Selama lima belas
hari, Yeriko mengajak Yuna berkunjung ke kota-kota di sekitar Amalfi Coast. Ia
tak bisa mengajak Yuna bepergian lama mengingat kondisi kandungan Yuna.
Meski tak bisa
mengunjungi semua tempat, tapi Yuna sudah merasa bahagia. Ia bisa
berjalan-jalan di sekitar promenade setiap malamnya. Pergi melihat kebun lemon,
kebun zaitun, beberapa museum bersejarah Constantinople. Merasakan sensasi
apperitivo (happy hour ala Italy di mana beli satu minuman bisa dapat akses
makan sepuasnya) di Naples. Mencoba semua makanan populer seperti Khinkali,
buah Baba, Kebab, Lokum dan lain-lain. Menyusuri Amalfi Coast dari Salerno
hingga ke Sorento. Mereka juga sempat berkunjung ke Roma. Melihat Menara Pisa
yang berdiri kokoh selama ratusan tahun.
Tepar di hari ke
limabelas. Mereka mulai berkemas untuk kembali ke Indonesia. Kembali menjalani
rutinitas kesehariannya seperti biasa.
“Huft, kenapa
waktu berjalan cepet banget?” gumam Yuna saat mereka sudah berada di dalam
pesawat yang membawanya pergi dari Naples. Dari kaca jendela, ia bisa melihat
bagaimana keindahan kota yang ia tinggalkan secara perlahan. Italia memang
sangat indah. Menunjukkan bagaimana kejayaan Constatinopel. Film Wonder Woman
yang rilis Juni lalu, juga mengambil latar di Ravello, kota yang bersebelahan
dengan Amalfi.
“Tahun depan lagi
ya,” tutur Yeriko sambil mengecup kening Yuna.
“Ngapain?”
“Liburan ke luar
negeri.”
Yuna tertawa kecil
sambil mengeratkan pelukannya. “Nggak perlu ke luar negeri setiap tahun juga.
Pemborosan.”
“Kamu masih
perhitungan juga sama uang sendiri?”
“Bukan uangku,
uang suami. Hehehe.”
Yeriko tersenyum
sambil mengelus lembut pundak Yuna. “Aku harus kembali kerja keras karena
istriku sekarang udah pandai ngabisin duit suami.”
“Iih … kamu yang
suruh” dengus Yuna sambil mencubit perut Yeriko.
“Aw …!” Yeriko
meringis, kemudian terbahak. “Aku bercanda.”
“Tapi beneran,”
sahut Yuna sambil memonyongkan bibirnya.
“Apanya?”
“Aku ngabisin uang
banyak minggu ini.”
Yeriko tertawa
menanggapi ucapan Yuna. “Cuma sedikit, kok.”
“Sedikit?” Yuna
mengerutkan dahinya. “Enak jadi orang kaya. Uang segitu sedikit aja. Kalo aku,
setahun kerja belum tentu bisa ke luar negeri,” gumam Yuna.
“Kamu masih anggap
aku orang lain?”
“Kenyataannya, aku
emang nggak punya apa-apa. Kalau bukan karena kamu, aku nggak punya semua ini.”
“Semua yang aku
punya, juga milik kamu. Nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko.
Yuna tersenyum
sambil menatap Yeriko. “Aku cuma mau kamu aja.”
Yeriko mengecup
lembut ujung kepala Yuna. “Setelah sampai, kita langsung ke dokter kandungan.”
Yuna menganggukkan
kepala. “Nggak ada keluhan. Semoga dia selalu sehat dan kuat sampai terlahir ke
dunia ini.”
“Aamiin. Tidur ya!
Perjalanan masih panjang.”
Yuna menganggukkan
kepala. Ia memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di dada Yeriko.
Setelah menempuh
perjalanan kurang lebih dua puluh delapan jam. Akhirnya, mereka sampai juga di
Bandara Juanda.
Di terminal
kedatangan, sudah ada Riyan, Jheni dan Chandra yang menjemput mereka.
“Aargh …! Kangen
banget!” seru Yuna sembari berlari ke pelukan Jheni.
“Kamu tega banget
ninggalin aku selama ini. Gimana liburannya? Asyik?”
Yuna mengangguk
sambil tersenyum. “Sangat asyik.” Ia menoleh ke arah Chandra. “Chan, di sana
tempat yang cocok buat ngelamar cewek. Kamu nggak pengen ajak Jheni ke sana.
Terus, ngelamar dia di tempat yang indah itu?”
Chandra hanya
tersenyum kecil. “Doain aja, Yun!”
Yeriko ikut
tersenyum. “Dia sampe nyuruh aku ngelamar dia lagi di sana.”
“Hah!? Serius?”
tanya Jheni. “Terus, kamu ngelamar dia?”
Yeriko mengangguk.
“Hahaha. Waktu
nikah, kamu nggak pake ngelamar dia. Pas udah nikah, malah ngelamar sampai dua
kali. Kalo perlu, tiap tahun aja ngelamar terus,” sahut Jheni sambil tertawa.
Yeriko mengangkat
kedua alisnya sambil manggut-manggut. “Ide bagus juga.”
“Nggak usah
dihiraukan omongannya Jheni!” dengus Yuna.
Mereka tertawa
kecil. Kemudian berjalan bersama keluar dari Bandara.
“Eh, di sana lama
banget. Ngapain aja?” bisik Jheni di telinga Yuna.
“Kamu pikir, kalo
bulan madu itu main gaplek?”
“Hihihi. Kali aja
gitu. Asyik ya jadi istri orang kaya. Bisa liburan ke luar negeri sepuasnya.”
“Chandra juga kan
banyak duit. Ajak aja dia liburan ke luar negeri.”
“Yaelah, masa aku
yang ngajak?”
“Dia itu emang
nggak ada inisiatifnya sama sekali ya?” bisik Yuna.
“Ada sih.
Kadang-kadang. Tapi, akhir-akhir ini dia serius banget sama kerjaannya. Apalagi
semenjak ditinggal sama Yeriko. Dia makin sibuk ngurus pengembangan proyek
sendirian.”
“Wah,
jangan-jangan dia kerja keras karena mau nyiapin pernikahan yang mewah buat
kamu?”
“Masa sih?”
“Bisa jadi, cowok
pendiem dan misterius gitu. Biasanya ngasih kejutan tak terduga.”
Jheni memonyongkan
bibirnya. “Dia mah nggak seromantis Yeriko. Apa perlu aku yang duluan
ngelamar?”
“Ide bagus.”
“Iih …!” Jheni
langsung mencubit lengan Yuna.
Mereka tertawa dan
masuk ke mobil masing-masing setelah semua koper milik Yuna dan Yeriko masuk ke
dalam bagasi.
Saat baru keluar
dari parkiran, tiba-tiba ponsel Riyan yang tersambung ke mobil berdering. Riyan
langsung menekan tombol answer.
“Halo …!”
“Selamat siang,
Pak Riyan. Kami dari rumah sakit. Ingin mengabarkan kalau Bapak Adjie Linandar
sempat sadar kembali dan bisa berbicara.”
Riyan langsung
menoleh ke arah Yeriko yang duduk di kursi belakang.
“Serius!?” tanya
Yuna.
“Tapi, beliau
kembali tidak sadarkan diri.”
“Baik, Suster.
Saya akan segera ke sana.” Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Antar Yuna pulang
ke rumah dulu!” perintah Yeriko.
“Aku mau ikut ke
rumah sakit, please!” pinta Yuna memohon.
“Kamu istirahat di
rumah!” perintah Yeriko. “Masalah ayah kamu, percayakan sama aku!”
“Tapi …”
“Kesehatan ayah
kamu belum stabil. Aku khawatir kamu kecewa saat sampai di sana. Lebih baik,
kamu fokus dengan kesehatan kandungan kamu.”
Yuna terdiam.
“Kamu nggak
percaya sama aku?”
“Aku percaya. Aku
cuma khawatir sama ayah.”
“Kamu rileks.
Percayakan sama kami. Semua akan baik-baik aja. Jangan menyiksa anak kita
karena perasaan kamu yang kayak gini!” pinta Yeriko.
Yuna
mengangguk-anggukkan kepalanya.
Yeriko segera
membawa Yuna pulang ke rumah dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan
mertuanya.
“Yan, apa kita
masih kecolongan?” tanya Yeriko saat ia berada di perjalanan ke rumah sakit.
Riyan
menggelengkan kepala. “Seharusnya, semua aman.”
“Kenapa Pak Adjie
koma lagi?”
Riyan
menggelengkan kepala. “Laporan perkembangan kesehatannya cukup baik. Saya juga
nggak ngerti kenapa beliau koma lagi.”
“Kamu selidiki
lagi!” perintah Yeriko.
Riyan
menganggukkan kepala. “Sepertinya, ada orang yang sengaja membuat Pak Adjie
koma dalam jangka waktu yang lama.”
“Dokter yang
periksa dia nggak ganti-ganti kan?”
Riyan
menggelengkan kepala. “Tapi, perawat yang melayani Pak Adjie …”
“Kenapa?”
“Kemungkinan ada
yang menyusup. Karena perawatnya setiap hari berganti.”
“Minta perawat
tetap!”
Riyan
menganggukkan kepala.
“Pasang CCTV di
luar dan di dalam ruangan itu!”
“Sudah ada, Pak
Bos.”
“Kenapa masih
kecolongan?”
Riyan tak menjawab
pertanyaan Yeriko.
Yeriko semakin
penasaran karena di tubuh papa mertuanya ditemukan zat yang tidak seharusnya
masuk ke dalam tubuhnya. Obat tersebut membuat Pak Adjie tidak bisa bangun dari
komanya. Ia tidak bisa membiarkan orang lain terus-menerus menerobos
perbatasannya dengan mudah. Ia harus lebih ketat menjaga ruangan mertuanya agar
bisa pulih lebih cepat.
(( Bersambung ...
))
Thanks udah setia
baca sampai di sini,
Dukung terus biar
aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment