Sunday, August 17, 2025

THEN LOVE BAB 14 : MULAI NYAMAN

 BAB 14 - Mulai Nyaman



Pagi ini, Delana dan Chilton menikmati sarapan pagi bersama di taman kampus seperti biasa.

“Kayaknya lebih enak gini,” celetuk Chilton.

“Apanya?”

“Sarapannya ada yang nemenin. Daripada cuma ditontonin doang.”

Delana tersenyum. “Kebetulan aja aku tadi belum sempat sarapan di rumah.”

“Oh, aku kira kamu sengaja mau nemenin aku sarapan.”

Delana meringis mendengar ucapan Chilton. Entahlah, antara sengaja dan tidak sengaja. Delana lebih senang memerhatikan Chilton melahap habis masakannya daripada ia yang diperhatikan ketika ia makan. Ia sedikit canggung karena Chilton terus memerhatikannya.

“Makasih atas hadiahnya, ya!” ucap Delana sambil tersenyum lebar.

“Suka?”

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Ntar sore berangkat les bareng, ya!” pinta Chilton.

Delana mengangguk tanpa menyahut sedikitpun.

“Kamu kenapa?” tanya Chilton.

“Eh!? Kenapa apanya?” Delana melongo menatap Chilton. Ia tak mengerti maksud pertanyaan cowok itu.

“Biasanya bawel. Kenapa cuma manggut-manggut aja?” tanya Chilton sembari menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.

“Bawelnya udah pindah ke kamu.” Delana berusaha menahan senyum. Tapi, tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan kalau wajahnya menahan tawa.

Chilton terdiam. Ia menoleh ke arah Delana yang duduk di sampingnya. Ia baru menyadari kalau ia memang lebih banyak bicara ketika bersama Delana. Rasanya, ia sulit melakukannya dengan orang lain. Apa karena Delana terlalu sabar dan tetap terlihat bahagia walau kadang ia tak bersahabat.

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia mendapat telepon dari nomor luar negeri. Delana langsung menjawab panggilan telepon tersebut.

“Halo ... ini siapa ya?” tanya Delana karena nomor yang tertera tidak tersimpan di kontaknya.

“.....”

“Oh, kamu. Gimana kabarnya?”

“....”

“Aku juga baik. Di mana sekarang?”

“....”

“Hah!? Serius? Bulan Agustus?” tanya Delana. Ia melirik Chilton yang terlihat mulai gusar.

“....”

“Beneran, ya? Aku tunggu. Kangen banget udah lama nggak ketemu sama kamu,” tutur Delana penuh bahagia, karena ia memang sangat menantikan kehadiran teman lamanya itu.

“.....”

“Oke, deh. Bye ...!” Delana langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Siapa?” tanya Chilton menyelidik.

“Temen sekolah dulu. Katanya mau ke sini karena kebetulan lagi liburan. Lama banget nggak ketemu dan dia sekarang di luar negeri.”

“Temen cowok?”

Delana tersenyum dan tidak ingin memberikan jawaban pada Chilton. Ia sengaja ingin melihat sikap Chilton. Apakah dia biasa-biasa saja atau akan cemburu ketika tahu kalau Delana akan bertemu dengan teman cowok.

Chilton tersenyum kecut membalas senyum Delana. Ia tidak mengerti kenapa ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya saat ia tahu kalau Delana akan bertemu dengan seseorang. Ia berharap, teman laki-laki Delana itu bertubuh gemuk, kulitnya hitam, wajahnya jerawatan dan suka kentut sembarangan agar Delana ilfeel bertemu dengan teman luar negerinya itu.

“Besok nggak usah bawain aku sarapan, ya!” pinta Chilton.

“Eh!? Kenapa?” Delana tiba-tiba merasa bersalah karena Chilton akhirnya menolak sarapan buatannya untuk pertama kali.

Chilton tersenyum menatap Delana. “Besok ... aku mau masak. Dan kamu harus temenin aku sarapan!” pintanya.

“Hah!? Are you serious?” tanya Delana masih kurang yakin dengan ucapan Chilton.

“Emangnya aku kelihatan bercanda?” Chilton menatap serius wajah Delana.

Delana hanya tersenyum menanggapi. Ia percaya kalau kali ini Chilton memang serius. Ia menatap wajah Chilton dengan seksama. Tak ada gurat wajah kesal atau cemburu ketika Delana bilang akan bertemu dengan temannya yang bersekolah di luar negeri. “Apa dia emang nggak suka sama aku? Jadi, reaksinya biasa aja,” batinnya dalam hati.

***

“Ma, sibuk nggak?” tanya Chilton begitu masuk ke dalam rumah mamanya.

“Kenapa?” Astria menatap wajah Chilton yang terlihat kebas.

“Ajarin aku masak!” pinta Chilton sambil melempar ransel yang ia kenakan asal-asalan, tak peduli ransel itu tergeletak begitu saja di lantai.

Astria mengerutkan dahinya. Ia masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba Chilton minta diajari memasak. “Bukannya kamu sudah bisa masak?” tanya Astria.

“Cuma masak nasgor sama mie doang, Ma. Rasanya juga biasa aja. Aku mau belajar masak yang enaknya beneran,” sahut Chilton.

Astria menghela napas sejenak. Ia menatap Chilton dan bertanya, “kamu mau masak apa?”

“Apa aja, yang penting enak dan mudah.”

“Yang paling mudah ya bikin nasgor sama mie instan,” celetuk Astria.

“Mmh ... Nasgor aja. Tapi, yang rasanya kayak bikinan—” Chilton menghentikan ucapannya.

“Siapa?” Astria menaikkan satu alisnya. “Ibu kantin?” tanyanya kemudian.

Chilton menggelengkan kepala.

“Aha ... Mama tahu. Pasti yang kemarin kamu ajak ke sini, ya?” selidik Astria.

Chilton meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Astria melipat kedua tangannya di depan dada. “Dia pacar kamu?”

Chilton menggelengkan kepala. “Cuma temen.”

“Kenapa kamu pengen banget bisa bikin nasgor yang enak? Bukannya kamu biasa makan nasgor masakanmu sendiri?”

“Aihh ... Mama ...!” rengek Chilton. “Aku mau kasih kejutan buat dia.”

“Hmm ...” Astria tersenyum menatap wajah anaknya. “Kamu suka sama dia?”

“Enggak.” Chilton menggelengkan kepala.

“Kenapa harus ngasih kejutan? Pasti dia spesial buat kamu ‘kan?”

“Ma, aku mau belajar masak. Bukan mau diinterogasi kayak gini. Mama mau ajarin aku atau enggak?” tanya Chilton.

“Iya ... Mama mau ajarin. Tapi, Mama juga perlu tahu apa yang bikin anak Mama berubah kayak gini.”

“Nggak ada, Ma. Aku cuma nggak mau berhutang budi terus sama dia. Hampir setiap hari dia selalu nyiapin sarapan buat Chilton. Aku cuma mau balas kebaikannya aja. Kita cuma temen biasa, nggak lebih.” Chilton bergegas memasuki dapur. Ia tak lagi peduli apakah mamanya akan mengajarinya memasak atau tidak. Jalan satu-satunya adalah belajar dari internet. Walau ia lebih banyak gagal daripada berhasil ketika ia menjadikan internet sebagai gurunya.

Astria mengikuti langkah Chilton memasuki dapur. Dengan senang hati ia mengajari anaknya memasak nasi goreng spesial seperti yang biasa ia buatkan untuk putera tercintanya itu.

“Nah, ini mantap!” puji Chilton pada masakannya sendiri saat ia sudah selesai memasak, dibantu dengan mamanya.

Astria tersenyum menatap anaknya yang tiba-tiba terlihat begitu bahagia dan ceria. Pemandangan yang tak biasa ketika melihat anaknya yang jarang berkomunikasi tiba-tiba menjadi anak yang sering tersenyum dan banyak bicara. Bahkan, ia belum pernah mendengar Chilton memuji masakan mamanya sendiri.

“Mmh ...” Chilton membalikkan tubuhnya menatap Astria. “Ma, besok pagi apa aku bisa masak dengan rasa yang sama?”

“Bisa,” jawab Astria sambil tersenyum lebar.

Chilton menghela napas. “Aku nggak yakin.”

“Harus yakin, dong!” Astria menggenggam pundak anaknya. “Semua akan terasa jauh lebih nikmat ketika kamu membuatnya dengan cinta.”

Chilton tertawa kecil. Ia menatap masakannya sendiri. Ia berharap, besok pagi bisa membuat nasi goreng yang lebih enak dari yang ia buat hari ini.

“Aku nginap di sini, ya! Mama bantu aku besok pagi,” pinta Chilton.

“Mau mama yang masakin?” tanya Astria.

“Jangan!” sahut Chilton. “Aku mau kasih masakan aku sendiri. Mau kayak gimana rasanya nanti. Yah, yang penting udah usaha pake tangan aku sendiri.”

“Goodluck!” Astria menepuk pundak Chilton dan berlalu pergi meninggalkan dapur.

Chilton tersenyum kecil menanggapi ucapan mamanya. Ia ingin sekali bisa mengucapkan terima kasih pada mamanya. Tapi, ia tidak tahu bagaimana cara memulainya.

***

“Chil, bangun sayang!” Astria mengetuk pintu kamar Chilton.

Chilton tak kunjung menjawab. Akhirnya, Astria memilih masuk ke dalam kamar anaknya dan langsung membangunkannya.

“Chil, bangun!” Astria menggoyang-goyangkan tubuh Chilton.

“Mmh ... jam berapa, Ma?” tanya Chilton.

“Jam lima,” jawab Astria.

“Masih pagi banget. Aku kuliahnya jam delapan.” Chilton menutup wajahnya dengan bantal agar ia tak bisa mendengar mamanya membangunkannya.

Astria menarik bantal yang dipake Chilton untuk menutupi telinganya. “Katanya suruh bangunin pagi-pagi, mau masak buat cewek yang kamu suka itu?”

“Hah!?” Chilton gelagapan dan langsung bangkit dari tidurnya.

Astria menggelengkan kepala melihat tingkah Chilton yang seperti anak kecil takut ketinggalan kereta liburannya.

Setelah mencuci wajahnya, Chilton bergegas masuk ke dapur. Semua bahan sudah disiapkan oleh mamanya. Namun, mamanya tidak ingin membantunya sedikitpun walau hanya mengupas kulit bawang. Astria duduk di meja makan sembari mengecek email yang masuk ke ponselnya.

“Ma, tolong icipin! Ini kurang apa ya?” tanya Chilton sembari menyodorkan satu sendok nasi goreng yang sudah hampir masak.

Astria meraih sendok yang disodorkan oleh Chilton dan langsung mencicipinya. “Kurang garam dikit,” tuturnya kemudian.

“Oke.” Chilton kembali berlari mendekati kompor. Ia menambahkan sedikit garam pada nasi goreng yang sudah matang. Ia mencicipinya sekali lagi. Setelah dirasa enak, ia langsung mematikan kompor dan mencari kotak bekal di rak piring.

“Cari apa?” tanya Astria yang menyadari Chilton sedang mencari sesuatu.

“Kotak bekal.”

“Di lemari yang kuning itu!” tunjuk Astria.

Chilton langsung membuka lemari yang dimaksud mamanya dan mengambil salah satu kotak bekal yang tersimpan di dalamnya bersama dengan perabotan lainnya. Ia langsung memasukkan nasi goreng ke dalam kotak nasi dan menutupnya rapat-rapat.

“Jangan langsung ditutup, tunggu dingin dulu!” seru Astria.

“Eh!? Biar tetep anget, Ma.”

“Nanti berair. Lebih baik tunggu dingin dulu sambil kamu mandi.”

“Oh, gitu?” Chilton menuruti perkataan mamanya. Ia membuka kembali kotak bekal tersebut dan meninggalkannya. Ia bergegas naik ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

Chilton langsung memasukkan kotak bekal ke dalam ransel dengan tergesa-gesa. “Mama tumben belum berangkat kerja?” tanya Chilton.

“Lagi nggak banyak kerjaan.”

“Oh. Aku berangkat dulu, Ma!” pamit Chilton sembari mencium pipi mamanya.

“Iya, hati-hati!” seru mamanya. “Salam buat dia ya!”

“Dia siapa?” teriak Chilton pura-pura tak tahu. Ia bergegas keluar dari rumah dan tak lagi bisa mendengar ucapan mamanya.

***

Delana melangkahkan kaki dengan ceria menuju kampus. Ia sengaja tak membawa bekal sarapan seperti biasa karena Chilton sudah berjanji akan membuat masakan untuknya hari ini. Ia tak menyangka kalau cowok itu suka memberikan kejutan kecil untuknya. Tidak pernah mengucapkan kata-kata romantis, tapi sikapnya membuat Delana jatuh cinta berkali-kali.

Delana menunggu Chilton di kursi taman seperti biasa. Ia menunggu sembari melihat-lihat beranda akun media sosialnya. Sesekali ia tertawa melihat postingan lucu dari temannya.

Dua puluh menit kemudian, Chilton akhirnya muncul dengan wajah sumringah.

“Udah lama nunggu?” tanya Chilton.

“Belum.”

Chilton duduk di samping Delana. Melepas ransel dan mengambil kotak bekal dari dalamnya. “Ini sarapan buat kamu!” Chilton menyodorkan kotak bekal itu kepada Delana.

Delana tersenyum dan menerimanya. “Makasih, ya!” Ia langsung membuka kotak bekal tersebut dan mendapati isinya sudah berhambur. Ia tertawa kecil namun tetap mencicipinya dengan senang hati.

“Kok, terhambur gitu ya?” Chilton menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Kamu masukin di ransel. Jelas aja terhambur,” sahut Delana. “Tapi, rasanya tetep enak, kok.”

“Serius?”

Delana menganggukkan kepala. “Ini beneran kamu yang masak?”

“Bener, lah! Kamu ini kayak nggak percaya sama aku gitu?”

“Iya. Aku percaya.” Delana tersenyum menatap Chilton.

“Enak, nggak?” tanya Chilton.

“Enak.”

Chilton menghela napas. “Syukur, deh!”

Delana tersenyum menanggapi ucapan Chilton. “Betewe, si Attala gimana kabarnya? Masih nge-game?” tanya Delana.

“Masih.”

“Kuat banget dia nge-game.”

Chilton hanya tersenyum menanggapi ucapan Delana.

“Masih pacaran sama coser seksi itu?” tanya Delana lagi.

Chilton mengedikkan bahunya. “Mereka udah lama putus gitu loh.”

“Oh, iya ya? Lupa aing.” Delana menepuk jidatnya.

Chilton tersenyum kecil sembari menatap wajah Delana.

“Kamu nggak balik nge-game lagi?” tanya Delana.

Chilton menggelengkan kepala. “Males, rusuh!”

“Artis emang gitu, banyak fansnya,” tutur Delana sembari memakan masakan Chilton untuk pertama kalinya.

Mereka menikmati sarapan pagi bersama sebelum akhirnya masuk ke kelas masing-masing.


***


Chilton mondar-mandir di taman kampus. Sesekali ia melihat arloji yang ada di pergelangan tangan kirinya. Lima belas menit lagi masuk kelas. Tapi, Delana tak kunjung datang. Tak seperti biasanya, Delana selalu datang terlebih dahulu dan menunggu Chilton. Kali ini, Delana tak terlihat dan tak ada tanda-tanda kalau cewek itu akan datang.

 “Del, kamu di mana, sih?” gumam Chilton.

Ia merogoh ponsel di sakunya kemudian menelepon nomor Delana. Tapi, nomor ponsel Delana tidak aktif dan membuatnya semakin resah.

Selama jam pelajaran berlangsung, Chilton terlihat gusar. Entah kenapa ia merasa khawatir ketika sosok yang biasa ia temui setiap hari tiba-tiba tak muncul di hadapannya dan tidak ada kabar sama sekali.

Saat jam istirahat, Chilton memutuskan untuk mencari Delana ke kelasnya. Namun, teman-teman sekelasnya bilang kalau Delana tidak masuk kuliah hari ini.

“Kenapa dia nggak masuk?” Pertanyaan Chilton tak mendapat jawaban karena semua orang yang ia tanya mengedikkan bahunya.

Chilton menghela napas kecewa. Ia berusaha menelpon Delana tapi nomor ponselnya tak kunjung bisa dihubungi. Hampir saja ia membanting ponselnya karena kesal.

Chilton kembali ke kelas. Ia mengambil ransel miliknya dan bergegas keluar dari kampus. Ia tak lagi peduli dengan mata kuliahnya. Ia terus berlari sampai ia menemui rumah putih berlantai dua yang ada di dalam gang seberang kampusnya.

Chilton menekan bel beberapa kali tapi tak ada yang keluar untuk membukakan pintu. Chilton mengamati halaman rumah Delana dari balik pagar besi. Garasi mobilnya tertutup rapat dan lampu teras masih menyala. Artinya, tidak ada orang di dalam rumah itu sejak semalam atau kemarin. Sebab, rumah yang berpenghuni tidak akan membiarkan lampu teras rumahnya menyala pada siang hari.

Chilton membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki dengan gontai. Ia terlihat tak begitu semangat dan langsung kembali ke asrama.

“Hei, Chil ... kamu kenapa?” sapa Attala saat bertemu dengan Chilton di koridor asrama. “Kayak orang lagi putus cinta aja. Kusut banget tuh muka.”

Chilton tak menjawab. Ia bersikap dingin dengan temannya sendiri. “Kamu nggak kuliah?”

“Nggak. Bangun kesiangan,” jawab Attala meringis.

Chilton tersenyum sinis dan langsung meninggalkan Attala. Ia sudah hafal kenapa Attala sering bangun kesiangan. Sudah jelas ia bermain game online sampai larut malam.

Sementara Attala hanya menggeleng-gelengkan kepala karena menjadi sasaran kekesalan Chilton.

Chilton langsung masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar dan membayangkan setiap hari yang ia lewati bersama Delana. Ia merasa hari ini begitu kosong karena tak lagi melihat senyum dan tawa gadis itu.

“Kamu ke mana sih, Del?” gumam Chilton. Ia mencari ponsel dan kembali berusaha menelepon Delana. Ia berharap, nomor ponselnya bisa dihubungi kali ini.

TUUT ...

TUUT ...

TUUT ...

Chilton tersenyum karena akhirnya nomor ponsel Delana aktif juga. Tapi, Delana tak kunjung menjawab telepon darinya. Pada panggilan keempat, barulah Delana menjawab panggilan dari Chilton.

“Halo ...!” Terdengar suara Delana dari seberang sana.

“Halo, kamu di mana?” tanya Chilton langsung bangkit dari tidurnya.

“Aku lagi di Berau.”

“Ngapain di sana?” tanya Chilton.

“Liburan, dong!” jawab Delana ceria.

“Kamu pergi liburan nggak ajak-ajak. Nggak ada ngasih kabar juga. Kamu ke Derawan?” tanya Chilton.

“Hehehe ... aku juga nggak tahu. Mendadak ayah ngajak ke sini karena dia ada urusan kerjaan. Selajur ngajak aku sama Bryan liburan.”

“Oh, gitu? Kenapa nomer kamu nggak aktif dari tadi pagi?”

“Lupa nge-charger hp.”

“Kebiasaan!”

“Hehehe ... kamu lagi apa? Bukannya ini jam kuliah? Kok, bisa telepon aku?”

“Aku nggak kuliah.”

“Kenapa?”

“Terlanjur bete.”

“Bete kenapa?” tanya Delana.

“Kapan balik?” tanya Chilton balik, ia enggan menjawab pertanyaan dari Delana.

“Besok pagi udah balik, kok. Kenapa? Kangen ya?” goda Delana.

“Gak!” jawab Chilton singkat.

“Oh, ya udah. Kalo nggak kangen ya aku nggak usah balik. Di sini banyak turis-turis ganteng. Kayaknya, aku betah deh di sini,” tutur Delana, ia sengaja ingin tahu reaksi Chilton.

Chilton geram mendengar penuturan Delana. “Ya udah, nggak usah balik! Di sini juga banyak cewek-cewek cantik!” Chilton memaki layar ponselnya. Ia langsung mematikan panggilannya dan melempar ponselnya ke atas kasur. Ia semakin kesal dengan sikap Delana yang begitu menyepelekan dirinya.

“Dia itu suka sama aku atau nggak sih!?” tanya Chilton pada dirinya sendiri. “Kadang perhatian banget, kadang nyebelinnya minta ampun,” celetuknya.

Drrt ... Drrt ... Drrt ...!

Tiba-tiba ponsel Chilton bergetar. Ia langsung meraih ponselnya dan membuka pesan Whatsapp dari Delana.

Delana mengirimkan pesan video dengan latar pantai yang terlihat sangat memesona. “Jangan ngambek gitu, dong! Jelek tahu! Ini, aku lagi di pantai sama Bryan.” Delana menunjukkan tubuh Bryan yang berdiri di belakangnya sambil memegang kamera DSLR.

“Kalo mau, nyusul aja ke sini! Tapi, besok pagi aku udah pulang. Hehehe ...” Delana tersenyum sembari memainkan kedua mata dengan gaya manja. Membuat Chilton tertawa melihatnya. “Kalo udah kelar ngambeknya, telepon aku lagi ya! Aku mau jalan-jalan dulu sama Bryan. Mumpung ada fotografer, mau foto-foto dulu! Bye ...!” Delana melambaikan tangannya dan video itupun berakhir.

Chilton tertawa kecil membayangkan wajah Delana yang selalu terlihat ceria. Tingkah lucunya seringkali membuat Chilton tertawa sendiri setiap mengingatnya.

Chilton tak lagi kesal, suasana hatinya kini telah berubah menjadi ceria. Ia langsung bangkit dari tempat tidur, menatap wajahnya di cermin. Ia memerhatikan wajahnya dengan seksama dan memang terlihat kusam dan kusut. Ia merapikan rambutnya yang berantakan. Namun, tetap saja usahanya tak berhasil membuat penampilannya lebih baik.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu agar wajahnya terlihat lebih segar.

Setelah merasa penampilannya lebih baik, Chilton meraih ponsel yang ia letakkan di atas kasurnya dan melakukan panggilan video pada Delana.

“Hai ... baru mandi?” tanya Delana begitu mereka tersambung dengan panggilan video.

Chilton hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Delana. “Kamu lagi di mana?” Chilton balik bertanya.

“Aku lagi makan di kafe deket villa,” jawab Delana sembari menyuap makanan yang sudah ada di hadapannya.

“Tempatnya kayak asyik banget.” Chilton mendekatkan wajahnya ke ponsel untuk mengamati sekitar Delana yang terlihat begitu asri. Semua bangunannya terbuat dari kayu ulin.

“Iya. Coba lihat!” Delana mengarahkan kamera ponsel ke arah meja yang ada di depannya. Meja makan yang melingkar itu bolong di tengah-tengahnya dan langsung memperlihatkan pemandangan bawah laut dengan air yang sangat jernih. Ia bisa melihat ikan-ikan dan terumbu karang di bawahnya.

“Asyik buat bulan madu, tuh,” celetuk Chilton.

“Iya. Banyak pasangan yang nginap di sini buat nikmatin bulan madu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Dari guide lah.”

“Oh. Kamu sendiri nggak bulan madu?” tanya Chilton cekikikan.

“Bulan madu sama siapa?” tanya Delana balik. “Nikah aja belum.”

Chilton tergelak. Ia menatap wajah Delana yang terlihat melirik ke sana ke mari. “Kamu lihatin apa sih?” tanya Chilton.

“Lihat bule-bule ganteng,” jawab Delana santai. “Tapi, udah ada pasangannya semua,” lanjutnya.

Chilton tergelak. “Kamu suka sama bule?”

“Nggak juga, sih. Tapi, aku emang suka sama cowok ganteng.”

“Makasih,” sahut Chilton.

“Hahaha.”

Chilton dan Delana terus mengobrol via video call. Delana akhirnya memilih berdiam diri di dalam villa sambil menerima telepon dari Chilton. Ia membiarkan Bryan berkeliling sendirian sembari membidik objek-objek menarik dengan kameranya.

“Masih telponan?” tanya Bryan sambil meletakkan kameranya di atas meja setelah ia puas berkeliling.

Delana menganggukkan kepala.

“Katanya nggak pacaran. Tapi, kalo telponan udah kayak orang pacaran aja,” celetuk Bryan. Ia menyingsingkan lengan kaosnya dan bergegas masuk ke kamar mandi.

“Siapa?” tanya Chilton yang hanya mendengarkan suara laki-laki yang bersama Delana.

“Bryan.”

“Oh. Ayah kamu mana? Dari tadi nggak kelihatan,” tanya Chilton.

“Ayah meeting sama kliennya.”

“Kamu sering diajak ayah kamu keluar kota kayak gitu?” tanya Delana.

Delana menganggukkan kepala. “Kalau jauh dan ada tempat liburannya, ayah pasti ngajak kita sekalian. Kalo cuma kerjaan di Balikpapan aja, ya nggak pernah ngajak kecuali family gathering.”

“Sering-sering aja kerja keluar kota, jadi kamunya juga sering diajak liburan.” Chilton tertawa kecil.

“Hahaha ... aamiin ...!” sahut Delana. “Tapi, ayah ngajak liburan kayak gini juga belum tentu setahun sekali,” celetuknya.

“Yang penting ada lah.”

“Iya juga, sih. Eh, udah dulu ya! Aku mau mandi,” ucap Delana.

“Oke, deh.”

Delana tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah kamera. “Bye ...!” Ia langsung mematikan sambungan panggilan videonya. Ia bergegas mandi dan istirahat karena sudah harus pulang ke Balikpapan pagi-pagi sekali.

THEN LOVE BAB 13 : HADIAH KECIL UNTUK DELANA

 BAB 13 - Hadiah Kecil untuk Delana



Delana menari-nari bahagia sambil bersenandung ketika ia memasuki kamarnya. Ia meletakkan kotak kado di atas ranjang dan membukanya perlahan.

“Oh, My God!” seru Delana begitu melihat isi kotak hadiah itu. Ia melompat-lompat kegirangan sambil memeluk hair dryer yang diberikan Chilton.

Delana menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang empuk. Membuatnya sedikit melayang karena pantulan dari kasur ber-peer miliknya. Ia masih memeluk hadiah dari Chilton sambil tersenyum sendiri menatap langit-langit kamarnya.

“Kapan Chilton beliinya, ya?” gumam Delana. Ia mencoba mengingat-ingat, sebab Chilton selalu bersamanya saat membeli hair dryer tersebut. Seharusnya dia tahu kalau Chilton membeli barang lebih dari satu.

Ia tak lagi peduli. Yang penting, dia bahagia saat ini. Saking bahagianya ia sampai berguling-guling di kasur hingga bantal dan guling terhempas ke lantai.

Tok ... tok ... tok ...!

Delana terdiam, ia menatap pintu kamarnya yang tiba-tiba diketuk.

“Del, sudah tidur?” tanya Harun Aubrey, ayah Delana.

Delana tidak langsung menjawab. Ia bangkit dan bergegas membukakan pintu untuk ayahnya. “Ayah sudah pulang?” tanya Delana begitu mendapati ayahnya sudah berdiri di depan pintu. Ia tersenyum dan langsung memeluk ayahnya.

Harun menepuk-nepuk bahu Delana. Ia menyadari kalau putri tercintanya itu sangat merindukannya, sama seperti yang ia rasakan.

“Ayah sudah makan?” tanya Delana melepas pelukannya.

“Sudah. Tadi, ayah sudah makan sama klien di luar. Kamu sudah makan?” tanya Harun.

“Sudah. Aku baru pulang dari rumah temen.”

“Oh ya? Cewek atau cowok?” selidik Harun.

“Kalo cewek, kenapa? Kalo cowok, kenapa?” tanya Delana balik sambil tersipu malu.

“Hmm ... putri kesayangan Ayah sudah mulai main rahasia-rahasiaan, ya?” Harun mencubit hidung Delana.

Delana tersenyum. “Ayah mau minum?” tanya Delana.

“Ayah baru aja minum.”

Delana tersenyum, ia tahu kebiasaan ayahnya selalu minum bir bersama klien dan teman kerjanya. “Aku buatkan kopi hangat, gimana?”

“Boleh.” Harun melonggarkan dasinya. “Bryan udah tidur?”

“Kayaknya sudah. Aku lihat dulu di kamarnya.”

“Boleh. Ayah bawakan pizza buat kalian. Ayah tunggu di bawah.”

“Oke. Makasih, Ayah!” Delana langsung bergegas menuju pintu kamar Bryan dan mengetuknya beberapa kali.

“Dek ...!” panggil Delana.

“Ya, Kak!” Bryan langsung membukakan pintu kamarnya.

“Belum tidur?”

“Belum.”

“Masih nge-game?”

Bryan meringis mendengar pertanyaan kakaknya.

“Ditunggu ayah di bawah.”

“Ayah sudah pulang?”

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala.

“Tumben ayah pulang jam segini?” tanya Bryan.

“Pasti ayah lagi nggak sibuk kalau pulang cepat. Yuk, turun!” Delana merangkul pundak Bryan dan bersama-sama menuruni anak tangga menuju meja makan.

Harun sudah duduk di kursi meja makan saat kedua anaknya turun dari kamar.

“Wah ... enak nih. Kebetulan aku lagi laper banget!” Bryan langsung menyambar kotak pizza yang ada di atas meja makan.

Harun mendongakkan kepala menatap Delana. Tidak biasanya Bryan sampai kelaparan. Jelas saja ia kesal karena menganggap Delana tak memperhatikan adiknya.

“Kamu belum makan?” tanya Harun pada Bryan.

Bryan menggelengkan kepala. Ia langsung melahap potongan pizza yang sudah ada di tangannya.

“Kamu nggak masak buat dia?” tanya Harun pada Delana.

“Eh ... aku ...”

“Dari pagi nggak pulang,” sambar Bryan tanpa rasa bersalah karena sudah mengadukan perbuatan kakaknya.

“Kakak sudah bilang kalo nggak bisa pulang cepet. Makan aja bisa delivery. Kamu aja yang manja!” celetuk Delana kesal.

“Kakak nggak ada nyuruh pesan makan. Aku kan nggak punya uang,” sahut Bryan.

“Kamu jangan kayak orang susah, deh. Uang jajan kamu kan banyak.”

“Aku pake buat beli sepatu baru.”

“Kamu kenapa nggak bilang ke Kakak kalo kamu nggak ada uang buat beli makan?” tanya Delana kesal.

“Udah, jangan berantem!” Harun menengahi. “Bryan, makan yang banyak biar kenyang!” pintanya. “Mana kopi buat Ayah?” tanya Harun.

“Astaga ...!” Delana menepuk dahinya. “Lupa kan? Kamu sih, Dek.” Delana menyikut tubuh Bryan.

“Kok, aku sih?” protes Bryan.

Delana mencebik, ia bergegas ke dapur, membuatkan secangkir kopi untuk ayahnya.

“Dek, kakak kamu sudah punya pacar?” tanya Harun berbisik pada Bryan. Matanya melirik ke arah Delana yang sedang membuat kopi di dapur untuk memastikan putrinya itu tak mendengar pembicaraannya.

Bryan mengedikkan bahunya. “Tapi, dia sering pulang dianter sama cowok,” sahut Bryan berbisik.

“Siapa?” tanya Harun masih berbisik.

Bryan menggelengkan kepalanya.

“Cowoknya gimana?? Ganteng nggak? Tajir nggak?” tanya Harun.

“Ganteng. Tapi, masih ganteng aku,” tutur Bryan penuh percaya diri. “Kalo kaya atau enggaknya, aku nggak tahu. Yang jelas, dia sering nganter kakak pake mobil.”

“Bisa aja itu mobil rentalan,” bisik Harun.

Bryan langsung tertawa terbahak-bahak. Ayahnya langsung memintanya untuk mengecilkan volume suaranya agar tidak terdengar oleh Delana

“Ngomongin apa?” tanya Delana sembari meletakkan secangkir kopi di depan ayahnya.

“Ngomongin urusan laki-laki,” sahut Bryan santai.

Delana nyengir. Ia langsung duduk di sebelah Bryan. “Kamu mau susu, dek?” tanya Delana.

“Mau ... mau!”

“Bikin sendiri ya!” Delana meringis ke arah Bryan.

“Kirain mau bikinin,” celetuk Bryan.

“Ya udah, Bryan bikin sendiri!” pinta Harun sambil mengangkat kedua alisnya, meminta Bryan untuk pergi agar ia bisa mengobrol dengan kakaknya.

Bryan yang menyadari kode dari ayahnya langsung bangkit dan berjalan menuju dapur untuk membuat susu.

“Del, kamu sudah punya pacar?” tanya Harun tanpa basa-basi.

“Belum, Yah.”

“Beneran? Yang sering kamu ceritain ke Ayah, siapa?”

“Chilton?” tanya Delana.

Harun menganggukkan kepala.

“Masih temen,” tutur Delana.

“Masih?” Harun mengernyitkan dahinya. “Apa itu artinya ada kemungkinan jadi lebih dari temen?”

“Ayah kenapa sih?” tanya Delana tersipu malu. Ia ingin mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tak lagi membahas tentang cowok yang sedang dekat dengannya.

“Hmm ... Ayah cuma pengen tahu seperti apa cowok yang lagi deket sama kamu.”

“Ayah ...,”

“Ayahmu ini pimpinan di perusahaan besar. Jadi, ayah harap kamu nggak sembarangan pilih laki-laki.”

Delana mengangguk perlahan.

“Ya, sudah. Ayah mau mandi dulu!” Harun memundurkan kursinya dan berdiri. “Masih ada stok bir?” tanyanya pada Delana.

“Masih, Ayah.”

“Bawakan ke kamar Ayah!” pinta Harun.

Delana melirik cangkir kopi yang belum disentuh oleh ayahnya. “Kopinya Ayah?” tanyanya.

“Taruh aja di situ. Abis mandi ayah ke sini lagi. Kalian jangan ke mana-mana!” pinta Harun.

Delana menganggukkan kepala. Setelah ayahnya masuk ke kamar, Delana bergegas ke dapur untuk mengambil botol bir dan meletakkannya di kamar ayahnya.

“Buat aku mana, Kak?” tanya Bryan yang mengetahui kalau kakaknya sedang menyiapkan sebotol bir untuk ayahnya.

“Kamu mau juga?” tanya Delana.

“Mau.”

“Habisin dulu susumu!” Delana menunjuk susu yang ada di tangan Bryan dengan dagunya.

“Halah ... bilang aja aku nggak boleh minum,” gerutu Bryan.

Delana hanya tersenyum.

“Malam ini tidur di kamar Ayah, ahh ...,” tutur Bryan.

Delana menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu kalau Bryan pasti akan menemani ayahnya minum bir sambil bermain kartu seperti biasanya. Delana tidak pernah memprotes, sebab hanya saat itulah Bryan dan ayahnya bisa menghabiskan waktu bersama. Ayah jarang sekali pulang cepat dan mengajak mereka bercengkerama sambil minum bir.

***

“Pagi, Ayah ...!” sapa Delana sembari menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya.

“Pagi, puteri ayah yang cantik,” balas Harun langsung duduk di meja makan. “Bryan belum turun?” tanyanya sembari mendongak ke arah kamar Bryan yang ada di lantai dua.

“Belum. Paling sebentar lagi. Ayah semalam pulang jam berapa? Maaf, Dela udah tidur duluan.”

“Iya, nggak papa. Ayah juga pulangnya larut malam. Banyak kerjaan di kantor.”

Tak lama kemudian, yang dibicarakan langsung muncul menuruni anak tangga.

“Masak apa, Kak?” tanya Bryan sambil menengok menu masakan yang tersaji di atas meja.

Bryan tersenyum senang karena kakaknya memasak sup daging untuknya. “Enak, nih!”

“Papa juga mau!”

“Eits ...!” Delana menahan lengan ayahnya untuk mengambil sup daging buatannya. “Ayah harus ngurangin makan makanan yang berlemak. Ayah makan ini saja!” Delana mengambilkan menu vegetarian ke atas piring makan ayahnya.

Harun mengernyitkan dahinya, kemudian tersenyum menatap salad yang ada di depannya. Salad itu mengingatkan dirinya pada seseorang yang sangat mirip dengan puteri kecilnya.

“Ayah harus tetap sehat,” tutur Delana. “Ayah sering begadang karena kerjaan dan sering menghabiskan waktu minum bir. Mulai sekarang, aku bakal bikinin makanan yang nggak berlemak buat ayah supaya ayah tetap fit dan sehat,” tutur Delana sambil tersenyum ceria.

Harun tersenyum menatap puterinya. “Baiklah. Ayah nggak bisa menolak apa pun keinginanmu. Walau Ayah tahu kalau makanan ini tidak enak.”

Delana tertawa kecil. “Kalo udah terbiasa, bakal enak kok. Sehat itu lebih penting dari rasa.”

“Hmm ....” Harun mengangguk-anggukkan kepala sembari mengunyah salad sedikit demi sedikit.

“Yah, akhir-akhir ini ayah sering pulang larut malam. Apa hampir setiap malam klien ayah selalu mengajak makan malam selarut itu?” tanya Delana.

“Nggak juga. Ayah lebih banyak menghabiskan waktu  di kantor akhir-akhir ini. Kadang-kadang klien ngajak makan malam dan minum bir bersama.”

Delana menghela napas. “Aku khawatir sama kesehatan Ayah.”

“Kalian nggak perlu khawatir.” Harun menatap Delana dan Bryan bergantian. “Ayah baik-baik aja.”

“Setidaknya, ayah nggak pernah pulang dalam keadaan mabuk,” tutur Bryan.

Harun tertawa kecil. “Satu botol bir tidak membuat mabuk.”

“Apalagi satu botol diminum berdua, hahaha ...” Bryan tertawa lepas.

Delana menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kelakuan dua laki-laki yang ada di dalam rumahnya itu. “Sepertinya aku harus masak salad setiap hari,” celetuk Delana.

“Uhuk ...!” Bryan tersedak saat ia sedang minum. Ia terkejut mendengar ucapan kakaknya. “Masak aja! Aku delivery,” tuturnya.

“Dek, salad itu sehat. Apalagi kalau sering begadang dan minum bir. Harus banyak makan sayur dan buah.”

Bryan menatap ayahnya yang membalas dengan senyuman. Mau menolak seperti apa pun, Delana sebagai perempuan satu-satunya di rumah ini akan selalu menang. Daripada membuat perdebatan semakin panjang, mereka memilih untuk diam dan menuruti saja keinginan Delana.

Delana mengambil kotak bekal yang sudah ia isi beberapa makanan pilihan untuk Chilton. Tentunya berbeda dengan menu untuk ayah dan adiknya.

Bryan mengintip isi kotak bekal tersebut. “Buat siapa, Kak?” tanya Bryan.

“Buat kakak, dong!”

“Bukannya Kakak udah sarapan di rumah?” tanya Bryan.

“Buat sarapan lagi.”

“Emangnya habis sebanyak itu?”

“Sama buat makan siang.”

“Emang masih enak dimakan siang?”

Delana memutar bola matanya. “Ndak usah kepo, kebanyakan nanya kayak gitu! Kamu mau bawa bekal juga?” tanya Delana.

Bryan menggelengkan kepala.

“Ayah berangkat dulu, ya!” Harun langsung memakai jas yang ia letakkan di kursi sebelahnya. Ia bersiap pergi ke kantornya.

“Ayah, buru-buru banget,” celetuk Delana.

“Iya. Ayah ada rapat pagi sama tim sampai siang. Sore ada janji ketemu sama klien. Ayah berangkat dulu ya!” pamit Harun.

Delana tersenyum sembari menganggukkan kepala. Ia dan Bryan tak lupa menyium tangan ayahnya sebelum ayahnya berangkat ke tempat kerja.

“Habisin makannya!” dengus Delana ke wajah Bryan begitu ayahnya sudah keluat dari rumah. Ia langsung menyambar kotak bekal dan bergegas berangkat ke tempat kuliahnya.

“Halah ... aku tahu kalo bekal yang kakak bikin buat cowok itu kan?” teriak Bryan saat Delana sudah berjalan mendekati pintu keluar rumahnya.

“Bukan urusanmu!” sahut Delana sambil menjulurkan lidahnya. Ia langsung bergegas berangkat kuliah, membiarkan Bryan melanjutkan sarapannya seorang diri. Sebab, dia memang sangat santai pergi ke sekolahnya.

***

Delana celingukan menjacari sosok dua sahabatnya. Ia tidak bisa menghubungi karena ponselnya tertinggal di rumah. Akhirnya, ia memilih bertanya dengan teman sekelas Belvi.

“Belvi ke mana ya?” tanya Delana.

“Ke kantin kayaknya. Bareng Ivo, tadi.”

“Oke. Makasih ya infonya.” Delana langsung bergegas menuju kantin dan mendapati dua sahabatnya sedang makan siang di kantin kampus.

“Hai, Bel ...!” sapa Delana pada dua.

“Hai ...!” sahut Belvina dan Ivona berbarengan.

“Ceria banget? Lagi fall in love kayaknya,” celetuk Ivona.

Delana tersenyum dan langsung duduk di depan dua sahabatnya.

“Kayaknya kalo fall in love udah dari kemarin-kemarin,” sahut Belvi.

Mereka tertawa bersamaan.

“Del, kamu nggak main PUBG lagi?” tanya Belvi.

Delana menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Chilton udah pensiun main game.”

“Jadi, kamu ikut pensiun juga?”

“Ya ... aku kan main game karena dia main. Kalo enggak, ya males nge-game.”

“Kenapa dia berhenti nge-game? Bukannya dia ketua di organisasi game?” tanya Belvi.

“Iya. Gara-gara si Chillo nyebarin foto Chilton ke chat room grup. Karena banyak yang gangguin, dia milih offline.”

“Pantes aja kamu nggak pernah online lagi.”

Delana tersenyum. “Sekarang, aku kerja di salah satu tempat kursus. Jadi guru les, bareng Chilton juga.”

“Hah!? Serius? Dia ngajar?” seru Ivona terkejut mendengar ucapan Delana.

Delana tersenyum sembari menganggukkan kepala.

“Gimana dia ngajar ya? Ngomong aja jarang. Emang bisa dia ngajar?” tanya Belvi.

“Buktinya bisa. Anak-anak suka banget belajar sama dia.”

“Wah ... bakal heboh seisi kampus kalo tahu ini. Chilton orangnya dingin gitu bisa ngajar? Aku masih nggak percaya,” celetuk Ivona.

“Kenapa nggak percaya? Aku yang ngajar bareng dia, percaya aja.”

“Bukan gitu, Del. Secara, dia itu ngomong aja jarang. Masa iya ngajar? Aku ngebayangin dia kayak manekin gitu di depan kelas,” tutur Belvi sambil cekikikan.

“Dia nggak secuek dan sependiam yang aku kira. Kalo udah kenal, dia itu bawel banget tahu! Dia juga ceria banget ngajar anak-anak SD. Kalo sama yang SMA, dia emang agak galak, sih,” tutur Delana sambil menahan tawa.

“Hmm ... kayaknya cocok tuh kalo jadi guru killer.”

“Iih ... mana cocok! Cowok ganteng, keren dan imut-imut gitu kamu samain sama guru killer?” protes Delana.

Belvi dan Ivona cekikikan membayangkan Chilton menjadi guru yang paling ditakuti oleh murid-muridnya di tempat kursus.

“Kalian kepikiran ngajar bareng dari mana?” tanya Belvi penasaran.

“Nggak kepikiran ngajar bareng. Awalnya aku yang masuk kerja karena aku bete nggak tau mau ngapain. Terus, aku cerita ke dia dan dia tertarik buat ikut ngajar juga.”

“Ckckck ...” Belvi menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak nyangka diem-diem ternyata kalian sudah sedekat itu.”

“Iya. Kamu nggak pernah cerita ke kita,” sahut Ivona.

“Ini cerita."

“Ceritanya baru sekarang. Udah basi!” celetuk Ivona.

“Yaelah, aku baru ketemu sama kalian. Kalian juga sibuk banyak kegiatan.”

“Kamu kali yang sibuk karena sudah bareng dia mulu. Jadi, lupa sama kita.”

“Iih ... kalian kok ngomongnya gitu sih? Maaf, kalo aku emang belum sempat cerita.”

“Iya. Kita ngerti kok kalo kamu lagi sibuk bareng dia.”

Delana menghela napas. “Pulang kuliah, aku langsung ngajar sampe malam,” tuturnya. “Jadi, aku emang udah capek banget,” lanjutnya. “Lagian, kapan sih aku nggak pernah cerita ke kalian?” Delana terlihat sedih karena dua sahabatnya terlihat tak bersahabat.

Belvi dan Ivona tertawa terbahak-bahak melihat wajah Delana yang murung.

“Kalian ngerjain aku?” dengus Delana.

Belvi dan Ivona masih terus tertawa. Sebagai sahabat, mereka saling mengerti satu sama lain dan sebenarnya mereka tahu kalau Delana dan Chilton memang sedang dekat dan sering bersama.

Delana melipat kedua tangan melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia kemudian menyondongkan badannya menatap Belvi dan Ivona. “Eh, aku mau minta saran dong sama kalian,” tutur Delana.

“Saran apa?” tanya Belvi dan Ivona berbarengan.

“Gini ...” Delana menarik napas terlebih dahulu sebelum bercerita. Membuat Belvi dan Ivona menatap serius ke wajah Delana. “Kemarin, Chilton minta temenin aku cari hadiah buat mamanya. Terus ... dia beliin aku hadiah yang sama, sama yang dikasih ke mamanya,” ujar Delana.

“Terus?” Ivona menatap Delana serius.

“Nah, dia kan udah ngasih aku hadiah. Bagusnya, aku kasih hadiah apa ya buat dia?” tanya Delana.

“Emang mamanya dia ulang tahun?” tanya Belvi.

Delana menggelengkan kepala.

“Kok, ngasih kado?”

“Nggak harus nunggu hari ulang tahun kalau mau ngasih hadiah, mah.”

“Enak banget, nggak ultah aja dikasih kado,” celetuk Belvi.

“Berarti, Chilton itu termasuk cowok romantis.” Ivona menatap kosong sembari membayangkan wajah Chilton yang begitu romantis memberikan hadiah padanya.

“Eh!” Delana menyenggol lengan Ivona. “Dia gebetanku!” dengusnya.

“Iya, tahu!” sahut Ivona sembari memainkan bibirnya.

“Ya udah. Nggak usah ngehayalin dia mulu,” celetuk Delana.

“Idih, siapa juga yang ngehayalin dia? Aku ngehayalin pangeran aku sendiri, dong!” Ivona menjulurkan lidahnya.

“Awas aja ngayalin gebetan aku ya!” dengus Delana.

“Udah, jangan berantem!” Belvi menengahi.

“Ya udah. Balik ke topik awal! Bagusnya aku kasih kado apa buat Chilton?” tanya Delana.

“Yah, apa aja bagus yang penting ikhlas,” sahut Belvi.

“Kasih kaos atau sepatu?” tanya Ivona.

“Jangan deh! Udah terlalu biasa.”

“Terus apa dong?” tanya Ivona.

“Kamu maunya ngasih apa?” tanya Belvina.

“Hmm ... apa ya?” Delana mengetuk-ngetuk dagunya. “Aku maunya ngasih hadiah yang nggak usah pake size. Takutnya nggak pas,” lanjutnya.

“Hmm ... pinter juga ya?” sahut Ivona. “Gimana kalo kasih gitar aja?”

“Astaga ... itu ribet, Vo. Gitar itu kan gede,” protes Delana.

“Del, bisa aja si Chilton emang sekalian beliin kamu sebagai tanda terima kasih. Jadi, kamu nggak usah terlalu kepedean dan nganggap kalo itu hadiah yang spesial buat kamu,” tutur Belvina.

Delana terdiam. Memang benar kalau Chilton sekalian membeli. Tapi, dia membelikan untuk Delana sebagai hadiah. Hadiah? Atau hanya sekedar ucapan terima kasih karena Delana sudah menemaninya mencari hair dryer untuk mamanya?

Delana menjatuhkan wajahnya ke atas meja. Ia menjadi tak bersemangat setelah mendengar ucapan Belvi.

“Jadi gimana? Aku kasih hadiah balik buat dia atau enggak?” tanya Delana.

“Hmm ... aku rasa nggak perlu,” tutur Belvi.

“Seriusan?”

“Iya, Del. Lagian aku lihat si Chilton itu udah mulai suka sama kamu. Cuma kamu doang yang bisa deket sama dia. So, kamu harus mulai jual mahal. Jangan ngasih-ngasih mulu ke dia. Biar kamu bisa tahu kalo dia itu suka sama kamu beneran atau enggak,” tutur Ivona berbisik.

Delana mengangkat kepalanya. Ia menimbang-nimbang ucapan Ivona. Ucapan Ivona ada benarnya juga. Ia akhirnya mengurungkan niatnya untuk membeli hadiah buat Chilton.

“Iya. Aku rasa dia juga bukan tipe cowok yang ngarepin balesan waktu ngasih hadiah ke orang lain.” Celetuk Belvi.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Delana.

“Astaga ... lihat aja gayanya yang cuek gitu!” Belvi menunjuk Chilton yang sedang berjalan di koridor dengan dagunya.

Delana memutar kepala melihat sosok yang dimaksud oleh Belvi. Chilton tetap berjalan dengan gaya cueknya. Tak menghiraukan siapa pun yang menyapanya. Hanya sekedar tersenyum kecil dan berlalu begitu saja.

“Cuma kamu satu-satunya cewek yang bisa bikin dia cair,” bisik Ivona.

“Apaan sih? Emangnya es batu?” sahut Delana.

“Aku rasa dia sama es batu sama-sama dinginnya dan batu banget pikirannya. Cuma orang yang hangat yang bisa membuatnya mencair,” tutur Ivona.

“Eh, dia ke sini.” Belvi menyikut lengan Ivona agar ia berhenti membicarakan Chilton.

“Serius?” tanya Delana lirih tanpa berani menoleh ke belakangnya.

“Bercanda. Hahaha.” Belvi dan Ivona tergelak. Membuat Delana merengut, ia kesal karena dua sahabatnya itu sengaja mengerjainya.

“Mukamu udah merah gitu. Sok-sokan malu,” celetuk Belvi.

“Iih ... bukan sok-sokan. Aku malu beneran kalo ketahuan lagi ngomongin dia,” tutur Delana lirih. “Lagian, dia nggak seneng lihat cewek ngumpul-ngumpul kayak gini terus yang dibicarain orang lain.”

“Serius dia nggak suka?”

“Iya. Dia bilang, cewek kalo ngobrol nggak ada hal lain yang dibicarain selain temannya sendiri atau teman dari temannya.”

Belvi mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga sih. Cewek emang gitu.”

Ivona tergelak mendengar ucapan Belvi.

“Jadi, gimana nih? Aku kasih kado ke dia atau enggak?” tanya Delana lagi.

Belvi menghela napas. “Tadi kita bilang apa?” tanyanya kemudian. Ia mulai kesal dengan pertanyaan sama yang diajukan oleh Delana.

“Tapi, rasanya gimana gitu kalo aku nggak ngasih hadiah balik ke dia.”

“Gimana apanya?” tanya Belvi.

“Yah ... terserah kamu aja sih mau gimana,” tutur Ivona. “Kalo menurut aku belum perlu sampe kamu bener-bener tahu apa yang dia paling suka dan apa yang paling dia benci.”

“Gitu ya? Oke, deh. Aku ikutin saran kalian,” tutur Delana. “Tapi, itu nggak bakal bikin dia menjauh dari aku, kan?”

“Enggaak ...!” sahut Belvi dan Ivona berbarengan.

Delana tersenyum senang. Ia merasa tak perlu memberikan hadiah untuk Chilton. Toh, Chilton sudah terlihat senang setiap Delana membawakan sarapan pagi untuknya. Mungkin, besok pagi Delana akan menyiapkan menu sarapan spesial untuk Chilton.

Saturday, August 16, 2025

THEN LOVE BAB 12 : MASAKAN YANG DIRINDUKAN

 BAB 12 - Masakan yang Dirindukan




“Lagi apa, Ma?” tanya Chilton saat ia pulang ke rumah dan mendapati mamanya sedang mengeringkan rambut di dekat pintu kamar mandi.

“Ngeringin rambut,” sahut Astria sembari menggoyang-goyangkan hair dryer ke arah rambutnya.

“Panas banget, Ma!” Chilton menjauhkan wajahnya yang terlalu dekat dengan mamanya.

“Namanya juga hair dryer. Ya panas, dong!” sahut Astria. “Tapi, ini emang udah lama. Jadi, agak error gini.” Astria mematikan hair dryer dan meletakkannya di atas meja. “Harus didinginkan dulu, baru bisa dipakai lagi.”

Chilton mengendus bau kabel terbakar dari mesin hair dryer milik mamanya. “Ini aman, Ma?” tanyanya. “Kayak kebakar gini.”

“Aman. Yang penting didinginkan dulu sampe baunya hilang, baru bisa dipake lagi.”

Chilton menggelengkan kepalanya. “Bahaya ini, Ma. Kalau meledak gimana?” Ia meraih hair dryer milik mamanya dan mengamatinya dengan seksama.

Astria mengedikkan bahunya. “Nggak bisa dipake lagi.”

“Kayak gini berapaan sih harganya?” tanya Chilton.

“Macem-macem. Kalo yang bagus ya mahal.”

“Mahalnya berapa?”

“Hmm ... yang harga lima ratus ribuan udah bagus.”

“Astaga ... Mama! Jangan kayak orang susah gitu, deh!” seru Chilton. “Kayak gini cuma lima ratus ribu aja. Ntar aku beliin yang baru.”

“Mama sibuk. Nggak kepikiran beli hair dryer yang baru.”

“Ya udah. Ntar Chil beliin.”

Astria tersenyum. “Oke. Mama tunggu!” Ia menepuk pipi anaknya dan berlalu pergi meninggalkan Chilton yang masih mengamati hair dryer milik mamanya.

Chilton menggelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti kenapa wanita itu rumit. Setiap habis mandi harus menggunakan pengering rambut seperti ini. Bukankah rambutnya bisa kering sendiri kalau terkena panas atau di dalam ruang ber-AC?

Ia masih tidak paham, tapi berusaha memahami bahwa wanita memang rumit dan mereka menikmati kerumitan itu.


***


“Del, kamu sibuk nggak?” tanya Chilton via telepon.

“Kenapa?”

“Ketemu di taman ya! Aku ada perlu.”

“Aku udah di taman. Bawain sarapan buat kamu.”

“Oh ya? Aku tidur di rumah mama. Udah sarapan. Tapi, nggak papa. Aku tetep makan masakan kamu,” tutur Chilton. “Tunggu aku ya!” Chilton buru-buru meraih kunci motor yang ia letakkan di atas lemari kecil yang berada di ruang keluarga.

“Kamu telpon siapa?” tanya Astria yang mendengar anaknya akan menemui seseorang.

“Temen.”

“Oh ... buru-buru banget?”

“Iya. Kasihan dia udah nungguin.” Chilton langsung bergegas pergi meninggalkan mamanya yang juga sedang bersiap pergi ke kantornya.

Astria tersenyum melihat sikap anaknya yang terlihat sedikit berubah. Ia mulai mencurigai kalau anaknya sedang jatuh cinta pada seseorang.


***


Delana menunggu Chilton di taman selama beberapa menit sampai cowok itu datang menghampirinya.

“Lama, ya?” tanya Chilton begitu ia sampai di samping Delana.

“Hmm ... menurutmu?” dengus Delana.

Chilton melihat arlojinya. “Lima belas menit doang.”

Delana merengut menanggapi ucapan Chilton.

“Katanya, mau nunggu aku sampai kapan pun?” Chilton berbisik ke telinga Delana.

“Keburu basi makanannya.” Delana menyodorkan kotak bekal ke pangkuan Chilton. Ia kesal karena Chilton seringkali mempermainkannya.

“Jangan merengut gitu terus! Jelek tau!” Chilton menjepit hidung Delana.

“Aw ... sakit tau!” Delana menepiskan tangan Chilton.

Chilton tertawa kecil. Ia membuka kotak bekal yang diberikan oleh Delana dan memakkannya dengan lahap.

“Mau?” Chilton menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Delana.

Delana menggelengkan kepala, tapi Chilton tetap memaksa agar Delana mau menerima suapannya. Akhirnya, Delana membuka mulut dan menerima suapan dari Chilton.

“Del, aku bisa minta tolong?” tanya Chilton.

“Hmm ... pantes sok romantis. Ada maunya ...,” celetuk Delana.

Chilton tertawa kecil. “Mau nggak? Kalo nggak mau nolongin juga gak papa.”

“Apa?” tanya Delana.

“Pulang kuliah temenin aku ke mall. Aku mau cari hadiah buat mama.”

“Mama kamu ulang tahun?” tanya Delana.

“Nggak, sih. Emangnya kalo mau ngasih hadiah harus nunggu ulang tahun dulu?” tanya Chilton.

“Hmm ... ya, nggak juga sih,” sahut Delana. “Ntar sore ada jadwal ngelesin nggak, sih?” tanya Delana sembari mengecek jadwal mengajar di tempat lesnya.

“Nggak ada. Udah aku cek.”

Delana tersenyum. “Oke. Kita ketemu di sini pulang kuliah.”

“Nggak usah. Aku tunggu di parkiran aja!” pinta Chilton.

“Oke, deh. Aku ke kelas dulu, ya!” pamit Delana sembari membereskan tempat makan Chilton. Ia bergegas menuju kelas dan mengikuti materi kuliah seperti biasanya.

***

“Kamu mau cari hadiah apa?” tanya Delana begitu ia dan Chilton memasuki pusat perbelanjaan.

“Pengering rambut.”

“Hair dryer?” tanya Delana memastikan.

Chilton menganggukkan kepala. “Iya. Aku harap kamu ngerti hair dryer yang bagus kayak gimana.”

Delana tersenyum kecil. “Gampang itu mah.”

“Good!” Chilton menarik lengan Delana agar bisa sampai ke outlet yang menjual berbagai macam alat kecantikan.

“Mbak, ada pengering rambut?” tanya Chilton pada pelayan begitu mereka sampai ke outlet penjualan alat kecantikan.

“Ada. Mau merk apa?” tanya pelayan tersebut.

“Yang paling mahal merk apa?” tanya Chilton.

“Supersonic ini yang paling mahal, Mas.” Pelayan toko menunjukkan hair dryer dengan harga paling tinggi.

Delana menyikut Chilton. Ia tahu harga hair dryer supersonic tidaklah murah.

“Kenapa?” bisik Chilton.

Delana tidak menjawab pertanyaan Chilton. “Yang merk panasonic ada, Mbak?” tanya Delana.

“Ada.” Pelayan toko mengeluarkan merk hair dryer yang dimaksud oleh Delana. “Ini yang biasa, ini yang nanoe,” tuturnya sambil menunjukkan dua hair dryer berbeda dari merk yang sama.

“Yang nanoe ini kena berapa?” tanya Delana sembari mengamati barang yang ia maksud.

“Satu koma tujuh,” jawab pelayan toko tersebut.

“Nggak bisa kurang, Mbak?” tanya Delana.

“Nggak bisa, Mbak.”

“Kamu kira ini pasar?” celetuk Chilton menahan tawa karena melihat Delana menawar barang di mall seperti di pasar.

“Ya, mana tau ada diskon. Kamu mau yang mana?” tanya Delana.

“Yang paling bagus yang mana?” tanya Chilton.

“Yang paling bagus pasti yang paling mahal.”

“Yang mana?” tanya Chilton.

“Ya, itu!” Delana menunjuk hair dryer supersonic yang sudah ada di atas etalase. “Harganya di atas lima jutaan.”

“Hah!? Serius?” Mata Chilton hampir saja terlepas dari kepalanya ketika mendengar harga hair dryer yang bisa dibilang sangat mahal untuk kantong mahasiswa sepertinya.

Delana menganggukkan kepala. “Berapa itu harganya, Mbak?” tanya Delana pada pelayan toko sembari menunjukkan merk hair dryer yang paling  mahal.

“Enam setengah, Mbak,” jawab pelayan toko sambil tersenyum.

“Enam jutaan,” bisik Delana pada Chilton. “Kamu punya budget berapa?”

Chilton terdiam. Semalam mamanya bilang kalau harga hair dryer hanya sekitar lima ratus ribuan. Kenapa sampai enam juta? Chilton menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sudah pasti uang tabungannya akan terpakai kalau ia memilih hair dryer dengan harga yang paling mahal.

“Ya udah. Cari harga yang standar aja, yang penting bagus,” tutur Delana begitu melihat ekspresi wajah Chilton yang terlihat khawatir.

“Eh!? Nggak papa. Aku ada uang, kok.”

Delana menghela napas. “Tapi, nggak juga beli hair dryer yang harga enam jutaan juga. Uangnya kan bisa dipakai buat keperluan lain. Aku rasa mama kamu juga nggak bakal setuju kalo kamu beli barang-barang mahal.”

Chilton menahan rasa kesal di dalam hatinya. Ia tidak menyangka kalau Delana secerewet mamanya soal membeli barang-barang. Buat laki-laki, asal dia punya uang, dia akan beli apa yang ingin ia beli tanpa berpikir uangnya habis. 

Live is simple, kehabisan uang ya cari lagi. Tapi, berbeda dengan pemikiran wanita yang lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Hidup boros memang kurang baik.

“Ya udah, kamu aja yang pilih!” Chilton menyerahkan sepenuhnya pada Delana. Sebab ia tidak akan pernah mengerti jalan pikiran perempuan yang terkadang tak sejalan.

Delana tersenyum. Ia mencoba beberapa hair dryer dan akhirnya memilih salah satu hair dryer yang paling nyaman digunakan dengan harga yang masih terjangkau. Chilton hanya memerhatikan setiap gerak-gerik Delana tanpa protes sedikitpun.

Setelah membayar barang yang dipilih oleh Delana, Chilton mengajak Delana pulang.

“Kamu laper, nggak?” tanya Chilton.

“Mmh ....” Delana memegangi perutnya. “Nggak terlalu, sih. Kenapa?”

“Ya, udah. Tahan dulu lapernya, ya!” Chilton menarik lengan Delana agar melangkahkan kakinya lebih cepat menuju parkiran.

Sesampainya di parkiran, Chilton langsung mengendarai mobilnya keluar dari parkiran mall menuju ke arah jalan Jenderal Sudirman.

“Kita mau ke mana?” tanya Delana begitu mereka sampai di dekat Lapangan Merdeka.

“Ke rumahku.”

“Hah!?” Delana membelalakkan matanya. Ia terkejut karena Chilton tiba-tiba mengajak ke rumahnya tanpa bertanya terlebih dahulu apakah ia bersedia atau tidak.

“Kenapa?” tanya Chilton.

“Aku belum mandi. Masih bau gini badanku. Lagian, mau ngapain juga aku ikut ke rumah kamu. Tadi pagi kamu cuma minta aku nemenin beli hadiah buat mama kamu, kan?” tanya Delana.

“Iya. Sekalian bantu aku kasih hadiahnya ke mama.”

Delana menghela napas. “Chil, kalo cuma ngasih hadiah doang, nggak perlu harus minta temenin aku. Toh, dia itu mama kamu dan aku rasa kamu nggak perlu nyusun banyak kata-kata kayak mau nembak cewek,” cerocos Delana.

Chilton menoleh ke arah Delana tanpa berkata apa pun. Tapi, dari tatapannya ia tetap tidak mau membatalkan keinginannya.

Delana yang menyadari sikap Chilton, memilih diam dan menurut saja permintaan Chilton. Walau sebenarnya ia belum siap untuk diajak masuk ke rumah Chilton walau hanya sebagai teman biasa.

Delana membuka kaca mobil saat mereka memasuki jalan Gunung Dubs. Delana sangat suka dengan pemandangan yang asri dan bersih di daerah ini. Ia terlihat bahagia karena cuma di sini ia bisa menemukan ketenangan. Jauh dari hingar-bingar kendaraan yang padat.

Chilton tertawa dalam hati melihat Delana begitu ceria menikmati pemandangan di sekitar jalan Gunung Dubs. Sepertinya, cewek itu memang menyukai tempat ini.

Mobil Chilton berhenti di salah satu rumah berlantai dua, bercat warna putih yang berada di area paling tinggi di Gunung Dubs. Delana bisa merasakan tiupan angin kencang menyapanya saat ia keluar dari mobil.

“Mama di rumah.” Chilton tersenyum saat melihat mobil mamanya ada di garasi. Ia melangkahkan kaki memasuki rumah sambil memainkan kunci mobilnya.

“Ayo masuk!” ajak Chilton yang melihat Delana masih terpaku di samping mobilnya.

“Aku malu.”

Chilton kembali menghampiri Delana. Ia menarik lengan Delana dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya.

“Ma ...! Mama ...!” teriak Chilton begitu ia masuk ke dalam rumahnya.

Delana berusaha melepaskan pegangan tangan Chilton.

“Kenapa?” tanya Chilton menatap tangannya sendiri.

“Nggak enak sama mama kamu.” Delana merapikan rok dan rambutnya.

Tak berapa lama, Astria keluar ke ruang tamu. Menghampiri Chilton dan Delana yang sedang menunggu kehadirannya.

“Hai ... ternyata ada tamu?” sapa Astria begitu melihat Delana yang berdiri di samping Chilton.

“Sore ... tante,” sapa Delana malu-malu.

“Sore, juga. Kenalin, saya Astria. Mamanya Chilton.” Astria mengulurkan tangannya ke arah Delana.

Delana menyambutnya sambil tersenyum. “Delana,” tuturnya.

Astria tersenyum menatap Delana. Kemudian berbisik pada Chilton. “Cantik,” ujarnya.

“Temen kuliah?” tanya Astria pada Delana.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum. Chilton juga ikut tersenyum karena mamanya terlihat menyukai Delana.

“Ini buat Mama!” Chilton menyodorkan paper bag yang berisi hair dryer yang direkomendasikan oleh Delana.

“Apa ini?” tanya Astria menyambut paper bag yang diberikan oleh Chilton. Ia mengintip isinya dan mengeluarkan dari dalam tas. “Wow ...! Ini hair dryer buat Mama?” tanya Astria.

Chilton menganggukkan kepala.

“Mama suka banget yang ini. Pasti dia yang bantu pilihin buat Mama, ya?” tanya Astria.

Chilton tertawa kecil sembari menatap Delana yang ada di sampingnya.

“Sudah Mama duga,” tutur Astria. “Oh, ya. Makan malam di sini, ya!” pinta Astria pada Delana dan Chilton.

“Emangnya Mama udah masak?” tanya Chilton sembari melirik jam yang ada di tangannya.

“Belum. Ini lagi mau masak. Spesial buat kalian.” Astria tersenyum.

“Sekalian aja minta bantuin dia. Dia pinter banget kalo masak,” tutur Chilton.

“Oh, ya?” Astria menatap Delana sambil tersenyum senang.

Delana membalas senyum Astria dengan sikap yang masih malu-malu.

“Ya udah, kita ke dapur yuk!” ajak Astria. “Kita masak bareng sambil cerita-cerita,” ajak Astria merangkul pundak Delana menuju dapur.

“Sip! Aku mandi dulu ya!” Chilton langsung berlari kecil menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.

Delana melirik tajam ke arah Chilton. Chilton menyuliknya sejak pulang kuliah sampai sekarang. Tidak memberinya kesempatan untuk makan dan mandi terlebih dahulu. Dan seenaknya saja Chilton bisa mandi dan makan di dalam rumahnya sendiri.

“Biar aja dia mandi. Kalo ada dia di dapur itu riweh,” tutur Astria.

“Riweh apaan, Tante?”

“Ribet.”

“Dia suka ganggu orang masak?”

“Iya. Semua diicipin sama dia. Kalo kita sih nyicipin paling satu sendok. Kalo dia yang nyicipin, semangkok,” tutur Astria sambil tertawa.

“Tante bisa aja,” ucap Delana malu-malu.

“Kamu sudah lama kenal sama anak tante?” tanya Astria sembari mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.

“Belum terlalu lama,” jawab Delana seadanya. “Aku baru masuk kuliah, Tante.”

“Oh ya? Tapi, baru kamu aja temen cewek yang diajak ke sini,” tutur Astria sambil menyiapkan bahan-bahan masakannya di atas meja. “Tolong potongkan bawang sama cabe, ya!” pintanya pada Delana.

“Emang sebelumnya Chilton nggak punya pacar?” tanya Delana polos.

“Hmm ...” Astria memutar bola matanya. “Tante kurang tahu. Tapi, kayaknya dia emang nggak pernah pacaran, atau ... dia yang nggak mau ngenalin ceweknya ke Tante.”

Delana tersenyum bahagia sembari mengiris bawang yang ada di hadapannya. Ia tak menyangka kalau ia adalah cewek pertama yang diajak Chilton masuk ke rumahnya. Terlebih, mama Chilton menyambutnya dengan baik dan ramah. Ia merasa seperti punya ibu ... sosok yang tidak pernah ada dalam kehidupannya semenjak ia masih kecil.

“Hei, kenapa murung?” tanya Astria sembari menggenggam pundak Delana. “Tenang aja, kamu pasti cewek paling spesial yang dipilih sama Chilton. Karena, Tante perhatikan akhir-akhir ini sedikit berubah.

Delana tersenyum kecut. “Bukan soal Chilton, Tante.”

“Terus? Apa?”

“Dela rindu sama almarhumah bunda.” Mata Delana berkaca-kaca. “Dari kecil, Dela nggak pernah lihat wajah bunda. Cuma bisa lihat bunda di foto aja.” Air mata menetes di pipi Delana. Ia tak sanggup menahan kerinduan melihat sosok ibu penyayang yang ada di depannya.

Astria memeluk Delana. Ia tak ingin bertanya apa pun karena takut menambah kesedihan untuk Delana. Ia mengusap air mata Delana, merapikan anak rambut yang berantakan. Ia tersenyum dan berkata, “Udah, jangan sedih! Kamu bisa anggap Tante sebagai mama kamu.”

Air mata Delana semakin deras saat mama Chilton memberikan pelukan dan perhatian lebih untuknya. Baginya, sosok ibu yang ia rindukan ada dalam diri Astria.

“Kenapa nangis?” tanya Chilton yang tiba-tiba sudah muncul di belakang mamanya.

“Eh!? Enggak, kok. Ini aku lagi ngiris bawang. Mataku perih banget!” Delana mengusap air matanya menggunakan tisu.

“Serius?”

“Iya. Kamu udah kelar mandi?” tanya Delana.

Chilton menganggukkan kepala.

Astria langsung bangkit dan menghampiri kompor yang sedang menyala. Ia membiarkan anaknya duduk bersama Delana yang membantunya mengiris sayuran.

“Kamu mau mandi?” tanya Chilton.

Delana menggelengkan kepala.

“Bau tahu kalo nggak mandi,” dengus Chilton sambil tertawa kecil.

“Nggak ada baju ganti.”

“Bisa pake baju Tante kalo kamu mau mandi,” sahut Astria.

“Eh!? Emang nggak papa?” tanya Delana.

“Nggak papa, dong!”

Delana meringis. “Makasih, Tante. Nanti aku mandi kalo udah kelar masaknya.”

Astria menganggukkan kepala.

“Bantuin iris cabe!” Delana menyodorkan cabai dan pisau ke arah Chilton yang duduk di depannya.

“Eh!? Masa aku disuruh iris cabe?”

“Mau bantuin, nggak? Nggak aku masakin, nih.”

“Iya ... iya.” Chilton menuruti ucapan Delana. Ia membantu mengiris cabai tanpa protes lagi.

Astri menatap putranya yang terlihat berbeda. “Del, dia nurut banget sama kamu, ya?” tanya Astria pada Delana.

“Iya, Tante. Kalo nggak nurut, nggak aku bikinin sarapan lagi buat dia,” tutur Delana.

“Sarapan?”

“Iya. Dia itu ... mmh ...” Chilton langsung membungkam mulut Delana agar tak banyak bicara di depan mamanya.

Delana menepiskan tangan Chilton dengan kesal. “Apaan sih!?”

Astria tertawa melihat tingkah Chilton dan Delana yang terlihat seperti anak-anak.

“Del, ayah kamu kerja di mana?’ tanya Astria begitu suasana kembali hening.

“Usaha, Tante.”

“Oh ... kamu sudah bilang sama ayah kamu kalo kamu ada di sini?” tanya Astir.

“Sudah.”

“Ayah kamu bilang apa?” tanya Astria.

“Boleh. Ayah nggak banyak ngelarang asal perginya jelas ke mana dan sama siapa. Dari tadi juga dia WA aku terus, Tante.” Delana tersenyum.

“Oh. Jadi, ayah kamu juga sudah kenal sama Chilton?” tanya Astria.

“Eh!? Belum, Ma,” sahut Chilton.

Astria mengernyitkan dahinya.

“Dia beberapa kali ke rumah tapi nggak pernah ketemu sama ayah. Tapi, aku sering cerita karena Bryan yang sering di rumah dan dia cerita ke ayah.”

“Dia tahu kalo aku ke sana?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala.

“Kamu ini gimana? Masa ke sana nggak tahu?” tanya Astria.

“Dia nggak pernah nongol pas aku main ke rumahnya, Ma.”

Delana meringis. Ia tahu, Bryan tidak mungkin mengganggunya saat ia bersama dengan Chilton.

“Kamu tinggal sama ayah dan adik kamu aja?” tanya Astria sembari menyiapkan hidangan yang sudah matang.

Delana menganggukkan kepala. “Bunda meninggal saat kami masih kecil.”

“Wah ... udah matang, Ma? Enak nih kayaknya.” Chilton mengendus aroma masakan mamanya. Ia berusaha mengalihkan perhatian Delana agar tidak sedih mengingat mendiang ibunya.

Astria tersenyum. “Iya, dong. Siapa dulu yang masak?”

“The best deh, Mama. Dia juga pinter masak loh, Ma.”

“Iya. Tadi kamu udah bilang sama Mama.”

Chilton meringis. Ia sendiri lupa kalau sudah mengatakan itu pada mamanya.

“Ayah selalu minta disiapin sarapan pagi. Dia nggak mau makan masakan orang lain kalau di rumah,” tutur Delana sembari membantu menyiapkan makanan ke atas meja makan.

“Oh ya? Berarti masakan kamu enak banget!” tutur Astria.

“Nggak juga. Biasa aja, Tante. Mungkin karena saking cintanya sama aku, jadi ayah selalu rindu masakanku,” ucap Delana sambil tertawa kecil.

“Uhuk ...! Uhuk ...!” Tiba-tiba Chilton tersedak minuman yang ia seruput saat mendengar ucapan Delana. Ia merasa, ucapan Delana bukan hanya tertuju pada ayahnya, tapi juga padanya.

“Kamu kenapa? Minum nggak hati-hati!” celetuk Astria.

Delana tertawa kecil sambil melirik ke arah Chilton yang juga menatapnya. Sebab ia tahu, bukan hanya ayahnya yang selalu merindukan masakan buatannya. Tapi juga cowok yang sedang memandangnya saat ini.

Delana merasa senang karena akhirnya ia bisa berkenalan dengan mama Chilton yang ternyata sangat ramah kepadanya. Ia juga bisa melihat indahnya kota Balikpapan dari atas balkon rumah Chilton. Pemandangan yang selalu ia ingin lihat selama ini walau hanya sejenak karena ia harus buru-buru pulang ke rumah.

Chilton mengantarkan Delana sampai ke depan rumah.

“Makasih ya!” ucap Delana sambil melepas safety belt-nya.

“Makasih untuk apa?” tanya Chilton.

Delana tersenyum menatap Chilton. “Makasih untuk hari ini. Makasih udah dianterin pulang, udah diajak makan malam bareng mama kamu, udah diajak lihat bintang dan keindahan kota tepi laut di malam hari dan semuanya.”

Chilton tersenyum kecil. “Aku juga makasih karena kamu udah mau nemenin aku cari hadiah buat Mama.” Chilton memutar badannya dan mengambil kotak hadiah yang sengaja  ia letakkan di bawah kursi belakang agar Delana tidak melihatnya.

“Ini buat kamu.” Chilton menyodorkan kotak hadiah pada Delana.

Delana mengangkat kedua alisnya. “Aku nggak ulang tahun. Lagian, aku nemenin kamu ikhlas, kok.”

“Nggak harus nunggu ulang tahun kalo mau ngasih hadiah, kan?” tanya Chilton sembari menatap lekat mata Delana.

Delana bergeming. Ia membalas tatapan Chilton. Sungguh, ia tak mengira kalau Chilton yang ia pikir dingin dan cuek, ternyata punya sisi romantis yang membuat hatinya semakin berbunga-bunga. 

Punya kesempatan bersamanya saja sudah bahagia. Apalagi cowok itu mulai memberikan perhatian untuknya. Rasanya, ia ingin terbang ke langit, menari-nari sambil berteriak pada dunia kalau dia sangat bahagia hari ini. Ya, dia bahagia lebih dari yang dia impikan.

Friday, August 15, 2025

Perfect Hero Bab 307 : Dua Pria Kesayangan Yuna

 


“Hari ini, pasien sudah boleh pulang. Jika ada keluhan, langsung bawa ke rumah sakit!” tutur Profesor Santoso setelah selesai memeriksa kondisi kesehatan Adjie.

“Baik. Terima kasih, Prof.” Yeriko menyalami tangan Profesor Santoso. “Terima kasih, sudah memberikan perawatan terbaik untuk ayah mertua saya.”

Profesor Santoso menganggukkan kepala. “Sudah menjadi tugas kami sebagai dokter.” Ia menoleh ke arah Adjie. “Semoga sehat selalu, Pak Adjie!”

“Terima kasih, Prof!” tutur Adjie dengan perasaan bahagia. Akhirnya, ia bisa menghirup udara segar setelah sebelas tahun terbaring di rumah sakit.

Yuna tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Makasih, Prof!”

Profesor Santoso tersenyum. “Saya ikut bahagia. Akhirnya, kamu bisa berkumpul kembali dengan ayah kamu.”

Yuna menganggukkan kepala.

“Oke. Saya pergi dulu!” pamit Profesor Santoso.  “Masih ada pasien lain yang harus saya tangani,” lanjutnya sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar rawat tersebut.

Yuna langsung memeluk tubuh ayahnya. “Ayah, akhirnya bisa pulang juga!” serunya sambil melompat kegirangan.

Adjie tersenyum sambil mengelus punggung Yuna. “Terima kasih, sudah membuat Ayah kembali bersama kamu,” ucapnya sembari menatap Yeriko yang berdiri di belakang Yuna.

Yeriko tersenyum melihat kebahagiaan ayah dan anaknya ini. Ia sangat iri kepada Yuna karena memiliki seorang ayah yang baik dan sangat menyayangi anaknya.

Yuna melepas pelukannya perelahan. Ia menoleh ke arah Yeriko dan menghampirinya. “Makasih, ya!” tuturnya lirih dengan mata berkaca-kaca.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

Yuna langsung memeluk tubuh Yeriko. “Kalau bukan karena kamu, aku nggak mungkin bisa berkumpul dengan ayah secepat ini. Aku nggak tahu harus membalas kebaikan kamu dengan apa. Kamu sudah melakukan banyak hal buat aku, sementara aku nggak pernah ngasih apa-apa buat kamu.”

Yeriko tersenyum sambil mengusap lembut rambut Yuna. “Cukup kasih hati kamu aja ke aku!” pinta Yeriko.

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Semuanya buat kamu. Hati aku, jantung, paru-paru, ginjal, semuanya buat kamu.”

Yeriko tersenyum, ia langsung mengecup bibir Yuna.

Yuna tersenyum sambil meninju dada Yeriko. “Ada Ayah, malu tahu,” ucapnya sambil menggigit bibir.

 

“Malu kenapa?” tanya Yeriko sambil melirik ayah mertuanya.

Yuna menyembunyikan bibirnya sambil menahan senyum. Pipinya menghangat hingga mengeluarkan rona merah.

“Yah, kami udah siapin apartemen yang ada di dekat rumah kami.”

“Nggak perlu repot-repot! Ayah sudah kembali sehat seperti ini, sangat berterima kasih sama Nak Yeri. Ayah  bisa cari tempat tinggal sendiri.”

“Ayah …!?” sentak Yuna. “Ayah nggak mau tinggal di rumah kami. Nggak mau tinggal di apartemen!?”

“Kalau Ayah nggak mau tinggal di apartemen sendirian, bisa tinggal di rumah besar keluarga saya,” sela Yeriko.

“Nggak perlu. Kamu terlalu baik sama kami. Ayah nggak bisa  terus-menerus kebaikan kamu. Ayah berterima kasih karena kamu sudah melakukan banyak hal untuk saya dan Yuna,” tutur Adjie.

“Ayah nggak perlu sungkan. Kewajiban saya sebagai suami memang harus menyayangi dan melindungi Yuna. Kewajiban saya sebagai menantu adalah berbakti. Jadi, jangan menolak niat baik dari saya!” pinta Yeriko setengah membungkuk.

Yuna menghela napas menatap ayahnya. “Yah, ikut ke rumah kami atay tinggal di apartemen?”

Adjie terdiam. Ia gelisah dengan pilihan yang diajukan oleh Yuna. Ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan anaknya.

“Yah …!” panggil Yuna karena ayahnya masih saja bergeming di tempatnya.

Adjie menatap Yuna. “Yuna lagi hamil, alangkah baiknya kalau aku bisa tinggal di apartemen yang tidak jauh dari rumahnya. Aku bisa menjaga Yuna tanpa mengganggu kebahagiaan rumah tangganya,” batinnya.

“Gimana, Yah?”

“Mmh … Ayah tinggal di apartemen aja.”

Yuna tersenyum riang. Ia sangat senang karena ayahnya menerima tawarannya. “Gitu, dong! Ayo, kita pulang!” tuturnya penuh semangat.

Yeriko tersenyum, ia segera membawa Yuna dan ayah mertuanya menuju apartemen yang sudah ia beli sebelumnya.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di salah satu pintu apartemen.

Yeriko langsung membuka pintu, mengajak Yuna dan ayah mertuanya masuk ke dalam.

Yuna melongo melihat isi apartemen yang sudah lengkap. “Kamu udah lengkapi semuanya?” tanya Yuna.

Yeriko menganggukkan kepala. Ia langsung menunjukkan kamar untuk ayah mertuanya.

“Ayah nggak perlu merasa sungkan!” pinta Yeriko. “Ini sudah menjadi rumah kalian. Anggap aja, ini hadiah dari aku.”

“Hadiah?” Adjie mengernyitkan dahinya.

Yeriko mengangguk.

“Hadiah ini terlalu mewah,” tutur Adjie.

“Kalian bukan orang lain buat aku. Aku harap, kalian bisa menerimanya dengan senang hati. Kecuali, kalau kalian menganggap aku orang lain.”

“Jangan seperti itu!” pinta Yeriko. “Ayah senang menerimanya. Terima kasih untuk semua ini,” lanjutnya sambil merangkul Yeriko penuh kehangatan.

Yeriko tersenyum menatap Adjie. Sosok ayah yang baru ia temui seumur hidupnya. Menyambutnya penuh kehangatan. “Andai itu dia, apa dia …?” batin Yeriko, pandangannya menerawang jauh pada bayangan ayah yang tak pernah ia temui lagi.

“Makasih ya, Yer! Kamu selalu bikin …”

“Hmm … kamu udah ratusan kali ngucapin makasih dan maaf ke aku. Kenapa jauh lebih banyak ngucapin kata makasih daripada I Love you?”

“Eh!?” Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko.

“Aku mau kasih kamu sesuatu. Tapi, aku nggak mau kalau kamu ngomong terima kasih. Aku maunya, kamu ngomong I Love you ke aku!” pinta Yeriko.

“Idih, kok maksa?”

Yeriko melipat kedua tangan sambil membuang pandangannya. “Oke. Kalau nggak mau, berarti kamu nggak cinta sama aku.”

“Aku cinta sama kamu …” Yuna bergelayut manja di dada Yeriko.

“Kalo gitu, kamu penuhi permintaan aku!”

“Siap, Bos!”

Yeriko tersenyum. Ia mengeluarkan map dari laci meja dan memberikannya pada Yuna.

Yuna tersenyum menerima map tersebut dan langsung membukanya. Ia terperangah begitu membaca isi map tersebut. Baru saja ingin membuka mulut, ia langsung dicegah oleh Yeriko.

“Aku nggak mau dengar kata lain selain yang aku minta tadi!”

Yuna tertawa kecil sambil memeluk tubuh Yeriko. “I Love you …”

Adjie tersenyum melihat kebahagiaan anak gadisnya itu.

“Gitu, dong. Istri yang baik harus nurut kata suami.” Yeriko mengecup ujung kepala Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap wajah Yeriko. “Udah boleh ngomong yang lain?”

Yeriko mengangguk.

“Kenapa kamu beli apartemen ini atas namaku?”

“Karena kamu istri aku.”

“Minggu kemarin aku baru aja menolak pengalihan aset pribadi kamu. Kenapa malah beli apartemen atas namaku.”

“Mmh..  setelah dipikir-pikir. Akan lebih baik kalau aset pribadi dikelola sama istriku. Aku cukup mengurusi aset perusahaan. Kalau kamu mau berterima kasih ke aku. Bantu aku menjaga semua aset pribadiku!” Yeriko langsung merogoh ponselnya yang tiba-tiba berdering.

Mulut Yuna menganga lebar. Ia tidak bisa lagi menolak keinginan suaminya. Mungkin, ini salah satu cara untuk membalas kebaikan suaminya itu.

“Halo …!” Yeriko langsung menjawab telepon. “Harus sekarang? Oke. Aku ke sana.”

Yuna menatap wajah Yeriko.

Yeriko tersenyum sambil mematikan panggilan teleponnya. “Ada hal penting yang harus aku tanda tangani secepatnya. Aku tinggal kamu di sini, nggak papa?”

Yuna mengangguk. “Itu … suaranya Lian?”

“Masih hafal aja sama suara mantan pacar,” celetuk Yeriko sambil tersenyum kecil.

Yuna memonyongkan bibirnya. “Tujuh tahun pacaran, gimana nggak hafal?” dengus Yuna. “Dokumen apa yang harus kamu urus sama dia?”

“Pembelian tanah yang waktu itu.”

Yuna mengernyitkan dahinya. “Kamu yakin kalau Lian bakal ngasih tanah itu ke kamu gitu aja?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku nggak yakin. Aku takut kalau dia cuma mau jebak kamu aja.”

Yeriko tersenyum kecil. “Nggak perlu khawatir. Kamu doain aja suami kamu ini selalu baik-baik aja dan pulang membawa kesuksesan!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia berharap, hubungan antara Yeriko dan Lian tidak memburuk. Ia sudah sangat lelah dengan sikap Bellina. Ia tidak ingin suaminya menghadapi Lian juga.

“Aku pergi dulu, kamu ajak Ayah beli pakaian baru!” pamit Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Hati-hati ya!”

Yeriko mengangguk. Ia tak lupa berpamitan dengan ayah mertuanya dan bergegas pergi meninggalkan apartemen.

 

(( Bersambung ... ))

Thanks for Big Support, you are my booster.

 

Big Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas