Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 336 : Wajah yang Memuakkan

 


Yuna menyusuri koridor apartemen perlahan, ia langsung masuk ke pintu apartemen ayahnya begitu sampai di lantai enam.

“Sore, Ayah!” sapa Yuna sambil menutup pintu apartemen tersebut. Ia langsung menghentikan gerakan tubuhnya saat mendapati wanita berambut panjang sedang duduk di sofa ruang tamu.

“Kenapa dia bisa di sini?” batin Yuna kesal. Ia melepas sepatunya, mengganti dengan sandal rumah dan langsung menghampiri gadis tersebut.

“Heh!? Kamu ngapain di sini?” sentak Yuna kesal.

“Cuma mau silaturahmi sama ayah kamu. Bukannya, ayah kamu udah sembuh? Aku cuma mau jenguk dia.”

“Keluar dari sini sekarang juga!” sentak Yuna.

“Yun, aku dateng ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu sekasar ini?” tanya Refi lembut.

“Baik apanya, hah!? Kamu jangan manfaatin ayah aku! Keluar dari sini!” seru Yuna.

“Yuna, ada apa? Kok, teriak-teriak?” tanya Adjie sambil menghampiri Yuna.

“Kenapa ada dia di rumah ini?” tanya Yuna sambil menunjuk wajah Refi.

“Dia temen baik kamu kan?” tanya Adjie.

“Temen baik?” Yuna membelalakkan matanya. “Baik. Baik banget! Sampe aku malas lihat dia di sini.”

Adjie menatap Refi dan Yuna bergantian. “Kalian lagi berantem?”

Refi tersenyum menanggapi pertanyaan Adjie. “Ada sedikit kesalahpahaman, Oom. Biasa, sahabat memang sering berantem. Tapi, kami tetap saling menyayangi, kok.”

Yuna membelalakkan mata sembari membuka mulutnya lebar-lebar. “Sejak kapan kita jadi sahabat? Kenal sama kamu aja aku nggak mau. Apalagi jadi sahabat,” sergahnya.

“Yun, aku tahu kalau aku banyak salah sama kamu. Aku ke sini mau minta maaf. Mau berteman sama kamu dengan tulus. Kenapa kamu jahat banget sama aku?” tutur Refi lembut.

“Heh!? Kamu jangan sok baik sama aku di depan ayah!” sentak Yuna.

“Yuna, jangan marah-marah kayak gini!” pinta Adjie lembut. “Kamu lagi hamil, nggak baik marah-marah seperti ini.”

“Aku nggak akan marah kalo nggak ada dia di sini,” tutur Yuna menahan kesal.

“Oom, bantu aku bujuk Yuna, dong! Aku cuma mau berteman sama dia,” pinta Refi.

“Ayah, nggak usah dengerin dia!” pinta Yuna.

“Ref, lebih baik kamu pergi dari sini!” seru Yuna.

Refi terus menatap Adjie. Ia sangat berharap kalau ayah Yuna bisa memberinya kesempatan.

“Yuna, Ayah nggak pernah ngajarin kamu bersikap nggak sopan seperti ini,” tegur Adjie sambil menatap Yuna.

“Yah, aku bukan anak kecil lagi. Aku bukan Yuna yang umurnya masih tiga belas tahun. Aku sadar sama apa yang aku hadapi sekarang. Asal Ayah tahu, dia itu ...” Ucapan Yuna terhenti saat menatap wajah ayahnya. Ia tidak ingin ayahnya mengkhawatirkan dirinya kalau tahu siapa Refi yang sesungguhnya.

“Berkelahi dengan teman, itu hal biasa. Sebaiknya, kalian saling bicara baik-baik dan selesaikan masalah kalian ini. Ayah tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa. Nggak baik saling menyimpan dendam di dalam hati. Kalian bicaralah! Ayah siapin makan malam untuk kalian.”

“Aku udah bawa makanan untuk Ayah,” tutur Yuna sambil menunjuk rantang yang ia letakkan di atas meja.

“Oh.” Adjie langsung mengambil rantang tersebut. “Ayah siapkan dulu. Kalian bicaralah baik-baik!” pinta Adjie sambil berlalu menuju dapur.

Yuna menghela napas. Ia duduk di sofa. Tepat berhadapan dengan Refi. “Nggak usah basa-basi. Kamu mau ngomong apa?” tanya Yuna.

Refi tersenyum ke arah Yuna. “Aku nggak lolos tes di Galaxy.”

“Oh.”

“Kamu bisa bantu aku lagi, Yun!” pinta Refi.

“Nggak bisa,” jawab Yuna ketus.

“Yun, please! Aku cuma minta sekali aja. Setelah ini, aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku butuh banget kerjaan ini.”

“Aku nggak punya hak buat ambil keputusan. Kalo emang kamu nggak lolos di Galaxy. Kamu bisa ngelamar kerja di tempat lain, kan?”

“Aku nggak mau kerja di perusahaan kecil. Aku butuh uang banyak, Yun. Aku harus ganti rugi beberapa event yang udah aku terima sebelum aku kecelakaan.”

“Masih banyak perusahaan besar lain yang bisa kamu coba.”

“Aku udah coba semua. Harapan aku satu-satunya cuma Galaxy karena aku kenal sama kamu dan Yeriko. Apa kamu nggak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi? Aku janji nggak akan ganggu kamu lagi setelah aku dapet kerjaan.”

“Aku nggak percaya sama janji palsu kamu itu,” sahut Yuna ketus.

Refi menghela napas. “Aku serius, Yun. Aku cuma butuh kerjaan ini. Tolong aku, please!” pintanya dengan wajah mengiba.

Yuna menatap wajah Refi selama beberapa detik. “Ck.” Ia hanya berdecak kecil. Yuna tidak menginginkan Refi masuk kembali ke dalam kehidupan Yeriko. Namun ia juga kesulitan menghadapi Refi yang terus memohon dan mengiba di hadapannya.

“Sekali ini aja, Yun. Please!”

“Ref, aku nggak punya wewenang apa pun di perusahaan. Aku tetep nggak bisa bantu kamu.”

“Kamu bisa bantu ngomong ke Head HRD Galaxy atau bantu ngomong ke suami kamu itu. Kalau suami kamu yang sampaikan ke Head HRD, dia pasti bakal dengerin omongan suami kamu itu. Kamu juga bisa bantu bujuk suami kamu.”

“Ref, aku ini emang istrinya Yeriko. Tapi aku nggak pernah ikut campur soal perusahaan dia. Masalah internal perusahaan, aku nggak bisa ikut campur. Lagipula, kemarin aku udah bantu kamu buat masukin CV. Selebihnya, hasil kerja keras kamu sendiri.”

“Aku nggak lolos tes karena Yeriko.”

Yuna menahan tawa. Ia tak menyangka kalau Yeriko akan menolak kehadiran mantan kekasih yang cantik dan berbakat ini.

“Kenapa ketawa? Kamu juga yang ngerencanain ini di belakang aku?” tanya Refi.

“Ref, aku udah bilang kalo aku nggak punya hak buat ngurusin masalah internal perusahaan. Kamu masih nggak paham juga,” sahut Yuna.

“Aku tahu. Tapi kamu punya peranan besar untuk memengaruhi keputusan suami kamu.”

Yuna terdiam sejenak, kemudian tersenyum menatap Refi. “Apa itu artinya ... kamu udah mengakui kalau Yeriko itu milik aku selamanya?”

“Kamu!?”

Yuna tersenyum bahagia. Membuat Refi semakin iri melihatnya. Namun, ia harus tetap bersikap baik kepada Yuna untuk mendapatkan pekerjaan.

“Aku mungkin bisa memengaruhi keputusan suamiku. Tapi, aku lebih memilih menghormati keputusan dia,” tutur Yuna sambil tersenyum.

Wajah Refi langsung masam. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Masih ada banyak cara yang bisa ia lakukan untuk mendesak Yuna agar memberikan pekerjaan untuknya.

“Kalau bukan karena campur tangan suami kamu. Aku pasti lolos tes di perusahaan itu.”

“Maksud kamu?”

Refi tersenyum sinis. “Kamu nggak pernah tahu apa yang dilakuin sama dia selama di belakang kamu? Dia nggak cerita ke kamu?”

Yuna terdiam. Ia berpikir sejenak. Walau banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Ia lebih memilih untuk mempercayai suaminya daripada harus termakan hasutan Refi.

Refi tersenyum menatap Yuna. “Gimana kalau kalian ngasih aku kesempatan sekali lagi?”

Yuna mengerutkan dahinya. “Aku nggak bisa. Semua keputusan perusahaan tetap di tangan Yeriko. Kamu minta langsung aja ke dia!” sahut Yuna santai karena ia sudah mengetahui kalau suaminya menolak kehadiran Refi.

Refi terdiam. Yeriko sudah menolaknya secara terang-terangan. Ia tidak mungkin menghampirinya lagi. Jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membuat Yuna membujuk suaminya.

“Udah nggak ada yang mau dibicarakan? Silakan keluar dari rumah ini!” pinta Yuna sambil tersenyum manis.

Refi membelalakkan matanya. “Yun, kasih aku kesempatan lagi! Aku nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kesempatan sekali lagi.”

“Aku nggak akan pernah menjanjikan apa pun buat kamu.”

“Yun, sekali ini aja. Kalo aku sudah dapet kerjaan. Aku gak akan ganggu kamu lagi.”

Yuna terkekeh mendengar ucapan Refi. “Kamu ini nggak ada nyerahnya?”

“Aku udah bilang kalo aku nggak akan nyerah gitu aja.”

“Aku juga nggak akan nyerah!” balas Yuna. “Kalau udah nggak ada lagi yang mau dibicarain, lebih baik kamu pergi dari sini!”

“Yun, aku cuma minta kamu ngatur kerjaan buat aku. Itu aja.”

“Aku nggak bisa, Ref. Kamu minta bantuan sama orang lain aja!”

Refi terdiam. Ia hampir tak memiliki seorang teman dalam hidupnya. Bukan hampir, tapi memang tidak pernah berteman. Satu-satunya teman yang ia miliki dulu adalah Yeriko dan ia menyia-nyiakannya tiga tahun lalu. Sekarang, menyesal pun tak ada gunanya.

“Yun, aku mohon ... kasih aku kesempatan sekali lagi!” pinta Refi.

Yuna menggelengkan kepala. “Keluar dari sini sekarang!”

Refi bergeming. Ia keukeuh tidak ingin pergi.

“PERGI!” sentak Yuna. Ia bangkit dari sofa dan menarik lengan Refi.

“Aku nggak akan pergi sebelum kamu janji bakal ngasih aku kerjaan.”

“Aku udah bilang kalo aku nggak bisa! Kamu cepet pergi dari sini! PERGI!” seru Yuna sambil mendorong tubuh Refi ke arah pintu.

“Yuna, kamu nggak papa?” tanya Adjie. Ia bergegas menghampiri Yuna saat mendengar teriakan puterinya itu.

“Yah, aku nggak mau lihat dia!” sahut Yuna kesal.

“Oom, aku ke sini cuma mau minta tolong. Aku butuh kerjaan. Tolong bujuk Yuna buat nerima aku di perusahaan suaminya. Aku mohon, Oom!” pinta Refi.

Adjie menatap Refi dan Yuna bergantian. Ia tidak begitu mengenal Refi. Melihat sikap puterinya, membuatnya sangat khawatir dengan keberadaan Yuna.

“Pulanglah dulu! Oom bicarakan dengan Yuna,” pinta Adjie. Ia membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Refi keluar dari rumahnya.

Refi menatap wajah Adjie. Kakinya berat melangkah pergi karena ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan.

Yuna langsung mendorong tubuh Refi keluar dari pintu rumah ayahnya.

BRAAK ...!

Yuna membanting pintu dengan kesal. Ia sangat kesal karena Refi masih terus mengejarnya. Terlebih, Refi ingin memanfaatkan kebaikan ayahnya. Ia tidak ingin kehadiran Refi membahayakan ayahnya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas