Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 339 : You Are Different

 


Yuna mondar-mandir di balkon rumah. Ia masih mengkhawatirkan Jheni yang ia tinggalkan begitu saja bersama Refi. Ia sudah menelepon Jheni beberapa kali dan tidak mendapatkan  jawaban.

“Angkat dong, Jhen!” pinta Yuna sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

Yuna menggigit jarinya. Ia semakin cemas karen Jheni tak kunjung menjawab panggilan teleponnya.

“Halo …!” sapa Jheni saat panggilan telepon Yuna yang keempat tersambung.

“Jhen, gimana keadaan kamu? Refi nggak macem-macem ke kamu kan?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Tenang aja. Kamu nggak perlu khawatirkan aku. Refi mah gampang dihadapi. Kelemahan dia banyak, hahaha.”

Yuna tersenyum kecil. “Akhir-akhir ini, Refi ngejar aku terus minta kerjaan. Menurut kamu, aku harus gimana?”

“Dia minta Yeriko lagi?”

“Minta kerjaan ke perusahaan Yeriko.”

“Kamu turuti?”

“Nggak.”

“Bagus.”

“Tapi, dia nggak nyerah buat ngejar aku. Aku harus gimana?”

“Cuekin aja, Yun! Ntar juga capek sendiri.”

“Aku juga capek, Jhen. Dia nggak ada nyerahnya ngusik aku. Aku mana bisa ganggu keputusan suamiku. Dia bakal marah besar kalo aku minta masukin Refi ke perusahaannya.”

“Ya udah, kamu cuekin aja. Kenapa dia ngelamar ke perusahaan suami kamu? Pasti ada maksud terselubung.”

“Hmm, iya juga sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebenarnya, aku juga takut kalau dia masuk ke perusahaan Yeriko. Ntar dia nempel terus ke Yeri. Biar bagaimanapun, dia masa lalunya Yeriko. Pasti, Yeri kesulitan menghadapi masa lalu dia. Bisa nolak Refi dengan tegas aja, udah bikin aku bersyukur banget. Cuma, kita nggak pernah tahu sekuat apa dinding pertahanan Yeriko kalo digodain terus.”

“Ah, Yun. Nggak usah mikir macem-macem deh!” pinta Jheni. “Kamu pikirin yang bahagia-bahagia aja. Kamu ini lagi hamil. Jangan benci sama Refi. Ntar anak kamu mirip sama dia.”

“Ya Tuhan … amit-amit jabang bayi,”  sahut Yuna sambil mengelus perutnya. “Jauhkan bala!”

“Hahaha. Eh, kamu udah bilang ke Yeriko kalo mantan pacar dia itu ngejar-ngejar kamu?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Mmh …”

“Yun, dia itu suami kamu. Kalo kamu nggak mau ngasih tahu dia. Biar aku yang kasih tahu, supaya Refi nggak ganggu kamu lagi.”

“Nggak usah, Jhen. Ntar aku ngomong sendiri sama suamiku kalo waktunya udah pas. Dia udah sibuk ngurus perusahaan. Aku nggak perlu membebani dia dengan hal kecil kayak gini.”

“Tapi, Yun. Gimana kalo dia nekat dan bahayain kamu?”

“Aku tahu, Jhen. Makanya, Yeriko nggak bolehin aku keluar sendirian. Itu udah cukup buat melindungi aku dan anak aku, Jhen. Aku nggak mau bikin dia lebih khawatir lagi.”

“Hmm, baiklah kalo emang itu keputusan kamu. Aku juga nggak bisa maksain.”

“Makasih, Jhen.”

“Aku nggak suka ucapan makasih dari kamu. Kalo mau terima kasih, harus traktir aku! Hahaha.”

“Dasar pemalak!” dengus Yuna.

“Hehehe. Udah dulu, ya! Ada telpon dari Chandra. Kamu jaga diri baik-baik ya! Bye …!” Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yuna menatap layar ponselnya. “Huft, mentang-mentang punya pacar, aku dicuekin.”

Yuna menghela napas, ia berbalik dan melangkah perlahan memasuki rumahnya kembali. Namun langkahnya terhenti saat melihat Yeriko sedang bersandar di bibir pintu sambil melipat kedua tangan di dada.

“Udah pulang?” tanya Yuna sambil tersenyum menghampiri Yeriko. “Tumben, jam segini udah pulang ke rumah?”

Yeriko bergeming. Ia menatap Yuna dengan wajah datar.

Yuna tersenyum. Ia menghampiri Yeriko sambil meraih pergelangan tangannya. “Ayo masuk!” ajak Yuna.

“Nggak ada yang mau kamu omongin ke aku?” tanya Yeriko.

Yuna terdiam sejenak. “Kamu denger pembicaraan aku sama Jheni?”

Yeriko mengangguk.

“Aku … aku cuma nggak mau bikin kamu makin repot,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Refi masih ganggu kamu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Dia datengin aku setiap hari buat minta kerjaan. Aku nggak tahu harus gimana lagi ngadepin dia.”

“Kenapa nggak bilang sama aku?”

“Dia nggak lolos tes di perusahaan kamu. Aku pikir, nggak ada gunanya ngeladeni permintaan dia. Tapi dia makin nekat. Bahkan, kemarin dia dateng ke apartemen ayah.”

“Ayah udah cerita ke aku,” sahut Yeriko.

“Jadi, kamu udah tahu?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Mau sampai kapan sembunyiin masalah kamu di depanku?”

“Aku nggak sembunyiin. Aku ngerasa kamu sibuk banget akhir-akhir ini. Aku cuma nggak mau nambahin beban kamu.”

“Kamu justru membebani aku kalo kamu nggak mau cerita masalah yang kamu hadapi. Aku ini suami kamu, Yun. Jangan bikin aku jadi konyol karena aku nggak tahu apa pun tentang masalah istriku sendiri!” pinta Yeriko.

Yuna terdiam. Ia tak ingin berargumen dengan suaminya sendiri dan memilih untuk menganggukkan kepala.

Yeriko bisa melihat jelas kesedihan yang tergambar dari raut wajah Yuna. Sungguh, ia tak pernah ingin melihat Yuna sedih sedikitpun. Ia langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya.

“Apa pun yang terjadi, masalah sekecil apa pun, jangan sembunyikan dari aku lagi!” pinta Yeriko berbisik.

Yuna mengangguk. Ia mencengkeram bagian belakang jas suaminya dan memeluknya erat.

“Apa yang harus aku lakuin buat ngadepin Refi?” tanya Yuna berbisik.

“Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa. Biar aku yang selesaikan masalah ini,” jawab Yeriko.

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Aku cuma bisa menambah beban buat kamu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

“Semuanya salahku. Refi datang karena aku. Seharusnya, aku bisa mengatasi dia. Maafin aku!” bisik Yeriko.

Yuna menatap wajah Yeriko. “Kamu benci sama Refi?” tanyanya.

Yeriko mengangguk. “Aku nggak suka dia ganggu kamu.”

Yuna tersenyum. “Kalau suatu hari aku bikin kesalahan besar dan kita berpisah. Apa kamu akan membenci aku seperti kamu membenci dia?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.

“Kamu ngomong apa sih!?” Yeriko mengusap air mata Yuna. “Refi dan kamu itu berbeda. Aku akan menerima semua kesalahan kamu, kebodohan kamu, kemarahan kamu. Semuanya … asal kita jangan berpisah!” Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna.

Yuna tersenyum tanpa bisa menahan air matanya keluar. “Dulu, kamu pernah punya hubungan cinta sama dia. Sekarang, kamu bisa membenci dia. Aku cuma takut, perasaan kamu ke aku juga bisa berubah.”

“Nggak, Yun. Nggak akan. Aku nggak akan berubah. Sekalipun seluruh dunia ini berubah setiap detik. Hatiku nggak akan berubah. Akan terus mencintai kamu. Jangan pernah berpikir seperti ini lagi!” Yeriko mengelus punggung Yuna dan mengeratkan pelukannya.

“Aku juga nggak akan berubah dan nggak akan berhenti mencintai kamu. Aku ingin terus bersama seperti ini. Tolong jangan benci Refi! Karena itu semua membuat aku berpikir, suatu hari nanti kamu juga akan membenciku. Memperlakukan aku seperti kamu memperlakukan dia. Kamu menolak dia aja, sudah cukup buat aku. Nggak perlu membenci.”

Yeriko menelan ludah mendengar ucapan Yuna. Ia terlalu menyayangi istrinya dan tidak ingin ada yang menyakitinya. Namun, bagaimana jika ras sakit itu justru datang dari dirinya sendiri?

“Baiklah. Aku nggak akan membenci dia. Aku akan atur pekerjaan buat dia. Dia bisa masuk ke anak perusahaanku. Aku nggak mau dia masuk ke kantorku. Oke?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Itu lebih baik. Karena aku juga takut kalau dia terus menerus mendekati kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. “Jangan berpikir macam-macam lagi!” pintanya lirih. “Kamu harus pikirin perkembangan anak kita. Aku nggak akan berubah. Cuma kamu satu-satunya pasanganku sampai ke surga. Bantu aku menguatkan hatiku setiap hari!”

Yuna mengeratkan pelukannya. “Aku sudah bahagia punya kamu. Aku nggak peduli sama yang lain. Sekalipun ada sepuluh Refi di sini, aku akan menghadapinya sampai mereka semua sadar kalau kamu dan aku … ditakdirkan tidak akan berpisah.”

Yeriko tersenyum. Ia merasa sangat bahagia mendapatkan banyak cinta dari Yuna. Wanita yang berhasil masuk ke dalam hatinya tanpa ia sadari dan menguasai dirinya tanpa bisa dikendalikan. “Kamu terlalu berbahaya, Yun. Sampai-sampai … aku merasa tak bisa hidup tanpa kamu,” batin Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 338 : Masih Mengejar

 


“Pagi ...!” seru Yuna saat Jheni baru saja membuka pintu rumahnya.

“Hoaam, pagi-pagi ke sini ada apa?” tanya Jheni yang masih mengantuk. Ia melangkah lunglai menuju sofa yang ada di ruang tamunya.

“Temenin aku, yuk!” ajak Yuna.

“Ke mana?” tanya Jheni sambil menelungkupkan tubuhnya ke sofa.

“Ada, deh. Kamu pasti suka.”

“Aku masih ngantuk banget, Yun. Baru tidur jam empat pagi,” tutur Jheni sambil memejamkan mata.

“Ayolah, Jhen!” rengek Yuna.

“Bentar. Aku tidur dulu.”

“Lama dong?”

“Lima menit aja.”

“Lima menitnya kamu itu lima jam buat aku.”

“Nggak sabaran banget sih Yun? Aku masih ngantuk banget.” Jheni menutup kepalanya menggunakan bantal sofa.

Yuna melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengerutkan wajahnya.

“Jhen ...!”

“Hmm.”

“Cepet mandi!”

“Ke mana sih, Yun?”

“Nanti kalo udah sampe sana, aku kasih tahu.”

“Kasih tahu sekarang. Kalo nggak, aku nggak mau pergi.”

“Ke pengrajin gerabah. Aku pengen belajar bikin karya keramik. Aku lihat, kotak cincin yang dipesan Mama dari Budapest bagus banget. Pengen bisa bikin sesuatu untuk Yeriko.”

“Kenapa tiba-tiba pengen bikin sesuatu buat dia?”

“Jhen, tiga bulan lagi dia ulang tahun. Aku mau ngasih sesuatu yang aku buat pakai tanganku sendiri. Kira-kira, tiga bulan cukup nggak ya buat bikin sesuatu untuk Yeriko?” tanya Yuna.

“Tergantung kamu,” jawab Jheni sambil bangkit dari sofa.

“Eh, ulang tahun Chandra kapan?” tanya Yuna.

“Udah lewat,” jawab Jheni sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

“Kamu kasih hadiah apa buat dia?”

“Nggak kasih apa-apa. Aku belum kenal sama dia.”

“Jangan-jangan ulang tahunnya antara bulan Oktober sampai Desember?”

“Januari,” sahut Jheni sambil masuk ke kamar mandi.

Yuna tersenyum kecil.

Beberapa menit kemudian, Jheni sudah bersiap.

Yuna segera membawa sahabatnya itu ke tempat pengrajin gerabah yang letaknya tak begitu jauh.

Sesampainya di rumah keramik tersebut, Jheni tercengang. “Kok, aku baru tahu di sini ada galeri kerajinan gerabah? Bukannya, dulu di sini kedai mie ya?”

Yuna menoleh ke arah Jheni. “Oh ya? Mungkin, ini keberuntungan buat aku.”

“Kamu emang selalu beruntung.” Jheni melangkahkan kakinya masuk ke dalam galeri tersebut.

“Jhen, aku kenalin sama pengrajinnya!” Yuna langsung menarik lengan Jheni. Ia menghampiri seorang pria berambut putih yang terlihat berumur lima puluh tahunan.

“Selamat siang, Master!” sapa Yuna sambil tersenyum senang.

“Siang juga anak cantik. Gimana kabarnya?”

“Baik. Hari ini, aku bawa teman baru buat belajar. Namanya Jheni,” tutur Yuna memperkenalkan sahabatnya.

“Selamat siang, Master!” sapa Jheni setelah membungkuk.

“Ah, jangan dipanggil Master! Terlalu bagus buat saya. Panggil saja Mbah To!” pinta Mbah To.

“Mbah Tok?” tanya Jheni menegaskan.

Mbah To mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jheni tersenyum. “Perkenalkan, nama saya Jheni Khamelin Putri. Biasa dipanggil Jheni. Saya sahabatnya Yuna.”

“Salam kenal Nak Jheni. Mau belajar bikin kerajinan gerabah juga?”

Jheni meringis mendengar pertanyaan Mbah To.

“Iya, Mbah. Dia ini seniman juga. Suka gambar-gambar gitu. Jadi, dia tertarik buat belajar bikin kerajinan gerabah.”

Jheni langsung menoleh ke arah Yuna. “Yun, project komik aku aja belum kelar. Kamu mau bikin aku dalam masalah?” bisik Jheni geram.

Yuna tersenyum manis. “Nggak setiap hari juga, Jhen. Ayolah!”

Jheni memutar bola matanya. “Baiklah.”

Yuna tersenyum. Ia segera masuk ke salah satu ruangan tempat belajar kerajinan gerabah. Bukan hanya dia dan Jheni. Ada juga beberapa murid Mbah To yang belajar di sana.

“Ayo, Jhen! Aku yakin, kamu bisa bikin yang lebih bagus dari aku.”

Bibir Jheni bergoyang seiring dengan ucapan Yuna.

Yuna tertawa kecil. Ia mulai memerhatikan Mbah To yang memberikan contoh membuat gerabah. Ia mengambil tanah liat dengan hati-hati dan mulai meletakkan di atas alat putar gerabah.

Jheni meringis sambil menyentuh tanah liat menggunakan ujung jarinya.

“Nggak usah takut kotor!” Yuna menoleh ke arah Jheni yang duduk di sampingnya.

Jheni mencebik. Ia mengambil tanah liat dalam jumlah banyak dan langsung meletakkannya di atas alat putar gerabah.

Jheni mencoba mengikuti instruksi dari Mbah To. Beberapa kali, ia gagal membentuk tanah liat di tangannya.

“Aargh! Aku mau gila!” seru Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia mulai menghaluskan tanah liat yang sudah terbentuk menjadi sebuah mangkuk sederhana di tangannya.

“Pusatkan pikiranmu!” pinta Mbah To sambil menatap Jheni. “Membuat keramik harus dengan hati yang tenang, tulus dan penuh kasih sayang.”

Jheni berdecak kesal. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membuat kerajinan tangan yang kotor dan rumit seperti ini.

“Jhen, anggap aja kamu lagi bikin sesuatu untuk Chandra. Dia pasti seneng kalo kamu bisa kasih hadiah ke dia. Hasil buatan tangan kamu sendiri.”

“Mmh, bener juga ya?”

Yuna tersenyum. Ia kembali fokus melatih tangannya agar bisa bekerja dengan baik membuat gerabah.

Jheni juga mulai menguasai teknik pembuatan gerabah. Ia menikmati setiap sentuhan dingin di tangannya.

Setelah belajar selama dua jam, Jheni dan Yuna berpamitan.

“Yun, kamu main ke rumah aku dulu?” tanya Jheni.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku harus nyiapin makan siang buat Yeriko.”

“Oh, oke. Baguslah. Kalo gitu, aku bisa kerja dengan tenang.”

“Apa kamu bilang? Kamu anggap aku ini pengganggu?”

Jheni terkekeh. Ia langsung berlari keluar dari galeri tersebut.

Yuna mengejar Jheni yang berusaha lari darinya. Mereka terus tertawa hingga seseorang yang muncul di depan mereka, menghentikan tawa ceria keduanya.

Yuna berusaha menghindar. Namun, orang tersebut tetap keukeuh menghadang langkah Yuna.

“Ref, kamu nggak ada nyerahnya ngejar-ngejar aku!?” sentak Yuna.

“Aku nggak akan nyerah sampai kamu kasih aku kesempatan sekali lagi.”

“Ini ada apa?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Refi bergantian.

Yuna melipat wajahnya menanggapi pertanyaan Jheni.

“Heh!? Kamu gangguin Yuna lagi?” tanya Jheni sambil menoyor dada Refi.

Refi diam, ia terus menatap wajah Yuna. “Yun ...!”

Yuna bergeming. Ia tidak ingin meladeni Refi dan membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Kamu masuk mobil aja, Yun!” perintah Jheni. “Biar aku yang hadapi dia.”

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya, namun Refi berusaha mencegah Yuna pergi.

“Kamu maunya apa sih!?” sentak Jheni sambil menarik lengan Refi. “Yun, cepetan pergi dari sini!” pintanya sambil menatap Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Jhen!”

“Nggak perlu makasih sama aku! Angga, cepet bawa Yuna pergi!”

“Baik, Mbak!” sahut Angga. Ia bergegas membawa Yuna masuk ke dalam mobil dan segera pergi.

“Kamu ini siapa?” sentak Refi sambil menepis lengan Jheni.

“Aku sahabatnya Yuna. Pacarnya Chandra!”

“Udah tahu,” sahut Refi ketus.

“Udah tahu masih nanya? Kamu!?” Jheni menunjuk wajah Refi sambil membelalakkan matanya.

“Kamu ngapain ikut campur urusan aku sama Yuna?” tanya Refi.

“Apa pun yang menyangkut soal Yuna, akan berurusan sama aku!” tegas Jheni.

Refi tersenyum sinis. “Aku heran, apa yang ada di dalam tubuh Yuna sampai semua orang belain dia?”

“Kamu nggak bisa lihat apa yang ada di dalam diri Yuna karena mata hati kamu itu udah buta!”

Refi tersenyum kecil. “Kamu siapa berani ngritik aku?”

“Kamu pikir, aku takut sama kamu?” tanya Jheni mengangkat dagunya.

“Aku juga nggak takut sama kamu. Kalau sampai kamu berani menghalangi aku, aku bakal lenyapin kamu.”

Jheni tersenyum kecil. “Kamu ngancam aku? Kamu yang bakal lenyap duluan karena udah ganggu hidup Yuna!” tegasnya.

“Aku nggak akan ganggu dia kalau dia nurutin permintaan aku,” tutur Refi sambil tersenyum. “Aku juga nggak akan nyerah gitu aja. Jadi, bilangin sama sahabat kamu yang sok cantik dan sok baik itu, aku akan terus ngejar dia,” tutur Refi. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Jheni.

Jheni membelalakkan matanya menatap punggung Refi. “Dasar cewek gila! Kamu yang sok cantik, sok oke, sok-sokan, rongsokan!” serunya. “Nggak sebanding sama Yuna!”

Refi tak menghiraukan ucapan Jheni. “Dasar rongsokan!” umpat Jheni. “Kamu pikir, aku takut hadapi kamu? Lihat aja, aku pasti ngelawan kamu sampai titik darah penghabisan. Bisa-bisanya mau manfaatin kebaikan Yuna,” lanjutnya mengomel sendiri.

Jheni mengedarkan pandangannya. “Aku ditinggalin sama Yuna? Aku tadi numpang di mobilnya dia. Ya ampun!” Ia menepuk dahinya sendiri.

Jheni merogoh ponsel di tangannya dan segera memesan taksi online. Ia harus segera pulang ke rumah karena ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Ia harap, Yuna akan baik-baik saja

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

.

Perfect Hero Bab 337 : Penolakan dari Yuna

 


“Yuna, kenapa kamu bersikap kasar seperti ini?” tanya Adjie saat melihat puterinya membanting pintu.

“Aku nggak suka ada dia.” Yuna melipat kedua tangan di dadanya.

“Nggak suka sama orang lain, bukan berarti harus bersikap kayak gini. Apa pun yang sudah dia buat ke kamu. Dia datang bersikap dengan baik. Alangkah baiknya kalau kamu juga bisa menjaga sikap kamu ini.”

“Aku nggak akan bersikap baik sama dia.”

Refi masih terus mengetuk pintu rumah Adjie.

Adjie menatap pintu rumahnya yang diketuk berkali-kali.

“Nggak usah dibukain!” pinta Yuna. Ia mengajak ayahnya untuk duduk di meja makan. “Mending kita makan aja!”

Adjie tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Sebenarnya, apa yang terjadi antara kamu dan wanita itu?”

“Banyak yang terjadi. Ayah nggak perlu berbaik hati sama dia!”

“Kelihatannya dia anak yang baik.”

Yuna terdiam. “Ayah belain dia?” ucapnya kesal.

“Ayah bukan belain dia. Ayah cuma khawatir sama kamu. Ayah nggak suka kamu bersikap kasar kayak gini. Kayak preman.”

Yuna mengerutkan hidung dan bibirnya. “Ayah nggak tahu apa aja yang sudah terjadi sama aku sebelas tahun belakangan ini. Banyak penderitaan yang harus aku jalani. Aku harus bertahan. Nggak boleh menyerah sama hidup. Aku bukan puteri keluarga Lin sebelas tahun lalu yang lembut dan penurut. Banyak hal yang sudah mengubahku. Hidup survive seorang diri mengajarkan aku tentang keberanian. Semakin aku takut, orang lain akan terus-menerus menindasku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Sebenarnya aku takut, Yah. Sangat takut menghadapi semuanya. Aku bertahan selama ini karena punya alasan.” Yuna menundukkan kepala.

“Alasanku itu ayah dan anak yang ada di dalam perutku sekarang,” batin Yuna.

Adjie menghela napas dan langsung memeluk puterinya. “Maafkan ayah! Ayah yang tidak mengerti kamu. Maafkan Ayah!” bisik Adjie sambil mengelus lembut kepala Yuna.

Yuna menghapus air matanya sambil tersenyum. “Sekarang, aku baik-baik aja. Aku tetap puteri Ayah yang semakin hari semakin kuat!” tutur Yuna sambil melepas pelukannya.

Adjie tersenyum bangga menatap Yuna.

“Gimana? Aku hebat, kan?” tanya Yuna sambil tersenyum manis.

“Sangat hebat!” sahut Adjie. “Ayo, kita makan!” lanjutnya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

Mata mereka tiba-tiba tertuju ke arah pintu yang masih diketuk, terdengar suara Refi lamat-lamat dari balik pintu.

“Dia masih bertahan di sana?” gumam Yuna.

Adjie tertawa kecil. “Anak itu, perlu diakui jempol soal usahanya,” ucapnya terkekeh.

“Ayah muji dia lagi?” dengus Yuna.

Adjie terkekeh. “Temen kamu itu semangatnya luar biasa. Dia nggak malu teriak-teriak di depan pintu rumah orang lain.”

“Tuan rumahnya yang malu,” celetuk Yuna.

Adjie dan Yuna langsung saling pandang.

“Yah, dia masih teriak-teriak gitu di depan rumah Ayah. Kalau banyak orang yang lihatin gimana?” tanya Yuna saat dirinya mulai tersadar.

“Biarkan saja! Anggap saja kucing liar sedang mencari makan!”

“Tapi, dia bisa bikin Ayah malu.”

“Ayah nggak papa. Biarkan saja. Makan yang banyak!” pinta Adjie.

Yuna mengangguk sambil menemani ayahnya menikmati makanan yang ia bawakan.

 

Di luar pintu, Refi masih tak menyerah. Ia terus mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Yuna dan ayahnya.

Refi menatap pintu apartemen ayah Yuna. Ia mulai diperhatikan oleh beberapa orang yang melihatnya. Ia tahu, ia akan merasa malu. Tapi, ia tidak peduli demi bisa mendapatkan pekerjaan di Galaxy Group.

“Yuna ...!” seru Refi. “Buka pintunya, aku mohon! Tolongin aku!” rengeknya terus-menerus.

“Ayuna ...!”

“Oom Adjie ...!”

“Buka pintunya! Aku cuma mau minta tolong, tolong bantu aku dapetin kerjaan!”

Rengekan Refi terus menarik perhatian banyak orang. Ia membuang rasa malunya jauh-jauh dan terus merengek di depan pintu.

Di dalam rumah, Yuna semakin geram dengan teriakan dan rengekan Refi yang mengusik telinganya juga telinga para tetangganya.

“Iih … ngeselin banget sih dia. Nggak pergi-pergi!” seru Yuna sambil menghentakkan kakinya. Ia akhirnya berjalan menuju pintu, membuka pintu tersebut dan menatap wajah Refi.

Yuna mengedarkan pandangannya. Ada banyak pasang mata yang mengerubungi Refi. Melihat tingkah gila Refi di depan rumahnya.

“Ref, kenapa masih di sini?” tanya Yuna menahan amarah.

“Aku udah bilang, aku nggak akan nyerah nyari kamu sampai kamu bantu aku buat masuk ke perusahaan.”

“Kamu sadar nggak sih kalau yang kamu lakuin ini salah? Kalo emang punya kemampuan, nggak perlu mengandalkan orang lain. Kamu bisa usaha sendiri!” seru Yuna.

“Aku bakal usaha sendiri. Tapi, kamu harus kasih aku kesempatan sekali lagi!”

“Kamu pemaksaan banget sih!? Aku udah bilang kalo aku nggak bisa!” sentak Yuna.

“Aku tahu sebenernya kamu bisa bantu aku. Kamu istrinya Yeriko. Nggak akan sulit minta ke dia.”

“Ref, Yeriko itu udah nolak kamu. Aku nggak bisa mengganggu keputusan dia. Lagipula, kamu ini kan artis. Buat apa ngelamar kerja di perusahaan suamiku? Lebih baik, kamu pilih ngelamar jadi model atau apa gitu yang cocok sama kamu.”

“Semenjak hari itu, aku susah buat masuk ke dunia hiburan lagi.”

Yuna tersenyum sinis. “Semua itu karena ulah kamu sendiri.”

Refi menatap Yuna dengan wajah iba. “Please, Yun! Kali ini aja. Aku butuh kerjaan.”

“Iih … aku nggak bisa!” sahut Yuna keukeuh.

“Aku nggak akan pergi sampai kamu bantu aku. Aku bakal ikuti kamu ke manapun.”

“Ya Tuhan …! Kenapa ada orang kayak kamu di dunia ini?” tutur Yuna sambil mengeratkan gigi-giginya.

Yuna kembali masuk ke rumah dan menutup pintu. Ia melangkah menuju sofa, mengambil tas tangan, merogoh ponsel di dalamnya dan langsung menelepon Angga.

“Angga, tolong kamu naik ke atas. Jemput saya di depan pintu!” perintah Yuna. “Oh ya, tolong bawa security ke sini. Ada orang gila bertingkah di depan pintu rumah ayah.”

“Siap, Nyonya Bos! Saya segera ke sana.”

Yuna tersenyum, ia mematikan panggilan teleponnya dan menunggu Angga datang menjemputnya.

“Yah, aku pulang dulu ya!” pamit Yuna saat ponselnya berdering. “Angga udah jemput aku.”

“Hati-hati di jalan!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Jangan pernah bukain pintu lagi buat Refi sekalipun dia nangis-nangis seharian di sana!”

Adjie mengangguk-anggukkan  kepalanya. Ia tidak ingin membuat Yuna terus menerus mengkhawatirkan dirinya.

Yuna bergegas membuka pintu. Ia menatap Angga yang sudah bersiap di depan pintu.

“Yuna …! Aku nggak akan nyerah sampai dapetin apa yang aku mau!” seru Refi saat kedua tangannya diseret oleh dua orang satpam apartemen yang berjaga.

Yuna hanya tersenyum ke arah Refi. “Akhirnya, aku bisa lepas dari orang gila satu itu. Bener-bener nyebelin,” gerutunya sambil melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

“Nyonya Bos mau ke mana lagi?” tanya Angga.

“Pulang aja. Oh ya, besok pagi antar saya ke pengrajin gerabah yang kemarin ya!” pinta Yuna.

“Baik!” Angga langsung membukakan pintu mobil untuk Yuna begitu ia sampai di parkiran.

Yuna tersenyum, ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan ulah Refi yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kegilaan Refi.

“Ini orang lebih gila dari Belli. Kenapa sih ada orang kayak dia? Udah kayak hantu aja. Di mana-mana ada dia. Kenapa dia nggak balik aja ke Paris?” gumam Yuna.

Yuna menghela napas. Tiba-tiba ia teringat pada dunianya saat ia masih menempuh pendidikan di Melbourne.

“Apa kabar Melbourne? Jadi kangen kota itu. Nggak nyangka kalau hidupku berubah secepat ini,” tutur Yuna sambil menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.

“Jheni, how are you? Kamu sibuk banget ya? Nggak kangen sama aku?” tanya Yuna berbisik.

Yuna memikirkan satu alasan agar bisa membawa Jheni keluar. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. Project yang dikerjakan Jheny lumayan menyita banyak waktu. Alangkah baiknya kalau ia memiliki pekerjaan juga. Tidak hanya berbaring di dalam rumah dan bersantai-santai sepanjang hari. Ia berniat mengajak sahabatnya itu pergi ke suatu tempat.

 

((Bersambung ...))

Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 336 : Wajah yang Memuakkan

 


Yuna menyusuri koridor apartemen perlahan, ia langsung masuk ke pintu apartemen ayahnya begitu sampai di lantai enam.

“Sore, Ayah!” sapa Yuna sambil menutup pintu apartemen tersebut. Ia langsung menghentikan gerakan tubuhnya saat mendapati wanita berambut panjang sedang duduk di sofa ruang tamu.

“Kenapa dia bisa di sini?” batin Yuna kesal. Ia melepas sepatunya, mengganti dengan sandal rumah dan langsung menghampiri gadis tersebut.

“Heh!? Kamu ngapain di sini?” sentak Yuna kesal.

“Cuma mau silaturahmi sama ayah kamu. Bukannya, ayah kamu udah sembuh? Aku cuma mau jenguk dia.”

“Keluar dari sini sekarang juga!” sentak Yuna.

“Yun, aku dateng ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu sekasar ini?” tanya Refi lembut.

“Baik apanya, hah!? Kamu jangan manfaatin ayah aku! Keluar dari sini!” seru Yuna.

“Yuna, ada apa? Kok, teriak-teriak?” tanya Adjie sambil menghampiri Yuna.

“Kenapa ada dia di rumah ini?” tanya Yuna sambil menunjuk wajah Refi.

“Dia temen baik kamu kan?” tanya Adjie.

“Temen baik?” Yuna membelalakkan matanya. “Baik. Baik banget! Sampe aku malas lihat dia di sini.”

Adjie menatap Refi dan Yuna bergantian. “Kalian lagi berantem?”

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan Adjie. “Ada sedikit kesalahpahaman, Oom. Biasa, sahabat memang sering berantem. Tapi, kami tetap saling menyayangi, kok.”

Yuna membelalakkan mata sembari membuka mulutnya lebar-lebar. “Sejak kapan kita jadi sahabat? Kenal sama kamu aja aku nggak mau. Apalagi jadi sahabat,” sergahnya.

“Yun, aku tahu kalau aku banyak salah sama kamu. Aku ke sini mau minta maaf. Mau berteman sama kamu dengan tulus. Kenapa kamu jahat banget sama aku?” tutur Refi lembut.

“Heh!? Kamu jangan sok baik sama aku di depan ayah!” sentak Yuna.

“Yuna, jangan marah-marah kayak gini!” pinta Adjie lembut. “Kamu lagi hamil, nggak baik marah-marah seperti ini.”

“Aku nggak akan marah kalo nggak ada dia di sini,” tutur Yuna menahan kesal.

“Oom, bantu aku bujuk Yuna, dong! Aku cuma mau berteman sama dia,” pinta Refi.

“Ayah, nggak usah dengerin dia!” pinta Yuna.

“Ref, lebih baik kamu pergi dari sini!” seru Yuna.

Refi terus menatap Adjie. Ia sangat berharap kalau ayah Yuna bisa memberinya kesempatan.

“Yuna, Ayah nggak pernah ngajarin kamu bersikap nggak sopan seperti ini,” tegur Adjie sambil menatap Yuna.

“Yah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan Yuna yang umurnya masih tiga belas tahun. Aku sadar sama apa yang aku hadapi sekarang. Asal Ayah tahu, dia itu ...” Ucapan Yuna terhenti saat menatap wajah ayahnya. Ia tidak ingin ayahnya mengkhawatirkan dirinya kalau tahu siapa Refi yang sesungguhnya.

“Berkelahi dengan teman, itu hal biasa. Sebaiknya, kalian saling bicara baik-baik dan selesaikan masalah kalian ini. Ayah tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa. Nggak baik saling menyimpan dendam di dalam hati. Kalian bicaralah! Ayah siapin makan malam untuk kalian.”

“Aku udah bawa makanan untuk Ayah,” tutur Yuna sambil menunjuk rantang yang ia letakkan di atas meja.

“Oh.” Adjie langsung mengambil rantang tersebut. “Ayah siapkan dulu. Kalian bicaralah baik-baik!” pinta Adjie sambil berlalu menuju dapur.

Yuna menghela napas. Ia duduk di sofa. Tepat berhadapan dengan Refi. “Nggak usah basa-basi. Kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.

Refi tersenyum ke arah Yuna. “Aku nggak lolos tes di Galaxy.”

“Oh.”

“Kamu bisa bantu aku lagi, Yun!” pinta Refi.

“Nggak bisa,” jawab Yuna ketus.

“Yun, please! Aku cuma minta sekali aja. Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku butuh banget kerjaan ini.”

“Aku nggak punya hak buat ambil keputusan. Kalo emang kamu nggak lolos di Galaxy. Kamu bisa ngelamar kerja di tempat lain, kan?”

“Aku nggak mau kerja di perusahaan kecil. Aku butuh uang banyak, Yun. Aku harus ganti rugi beberapa event yang udah aku terima sebelum aku kecelakaan.”

“Masih banyak perusahaan besar lain yang bisa kamu coba.”

“Aku udah coba semua. Harapan aku satu-satunya cuma Galaxy karena aku kenal sama kamu dan Yeriko. Apa kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi? Aku janji nggak akan ganggu kamu lagi setelah aku dapet kerjaan.”

“Aku nggak percaya sama janji palsu kamu itu,” sahut Yuna ketus.

Refi menghela napas. “Aku serius, Yun. Aku cuma butuh kerjaan ini. Tolong aku, please!” pintanya dengan wajah mengiba.

Yuna menatap wajah Refi selama beberapa detik. “Ck.” Ia hanya berdecak kecil. Yuna tidak menginginkan Refi masuk kembali ke dalam kehidupan Yeriko. Namun ia juga kesulitan menghadapi Refi yang terus memohon dan mengiba di hadapannya.

“Sekali ini aja, Yun. Please!”

“Ref, aku nggak punya wewenang apa pun di perusahaan. Aku tetep nggak bisa bantu kamu.”

“Kamu bisa bantu ngomong ke Head HRD Galaxy atau bantu ngomong ke suami kamu itu. Kalau suami kamu yang sampaikan ke Head HRD, dia pasti bakal dengerin omongan suami kamu itu. Kamu juga bisa bantu bujuk suami kamu.”

“Ref, aku ini emang istrinya Yeriko. Tapi aku nggak pernah ikut campur soal perusahaan dia. Masalah internal perusahaan, aku nggak bisa ikut campur. Lagipula, kemarin aku udah bantu kamu buat masukin CV. Selebihnya, hasil kerja keras kamu sendiri.”

“Aku nggak lolos tes karena Yeriko.”

Yuna menahan tawa. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan menolak kehadiran mantan kekasih yang cantik dan berbakat ini.

“Kenapa ketawa? Kamu juga yang ngerencanain ini di belakang aku?” tanya Refi.

“Ref, aku udah bilang kalo aku nggak punya hak buat ngurusin masalah internal perusahaan. Kamu masih nggak paham juga,” sahut Yuna.

“Aku tahu. Tapi kamu punya peranan besar untuk memengaruhi keputusan suami kamu.”

Yuna terdiam sejenak, kemudian tersenyum menatap Refi. “Apa itu artinya ... kamu udah mengakui kalau Yeriko itu milik aku selamanya?”

“Kamu!?”

Yuna tersenyum bahagia. Membuat Refi semakin iri melihatnya. Namun, ia harus tetap bersikap baik kepada Yuna untuk mendapatkan pekerjaan.

“Aku mungkin bisa memengaruhi keputusan suamiku. Tapi, aku lebih memilih menghormati keputusan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum.

Wajah Refi langsung masam. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Masih ada banyak cara yang bisa ia lakukan untuk mendesak Yuna agar memberikan pekerjaan untuknya.

“Kalau bukan karena campur tangan suami kamu. Aku pasti lolos tes di perusahaan itu.”

“Maksud kamu?”

Refi tersenyum sinis. “Kamu nggak pernah tahu apa yang dilakuin sama dia selama di belakang kamu? Dia nggak cerita ke kamu?”

Yuna terdiam. Ia berpikir sejenak. Walau banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Ia lebih memilih untuk mempercayai suaminya daripada harus termakan hasutan Refi.

Refi tersenyum menatap Yuna. “Gimana kalau kalian ngasih aku kesempatan sekali lagi?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Aku nggak bisa. Semua keputusan perusahaan tetap di tangan Yeriko. Kamu minta langsung aja ke dia!” sahut Yuna santai karena ia sudah mengetahui kalau suaminya menolak kehadiran Refi.

Refi terdiam. Yeriko sudah menolaknya secara terang-terangan. Ia tidak mungkin menghampirinya lagi. Jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membuat Yuna membujuk suaminya.

“Udah nggak ada yang mau dibicarakan? Silakan keluar dari rumah ini!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

Refi membelalakkan matanya. “Yun, kasih aku kesempatan lagi! Aku nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kesempatan sekali lagi.”

“Aku nggak akan pernah menjanjikan apa pun buat kamu.”

“Yun, sekali ini aja. Kalo aku sudah dapet kerjaan. Aku gak akan ganggu kamu lagi.”

Yuna terkekeh mendengar ucapan Refi. “Kamu ini nggak ada nyerahnya?”

“Aku udah bilang kalo aku nggak akan nyerah gitu aja.”

“Aku juga nggak akan nyerah!” balas Yuna. “Kalau udah nggak ada lagi yang mau dibicarain, lebih baik kamu pergi dari sini!”

“Yun, aku cuma minta kamu ngatur kerjaan buat aku. Itu aja.”

“Aku nggak bisa, Ref. Kamu minta bantuan sama orang lain aja!”

Refi terdiam. Ia hampir tak memiliki seorang teman dalam hidupnya. Bukan hampir, tapi memang tidak pernah berteman. Satu-satunya teman yang ia miliki dulu adalah Yeriko dan ia menyia-nyiakannya tiga tahun lalu. Sekarang, menyesal pun tak ada gunanya.

“Yun, aku mohon ... kasih aku kesempatan sekali lagi!” pinta Refi.

Yuna menggelengkan kepala. “Keluar dari sini sekarang!”

Refi bergeming. Ia keukeuh tidak ingin pergi.

“PERGI!” sentak Yuna. Ia bangkit dari sofa dan menarik lengan Refi.

“Aku nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kerjaan.”

“Aku udah bilang kalo aku nggak bisa! Kamu cepet pergi dari sini! PERGI!” seru Yuna sambil mendorong tubuh Refi ke arah pintu.

“Yuna, kamu nggak papa?” tanya Adjie. Ia bergegas menghampiri Yuna saat mendengar teriakan puterinya itu.

“Yah, aku nggak mau lihat dia!” sahut Yuna kesal.

“Oom, aku ke sini cuma mau minta tolong. Aku butuh kerjaan. Tolong bujuk Yuna buat nerima aku di perusahaan suaminya. Aku mohon, Oom!” pinta Refi.

Adjie menatap Refi dan Yuna bergantian. Ia tidak begitu mengenal Refi. Melihat sikap puterinya, membuatnya sangat khawatir dengan keberadaan Yuna.

“Pulanglah dulu! Oom bicarakan dengan Yuna,” pinta Adjie. Ia membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Refi keluar dari rumahnya.

Refi menatap wajah Adjie. Kakinya berat melangkah pergi karena ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan.

Yuna langsung mendorong tubuh Refi keluar dari pintu rumah ayahnya.

BRAAK ...!

Yuna membanting pintu dengan kesal. Ia sangat kesal karena Refi masih terus mengejarnya. Terlebih, Refi ingin memanfaatkan kebaikan ayahnya. Ia tidak ingin kehadiran Refi membahayakan ayahnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas