Paris.
“Pa, lihat, deh!”
Mama Alluna menunjukkan sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya.
“Siapa? Model
baru Mama?”
“Bukan, tapi
akan,” jawab Mama Alluna sambil tersenyum. “Kayaknya mereka cocok buat kita
jadiin model katalog kita yang baru.”
Papa Alluna
meraih ponsel milik sang istri dan memperhatikan foto seorang gadis yang duduk di kursi
berwarna putih emas. Gadis itu memakai gaun warna biru terang dengan motif
batik berwarna putih di beberapa bagian. Terlihat sangat anggun dan elegan.
Kakinya yang jenjang ditumpuk, memperlihatkan kakinya yang indah dengan sepatu
high heels warna biru emas. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan berjas
hitam cokelat. Satu tangannya bersandar di ujung sandaran kursi. Sangat serasi,
layaknya pangeran dan puteri kerajaan. Ia memperhatikan kembali gadis itu
dengan seksama karena wajahnya sangat familier.
“Ini Alluna?”
tanya Darwis, Papa Alluna.
“Iya, Pa. Masa
sama anak sendiri pangling?”
Darwis, Papa Alluna tersenyum menatap layar ponsel. “Nggak terasa dia sudah besar dan jadi gadis yang
cantik.”
“Ya iya, dong.
Siapa dulu mamanya?” puji Mama Alluna pada dirinya sendiri.
Darwis tersenyum
menatap Lena, istrinya. Mereka merasa sangat bahagia karena telah melihat
anak-anak mereka tumbuh dewasa. Kerja keras mereka selama ini terbayarkan. Memberikan
kebahagiaan untuk kedua anaknya, juga mendidiknya dengan baik. Mereka bersyukur
punya keluarga yang baik, punya dua orang anak yang baik dan berprestasi.
***
Waktu berlalu
begitu cepat. Sepertinya, baru kemarin Alluna memakai seragam putih abu-abu.
Sekarang, dia sudah di penghujung kelas tiga. Itu artinya, dia akan lulus SMA
dalam hitungan minggu.
Banyak hal yang
telah ia lalui. Tentang persahabatannya dengan Austin, Hastri dan Rani. Tentang
kisah cintanya dengan Evan yang kini sudah kuliah. Awalnya, Evan ingin kuliah
di luar negeri. Tapi, karena Alluna yang manja dan terus merengek agar Evan
tetap tinggal. Evan mengurungkan niatnya dan tetap kuliah di Jakarta. Sehingga
mereka masih bisa sering bertemu.
Beberapa minggu
belakangan, Alluna menjaga jarak hubungannya dengan Evan karena ingin fokus
dengan ujian sekolah. Terkadang, Evan memang sering mengganggu pikirannya. Ia
bersyukur karena Evan mau mengerti. Ia jarang menelepon Alluna
apalagi datang ke rumah.
***
“Hai, Van!” sapa
Stella, gadis cantik terpopuler di kampus tempat Evan kuliah. Tanpa segan ia
langsung merangkul lengan Evan.
“Apaan, sih lo!”
Evan menepis tangan Stella.
“Galak amat, sih!?
Gue suka deh cowok galak dan macho kayak lo,” goda Stella.
Evan tidak
menghiraukan Stella. Ia tetap melangkahkan kaki menuju mobilnya.
Stella tak patah
semangat, ia terus mengikuti Evan dan masuk ke mobil pria itu.
“Lo ngapain sih
ikut masuk mobil gue? Keluar!” sentak Evan.
“Van, gue pengen sekali-sekali naik mobil lo. Ajak gue jalan ke mana gitu.”
“Gak nafsu gue
jalan sama lo. Lo cari cowok yang lain aja! Keluar dari mobil gue sekarang!”
“Galak amat, sih!”
celetuk Stella, ia keluar dari mobil Evan dan membanting pintu dengan keras.
Evan
menggelengkan kepalanya. “Cewek gila!” umpatnya. Ia menyalakan mesin mobil dan
keluar dari parkiran kampus menuju SMA 28, tempat Alluna bersekolah.
Di sana, gadis
cantik berseragam putih abu-abu sudah menunggunya. “Udah lama nunggunya?” tanya
Evan membukakan pintu mobil untuk Alluna.
“Nggak. Gue baru
aja keluar kelas, kok.” Alluna langsung masuk ke dalam mobil. Evan menutup
pintu dan berjalan menuju pintu sebelahnya. Duduk di belakang setir dan mulai
melajukan mobilnya.
“Gimana pelajaran
hari ini?” tanya Evan.
“Hmm, lumayan
bikin pusing.”
“Dibawa santai
aja. Jangan sampai setres karena mikirin ujian. Lo pasti lulus, kok.”
Alluna tersenyum
menatap Evan. “Dulu, waktu lo mau ujian. Emang nggak kepikiran?”
Evan mengedikkan
bahunya. “Enggak. Buktinya gue santai aja. Masih jalan sama lo waktu mau
ujian.”
“Hmm, iya sih.
Gue kok nggak bisa kayak lo, ya?” gumam Alluna.
Evan tertawa
kecil sambil mengusap ujung kepala Alluna. Ia kembali fokus menyetir. “Oh ya,
minggu depan temenin gue ke acara nikahan kakak sepupu gue, ya!” pinta Evan.
“Oke. Di mana?”
tanya Alluna.
“Di Jakpus.”
Alluna
mengangguk. Ia mengambil ponsel di tas yang ia pangku dan membalas
chat grup tiga sahabatnya.
Evan menghentikan
mobilnya tepat di halaman rumah Alluna.
“Udah sampai?”
tanya Alluna, ia tahu pertanyaannya itu tidak penting untuk ditanyakan.
“Main hape mulu.”
Alluna cengengesan. Cepat-cepat ia memasukkan ponsel ke dalam tas, tapi ponselnya malah
terjatuh.
Evan
menggelengkan kepalanya, ia sudah terbiasa dengan sifat Alluna yang ceroboh.
Alluna
menundukkan badannya untuk mengambil ponsel yang terjatuh di bawah kakinya. Ia
meraba dan menemukan sebuah benda kecil yang langsung membuatnya melirik tajam
ke arah Evan.
“Kenapa?” tanya
Evan melihat wajah Alluna menahan amarah.
“Ini punya
siapa?” tanya Alluna menyodorkan sebuah lipstik berwarna emas tepat di depan
wajah Evan.
Evan
mengernyitkan dahinya. “Bukan punya lo?”
“Gue nggak pernah
pake lipstik merk ini. Ini lipstik siapa, Van!?” sentak Alluna, ia menahan air
matanya yang sudah berlinang. Evan selingkuh sama cewek lain, itu yang
terlintas di pikirannya.
“Gue nggak tau.”
Wajah Evan memerah karena dia tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri tidak
tahu kenapa ada lipstik di dalam mobilnya.
“Lo selingkuh?”
“Enggak.”
“Bohong!”
“Gue nggak tau
kenapa lipstik itu ada di mobil gue.”
“Lo kira gue
bodoh? Mana ada lipstik jalan sendiri masuk ke dalam mobil kalo lo nggak baca
cewek masuk ke dalam mobil lo!” Alluna membuka pintu mobil dan membantingnya
dengan kasar.
“Lun ...!”
panggil Evan, ia langsung mengejar Alluna yang berlari masuk ke dalam rumah.
“Ada apa?” tanya
Mama Alluna. Ia terkejut melihat anaknya pulang dalam keadaan menangis.
Alluna tidak
menjawab, ia berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
“Ada apa, Van?”
tanya Mama Alluna yang melihat Evan menyusul.
“Salah paham, Tante.”
Mama Alluna
mengernyitkan dahinya. Ia menangkap kepanikan di wajah Evan. “Duduk dulu,
cerita sama tante! Alluna kalau lagi ngambek, susah dirayu. Biarkan saja dulu
dia nangis.”
Evan mengacak
rambutnya. “Tapi, Tante.”
“Udah, cerita
dulu. Kenapa?”
“Tiba-tiba ada
lipstik di mobil aku. Dia marah banget.”
“Kok, bisa?”
“Evan nggak tau, Tante. Nggak ngerti kenapa ada lipstik di dalam mobil aku. Aku nggak pernah
jalan sama cewek lain selain dia.”
“Mobil kamu
pernah dipinjam teman?”
Evan
menggelengkan kepalanya.
“Yang terakhir
masuk mobil kamu siapa?”
Evan mencoba
mengingat-ingat. “Ah, shit!” maki Evan. “Stella tadi tiba-tiba nyelonong masuk
mobil aku waktu aku mau jemput Alluna.”
“Siapa dia?”
“Teman kuliah.
Dia ngejar-ngejar Evan mulu.” Evan bangkit dari duduknya. “Aku naik dulu ya, Tante.” Evan menunjuk ke arah kamar Alluna.
Mama Alluna
menganggukkan kepala. “Good luck!” ucapnya sambil tersenyum.
Evan tersenyum
sambil mengangkat jempolnya. “Asyik memang kalo punya mama rasa temen gini. Dia
ngerti banget masalah anak muda,” batin Evan sembari melangkahkan kakinya
menaiki tangga.
“Lun...!” panggil
Evan sambil mengetuk pintu. “Ini gue. Buka pintunya, dong!” pinta Evan dengan
lembut.
Alluna masih
menangis di dalam kamar. Ia tidak ingin menjawab panggilan Evan. Ia justru
menutup telinganya dengan bantal.
“Lun, dengerin
dulu penjelasan gue! Ini nggak kayak yang lo pikirin.” Evan masih berteriak
dari luar. Tidak ada jawaban sama sekali dari Alluna.
Evan mendesah. Ia
memutar otaknya agar Alluna mau membukakan pintu atau setidaknya mau membalas
ucapannya.
“Lun, lo kan tau
gue ganteng. Wajar aja kalo banyak cewek yang suka sama gue. Tapi, gue cuma
cinta sama lo doang. Kalo lo udah nggak mau sama gue, gue jalan sama cewek lain
aja!” teriak Evan dari luar kamar.
“Bodo amat!”
sahut Alluna dari dalam kamarnya.
Evan tersenyum
mendengar jawaban Alluna. Ia merasa lega karena Alluna masih mau menyahut.
Baginya, lebih baik Alluna marah panjang lebar kali tinggi daripada harus
didiamkan seperti ini.
“Lun, gue pulang dulu, ya! Kalo udah nggak marah, telpon gue, ya! Jangan lama-lama marahnya, gue nggak
suka. Ntar gue cari cewek lain kalo lo marahnya kelamaan,” teriak Evan.
“Nyebelin banget
sih, lo. Bukannya minta maaf, malah mau cari cewek lain. Bodo amat!” maki Alluna
pelan sambil menatap pintu kamarnya.
Alluna diam
beberapa menit, tak terdengar lagi suara Evan dari luar. “Syukur deh kalo dia
pulang.” Alluna turun dari ranjang, berjalan perlahan menuju pintu. Ia
menempelkan telinga ke pintu kamarnya untuk memastikan apakah Evan sudah pulang
atau belum.
Perlahan ia
memutar kunci pintunya, kemudian menarik gagang pintu pelan-pelan. Sudah tidak
ada siapa-siapa di depan pintunya.
“Syukur, deh.
Nyebelin banget sih tuh cowok!” Alluna menghela napas lega sambil mengelus
dadanya. Ia membalikkan tubuh dan tidur tengkurap di tempat tidurnya.
Alluna meraih
boneka kelinci miliknya yang ia beri nama Evan. “Van, lo nyebelin banget sih!?
Kenapa sih lo selingkuh di belakang gue? Katanya, lo cuma sayang sama gue.
Sekalinya, di belakang gue lo jalan sama cewek lain. Lo nggak ngerti perasaan
gue?” Alluna mencakar-cakar boneka kelincinya. “Dasar Playboy!” ia membanting
boneka itu.
Alluna diam
sesaat sambil menatap boneka kelinci merah muda yang ada di depannya.
“Harusnya, lo nggak usah jadi kelinci biar nggak playboy! Kenapa lo yang ada di
sini sih?!” maki Alluna makin kesal. Air matanya kembali menetes. Ia terluka
karena sikap Evan yang tidak merasa bersalah sama sekali. Terlebih, dia akan
memilih cewek lain yang jauh lebih baik darinya.
“Jahat lo, Van!
Kenapa sih lo tega banget sama gue! Gue sayang sama lo!” Alluna terisak sambil
memukul-mukul bantal.
“Gue juga sayang
sama lo,” bisik Evan di telinga Alluna, ia tiba-tiba sudah ada di dalam kamar.
Alluna terkejut
mendengar suara Evan. Ia membalikkan tubuhnya, “Kok, lo bisa masuk ke sini?”
tanya Alluna sembari mengusap air matanya.
“Pintu kamar
nggak lo kunci lagi.” Evan tersenyum menatap Alluna.
“Bukannya lo udah
pulang?” tanya Alluna, ia menatap Evan yang kini membungkuk tepat di atas
kepalanya.
“Gue nggak akan
pulang, sebelum semuanya beres.”
“Nggak ada yang
perlu diberesin,” celetuk Alluna memalingkan wajahnya, sementara Evan masih
menatapnya tanpa berkedip.
“Lo cemburu?”
goda Evan menahan tawa.
“Nggak. Buat apa
cemburu? Jalan aja sono sama cewek lain! Gue nggak peduli!”
“Kalo lo nggak
peduli, kenapa semarah ini?”
“Evan Noah ...!
Lo tuh nyebelin banget, sih!” Alluna memukul dada Evan. “Gue tuh sayang sama lo,
jelas aja gue cemburu. Udah kayak gini, masih ditanya cemburu atau enggak.” Air
mata Alluna kembali berlinang.
“Gue nggak
selingkuh, gue sayang sama lo. Gue juga bakal ngelakuin hal yang sama kalo lo
jalan sama cowok lain. Gue juga bakal cemburu,” bisik Evan sambil menempelkan
dahinya ke dahi Alluna.
“Terus itu
lipstik siapa? Kenapa bisa ada di mobil lo?” tanya Alluna dengan nada berat.
Evan mengangkat
tubuhnya dan duduk di sisi ranjang Alluna. “Gue nggak tahu itu lipstik punya
siapa. Nggak ada cewek yang masuk ke mobil gue selain lo. Tapi, tadi waktu gue mau keluar dari kampus dan
jemputin lo. Stella tiba-tiba aja ngeloyor masuk ke mobil gue. Bisa jadi,
lipstiknya dia yang jatuh. Dan gue sama sekali nggak tau karena gue langsung
usir dia saat itu juga ....” Evan menjelaskan panjang lebar.
“Stella siapa?”
“Cewek di kampus.
Dia ngejar-ngejar gue mulu, tapi gue sama sekali nggak minat sama dia.” Evan
melirik ke arah Alluna yang masih menatapnya.
“Beneran lo nggak
selingkuh?”
“Nggak, lah. Gue
tuh udah punya cewek yang cantik, baik hati, pinter dan manja banget kayak
gini. Masa iya gue masih mau selingkuh?” Evan mencubit kedua pipi Alluna dengan
gemas.
“Awas ya, kalo
sampe slingkuh, gue bakal mau liat muka lo lagi!” ancam Alluna.
“Iya.” Evan
mengusap ujung kepala Alluna. “Jangan marah-marah lagi, ya!”
“Iya. Gue minta
maaf karena langsung marah-marah tanpa mau denger penjelasan dari lo,” jawab
Alluna pelan sambil menundukkan wajahnya.
“Udah, nggak
papa, kok.” Evan menarik kepala Alluna dan memeluknya. “Yang namanya hubungan
pasti ada ujian dan cobaannya. Kita harus bisa hadapi bareng. Harus selalu
terbuka, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.” Evan mengelus bahu Alluna.
Alluna
menyandarkan kepalanya di pundak Evan. That’s right! Kalau mereka mementingkan
ego masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah. Hubungan mereka hanya akan
berjalan sebentar saja. Kenyataannya, mereka sudah melewati satu tahun masa
pacaran. Tidak mungkin hubungan mereka selalu baik-baik saja. Alluna yang
selalu bersikap ceroboh, emosional dan tidak mau mengalah memang cocok dengan
Evan yang lebih bersikap sabar, tenang, dewasa dan humoris. Evan lebih banyak
mengalah di saat-saat seperti ini.
***
“Ma, besok aku
mau kondangan ke nikahan sepupu Evan. Ada dress baru, nggak?” tanya Alluna pada
mamanya yang sedang asyik menonton televisi.
“Kemarin ada
dikirim sama manager butik. Coba aja lihat ke sana!”
“Aku ambil satu
lagi, ya!”
“Tumben ngomong
sama mama? Biasanya main ambil-ambil aja ke sana.”
“Hehehe.”
“Udah baikan sama
Evan?” tanya Mama Alluna.
“Udah.” Alluna
duduk di samping mamanya dan menyambar cemilan yang berada di tangan mamanya.
“Eh, bentar lagi
kan lulus ujian. Kamu jadi model buat katalog Mama ya, please!” pinta Mama
Alluna.
“Ma, Luna nggak
mau jadi model. Model mama kan banyak, tuh.”
“Mama pengen yang
baru aja biar fresh gitu. Ntar, Mama pakai untuk butik yang di Paris. Gimana?”
“Paris?” Alluna
menatap langit-langit, terlihat berpikir keras hanya untuk mendapatkan jawaban
yang sebenarnya sudah ia tahu.
“Ayolah!”
Alluna
mengetuk-ngetuk bibirnya. “Alluna mau jadi model, tapi ada syaratnya!”
“Apa itu?”
“Alluna maunya
pasangan sama Evan, hehehe ...”
Mama Alluna
mengernyitkan dahinya sambil tersenyum. “Cuma itu?”
Alluna mengangguk
sambil mengangkat kedua alisnya.
“Oke. Deal!” Mama
Alluna mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Alluna. “DEAL!”
***
Minggu siang,
Alluna sudah mengenakan mini dress warna kuning cerah dengan motif bakau di
bagian ujungnya. Ia menatap wajahnya di cermin beberapa kali untuk memastikan
riasan yang ia pakai cocok dengan dress yang ia gunakan.
“Aku udah di
depan.” Alluna membaca pesan Whatsapp dari Evan sambil mengerutkan keningnya.
Sejak kapan pakai kata ‘aku’?
Alluna menyimpan
ponsel di tasnya yang berwarna senada dengan gaunnya. Ia mengenakan high heels
warna hitam dengan hiasan pita kuning. Ia bergegas turun dari kamarnya dan
langsung menemui Evan yang sudah menunggu di teras rumah.
“Udah siap?”
tanya Evan.
Alluna mengangguk
pasti.
Evan langsung
bangkit dari kursi, menghampiri Alluna dan langsung merangkul pinggangnya. Ia
mengantarkan Alluna sampai benar-benar memasuki mobilnya.
“Van, Mama minta
gue jadi model di butiknya.” Alluna memulai pembicaraan saat Evan sudah
melajukan mobilnya ke arah Jakarta Pusat.
“Oh ya? Bagus,
dong! Kamu suka banget 'kan pake baju-bajunya?” sahut Evan tetap fokus menyetir.
“Iya, sih. Tapi
gue nggak tertarik jadi model.”
“Kenapa?”
“Gue pake baju
seksi dikit aja lo nggak suka. Gimana kalo nanti gue jadi model? Pasti akan ada
saat gue pake pakaian yang seksi banget.”
“Yah, kalo cuma
di butik mama aja mah nggak papa. Kamu bisa bilang sama Mama buat pake baju
yang nggak terlalu seksi.”
“Kalo gue udah
jadi model buat katalog Mama, itu artinya gue bakal jadi model di tempat lain
juga. Gue pengen jadi penyanyi, bukan jadi model.”
“Banyak kok
penyanyi yang merangkap jadi model. Lagian, kalo cuma buat bantu orang tua,
nggak papa kan?”
“Hmm... iya sih.
Tapi, gue maunya jadi model kalo sama lo.”
“Aku?”
Alluna
mengernyitkan dahinya. “Sejak kapan si kita ngomongnya pake ‘aku kamu’? Gue
jadi canggung sama lo.”
“Sejak hari ini.
Aku ngerasa, panggilan kayak gini lebih baik dan lebih menghargai hubungan
kita.”
“Jadi selama ini
lo anggep gue nggak menghargai lo?”
“Bukan gitu, Lun.
Aku mau hubungan kita bisa lebih baik lagi. Aku bukan anak SMA lagi. Aku udah
mulai ngelola bisnis Papa. Aku udah mulai punya relasi dan aku harus bisa
menjaga sikap. Kedengarannya nggak enak kalau pas ketemu sama mereka dan kita
masih pake ‘gue elo’,” jelas Evan.
“Oh, I see. Jadi,
mulai sekarang pake aku-akuan, nih?” goda Alluna.
“Yah, terserah
kamu aja, sih. Yang penting bisa dikondisikan.”
“Siap Pak Bos
Evan!”
Evan langsung
menatap tajam ke arah Alluna. “Kenapa panggilannya begitu?”
“Terus? Maunya
dipanggil apa?”
“Panggil sayang
kek, cinta kek, atau apa gitu yang enak!” celetuk Evan.
“Hmm,” Alluna
mengetuk-ngetuk dagunya. “Panggil apa ya?”
“Panggil Evan aja, deh! Gitu aja mikir!” sahut Evan ketus.
“Yee, gitu doang
marah? Serius amat, Pak?” goda Alluna.
“Kamu tuh sadar
nggak sih kalau terkadang kamu lebih nyebelin dari aku!?”
“Ini hasil
belajar sama kamu selama setahun,” bisik Alluna.
“Pinter!” Evan
mengacak ujung kepala Alluna. Alluna mencebik, membuat Evan tertawa.
***
“Van, sepupu lo
artis?” tanya Alluna begitu masuk ke Ballroom tempat pesta pernikahan
berlangsung.
“Bukan. Istrinya
yang artis,” jawab Evan sambil menggandeng Alluna dengan mesra.
“Hai, Van!” sapa
seorang cowok yang kebetulan berpapasan. “Apa kabar?” tanyanya sambil
mengulurkan tangan.
“Baik.”
“Cewek lo cantik
juga,” seru cowok itu sambil memainkan matanya ke arah Alluna.
“Oh, kenalin. Ini
Alluna.” Evan memperkenalkan Alluna pada temannya.
“Joni.” Cowok itu
mengulurkan tangan sambil memperkenalkan dirinya.
“Alluna.” Alluna
membalas uluran tangannya dan menarik secepatnya.
“Bukan Luna Maya
kan?”
Alluna
menggelengkan kepala, ia mulai tak nyaman dengan tatapan mata Joni.
“Kita ke depan
dulu, ya!” pamit Evan sambil menggandeng Alluna untuk menjauh dari Joni.
“Itu temen lo?
Eh!? Kamu?” bisik Alluna yang belum terbiasa dengan bahasa ‘aku kamu’.
Evan mengedikkan
bahunya. “Nggak penting juga dia temen atau bukan.”
“Kelihatannya
agresif banget kayak si Jono? Namanya juga mirip.”
“Oh ya? Dia masih
sering godain kamu?” tanya Evan.
Alluna
menggelengkan kepala. “Nggak pernah lagi sejak dia jadian sama adik kelas. Udah
gitu ceweknya over protektif banget, mana berani dia goda-godain aku,” jawab
Alluna sambil tertawa kecil.
“Bagus, deh.”
Evan mengambil dua gelas minuman dari tangan waitress yang kebetulan melintas
membawa nampan yang berisi gelas-gelas minuman. Ia memberikannya satu gelas
pada Alluna.
“Kamu tunggu sini
ya! Aku mau ke sana sebentar,” pinta Evan sambil menunjuk ke arah panggung live
music.
“Mau ngapain?”
“Biasa.” Evan
mengedipkan matanya. “Pegang ini!” Evan menyodorkan gelas minumnya pada Alluna
dan berlalu pergi.
“Hai, cantik!”
sapa Joni yang tiba-tiba sudah ada di sisi Alluna.
“Hai,” balas
Alluna tersenyum kecut melihat Joni yang
tiba-tiba ada di depannya.
“Siapa, Jon?”
tanya dua cowok yang ada di belakang Joni.
“Ceweknya Evan?”
“Evan? Evan yang
mana?”
“Yang pindah ke
Jaksel waktu dia kelas dua,” jawab Joni sambil tersenyum sinis.
“Oh, yang pindah
gara-gara skandal sama Reva?” tanya teman satunya.
Mereka bertiga
memperhatikan Alluna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dan sebaliknya. “Dari
Jazz ganti ke Porsche kayaknya, Bro. Boleh juga nih cewek. High Class,”
tutur salah satu cowok yang diiringi gelak tawa lainnya.
Alluna mulai tidak
nyaman dengan tiga cowok yang terus menggodanya. Ia berharap Evan segera datang
dan menyelamatkannya dari godaan cowok-cowok aneh itu. Tak
berapa lama, ia sudah melihat Evan muncul dari balik kerumunan tamu undangan.
“Ngapain kalian
di sini?” tanya Evan ketus pada tiga cowok yang ada di depan Alluna.
“Cuma mau kenalan
sama cewek lo aja. Punya cewek baru, dikenalin lah ke kita-kita,” jawab salah
satu teman Joni.
Evan menatap
sinis ke arah mereka bertiga. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menarik Alluna
menjauh dari tiga orang cowok yang pernah menjadi masa lalunya.
“Ortuku udah
dateng, aku kenalin sama mereka, ya?” Evan menggenggam tangan Alluna sambil
terus melangkahkan kaki.
Alluna menghentikan langkahnya.
“Kenapa?”
“Takut.”
“Takut?” Evan
mengernyitkan dahinya menatap Alluna.
“Takut ortumu
nggak suka sama aku.”
Evan tertawa
kecil. “Mereka pasti suka.” Ia menggenggam erat tangan Alluna. Ia bisa
merasakan tangan Alluna lebih dingin dari biasanya. “Kamu beneran nervous?”
bisik Evan.
Alluna
mengangguk, terlebih ia sudah semakin dekat dengan keluarga besar
Evan yang sedang berkumpul. Mereka langsung mengalihkan pandangannya pada Evan
dan Alluna yang baru saja muncul.
Evan langsung
menyalami perempuan setengah baya yang wajahnya sangat mirip dengannya. “Bun,
kenalin. Dia Alluna.”
Alluna tersenyum
menganggukkan kepalanya. “Alluna,” ucap Alluna sambil mengulurkan tangannya.
“Wah, cantik
sekali!” Bunda Evan menyapanya dengan wajah sumringah. “Lebih cantik dari yang
di foto,” bisik bundanya di telinga Evan.
“Ah, Tante bisa
aja.” Alluna tersipu mendengar pujian dari Bunda Evan.
“Jangan panggil Tante, panggil Bunda aja!” pinta Bunda Evan
sambil mengelus rambut Alluna.
“Boleh panggil Bunda?”
“Boleh banget!”
Malam itu menjadi malam di mana Alluna mengakrabkan diri
dengan Evan dan keluarganya. Alluna mendapat banyak kejutan, bukan hanya
perkenalan dengan keluarganya. Tapi, ia juga berduet di atas panggung bersama
Evan dan disaksikan beberapa artis ibukota yang juga hadir di acara tersebut.
Kejutan terakhir adalah ketika Evan mengajaknya berdansa. It’s first time, bahkan Alluna belum pernah berdansa
sebelumnya.
Masih ada kejutan lain yang tidak akan pernah terlupakan
oleh Alluna begitu saja. Bukan tentang romantisme dan kemewahan di acara pesta
pernikahan. Tapi, ketika mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang
ke rumah.
“Van, gue boleh nanya sesuatu?” tanya Alluna datar.
“Boleh, tanya apa?”
“Tapi janji kalo lo bakal jujur dan nggak akan ngebohongin
gue sedikitpun!” pinta Alluna.
“Kamu kenapa sih tiba-tiba nanya kayak gini? Ngomongnya udah
balik pake ‘gue elo’?” Evan menatap Alluna sejenak dan kembali fokus menyetir.
Alluna bergeming, wajahnya datar. Tidak seperti biasanya.
Evan menyadari perubahan Alluna yang terlihat tidak seperti
biasanya. Ia menepikan mobilnya. “Mau tanya apa?” tanya Evan lembut.
“Reva siapa lo?” tanya Alluna ketus.
Evan menundukkan kepalanya, mendesah kesal dan menyandarkan
tubuhnya ke kursi.
Alluna menatap wajah Evan, berharap mendapatkan jawaban
jujur dari mulut cowok yang sudah setahun menjalin hubungan dengannya.
“Mereka ngomong apa aja sama kamu?” tanya Evan tanpa menoleh
sedikitpun. Ia memandang lurus ke jalanan, tangannya memegang setir erat-erat
menahan emosi.
“Nggak ngomong apa-apa. Gue cuma denger mereka cerita soal
skandal lo sama Reva.”
“Itu masa lalu aku. Nggak usah dibahas, ya!” pinta Evan.
“Why? Telling me!”
“Nggak sekarang.” Evan menggelengkan kepalanya.
“Why?”
“Aku bakalan cerita, tapi nggak sekarang.” Evan masih
bersikap lembut.
“Kenapa sih lo masih nggak mau jujur sama gue? Gue selalu
cerita apa pun tentang hidup gue. Nggak ada yang gue tutupin satu pun.”
“Kalau waktunya udah tepat, aku bakal cerita sama kamu.
Nggak sekarang. Please, ngertiin aku!”
Alluna bergeming. Ia tak banyak bertanya lagi, memilih untuk berdiam diri sepanjang perjalanan pulang. Laki-laki selalu punya rahasia dalam hidupnya, yang bahkan pasangannya sendiri pun tidak boleh tahu.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment