Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 543 : Kehabisan Uang

 


“Yun, kamu udah lihat gosip di media soal Tante Melan?” tanya Jheni saat ia menemani Yuna merapikan tanaman bunga di halaman rumah.

 

“Udah, Jhen.”

 

“Menurut kamu gimana?” tanya Jheni.

 

“Huft, nggak tahu. Aku juga bingung. Aku kasihan sama Oom Rudi. Sebenarnya, dia itu baik. Istrinya aja yang kelakuannya kayak iblis. Sekarang, semua orang membicarakan keluarga Linandar. Aku harap, berita ini nggak sampai ke telinga ayahku.”

 

“Berita sebesar ini ... mana mungkin Oom Adjie nggak tahu. Emangnya dia tinggal di hutan yang nggak ada akses televisi dan internet? Yang salah bukan keluarga kamu, Yun. Si Melan yang nggak tahu diri itu,” tutur Jheni.

 

“Iya, sih. Tapi keluarga kami tetep jadi sorotan. Untungnya, Oom Rudi gerak cepat, langsung ceraikan Tante Melan.”

 

“Hah!? Jadi, gosip yang ada di luar sana itu bener? Tante Melan beneran udah resmi cerai?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mampus tuh si Maleficent! Biar dia jadi gelandangan di luar sana. Udah diceraikan sama Oom Rudi, masih sempat-sempatnya pesta foya sama laki-laki itu.”

 

 “Pesta foya gimana?” tanya Yuna sambil menyirami tanaman anggrek yang berjejer rapi di hadapannya.

 

“Kamu belum baca artikel terakhir yang muncul hari ini?” tanya Jheni.

 

“Belum, Jhen. Belum sempat.”

 

“Eyuuh...! Kamu mah kudet banget,” celetuk Jheni.

 

Yuna hanya nyengir mendengar ucapan Jheni.

 

“Lihat!” Jheni menyodorkan ponsel ka wajah Yuna. “Ini video baru aja diambil netizen tadi pagi. Lihat! Dia baru cerai, asyik shopping sama laki-laki lain. Banyak duit nih janda baru.”

 

“Jangan-jangan, itu uang tunjangan dari Oom Rudi? Laki-laki itu kan baru keluar dari penjara, Jhen. Kata suamiku, selama ini dia hidupnya dari duit yang dikasih Tante Melan. Nggak mungkin dia punya duit buat bayarin Tante Melan shopping.”

 

“Hahaha. Jadi, sekarang si Melan lagi diporotin sama laki-laki itu? Biar cepet habis duitnya, terus tidur di jalanan. Mampus!” seru Jheni sambil tertawa lebar.

 

Yuna ikut tertawa. “Aku jadi ngebayangin gimana wajah sombongnya Tante Melan tanpa duit.”

 

“Hahaha. Dia nggak bakal berani jahatin kamu lagi, Yun. Senang banget aku kalau dia jatuh miskin. Aku harus lihat gimana akhir hidup dia.”

 

Yuna tersenyum sambil bangkit dan membasuh tangannya. “Tante Melan itu licik, Jhen. Dia nggak akan menyerah begitu aja. Apalagi, pacarnya dia itu mafia.”

 

“Mafia apa sih? Aku masih nggak paham sama obrolannya Yeriko and The Gank.”

 

Yuna terkekeh. “Nggak tahu juga.”

 

Jheni langsung nyengir ke arah Yuna. “Aku keselnya, mereka kalo ngobrol suka pake kode-kodean gitu. Aku kan nggak paham, Yun.”

 

“Kode apaan?” tanya Yuna.

 

“Kode rahasia. Kamu nggak sadar kalau Yeriko sering main mata ke Chandra kalo lagi ngobrol? Aku sering perhatiin.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Berani-beraninya merhatiin suami orang!?” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

Jheni terkekeh. “Bukan naksir, Yun!” sahutnya sambil menempelkan telapak tangannya ke wajah Yuna.

 

“Brrt ... byuuh! Jheni ...! Tangan kamu kotor!” teriak Yuna kesal.

 

Jheni hanya tertawa menanggapi teriakan Yuna. “Lulur wajah pakai tanah, bagus loh.”

 

“Bagus apanya!?” dengus Yuna. “Aku udah bersih-bersih, malah kamu kotorin lagi!” seru Yuna sambil menyalakan kran air dan membasuh wajahnya. “Ntar jerawatan, Jhen!”

 

“Hahaha. Kalau udah nikah, nggak bisa jerawatan lagi, Yun. Nafsunya udah terlampiaskan. Nggak ada yang ditahan-tahan,” sahut Jheni sambil terkekeh geli.

 

“Nggak ngaruh, Jhen. Jerawat itu bukan cuma karena nafsu doang. Karena kotor dan stres juga bisa.”

 

“Iya, sih. Stres karena nggak ada yang belai,” sahut Jheni sambil terkekeh.

 

“Kamu makin centil aja, Jhen. Jangan-jangan, lagi stres karena udah lama nggak dibelai sama Chandra ya?” goda Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Chandra ke Jakarta dua hari ini. Suami kamu jahat banget!”

 

“Jahat kenapa?”

 

“Chandra dikirim ke luar terus!” sahut Jheni sambil membasuh tangannya. Kemudian, ia dan Yuna duduk di teras rumah.

 

“Jhen, Chandra itu Direktur bagian Litbang. Dia pasti sering ke mana-mana untuk mengurus proyek pengembangan bisnis perusahaan. Kamu ini aneh. Kalo mau ikut dia kan bisa. Kerjaanmu fleksibel banget. Bisa dikerjain dari mana aja.”

 

Jheni menggoyangkan bibirnya seiring dengan ucapan Yuna. “Kalo aku ikut dia, dia juga sibuk. Nggak bakal ada waktu jalan bareng.”

 

“Ya udah, dukung aja suami kamu itu! Biar bisa cepet ngelamar kamu,” sahut Yuna.

 

“Apa hubungannya sama lamaran?”

 

“Siapa tahu aja, Chandra lagi nyiapin pernikahan mewah buat kamu. Pernikahan di kapal pesiar sampai ke Eropa. Yuhu ... keren banget ‘kan?”

 

“Keren gundulmu!”

 

“Kamu nggak mau pernikahan mewah, Jhen?”

 

“Mau. Tapi nggak semewah itu juga. Lebih baik uangnya aku simpan atau aku investasikan. Lumayan kan buat masa depan anak-anakku.”

 

“Kamu udah mikir sejauh itu, Jhen?” tanya Yuna. “Udah siap punya anak?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Jheni dengan wajah merona. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju dapur.

 

“Hei, mau ke mana?” seru Yuna.

 

“Mau bikin jus! Mau, nggak?” teriak Jheni dari kejauhan.

 

“Boleh, deh.” Yuna tertawa kecil sambil menopang dagu. Ia merasa sangat bahagia karena Jheni punya banyak waktu untuk menemaninya melakukan banyak hal di hari-harinya menjelang persalinan.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan masih asyik menghamburkan uang yang ia dapat dari mantan suami untuk menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia terus berbelanja dan menikmati kegilaannya bersama Lonan.

 

“Aargh ...!” teriak Melan histeris begitu ia menatap layar ponsel.

 

 “Uangku sisa segini? Tiga puluh juta, buat apa?” tanya Melan sambil menggigit jarinya.

 

“Nggak bisa kayak gini. Kalo begini terus, aku bisa kehabisan uang. Aku harus gimana?” gumam Melan.

 

“Kenapa?” tanya Lonan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Uang di tabunganku sisa tiga puluh juta. Cuma bisa dipakai bertahan sepuluh hari. Itupun harus irit,” jawab Melan.

 

“Kamu punya anak yang kaya. Suaminya dia kaya, papanya juga kaya. Minta aja uang sama anak kamu! Dia pasti akan mengeluarkan banyak uang untuk ibunya sendiri,” tutur Lonan menyarankan.

 

“Hmm ... iya juga, ya?”

 

Lonan menganggukkan kepala. “Kamu bisa menikmati hidup mewah selama ini. Sementara, aku sudah mengorbankan semuanya demi kamu. Sekarang, waktunya kamu menunjukkan kalau kamu beneran sayang sama aku.”

 

“Maksud kamu?”

 

Lonan tersenyum sambil mengelus lembut pipi Melan. “Kita sudah sangat tua. Bisakah kita menghabiskan sisa hidup bersama? Aku cuma mau, kamu membayar semua pengorbananku selama ini dengan menemaniku setiap hari!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku sudah melepaskan semuanya. Aku bahkan lebih memilih menjalani sisa hidupku sama kamu dan bercerai dengan pria itu.”

 

Lonan tersenyum puas. Ia merasa sangat bahagia karena wanita yang ia cintai bisa menemaninya menjalani hari-harinya setelah ia keluar dari penjara.

 

“Apa kamu yakin kalau Bellina akan ngasih kita uang?” tanya Melan ragu-ragu.

 

“Aku yakin. Karena sebagai seorang anak, dia tidak akan pernah tega melihat ibunya menderita dan sudah seharusnya seorang anak membalas budi pada seorang ibu yang telah membesarkannya.”

 

Melan menganggukkan kepala. “Bellina juga anak yang manis dan penurut. Dia pasti bisa mengeluarkan banyak uang untuk kita.”

 

Lonan mengangguk sambil tersenyum manis.

 

“Aku akan temui Bellina sekarang juga,” tutur Melan sambil bangkit dari sofa.

 

Lonan mengangguk, ia membiarkan Melan bersiap keluar dari kamar hotel tersebut agar bisa mendapatkan uang dengan cepat dan mudah.

 

Melan sangat bersemangat untuk menemui Bellina. Ia yakin, puteri kesayangannya itu pasti akan memberikan banyak uang untuknya agar ia bisa segera membeli apartemen, tidak lagi tinggal di hotel seperti saat ini.

 

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 542 : Diusir

 


Melan menyembunyikan senyuman dalam hati saat melihat Tarudi bergeming selama beberapa saat. Ia ingin melihat bagaimana Tarudi mempertaruhkan perasaan terhadap dirinya.

 

“Pa ... demi Bellina,  apa kita tidak bisa berbaikan dan kembali seperti dulu lagi?” tanya Melan sambil menatap wajah Tarudi penuh harap.

 

Tarudi tersenyum sambil menatap wajah Melan yang masih berlutut di bawahnya. “Aku nggak akan merubah keputusanku!” tegasnya sambil menyodorkan pena ke hadapan wajah Melan.

 

“Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa perasaan papa ke mama hanya sebatas ini?” tanya Melan.

 

Tarudi tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, selama bertahun-tahun ini ... aku benar-benar mencintai kamu? Aku memperlakukan kamu dengan sangat baik karena aku nggak pernah cinta sama aku. Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku karena aku lebih mencintai wanita lain daripada istriku sendiri.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia tak menyangka kalau suaminya justru memikirkan wanita lain selama usia pernikahan mereka. Perasaannya sangat kesal, ia menatap tajam ke arah Tarudi dan bangkit dari lantai.

 

Tarudi mengangkat kedua alisnya. “Aku senang bisa melepaskan kamu dengan mudah karena perselingkuhan kamu ini. Jika tidak, mungkin aku akan menghabiskan seumur hidupku bersama wanita yang tidak pernah aku cintai.”

 

Melan menatap tajam ke arah Tarudi sambil berusaha mengendalikan pundaknya yang naik turun seiring dengan napasnya yang membara. “Wanita itu si Arum?”

 

“Aku rasa, kamu sudah mengetahui dengan jelas dari awal,” jawab Tarudi.

 

“Kamu benci sama aku karena aku memilih hidup dengan pria yang aku cintai. Kamu nggak lihat diri kamu sendiri? Kamu juga sibuk memikirkan wanita lain walau sudah menikah,” tutur Melan kesal. Ia tidak peduli lagi dengan semua yang akan terjadi. Sebab, ia tahu kalau dirinya tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi.

 

Tarudi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku memang selalu memikirkan wanita lain yang aku cintai. Tapi, aku tidak pernah berselingkuh. Aku justru menghormati dan menghargai kamu sebagai istriku. Tapi kamu ... tidak bisa menghargai keberadaan suami kamu sedikitpun. Malah berkeliaran di luar sana dan merusak nama baik suami kamu sendiri!”

 

“Aku juga nggak akan kayak gini kalau kamu nggak mikirin Arum terus!” sahut Melan tak mau kalah.

 

“Arum sudah nggak ada. Nggak bisa kamu jadikan alasan untuk membela diri kamu sendiri.”

 

Melan tersenyum sinis. “Arum emang udah nggak ada. Tapi ... gimana kalau semua orang tahu ... kamu mencintai istri kakak kamu sendiri, hah!?”

 

“Aku mencintai dia ... tapi tidak melakukan hubungan menjijikkan seperti kamu dan Lonan!”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu bagaimana kamu berebut wanita dengan kakak kandung kamu sendiri?” tanya Melan sambil tertawa kecil.

 

“Arum itu wanita yang baik dan bermartabat. Dia pantas dicintai oleh banyak orang seumur hidupnya. Aku nggak pernah menyesal mencintai dia walau aku nggak bisa memiliki. Aku justru menyesal memiliki wanita yang tidak pernah aku cintai sepanjang hidupku.”

 

“Aku sudah berusaha menerima dan menyayangi kamu sebagai istri. Tapi tidak melebihi perasaanku dengan almarhumah Arum. Kamu tahu ... wanita dikagumi dan dicintai oleh pria seumur hidup karena sifat dan perilakunya. Kalau kamu masih terus seperti ini, kamu akan menjadi wanita yang dibenci seumur hidup.”

 

Melan semakin kesal karena Tarudi membandingkan dirinya dengan Arum. Wanita yang bahkan sudah tidak akan pernah hadir lagi dalam kehidupan mereka.

 

Tarudi langsung menarik tangan Melan dan meletakkan pena ke telapak tangannya. “Tanda tangani sekarang juga dan bawa barang-barang kamu pergi dari rumah ini!” sentak Tarudi. Ia sudah enggan berdebat dengan Melan dan ingin menyelesaikan semua dengan cepat.

 

Melan menatap kesal ke arah Tarudi yang memperlakukannya sangat kasar. Ia tidak punya pilihan lain lagi, tak ada ruang sedikit pun untuk membalikkan keadaan. Ia menatap dokumen yang ada di atas meja dan langsung menandatanganinya.

 

Tarudi langsung tersenyum begitu melihat Melan sudah menandatangani surat perjanjian perceraian. Ia meraih dokumen dari atas meja dan memeluknya. “Bawa barang-barangmu keluar dari rumah ini!” pinta Tarudi.

 

Melan mengangguk. Ia berniat untuk mengambil barang-barang berharga miliknya. Semua perhiasan yang ia miliki, masih ada di dalam kamar. Ia bisa menggunakannya untuk bertahan hidup di luar sana.

 

“Mau ke mana?” tanya Tarudi saat melihat Melan menuju kamar tidurnya.

 

“Mau beresin barang-barangku,” jawab Melan.

 

“Sudah aku bereskan,” tutur Tarudi sambil menunjuk dua koper yang ada di sudut ruangan. “Kamu nggak perlu repot-repot membereskannya lagi! Bawa koper kamu keluar dari rumah ini!”

 

“Tapi ...” Melan langsung menghampiri koper yang ada di sudut ruangan. Ia membuka koper itu dan memeriksa barang-barangnya. Ia langsung menutup koper itu kembali begitu melihat semua pakaian yang ada di dalamnya.

 

“Masih ada barang lain yang harus aku ambil,” tutur Melan sambil melangkah menuju kamarnya.

 

“Maaf, Nyonya ...!” Dua orang pelayan menghadang langkah Melan untuk masuk ke dalam kamar.

 

“Kalian ...!?” Melan mendelik ke arah pelayan tersebut.

 

“Cuma dua koper itu yang boleh kamu bawa pergi dari sini. Aku sudah memeriksa semuanya. Saat kamu masuk ke rumah ini ... kamu hanya membawa dua koper pakaianmu. Itu juga yang harus kamu bawa saat keluar dari rumah ini,” jelas Tarudi sambil tersenyum menatap Melan.

 

“Pa ... Papa tega sama mama? Papa mau biarin mama hidup terlunta-lunta di jalanan?” tanya Melan.

 

“Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bukan lagi tanggung jawabku. Aku akan mengirim tunjangan perceraian ke rekening kamu. Manfaatka itu untuk membuat hidupmu bahagia di luar sana!”

 

Melan mendengus kesal ke arah Tarudi. Ia tidak menyangka kalau ia akan kehilangan semuanya. Tarudi sudah mengetahui semuanya dan tidak membiarkannya membawa perhiasan berharga yang pernah diberikan Tarudi untuknya.

 

“Bawa wanita ini keluar dari rumah saya!” perintah Tarudi pada pelayan di rumahnya. Ia bergegas melangkah pergi dan masuk ke dalam kamarnya.

 

Pelayan yang ada di rumah itu langsung menyeret Melan keluar dari rumah tersebut.

 

“Kalian berani-beraninya sama aku. Kalian nggak ingat, aku ini siapa?” seru Melan saat pelayan di rumah itu menyeretnya keluar.

 

“Maaf, Anda bukan nyonya kami lagi!” sahut pelayan itu sambil tersenyum. Mereka melempar koper Melan keluar dari pintu dan menutup kembali pintu rumah itu rapat-rapat.

 

Melan menatap pintu utama rumah mewah bernilai miliaran tersebut. Ia menggigit bibirnya karena tak bisa lagi masuk ke dalam rumah mewah yang menjadi kebanggaannya sejak dua puluh lima tahun lalu.

 

Melan melangkahkan kakinya perlahan sambil menarik dua koper yang ada di sisinya. Air matanya mengalir deras saat ia harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Di setiap tetes air matanya yang jatuh, ada bayangan Bellina kecil yang selalu tertawa bahagia saat bermain dengannya.

 

Melan berusaha menghapus air matanya. Ia tidak ingin menunjukkan kehancurannya pada semua orang. Ia merasa kalau ia bisa menghadapinya dengan mudah meski tak ada lagi dukungan besar dari suami yang selama ini selalu ia manfaatkan kebaikannya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

  

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 541 : Berita Memalukan

 



Keesokan harinya ...

 

Tarudi menatap layar ponsel saat asistennya mengirim banyak tautan berita kepadanya.

 

“Perempuan nggak tahu diri!” umpat Tarudi sambil menggenggam kuat ponselnya sendiri. Ia sangat kesal dengan tingkah Melan yang semakin menjadi-jadi.

 

Semua media online dan media cetak memuat kabar berita tentang hubungan Melan dan Lonan. Terpampang jelas gambar vulgar Melan dan Lonan di sana. Membuat semua orang sibuk membicarakan perselingkuhan keluarga yang terjadi sejak dua puluh lima tahun silam.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia terduduk lemas di sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Permisi, Pak ...!” Seorang pelayan menghampiri Tarudi sembari membawakan secangkir kopi panas. “Minumnya, Pak!”

 

“Taruh aja, Mbak!” perintah Tarudi sambil menunjuk meja yang ada di depannya.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia segera meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan bergegas pergi.

 

“Mbak ...!” panggil Tarudi sebelum pelayan itu benar-benar pergi jauh.

 

“Iya, Pak.”

 

“Bantu saya mengemas barang-barang istri saya di kamar!” perintah Tarudi.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia segera mengikuti Tarudi untuk membantu mengemas semua pakaian Melan.

 

Tarudi tak ingin berkompromi lagi. Ia tidak akan membiarkan Melan masuk kembali ke dalam rumah itu setelah melakukan banyak hal memalukan di luar sana.

 

Tarudi mengeluarkan semua pakaian Melan dari dalam lemari dan menyuruh pelayan di rumahnya untuk membereskan semuanya. Ia yakin, Melan akan kembali untuk mengambil barang-barang berharga miliknya sebelum benar-benar pergi bersama pria selingkuhannya.

 

 

 

...

 

 

 

Bellina menatap layar ponsel dengan tangan bergetar.

 

“Mama ...!?” serunya dalam hati. Ia sangat membenci kelakuan mamanya sendiri. Terlebih, semua media sudah memuat foto-foto Melan dan selingkuhannya itu.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia bangkit dari meja kerja dan melangkah ke arah jendela.

 

“Kenapa keluargaku jadi kacau gini?” gumamnya sambil menitikkan air mata.

 

Kelakuan mamanya, bukan hanya mencemarkan nama baik keluarganya, tapi juga keluarga Wijaya. Ia mulai khawatir jika kasus yang terjadi akan berpengaruh besar terhadap kredibilitas perusahaan.

 

Nasib Bellina, kini berada di ujung tanduk. Mama mertuanya akan semakin mendesak Lian untuk menceraikan dirinya.

 

“Ma, kenapa mama harus seperti ini?” tanya Bellina sambil menatap langit yang luas. Ia tetap tidak bisa menerima penderitaannya begitu saja sementara Yuna selalu hidup dengan baik dan bahagia.

 

Bellina tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa menyelamatkan posisi mamanya, terlebih posisinya sendiri saat ini sangat terancam.

 

“Papa? Gimana dengan dia sekarang?” batin Bellina saat ia teringat wajah papanya. Ia langsung membereskan meja kerja, menyambar tas tangan dan buru-buru keluar dari perusahaan.

 

“Semoga, papa nggak semakin terpukul dengan adanya berita ini,” tutur Bellina. Ia berpikir kalau Yuna sudah membocorkan semua masalah keluarganya hingga diketahui oleh banyak wartawan di luar sana, membuatnya semakin benci terhadap Yuna. Ia juga benci dengan kehadiran Lonan yang tiba-tiba dan merusak keluarganya dalam waktu sekejap.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan melangkahkan kakinya beriringan dengan Lonan sambil melihat-lihat rumah yang cocok untuk mereka beli dan tinggali.

 

“Sayang, yang ini bagus juga,” tutur Lonan sambil menunjuk salah satu rumah yang ada di sana.

 

 “Berapa harganya yang ini, Pak?” tanya Melan.

 

“Kalau yang ini sembilan ratus juta. Lebih murah dari yang tadi ibu lihat karena ukurannya juga berbeda.” jawab pria yang mendampingi mereka.

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala. “Kita lihat-lihat yang lain dulu ya, Pak!”

 

Pria itu menganggukkan kepala.

 

Lonan dan Melan kembali melihat-lihat rumah yang lain.

 

“Mas, aku nggak punya banyak uang akhir-akhir ini. Kita cari rumah yang murah-murah saja. Kita juga harus menyisakan uang untuk bertahan hidup ke depannya.”

 

Lonan mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau kamu bercerai dengan Rudi, kamu akan mendapatkan banyak uang dari dia. Bisa kita gunakan untuk membeli rumah dan bersenang-senang.”

 

“Mmh ...” Melan berpikir sejenak. Kemudian, ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga.”

 

Lonan tersenyum sambil menatap wajah Melan. “Suami kamu itu banyak duitnya. Anak kamu juga seorang direktur di perusahaan suaminya. Kita nggak akan kekurangan uang.”

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melangkahkan kakinya.

 

Melan mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang ia temui dan menatapnya dengan raut wajah yang aneh. Orang-orang itu menunjuk-nunjuk ke arahnya dan membuat Melan penasaran.

 

“Ada apa, Mbak?” tanya Melan sambil menghampiri salah seorang wanita yang juga menunjuk ke arahnya dan membandingkan dengan layar ponsel.

 

“Ibu ... yang ada di foto ini ya?” tanya wanita itu sambil menyodorkan layar ponsel dan memperlihatkan foto vulgar Melan dengan berbagai pose. Di sisinya juga terlihat jelas wajah Lonan. Headline dari media online tersebut tergambar jelas dan membuat jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat.

 

“Kurang ajar ...! Siapa yang sudah berani mengambil dan menyebarkan foto ini? Wartawan sialan!” maki Melan dalam hati. Ia bergegas melangkah pergi dari tempat itu.

 

“Mel ...! Mau ke mana?” tanya Lonan saat melihat Melan tiba-tiba pergi dari tempat tersebut.

 

“Aku ada urusan penting!” sahut Melan tanpa menoleh ke arah Lonan. Ia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya pada Lonan. Ia hanya terpikir dengan wajah Tarudi. Ia bergegas menghentikan taksi yang kebetulan melintas dan menuju ke rumah suaminya.

 

Melan menarik napas panjang begitu ia sampai di halaman rumahnya. Ia bergegas turun dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Ia berharap kalau Tarudi tidak membaca berita yang tersebar hari ini dan bisa mengendalikan suaminya dengan baik.

 

Di ruang tamu, Tarudi duduk santai sambil menunggu kedatangan Melan. Begitu pintu rumah itu terbuka, ia langsung menatap Melan dengan tatapan dingin. Membuat Melan hampir tidak punya nyali untuk masuk ke dalam rumah itu lagi.

 

Selama beberapa menit, Melan hanya terpaku di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, banyak hal yang terjadi dan membuat Tarudi semakin membencinya.

 

“Masuk!” perintah tarudi sambil bangkit dari sofa.

 

Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Tarudi membalas senyuman Melan meski hatinya begitu tersayat melihat kelakuan istrinya itu. Saat Melan sudah berdiri berhadapan dengannya, ia langsung menyodorkan pena ke hadapan Melan.

 

“Apa ini?” tanya Melan sambil menatap pena yang ada di tangan Tarudi.

 

Tarudi langsung menunjuk dokumen perceraian yang sudah ia siapkan di atas meja.

 

Melan terdiam saat melihat dokumen perceraian yang sudah ada di atas meja. Ia tak menyangka kalau Tarudi akan menceraikan dirinya secepat ini.

 

“Tanda tangani dokumen itu dan kamu bisa pergi menjalani kehidupan barumu dengan tenang!” perintah Tarudi.

 

“Pa, apa nggak bisa papa pikirin lagi?” tanya Melan.

 

“Aku sudah memikirkan semuanya.”

 

“Tapi ... kita sudah tua. Untuk apa kita bercerai, Pa?” tanya Melan. “Tolong, jangan ceraikan mama!”

 

Tarudi tersenyum sinis. “Kamu masih tanya, untuk apa kita bercerai? Kamu sadar kalau kita sudah tua ... kenapa kamu masih selingkuh sama laki-laki lain?”

 

“Aku nggak selingkuh. Aku sudah menjalin hubungan lebih dulu sama Lonan daripada sama kamu,” sahut Melan.

 

“Oh ... jadi, suami kamu ini yang jadi selingkuhan kamu, hah!?”

 

Melan terdiam. Ia rasa, alasannya kali ini semakin tidak masuk akal. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar bisa mempertahankan hubungannya dengan Tarudi. Ia tidak ingin kehilangan semuanya begitu saja.

 

Tarudi tertawa melihat wajah Melan. “Bodoh banget aku. Aku cuma jadi selingkuhan kamu selama bertahun-tahun ini. Kamu bahkan bisa menyembunyikan semuanya begitu sempurna. Kalau aku nggak punya uang, apa kamu mau hidup selama bertahun-tahun sama aku?”

 

Melan menggelengkan kepala. Ia berusaha untuk menarik simpati Tarudi kembali. “Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa nggak ada rasa sayang sedikit pun ke aku? Aku yang yang selalu melayani kamu setiap hari. Walau awalnya nggak cinta, tapi aku selalu bahagia menjadi istri kamu.”

 

“Aku juga cukup bahagia menjadi suami kamu. Aku melakukan banyak hal untuk kamu karena aku mengira kalau kamu sayang sama aku. Setelah aku tahu semuanya, aku nggak akan pernah melakukan apa pun untuk kamu lagi. Aku cuma mau, kamu segera pergi dari kehidupan kami!” tegas Tarudi.

 

Melan kebingungan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk bisa mempertahankan rumah tangganya. Ia tidak ingin hidup miskin di luar sana. Ia sangat khawatir akan kehilangan semuanya begitu saja.

 

“Pa, mama mohon ... jangan ceraikan mama!” pinta Melan. “Mama janji akan berubah. Mama nggak akan menemui pria itu lagi untuk selamanya.”

 

“Sekalipun kamu berjanji akan berubah, tidak akan mengubah keputusanku!” tegas Tarudi.

 

Melan menatap wajah Tarudi dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai sambil menatap pilu. “Pa, mama mohon ...! Jangan lakukan ini ke mama! Mama tidak ingin kita berpisah. Papa pikirin lagi, Pa! Demi Bellina ... jangan sampai kita berpisah!” pintanya sambil meratap pilu.

 

Tarudi tidak ingin menjadikan Bellina sebagai alasan untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur. Terlebih, kelakuan Melan benar-benar mengotori nama keluarga besarnya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas