Jam istirahat telah tiba, semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Tapi tidak dengan Alluna, ia masih setia dengan kursinya dan tidak ingin beranjak pergi.
Alluna sibuk memutar-mutar pena di atas meja, tangan kirinya memangku pipi. Wajahnya terlihat tidak bersemangat, seminggu lagi ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-17. Kata orang, sweet seventeen itu momen paling membahagiakan dan wajib untuk dirayakan. Karena di usia itulah, kita akan masuk ke dalam dunia dewasa yang diakui oleh masyarakat. Tapi tidak bagi Alluna, perasaannya masih kacau balau karena sampai hari ini ia belum juga punya pacar. Merayakan sweet seventeen dalam keadaan jomblo, kelihatan menyedihkan sekali.
“Lun, kenapa?” tanya Hastri yang duduk di sebelahnya.
“Eh!? Nggak papa.” Alluna langsung menatap wajah Hastri saat menyadari kalau Hastri sedari tadi sudah memanggilnya.
“Ke kantin, yuk!” ajak Hastri.
“Duluan aja. Gue lagi males ke kantin.”
“Kenapa sih, akhir-akhir ini lo bete mulu?” celetuk Hastri.
“Bete gue, seminggu lagi gue ultah dan sampe sekarang belum dapet pacar!” Alluna menghentakkan penanya.
“Makanya, jangan di dalam kelas mulu. Jalan-jalan, kek, ke gedung kelas 3, siapa tahu ada kakak kelas yang nyantol.”
“Apaan!? Ogah banget gue.”
“Lun, kalo lo mau punya pacar ... buang jauh-jauh sifat jutek lo itu. Cowok-cowok males deketin lo kalo lo jutek banget,” bisik Hastri.
Alluna mengernyitkan dahinya. “Emang gue jutek!?”
“Iya, kalo ketemu si Jono, serem amat muka lo.” Hastri tergelak menatap wajah Alluna yang semakin kesal.
Alluna sama sekali tidak menyukai Jono, cowok aneh yang seringkali menggodanya. Bahkan di tempat umum sering mengaku kalau dia kekasih Alluna. Pendeklarasian status hubungan sepihak itu membuat Alluna kesal dan ilfil dengan Jono. Sebenarnya, tampang Jono tidak jelek-jelek amat. Dia lumayan tampan dibanding dengan yang lain. Tapi kelakuannya benar-benar membuat Alluna ingin muntah setiap kali ketemu Jono.
Selain sikapnya yang berlebihan, Alluna juga tidak menyukai cowok yang tinggi badannya tidak melebihi tinggi badan Alluna. Dengan tinggi badan yang mencapai 175 cm, tubuh Alluna bak model yang siap berlenggak-lenggok di atas catwalk. Memang jarang sekali cowok yang tinggi badannya melebihi tinggi badan Alluna. Untuk ukuran cewek, Alluna memang termasuk tinggi. Itu sebabnya dia tidak begitu suka dengan pria yang lebih pendek darinya.
“Hai, cantik!” Baru saja dibicarakan, Jono muncul di depan Alluna sambil memainkan kedua matanya.
“Nah, baru diomongin langsung muncul. Lo kayak jin aja,” celetuk Hastri.
“Wah, kalian ngomongin gue? Pasti ngomongin kegantengan gue yang nggak ada tandingannya di sekolah ini, kan?” Dengan pede-nya Jono menegapkan badannya agar terlihat lebih gagah, tangan kanannya mengusap-usap rambut depannya, tangan kiri memegang kerah bajunya sambil tersenyum penuh percaya diri.
Alluna melotot melihat Jono, perutnya tiba-tiba mual. “Has, ke kantin yuk!” Alluna menarik lengan Hastri dan mengajaknya keluar dari kelas. Membiarkan Jono bengong karena lagi-lagi ditinggal begitu saja oleh Alluna.
“Kenapa nggak lo manfaatin aja tuh si Jono? Mukanya nggak jelek-jelek amat. Lumayan menjual buat diajak ke pesta.” Hastri berjalan mengiringi langkah Alluna menuju kantin.
Alluna mengedikkan bahunya. “Ogah gue. Di sekolah aja dia sering bikin malu dengan ngaku-ngaku jadi pacar gue. Masa iya, mau gue ajak ke pesta? Bisa gede banget tuh kepalanya dia,” sahut Alluna kesal.
“Austin sama Rani mana?” Alluna memandang ke sekeliling kantin, ia tidak mendapati dua sahabatnya itu ada di kantin.
Hastri mengedikkan bahunya. “Nggak tau. Lo mau makan apa? Biar gue pesenin.”
“Minum aja,deh.”
Hastri langsung menuju outlet untuk memesan makanan dan minuman. Mereka menikmati hidangan sambil bercerita banyak seputar sekolah dan dunia luar sekolah yang lagi hits.
Di ruangan lain, di ruang osis, Austin dan Rani sedang menyusun rencana untuk memberi kejutan ulang tahun Alluna. Mereka tidak mau kalau Alluna sampai tahu, sahabat-sahabatnya akan memberikan kejutan spesial yang melibatkan murid-murid di sekolah. Beruntungnya, Rani adalah ketua osis. Jadi, dia bisa dengan mudah meminta tolong anggota Osis untuk memberikan kejutan yang tidak akan terlupakan oleh Alluna.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, Alluna merogoh saku tasnya dan mengambil tumpukan kartu berukuran 8x8 cm yang sudah diikat rapi. Ia cepat-cepat berdiri di depan pintu dan memberikannya satu per satu kepada teman-teman sekelasnya. “Dateng, ya!” pintanya setiap kali memberikan kartu undangan ulang tahunnya yang ke-17. Ia juga memberikan kartu undangan untuk teman-teman kelas lain yang ia kenal dan ia jumpai saat pulang sekolah.
“Aku minta undangannya, dong!” Austin tiba-tiba mencegat langkah Alluna.
“Buat siapa?” Alluna mengernyitkan dahinya.
“Buat gue.” Austin cengengesan.
“Lo nggak gue undang!” Alluna mendelik ke arah Austin. “Lo bantuin gue di rumah, siapin acara,” tegas Alluna. “Kalian bertiga harus nginep di rumah gue!” Alluna memandang tiga sahabatnya yang dibalas dengan tawa yang tertahan.
“Iya!” sahut mereka serempak.
“Tapi, gue minta undangannya satu, dong! Gue mau ngundang sepupu gue juga,” sela Austin.
“Wah, sepupu lo pasti bule juga kayak lo ya?” tanya Hastri.
“Jelas, dong!” jawab Austin dengan nada bangga. Austin memang cewek blasteran Amrik-Batak, rambutnya blonde, kulitnya putih, bola matanya berwarna biru, tapi tinggi badannya tidak melebihi tinggi badan Alluna. Tidak heran kalau sepupu Austin juga banyak yang bule.
***
Hari Sabtu, rumah Alluna mulai sibuk dengan persiapan pesta ulang tahun Alluna. Mama Alluna sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Dia juga dibantu oleh beberapa tetangga yang mau membantunya menyiapkan makanan di dapur. Mama Alluna sengaja tidak memesan catering, ia memilih untuk mengerjakannya sendiri dengan melibatkan pihak keluarga dan tetangga terdekatnya. Sebab, di sana ada rasa kebersamaan dan gotong-royong yang jarang sekali ia temukan setiap harinya. Hanya momen seperti inilah saudara dan tetangga bisa berkumpul bersama.
Sementara Mama Alluna sibuk di dapur, Alluna dan tiga sahabatnya sibuk menghias ruang tamu yang akan dijadikan acara pesta ulang tahun Alluna. Hastri sibuk menggunting kertas untuk hiasan, Rani sibuk meniupi balon dan Austin sibuk memasang hiasan ke dinding.
“Assalamu’alaikum ...!” Suara dari pintu depan membuat keempat remaja itu memalingkan pandangannya ke arah pintu.
“Wa’alaikumussalam,” sahut mereka serempak.
Alluna langsung bangkit dan menghampiri sosok cowok yang sudah berdiri di depan pintu. Ia menyalami dan mencium punggung tangan cowok itu.
“Kenalin, ini kakak gue. Namanya Daren.” Alluna memperkenalkan Daren yang baru saja pulang karena kuliah di Singapura.
Ketiga sahabatnya melongo melihat kedatangan Daren. Mereka tidak menyangka kalau Alluna punya kakak cowok yang sangat tampan , wajah asianya sangat khas dan mirip sekali dengan Jeon Jeong Guk, salah satu anggota Bangtan Boys dari Korea Selatan.
“Hai, kak!” sapa ketiganya bersamaan. Mereka menyalami Daren dan memperkenalkan diri satu per satu.
Usai berkenalan, Daren langsung menuju dapur untuk menyapa mamanya yang sedang sibuk memasak sambil bercengkerama dengan keluarga dan tetangganya.
“Mama lagi kotor.” Mama Alluna menolak saat Daren ingin menyalami tangannya. Budaya cium tangan di keluarga Alluna memang sudah berjalan sejak dulu, sebagai rasa hormat pada keluarga juga sebagai bukti kasih sayang di dalam keluarga mereka.
“Ya, udah. Aku langsung naik, ya!” pamit Daren, tak lupa ia juga permisi pada saudara dan tetangga yang sedang membantu mamanya di dapur. Ia bergegas masuk ke kamarnya yang ada di lantai 2, tepat bersebelahan dengan kamar Alluna.
“Lun, lo nggak pernah bilang kalo lo punya kakak cowok yang ganteng banget!” celetuk Rani.
“Ganteng?” Alluna mengernyitkan dahinya. Baginya, kakaknya terlihat biasa saja. Mungkin karena mereka sudah sering bertemu sejak kecil. Tidak terlihat istimewa di mata Alluna.
“Iya, ganteng banget kayak gitu. Kalo tau lo punya kakak ganteng, mending gue gebet kakak lo aja daripada si Jacklin,” celetuk Austin.
“Bukannya si Jack ganteng juga?” goda Alluna.
“Iya, sih. Dia juga mau sama gue. Kalo kakak lo kan belum jelas, belum tentu dia demen sama gue,” sahut Austin yang disambut gelak tawa yang lainnya. Walau Austin keturunan Amerika, tapi dia lancar berbahasa Indonesia dan Batak karena memang lahir dan besar di Jakarta.
“Asal yang ganteng sukanya jangan sama yang ganteng juga ya!” sela Hastri, membuat semuanya jadi tertawa.
“LBGT dong!?” sahut Austin.
“Sst..! Ngomongnya jangan keras-keras!” Rani menempelkan jari telunjuk di bibirnya. “Jangan sarkas gitu, ntar tiba-tiba ada cctv, bahaya loh.”
“Hah!? Seriusan?”
“Iya, serius.”
“Bercanda kalee,” sahut Hastri sambil menepuk bahu Austin yang sudah serius menanggapi ucapan Rani.
Austin menghela napas lega. “Syukur, deh. Kirain serius.”
“Lah? Dia masih serius?” Rani menepuk dahinya sendiri melihat sifat Austin yang rada tulalit.
***
Pukul 19.00 WIB, Alluna dan tiga temannya sudah bersiap melangsungkan pesta ulang tahun Alluna yang ke-17. Alluna masih duduk di kursi meja rias, menatap wajahnya di depan cermin, tiga sahabatnya juga berdiri tepat di belakangnya.
“Bagus atau nggak, sih?” tanya Alluna sembari memperhatikan make-up dan gaunnya.
“Bagus banget, kamu cantik banget malam ini.” Rani mengangkat kedua jempolnya. Ia menatap kalung berlian yang tersemat di leher Alluna. Kalung itu membuat Alluna semakin manis.
Alluna bukan gadis biasa, dia anak seorang pengusaha kaya raya. Wajar saja kalau ia punya perhiasan berlian yang indah. Satu set berlian yang ia kenakan terlihat sangat cantik berpadu dengan gaun merah yang juga tak kalah cantik. Gaun merah selutut ini memang dipesan khusus oleh Mama Alluna untuk ulang tahun puteri tercintanya. Bagian bahunya terbuka dengan gaya off the shoulder neckline yang membuatnya terkesan sexy tapi tetap elegan.
“Lun, lo cantik banget!” puji Hastri.
“Beneran?” Alluna menengadahkan kepala menatap ketiga sahabatnya.
“Iya. Kalo gue cowok, udah naksir sama lo. Pantesan si Jono ngebet banget ngejar-ngejar elo,” jawab Rani.
“Si Jono lo undang juga?” tanya Hastri.
“Undang, dong. Kan, dia temen juga. Yah, walau dia lebih sering nyebelin. Tapi, kalo nggak ada dia, nggak rame.”
“Ciye ... dah mulai kangen sama si Jono ya? Hati-hati, ntar lo jatuh cinta beneran sama dia.”
Alluna tersenyum, “Ya, nggak lah. Gue biasa aja, kok. Lagian, dia terlalu pendek kalo jalan sama gue, hahaha.”
Rani, Austin dan Hastri juga ikut tertawa. “Turun, yuk! Bentar lagi acaranya mulai.”
Mereka tidak menyadari kalau mereka sudah berbicara lama sampai lupa waktu.
Alluna dan tiga sahabatnya bersiap keluar dari kamar.
“Kakak?” Alluna heran mendapati kakaknya sudah berdiri di depan pintu ketika ia membuka pintu tersebut.
Daren tersenyum manis, mengulurkan tangannya dan disambut langsung oleh Alluna. Tiga sahabat Alluna mulai iri melihat romantisme dua kakak beradik yang sedang berjalan menuruni anak tangga bersamaan. Mereka benar-benar terlihat serasi, tampan dan cantik. Wajah mereka juga sangat mirip. Terlebih malam ini, Daren juga memakai jas warna senada dengan gaun milik Alluna.
Semua tamu yang sudah datang terpesona dengan dua insan yang sedang menuruni tangga bersamaan. Alluna merangkul lengan Daren, mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Tetapi, mereka lebih dari itu. Mereka adalah sepasang saudara yang saling menyayangi.
“Akhirnya ... yang kita tunggu-tunggu datang juga.” Suara MC menggema di seluruh ruangan. “Mba Alluna dan Mas Daren! Beri tepuk tangannya!” pinta MC dan langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah.
Teman-teman sekolah Alluna banyak yang berbisik dan bertanya, siapa cowok ganteng yang sedang bersama Alluna? Kekasih Alluna?
Sama halnya dengan Jono, ia menghela napas kecewa karena pasangan Alluna terlihat sangat sempurna. Jelas saja kalau Alluna selalu menolaknya, ternyata pacar Alluna jauh lebih tampan darinya dan mereka terlihat sangat serasi.
“Jon, pacar lo udah punya pacar?” bisik salah satu teman Jono yang coba menggoda.
Jono berdecak kesal mendengar bisikan temannya sendiri. Ia akui, kalau dia memang seringkali mendeklarasikan dirinya sebagai pacar Alluna secara sepihak. Lagipula, siapa yang tidak mau dengan Alluna? Cewek cantik dan tajir. Semua cowok ingin sekali bisa dekat dengan Alluna. Hanya saja, sifat Alluna yang jutek dan galak membuat banyak cowok enggan untuk mendekat.
Saat MC memberitahukan kalau Daren adalah kakak kandung dari Alluna, hati Jono kembali berbunga-bunga. Ia merasa, Alluna memang jodohnya. Sebab, cowok tampan yang digandeng Alluna adalah kakak kandungnya sendiri. Ia mengelus dadanya dan bernapas lega.
Pesta ulang tahun pun dimulai, keseluruhan acara dipandu oleh MC. Alluna hanya tinggal mengikuti petunjuk yang diberikan oleh MC.
Usai menyanyikan lagu, Alluna meniup lilin ulang tahun dan memotong kuenya diiringi dengan riuhnya tepuk tangan dan syair ulang tahun dari teman-teman yang hadir.
“Ini dia ... momen yang paling kita tunggu-tunggu. Kira-kira, potongan kue pertama bakal dikasih ke siapa ya? Karena, potongan kue pertama harus diberikan pada orang yang paling spesial.” MC melanjutkan sesi acaranya.
Tanpa pikir panjang, Alluna memberikan potongan kue pertamanya pada Daren. Daren tersenyum menyambutnya dan mengecup dahi Alluna. “Selamat ulang tahun adikku yang cantik. Semoga, cepet dapet pacar biar nggak cemberut mulu,” goda Daren, membuat Alluna mencibirkan bibirnya.
Pesta ulang tahun Alluna berjalan dengan lancar. Semua tamu undangan menikmati hidangan yang telah disediakan. Alluna menebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari ketiga sahabatnya yang belum juga muncul di hadapannya. Pandangannya tertuju pada cowok berkemeja putih yang sedang mengobrol dengan Austin, Rani dan Hastri.
“Kalau udah ngobrol sama cowok ganteng, lupa kalau sahabatnya ini lagi ulang tahun. Nggak ada ngucapin sama sekali,” celetuk Alluna. Ia melangkahkan kaki menghampiri Austin dan dua sahabatnya.
“Selamat ulang tahun, Alluna!” ucap mereka serempak begitu Alluna menghampiri. Mereka sengaja tidak menghampiri Alluna untuk membuatnya kesal.
“Makasiih ...!” Alluna tersenyum manis dan langsung disambut oleh pelukan ketiga sahabatnya.
“Oh, ya. Kenalin, ini sepupu gue.” Austin memperkenalkan sepupunya pada Alluna.
Alluna tersenyum menyambut uluran tangan cowok tampan yang sempat mencuri pandangannya beberapa menit yang lalu.
“Evan.” Cowok itu tersenyum sambil menyebutkan nama begitu uluran tangannya disambut oleh Alluna. Ia menatap gadis cantik yang ada di depannya, matanya langsung tertuju pada manik mata Alluna yang membawanya masuk ke dalam ruang istimewa yang membuat hatinya bergetar.
“Alluna,” sahut Alluna membalas senyum Evan. Pandangan mereka bertemu. Alluna mengagumi Evan, cowok seperti Evan yang menjadi kriteria cowoknya. Mata biru Evan berhasil menenggelamkan Alluna dalam lautan kekaguman. Wajahnya tampan, rambutnya kecokelatan dan tubuhnya atletis.
“Ehem!” Austin berdehem, membuat Alluna dan Evan tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat melepas tangannya yang masih bertautan sejak tadi.
“Sorry!” ucap Evan.
“Iya. Nggak papa.” Alluna ingin berlalu pergi, tapi dia tidak tahu ingin menghampiri siapa. Sebab, ketiga sahabatnya sudah ada di hadapannya. Kakaknya juga sudah terlihat asyik bergabung dengan teman-teman kuliah yang ikut diundangnya. Mama, jelas ia sibuk dengan keluarga besar. Alluna semakin terlihat canggung di antara ketiga sahabatnya.
Austin menyadari perubahan sikap Alluna. Ia mengedipkan mata ke arah Rani dan Hastri. “Lun, gue ke toilet dulu ya!”
Tanpa dikomando, Rani dan Hastri juga ikut ke toilet. Meninggalkan Alluna berdua bersama Evan.
Alluna berdiri di sisi Evan tanpa berkata apa-apa. Begitu juga sebaliknya. Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing dan rasa gugup yang menyelimuti keduanya.
Alluna merasa aneh dengan keadaan ini. Bagaimana bisa, ia tidak bisa berkata apa pun. Tiba-tiba dia bingung harus memulai pembicaraan dari kata apa. Dan ini membuatnya merasa sangat konyol.
“Satu sekolah sama Austin?” Akhirnya Evan membuka pembicaraan. Alluna langsung menatap cowok itu dan menganggukkan kepalanya.
“Lo dari luar negeri?” tanya Alluna, ia memukul kepalanya perlahan karena menganggap pertanyaannya konyol dan suaranya terdengar bergetar.
Cowok itu tertawa kecil. “Enggak. Emang gue kelihatan ada tampang bule?”
Alluna mengamati wajahnya dengan seksama. “Tampang sih ada, tapi—”
“Tapi, apa?” tanya Evan mendekatkan wajahnya. Membuat Alluna semakin gugup.
“Gaya bicara lo, Indonesia banget!”
“Ya, emang gue lahir dan gede di Jakarta. Ngokap gue dari Swedia, tapi bokap asli Indonesia kok. Sama kayak Austin.”
“Oo....” Alluna membulatkan bibirnya membentuk huruf o.
“Bulat,” sahut Evan. Membuat Alluna tertawa kecil dan berhasil mencairkan suasana. Mereka tidak lagi saling diam, justru banyak bercerita. Ternyata Evan cowok yang humoris, walau ia tampangnya terlihat cool dan cuek.
***
Hari ini Alluna bersekolah seperti biasa, ia merasa lelah usai menjalani birthday party kemarin. Untungnya Mama Alluna memilih hari Sabtu malam Minggu. Jadi, Alluna bisa menghabiskan hari Minggunya untuk tidur agar tidak kelelahan. Walau rasanya lelah, wajahnya terus menyunggingkan senyum sepanjang koridor sekolah sampai masuk ke kelas.
“Kayaknya, ada yang lagi bahagia nih.” Hastri menyenggol bahu Alluna dengan bahunya. Di belakangnya ada Rani dan Austin yang ikut menggodanya.
“Kalian udah mulai nyebelin kayak Jono, ya!?” Alluna mendelik. Hastri membalasnya dengan menjulurkan lidah. Membuat Alluna mengejarnya sampai ke kelas.
“Lun, jam istirahat kita ke lantai atas yuk!” ajak Rani.
“Hah!? Ngapain?”
“Main aja.”
“Di lantai 3 kan kelas 3 semua, Ran. Malu tahu.”
“Ngapain sih pake malu-malu segala? Ntar lo nyesel kalo nggak mau ikut kita ke sana.”
“Emang ada apaan sih?”
“Ada pemandangan keren yang lo nggak pernah tau.”
“Seriusan?”
Rani menganggukkan kepalanya. “Makanya, ikut kita ke atas, ya!”
Alluna menganggukkan kepalanya.
Saat jam istirahat tiba, Alluna dan tiga sahabatnya menaiki tangga menuju ke lantai 3 gedung sekolah. Mereka melewati ruang osis dan ruang guru yang terletak di lantai 2.
“Eh, stop!” Austin memegangi bahu Alluna sesampainya di lantai 3.
“Ada apa?” tanya Alluna heran.
“Pake ini dulu!” pinta Hastri menunjukkan kain hitam penutup mata.
“Apaan?”
“Pake aja!”
Alluna mengikuti permintaan ketiga sahabatnya. Ia digiring untuk berdiri di balkon lantai 3, tepat menghadap ke lapangan.
“Jangan dibuka dulu kalau belum ada aba-aba dari kita!” pinta Rani.
Alluna menganggukkan kepalanya.
Austin memanggil seorang cowok yang akan ia suruh membukakan penutup mata Alluna dari belakang tanpa Alluna ketahui. Karena, akan tetap menggunakan suara Austin yang berdiri di belakang cowok itu.
“Satu ... dua ... tiga ...!” Cowok itu langsung membuka kain penutup mata Alluna. Alluna melihat balon-balon yang terbang dari lapangan. Di lapangan, ada banyak murid-murid yang berkumpul sambil memegang huruf-huruf besar bertuliskan HBD ALLUNA.
Alluna spontan menutup mulutnya, terkejut sekaligus bahagia dengan apa yang dibuat oleh sahabat-sahabatnya. Ia tidak menyangka kalau akan mendapatkan kejutan di sekolah. Dia sudah cukup mendapat sebuah kejutan kecil dengan mengenalkannya dengan sosok Evan, cowok keren yang mencuri perhatiannya.
“Kalian baik banget, sih. Makasih banget buat kejutan-kejutannya. Gue nggak tahu harus ngomong ap—” Alluna semakin terkejut ketika ia membalikkan badannya. Bukan ketiga sahabatnya yang ia lihat, tapi sosok cowok yang ia kagumi. Evan sudah berdiri tepat di depannya dan tersenyum manis.
“Kok, lo bisa ada di sini?” tanya Alluna gugup.
“Iya. Kan, gue sekolah di sini,” jawab Evan sambil memperbaiki kacamatanya.
Alluna menatap Evan yang memang mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya. Di pesta kemarin, Evan tidak mengenakan kacamata. Hari ini ia mengenakan kacamata dan terlihat semakin keren. Ah, kenapa dia jadi sering mengagumi cowok? Bukankah selama ini dia cuek saja?
“Gue nggak pernah lihat lo.”
“Pernah. Cuma lo aja yang nggak nyadar kalo ada cowok ganteng di sekolah ini,” sahut Evan.
“Apa!?” Alluna mulai mual dengan cowok yang selalu mengaku-ngaku dirinya ganteng. Ia selalu membayangkan tingkah Jono yang bisa dibilang ‘gak banget!'.
“Bercanda. Serius amat sih nanggepinnya?” Evan menyolek hidung Alluna dengan ujung jemarinya. Ia mulai gemas dengan sikap Alluna yang jutek dan mudah mengomel.
Alluna tersenyum, matanya melirik ke arah tiga sahabatnya yang bersandar di dinding, tepat di belakang tubuh Evan. Ia tahu, ini semua sudah direncanakan oleh ketiga sahabatnya. Mereka siap menjadi mak comblang saat mereka tahu ada cowok yang berhasil mengambil perhatian Alluna.
“Happy Birthday!” Evan setengah berbisik, seolah tidak ingin didengar oleh tiga pasang mata yang ada di belakangnya.
“Yaelah, nggak usah bisik-bisik gitu juga kali. Kayaknya, kita ganggu nih ada di sini,” celetuk Austin.
“Iih, enggak kali.” Alluna langsung mengelak ucapan Austin.
Sementara Evan hanya tersenyum, ia justru berharap ketiganya pergi meninggalkan dirinya hanya berdua dengan Alluna.
“Aduh, gue kebelet pipis nih,” sela Hastri. “Gue ke toilet dulu ya!” pamit Hastri.
“Ikut!” teriak Rani dan Austin bersamaan. Mereka meninggalkan Alluna berdua dengan Evan. Memberikannya ruang untuk saling bercerita.
“Gue masih nggak percaya kalo lo sekolah di sini juga.” Alluna membalikkan tubuhnya, memandang ke arah lapangan, beberapa anak sedang asyik memainkan bola basket di lapangan.
“Iya, sebentar lagi gue lulus.”
“Kelas 3? Oh, My God! Gue udah hampir dua tahun sekolah di sini dan nggak kenal sama lo? Aneh!” celetuk Alluna.
“Ya, lo nggak perlu mengenal semua anak yang sekolah di sini. Tapi, semua anak yang sekolah di sini bisa mengenal lo. Cewek paling cantik di sekolah yang terkenal galak!”
“Emang gue galak?” tanya Alluna sewot.
“Nah, ini mau keluar galaknya.” Evan menanggapinya dengan tertawa, membuat Alluna akhirnya tertawa walau awalnya ingin marah.
Tiba-tiba ponsel Evan berdering. Ia langsung merogoh saku celananya dan mengangkat telepon dari seseorang di seberang sana.
“Halo ... Iya, sayang. Nanti pulang sekolah aku jemput.” Evan langsung mematikan ponselnya.
“Cewek lo?” tanya Alluna ketus.
Evan hanya menanggapinya dengan senyuman. “Lo sendiri, belum punya cowok?”
Alluna menggelengkan kepalanya. “Gue turun dulu, ya! Bentar lagi masuk kelas.” Alluna melihat arloji di lengannya yang sudah menunjukkan waktu pelajaran dimulai kembali. Baru selangkah kakinya bergerak, bel tanda masuk kelas benar-benar berbunyi.
“Lun,” panggil Evan sembari menatap punggung Alluna yang beranjak pergi.
“Apa?” Alluna membalikkan wajahnya menatap Evan.
“See you ...!”
Alluna tersenyum kecut dan berlalu pergi meninggalkan Evan. Ia menuruni anak tangga sambil memaki dirinya sendiri dan juga ketiga sahabatnya yang sudah mengenalkan dia dengan cowok yang sudah jadi pacar orang. “Kalian bener-bener gila ya! Udah punya cewek, mau dicomblangin ke gue,” umpat Alluna dalam hati.
((bersambung...))

