“Yun, tolongin aku!” ucap Jheni lirih sambil terbaring di
lantai yang lembab dan kotor.
“Jhen ...!” Yuna berusaha menolong Jheni. Namun, beberapa
preman datang menghampiri dan ikut menangkapnya.
“Tolong! Tolong ...!” seru Yuna.
Yeriko tiba-tiba datang dan menghajar preman itu satu
persatu. Jumlah preman yang banyak, membuat Yeriko mendapatkan pukulan
berkali-kali. Satu pukulan di kepala Yeriko membuatnya terjatuh ke lantai.
“Yeriko ...!” Yuna bergegas menghampiri Yeriko yang
terbaring lemah di lantai, darah segar mengucur dari kepalanya. “Yer, bangun!”
pinta Yuna sambil menangis histeris.
Yeriko tersenyum kecil menatap Yuna. Matanya tertutup
perlahan-lahan.
“Yeriko ...!” teriak Yuna sambil menangis histeris.
“Yeriko ...!” Yuna langsung bangkit dari tidurnya. Ia
mengedarkan pandangannya ke seluruh ruanga.
“Kenapa?” tanya Yeriko yang berdiri di sebelah tempat
tidurnya.
Yuna langsung memeluk tubuh Yeriko. “Aku mimpi buruk.
Kamu baik-baik aja, kan?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.
“Aku baik-baik aja,” jawab Yeriko sambil duduk di tepi
tempat tidur.
Yuna bernapas lega. “Aku bener-bener takut kalau mimpiku
jadi kenyataan.”
Yeriko tersenyum sambil menatap wajah istrinya. “Nggak
perlu takut. Aku di sini. Semua baik-baik aja.”
“Umh.” Yuna mengangguk sambil menatap Yeriko. “Gimana
Jheni?”
“Dia baik-baik aja.”
“Udah ketemu?”
Yeriko mengangguk.
Yuna langsung menyibakkan selimut yang menutupi sebagian
tubuhnya.
“Mau ke mana?”
“Lihat Jheni,” jawab Yuna sambil turun dari tempat tidur.
“Jheni baik-baik aja. Chandra udah ngurus dia.”
“Tapi ...”
“Sudah ada Chandra yang jagain dia. Kasih mereka waktu!”
pinta Yeriko.
Yuna terdiam, ia berpikir sejenak. Chandra baru saja
membuat Jheni kecewa. Bagaimana kalau Jheni justru semakin terluka kalau berada
di sisi Chandra.
“Kamu nggak usah gelisah!” pinta Yeriko. “Nggak percaya
sama Chandra?”
“Yer, Chandra baru aja bikin Jheni kecewa. Jheni baru aja
sembuh dari kekecewaannya. Aku khawatir, kalau dia ketemu sama Chandra. Dia
bakal sedih lagi.”
“Chandra pasti bisa menangani Jheni,” sahut Yeriko.
“Huft, semoga aja.” Yuna duduk di tepi ranjang sambil
menatap lantai yang kosong.
Yeriko tersenyum kecil sambil merebahkan tubuhnya ke atas
kasur.
Yuna langsung menoleh ke belakang, menatap Yeriko yang
sudah terbaring lemas. “Capek ya?”
Yeriko mengangguk. “Ngantuk. Aku mau tidur sebentar.”
Yuna tersenyum. “Tidur aja!”
“Temenin!” pinta Yeriko manja.
“Eh!? Ini udah pagi. Aku mau siap-siap ke kantor.”
Yeriko bangkit dan menarik tubuh Yuna ke dalam
pelukannya. “Ini masih jam lima pagi, Yun. Masuk kantor jam delapan. Masih
lama.”
Yuna tersenyum kecil sambil menatap dada Yeriko yang
terbuka. Jemari tangannya mulai jahil dan merayap di dada suaminya.
“Yun ...!” Yeriko langsung menangkap telapak tangan Yuna.
“Aku mau tidur. Jangan minta macem-macem! Tidur!” perintahnya sambil memejamkan
mata dan membenamkan kepala Yuna di dadanya.
“Aku udah nggak ngantuk,” tutur Yuna lirih.
Yeriko tidak menyahut. Ia sudah tertidur pulas dan tidak
bisa lagi mendengar suara Yuna.
Yuna tersenyum menatap wajah suaminya. Terlihat lelah
karena tidak tidur semalaman untuk menyelamatkan Jheni. Ia melepaskan dirinya
dari pelukan Yeriko perlahan.
Mata Yuna tertuju pada lengan Yeriko yang memar di
beberapa titik. Matanya tiba-tiba basah. Ia mengecup punggung tangan Yeriko.
“Yer, kamu udah ngelakuin banyak hal buat aku. Saat kamu lelah dan sakit
seperti ini, kamu masih menunjukkan semua baik-baik aja. Makasih buat semua hal
yang udah kamu lakuin ke aku.”
Yuna mengecup kening Yeriko perlahan. Ia bergegas turun
dari tempat tidur. Membantu Bibi War menyiapkan sarapan pagi dan bersiap
berangkat ke tempat kerja.
Beberapa menit kemudian ...
“Udah mau berangkat kerja?” tanya Bibi War saat Yuna
kembali turun dari kamarnya dengan pakaian rapi.
Yuna menganggukkan kepala.
“Mas Yeri nggak kerja? Apa dia sakit? Nggak biasanya jam
segini masih tidur.”
“Semalaman dia nggak tidur. Nggak usah dibangunin ya,
Bi!”
Bibi War mengangguk.
Yuna tersenyum. Ia bergegas berangkat ke kantor.
Di tempat lain ...
Chandra terpaku menatap wajah Jheni yang terlelap di atas
tempat tidurnya. Ia sangat menyesal karena tidak bisa menjaga Jheni dengan
baik.
Goresan luka di pipi Jheni membuatnya menangis. Selama
ini, Jheni selalu ada di sisinya dalam keadaan terpuruk sekali pun. Berbesar
hati menerima dirinya yang masih belum bisa terlepas dari Amara.
Chandra lupa, lupa diri. Hingga ia tidak pernah
memedulikan kehidupan Jheni. Ia tidak tahu bagaimana Jheni di belakangnya.
Kesulitan apa yang sedang dialami gadis itu. Ia hanya sibuk memikirkan dirinya
sendiri.
“Jhen, maafin aku!” tuturnya lirih sambil menatap wajah
cantik Jheni yang masih tertidur pulas. “Aku terlalu sibuk memikirkan diriku
sendiri sampai mengabaikan kamu yang sudah melakukan banyak hal buat aku.”
Chandra bangkit dari tempat duduk. Ia melihat jam yang
sudah menunjukkan jam lima pagi. Ia bergegas menuju dapur, membuatkan sarapan
untuk Jheni.
Jheni mengerjapkan mata saat mendengar suara peralatan
dapur saling beradu. Ia membuka matanya perlahan. Mengedarkan pandangannya ke
seluruh ruangan. “Kenapa aku di sini?” Ia memijat keningnya yang berdenyut.
Berusaha bangkit dari tempat tidur sambil mengingat kejadian yang baru saja
menimpanya.
Jheni menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya dan turun
dari tempat tidur. Ia membelalakkan mata saat menyadari ia sudah mengenakan
kemeja milik Chandra. “Iih ... ini cowok nyebelin banget sih!?” makinya sambil
menghentakkan kaki ke lantai.
Jheni mondar-mandir di sisi tempat tidur. “Chan,
sebenarnya perasaan kamu ke aku gimana sih? Baru kemarin kamu lebih milih Amara
daripada aku. Kenapa sekarang, kamu bawa aku ke sini? Bahkan tidur di ranjang
kamu?” gumam Jheni.
Jheni terduduk lemas di tepi ranjang. “Aku baru aja
memutuskan buat ngelupain kamu selamanya. Kalo kayak gini, aku gagal move on!”
serunya sambil merengek manja seperti anak kecil.
KREEK ...!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Jheni langsung menoleh ke arah pintu.
“Udah bangun?” tanya Chandra sambil tersenyum ke arah
Jheni.
Jheni mengangguk.
Hening.
“Mmh ... aku udah buatin sarapan buat kamu. Sarapan,
yuk!” ajak Chandra.
Jheni terdiam. Ia merasa sangat canggung berhadapan
dengan Chandra. Ingin sekali membuang jauh-jauh wajahnya kali ini. “Please, mau
kutaruh di mana mukaku sekarang? Aku malu banget!” batin Jheni.
“Kenapa?” tanya Chandra sambil mendekat ke arah Jheni.
“Eh, nggak papa. Aku ... aku mau mandi dulu.”
“Oke.” Chandra mengangguk. “Aku tunggu di ruang makan.”
“He-em.” Jheni menanggukkan kepala.
“Oh ya, aku udah beliin baju buat kamu.” Chandra menunjuk
paper bag yang ada di atas meja.
Jheni mengangguk sambil tersenyum kecil.
“Mmh ... sorry, semalam aku terpaksa gantiin baju kamu,
soalnya ...”
“Iya, nggak papa,” sahut Jheni. “Aku mandi dulu.” Ia
menyambar paper bag yang ada di atas meja.
Jheni bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di
dalam kamar Chandra. Ia menarik napas berkali-kali sambil menatap tubuhnya di
depan cermin.
“Nggak kelihatan nervous kan?” tanyanya sambil
menepuk-nepuk pipinya perlahan. Ia sudah sering berada di rumah Chandra, tapi
baru kali ini ia merasa sangat canggung menghadapi Chandra.
Jheni menarik napas beberapa kali. “Bersikap seperti
biasanya aja, Jhen. Waktu kamu sama dia masih berteman,” tutur Jheni pada
dirinya sendiri. “Teman?” tanyanya dalam hati. Ia sendiri saat ini masih tidak
tahu apakah bisa menjalin hubungan pertemanan kembali dengan Chandra setelah
apa yang terjadi di antara mereka.
( Bersambung ... )
Bagusnya, Chan & Jhen bersatu atau nggak ya?
Semalaman udah nggak tidur biar bisa update, tunggu kelanjutannya besok
lagi ya! Dukung terus cerita ini dengan cara kasih review baik di kolom
komentar biar aku makin semangat nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment