Friday, August 15, 2025

Perfect Hero Bab 306 : Cinta 100%

 


“Oom ...!” seru Yuna saat Tarudi melangkah perlahan meninggalkan rumah sakit.

Tarudi langsung tersenyum lebar mendengar suara yang ada di belakangnya. Ia berbalik dan menatap Yuna yang berdiri di sana. “Oom boleh jenguk ayah kamu?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Aku ke sini, bukan karena mau izinkan Oom jenguk ayah. Aku ... cuma minta satu hal sama Oom.”

“Apa itu?”

“Jangan ganggu hidup kami lagi!” pinta Yuna.

Tarudi tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Oke. Oom tidak akan menganggu kalian lagi. Asalkan ... kalian tidak mengambil kembali kekuasaan kalian di perusahaan.”

Yuna tertawa kecil. “Oh, jadi Oom ke sini nggak tulus mau jenguk ayah? Cuma mau mastikan ayah masih hidup atau nggak? Mau mastikan kalau perusahaan yang udah Oom rebut, nggak kembali ke tangan kami lagi?” tanya Yuna.

“Yuna, kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Di saat perusahaan lagi krisis, Oom sudah berjuang mati-matian mempertahankan perusahaan. Kalau sampai perusahaan diurus sama Adjie yang lupa ingatan itu. Perusahaan pasti akan langsung bangkrut.”

Yuna tersenyum sinis. “Oom, kami nggak menginginkan perusahaan itu kembali.”

“Beneran?” tanya Tarudi dengan wajah berbinar.

Yuna menganggukkan kepala.

“Gimana caranya supaya aku percaya, kamu dan ayah kamu nggak akan mengambil alih perusahaan itu kembali?”

“Menurut, Oom?”

Tarudi mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Kamu ucapkan sekali lagi!” pintanya sambil membuka rekaman di ponselnya. “Kamu harus menjamin kalau kamu tidak akan mengambil alih perusahaan itu.”

Yuna menganggukkan kepala. “Oom, kami nggak menginginkan perusahaan itu kembali. Kami hanya ingin hidup tenang dan aman tanpa gangguan siapa pun. Asalkan Oom bisa menjamin keselamatan ayah, aku akan menjamin kalau ayah tidak akan membuat aku merebut kembali perusahaan kamu,” ucapnya sambil tersenyum sinis.

“Baiklah. Oom akan penuhi permintaan kamu.” Tarudi tersenyum sambil memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Tapi, persaingan bisnis nggak pernah ada yang tahu gimana ke depannya. Bisa aja, perusahaan itu berpindah tangan ke aku dengan sendirinya,” lanjut Yuna sambil tersenyum sinis.

Tarudi menatap wajah Yuna. Ia berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetar ke di saku jaketnya. “Kamu mau gunain suami kamu buat menghancurkan kami?” tanyanya dengan bibir bergetar.

Yuna tersenyum menatap Tarudi. Ia melangkah perlahan mendekati pria paruh baya itu. Membuat Tarudi melangkah mundur seiring dengan langkah kaki Yuna.

“Aku nggak perlu gunain suamiku buat ngambil alih perusahaan kalian kalau aku mau. Seharusnya, Oom sudah menyadari dari awal kenapa aku memilih untuk ngambil jurusan bisnis di Melbourne.” Yuna menatap tajam ke arah Tarudi.

“Kamu ngancam saya?”

“Aku nggak ngancam, Oom. Aku cuma mau ingatin aja. Oom sudah semakin tua. Seharusnya, lebih memikirkan pesaing bisnis lain yang usianya jauh lebih muda dan lebih kreatif.”

“Aku nggak akan kalah gitu aja.”

“Oke. Aku akan lihat, sampai mana perusahaan Oom itu bertahan dalam persaingan pasar.” Yuna tersenyum sinis. Ia berbalik dan meninggalkan Tarudi.

Tarudi menatap tubuh Yuna penuh khawatir. Jika memang Yuna ingin membuktikan ucapannya. Ia bisa dengan mudahnya hancur di tangan suami Yuna. Ia harap, Yuna tidak mengambil perusahaan yang sudah ia kuasai.

 

“Huft ...!” Yuna mengipas-ngipas wajahnya menggunakan kelima jarinya saat ia masuk ke dalam ruang rawat ayahnya.

“Kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna langsung duduk di sofa. Ia meraih botol mineral yang ada di atas meja, membuka dan meminumnya. “Aku nggak nangka kalau aku bisa ngadepin orang itu,” tutur Yuna sambil tertawa.

“Nangka atau nyangka?” Yeriko mengernyitkan dahinya.

“Yang bener nyangka, aku plesetin. Protes mulu, ih!” dengus Yuna.

Yeriko dan Adjie tertawa kecil menanggapi ucapan Yuna.

“Kamu ini, ada-ada aja,” tutur Adjie sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Gimana sama paman kamu itu?” tanya Yeriko.

“Mmh ... kalo dilihat dari ekspresinya ... kayaknya aku lebih serem dari valak.”

“Hahaha.” Yeriko langsung tergelak mendengar ucapan Yuna.

Adjie menatap Yuna dan Yeriko yang terbahak bersama-sama. “Valak siapa?”

 Yuna tertawa tanpa suara sambil meletakkan dagunya di bahu Yeriko. “Ayah kan nggak tahu Valak,” bisik Yuna.

Yeriko tertawa kecil. “Kamu ini, ada-ada aja.” Yeriko menatap ayahnya. “Valak itu, tokoh hantu di film horor, Yah.”

“Owalah ... kalian suka nonton film horor?”

Yuna menganggukkan kepala. “Dia yang suka, tapi suka ketakutan doang. Hahaha.”

Yeriko langsung menjepit kepala Yuna di ketiaknya. “Kamu ngomong apa?”

“Nggak. Aku nggak ngomong apa-apa!” seru Yuna sambil tertawa.

“Kamu mau buka aibku, hah!?”

“Nggak. Mr. Ye kan pemberani,” tutur Yuna sambil menepuk-nepuk dada Yeriko.

“Aku emang pemberani,” sahut Yeriko sambil melepas kepala Yuna.

“Iya, pemberani banget tapi takut sama pocong. Gimana kalau pas kamu lembur malam dan tiba-tiba ada pocong di ruang kerja kamu?” goda Yuna.

“Nggak usah nakutin!” dengus Yuna.

“Aku nggak nakutin. Aku nanya, kamu takut nggak?”

“Nggak takut.”

“Serius?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Aku mau bayar dukun biar datangkan pocong-pocong ke kantor kamu.”

“What the hell!?” Yeriko mendelik ke arah Yuna.

Yuna tergelak.

Adjie ikut tertawa bahagia melihat kebahagiaan anaknya. Ia bisa merasakan kalau selama ini Yuna sangat mencintai Yeriko, begitu juga sebaliknya.

“Yah, lihat anak Ayah!” tutur Yeriko sambil tertawa. “Setiap hari dia selalu menindas aku.”

“Kamu yang nindas aku!” sahut Yuna sambil mengerutkan hidungnya.

“Sudah, sudah. Jangan berdebat lagi!” Adjie menengahi.

“Ayah, dia yang nggak mau ngalah sama istrinya. Suami kan harusnya ngalah.”

“Iya, aku pasrah,” sahut Yeriko.

“Hehehe. Gitu dong!”

“Yah, kalau udah bisa keluar dari sini. Ayah tinggal di rumah kami aja ya!” pinta Yeriko.

“Nggak perlu. Ayah bisa cari tempat tinggal sendiri. Ayah nggak mau ngerepotin kalian.”

“Kami nggak merasa repot sama sekali. Kami senang kalau Ayah mau tinggal sama kami.”

“Ayah ... tinggal sama kami ya!”

Adjie terdiam. Ia merasa kurang baik jika harus tinggal di rumah menantunya. Terlebih, Yuna sedang mengandung. Akan lebih merepotkan kalau ia juga tinggal di rumah itu.

“Yah ...?”

“Mmh, nanti Ayah pikir-pikir lagi. Kalian sudah makan?” tanya Adjie.

“Sudah, Yah. Ayah makan ya!” pinta Yuna sambil membuka kotak bekal untuk ayahnya. “Keasyikan bercanda, jadi lupa.”

“Sudah punya yang lain, jadi lupa sama ayahnya.”

Yuna membelalakkan matanya sambil menatap Adjie. “Ayah cemburu?”

Adjie menganggukkan kepala. “Sangat cemburu. Andai Ayah tidak terlalu lama berbaring di rumah sakit. Kasih sayang anak Ayah tidak akan dicuri oleh pria lain.”

Yuna tertawa kecil. “Ayah, cintaku ke Ayah nggak pernah berkurang dari dulu. Tetap seratus persen.”

“Kalau Ayah seratus persen, aku kebagian berapa?” tanya Yeriko.

“Seratus persen juga.”

“Kok gitu?”

“Karena aku punya seribu persen. Hahaha.”

Yeriko langsung menatap serius wajah Yuna yang masih tertawa.

“Jangan terlalu serius!” pinta Yuna. “Sesungguhnya, perasaan cinta itu nggak bisa diukur.”

Adjie tersenyum menatap Yuna dan Yeriko.

Yuna menatap dua pria yang bersamanya bergantian. “Cintaku ke ayah dan ke kamu itu sama besarnya. Jadi, nggak perlu dipermasalahkan lagi! Oke!?”

Yeriko dan Adjie saling pandang. Kemudian tertawa bersama.

“Kalau aku sama ayah sama-sama mau masuk sumur. Siapa yang kamu tolongin duluan?” tanya Yeriko.

“Aku ikut nyemplung aja. Sumurnya dalem nggak?” tanya Yuna balik.

Yeriko mengerjap-ngerjapkan matanya. “Yun, ini pertanyaan serius,” ucapnya geram.

“Aku juga serius. Lagian, zaman sekarang udah jarang ada sumur. Ngapain juga main-main ke sumur segala? Kamu bisa berenang, ayah bisa berenang dan aku juga bisa berenang. Nyemplung sumur bareng-bareng lebih asyik kan? Hihihi.”

Adjie menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Yuna. “Ada-ada aja.”

Yuna tersenyum. “Apa pun yang akan terjadi di masa depan, aku tetap ingin bersama kalian. Sesulit apa pun itu, aku tidak akan menghindarinya.”

Yeriko langsung menarik tubuh Yuna ke pelukannya.

“Eh!? Kenapa? Malu sama ayah,” bisik Yuna.

“Malu kenapa?”

Adjie tertawa kecil. Ia merasa bahagia melihat kemesraan rumah tangga anaknya itu. Ia sangat berharap kalau Yuna bisa mendapatkan kehidupan  yang baik di masa depan.

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah dukung cerita ini terus. Semoga bisa bikin ceritanya makin bermanfaat.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 305 : Paman yang Licik

 


Tarudi mondar-mandir di dalam rumahnya sembari menggenggam ponsel. Ia tak menyangka kalau Yuna menolak untuk memberitahukan rumah sakit tempat kakaknya mendapat perawatan. Ia harus memastikan kebenarannya. Apakah kakaknya itu sudah sembuh atau masih terbaring di rumah sakit.

 

“Papa kenapa?” tanya Melan yang melihat suaminya sangat gelisah.

 

“Mama tahu di mana Adjie dirawat?”

 

Melan mengedikkan bahunya. “Aku nggak peduli dia di rumah sakit mana. Setidaknya, nggak perlu menghabiskan uang buat bayar perawatannya dia.”

 

“Gimana kalau dia sembuh?”

 

“Hahaha. Dia udah lumpuh sebelas tahun. Tinggal tunggu matinya aja. Nggak mungkin dia bisa bangun secepat ini.”

 

“Kita nggak pernah tahu dia dirawat di mana. Suami Yuna itu bukan orang sembarangan. Dia punya uang banyak buat ngobatin Adjie.”

 

Melan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masuk akal. Bisa aja dia bawa mertuanya itu ke luar negeri.”

 

“Luar negeri? Aku rasa, Adjie masih di dalam kota ini.”

 

“Kalau Adjie sadar, apa dia bakal ngambil lagi saham perusahaan kita?”

 

“Aku khawatir itu terjadi.”

 

“Pa, kita nggak boleh jatuh miskin. Jangan sampai, Adjie mengambil alih kembali perusahaan kita!”

 

Tarudi menganggukkan kepala. “Papa akan pikirkan caranya.” Ia bergegas melangkah keluar dari rumahnya.

Tarudi terus mengawasi rumah Yuna dari kejauhan untuk mencari tahu ke mana saja Yuna pergi. Ia pasti bisa menemukan keberadaan kakak kandungnya itu.

 

Benar saja, setelah dua jam menunggu, ia melihat mobil Yeriko keluar dari rumahnya. Ia bergegas mengikuti mobil Yuna menggunakan sepeda motor yang ia sewa agar Yuna tak menyadari kehadirannya.

 

Saat sampai di rumah sakit, Yuna terus menoleh ke belakang. Ia merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko. Ia tak menyangka kalau istrinya memiliki kepekaan terhadap orang-orang di sekitarnya.

 

“Kayaknya, ada orang yang ngikutin kita.”

 

Yeriko menoleh ke belakang. “Siapa? Suster? Mereka biasa …” Yeriko menghentikan ucapannya saat Yuna menarik lengannya saat mereka berbelok ke koridor lain.

 

Yuna mengajak Yeriko masuk ke dalam bangsal.

 

“Kenapa sih?” tanya Yeriko.

 

“Sst …!” Yuna mengacungkan jari telunjuk di bibirnya. Ia mengajak Yeriko bersembunyi di dalam bangsal tersebut.

 

Beberapa saat kemudian, seorang pria payuh baya terlihat celingukan di koridor tersebut.

 

“Nah, kan … bener dugaanku,” gumam Yuna. Ia langsung membuka pintu tersebut dan keluar dari bangsal.

 

“Hai, Oom …! Cari aku ya?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Yuna? Ayah kamu di ruangan ini?” tanya Tarudi penuh semangat.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak akan kasih tahu di mana ayahku dirawat.”

 

“Yun, niat Oom datang ke sini itu baik. Pengen ketemu sama ayah kamu. Aku ini adiknya, Yun. Kenapa kamu ngelarang aku ketemu sama kakakku sendiri?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Mau nyelakain ayah lagi?” tanyanya.

 

Tarudi menggelengkan kepala. “Aku cuma mau tahu keadaan ayah kamu.”

 

“Ayahku lagi sakit, Oom. Dia nggak bisa ditemui sama sembarang orang. Oom lebih baik pergi dari sini. Jangan ganggu ayah lagi!” pinta Yuna.

 

“Yuna … Oom ini cuma mau lihat keadaan ayah kamu. Itu aja.”

 

“Kenapa? Oom mau jahatin dia lagi?”

 

“Gimana bisa Oom ini jahatin kakak sendiri?”

 

“Nggak usah sok baik. Aku tahu banget cara licik yang Oom pakai. Menggunakan cara licik untuk mengambil semuanya dan mencelakai ayah.”

 

“Yun, Oom nggak ngelakuin apa-apa. Semuanya terjadi secara kebetulan.”

 

“Kebetulan? Oom ambil alih perusahaan ayah itu kebetulan, hah!?”

 

“Kamu nggak ngerti, Yun. Kami melakukan transaksi pengalihan saham karena harus menyelamatkan perusahaan dari kirsis.”

 

“Oom, aku nggak mau dengar pembelaan apa pun dari Oom. Kalau  emang mau menyelamatkan perusahaan, kenapa harus celakai kedua orang tua aku? Dapetin semua harta mereka masih belum cukup?”

 

“Yun, kenapa kamu selalu berpikir buruk tentang Oom? Dia itu kakak Oom sendiri. Apa iya aku harus mencelakai kakakku sendiri?”

 

“Kenyataannya memang seperti itu, Oom. Aku nggak akan pernah lupa gimana kalian memperlakukan aku.”

 

Tarudi menghela napas. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membuat Yuna mengizinkannya bertemu dengan kakaknya.

 

Yuna menatap sengit ke arah pamannya. Ia tidak ingin pamannya tahu kalau ayahnya sudah membaik dan menggunakan cara licik untuk mencelakai ayahnya kembali.

 

“Maaf, Oom! Sebaiknya, Oom pergi dari sini,” pinta Yeriko.

 

“Aku cuma mau lihat keadaan kakak aku sendiri. Kamu itu orang luar, kenapa tega memisahkan kami yang masih saudara?”

 

Yeriko terdiam. Ucapan Tarudi memang benar. Ia tidak seharusnya memisahkan hubungan persaudaraan antara Yuna dan keluarga Tarudi. Namun ia tetap harus menyelamatkan Adjie dan Yuna dari saudara yang jahat dan licik seperti pamannya ini.

 

“Oom, andai Oom adalah orang yang selalu memperlakukan Yuna dengan baik. Oom adalah orang yang paling saya hargai. Hanya saja, saya tidak bisa bersikap baik pada orang yang sudah mencelakai istri dan ayah mertua saya.”

 

Tarudi terdiam mendapati tatapan mata Yeriko. Ia tahu kalau Yeriko anak muda yang sangat berbahaya. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk bisa memastikan keadaan Adjie yang sebenarnya.

 

Di saat yang sama, Adjie melangkah keluar dari bangsal. Tarudi yang melihatnya langsung tercengang. Ia masih tidak percaya kalau Adjie sudah membaik, bahkan bisa berjalan seperti orang normal.

 

“Kak Adjie ...?”

 

Yuna dan Yeriko langsung memutar kepalanya ke belakang, mereka langsung menghalau Tarudi agar tidak menghampiri Adjie.

 

“Kak ...!” seru Tarudi sambil berusaha menerobos Yeriko.

 

Adjie melangkah perlahan mendekati Yuna dan Yeriko. “Kalian, ngapain di sini?”

 

Yuna tersenyum. “Aku bawain sup ayam buat Ayah. Kita makan, yuk!”

 

“Kak Adjie, apa kabar?” tanya Tarudi.

 

“Dia siapa?” tanya Adjie pada Yuna.

 

“Bukan siapa-siapa,” jawab Yuna.

 

“Kak, aku Rudi. Adik kamu. Adik kandung kamu.” Tarudi tak mau kalah bicara.

 

Adjie mengernyitkan dahi sambil menatap Tarudi. “Aku nggak punya adik.”

 

“Kak!? Aku adik kamu. Kita sering bermain sejak kecil. Apa kamu lupa?”

 

Adjie memejamkan mata sambil memijat keningnya.

 

“Ayah, kita istirahat yuk!” ajak Yuna. “Nggak usah hiraukan omongan dia. Dia bukan siapa-siapa. Cuma orang yang ngaku-ngaku aja.”

 

Adjie menganggukkan kepala. Ia menuruti Yuna yang memapahnya kembali masuk ke dalam bangsal.

 

“Oom, Ayah Adjie nggak ingat apa pun selain Yuna. Sebaiknya, Oom pulang aja karena dia masih perlu banyak istirahat!” pinta Yeriko. Ia melangkah mengikuti Yuna dan Adjie.

 

Tarudi masih terpaku di tempatnya. Ia benar-benar tak percaya kalau kakaknya yang sudah terbaring di rumah sakit selama sebelas tahun ini bisa bangun dan terlihat sehat seperti dulu. Ia sangat takut jika Adjie akan mengambil alih perusahaan itu kembali.

 

Meski ia bukan pemilik saham terbesar di Wijaya Group. Namun, ia adalah pemilik utama salah satu anak perusahaan Wijaya Group. Ia tidak ingin perusahaan itu kembali jatuh ke tangan Adjie. Terlebih, kakaknya itu sangat pandai dalam berbisnis. Ia berharap, ingatan kakaknya tak pernah pulih dan tidak menginginkan perusahaannya kembali.

 

Tarudi begitu berat melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit. Perasaannya berkecamuk karena Adjie benar-benar masih hidup. Bisa berjalan normal, bisa berbicara. Amnesia yang dialami Adjie bisa saja hanya sementara dan akan mengancam hidupnya saat Adjie berhasil mengingat semuanya.

 

(( Bersambung ...))

Apa yang akan dilakukan Tarudi selanjutnya ya?

 

Baca terus ceritanya biar nggak penasaran.

Big thanks for support this story.

 

Big Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 304 : Mistrust

 


Yuna terus menatap nama kontak yang tertera di layar ponselnya. Ia tidak ingin menjawab panggilan telepon dari orang tersebut.

 

Yuna membiarkan panggilan telepon itu mati. Namun, orang tersebut masih meneleponnya kembali hingga berkali-kali.

 

Akhirnya, Yuna menjawab panggilan telepon tersebut dengan kesal. “Halo, Oom ...!”

“Halo, Yuna! Apa kabar? Sudah lama sekali Oom tidak mendengar kabar kamu. Apalagi melihat wajah kamu,” tutur seseorang di seberang sana.

 

Yuna tersenyum kecut. “Aku baik-baik aja, Oom. Oom baik juga kan?”

 

“Oom baik-baik aja. Kenapa kamu nggak pernah kelihatan lagi? Nggak pernah telepon Oom juga. Apa kamu masih marah sama Bellina?”

 

Yuna tersenyum sinis. “Oom, kelakuannya Bellina udah keterlaluan. Selama ini, aku selalu ngalah sama dia. Kenapa dia nggak berhenti ganggu aku?”

 

“Oom bener-bener minta maaf soal Bellina. Kalau dia bikin ulah lagi, Oom yang akan kasih pelajaran ke dia.”

 

Yuna memutar bola matanya. Ia sendiri tidak yakin dengan ucapan pamannya sendiri. Ia ingat bagaimana pamannya membiarkan Bellina dan tantenya terus menerus menindasnya.

 

“Oh ya, Oom dengar ... ayah kamu sudah sembuh?”

 

Yuna terdiam sejenak. “Oom dapet berita dari mana? Ayah masih koma,” jawab Yuna. Ia tidak ingin pamannya itu mengetahui kondisi ayahnya yang sebenarnya.

“Oh, maaf ... Oom kira, berita yang beredar itu benar.”

 

“Aku sangat berharap berita itu benar, Oom. Tapi, kondisi ayah sangat buruk. Setiap hari, kesehatannya menurun. Dokter bilang, kemungkinan untuk sadar kembali sangat kecil. Karena kondisi sarafnya mengalami banyak kerusakan,” tutur Yuna dengan nada sedih.

 

“Oom ikut sedih mendengar kabar ayah kamu seperti ini. Apakah kamu bisa kasih tahu Oom, di mana dia dirawat?”

 

“Huft, percuma, Oom. Ayah nggak bisa dijenguk siapa pun. Dokter melarang siapa pun menjenguknya. Aku sendiri, sulit untuk melihat kesehatan ayahku sendiri.”

 

“Yun, Adjie itu kakak kandungku sendiri. Apa aku sama sekali nggak boleh jenguk dia?”

 

“Aku juga anak kandung Ayah. Aku sendiri sulit menjenguk dia, apalagi Oom Rudi,” sahut Yuna. Dalam hatinya, ia memendam kekesalan.

 

“Yun, kita masih ada hubungan darah. Oom akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu sama ayah kamu.”

 

“Kenapa baru merasa bersalah sekarang?” tanya Yuna.

 

Tarudi tak menjawab pertanyaan Yuna.

 

“Oom, lebih baik Oom urus kehidupan keluarga Oom sendiri dan jangan ganggu kami lagi!” pinta Yuna. “Kalau memang Oom merasa bersalah, seharusnya sudah Oom lakukan sejak kematian Bunda Arum!”

 

“Yun, Oom sama sekali nggak ada hubungannya sama kematian Arum. Suami kamu itu yang mengada-ngada supaya hubungan persaudaraan kita hancur.”

 

Yuna tersenyum kecil. “Makasih, Oom sudah peringatin aku kalau aku punya suami yang sangat jahat sehingga ingin memisahkan aku dari satu-satunya keluarga yang aku punya. Tapi, aku lebih percaya sama suamiku,” tegas Yuna.

 

“Huft, baiklah. Kamu sudah terlanjur tergila-gila dengan pria itu sehingga apa pun yang keluar dari mulut Oom, tidak akan ada gunanya.”

 

“Baguslah kalau Oom tahu itu. Jadi, sebaiknya kita nggak perlu berhubungan lagi. Aku bisa melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Asalkan, Oom tetap membiarkan kami hidup dengan tenang dan aman.”

 

“Yuna ... kenapa kamu ini masih aja keras kepala. Oom tahu, banyak kesalahan yang sudah dibuat Bellina dan Melan. Tapi, kita ini tetap keluarga. Hubungan darah nggak bisa diputus begitu saja. Apa kamu benar-benar sudah tidak menganggap Oom ini sebagai paman kamu lagi?” tanya Tarudi lagi.

 

“Maaf, Oom. Aku bukan ingin memutuskan hubungan darah. Aku hanya ingin hidup dengan tenang. Jadi, jangan ganggu kami lagi!” pinta Yuna.

 

“Yun, kamu masih marah karena kelakuan Bellina. Oom cuma mau jenguk ayah kamu. Kenapa kamu harus bersikap seketus ini?”

 

Yuna menghela napas panjang. Ia tidak tahu lagi bagaimana menghadapi pamannya itu. Sebenarnya, selama ini pamannya selalu bersikap baik terhadapnya. Hanya saja, ia tetap membiarkan Bellina dan Melan terus menindasnya.

 

“Oom, aku udah bilang kalau Ayah nggak bisa dijenguk. Kondisinya lagi kritis!” seru Yuna kesal. Ia langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

“Iih ... ngeselin!” Yuna menghentakkan kakinya sambil menatap pemandangan di luar jendela.

 

“Paman kamu?” tanya Yeriko yang masih duduk di meja kerjanya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Dia tahu dari mana kalau ayah udah sembuh? Aku kan nggak ngasih tahu mereka.”

Yeriko menggelengkan kepala. Ia semakin yakin kalau ada orang yang terus mengawasi keadaan ayah mertuanya.

“Pokoknya, aku nggak mau kalau mereka sampai nemuin Ayah. Kita ke rumah sakit naik taksi aja. Aku takut, mereka ngikutin kita ke rumah sakit.”

Yeriko tertawa kecil.

“Kenapa malah ketawa? Aku serius!” dengus Yuna kesal. Ia berjalan menghampiri Yeriko yang masih duduk di singgasananya.

“Apa paman kamu itu kekurangan kerjaan sampai harus nguntit kita?”

“Bisa aja, kan. Dari cara ngomongnya dia. Kayaknya, dia ngerencanain sesuatu ke Ayah. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama ayahku.”

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu tenang aja! Nggak usah terlalu khawatir! Nggak baik untuk kandungan kamu. Ruang rawat ayah kamu dijaga ketat. Seandainya paman kamu bisa menemui keberadaannya, dia nggak akan berani macam-macam.”

“Kamu yakin?”

“Iya. Aku pasti menangani ini.”

“Kamu lagi ngerencanain sesuatu?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Kalau semua berjalan sesuai prediksiku, aku harap hasil akhirnya juga akan sesuai.”

Yuna mengerutkan dahinya. “Aku nggak paham. Bisa diceritain ke aku?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Karena ...” Yeriko menarik tubuh Yuna ke pangkuannya. “Kamu nggak boleh mikirin hal lain selain aku dan anak kita.”

“Egois banget?” dengus Yuna sambil tersenyum kecil.

Yeriko tersenyum kecil. “Kalau aku nggak egois, aku nggak bisa nikahin kamu.”

Yuna mengerutkan hidungnya. “Kamu bener-bener menggunakan kekuasaan untuk mengendalikan orang lain, hah!?”

“Bukannya kamu yang mengendalikan aku selama ini?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak ngelakuin apa-apa. Udah waktunya makan siang, makan yuk!” ajak Yuna sambil bangkit dari pangkuan Yeriko.

“Hmm ...” Yeriko menahan lengan Yuna.

“Kenapa?” tanya Yuna

Yeriko langsung menyodorkan bibirnya.

“Sudah tua, masih aja manja,” celetuk Yuna. Ia mengecup bibir Yeriko dan mengajaknya makan siang bersama di kantornya.

“Sore ini, kita jenguk ayah lagi, kan?” tanya Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. “Kamu mau pulang dulu atau nunggu di sini?”

“Aku pulang dulu. Mau masakin buat ayah.”

“Oke. Masakin buat aku juga ya!”

“Mau makan apa?”

“Makan ...” Yeriko melirik ke langit-langit ruangan. “Apa aja, yang penting kamu yang masakin.”

Yuna tersenyum kecil. “Masakanku nggak terlalu enak. Masih enakan masakan Chef Rafa. Aku banyak belajar dari dia.”

“Oh ya? Pantes aja setiap hari masakan kamu makin enak?”

“Serius!?”

Yeriko mengangguk sembari mengunyah makanan di mulutnya.

“Bukan terpaksa karena mau bikin aku seneng ‘kan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Kalau mau bikin kamu seneng, tinggal ajak ke restoran.”

Yuna memonyongkan bibirnya.

“Tapi, masih enak masakan kamu daripada masakan restoran?”

“Oh ya? Apa perlu aku bilang ke koki restoran kalau aku aja yang masak di sana?”

“Jangan!”

“Kenapa? Kenyataannya, masakan aku biasa-biasa aja kan?”

“Aku suka yang biasa. Lagipula, kalau kamu jadi koki restoran. Yang jadi istri aku siapa? Mau tukeran sama koki?”

Yuna mengerutkan hidungnya sambil memukul lengan Yeriko.

Yeriko tergelak. Ia terus mengajak Yuna bercanda agar tidak begitu memikirkan permasalahan antara ayah dan pamannya. Ia sudah mengetahui semua yang terjadi dari mulut Adjie dan tidak ingin membuat Yuna merasa khawatir. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Yuna dan keluarganya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Terima kasih sudah mendukung cerita ini terus. Semoga, bisa bikin cerita yang lebih menarik lagi.

 

Salam hangat,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 303 : Di Bawah Kendali

 

 


Keesokan harinya, Yuna dan Yeriko kembali mengunjungi ayahnya yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Setiap hari, mereka selalu menyempatkan diri mengunjungi ayah Yuna.

“Perasaanku nggak enak,” celetuk Yuna. Ia menghentikan langkahnya saat berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang perawatan ayahnya.

“Kenapa?” tanya Yeriko.

Yuna menoleh ke belakang. “Kenapa akhir-akhir ini, aku ngerasa ada yang selalu ngikutin kita?”

“Mungkin perasaan kamu aja. Tempat seramai ini, banyak orang yang selalu melangkah beriringan dengan kita.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Semoga, memang perasaanku aja.”

Yeriko tersenyum. Ia memeluk pinggang Yuna dan mengajaknya masuk ke dalam kamar perawatan ayah Yuna.

“Sore, Ayah!” sapa Yuna ceria sambil mencium kedua pipi ayahnya.

Yeriko tersenyum di belakang Yuna. Ia juga ikut menyapa Adjie dengan ramah.

“Yah, aku buatin bubur ayam buat Ayah. Ayah harus makan ya! Mumpung masih hangat,” tutur Yuna sambil membuka kotak bekal yang ia bawa.

Adjie mengangguk sambil tersenyum. “Sepertinya, Ayah sudah merepotkan kamu. Bukannya, kamu lagi hamil muda. Seharusnya, lebih banyak istirahat. Nggak perlu serepot ini.”

“Ayah ... Ayah nggak suka masakan aku?”

“Bukan, bukan. Bukan gitu. Ayah cuma nggak mau ngerepotin kamu yang lagi hamil.”

Yuna tersenyum menatap Adjie. “Yah, ibu hamil harus tetap beraktivitas biar selalu sehat. Asal nggak melakukan hal yang berat. Aku terlalu banyak bersantai. Cuma bisa bikin masakan buat Ayah dan Yeri.”

“Apa kamu nggak melakukan pekerjaan rumah?”

“Aku nggak bisa melakukan pekerjaan rumah,” jawab Yuna sambil menahan tawa.

“Kenapa? Bukannya seorang istri harus melayani keperluan suami dengan baik. Mengurus rumah, mengurus anak dan lain-lain.”

Yuna tersenyum. Ia menyendok bubur yang ada di tangannya dan menyuapkan ke mulut ayahnya. “Yah, di rumah ada enam orang pelayan, dua ajudan, dua satpam, dua supir dan satu asisten pribadi. Aku terlalu santai.”

“Pelayan sebanyak itu, apa tidak boros? Lebih baik, kamu kerjakan pekerjaan rumah pelan-pelan!” pinta Adjie.

“Aku masih mampu bayar pelayan, nggak mungkin membiarkan istriku mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri,” tutur Yeriko sambil tersenyum.

“Tapi, itu pemborosan sekali. Lebih baik uangnya kalian simpan untuk masa depan!” pinta Adjie.

Yeriko tersenyum kecil. Ia merasa bahagia melihat perhatian Adjie pada puteri kecilnya. Yuna begitu beruntung memiliki ayah yang baik.

“Yah, Yeriko sudah pasti memikirkan masa depan kami. Ayah nggak perlu khawatir!” pinta Yuna sambil tersenyum.

“Lagipula, pelayan-pelayan itu sudah kembali ke rumah besar. Hanya ada Bibi yang menjaga kami.”

“Kalian tinggal dengan Bibi kalian?” tanya Adjie.

“Bukan, Yah. Bibi War itu ... penjaga Yeriko sejak dia masih kecil.”

“Oh.” Adjie manggut-manggut tanda mengerti.

Yuna tersenyum. Ia terus menyuapi ayahnya sambil bercerita. “Gimana perkembangan kaki Ayah?” tanya Yuna.

“Baik. Sangat baik. Anak kesayangan Ayah selalu mengirimkan nutrisi seperti ini. Tentunya, Ayah selalu bersemangat untuk sehat lagi.”

Yuna tersenyum. “Aku masakin buat Ayah setiap hari. Tapi, Ayah harus rajin terapi dan tetap semangat!” pinta Yuna ceria.

Adjie menganggukkan kepala. “Lagipula, biaya rumah sakit ini sangat mahal. Ayah nggak akan sanggup membayarnya.”

Yuna menggigit bibirnya.

“Ayah nggak perlu khawatir. Aku nggak minta ganti biaya rumah sakit,” sela Yeriko.

“Eh, maaf! Ayah bukan bermaksud untuk menyinggung kamu. Walau kamu adalah suami Yuna. Tidak seharusnya, Ayah menghabiskan banyak uang kamu.”

Yeriko tertawa kecil. “Ayah nggak perlu sungkan. Kesehatan Ayah lebih dari segalanya.”

Adjie tersenyum. Ia langsung menatap puteri kesayangannya. “Kamu beruntung sekali bisa punya suami sebaik ini.”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ayah juga beruntung punya menantu sebaik dia.”

Adjie tertawa bahagia. “Ini sudah hampir senja, sebaiknya kalian pulang! Kamu lagi hamil, nggak baik ada di luar senja-senja seperti ini,” pinta Adjie.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Ayah baik-baik di sini!” tuturnya sambil mengecup tangan ayahnya.

Yeriko melirik ke arah pintu. Ia bisa melihat seseorang sedang memerhatikan mereka dari balik kaca pintu ruangan tersebut.

“Ayo, kita pulang!” ajak Yeriko. “Ayah, kami pulang dulu. Besok, kami ke sini lagi,” pamitnya.

Adjie menganggukkan kepala. “Hati-hati di jalan!” pintanya.

Yeriko dan Yuna menganggukkan kepala. Mereka bergegas keluar dari ruangan tersebut.

Yuna menyusuri koridor dengan gelisah. Ia merasa selalu ada yang mengikuti langkahnya dari belakang.

Yeriko juga menyadari kegelisahan yang tergambar dari raut wajah Yuna. Ia merogoh ponsel dari sakunya dan langsung menelepon Riyan.

“Halo, Pak Bos!”

“Yan, kamu sudah kerjain apa yang aku suruh kemarin?” tanya Yeriko.

“Sudah, Pak Bos.”

“Cek semua CCTV hari ini. Pastikan, orang itu ada di bawah kendali kita!” perintah Yeriko.

“Siap, Pak Bos!”

“Oh ya, aku udah minta bantuan Satria. Kamu, coba hubungi dia!” perintahnya.

“Siap, Pak Bos!”

Yeriko langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Ada apa?” tanya Yuna yang melangkah seiringan dengan langkah kaki Yeriko.

Yeriko tersenyum kecil. “Nggak papa. Ada sesuatu yang harus diselesaikan.”

“Apa itu?”

“Ck, kenapa kamu selalu penasaran sama urusan pria?”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Apa karena wanita, jadi nggak boleh tahu urusan pria?”

Yeriko tersenyum kecil. Ia langsung membukakan pintu mobil untuk Yuna. “Kamu fokus mikirin anak kita aja. Nggak perlu memikirkan hal lain! Aku sudah bilang, urusan yang lain akan aku atasi.”

Yuna mengangguk. Ia duduk di dalam mobil dan langsung memasang safety belt ke pinggangnya.

Yeriko juga ikut masuk ke dalam mobil dan bergegas melaju menuju rumahnya.

 

...

 

“Halo, Bos!” Seseorang dengan seragam medis terlihat bersembunyi di tempat yang tak terjangkau dari CCTV.

“Ada apa?” tanya seseorang di ujung telepon.

“Pak Adjie sudah bangun dari komanya.”

“APA!? Gimana bisa dia bangun?”

“Nggak tahu, Bos. Saya sudah menyuntikkan cairan tersebut melalui cairan infus pasien. Tapi, dia masih bisa bangun.”

“Goblok! Bunuh satu orang yang udah nggak berdaya aja kamu nggak bisa, hah!?”

“Maaf, Bos! Saya sudah berusaha. Penjagaan ruangan itu semakin ketat. Sepertinya, mereka mulai menyadari keberadaan kita.”

“Goblok! Sebelas tahun saya nunggu kematian dia. Kamu membuat rencana saya rusak gitu aja. Sebelum orang lain mengetahui keberadaan saya. Kamu dan semua keluargamu harus mati!”

“Jangan, Bos! Saya janji akan ngelakuin apa aja. Jangan bunuh keluarga saya!”

“Saya akan lihat kerjaan kamu selanjutnya. Kalau gagal lagi, saya nggak akan ngasih kesempatan!”

“Baik, Bos!” Pria itu langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia bergegas melepas seragam medis yang melekat di tubuhnya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia bergegas turun lewat tangga darurat, melangkah menyusuri lorong-lorong yang tak terjangkau CCTV. Berbaur dengan pengunjung dan pasien yang lalu lalang di rumah sakit tersebut.

Pria tersebut bergegas keluar rumah sakit, masuk mobil dan melajukan kendaraannya menuju rumah untuk memastikan keadaan keluarganya masih dalam keadaan baik-baik saja. Ia akan melakukan apa saja untuk melindungi keluarganya sendiri. Termasuk, mengorbankan dirinya sendiri. Hidup di bawah tekanan orang lain memang tidak mudah. Tapi, ia tidak punya pilihan lain lagi. Ia tidak bisa lagi terbebas dari orang yang sudah mengendalikannya.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Siapa sebenarnya orang yang menginginkan nyawa ayahnya Yuna?

Yuk, ikuti terus ceritanya karena masih ada banyak rahasia yang belum terkuak.

Thanks udah dukung terus cerita ini.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas