“Yun, kamu udah lihat gosip di media soal Tante Melan?” tanya
Jheni saat ia menemani Yuna merapikan tanaman bunga di halaman rumah.
“Udah, Jhen.”
“Menurut kamu gimana?” tanya Jheni.
“Huft, nggak tahu. Aku juga bingung. Aku kasihan sama Oom Rudi.
Sebenarnya, dia itu baik. Istrinya aja yang kelakuannya kayak iblis. Sekarang,
semua orang membicarakan keluarga Linandar. Aku harap, berita ini nggak sampai
ke telinga ayahku.”
“Berita sebesar ini ... mana mungkin Oom Adjie nggak tahu.
Emangnya dia tinggal di hutan yang nggak ada akses televisi dan internet? Yang
salah bukan keluarga kamu, Yun. Si Melan yang nggak tahu diri itu,” tutur
Jheni.
“Iya, sih. Tapi keluarga kami tetep jadi sorotan. Untungnya, Oom
Rudi gerak cepat, langsung ceraikan Tante Melan.”
“Hah!? Jadi, gosip yang ada di luar sana itu bener? Tante Melan
beneran udah resmi cerai?” tanya Jheni.
Yuna menganggukkan kepala.
“Mampus tuh si Maleficent! Biar dia jadi gelandangan di luar sana.
Udah diceraikan sama Oom Rudi, masih sempat-sempatnya pesta foya sama laki-laki
itu.”
“Pesta foya gimana?” tanya Yuna sambil menyirami tanaman
anggrek yang berjejer rapi di hadapannya.
“Kamu belum baca artikel terakhir yang muncul hari ini?” tanya
Jheni.
“Belum, Jhen. Belum sempat.”
“Eyuuh...! Kamu mah kudet banget,” celetuk Jheni.
Yuna hanya nyengir mendengar ucapan Jheni.
“Lihat!” Jheni menyodorkan ponsel ka wajah Yuna. “Ini video baru
aja diambil netizen tadi pagi. Lihat! Dia baru cerai, asyik shopping sama
laki-laki lain. Banyak duit nih janda baru.”
“Jangan-jangan, itu uang tunjangan dari Oom Rudi? Laki-laki itu
kan baru keluar dari penjara, Jhen. Kata suamiku, selama ini dia hidupnya dari
duit yang dikasih Tante Melan. Nggak mungkin dia punya duit buat bayarin Tante
Melan shopping.”
“Hahaha. Jadi, sekarang si Melan lagi diporotin sama laki-laki
itu? Biar cepet habis duitnya, terus tidur di jalanan. Mampus!” seru Jheni
sambil tertawa lebar.
Yuna ikut tertawa. “Aku jadi ngebayangin gimana wajah sombongnya
Tante Melan tanpa duit.”
“Hahaha. Dia nggak bakal berani jahatin kamu lagi, Yun. Senang
banget aku kalau dia jatuh miskin. Aku harus lihat gimana akhir hidup dia.”
Yuna tersenyum sambil bangkit dan membasuh tangannya. “Tante Melan
itu licik, Jhen. Dia nggak akan menyerah begitu aja. Apalagi, pacarnya dia itu
mafia.”
“Mafia apa sih? Aku masih nggak paham sama obrolannya Yeriko and
The Gank.”
Yuna terkekeh. “Nggak tahu juga.”
Jheni langsung nyengir ke arah Yuna. “Aku keselnya, mereka kalo
ngobrol suka pake kode-kodean gitu. Aku kan nggak paham, Yun.”
“Kode apaan?” tanya Yuna.
“Kode rahasia. Kamu nggak sadar kalau Yeriko sering main mata ke
Chandra kalo lagi ngobrol? Aku sering perhatiin.”
Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Berani-beraninya merhatiin
suami orang!?” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.
Jheni terkekeh. “Bukan naksir, Yun!” sahutnya sambil menempelkan
telapak tangannya ke wajah Yuna.
“Brrt ... byuuh! Jheni ...! Tangan kamu kotor!” teriak Yuna kesal.
Jheni hanya tertawa menanggapi teriakan Yuna. “Lulur wajah pakai
tanah, bagus loh.”
“Bagus apanya!?” dengus Yuna. “Aku udah bersih-bersih, malah kamu
kotorin lagi!” seru Yuna sambil menyalakan kran air dan membasuh wajahnya.
“Ntar jerawatan, Jhen!”
“Hahaha. Kalau udah nikah, nggak bisa jerawatan lagi, Yun.
Nafsunya udah terlampiaskan. Nggak ada yang ditahan-tahan,” sahut Jheni sambil
terkekeh geli.
“Nggak ngaruh, Jhen. Jerawat itu bukan cuma karena nafsu doang.
Karena kotor dan stres juga bisa.”
“Iya, sih. Stres karena nggak ada yang belai,” sahut Jheni sambil
terkekeh.
“Kamu makin centil aja, Jhen. Jangan-jangan, lagi stres karena
udah lama nggak dibelai sama Chandra ya?” goda Yuna.
Jheni menggelengkan kepala. “Chandra ke Jakarta dua hari ini.
Suami kamu jahat banget!”
“Jahat kenapa?”
“Chandra dikirim ke luar terus!” sahut Jheni sambil membasuh
tangannya. Kemudian, ia dan Yuna duduk di teras rumah.
“Jhen, Chandra itu Direktur bagian Litbang. Dia pasti sering ke
mana-mana untuk mengurus proyek pengembangan bisnis perusahaan. Kamu ini aneh.
Kalo mau ikut dia kan bisa. Kerjaanmu fleksibel banget. Bisa dikerjain dari
mana aja.”
Jheni menggoyangkan bibirnya seiring dengan ucapan Yuna. “Kalo aku
ikut dia, dia juga sibuk. Nggak bakal ada waktu jalan bareng.”
“Ya udah, dukung aja suami kamu itu! Biar bisa cepet ngelamar
kamu,” sahut Yuna.
“Apa hubungannya sama lamaran?”
“Siapa tahu aja, Chandra lagi nyiapin pernikahan mewah buat kamu.
Pernikahan di kapal pesiar sampai ke Eropa. Yuhu ... keren banget ‘kan?”
“Keren gundulmu!”
“Kamu nggak mau pernikahan mewah, Jhen?”
“Mau. Tapi nggak semewah itu juga. Lebih baik uangnya aku simpan
atau aku investasikan. Lumayan kan buat masa depan anak-anakku.”
“Kamu udah mikir sejauh itu, Jhen?” tanya Yuna. “Udah siap punya
anak?”
“Iih ... apaan sih!?” sahut Jheni dengan wajah merona. Ia bangkit
dari tempat duduk dan berjalan menuju dapur.
“Hei, mau ke mana?” seru Yuna.
“Mau bikin jus! Mau, nggak?” teriak Jheni dari kejauhan.
“Boleh, deh.” Yuna tertawa kecil sambil menopang dagu. Ia merasa
sangat bahagia karena Jheni punya banyak waktu untuk menemaninya melakukan
banyak hal di hari-harinya menjelang persalinan.
...
Di tempat lain ...
Melan masih asyik menghamburkan uang yang ia dapat dari mantan
suami untuk menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia terus berbelanja dan menikmati
kegilaannya bersama Lonan.
“Aargh ...!” teriak Melan histeris begitu ia menatap layar ponsel.
“Uangku sisa segini? Tiga puluh juta, buat apa?” tanya Melan
sambil menggigit jarinya.
“Nggak bisa kayak gini. Kalo begini terus, aku bisa kehabisan
uang. Aku harus gimana?” gumam Melan.
“Kenapa?” tanya Lonan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
“Uang di tabunganku sisa tiga puluh juta. Cuma bisa dipakai
bertahan sepuluh hari. Itupun harus irit,” jawab Melan.
“Kamu punya anak yang kaya. Suaminya dia kaya, papanya juga kaya.
Minta aja uang sama anak kamu! Dia pasti akan mengeluarkan banyak uang untuk
ibunya sendiri,” tutur Lonan menyarankan.
“Hmm ... iya juga, ya?”
Lonan menganggukkan kepala. “Kamu bisa menikmati hidup mewah
selama ini. Sementara, aku sudah mengorbankan semuanya demi kamu. Sekarang,
waktunya kamu menunjukkan kalau kamu beneran sayang sama aku.”
“Maksud kamu?”
Lonan tersenyum sambil mengelus lembut pipi Melan. “Kita sudah
sangat tua. Bisakah kita menghabiskan sisa hidup bersama? Aku cuma mau, kamu
membayar semua pengorbananku selama ini dengan menemaniku setiap hari!”
Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku sudah
melepaskan semuanya. Aku bahkan lebih memilih menjalani sisa hidupku sama kamu
dan bercerai dengan pria itu.”
Lonan tersenyum puas. Ia merasa sangat bahagia karena wanita yang
ia cintai bisa menemaninya menjalani hari-harinya setelah ia keluar dari
penjara.
“Apa kamu yakin kalau Bellina akan ngasih kita uang?” tanya Melan
ragu-ragu.
“Aku yakin. Karena sebagai seorang anak, dia tidak akan pernah
tega melihat ibunya menderita dan sudah seharusnya seorang anak membalas budi
pada seorang ibu yang telah membesarkannya.”
Melan menganggukkan kepala. “Bellina juga anak yang manis dan
penurut. Dia pasti bisa mengeluarkan banyak uang untuk kita.”
Lonan mengangguk sambil tersenyum manis.
“Aku akan temui Bellina sekarang juga,” tutur Melan sambil bangkit
dari sofa.
Lonan mengangguk, ia membiarkan Melan bersiap keluar dari kamar
hotel tersebut agar bisa mendapatkan uang dengan cepat dan mudah.
Melan sangat bersemangat untuk menemui Bellina. Ia yakin, puteri
kesayangannya itu pasti akan memberikan banyak uang untuknya agar ia bisa
segera membeli apartemen, tidak lagi tinggal di hotel seperti saat ini.
((Bersambung ...))
Penderitaan Melan belum berakhir sampai di
sini ...
Dukung terus biar aku makin semangat nulis
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment