudah ada di hadapan Zoya.
“Belum. Kamu naik motor, Chil?” tanya Zoya.
“Iya. Kenapa?” tanya Chilton.
“Jalan malam gini naik motor. Kasihan Delana kedinginan,” celetuknya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kursi. Delana dan Chilton mengikutinya dari belakang.
“Enggak. Kita udah biasa jalan malam pakai motor.” Delana duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan Zoya.
“Oh ya? Kalian udah sering jalan bareng?” tanya Zoya.
Delana dan Chilton saling bertatapan.
“Iya,” jawab Chilton.
“Nggak.” Delana menjawab bersamaan dengan Chilton.
“Loh? Yang bener yang mana?” tanya Zoya.
“Maksudnya nggak sering, Zoy. Sesekali aja kita jalan bareng kalo lagi ada urusan. Kalo hari-hari kita emang sering pulang malam barengan pas ada tambahan jam ngajar,” jelas Delana dengan perasaan gugup.
“Ngajar?”
“Iya. Kita ngajar bareng di salah satu tempat les gitu.”
“Oh, jadi kalian kuliah sambil kerja?” tanya Zoya.
Delana menganggukkan kepala.
“Aku pikir kalian bukan mahasiswa yang kekurangan uang. Kenapa mau kerja? Di tempat les kayak gitu, gajinya nggak seberapa,” tutur Zoya.
Delana tersenyum menatap Zoya. “Buat ngisi waktu luang aja. Biar lebih bermanfaat. Daripada main PUBG atau Free Fire mulu?” celetuk Delana.
“Oh ... ya ya. I see.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala. “Kalian mau pesan apa?” tanya Zoya.
“Kopi aja, Zoy,” jawab Chilton.
“Kamu?” tanya Zoya menatap Delana.
“Jus aja,” jawab Delana.
“Jus apa?” tanya Zoya.
“Strawberry.”
“Makannya?”
“Aku sandwich aja, deh. Udah malam gini nggak baik makan makanan berat,” tutur Delana sambil melirik ke arah Chilton.
“Kamu, Chil?” tanya Zoya.
“Samain aja,” jawab Chilton.
Zoya tersenyum menatap dua orang temannya itu. “Bir gimana?” tanya Zoya.
“Boleh,” sahut Chilton.
Zoya langsung memesan semua makanan dan minuman yang akan mereka nikmati.
“Di sini pemandangannya bagus ya?” tutur Delana sambil melihat ke arah lampu-lampu kota yang bertaburan di hadapannya.
“Kamu belum pernah ke sini?” tanya Chilton yang duduk di sebelahnya.
Delana menggelengkan kepala.
“Del ...!” panggil Chilton lirih di telinga Delana.
Delana langsung menoleh dan menatap wajah Chilton yang begitu dekat dengannya. Hanya berjarak beberapa sentimeter dan itu membuat jantung Delana seperti mau lepas. Tatapan Chilton kali ini terasa berbeda. Ditambah lagi alunan lagu romantis yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya. Membuat suasana menjadi begitu romantis.
Chilton merasa Delana begitu istimewa di dalam hidupnya. Ia ingin sekali mengatakan kalau hari ini, dia telah menyukai gadis yang membutnya merasa istimewa. “Kamu gadis biasa yang membuatku jadi luar biasa,” bisik Chilton dalam hati. Ia tak sanggup mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya. Tatapan mata Delana telah menghanyutkan dirinya dan tenggelam dalam kasih sayang yang telah ia berikan selama ini.
“Hei, kenapa? Kok, malah ngelamun?” tanya Delana sambil menepuk pipi Chilton.
Chilton tersenyum dan menarik wajahnya menjauh dari wajah Delana. Ia menatap Zoya yang baru saja muncul kembali.
“Kalian kelihatan serasi, kenapa nggak jadian aja sekalian?” celetuk Zoya.
“Apa aku harus jadian sama seseorang cuma karena terlihat serasi di mata orang lain?” tanya Chilton balik.
Delana merasa hatinya dipukul keras mendengar ucapan Chilton. Ia merasa Chilton telah memberikan lampu hijau dan perhatian-perhatian kecil untuknya. Tapi, tetap saja ia terlihat angkuh di mata orang lain bahkan di depan sahabatnya sendiri.
“Gayamu!” sahut Zoya.
“Loh? Emang iya, kan? Kalo cuma dilihat dari serasinya doang, sama Luna Maya juga aku serasi,” celetuk Chilton.
“Pede banget ngomong gitu,” celetuk Zoya.
“Pede, lah. Ganteng gini,” sahut Chilton.
Delana ingin tertawa mendengar perdebatan dua orang laki-laki yang bersamanya itu. Ia merasa istimewa karena bisa menikmati malam valentine bersama dua laki-laki tampan.
Beberapa menit kemudian, hidangan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja. Mereka menikmati makan malam dan minum bir bersama.
“Chil, aku balik dulu ya!” pamit Zoya begitu mereka selesai makan malam.
“Cepet amat? Mau ngapain?” tanya Chilton.
“Managerku nelpon, suruh pulang secepatnya,” jawab Zoya.
“Oh, Oke.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala.
“Aku balik dulu ya!” pamit Zoya pada Delana. Ia menyalami Delana sambil cium pipi kanan cium pipi kiri sebagai tanda perpisahan seorang sahabat.
Chilton hampir melompat dari kursi saat Zoya dengan santai menempelkan pipinya ke pipi Delana. Ia merapatkan bibirnya menahan kekesalan. Sementara Zoya malah tersenyum ke arahnya sambil mengerdipkan mata dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Chil, temenmu itu kayak familiar banget. Apa aku pernah kenal dia sebelumnya ya?” celetuk Delana sambil menatap punggung Zoya yang perlahan menjauh, kemudian menghilang dari pandangannya.
“Dia artis.”
“Oh ya? Pantesan kayak nggak asing gitu!” seru Delana. “Wah, kamu punya teman baik artis. Asyik banget ya?” tutur Delana.
“Nggak asyik!” sahut Chilton kesal.
“Kenapa?” tanya Delana.
“Lihat aja sikapnya kayak gitu. Ketemu siapa aja cipika-cipiki. Sok akrab banget!” celetuk Chilton.
Delana menahan tawa. “Kamu cemburu?” tanyanya.
“Nggak.”
“Nggak usah merengut gitu kalo nggak cemburu! Biasa aja. Toh, buat artis kayak dia, cipika-cipiki udah jadi hal biasa,” tutur Delana.
“Masalahnya, kamu itu kan bukan artis,” sahut Chilton makin kesal.
“Jadi, maunya kamu gimana?” tanya Delana lembut. Ia sendiri tak bisa menolak Zoya yang tiba-tiba mengajaknya berciuman pipi.
Chilton menatap tajam ke arah Delana. Entah kenapa ia merasa kesal melihat adegan cium pipi yang ia lihat di depan matanya. Padahal, ia sudah terbiasa melihat Zoya berciuman dengan wanita lain yang bukan teman artis maupun teman baiknya. Tapi ketika Delana yang terlibat dalam adegan itu, ia merasa kesal dan ingin sekali memaki Zoya. Apa ini pertanda kalau Chilton telah benar-benar menyukai Delana?
Delana berusaha merayu Chilton agar mood-nya kembali baik dan mengajaknya untuk pulang. Chilton berusaha menata hatinya agar tak cemburu. Namun, bayangan adegan cium pipi itu terus terlintas di kepalanya sepanjang perjalanan mengantar Delana pulang. Membuatnya merasa aneh, sangat aneh.
.png)
.png)