Yuna mondar-mandir
di balkon rumah. Ia masih mengkhawatirkan Jheni yang ia tinggalkan begitu saja
bersama Refi. Ia sudah menelepon Jheni beberapa kali dan tidak
mendapatkan jawaban.
“Angkat dong,
Jhen!” pinta Yuna sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
Yuna menggigit
jarinya. Ia semakin cemas karen Jheni tak kunjung menjawab panggilan
teleponnya.
“Halo …!” sapa
Jheni saat panggilan telepon Yuna yang keempat tersambung.
“Jhen, gimana
keadaan kamu? Refi nggak macem-macem ke kamu kan?” tanya Yuna tanpa basa-basi.
“Tenang aja. Kamu
nggak perlu khawatirkan aku. Refi mah gampang dihadapi. Kelemahan dia banyak,
hahaha.”
Yuna tersenyum
kecil. “Akhir-akhir ini, Refi ngejar aku terus minta kerjaan. Menurut kamu, aku
harus gimana?”
“Dia minta Yeriko
lagi?”
“Minta kerjaan ke
perusahaan Yeriko.”
“Kamu turuti?”
“Nggak.”
“Bagus.”
“Tapi, dia nggak
nyerah buat ngejar aku. Aku harus gimana?”
“Cuekin aja, Yun!
Ntar juga capek sendiri.”
“Aku juga capek,
Jhen. Dia nggak ada nyerahnya ngusik aku. Aku mana bisa ganggu keputusan
suamiku. Dia bakal marah besar kalo aku minta masukin Refi ke perusahaannya.”
“Ya udah, kamu
cuekin aja. Kenapa dia ngelamar ke perusahaan suami kamu? Pasti ada maksud
terselubung.”
“Hmm, iya juga
sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebenarnya, aku juga takut kalau
dia masuk ke perusahaan Yeriko. Ntar dia nempel terus ke Yeri. Biar
bagaimanapun, dia masa lalunya Yeriko. Pasti, Yeri kesulitan menghadapi masa
lalu dia. Bisa nolak Refi dengan tegas aja, udah bikin aku bersyukur banget.
Cuma, kita nggak pernah tahu sekuat apa dinding pertahanan Yeriko kalo digodain
terus.”
“Ah, Yun. Nggak
usah mikir macem-macem deh!” pinta Jheni. “Kamu pikirin yang bahagia-bahagia
aja. Kamu ini lagi hamil. Jangan benci sama Refi. Ntar anak kamu mirip sama
dia.”
“Ya Tuhan …
amit-amit jabang bayi,” sahut Yuna sambil mengelus perutnya. “Jauhkan
bala!”
“Hahaha. Eh, kamu
udah bilang ke Yeriko kalo mantan pacar dia itu ngejar-ngejar kamu?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Mmh …”
“Yun, dia itu
suami kamu. Kalo kamu nggak mau ngasih tahu dia. Biar aku yang kasih tahu,
supaya Refi nggak ganggu kamu lagi.”
“Nggak usah, Jhen.
Ntar aku ngomong sendiri sama suamiku kalo waktunya udah pas. Dia udah sibuk
ngurus perusahaan. Aku nggak perlu membebani dia dengan hal kecil kayak gini.”
“Tapi, Yun. Gimana
kalo dia nekat dan bahayain kamu?”
“Aku tahu, Jhen.
Makanya, Yeriko nggak bolehin aku keluar sendirian. Itu udah cukup buat
melindungi aku dan anak aku, Jhen. Aku nggak mau bikin dia lebih khawatir
lagi.”
“Hmm, baiklah kalo
emang itu keputusan kamu. Aku juga nggak bisa maksain.”
“Makasih, Jhen.”
“Aku nggak suka
ucapan makasih dari kamu. Kalo mau terima kasih, harus traktir aku! Hahaha.”
“Dasar pemalak!”
dengus Yuna.
“Hehehe. Udah
dulu, ya! Ada telpon dari Chandra. Kamu jaga diri baik-baik ya! Bye …!” Jheni
langsung mematikan panggilan teleponnya.
Yuna menatap layar
ponselnya. “Huft, mentang-mentang punya pacar, aku dicuekin.”
Yuna menghela
napas, ia berbalik dan melangkah perlahan memasuki rumahnya kembali. Namun
langkahnya terhenti saat melihat Yeriko sedang bersandar di bibir pintu sambil
melipat kedua tangan di dada.
“Udah pulang?”
tanya Yuna sambil tersenyum menghampiri Yeriko. “Tumben, jam segini udah pulang
ke rumah?”
Yeriko bergeming.
Ia menatap Yuna dengan wajah datar.
Yuna tersenyum. Ia
menghampiri Yeriko sambil meraih pergelangan tangannya. “Ayo masuk!” ajak Yuna.
“Nggak ada yang
mau kamu omongin ke aku?” tanya Yeriko.
Yuna terdiam
sejenak. “Kamu denger pembicaraan aku sama Jheni?”
Yeriko mengangguk.
“Aku … aku cuma
nggak mau bikin kamu makin repot,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan
kepalanya.
“Refi masih ganggu
kamu?”
Yuna menganggukkan
kepala. “Dia datengin aku setiap hari buat minta kerjaan. Aku nggak tahu harus
gimana lagi ngadepin dia.”
“Kenapa nggak
bilang sama aku?”
“Dia nggak lolos
tes di perusahaan kamu. Aku pikir, nggak ada gunanya ngeladeni permintaan dia.
Tapi dia makin nekat. Bahkan, kemarin dia dateng ke apartemen ayah.”
“Ayah udah cerita
ke aku,” sahut Yeriko.
“Jadi, kamu udah
tahu?” tanya Yuna.
Yeriko mengangguk.
“Mau sampai kapan sembunyiin masalah kamu di depanku?”
“Aku nggak
sembunyiin. Aku ngerasa kamu sibuk banget akhir-akhir ini. Aku cuma nggak mau
nambahin beban kamu.”
“Kamu justru
membebani aku kalo kamu nggak mau cerita masalah yang kamu hadapi. Aku ini
suami kamu, Yun. Jangan bikin aku jadi konyol karena aku nggak tahu apa pun
tentang masalah istriku sendiri!” pinta Yeriko.
Yuna terdiam. Ia
tak ingin berargumen dengan suaminya sendiri dan memilih untuk menganggukkan
kepala.
Yeriko bisa
melihat jelas kesedihan yang tergambar dari raut wajah Yuna. Sungguh, ia tak
pernah ingin melihat Yuna sedih sedikitpun. Ia langsung merengkuh kepala Yuna
ke dadanya.
“Apa pun yang
terjadi, masalah sekecil apa pun, jangan sembunyikan dari aku lagi!” pinta
Yeriko berbisik.
Yuna mengangguk.
Ia mencengkeram bagian belakang jas suaminya dan memeluknya erat.
“Apa yang harus
aku lakuin buat ngadepin Refi?” tanya Yuna berbisik.
“Kamu nggak perlu
ngelakuin apa-apa. Biar aku yang selesaikan masalah ini,” jawab Yeriko.
Yuna menengadahkan
kepalanya menatap Yeriko. “Aku cuma bisa menambah beban buat kamu,” tuturnya
dengan mata berkaca-kaca.
“Semuanya salahku.
Refi datang karena aku. Seharusnya, aku bisa mengatasi dia. Maafin aku!” bisik
Yeriko.
Yuna menatap wajah
Yeriko. “Kamu benci sama Refi?” tanyanya.
Yeriko mengangguk.
“Aku nggak suka dia ganggu kamu.”
Yuna tersenyum.
“Kalau suatu hari aku bikin kesalahan besar dan kita berpisah. Apa kamu akan
membenci aku seperti kamu membenci dia?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.
“Kamu ngomong apa
sih!?” Yeriko mengusap air mata Yuna. “Refi dan kamu itu berbeda. Aku akan
menerima semua kesalahan kamu, kebodohan kamu, kemarahan kamu. Semuanya … asal
kita jangan berpisah!” Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna.
Yuna tersenyum
tanpa bisa menahan air matanya keluar. “Dulu, kamu pernah punya hubungan cinta
sama dia. Sekarang, kamu bisa membenci dia. Aku cuma takut, perasaan kamu ke
aku juga bisa berubah.”
“Nggak, Yun. Nggak
akan. Aku nggak akan berubah. Sekalipun seluruh dunia ini berubah setiap detik.
Hatiku nggak akan berubah. Akan terus mencintai kamu. Jangan pernah berpikir
seperti ini lagi!” Yeriko mengelus punggung Yuna dan mengeratkan pelukannya.
“Aku juga nggak
akan berubah dan nggak akan berhenti mencintai kamu. Aku ingin terus bersama
seperti ini. Tolong jangan benci Refi! Karena itu semua membuat aku berpikir,
suatu hari nanti kamu juga akan membenciku. Memperlakukan aku seperti kamu
memperlakukan dia. Kamu menolak dia aja, sudah cukup buat aku. Nggak perlu
membenci.”
Yeriko menelan
ludah mendengar ucapan Yuna. Ia terlalu menyayangi istrinya dan tidak ingin ada
yang menyakitinya. Namun, bagaimana jika ras sakit itu justru datang dari
dirinya sendiri?
“Baiklah. Aku
nggak akan membenci dia. Aku akan atur pekerjaan buat dia. Dia bisa masuk ke
anak perusahaanku. Aku nggak mau dia masuk ke kantorku. Oke?”
Yuna mengangguk
sambil tersenyum. “Itu lebih baik. Karena aku juga takut kalau dia terus
menerus mendekati kamu.”
Yeriko tersenyum
kecil. “Jangan berpikir macam-macam lagi!” pintanya lirih. “Kamu harus pikirin
perkembangan anak kita. Aku nggak akan berubah. Cuma kamu satu-satunya
pasanganku sampai ke surga. Bantu aku menguatkan hatiku setiap hari!”
Yuna mengeratkan
pelukannya. “Aku sudah bahagia punya kamu. Aku nggak peduli sama yang lain.
Sekalipun ada sepuluh Refi di sini, aku akan menghadapinya sampai mereka semua
sadar kalau kamu dan aku … ditakdirkan tidak akan berpisah.”
Yeriko tersenyum.
Ia merasa sangat bahagia mendapatkan banyak cinta dari Yuna. Wanita yang
berhasil masuk ke dalam hatinya tanpa ia sadari dan menguasai dirinya tanpa
bisa dikendalikan. “Kamu terlalu berbahaya, Yun. Sampai-sampai … aku merasa tak
bisa hidup tanpa kamu,” batin Yeriko.
((Bersambung ...))
Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih
seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi



