“Yuna,
kenapa kamu bersikap kasar seperti ini?” tanya Adjie saat melihat puterinya
membanting pintu.
“Aku
nggak suka ada dia.” Yuna melipat kedua tangan di dadanya.
“Nggak
suka sama orang lain, bukan berarti harus bersikap kayak gini. Apa pun yang
sudah dia buat ke kamu. Dia datang bersikap dengan baik. Alangkah baiknya kalau
kamu juga bisa menjaga sikap kamu ini.”
“Aku
nggak akan bersikap baik sama dia.”
Refi
masih terus mengetuk pintu rumah Adjie.
Adjie
menatap pintu rumahnya yang diketuk berkali-kali.
“Nggak
usah dibukain!” pinta Yuna. Ia mengajak ayahnya untuk duduk di meja makan.
“Mending kita makan aja!”
Adjie
tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Sebenarnya, apa yang terjadi antara
kamu dan wanita itu?”
“Banyak
yang terjadi. Ayah nggak perlu berbaik hati sama dia!”
“Kelihatannya
dia anak yang baik.”
Yuna
terdiam. “Ayah belain dia?” ucapnya kesal.
“Ayah
bukan belain dia. Ayah cuma khawatir sama kamu. Ayah nggak suka kamu bersikap
kasar kayak gini. Kayak preman.”
Yuna
mengerutkan hidung dan bibirnya. “Ayah nggak tahu apa aja yang sudah terjadi
sama aku sebelas tahun belakangan ini. Banyak penderitaan yang harus aku
jalani. Aku harus bertahan. Nggak boleh menyerah sama hidup. Aku bukan puteri
keluarga Lin sebelas tahun lalu yang lembut dan penurut. Banyak hal yang sudah
mengubahku. Hidup survive seorang diri mengajarkan aku tentang keberanian.
Semakin aku takut, orang lain akan terus-menerus menindasku,” tutur Yuna dengan
mata berkaca-kaca.
“Sebenarnya
aku takut, Yah. Sangat takut menghadapi semuanya. Aku bertahan selama ini
karena punya alasan.” Yuna menundukkan kepala.
“Alasanku
itu ayah dan anak yang ada di dalam perutku sekarang,” batin Yuna.
Adjie
menghela napas dan langsung memeluk puterinya. “Maafkan ayah! Ayah yang tidak
mengerti kamu. Maafkan Ayah!” bisik Adjie sambil mengelus lembut kepala Yuna.
Yuna
menghapus air matanya sambil tersenyum. “Sekarang, aku baik-baik aja. Aku tetap
puteri Ayah yang semakin hari semakin kuat!” tutur Yuna sambil melepas
pelukannya.
Adjie
tersenyum bangga menatap Yuna.
“Gimana?
Aku hebat, kan?” tanya Yuna sambil tersenyum manis.
“Sangat
hebat!” sahut Adjie. “Ayo, kita makan!” lanjutnya.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum manis.
Mata
mereka tiba-tiba tertuju ke arah pintu yang masih diketuk, terdengar suara Refi
lamat-lamat dari balik pintu.
“Dia
masih bertahan di sana?” gumam Yuna.
Adjie
tertawa kecil. “Anak itu, perlu diakui jempol soal usahanya,” ucapnya terkekeh.
“Ayah
muji dia lagi?” dengus Yuna.
Adjie
terkekeh. “Temen kamu itu semangatnya luar biasa. Dia nggak malu teriak-teriak
di depan pintu rumah orang lain.”
“Tuan
rumahnya yang malu,” celetuk Yuna.
Adjie
dan Yuna langsung saling pandang.
“Yah,
dia masih teriak-teriak gitu di depan rumah Ayah. Kalau banyak orang yang
lihatin gimana?” tanya Yuna saat dirinya mulai tersadar.
“Biarkan
saja! Anggap saja kucing liar sedang mencari makan!”
“Tapi,
dia bisa bikin Ayah malu.”
“Ayah
nggak papa. Biarkan saja. Makan yang banyak!” pinta Adjie.
Yuna
mengangguk sambil menemani ayahnya menikmati makanan yang ia bawakan.
Di
luar pintu, Refi masih tak menyerah. Ia terus mengetuk-ngetuk pintu sambil
memanggil nama Yuna dan ayahnya.
Refi
menatap pintu apartemen ayah Yuna. Ia mulai diperhatikan oleh beberapa orang
yang melihatnya. Ia tahu, ia akan merasa malu. Tapi, ia tidak peduli demi bisa
mendapatkan pekerjaan di Galaxy Group.
“Yuna
...!” seru Refi. “Buka pintunya, aku mohon! Tolongin aku!” rengeknya
terus-menerus.
“Ayuna
...!”
“Oom
Adjie ...!”
“Buka
pintunya! Aku cuma mau minta tolong, tolong bantu aku dapetin kerjaan!”
Rengekan
Refi terus menarik perhatian banyak orang. Ia membuang rasa malunya jauh-jauh
dan terus merengek di depan pintu.
Di
dalam rumah, Yuna semakin geram dengan teriakan dan rengekan Refi yang mengusik
telinganya juga telinga para tetangganya.
“Iih
… ngeselin banget sih dia. Nggak pergi-pergi!” seru Yuna sambil menghentakkan
kakinya. Ia akhirnya berjalan menuju pintu, membuka pintu tersebut dan menatap
wajah Refi.
Yuna
mengedarkan pandangannya. Ada banyak pasang mata yang mengerubungi Refi.
Melihat tingkah gila Refi di depan rumahnya.
“Ref,
kenapa masih di sini?” tanya Yuna menahan amarah.
“Aku
udah bilang, aku nggak akan nyerah nyari kamu sampai kamu bantu aku buat masuk
ke perusahaan.”
“Kamu
sadar nggak sih kalau yang kamu lakuin ini salah? Kalo emang punya kemampuan,
nggak perlu mengandalkan orang lain. Kamu bisa usaha sendiri!” seru Yuna.
“Aku
bakal usaha sendiri. Tapi, kamu harus kasih aku kesempatan sekali lagi!”
“Kamu
pemaksaan banget sih!? Aku udah bilang kalo aku nggak bisa!” sentak Yuna.
“Aku
tahu sebenernya kamu bisa bantu aku. Kamu istrinya Yeriko. Nggak akan sulit
minta ke dia.”
“Ref,
Yeriko itu udah nolak kamu. Aku nggak bisa mengganggu keputusan dia. Lagipula,
kamu ini kan artis. Buat apa ngelamar kerja di perusahaan suamiku? Lebih baik,
kamu pilih ngelamar jadi model atau apa gitu yang cocok sama kamu.”
“Semenjak
hari itu, aku susah buat masuk ke dunia hiburan lagi.”
Yuna
tersenyum sinis. “Semua itu karena ulah kamu sendiri.”
Refi
menatap Yuna dengan wajah iba. “Please, Yun! Kali ini aja. Aku butuh kerjaan.”
“Iih
… aku nggak bisa!” sahut Yuna keukeuh.
“Aku
nggak akan pergi sampai kamu bantu aku. Aku bakal ikuti kamu ke manapun.”
“Ya
Tuhan …! Kenapa ada orang kayak kamu di dunia ini?” tutur Yuna sambil
mengeratkan gigi-giginya.
Yuna
kembali masuk ke rumah dan menutup pintu. Ia melangkah menuju sofa, mengambil
tas tangan, merogoh ponsel di dalamnya dan langsung menelepon Angga.
“Angga,
tolong kamu naik ke atas. Jemput saya di depan pintu!” perintah Yuna. “Oh ya,
tolong bawa security ke sini. Ada orang gila bertingkah di depan pintu rumah
ayah.”
“Siap,
Nyonya Bos! Saya segera ke sana.”
Yuna
tersenyum, ia mematikan panggilan teleponnya dan menunggu Angga datang
menjemputnya.
“Yah,
aku pulang dulu ya!” pamit Yuna saat ponselnya berdering. “Angga udah jemput
aku.”
“Hati-hati
di jalan!”
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Jangan pernah bukain pintu lagi buat Refi
sekalipun dia nangis-nangis seharian di sana!”
Adjie
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak ingin membuat Yuna terus menerus
mengkhawatirkan dirinya.
Yuna
bergegas membuka pintu. Ia menatap Angga yang sudah bersiap di depan pintu.
“Yuna
…! Aku nggak akan nyerah sampai dapetin apa yang aku mau!” seru Refi saat kedua
tangannya diseret oleh dua orang satpam apartemen yang berjaga.
Yuna
hanya tersenyum ke arah Refi. “Akhirnya, aku bisa lepas dari orang gila satu
itu. Bener-bener nyebelin,” gerutunya sambil melangkahkan kakinya keluar dari
apartemen.
“Nyonya
Bos mau ke mana lagi?” tanya Angga.
“Pulang
aja. Oh ya, besok pagi antar saya ke pengrajin gerabah yang kemarin ya!” pinta
Yuna.
“Baik!”
Angga langsung membukakan pintu mobil untuk Yuna begitu ia sampai di parkiran.
Yuna
tersenyum, ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan
ulah Refi yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi
kegilaan Refi.
“Ini
orang lebih gila dari Belli. Kenapa sih ada orang kayak dia? Udah kayak hantu
aja. Di mana-mana ada dia. Kenapa dia nggak balik aja ke Paris?” gumam Yuna.
Yuna
menghela napas. Tiba-tiba ia teringat pada dunianya saat ia masih menempuh
pendidikan di Melbourne.
“Apa
kabar Melbourne? Jadi kangen kota itu. Nggak nyangka kalau hidupku berubah
secepat ini,” tutur Yuna sambil menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.
“Jheni,
how are you? Kamu sibuk banget ya? Nggak kangen sama aku?” tanya Yuna berbisik.
Yuna
memikirkan satu alasan agar bisa membawa Jheni keluar. Ia sangat merindukan
sahabatnya itu. Project yang dikerjakan Jheny lumayan menyita banyak waktu.
Alangkah baiknya kalau ia memiliki pekerjaan juga. Tidak hanya berbaring di
dalam rumah dan bersantai-santai sepanjang hari. Ia berniat mengajak sahabatnya
itu pergi ke suatu tempat.
((Bersambung ...))
Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih
seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment