Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 542 : Diusir

 


Melan menyembunyikan senyuman dalam hati saat melihat Tarudi bergeming selama beberapa saat. Ia ingin melihat bagaimana Tarudi mempertaruhkan perasaan terhadap dirinya.

 

“Pa ... demi Bellina,  apa kita tidak bisa berbaikan dan kembali seperti dulu lagi?” tanya Melan sambil menatap wajah Tarudi penuh harap.

 

Tarudi tersenyum sambil menatap wajah Melan yang masih berlutut di bawahnya. “Aku nggak akan merubah keputusanku!” tegasnya sambil menyodorkan pena ke hadapan wajah Melan.

 

“Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa perasaan papa ke mama hanya sebatas ini?” tanya Melan.

 

Tarudi tersenyum sinis. “Apa kamu pikir, selama bertahun-tahun ini ... aku benar-benar mencintai kamu? Aku memperlakukan kamu dengan sangat baik karena aku nggak pernah cinta sama aku. Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku karena aku lebih mencintai wanita lain daripada istriku sendiri.”

 

Melan melebarkan kelopak matanya. Ia tak menyangka kalau suaminya justru memikirkan wanita lain selama usia pernikahan mereka. Perasaannya sangat kesal, ia menatap tajam ke arah Tarudi dan bangkit dari lantai.

 

Tarudi mengangkat kedua alisnya. “Aku senang bisa melepaskan kamu dengan mudah karena perselingkuhan kamu ini. Jika tidak, mungkin aku akan menghabiskan seumur hidupku bersama wanita yang tidak pernah aku cintai.”

 

Melan menatap tajam ke arah Tarudi sambil berusaha mengendalikan pundaknya yang naik turun seiring dengan napasnya yang membara. “Wanita itu si Arum?”

 

“Aku rasa, kamu sudah mengetahui dengan jelas dari awal,” jawab Tarudi.

 

“Kamu benci sama aku karena aku memilih hidup dengan pria yang aku cintai. Kamu nggak lihat diri kamu sendiri? Kamu juga sibuk memikirkan wanita lain walau sudah menikah,” tutur Melan kesal. Ia tidak peduli lagi dengan semua yang akan terjadi. Sebab, ia tahu kalau dirinya tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi.

 

Tarudi hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Melan. “Aku memang selalu memikirkan wanita lain yang aku cintai. Tapi, aku tidak pernah berselingkuh. Aku justru menghormati dan menghargai kamu sebagai istriku. Tapi kamu ... tidak bisa menghargai keberadaan suami kamu sedikitpun. Malah berkeliaran di luar sana dan merusak nama baik suami kamu sendiri!”

 

“Aku juga nggak akan kayak gini kalau kamu nggak mikirin Arum terus!” sahut Melan tak mau kalah.

 

“Arum sudah nggak ada. Nggak bisa kamu jadikan alasan untuk membela diri kamu sendiri.”

 

Melan tersenyum sinis. “Arum emang udah nggak ada. Tapi ... gimana kalau semua orang tahu ... kamu mencintai istri kakak kamu sendiri, hah!?”

 

“Aku mencintai dia ... tapi tidak melakukan hubungan menjijikkan seperti kamu dan Lonan!”

 

“Kamu pikir, aku nggak tahu bagaimana kamu berebut wanita dengan kakak kandung kamu sendiri?” tanya Melan sambil tertawa kecil.

 

“Arum itu wanita yang baik dan bermartabat. Dia pantas dicintai oleh banyak orang seumur hidupnya. Aku nggak pernah menyesal mencintai dia walau aku nggak bisa memiliki. Aku justru menyesal memiliki wanita yang tidak pernah aku cintai sepanjang hidupku.”

 

“Aku sudah berusaha menerima dan menyayangi kamu sebagai istri. Tapi tidak melebihi perasaanku dengan almarhumah Arum. Kamu tahu ... wanita dikagumi dan dicintai oleh pria seumur hidup karena sifat dan perilakunya. Kalau kamu masih terus seperti ini, kamu akan menjadi wanita yang dibenci seumur hidup.”

 

Melan semakin kesal karena Tarudi membandingkan dirinya dengan Arum. Wanita yang bahkan sudah tidak akan pernah hadir lagi dalam kehidupan mereka.

 

Tarudi langsung menarik tangan Melan dan meletakkan pena ke telapak tangannya. “Tanda tangani sekarang juga dan bawa barang-barang kamu pergi dari rumah ini!” sentak Tarudi. Ia sudah enggan berdebat dengan Melan dan ingin menyelesaikan semua dengan cepat.

 

Melan menatap kesal ke arah Tarudi yang memperlakukannya sangat kasar. Ia tidak punya pilihan lain lagi, tak ada ruang sedikit pun untuk membalikkan keadaan. Ia menatap dokumen yang ada di atas meja dan langsung menandatanganinya.

 

Tarudi langsung tersenyum begitu melihat Melan sudah menandatangani surat perjanjian perceraian. Ia meraih dokumen dari atas meja dan memeluknya. “Bawa barang-barangmu keluar dari rumah ini!” pinta Tarudi.

 

Melan mengangguk. Ia berniat untuk mengambil barang-barang berharga miliknya. Semua perhiasan yang ia miliki, masih ada di dalam kamar. Ia bisa menggunakannya untuk bertahan hidup di luar sana.

 

“Mau ke mana?” tanya Tarudi saat melihat Melan menuju kamar tidurnya.

 

“Mau beresin barang-barangku,” jawab Melan.

 

“Sudah aku bereskan,” tutur Tarudi sambil menunjuk dua koper yang ada di sudut ruangan. “Kamu nggak perlu repot-repot membereskannya lagi! Bawa koper kamu keluar dari rumah ini!”

 

“Tapi ...” Melan langsung menghampiri koper yang ada di sudut ruangan. Ia membuka koper itu dan memeriksa barang-barangnya. Ia langsung menutup koper itu kembali begitu melihat semua pakaian yang ada di dalamnya.

 

“Masih ada barang lain yang harus aku ambil,” tutur Melan sambil melangkah menuju kamarnya.

 

“Maaf, Nyonya ...!” Dua orang pelayan menghadang langkah Melan untuk masuk ke dalam kamar.

 

“Kalian ...!?” Melan mendelik ke arah pelayan tersebut.

 

“Cuma dua koper itu yang boleh kamu bawa pergi dari sini. Aku sudah memeriksa semuanya. Saat kamu masuk ke rumah ini ... kamu hanya membawa dua koper pakaianmu. Itu juga yang harus kamu bawa saat keluar dari rumah ini,” jelas Tarudi sambil tersenyum menatap Melan.

 

“Pa ... Papa tega sama mama? Papa mau biarin mama hidup terlunta-lunta di jalanan?” tanya Melan.

 

“Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu bukan lagi tanggung jawabku. Aku akan mengirim tunjangan perceraian ke rekening kamu. Manfaatka itu untuk membuat hidupmu bahagia di luar sana!”

 

Melan mendengus kesal ke arah Tarudi. Ia tidak menyangka kalau ia akan kehilangan semuanya. Tarudi sudah mengetahui semuanya dan tidak membiarkannya membawa perhiasan berharga yang pernah diberikan Tarudi untuknya.

 

“Bawa wanita ini keluar dari rumah saya!” perintah Tarudi pada pelayan di rumahnya. Ia bergegas melangkah pergi dan masuk ke dalam kamarnya.

 

Pelayan yang ada di rumah itu langsung menyeret Melan keluar dari rumah tersebut.

 

“Kalian berani-beraninya sama aku. Kalian nggak ingat, aku ini siapa?” seru Melan saat pelayan di rumah itu menyeretnya keluar.

 

“Maaf, Anda bukan nyonya kami lagi!” sahut pelayan itu sambil tersenyum. Mereka melempar koper Melan keluar dari pintu dan menutup kembali pintu rumah itu rapat-rapat.

 

Melan menatap pintu utama rumah mewah bernilai miliaran tersebut. Ia menggigit bibirnya karena tak bisa lagi masuk ke dalam rumah mewah yang menjadi kebanggaannya sejak dua puluh lima tahun lalu.

 

Melan melangkahkan kakinya perlahan sambil menarik dua koper yang ada di sisinya. Air matanya mengalir deras saat ia harus meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Di setiap tetes air matanya yang jatuh, ada bayangan Bellina kecil yang selalu tertawa bahagia saat bermain dengannya.

 

Melan berusaha menghapus air matanya. Ia tidak ingin menunjukkan kehancurannya pada semua orang. Ia merasa kalau ia bisa menghadapinya dengan mudah meski tak ada lagi dukungan besar dari suami yang selama ini selalu ia manfaatkan kebaikannya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

  

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas