Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 337 : Penolakan dari Yuna

 


“Yuna, kenapa kamu bersikap kasar seperti ini?” tanya Adjie saat melihat puterinya membanting pintu.

“Aku nggak suka ada dia.” Yuna melipat kedua tangan di dadanya.

“Nggak suka sama orang lain, bukan berarti harus bersikap kayak gini. Apa pun yang sudah dia buat ke kamu. Dia datang bersikap dengan baik. Alangkah baiknya kalau kamu juga bisa menjaga sikap kamu ini.”

“Aku nggak akan bersikap baik sama dia.”

Refi masih terus mengetuk pintu rumah Adjie.

Adjie menatap pintu rumahnya yang diketuk berkali-kali.

“Nggak usah dibukain!” pinta Yuna. Ia mengajak ayahnya untuk duduk di meja makan. “Mending kita makan aja!”

Adjie tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Sebenarnya, apa yang terjadi antara kamu dan wanita itu?”

“Banyak yang terjadi. Ayah nggak perlu berbaik hati sama dia!”

“Kelihatannya dia anak yang baik.”

Yuna terdiam. “Ayah belain dia?” ucapnya kesal.

“Ayah bukan belain dia. Ayah cuma khawatir sama kamu. Ayah nggak suka kamu bersikap kasar kayak gini. Kayak preman.”

Yuna mengerutkan hidung dan bibirnya. “Ayah nggak tahu apa aja yang sudah terjadi sama aku sebelas tahun belakangan ini. Banyak penderitaan yang harus aku jalani. Aku harus bertahan. Nggak boleh menyerah sama hidup. Aku bukan puteri keluarga Lin sebelas tahun lalu yang lembut dan penurut. Banyak hal yang sudah mengubahku. Hidup survive seorang diri mengajarkan aku tentang keberanian. Semakin aku takut, orang lain akan terus-menerus menindasku,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

“Sebenarnya aku takut, Yah. Sangat takut menghadapi semuanya. Aku bertahan selama ini karena punya alasan.” Yuna menundukkan kepala.

“Alasanku itu ayah dan anak yang ada di dalam perutku sekarang,” batin Yuna.

Adjie menghela napas dan langsung memeluk puterinya. “Maafkan ayah! Ayah yang tidak mengerti kamu. Maafkan Ayah!” bisik Adjie sambil mengelus lembut kepala Yuna.

Yuna menghapus air matanya sambil tersenyum. “Sekarang, aku baik-baik aja. Aku tetap puteri Ayah yang semakin hari semakin kuat!” tutur Yuna sambil melepas pelukannya.

Adjie tersenyum bangga menatap Yuna.

“Gimana? Aku hebat, kan?” tanya Yuna sambil tersenyum manis.

“Sangat hebat!” sahut Adjie. “Ayo, kita makan!” lanjutnya.

Yuna mengangguk sambil tersenyum manis.

Mata mereka tiba-tiba tertuju ke arah pintu yang masih diketuk, terdengar suara Refi lamat-lamat dari balik pintu.

“Dia masih bertahan di sana?” gumam Yuna.

Adjie tertawa kecil. “Anak itu, perlu diakui jempol soal usahanya,” ucapnya terkekeh.

“Ayah muji dia lagi?” dengus Yuna.

Adjie terkekeh. “Temen kamu itu semangatnya luar biasa. Dia nggak malu teriak-teriak di depan pintu rumah orang lain.”

“Tuan rumahnya yang malu,” celetuk Yuna.

Adjie dan Yuna langsung saling pandang.

“Yah, dia masih teriak-teriak gitu di depan rumah Ayah. Kalau banyak orang yang lihatin gimana?” tanya Yuna saat dirinya mulai tersadar.

“Biarkan saja! Anggap saja kucing liar sedang mencari makan!”

“Tapi, dia bisa bikin Ayah malu.”

“Ayah nggak papa. Biarkan saja. Makan yang banyak!” pinta Adjie.

Yuna mengangguk sambil menemani ayahnya menikmati makanan yang ia bawakan.

 

Di luar pintu, Refi masih tak menyerah. Ia terus mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil nama Yuna dan ayahnya.

Refi menatap pintu apartemen ayah Yuna. Ia mulai diperhatikan oleh beberapa orang yang melihatnya. Ia tahu, ia akan merasa malu. Tapi, ia tidak peduli demi bisa mendapatkan pekerjaan di Galaxy Group.

“Yuna ...!” seru Refi. “Buka pintunya, aku mohon! Tolongin aku!” rengeknya terus-menerus.

“Ayuna ...!”

“Oom Adjie ...!”

“Buka pintunya! Aku cuma mau minta tolong, tolong bantu aku dapetin kerjaan!”

Rengekan Refi terus menarik perhatian banyak orang. Ia membuang rasa malunya jauh-jauh dan terus merengek di depan pintu.

Di dalam rumah, Yuna semakin geram dengan teriakan dan rengekan Refi yang mengusik telinganya juga telinga para tetangganya.

“Iih … ngeselin banget sih dia. Nggak pergi-pergi!” seru Yuna sambil menghentakkan kakinya. Ia akhirnya berjalan menuju pintu, membuka pintu tersebut dan menatap wajah Refi.

Yuna mengedarkan pandangannya. Ada banyak pasang mata yang mengerubungi Refi. Melihat tingkah gila Refi di depan rumahnya.

“Ref, kenapa masih di sini?” tanya Yuna menahan amarah.

“Aku udah bilang, aku nggak akan nyerah nyari kamu sampai kamu bantu aku buat masuk ke perusahaan.”

“Kamu sadar nggak sih kalau yang kamu lakuin ini salah? Kalo emang punya kemampuan, nggak perlu mengandalkan orang lain. Kamu bisa usaha sendiri!” seru Yuna.

“Aku bakal usaha sendiri. Tapi, kamu harus kasih aku kesempatan sekali lagi!”

“Kamu pemaksaan banget sih!? Aku udah bilang kalo aku nggak bisa!” sentak Yuna.

“Aku tahu sebenernya kamu bisa bantu aku. Kamu istrinya Yeriko. Nggak akan sulit minta ke dia.”

“Ref, Yeriko itu udah nolak kamu. Aku nggak bisa mengganggu keputusan dia. Lagipula, kamu ini kan artis. Buat apa ngelamar kerja di perusahaan suamiku? Lebih baik, kamu pilih ngelamar jadi model atau apa gitu yang cocok sama kamu.”

“Semenjak hari itu, aku susah buat masuk ke dunia hiburan lagi.”

Yuna tersenyum sinis. “Semua itu karena ulah kamu sendiri.”

Refi menatap Yuna dengan wajah iba. “Please, Yun! Kali ini aja. Aku butuh kerjaan.”

“Iih … aku nggak bisa!” sahut Yuna keukeuh.

“Aku nggak akan pergi sampai kamu bantu aku. Aku bakal ikuti kamu ke manapun.”

“Ya Tuhan …! Kenapa ada orang kayak kamu di dunia ini?” tutur Yuna sambil mengeratkan gigi-giginya.

Yuna kembali masuk ke rumah dan menutup pintu. Ia melangkah menuju sofa, mengambil tas tangan, merogoh ponsel di dalamnya dan langsung menelepon Angga.

“Angga, tolong kamu naik ke atas. Jemput saya di depan pintu!” perintah Yuna. “Oh ya, tolong bawa security ke sini. Ada orang gila bertingkah di depan pintu rumah ayah.”

“Siap, Nyonya Bos! Saya segera ke sana.”

Yuna tersenyum, ia mematikan panggilan teleponnya dan menunggu Angga datang menjemputnya.

“Yah, aku pulang dulu ya!” pamit Yuna saat ponselnya berdering. “Angga udah jemput aku.”

“Hati-hati di jalan!”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Jangan pernah bukain pintu lagi buat Refi sekalipun dia nangis-nangis seharian di sana!”

Adjie mengangguk-anggukkan  kepalanya. Ia tidak ingin membuat Yuna terus menerus mengkhawatirkan dirinya.

Yuna bergegas membuka pintu. Ia menatap Angga yang sudah bersiap di depan pintu.

“Yuna …! Aku nggak akan nyerah sampai dapetin apa yang aku mau!” seru Refi saat kedua tangannya diseret oleh dua orang satpam apartemen yang berjaga.

Yuna hanya tersenyum ke arah Refi. “Akhirnya, aku bisa lepas dari orang gila satu itu. Bener-bener nyebelin,” gerutunya sambil melangkahkan kakinya keluar dari apartemen.

“Nyonya Bos mau ke mana lagi?” tanya Angga.

“Pulang aja. Oh ya, besok pagi antar saya ke pengrajin gerabah yang kemarin ya!” pinta Yuna.

“Baik!” Angga langsung membukakan pintu mobil untuk Yuna begitu ia sampai di parkiran.

Yuna tersenyum, ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan ulah Refi yang semakin menjadi-jadi. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi kegilaan Refi.

“Ini orang lebih gila dari Belli. Kenapa sih ada orang kayak dia? Udah kayak hantu aja. Di mana-mana ada dia. Kenapa dia nggak balik aja ke Paris?” gumam Yuna.

Yuna menghela napas. Tiba-tiba ia teringat pada dunianya saat ia masih menempuh pendidikan di Melbourne.

“Apa kabar Melbourne? Jadi kangen kota itu. Nggak nyangka kalau hidupku berubah secepat ini,” tutur Yuna sambil menyandarkan kepalanya ke kaca mobil.

“Jheni, how are you? Kamu sibuk banget ya? Nggak kangen sama aku?” tanya Yuna berbisik.

Yuna memikirkan satu alasan agar bisa membawa Jheni keluar. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. Project yang dikerjakan Jheny lumayan menyita banyak waktu. Alangkah baiknya kalau ia memiliki pekerjaan juga. Tidak hanya berbaring di dalam rumah dan bersantai-santai sepanjang hari. Ia berniat mengajak sahabatnya itu pergi ke suatu tempat.

 

((Bersambung ...))

Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas