Tuesday, June 30, 2026

Partner Kondangan Bab 8 : Revenge

 



Hari pertama masuk kuliah, Alluna terlihat bahagia karena bisa satu kampus dengan Evan. Evan berhasil membujuk Mama Alluna agar tak memindahkan Alluna ke luar negeri, ke negara mana pun itu. Konsekuensinya, mereka harus mau menjadi model katalog untuk produk-produk fashion dan kuliner milik mamanya.

Evan menggandeng tangan Alluna sejak keluar dari mobil sampai menyusuri koridor kampus. Kehadiran Alluna mampu menyedot beberapa pasang mata cowok-cowok kampus. Semua terpesona oleh kecantikan Alluna.

Berbeda dengan para cewek pengagum Evan. Mereka menatap Alluna sinis, mereka merapatkan barisan untuk menjadi haters Alluna sejak hari pertama.

“Oh, jadi lo pacarnya Evan Noah?” Alluna dihadang oleh empat orang cewek yang tidak lebih tinggi darinya begitu ia terpisah dengan Evan.

“Iya. Kenapa?”

“Kenalin, gue Stella. Semoga lo betah ya kuliah di sini.” Stella mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

“Alluna,” balas Alluna.

“Oh, Alluna.” Stella mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sorry, gue mau lewat.” Alluna menunjuk ke arah belakang Stella.

“Oh, silakan!” Stella memiringkan tubuhnya, memberikan ruang untuk Alluna. Namun, ia tidak benar-benar bersikap manis. Ia menjegal kaki Alluna sampai gadis itu tersungkur ke lantai.

Alluna menahan amarah melihat kelakuan Stella.

“Lun, lo nggak papa?” Rani dan dua sahabatnya tiba-tiba muncul dan membantu Alluna bangkit. Mereka juga mendaftar di Universitas yang sama.

“Nggak papa. Gue cuma kesandung setan aja,” jawab Alluna sambil menekankan kata setan lebih keras.

“Eh, apa lo bilang barusan?” Stella yang beranjak pergi langsung membalikkan badannya dan menghampiri Alluna.

“Dijegal setan.” Alluna mendekatkan wajahnya ke Stella.

“Lo ngatain gue setan? Berani lo sama gue? Anak baru aja belagu, mentang-mentang pacarnya Evan!?”

“Lo yang mulai duluan, lo sengaja kan jegal kaki gue!” sentak Alluna.

Stella langsung menarik rambut Alluna dengan geram.

Alluna tidak tinggal diam. Ia langsung membalas perbuatan Stella saat itu juga dan mereka berduel. Hastri dan yang lainnya bingung dan tidak berani memisahkan keduanya. Beberapa mahasiswa juga hanya bisa menonton dan tidak ada yang berani cari masalah dengan Stella.

“Van...!” Salah seorang mahasiswa terlihat berlari menghampiri Evan saat dia sudah sampai di pintu kelas.

“Kenapa?”

“Cewek lo berantem sama Stella,” jawabnya dengan napas tersengal.

“Serius? Di mana?”

Cowok itu menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa. Evan lansung berlari dengan cepat, menyingkirkan kerumunan mahasiswa yang mengerubungi Alluna dan Stella yang sedang berduel.

Evan melipat kedua tangannya sambil tersenyum saat melihat Alluna sudah duduk di perut Stella sambil mencekik rahang Stella.

Evan menghampiri Alluna dan mengulurkan tangannya untuk bangkit.

Alluna menyambut uluran tangan Evan dan bangkit. “Awas lo cari gara-gara sama gue lagi!” sentak Alluna sambil menendang pelan pinggang Stella.

“Mampus lo!” Beberapa mahasiswa justru memaki Stella karena sikapnya yang sok berkuasa di kampus. Akhirnya, ada juga yang berani melawan Stella.

“Sial!” Stella bangkit dan merapikan roknya. “Gue bakal bikin perhitungan sama lo!” teriaknya.

“Hitungin aja sendiri! Gue mah ogah!” Alluna menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi bersama Evan yang merangkul pinggangnya dengan mesra.

“Nggak nyangka kalo pacarku jagoan juga,” bisik Evan. Ia mengantar Alluna untuk memastikan kalau pacarnya aman sampai masuk ke kelas.

***

Mata kuliah Alluna selesai lebih dahulu dari Evan. Ia menunggu Evan di taman yang dekat dengan parkiran, berdekatan dengan mobil Evan.

“Hai, cantik!” sapa seorang cowok yang tiba-tiba duduk di sebelah Alluna.

“Lo? Kok, di sini?” Alluna terkejut melihat Joni yang tiba-tiba sudah ada di sisinya. “Kuliah di sini juga?”

“Emang harus kuliah di sini buat ketemu sama cewek secantik lo?” Joni tersenyum licik. Di ujung parkiran, dua orang temannya sedang bersandar di mobil sambil memperhatikan aksi Joni mendekati Alluna.

Alluna tidak menjawab. Ia memainkan ponsel dan mengirim chat untuk Evan. “Aku nunggu kamu di taman deket parkiran. Mata kuliah kamu masih lama? Ada Joni temen kamu itu deketin aku.” Alluna menekan tombol send dan menunggu balasan dari Evan.

“Tumben sendirian? Bodyguard lo ke mana?”

“Masih ada kelas,” jawab Alluna ketus.

“Jutek amat, sih?” Joni menyolek dagu Alluna.

“Eh!? Sopan dikit ya!” sentak Alluna sambil menepis kasar tangan Joni.

“Nggak usah sok jual mahal apalagi sok suci. Gue tahu banget selera Evan kayak gimana.” Joni tersenyum sinis.

Alluna tidak menyahut. Ia menatap ke depan dan menganggap tidak ada siapa pun di sampingnya.

“Gue bisa kasih lo kenikmatan yang lebih dari Evan kasih ke lo.” Joni menatap Alluna dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Van, buruan ke sini dong!” batin Alluna dengan jantung yang semakin berdebar.

Joni mulai menyentuh bahu Alluna dan mulai merayap.

“Apaan sih lo!?” sentak Alluna terus menepis tangan Joni. Joni hanya tersenyum penuh nafsu.

BUG!

Sebuah tinjuan mendarat di wajah Joni. Evan datang di saat yang tepat. Ia merasa tidak enak dan langsung meninggalkan mata kuliah yang masih berlangsung.

“Lo ngapain ke sini? Jelas-jelas lo bukan anak kampus sini!” sentak Evan dengan napas memburu.

“Tenang, Bro! Gue ke sini cuma buat mastiin kalo si cantik ini bakal baik-baik aja sama lo.” Joni melirik ke arah Alluna sambil memegangi wajahnya yang memar karena tinjuan Evan.

“Dia cewek gue, dia bakal baik-baik aja. Lo jangan pernah ganggu dia!” Evan menarik lengan Alluna untuk merapat pada tubuhnya.

Joni tersenyum sinis. “Reva juga cewek lo, dan dia nggak baik-baik aja,” bisiknya.

Evan terdiam setiap kali Joni menyebut nama Reva.

“Gue takut, dia bakal bernasib sama kayak Reva.” Joni menunjuk Alluna dengan dagunya sambil tersenyum sinis.

Evan mengeratkan giginya, tangannya mengepal, matanya memerah dan bersiap menyerang Joni.

“Van, kita pulang yuk!” Alluna menarik lengan Evan, satu tangannya melingkar di perut Evan agar ia segera membalikkan tubuhnya untuk pergi.

Evan menuruti permintaan Alluna dan berlalu pergi meninggalkan Joni.

“Gue nggak akan nyerah gitu aja sampe gue dapetin dia!” teriak Joni saat Evan sudah berjalan beberapa langkah di depannya.

Evan menoleh ke belakang, menatap Joni penuh amarah. “Gue nggak akan ngebiarin lo deketin Alluna walau cuma sejengkal!”

Joni tergelak. “Dulu gue ngalah sama lo karena gue pikir Reva bakal bahagia sama lo. Nyatanya, lo yang bilangnya cinta sama dia. Malah bikin dia mati!”

Evan menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. “Mau lo apa ke sini? Kalo cuma buat cari masalah, mending lo pergi sekarang juga!”

Joni tertawa. “Uuh... jangan emosi gitu! Gue kangen aja sama BEKAS sahabat gue ini. Btw, sudah lama juga kita nggak main basket bareng.” Joni tersenyum licik.

Evan menatap tajam ke arah Joni. Tak mengeluarkan sepatah kata pun dan langsung membalikkan tubuhnya, menarik lengan Alluna untuk secepatnya masuk ke dalam mobil.

“Kalo lo menang tanding basket sama gue, gue nggak akan ganggu cewek lo selamanya. Tapi kalo lo kalah, cewek lo buat gue!” teriak Joni.

Evan mendengar tantangan Joni. Namun ia tidak mau menanggapinya. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi.

Di sudut lain, Stella tersenyum licik saat menyaksikan perkelahian antara Joni dan Evan.

***

“Alamatnya di mana?” tanya Evan saat mereka sudah berada di dalam mobil untuk berangkat ke acara pesta pernikahan teman sekelas Alluna.

“Bentar.” Alluna melihat kembali denah yang ada di undangan. “Ini di Cilandak. Masuk gang gitu.”

“Coba lihat!” Evan menyambar kertas undangan di tangan Alluna.

“Acaranya nggak di gedung, ya?” tanya Evan.

“Kayaknya sih di rumahnya. Kamu tahu kan biaya sewa gedung itu nggak murah. Nikah di rumah sendiri kan bisa hemat biaya,” jawab Alluna.

“Jadi, kita nanti nikahnya di mana, ya? Di gedung atau di rumah?” tanya Evan.

“Di KUA.”

Evan tergelak. “Ya, ya. Bener!”

“Kamu ngomongin nikah mulu. Emang udah kebelet banget, ya?” tanya Alluna sambil menyondongkan badannya. Memperlihatkan belahan dada yang terbuka karena gaun warna hijau yang ia kenakan memang terbuka dan tanpa lengan.

Evan memandang tubuh sexy Alluna sambil menggaruk kepalanya dan kembali fokus menyetir. “Gimana aku nggak kebelet kalo kamu mancing nafsuku terus?”

“Ini bukan sih acaranya?” tanya Alluna saat mereka melihat tenda pernikahan yang mereka temui di wilayah Cilandak.

“Bukan. Di denah bukan itu.”

“Jangan-jangan denahnya salah.”

“Kamu yang salah. Ini denahnya masih jauh.”

“Oh, Oke.”

“Banyak banget orang nikahan,” celetuk Evan saat mereka kembali melewati tenda pernikahan.

“Iya, ya? Lagi musim kawin deh kayaknya.”

Evan tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Alluna. “Lu kira kodok?”

“Habisnya udah ada tiga tenda pernikahan yang kita temuin di daerah sini aja.”

“Iya, tapi kalo manusia itu nggak ada musim kawinnya. Mau kawin kapan aja bisa,” sahut Evan.

“Hehehe.” Alluna meringis.

Evan menepikan mobilnya begitu sampai di tempat acara. Alluna dan Evan langsung masuk ke tempat acara seperti biasa. Namun, mereka sedikit kecewa karena hidangan untuk tamu sudah habis.

“Nggak papa, kita makan di luar aja nanti,” bisik Evan. 

Alluna mengangguk. Ia duduk sejenak di meja tamu sambil memakan cemilan yang masih ada di meja. Mereka tidak berlama-lama, langsung berpamitan.

“Kita datengnya kesorean deh kayaknya. Makanya makanannya udah habis,” ucap Alluna sambil memakai safety belt-nya.

“Kamu tahu nggak itu artinya apa?”

“Tamunya rame?”

“Bukan.”

“Makanannya kurang?”

“Bukan itu maksud aku.”

“Terus?”

“Kita bisa makan di luar.” Evan mengedipkan matanya.

“Oh, kirain apaan?” Alluna nyengir. Mereka memang jarang sekali makan di luar. Terbiasa makan bareng di rumah.

“Lun...!” panggil Evan sambil fokus menyetir.

“Ya.”

“Kalo ntar kita nikah. Cari WO yang bagus, ya!”

Alluna menghela napas. “Van, kita ini masih kuliah. Kenapa ngomongin nikah mulu, sih?”

“Ya, nggak papa. Daripada ngomongin mati? Lagian, bisa kita rencanain dari sekarang 'kan sampe kamu siap?”

“Hmm...”

“Kenapa sih kalau ngomongin nikah, kamu selalu aja kayak gitu. Kamu nggak mau nikah sama aku?”

“Mau, Evan sayang.”

“Terus? Kenapa nggak mau diajak nikah?”

“Mau.”

“Kata orang, yang ngajak pacaran bakal kalah sama yang ngajak nikah. Makanya, aku tuh ngajak kamu nikah. Biar nggak keduluan sama yang lain.”

“Keduluan siapa emangnya? Joni?” Alluna tertawa menggoda.

“Nggak lucu, Lun!" Evan langsung masam begitu nama Joni disebut Alluna. “Kamu suka sama dia?”

“Yah, dia lumayan ganteng, tinggi, putih. Mmh ... bisa dipertimbangkan.” Alluna melirik ke arah Evan sambil tersenyum nakal.

Evan langsung menghentikan laju mobilnya saat itu juga.

“Pelan-pelan, Van!”

“Aku nggak suka kamu ngomongin Joni. Apalagi kamu bilang dia ganteng lah, tinggi lah, putih lah atau apa pun itu. Awas aja kalo kamu sampe deket-deket sama dia!” ancam Evan.

“Why? Cemburu, ya?” Alluna menunjuk hidung Evan sambil tertawa menggoda.

“Eh!? Ya iya lah, aku cemburu.”

Alluna tersenyum bahagia sambil mengusap pipi Evan. “Iya. Aku nggak bakal ke mana-mana, kok. Aku bakal ada di sini terus, sama kamu.”

“Janji?” Evan mengangkat jari kelingkingnya.

Alluna tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya. “Janji.”

Evan tersenyum dan kembali melajukan mobilnya menuju restoran favorite mereka.

“Lun, aku serius pengen nikah sama kamu,” ucap Evan saat mereka sudah duduk di meja makan.

“Ntar aja ngomongin nikahnya, ya? Aku laper.” Alluna menyendok makanan ke mulutnya.

Evan tersenyum dan melanjutkan makan.

“Hai, boleh gabung?” sapaan Joni membuat Evan tersedak. Buru-buru ia mengambil minum dan menenggaknya.

Alluna tersenyum, dikepalanya tiba-tiba muncul ide jahilnya. “Boleh.”

“Lun?” Evan melotot ke arah Alluna.

“Nggak papa kali. Kalian dulu kan temenan? Nggak ada salahnya kan? Toh, Joni udah bermaksud baik sama kamu?” Alluna tersenyum menatap Evan.

Joni tersenyum senang karena Alluna membelanya. “Iya, Van. Gue pengen hubungan kita bisa baik kayak dulu lagi.”

Evan menangkap gelagat Joni, ia tahu kalau Joni tidak benar-benar bermaksud baik. Dia pasti melakukan ini hanya karena ingin membalas dendam atas kematian Reva.

“Van, kamu jangan sinis gitu, dong! Dia baik, kok.” Alluna menyenggol lengan Evan.

Evan meletakkan sendok menelungkup dan mendorong piringnya maju. “Nggak nafsu makan gue.”

Alluna tersenyum jahil melihat Evan yang terbakar cemburu. Ia belum pernah seperti ini walau Alluna seringkali digoda oleh banyak cowok di sekolah atau di kampusnya. Joni, satu-satunya cowok yang berhasil bikin Evan benar-benar cemburu.

Joni tertawa kecil dan langsung memesan minuman.

“Nggak makan?” tanya Alluna menatap Joni yang ada di depannya. Sesekali ia melirik ekspresi wajah Evan di sampingnya yang terlihat kesal.

“Nggak. Gue masih kenyang.” Joni tersenyum manis ke arah Alluna sambil melirik Evan.

“Kenyang kok ke sini?”

“Nggak papa. Pengen ketemu lo doang.”

“Oh.” Alluna melanjutkan makannya.

“Kalian dari mana?”

“Kondangan,” jawab Alluna.

Evan mulai tak nyaman dengan obrolan mereka. Ia menyenggol kaki Alluna berkali-kali dan memberi isyarat untuk pergi. Tapi, Alluna malah tersenyum dan melanjutkan perbuatan jahilnya.

“Kondangan? Kok, masih makan di restoran?”

“Iya. Soalnya pas ke sana, makanannya udah habis. Jadi kita makan di sini, deh.” Alluna tertawa kecil.

“Hahaha. Kasihan banget. Pasti tuan rumahnya malu banget tuh kalo sampe kehabisan makanan? Jangan sampe deh kalo gue nikah kayak gitu,” ucap Joni sok akrab.

Evan menyenggol kaki Alluna dan memberi isyarat untuk pulang. Alluna cepat-cepat menghabiskan makannya dan berpamitan.

“Kita duluan, ya!” Pamit Alluna.

Joni mengangguk sambil tersenyum manis.

Evan langsung menarik lengan Alluna dan tidak berkata apa pun sampai mereka masuk ke apartemen.

“Aku nggak suka kamu ngobrol sama Joni sok akrab kayak gitu!” sentak Evan sambil membanting pintu.

“Kenapa? Dia baik. Lagian cuma ngobrol doang. Sama aja kayak ngobrol sama yang lain.” Alluna melangkahkan kakinya menuju sofa.

“Tapi nggak sama dia.”

Why?”

Evan mengepal tangannya dan berteriak kesal. Ia menendang sofa yang diduduki Alluna.

“Kamu cemburu?”

“Menurut kamu?”

“Cemburu.”

“Ya udah, nggak udah ladenin dia lagi!”

“Iya,”

“Jangan iya-iya aja! Ntar kamu masih mau aja dideketin sama dia. Lama-lama kamu tuh bikin aku emosi!”

“Aku tuh tadi sengaja bikin kamu cemburu. Udah ah, serius amat sih ngomongin Joni. Aku haus.” Alluna bangkit menuju dapur.

Evan menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan mengamati Alluna yang sedang minum di dapur.

“Lun, aku nggak mau kehilangan kamu.” Evan menghampiri Alluna dan memeluknya dari belakang.

Alluna bergeming. Evan masih menyandarkan dagunya pada bahu Alluna. Alluna membalikkan tubuh, melingkarkan tangannya ke leher Evan. “Do you believe me? I’m yours.”

***

Evan dibuat gusar dengan kehadiran Joni di antara hubungannya dengan Alluna. Baginya, ini jauh lebih sulit dari menghindari Stella yang juga tak henti menggodanya.

Stella dan Joni hampir sama. Sama-sama psikopat. Mereka secara terang-terangan berusaha mengambil pacar orang. Mereka selalu mencuri kesempatan untuk bisa mendekati target mereka masing-masing.

TING!

Alluna membuka pesan Whatsapp dari nomor asing yang mengirimkan foto Evan dan Stella yang terlihat sangat mesra di dalam kelas.

Alluna menggigit bibir bawahnya. Ia menekan tombol teruskan dan meneruskan pesan gambar itu ke Evan. “Ini lagi ngapain?” tanya Alluna disertai dengan angry emot.

Beberapa menit kemudian, pesan yang ia kirim sudah bercentang biru. Alluna mengetuk-ngetuk meja, menunggu balasan dari Evan. Sampai menit ke sepuluh, belum ada balasan pesan dari Evan. Ia ingin mengetik pesan kembali, namun niatnya ia urungkan saat melihat Evan masuk ke ruangan kelasnya.

“Cari siapa?” tanya dosen yang mengajar.

“Alluna, Pak,” jawab Evan.

“Bisa nanti kalau mata kuliah saya udah kelar?” Dosen itu menatap Evan sambil menurunkan posisi kacamatanya.

Evan tidak peduli dengan ucapan dosen tersebut. Ia tetap nyelonong masuk dan menarik Alluna keluar dari kelasnya.

“Foto itu nggak seperti yang kamu pikir. Kamu tahu Stella, dia sengaja bikin ini buat ngancurin hubungan kita,” Evan melepaskan lengan Alluna begitu sampai di tempat yang sepi.

“I know. Tapi, kenapa kamu diam aja waktu Stella duduk di pangkuan kamu. Terus kamu biarin aja tuh tangannya ngerangkul kamu mesra banget kayak gitu?”

“Lun, aku udah nolak. Aku nggak tau kalo Stella tiba-tiba dateng dan langsung duduk di pangkuan aku. Aku nggak bisa menghindar lagi.”

“Aku nggak tahu kamu jujur atau bohong. Bisa aja kalian ada main di belakang aku, kan?” sahut Alluna.

“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Evan.

“Aku percaya. Tapi, kamu yang sering hilangin kepercayaan aku. Jangan-jangan kamu emang udah lama ada main sama Stella, makanya sampe sekarang dia masih ngejar-ngejar kamu terus.”

“Lun, aku nggak kayak gitu.”

“Terus? Kayak gini?” Alluna makin kesal.

Evan mendesah kesal. “Kenapa nggak percaya sama aku?”

“Gimana aku mau percaya sama kamu. Foto itu mesra banget. Kamu pikir aku buta!?” sentak Alluna.

“Lun, ini nggak seperti yang kamu pikir.”

“Bisa aja setelah gambar ini diambil, kalian malah ciuman mesra di dalam kelas. Atau jangan-jangan kamu juga sudah tidur sama dia?” Alluna mendelik ke arah Evan.

PLAK!

“Jaga mulut kamu!” Evan menampar Alluna.

Alluna memegangi pipinya yang terasa perih. Air matanya menetes, menatap Evan penuh rasa kecewa. Ia tidak menyangka kalau Evan akan menamparnya. 

“Lo jahat, Van!” Alluna berlari masuk ke dalam kelasnya.

Evan menatap telapak tangannya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia sama sekali tidak bermaksud menampar Alluna. Tuduhan Alluna benar-benar membuatnya refleks menampar gadis itu. 

“Aargh...!” Evan meninju lantai yang ada di depannya. Ia menyesal telah menyakiti Alluna.

Sementara di ujung sana, ada seseorang yang tersenyum penuh kemenangan melihat pertengkaran mereka. Ia menempelkan ponsel di telinga dan berkata, “sekarang giliran lo.”

***

Seisi kelas dibuat heboh dengan kedatangan Alluna yang sedang menangis. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja. Rani, Hastri dan Austin saling pandang penuh tanya.

“Kenapa, Lun?” tanya Hastri yang ada di sampingnya.

“Evan nampar gue,” jawab Alluna terisak.

Rani dan Austin ikut terkejut mendengarnya. “Serius? Gara-gara apa?”

“Gue nuduh dia ada main sama Stella. Dia malah nampar gue.”

Rani menghela napasnya. “Lo kayak nggak tau Stella aja. Miss hoax gitu lo percaya?”

Alluna menyodorkan ponsel yang memperlihatkan foto Evan dan Stella sedang bermesraan di dalam kelas.

“Oh, Emji!” teriak Hastri.

Tak berapa lama, Evan menyusul masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiri Alluna.

Evan tak menghiraukan. “Lun, maafin aku!” Evan langsung menggenggam tangan Alluna. “Aku  nggak sengaja. Aku nggak ada niat sedikitpun buat nampar kamu. Please, maafin aku!” Evan mencium bahu tangan Alluna.

Alluna menepiskan tangan Evan. Ia masih belum bisa menerima tamparan dari Evan kali ini. Ia masih tidak mengerti kenapa Evan tega memperlakukannya seperti ini. 

Alluna menarik tubuhnya. Ia meraih tas dan buru-buru keluar dari kelas.

Alluna terus berlari keluar dari kampus menghindari Evan. 

“Lun, tunggu!” Suara Evan tak lagi ia hiraukan. Ia berharap ada taksi yang lewat dan bisa membawanya pegi jauh dari Evan.

“Hai, cantik. Kok nangis? Mau pulang bareng?” Tiba-tiba mobil Joni sudah ada di depan Alluna.

Alluna melangkahkan kaki mendekati mobil Joni. Joni membukakan pintu mobilnya dan meminta Alluna untuk masuk.

“Jangan, Lun!” Evan menarik lengan Alluna.

Alluna menepis tangan Evan. Ia langsung masuk ke mobil Joni.

“Lun, maafin aku!” teriak Evan.

“Cepet jalan!” sentak Alluna tanpa menghiraukan teriakan Evan.

Joni yang tersenyum penuh kemenangan menyaksikan pertengkaran itu langsung gelagapan dan menstarter mobilnya.

Demi apa pun, Evan tidak rela kalau Alluna sampai masuk ke dalam mobil Joni. Ia berlari ke parkiran untuk mengambil mobil dan mengejar Joni.

“Austin, tolong gue!” Evan menyetir dengan panik sambil menelepon Austin.

“Kenapa?” tanya Austin di ujung telepon.

“Alluna dibawa pergi sama Joni.”

What!? Are you serious?

“Udah. Jangan kebanyakan tanya. Suruh anak-anak lain ngejar mobil Joni sekarang! Aku share location.”

“Ok.”

Evan menutup telepon dan kembali fokus mengejar mobil Joni. “Lun, please! Jangan sama Joni!”

“Lo nggak bisa bawa mobil laju dikit?” tanya Alluna ketus.

Joni tersenyum licik sembari menatap kaca spion mobilnya. Ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya lebih kencang.

Evan semakin kesal karena Joni tidak mau berhenti dan justru melaju lebih cepat.

“Kita mau ke mana?” tanya Joni.

“Ke mana aja asal nggak ketemu sama Evan.”

“Kalian lagi berantem?” tanya Joni.

“Menurut lo?”

Joni tak lagi bertanya. Ia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi masuk ke tol.

“Awas, Jon!” teriak Alluna begitu melihat sebuah truk besar memasang lampu sein untuk menepi beberapa meter dari mereka.

Joni berusaha menghentikan laju mobil agar tidak menabrak sembari membanting setir ke kanan agar bisa melewati truk tersebut.

BRAK!!!

Benturan keras tidak terhindarkan. Badan kiri mobil Joni menyerempet truk dan mobil mereka terguling.

Evan melihat kejadian itu dari jarak jauh. Ia langsung menepikan mobilnya tepat di belakang truk bersama mobil-mobil lain yang ikut berhenti.

“Alluna...!” teriaknya sambil berlari mendekati mobil Joni yang ringsek. Pintu mobil tempat Alluna duduk sudah terlepas dari tempatnya. Ia melihat Alluna terluka parah. Darah segar mengucur dari kepala. Tangan dan kaki kirinya penuh darah.

“Van...!” panggil Alluna lirih, ia masih menyadari kedatangan Evan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.

Evan langsung melepas safety belt yang membelit tubuh Alluna. Ia menatap tajam ke arah Joni yang keadaannya jauh lebih baik dari Alluna.

Evan mengangkat tubuh Alluna dan memasukkan ke dalam mobil, ia dibantu oleh orang-orang yang kebetulan ikut berhenti. Ia tidak peduli dengan Joni. Yang ia lihat, Joni hanya terluka sedikit saja. “Makasih, Pak!” ucap Evan pada orang-orang yang sudah membantunya. Ia langsung bergegas masuk ke mobil.

“Jangan laju-laju, Mas!” pesan orang-orang yang menolongnya.

Evan menganggukkan kepala, membawa Alluna ke rumah sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit, Alluna dinyatakan kritis dan harus menjalani perawatan di ICU.


((Bersambung))

Monday, June 29, 2026

Partner Kondangan Bab 7 : Confession of Sin

 

Joni dan Evan terkenal sebagai musuh bebuyutan sejak kelas tiga SMP. Sialnya, Evan harus satu sekolah lagi dengan Joni saat masuk ke sekolah menengah atas di wilayah Jakarta Pusat.

Demi apa pun, Joni tidak pernah rela kalau Evan lebih unggul darinya dalam hal apa pun. Tak heran kalau mereka sering berkelahi walau masalahnya sepele.

“Rev, lo mau nggak jadi pacar gue?” Joni menyatakan perasaannya pada Reva di lapangan basket saat jam istirahat.

“Sorry, Jo. Gue nggak bisa. Gue udah suka sama cowok lain.” Reva menatap cowok berpostur tinggi dengan seragam basket yang berdiri jauh di belakang Joni. Reva menyingkirkan bucket bunga yang disodorkan Joni, lalu pergi meninggalkannya. Ia menghampiri Evan dan menggandengnya pergi.

Joni menatap Reva dan Evan dengan tangan mengepal, giginya mengerat hingga terlihat tulang rahangnya. Ia sangat membenci hari itu. Hari di mana ia ditolak oleh Reva karena cewek itu lebih memilih Evan, saingannya.

Seminggu kemudian, gosip Reva dan Evan jadian sudah menyebar ke seluruh sekolah. Tak terkecuali ke telinga Joni yang semakin murka dibuatnya.

Reva dan Evan juga tak malu memamerkan kemesraan mereka di depan umum.

“Eh, kalo mau mesum jangan di sekolah!” Joni menggebrak meja saat melihat Reva dan Evan sedang bercumbu mesra di dalam kelas di jam istirahat.

Yang ditegur, tidak peduli sama sekali. Justru semakin menjadi dan membuat Joni semakin geram.

Enam bulan kemudian, sekolah dibuat heboh dengan berita kematian Reva. Reva bunuh diri di dalam kamarnya dalam keadaan hamil 3 bulan.

Ini menjadi pukulan keras bagi Evan. Ia tidak menyangka kalau Reva hamil dan justru melakukan hal bodoh. Dia bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. 

“Bodoh! Kenapa lo milih bunuh diri? Gue pasti tanggung jawab asal lo jujur sama gue kalo lo hamil anak gue! Aargh...!” teriak Evan di dalam kamarnya. Ia mengepal tinju dan cermin hingga pecah berkeping-keping, darah segar mengucur dari tangannya.

Evan bukan cowok yang tidak bertanggung jawab. Ia sangat menyayangi Reva dan seharusnya Reva tidak melakukan hal bodoh. Dia bahkan harus bolak-balik ke kepolisian untuk memberikan keterangan perihal kematian Reva. 

Namun, ia tetap berusaha menutupi kasus ini dari kedua orang tuanya. Ia harus memastikan kalau kedua orang tuanya tidak mengakses berita di media mana pun sampai kasus ini benar-benar selesai. Dia bahkan rela membayar mahal pihak kepolisian untuk menutupi identitasnya dari media.

“Masih berani lo masuk sekolah ini?” Joni langsung menghadang Evan yang baru saja masuk ke halaman sekolah.

Evan tersenyum sinis. “Gue mesti takut sama siapa? Sama lo?”

“Dasar bajingan! Lo sama sekali nggak ngerasa bersalah sama perbuatan lo, hah!?” Joni menarik kerah baju Evan. “Reva mati gara-gara lo!” Joni menatap tajam ke arah Evan yang masih bergeming. “Kalo aja dia nggak pacaran sama cowok P.K kayak lo. Sekarang dia masih di sini!” Ia melepas kerah baju Evan dan mendorongnya kasar.

Evan bergeming. Ia tidak bisa membela dirinya sendiri. Bahkan semua murid dan guru di sekolah sudah tahu seperti apa dirinya sekarang. 

Kematian Reva, membuka semua fakta yang orang lain tidak tahu tentang hubungannya dengan Reva yang tidak sehat. Dia tidak akan pernah bisa membersihkan namanya dengan cara apa pun. Kecuali, dia pergi mencari kehidupan yang baru. Ia memutuskan pindah sekolah dan meninggalkan kenangan pahit di sekolah lamanya.

***

Sudah seminggu Alluna terlihat tak bersemangat, padahal sebentar lagi dia akan menghadapi ujian. Ia terlalu serius memikirkan ucapan Joni di pesta pernikahan keluarga Evan. Nama Reva mengganggu pikirannya. 

Ia sengaja tidak membalas chat dan telepon dari Evan, bahkan ponselnya sengaja ia nonaktifkan. Evan juga tidak datang ke rumah untuk menemuinya. Ia semakin yakin, kalau Evan sengaja menyembunyikan sesuatu darinya.

“Dulu, lo bilang kalo kita harus terbuka, harus jujur satu sama lain apa pun masalahnya. Kenapa sekarang lo yang nggak mau jujur tentang masa lalu lo?” Air mata Alluna menetes perlahan. Ia merasa benar-benar tidak berguna saat Evan tidak memberinya kepercayaan.

“Alluna ...!” terdengar suara yang sudah tidak asing lagi memanggil namanya. Alluna menghapus air mata dan berjalan membukakan pintu kamar.

“Lo baik-baik aja 'kan?” tanya Rani begitu melihat Alluna yang begitu menyedihkan.

Alluna mengangguk.

“Kenapa sih Lun? Lo berantem lagi sama Evan?” tanya Hastri.

Alluna duduk di sisi ranjangnya. “Nggak tau kenapa, saat gue mau ujian sekolah. Ujian hubungan gue sama Evan juga dateng.”

Rani menghampiri Alluna dan memeluknya. “Sabar ya! Lo cerita deh sama kita, sebenarnya ada apa? Biar kita bisa bantu.”

Alluna menatap Austin yang masih berdiri di depannya. “Lo kenal sama yang namanya Reva?”

“Reva? Anak sekolah kita?” tanya Austin.

Alluna menggelengkan kepalanya. “Sekolah Evan yang lama.”

Austin menggelengkan kepala. “Gue nggak tau. Gue nggak pernah tau apa pun soal Evan di sekolah lamanya. Yang gue tau, dia tiba-tiba pindah sekolah ke sini.”

“Beneran lo nggak tau?” Alluna menatap tajam ke arah Austin.

“Beneran. Lo ngeliatin gue jangan kayak liat maling gitu, deh. Serem gue liatnya,” jawab Austin.

“Sebenernya ada apa, sih? Evan selingkuh?” Rani langsung menerka begitu mendengar nama cewek lain ada di hubungan mereka.

Alluna mendesah kecewa. “Gue nggak tahu pasti soal itu. Yang jelas, gue ngerasa ada sesuatu yang disembunyiin dari Evan. Pertama, gue tiba-tiba nemuin lipstik di dalam mobilnya. Dia bilang, itu cuma lipstik salah satu temannya yang kebetulan jatuh.”

Rani dan kedua teman Alluna langsung membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.

“Logikanya, nggak mungkin ada lipstik di dalam mobil kalau dia nggak bawa cewek masuk ke dalam mobilnya.” Alluna melanjutkan.

“Kedua, waktu gue kondangan ke keluarga besar lo.” Alluna mendelik ke arah Austin. “Gue bukan cuma ketemu sama keluarga lo. Gue ketemu sama tiga orang cowok yang kelihatannya punya hubungan kurang baik sama Evan. Gue denger mereka menyebut soal skandal Evan sama cewek yang namanya Reva. Dan saat gue tanya ke dia, Evan sama sekali nggak mau cerita sampai sekarang.”

“Oh, My God!” Mulut ketiga sahabatnya semakin menganga lebar. “Kenapa lo baru cerita sekarang sama kita?”

“Karena kalian nggak nanya.”

Hastri menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. “Iya, sih. Sebentar lagi ujian. Kita banyak tugas dan banyak les sampai jarang ngumpul. Dan kita nggak tau sama sekali kalo lo lagi ada masalah sama Evan.”

Alluna tersenyum. “Nggak papa kali. Biasa aja. Toh, yang namanya hubungan selalu ada ujiannya 'kan? Lo aja gonta-ganti cowok mulu, nggak masalah 'kan?”

“Yee, gue mah kasusnya beda. Gue gonta-ganti cowok karena gue sendiri. Lah? Lo kan jadian sama Evan karena kita yang nyomblangin. Kalo dia nyakitin lo, kita nggak akan diam gitu aja.”

Alluna menghela napasnya. “Entahlah, mungkin Evan emang nggak beneran sayang sama gue. Kalo dia sayang, dia bakal jujur cerita ke gue,” ucapnya Lesu.

“Evan juga nggak ada ngomong apa pun. Biasanya, dia selalu cerita banyak soal lo.” Austin menimpali.

“Sebenarnya ada apa sama masa lalu dia?” tanya Alluna mulai menitikan air mata.

“Lun, kita semua tahu Evan itu seperti apa. Kalo dia belum mau cerita, kemungkinan masa lalunya adalah sesuatu yang berat banget. Dan lo seharusnya bisa bikin dia lebih kuat dan nyaman sama lo sekarang,” tutur Rani.

Alluna mengusap air matanya dan menatap Rani. “Gue nggak kepikiran sampe ke situ.”

Mereka saling bertatapan.

“Kita ke apartemen Evan sekarang!”

***

Austin memarkirkan mobilnya tepat di sisi mobil Evan.

Alluna memperhatikan mobil Evan dengan seksama. Ia tak memperdulikan tiga sahabatnya yang sudah melangkahkan kaki meninggalkan parkiran.

“Kenapa, Lun?” tanya Rani kembali menghampiri Alluna yang masih terpaku menatap mobilnya.

“Mobil dia nggak pernah berdebu kayak gini.” Alluna mencolek debu yang lumayan tebal menempel di mobil Evan.

Mereka langsung saling pandang. “Artinya, Evan nggak keluar sama sekali selama seminggu ini. Ayo cepat!” Rani langsung berjalan dengan cepat memasuki apartemen. Mereka mulai panik dengan sikap diam Evan. Mereka jelas takut terjadi apa-apa dengan Evan yang hanya tinggal di apartemen seorang diri.

“Lun, lo tau pasword-nya kan?” tanya Rani saat sudah sampai di depan pintu apartemen Evan.

Austin, Rani dan Hastri menunggu dengan perasaan cemas di belakang Alluna.

Alluna menghela napas dan mulai menekan tombol. Ia membuka pintu perlahan, menoleh ke arah tiga sahabatnya.

“Kita tunggu di sini. Kalo ada apa-apa, lo bisa teriak.” Rani memberikan isyarat menggunakan dagunya agar Alluna segera masuk.

Alluna melangkahkan kaki perlahan. Ia terkejut melihat keadaan apartemen Evan yang berantakan, seperti telah terjadi perampokan atau perkelahian. Piano yang biasa ia mainkan sudah terbalik, sofa tak lagi dalam posisi yang bisa diduduki dengan nyaman. Tepat di bawah kakinya, gitar yang biasa mereka mainkan patah menjadi dua bagian. Wajah Alluna panik seketika.

“Evan...! Van...!” panggil Alluna, namun ia tidak mendapat jawaban. Ia langsung masuk ke dalam kamar Evan, menyalakan lampu karena lampu kamar sengaja dimatikan.

Kamar Evan juga tak kalah berantakan. Ia mencoba mencari tubuh Evan. “Van...!” Alluna berjalan perlahan menghampiri tempat tidur. Di sana, ia melihat Evan tertidur dengan wajah pucat pasi di dalam selimut dan tertumpuk beberapa pakaian yang sudah keluar dari lemarinya.

“Van...!” Alluna meneteskan air mata melihat wajah Evan yang begitu pucat. Ia menyentuh dahi Evan. PANAS!!!

“Van, kamu kenapa?” Alluna langsung memegangi wajah Evan dengan kedua tangannya. “Kamu sakit?”

Evan membuka matanya, samar-samar ia menyadari kehadiran Alluna. “Lun, aku sayang sama kamu,” ucapnya lirih.

“Iya. Aku tahu.” Alluna buru-buru menyingkirkan semua pakaian yang menutupi tubuh Evan dan membuka selimutnya. Ia langsung berlari keluar dari apartemen menemui tiga sahabatnya yang masih menunggu di depan pintu.

“Kenapa, Lun?” tanya Rani yang menyadari ekspresi kepanikan Alluna.

“Telepon ambulance! Cepat!” teriak Alluna panik.

Alhasil membuat ketiga sahabatnya juga panik. Mereka langsung menerobos masuk ke apartemen Evan, melihat apa yang terjadi dengan Evan. Rani langsung menelepon ambulance saat itu juga.

“Austin, lo bisa telepon petugas apartemen buat bantu kita bawa Evan turun?” tanya Rani. Austin menganggukkan kepalanya.

“Van, maafin aku.” Alluna menangis sembari memeluk Evan dengan erat. Ia tidak dapat menahan kesedihannya melihat cowok yang ia sayangi dalam keadaan seburuk ini.

Beberapa saat kemudian, dua orang petugas apartemen muncul dan membantu Evan untuk turun ke bawah menunggu ambulance yang langsung datang beberapa menit kemudian.

***

Kata dokter, Evan kekurangan cairan tubuh karena selama seminggu ia tidak makan dan minum. Alluna sangat terpukul mendengar ucapan dokter. Ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri yang selalu egois.

“Van, maafin aku...!” Alluna menggenggam tangan Evan yang sudah dipasangi selang infus.

“Kamu nggak salah. Aku yang salah karena aku nggak bisa bikin kamu bahagia.”

“Van, kamu udah bikin aku bahagia dari pertama kali kita ketemu.” Alluna meneteskan air matanya. 

Hastri, Rani dan Austin ikut terharu menyaksikan adegan itu. Mereka memilih keluar dari ruang rawat, memberikan kesempatan untuk Evan dan Alluna.

“Jangan nangis lagi!” Evan mengusap air mata Alluna dengan satu tangannya. “Aku nggak bisa maafin diri aku sendiri setiap kali lihat kamu nangis dan penyebabnya adalah aku.”

Alluna menciumi tangan Evan dan masih terisak. “Aku sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang sama kamu. Senyum dong!” pinta Evan sambil tersenyum.

Alluna mengusap air matanya dan tersenyum menatap Evan.

***

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, keadaan Evan sudah membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah.

“Ma, Mama masih di Paris?” tanya Alluna via video call.

“Iya, sayang. Gimana Evan? Udah sehat?”

“Alhamdulillah, udah, Ma. Ini baru nyampe di apartemen. Tapi, dia masih butuh banyak istirahat.” Alluna mengarahkan ponselnya ke wajah Evan.

“Hai, Tante ...!” sapa Evan sambil melambaikan tangannya.

“Gimana? Udah baikan?”

Evan mengangguk.

“Muka kamu masih kelihatan pucat gitu. Istirahat yang banyak ya!”

“Iya. Makasih, Tante.” Evan tersenyum.

“Ma, aku di sini dulu rawat si Evan sampe dia bener-bener pulih, ya? Aku nggak tega ninggalin dia sendirian. Nanti, aku suruh Bi Ira ke sini juga,” tutur Alluna.

“Kalo sama Bi Ira, boleh deh. Tapi, kalau cuma berduaan. Mama kurang¬—”

“Tante nggak percaya sama Evan?” sahut Evan.

Mama Alluna tersenyum. “Iya. Tante percaya. Evan pasti bisa jaga Alluna dengan baik.”

“Tapi, sekarang Alluna yang lagi jaga Evan loh, Ma,” sambar Alluna.

Mereka tertawa.

“Ya sudah. Istirahat dulu ya! Mama masih banyak kerjaan, nih.”

Alluna menautkan jari telunjuk dan jempolnya, tiga jari yang lain ia naikkan sebagai tanda setuju. Panggilan video pun berakhir.

“Kamu istirahat dulu, ya! Aku bikinin kamu bubur, mau?” tanya Alluna sambil merebahkan tubuh Evan ke atas kasur dan menyelimutinya.

“Lun...” Evan menahan tangan Alluna untuk pergi dari sisinya.

“Kenapa?” Alluna menoleh.

“Duduk dulu di sini!” Evan menepuk tepi ranjang, tepat di sisinya.

Alluna menuruti permintaan Evan.

Evan meraih tangan Alluna dan menggenggam di dadanya. “Aku bahagia banget bisa kenal bidadari seperti kamu. Sekalipun hari ini aku mati, aku akan tetap bahagia karena pernah mengenal kamu.”

“Kamu apaan sih? Aku nggak suka kamu ngomongin soal kematian.”

Evan tersenyum menatap Alluna. “Kamu baik. Dan aku nggak sebaik yang kamu pikirkan.”

Alluna bergeming. Ia menatap Evan yang masih menundukkan pandangannya.

“Soal Reva, aku bakal ceritain semuanya. Mungkin kamu bakal benci, jijik dan menjauh dari aku setelah ini.”

“Aku nggak akan pergi ... tanpa kamu.”

“Reva, pacar pertamaku ....” Evan mulai menceritakan masa lalunya.

Alluna menyimak dengan seksama kata demi kata yang diucapkan Evan.

“Aku terpukul banget saat hubungan kami baru genap 6 bulan, dia meninggal.” Napas Evan tersengal saat mulai bercerita tentang kematian Reva.

Alluna terkejut, menutup mulutnya yang menganga dengan tangannya. “Why? Kalian terlihat bahagia saat itu.”

Evan mengangguk. “Ya, hubungan kami sedang bahagia saat itu. Kami tidak pernah bertengkar. Aku bener-bener kehilangan orang yang aku sayang untuk pertama kalinya. Dan aku cuma bisa nyalahin diriku sendiri.”

Alluna masih menyimak.

“Dia ditemukan bunuh diri di dalam kamarnya dalam keadaan hamil tiga bulan.”

“What!?” Alluna terkejut mendengar pernyataan Evan. Kali ini ia masih tidak percaya kalau Evan sudah melakukan itu, bahkan sudah punya janin dari pacar pertamanya.

Evan tidak peduli denga ekspresi Alluna, ia tetap melanjutkan ceritanya. “Aku adalah orang yang paling bodoh sedunia karena aku sama sekali nggak tau kalau dia hamil. Dia ngadepin semuanya sendirian. Aku tahu, dia pasti malu kalau semua orang tahu dia hamil di luar nikah. Terlebih lagi saat itu kami masih kelas dua SMA.”

“Andai dia jujur, aku pasti bertanggung jawab.” Evan tersenyum kecil. “Dan saat ini, anakku pasti sedang lucu-lucunya.” Evan tersenyum membayangkan seorang anak kecil sedang berlari-lari dan bermain bersamanya di dalam kamar.

Alluna ikut tersenyum saat Evan bercerita tentang anaknya.

“Kamu nggak marah?” tanya Evan yang melihat Alluna ikut tersenyum.

“Marah kenapa?”

“Karena aku bukan cowok baik-baik.”

“Aku marah bukan karena kamu seorang badboy. Yang bikin aku marah ...” Alluna berbisik dan mendekatkan wajahnya. “Karena kamu nggak mau jujur sama aku.”

Evan tersenyum. “Konyol!” celetuknya.

“Kenapa?”

“Selama seminggu ini aku sudah menghukum diriku sendiri. Aku pikir kamu akan marah besar saat tau kalau aku sudah pernah menghamili perempuan lain. Aku pikir kamu bakal pergi ninggalin aku. Aku pikir kamu nggak akan sayang sama aku lagi. Aku pikir kamu bakal ngejauh dari aku ....” Air mata Evan berlinang. Ia tidak ingin menangis. Tapi, melihat wajah Alluna yang tersenyum di hadapannya. Dia justru ingin menangis karena perbuatan biadab dan dosanya di masa lalu. Ia malu.

Alluna tidak berkata sedikitpun. Ia membungkam mulut Evan dengan bibirnya.

Evan terkejut dengan apa yang dilakukan Alluna. Ia masih tak percaya, Alluna menciumnya tanpa ia minta. Alluna melumat bibirnya dan ia tak bisa menahan diri untuk membalas.

Alluna mengangkat wajahnya. Ia meletakkan jemari telunjuknya di bibir Evan. “Jangan pernah hancurkan masa depanmu dan masa depan orang yang kamu sayangi!” bisik Alluna.

Evan tersenyum kecil. Ia merasa konyol setiap kali hanya berduaan dengan Alluna. Kalau bukan Alluna yang di depannya saat ini, mungkin sudah sedari tadi ia telanjangi dan mencumbunya penuh nafsu. Alluna memang perempuan yang bijak. Dia punya nafsu, sama seperti perempuan lain pada umumnya. Tapi, dia pandai mengendalikan diri. Inilah satu-satunya alasan yang membuat Evan bangga memilikinya.

Evan menarik tengkuk Alluna dan memeluknya dengan erat. “Tetap seperti ini, jangan pergi!” bisiknya.

***

“Mama minta aku lanjutin kuliah ke Paris.” Usai memainkan piano, Alluna duduk di sofa, tepat di sisi Evan yang sedang asyik bermain game online.

“Trus? Kamu setuju?” Evan langsung menoleh ke arah Alluna.

Alluna mengedikkan bahunya. “Belum tahu. Kalau dikasih uang jajan 3x lipat dari Daren. Mungkin aku mau kuliah di sana.”

Evan membelalakkan matanya. “Tega kamu ya. Kemarin waktu aku mau kuliah ke London. Kamu yang ngerengek supaya aku tetep stay di Indonesia. Sekarang malah kamu yang mau ke Paris!” celetuk Evan sambil melempar ponselnya ke atas sofa.

“Eh, mati loh. Lagi main FF kan?” Alluna mengambil ponsel Evan dan melanjutkan game Free Fire yang sedang dimainkan Evan.

“Biarin aja, cuma game doang. Kamu beneran mau lanjut kuliah ke Paris?” Evan menatap tajam ke arah Alluna.

Alluna melirik nakal sambil tersenyum. “Menurut lo?”

“Janganlah. Kuliahku nanggung kalo mau pindah juga.”

“Bukannya kamu suka yang nanggung-nanggung? Rok nanggung, baju nanggung ...,” goda Alluna.

“Apaan sih lo? Mulai nakal ya sekarang?” Evan mencubit gemas pipi Alluna.

TING TONG!

Bel rumah berbunyi. Bi Ira langsung buru-buru keluar untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian, Bi Ira kembali dengan membawa sebuah kartu, ia menyodorkannya pada Alluna.

“Siapa, Bi?” tanya Alluna.

“Nggak tau.”

Alluna meraih kartu undangan dari tangan Bi Ira. 

Bi Ira langsung pergi menuju dapur.

“Siapa yang nikah?” tanya Evan sambil mencondongkan badannya.

“Temen sekelas.”

“Yang mana anaknya?”

“Kamu nggak tau. Anaknya pendiem banget.”

“Oh ... keren ya!”

“Apanya?”

“Abis dapet ijazah, langsung ijab sah!”

“Hahaha. Kirain pendiemnya yang keren.”

“Kalo kamu jadi pendiem, baru aku bilang keren.”

Alluna mencebik.

“Jadi, kondangan lagi nih?” tanya Evan.

Alluna mengangguk.

“Kondangan mulu, kapan giliran kita ngundang, ya?” ucap Evan sambil menatap langit-langit rumah.

“Kamu maunya kapan? Tinggal bikin aja undangan terus disebarin, beres!” sahut Alluna.

“Serius? Aku sih maunya minggu depan kita udah nikah.”

Alluna memutar bola matanya. “Aku nggak mau nikah muda.”

“Kenapa?”

“Masih mau kuliah dulu.”

“Bisa kuliah setelah menikah.”

“Nggak! Pokoknya kuliah dulu baru nikah!” sahut Alluna keukeuh.

“Nikah dulu!”

“Kuliah dulu!”

“Nikah!”

“Kuliah!”

“Nikah!”

“Kuliah!”

“Kuliah!”

“Nikah!” Alluna langsung menutup mulutnya karena ikut menyebut kata nikah.

“Nah, kan?” Evan tersenyum licik. “Yes! Nikah dulu!” Ia mengepalkan tangannya ke bawah.

“Apa-apaan? Culas!”

“Bodo amat, yang penting kamu udah bilang ‘nikah’.” Evan menjulurkan lidahnya.

“Nggak mau!” sahut Alluna ketus sembari melipat kedua lengannya di dada.

“Jadi, kamu beneran nggak mau nikah sama aku?” tanya Evan dengan wajah memelas.

Alluna langsung menatap Evan yang tiba-tiba serius menanggapi candaannya. “Mau, Van. Tapi nggak sekarang. Aku nggak mau nikah muda. Masih mau ngejar cita-cita aku.”

“Aku ngejar kamu, kamu ngejar cita-cita, terus Cita Citata ngejar siapa dong? Ngejar aku?”

“Cita-cita. Bukan Cita Citata. Itu artis.”

“Ya kali aku dikejar-kejar sama artis. Ganteng gini.” Evan menelentangkan tangannya di sandaran sofa sambil mengangkat satu kakinya. Gayanya yang sok cool membuat Alluna mendelik ke arahnya.

“Kenapa? Cemburu?” Evan melirik Alluna sambil menahan tawa. “Makanya, kalo punya pacar ganteng itu jangan disia-siain. Ntar diambil sama yang lain baru tau rasa.”

“Iih, kamu tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan.

 “Jadi, mau nikah sama aku nggak?” tanya Evan lagi.

“Mau. Tapi ...,”

“Kalo mau tuh nggak pake tapi.”

“Nah, gitu dong!” Evan melingkarkan tangannya di pinggang Alluna. “Aku udah nggak sabar pengen bikin anak sama kamu,” bisiknya sambil meniup tengkuk Alluna dan berhasil membuat gadis itu merinding.

Alluna mendesah pelan.

“Kamu sebenernya pengen juga kan?” ledek Evan sambil mengacungkan telunjuknya di depan hidung Alluna.

“Apaan sih?” Alluna menyingkirkan tangan Evan dari wajahnya. Ia tersipu, pipinya bersemu merah.

“Setidaknya aku tahu kalo kamu punya nafsu,” bisik Evan. Ia menarik tubuh Alluna duduk di pangkuannya dan menciumnya penuh cinta.



((Bersambung...)) 

Novel "Partner Kondangan" Full Version


 

Alluna Alexandria tidak pernah kesulitan mendapatkan perhatian.

Yang sulit adalah... jatuh cinta.

Di saat teman-teman sebayanya sibuk memamerkan pasangan, Alluna justru selalu datang ke setiap kondangan seorang diri. Bukan karena tak ada yang mendekat, melainkan tak ada yang berhasil membuatnya ingin bertahan.

Sampai sahabat-sahabatnya mengambil alih urusan hatinya.

Mereka mempertemukannya dengan Evan Noah.

Awalnya, Evan hanyalah partner kondangan. Seseorang yang cukup hadir agar Alluna berhenti menjawab pertanyaan, "Kapan menyusul?"

Namun, semakin sering bersama, semakin sulit membedakan mana yang sekadar berpura-pura... dan mana yang benar-benar jatuh cinta.

Karena terkadang, seseorang yang datang untuk menemani satu pesta... justru menjadi alasan untuk menetap selamanya.


BAB 1 : 


Partner Kondangan Bab 6 : Pernikahan Keluarga

 



Paris.

“Pa, lihat, deh!” Mama Alluna menunjukkan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya.

“Siapa? Model baru Mama?”

“Bukan, tapi akan,” jawab Mama Alluna sambil tersenyum. “Kayaknya mereka cocok buat kita jadiin model katalog kita yang baru.”

Papa Alluna meraih ponsel milik sang istri dan memperhatikan foto seorang gadis yang duduk di kursi berwarna putih emas. Gadis itu memakai gaun warna biru terang dengan motif batik berwarna putih di beberapa bagian. Terlihat sangat anggun dan elegan. Kakinya yang jenjang ditumpuk, memperlihatkan kakinya yang indah dengan sepatu high heels warna biru emas. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan berjas hitam cokelat. Satu tangannya bersandar di ujung sandaran kursi. Sangat serasi, layaknya pangeran dan puteri kerajaan. Ia memperhatikan kembali gadis itu dengan seksama karena wajahnya sangat familier.

“Ini Alluna?” tanya Darwis, Papa Alluna.

“Iya, Pa. Masa sama anak sendiri pangling?”

Darwis, Papa Alluna tersenyum menatap layar ponsel. “Nggak terasa dia sudah besar dan jadi gadis yang cantik.”

“Ya iya, dong. Siapa dulu mamanya?” puji Mama Alluna pada dirinya sendiri.

Darwis tersenyum menatap Lena, istrinya. Mereka merasa sangat bahagia karena telah melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa. Kerja keras mereka selama ini terbayarkan. Memberikan kebahagiaan untuk kedua anaknya, juga mendidiknya dengan baik. Mereka bersyukur punya keluarga yang baik, punya dua orang anak yang baik dan berprestasi.

 

***

Waktu berlalu begitu cepat. Sepertinya, baru kemarin Alluna memakai seragam putih abu-abu. Sekarang, dia sudah di penghujung kelas tiga. Itu artinya, dia akan lulus SMA dalam hitungan minggu.

Banyak hal yang telah ia lalui. Tentang persahabatannya dengan Austin, Hastri dan Rani. Tentang kisah cintanya dengan Evan yang kini sudah kuliah. Awalnya, Evan ingin kuliah di luar negeri. Tapi, karena Alluna yang manja dan terus merengek agar Evan tetap tinggal. Evan mengurungkan niatnya dan tetap kuliah di Jakarta. Sehingga mereka masih bisa sering bertemu.

Beberapa minggu belakangan, Alluna menjaga jarak hubungannya dengan Evan karena ingin fokus dengan ujian sekolah. Terkadang, Evan memang sering mengganggu pikirannya. Ia bersyukur karena Evan mau mengerti. Ia jarang menelepon Alluna apalagi datang ke rumah.

 

***

“Hai, Van!” sapa Stella, gadis cantik terpopuler di kampus tempat Evan kuliah. Tanpa segan ia langsung merangkul lengan Evan.

“Apaan, sih lo!” Evan menepis tangan Stella.

“Galak amat, sih!? Gue suka deh cowok galak dan macho kayak lo,” goda Stella.

Evan tidak menghiraukan Stella. Ia tetap melangkahkan kaki menuju mobilnya.

Stella tak patah semangat, ia terus mengikuti Evan dan masuk ke mobil pria itu.

“Lo ngapain sih ikut masuk mobil gue? Keluar!” sentak Evan.

“Van, gue pengen sekali-sekali naik mobil lo. Ajak gue jalan ke mana gitu.”

“Gak nafsu gue jalan sama lo. Lo cari cowok yang lain aja! Keluar dari mobil gue sekarang!”

“Galak amat, sih!” celetuk Stella, ia keluar dari mobil Evan dan membanting pintu dengan keras.

Evan menggelengkan kepalanya. “Cewek gila!” umpatnya. Ia menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran kampus menuju SMA 28, tempat Alluna bersekolah.

Di sana, gadis cantik berseragam putih abu-abu sudah menunggunya. “Udah lama nunggunya?” tanya Evan membukakan pintu mobil untuk Alluna.

“Nggak. Gue baru aja keluar kelas, kok.” Alluna langsung masuk ke dalam mobil. Evan menutup pintu dan berjalan menuju pintu sebelahnya. Duduk di belakang setir dan mulai melajukan mobilnya.

“Gimana pelajaran hari ini?” tanya Evan.

“Hmm, lumayan bikin pusing.”

“Dibawa santai aja. Jangan sampai setres karena mikirin ujian. Lo pasti lulus, kok.”

Alluna tersenyum menatap Evan. “Dulu, waktu lo mau ujian. Emang nggak kepikiran?”

Evan mengedikkan bahunya. “Enggak. Buktinya gue santai aja. Masih jalan sama lo waktu mau ujian.”

“Hmm, iya sih. Gue kok nggak bisa kayak lo, ya?” gumam Alluna.

Evan tertawa kecil sambil mengusap ujung kepala Alluna. Ia kembali fokus menyetir. “Oh ya, minggu depan temenin gue ke acara nikahan kakak sepupu gue, ya!” pinta Evan.

“Oke. Di mana?” tanya Alluna.

“Di Jakpus.”

Alluna mengangguk. Ia mengambil ponsel di tas yang ia pangku dan membalas chat grup tiga sahabatnya.

Evan menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Alluna.

“Udah sampai?” tanya Alluna, ia tahu pertanyaannya itu tidak penting untuk ditanyakan.

“Main hape mulu.”

Alluna cengengesan. Cepat-cepat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, tapi ponselnya malah terjatuh.

Evan menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan sifat Alluna yang ceroboh.

Alluna menundukkan badannya untuk mengambil ponsel yang terjatuh di bawah kakinya. Ia meraba dan menemukan sebuah benda kecil yang langsung membuatnya melirik tajam ke arah Evan.

“Kenapa?” tanya Evan melihat wajah Alluna menahan amarah.

“Ini punya siapa?” tanya Alluna menyodorkan sebuah lipstik berwarna emas tepat di depan wajah Evan.

Evan mengernyitkan dahinya. “Bukan punya lo?”

“Gue nggak pernah pake lipstik merk ini. Ini lipstik siapa, Van!?” sentak Alluna, ia menahan air matanya yang sudah berlinang. Evan selingkuh sama cewek lain, itu yang terlintas di pikirannya.

“Gue nggak tau.” Wajah Evan memerah karena dia tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri tidak tahu kenapa ada lipstik di dalam mobilnya.

“Lo selingkuh?”

“Enggak.”

“Bohong!”

“Gue nggak tau kenapa lipstik itu ada di mobil gue.”

“Lo kira gue bodoh? Mana ada lipstik jalan sendiri masuk ke dalam mobil kalo lo nggak baca cewek masuk ke dalam mobil lo!” Alluna membuka pintu mobil dan membantingnya dengan kasar.

“Lun ...!” panggil Evan, ia langsung mengejar Alluna yang berlari masuk ke dalam rumah.

“Ada apa?” tanya Mama Alluna. Ia terkejut melihat anaknya pulang dalam keadaan menangis.

Alluna tidak menjawab, ia berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

“Ada apa, Van?” tanya Mama Alluna yang melihat Evan menyusul.

“Salah paham, Tante.”

Mama Alluna mengernyitkan dahinya. Ia menangkap kepanikan di wajah Evan. “Duduk dulu, cerita sama tante! Alluna kalau lagi ngambek, susah dirayu. Biarkan saja dulu dia nangis.”

Evan mengacak rambutnya. “Tapi, Tante.”

“Udah, cerita dulu. Kenapa?”

“Tiba-tiba ada lipstik di mobil aku. Dia marah banget.”

“Kok, bisa?”

“Evan nggak tau, Tante. Nggak ngerti kenapa ada lipstik di dalam mobil aku. Aku nggak pernah jalan sama cewek lain selain dia.”

“Mobil kamu pernah dipinjam teman?”

Evan menggelengkan kepalanya.

“Yang terakhir masuk mobil kamu siapa?”

Evan mencoba mengingat-ingat. “Ah, shit!” maki Evan. “Stella tadi tiba-tiba nyelonong masuk mobil aku waktu aku mau jemput Alluna.”

“Siapa dia?”

“Teman kuliah. Dia ngejar-ngejar Evan mulu.” Evan bangkit dari duduknya. “Aku naik dulu ya, Tante.” Evan menunjuk ke arah kamar Alluna.

Mama Alluna menganggukkan kepala. “Good luck!” ucapnya sambil tersenyum.

Evan tersenyum sambil mengangkat jempolnya. “Asyik memang kalo punya mama rasa temen gini. Dia ngerti banget masalah anak muda,” batin Evan sembari melangkahkan kakinya menaiki tangga.

“Lun...!” panggil Evan sambil mengetuk pintu. “Ini gue. Buka pintunya, dong!” pinta Evan dengan lembut.

Alluna masih menangis di dalam kamar. Ia tidak ingin menjawab panggilan Evan. Ia justru menutup telinganya dengan bantal.

“Lun, dengerin dulu penjelasan gue! Ini nggak kayak yang lo pikirin.” Evan masih berteriak dari luar. Tidak ada jawaban sama sekali dari Alluna.

Evan mendesah. Ia memutar otaknya agar Alluna mau membukakan pintu atau setidaknya mau membalas ucapannya.

“Lun, lo kan tau gue ganteng. Wajar aja kalo banyak cewek yang suka sama gue. Tapi, gue cuma cinta sama lo doang. Kalo lo udah nggak mau sama gue, gue jalan sama cewek lain aja!” teriak Evan dari luar kamar.

“Bodo amat!” sahut Alluna dari dalam kamarnya.

Evan tersenyum mendengar jawaban Alluna. Ia merasa lega karena Alluna masih mau menyahut. Baginya, lebih baik Alluna marah panjang lebar kali tinggi daripada harus didiamkan seperti ini.

“Lun, gue pulang dulu, ya! Kalo udah nggak marah, telpon gue, ya! Jangan lama-lama marahnya, gue nggak suka. Ntar gue cari cewek lain kalo lo marahnya kelamaan,” teriak Evan.

“Nyebelin banget sih, lo. Bukannya minta maaf, malah mau cari cewek lain. Bodo amat!” maki Alluna pelan sambil menatap pintu kamarnya.

Alluna diam beberapa menit, tak terdengar lagi suara Evan dari luar. “Syukur deh kalo dia pulang.” Alluna turun dari ranjang, berjalan perlahan menuju pintu. Ia menempelkan telinga ke pintu kamarnya untuk memastikan apakah Evan sudah pulang atau belum.

Perlahan ia memutar kunci pintunya, kemudian menarik gagang pintu pelan-pelan. Sudah tidak ada siapa-siapa di depan pintunya.

“Syukur, deh. Nyebelin banget sih tuh cowok!” Alluna menghela napas lega sambil mengelus dadanya. Ia membalikkan tubuh dan tidur tengkurap di tempat tidurnya.

Alluna meraih boneka kelinci miliknya yang ia beri nama Evan. “Van, lo nyebelin banget sih!? Kenapa sih lo selingkuh di belakang gue? Katanya, lo cuma sayang sama gue. Sekalinya, di belakang gue lo jalan sama cewek lain. Lo nggak ngerti perasaan gue?” Alluna mencakar-cakar boneka kelincinya. “Dasar Playboy!” ia membanting boneka itu.

Alluna diam sesaat sambil menatap boneka kelinci merah muda yang ada di depannya. “Harusnya, lo nggak usah jadi kelinci biar nggak playboy! Kenapa lo yang ada di sini sih?!” maki Alluna makin kesal. Air matanya kembali menetes. Ia terluka karena sikap Evan yang tidak merasa bersalah sama sekali. Terlebih, dia akan memilih cewek lain yang jauh lebih baik darinya.

“Jahat lo, Van! Kenapa sih lo tega banget sama gue! Gue sayang sama lo!” Alluna terisak sambil memukul-mukul bantal.

“Gue juga sayang sama lo,” bisik Evan di telinga Alluna, ia tiba-tiba sudah ada di dalam kamar.

Alluna terkejut mendengar suara Evan. Ia membalikkan tubuhnya, “Kok, lo bisa masuk ke sini?” tanya Alluna sembari mengusap air matanya.

“Pintu kamar nggak lo kunci lagi.” Evan tersenyum menatap Alluna.

“Bukannya lo udah pulang?” tanya Alluna, ia menatap Evan yang kini membungkuk tepat di atas kepalanya.

“Gue nggak akan pulang, sebelum semuanya beres.”

“Nggak ada yang perlu diberesin,” celetuk Alluna memalingkan wajahnya, sementara Evan masih menatapnya tanpa berkedip.

“Lo cemburu?” goda Evan menahan tawa.

“Nggak. Buat apa cemburu? Jalan aja sono sama cewek lain! Gue nggak peduli!”

“Kalo lo nggak peduli, kenapa semarah ini?”

“Evan Noah ...! Lo tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan. “Gue tuh sayang sama lo, jelas aja gue cemburu. Udah kayak gini, masih ditanya cemburu atau enggak.” Air mata Alluna kembali berlinang.

“Gue nggak selingkuh, gue sayang sama lo. Gue juga bakal ngelakuin hal yang sama kalo lo jalan sama cowok lain. Gue juga bakal cemburu,” bisik Evan sambil menempelkan dahinya ke dahi Alluna.

“Terus itu lipstik siapa? Kenapa bisa ada di mobil lo?” tanya Alluna dengan nada berat.

Evan mengangkat tubuhnya dan duduk di sisi ranjang Alluna. “Gue nggak tahu itu lipstik punya siapa. Nggak ada cewek yang masuk ke mobil gue selain lo. Tapi, tadi waktu gue mau keluar dari kampus dan jemputin lo. Stella tiba-tiba aja ngeloyor masuk ke mobil gue. Bisa jadi, lipstiknya dia yang jatuh. Dan gue sama sekali nggak tau karena gue langsung usir dia saat itu juga ....” Evan menjelaskan panjang lebar.

“Stella siapa?”

“Cewek di kampus. Dia ngejar-ngejar gue mulu, tapi gue sama sekali nggak minat sama dia.” Evan melirik ke arah Alluna yang masih menatapnya.

“Beneran lo nggak selingkuh?”

“Nggak, lah. Gue tuh udah punya cewek yang cantik, baik hati, pinter dan manja banget kayak gini. Masa iya gue masih mau selingkuh?” Evan mencubit kedua pipi Alluna dengan gemas.

“Awas ya, kalo sampe slingkuh, gue bakal mau liat muka lo lagi!” ancam Alluna.

“Iya.” Evan mengusap ujung kepala Alluna. “Jangan marah-marah lagi, ya!”

“Iya. Gue minta maaf karena langsung marah-marah tanpa mau denger penjelasan dari lo,” jawab Alluna pelan sambil menundukkan wajahnya.

“Udah, nggak papa, kok.” Evan menarik kepala Alluna dan memeluknya. “Yang namanya hubungan pasti ada ujian dan cobaannya. Kita harus bisa hadapi bareng. Harus selalu terbuka, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Evan mengelus bahu Alluna.

Alluna menyandarkan kepalanya di pundak Evan. That’s right! Kalau mereka mementingkan ego masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah. Hubungan mereka hanya akan berjalan sebentar saja. Kenyataannya, mereka sudah melewati satu tahun masa pacaran. Tidak mungkin hubungan mereka selalu baik-baik saja. Alluna yang selalu bersikap ceroboh, emosional dan tidak mau mengalah memang cocok dengan Evan yang lebih bersikap sabar, tenang, dewasa dan humoris. Evan lebih banyak mengalah di saat-saat seperti ini.

 

***

“Ma, besok aku mau kondangan ke nikahan sepupu Evan. Ada dress baru, nggak?” tanya Alluna pada mamanya yang sedang asyik menonton televisi.

“Kemarin ada dikirim sama manager butik. Coba aja lihat ke sana!”

“Aku ambil satu lagi, ya!”

“Tumben ngomong sama mama? Biasanya main ambil-ambil aja ke sana.”

“Hehehe.”

“Udah baikan sama Evan?” tanya Mama Alluna.

“Udah.” Alluna duduk di samping mamanya dan menyambar cemilan yang berada di tangan mamanya.

“Eh, bentar lagi kan lulus ujian. Kamu jadi model buat katalog Mama ya, please!” pinta Mama Alluna.

“Ma, Luna nggak mau jadi model. Model mama kan banyak, tuh.”

“Mama pengen yang baru aja biar fresh gitu. Ntar, Mama pakai untuk butik yang di Paris. Gimana?”

“Paris?” Alluna menatap langit-langit, terlihat berpikir keras hanya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya sudah ia tahu.

“Ayolah!”

Alluna mengetuk-ngetuk bibirnya. “Alluna mau jadi model, tapi ada syaratnya!”

“Apa itu?”

“Alluna maunya pasangan sama Evan, hehehe ...”

Mama Alluna mengernyitkan dahinya sambil tersenyum. “Cuma itu?”

Alluna mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya.

“Oke. Deal!” Mama Alluna mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Alluna. “DEAL!”

 

***

 

Minggu siang, Alluna sudah mengenakan mini dress warna kuning cerah dengan motif bakau di bagian ujungnya. Ia menatap wajahnya di cermin beberapa kali untuk memastikan riasan yang ia pakai cocok dengan dress yang ia gunakan.

“Aku udah di depan.” Alluna membaca pesan Whatsapp dari Evan sambil mengerutkan keningnya. Sejak kapan pakai kata ‘aku’?

Alluna menyimpan ponsel di tasnya yang berwarna senada dengan gaunnya. Ia mengenakan high heels warna hitam dengan hiasan pita kuning. Ia bergegas turun dari kamarnya dan langsung menemui Evan yang sudah menunggu di teras rumah.

“Udah siap?” tanya Evan.

Alluna mengangguk pasti.

Evan langsung bangkit dari kursi, menghampiri Alluna dan langsung merangkul pinggangnya. Ia mengantarkan Alluna sampai benar-benar memasuki mobilnya.

“Van, Mama minta gue jadi model di butiknya.” Alluna memulai pembicaraan saat Evan sudah melajukan mobilnya ke arah Jakarta Pusat.

“Oh ya? Bagus, dong! Kamu suka banget 'kan pake baju-bajunya?” sahut Evan tetap fokus menyetir.

“Iya, sih. Tapi gue nggak tertarik jadi model.”

“Kenapa?”

“Gue pake baju seksi dikit aja lo nggak suka. Gimana kalo nanti gue jadi model? Pasti akan ada saat gue pake pakaian yang seksi banget.”

“Yah, kalo cuma di butik mama aja mah nggak papa. Kamu bisa bilang sama Mama buat pake baju yang nggak terlalu seksi.”

“Kalo gue udah jadi model buat katalog Mama, itu artinya gue bakal jadi model di tempat lain juga. Gue pengen jadi penyanyi, bukan jadi model.”

“Banyak kok penyanyi yang merangkap jadi model. Lagian, kalo cuma buat bantu orang tua, nggak papa kan?”

“Hmm... iya sih. Tapi, gue maunya jadi model kalo sama lo.”

“Aku?”

Alluna mengernyitkan dahinya. “Sejak kapan si kita ngomongnya pake ‘aku kamu’? Gue jadi canggung sama lo.”

“Sejak hari ini. Aku ngerasa, panggilan kayak gini lebih baik dan lebih menghargai hubungan kita.”

“Jadi selama ini lo anggep gue nggak menghargai lo?”

“Bukan gitu, Lun. Aku mau hubungan kita bisa lebih baik lagi. Aku bukan anak SMA lagi. Aku udah mulai ngelola bisnis Papa. Aku udah mulai punya relasi dan aku harus bisa menjaga sikap. Kedengarannya nggak enak kalau pas ketemu sama mereka dan kita masih pake ‘gue elo’,” jelas Evan.

“Oh, I see. Jadi, mulai sekarang pake aku-akuan, nih?” goda Alluna.

“Yah, terserah kamu aja, sih. Yang penting bisa dikondisikan.”

“Siap Pak Bos Evan!”

Evan langsung menatap tajam ke arah Alluna. “Kenapa panggilannya begitu?”

“Terus? Maunya dipanggil apa?”

“Panggil sayang kek, cinta kek, atau apa gitu yang enak!” celetuk Evan.

“Hmm,” Alluna mengetuk-ngetuk dagunya. “Panggil apa ya?”

“Panggil Evan aja, deh! Gitu aja mikir!” sahut Evan ketus.

“Yee, gitu doang marah? Serius amat, Pak?” goda Alluna.

“Kamu tuh sadar nggak sih kalau terkadang kamu lebih nyebelin dari aku!?”

“Ini hasil belajar sama kamu selama setahun,” bisik Alluna.

“Pinter!” Evan mengacak ujung kepala Alluna. Alluna mencebik, membuat Evan tertawa.

 

***

“Van, sepupu lo artis?” tanya Alluna begitu masuk ke Ballroom tempat pesta pernikahan berlangsung.

“Bukan. Istrinya yang artis,” jawab Evan sambil menggandeng Alluna dengan mesra.

“Hai, Van!” sapa seorang cowok yang kebetulan berpapasan. “Apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

“Baik.”

“Cewek lo cantik juga,” seru cowok itu sambil memainkan matanya ke arah Alluna.

“Oh, kenalin. Ini Alluna.” Evan memperkenalkan Alluna pada temannya.

“Joni.” Cowok itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya.

“Alluna.” Alluna membalas uluran tangannya dan menarik secepatnya.

“Bukan Luna Maya kan?”

Alluna menggelengkan kepala, ia mulai tak nyaman dengan tatapan mata Joni.

“Kita ke depan dulu, ya!” pamit Evan sambil menggandeng Alluna untuk menjauh dari Joni.

“Itu temen lo? Eh!? Kamu?” bisik Alluna yang belum terbiasa dengan bahasa ‘aku kamu’.

Evan mengedikkan bahunya. “Nggak penting juga dia temen atau bukan.”

“Kelihatannya agresif banget kayak si Jono? Namanya juga mirip.”

“Oh ya? Dia masih sering godain kamu?” tanya Evan.

Alluna menggelengkan kepala. “Nggak pernah lagi sejak dia jadian sama adik kelas. Udah gitu ceweknya over protektif banget, mana berani dia goda-godain aku,” jawab Alluna sambil tertawa kecil.

“Bagus, deh.” Evan mengambil dua gelas minuman dari tangan waitress yang kebetulan melintas membawa nampan yang berisi gelas-gelas minuman. Ia memberikannya satu gelas pada Alluna.

“Kamu tunggu sini ya! Aku mau ke sana sebentar,” pinta Evan sambil menunjuk ke arah panggung live music.

“Mau ngapain?”

“Biasa.” Evan mengedipkan matanya. “Pegang ini!” Evan menyodorkan gelas minumnya pada Alluna dan berlalu pergi.

“Hai, cantik!” sapa Joni yang tiba-tiba sudah ada di sisi Alluna.

“Hai,” balas Alluna tersenyum kecut melihat Joni  yang tiba-tiba ada di depannya.

“Siapa, Jon?” tanya dua cowok yang ada di belakang Joni.

“Ceweknya Evan?”

“Evan? Evan yang mana?”

“Yang pindah ke Jaksel waktu dia kelas dua,” jawab Joni sambil tersenyum sinis.

“Oh, yang pindah gara-gara skandal sama Reva?” tanya teman satunya.

Mereka bertiga memperhatikan Alluna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan sebaliknya. “Dari Jazz ganti ke Porsche kayaknya, Bro. Boleh juga nih cewek. High Class,” tutur salah satu cowok yang diiringi gelak tawa lainnya.

Alluna mulai tidak nyaman dengan tiga cowok yang terus menggodanya. Ia berharap Evan segera datang dan menyelamatkannya dari godaan cowok-cowok aneh itu. Tak berapa lama, ia sudah melihat Evan muncul dari balik kerumunan tamu undangan.

“Ngapain kalian di sini?” tanya Evan ketus pada tiga cowok yang ada di depan Alluna.

“Cuma mau kenalan sama cewek lo aja. Punya cewek baru, dikenalin lah ke kita-kita,” jawab salah satu teman Joni.

Evan menatap sinis ke arah mereka bertiga. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menarik Alluna menjauh dari tiga orang cowok yang pernah menjadi masa lalunya.

“Ortuku udah dateng, aku kenalin sama mereka, ya?” Evan menggenggam tangan Alluna sambil terus melangkahkan kaki.

Alluna menghentikan langkahnya. 

“Kenapa?”

“Takut.”

“Takut?” Evan mengernyitkan dahinya menatap Alluna.

“Takut ortumu nggak suka sama aku.”

Evan tertawa kecil. “Mereka pasti suka.” Ia menggenggam erat tangan Alluna. Ia bisa merasakan tangan Alluna lebih dingin dari biasanya. “Kamu beneran nervous?” bisik Evan.

Alluna mengangguk, terlebih ia sudah semakin dekat dengan keluarga besar Evan yang sedang berkumpul. Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada Evan dan Alluna yang baru saja muncul.

Evan langsung menyalami perempuan setengah baya yang wajahnya sangat mirip dengannya. “Bun, kenalin. Dia Alluna.”

Alluna tersenyum menganggukkan kepalanya. “Alluna,” ucap Alluna sambil mengulurkan tangannya.

“Wah, cantik sekali!” Bunda Evan menyapanya dengan wajah sumringah. “Lebih cantik dari yang di foto,” bisik bundanya di telinga Evan.

“Ah, Tante bisa aja.” Alluna tersipu mendengar pujian dari Bunda Evan.

“Jangan panggil Tante, panggil Bunda aja!” pinta Bunda Evan sambil mengelus rambut Alluna.

“Boleh panggil Bunda?”

“Boleh banget!”

Malam itu menjadi malam di mana Alluna mengakrabkan diri dengan Evan dan keluarganya. Alluna mendapat banyak kejutan, bukan hanya perkenalan dengan keluarganya. Tapi, ia juga berduet di atas panggung bersama Evan dan disaksikan beberapa artis ibukota yang juga hadir di acara tersebut.

Kejutan terakhir adalah ketika Evan mengajaknya berdansa. It’s first time, bahkan Alluna belum pernah berdansa sebelumnya.

Masih ada kejutan lain yang tidak akan pernah terlupakan oleh Alluna begitu saja. Bukan tentang romantisme dan kemewahan di acara pesta pernikahan. Tapi, ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Van, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Alluna datar.

“Boleh, tanya apa?”

“Tapi janji kalo lo bakal jujur dan nggak akan ngebohongin gue sedikitpun!” pinta Alluna.

“Kamu kenapa sih tiba-tiba nanya kayak gini? Ngomongnya udah balik pake ‘gue elo’?” Evan menatap Alluna sejenak dan kembali fokus menyetir.

Alluna bergeming, wajahnya datar. Tidak seperti biasanya.

Evan menyadari perubahan Alluna yang terlihat tidak seperti biasanya. Ia menepikan mobilnya. “Mau tanya apa?” tanya Evan lembut.

“Reva siapa lo?” tanya Alluna ketus.

Evan menundukkan kepalanya, mendesah kesal dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Alluna menatap wajah Evan, berharap mendapatkan jawaban jujur dari mulut cowok yang sudah setahun menjalin hubungan dengannya.

“Mereka ngomong apa aja sama kamu?” tanya Evan tanpa menoleh sedikitpun. Ia memandang lurus ke jalanan, tangannya memegang setir erat-erat menahan emosi.

“Nggak ngomong apa-apa. Gue cuma denger mereka cerita soal skandal lo sama Reva.”

“Itu masa lalu aku. Nggak usah dibahas, ya!” pinta Evan.

Why? Telling me!

“Nggak sekarang.” Evan menggelengkan kepalanya.

Why?

“Aku bakalan cerita, tapi nggak sekarang.” Evan masih bersikap lembut.

“Kenapa sih lo masih nggak mau jujur sama gue? Gue selalu cerita apa pun tentang hidup gue. Nggak ada yang gue tutupin satu pun.”

“Kalau waktunya udah tepat, aku bakal cerita sama kamu. Nggak sekarang. Please, ngertiin aku!”

Alluna bergeming. Ia tak banyak bertanya lagi, memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan pulang. Laki-laki selalu punya rahasia dalam hidupnya, yang bahkan pasangannya sendiri pun tidak boleh tahu.


((Bersambung...))

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas