“Pagi ...!” seru Yuna saat Jheni baru saja membuka pintu
rumahnya.
“Hoaam, pagi-pagi ke sini ada apa?” tanya Jheni yang
masih mengantuk. Ia melangkah lunglai menuju sofa yang ada di ruang tamunya.
“Temenin aku, yuk!” ajak Yuna.
“Ke mana?” tanya Jheni sambil menelungkupkan tubuhnya ke
sofa.
“Ada, deh. Kamu pasti suka.”
“Aku masih ngantuk banget, Yun. Baru tidur jam empat
pagi,” tutur Jheni sambil memejamkan mata.
“Ayolah, Jhen!” rengek Yuna.
“Bentar. Aku tidur dulu.”
“Lama dong?”
“Lima menit aja.”
“Lima menitnya kamu itu lima jam buat aku.”
“Nggak sabaran banget sih Yun? Aku masih ngantuk banget.”
Jheni menutup kepalanya menggunakan bantal sofa.
Yuna melipat kedua tangannya di depan dada sambil
mengerutkan wajahnya.
“Jhen ...!”
“Hmm.”
“Cepet mandi!”
“Ke mana sih, Yun?”
“Nanti kalo udah sampe sana, aku kasih tahu.”
“Kasih tahu sekarang. Kalo nggak, aku nggak mau pergi.”
“Ke pengrajin gerabah. Aku pengen belajar bikin karya
keramik. Aku lihat, kotak cincin yang dipesan Mama dari Budapest bagus banget.
Pengen bisa bikin sesuatu untuk Yeriko.”
“Kenapa tiba-tiba pengen bikin sesuatu buat dia?”
“Jhen, tiga bulan lagi dia ulang tahun. Aku mau ngasih
sesuatu yang aku buat pakai tanganku sendiri. Kira-kira, tiga bulan cukup nggak
ya buat bikin sesuatu untuk Yeriko?” tanya Yuna.
“Tergantung kamu,” jawab Jheni sambil bangkit dari sofa.
“Eh, ulang tahun Chandra kapan?” tanya Yuna.
“Udah lewat,” jawab Jheni sambil melangkahkan kakinya ke
kamar mandi.
“Kamu kasih hadiah apa buat dia?”
“Nggak kasih apa-apa. Aku belum kenal sama dia.”
“Jangan-jangan ulang tahunnya antara bulan Oktober sampai
Desember?”
“Januari,” sahut Jheni sambil masuk ke kamar mandi.
Yuna tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, Jheni sudah bersiap.
Yuna segera membawa sahabatnya itu ke tempat pengrajin
gerabah yang letaknya tak begitu jauh.
Sesampainya di rumah keramik tersebut, Jheni tercengang.
“Kok, aku baru tahu di sini ada galeri kerajinan gerabah? Bukannya, dulu di
sini kedai mie ya?”
Yuna menoleh ke arah Jheni. “Oh ya? Mungkin, ini
keberuntungan buat aku.”
“Kamu emang selalu beruntung.” Jheni melangkahkan kakinya
masuk ke dalam galeri tersebut.
“Jhen, aku kenalin sama pengrajinnya!” Yuna langsung
menarik lengan Jheni. Ia menghampiri seorang pria berambut putih yang terlihat
berumur lima puluh tahunan.
“Selamat siang, Master!” sapa Yuna sambil tersenyum
senang.
“Siang juga anak cantik. Gimana kabarnya?”
“Baik. Hari ini, aku bawa teman baru buat belajar.
Namanya Jheni,” tutur Yuna memperkenalkan sahabatnya.
“Selamat siang, Master!” sapa Jheni setelah membungkuk.
“Ah, jangan dipanggil Master! Terlalu bagus buat saya. Panggil saja Mbah To!” pinta Mbah To.
“Mbah Tok?” tanya Jheni menegaskan.
Mbah To mengangguk-anggukkan kepalanya.
Jheni tersenyum. “Perkenalkan, nama saya Jheni Khamelin
Putri. Biasa dipanggil Jheni. Saya sahabatnya Yuna.”
“Salam kenal Nak Jheni. Mau belajar bikin kerajinan
gerabah juga?”
Jheni meringis mendengar pertanyaan Mbah To.
“Iya, Mbah. Dia ini seniman juga. Suka gambar-gambar
gitu. Jadi, dia tertarik buat belajar bikin kerajinan gerabah.”
Jheni langsung menoleh ke arah Yuna. “Yun, project komik
aku aja belum kelar. Kamu mau bikin aku dalam masalah?” bisik Jheni geram.
Yuna tersenyum manis. “Nggak setiap hari juga, Jhen.
Ayolah!”
Jheni memutar bola matanya. “Baiklah.”
Yuna tersenyum. Ia segera masuk ke salah satu ruangan
tempat belajar kerajinan gerabah. Bukan hanya dia dan Jheni. Ada juga beberapa
murid Mbah To yang belajar di sana.
“Ayo, Jhen! Aku yakin, kamu bisa bikin yang lebih bagus
dari aku.”
Bibir Jheni bergoyang seiring dengan ucapan Yuna.
Yuna tertawa kecil. Ia mulai memerhatikan Mbah To yang
memberikan contoh membuat gerabah. Ia mengambil tanah liat dengan hati-hati dan
mulai meletakkan di atas alat putar gerabah.
Jheni meringis sambil menyentuh tanah liat menggunakan
ujung jarinya.
“Nggak usah takut kotor!” Yuna menoleh ke arah Jheni yang
duduk di sampingnya.
Jheni mencebik. Ia mengambil tanah liat dalam jumlah
banyak dan langsung meletakkannya di atas alat putar gerabah.
Jheni mencoba mengikuti instruksi dari Mbah To. Beberapa
kali, ia gagal membentuk tanah liat di tangannya.
“Aargh! Aku mau gila!” seru Jheni.
Yuna tertawa kecil. Ia mulai menghaluskan tanah liat yang
sudah terbentuk menjadi sebuah mangkuk sederhana di tangannya.
“Pusatkan pikiranmu!” pinta Mbah To sambil menatap Jheni.
“Membuat keramik harus dengan hati yang tenang, tulus dan penuh kasih sayang.”
Jheni berdecak kesal. Ia sama sekali tidak memiliki
keinginan untuk membuat kerajinan tangan yang kotor dan rumit seperti ini.
“Jhen, anggap aja kamu lagi bikin sesuatu untuk Chandra.
Dia pasti seneng kalo kamu bisa kasih hadiah ke dia. Hasil buatan tangan kamu
sendiri.”
“Mmh, bener juga ya?”
Yuna tersenyum. Ia kembali fokus melatih tangannya agar
bisa bekerja dengan baik membuat gerabah.
Jheni juga mulai menguasai teknik pembuatan gerabah. Ia
menikmati setiap sentuhan dingin di tangannya.
Setelah belajar selama dua jam, Jheni dan Yuna
berpamitan.
“Yun, kamu main ke rumah aku dulu?” tanya Jheni.
Yuna menggelengkan kepala. “Aku harus nyiapin makan siang
buat Yeriko.”
“Oh, oke. Baguslah. Kalo gitu, aku bisa kerja dengan
tenang.”
“Apa kamu bilang? Kamu anggap aku ini pengganggu?”
Jheni terkekeh. Ia langsung berlari keluar dari galeri
tersebut.
Yuna mengejar Jheni yang berusaha lari darinya. Mereka
terus tertawa hingga seseorang yang muncul di depan mereka, menghentikan tawa
ceria keduanya.
Yuna berusaha menghindar. Namun, orang tersebut tetap
keukeuh menghadang langkah Yuna.
“Ref, kamu nggak ada nyerahnya ngejar-ngejar aku!?”
sentak Yuna.
“Aku nggak akan nyerah sampai kamu kasih aku kesempatan
sekali lagi.”
“Ini ada apa?” tanya Jheni sambil menatap Yuna dan Refi
bergantian.
Yuna melipat wajahnya menanggapi pertanyaan Jheni.
“Heh!? Kamu gangguin Yuna lagi?” tanya Jheni sambil
menoyor dada Refi.
Refi diam, ia terus menatap wajah Yuna. “Yun ...!”
Yuna bergeming. Ia tidak ingin meladeni Refi dan membuat
perasaannya semakin tak karuan.
“Kamu masuk mobil aja, Yun!” perintah Jheni. “Biar aku
yang hadapi dia.”
Yuna mengangguk. Ia melangkahkan kakinya, namun Refi
berusaha mencegah Yuna pergi.
“Kamu maunya apa sih!?” sentak Jheni sambil menarik
lengan Refi. “Yun, cepetan pergi dari sini!” pintanya sambil menatap Yuna.
Yuna menganggukkan kepala. “Makasih, Jhen!”
“Nggak perlu makasih sama aku! Angga, cepet bawa Yuna
pergi!”
“Baik, Mbak!” sahut Angga. Ia bergegas membawa Yuna masuk
ke dalam mobil dan segera pergi.
“Kamu ini siapa?” sentak Refi sambil menepis lengan
Jheni.
“Aku sahabatnya Yuna. Pacarnya Chandra!”
“Udah tahu,” sahut Refi ketus.
“Udah tahu masih nanya? Kamu!?” Jheni menunjuk wajah Refi
sambil membelalakkan matanya.
“Kamu ngapain ikut campur urusan aku sama Yuna?” tanya
Refi.
“Apa pun yang menyangkut soal Yuna, akan berurusan sama
aku!” tegas Jheni.
Refi tersenyum sinis. “Aku heran, apa yang ada di dalam
tubuh Yuna sampai semua orang belain dia?”
“Kamu nggak bisa lihat apa yang ada di dalam diri Yuna
karena mata hati kamu itu udah buta!”
Refi tersenyum kecil. “Kamu siapa berani ngritik aku?”
“Kamu pikir, aku takut sama kamu?” tanya Jheni mengangkat
dagunya.
“Aku juga nggak takut sama kamu. Kalau sampai kamu berani
menghalangi aku, aku bakal lenyapin kamu.”
Jheni tersenyum kecil. “Kamu ngancam aku? Kamu yang bakal
lenyap duluan karena udah ganggu hidup Yuna!” tegasnya.
“Aku nggak akan ganggu dia kalau dia nurutin permintaan
aku,” tutur Refi sambil tersenyum. “Aku juga nggak akan nyerah gitu aja. Jadi,
bilangin sama sahabat kamu yang sok cantik dan sok baik itu, aku akan terus
ngejar dia,” tutur Refi. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Jheni.
Jheni membelalakkan matanya menatap punggung Refi. “Dasar
cewek gila! Kamu yang sok cantik, sok oke, sok-sokan, rongsokan!” serunya.
“Nggak sebanding sama Yuna!”
Refi tak menghiraukan ucapan Jheni. “Dasar rongsokan!”
umpat Jheni. “Kamu pikir, aku takut hadapi kamu? Lihat aja, aku pasti ngelawan
kamu sampai titik darah penghabisan. Bisa-bisanya mau manfaatin kebaikan Yuna,”
lanjutnya mengomel sendiri.
Jheni mengedarkan pandangannya. “Aku ditinggalin sama
Yuna? Aku tadi numpang di mobilnya dia. Ya ampun!” Ia menepuk dahinya sendiri.
Jheni merogoh ponsel di tangannya dan segera memesan
taksi online. Ia harus segera pulang ke rumah karena ada banyak pekerjaan yang
harus ia lakukan. Ia harap, Yuna akan baik-baik saja
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih
seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.

0 komentar:
Post a Comment