Hari pertama masuk kuliah, Alluna terlihat bahagia karena bisa satu kampus dengan Evan. Evan berhasil membujuk Mama Alluna agar tak memindahkan Alluna ke luar negeri, ke negara mana pun itu. Konsekuensinya, mereka harus mau menjadi model katalog untuk produk-produk fashion dan kuliner milik mamanya.
Evan menggandeng tangan Alluna sejak keluar dari mobil sampai menyusuri koridor kampus. Kehadiran Alluna mampu menyedot beberapa pasang mata cowok-cowok kampus. Semua terpesona oleh kecantikan Alluna.
Berbeda dengan para cewek pengagum Evan. Mereka menatap Alluna sinis, mereka merapatkan barisan untuk menjadi haters Alluna sejak hari pertama.
“Oh, jadi lo pacarnya Evan Noah?” Alluna dihadang oleh empat orang cewek yang tidak lebih tinggi darinya begitu ia terpisah dengan Evan.
“Iya. Kenapa?”
“Kenalin, gue Stella. Semoga lo betah ya kuliah di sini.” Stella mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“Alluna,” balas Alluna.
“Oh, Alluna.” Stella mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sorry, gue mau lewat.” Alluna menunjuk ke arah belakang Stella.
“Oh, silakan!” Stella memiringkan tubuhnya, memberikan ruang untuk Alluna. Namun, ia tidak benar-benar bersikap manis. Ia menjegal kaki Alluna sampai gadis itu tersungkur ke lantai.
Alluna menahan amarah melihat kelakuan Stella.
“Lun, lo nggak papa?” Rani dan dua sahabatnya tiba-tiba muncul dan membantu Alluna bangkit. Mereka juga mendaftar di Universitas yang sama.
“Nggak papa. Gue cuma kesandung setan aja,” jawab Alluna sambil menekankan kata setan lebih keras.
“Eh, apa lo bilang barusan?” Stella yang beranjak pergi langsung membalikkan badannya dan menghampiri Alluna.
“Dijegal setan.” Alluna mendekatkan wajahnya ke Stella.
“Lo ngatain gue setan? Berani lo sama gue? Anak baru aja belagu, mentang-mentang pacarnya Evan!?”
“Lo yang mulai duluan, lo sengaja kan jegal kaki gue!” sentak Alluna.
Stella langsung menarik rambut Alluna dengan geram.
Alluna tidak tinggal diam. Ia langsung membalas perbuatan Stella saat itu juga dan mereka berduel. Hastri dan yang lainnya bingung dan tidak berani memisahkan keduanya. Beberapa mahasiswa juga hanya bisa menonton dan tidak ada yang berani cari masalah dengan Stella.
“Van...!” Salah seorang mahasiswa terlihat berlari menghampiri Evan saat dia sudah sampai di pintu kelas.
“Kenapa?”
“Cewek lo berantem sama Stella,” jawabnya dengan napas tersengal.
“Serius? Di mana?”
Cowok itu menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa. Evan lansung berlari dengan cepat, menyingkirkan kerumunan mahasiswa yang mengerubungi Alluna dan Stella yang sedang berduel.
Evan melipat kedua tangannya sambil tersenyum saat melihat Alluna sudah duduk di perut Stella sambil mencekik rahang Stella.
Evan menghampiri Alluna dan mengulurkan tangannya untuk bangkit.
Alluna menyambut uluran tangan Evan dan bangkit. “Awas lo cari gara-gara sama gue lagi!” sentak Alluna sambil menendang pelan pinggang Stella.
“Mampus lo!” Beberapa mahasiswa justru memaki Stella karena sikapnya yang sok berkuasa di kampus. Akhirnya, ada juga yang berani melawan Stella.
“Sial!” Stella bangkit dan merapikan roknya. “Gue bakal bikin perhitungan sama lo!” teriaknya.
“Hitungin aja sendiri! Gue mah ogah!” Alluna menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi bersama Evan yang merangkul pinggangnya dengan mesra.
“Nggak nyangka kalo pacarku jagoan juga,” bisik Evan. Ia mengantar Alluna untuk memastikan kalau pacarnya aman sampai masuk ke kelas.
***
Mata kuliah Alluna selesai lebih dahulu dari Evan. Ia menunggu Evan di taman yang dekat dengan parkiran, berdekatan dengan mobil Evan.
“Hai, cantik!” sapa seorang cowok yang tiba-tiba duduk di sebelah Alluna.
“Lo? Kok, di sini?” Alluna terkejut melihat Joni yang tiba-tiba sudah ada di sisinya. “Kuliah di sini juga?”
“Emang harus kuliah di sini buat ketemu sama cewek secantik lo?” Joni tersenyum licik. Di ujung parkiran, dua orang temannya sedang bersandar di mobil sambil memperhatikan aksi Joni mendekati Alluna.
Alluna tidak menjawab. Ia memainkan ponsel dan mengirim chat untuk Evan. “Aku nunggu kamu di taman deket parkiran. Mata kuliah kamu masih lama? Ada Joni temen kamu itu deketin aku.” Alluna menekan tombol send dan menunggu balasan dari Evan.
“Tumben sendirian? Bodyguard lo ke mana?”
“Masih ada kelas,” jawab Alluna ketus.
“Jutek amat, sih?” Joni menyolek dagu Alluna.
“Eh!? Sopan dikit ya!” sentak Alluna sambil menepis kasar tangan Joni.
“Nggak usah sok jual mahal apalagi sok suci. Gue tahu banget selera Evan kayak gimana.” Joni tersenyum sinis.
Alluna tidak menyahut. Ia menatap ke depan dan menganggap tidak ada siapa pun di sampingnya.
“Gue bisa kasih lo kenikmatan yang lebih dari Evan kasih ke lo.” Joni menatap Alluna dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Van, buruan ke sini dong!” batin Alluna dengan jantung yang semakin berdebar.
Joni mulai menyentuh bahu Alluna dan mulai merayap.
“Apaan sih lo!?” sentak Alluna terus menepis tangan Joni. Joni hanya tersenyum penuh nafsu.
BUG!
Sebuah tinjuan mendarat di wajah Joni. Evan datang di saat yang tepat. Ia merasa tidak enak dan langsung meninggalkan mata kuliah yang masih berlangsung.
“Lo ngapain ke sini? Jelas-jelas lo bukan anak kampus sini!” sentak Evan dengan napas memburu.
“Tenang, Bro! Gue ke sini cuma buat mastiin kalo si cantik ini bakal baik-baik aja sama lo.” Joni melirik ke arah Alluna sambil memegangi wajahnya yang memar karena tinjuan Evan.
“Dia cewek gue, dia bakal baik-baik aja. Lo jangan pernah ganggu dia!” Evan menarik lengan Alluna untuk merapat pada tubuhnya.
Joni tersenyum sinis. “Reva juga cewek lo, dan dia nggak baik-baik aja,” bisiknya.
Evan terdiam setiap kali Joni menyebut nama Reva.
“Gue takut, dia bakal bernasib sama kayak Reva.” Joni menunjuk Alluna dengan dagunya sambil tersenyum sinis.
Evan mengeratkan giginya, tangannya mengepal, matanya memerah dan bersiap menyerang Joni.
“Van, kita pulang yuk!” Alluna menarik lengan Evan, satu tangannya melingkar di perut Evan agar ia segera membalikkan tubuhnya untuk pergi.
Evan menuruti permintaan Alluna dan berlalu pergi meninggalkan Joni.
“Gue nggak akan nyerah gitu aja sampe gue dapetin dia!” teriak Joni saat Evan sudah berjalan beberapa langkah di depannya.
Evan menoleh ke belakang, menatap Joni penuh amarah. “Gue nggak akan ngebiarin lo deketin Alluna walau cuma sejengkal!”
Joni tergelak. “Dulu gue ngalah sama lo karena gue pikir Reva bakal bahagia sama lo. Nyatanya, lo yang bilangnya cinta sama dia. Malah bikin dia mati!”
Evan menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya. “Mau lo apa ke sini? Kalo cuma buat cari masalah, mending lo pergi sekarang juga!”
Joni tertawa. “Uuh... jangan emosi gitu! Gue kangen aja sama BEKAS sahabat gue ini. Btw, sudah lama juga kita nggak main basket bareng.” Joni tersenyum licik.
Evan menatap tajam ke arah Joni. Tak mengeluarkan sepatah kata pun dan langsung membalikkan tubuhnya, menarik lengan Alluna untuk secepatnya masuk ke dalam mobil.
“Kalo lo menang tanding basket sama gue, gue nggak akan ganggu cewek lo selamanya. Tapi kalo lo kalah, cewek lo buat gue!” teriak Joni.
Evan mendengar tantangan Joni. Namun ia tidak mau menanggapinya. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi.
Di sudut lain, Stella tersenyum licik saat menyaksikan perkelahian antara Joni dan Evan.
***
“Alamatnya di mana?” tanya Evan saat mereka sudah berada di dalam mobil untuk berangkat ke acara pesta pernikahan teman sekelas Alluna.
“Bentar.” Alluna melihat kembali denah yang ada di undangan. “Ini di Cilandak. Masuk gang gitu.”
“Coba lihat!” Evan menyambar kertas undangan di tangan Alluna.
“Acaranya nggak di gedung, ya?” tanya Evan.
“Kayaknya sih di rumahnya. Kamu tahu kan biaya sewa gedung itu nggak murah. Nikah di rumah sendiri kan bisa hemat biaya,” jawab Alluna.
“Jadi, kita nanti nikahnya di mana, ya? Di gedung atau di rumah?” tanya Evan.
“Di KUA.”
Evan tergelak. “Ya, ya. Bener!”
“Kamu ngomongin nikah mulu. Emang udah kebelet banget, ya?” tanya Alluna sambil menyondongkan badannya. Memperlihatkan belahan dada yang terbuka karena gaun warna hijau yang ia kenakan memang terbuka dan tanpa lengan.
Evan memandang tubuh sexy Alluna sambil menggaruk kepalanya dan kembali fokus menyetir. “Gimana aku nggak kebelet kalo kamu mancing nafsuku terus?”
“Ini bukan sih acaranya?” tanya Alluna saat mereka melihat tenda pernikahan yang mereka temui di wilayah Cilandak.
“Bukan. Di denah bukan itu.”
“Jangan-jangan denahnya salah.”
“Kamu yang salah. Ini denahnya masih jauh.”
“Oh, Oke.”
“Banyak banget orang nikahan,” celetuk Evan saat mereka kembali melewati tenda pernikahan.
“Iya, ya? Lagi musim kawin deh kayaknya.”
Evan tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Alluna. “Lu kira kodok?”
“Habisnya udah ada tiga tenda pernikahan yang kita temuin di daerah sini aja.”
“Iya, tapi kalo manusia itu nggak ada musim kawinnya. Mau kawin kapan aja bisa,” sahut Evan.
“Hehehe.” Alluna meringis.
Evan menepikan mobilnya begitu sampai di tempat acara. Alluna dan Evan langsung masuk ke tempat acara seperti biasa. Namun, mereka sedikit kecewa karena hidangan untuk tamu sudah habis.
“Nggak papa, kita makan di luar aja nanti,” bisik Evan.
Alluna mengangguk. Ia duduk sejenak di meja tamu sambil memakan cemilan yang masih ada di meja. Mereka tidak berlama-lama, langsung berpamitan.
“Kita datengnya kesorean deh kayaknya. Makanya makanannya udah habis,” ucap Alluna sambil memakai safety belt-nya.
“Kamu tahu nggak itu artinya apa?”
“Tamunya rame?”
“Bukan.”
“Makanannya kurang?”
“Bukan itu maksud aku.”
“Terus?”
“Kita bisa makan di luar.” Evan mengedipkan matanya.
“Oh, kirain apaan?” Alluna nyengir. Mereka memang jarang sekali makan di luar. Terbiasa makan bareng di rumah.
“Lun...!” panggil Evan sambil fokus menyetir.
“Ya.”
“Kalo ntar kita nikah. Cari WO yang bagus, ya!”
Alluna menghela napas. “Van, kita ini masih kuliah. Kenapa ngomongin nikah mulu, sih?”
“Ya, nggak papa. Daripada ngomongin mati? Lagian, bisa kita rencanain dari sekarang 'kan sampe kamu siap?”
“Hmm...”
“Kenapa sih kalau ngomongin nikah, kamu selalu aja kayak gitu. Kamu nggak mau nikah sama aku?”
“Mau, Evan sayang.”
“Terus? Kenapa nggak mau diajak nikah?”
“Mau.”
“Kata orang, yang ngajak pacaran bakal kalah sama yang ngajak nikah. Makanya, aku tuh ngajak kamu nikah. Biar nggak keduluan sama yang lain.”
“Keduluan siapa emangnya? Joni?” Alluna tertawa menggoda.
“Nggak lucu, Lun!" Evan langsung masam begitu nama Joni disebut Alluna. “Kamu suka sama dia?”
“Yah, dia lumayan ganteng, tinggi, putih. Mmh ... bisa dipertimbangkan.” Alluna melirik ke arah Evan sambil tersenyum nakal.
Evan langsung menghentikan laju mobilnya saat itu juga.
“Pelan-pelan, Van!”
“Aku nggak suka kamu ngomongin Joni. Apalagi kamu bilang dia ganteng lah, tinggi lah, putih lah atau apa pun itu. Awas aja kalo kamu sampe deket-deket sama dia!” ancam Evan.
“Why? Cemburu, ya?” Alluna menunjuk hidung Evan sambil tertawa menggoda.
“Eh!? Ya iya lah, aku cemburu.”
Alluna tersenyum bahagia sambil mengusap pipi Evan. “Iya. Aku nggak bakal ke mana-mana, kok. Aku bakal ada di sini terus, sama kamu.”
“Janji?” Evan mengangkat jari kelingkingnya.
Alluna tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya. “Janji.”
Evan tersenyum dan kembali melajukan mobilnya menuju restoran favorite mereka.
“Lun, aku serius pengen nikah sama kamu,” ucap Evan saat mereka sudah duduk di meja makan.
“Ntar aja ngomongin nikahnya, ya? Aku laper.” Alluna menyendok makanan ke mulutnya.
Evan tersenyum dan melanjutkan makan.
“Hai, boleh gabung?” sapaan Joni membuat Evan tersedak. Buru-buru ia mengambil minum dan menenggaknya.
Alluna tersenyum, dikepalanya tiba-tiba muncul ide jahilnya. “Boleh.”
“Lun?” Evan melotot ke arah Alluna.
“Nggak papa kali. Kalian dulu kan temenan? Nggak ada salahnya kan? Toh, Joni udah bermaksud baik sama kamu?” Alluna tersenyum menatap Evan.
Joni tersenyum senang karena Alluna membelanya. “Iya, Van. Gue pengen hubungan kita bisa baik kayak dulu lagi.”
Evan menangkap gelagat Joni, ia tahu kalau Joni tidak benar-benar bermaksud baik. Dia pasti melakukan ini hanya karena ingin membalas dendam atas kematian Reva.
“Van, kamu jangan sinis gitu, dong! Dia baik, kok.” Alluna menyenggol lengan Evan.
Evan meletakkan sendok menelungkup dan mendorong piringnya maju. “Nggak nafsu makan gue.”
Alluna tersenyum jahil melihat Evan yang terbakar cemburu. Ia belum pernah seperti ini walau Alluna seringkali digoda oleh banyak cowok di sekolah atau di kampusnya. Joni, satu-satunya cowok yang berhasil bikin Evan benar-benar cemburu.
Joni tertawa kecil dan langsung memesan minuman.
“Nggak makan?” tanya Alluna menatap Joni yang ada di depannya. Sesekali ia melirik ekspresi wajah Evan di sampingnya yang terlihat kesal.
“Nggak. Gue masih kenyang.” Joni tersenyum manis ke arah Alluna sambil melirik Evan.
“Kenyang kok ke sini?”
“Nggak papa. Pengen ketemu lo doang.”
“Oh.” Alluna melanjutkan makannya.
“Kalian dari mana?”
“Kondangan,” jawab Alluna.
Evan mulai tak nyaman dengan obrolan mereka. Ia menyenggol kaki Alluna berkali-kali dan memberi isyarat untuk pergi. Tapi, Alluna malah tersenyum dan melanjutkan perbuatan jahilnya.
“Kondangan? Kok, masih makan di restoran?”
“Iya. Soalnya pas ke sana, makanannya udah habis. Jadi kita makan di sini, deh.” Alluna tertawa kecil.
“Hahaha. Kasihan banget. Pasti tuan rumahnya malu banget tuh kalo sampe kehabisan makanan? Jangan sampe deh kalo gue nikah kayak gitu,” ucap Joni sok akrab.
Evan menyenggol kaki Alluna dan memberi isyarat untuk pulang. Alluna cepat-cepat menghabiskan makannya dan berpamitan.
“Kita duluan, ya!” Pamit Alluna.
Joni mengangguk sambil tersenyum manis.
Evan langsung menarik lengan Alluna dan tidak berkata apa pun sampai mereka masuk ke apartemen.
“Aku nggak suka kamu ngobrol sama Joni sok akrab kayak gitu!” sentak Evan sambil membanting pintu.
“Kenapa? Dia baik. Lagian cuma ngobrol doang. Sama aja kayak ngobrol sama yang lain.” Alluna melangkahkan kakinya menuju sofa.
“Tapi nggak sama dia.”
“Why?”
Evan mengepal tangannya dan berteriak kesal. Ia menendang sofa yang diduduki Alluna.
“Kamu cemburu?”
“Menurut kamu?”
“Cemburu.”
“Ya udah, nggak udah ladenin dia lagi!”
“Iya,”
“Jangan iya-iya aja! Ntar kamu masih mau aja dideketin sama dia. Lama-lama kamu tuh bikin aku emosi!”
“Aku tuh tadi sengaja bikin kamu cemburu. Udah ah, serius amat sih ngomongin Joni. Aku haus.” Alluna bangkit menuju dapur.
Evan menghela napas. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan mengamati Alluna yang sedang minum di dapur.
“Lun, aku nggak mau kehilangan kamu.” Evan menghampiri Alluna dan memeluknya dari belakang.
Alluna bergeming. Evan masih menyandarkan dagunya pada bahu Alluna. Alluna membalikkan tubuh, melingkarkan tangannya ke leher Evan. “Do you believe me? I’m yours.”
***
Evan dibuat gusar dengan kehadiran Joni di antara hubungannya dengan Alluna. Baginya, ini jauh lebih sulit dari menghindari Stella yang juga tak henti menggodanya.
Stella dan Joni hampir sama. Sama-sama psikopat. Mereka secara terang-terangan berusaha mengambil pacar orang. Mereka selalu mencuri kesempatan untuk bisa mendekati target mereka masing-masing.
TING!
Alluna membuka pesan Whatsapp dari nomor asing yang mengirimkan foto Evan dan Stella yang terlihat sangat mesra di dalam kelas.
Alluna menggigit bibir bawahnya. Ia menekan tombol teruskan dan meneruskan pesan gambar itu ke Evan. “Ini lagi ngapain?” tanya Alluna disertai dengan angry emot.
Beberapa menit kemudian, pesan yang ia kirim sudah bercentang biru. Alluna mengetuk-ngetuk meja, menunggu balasan dari Evan. Sampai menit ke sepuluh, belum ada balasan pesan dari Evan. Ia ingin mengetik pesan kembali, namun niatnya ia urungkan saat melihat Evan masuk ke ruangan kelasnya.
“Cari siapa?” tanya dosen yang mengajar.
“Alluna, Pak,” jawab Evan.
“Bisa nanti kalau mata kuliah saya udah kelar?” Dosen itu menatap Evan sambil menurunkan posisi kacamatanya.
Evan tidak peduli dengan ucapan dosen tersebut. Ia tetap nyelonong masuk dan menarik Alluna keluar dari kelasnya.
“Foto itu nggak seperti yang kamu pikir. Kamu tahu Stella, dia sengaja bikin ini buat ngancurin hubungan kita,” Evan melepaskan lengan Alluna begitu sampai di tempat yang sepi.
“I know. Tapi, kenapa kamu diam aja waktu Stella duduk di pangkuan kamu. Terus kamu biarin aja tuh tangannya ngerangkul kamu mesra banget kayak gitu?”
“Lun, aku udah nolak. Aku nggak tau kalo Stella tiba-tiba dateng dan langsung duduk di pangkuan aku. Aku nggak bisa menghindar lagi.”
“Aku nggak tahu kamu jujur atau bohong. Bisa aja kalian ada main di belakang aku, kan?” sahut Alluna.
“Kamu nggak percaya sama aku?” tanya Evan.
“Aku percaya. Tapi, kamu yang sering hilangin kepercayaan aku. Jangan-jangan kamu emang udah lama ada main sama Stella, makanya sampe sekarang dia masih ngejar-ngejar kamu terus.”
“Lun, aku nggak kayak gitu.”
“Terus? Kayak gini?” Alluna makin kesal.
Evan mendesah kesal. “Kenapa nggak percaya sama aku?”
“Gimana aku mau percaya sama kamu. Foto itu mesra banget. Kamu pikir aku buta!?” sentak Alluna.
“Lun, ini nggak seperti yang kamu pikir.”
“Bisa aja setelah gambar ini diambil, kalian malah ciuman mesra di dalam kelas. Atau jangan-jangan kamu juga sudah tidur sama dia?” Alluna mendelik ke arah Evan.
PLAK!
“Jaga mulut kamu!” Evan menampar Alluna.
Alluna memegangi pipinya yang terasa perih. Air matanya menetes, menatap Evan penuh rasa kecewa. Ia tidak menyangka kalau Evan akan menamparnya.
“Lo jahat, Van!” Alluna berlari masuk ke dalam kelasnya.
Evan menatap telapak tangannya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia sama sekali tidak bermaksud menampar Alluna. Tuduhan Alluna benar-benar membuatnya refleks menampar gadis itu.
“Aargh...!” Evan meninju lantai yang ada di depannya. Ia menyesal telah menyakiti Alluna.
Sementara di ujung sana, ada seseorang yang tersenyum penuh kemenangan melihat pertengkaran mereka. Ia menempelkan ponsel di telinga dan berkata, “sekarang giliran lo.”
***
Seisi kelas dibuat heboh dengan kedatangan Alluna yang sedang menangis. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja. Rani, Hastri dan Austin saling pandang penuh tanya.
“Kenapa, Lun?” tanya Hastri yang ada di sampingnya.
“Evan nampar gue,” jawab Alluna terisak.
Rani dan Austin ikut terkejut mendengarnya. “Serius? Gara-gara apa?”
“Gue nuduh dia ada main sama Stella. Dia malah nampar gue.”
Rani menghela napasnya. “Lo kayak nggak tau Stella aja. Miss hoax gitu lo percaya?”
Alluna menyodorkan ponsel yang memperlihatkan foto Evan dan Stella sedang bermesraan di dalam kelas.
“Oh, Emji!” teriak Hastri.
Tak berapa lama, Evan menyusul masuk ke dalam kelas dan langsung menghampiri Alluna.
Evan tak menghiraukan. “Lun, maafin aku!” Evan langsung menggenggam tangan Alluna. “Aku nggak sengaja. Aku nggak ada niat sedikitpun buat nampar kamu. Please, maafin aku!” Evan mencium bahu tangan Alluna.
Alluna menepiskan tangan Evan. Ia masih belum bisa menerima tamparan dari Evan kali ini. Ia masih tidak mengerti kenapa Evan tega memperlakukannya seperti ini.
Alluna menarik tubuhnya. Ia meraih tas dan buru-buru keluar dari kelas.
Alluna terus berlari keluar dari kampus menghindari Evan.
“Lun, tunggu!” Suara Evan tak lagi ia hiraukan. Ia berharap ada taksi yang lewat dan bisa membawanya pegi jauh dari Evan.
“Hai, cantik. Kok nangis? Mau pulang bareng?” Tiba-tiba mobil Joni sudah ada di depan Alluna.
Alluna melangkahkan kaki mendekati mobil Joni. Joni membukakan pintu mobilnya dan meminta Alluna untuk masuk.
“Jangan, Lun!” Evan menarik lengan Alluna.
Alluna menepis tangan Evan. Ia langsung masuk ke mobil Joni.
“Lun, maafin aku!” teriak Evan.
“Cepet jalan!” sentak Alluna tanpa menghiraukan teriakan Evan.
Joni yang tersenyum penuh kemenangan menyaksikan pertengkaran itu langsung gelagapan dan menstarter mobilnya.
Demi apa pun, Evan tidak rela kalau Alluna sampai masuk ke dalam mobil Joni. Ia berlari ke parkiran untuk mengambil mobil dan mengejar Joni.
“Austin, tolong gue!” Evan menyetir dengan panik sambil menelepon Austin.
“Kenapa?” tanya Austin di ujung telepon.
“Alluna dibawa pergi sama Joni.”
“What!? Are you serious?”
“Udah. Jangan kebanyakan tanya. Suruh anak-anak lain ngejar mobil Joni sekarang! Aku share location.”
“Ok.”
Evan menutup telepon dan kembali fokus mengejar mobil Joni. “Lun, please! Jangan sama Joni!”
“Lo nggak bisa bawa mobil laju dikit?” tanya Alluna ketus.
Joni tersenyum licik sembari menatap kaca spion mobilnya. Ia menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya lebih kencang.
Evan semakin kesal karena Joni tidak mau berhenti dan justru melaju lebih cepat.
“Kita mau ke mana?” tanya Joni.
“Ke mana aja asal nggak ketemu sama Evan.”
“Kalian lagi berantem?” tanya Joni.
“Menurut lo?”
Joni tak lagi bertanya. Ia terus melajukan mobil dengan kecepatan tinggi masuk ke tol.
“Awas, Jon!” teriak Alluna begitu melihat sebuah truk besar memasang lampu sein untuk menepi beberapa meter dari mereka.
Joni berusaha menghentikan laju mobil agar tidak menabrak sembari membanting setir ke kanan agar bisa melewati truk tersebut.
BRAK!!!
Benturan keras tidak terhindarkan. Badan kiri mobil Joni menyerempet truk dan mobil mereka terguling.
Evan melihat kejadian itu dari jarak jauh. Ia langsung menepikan mobilnya tepat di belakang truk bersama mobil-mobil lain yang ikut berhenti.
“Alluna...!” teriaknya sambil berlari mendekati mobil Joni yang ringsek. Pintu mobil tempat Alluna duduk sudah terlepas dari tempatnya. Ia melihat Alluna terluka parah. Darah segar mengucur dari kepala. Tangan dan kaki kirinya penuh darah.
“Van...!” panggil Alluna lirih, ia masih menyadari kedatangan Evan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Evan langsung melepas safety belt yang membelit tubuh Alluna. Ia menatap tajam ke arah Joni yang keadaannya jauh lebih baik dari Alluna.
Evan mengangkat tubuh Alluna dan memasukkan ke dalam mobil, ia dibantu oleh orang-orang yang kebetulan ikut berhenti. Ia tidak peduli dengan Joni. Yang ia lihat, Joni hanya terluka sedikit saja. “Makasih, Pak!” ucap Evan pada orang-orang yang sudah membantunya. Ia langsung bergegas masuk ke mobil.
“Jangan laju-laju, Mas!” pesan orang-orang yang menolongnya.
Evan menganggukkan kepala, membawa Alluna ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Alluna dinyatakan kritis dan harus menjalani perawatan di ICU.
((Bersambung))
0 komentar:
Post a Comment