Wednesday, August 13, 2025

Perfect Hero Bab 296 : Wonderfull Amalfi Coast

 


Selama lima belas hari, Yeriko mengajak Yuna berkunjung ke kota-kota di sekitar Amalfi Coast. Ia tak bisa mengajak Yuna bepergian lama mengingat kondisi kandungan Yuna. 

Meski tak bisa mengunjungi semua tempat, tapi Yuna sudah merasa bahagia. Ia bisa berjalan-jalan di sekitar promenade setiap malamnya. Pergi melihat kebun lemon, kebun zaitun, beberapa museum bersejarah Constantinople. Merasakan sensasi apperitivo (happy hour ala Italy di mana beli satu minuman bisa dapat akses makan sepuasnya) di Naples. Mencoba semua makanan populer seperti Khinkali, buah Baba, Kebab, Lokum dan lain-lain. Menyusuri Amalfi Coast dari Salerno hingga ke Sorento. Mereka juga sempat berkunjung ke Roma. Melihat Menara Pisa yang berdiri kokoh selama ratusan tahun.

 

Tepar di hari ke limabelas. Mereka mulai berkemas untuk kembali ke Indonesia. Kembali menjalani rutinitas kesehariannya seperti biasa.

“Huft, kenapa waktu berjalan cepet banget?” gumam Yuna saat mereka sudah berada di dalam pesawat yang membawanya pergi dari Naples. Dari kaca jendela, ia bisa melihat bagaimana keindahan kota yang ia tinggalkan secara perlahan. Italia memang sangat indah. Menunjukkan bagaimana kejayaan Constatinopel. Film Wonder Woman yang rilis Juni lalu, juga mengambil latar di Ravello, kota yang bersebelahan dengan Amalfi.

“Tahun depan lagi ya,” tutur Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

“Ngapain?”

“Liburan ke luar negeri.”

Yuna tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya. “Nggak perlu ke luar negeri setiap tahun juga. Pemborosan.”

“Kamu masih perhitungan juga sama uang sendiri?”

“Bukan uangku, uang suami. Hehehe.”

Yeriko tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna. “Aku harus kembali kerja keras karena istriku sekarang udah pandai ngabisin duit suami.”

“Iih … kamu yang suruh” dengus Yuna sambil mencubit perut Yeriko.

“Aw …!” Yeriko meringis, kemudian terbahak. “Aku bercanda.”

“Tapi beneran,” sahut Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

“Apanya?”

“Aku ngabisin uang banyak minggu ini.”

Yeriko tertawa menanggapi ucapan Yuna. “Cuma sedikit, kok.”

“Sedikit?” Yuna mengerutkan dahinya. “Enak jadi orang kaya. Uang segitu sedikit aja. Kalo aku, setahun kerja belum tentu bisa ke luar negeri,” gumam Yuna.

“Kamu masih anggap aku orang lain?”

“Kenyataannya, aku emang nggak punya apa-apa. Kalau bukan karena kamu, aku nggak punya semua ini.”

“Semua yang aku punya, juga milik kamu. Nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko.

Yuna tersenyum sambil menatap Yeriko. “Aku cuma mau kamu aja.”

Yeriko mengecup lembut ujung kepala Yuna. “Setelah sampai, kita langsung ke dokter kandungan.”

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak ada keluhan. Semoga dia selalu sehat dan kuat sampai terlahir ke dunia ini.”

“Aamiin. Tidur ya! Perjalanan masih panjang.”

Yuna menganggukkan kepala. Ia memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di dada Yeriko.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh delapan jam. Akhirnya, mereka sampai juga di Bandara Juanda.

Di terminal kedatangan, sudah ada Riyan, Jheni dan Chandra yang menjemput mereka.

“Aargh …! Kangen banget!” seru Yuna sembari berlari ke pelukan Jheni.

“Kamu tega banget ninggalin aku selama ini. Gimana liburannya? Asyik?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Sangat asyik.” Ia menoleh ke arah Chandra. “Chan, di sana tempat yang cocok buat ngelamar cewek. Kamu nggak pengen ajak Jheni ke sana. Terus, ngelamar dia di tempat yang indah itu?”

Chandra hanya tersenyum kecil. “Doain aja, Yun!”

Yeriko ikut tersenyum. “Dia sampe nyuruh aku ngelamar dia lagi di sana.”

“Hah!? Serius?” tanya Jheni. “Terus, kamu ngelamar dia?”

Yeriko mengangguk.

“Hahaha. Waktu nikah, kamu nggak pake ngelamar dia. Pas udah nikah, malah ngelamar sampai dua kali. Kalo perlu, tiap tahun aja ngelamar terus,” sahut Jheni sambil tertawa.

Yeriko mengangkat kedua alisnya sambil manggut-manggut. “Ide bagus juga.”

“Nggak usah dihiraukan omongannya Jheni!” dengus Yuna.

Mereka tertawa kecil. Kemudian berjalan bersama keluar dari Bandara.

“Eh, di sana lama banget. Ngapain aja?” bisik Jheni di telinga Yuna.

“Kamu pikir, kalo bulan madu itu main gaplek?”

“Hihihi. Kali aja gitu. Asyik ya jadi istri orang kaya. Bisa liburan ke luar negeri sepuasnya.”

“Chandra juga kan banyak duit. Ajak aja dia liburan ke luar negeri.”

“Yaelah, masa aku yang ngajak?”

“Dia itu emang nggak ada inisiatifnya sama sekali ya?” bisik Yuna.

“Ada sih. Kadang-kadang. Tapi, akhir-akhir ini dia serius banget sama kerjaannya. Apalagi semenjak ditinggal sama Yeriko. Dia makin sibuk ngurus pengembangan proyek sendirian.”

“Wah, jangan-jangan dia kerja keras karena mau nyiapin pernikahan yang mewah buat kamu?”

“Masa sih?”

“Bisa jadi, cowok pendiem dan misterius gitu. Biasanya ngasih kejutan tak terduga.”

Jheni memonyongkan bibirnya. “Dia mah nggak seromantis Yeriko. Apa perlu aku yang duluan ngelamar?”

“Ide bagus.”

“Iih …!” Jheni langsung mencubit lengan Yuna.

Mereka tertawa dan masuk ke mobil masing-masing setelah semua koper milik Yuna dan Yeriko masuk ke dalam bagasi.

Saat baru keluar dari parkiran, tiba-tiba ponsel Riyan yang tersambung ke mobil berdering. Riyan langsung menekan tombol answer.

“Halo …!”

“Selamat siang, Pak Riyan. Kami dari rumah sakit. Ingin mengabarkan kalau Bapak Adjie Linandar sempat sadar kembali dan bisa berbicara.”

Riyan langsung menoleh ke arah Yeriko yang duduk di kursi belakang.

“Serius!?” tanya Yuna.

“Tapi, beliau kembali tidak sadarkan diri.”

“Baik, Suster. Saya akan segera ke sana.” Riyan langsung mematikan panggilan teleponnya.

“Antar Yuna pulang ke rumah dulu!” perintah Yeriko.

“Aku mau ikut ke rumah sakit, please!” pinta Yuna memohon.

“Kamu istirahat di rumah!” perintah Yeriko. “Masalah ayah kamu, percayakan sama aku!”

“Tapi …”

“Kesehatan ayah kamu belum stabil. Aku khawatir kamu kecewa saat sampai di sana. Lebih baik, kamu fokus dengan kesehatan kandungan kamu.”

Yuna terdiam.

“Kamu nggak percaya sama aku?”

“Aku percaya. Aku cuma khawatir sama ayah.”

“Kamu rileks. Percayakan sama kami. Semua akan baik-baik aja. Jangan menyiksa anak kita karena perasaan kamu yang kayak gini!” pinta Yeriko.

Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.

Yeriko segera membawa Yuna pulang ke rumah dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan mertuanya.

“Yan, apa kita masih kecolongan?” tanya Yeriko saat ia berada di perjalanan ke rumah sakit.

Riyan menggelengkan kepala. “Seharusnya, semua aman.”

“Kenapa Pak Adjie koma lagi?”

Riyan menggelengkan kepala. “Laporan perkembangan kesehatannya cukup baik. Saya juga nggak ngerti kenapa beliau koma lagi.”

“Kamu selidiki lagi!” perintah Yeriko.

Riyan menganggukkan kepala. “Sepertinya, ada orang yang sengaja membuat Pak Adjie koma dalam jangka waktu yang lama.”

“Dokter yang periksa dia nggak ganti-ganti kan?”

Riyan menggelengkan kepala. “Tapi, perawat yang melayani Pak Adjie …”

“Kenapa?”

“Kemungkinan ada yang menyusup. Karena perawatnya setiap hari berganti.”

“Minta perawat tetap!”

Riyan menganggukkan kepala.

“Pasang CCTV di luar dan di dalam ruangan itu!”

“Sudah ada, Pak Bos.”

“Kenapa masih kecolongan?”

Riyan tak menjawab pertanyaan Yeriko.

Yeriko semakin penasaran karena di tubuh papa mertuanya ditemukan zat yang tidak seharusnya masuk ke dalam tubuhnya. Obat tersebut membuat Pak Adjie tidak bisa bangun dari komanya. Ia tidak bisa membiarkan orang lain terus-menerus menerobos perbatasannya dengan mudah. Ia harus lebih ketat menjaga ruangan mertuanya agar bisa pulih lebih cepat.

 

 

(( Bersambung ... ))

 

Thanks udah setia baca sampai di sini,

Dukung terus biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas