Monday, September 8, 2025

THEN LOVE BAB 22 : SAHABAT DARI MASA LALU

 BAB 22 - SAHABAT DARI MASA LALU



Zoya Al-Gifari adalah murid baru di SMA Lima. Ia terlihat berbeda karena punya latar belakang keluarga yang biasa dan berasal dari kampung dan kerap kali dibully oleh teman-teman sekolahnya.

“Eh, kok ada sampah lewat sini?” celetuk salah satu murid saat Zoya melintas.

“Hahaha. Orang kampung bau lumpur,” sahut murid lain sambil menutup hidungnya.

“Semoga aja kita nggak ketularan kampungan kayak dia,” balas murid lainnya.

Zoya tak menghiraukan ucapan teman-teman sekolahnya. Ia tetap berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Bisa bersekolah di sekolah elite ini adalah kebanggaan tersendiri untuk ayahnya. Ia tidak ingin membuat ayahnya kecewa hanya karena ia tak sanggup menghadapi ejekan dari teman-teman sekolahnya.

Belum sampai di kelas, Zoya dihadang oleh tiga orang cowok, di belakangnya masih ada beberapa murid lagi. Zoya sangat hapal dengan wajah ketiga kakak kelas yang juga menjadi penguasa sekolah.

“Mau ke mana?” tanya kakak kelas yang menjadi ketua gang. Ia menatap Zoya dengan sikap angkuh dan senyuman sinis.

“Mau ke kelas,” jawab Zoya lirih. Ia tidak ingin mencari masalah dengan meladeni kakak kelasnya tersebut.

“Emang punya kelas di sini?” tanya yang lain.

“Orang kampung mana punya kelas di sini,” sahut murid lainnya lagi.

“Di sini sekolah buat anak-anak keturunan bangsawan.”

“Orang kampung kelasnya di sawah.”

“Nggak tahu diri.”

“Dasar anak kampung!”

Zoya mendengar teman-teman sekolah mengejeknya bersahut-sahutan. Ia hanya diam. Tidak ingin membalas ucapan mereka.

“Heh, kenapa diam aja?” Kakak kelas tersebut mendorong pundak Zoya hingga membuatnya sedikit mundur.

“Jangan-jangan dia nggak punya kuping,” celetuk murid lain.

“Punya. Tapi ketutupan lumpur. Hahaha,” ejek ketua gang yang disahut dengan tawa lainnya.

Zoya tak menghiraukan, ia berusaha menerobos kerumunan siswa yang menghadangnya karena ia takut terlambat masuk ke dalam kelas.

“Mau ke mana?” Kakak kelas itu mendorong Zoya dan membuat tubuhnya terhuyung. “Heh!?” Kakak kelas itu memberi isyarat pada salah satu teman yang akhirnya menarik tas Zoya dengan paksa.

Zoya berusaha mempertahankan tasnya dan membuat mereka akhirnya saling tarik menarik. Tas Zoya terlepas dan ia tersungkur ke lantai.

Salah satu murid sengaja menginjak telapak tangan Zoya dan memutar kakinya dengan keras.

Zoya meringis kesakitan.

“Kalian ngapain?” Tiba-tiba seseorang muncul di belakang Zoya. Ia menarik lengan Zoya untuk bangkit.

“Hei, Chil! Kamu mau berteman sama anak kampung kayak dia? Mending gabung sama kita,” tutur ketua gang dengan angkuhnya.

“Kalian pikir, kalian lebih baik?” sahut Chilton dengan sikap yang tak kalah angkuh.

Semua murid di depannya terdiam.

“Balikin tasnya!” pinta Chilton.

Murid yang memegangi tas Zoya menatap ketua gangnya. Ia tak berani menyerahkan tas tersebut tanpa izin dari ketua gangnya.

“Balikin!” sentak Chilton dengan nada tinggi.

Ketua gang menarik tas yang ada di tangan temannya dan melemparkannya pada Chilton. Ia menatap Chilton sinis dan mengajak teman-temannya pergi meninggalkan Chilton dan Zoya.

“Kamu nggak papa?” tanya Chilton pada Zoya. Ia menyerahkan tas Zoya.

“Nggak papa. Makasih banyak, ya!” ucap Zoya.

“Santai aja!” Chilton merangkul Zoya dan melangkah bersama menuju kelas mereka.

Sejak hari itu, Chilton dan Zoya menjadi teman baik. Chilton merasa nyaman berteman dengan Zoya yang tak pernah neko-neko. Zoya juga senang dengan kehadiran Chilton dalam hidupnya, teman yang menerima dia apa adanya dan membuatnya merasa menjadi manusia sungguhan.

***

Zoya dan Chilton berbaring di kamar saat mereka sudah pulang sekolah.

“Chil, udah ngerjain tugas Bahasa Indonesia?” tanya Zoya.

“Tugas apa itu?” tanya Chilton tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

“Yang disuruh bikin skenario itu,” jawab Zoya.

“Oh ... tugas kelompok kan itu?” tanya Chilton.

“Mana ada. Tugas sendiri-sendiri yang nulis skenario itu. Yang kelompok itu bikin drama.”

“Drama apa?”

“Kamu nggak nyimak?”

Chilton meringis. Ia tidak begitu tertarik dengan pelajaran Bahasa Indonesia.

Zoya bangkit, ia melangkahkan kaki menuju cermin yang ada di kamar Chilton. Ia senang sekali melihat dirinya berakting. Ia menggerak-gerakkan wajahnya untuk melihat mimik wajahnya saat ia harus tertawa dan bersedih.

“Ngapain?” tanya Chilton saat melihat Zoya sedang memainkan wajahnya di depan cermin.

“Lagi coba akting.” Zoya menggoyang-goyangkan alisnya penuh percaya diri.

Chilton tertawa kecil melihat tingkah Zoya. Ia tahu kalau Zoya tertarik dengan seni drama. Ia bahkan sering melihat video-video lucu Zoya di instagram. Punya wajah tampan, senang akting dan percaya diri, membuatnya mudah dikenal dan digemari oleh masyarakat.

“Chil, duet yuk!” ajak Zoya.

“Duet apaan?”

“Nanyi di Smule. Suara kamu kan bagus.”

“Nggak, ah.” Chilton menolak keinginan Zoya.

“Ayo, lah!” ajak Zoya tak menyerah.

“Kamu yang nyanyi, aku main gitar. Gimana?” tanya Chilton.

“Nyanyi juga, lah!” pinta Zoya.

“Aku nggak pede. Kamu mau bikin video buat di Youtube kan?”

Zoya menggoyangkan kedua alisnya sebagai isyarat mengiyakan ucapan Chilton.

“Aku gitarin aja, kamu yang nyanyi.”

“Suaraku nggak sebagus suaramu,” ucap Zoya.

Chilton tertawa kecil. Ia tetap tidak mau mengikuti keinginan Zoya karena dia sama sekali tidak tertarik menjadi seorang artis atau seniman yang harus dikejar-kejar fans. Cewek-cewek sekolah yang mengejarnya saja sudah membuatnya risih, apalagi ketika ia harus unjuk gigi dan menjadi seorang public figure.

“Ah, males kalo kamu nggak mau nyanyi.” Zoya duduk di tepi ranjang.

Chilton tertawa menatap Zoya yang berakting seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.

“Cari makan yuk!” ajak Chilton mengalihkan perhatian Zoya.

“Cari makan di mana?” tanya Zoya yang langsung merubah ekspresi wajahnya.

“Deket-deket sini aja.”

“Enaknya makan apa ya?” tanya Zoya sambil mengelus-elus perutnya.

“Bakso?”

“Ogah, ah. Aku pengen makan ayam bakar deh kayaknya.”

“Ikan bakar aja gimana?”

“Di mana?”

“Torani.”

“Boleh, lah.” Zoya menatap baju seragam yang masih ia kenakan.

“Pake bajuku!” ucap Chilton sambil menunjuk lemari pakaian dengan dagunya.

Zoya meringis dan mengganti pakaiannya dengan meminjam pakaian Chilton. Ia memilih pakaian yang bagus untuk bisa ia kenakan di luar rumah. Baginya, penampilan sangat penting.

Chilton tertawa kecil sambil mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Cukup dengan kaos oblong dan celana pendek.

Mereka bergegas pergi menuju rumah makan yang mereka maksud. Untuk anak SMA seperti mereka, rumah makan Torani merupakan salah satu tempat yang terbilang mahal. Tapi bagi mereka, harganya masih mudah untuk dijangkau.

***

“Chil, aku denger-denger di deket sekolah kita ada syuting film gitu,” tutur Zoya.

“Oh ya? Terus?”

“Ke sana yuk!”

“Mau ngapain?”

“Kali aja ada lowongan jadi artis.”

“Mereka pasti udah punya artis kalo udah proses syuting.”

“Iya, sih. Tapi, kalo kita ke sana dan kenal salah satu krunya kan enak. Siapa tahu aja kita diajak syuting film selanjutnya.”

Chilton terdiam sejenak. Ia menatap Zoya yang sangat suka bermain peran. Dengan menuruti keinginannya, bisa saja itu membuka jalan untuk Zoya dalam mewujudkan keinginannya.

“Oke.” Chilton bangkit dan bergegas pergi diikuti Zoya.

Beberapa menit kemudian, mobil Chilton sampai ke taman yang tak jauh dari sekolah mereka.

Zoya terlihat begitu antusias melihat proses syuting yang sedang berlangsung.

“Chil, turun yuk!” ajak Zoya.

Chilton menggelengkan kepala. “Aku tunggu sini aja.” Chilton melipat kedua tangan ke belakang kepala dan bersandar di kursi.

“Oke.” Zoya membuka pintu mobil dan keluar.

Chilton duduk santai di dalam mobil sambil memejamkan matanya.

Sementara Zoya langsung mendekat pada kerumunan orang yang sedang melakukan proses syuting. Ia menikmati jalannya proses syuting dan mempelajari bagaimana caranya menjadi artis profesional.

Karena cuaca lumayan panas, membuat tenggorokan Zoya kering. Ia berjalan menuju warung dam membeli satu botol minuman dingin.

Chilton mulai merasa tak nyamam karena ia ingin buang air kecil. Tapi, dia malas untuk keluar dari mobilnya. Ia berharap Zoya segera kembali.

Beberapa menit menunggu, Zoya tak kunjung datang. Akhirnya, ia harus keluar dari mobil dan mencari toilet.

Chilton meraih kacamata hitam yang ia letakkan di atas dashboard. Kemudian memakai topi berwarna merah yang ia bawa. Ia keluar dari mobil. Hampir semua mata memandang ke arah Chilton yang terlihat sangat tampan.

Chilton tak peduli dengan tatapan mata beberapa orang yang ada di sekitarnya. Ia langsing bergegas masuk ke dalam toilet pria.

“Argh ... gila! Tuh cowok ganteng banget!” seru seorang cewek yang kebetulan ada di taman tersebut.

Beberapa menit kemudian, Chilton keluar dari toilet.

“Hai ...!” Seorang laki-laki bertubuh pendek gembal dengan brewok tebal menghampiri dan menepuk bahu Chilton.

Chilton membuka kacamatanya. Ia memicingkan mata menatap laki-laki setengah baya yang ada di hadapannya. “Siapa ya?” tanya Chilton. Ia berusaha mengingat-ingat wajah laki-laki itu, apakah ia sudah pernah mengenalnya atau belum.

“Saya director film. Saya tertarik sama kamu.”

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti maksud laki-laki itu.

“Saya perhatikan kamu dari tadi. Gimana kalau coba bermain film? Kebetulan kami akan menggarap film terbaru dan karaktermu sepertinya cocok.”

Chilton bengong, kemudian ia mendapat ide cemerlang. “Oh ya? Gimana caranya?”

“Tetap harus ikut casting supaya sutradara saya bisa menilai karaktermu.”

Chilton mengangguk-anggukkan kepala.

“Boleh minta nomor kontakmu?” tanya Director film tersebut.

“Boleh.” Chilton menyebutkan sebuah nomor telepon yang kebetulan ia hafal karena nomor cantik dan mudah dihafal.

“Namanya siapa?” tanya Director tersebut saat akan menyimpan kontak di ponselnya.

“Zoya. Zoya Al-Gifari.” Chilton menyebutkan namanya.

“Nama yang bagus, sama seperti orangnya. Zoya ya?” tutur Director itu sambil mengangguk-anggukkan kepala.

Chilton tersenyum. “Saya permisi dulu!” pamit Chilton sambil memasangkan kembali kacamatanya dan langsung bergegas pergi meninggalkan Director film tersebut.

Chilton langsung menghampiri mobil. Ia melihat Zoya sudah menunggu Chilton sambil bersandar di mobil.

“Dari mana?” tanya Zoya.

“Dari toilet. Udah kelar liat syutingnya?”

Zoya menganggukkan kepala.

Beberapa pasang mata menatap dua cowok tampan yang sedang mengobrol di sisi mobil. Mereka terpesona melihat Chilton dan Zoya yang sama-sama tampan. Bahkan ada seorang gadis yang menabrak tempat sampah karena tercengang melihat dua cowok tampan yang sedang bercengkerama itu.

Chilton dan Zoya menahan tawa saat melihat cewek menabrak tempat sampah.

“Masuk, yuk!” ajak Zoya. “Kelamaan di luar banyak yang bermasalah.”

Chilton dan Zoya langsung masuk ke dalam mobil. Mereka bergegas pulang ke rumah.

***

“Chil, aku seneng banget kemarin bisa lihat gimana proses syuting,” ucap Zoya sambil menikmati makan siang di kantin sekolah.

Chilton hanya tersenyum menanggapinya.

“Tampangku nggak jelek-jelek amat kan? Kira-kira menjual nggak sih buat jadi artis?” Zoya menoleh ke kanan dan ke kiri, memamerkan wajahnya di depan Chilton.

Chilton mengedikkan bahunya.

“Ah, kamu ini. Selalu aja nggak ngerespon,” celetuk Zoya.

“Aku bukan sutradara. Jadi aku emang nggak paham. Daripada ngibul,” sahut Chilton.

“Hehehe ... iya, juga sih. Eh, gimana caranya dapet nomer kontak mereka ya?” tanya Zoya.

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kamu lama banget di sana, tapi nggak ada satupun yang kamu kenal?” tanya Chilton.

Zoya menggelengkan kepala. “Mereka pada sibuk semua. Kayaknya nggak sempat deh perhatiin orang-orang yang nontonin. Lagian, banyak banget orang yang nonton juga. Aku aja kebagian paling belakang,” tutur Zoya.

“Oh. Pantes.”

“Pantes apa?”

Chilton hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Zoya. Mereka terdiam selama beberapa detik.

“Tunggu aja! Ntar kamu juga dicari sama mereka.”

“Serius? Tahu dari mana?” tanya Zoya.

“Dari Tuhan,” jawab Chilton ngasal.

“Sejak kapan bisa ngobrol sama Tuhan?”

“Sejak kamu tiba-tiba jadi kayak cewek.”

Zoya mengernyitkan dahinya tak mengerti.

“Kebanyakan tanya!” dengus Chilton memberitahu.

“Astaga ...! Cuma nanya gitu doang. Aku penasaran, Chil.”

Chilton tersenyum sinis. Ia menggaruk kepala dan tidak mengerti dengan tingkah Zoya.

“Aku pengen banget bisa jadi artis,” tutur Zoya. “Kalo aku jadi artis. Semua orang bakal tergila-gila sama aku dan aku nggak bakal dibully lagi di sekolah,” lanjutnya.

Chilton tertawa kecil melihat ekspresi bahagia yang tersirat dari wajah Zoya.

Tiba-tiba saja, ponsel Zoya berdering. Zoya memicingkan mata melihat nomor asing yang menelepon. Ia tidak punya keinginan untuk menjawab nomor asing tersebut. Ia meletakkan begitu saja ponselnya di atas meja.

Chilton langsung menyambar ponsel Zoya dan mengangkatnya.

“Halo ...!” sapa Chilton.

“Halo ... apa benar ini Zoya Al-Gifari?”

“Iya, bener. Bapak Director film itu ya?” tanya Chilton.

Zoya membelalakkan matanya. Ia hampir tersedak makanan yang ia makan ketika Chilton menyebut seorang director film. Ia tak menyangka kalau ada director film yang mengetahui nomor ponselnya.

Chilton langsung menyodorkan ponsel ke wajah Zoya sambil tersenyum.

Zoya membalas senyuman Chilton dan langsung menyambar ponselnya.

“Iya, saya director film yang kemarin syuting di Taman Tiga Generasi. Gimana dengan penawaran saya?” tanya Director tersebut.

Zoya terdiam. “Penawaran apa?” batinnya sambil menatap Chilton.

Chilton mengacungkan jempol sambil menganggukkan kepala untuk memberi isyarat agar mengiyakan apa yang ditanyakan oleh director tersebut.

“Oh ... iya, iya Pak,” sahut Zoya sok tahu.

“Mas Zoya bersedia?”

“Siap, Pak!” sahut Zoya sambil menatap ke arah Chilton. Tatapannya mengisyaratkan tanda tanya.

Chilton tersenyum menatap Zoya.

“Minggu depan ada casting film baru. Saya harap kamu bisa ikut casting untuk pemeran utamanya.”

“Hah!?” Serius, Pak?” Zoya terkejut, tanpa sadar ia bangkit dan mendorong kursinya hingga jatuh. Membuat semua murid yang ada di kantin menatap ke arahnya. Zoya tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arah murid-murid yang memandangnya. Ia memperbaiki posisi kursinya dan duduk kembali.

Chilton menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Zoya.

“Oke. Saya tunggu hari minggu jam delapan pagi. On time ya!” pinta Director tersebut.

“Baik, Pak.”

Director film tersebut langsung mematikan teleponnya.

Zoya mendekatkan wajahnya ke wajah Chilton. “Kamu yang ngasih kontakku ke dia?” tanya Zoya menyelidik.

Chilton tersenyum sambil memainkan alisnya.

“Gimana caranya kamu kenal sama director film?” tanya Zoya penasaran.

Chilton mengedikkan bahunya. “Nggak tahu. Dia yang nyamperin aku.”

“Serius?”

“Emangnya mukaku kelihatan kayak pembohong?” tanya Chilton balik.

Zoya tertawa sambil menepuk bahu Chilton. “Makasih banget ya!”

“Makasih untuk apa?”

“Berkat kamu, aku dapet panggilan casting film.”

Chilton tertawa kecil. “Nanti aja makasihnya kalo kamu sudah jadi artis beneran,” ucap Chilton sambil berlalu pergi meninggalkan Zoya.

Zoya melongo melihat sikap Chilton yang super cuek. Walau ia jarang bicara, tapi Chilton sangat peduli padanya. Zoya tersenyum sendiri menatap punggung Chilton yang mulai menjauh. Ia juga bergegas bangkit dan meninggalkan kantin.

***

Minggu pagi, Zoya bersiap-siap pergi ke lokasi casting seperti yang sudah dijadwalkan. Ia mengambil ponsel dan langsung menelepon Chilton.

“Chil, temenin aku dong!” pinta Zoya begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Ke mana?” tanya Chilton.

“Ke tempat casting.”

“Sekarang?” tanya Chilton.

“Iya. Ini udah jam tujuh. Ntar telat.”

“Masih sejam lagi.”

“Nggak papa. Mending nunggu daripada telat.”

“Aku belum mandi.” Chilton mengucek matanya yang masih mengantuk.

“Ya udah, mandi dulu! Aku jemput kamu. Pake mobilku aja ya!” tutur Zoya.

“Hmm ...”

Zoya langsung mematikan telepon dan bergegas pergi menuju rumah Chilton.

Sesampainya di rumah Chilton, Zoya menahan kekesalan karena Chilton masih belum mandi. Ia masih tertidur pulas di dalam kamarnya.

“Chil ...! Bangun!” teriak Zoya.

Chilton memicingkan matanya menatap Zoya, kemudian menutup kedua telinga dengan bantal.

Zoya makin kesal dan dengan sengaja menaiki tubuh Chilton.

“Apaan sih, Zoy! Berat badanmu!” sentak Chilton sambil menyingkirkan tubuh .

“Temenin aku! Buruan!”

“Ngantuk, Zoy!”

“Chil, nasibku ditentuin sama kamu. Temenin aku ke tempat casting.”

Chilton membuka mata dan menatap Zoya. Ia lupa kalau ada jadwal casting hari ini. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya. “Jam berapa?” tanya Chilton.

“Sudah setengah delapan,” jawab Zoya.

“Aku mandi dulu.” Chilton meliukkan badannya.

“Nggak usah mandi. Gitu aja!” pinta Zoya.

Chilton mengangkat kedua alisnya. Ia menatap pakaian tidur yang masih menempel di tubuhnya.

“Tunggu aku di dalam mobil aja. Nggak usah keluar!” pinta Zoya.

“Kalo kayak gitu, mending kamu berangkat sendiri aja!” sahut Chilton.

“Ah, mana bisa aku berangkat sendiri. Pokoknya, kamu harus ada di sana buat tahu aku bakal lolos casting atau enggak.”

Chilton memutar bola matanya. “Aku cuci muka sama ganti baju dulu.”

Setelah berganti pakaian, Chilton dan Zoya langsung menuju ke lokasi casting yang sudah diinfokan sebelumnya.

Begitu sampai di parkiran. Zoya langsung mengambil cermin untuk memastikan kalau penampilannya tidak berantakan dan cukup mengesankan.

“Aku tunggu sini aja,” ucap Chilton sambil menyandarkan kepala ke kursi mobil. Ia bersiap melanjutkan tidurnya.

“Oke.” Zoya segera keluar dari mobil dan memasuki gedung tempat casting berlangsung.

Zoya langsung bertemu dengan sutradara untuk menunjukkan kemampuannya dalam melakukan seni peran atau seni gerak.

Hampir  satu jam Zoya berada di dalam ruang casting. Ia bisa mengikuti dengan baik intruksi dari sutradara dan director yang ada di ruangan tersebut.

Beberapa menit kemudian, Zoya keluar dari ruang casting. Kemudian silih berganti dengan beberapa orang yang juga mengikuti casting. Ia masih harus menunggu pengumuman apakah ia diterima atau ditolak.

Zoya sedikit heran dengan beberapa orang yang begitu cepat keluar dari ruang casting. Sedangkan ia, berada dalam ruang casting dalam waktu yang cukup lama. Ia berpikir kalau saingannya pasti sudah profesional karena bisa mengikuti instruksi dari sutradara dan director dengan waktu yang lebih cepat.

Zoya sedikit grogi saat waktu memasuki jam makan siang dan sutradara akan memberitahukan kalau ia lolos casting atau tidak. Ia menggosok-gosok telapak tangannya sambil berdoa agar ia bisa lolos casting.

“Zoya Al-Gifari!” Zoya mendongakkan kepala saat namanya disebut dan diminta masuk ke dalam ruang director.

Zoya menghela napas panjang. Ia beharap bisa lolos casting walau saingannya memiliki kemampuan lebih darinya. Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki ruang director.

“Zoya Al-Gifari?” tanya director begitu Zoya masuk ke dalam ruangan.

Zoya menganggukkan kepala.

“Duduk!” pinta sang director.

Zoya duduk di kursi yang ada di depan director.

“Saya sangat terkesan dengan akting kamu. Saya senang bisa menemukan talenta baru yang begitu memesona,” tutur sang director. “Selamat, kamu lolos casting!” Director tersebut mengulurkan tangan memberi selamat.

Zoya langsung menyambut uluran tangan sang director. “Makasih banyak, Pak!”

Director tersebut mengangguk-anggukkan kepala. “Untuk kontrak kerja, akan diurus sama admin kami.”

Zoya menganggukkan kepala. “Baik, Pak.”

“Sekarang sudah boleh pulang,” tutur sang director.

Zoya langsung berpamitan pergi dari ruang director. Ia tahu kalau tidak bisa berlama-lama di dalam ruangan tersebut karena masih banyak yang mengantri untuk masuk ke dalam ruang director.

Zoya melangkahkan kaki menuju parkiran. Chilton masih menunggunya di dalam mobil.

“Lama banget! Aku laper,” celetuk Chilton begitu Zoya masuk ke dalam mobil./

“Sorry, masih nunggu pengumuman sekalian.”

“Gimana hasilnya?”

“Lolos, dong.”

Chilton memperbaiki posisi duduknya. Ia langsung menyalakan mesin mobil Zoya dan segera keluar dari parkiran. “Aku laper banget. Belum sarapan.” Chilton memegangi perutnya.

“Cari makan!” pinta Zoya.

“Makan di mana?” tanya Chilton.

“Siang gini enaknya makan apa ya?”

“Soto Banjar aja!” sahut Chilton.

“Boleh. Di mana?”

“Di warung soto. Masa di bengkel,” celetuk Chilton.

“Kalo itu, aku juga tahu.”

“Ke Warung DingSanak aja.”

“Yang di Kampung Timur itu?” tanya Zoya.

Chilton menganggukkan kepala.

“Wah, sip lah. Ada Soto Betawi juga di sana, ada lalapan juga.”

Chilton tertawa kecil. Ia melajukan mobilnya ke arah Jalan Indrakila dan berhenti di depan Warung DingSanak.

“Makasih ya!” tutur Zoya.

“Untuk?”

“Berkat kamu, aku lolos akting dan bakal jadi artis.”

Chilton tersenyum. “Aku harap kamu bisa bayar dengan hal yang setimpal.”

Zoya tertawa kecil. Ia sangat bahagia karena berkat Chilton, ia bisa mendapat undangan untuk casting film, lolos dan akan menandatangani kontrak kerja secepatnya.

Sejak hari itu, hidup Zoya banyak berubah. Ia menjadi artis yang banyak digemari kaum hawa karena ketampanan dan kepiawaiannya beradu akting dengan artis-artis yang lebih senior. Ia tak lagi menerima bullying dari teman-teman sekolahnya. Ia sangat berterima kasih pada Chilton yang sudah bersedia menjadi teman baik yang membawanya mewujudkan impian.

                                                                                                                          

THEN LOVE BAB 21 : BELAJAR BERENANG

 BAB 21 - BELAJAR BERENANG



“Bel, si Chilton ngajakin berenang hari ini. Bagusnya aku pake baju renang yang mana, ya?” tanya Delana sambil membuka paket dari online shop yang berisi beberapa model baju renang.

“Coba lihat dulu!” Belvina mengambil salah satu baju renang dan mengamatinya. Kemudian mengambil lagi baju renang yang lainnya.

“Yang maCV na, Bel?” tanya Delana sambil meletakkan pakaiannya sembarangan.

“Tanya Ivo, coba!” pinta Belvina.

Delana melirik Ivona yang masih tertidur pulas. Ia tak tega kalau harus membangunkannya.

“Bangunin aja!” perintah Belvina.

“Kamu aja gin yang bangunin!” pinta Delana.

Belvina memutar bola matanya. Ia menghampiri Ivona dan menggoyang-goyangkan tubuhnya yang masih tertidur pulas. “Bangun, Vo! Bantuin kita pilih baju, dong!”

“Mmh ...!” Ivo hanya bergumam tanpa membuka mata.

“Bangun nah Vo! Aku bingung mau pake baju yang mana?” seru Delana.

Ivona membuka sedikit kelopak matanya. Ia memicingkan mata menatap dua sahabatnya yang sedang sibuk menghambur pakaian.

“Itu yang warna biru putih bagus,” tutur Ivona ketika melihat baju renang yang dipegang oleh Belvina. Ia kembali memejamkan mata karena masih mengantuk.

“Huft, cantik-cantik tukang bangkong!” celetuk Delana.

“Kamu mau pake yang mana?” tanya Belvina.

“Ini aja, deh.” Delana mengambil baju renang yang ditunjuk oleh Ivona. Ia langsung memasukkan baju itu ke dalam tasnya dan megacuhkan baju-baju yang lain.

“Yang lain buat apa?” tanya Belvina menatap beberapa baju renang yang berhamburan di dalam kamarnya.

“Buat kamu aja!” tutur Delana.

“Serius?”

“Iya. Pake aja!”

“Wah, boleh juga nih ntar aku berenang sama Ivo.” Belvina memunguti baju renang Delana dan memasukkannya ke dalam lemari pakaian. “Kamu jam berapa janjian sama Chilton?” tanya Belvina.

“Jam delapanan gitu,” jawab Delana.

“Ini loh sudah jam delapan kurang lima belas menit. Kamu belum mandi,” tutur Belvina.

“Iya. Aku mandi dulu ya!” Delana langsung bangkit dari tempat duduknya. “Kalo dia datang, bilang aku masih mandi,” seru Delana sambil masuk ke kamar mandi.

Belvina menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Delana.

Beberapa menit kemudian, ponsel Delana berdering.

“Del, telepon dari Chilton tuh!” teriak Belvina.

“Angkatin, Bel. Bilang kalo aku lagi di kamar mandi,” seru Delana dari dalam kamar mandi.

Belvina langsung mengangkat panggilan telepon dari Chilton.

“Halo ...”

“Udah siap? Aku di depan,” tutur Chilton.

“Delana masih mandi.”

“Oh. Ini siapa?”

“Belvi.”

“Suaranya kok mirip?”

“Masa sih?”

“Hmm ... ya udah, bilangin Delana kalo aku nunggu di luar.”

“Iya.”

Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Bel, Chilton udah di mana?” tanya Delana begitu ia keluar dari kamar mandi.

“Udah di depan katanya.”

“Iih, kebiasaan banget deh dia kalo udah di depan baru ngasih kabar. Coba kek pas dia berangkat udah ngabarin jadinya aku nggak keburu-buru siap-siapnya,” cerocos Delana.

“Buruan ganti baju, nggak usah kebanyakan ngedumel,” sahut Belvina yang sedang duduk santai sambil bermain ponselnya.

Delana menghentakkan kakinya. Ia masih saja terus menggerutu tak jelas karena harus buru-buru berangkat menemui Chilton. Ia belum mengeringkan rambutnya dan hal ini membuat Delana cukup kesal.

“Bel, hair dryer mana?” tanya Delana membuka-buka laci meja rias Belvina tapi tak bisa menemukan barang yang ia cari.

“Kamu mau berenang, ngapain ngeringin rambut segala?” tanya Belvina.

Delana menatap tajam ke arah Belvina. “Cepetan kasih aku hair dryer!” pinta Delana. Ia tak ingin banyak berdebat dengan Belvina.

“Tuh.” Belvina menunjuk hair dryer yang ada di atas meja.

Delana mengernyitkan dahinya. “Kok, aku tadi nggak lihat ya?”

Belvina menggelengkan kepala. “Orang kalo tergesa-gesa ya kayak gitu. Gajah di depan mata aja nggak kelihatan.”

Delana mengerucutkan bibirnya.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah siap dan bergegas keluar dari kamar Belvina. Ia berjalan setengah berlari menuju parkiran, tempat Chilton menunggunya.

Delana langsung tersenyum saat mendapati sosok Chilton yang sedang duduk di atas motornya. Chilton juga tersenyum saat Delana muncul dari koridor kosan.

“Nunggu lama, ya?” tanya Delana begitu sampai di hadapan Chilton.

Chilton menggelengkan kepala. “Dah siap?” tanyanya.

Delana menganggukkan kepala.

“Ayo, naik!” pinta Chilton sembari menyodorkan helm untuk Delana.

Delana segera menaiki motor Chilton yang langsung bergegas pergi melajukan motornya menuju kolam renang yang ada di Benua Patra.

Sesampainya di kolam renang, Delana mencari kamar mandi untuk berganti pakaian.

“Oh, My God!” Delana melihat tubuhnya sendiri yang ada di cermin. Pakaian renang yang ia pilih terlalu seksi. “Hmm ... tapi bukannya baju renang begini semua ya?” gumamnya. Ia langsung mengikatkan sarung bali di pinggangnya dan keluar dari kamar mandi.

Di tepi kolam renang, Chilton sudah menunggu dan hanya menggunakan celana pendek. Semua orang menatap tubuhnya yang tinggi atletik, kulitnya putih dan wajahnya sangat tampan. Ia langsung menoleh begitu menyadari Delana melangkah mendekatinya.

Chilton tersenyum menatap Delana. Ia langsung meraih tangan Delana dan mengajaknya masuk ke kolam renang. “Eh, kamu duduk sini dulu!” pinta Chilton sambil menuntun Delana agar duduk di tepi kolam renang.

Delana mengikuti intruksi dari Chilton. Ia melepas kain penutup pinggangnya dan duduk di tepi kolam renang. Kakinya terasa dingin saat masuk ke dalam kolam.

Chilton langsung melompat ke kolam renang.

Delana tertawa kecil begitu Chilton masuk ke dalam kolam. Ia celingukan karena tubuh Chilton tak kunjung muncul dari dalam air.

Chilton muncul dari bawah kaki dan mengagetkan Delana.

“Chil ...! Kamu ngagetin aku aja!” celetuk Delana.

Chilton tersenyum, kedua tangannya berpegangan dengan tepi kolam renang dan Delana berada di tengah-tengah kedua tangannya. “Ayo, turun!” ajak Chilton sambil memegang pinggul Delana.

“Dalem nggak sih?” tanya Delana. Ia merasa gugup saat tangan Chilton menyentuh pinggulnya. Dadanya bergetar dan perasaannya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Chilton menggelengkan kepala. Tangannya beralih ke pinggang Delana dan bersiap mengangkat tubuh Delana masuk ke dalam kolam renang.

Delana memegang pundak Chilton dan mengedarkan pandangannya. “Kita dilihatin orang,” bisik Delana. Ia merasa kurang nyaman karena Chilton memperlakukannya begitu mesra dan menjadi perhatian orang lain.

“Ngapain sih peduliin mereka!” celetuk Chilton kesal.

“Aku nggak biasa dilihatin kayak gitu, nggak nyaman aja,” tutur Delana.

“Cuekin aja!” pinta Chilton sambil menggenggam pinggang dan mengangkat tubuh Delana masuk ke dalam air.

 Delana langsung memeluk leher Chilton sambil memejamkan matanya karena ia takut tenggelam.

“Nggak papa. Kamu berdiri sendiri juga bisa.” Chilton tertawa kecil dan melepas pelukan Delana perlahan.

Delana menghela napas dalam-dalam dan bersiap belajar berenang. Sebenarnya, ia sudah pernah belajar berenang saat ia masih duduk di bangku SD. Ayahnya seringkali mengajaknya ke kolam renang. Tapi, setelah ia remaja tak pernah lagi pergi ke kolam renang.

Chilton mengajarkan Delana cara berenang dengan telaten sampai Delana bisa mengayuh tangan dan kakinya dengan baik.

“Udah mulai bisa,” ucap Chilton sambil memegangi lengan Delana.

Delana tersenyum ke arah Chilton. “Aku coba sendiri ya!”

“Dari atas!” pinta Chilton.

“Aku belum bisa kayak gitu.”

Chilton tertawa kecil. “Ya udah, coba deh!” Chilton menggenggam pundak Delana, menghadapkannya ke arah seberang tepi kolam renang. “Dari sini ke sana ya!” pintanya sambil menunjuk ujung kolam.

Delana mengangguk. Ia menghela napas dan bersiap berenang sampai ujung.

“Satu ... dua ... tiga ...!” seru Chilton.

Delana langsung berenang sampai ujung kolam dan kembali ke hadapan Chilton.

Chilton tertawa. Ia bangga karena Delana cepat sekali mempelajari teknik berenang. Tapi, ada guratan kecewa karena dia tak bisa lagi beralasan menyentuh tubuh Delana bahkan memeluk pinggangnya. Karena Delana sudah bisa melakukan gerakan renang sendiri.

“Aku capek!” ucap Delana dengan napas tersengal.

“Istirahat dulu, yuk!” ajak Chilton sambil menarik lengan Delana.

“Tangganya di sana!” Delana menunjuk tangga untuk naik ke tepi kolam renang dan bergegas meninggalkan Chilton.

Chilton meraih pinggang Delana untuk menahannya pergi. Membuat Delana akhirnya menghadap ke wajah Chilton dan jarak mereka sangat dekat.

“Kenapa?” tanya Delana. Andai mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih, Delana ingin sekali memeluk mesra cowok yang ada di depannya itu. Tapi, ia sadar tak mungkin bisa melakukan itu.

Chilton menatap mata Delana yang jaraknya sangat dekat dengan wajahnya. Pandangannya terus beralih ke hidung dan berhenti di bibir Delana. Darahnya terasa mengalir begitu cepat saat melihat bibir Delana yang basah dan sangat menggoda. Ia tak tahan ingin mengulum bibir mungil Delana.

“Hei ...!” Delana menepuk pipi Chilton yang terlihat melamun.

Chilton mengerjap dan langsung mengalihkan pandangannya. “Lewat sini aja, aku angkat.” Chilton memutar tubuhnya dan menyandarkan tubuh Delana ke tembok kolam renang. Ia menggenggam pinggang Delana dan mengangkatnya naik ke tepi kolam.

“Kamu gimana?” tanya Delana sambil tertawa tanpa suara saat ia sudah duduk di tepi kolam.

“Tarik dong!” pinta Chilton sambil mengulurkan tangannya.

“Emangnya aku kuat?” tanya Delana.

“Kuat.” Chilton meyakinkan.

Delana bangkit, berdiri dan mengulurkan tangannya menyambut tangam Chilton. Delan menarik tangan Chilton, tapi Chilton justru membalas tarikannya dan membuat Delana tercebur ke dalam kolam.

“Uhuk ... uhuk ...!” Delana keluar dari dalam air dibantu Chilton. Air kolam sempat masuk ke dalam mulutnya karena ia tak siap.

Chilton tergelak melihat wajah Delana yang terlihat kesal.

“Resek banget!” maki Delana sambil meninju dada kanan Chilton.

Chilton tertawa terbahak-bahak, ia tak bisa menahan tawa melihat Delana yang makin kesal.

Delana mencebik ke arah Chilton. Ia langsung berbalik dan berenang menuju tangga untuk nakm ke tepi kolam.

Chilton tersenyum menatap Delana yang sudah berdiri di atas kolam. Ia berenang mengikuti Delana. Ia menghampiri Delana yang duduk di kursi tepi kolam. Berteduh di bawah atap gazebo berbentuk jamur.

“Bawa minum nggak?” tanya Chilton.

“Bawa.” Delana mengambil botol air mineral dari dalam tas dan langsung memberikannya pada Chilton.

Chilton langsung menenggak minuma yang diberikan Delana.

“Hai, udah lama?” Seseorang menepuk bahu Chilton.

“Weh, ke sini juga? Sama siapa?” Chilton langsung mengajak cowok itu bersalaman dan merangkulnya.

Delana yang melihat ada teman Chilton, langsung menarik kain yang ia letakkan di atas tas dan menutup pahanya yang terlihat seksi.

“Sendiri aja. Udah lama?” tanya cowok itu sambil melirij gadis yang ada di hadapan Chilton.

“Lumayan.” Chilton melepas rangkulannya. “Oh ya, kenalin. Ini Delana.” Chilton memperkenalkan Delana pada temannya.

Cowok itu tersenyum menatap Delana dan langsung mengulurkan tangan. “Zoya.” Ia menyebutkan namanya.

Delana menyambut uluran tangan Zoya dan menyebutkan namanya.

Zoya terpaku melihat wajah Delana yang manis dan cantik. Mata gadis itu terlihat berbeda dan membuatnya merasa nyaman pada pandangan pertama.

“Jangan lama-lama salamannya!” Chilton menepuk tangan Zoya.

Zoya melepas genggaman tangannya sambil tertawa. Ia menyadari kalau sahabatnya itu cemburu.

“Pacarmu?” tanya Zoya.

“Bukan,” sahut Delana.

Chilton langsung menoleh ke arah Delana. Ia kesal karena Delana terlihat begitu baik dengan Zoya. Teman baiknya yang wajahnya sangat tampan.

Zoya tertawa kecil. “Dia memang aneh.” Ia duduk di samping Delana sambil menatap Chilton yang terlihat kesal.

“Nggak usah gitu. Aku nggak ada apa-apa sama dia. Nggak bakal cemburu,” celetuk Chilton.

Zoya mengangkat kedua alisnya. Ia semakin curiga saat Chilton harus mengklarifikasi hal yang seharusnya tak perlu ia lakukan.

“Kalian udah lama kenal?” tanya Delana menatap Zoya.

“Udah. Kita satu kelas di SMA Lima.”

“Oh, jadi kenalnya emang udah lama?” tanya Delana.

“Iya.” Zoya menganggukkan kepalanya. “Aku dulu tinggal di kampung sebelum akhirnya masuk sekolah elit itu. Dan cuma dia, satu-satunya orang yang mau berteman sama aku di sekolah.” Zoya menunjuk Chilton dengan dagunya.

Delana menoleh ke arah Chilton yang sedang menatap air kolam tanpa ekspresi. Ia tersenyum bangga karena cowok yang ia sukai ternyata tak hanya berwajah tampan, tapi juga memiliki hati yang baik.

“Chilton nggak pernah lihat aku beda. Dia tetap mau berteman sama aku apa adanya. Aku sering banget dibully di sekolah dan dia yang sering nolongin aku,” tutur Zoya.

Delana memerhatikan Zoya, ia menyimak dengan serius setiap kata yang keluar dari mulut Zoya.

“Emangnya kamu dibully karena apa?” tanya Delana heran. Secara fisik, Zoya memiliki wajah yang tampan, tinggi dan berkulit putih. Ia tidak mungkin dibully karena penampilannya.

“Aku lahir di kampung. Terlahir dari keluarga yang biasa. Murid-murid di SMA Lima punya latar belakang keluarga yang kaya dan hidupnya mewah. Menjadi satu-satunya yang berbeda di antara semuanya, pasti akan membuat kita merasa tersisihkan,” terang Zoya.

“Gimana caranya kamu bisa masuk sekolah elite? Beasiswa?” tanya Delana.

Zoya menggelengkan kepala. “Ayahku bekerja keras untuk bisa mengubah nasib keluarga. Sampai akhirnya, dia masukin aku sekolah elite itu.”

“Oh. Dan kalian ketemu di sana?” tanya Delana.

Zoya mengangguk sambil melirik Chilton yang sedang asyik bermain ponsel di tangannya. “Dia emang cuek, tapi hatinya baik. Satu-satunya temen sekolah yang mau berteman sama aku, cuma dia.”

Delana menoleh Chilton dan tersenyum. “Hei, asyik sendiri!” Delana menyolek lengan Chilton sambil tertawa kecil.

“Ngobrol aja! Aku denger, kok.” Chilton tak mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Delana memutar bola matanya dan kembali mengajak Zoya bercerita.

“Dia gimana di sekolah? Apa dia emang nyebelin kayak gitu?” tanya Delana berbisik sambil melirik Chilton.

Chilton langsung menoleh ke arah Delana karena ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Delana. “Nggak usah bisik-bisik kalo mau cerita!”

Delana dan Zoya tergelak melihat sikap Chilton.

“Dia cemburu,” bisik Zoya.

“Masa sih?” Delana melirik Chilton yang mulai kesal.

Chilton melangkahkan kaki ke tepi kolam dan melompat kembali untuk berenang.

“Kamu sudah lama kenal sama Chilton?” tanya Zoya.

“Belum lama banget sih. Baru kenal pas aku baru masuk kuliah.”

“Oh. Adik tingkat?” tanya Zoya.

Delana menganggukkan kepala.

Zoya menatap Chilton yang sedang berenang di hadapannya. “Aku belum pernah lihat jalan sama cewek. Pasti kamu cewek yang spesial.”

“Oh ya? Waktu SMA dia nggak punya pacar?” tanya Delana penasaran. Ia jadi makin semangat untuk tahu lebih jauh tentang Chilton dari sahabatnya itu.

“Setahu aku nggak ada. Aku rasa dia bukan tipe cowok yang nyembunyiin cewek di belakang teman baiknya sendiri.”

Delana tertawa kecil, Ia merasa bahagia karena akhirnya Chilton mulai menyukainya. Artinya, cintanya pada Chilton akan segera bersambut. Rasanya, sudah tak sabar mendengar Chilton mengungkapkan perasaan cinta kepadanya.

“Kamu cewek yang beruntung,” tutur Zoya. “Aku tahu, kamu bukan satu-satunya cewek yang suka sama dia. Ada banyak cewek yang ngejar-ngejar dia. Cuma ada satu cewek yang beruntung bisa dapetin perhatian dia.” Zoya memerhatikan wajah Delana. “Cewek itu kamu.”

Delana tersipu. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.

“Berenang lagi, yuk!” ajak Zoya.

“Mmh ... aku nggak begitu pandai berenang.”

“Nggak papa. Nanti aku temani.” Zoya bangkit, ia menyodorkan telapak tangannya ke wajah Delana.

Delana terkejut dengan sikap Zoya. Ia menatap telapak tangan dan wajah Zoya bergantian.

“Nggak usah khawatir sama Chilton. Kita berteman baik dan aku tahu dia nggak bakal marah.” Zoya memainkan alisnya, memberi isyarat agar Delana menyambut uluran tangannya.

Delana tersenyum. Ia menyambut uluran tangan Zoya dan bangkit dari tempat duduknya. Mereka bersama-sama menyusul Chilton masuk ke dalam kolam renang.

“Chil ..!” Zoya memanggil Chilton agar mendekat. Ia memberi isyarat pada Chilton agar menurunkan Delana yang masih duduk di tepi kolam.

Chilton mengerti maksud Zoya, ia langsung menghampiri Delana yang masih duduk di tepi kolam. Sementara Zoya langsung melompat masuk ke kolam dan berenang seorang diri.

“Mau berenang lagi?” tanya Chilton sambil berpegangan dengan tembok tepi kolam.

“Aku capek, sih.” Delana memijat lengan atasnya yang terasa masih pegal.

“Ya udah, duduk sini aja!” pinta Chilton. Ia melipat kedua tangannya di atas paha Delana. Ia mendongakkan kepala menatap Delana. “Cerita apa aja sama Zoya?” tanyanya pelan.

“Cerita soal sekolah lama kamu,” jawab Delana seadanya.

“Selain itu?” tanya Chilton.

“Nggak ada,” ucap Delana sambil menggelengkan kepalanya.

“Bohong!” Chilton mendelik ke arah Delana.

“Tahu dari mana?”

“Itu, hidungnya goyang-goyang,” jawab Chilton sambil tersenyum.

Delana tergelak. “Emangnya kalo bohong, hidungnya goyang-goyang ya?”

Chilton menggigit bibirnya sendiri karena gemas. Tangannya menarik pinggul Delana dan menyeburkannya ke dalam kolam.

Delana berteriak. Tapi, akhirnya mereka tertawa bersama sambil berangkulan di dalam air. “Kamu, beneran nyebelin!” maki Delana.

“Tapi, suka ‘kan?” goda Chilton.

Delana mencebik ke arah Chilton. Membuat Chilton geram dan ingin memeluknya. Delana langsung berenang menuju tangga agar ia bisa keluar dari kolam renang dan dari kejaran Chilton. Delana tertawa melihat Chilton yang berhenti di tepi kolam sambil menengadahkan kepala menatap Delana.

“Kenapa naik?” tanya Chilton.

“Aku capek.” Delana berjalan mengitari kolam. Menghampiri Zoya yang berada di ujung kolam, berseberangan dengan Chilton.

Chilton langsung berenang menghampiri Zoya.

“Balapan yuk!” ajak Chilton.

Zoya menggelengkan kepala. Ia tidak begitu mahir berenang, apalagi harus balapan dengan Chilton yang sudah sering menghabiskan waktunya untuk berenang.

“Payah!” celetuk Chilton.

Delana tertawa kecil melihat dua cowok tampan yang ada di depannya.

Zoya tidak terpengaruh dengan ucapan Chilton. Ia berenang menuju tangga dan naik ke tepi kolam.

Seorang laki-laki berpakaian seragam ojek online menghampiri Zoya. “Mas, yang namanya Mas Chilton mana ya?” tanya laki-laki setengah baya tersebut.

“Chilton?” Zoya mengangkat kedua alisnya sambil menatap laki-laki itu. “Itu dia, lagi berenang.” Zoya menunjuk Chilton yang sedang berenang menghampiri mereka.

“Ini pesanannya, Mas!” ucap laki-laki setengah baya itu sembari menunjukkan bungkusan yang ada di tangannya.

“Kasih ke Mbak yang itu ya!” pinta Chilton menunjuk Delana yang sedang duduk di gazebo.

Laki-laki setengah baya itu menghampiri Delana dan langsung menyodorkan bingkisan berisi makanan untuk Delana.

“Siapa yang pesan, Pak?” tanya Delana bingung.

“Mas yang itu, Mbak,” jawab laki-laki itu sambil menunjuk Chilton yang masih ada di dalam kolam.

“Oh. Udah dibayar?” tanya Delana.

“Sudah dibayar lewat aplikasi,” jawab laki-laki itu.

“Oke. Makasih ya!” ucap Delana.

Laki-laki itu menganggukkan kepala dan berpamitan pergi meninggalkan Delana.

Zoya langsung menghampiri Delana, begitu juga dengan Chilton yang juga naik ke atas kolam setelah dua kali bolak-balik berenang.

Delana membuka bungkusan makanan yang dipesan Chilton secara online. Ia menoleh ke arah Zoya yang ada di sampingnya. “Di sini boleh bawa makanan?” tanya Delana.

Zoya tersenyum. “Chilton udah sering ke sini. Kalo dia pesen makanan, berarti aman.”

Delana mengangguk-anggukkan kepala dan mengeluarkan satu kotak brownies dan tiga botol jus dari dalam bungkusan tersebut.

Chilton langsung menghampiri Delana, meraih handuk yang ada di dekat Delana dan mengusap tubuhnya agar tidak terlalu basah.

“Aku laper.” Chilton menjatuhkan dirinya di samping Delana. Ia menyandarkan dagunya di pundak Delana.

Delana langsung mengambil satu potong kue dan menyuapkan ke mulut Chilton. “Jangan gitu! Aku geli.” Delana menggoyangkan pundaknya agar Chilton segera mengangkat dagunya.

Chilton menggigit bibirnya sendiri, ia gemas dengan Delana dan ingin memeluknya. Tapi, keinginan itu ia tahan dan hanya bisa membayangkan dirinya bisa memeluk gadis yang ada di sampingnya itu.

Zoya hanya tertawa kecil melihat sikap manja Chilton saat berada dekat dengan Delana. Ia tak pernah melihat Chilton bersikap seperti anak-anak. Untuk laki-laki sedewasa dan sedingin Chilton, rasanya aneh ketika melihatnya tiba-tiba berubah menjadi anak manja.

“Pulang yuk!” ajak Delana.

“Ayo!” sahut Chilton.

“Aku ganti baju dulu.” Delana bangkit dari tempat duduknya menuju toilet untuk berganti pakaian.

Zoya tertawa kecil, ia melirik Chilton yang ada di dekatnya.

“Kenapa ketawa-ketiwi sendiri?” tanya Chilton.

“Aku lihat kamu beda banget.”

“Bedanya apa?”

“Aku belum pernah lihat seorang Chilton yang cool dan jaim bisa semanja itu di depan cewek,” jawab Zoya menahan tawa.

Chilton tak mengiyakan, tidak juga menolak pernyataan Zoya. Ia hanya tertawa kecil melihat dirinya sendiri. Entah kenapa, ia merasakan hal berbeda setiap kali berdekatan dengan Delana. Ia tak bisa menahan dirinya untuk bermanja-manja.

 

Sunday, September 7, 2025

THEN LOVE BAB 20 : AKU AKAN TETAP CINTA

BAB 20 :  AKU AKAN TETAP CINTA



“Hai, rame banget!” seru Delana saat ia sampai di kosan Belvina.

“Nah, datang dia,” tutur Belvina.

“Lama banget. Aku udah di sini dari tadi siang,” sahut Ivona.

“Aku tidur dulu. Capek banget. Si bujang minta bikinin iga semur merah.”

“Mana?” tanya Belvi sambil menengadahkan tangan ke hadapan Delana.

“Apa?”

“Iga semurnya lah.”

“Udah habis.”

“Meditnya. Cuma dipamerin aja kita ini, dibawain kek ke sini!” celetuk Ivona.

Delana memerhatikan beberapa teman kos Belvina yang sedang mengupas buah-buahan.

“Mau pada ngerujak, ya?” tanya Delana.

“Iya, Del. Kamu yang bikin sambal, ya!” pinta Ivona.

“Kok, aku?”

“Iya. Kamu kan pinter bikin sambel yang enak,” sahut Belvina.

“Hmm ... iya, deh.” Delana meletakkan tas miliknya ke atas kasur Belvina. Ia mendekati ulekan yang sudah disediakan oleh Belvina di lantai kamarnya. Kalau cuma bikin sambal rujak, hal yang biasa untuk Delana.

“Del, lomboknya dua biji aja!” pinta Ivona yang tidak begitu tahan makan pedas.

“Ya,” sahut Delana pelan. Tapi, diam-diam ia memasukkan lima buah cabai.

“Semalam kamu pulang jam berapa?” tanya Belvina.

“Nggak tau,” jawab Delana.

“Kok, nggak tahu?”

“Palingan mabuk berat tuh dia,” sahut Ivona.

“Beneran mabuk?” Belvina mendekatkan wajahnya ke wajah Delana.

Delana hanya tersenyum.

“Oh, My God! Jadi, kamu semalam mabuk bareng dia?” tanya Belvina.

Delana menganggukkan kepala. “Dia nganterin aku pulang ke rumah.”

“Owh ... so sweet.” Ivona menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi. “Del, itu tandanya dia sayang sama kamu.”

“Hah!? Tahu dari mana?” tanya Belvina.

“Kalo dia nggak sayang, dia nggak bakal nganter Delana pulang ke rumah. Bisa aja kan dia bawa Delana ke hotel buat ditidurin,” tutur Ivona.

“Bukannya kalo kayak gitu justru nggak sayang?” tanya Belvina. “Cowok kalo sayang sama cewek pasti pengen bercinta sama cewek yang mereka suka dan itu wajar.”

Ivona melempar Belvina dengan kulit nanas. “Makanya pacaran biar nggak bego!” celetuknya. “Cowok kalo bisa menghargai cewek, itu artinya dia sayang sama cewek itu. Nggak deketin cewek cuma karena pengen nikmatin tubuhnya doang.”

“Waluhnya pang,” celetuk Belvina.

“Kalian ngomongin apaan sih!?” sahut Delana.

“Huu ...!” seru Belvina dan Ivona berbarengan sambil menyerang Delana sampai tersungkur ke lantai.

“Apa-apaan sih?” seru Delana sambil tertawa.

“Awas ya, kalo sampe jadian dan kita nggak dikasih tahu!” ancam Belvina.

“Iya. Pokoknya kalian berdua yang bakal tahu paling pertama kalo aku jadian sama dia.”

“Hmm ... kayaknya ada harapan, Del. Si Chilton juga ngasih lampu hijau mulu ke kamu,” tutur Ivona.

“Aamiin ...” Delana menengadahkan kedua tangan dan mengusap wajahnya. “Doain ya!”

“Kita udah doain terus kali.”

“Doain biar aku sama dia cepet jadian!” pinta Delana.

“Iya. Biar cepet jadian, cepet kawin,” tutur Belvina.

“Kok, kawin sih? Nikah kali,” sahut Delana.

“Kawin dulu baru nikah, eh!?” Belvina menutup mulut dengan jarinya.

“Nikah dulu baru kawin,” sahut Ivona.

“Oh, iya kah? Enakan mana dulu sih, Vo?” tanya Belvina.

“Apanya?” tanya Ivona sambil menahan tawa karena Belvina tak henti-hentinya membahas soal percintaan.

“Ya itu. Kawin dulu atau nikah dulu?” tanya Belvina.

“Yang enak mah kawinnya, nikah mah ribet. Hahaha.” Ivona tergelak. “Tapi jangan deh! Mending nikah dulu baru kawin. Daripada dikawinin tapi nggak dinikahin,” lanjutnya.

Delana menggeleng-gelengkan kepala. Kalau cewek sudah ngumpul, pembahasannya makin melebar. “Udah-udah! Kita makan dulu!” pinta Delana mempersilakan sambal dan buah-buahan yang sudah siap untuk disantap.

Semua langsung menyerbu rujak yang sudah tersedia.

“Astaga ...! Pedas banget!” teriak Ivona dengan wajah merah. “Kamu pake lombok berapa sih?” Ia menatap Delana yang tersenyum jahil.

“Mantap ini pedasnya,” tutur Belvina yang memang doyan makan makanan pedas.

“Minum-minum, tolong!” teriak Ivona yang uring-uringan karena kepedasan. Ia meminta salah satu teman kos Belvina untuk menuangkan air es ke dalam gelas yang sudah ia pegang.

“Aku nggak mau makan sambelnya. Gila ini pedes banget!” seru Ivona. Ia memilih memakan buah mangga dan apel agar rasa pedas di lidahnya cepat menghilang.

“Kamu ngerjain aku ya, Del?” dengus Ivona melihat Delana yang cekikikan.

Delana tergelak. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

“Awas kamu, kubalas memang!” ancam Ivona.

“Bales aja!” Delana menjulurkan lidahnya.

“Halah, emang dasarnya kamu yang nggak tahan pedas. Yang lain biasa aja,” sahut Belvina.

“Aku kan emang nggak tahan pedes. Pengertian dikit, kek.”

“Del, hp kamu bunyi tuh!” tutur Belvina.

“Ambilin dong, tolong!” pinta Delana.

Belvina langsung mengambil ponsel Delana dari dalam tas. “Ciyee ... Chilton nelpon,” godanya sambil menyodorkan ponsel Delana.

Delana tersipu malu dan langsung menjawab telepon dari Chilton. “Jangan ribut!” pinta Delana pada teman-temannya.

“Udah di kosan Belvi?” tanya Chilton begitu teleponnya tersambung.

“Iya, udah.”

“Oke. Aku ke sana sekarang. Share location ya!” pinta Chilton.

“Siap!”

Chilton langsung mematikan panggilan teleponnya. Delana juga langsung berbagi lokasi ke Chilton agar mudah menemukn kosan Belvina.

“Ciyee ...!” goda Ivona dan teman-temannya yang lain. “Dia mau ke sini?”

Delana menganggukkan kepala.

“Duh, bikin ngiri aja diapelin,” celetuk Belvina. “Kapan giliran aku diapelin ya?” gumamnya.

“Cari cowok, lah. Kayak Delana tuh, perjuangannya harus kita kasih empat jempol,” tutur Ivona.

“Belum dapet cowok yang pas,” sahut Belvina.

“Eh, by the way, Chilton sering telepon kamu?” tanya Ivona.

“Nggak sering juga, sih. Kadang-kadang aja,” jawab Delana.

“Tapi, dia sampe mau nyamperin kamu ke sini. Pasti dia itu udah jatuh cinta sama kamu. Aku yakin banget,” tutur Belvina.

“Aamiin ... mudahan aja,” sahut Delana.

“Tapi dia belum nembak kamu, Del?” tanya Ivona.

Delana menggelengkan kepala.

“Kamu tembak duluan aja!”

“Idih, masa aku yang nembak duluan?”

“Ya nggak papa, kali. Zaman sekarang mah emansipasi wanita,” tutur Belvina.

“Nggak, ah. Dia ngasih aku kesempatan buat deket sama dia aja aku udah senang. Aku nggak akan nembak dia sampe aku yakin kalo dia udah jatuh cinta sama aku. Aku nggak mau maksa orang buat cinta sama aku.”

“Hmm ... ya udah deh. Terserah kamu asal kamu bahagia,” tutur Belvina.

Delana tersenyum senang.

Beberapa menit kemudian, Chilton sudah sampai di depan kosan Belvina. Ia menelepon Delana.

“Keluar! Aku di depan,” ucap Chilton begitu Delana menjawab teleponnya. Ia langsung mematikan telepon dan menunggu Delana keluar dari kamar kos Belvina.

Tak perlu menunggu lama. Gadis yang ditunggunya sudah keluar dari pintu kamar kos Belvina.

“Kamu kok tahu kalau kamar Belvi yang ini?” tanya Delana begitu melihat Chilton sudah berdiri di depan pintu.

“Aku tanya-tanya,” jawab Chilton sambil tersenyum manis.

Delana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengintip ke dalam kamar Belvina. Ia tak mungkin menyuruh Chilton masuk ke dalam kamar. Ia menoleh ke koridor dan mendapati kursi tunggu yang ada di luar.

“Kita duduk di sana aja, yuk!” ajak Delana.

“Boleh.” Chilton menganggukkan kepala sambil menyembunyikan tangannya di belakang punggung.

Delana melangkahkan kaki menuju kursi dan duduk sambil melipat satu kakinya.

Chilton mengikuti langkah Delana. Ia berdiri tepat di hadapan Delana.

“Kok malah berdiri?” Delana mendongakkan kepala menatap wajah Chilton yang ada di atasnya.

“Mmh ... ini buat kamu.” Chilton menyodorkan kotak kado berwarna cokelat dengan pita merah di tengahnya.

Delana mengernyitkan dahinya. “Aku nggak lagi ulang tahun,” gumamnya.

“Nggak harus nunggu ulang tahun buat ngasih hadiah.” Chilton menggerakkan alisnya, memberi isyarat agar Delana mengambil hadiah pemberian darinya.

Delana tersenyum dan meraih hadiah dari Chilton. Ia memangku kotak hadiah tersebut dan berkata, “makasih ya!”

Chilton tersenyum sembari menganggukkan kepala. Kemudian ia duduk di sebelah Delana. “Bukanya nanti aja kalo aku udah pulang,” pinta Chilton.

“Kamu mau nginap di sini?" tanya Chilton sembari mengedarkan pandangannya.

Delana mengangguk pasti. “Emangnya kenapa?”

“Nggak papa,” jawab Chilton. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Delana. “Semoga tidur nyenyak,” bisiknya langsung menarik wajahnya menjauh sambil menahan tawa.

Delana mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti sama sekali maksud Chilton. Ia sudah sering menginap di kosan Belvina dan tidak ada masalah sama sekali.

“Besok ada waktu, nggak?” tanya Chilton.

“Besok hari apa ya?” tanya Delana.

“Minggu.”

“Oh ... iya. Minggu nggak ngampus and nggak ngeles juga. Ada banyak waktu luang.”

“Jalan, yuk!”

“Ke mana?”

“Enaknya ke mana?”

“Mmh ... ke mana  ya?”

“Berenang, mau?”

“Di Benua Patra aja, gimana?”

“Mmh ... boleh, deh,” jawab Delana ragu-ragu.

“Kenapa?” tanya Chilton yang memerhatikan Delana masih menggigit bibirnya.

Delana menghela napas panjang. “Aku nggak bisa berenang.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Tinggal di kota yang dekat dengan pantai dan nggak bisa berenang? Kalo ada tsunami gimana?”

“Iih ... kamu kok ngomongnya aneh-aneh gitu sih? Jangan sampe ada tsunami! Ngomong yang baik-baik aja kenapa?”

“Cuma seandainya aja,” tutur Chilton. “Kalo kamu nggak bisa berenang, ntar aku ajarin!”

“Serius?”

“Iya.”

“Nggak ditenggelemin kan?”

“Masa aku tega nenggelamin cewek cantik? Nanti aku tenggelamin di pelukan aku.”

“Preett ...!”

“Kok, pret sih?”

“Kamu belajar ngegombal dari mana?” tanya Delana sambil tersenyum tanpa menatap Chilton.

“Dari kamu.”

“Idih, aku nggak pernah ngegombal.”

“Tapi kamu ngejar-ngejar aku mulu.”

“Mana ada.”

“Nggak mau ngaku.”

Delana meringis. “Tapi, sekarang kamu yang ngejar aku.”

“Kok bisa?”

“Buktinya kamu yang nyamperin aku ke sini.” Delana tersenyum penuh kemenangan.

Chilton menggaruk tengkuknya sambil tersenyum. Ia memang tak bisa memungkiri kalau ia merasa aneh setiap kali tak ada Delana dalam harinya.

“Kamu udah makan?” tanya Delana.

“Belum.”

“Mmh ... aku juga belum, sih. Tapi—”

“Kenapa?”

“Belvi belum masak.”

“Gimana kalo kita makan di luar?” tanya Chilton.

“Eh!? Kita?” Delana menunjuk dirinya sendiri dan Chilton.

Chilton menganggukkan kepala.

“Mereka gimana?” tanya Delana sembari menunjuk pintu kamar Belvi dengan dagunya.

“Ada siapa aja, emangnya?” tanya Chilton.

“Ada Belvi, Ivo sama temen-temen kosnya Belvi dua orang.”

“Ajak aja sekalian makan di luar.”

“Nggak papa ajakin mereka?” tanya Delana.

“Nggak papa.”

“Mmh ... sekarang jam berapa?” tanya Delana.

“Jam setengah enam sore.”

“Aku mandi dulu. Gimana?”

“Emang belum mandi?”

Delana menggelengkan kepala.

“Ya, udah. Aku tunggu di mobil ya,” tutur Chilton.

Delana menganggukkan kepala. Setelah memasttikan kalau Chilton menunggu di mobil, ia langsung masuk ke dalam kamar Belvina.

“Aargh ...!” teriak Delana begitu masuk ke kamar. “Aku dapet hadiah dari Chilton!” serunya sambil menari-nari memamerkan hadiah dari Chilton.

“Dalam rangka apa?” tanya Belvina sembari menyambar kotak kado yang ada di tangan Delana.

“Nggak peduli dalam rangka apa. Katanya, nggak harus nunggu ulang tahun buat ngasih hadiah.”

“Duh, so sweet banget sih dia? Kelihatannya aja dingin, sekalinya suka ngasih kejutan,” tutur Ivona gemas. “Aku pengen punya pacar kayak gitu,” rengeknya.

Delana tak menghiraukan ucapan sahabatnya. Ia terus menari dan melompat di atas kasur Belvina sesuka hatinya.

Belvina dan Ivona langsung membuka kotak kado milik Delana yang ternyata berisi cokelat. Mereka langsung melahapnya tanpa memikirkan Delana yang masih melonjak kegirangan.

“Eh, itu cokelat buat aku. Bukan buat kalian!” seru Delana.

“Salah sendiri lama,” sahut Belvina dengan mulut penuh mengunyah cokelat.

“Iih .. kalian ngeselin banget sih!?” Delana menyambar kotak cokelat dari tangan Belvina.

Teman-teman Delana tergelak melihat tingkah Delana yang seperti anak kecil tak ingin kehilangan cokelatnya.

“Kami balik dulu ya!” pamit teman kos Belvina.

“Loh? Kenapa?” tanya Belvina.

“Dela cuma bercanda doang. Makan aja cokelatnya! Nggak papa, kok.”

“Kami mau mandi. Sudah sore.”

Belvina melirik jam dinding yang ada di dalam kamarnya. “Iya, ya? Cepet amat,” celetuknya.

Kedua teman kos Belvina langsung keluar dari kamar dan kembali ke kamar mereka masing-masing.

“Laper, nih. Cari makan yuk!” ajak Ivona.

“Astaga!” Delana menepuk dahinya.

“Kenapa?” tanya Belvina dan Ivona bersamaan.

“Chilton nungguin di luar. Mau ngajak kita makan,” seru Delana langsung berlari ke pintu, kemudian kembali lagi ke sisi ranjang Belvina. “Duh, kasihannya anak orang. Bisanya aku lupa,” cerocos Delana sambil mondar-mandir tak tentu arah. Padahal, dia hanya ingin ke kamar mandi.

“Kamu nyari apa sih?” tanya Ivona sambil melongo melihat tingkah aneh Delana.

“Nyari kamar mandi.”

“Lah? Itu kamar mandi.” Belvina menunjuk pintu kamar mandi yang ada di pojok ruangan.

“Astaga ...! Baru ketemu.” Delana langsung m\berlari masuk ke dalam kamar mandi.

“Emang kapan hilangnya?” Belvina menggeleng-gelengkan kepala.

“Huft, cinta emang bener-bener bisa bikin orang lupa segalanya,” celetuk Ivona.

“Asal dia nggak lupa sama kita aja,” tutur Belvina.

“Kalo sampe dia tega lupain kita. Bakal aku cincang-cincang tuh anak,” sahut Ivona.

“Eyyuuh ... kejam amat?” Belvina mengernyitkan dahi menatap Ivona.

Ivona tersenyum. “Eh, tadi kata Delana si Chilton mau ngajak kita makan atau dia aja?” tanya Ivona sambil mengingat-ingat.

“Tadi dia bilang kita,” sahut Belvina.

“Apa itu artinya, kita juga diajak makan?” tanya Ivona.

Belvina dan Ivona saling pandang. Kemudian menatap pintu kamar mandi bersamaan.

“Delaa ...!” teriak Belvina dari luar.

“Apa sih teriak-teriak. Kayak aku orang budeg aja,” sahut Delana dari dalam kamar mandi.

“Kamu ngajak makan kita juga?” tanya Ivona.

“Iya.”

“Buka pintunya!” Belvina dan Ivona memaksa Delana untuk membuka pintu kamar mandi.

Delana heran, ia tak menjawab tapi langsung membuka pintu kamar mandi. Ternyata, kedua sahabatnya sudah berdiri di depan pintu.

“Mandi bareng!” seru Belvina.

Delana tersenyum dan membiarkan dua sahabatnya masuk ke dalam kamar mandi.

Delana, Belvina dan Ivona sudah selesai mandi dan bersiap. Mereka bergegas keluar dari kamar Belvina untuk menghampiri Chilton yang menunggu mereka di dalam mobil.

“Del, aku sama Belvi bawa mobil sendiri. Kamu berdua sama Chilton ya!” pinta Ivona.

“Sip!” Delana mengacungkan jempolnya. Dua sahabatnya memang pengertian, membiarkan Delanad dan Chilton menghabiskan waktu berdua.

Delana menghampiri mobil Chilton. Cowok itu sedang tertidur pulas di dalam mobil dalam keadaan kaca mobil terbuka lebar. Ia terlihat sangat tampan dengan kaca mata hitam dan kemeja yang dikenakan.

Delana tak berani membangunkan Chilton. Terlebih ia tidak tahu bagaimana membangunkannya tanpa membuatnya marah. Cara membangunkan Bryan tidak akan baik jika diaplikasikan pada diri Chilton.

Delana mengamati wajah Chilton.

“Aku ganteng ya?” tanya Chilton.

“Dasar! Pura-pura tidur!?” Delana langsung menimpuk Chilton dengan tasnya.

“Nggak. Ngantuk beneran aku.”

“Ya udah. Nggak usah jalan kalo ngantuk.”

“Bercanda.”

“Bercanda atau beneran?”

“Bercanda. Ayo naik!” pinta Chilton.

Delana langsung duduk di kursi samping kemudi.

“Temen kamu pada ke mana? Nggak jadi ikut?” tanya Chilton.

“Jadi. Tuh!” Delana menunjuk mobil Ivona dengan dagunya.

“Oh, bawa mobil sendiri? Kirain mau ikut bareng kita.”

“Mereka pengertian banget. Nggak mau diajak bareng.”

Chilton tertawa kecil mendengar ucapan Delana.

“Mau makan di mana?” tanya Chilton pada Delana saat mereka berada di perjalanan.

“Terserah kamu aja.”

“Kok terserah?”

“Ya, ntar kalo aku pilih tempat makan lagi, kamunya keberatan.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kapan aku keberatan?”

“Ya emang nggak ngomong langsung. Tapi, aku bisa lihat dari raut wajah kamu.”

Chilton tertawa kecil menanggapi ucapan Delana.

“Coba tanyain Belvi atau Ivo, mereka mau makan di mana,” tutur Chilton.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel darj dalam sakunya.

“Halo, Bel, kamu udah di mana?” tanya Delana begitu panggilannya tersambung pada kuda lumping Jawa Tengah.

“Di Gunung Malang.” Jawab Belvi mulai tertabrak.

“Emang mau makan di mana?”

“Ivo ngajak ke The Hobbies.”

“Hah!?” Delana melongo mendengar nama tempat yang disebutkan oleh Gunung Malang.

Delana langsung mematikan ponselnya dan terdiam selama beberapa menit.

“Kenapa?” tanya Chilton.

“Eh!? Nggak papa.”

“Jadi, makan di mana kita?”

“Mereka pergi ke The Hobbies.”

“Oh. Sip sip sip.”

Delana terdiam. Ia tahu kalau tempat itu sangat romantis. Terlebih saat malam hari. The Hobbies menjadi salah satu tempat makan favorit buat anak-anak muda atau sepasang kekasih yang ingin terlihat romantis.

Saat Delana dan Chilton sampai di kafe yang dimaksud oleh Belvi, mereka langsung menghampiri Ivona dan Belvina di rooftop.

“Hai ...!” sapa Delana pada Belvina dan Ivona yang sudah menunggu mereka.

“Lama banget!” celetuk Ivona.

“Eh!? Masa sih?”

“Bercanda, Del. Serius amat nanggepinnya,” sahut Belvina.

“Iih ... kalian ini.” Delana mengerucutkan bibirnya.

Ivona dan Belvina tergelak. Mereka mempersilakan Delana dan Chilton untuk duduk bersama mereka.

Chilton tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum kecil sesekali. Membuat Belvina dan Ivona beranggapan kalau Delana naksir dengan patung, bukan dengan pria sungguhan.

Malam itu, menjadi malam yang sangat menyenangkan bagi Delana.

Usai makan malam, Chilton mengantarkan Delana kembali ke kosan Belvina.

“Chil, kenapa tadi diam mulu?” tanya Delana.

“Nggak tahu mau ngomong apa.”

“Hah!?”

“Kalian bertiga udah heboh kayak pasar. Dengerinnya aja aku pusing.”

Delana tergelak mendengar ucapan dari Chilton.

“Eh, ngomong-ngomong kabar si Attala gimana?” tanya Delana.

Chilton mengedikkan bahunya.

“Kok gitu?” Delana merasa kecewa karena Chilton terlihat tak lagi peduli dengan teman asramanya itu.

“Lah? Emang iya. Aku jarang ketemu sama dia sekarang.”

“Dia masih nge-game?”

“Kayaknya sih begitu.”

“Oh.”

“Kenapa tanya-tanya? Kamu mau balik nge-game lagi?”

Delana menggelengkab kepala. Ia tak lagi bertanya dan memilih diam.

“Kok diam?” tanya Chilton.

“Emangnya mau ngapain? Mau teriak-teriak?”

Chilton tertawa kecil. “Oh ya, orang rumah sudah ada yang tahu soal motor kamu?”

“Bryan udah tahu. Kalo ayah belum.”

“Kenapa?”

“Ayah tugas kerja ke Berau dan lama gak pulang. Dia nggak bakal perhatiin.”

Chilton menggeleng-gelengkan kepala karena heran.

“Kamu sering nginap di kosan temen?” tanya Chilton.

“Nggak juga. Kadang-kadang aja.”

“Kalo nginap dalam rangka apa?”

“Nggak dalam rangka apa-apa. Kadang mereka yang nginap di rumah. Ganti-gantian gitu.”

“Oh.”

“Kamu sendiri nginap di mana malam ini?” tanya Delana.

“Di rumah Mama. Aku nggak mungkin bawa mobil ke asrama.”

“Emangnya kenapa? Di asrama nggak boleh bawa mobil?” tanya Delana.

“Boleh. Tapi ntar kelihatan mencolok banget kalo aku bawa mobil ke asrama.”

Delana tersenyum.

Sesampainya di depan kosan Belvina, Delana langsung melepas safety belt dan mengambil tas tangan yang ia letakkan di atas dashboard.

“Makasih, ya!” ucap Delana sambil membuka pintu.

Chilton menarik lengan Delana, menahannya untuk keluar dari mobil. Membuat Delana menoleh ke arahnya.

“Ada apa?” tanya Delana.

“Jangan keluar dulu!” pinta Chilton.

Delana menutup kembali pintu mobil dan memperbaiki posisi duduknya. Ia pikir, Chilton hanya akan membukakan pintu mobil untuknya.

Chilton bergeming. Ia menyandarkan kepala di tangannya sambil menatap Delana tanpa berkedip.

Jantung Delana berdebar tak karuan. Entah kenapa Chilton memandangnya seperti itu. Beberapa kali ia menyibakkan rambutnya ke belakang telinga karena grogi.

Chilton masih saja tersenyum sambil memandang Delana. Ia tak peduli dengan Ivona dan Belvina yang sudah keluar dari mobil dan menatap mobil Chilton sambil berlalu masuk ke dalan kos-kosan.

“Kenapa sih ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Delana malu-malu.

Chilton tak menjawab. Ia hanya menatap Delana tanpa berkedip.

Delana menghela napas. “Chil ...!” panggilnya sambil menyentuh pipi Chilton agar tersadar dari lamunanya.

Chilton langsung menyentuh tangan Delana yang ada di pipinya dan membiarkan tetap berada di sana.

Delana tertegun. Sikap Chilton mulai berubah sedikit demi sedikit. Ia banyak memberi perhatian yang membuat hati Delana berbunga-bunga.

“Del, makasih ya!” ucap Chilton lirih. Ia menggenggam tangan Delana dan mengendusnya, menciumi dengan penuh kasih sayang.

“Makasih untuk apa?” Jantung Delana makin berdebar saat Chilton terus menciumi punggung tangannya.

“Makasih karena kamu sudah mencintaiku apa adanya sampai detik ini,” tutur Chilton. “Maaf kalau aku belum bisa balas. Tapi aku akan berusaha.”

Delana tersenyum, ia mengusap pipi Chilton dengan tangan satunya lagi. “Sampai kapan pun aku nggak akan berubah dan tetap suka sama kamu. Sekalipun suatu hari kamu membenciku. Aku akan tetap cinta.”

Chilton tersenyum. Ia melepas genggaman tangannya dan mengusap ujung kepala Delana. Ingin sekali ia mengecup kening gadis itu. Tapi, niatnya ia urungkan karena ia sendiri belum bisa membuat dirinya yakin kalau dia telah mencintai gadis itu.

“Mmh ... aku masuk dulu ya!” pamit Delana.

Chilton menganggukkan kepala. Membiarka. Delana keluar dari mobil dan memasuki kosan Belvina. Ia melambaikan tangan ke arah Delana yang langsung dibalas.

Chilton menghela napas. Ia menyalakan mesin mobil dan melaju menuju rumahnya yang ada di Gunung Dubs.

THEN LOVE BAB 19 : ADIK PROTECTIVE

 BAB 19 - ADIK PROTECTIVE



Hari ini, Bryan dan Delana hanya tinggal berdua di dalam rumah. Ayahnya mendapat tugas bekerja di luar kota dan tidak pulang dalam jangka waktu yang panjang.

Bryan bangun pagi-pagi seperti biasa. Ia langsung menuju dapur untuk menemui kakaknya yang biasa menghabiskan waktu di dapur saat pagi hari. Tapi, dapur rumahnya masih kosong dan rapi. Artinya, belum ada aktivitas di dapur seperti biasanya.

Bryan mendongakkan kepala menatap ujung tangga rumahnya. Ia tahu kakaknya masih tertidur pulas. Mungkin  karena pengaruh mabuk semalam. Membuatnya tidak bisa bangun pagi hari.

Bryan melangkahkan kaki masuk daput. Ia mengelus-ngelus perutnya yang lapar sambil mencari makanan yang bisa ia makan. “Laper!” gumamnya.

Ia membuka kulkas dan tidak ada camilan yang bisa dimakan. “Tumben kakak nggak stock makanan di kulkas? Buah aja nggak ada sama sekali.” Briyan kembali menutup kulkas dengan kecewa.

Bryan menghela napas. Ia beralih memeriksa rice cooker, masih ada nasi yang bisa ia makan. Tapi, tak ada lauk maupun sayurnya.

Akhirnya, Bryan memutuskan untuk membuat nasi goreng. Untuk anak remaja sepertinya, makanan yang paling mudah dimasak adalah nasi goreng dan mie instan. Kalau kakaknya tidak ada di rumah atau dia tinggal di kos-kosan, bisa jadi makanan sehari-harinya hanya mie instan dan nasi goreng saja.

Briyan mengambil dua siung bawang merah dan satu siung bawang putih, kemudian ia ulek bersama bumbu lain dan sedikit cabai agar pedas.

Setelah bumbu siap, ia menyiapkan wajan di atas kompor. Ia beri mentega untuk menggoreng dan menyalakan kompor. Ia menunggu sampai mentega mencair, Bryan langsung memasukkan bumbu-bumbu dan mengaduknya.

Bumbu sudah tercium aroma wanginya, ia memasukkan dua piring nasi ke dalamnya dan mengaduk dengan cepat agar matang secara merata. Ia bersenandung riang sambil menggoreng nasi.

Setelah selesai memasak dua porsi nasi goreng, Bryan menghidangkannya ke atas meja makan.

Bryan berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar Delana. Ia membuka pintu kamar kakaknya yang tidak dikunci, membuka tirai jendela agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamar.

Dengan hati-hati, Bryan berusaha untuk membangunkan kakaknya yang masih tertidur pulas.

“Kak, bangun ...!” Bryan menggoyang-goyangkan tubuh Delana.

“Mmh ...,” Delana hanya menggumam dan membalikkan tubuhnya. Bukannya bangun, Delana malah menarik selimut menutupi tubuhnya.

“Udah siang, Kak. Udah jam sepuluh.” Bryan berbohong, padahal waktu masih menunjukkan jam tujuh pagi.

“Hah!?” Delana langsung terduduk. Ia menatap ke arah jendela yang tirainya sudah terbuka.

Bryan meringis. “Bangun, Kak. Aku udah bikinin nasi goreng.”

Delana mengucek-ngucek matanya dan bangkit dari tempat tidur. “Tumben kamu masak?” tanya Delana sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

“Terpaksa aja karena Kakak nggak bangun-bangun,” celetuk Bryan sambil berjalan keluar dari kamar Delana.

Setelah selesai mencuci muka, Delana langsung berjalan menuruni anak tangga. Ia menghampiri Bryan yang sudah duduk di meja makan.

“Ayah berapa lama tugas di Berau?” tanya Bryan begitu kakaknya menghampiri.

“Enam bulanan kayaknya. Kenapa?” tanya Delana. Ia duduk di kursi dan menarik piring nasi goreng yang sudah disediakan oleh adiknya.

“Nggak papa. Nanya aja.”

“Pengen ke sana lagi?” tanya Delana.

“Nggak. Sekolah.”

“Ini kan hari libur.”

“Cuma sehari doang liburnya. Ngabis-ngabisin duitnya ayah aja kalo aku nyusul ke sana,” tutur Bryan.

Delana tersenyum menatap adiknya.

“Baru dua hari ayah pergi. Kakak pulang sama cowok dalam keadaan mabuk.”

“Nggak ada hubungannya ayah pergi sama cowok itu,” dengus Delana.

“Ya, ada. Karena nggak ada ayah, Kakak bebas jalan sama cowok. Pake acara mabuk segala,” gerutu Bryan.

“Kamu kenapa sih sekarang lebih cerewet dari Kakak?” Delana mendelik ke arah Bryan. “Kakak udah dewasa, bukan anak kemarin sore kayak kamu.” Delana melempar wajah Bryan dengan potongan timun.

“Aku harap dia cowok baik-baik.”

“Aku pikir dia memang begitu.” Delana menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya dan tak bicara penuh semangat. Membuat Bryan menggeleng-gelengkan kepala.

“Kakak laper banget?”

Delana menganggukkan kepala dengan mulut penuh makanan.

“Apa semalam cowok itu nggak kasih makan?” tanya Bryan.

“Kasih, lah. Tapi, itu kan semalam. Sekarang mah udah laper banget. Lagian, nasi goreng buatanmu enak banget. Apa karena aku laper ya?”

“Bukan karena Kakak laper. Itu karena yang masak chef handal.” Bryan membanggakan dirinya sendiri.

Delana mencebik ke arah Bryan.

“Kak, makan siang nanti buatin aku iga semur merah ya!” pinta Bryan.

“Pengen makan iga?” tanya Delana dengan mulut penuh makanan.

Bryan menganggukkan kepala.

“Kebetulan banget. Kakak juga lagi pengen makan iga. Kalo gitu, abis ini kita ke pasar,” ajak Delana.

“Ahsiiaap ...!” seru Bryan.

“Kamu udah mandi?” tanya Delana.

“Nggak lihat udah ganteng gini?”

Delana memiringkan kepalanya ke kanan dan  ke kiri sambil mengamati wajah Bryan. “Biasa aja,” celetuknya.

“Gitu ya, adeknya nggak diakui ganteng. Kalo ada maunya aja baru bilang ganteng,” gerutu Bryan.

Delana meringis. “Kakak mau mandi dulu.” Delana bangkit dari kursinya. “Tolong cuciin piring ya!” pintanya sambil beranjak pergi.

Bryan hanya tersenyum dan langsung membereskan meja makan. Membersihkan dapur agar meringankan pekerjaan kakaknya.

Beberapa menit kemudian, Delana sudah berpakaian bersih dan rapi. Ia mengajak Bryan pergi berbelanja ke pasar terdekat.

“Pake motor Kakak aja ya!” pinta Bryan.

“Oke.” Delana langsung mengambil kunci motornya di rak meja televisi dan melemparkannya pada Bryan.

Bryan menangkap dan langsung melangkahkan kakinya menuju garasi.

“Kak, motor Kakak baru?” tanya Bryan begitu ia sampai ke garasi.

Delana meringis menanggapi pertanyaan Bryan.

“Motor yang lama ke mana?” tanya Bryan lagi.

“Hilang, dek.”

“Ckckck.” Bryan menggeleng-gelengkan kepala. “Ayah tahu?”

“Belum. Nggak usah dikasih tahu kalo dia nggak nanya.”

“Terus, beli motornya pake uang dari mana?” tanya Bryan lagi.

“Pake uang tabungan Kakak lah,” sahut Delana.

“Mampus! Uang tabungan kebobol,” celetuk Bryan. “Lain kali naruh motor jangan teledor! Motor kan bukan barang murah, Kak. Mending uangnya dikasih aku daripada buat beli motor baru,” tutur Bryan sambil menyalakan mesin motor.

“Iya ... ganteng,” sahut Delana Sambil menyubit pipi Bryan.

“Ngolok? Kalo dikasih tahu adeknya, kayak gitu sudah.”

“Nggak usah bawel, deh! Mending kita cepetan jalan sebelum panas nih,” tutur Delana.

Setelah dirasa cukup memanaskan motor, Bryan langsung menarik gas dan mengeluarkan motor dari garasi. Sementara Delana menunggunya di pintu gerbang. Setelah memastikan pintu gerbang terkunci dengan baik, Delana langsung naik ke motor yang sudah berada di tepi jalan depan rumahnya.

“Motor baru tarikannya enak banget yak?” ucap Bryan sambil mengendarai motor Delana.

“Iyalah. Namanya barang baru pasti enak.”

Sesampainya di pasar modern, Delana langsung membeli 2 kilogram iga sapi.

“Cari apa lagi, Kak?” tanya Bryan.

“Cari bumbu-bumbunya.” Delana sudah terbiasa berbelanja. Ia terlihat begitu cekatan pindah dari satu rak ke k lainnya. Sementara Bryan mengikutinya sambil mendorong trolly.

“Dek, kamu mau belanja apa?” tanya Delana.

“Apa ya?” tanya Bryan balik. “Parfum aja, Kak. Kalo yang lain masih banyak stoknya.”

“Buah mau nggak?” tanya Delana.

“Boleh.”

“Mau buah apa?”

“Terserah aja, Kak.”

Delana langsung bergegas menuju rak buah dan membeli beberapa untuk persediaan di rumah.

Setelah mendapat barang yang mereka cari, mereka langsung bergegas pulang ke rumah.

Delana merasa Bryan sedikit berubah saat ayahnya tak ada di rumah. Ia terlihat lebih perhatian dan selalu mendampingi Delana. Biasanya, dia enggan diajak berbelanja. Tapi kali ini dengan senang hati mengantarkan Delana pergi berbelanja. Walau ia sempat mengomel karena barang belanjaan Delana lumayan banyak dan motor mereka penuh.

Sesampainya di rumah, Delana langsung membuka semua belanjaan satu persatu dan menyusunnya di dapur.

“Astaga!” Delana menepuk jidatnya.

“Kenapa, Kak?” tanya Bryan.

“Kelupaan beli margarin.”

“Jadi gimana?” tanya Bryan.

“Beliin diwarung ya!” pinta Delana. Ia meraih dompet yang ia letakkan di atas kulkas dan memberikan selembar uang lima puluh ribuan.

“Yang kayak mana bentuknya?” tanya Bryan.

“Bilang aja beli margarin. Ntar yang jualin juga tahu,” tutur Delana.

“Oke.” Bryan menganggukkan kepala dan bergegas pergi.

Delana langsung melanjutkan pekerjaannya di dapur. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja makan.

“Halo ...!” sapa Delana begitu ia menjawab panggilan telepon dari Chilton.

“Halo ... lagi apa?: tanya Chilton.

“Lagi masak,” jawab Delana sambil mondar-mandir.

“Masak apa nih?”

“Mau bikin iga semur merah. Permintaan Bryan.”

“Wah ... enak tuh kayaknya.”

“Mau? Makan siang di sini yuk!” ajak Delana.

“Sebenarnya mau sih. Tapi, aku udah janji mau makan siang bareng mama.”

“Oh gitu. Salam buat mama kamu ya!”

“Beres!”

“Terus, kamu nelpon aku mau ngapain?” tanya Delana.

“Eh ... oh ... eh, Cuma pangen denger suara kamu aja.”

“Hmm ... gombal.”

“Cuma mau mastiin kalo kamu sudah sadar atau belum,” tutur Chilton.

“Udah. Bangunnya agak kesiangan sih. Jadi, Bryan masak sendiri dan bikinin aku sarapan."

“Oh ya? Adik kamu pintar masak juga?”

“Nggak juga. Dia cuma bisa masak nasi goreng sama mie instan doang,” jawab Delana sambil cekikikan.

“Yah, lumayan lah untuk ukuran laki-laki. Bisa bikin nasi goreng udah mantap,” tutur Dhilton.

“Hehehe. Iya juga sih.”

Chilton terdengar tertawa. “Ya udah, lanjutin masaknya. Bye ...!” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Delana kembali berkutat di dapur sampai Bryan datang membawa margarin yang ia butuhkan.

“Ini, Kak.” Bryan meletakkan margarin di meja dapur.

“Banyak banget?” tanya Delana.

“Kakak nggak bilang suruh beli berapa. Jadi kubeliin aja semua,” tutur Bryan.

Delana menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya udah nggak papa. Buat stock sekalian.”

Bryan tersenyum dan duduk di salah satu kursi yang ada di dapur. “Aku bantuin apa, Kak?” tanya Bryan.

Delana menoleh ke arah Bryan sambil mengernyitkan dahinya. “Kamu abis kesambet setan apa?” tanya Delana. Ia heran kenapa adiknya tiba-tiba bersikap baik. Seumur-umur Delana memasak di dapur, Bryan tak pernah menawarkan bantuan.

Bryan meringis. “Mau dibantuin nggak? Kalo nggak mau, aku mau nge-game,” tutur Bryan.

“Nih, bantuin kupas bawang!” Delana menyodorkan mangkuk kecil berisi beberapa bawang merah dan bawang putih.

“Ah, gampang. Kupas bawang doang gini.” Bryan langsung mengambil bawang dan mengupasnya satu per satu.

“Sekolahmu gimana?” tanya Delana.

“Baik.”

“Sudah punya pacar atau belum?” tanya Delana.

“Nggak pengen pacaran.”

“Halah, bote. Tapi pastinya ada cewek yang kamu taksir kan di sekolah kamu?” tanya Delana menyelidik.

“Nggak ada.”

“Kakak sering denger kamu teleponan malam-malam. Teleponan sama siapa?” tanya Delana sambil tersenyum menggoda.

“Temen.”

“Temen spesial pastinya.”

“Enggak. Cowok, kok.”

Delana menghela napas. Ia memerhatikan wajah Bryan dengan seksama. Wajahnya tidak begitu buruk. Kenapa adiknya tidak punya pacar di sekolah menengah.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Bryan.

“Cuma cowok tampan yang punya pacar masa remajanya. Kamu tahu apa maksudnya?”

Bryan mendelik ke arah Delana. “Enak aja. Aku tuh paling ganteng di sekolah. Banyak cewek yang ngejar-ngejar aku. Cuma aku nggak mau, nggak ada yang cantik.”

“Nah ... ketahuan kan?”

“Ketahuan apaan sih? Orang aku nggak pacaran,” sahut Bryan.

Delana tersenyum. “Masa dari sekian banyak cewek di sekolah, nggak ada satu pun yang nyantol di hati.”

Bryan tidak menjawab. Ia mengusap matanya yang basah.

“Kamu kenapa? Kok, nangis?” tanya Delana.

“Ngupas bawang, Kak.” Bryan mengerjap-ngerjapkan mata.

“Ngupas bawang cuma dikit doang udah nangis,” celetuk Delana.

“Biar dikit, pedes gini.”

Delana tertawa kecil.

Tiba-tiba, ponsel Bryan berdering. Ayahnya memanggilnya via panggilan video.

“Ayah,” tutur Bryan pada Delana.

Delana langsung menyambar ponsel Bryan dan menjawab panggilan video dari ayahnya.

“Halo ... ayah!” sapa Delana.

“Halo ... Kalian lagi apa?” tanya Harun.

“Lagi masak,” jawab Delana. “Lihat tuh si Bujang lagi ngupas bawang.” Delana mengarahkan kamera pada wajah Bryan.

“Kakak tega banget aku dibikin nangis kayak gini, Yah,” tutur Bryan mendramatisir.

“Huu ...!” Delana menjitak kepala Bryan.

“Kayak gitu, kakak adik yang akur ya!” pinta Harun.

“Ayah kapan pulang?” tanya Bryan.

“Baru dua hari, udah ditanya kapan pulang. Ayah agak lama di sini.”

“Jangan lama-lama! Soalnya, semalam Kak Dela ... mmh ...” Bryan tak bisa melanjutkan kalimatnya karena Dela membungkam mulut Bryan.

“Ada apa?” tanya Harun penasaran melihat tingkah Dela.

“Nggak ada apa-apa, Yah. Ayah sudah makan?” tanya Delana.

“Belum. Masih nunggu makanan dateng.”

“Jangan makan sembarangan ya! Jaga kesehatan!” tutur Delana.

“Jangan lupa oleh-oleh kalo pulang!” seru Bryan.

Delana menyikut lengan adiknya. Ia kesal karena yang ditanya selalu aja oleh-oleh. Bukannya mengkhawatirkan ayahnya, malah selalu minta hadiah.

“Iya, kalo Ayah pulang pasti dibawain.” Harun tersenyum menatap kedua anaknya yang telah tumbuh dewasa. Si kecil Delana telah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik jelita. Begitu juga dengan adiknya yang manja, tubuhnya sudah tumbuh tinggi dan badannya berisi. Ia menyadari kalau usianya semakin tua.

“Ya sudah. Kalian lanjutin masak-masaknya!” pinta Harun. “Jangan keluyuran ke mana-mana selama ayah nggak ada di sana,” pesannya.

“Siap, Pak Bos!” Delana dan Bryan memberi hormat kepada ayahnya.

Harun tertawa bahagia melihat dua anaknya. Ia kemudian mematikan panggilan videonya.

“Tuh, dengerin! Kata ayah nggak boleh keluyuran!” celetuk Bryan.

“Siapa yang keluyuran?” sahut Delana.

“Itu semalam jalan sama cowok, pake mabuk segala,” tutur Bryan. “Kalo Kakak nggak sadar, terus tuh cowok macem-macem sama Kakak gimana? Beruntung ketemu sama cowok baik, diantar pulang ke rumah. Kalo dibawa ke hotel?” cerocos Bryan.

“Kamu tuh nyebelin banget sih!? Kayak orang tua aja ngomongnya!”

“Emangnya cuma Kakak aja yang bisa nasehatin aku? Aku laki-laki di rumah ini. Sekalipun Kakak lebih tua, aku wajib jagain Kakak,” tutur Bryan.

Delana menatap Bryan dengan mata berbinar. Ia sangat terkesan dengan kalimat yang keluar dari mulut Bryan. Ia tak menyangka kalau adiknya bisa sebijak ini dan berusaha untuk menjaganya.

“Cowok yang semalam itu siapa, Kak?” tanya Bryan.

“Yee ... kepo?” dengus Delana.

“Kakak juga kepo kuadrat,” sahut Bryan.

Delana tersenyum sambil menatap Bryan. “Kakak cocok nggak sama dia?” tanya Delana.

“Nggak cocok,” celetuk Bryan.

Delana melotot ke arah Bryan. “Kenapa nggak cocok?” tanya Delana kesal.

“Dia ganteng, Kakak jelek.” Bryan menjulurkan lidahnya.

“Apa!?” Delana melompat mendekati Bryan. Tapi, Briyan lebih gesit dan langsung melompat dari kursi. Ia berlari menjauhi kakaknya yang sedang marah.

“Awas kamu ya!” teriak Delana sambil mengacungkan pisau yang ia pegang.

Bryan tergelak sambil berlari menaiki tangga ke kamarnya. Delana mengikuti langkah Bryan.

Bryan yang menyadari kakaknya mengejarnya sambil membawa pisau dapur, langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.

“Hei ... keluar!” teriak Delana sambil menendang pintu kamar Bryan. Ia menusukkan pisau ke pintu kamar Bryan.

Bryan tergelak. “Males! Kakak nih nggak nyadar kalo mukanya jelek?” teriak Bryan.

“Kamu lebih jelek!” balas Delana berteriak.

“Ganteng ini, banyak yang naksir,” sahut Bryan. “Daripada Kakak, udah tua masih jomblo aja. Orang jelek mana laku,” teriak Bryan sambil tertawa.

“Briiyaaan ...!!!” teriak Delana sambil menggoyang-goyangkan daun pintu kamar Bryan. Ia menusuk-nusuk pintu kamar Bryan beberapa kali.

“Kak, pintu kamarku rusak!” teriak Bryan yang mendengar dan menyadari kalau Delana menusukkan pisau ke pintu kamarnya.

“Bodo amat!” sahut Delana. “Nggak aku masakin!” teriaknya sambil berlalu pergi.

Bryan mengangkat kedua alisnya. Ia tahu kalau ancaman kakaknya tidaklah serius. Bryan membuka pintu kamar perlahan-lahan. Ia melihat kepala kakaknya menuruni tangga. Ia keluar dari kamar dan bersandar di pagar, memerhatikan kakaknya yang berjalan memasuki dapur. Dia memang senang sekali memperhatikan kakaknya beraktivitas dari lantai dua rumahnya.

Sejak kecil, Bryan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi, kakaknya benar-benar pandai mengambil alih tugas seorang ibu. Melihat kakaknya dengan cekatan memasak untuknya, mengepel lantai, merapikan rumah dan menyiapkan keperluan Bryan dan ayahnya.

Beberapa menit kemudian, Briyan melihat Delana menyusun makanan di atas meja makan.

“Dek, makanannya udah siap. Ayo makan!” teriak Delana dari bawah.

Briyan tersenyum kecil, ia melangkahkan kaki dengan santai menuruni tangga. Ia tahu, kakaknya tidak marah sungguhan dan tidak mungkin tega menusuk dadanya dengan pisau dapur.

“Humm ....” Briyan menghirup aroma masakan Delana dalam-dalam. “Enak nih kayaknya,” tuturnya, ia duduk di kursi meja makan dan bersiap melahap masakan kakaknya.

“Dek, ntar malam di rumah sendiri nggak papa?” tanya Delana sambil mengambilkan nasi untuk Briyan.

“Emang mau ke mana?” tanya Briyan.

“Aku mau nginap di kosan Belvi.”

“Kosan Kak Belvi atau rumah cowok itu?” tanya Briyan.

“Sembarangan! Emangnya aku cewek apaan?” Delana melempar kerupuk ke wajah Briyan.

Briyan tertawa kecil. “Aku panggil bubuhanku ke rumah ya?” tanya Briyan.

“Nah, iya. Ajak aja bubuhanmu nginap di sini. Tapi ingat, Jangan berantakin dan kotorin rumah!” tutur Delana.

“Ahsiiaap ...!”

“Ya udah. Makan dulu!” perintah Delana.

Mereka menikmati makan siang bersama. Delana merasa senang karena adiknya makan dengan lahap. Ia menghabiskan tiga porsi nasi. Ia memerhatikan tubuh adiknya yang kini terlihat lebih besar. Tangannya berotot dan dia adalah cowok remaja yang sedang bertransisi menuju kedewasaan.

“Kamu yang beresin ya!” pinta Delana usai makan siang.

“Hah!?”

“Sekali-sekali.” Delana mengerdipkan mata ke arah Briyan. Ia beranjak dari tempat duduk dan berlalu pergi meninggalkan Briyan.

Briyan menggeleng-gelengkan kepala. Ia membereskan sisa makanan yang ada di meja makan dan membersihkannya. Walau semua keperluannya disiapkan oleh kakaknya. Tapi, ia juga pandai dalam hal membereskan rumah. Sebab ia sudah menjadi anak remaja dan kakaknya mengajarkannya untuk menjadi laki-laki yang mandiri.

Delana langsung masuk ke kamar. Mencari ponselnya dan menelepon Belvina.

“Gimana, Del? Jadi nginap di kosanku?” tanya Belvina begitu panggilan telepon Delana tersambung.

“Jadi, agak sorean deh aku ke sana.”

“Ke sini sendiri atau mau dijemput?” tanya Belvina.

“Sendiri aja.”

“Oke, deh.”

“Udah ada siapa di sana?” tanya Delana.

“Temen kos banyak. Ini si Ivo juga udah di sini.”

“Serius? Mana suaranya?”

“Tidur dia.”

“Yaelah. Udah dari tadi dia di sana?”

“Belum. Jam dua belasan dia sampe sini. Sampe, langsung tidur.”

“Numpang ngorok aja tuh anak?”

Belvina tertawa.

“Ya udah. Aku mau tidur siang juga. Sore aku ke sana.”

“Siiaap ...!”

Delana langsung mematikan panggilan teleponnya.

***

Delana merasa baru saja memejamkan mata saat mendengar ponselnya berdering. Ia meraba kasur dan mendapati ponsel yang ia letakkan di sebelahnya.

“Halo ...!” sapa Delana menjawab telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya.

“Halo, kamu di mana?” tanya Chilton.

“Di rumah,” jawab Delana lemas, matanya masih sayup antara mimpi dan kenyataan.

“Masih tidur jam segini?” tanya Chilton.

“Mmh ... emangnya jam berapa ini?” Delana memicingkan mata menatap layar ponsel untuk melihat jam.

“Jam tiga sore,” jawab Chilton.

“Hah!? Serius?” Delana membelalakkan mata dan menoleh ke arah jam yang ada di dinding kamarnya. “Rasanya baru merem, udah jam tiga aja,” gumam Delana.

“Emang kamu tidur jam berapa?”

“Jam satu, abis maksi langsung tidur.”

“Enak banget. Kenyang langsung tidur,” tutur Chilton.

“Hehehe.” Delana meringis. “Kamu di mana?” tanya Delana.

“Masih di rumah mama.”

“Gunung Dubs?”

“Iya.”

“Salam buat mama kamu ya!”

“Siaap! Aku mau ke rumah kamu, boleh?” tanya Chilton.

“Hah!? Mau ngapain?” tanya Delana.

“Mau ngasih sesuatu.”

“Apa tuh?”

“Ada, deh. Kalo dikasih tahu, jadinya nggak surprise dong.”

“Oh. Aku mau ke kosan Belvi. Ketemu di sana aja, gimana?”

“Hmm ... boleh, deh. Sampe jam berapa kamu di sana?”

“Nginap.”

“Oke, deh. Ntar aku nyusul ke kosan Belvi. Eh, tapi kosannya di mana ya?” tanya Chilton.

“Nggak jauh dari kampus. Ntar aku share location kalo udah sampe sana.”

“Oh, deket aja? Sip lah.”

“Oke.”

Mereka terdiam beberapa saat. Delana tidak tahu harus bicara apa begitupun sebaliknya.

“Mmh ... udah dulu ya. Aku mau mandi.” Delana akhirnya berbicara sekaligus berpamitan karena tidak tahu lagi akan membicarakan apa.

“Oke.” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Dengan langkah lunglai dan mata setengah terpejam. Ia berjalan menuju kamar mandi. Kemudian bersiap pergi ke kosan Belvina.

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas