Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 338 : Masih Mengejar

 


“Pagi ...!” seru Yuna saat Jheni baru saja membuka pintu rumahnya.

“Hoaam, pagi-pagi ke sini ada apa?” tanya Jheni yang masih mengantuk. Ia melangkah lunglai menuju sofa yang ada di ruang tamunya.

“Temenin aku, yuk!” ajak Yuna.

“Ke mana?” tanya Jheni sambil menelungkupkan tubuhnya ke sofa.

“Ada, deh. Kamu pasti suka.”

“Aku masih ngantuk banget, Yun. Baru tidur jam empat pagi,” tutur Jheni sambil memejamkan mata.

“Ayolah, Jhen!” rengek Yuna.

“Bentar. Aku tidur dulu.”

“Lama dong?”

“Lima menit aja.”

“Lima menitnya kamu itu lima jam buat aku.”

“Nggak sabaran banget sih Yun? Aku masih ngantuk banget.” Jheni menutup kepalanya menggunakan bantal sofa.

Yuna melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengerutkan wajahnya.

“Jhen ...!”

“Hmm.”

“Cepet mandi!”

“Ke mana sih, Yun?”

“Nanti kalo udah sampe sana, aku kasih tahu.”

“Kasih tahu sekarang. Kalo nggak, aku nggak mau pergi.”

“Ke pengrajin gerabah. Aku pengen belajar bikin karya keramik. Aku lihat, kotak cincin yang dipesan Mama dari Budapest bagus banget. Pengen bisa bikin sesuatu untuk Yeriko.”

“Kenapa tiba-tiba pengen bikin sesuatu buat dia?”

“Jhen, tiga bulan lagi dia ulang tahun. Aku mau ngasih sesuatu yang aku buat pakai tanganku sendiri. Kira-kira, tiga bulan cukup nggak ya buat bikin sesuatu untuk Yeriko?” tanya Yuna.

“Tergantung kamu,” jawab Jheni sambil bangkit dari sofa.

“Eh, ulang tahun Chandra kapan?” tanya Yuna.

“Udah lewat,” jawab Jheni sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi.

“Kamu kasih hadiah apa buat dia?”

“Nggak kasih apa-apa. Aku belum kenal sama dia.”

“Jangan-jangan ulang tahunnya antara bulan Oktober sampai Desember?”

“Januari,” sahut Jheni sambil masuk ke kamar mandi.

Yuna tersenyum kecil.

Beberapa menit kemudian, Jheni sudah bersiap.

Yuna segera membawa sahabatnya itu ke tempat pengrajin gerabah yang letaknya tak begitu jauh.

Sesampainya di rumah keramik tersebut, Jheni tercengang. “Kok, aku baru tahu di sini ada galeri kerajinan gerabah? Bukannya, dulu di sini kedai mie ya?”

Yuna menoleh ke arah Jheni. “Oh ya? Mungkin, ini keberuntungan buat aku.”

“Kamu emang selalu beruntung.” Jheni melangkahkan kakinya masuk ke dalam galeri tersebut.

“Jhen, aku kenalin sama pengrajinnya!” Yuna langsung menarik lengan Jheni. Ia menghampiri seorang pria berambut putih yang terlihat berumur lima puluh tahunan.

“Selamat siang, Master!” sapa Yuna sambil tersenyum senang.

“Siang juga anak cantik. Gimana kabarnya?”

“Baik. Hari ini, aku bawa teman baru buat belajar. Namanya Jheni,” tutur Yuna memperkenalkan sahabatnya.

“Selamat siang, Master!” sapa Jheni setelah membungkuk.

“Ah, jangan dipanggil Master! Terlalu bagus buat saya. Panggil saja Mbah To!” pinta Mbah To.

“Mbah Tok?” tanya Jheni menegaskan.

Mbah To mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jheni tersenyum. “Perkenalkan, nama saya Jheni Khamelin Putri. Biasa dipanggil Jheni. Saya sahabatnya Yuna.”

“Salam kenal Nak Jheni. Mau belajar bikin kerajinan gerabah juga?”

Jheni meringis mendengar pertanyaan Mbah To.

“Iya, Mbah. Dia ini seniman juga. Suka gambar-gambar gitu. Jadi, dia tertarik buat belajar bikin kerajinan gerabah.”

Jheni langsung menoleh ke arah Yuna. “Yun, project komik aku aja belum kelar. Kamu mau bikin aku dalam masalah?” bisik Jheni geram.

Yuna tersenyum manis. “Nggak setiap hari juga, Jhen. Ayolah!”

Jheni memutar bola matanya. “Baiklah.”

Yuna tersenyum. Ia segera masuk ke salah satu ruangan tempat belajar kerajinan gerabah. Bukan hanya dia dan Jheni. Ada juga beberapa murid Mbah To yang belajar di sana.

“Ayo, Jhen! Aku yakin, kamu bisa bikin yang lebih bagus dari aku.”

Bibir Jheni bergoyang seiring dengan ucapan Yuna.

Yuna tertawa kecil. Ia mulai memerhatikan Mbah To yang memberikan contoh membuat gerabah. Ia mengambil tanah liat dengan hati-hati dan mulai meletakkan di atas alat putar gerabah.

Jheni meringis sambil menyentuh tanah liat menggunakan ujung jarinya.

“Nggak usah takut kotor!” Yuna menoleh ke arah Jheni yang duduk di sampingnya.

Jheni mencebik. Ia mengambil tanah liat dalam jumlah banyak dan langsung meletakkannya di atas alat putar gerabah.

Jheni mencoba mengikuti instruksi dari Mbah To. Beberapa kali, ia gagal membentuk tanah liat di tangannya.

“Aargh! Aku mau gila!” seru Jheni.

Yuna tertawa kecil. Ia mulai menghaluskan tanah liat yang sudah terbentuk menjadi sebuah mangkuk sederhana di tangannya.

“Pusatkan pikiranmu!” pinta Mbah To sambil menatap Jheni. “Membuat keramik harus dengan hati yang tenang, tulus dan penuh kasih sayang.”

Jheni berdecak kesal. Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk membuat kerajinan tangan yang kotor dan rumit seperti ini.

“Jhen, anggap aja kamu lagi bikin sesuatu untuk Chandra. Dia pasti seneng kalo kamu bisa kasih hadiah ke dia. Hasil buatan tangan kamu sendiri.”

“Mmh, bener juga ya?”

Yuna tersenyum. Ia kembali fokus melatih tangannya agar bisa bekerja dengan baik membuat gerabah.

Jheni juga mulai menguasai teknik pembuatan gerabah. Ia menikmati setiap sentuhan dingin di tangannya.

Setelah belajar selama dua jam, Jheni dan Yuna berpamitan.

“Yun, kamu main ke rumah aku dulu?” tanya Jheni.

Yuna menggelengkan kepala. “Aku harus nyiapin makan siang buat Yeriko.”

“Oh, oke. Baguslah. Kalo gitu, aku bisa kerja dengan tenang.”

“Apa kamu bilang? Kamu anggap aku ini pengganggu?”

Jheni terkekeh. Ia langsung berlari keluar dari galeri tersebut.

Yuna mengejar Jheni yang berusaha lari darinya. Mereka terus tertawa hingga seseorang yang muncul di depan mereka, menghentikan tawa ceria keduanya.

Yuna berusaha menghindar. Namun, orang tersebut tetap keukeuh menghadang langkah Yuna.

“Ref, kamu nggak ada nyerahnya ngejar-ngejar aku!?” sentak Yuna.

“Aku nggak akan nyerah sampai kamu kasih aku kesempatan sekali lagi.”

“Ini ada apa?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Refi bergantian.

Yuna melipat wajahnya menanggapi pertanyaan Jheni.

“Heh!? Kamu gangguin Yuna lagi?” tanya Jheni sambil menoyor dada Refi.

Refi diam, ia terus menatap wajah Yuna. “Yun ...!”

Yuna bergeming. Ia tidak ingin meladeni Refi dan membuat perasaannya semakin tak karuan.

“Kamu masuk mobil aja, Yun!” perintah Jheni. “Biar aku yang hadapi dia.”

Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya, namun Refi berusaha mencegah Yuna pergi.

“Kamu maunya apa sih!?” sentak Jheni sambil menarik lengan Refi. “Yun, cepetan pergi dari sini!” pintanya sambil menatap Yuna.

Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Jhen!”

“Nggak perlu makasih sama aku! Angga, cepet bawa Yuna pergi!”

“Baik, Mbak!” sahut Angga. Ia bergegas membawa Yuna masuk ke dalam mobil dan segera pergi.

“Kamu ini siapa?” sentak Refi sambil menepis lengan Jheni.

“Aku sahabatnya Yuna. Pacarnya Chandra!”

“Udah tahu,” sahut Refi ketus.

“Udah tahu masih nanya? Kamu!?” Jheni menunjuk wajah Refi sambil membelalakkan matanya.

“Kamu ngapain ikut campur urusan aku sama Yuna?” tanya Refi.

“Apa pun yang menyangkut soal Yuna, akan berurusan sama aku!” tegas Jheni.

Refi tersenyum sinis. “Aku heran, apa yang ada di dalam tubuh Yuna sampai semua orang belain dia?”

“Kamu nggak bisa lihat apa yang ada di dalam diri Yuna karena mata hati kamu itu udah buta!”

Refi tersenyum kecil. “Kamu siapa berani ngritik aku?”

“Kamu pikir, aku takut sama kamu?” tanya Jheni mengangkat dagunya.

“Aku juga nggak takut sama kamu. Kalau sampai kamu berani menghalangi aku, aku bakal lenyapin kamu.”

Jheni tersenyum kecil. “Kamu ngancam aku? Kamu yang bakal lenyap duluan karena udah ganggu hidup Yuna!” tegasnya.

“Aku nggak akan ganggu dia kalau dia nurutin permintaan aku,” tutur Refi sambil tersenyum. “Aku juga nggak akan nyerah gitu aja. Jadi, bilangin sama sahabat kamu yang sok cantik dan sok baik itu, aku akan terus ngejar dia,” tutur Refi. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Jheni.

Jheni membelalakkan matanya menatap punggung Refi. “Dasar cewek gila! Kamu yang sok cantik, sok oke, sok-sokan, rongsokan!” serunya. “Nggak sebanding sama Yuna!”

Refi tak menghiraukan ucapan Jheni. “Dasar rongsokan!” umpat Jheni. “Kamu pikir, aku takut hadapi kamu? Lihat aja, aku pasti ngelawan kamu sampai titik darah penghabisan. Bisa-bisanya mau manfaatin kebaikan Yuna,” lanjutnya mengomel sendiri.

Jheni mengedarkan pandangannya. “Aku ditinggalin sama Yuna? Aku tadi numpang di mobilnya dia. Ya ampun!” Ia menepuk dahinya sendiri.

Jheni merogoh ponsel di tangannya dan segera memesan taksi online. Ia harus segera pulang ke rumah karena ada banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Ia harap, Yuna akan baik-baik saja

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas