Wednesday, July 9, 2025

Perfect Hero Bab 236 || Canggung || a Romance Novel by Vella Nine

 



“Yun, tolongin aku!” ucap Jheni lirih sambil terbaring di lantai yang lembab dan kotor.

 

“Jhen ...!” Yuna berusaha menolong Jheni. Namun, beberapa preman datang menghampiri dan ikut menangkapnya.

 

“Tolong! Tolong ...!” seru Yuna.

 

Yeriko tiba-tiba datang dan menghajar preman itu satu persatu. Jumlah preman yang banyak, membuat Yeriko mendapatkan pukulan berkali-kali. Satu pukulan di kepala Yeriko membuatnya terjatuh ke lantai.

 

“Yeriko ...!” Yuna bergegas menghampiri Yeriko yang terbaring lemah di lantai, darah segar mengucur dari kepalanya. “Yer, bangun!” pinta Yuna sambil menangis histeris.

 

Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Matanya tertutup perlahan-lahan.

 

“Yeriko ...!” teriak Yuna sambil menangis histeris.

 

“Yeriko ...!” Yuna langsung bangkit dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruanga.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko yang berdiri di sebelah tempat tidurnya.

 

Yuna langsung memeluk tubuh Yeriko. “Aku mimpi buruk. Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.

 

“Aku baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil duduk di tepi tempat tidur.

 

Yuna bernapas lega. “Aku bener-bener takut kalau mimpiku jadi kenyataan.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah istrinya. “Nggak perlu takut. Aku di sini. Semua baik-baik aja.”

 

“Umh.” Yuna mengangguk sambil menatap Yeriko. “Gimana Jheni?”

 

“Dia baik-baik aja.”

 

“Udah ketemu?”

 

Yeriko mengangguk.

 

Yuna langsung menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

 

“Mau ke mana?”

 

“Lihat Jheni,” jawab Yuna sambil turun dari tempat tidur.

 

“Jheni baik-baik aja. Chandra udah ngurus dia.”

 

“Tapi ...”

 

“Sudah ada Chandra yang jagain dia. Kasih mereka waktu!” pinta Yeriko.

 

Yuna terdiam, ia berpikir sejenak. Chandra baru saja membuat Jheni kecewa. Bagaimana kalau Jheni justru semakin terluka kalau berada di sisi Chandra.

 

“Kamu nggak usah gelisah!” pinta Yeriko. “Nggak percaya sama Chandra?”

 

“Yer, Chandra baru aja bikin Jheni kecewa. Jheni baru aja sembuh dari kekecewaannya. Aku khawatir, kalau dia ketemu sama Chandra. Dia bakal sedih lagi.”

 

“Chandra pasti bisa menangani Jheni,” sahut Yeriko.

 

“Huft, semoga aja.” Yuna duduk di tepi ranjang sambil menatap lantai yang kosong.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

 

Yuna langsung menoleh ke belakang, menatap Yeriko yang sudah terbaring lemas. “Capek ya?”

 

Yeriko mengangguk. “Ngantuk. Aku mau tidur sebentar.”

 

Yuna tersenyum. “Tidur aja!”

 

“Temenin!” pinta Yeriko manja.

 

“Eh!? Ini udah pagi. Aku mau siap-siap ke kantor.”

 

Yeriko bangkit dan menarik tubuh Yuna ke dalam pelukannya. “Ini masih jam lima pagi, Yun. Masuk kantor jam delapan. Masih lama.”

 

Yuna tersenyum kecil sambil menatap dada Yeriko yang terbuka. Jemari tangannya mulai jahil dan merayap di dada suaminya.

 

“Yun ...!” Yeriko langsung menangkap telapak tangan Yuna. “Aku mau tidur. Jangan minta macem-macem! Tidur!” perintahnya sambil memejamkan mata dan membenamkan kepala Yuna di dadanya.

 

“Aku udah nggak ngantuk,” tutur Yuna lirih.

 

Yeriko tidak menyahut. Ia sudah tertidur pulas dan tidak bisa lagi mendengar suara Yuna.

 

Yuna tersenyum menatap wajah suaminya. Terlihat lelah karena tidak tidur semalaman untuk menyelamatkan Jheni. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Yeriko perlahan.

 

Mata Yuna tertuju pada lengan Yeriko yang memar di beberapa titik. Matanya tiba-tiba basah. Ia mengecup punggung tangan Yeriko. “Yer, kamu udah ngelakuin banyak hal buat aku. Saat kamu lelah dan sakit seperti ini, kamu masih menunjukkan semua baik-baik aja. Makasih buat semua hal yang udah kamu lakuin ke aku.”

 

Yuna mengecup kening Yeriko perlahan. Ia bergegas turun dari tempat tidur. Membantu Bibi War menyiapkan sarapan pagi dan bersiap berangkat ke tempat kerja.

Beberapa menit kemudian ...

“Udah mau berangkat kerja?” tanya Bibi War saat Yuna kembali turun dari kamarnya dengan pakaian rapi.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mas Yeri nggak kerja? Apa dia sakit? Nggak biasanya jam segini masih tidur.”

 

“Semalaman dia nggak tidur. Nggak usah dibangunin ya, Bi!”

 

Bibi War mengangguk.  

 

Yuna tersenyum. Ia bergegas berangkat ke kantor.

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Chandra terpaku menatap wajah Jheni yang terlelap di atas tempat tidurnya. Ia sangat menyesal karena tidak bisa menjaga Jheni dengan baik.

 

Goresan luka di pipi Jheni membuatnya menangis. Selama ini, Jheni selalu ada di sisinya dalam keadaan terpuruk sekali pun. Berbesar hati menerima dirinya yang masih belum bisa terlepas dari Amara.

 

Chandra lupa, lupa diri. Hingga ia tidak pernah memedulikan kehidupan Jheni. Ia tidak tahu bagaimana Jheni di belakangnya. Kesulitan apa yang sedang dialami gadis itu. Ia hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri.

 

“Jhen, maafin aku!” tuturnya lirih sambil menatap wajah cantik Jheni yang masih tertidur pulas. “Aku terlalu sibuk memikirkan diriku sendiri sampai mengabaikan kamu yang sudah melakukan banyak hal buat aku.”

 

Chandra bangkit dari tempat duduk. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan jam lima pagi. Ia bergegas menuju dapur, membuatkan sarapan untuk Jheni.

 

Jheni mengerjapkan mata saat mendengar suara peralatan dapur saling beradu. Ia membuka matanya perlahan. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. “Kenapa aku di sini?” Ia memijat keningnya yang berdenyut. Berusaha bangkit dari tempat tidur sambil mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.

 

Jheni menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Ia membelalakkan mata saat menyadari ia sudah mengenakan kemeja milik Chandra. “Iih ... ini cowok nyebelin banget sih!?” makinya sambil menghentakkan kaki ke lantai.

 

Jheni mondar-mandir di sisi tempat tidur. “Chan, sebenarnya perasaan kamu ke aku gimana sih? Baru kemarin kamu lebih milih Amara daripada aku. Kenapa sekarang, kamu bawa aku ke sini? Bahkan tidur di ranjang kamu?” gumam Jheni.

 

Jheni terduduk lemas di tepi ranjang. “Aku baru aja memutuskan buat ngelupain kamu selamanya. Kalo kayak gini, aku gagal move on!” serunya sambil merengek manja seperti anak kecil.

 

KREEK ...!

 

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

 

Jheni langsung menoleh ke arah pintu.

 

“Udah bangun?” tanya Chandra sambil tersenyum ke arah Jheni.

 

Jheni mengangguk.

 

 

 

Hening.

 

 

 

“Mmh ... aku udah buatin sarapan buat kamu. Sarapan, yuk!” ajak Chandra.

 

Jheni terdiam. Ia merasa sangat canggung berhadapan dengan Chandra. Ingin sekali membuang jauh-jauh wajahnya kali ini. “Please, mau kutaruh di mana mukaku sekarang? Aku malu banget!” batin Jheni.

 

“Kenapa?” tanya Chandra sambil mendekat ke arah Jheni.

 

“Eh, nggak papa. Aku ... aku mau mandi dulu.”

 

“Oke.” Chandra mengangguk. “Aku tunggu di ruang makan.”

 

“He-em.” Jheni menanggukkan kepala.

 

“Oh ya, aku udah beliin baju buat kamu.” Chandra menunjuk paper bag yang ada di atas meja.

 

Jheni mengangguk sambil tersenyum kecil.

 

“Mmh ... sorry, semalam aku terpaksa gantiin baju kamu, soalnya ...”

 

“Iya, nggak papa,” sahut Jheni. “Aku mandi dulu.” Ia menyambar paper bag yang ada di atas meja.

 

Jheni bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar Chandra. Ia menarik napas berkali-kali sambil menatap tubuhnya di depan cermin.

 

“Nggak kelihatan nervous kan?” tanyanya sambil menepuk-nepuk pipinya perlahan. Ia sudah sering berada di rumah Chandra, tapi baru kali ini ia merasa sangat canggung menghadapi Chandra.

 

Jheni menarik napas beberapa kali. “Bersikap seperti biasanya aja, Jhen. Waktu kamu sama dia masih berteman,” tutur Jheni pada dirinya sendiri. “Teman?” tanyanya dalam hati. Ia sendiri saat ini masih tidak tahu apakah bisa menjalin hubungan pertemanan kembali dengan Chandra setelah apa yang terjadi di antara mereka.

 

( Bersambung ... )

 

Bagusnya, Chan & Jhen bersatu atau nggak ya?

Semalaman udah nggak tidur biar bisa update, tunggu kelanjutannya besok lagi ya! Dukung terus cerita ini dengan cara kasih review baik di kolom komentar biar aku makin semangat nulisnya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 235 || Dalang Penculikan || a Romance Novel by Vella Nine

 

Dalang Penculikan

 


Yeriko dan Lutfi bergegas naik ke lantai atas. Mencari sosok Ben yang telah membuat kemarahan Yeriko memuncak. Mereka menggeledah seluruh ruangan dan menyingkirkan penjaga-penjaga yang menghalau mereka.

 

“Selamat malam, Tuan Ye ...!” sapa Ben begitu Lutfi dan Yeriko masuk ke dalam ruangannya. “Suatu kehormatan bisa membuat Anda datang ke tempat ini.” Ben melepaskan diri dari wanita-wanita seksi yang bergelayut manja di tubuhnya.

 

Yeriko tidak menyahut. Ia langsung mendekati Ben dan melayangkan kepalan tangannya ke wajah Ben.

 

“Hei, kenapa kalian diam aja? Hajar dia!” perintah Ben pada anak buahnya.

 

Anak buah ben langsung menyerang Yeriko dan Lutfi. Lutfi menghalau semua anak buah Ben agar tidak mendekati Yeriko yang sedang membuat perhitungan dengan Ben.

 

“Kamu udah berani melukai istriku, aku nggak akan ngelepasin kamu!” sentak Yeriko sambil menarik kerah baju Ben.

 

“Dia istri kamu? Bukannya pacarnya Chandra?”

 

“Perempuan yang kamu pukul sampai pingsan di bar itu istriku!” sentak Yeriko.

 

BUG!

 

Yeriko langsung menghantam wajah Ben kembali.

 

Ben berusaha menyerang balik Yeriko. Namun, kemampuan beladiri Yeriko memang jauh lebih baik dari dirinya.

 

BRAAK ...!

 

Tendangan kaki Lutfi membuat salah satu anak buah Ben melayang ke atas meja dan memecahkan meja kecil tersebut dengan mudah.

 

“Mmh ...” Ben menahan sakit di tubuhnya akibat pukulan dari Yeriko. Ia menatap semua anak buahnya yang telah berhasil dikalahkan oleh Lutfi dengan mudah.

 

Yeriko masih belum puas melihat Ben yang sudah babak belur. Ia masih mengepalkan tangannya ke arah Ben.

 

“Tunggu!” seru Ben sambil menatap kepalan tangan Yeriko yang hanya berjarak sepuluh sentimeter dari wajahnya. “Aku cuma dibayar.”

 

Yeriko menurunkan kepalan tangannya. “Siapa yang bayar kamu?”

 

Ben menggelengkan kepalanya.

 

BUG!

 

Yeriko kembali meninju wajah Ben hingga tersungkur ke lantai. Ia langsung menekan leher Ben dengan sepatunya. “Siapa yang bayar kamu!?” sentak Yeriko sambil terus menekan leher Ben makin kuat.

 

“Uhuk ... uhuk ... lepasin dulu!” pinta Ben sambil memegangi lehernya.

 

Yeriko melonggarkan injakan kakinya. “Cepet ngomong!” sentaknya.

 

“Aurelia yang ngatur semuanya. Aku cuma terima perintah,” tutur Ben.

 

“Apa ada hubungannya sama Amara?” tanya Lutfi.

 

“Aku nggak kenal sama Amara,” jawab Ben.

 

“Anak buahmu nyulik Jheni dan ada Amara di sana. Gimana kamu bilang nggak kenal!?” sentak Lutfi. Ia ikut emosi dengan jawaban Ben.

 

“Jheni yang punya hutang sama aku. Nggak tahu siapa itu Amara,” jawab Ben bersikeras.

 

Yeriko kembali menekan sepatunya ke leher Ben. “Jheni bukan wanita penjudi. Dia nggak mungkin ada hutang sama kamu!”

 

“Pacarnya yang berhutang atas nama dia,” jawab Ben sambil menahan sakit di lehernya.

 

“Dia pacarnya Chandra, goblok!” sentak Lutfi sambil menendang kepala Ben.

 

“Aku nggak tahu. Aku cuma mau uangku kembali,” jawab Ben.

 

Yeriko dan Lutfi saling pandang. Ben tak kunjung memberikan jawaban dan membuat mereka semakin geram.

 

“Bunuh aja orang ini! Nggak guna!” tutur Lutfi.

 

“Aku beneran nggak tahu,” sahut Ben. “Aurel yang atur semuanya. Dia yang tahu siapa yang sebenarnya pinjam uang atas nama Jheni. Aku cuma butuh uang, nggak peduli siapa mereka.”

 

“Aurel?” Yeriko mengernyitkan dahi sambil menatap Lutfi.

 

“Cewek yang bawain acara lelang tadi,” tutur Ben.

 

Yeriko langsung melepaskan kakinya dari leher Ben. “Aku pastikan bisnis perjudian kamu ini bakal tutup dalam minggu ini!” ancam Yeriko. Ia dan Lutfi langsung bergegas pergi mencari wanita seksi yang sempat mereka jumpai di atas panggung.

 

“Di mana cewek itu sekarang?” tanya Yeriko sambil terus melangkah mencari sosok Aurel.

 

“Itu, Yer!” Lutfi langsung menunjuk Aurel yang sedang duduk santai di salah satu meja bar di lantai bawah.

 

Yeriko bergegas menghampiri Aurel yang sedang bersantai sambil menikmati Bir. Ia langsung menarik tangan Aurel dengan paksa dan mencengkeram sangat kuat.

 

“Ada apa ini?” tanya Aurel. Ia terkejut dengan kehadiran Yeriko dan Lutfi yang ada di hadapannya.

 

“Siapa orang yang udah jual Jheni?” tanya Yeriko.

 

“Jheni?”

 

“Cewek yang kamu lelang tadi,” sahut Lutfi.

 

“Oh ...” Aurelia tersenyum kecil. “Dari Ben,” jawabnya santai.

 

“Bohong!” sentak Lutfi. “Ben sudah mati di atas, kamu nyusul dia?” tanyanya sambil menatap Aurel.

 

Aurel membelalakkan mata, ia gemetaran menatap Yeriko dan Lutfi. “Ka ... kalian siapa?”

 

“Nggak penting kami siapa. Kamu bilang ke kami, siapa orang yang udah jebak Jheni!” pinta Yeriko.

 

Aurel terdiam. Ia berpikir sejenak, mencari kalimat yang tepat untuk melawan Yeriko dan Lutfi.

 

“Kamu masih nggak mau ngaku?” tanya Yeriko sambil menekan rahang Aurel. “Berapa uang yang dia kasih ke kamu? Aku ganti tiga kali lipat!”

 

“Lepasin tangan kamu dulu!” pinta Aurel.

 

Yeriko melepas tangannya perlahan.

 

Aurel mengambil beberapa lembar kertas dari dalam tas tangannya dan memberikan pada Yeriko. Gestur tubuhnya berusaha menggoda Yeriko dan Lutfi agar luluh di hadapannya.

 

Yeriko menarik kertas tersebut dengan kasar dan membacanya. Kemudian, melirik tubuh Aurel yang seksi dan tersenyum menggoda ke arahnya.

 

“Eh, kamu nggak usah kayak cacing kepanasan!” sentak Yeriko. “Kamu pikir, badan kamu ini menarik buat kami?”

 

Lutfi menahan tawa mendengar ucapan Yeriko.

 

Aurel mengerutkan bibir sambil menatap kesal ke arah Yeriko.

 

“Heh, siapa namamu? Aurelia?” tanya Lutfi sambil tertawa kecil. “Cocok emang kayak ubur-ubur.” Ia tergelak sambil menatap Aurel. “Kamu pikir, kita ini cowok yang nggak pernah lihat cewek seksi kayak kamu? Jual badan buat godain laki-laki, menjijikkan!” dengus Lutfi.

 

Aurel semakin kesal dengan ucapan yang keluar dari mulut Lutfi. “Kalian cowok munafik. Nggak ada cowok yang nggak suka lihat perempuan seksi.”

 

“Suka. Tapi bukan cewek yang menjijikkan kayak kamu,” sahut Yeriko. Ia berbalik dan langsung mengajak Lutfi keluar dari tempat tersebut.

 

Yeriko bergegas masuk ke mobil. Melemparkan kertas bukti transaksi itu ke atas dashboard mobil begitu saja.

 

Lutfi langsung meraih kertas tersebut dan membacanya. Ia membelalakkan mata dan langsung menoleh ke arah Yeriko yang duduk dengan tenang. “Gila! Beneran si Amara?”

 

Yeriko mengangguk. Ia menyalakan mesin mobil dan bergegas keluar dari lokasi perjudian tersebut.

 

“Asli, si Chandra bego bener!” tutur Lutfi. “Cewek kayak gitu masih aja dikasih hati.”

 

“Aku nggak akan ngelepasin dia!” tegas Yeriko.

 

“Ini sih psikopatnya ngalah-ngalahin si Refi. Biar pun dia ngejar-ngejar kamu secara terang-terangan, tapi dia nggak pernah sampai bikin Kakak Ipar kayak gini.” Lutfi menggeleng-gelengkan kepala. Ia masih tidak mengerti kenapa Amara begitu tega melakukan hal keji kepada Jheni.

 

“Chandra harus tahu siapa sebenarnya Amara. Jangan sampai dia luluh lagi sama air mata buaya cewek itu!” tutur Yeriko. Ia menginjak gas mobilnya lebih keras, melajukan mobilnya dengan kencang membelah jalanan kota.

 

Lutfi menarik napas dalam-dalam. Ia tidak bisa membayangkan kalau hal itu terjadi pada Icha. Niatnya untuk mengekspose status Icha sebagai pacarnya ke media, ia urungkan begitu saja. Ia takut kalau model-model yang sering bersamanya diam-diam menaruh hati padanya dan membuat Icha dalam masalah.

 

(( Bersambung ... ))

 

Uh, nulis adegan action, bikin aku tahan napas mulu ...

Jangan lupa subscribe untuk berlangganan dan setiap tulisan terbaru akan langsung masuk ke kotak masuk email kamu...

Catatan Sehari Bersama Shopee dan Harapan Para Pelaku UMKM

 

IKN Digital Community: UMKM Maju, IKN Berdaya!
Catatan Sehari Bersama Shopee dan Harapan Para Pelaku UMKM

Selasa pagi, 8 Juli 2025. Udara di Samboja masih segar saat aku baru saja membuka mata. Kubuka ponselku untuk melihat jadwal. 

Oh, ya ... benar saja. Hari ini aku ada kegiatan IKN Digital Community yang dilakukan secara daring. 

Sebuah program kolaborasi antara Otorita IKN dan Shopee yang mengangkat semangat, “UMKM Maju, IKN Berdaya!” Dari flyer yang kuterima beberapa hari sebelumnya, aku tahu acara ini akan terbagi dalam dua sesi dan melibatkan beberapa kecamatan di sekitar wilayah Ibu Kota Nusantara.

Pukul 10.00 WITA, sesi pertama dimulai. Sayangnya, aku baru bisa masuk zoom pukul 11.30 WITA dikarenakan aku masih kedatangan tamu (Mahasiswa KKN Unikarta). Kami memang sudah membuat janji temu sejak pukul 09.00 WITA. Dikarenakan terlalu asyik berdiskusi, sampai tak terasa menghabiskan waktu satu setengah jam.

Ketika aku masuk, sudah ada 13 peserta yang memasuki zoom. Mereka berasal dari Kecamatan Samboja Barat, Samboja Induk, dan Muara Jawa. Sebagian dari mereka adalah pembuat olahan makanan, pengusaha kerajinan tangan, hingga pembuat jamu kemasan. Yang menyatukan mereka hari itu adalah satu harapan, yakni naik kelas melalui digitalisasi.

Acara ini dipandu oleh Mas Firhan dari pihak Shopee yang memberikan tata cara mengupload produk di Shopee dan menjelaskan bagaimana cara seller mendapatkan keuntungan serta subsidi ongkir dari Shopee. 

Materinya ringan, tetapi menggugah. Ia juga menjelaskan bagaimana algoritma Shopee bekerja, pentingnya foto produk yang menarik, cara membuat deskripsi yang menjual, hingga trik sederhana agar produk cepat muncul di pencarian pengguna. 

Sesi pertama berakhir dengan diskusi yang seru. Ada yang bertanya soal ongkos kirim, ada yang curhat tentang minimnya sinyal di kampung, dan berbagai problema yang dihadapi oleh para pelaku UMKM. 

Sesi ke-2 dilaksanakan pada jam 15.00 WITA. Sesi ini dihadiri oleh peserta dari Kecamatan Loa Kulu, Loa Janan, dan Sepaku. Aku tidak bisa mengikuti sesi ke-2 ini dikarenakan aku harus melaksanakan tugas pendataan penduduk IKN yang aku mulai pada jam 15.00 WITA. 

Tentunya aku merasa sangat senang mendapatkan kesempatan untuk bisa masuk ke kelas ekslusif ini. Karena tidak semua orang bisa mendapatkan akses langsung ke Shopee. 

Tapi, saat ini Shopee memiliki banyak program PSUB (Program Sukses UMKM Baru) untuk UMKM lokal. Shopee menyediakan kelas Kampus Shopee yang memberikan banyak materi tentang berjualan dan membangun sebuah jaringan komunitas UMKM untuk bisa sama-sama naik kelas. Shopee menyediakan voucher gratis senilai 2 juta rupiah, extra ongkir, dan membebaskan biaya administrasi. Program ini berlaku bagi toko yang baru berusia 1 bulan, terhitung sejak pertama kali upload foto produk. 


Tentunya aku juga ingin punya produk yang bisa aku jual dan bisa memberikan banyak keuntungan. Tetapi sampai detik ini, aku masih belum selesai memikirkan produk apa yang bisa aku buat dan bisa dipasarkan secara online. Mengingat ongkos kirim yang mahal dan akses ekspedisi yang sangat minim. 

Aku berharap, pulau Kalimantan juga bisa memiliki banyak industri dan sumber bahan baku yang melimpah agar kebutuhan masyarakat tidak harus dibeli dari Pulau Jawa yang jaraknya sangat jauh dan membutuhkan ongkos kirim yang mahal. Tentunya, masyarakat Kalimantan akan lebih sejahtera ketika mendapatkan kemudahan akses dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 











Sunday, July 6, 2025

15 Kostum Habsy dan Tiga Amanah Besar dari Tuhan






Ada hari-hari di mana aku merasa seperti sedang berdiri di tengah lintasan, dihujani tanggung jawab dari segala arah. Dan aku bukan sedang bercanda. 

Bayangkan, harus menyelesaikan 15 buah kostum Habsy Putera dari Argosari yang penuh detail rumit, renda silver, kerapian jahitan yang tak bisa ditawar, serta deadline yang tak bisa ditunda. 
Di saat yang bersamaan aku menjadi panitia Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) Ke-46 Kecamatan Samboja, petugas pendataan penduduk OIKN bersama BPS Kukar, dan juga tengah menjalani Diklat Relawan Literasi Nasional (Relima) 2025 dari Perpusnas RI.

Aku merasa, hari-hariku tidak lagi bisa dibagi menjadi pagi, siang, dan malam. Yang ada hanya "berapa banyak lagi yang harus diselesaikan sebelum esok menuntut lebih banyak". 

Pagi hingga malam hari  aku sibuk di ruang jahitku. Aku harus menyelesaikan jahitanku tepat waktu. Karena kostum akan segera digunakan, sementara masih banyak detail-detail yang belum terselesaikan. 
Seseorang bilang, "jangan ambil orderan terlalu banyak. Nanti nggak ada waktu istirahat". Tapi aku sudah terbiasa dengan kesibukan sejak dulu. Terlalu bersantai tidak enak. Terlebih aku juga butuh uang untuk membiayai hidup kedua anakku, nenek, dan kedua orang tuaku. Otomatis, aku harus bekerja lebih keras dari orang lain agar bisa memenuhi kebutuhan seluruh keluargaku. 

Beruntungnya, aku tidak menjadi panitia inti dalam acara MTQ Ke-46 yang digekar di desaku. Aku memang sudah mengkonfirmasi dari awal kalau aku hanya bisa bantu-bantu saja. Mengingat pekerjaan dan kegiatanku cukup banyak. 
Setelah lomba kaligrafi dilaksanakan tanggal 01 Juli lalu (kebetulan aku adalah koordinator panita lomba musabaqoh), aku punya waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan jahitan-jahitanku. 
Tanggal 02 Juli 2025 seharusnya aku masih gotong-royong membersihkan Arena 5 (SDN 038) yang digunakan untuk lomba kaligrafi. Sebab, perlombaan berlangsung sejak pagi hingga pukul 18.00 WITA. Kami sudah sangat lelah sehingga bersepakat untuk membereskan di hari berikutnya. 
Sayangnya, aku tidak bisa gotong-royong sejak pagi. Aku arahkan timku untuk bergotong-royong sore saja karena aku ada jadwalzoom pagi bersama Perpusnas RI terkait Sosialisasi Relima 2025.
Beruntungnya, ada tim perlengkapan yang gercep alias meng-handle semuanya. Semua sudah dibereskan oleh tim perlengkapan. Jadi, kami panitia musabaqoh hanya bertugas menyapu dan mengepel lantai. Semua meja dan kursi telah kembali ke tempat semula. 

Tanggal 03 Juli, seragam habsy belum selesai juga. Aku kembali bertemu dengan masalah besar. Listrik di wilayah Kecamatan Samboja padam sejak pukul 08.00 s.d 17.30 WITA. Alhasil, aku tidak bisa menjahit seharian karena semua mesin harus terhubung ke listrik. Sementara, pukul 08.30 WIB ada jadwal pembukaan kegiatan Pusdiklat Relima 2025. 
Setiap kali mati listrik, signal di desaku ikut mati total. Sehingga tidak bisa melakukan apa-apa dan kembali menjadi manusia primitif. Jadi, aku harus pergi ke kelurahan lain untuk mendapatkan sinyal. 
Tepat di jam 09.00 WITA, aku berjalan menuju keluraha  Sei Seluang. Ternyata, di sana juga tidak ada signal. Karena aku tidak bisa melakukan tarik tunai, sementara sudah tidak punya uang sama sekali. 
Keberuntungan kembali berpihak padaku. Saat semua orang kehilangan signal, aku masih mendapatkan sedikit signal yang bisa aku hotspot ke pemilik ATM Link agar aku bisa mendapatkan uang tunai. 
Kendala tarik tunai terselesaikan dengan baik. Aku langsung menuju ke warung bakso "Moro Tuman". Warung bakso paling dekat dan suasananya nyaman karena bisa duduk lesehan. Ini bisa membuat otak yang tegang terasa lebih rileks. Aku berhasil mengikuti zoom, meski banyak kendala karena jaringan selalu hilang dan beberapa kali keluar-masuk ruang zoom. Beruntungnya, di dalam grup WA "Relima 2025" banyak yang peduli dan berbagi informasi penting pada kami yang mengalami kendala teknis saat zoom meeting. 
Siang harinya aku sudah kembali ke rumah. Tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena listrik padam. Barulah malam harinya aku mulai menjahit. Baru dapat beberapa jahitan, tiba-tiba mesin obrasku ngadat alias tidak bisa digunakan. 
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini?"
Alhasil, aku harus servis mesin obrasku terlebih dahulu. Beruntungnya ada teman yang membantu dan aku mulai menjahit kembali hingga pukul 00.15 WITA. 

Keesokan harinya, begitu mata ini terbuka, aku langsung duduk di depan mesin jahit hingga dini hari. Ketika orang-orang mulai memejamkan mata, aku duduk sendiri di ruang jahit. Lampu mesin menyorot wajahku yang mulai lelah, tapi tangan terus bekerja. Satu demi satu kostum anak Habsy kubentuk dari lembaran kain menjadi busana yang layak tampil di panggung kehormatan.

Argosari adalah tempat yang tak hanya mengirimkan pesanan, tapi juga harapan. Aku tahu, setiap kostum yang kupotong dan kurangkai adalah bagian dari cita-cita orangtua dan kebanggaan anak-anak muda yang akan membawakannya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menuntaskan semuanya tepat waktu dengan hasil yang maksimal.

Sempat terlintas ingin menyerah. Sempat juga berpikir untuk menolak satu dua amanah demi menyelamatkan tenaga. Tapi begitulah hidup, ya? Terkadang kita tak bisa memilih mana yang lebih penting ketika semua terasa punya nilai yang sama.

Namun, di antara lelah itu, ada pelajaran besar yang tak mungkin kutukar dengan waktu istirahat:
Bahwa manusia punya kekuatan tersembunyi yang hanya muncul saat kita diuji berkali-kali.
Bahwa passion tidak selalu terasa ringan, kadang ia juga datang dalam bentuk kerja keras yang tak kenal henti.
Bahwa ketika hati kita tulus melayani, lelah akan menemukan caranya sendiri untuk menjadi berkah.

Di sela-sela kegiatan menjahit, aku juga mengikuti pelatihan Relima Perpusnas secara daring. Aku sering merenung. Aku berada di antara  179 relawan dari seluruh Indonesia yang punya semangat literasi yang sama. Meski tubuhku kelelahan, tapi aku tahu aku berada di jalur yang tepat, jalur yang penuh makna. Di situ aku mengingat lagi alasan mengapa aku memulai semua ini, karena aku ingin menjadi bagian dari perubahan. Lewat literasi, lewat budaya, lewat karya kecilku sebagai penjahit kampung yang juga seorang pegiat.

Ketika aku melihat anak-anak Habsy tampil gagah di panggung MTQ dengan kostum yang kujahit semalaman, ketika aku melihat data penduduk mulai tertata rapi demi pembangunan IKN, dan ketika namaku tercatat sebagai salah satu peserta yang lolos Relima 2025 ... aku tahu semua lelah itu ada gunanya. 
Aku tak sedang menyenangkan banyak orang. Aku sedang membentuk versi terbaik dari diriku sendiri.

Terima kasih, Argosari. Terima kasih MTQ. Terima kasih BPS Kukar. Dan terima kasih Perpusnas RI. Karena kalian, aku tahu bahwa aku bisa menjadi lebih dari yang aku bayangkan.

Dan kepada diriku sendiri aku ingin berpesan, "jangan pernah ragu untuk mengambil peran. Sekalipun peran itu terasa terlalu besar di awal. Karena mungkin, itu adalah cara semesta menunjukkan bahwa kamu lebih kuat dari yang kamu bayangkan."



Kutai Kartanegara, 04 Juli 2025


Rin Muna
Wanita yang suka bercerita tapi tak punya pendengar

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas