Monday, June 29, 2026

Partner Kondangan Bab 6 : Pernikahan Keluarga

 



Paris.

“Pa, lihat, deh!” Mama Alluna menunjukkan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya.

“Siapa? Model baru Mama?”

“Bukan, tapi akan,” jawab Mama Alluna sambil tersenyum. “Kayaknya mereka cocok buat kita jadiin model katalog kita yang baru.”

Papa Alluna meraih ponsel milik sang istri dan memperhatikan foto seorang gadis yang duduk di kursi berwarna putih emas. Gadis itu memakai gaun warna biru terang dengan motif batik berwarna putih di beberapa bagian. Terlihat sangat anggun dan elegan. Kakinya yang jenjang ditumpuk, memperlihatkan kakinya yang indah dengan sepatu high heels warna biru emas. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan berjas hitam cokelat. Satu tangannya bersandar di ujung sandaran kursi. Sangat serasi, layaknya pangeran dan puteri kerajaan. Ia memperhatikan kembali gadis itu dengan seksama karena wajahnya sangat familier.

“Ini Alluna?” tanya Darwis, Papa Alluna.

“Iya, Pa. Masa sama anak sendiri pangling?”

Darwis, Papa Alluna tersenyum menatap layar ponsel. “Nggak terasa dia sudah besar dan jadi gadis yang cantik.”

“Ya iya, dong. Siapa dulu mamanya?” puji Mama Alluna pada dirinya sendiri.

Darwis tersenyum menatap Lena, istrinya. Mereka merasa sangat bahagia karena telah melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa. Kerja keras mereka selama ini terbayarkan. Memberikan kebahagiaan untuk kedua anaknya, juga mendidiknya dengan baik. Mereka bersyukur punya keluarga yang baik, punya dua orang anak yang baik dan berprestasi.

 

***

Waktu berlalu begitu cepat. Sepertinya, baru kemarin Alluna memakai seragam putih abu-abu. Sekarang, dia sudah di penghujung kelas tiga. Itu artinya, dia akan lulus SMA dalam hitungan minggu.

Banyak hal yang telah ia lalui. Tentang persahabatannya dengan Austin, Hastri dan Rani. Tentang kisah cintanya dengan Evan yang kini sudah kuliah. Awalnya, Evan ingin kuliah di luar negeri. Tapi, karena Alluna yang manja dan terus merengek agar Evan tetap tinggal. Evan mengurungkan niatnya dan tetap kuliah di Jakarta. Sehingga mereka masih bisa sering bertemu.

Beberapa minggu belakangan, Alluna menjaga jarak hubungannya dengan Evan karena ingin fokus dengan ujian sekolah. Terkadang, Evan memang sering mengganggu pikirannya. Ia bersyukur karena Evan mau mengerti. Ia jarang menelepon Alluna apalagi datang ke rumah.

 

***

“Hai, Van!” sapa Stella, gadis cantik terpopuler di kampus tempat Evan kuliah. Tanpa segan ia langsung merangkul lengan Evan.

“Apaan, sih lo!” Evan menepis tangan Stella.

“Galak amat, sih!? Gue suka deh cowok galak dan macho kayak lo,” goda Stella.

Evan tidak menghiraukan Stella. Ia tetap melangkahkan kaki menuju mobilnya.

Stella tak patah semangat, ia terus mengikuti Evan dan masuk ke mobil pria itu.

“Lo ngapain sih ikut masuk mobil gue? Keluar!” sentak Evan.

“Van, gue pengen sekali-sekali naik mobil lo. Ajak gue jalan ke mana gitu.”

“Gak nafsu gue jalan sama lo. Lo cari cowok yang lain aja! Keluar dari mobil gue sekarang!”

“Galak amat, sih!” celetuk Stella, ia keluar dari mobil Evan dan membanting pintu dengan keras.

Evan menggelengkan kepalanya. “Cewek gila!” umpatnya. Ia menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran kampus menuju SMA 28, tempat Alluna bersekolah.

Di sana, gadis cantik berseragam putih abu-abu sudah menunggunya. “Udah lama nunggunya?” tanya Evan membukakan pintu mobil untuk Alluna.

“Nggak. Gue baru aja keluar kelas, kok.” Alluna langsung masuk ke dalam mobil. Evan menutup pintu dan berjalan menuju pintu sebelahnya. Duduk di belakang setir dan mulai melajukan mobilnya.

“Gimana pelajaran hari ini?” tanya Evan.

“Hmm, lumayan bikin pusing.”

“Dibawa santai aja. Jangan sampai setres karena mikirin ujian. Lo pasti lulus, kok.”

Alluna tersenyum menatap Evan. “Dulu, waktu lo mau ujian. Emang nggak kepikiran?”

Evan mengedikkan bahunya. “Enggak. Buktinya gue santai aja. Masih jalan sama lo waktu mau ujian.”

“Hmm, iya sih. Gue kok nggak bisa kayak lo, ya?” gumam Alluna.

Evan tertawa kecil sambil mengusap ujung kepala Alluna. Ia kembali fokus menyetir. “Oh ya, minggu depan temenin gue ke acara nikahan kakak sepupu gue, ya!” pinta Evan.

“Oke. Di mana?” tanya Alluna.

“Di Jakpus.”

Alluna mengangguk. Ia mengambil ponsel di tas yang ia pangku dan membalas chat grup tiga sahabatnya.

Evan menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah Alluna.

“Udah sampai?” tanya Alluna, ia tahu pertanyaannya itu tidak penting untuk ditanyakan.

“Main hape mulu.”

Alluna cengengesan. Cepat-cepat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, tapi ponselnya malah terjatuh.

Evan menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan sifat Alluna yang ceroboh.

Alluna menundukkan badannya untuk mengambil ponsel yang terjatuh di bawah kakinya. Ia meraba dan menemukan sebuah benda kecil yang langsung membuatnya melirik tajam ke arah Evan.

“Kenapa?” tanya Evan melihat wajah Alluna menahan amarah.

“Ini punya siapa?” tanya Alluna menyodorkan sebuah lipstik berwarna emas tepat di depan wajah Evan.

Evan mengernyitkan dahinya. “Bukan punya lo?”

“Gue nggak pernah pake lipstik merk ini. Ini lipstik siapa, Van!?” sentak Alluna, ia menahan air matanya yang sudah berlinang. Evan selingkuh sama cewek lain, itu yang terlintas di pikirannya.

“Gue nggak tau.” Wajah Evan memerah karena dia tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri tidak tahu kenapa ada lipstik di dalam mobilnya.

“Lo selingkuh?”

“Enggak.”

“Bohong!”

“Gue nggak tau kenapa lipstik itu ada di mobil gue.”

“Lo kira gue bodoh? Mana ada lipstik jalan sendiri masuk ke dalam mobil kalo lo nggak baca cewek masuk ke dalam mobil lo!” Alluna membuka pintu mobil dan membantingnya dengan kasar.

“Lun ...!” panggil Evan, ia langsung mengejar Alluna yang berlari masuk ke dalam rumah.

“Ada apa?” tanya Mama Alluna. Ia terkejut melihat anaknya pulang dalam keadaan menangis.

Alluna tidak menjawab, ia berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.

“Ada apa, Van?” tanya Mama Alluna yang melihat Evan menyusul.

“Salah paham, Tante.”

Mama Alluna mengernyitkan dahinya. Ia menangkap kepanikan di wajah Evan. “Duduk dulu, cerita sama tante! Alluna kalau lagi ngambek, susah dirayu. Biarkan saja dulu dia nangis.”

Evan mengacak rambutnya. “Tapi, Tante.”

“Udah, cerita dulu. Kenapa?”

“Tiba-tiba ada lipstik di mobil aku. Dia marah banget.”

“Kok, bisa?”

“Evan nggak tau, Tante. Nggak ngerti kenapa ada lipstik di dalam mobil aku. Aku nggak pernah jalan sama cewek lain selain dia.”

“Mobil kamu pernah dipinjam teman?”

Evan menggelengkan kepalanya.

“Yang terakhir masuk mobil kamu siapa?”

Evan mencoba mengingat-ingat. “Ah, shit!” maki Evan. “Stella tadi tiba-tiba nyelonong masuk mobil aku waktu aku mau jemput Alluna.”

“Siapa dia?”

“Teman kuliah. Dia ngejar-ngejar Evan mulu.” Evan bangkit dari duduknya. “Aku naik dulu ya, Tante.” Evan menunjuk ke arah kamar Alluna.

Mama Alluna menganggukkan kepala. “Good luck!” ucapnya sambil tersenyum.

Evan tersenyum sambil mengangkat jempolnya. “Asyik memang kalo punya mama rasa temen gini. Dia ngerti banget masalah anak muda,” batin Evan sembari melangkahkan kakinya menaiki tangga.

“Lun...!” panggil Evan sambil mengetuk pintu. “Ini gue. Buka pintunya, dong!” pinta Evan dengan lembut.

Alluna masih menangis di dalam kamar. Ia tidak ingin menjawab panggilan Evan. Ia justru menutup telinganya dengan bantal.

“Lun, dengerin dulu penjelasan gue! Ini nggak kayak yang lo pikirin.” Evan masih berteriak dari luar. Tidak ada jawaban sama sekali dari Alluna.

Evan mendesah. Ia memutar otaknya agar Alluna mau membukakan pintu atau setidaknya mau membalas ucapannya.

“Lun, lo kan tau gue ganteng. Wajar aja kalo banyak cewek yang suka sama gue. Tapi, gue cuma cinta sama lo doang. Kalo lo udah nggak mau sama gue, gue jalan sama cewek lain aja!” teriak Evan dari luar kamar.

“Bodo amat!” sahut Alluna dari dalam kamarnya.

Evan tersenyum mendengar jawaban Alluna. Ia merasa lega karena Alluna masih mau menyahut. Baginya, lebih baik Alluna marah panjang lebar kali tinggi daripada harus didiamkan seperti ini.

“Lun, gue pulang dulu, ya! Kalo udah nggak marah, telpon gue, ya! Jangan lama-lama marahnya, gue nggak suka. Ntar gue cari cewek lain kalo lo marahnya kelamaan,” teriak Evan.

“Nyebelin banget sih, lo. Bukannya minta maaf, malah mau cari cewek lain. Bodo amat!” maki Alluna pelan sambil menatap pintu kamarnya.

Alluna diam beberapa menit, tak terdengar lagi suara Evan dari luar. “Syukur deh kalo dia pulang.” Alluna turun dari ranjang, berjalan perlahan menuju pintu. Ia menempelkan telinga ke pintu kamarnya untuk memastikan apakah Evan sudah pulang atau belum.

Perlahan ia memutar kunci pintunya, kemudian menarik gagang pintu pelan-pelan. Sudah tidak ada siapa-siapa di depan pintunya.

“Syukur, deh. Nyebelin banget sih tuh cowok!” Alluna menghela napas lega sambil mengelus dadanya. Ia membalikkan tubuh dan tidur tengkurap di tempat tidurnya.

Alluna meraih boneka kelinci miliknya yang ia beri nama Evan. “Van, lo nyebelin banget sih!? Kenapa sih lo selingkuh di belakang gue? Katanya, lo cuma sayang sama gue. Sekalinya, di belakang gue lo jalan sama cewek lain. Lo nggak ngerti perasaan gue?” Alluna mencakar-cakar boneka kelincinya. “Dasar Playboy!” ia membanting boneka itu.

Alluna diam sesaat sambil menatap boneka kelinci merah muda yang ada di depannya. “Harusnya, lo nggak usah jadi kelinci biar nggak playboy! Kenapa lo yang ada di sini sih?!” maki Alluna makin kesal. Air matanya kembali menetes. Ia terluka karena sikap Evan yang tidak merasa bersalah sama sekali. Terlebih, dia akan memilih cewek lain yang jauh lebih baik darinya.

“Jahat lo, Van! Kenapa sih lo tega banget sama gue! Gue sayang sama lo!” Alluna terisak sambil memukul-mukul bantal.

“Gue juga sayang sama lo,” bisik Evan di telinga Alluna, ia tiba-tiba sudah ada di dalam kamar.

Alluna terkejut mendengar suara Evan. Ia membalikkan tubuhnya, “Kok, lo bisa masuk ke sini?” tanya Alluna sembari mengusap air matanya.

“Pintu kamar nggak lo kunci lagi.” Evan tersenyum menatap Alluna.

“Bukannya lo udah pulang?” tanya Alluna, ia menatap Evan yang kini membungkuk tepat di atas kepalanya.

“Gue nggak akan pulang, sebelum semuanya beres.”

“Nggak ada yang perlu diberesin,” celetuk Alluna memalingkan wajahnya, sementara Evan masih menatapnya tanpa berkedip.

“Lo cemburu?” goda Evan menahan tawa.

“Nggak. Buat apa cemburu? Jalan aja sono sama cewek lain! Gue nggak peduli!”

“Kalo lo nggak peduli, kenapa semarah ini?”

“Evan Noah ...! Lo tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan. “Gue tuh sayang sama lo, jelas aja gue cemburu. Udah kayak gini, masih ditanya cemburu atau enggak.” Air mata Alluna kembali berlinang.

“Gue nggak selingkuh, gue sayang sama lo. Gue juga bakal ngelakuin hal yang sama kalo lo jalan sama cowok lain. Gue juga bakal cemburu,” bisik Evan sambil menempelkan dahinya ke dahi Alluna.

“Terus itu lipstik siapa? Kenapa bisa ada di mobil lo?” tanya Alluna dengan nada berat.

Evan mengangkat tubuhnya dan duduk di sisi ranjang Alluna. “Gue nggak tahu itu lipstik punya siapa. Nggak ada cewek yang masuk ke mobil gue selain lo. Tapi, tadi waktu gue mau keluar dari kampus dan jemputin lo. Stella tiba-tiba aja ngeloyor masuk ke mobil gue. Bisa jadi, lipstiknya dia yang jatuh. Dan gue sama sekali nggak tau karena gue langsung usir dia saat itu juga ....” Evan menjelaskan panjang lebar.

“Stella siapa?”

“Cewek di kampus. Dia ngejar-ngejar gue mulu, tapi gue sama sekali nggak minat sama dia.” Evan melirik ke arah Alluna yang masih menatapnya.

“Beneran lo nggak selingkuh?”

“Nggak, lah. Gue tuh udah punya cewek yang cantik, baik hati, pinter dan manja banget kayak gini. Masa iya gue masih mau selingkuh?” Evan mencubit kedua pipi Alluna dengan gemas.

“Awas ya, kalo sampe slingkuh, gue bakal mau liat muka lo lagi!” ancam Alluna.

“Iya.” Evan mengusap ujung kepala Alluna. “Jangan marah-marah lagi, ya!”

“Iya. Gue minta maaf karena langsung marah-marah tanpa mau denger penjelasan dari lo,” jawab Alluna pelan sambil menundukkan wajahnya.

“Udah, nggak papa, kok.” Evan menarik kepala Alluna dan memeluknya. “Yang namanya hubungan pasti ada ujian dan cobaannya. Kita harus bisa hadapi bareng. Harus selalu terbuka, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Evan mengelus bahu Alluna.

Alluna menyandarkan kepalanya di pundak Evan. That’s right! Kalau mereka mementingkan ego masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah. Hubungan mereka hanya akan berjalan sebentar saja. Kenyataannya, mereka sudah melewati satu tahun masa pacaran. Tidak mungkin hubungan mereka selalu baik-baik saja. Alluna yang selalu bersikap ceroboh, emosional dan tidak mau mengalah memang cocok dengan Evan yang lebih bersikap sabar, tenang, dewasa dan humoris. Evan lebih banyak mengalah di saat-saat seperti ini.

 

***

“Ma, besok aku mau kondangan ke nikahan sepupu Evan. Ada dress baru, nggak?” tanya Alluna pada mamanya yang sedang asyik menonton televisi.

“Kemarin ada dikirim sama manager butik. Coba aja lihat ke sana!”

“Aku ambil satu lagi, ya!”

“Tumben ngomong sama mama? Biasanya main ambil-ambil aja ke sana.”

“Hehehe.”

“Udah baikan sama Evan?” tanya Mama Alluna.

“Udah.” Alluna duduk di samping mamanya dan menyambar cemilan yang berada di tangan mamanya.

“Eh, bentar lagi kan lulus ujian. Kamu jadi model buat katalog Mama ya, please!” pinta Mama Alluna.

“Ma, Luna nggak mau jadi model. Model mama kan banyak, tuh.”

“Mama pengen yang baru aja biar fresh gitu. Ntar, Mama pakai untuk butik yang di Paris. Gimana?”

“Paris?” Alluna menatap langit-langit, terlihat berpikir keras hanya untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya sudah ia tahu.

“Ayolah!”

Alluna mengetuk-ngetuk bibirnya. “Alluna mau jadi model, tapi ada syaratnya!”

“Apa itu?”

“Alluna maunya pasangan sama Evan, hehehe ...”

Mama Alluna mengernyitkan dahinya sambil tersenyum. “Cuma itu?”

Alluna mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya.

“Oke. Deal!” Mama Alluna mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Alluna. “DEAL!”

 

***

 

Minggu siang, Alluna sudah mengenakan mini dress warna kuning cerah dengan motif bakau di bagian ujungnya. Ia menatap wajahnya di cermin beberapa kali untuk memastikan riasan yang ia pakai cocok dengan dress yang ia gunakan.

“Aku udah di depan.” Alluna membaca pesan Whatsapp dari Evan sambil mengerutkan keningnya. Sejak kapan pakai kata ‘aku’?

Alluna menyimpan ponsel di tasnya yang berwarna senada dengan gaunnya. Ia mengenakan high heels warna hitam dengan hiasan pita kuning. Ia bergegas turun dari kamarnya dan langsung menemui Evan yang sudah menunggu di teras rumah.

“Udah siap?” tanya Evan.

Alluna mengangguk pasti.

Evan langsung bangkit dari kursi, menghampiri Alluna dan langsung merangkul pinggangnya. Ia mengantarkan Alluna sampai benar-benar memasuki mobilnya.

“Van, Mama minta gue jadi model di butiknya.” Alluna memulai pembicaraan saat Evan sudah melajukan mobilnya ke arah Jakarta Pusat.

“Oh ya? Bagus, dong! Kamu suka banget 'kan pake baju-bajunya?” sahut Evan tetap fokus menyetir.

“Iya, sih. Tapi gue nggak tertarik jadi model.”

“Kenapa?”

“Gue pake baju seksi dikit aja lo nggak suka. Gimana kalo nanti gue jadi model? Pasti akan ada saat gue pake pakaian yang seksi banget.”

“Yah, kalo cuma di butik mama aja mah nggak papa. Kamu bisa bilang sama Mama buat pake baju yang nggak terlalu seksi.”

“Kalo gue udah jadi model buat katalog Mama, itu artinya gue bakal jadi model di tempat lain juga. Gue pengen jadi penyanyi, bukan jadi model.”

“Banyak kok penyanyi yang merangkap jadi model. Lagian, kalo cuma buat bantu orang tua, nggak papa kan?”

“Hmm... iya sih. Tapi, gue maunya jadi model kalo sama lo.”

“Aku?”

Alluna mengernyitkan dahinya. “Sejak kapan si kita ngomongnya pake ‘aku kamu’? Gue jadi canggung sama lo.”

“Sejak hari ini. Aku ngerasa, panggilan kayak gini lebih baik dan lebih menghargai hubungan kita.”

“Jadi selama ini lo anggep gue nggak menghargai lo?”

“Bukan gitu, Lun. Aku mau hubungan kita bisa lebih baik lagi. Aku bukan anak SMA lagi. Aku udah mulai ngelola bisnis Papa. Aku udah mulai punya relasi dan aku harus bisa menjaga sikap. Kedengarannya nggak enak kalau pas ketemu sama mereka dan kita masih pake ‘gue elo’,” jelas Evan.

“Oh, I see. Jadi, mulai sekarang pake aku-akuan, nih?” goda Alluna.

“Yah, terserah kamu aja, sih. Yang penting bisa dikondisikan.”

“Siap Pak Bos Evan!”

Evan langsung menatap tajam ke arah Alluna. “Kenapa panggilannya begitu?”

“Terus? Maunya dipanggil apa?”

“Panggil sayang kek, cinta kek, atau apa gitu yang enak!” celetuk Evan.

“Hmm,” Alluna mengetuk-ngetuk dagunya. “Panggil apa ya?”

“Panggil Evan aja, deh! Gitu aja mikir!” sahut Evan ketus.

“Yee, gitu doang marah? Serius amat, Pak?” goda Alluna.

“Kamu tuh sadar nggak sih kalau terkadang kamu lebih nyebelin dari aku!?”

“Ini hasil belajar sama kamu selama setahun,” bisik Alluna.

“Pinter!” Evan mengacak ujung kepala Alluna. Alluna mencebik, membuat Evan tertawa.

 

***

“Van, sepupu lo artis?” tanya Alluna begitu masuk ke Ballroom tempat pesta pernikahan berlangsung.

“Bukan. Istrinya yang artis,” jawab Evan sambil menggandeng Alluna dengan mesra.

“Hai, Van!” sapa seorang cowok yang kebetulan berpapasan. “Apa kabar?” tanyanya sambil mengulurkan tangan.

“Baik.”

“Cewek lo cantik juga,” seru cowok itu sambil memainkan matanya ke arah Alluna.

“Oh, kenalin. Ini Alluna.” Evan memperkenalkan Alluna pada temannya.

“Joni.” Cowok itu mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya.

“Alluna.” Alluna membalas uluran tangannya dan menarik secepatnya.

“Bukan Luna Maya kan?”

Alluna menggelengkan kepala, ia mulai tak nyaman dengan tatapan mata Joni.

“Kita ke depan dulu, ya!” pamit Evan sambil menggandeng Alluna untuk menjauh dari Joni.

“Itu temen lo? Eh!? Kamu?” bisik Alluna yang belum terbiasa dengan bahasa ‘aku kamu’.

Evan mengedikkan bahunya. “Nggak penting juga dia temen atau bukan.”

“Kelihatannya agresif banget kayak si Jono? Namanya juga mirip.”

“Oh ya? Dia masih sering godain kamu?” tanya Evan.

Alluna menggelengkan kepala. “Nggak pernah lagi sejak dia jadian sama adik kelas. Udah gitu ceweknya over protektif banget, mana berani dia goda-godain aku,” jawab Alluna sambil tertawa kecil.

“Bagus, deh.” Evan mengambil dua gelas minuman dari tangan waitress yang kebetulan melintas membawa nampan yang berisi gelas-gelas minuman. Ia memberikannya satu gelas pada Alluna.

“Kamu tunggu sini ya! Aku mau ke sana sebentar,” pinta Evan sambil menunjuk ke arah panggung live music.

“Mau ngapain?”

“Biasa.” Evan mengedipkan matanya. “Pegang ini!” Evan menyodorkan gelas minumnya pada Alluna dan berlalu pergi.

“Hai, cantik!” sapa Joni yang tiba-tiba sudah ada di sisi Alluna.

“Hai,” balas Alluna tersenyum kecut melihat Joni  yang tiba-tiba ada di depannya.

“Siapa, Jon?” tanya dua cowok yang ada di belakang Joni.

“Ceweknya Evan?”

“Evan? Evan yang mana?”

“Yang pindah ke Jaksel waktu dia kelas dua,” jawab Joni sambil tersenyum sinis.

“Oh, yang pindah gara-gara skandal sama Reva?” tanya teman satunya.

Mereka bertiga memperhatikan Alluna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan sebaliknya. “Dari Jazz ganti ke Porsche kayaknya, Bro. Boleh juga nih cewek. High Class,” tutur salah satu cowok yang diiringi gelak tawa lainnya.

Alluna mulai tidak nyaman dengan tiga cowok yang terus menggodanya. Ia berharap Evan segera datang dan menyelamatkannya dari godaan cowok-cowok aneh itu. Tak berapa lama, ia sudah melihat Evan muncul dari balik kerumunan tamu undangan.

“Ngapain kalian di sini?” tanya Evan ketus pada tiga cowok yang ada di depan Alluna.

“Cuma mau kenalan sama cewek lo aja. Punya cewek baru, dikenalin lah ke kita-kita,” jawab salah satu teman Joni.

Evan menatap sinis ke arah mereka bertiga. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menarik Alluna menjauh dari tiga orang cowok yang pernah menjadi masa lalunya.

“Ortuku udah dateng, aku kenalin sama mereka, ya?” Evan menggenggam tangan Alluna sambil terus melangkahkan kaki.

Alluna menghentikan langkahnya. 

“Kenapa?”

“Takut.”

“Takut?” Evan mengernyitkan dahinya menatap Alluna.

“Takut ortumu nggak suka sama aku.”

Evan tertawa kecil. “Mereka pasti suka.” Ia menggenggam erat tangan Alluna. Ia bisa merasakan tangan Alluna lebih dingin dari biasanya. “Kamu beneran nervous?” bisik Evan.

Alluna mengangguk, terlebih ia sudah semakin dekat dengan keluarga besar Evan yang sedang berkumpul. Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada Evan dan Alluna yang baru saja muncul.

Evan langsung menyalami perempuan setengah baya yang wajahnya sangat mirip dengannya. “Bun, kenalin. Dia Alluna.”

Alluna tersenyum menganggukkan kepalanya. “Alluna,” ucap Alluna sambil mengulurkan tangannya.

“Wah, cantik sekali!” Bunda Evan menyapanya dengan wajah sumringah. “Lebih cantik dari yang di foto,” bisik bundanya di telinga Evan.

“Ah, Tante bisa aja.” Alluna tersipu mendengar pujian dari Bunda Evan.

“Jangan panggil Tante, panggil Bunda aja!” pinta Bunda Evan sambil mengelus rambut Alluna.

“Boleh panggil Bunda?”

“Boleh banget!”

Malam itu menjadi malam di mana Alluna mengakrabkan diri dengan Evan dan keluarganya. Alluna mendapat banyak kejutan, bukan hanya perkenalan dengan keluarganya. Tapi, ia juga berduet di atas panggung bersama Evan dan disaksikan beberapa artis ibukota yang juga hadir di acara tersebut.

Kejutan terakhir adalah ketika Evan mengajaknya berdansa. It’s first time, bahkan Alluna belum pernah berdansa sebelumnya.

Masih ada kejutan lain yang tidak akan pernah terlupakan oleh Alluna begitu saja. Bukan tentang romantisme dan kemewahan di acara pesta pernikahan. Tapi, ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah.

“Van, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Alluna datar.

“Boleh, tanya apa?”

“Tapi janji kalo lo bakal jujur dan nggak akan ngebohongin gue sedikitpun!” pinta Alluna.

“Kamu kenapa sih tiba-tiba nanya kayak gini? Ngomongnya udah balik pake ‘gue elo’?” Evan menatap Alluna sejenak dan kembali fokus menyetir.

Alluna bergeming, wajahnya datar. Tidak seperti biasanya.

Evan menyadari perubahan Alluna yang terlihat tidak seperti biasanya. Ia menepikan mobilnya. “Mau tanya apa?” tanya Evan lembut.

“Reva siapa lo?” tanya Alluna ketus.

Evan menundukkan kepalanya, mendesah kesal dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Alluna menatap wajah Evan, berharap mendapatkan jawaban jujur dari mulut cowok yang sudah setahun menjalin hubungan dengannya.

“Mereka ngomong apa aja sama kamu?” tanya Evan tanpa menoleh sedikitpun. Ia memandang lurus ke jalanan, tangannya memegang setir erat-erat menahan emosi.

“Nggak ngomong apa-apa. Gue cuma denger mereka cerita soal skandal lo sama Reva.”

“Itu masa lalu aku. Nggak usah dibahas, ya!” pinta Evan.

Why? Telling me!

“Nggak sekarang.” Evan menggelengkan kepalanya.

Why?

“Aku bakalan cerita, tapi nggak sekarang.” Evan masih bersikap lembut.

“Kenapa sih lo masih nggak mau jujur sama gue? Gue selalu cerita apa pun tentang hidup gue. Nggak ada yang gue tutupin satu pun.”

“Kalau waktunya udah tepat, aku bakal cerita sama kamu. Nggak sekarang. Please, ngertiin aku!”

Alluna bergeming. Ia tak banyak bertanya lagi, memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan pulang. Laki-laki selalu punya rahasia dalam hidupnya, yang bahkan pasangannya sendiri pun tidak boleh tahu.


((Bersambung...))

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas