Melan menyembunyikan senyuman dalam hati saat
melihat Tarudi bergeming selama beberapa saat. Ia ingin melihat bagaimana
Tarudi mempertaruhkan perasaan terhadap dirinya.
“Pa ... demi Bellina, apa kita tidak bisa
berbaikan dan kembali seperti dulu lagi?” tanya Melan sambil menatap wajah
Tarudi penuh harap.
Tarudi tersenyum sambil menatap wajah Melan yang
masih berlutut di bawahnya. “Aku nggak akan merubah keputusanku!” tegasnya
sambil menyodorkan pena ke hadapan wajah Melan.
“Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh
lima tahun. Apa perasaan papa ke mama hanya sebatas ini?” tanya Melan.
Tarudi tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, selama
bertahun-tahun ini ... aku benar-benar mencintai kamu? Aku memperlakukan kamu
dengan sangat baik karena aku nggak pernah cinta sama aku. Aku hanya ingin
menebus rasa bersalahku karena aku lebih mencintai wanita lain daripada istriku
sendiri.”
Melan melebarkan kelopak matanya. Ia tak menyangka
kalau suaminya justru memikirkan wanita lain selama usia pernikahan mereka.
Perasaannya sangat kesal, ia menatap tajam ke arah Tarudi dan bangkit dari
lantai.
Tarudi mengangkat kedua alisnya. “Aku senang bisa
melepaskan kamu dengan mudah karena perselingkuhan kamu ini. Jika tidak,
mungkin aku akan menghabiskan seumur hidupku bersama wanita yang tidak pernah
aku cintai.”
Melan menatap tajam ke arah Tarudi sambil berusaha
mengendalikan pundaknya yang naik turun seiring dengan napasnya yang membara.
“Wanita itu si Arum?”
“Aku rasa, kamu sudah mengetahui dengan jelas dari
awal,” jawab Tarudi.
“Kamu benci sama aku karena aku memilih hidup
dengan pria yang aku cintai. Kamu nggak lihat diri kamu sendiri? Kamu juga
sibuk memikirkan wanita lain walau sudah menikah,” tutur Melan kesal. Ia tidak
peduli lagi dengan semua yang akan terjadi. Sebab, ia tahu kalau dirinya tidak
akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi.
Tarudi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan
Melan. “Aku memang selalu memikirkan wanita lain yang aku cintai. Tapi, aku
tidak pernah berselingkuh. Aku justru menghormati dan menghargai kamu sebagai
istriku. Tapi kamu ... tidak bisa menghargai keberadaan suami kamu sedikitpun.
Malah berkeliaran di luar sana dan merusak nama baik suami kamu sendiri!”
“Aku juga nggak akan kayak gini kalau kamu nggak
mikirin Arum terus!” sahut Melan tak mau kalah.
“Arum sudah nggak ada. Nggak bisa kamu jadikan
alasan untuk membela diri kamu sendiri.”
Melan tersenyum sinis. “Arum emang udah nggak ada.
Tapi ... gimana kalau semua orang tahu ... kamu mencintai istri kakak kamu
sendiri, hah!?”
“Aku mencintai dia ... tapi tidak melakukan
hubungan menjijikkan seperti kamu dan Lonan!”
“Kamu pikir, aku nggak tahu bagaimana kamu berebut
wanita dengan kakak kandung kamu sendiri?” tanya Melan sambil tertawa kecil.
“Arum itu wanita yang baik dan bermartabat. Dia
pantas dicintai oleh banyak orang seumur hidupnya. Aku nggak pernah menyesal
mencintai dia walau aku nggak bisa memiliki. Aku justru menyesal memiliki
wanita yang tidak pernah aku cintai sepanjang hidupku.”
“Aku sudah berusaha menerima dan menyayangi kamu
sebagai istri. Tapi tidak melebihi perasaanku dengan almarhumah Arum. Kamu tahu
... wanita dikagumi dan dicintai oleh pria seumur hidup karena sifat dan
perilakunya. Kalau kamu masih terus seperti ini, kamu akan menjadi wanita yang
dibenci seumur hidup.”
Melan semakin kesal karena Tarudi membandingkan
dirinya dengan Arum. Wanita yang bahkan sudah tidak akan pernah hadir lagi
dalam kehidupan mereka.
Tarudi langsung menarik tangan Melan dan
meletakkan pena ke telapak tangannya. “Tanda tangani sekarang juga dan bawa
barang-barang kamu pergi dari rumah ini!” sentak Tarudi. Ia sudah enggan
berdebat dengan Melan dan ingin menyelesaikan semua dengan cepat.
Melan menatap kesal ke arah Tarudi yang
memperlakukannya sangat kasar. Ia tidak punya pilihan lain lagi, tak ada ruang
sedikit pun untuk membalikkan keadaan. Ia menatap dokumen yang ada di atas meja
dan langsung menandatanganinya.
Tarudi langsung tersenyum begitu melihat Melan
sudah menandatangani surat perjanjian perceraian. Ia meraih dokumen dari atas
meja dan memeluknya. “Bawa barang-barangmu keluar dari rumah ini!” pinta
Tarudi.
Melan mengangguk. Ia berniat untuk mengambil
barang-barang berharga miliknya. Semua perhiasan yang ia miliki, masih ada di
dalam kamar. Ia bisa menggunakannya untuk bertahan hidup di luar sana.
“Mau ke mana?” tanya Tarudi saat melihat Melan
menuju kamar tidurnya.
“Mau beresin barang-barangku,” jawab Melan.
“Sudah aku bereskan,” tutur Tarudi sambil menunjuk
dua koper yang ada di sudut ruangan. “Kamu nggak perlu repot-repot
membereskannya lagi! Bawa koper kamu keluar dari rumah ini!”
“Tapi ...” Melan langsung menghampiri koper yang
ada di sudut ruangan. Ia membuka koper itu dan memeriksa barang-barangnya. Ia
langsung menutup koper itu kembali begitu melihat semua pakaian yang ada di
dalamnya.
“Masih ada barang lain yang harus aku ambil,”
tutur Melan sambil melangkah menuju kamarnya.
“Maaf, Nyonya ...!” Dua orang pelayan menghadang
langkah Melan untuk masuk ke dalam kamar.
“Kalian ...!?” Melan mendelik ke arah pelayan
tersebut.
“Cuma dua koper itu yang boleh kamu bawa pergi
dari sini. Aku sudah memeriksa semuanya. Saat kamu masuk ke rumah ini ... kamu
hanya membawa dua koper pakaianmu. Itu juga yang harus kamu bawa saat keluar
dari rumah ini,” jelas Tarudi sambil tersenyum menatap Melan.
“Pa ... Papa tega sama mama? Papa mau biarin mama
hidup terlunta-lunta di jalanan?” tanya Melan.
“Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu
bukan lagi tanggung jawabku. Aku akan mengirim tunjangan perceraian ke rekening
kamu. Manfaatka itu untuk membuat hidupmu bahagia di luar sana!”
Melan mendengus kesal ke arah Tarudi. Ia tidak
menyangka kalau ia akan kehilangan semuanya. Tarudi sudah mengetahui semuanya
dan tidak membiarkannya membawa perhiasan berharga yang pernah diberikan Tarudi
untuknya.
“Bawa wanita ini keluar dari rumah saya!” perintah
Tarudi pada pelayan di rumahnya. Ia bergegas melangkah pergi dan masuk ke dalam
kamarnya.
Pelayan yang ada di rumah itu langsung menyeret
Melan keluar dari rumah tersebut.
“Kalian berani-beraninya sama aku. Kalian nggak
ingat, aku ini siapa?” seru Melan saat pelayan di rumah itu menyeretnya keluar.
“Maaf, Anda bukan nyonya kami lagi!” sahut pelayan
itu sambil tersenyum. Mereka melempar koper Melan keluar dari pintu dan menutup
kembali pintu rumah itu rapat-rapat.
Melan menatap pintu utama rumah mewah bernilai
miliaran tersebut. Ia menggigit bibirnya karena tak bisa lagi masuk ke dalam
rumah mewah yang menjadi kebanggaannya sejak dua puluh lima tahun lalu.
Melan melangkahkan kakinya perlahan sambil menarik
dua koper yang ada di sisinya. Air matanya mengalir deras saat ia harus
meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Di setiap tetes air matanya yang jatuh,
ada bayangan Bellina kecil yang selalu tertawa bahagia saat bermain dengannya.
Melan berusaha menghapus air matanya. Ia tidak
ingin menunjukkan kehancurannya pada semua orang. Ia merasa kalau ia bisa
menghadapinya dengan mudah meski tak ada lagi dukungan besar dari suami yang
selama ini selalu ia manfaatkan kebaikannya.
((Bersambung ...))
Penderitaan Melan belum berakhir sampai di
sini ...
Dukung terus biar aku makin semangat nulis
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment