BAB 23 - KERUMITAN YANG AKU SUKAI
Chilton, Delana dan Zoya bersama-sama keluar dari area kolam renang.
“Zoy, laper nih. Enaknya, makan di mana ya?’ tanya Chilton.
“Kalo habis berenang gini, kayaknya enak makan ikan bakar,” celetuk Zoya.
Chilton langsung menoleh ke arah Zoya. “Torani!” serunya. Ia dan Zoya saling bertepuk tangan dan berangkulan.
Delana menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah aneh kedua cowok itu. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.
“Kamu bawa motor?” tanya Zoya.
Chilton menganggukkan kepala sambil mengerdipkan matanya.
“Licik!” celetuk Zoya. Ia sangat tahu alasan Chilton mengendarai sepeda motor ketimbang mobil. Sudah pasti, Delana akan memeluk pinggangnya ketika mereka sama-sama naik motor. Sedangkan di dalam mobil, ada jarak di antara mereka yang tak bisa membuat mereka berada sangat dekat.
Chilton tertawa kecil. Ia memasangkan helm ke kepala Delana. Membuat Zoya merasa iri dengan dua makhluk serasi yang ada di dekatnya.
Zoya tak ingin berlama-lama menikmati kemesraan yang terjadi di hadapannya. Ia langsung masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya ke rumah makan yang mereka inginkan.
“Temen kamu baik, ya. Ramah banget. Beda jauh sama kamu,” celetuk Delana saat ia masih di perjalanan.
Chilton tak menggubris ucapan Delana. Ia tetap fokus melajukan motornya ke arah rumah makan yang akan ia tuju bersama Zoya.
Sesampainya di rumah makan. Delana, Chilton dan Zoya langsung di sapa oleh pelayan rumah makan dengan ramah.
“Mau pesan apa, Mbak?” tanya pelayan dengan ramah.
“Mmh ... kepiting masih ada?” tanya Delana.
“Ada, Mbak.”
“Ya udah, kepiting lada hitam aja,” tutur Delana. Ia menoleh ke arah Chilton dan Zoya. “Kalian mau makan apa?” tanya Delana.
“Samain aja!” jawab Chilton dan Zoya serempak. Mereka saling menoleh dan ingin tertawa karena memiliki pemikiran yang sama.
Delana tertawa kecil. “Kepiting lada hitamnya tiga.” Delana mengacungkan ketiga jemarinya ke arah pelayan yang sudah memegang kertas dan pulpen di tangannya.
Delana menoleh kembali ke arah Chilton dan Zoya. “Minumnya apa?” tanya Delana.
“Es teh aja,” jawab Chilton.
“Jus ada, Mbak?” tanya Zoya pada pelayan restoran.
“Ada, Mas.”
“Jus mangga,” tutur Zoya.
Setelah memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, mereka memilih meja untuk makan. Mereka duduk di salah satu meja yang dekat dengan kolam ikan.
Delana menyukai suasana restoran yang asri dan bersih. Rasanya, seperti sedang menikmati hidangan lezat di sebuah pedesaan.
“Del, kamu dulu sekolah di SMA mana?” tanya Zoya yang duduk berseberangan dengan Delana.
“SMA Heksa,” jawab Delana singkat.
“Oh, ya? Aku punya temen dari SMA Heksa,” tutur Zoya.
Delana hanya tersenyum menanggapinya. Sudah menjadi hal wajar kalau ada teman yang mengenal seseorang yang ada di masa lalu kita. Delana tak ingin banyak berpikir. Sebab, ada banyak siswa di SMA dan belum tentu ia mengenal orang yang dimaksud oleh Zoya.
“Kamu tinggal di mana?” tanya Zoya.
“Di Gunung Bahagia,” jawab Delana.
“Deket sama kampus?” tanya Zoya.
Delana menganggukkan kepala.
“Iya. Dia ke kampus jalan kaki terus tiap hari,” sahut Chilton yang duduk di sebelah Delana.
“Hah!? Serius? Emangnya deket banget?”
“Deket. Cuma 300 meter, lima menit sampe,” jawab Delana.
“Yang di mananya rumahmu?” tanya Zoya penasaran.
“Kamu tahu gang yang depan kampus itu?” tanya Chilton sambil menatap Zoya serius.
“Tahu.” Zoya menganggukkan kepala.
“Masuk aja gang itu, lurus terus, mentok, belok kanan. Rumah mewah paling pertama sebelah kanan,” tutur Chilton menjelaskan.
“Idih, nggak mewah juga kali. Biasa aja,” sahut Delana.
“Yah, nggak mewah sih. Cuma ukuran 50x50 meter bangunannya, dua lantai,” tutur Chilton.
Delana langsung menyikut Chilton yang ada di sampingnya. “Berlebihan. Nggak nyampe segitu.”
“Terus? Berapa itu pastinya? Tiga puluh meter ada?” tanya Chilton sambil menahan tawa.
“Iih ... nggak nyampe. Palingan cuma dua puluh atau dua puluh lima meteran doang,” jawab Delana.
“Gede banget!” sahut Zoya.
“Kecil, Zoy. Cuma dua puluh lima meter doang!” Chilton menegaskan sambil menatap serius ke arah Zoya.
Zoya tertawa kecil. “Segitu kecil, yang gede seberapa?” celetuk Zoya.
“Satu hektar.”
“Iya. Terus rumahnya berjendela semua. Pagi, buka jendela dari ujung sampe ujung. Pas udah jendela yang terakhir, eh ... udah sore, tutup lagi jendelanya. Gitu aja kerjaannya tiap hari, buka tutup jendela,” ucap Zoya tergelak diikuti tawa Chilton dan Delana.
Saat mereka sedang asyik tertawa, makanan pesanan mereka datang.
Chilton menatap Zoya yang duduk di depannya. Ia senang karena sahabatnya itu bisa menghidupkan suasana. Kalau hanya berdua dengan Delana, ia sering canggung dan tidak tahu harus membicarakan apa selain masalah kampus dan tempat mereka mengajar.
“Del, kamu suka makan kepiting?” tanya Zoya.
Delana menganggukkan kepala.
“Kenapa kamu suka makanan yang rumit?” Zoya mengangkat capit kepiting sambil memerhatikan kepiting di tangannya.
“Rasanya enak.”
Zoya menyondongkan badannya menatap Delana. “Kamu tahu nggak artinya apa?”
“Arti apa?” Delana mengernyitkan dahinya.
“Kamu orang yang suka tantangan. Demi bisa mendapatkan rasa makanan yang enak. Kamu mau berusaha keras buat dapetin itu. Seperti kamu menyingkirkan cangkang-cangkang kepiting itu satu per satu,” tutur Zoya memperbaiki posisi duduknya.
Delana tersenyum. “Iya, kayak cintaku sama dia,” celetuknya.
“Hah!? Dia siapa?” tanya Zoya pura-pura tidak tahu sambil tersenyum kecil melirik Chilton yang ada di samping Delana.
“Ada, deh,” sahut Delana sambil tersenyum.
“Beruntung banget cowok yang dapetin cinta kamu,” tutur Zoya sambil menguyah makanan.
“Makan dulu, nggak usah cerita terus! Ntar keselek,” celetuk Chilton.
“Loh? Kan ... Uhuk ... uhuk ...!” Zoya tersedak makanan yang ia makan.
“Hmm ...!” Chilton bergumam melihat Zoya tersedak, rasanya belum sampai ia mengatupkan mulutnya, Zoya benar-benar tersedak.
“Minum dulu!” Delana menyodorkan air minum sambil menepuk-nepuk bahu Zoya. “Kalo makan hati-hati!” ucapnya.
Zoya langsung meminum air yang diberikan Delana. “Sial!” umpatnya.
“Ya udah, pelan-pelan makannya,” tutur Delana, ia kembali duduk di tempat duduknya.
“Nggak bakal mau dia makan kalo udah keselek kayak gitu,” tutur Chilton.
Delana mengangkat kedua alinya.
“Hilang nafsu makanku,” celetuk Zoya. Ia hanya menyeruput jus yang ada di depannya dan tidak mau melanjutkan makan.
“Lihat aku! Pasti nafsu makannya balik lagi,” canda Delana.
Zoya tergelak mendengar ucapan Delana. “Andai semudah itu,” batinnya.
Delana tersenyum manis menatap Zoya.
“Ntar malam, kita jalan yuk!” ajak Zoya.
Chilton dan Delana saling menatap, kemudian menoleh Zoya bersama-sama.“Ke mana?” tanya mereka bersamaan.
“Aku tunggu di Hobbies jam tujuh malam,” tutur Zoya.
“Oke,” jawab Chilton.
Sementara Delana tak menjawab. Ia masih belum bisa memastikan apakah ia bisa pergi ke tempat itu atau tidak.
“Kenapa?” Zoya menatap Delana yang sedang bengong.
“Eh!? Nggak papa,” sahut Delana. Ia tersenyum ke arah Zoya. “Aku cuma khawatir sama Bryan.”
Zoya mengangkat kedua alisnya. “Bryan?” Di kepalanya tiba-tiba ada tanda tanya besar tentang siapa sosok yang disebutkan Delana.
“Adik aku,” ucap Delana yang menyadari reaksi Zoya.
“Oh.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
Chilton menghela napas. “Adik kamu itu kan udah besar. Aku rasa dia bisa ngurus dirinya sendiri.”
“Hmm ... iya, sih. Tapi aku suka khawatir kalau sering ninggalin dia. Dia tuh jarang banget mau makan di luar kayak gini. Kalau aku nggak masakin, dia pasti makan mie instan terus dan itu nggak baik buat kesehatan dia,” jelas Delana.
Chilton melihat jam yang ada di ponselnya. “Kamu khawatir sama makan malamnya dia?” tanyanya.
Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Ini masih jam satu siang. Kita bisa pulang dulu dan kamu masih sempat siapin makan malam untuk dia.”
“Hmm ... iya, juga sih.”
“Kenapa nggak diajak sekalian?” tanya Zoya.
“Dia nggak mau jalan sama temen-temenku,” jawab Delana.
“Ya, apalagi tahu kalo kakaknya mau ngedate sama cowok,” sahut Zoya.
“Apaan sih!?” ucap Delana tersipu.
Usai makan, Delana langsung bangkit dan berjalan menuju meja kasir.
“Chil, dia kebiasaan kayak gitu?” tanya Zoya yang langsung bangkit dari tempat duduknya ketika Delana sudah berada di meja kasir.
Chilton hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Parah nih anak!” tutur Zoya sambil menunjuk Chilton. “Mau ditaruh di mana harga diriku sebagai laki-laki.” Zoya bergegas menghampiri Delana.
“Biar aku yang bayar!” Zoya menahan Delana agar tidak mengeluarkan uang dari dompetnya.
“Nggak papa. Biar aku yang bayar,” ucap Delana sambil tersenyum.
“Ah, nggak usah!” ucap Zoya kesal. “Biar saya yang bayar, Mba. Berapa semuanya?” tanya Zoya pada petugas kasir. Ia memaksa berdiri di depan Delana dan membuat tubuh Delana harus mundur tertabrak oleh tubuh Zoya.
“Tiga ratus dua puluh lima ribu, Mas,” jawab petugas kasir tersebut.
Zoya merogoh dompet dari saku celana. Ia menyerahkan empat lembar uang seratus ribu rupiah.
Chilton hanya tertawa kecil melihat adegan yang terjadi antara Zoya dan Delana. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Delana.
“Biar aja dia yang bayar,” ucap Chilton sambil memasukkan jemari tangannya ke sela-sela jemari Delana dan menggenggamnya erat. “Pulang yuk!” bisiknya.
Delana tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengikuti langkah Chilton yang menarik lengannya untuk pergi.
***
“Chil, mampir ke pasar dulu bisa nggak?” tanya Delana saat mereka masih di perjalanan pulang.
“Bisa. Mau ke pasar mana?” Chilton balik bertanya.
“Hmm ... ke BSB aja gin yang dekat,” jawab Delana.
“Cari apa emangnya?”
“Cari bahan masakan buat di rumah.”
“Oh. Oke.”
Chilton segera melajukan sepeda motornya menuju kawasan Balikpapan Super Blok.
Delana tak berlama-lama. Ia hanya membeli beberapa bahan yang ia butuhkan dan langsung pulang ke rumahnya bersama Chilton.
“Aku balik dulu, ya! Jam enam aku jemput,” pamit Chilton saat mereka sudah ada di depan rumah Delana.
Delana menganggukkan kepala. “Makasih ya!” ucapnya sambil mengangkat kantong belanja yang ia bawa.
“Iya. Santai aja,” ucap Chilton.
Delana tersenyum, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu gerbang rumahnya. Baru dua langkah berjalan, ia membalikkan tubuhnya kembali ke arah Chilton. “Kamu pulang ke Gunung Dubs?” tanya Delana.
Chilton menggelengkan kepala. “Ke asrama aja. Kenapa?”
“Nggak papa.” Delana tersenyum, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Sementara Chilton mengendarai motornya menuju asrama.
“Dek, kamu udah makan?” tanya Delana saat masuk rumah dan mendapati adiknya sedang menonton televisi.
“Udah,” jawabnya sambil mengunyah snack yang ada di depannya.
Delana mengamati sekeliling Bryan yang terlihat kotor dan berantakan. “Astaga ...! Jorok banget sih kamu!?” seru Delana melihat beberapa bungkus snack berhamburan di lantai. Kulit kacang dan beberapa botol minuman bersoda. Ia mengambil satu buah cup bekas mie instan yang terletak di atas meja dan menciumnya.
“Ini makanan kapan?” tanya Delana menghindari bau asam yang sudah tercium dari sisa makanan tersebut.
“Tadi malam,” jawab Bryan santai.
“Dek, kakak kan udah bilang kalo mau ajak temen-temen nginap di sini, jangan berantakan!” Delana meletakkan tas ranselnya ke atas sofa dan mulai memunguti sampah satu per satu.
“Nanti aku beresin sendiri,” tutur Bryan.
Delana menghela napas. “Nantinya kapan lagi? Kamu malah asyik makan kayak gitu!” celetuk Delana sambil melanjutkan pekerjaannya membereskan ruang keluarga yang terlihat sangat kacau. Beberapa hari ini asisten rumah tangga Delana tidak akan datang karena anaknya sakit dan harus menunggunya di rumah sakit. Sehingga Delana harus membereskan rumahnya seorang diri.
“Dek, kakak ntar malam mau jalan. Kakak masakin sekarang untuk makan malam. Kamu nggak papa kan di rumah sendirian?” tanya Delana.
“Nggak usah dimasakin, Kak. Aku juga ada janji mau jalan bareng temen-temenku malam ini.”
“Serius?” tanya Delana menatap wajah Bryan dengan seksama.
“Iya.”
“Bagus, deh. Kalo gitu, Kakak bisa istirahat.” Delana melenggang menuju dapur, memasukkan belanjaan ke dalam kulkas dan lemari dapur. Kemudian ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar untuk tidur. Masih ada waktu untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum ia bersiap pergi makan malam bersama Chilton dan Zoya.
***
Tepat jam enam sore, Delana sudah bersiap. Beberapa kali ia menatap tubuhnya di cermin. Ia khawatir kalau salah memilih pakaian atau menggunakan make up. Ia kemudian terpikir untuk melakukan panggilan video dengan Ivona yang sangat memahami tentang dunia fashion.
“Hai ... cantik banget!” sapa Ivona begitu panggilan video Delana tersambung. “Mau ke mana?” tanya Ivona.
“Mau jalan bareng Chilton,” ucap Delana tersipu. “Gimana penampilan aku, oke nggak?” tanya Delana sambil memamerkan riasan sederhana dan pakaian yang ia gunakan.
“Oke, banget! Dia pasti senang lihat kamu kayak gini.”
“Serius?” tanya Delana masih kurang yakin.
“Serius.” Ivona tersenyum pada Delana. “Selamat menikmati hari valentine ya!” lanjutnya.
“Eh!? Ini hari valentine?” tanya Delana.
“Iya. Astaga! Aku kira kamu mau ngerayain valentine bareng Chilton.”
“Mmh .. aku nggak sadar kalo ini hari valentine.”
“Capek deh!” Ivona memutar bola matanya.
“Kamu sendiri nggak ngerayain valentine?” tanya Delana.
“Ngerayain, dong! Malam ini aku mau clubbing bareng Belvi. Kamu mau ikut?” tanya Ivona.
“Aku udah ada janji jalan bareng Chilton.” Delana memasang wajah murung karena tidak bisa bergabung bersama dengan teman-temannya.
“Ya udah sih. Selamat menikmati waktu-waktumu bersamanya. Kita ngerti kok.”
Delana tersenyum. “Makasih ya!” tuturnya. Ia merasa senang karena punya dua sahabat baik yang sangat mengerti bagaimana keadaan Delana dan bagaimana Delana memperjuangkan cintanya untuk Chilton.
Delana mematikan panggilan videonya dan kembali mengamati tubuhnya di cermin. Ia menatap layar ponsel yang ia letakkan di atas meja rias. Menunggu telepon dari Chilton.
Beberapa menit kemudian, ponsel Delana berdering. Ia langsung menyambar dan menjawab panggilan telepon dari Chilton.
“Halo ...!” sapa Delana sambil meraih tas yang ia letakkan di atas kursi dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
“Aku udah di depan,” tutur Chilton.
“Oke. Aku turun,” sahut Delana sambil menuruni anak tangga.
Chilton langsung mematikan teleponnya. Beberapa detik kemudian, ia melihat Delana keluar dari pintu rumah. Ia tersenyum menatap Delana yang semakin mendekat ke arahnya.
Delana memakai helmnya sendiri dan langsung naik ke atas motor Chilton.
“Udah siap?” tanya Chilton.
Delana menganggukkan kepala.
Chilton langsung melajukan motornya menuju ke arah jalan Sumber Rejo. Sesampainya di sana, Chilton langsung menelepon Zoya.
“Udah di mana Zoy?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.
“Udah di atas, di rooftop,” jawab Zoya.
Chilton mendongakkan kepala. Ia melihat Zoya sedang berdiri sambil menatapnya. Ia langsung mematikan panggilan telepon, memasukkan ponsel ke sakunya. Ia melepas helm dan mengambil helm Delana yang masih dipegang di tangannya dan turun dari motor.
Chilton menggenggam tangan Delana sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju rooftop. Hobbies Coffee memang tempat yang sangat romantis. Lampu-lampu kecil berwarna kuning yang penuh di atas langit-langit bangunan membuat para pelanggannya seakan-akan sedang menikmati makan malam di bawah taburan bintang-bintang.
Dari rooftop, mereka bisa melihat indahnya lampu kota Balikpapan di malam hari.
“Udah lama nunggu?” tanya Delana saat mereka sudah ada di hadapan Zoya.
“Belum. Kamu naik motor, Chil?” tanya Zoya.
“Iya. Kenapa?” tanya Chilton.
“Jalan malam gini naik motor. Kasihan Delana kedinginan,” celetuknya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kursi. Delana dan Chilton mengikutinya dari belakang.
“Enggak. Kita udah biasa jalan malam pakai motor.” Delana duduk di salah satu kursi yang berseberangan dengan Zoya.
“Oh ya? Kalian udah sering jalan bareng?” tanya Zoya.
Delana dan Chilton saling bertatapan.
“Iya,” jawab Chilton.
“Nggak.” Delana menjawab bersamaan dengan Chilton.
“Loh? Yang bener yang mana?” tanya Zoya.
“Maksudnya nggak sering, Zoy. Sesekali aja kita jalan bareng kalo lagi ada urusan. Kalo hari-hari kita emang sering pulang malam barengan pas ada tambahan jam ngajar,” jelas Delana dengan perasaan gugup.
“Ngajar?”
“Iya. Kita ngajar bareng di salah satu tempat les gitu.”
“Oh, jadi kalian kuliah sambil kerja?” tanya Zoya.
Delana menganggukkan kepala.
“Aku pikir kalian bukan mahasiswa yang kekurangan uang. Kenapa mau kerja? Di tempat les kayak gitu, gajinya nggak seberapa,” tutur Zoya.
Delana tersenyum menatap Zoya. “Buat ngisi waktu luang aja. Biar lebih bermanfaat. Daripada main PUBG atau Free Fire mulu?” celetuk Delana.
“Oh ... ya ya. I see.” Zoya mengangguk-anggukkan kepala. “Kalian mau pesan apa?” tanya Zoya.
“Kopi aja, Zoy,” jawab Chilton.
“Kamu?” tanya Zoya menatap Delana.
“Jus aja,” jawab Delana.
“Jus apa?” tanya Zoya.
“Strawberry.”
“Makannya?”
“Aku sandwich aja, deh. Udah malam gini nggak baik makan makanan berat,” tutur Delana sambil melirik ke arah Chilton.
“Kamu, Chil?” tanya Zoya.
“Samain aja,” jawab Chilton.
Zoya tersenyum menatap dua orang temannya itu. “Bir gimana?” tanya Zoya.
“Boleh,” sahut Chilton.
Zoya langsung memesan semua makanan dan minuman yang akan mereka nikmati.
“Di sini pemandangannya bagus ya?” tutur Delana sambil melihat ke arah lampu-lampu kota yang bertaburan di hadapannya.
“Kamu belum pernah ke sini?” tanya Chilton yang duduk di sebelahnya.
Delana menggelengkan kepala.
“Del ...!” panggil Chilton lirih di telinga Delana.
Delana langsung menoleh dan menatap wajah Chilton yang begitu dekat dengannya. Hanya berjarak beberapa sentimeter dan itu membuat jantung Delana seperti mau lepas. Tatapan Chilton kali ini terasa berbeda. Ditambah lagi alunan lagu romantis yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya. Membuat suasana menjadi begitu romantis.
Chilton merasa Delana begitu istimewa di dalam hidupnya. Ia ingin sekali mengatakan kalau hari ini, dia telah menyukai gadis yang membutnya merasa istimewa. “Kamu gadis biasa yang membuatku jadi luar biasa,” bisik Chilton dalam hati. Ia tak sanggup mengeluarkan kalimat itu dari bibirnya. Tatapan mata Delana telah menghanyutkan dirinya dan tenggelam dalam kasih sayang yang telah ia berikan selama ini.
“Hei, kenapa? Kok, malah ngelamun?” tanya Delana sambil menepuk pipi Chilton.
Chilton tersenyum dan menarik wajahnya menjauh dari wajah Delana. Ia menatap Zoya yang baru saja muncul kembali.
“Kalian kelihatan serasi, kenapa nggak jadian aja sekalian?” celetuk Zoya.
“Apa aku harus jadian sama seseorang cuma karena terlihat serasi di mata orang lain?” tanya Chilton balik.
Delana merasa hatinya dipukul keras mendengar ucapan Chilton. Ia merasa Chilton telah memberikan lampu hijau dan perhatian-perhatian kecil untuknya. Tapi, tetap saja ia terlihat angkuh di mata orang lain bahkan di depan sahabatnya sendiri.
“Gayamu!” sahut Zoya.
“Loh? Emang iya, kan? Kalo cuma dilihat dari serasinya doang, sama Luna Maya juga aku serasi,” celetuk Chilton.
“Pede banget ngomong gitu,” celetuk Zoya.
“Pede, lah. Ganteng gini,” sahut Chilton.
Delana ingin tertawa mendengar perdebatan dua orang laki-laki yang bersamanya itu. Ia merasa istimewa karena bisa menikmati malam valentine bersama dua laki-laki tampan.
Beberapa menit kemudian, hidangan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja. Mereka menikmati makan malam dan minum bir bersama.
“Chil, aku balik dulu ya!” pamit Zoya begitu mereka selesai makan malam.
“Cepet amat? Mau ngapain?” tanya Chilton.
“Managerku nelpon, suruh pulang secepatnya,” jawab Zoya.
“Oh, Oke.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala.
“Aku balik dulu ya!” pamit Zoya pada Delana. Ia menyalami Delana sambil cium pipi kanan cium pipi kiri sebagai tanda perpisahan seorang sahabat.
Chilton hampir melompat dari kursi saat Zoya dengan santai menempelkan pipinya ke pipi Delana. Ia merapatkan bibirnya menahan kekesalan. Sementara Zoya malah tersenyum ke arahnya sambil mengerdipkan mata dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Chil, temenmu itu kayak familiar banget. Apa aku pernah kenal dia sebelumnya ya?” celetuk Delana sambil menatap punggung Zoya yang perlahan menjauh, kemudian menghilang dari pandangannya.
“Dia artis.”
“Oh ya? Pantesan kayak nggak asing gitu!” seru Delana. “Wah, kamu punya teman baik artis. Asyik banget ya?” tutur Delana.
“Nggak asyik!” sahut Chilton kesal.
“Kenapa?” tanya Delana.
“Lihat aja sikapnya kayak gitu. Ketemu siapa aja cipika-cipiki. Sok akrab banget!” celetuk Chilton.
Delana menahan tawa. “Kamu cemburu?” tanyanya.
“Nggak.”
“Nggak usah merengut gitu kalo nggak cemburu! Biasa aja. Toh, buat artis kayak dia, cipika-cipiki udah jadi hal biasa,” tutur Delana.
“Masalahnya, kamu itu kan bukan artis,” sahut Chilton makin kesal.
“Jadi, maunya kamu gimana?” tanya Delana lembut. Ia sendiri tak bisa menolak Zoya yang tiba-tiba mengajaknya berciuman pipi.
Chilton menatap tajam ke arah Delana. Entah kenapa ia merasa kesal melihat adegan cium pipi yang ia lihat di depan matanya. Padahal, ia sudah terbiasa melihat Zoya berciuman dengan wanita lain yang bukan teman artis maupun teman baiknya. Tapi ketika Delana yang terlibat dalam adegan itu, ia merasa kesal dan ingin sekali memaki Zoya. Apa ini pertanda kalau Chilton telah benar-benar menyukai Delana?
Delana berusaha merayu Chilton agar mood-nya kembali baik dan mengajaknya untuk pulang. Chilton berusaha menata hatinya agar tak cemburu. Namun, bayangan adegan cium pipi itu terus terlintas di kepalanya sepanjang perjalanan mengantar Delana pulang. Membuatnya merasa aneh, sangat aneh.
.png)
0 komentar:
Post a Comment