Tuesday, February 3, 2026

Perfect Hero Bab 339 : You Are Different

 


Yuna mondar-mandir di balkon rumah. Ia masih mengkhawatirkan Jheni yang ia tinggalkan begitu saja bersama Refi. Ia sudah menelepon Jheni beberapa kali dan tidak mendapatkan  jawaban.

“Angkat dong, Jhen!” pinta Yuna sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

Yuna menggigit jarinya. Ia semakin cemas karen Jheni tak kunjung menjawab panggilan teleponnya.

“Halo …!” sapa Jheni saat panggilan telepon Yuna yang keempat tersambung.

“Jhen, gimana keadaan kamu? Refi nggak macem-macem ke kamu kan?” tanya Yuna tanpa basa-basi.

“Tenang aja. Kamu nggak perlu khawatirkan aku. Refi mah gampang dihadapi. Kelemahan dia banyak, hahaha.”

Yuna tersenyum kecil. “Akhir-akhir ini, Refi ngejar aku terus minta kerjaan. Menurut kamu, aku harus gimana?”

“Dia minta Yeriko lagi?”

“Minta kerjaan ke perusahaan Yeriko.”

“Kamu turuti?”

“Nggak.”

“Bagus.”

“Tapi, dia nggak nyerah buat ngejar aku. Aku harus gimana?”

“Cuekin aja, Yun! Ntar juga capek sendiri.”

“Aku juga capek, Jhen. Dia nggak ada nyerahnya ngusik aku. Aku mana bisa ganggu keputusan suamiku. Dia bakal marah besar kalo aku minta masukin Refi ke perusahaannya.”

“Ya udah, kamu cuekin aja. Kenapa dia ngelamar ke perusahaan suami kamu? Pasti ada maksud terselubung.”

“Hmm, iya juga sih.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya. “Sebenarnya, aku juga takut kalau dia masuk ke perusahaan Yeriko. Ntar dia nempel terus ke Yeri. Biar bagaimanapun, dia masa lalunya Yeriko. Pasti, Yeri kesulitan menghadapi masa lalu dia. Bisa nolak Refi dengan tegas aja, udah bikin aku bersyukur banget. Cuma, kita nggak pernah tahu sekuat apa dinding pertahanan Yeriko kalo digodain terus.”

“Ah, Yun. Nggak usah mikir macem-macem deh!” pinta Jheni. “Kamu pikirin yang bahagia-bahagia aja. Kamu ini lagi hamil. Jangan benci sama Refi. Ntar anak kamu mirip sama dia.”

“Ya Tuhan … amit-amit jabang bayi,”  sahut Yuna sambil mengelus perutnya. “Jauhkan bala!”

“Hahaha. Eh, kamu udah bilang ke Yeriko kalo mantan pacar dia itu ngejar-ngejar kamu?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Mmh …”

“Yun, dia itu suami kamu. Kalo kamu nggak mau ngasih tahu dia. Biar aku yang kasih tahu, supaya Refi nggak ganggu kamu lagi.”

“Nggak usah, Jhen. Ntar aku ngomong sendiri sama suamiku kalo waktunya udah pas. Dia udah sibuk ngurus perusahaan. Aku nggak perlu membebani dia dengan hal kecil kayak gini.”

“Tapi, Yun. Gimana kalo dia nekat dan bahayain kamu?”

“Aku tahu, Jhen. Makanya, Yeriko nggak bolehin aku keluar sendirian. Itu udah cukup buat melindungi aku dan anak aku, Jhen. Aku nggak mau bikin dia lebih khawatir lagi.”

“Hmm, baiklah kalo emang itu keputusan kamu. Aku juga nggak bisa maksain.”

“Makasih, Jhen.”

“Aku nggak suka ucapan makasih dari kamu. Kalo mau terima kasih, harus traktir aku! Hahaha.”

“Dasar pemalak!” dengus Yuna.

“Hehehe. Udah dulu, ya! Ada telpon dari Chandra. Kamu jaga diri baik-baik ya! Bye …!” Jheni langsung mematikan panggilan teleponnya.

Yuna menatap layar ponselnya. “Huft, mentang-mentang punya pacar, aku dicuekin.”

Yuna menghela napas, ia berbalik dan melangkah perlahan memasuki rumahnya kembali. Namun langkahnya terhenti saat melihat Yeriko sedang bersandar di bibir pintu sambil melipat kedua tangan di dada.

“Udah pulang?” tanya Yuna sambil tersenyum menghampiri Yeriko. “Tumben, jam segini udah pulang ke rumah?”

Yeriko bergeming. Ia menatap Yuna dengan wajah datar.

Yuna tersenyum. Ia menghampiri Yeriko sambil meraih pergelangan tangannya. “Ayo masuk!” ajak Yuna.

“Nggak ada yang mau kamu omongin ke aku?” tanya Yeriko.

Yuna terdiam sejenak. “Kamu denger pembicaraan aku sama Jheni?”

Yeriko mengangguk.

“Aku … aku cuma nggak mau bikin kamu makin repot,” tutur Yuna lirih sambil menundukkan kepalanya.

“Refi masih ganggu kamu?”

Yuna menganggukkan kepala. “Dia datengin aku setiap hari buat minta kerjaan. Aku nggak tahu harus gimana lagi ngadepin dia.”

“Kenapa nggak bilang sama aku?”

“Dia nggak lolos tes di perusahaan kamu. Aku pikir, nggak ada gunanya ngeladeni permintaan dia. Tapi dia makin nekat. Bahkan, kemarin dia dateng ke apartemen ayah.”

“Ayah udah cerita ke aku,” sahut Yeriko.

“Jadi, kamu udah tahu?” tanya Yuna.

Yeriko mengangguk. “Mau sampai kapan sembunyiin masalah kamu di depanku?”

“Aku nggak sembunyiin. Aku ngerasa kamu sibuk banget akhir-akhir ini. Aku cuma nggak mau nambahin beban kamu.”

“Kamu justru membebani aku kalo kamu nggak mau cerita masalah yang kamu hadapi. Aku ini suami kamu, Yun. Jangan bikin aku jadi konyol karena aku nggak tahu apa pun tentang masalah istriku sendiri!” pinta Yeriko.

Yuna terdiam. Ia tak ingin berargumen dengan suaminya sendiri dan memilih untuk menganggukkan kepala.

Yeriko bisa melihat jelas kesedihan yang tergambar dari raut wajah Yuna. Sungguh, ia tak pernah ingin melihat Yuna sedih sedikitpun. Ia langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya.

“Apa pun yang terjadi, masalah sekecil apa pun, jangan sembunyikan dari aku lagi!” pinta Yeriko berbisik.

Yuna mengangguk. Ia mencengkeram bagian belakang jas suaminya dan memeluknya erat.

“Apa yang harus aku lakuin buat ngadepin Refi?” tanya Yuna berbisik.

“Kamu nggak perlu ngelakuin apa-apa. Biar aku yang selesaikan masalah ini,” jawab Yeriko.

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Yeriko. “Aku cuma bisa menambah beban buat kamu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

“Semuanya salahku. Refi datang karena aku. Seharusnya, aku bisa mengatasi dia. Maafin aku!” bisik Yeriko.

Yuna menatap wajah Yeriko. “Kamu benci sama Refi?” tanyanya.

Yeriko mengangguk. “Aku nggak suka dia ganggu kamu.”

Yuna tersenyum. “Kalau suatu hari aku bikin kesalahan besar dan kita berpisah. Apa kamu akan membenci aku seperti kamu membenci dia?” tanya Yuna sambil meneteskan air mata.

“Kamu ngomong apa sih!?” Yeriko mengusap air mata Yuna. “Refi dan kamu itu berbeda. Aku akan menerima semua kesalahan kamu, kebodohan kamu, kemarahan kamu. Semuanya … asal kita jangan berpisah!” Yeriko langsung memeluk erat tubuh Yuna.

Yuna tersenyum tanpa bisa menahan air matanya keluar. “Dulu, kamu pernah punya hubungan cinta sama dia. Sekarang, kamu bisa membenci dia. Aku cuma takut, perasaan kamu ke aku juga bisa berubah.”

“Nggak, Yun. Nggak akan. Aku nggak akan berubah. Sekalipun seluruh dunia ini berubah setiap detik. Hatiku nggak akan berubah. Akan terus mencintai kamu. Jangan pernah berpikir seperti ini lagi!” Yeriko mengelus punggung Yuna dan mengeratkan pelukannya.

“Aku juga nggak akan berubah dan nggak akan berhenti mencintai kamu. Aku ingin terus bersama seperti ini. Tolong jangan benci Refi! Karena itu semua membuat aku berpikir, suatu hari nanti kamu juga akan membenciku. Memperlakukan aku seperti kamu memperlakukan dia. Kamu menolak dia aja, sudah cukup buat aku. Nggak perlu membenci.”

Yeriko menelan ludah mendengar ucapan Yuna. Ia terlalu menyayangi istrinya dan tidak ingin ada yang menyakitinya. Namun, bagaimana jika ras sakit itu justru datang dari dirinya sendiri?

“Baiklah. Aku nggak akan membenci dia. Aku akan atur pekerjaan buat dia. Dia bisa masuk ke anak perusahaanku. Aku nggak mau dia masuk ke kantorku. Oke?”

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Itu lebih baik. Karena aku juga takut kalau dia terus menerus mendekati kamu.”

Yeriko tersenyum kecil. “Jangan berpikir macam-macam lagi!” pintanya lirih. “Kamu harus pikirin perkembangan anak kita. Aku nggak akan berubah. Cuma kamu satu-satunya pasanganku sampai ke surga. Bantu aku menguatkan hatiku setiap hari!”

Yuna mengeratkan pelukannya. “Aku sudah bahagia punya kamu. Aku nggak peduli sama yang lain. Sekalipun ada sepuluh Refi di sini, aku akan menghadapinya sampai mereka semua sadar kalau kamu dan aku … ditakdirkan tidak akan berpisah.”

Yeriko tersenyum. Ia merasa sangat bahagia mendapatkan banyak cinta dari Yuna. Wanita yang berhasil masuk ke dalam hatinya tanpa ia sadari dan menguasai dirinya tanpa bisa dikendalikan. “Kamu terlalu berbahaya, Yun. Sampai-sampai … aku merasa tak bisa hidup tanpa kamu,” batin Yeriko.

 

((Bersambung ...))

Dirgahayu Republik Indonesia ke-75.

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas