Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 543 : Kehabisan Uang

 


“Yun, kamu udah lihat gosip di media soal Tante Melan?” tanya Jheni saat ia menemani Yuna merapikan tanaman bunga di halaman rumah.

 

“Udah, Jhen.”

 

“Menurut kamu gimana?” tanya Jheni.

 

“Huft, nggak tahu. Aku juga bingung. Aku kasihan sama Oom Rudi. Sebenarnya, dia itu baik. Istrinya aja yang kelakuannya kayak iblis. Sekarang, semua orang membicarakan keluarga Linandar. Aku harap, berita ini nggak sampai ke telinga ayahku.”

 

“Berita sebesar ini ... mana mungkin Oom Adjie nggak tahu. Emangnya dia tinggal di hutan yang nggak ada akses televisi dan internet? Yang salah bukan keluarga kamu, Yun. Si Melan yang nggak tahu diri itu,” tutur Jheni.

 

“Iya, sih. Tapi keluarga kami tetep jadi sorotan. Untungnya, Oom Rudi gerak cepat, langsung ceraikan Tante Melan.”

 

“Hah!? Jadi, gosip yang ada di luar sana itu bener? Tante Melan beneran udah resmi cerai?” tanya Jheni.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mampus tuh si Maleficent! Biar dia jadi gelandangan di luar sana. Udah diceraikan sama Oom Rudi, masih sempat-sempatnya pesta foya sama laki-laki itu.”

 

 “Pesta foya gimana?” tanya Yuna sambil menyirami tanaman anggrek yang berjejer rapi di hadapannya.

 

“Kamu belum baca artikel terakhir yang muncul hari ini?” tanya Jheni.

 

“Belum, Jhen. Belum sempat.”

 

“Eyuuh...! Kamu mah kudet banget,” celetuk Jheni.

 

Yuna hanya nyengir mendengar ucapan Jheni.

 

“Lihat!” Jheni menyodorkan ponsel ka wajah Yuna. “Ini video baru aja diambil netizen tadi pagi. Lihat! Dia baru cerai, asyik shopping sama laki-laki lain. Banyak duit nih janda baru.”

 

“Jangan-jangan, itu uang tunjangan dari Oom Rudi? Laki-laki itu kan baru keluar dari penjara, Jhen. Kata suamiku, selama ini dia hidupnya dari duit yang dikasih Tante Melan. Nggak mungkin dia punya duit buat bayarin Tante Melan shopping.”

 

“Hahaha. Jadi, sekarang si Melan lagi diporotin sama laki-laki itu? Biar cepet habis duitnya, terus tidur di jalanan. Mampus!” seru Jheni sambil tertawa lebar.

 

Yuna ikut tertawa. “Aku jadi ngebayangin gimana wajah sombongnya Tante Melan tanpa duit.”

 

“Hahaha. Dia nggak bakal berani jahatin kamu lagi, Yun. Senang banget aku kalau dia jatuh miskin. Aku harus lihat gimana akhir hidup dia.”

 

Yuna tersenyum sambil bangkit dan membasuh tangannya. “Tante Melan itu licik, Jhen. Dia nggak akan menyerah begitu aja. Apalagi, pacarnya dia itu mafia.”

 

“Mafia apa sih? Aku masih nggak paham sama obrolannya Yeriko and The Gank.”

 

Yuna terkekeh. “Nggak tahu juga.”

 

Jheni langsung nyengir ke arah Yuna. “Aku keselnya, mereka kalo ngobrol suka pake kode-kodean gitu. Aku kan nggak paham, Yun.”

 

“Kode apaan?” tanya Yuna.

 

“Kode rahasia. Kamu nggak sadar kalau Yeriko sering main mata ke Chandra kalo lagi ngobrol? Aku sering perhatiin.”

 

Yuna langsung menoleh ke arah Jheni. “Berani-beraninya merhatiin suami orang!?” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

Jheni terkekeh. “Bukan naksir, Yun!” sahutnya sambil menempelkan telapak tangannya ke wajah Yuna.

 

“Brrt ... byuuh! Jheni ...! Tangan kamu kotor!” teriak Yuna kesal.

 

Jheni hanya tertawa menanggapi teriakan Yuna. “Lulur wajah pakai tanah, bagus loh.”

 

“Bagus apanya!?” dengus Yuna. “Aku udah bersih-bersih, malah kamu kotorin lagi!” seru Yuna sambil menyalakan kran air dan membasuh wajahnya. “Ntar jerawatan, Jhen!”

 

“Hahaha. Kalau udah nikah, nggak bisa jerawatan lagi, Yun. Nafsunya udah terlampiaskan. Nggak ada yang ditahan-tahan,” sahut Jheni sambil terkekeh geli.

 

“Nggak ngaruh, Jhen. Jerawat itu bukan cuma karena nafsu doang. Karena kotor dan stres juga bisa.”

 

“Iya, sih. Stres karena nggak ada yang belai,” sahut Jheni sambil terkekeh.

 

“Kamu makin centil aja, Jhen. Jangan-jangan, lagi stres karena udah lama nggak dibelai sama Chandra ya?” goda Yuna.

 

Jheni menggelengkan kepala. “Chandra ke Jakarta dua hari ini. Suami kamu jahat banget!”

 

“Jahat kenapa?”

 

“Chandra dikirim ke luar terus!” sahut Jheni sambil membasuh tangannya. Kemudian, ia dan Yuna duduk di teras rumah.

 

“Jhen, Chandra itu Direktur bagian Litbang. Dia pasti sering ke mana-mana untuk mengurus proyek pengembangan bisnis perusahaan. Kamu ini aneh. Kalo mau ikut dia kan bisa. Kerjaanmu fleksibel banget. Bisa dikerjain dari mana aja.”

 

Jheni menggoyangkan bibirnya seiring dengan ucapan Yuna. “Kalo aku ikut dia, dia juga sibuk. Nggak bakal ada waktu jalan bareng.”

 

“Ya udah, dukung aja suami kamu itu! Biar bisa cepet ngelamar kamu,” sahut Yuna.

 

“Apa hubungannya sama lamaran?”

 

“Siapa tahu aja, Chandra lagi nyiapin pernikahan mewah buat kamu. Pernikahan di kapal pesiar sampai ke Eropa. Yuhu ... keren banget ‘kan?”

 

“Keren gundulmu!”

 

“Kamu nggak mau pernikahan mewah, Jhen?”

 

“Mau. Tapi nggak semewah itu juga. Lebih baik uangnya aku simpan atau aku investasikan. Lumayan kan buat masa depan anak-anakku.”

 

“Kamu udah mikir sejauh itu, Jhen?” tanya Yuna. “Udah siap punya anak?”

 

“Iih ... apaan sih!?” sahut Jheni dengan wajah merona. Ia bangkit dari tempat duduk dan berjalan menuju dapur.

 

“Hei, mau ke mana?” seru Yuna.

 

“Mau bikin jus! Mau, nggak?” teriak Jheni dari kejauhan.

 

“Boleh, deh.” Yuna tertawa kecil sambil menopang dagu. Ia merasa sangat bahagia karena Jheni punya banyak waktu untuk menemaninya melakukan banyak hal di hari-harinya menjelang persalinan.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan masih asyik menghamburkan uang yang ia dapat dari mantan suami untuk menumpahkan seluruh kekesalannya. Ia terus berbelanja dan menikmati kegilaannya bersama Lonan.

 

“Aargh ...!” teriak Melan histeris begitu ia menatap layar ponsel.

 

 “Uangku sisa segini? Tiga puluh juta, buat apa?” tanya Melan sambil menggigit jarinya.

 

“Nggak bisa kayak gini. Kalo begini terus, aku bisa kehabisan uang. Aku harus gimana?” gumam Melan.

 

“Kenapa?” tanya Lonan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Uang di tabunganku sisa tiga puluh juta. Cuma bisa dipakai bertahan sepuluh hari. Itupun harus irit,” jawab Melan.

 

“Kamu punya anak yang kaya. Suaminya dia kaya, papanya juga kaya. Minta aja uang sama anak kamu! Dia pasti akan mengeluarkan banyak uang untuk ibunya sendiri,” tutur Lonan menyarankan.

 

“Hmm ... iya juga, ya?”

 

Lonan menganggukkan kepala. “Kamu bisa menikmati hidup mewah selama ini. Sementara, aku sudah mengorbankan semuanya demi kamu. Sekarang, waktunya kamu menunjukkan kalau kamu beneran sayang sama aku.”

 

“Maksud kamu?”

 

Lonan tersenyum sambil mengelus lembut pipi Melan. “Kita sudah sangat tua. Bisakah kita menghabiskan sisa hidup bersama? Aku cuma mau, kamu membayar semua pengorbananku selama ini dengan menemaniku setiap hari!”

 

Melan menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu khawatir! Aku sudah melepaskan semuanya. Aku bahkan lebih memilih menjalani sisa hidupku sama kamu dan bercerai dengan pria itu.”

 

Lonan tersenyum puas. Ia merasa sangat bahagia karena wanita yang ia cintai bisa menemaninya menjalani hari-harinya setelah ia keluar dari penjara.

 

“Apa kamu yakin kalau Bellina akan ngasih kita uang?” tanya Melan ragu-ragu.

 

“Aku yakin. Karena sebagai seorang anak, dia tidak akan pernah tega melihat ibunya menderita dan sudah seharusnya seorang anak membalas budi pada seorang ibu yang telah membesarkannya.”

 

Melan menganggukkan kepala. “Bellina juga anak yang manis dan penurut. Dia pasti bisa mengeluarkan banyak uang untuk kita.”

 

Lonan mengangguk sambil tersenyum manis.

 

“Aku akan temui Bellina sekarang juga,” tutur Melan sambil bangkit dari sofa.

 

Lonan mengangguk, ia membiarkan Melan bersiap keluar dari kamar hotel tersebut agar bisa mendapatkan uang dengan cepat dan mudah.

 

Melan sangat bersemangat untuk menemui Bellina. Ia yakin, puteri kesayangannya itu pasti akan memberikan banyak uang untuknya agar ia bisa segera membeli apartemen, tidak lagi tinggal di hotel seperti saat ini.

 

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas