Wednesday, August 13, 2025

Perfect Hero Bab 298 : Rumah Penuh Kenangan

 


“Bi, hari ini biar aku yang masak ya!” pinta Yuna.

“Tapi, Chef Rafa ...”

Yuna tersenyum ke arah Bibi War. “Aku mau masak khusus buat Yeri.”

“Terus? Mas Rafa gimana?”

“Chef Rafa kan masak buat aku, Bi. Aku nggak akan ngusir dia, kok.”

“Oh. Oke.”

“Bibi bantu aku belanja ya!” pinta Yuna. “Ini daftarnya,” lanjutnya sambil menyodorkan secarik kertas ke arah Bibi War.

Bibi War meraih kertas tersebut dan menganggukkan kepala.

“Aku tunggu di belakang,” ucap Yuna sambil melenggang ke teras belakang. Tempat ia biasa bersantai saat Yeriko sudah berangkat ke perusahaan. Ia lebih senang menikmati mentari pagi di tempat ini. Yeriko juga meletakkan karpet bulu dan beberapa boneka yang bisa digunakan untuk bersantai.

“Nggak nyangka, rumah yang dulu monoton ini ... makin lama makin girly,” celetuk Yuna sambil memeluk boneka beruang miliknya.

Yeriko melakukan banyak hal untuk Yuna. Semua yang sudah ia lakukan adalah ketidakmungkinan yang terjadi begitu saja.

Yuna menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil mencari panggilan terakhir di ponselnya. Begitu mendapati nama Jheni, ia langsung menekan menu panggil.

“Halo ...! Kenapa nelpon pagi-pagi gini? Udah kangen sama aku?” tanya Jheni.

“Iya. Kamu masih ngejar deadline kerjaanmu?”

“Iya, Yun. Kenapa? Mau ajak aku makan di luar?”

“Kamu dong yang traktir aku makan!” pinta Yuna. “Kamu kan lagi banyak project. Duitnya pasti banyak.”

“Banyakan duitmu, Yun.”

“Aku pengangguran sekarang. Nggak punya duiit. Huuuaaaa ...!”

“Nggak usah drama!” sahut Jheni.

Mulut Yuna langsung menganga lebar. “Kamu nggak kasihan sama ibu hamil yang pengangguran ini?” rengek Yuna.

“Jangan manfaatin anak kamu buat menindas orang lain!” pinta Jheni.

“Hehehe. Kapan kamu luang, traktir aku ya!”

“Kamu mau makan apa? Aku delivery ke rumah kamu. Kasihan banget ibu hamil yang satu ini. Terkurung di dalam istana sendirian,” sahut Jheni.

“Ada banyak makanan di istanaku. Hahaha. Aku butuh kamu, Jhen. Kapan kita kencan sahabat?”

“Huh, bilang aja kamu mau pamer honeymoon kamu selama di Italy!?” dengus Jheni.

“Hahaha. Biar kamu pengen dan cepet nikah sama Chandra.”

“Nggak punya perasaan!” seru Jheni sambil mematikan teleponnya.

Yuna langsung tertawa kecil saat melihat panggilan teleponnya sudah mati.

“Mbak, belanjaannya udah Bibi taruh di dapur.”

“Astaga! Bibi ngagetin aja!” Yuna terkejut saat Bibi War tiba-tiba sudah ada di belakangnya.

Bibi War tersenyum ke arah Yuna. “Mau Bibi bantuin motongin sayurnya?”

“Bibi nggak ada kerjaan lain?” tanya Yuna sambil bangkit.

“Nggak ada.”

“Oke. Kita masak bareng!” ajak Yuna sambil merangkul Bibi War dan melangkah ke dapur.

Bibi War tersenyum sambil mengelus punggung tangan Yuna. “Mau masak apa?” tanyanya.

“Mmh ... karena Yeri belum bisa makan ikan. Aku mau buatin sup singkong aja, Bi.”

“Oh.”

Yuna tersenyum. Ia dan Bibi War berkutat di dapur sambil berbincang banyak hal.

“Bi, siang ini aku mau antar makan siang untuk Yeriko. Si Angga hari ini ke sini atau nggak, ya?”

“Belum tahu, Mbak. Mobilnya belum kelihatan.”

“Oh. Ya udah, nggak papa. Aku naik taksi aja.”

“Atau telepon Mas Riyan aja?”

“Nggak usah, Bi. Yeriko baru aja masuk kerja. Mereka pasti sibuk banget.”

“Iya. Ini baru pertama kalinya Mas Yeri ninggalin perusahaan lama banget. Biasanya, hari libur aja dia masuk kerja.”

“Emangnya, dulu Yeriko sesibuk itu ya?”

Bibi War mengangguk. “Makanya, nggak punya waktu buat pacaran.”

Yuna tertawa kecil sambil mengemas makanan untuk Yeriko. Memasukkannya dengan hati-hati ke dalam kotak bekal.

“Sekarang, dia malah lebih banyak di rumah. Baru setengah hari kerja, sudah pulang.”

Yuna tertawa kecil. “Dia begitu karena anaknya. Waktu aku belum hamil. Dia nggak pernah perhatian secara berlebihan kayak gini.”

“Kenapa selalu ngerasa rendah diri. Dari awal, dia sudah perhatian sama Mbak Yuna. Dia nggak pernah bawa cewek lain masuk ke rumah ini selain Mbak Yuna. Makanya, Ibu seneng banget waktu Mbak Yuna masuk ke rumah ini. Dia kira, Mas Yeri nggak akan menikah seumur hidupnya.”

“Kenapa gitu? Bukannya dia tampan dan kaya? Nggak sulit buat dapetin istri yang dia mau.”

“Semua perempuan pengen jadi istrinya. Tapi, Mas Yeri itu pemilih sekali. Udah banyak perempuan yang dijodohkan sama Kakek dan Ibu. Nggak ada satu pun yang dia mau.”

Yuna tertawa kecil. Ia merasa sangat bahagia karena sejak awal, Yeriko memang tidak mudah tergoda dengan wanita cantik dan seksi. “Terus, apa yang dia suka dari aku?” batinnya.

“Mbak Yuna mau berangkat sekarang?”

“Sekarang jam berapa, Bi?”

“Jam setengah sebelas.”

“Yeriko minta aku udah di sana jam sebelas. Kalo gitu, aku siap-siap dulu, Bi.”

Bibi War mengangguk. “Sini, biar Bibi yang rapikan.”

Yuna mengangguk. “Makasih, Bi!” Ia melepas appron dari tubuhnya dan bergegas naik ke kamar untuk bersiap-siap.

Beberapa menit kemudian, Yuna turun dari kamar dalam keadaan sudah rapi. Taksi yang ia pesan juga sudah menunggu di halaman rumah. Segera, ia bergegas menuju perusahaan suaminya.

Yuna langsung masuk ke dalam gedung perkantoran Galaxy Group begitu sampai di sana. Salah seorang satpam menyapanya dengan ramah dan ikut mengantar Yuna hingga ke lantai paling atas. Semua karyawan yang ia temui, juga menyapanya dengan ramah.

Sebelum masuk ke ruangan Yeriko, ia disapa oleh dua orang sekretaris yang biasa membantu urusan administrasi Yeriko.

“Selamat siang, Bu ...!”

“Siang,” balas Yuna sambil tersenyum hangat. “Bapak lagi sibuk atau nggak?”

“Sudah nunggu Ibu dari tadi.”

“Mmh ... oke.” Yuna melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Yeriko.

“Siang .. !” sapa Yuna ceria. Ia tertegun saat melihat Fariz ada di ruangan tersebut. Ia melangkah perlahan menuju meja dan meletakkan kotak bekal ke atasnya.

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap Yuna. “Sini!” pintanya

Yuna tersenyum kecil. Ia melangkah perlahan dan duduk di samping Yeriko.

“Mbak Yuna, ini semua dokumen pengalihan aset yang harus Mbak Yuna tanda tangani,” tutur Fariz sembari menunjuk tumpukkan map yang ada di hadapan Yuna.

“Pengalihan aset?” Yuna mengernyitkan dahinya.

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Ini semua aset pribadiku. Nggak ada sangkut pautnya sama saham perusahaan.”

“Terus? Maksudnya apa?”

“Karena Mbak Yuna sudah menjadi istri sah Mas Yeri. Ini semua untuk Mbak Yuna.”

“Kenapa harus dialihkan?”

Yeriko tersenyum. “Aku nggak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Aku sendiri nggak bisa menjamin akan berjaya terus-menerus. Kalau suatu saat terjadi hal buruk. Ini semua bisa kamu gunakan untuk ...”

“Aku nggak mau!” sahut Yuna. “Aku menikah sama kamu bukan karena harta yang kamu punya. Toh, kamu suamiku. Nggak perlu mengalihkan semua aset kamu atas namaku.”

Yeriko menatap tajam ke arah Yuna. “Aku mikirin masa depan kamu dan anak-anak kita. Kalau terjadi sesuatu sama aku dan aku nggak bisa ngelakuin apa-apa buat kamu. Kamu mau anak-anak kita menderita?”

“Tapi ...” Yuna benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. “Aku boleh pilih yang aku mau?”

Yeriko menganggukkan kepala.

Yuna membuka map tersebut satu per satu dan membacanya. Ada banyak aset property milik Yeriko di dalam dan di luar kota. Bahkan, ada juga yang di luar pulau. Ia rasa, selama Yeriko masih menjadi suaminya. Ia tak perlu menandatangani pengalihan aset pribadi sebanyak ini.

“Aku cuma mau tanda tangan yang ini aja,” tutur Yuna sambil memegang satu map di tangannya.

“Yang lain gimana?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Kenapa pilih rumah ini?”

Yuna tersenyum. “Karena ...  cuma rumah ini yang punya banyak kenangan tentang kita.”

Yeriko tersenyum kecil. “Tambah ini ya!” pintanya sambil menyodorkan map lain ke arah Yuna.

Yuna menggelengkan kepala. “Kalau kamu masih maksa, aku nggak akan tanda tangan satu pun.”

Yeriko menghela napas. “Oke.”

Yuna tersenyum.  Ia mulai menandatangani dokumen yang sudah ada di tangannya. “Apa pun yang akan terjadi di masa depan. Aku akan menghadapinya. Kita bisa hadapi sama-sama. Jangan buat aku menjadi seperti wanita yang nggak berguna!” pinta Yuna sambil meletakkan  kembali dokumen tersebut ke atas meja.

Yeriko benar-benar tidak mengerti kenapa Yuna menolak semua harta yang ia berikan. Sungguh, ia tidak ingin melihat Yuna menghadapi kesulitan bersamanya. Saat ini, ia sangat berjaya. Tapi, tidak tahu bagaimana masa depan mereka. Ia hanya mengkhawatirkan masa depan istri dan anak-anaknya. Ia harap, semua akan baik-baik saja.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 297 : Menunggu Kabar

 


Yuna mondar-mandir hingga puluhan kali karena Yeriko tak kunjung memberi kabar tentang kondisi ayahnya.

“Kenapa sih sampai sekarang nggak nelepon juga? Euuuh!” seru Yuna kesal.

“Mau ikut nggak boleh. Tapi nggak dikasih kabar sama sekali. Ngeselin banget!”

Yuna tak sabar lagi hingga akhirnya ia memilih menelepon Riyan.

Satu kali panggilan.

Tidak ada jawaban.

Dua kali panggilan.

“Nomor yang Anda tuju, sedang sibuk.”

Tiga kali panggilan.

Tidak ada jawaban.

 

 

“Aaargh …!” teriak Yuna sambil mengacak-acak rambutnya. Ia ingin sekali berlari ke rumah sakit saat itu juga.

Yuna meraih sweater yang tergeletak di punggung sofa. Kemudian mengambil tas tangan yang ada di atas meja. Tubuhnya bergerak keluar dari kamarnya.

“Mau ke mana?” tanya Yeriko yang sudah ada di depan pintu kamar.

“Mau nyusul kamu ke rumah sakit. Gimana keadaan ayah?” tanya Yuna.

“Dia baik-baik aja. Sudah ditangani.”

“Aku mau besuk dia.”

“Kamu udah makan?”

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak laper.” Ia berusaha menerobos tubuh Yeriko.

“Aku bawa kamu ke rumah sakit setelah makan. Kalau nggak makan, aku nggak izinkan kamu keluar dari rumah ini.”

Yuna terdiam. Ia terlalu gelisah memikirkan ayahnya. Hingga ia lupa memerhatikan janin yang ada di perutnya.

“Setelah makan, kamu beneran antar aku kan?”

Yeriko mengangguk pasti.

Yuna tersenyum. Ia segera turun dari kamar dan langsung duduk di meja makan.

“Udah mau makan?” tanya Bibi War yang sedang menyusun makanan di atas meja.

Yuna mengangguk.

“Kenapa nggak makan dari tadi? Bibi nggak siapin kamu makan?”

“Eh!? Enggak.” Yuna melambaikan kedua tangannya. “Bibi tadi udah siapin. Cuma … aku yang nggak mau makan,” lanjutnya dengan nada yang semakin rendah.

“Kamu suka bikin anak kita kelaparan?”

Yuna menggelengkan kepala.

“Makan yang banyak!” perintah Yeriko sambil menambahkan beberapa lauk ke piring Yuna.

“Astaga …! Ini beneran porsi kuli. Kayaknya ini cukup buat makan tiga kali,”batin Yuna. “Dia beneran mau bikin aku makin gendut?” batinnya kesal.

Yeriko tersenyum. Ia benar-benar menunggu Yuna menghabiskan makanannya.

Usai makan, Yeriko memenuhi janjinya untuk membawa Yuna pergi ke rumah sakit.

“Ayah beneran udah bisa ngomong?”

Yeriko mengangguk. Ia tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada ayah Yuna. Ia tidak ingin membuat Yuna terus khawatir.

“Kenapa nggak telepon aku? Riyan juga nggak angkat teleponku.”

“Riyan ada banyak kerjaan yang harus diurus. Aku nggak telepon kamu, karena kondisi ayah kamu baik-baik aja. Kamu nggak perlu khawatir!”

Yuna mengangguk. Ia percaya pada suaminya itu.

Yeriko terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat ayah Yuna mendapatkan perawatan.

Yuna terus melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan cemas. Ia sudah berusaha bersikap tenang, namun tetap saja ia tak bisa benar-benar tenang.

Sesampainya di ruang rawat ayahnya. Yuna langsung menghampiri Adjie yang masih terbaring di ranjangnya.

“Ayah …!” panggil Yuna lirih sembari menyentuh pipi ayahnya dengan lembut.

Adjie tetap bergeming. Ia tidak bergerak sedikit pun.

Yuna sangat sedih karena ayahnya kembali koma. Ia tidak menyangka kalau kondisi kesehatan ayahnya justru memburuk seperti ini.

“Ayah, ini Yuna. Ayah harus bertahan. Ayah harus sembuh!” pinta Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Kenapa Ayah jadi kayak gini?” Yuna terisak sambil membenamkan wajahnya di tepi ranjang.

“Yun, ayah kamu akan baik-baik aja. Kamu jangan seperti ini!” pinta Yeriko sambil mengelus pundak Yuna. “Kata Suster, ayah kamu mungkin akan sadar dalam waktu dekat. Kalau kamu kayak gini, ayah  kamu pasti ikut sedih.”

Yuna menghapus air matanya. Ia sudah menunggu lama ayahnya sadar dari komanya. Beberapa bulan yang lalu, ayahnya sudah bisa membuka mata walau semua anggota tubuhnya tidak memberikan respon. Tapi, beberapa kali kembali koma. Ia sangat berharap kali ini ayahnya bisa sadar dan sembuh.

“Aku mau nunggu ayah di sini sampai dia sadar,” tutur Yuna.

“Tapi …”

“Suster bilang, dia bakal sadar lagi kan?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kalo gitu, aku tunggu di sini.”

“Tapi …”

“Aku nggak mau dia koma lagi. Aku harus nunggu dia sampai dia sadar.”

“Kita tunggu di rumah ya! Dokter akan ngabarin kita kalau ayah kamu sudah sadar.”

“Aku tunggu di sini dulu sebentar, please!”

Yeriko mengangguk. Ia menemani Yuna di dalam bangsal tempat ayahnya dirawat.

Tepat jam sepuluh malam, Yuna sudah menunggu di rumah sakit selama dua belas jam. Ayahnya masih belum juga tersadar dari tidur panjangnya.

“Kita pulang dulu!” ajak Yeriko. “Besok bisa ke sini lagi.”

Yuna mengangguk kecil. Ia bangkit dari sofa. Menatap wajah ayahnya yang masih terlelap di tempat tidurnya. Dengan berat hati, ia meninggalkan ayahnya di rumah sakit.

“Mau makan apa?” tanya Yeriko saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.

“Tadi udah makan. Aku masih kenyang.”

“Yakin?”

Yuna menganggukkan kepala.

“Makan dua jam yang lalu biasanya, kamu udah laper lagi kalau udah lewat dua jam.”

Yuna memonyongkan bibirnya. “Apa aku serakus itu?”

Yeriko tersenyum kecil. “Sekarang, aku bukan cuma ngasih makan kamu. Tapi juga anak yang ada di perut kamu. Harus makan yang banyak, biar sehat terus.”

Yuna bergeming.

“Ayah kamu baik-baik aja. Kamu harus mikirin si Dedek juga, dong!” pinta Yeriko.

“Iya.”

“Iya, apa?”

“Cari makan.”

“Mau makan apa?”

“Ayam geprek.”

“Pedas, Yun.”

“Nggak pake sambelnya juga kan bisa.”

“Oke. Nggak pengen sapi geprek?”

“Aku lagi hamil. Kalo kepingin beneran gimana?”

Yeriko terkekeh. “Iya, iya.” Ia segera melajukan mobilnya ke salah satu rumah makan yang menjual ayam geprek.

“Besok ke kantor aku ya!” perintah Yeriko.

“Ngapain?”

“Ada hal penting yang harus kamu urus.”

“Apa itu?”

“Dateng aja!”

“Aku mau nungguin ayah di rumah sakit.”

“Sebentar aja, kok.”

“Oke. Jam berapa?”

“Jam sebelas sudah di sana. Jadi, kita bisa makan siang bareng.”

“Oke. Sekalian aku antar makan siang buat kamu.”

Yeriko mengangguk sambil tersenyum.

“Kamu nggak ikut makan?” tanya Yuna.

Yeriko menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Kamu aja yang makan.”

“Udah nggak mual, kan?”

Yeriko tersenyum kecil. Baginya, melihat Yuna makan dengan lahap adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Ia benar-benar tidak tahu kenapa wanita yang ada di hadapannya itu justru menghipnotis dirinya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak ia sukai. Yuna, satu-satunya wanita yang membuat dunianya terus tersenyum.

Yuna membalas senyuman Yeriko. Ia menyodorkan potongan mentimun ke mulut Yeriko. Seharusnya, ia tidak membuat suaminya mengkhawatirkan dirinya dan anak yang berada dalam kandungannya.

Yeriko langsung melahap potongan mentimun yang diberikan Yuna. Ia tertawa kecil sambil mengelus ujung kepala Yuna. Ia menikmati Yuna yang makan dengan lahap sebelum mereka kembali ke rumah.

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 296 : Wonderfull Amalfi Coast

 


Selama lima belas hari, Yeriko mengajak Yuna berkunjung ke kota-kota di sekitar Amalfi Coast. Ia tak bisa mengajak Yuna bepergian lama mengingat kondisi kandungan Yuna. 

Meski tak bisa mengunjungi semua tempat, tapi Yuna sudah merasa bahagia. Ia bisa berjalan-jalan di sekitar promenade setiap malamnya. Pergi melihat kebun lemon, kebun zaitun, beberapa museum bersejarah Constantinople. Merasakan sensasi apperitivo (happy hour ala Italy di mana beli satu minuman bisa dapat akses makan sepuasnya) di Naples. Mencoba semua makanan populer seperti Khinkali, buah Baba, Kebab, Lokum dan lain-lain. Menyusuri Amalfi Coast dari Salerno hingga ke Sorento. Mereka juga sempat berkunjung ke Roma. Melihat Menara Pisa yang berdiri kokoh selama ratusan tahun.

 

Tepar di hari ke limabelas. Mereka mulai berkemas untuk kembali ke Indonesia. Kembali menjalani rutinitas kesehariannya seperti biasa.

“Huft, kenapa waktu berjalan cepet banget?” gumam Yuna saat mereka sudah berada di dalam pesawat yang membawanya pergi dari Naples. Dari kaca jendela, ia bisa melihat bagaimana keindahan kota yang ia tinggalkan secara perlahan. Italia memang sangat indah. Menunjukkan bagaimana kejayaan Constatinopel. Film Wonder Woman yang rilis Juni lalu, juga mengambil latar di Ravello, kota yang bersebelahan dengan Amalfi.

“Tahun depan lagi ya,” tutur Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

“Ngapain?”

“Liburan ke luar negeri.”

Yuna tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya. “Nggak perlu ke luar negeri setiap tahun juga. Pemborosan.”

“Kamu masih perhitungan juga sama uang sendiri?”

“Bukan uangku, uang suami. Hehehe.”

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna. “Aku harus kembali kerja keras karena istriku sekarang udah pandai ngabisin duit suami.”

“Iih … kamu yang suruh” dengus Yuna sambil mencubit perut Yeriko.

“Aw …!” Yeriko meringis, kemudian terbahak. “Aku bercanda.”

“Tapi beneran,” sahut Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

“Apanya?”

“Aku ngabisin uang banyak minggu ini.”

Yeriko tertawa menanggapi ucapan Yuna. “Cuma sedikit, kok.”

“Sedikit?” Yuna mengerutkan dahinya. “Enak jadi orang kaya. Uang segitu sedikit aja. Kalo aku, setahun kerja belum tentu bisa ke luar negeri,” gumam Yuna.

“Kamu masih anggap aku orang lain?”

“Kenyataannya, aku emang nggak punya apa-apa. Kalau bukan karena kamu, aku nggak punya semua ini.”

“Semua yang aku punya, juga milik kamu. Nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku cuma mau kamu aja.”

Yeriko mengecup lembut ujung kepala Yuna. “Setelah sampai, kita langsung ke dokter kandungan.”

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak ada keluhan. Semoga dia selalu sehat dan kuat sampai terlahir ke dunia ini.”

“Aamiin. Tidur ya! Perjalanan masih panjang.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di dada Yeriko.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh delapan jam. Akhirnya, mereka sampai juga di Bandara Juanda.

Di terminal kedatangan, sudah ada Riyan, Jheni dan Chandra yang menjemput mereka.

“Aargh …! Kangen banget!” seru Yuna sembari berlari ke pelukan Jheni.

“Kamu tega banget ninggalin aku selama ini. Gimana liburannya? Asyik?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Sangat asyik.” Ia menoleh ke arah Chandra. “Chan, di sana tempat yang cocok buat ngelamar cewek. Kamu nggak pengen ajak Jheni ke sana. Terus, ngelamar dia di tempat yang indah itu?”

Chandra hanya tersenyum kecil. “Doain aja, Yun!”

Yeriko ikut tersenyum. “Dia sampe nyuruh aku ngelamar dia lagi di sana.”

“Hah!? Serius?” tanya Jheni. “Terus, kamu ngelamar dia?”

Yeriko mengangguk.

“Hahaha. Waktu nikah, kamu nggak pake ngelamar dia. Pas udah nikah, malah ngelamar sampai dua kali. Kalo perlu, tiap tahun aja ngelamar terus,” sahut Jheni sambil tertawa.

Yeriko mengangkat kedua alisnya sambil manggut-manggut. “Ide bagus juga.”

“Nggak usah dihiraukan omongannya Jheni!” dengus Yuna.

Mereka tertawa kecil. Kemudian berjalan bersama keluar dari Bandara.

“Eh, di sana lama banget. Ngapain aja?” bisik Jheni di telinga Yuna.

“Kamu pikir, kalo bulan madu itu main gaplek?”

“Hihihi. Kali aja gitu. Asyik ya jadi istri orang kaya. Bisa liburan ke luar negeri sepuasnya.”

“Chandra juga kan banyak duit. Ajak aja dia liburan ke luar negeri.”

“Yaelah, masa aku yang ngajak?”

“Dia itu emang nggak ada inisiatifnya sama sekali ya?” bisik Yuna.

“Ada sih. Kadang-kadang. Tapi, akhir-akhir ini dia serius banget sama kerjaannya. Apalagi semenjak ditinggal sama Yeriko. Dia makin sibuk ngurus pengembangan proyek sendirian.”

“Wah, jangan-jangan dia kerja keras karena mau nyiapin pernikahan yang mewah buat kamu?”

“Masa sih?”

“Bisa jadi, cowok pendiem dan misterius gitu. Biasanya ngasih kejutan tak terduga.”

Jheni memonyongkan bibirnya. “Dia mah nggak seromantis Yeriko. Apa perlu aku yang duluan ngelamar?”

“Ide bagus.”

“Iih …!” Jheni langsung mencubit lengan Yuna.

Mereka tertawa dan masuk ke mobil masing-masing setelah semua koper milik Yuna dan Yeriko masuk ke dalam bagasi.

Saat baru keluar dari parkiran, tiba-tiba ponsel Riyan yang tersambung ke mobil berdering. Riyan langsung menekan tombol answer.

“Halo …!”

“Selamat siang, Pak Riyan. Kami dari rumah sakit. Ingin mengabarkan kalau Bapak Adjie Linandar sempat sadar kembali dan bisa berbicara.”

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko yang duduk di kursi belakang.

“Serius!?” tanya Yuna.

“Tapi, beliau kembali tidak sadarkan diri.”

“Baik, Suster. Saya akan segera ke sana.” Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Antar Yuna pulang ke rumah dulu!” perintah Yeriko.

“Aku mau ikut ke rumah sakit, please!” pinta Yuna memohon.

“Kamu istirahat di rumah!” perintah Yeriko. “Masalah ayah kamu, percayakan sama aku!”

“Tapi …”

“Kesehatan ayah kamu belum stabil. Aku khawatir kamu kecewa saat sampai di sana. Lebih baik, kamu fokus dengan kesehatan kandungan kamu.”

Yuna terdiam.

“Kamu nggak percaya sama aku?”

“Aku percaya. Aku cuma khawatir sama ayah.”

“Kamu rileks. Percayakan sama kami. Semua akan baik-baik aja. Jangan menyiksa anak kita karena perasaan kamu yang kayak gini!” pinta Yeriko.

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.

Yeriko segera membawa Yuna pulang ke rumah dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan mertuanya.

“Yan, apa kita masih kecolongan?” tanya Yeriko saat ia berada di perjalanan ke rumah sakit.

Riyan menggelengkan kepala. “Seharusnya, semua aman.”

“Kenapa Pak Adjie koma lagi?”

Riyan menggelengkan kepala. “Laporan perkembangan kesehatannya cukup baik. Saya juga nggak ngerti kenapa beliau koma lagi.”

“Kamu selidiki lagi!” perintah Yeriko.

Riyan menganggukkan kepala. “Sepertinya, ada orang yang sengaja membuat Pak Adjie koma dalam jangka waktu yang lama.”

“Dokter yang periksa dia nggak ganti-ganti kan?”

Riyan menggelengkan kepala. “Tapi, perawat yang melayani Pak Adjie …”

“Kenapa?”

“Kemungkinan ada yang menyusup. Karena perawatnya setiap hari berganti.”

“Minta perawat tetap!”

Riyan menganggukkan kepala.

“Pasang CCTV di luar dan di dalam ruangan itu!”

“Sudah ada, Pak Bos.”

“Kenapa masih kecolongan?”

Riyan tak menjawab pertanyaan Yeriko.

Yeriko semakin penasaran karena di tubuh papa mertuanya ditemukan zat yang tidak seharusnya masuk ke dalam tubuhnya. Obat tersebut membuat Pak Adjie tidak bisa bangun dari komanya. Ia tidak bisa membiarkan orang lain terus-menerus menerobos perbatasannya dengan mudah. Ia harus lebih ketat menjaga ruangan mertuanya agar bisa pulih lebih cepat.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 295 : Pesona dari Mediterania

 


“Aargh ...!” Yuna berseru sambil melompat kegirangan di atas kapal saat ia melihat pemandangan kota Salerno-Positano-Amalfi-Sorrento dari laut Mediterania.

Yeriko yang di belakangnya, tersenyum kecil melihat kebahagiaan Yuna. Ia melangkah mendekati Yuna dan memeluknya dari belakang. “Suka?” bisiknya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum senang. “Suka banget!”

Yeriko mencium pipi Yuna. “Asal kamu bilang, aku akan berusaha mewujudkan impian-impian kamu.”

“Hmm ... andai bisa kayak gini setiap hari. Jauh dari orang-orang yang ganggu hubungan kita. Rasanya sangat tenang, damai dan ...” Yuna memutar tubuhnya menghadap ke arah Yeriko. “Aku merasa, dunia ini cuma ada aku dan kamu aja.”

Yeriko tersenyum dan mengecup bibir Yuna. Ia kembali memutar tubuh Yuna, memeluknya dari belakang, menikmati pemandangan bersama-sama. “Memang sangat baik ada di sini. Aku nggak perlu khawatir bakal ada Andre atau Lian. Tapi ... aku juga nggak yakin kalau kamu nggak dilirik sama cowok lain di sini.”

“Eh!?”

“Semalam, aku lihat cowok-cowok matanya mengarah ke kamu semua. Padahal, kamu ini kan sudah jadi istri orang dan dalam keadaan hamil. Kenapa masih begitu menarik perhatian cowok-cowok di luar sana?” tutur Yeriko sambil mengeratkan pelukannya.

Yuna tertawa kecil. “Emangnya kamu nggak gitu juga?”

“Oh ya? Berarti kita impas.”

“Mana bisa impas. Jelas-jelas, aku yang lebih banyak ruginya.”

“Kenapa?”

“Sebentar lagi, perutku bakal membesar. Pipiku bakal gembung kayak bakpao. Badanku nggak akan sebagus ini lagi. Bukannya, kamu bisa dengan mudah deketin cewek-cewek cantik. Sementara, udah nggak ada cowok yang ngelirik ibu hamil.”

Yeriko tertawa kecil. “Baguslah.”

“Hah!? Bagus apanya?”

“Nggak ada cowok lain yang ngelirik kamu lagi.”

“Terus, kamu bisa bebas lirik cewek lain?”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi ...”

“Kalo aku mau, ada puluhan cewek cantik yang udah dijodohkan ke aku. Kakek bener-bener ngelakuin segala cara supaya aku cepet nikah. Aku nggak tertarik sama cewek cantik.”

“Apa itu maksudnya, aku nggak cantik?” tanya Yuna.

“Aduh, salah ngomong!” seru Yeriko dalam hati.

“Bukan gitu. Aku nggak tertarik sama cewek cantik, aku tertariknya sama cewek yang sangat sangat sangat cantik. Dia satu-satunya yang ada di pelukan aku ini,” tutur Yeriko meralat ucapannya.

“Halah, gombal,” celetuk Yuna sambil menahan senyum. Pipinya merona bahagia.

“Aku nggak pandai ngegombal. Yang aku omongin ini kenyataan.”

“Oh ya?”

Yeriko mengangguk sembari meletakkan dagunya di pundak Yuna. “Sepertinya, perempuan emang suka digombalin. Kayaknya, aku harus banyak belajar.”

“Nggak boleh. Ntar kamu gombalin cewek lain di luar sana. Kayak Lutfi tuh.”

Yeriko tertawa kecil. “Kenapa si Lutfi?”

“Playboy-nya masih belum sembuh juga. Aku pikir, dia beneran sayang sama Icha. Ternyata, mereka itu cuma pura-pura pacaran di depan kita. Ngeselin nggak sih!? Selama ini, mereka kelihatan baik-baik aja. Sok mesra, ternyata cuma hubungan palsu.”

“Oh ya? Kamu tahu dari mana?”

“Dari Icha. Dia sendiri yang ngomong kalo hubungannya sama Lutfi cuma kontrak. Emangnya si Icha itu artis yang biasa dia endorse? Aku nggak ikhlas banget temenku diginiin. Pulang dari sini, aku mau bikin perhitungan sama anak itu.”

Yeriko tertawa kecil. “Biarlah hubungan mereka terjadi secara alami. Pacaran kontrak bukan masalah besar. Bukannya, banyak juga orang yang memilih kawin kontrak? Hubungan mereka cukup baik, ada kemungkinan saling jatuh cinta beneran.”

“Hmm ... gitu ya?”

“He-em. Mereka sudah dewasa. Semuanya pasti beralasan. Selama mereka berdua masih baik-baik aja. Kita nggak perlu banyak ikut campur dalam hubungan mereka.”

“Tapi ...”

“Yun, ini waktu liburan kita. Bukannya kamu ngelarang aku mikirin perusahaan. Kenapa kamu malah sibuk mikirin temen kamu. Nggak ada hal lain yang bisa dibicarakan tentang kita?”

Yuna terkekeh. “Iya juga, ya?”

“Kamu mau nginap di mana malam ini?” tanya Yeriko.

“Di ...?” Yuna langsung memutar kepalanya menatap Yeriko. “Kamu belum ngatur penginapan buat kita?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Emang bisa reservasi dadakan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Ada agency yang ngurus liburan kita. Kamu tinggal pilih aja. Mau nginap di Positano atau Amalfi?”

“Amalfi, dong!” sahut Yuna tanpa keraguan.

“Oke.”

“Apanya yang oke?”

“Kita nginap di Amalfi.”

“Yuna menganggukkan kepala.”

Beberapa menit kemudian, kapal mereka bersandar. Beberapa orang membantu Yeriko dan Yuna membawa koper mereka menuju ke penginapan.

Yeriko memilih menggunakan tour agency untuk menikmati liburannya kali ini. Sebab, ia tidak begitu berpengalaman dalam menyenangkan hati istrinya. Biasanya, dia pergi ke Eropa hanya untuk perjalanan bisnis. Tak pernah terpikir dalam benaknya kalau ia akan pergi berlibur di tempat ini. Seorang tour guide, akan memudahkan mereka berkomunikasi dengan penduduk lokal.

“Kamu nggak mau ngelamar aku lagi di sini?” goda Yuna saat mereka berjalan-jalan di sekitar pantai.

“Eh!? Aku sudah ngelamar kamu. Sudah nikahin kamu, masih kurang?”

Yuna terkekeh. Ia menggoyang-goyangkan alisnya sembari melihat seorang pria yang sedang melamar kekasihnya, tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Yeriko masih tak bisa memahami maksud Yuna.

“Mbak tour guide tadi mana?” tanya Yuna.

“Lagi ngatur penginapan kita.”

“Aku mau difotoin pas kamu ngelamar aku di sini.”

“Tuh!” Yeriko menunjuk salah satu agency tour yang memang menyediakan jasa foto untuk mengabadikan momen bulan madu mereka.

“Oh, iya. Lupa.” Yuna langsung memanggil pria bertubuh gempal tersebut. “Mas, fotoin kita ya!” pinta Yuna.

Pria berkebangsaan Indonesia itu mengangguk.

“Pake hape-ku nih!” Yuna menyodorkan ponselnya.

“Kamu lamar aku!” pinta Yuna sambil menatap Yeriko.

Yeriko mengernyitkan dahi.

“Iih ... kok, mikir sih?” Yuna melepas cincin dari jari manisnya dan memberikannya kepada Yeriko.

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya. “Aku baru aja ngelamar kamu, baru aja ngasih kamu pesta pernikahan. Masih minta dilamar lagi?”

Yuna mengangguk. “Aku mau kamu ngelamar aku di sini. Ayolah!” rengeknya.

Yeriko tersenyum kecil sembari menatap cincin berlian yang ada di tangannya. Walau sedikit konyol, ia tetap saja memenuhi permintaan istrinya. Ia langsung menjatuhkan salah satu lututnya ke pasir dan menyodorkan  cincin ke arah Yuna.

“Give me a little baby!” ucap Yeriko sambil tersenyum menatap Yuna.

Yuna melongo menatap Yeriko. “Eh!? Cuma itu?”

Yeriko tertawa kecil. “Kamu mau gimana?”

“Kemarin, kamu ngelamar aku pakai kalimat-kalimat romantis.”

“Bukannya kalimat yang tadi jauh lebih romantis?”

“Mmh ...” Yuna melirik awan yang menghiasi langit di atasnya. Ia memikirkan sisi romantis dari kalimat tersebut.

Yeriko menghela napas. Ia bangkit dan langsung memasangkan cincin itu kembali ke jemari tangan Yuna.

“Kita udah resmi nikah. Udah mau punya anak. Aku nggak mungkin bilang ke kamu ‘will you marry me?” karena kamu pasti bakal jawab ‘I do’. Jadi, aku cuma bisa minta kamu melahirkan anak buat aku dan kita menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia.”

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Jadi, kamu mau anak berapa?”

“Satu aja.”

“Why? Kamu nggak suka sama anak-anak?”

“Suka. Tapi, aku juga nggak bisa bikin kamu melahirkan terus menerus. Emangnya, kamu mau punya anak banyak?”

Yuna mengangguk. “Supaya rumah kita ramai.”

“Mmh ... kalo gitu, aku minta empat anak.”

“Empat?”

Yeriko menganggukkan kepala.

“Aku mau enam. Biar jadi selusin.”.

Yeriko mengernyitkan dahi. “Enam itu bari setengah lusin.”

“Bakal jadi selusin saat mereka udah punya pasangan masing-masing.”

Yeriko tertawa kecil. “Kamu ini, ada-ada aja.”

“Hehehe.”

Mereka mulai menikmati masa-masa liburan mereka di tempat itu. Mencoba aneka makanan yang identik dengan lemon. Juga membeli beberapa souvenir lucu yang berbentuk lemon.

Lemon dan zaitun, menjadi salah satu komoditi khas daerah tersebut. Di mana-mana, mereka menemukan makanan dan minuman yang khas terbuat dari lemon.

Yuna sangat menikmati hari-harinya selama di Italia. Ia mencoba berbagai makanan, berbelanja souvenir dan menikmati keindahan laut Mediterania yang terbentang luas dan sangat indah. Ia merasa sangat bahagia. Ia teringat pada kedua orang tuanya yang seringkali mengajaknya berlibur setiap tahunnya. Saat kenaikan kelas, ayahnya akan menghadiahi liburan ke luar negeri. Ia membayangkan bagaimana kondisi kedua orang tuanya sebelum melahirkan seorang anak. Apakah sama seperti dia dan Yeriko?

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih atas dukungannya, semoga bisa bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas