Monday, June 8, 2026

Perfect Hero Bab 541 : Berita Memalukan

 



Keesokan harinya ...

 

Tarudi menatap layar ponsel saat asistennya mengirim banyak tautan berita kepadanya.

 

“Perempuan nggak tahu diri!” umpat Tarudi sambil menggenggam kuat ponselnya sendiri. Ia sangat kesal dengan tingkah Melan yang semakin menjadi-jadi.

 

Semua media online dan media cetak memuat kabar berita tentang hubungan Melan dan Lonan. Terpampang jelas gambar vulgar Melan dan Lonan di sana. Membuat semua orang sibuk membicarakan perselingkuhan keluarga yang terjadi sejak dua puluh lima tahun silam.

 

Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia terduduk lemas di sofa sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Permisi, Pak ...!” Seorang pelayan menghampiri Tarudi sembari membawakan secangkir kopi panas. “Minumnya, Pak!”

 

“Taruh aja, Mbak!” perintah Tarudi sambil menunjuk meja yang ada di depannya.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia segera meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan bergegas pergi.

 

“Mbak ...!” panggil Tarudi sebelum pelayan itu benar-benar pergi jauh.

 

“Iya, Pak.”

 

“Bantu saya mengemas barang-barang istri saya di kamar!” perintah Tarudi.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia segera mengikuti Tarudi untuk membantu mengemas semua pakaian Melan.

 

Tarudi tak ingin berkompromi lagi. Ia tidak akan membiarkan Melan masuk kembali ke dalam rumah itu setelah melakukan banyak hal memalukan di luar sana.

 

Tarudi mengeluarkan semua pakaian Melan dari dalam lemari dan menyuruh pelayan di rumahnya untuk membereskan semuanya. Ia yakin, Melan akan kembali untuk mengambil barang-barang berharga miliknya sebelum benar-benar pergi bersama pria selingkuhannya.

 

 

 

...

 

 

 

Bellina menatap layar ponsel dengan tangan bergetar.

 

“Mama ...!?” serunya dalam hati. Ia sangat membenci kelakuan mamanya sendiri. Terlebih, semua media sudah memuat foto-foto Melan dan selingkuhannya itu.

 

Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia bangkit dari meja kerja dan melangkah ke arah jendela.

 

“Kenapa keluargaku jadi kacau gini?” gumamnya sambil menitikkan air mata.

 

Kelakuan mamanya, bukan hanya mencemarkan nama baik keluarganya, tapi juga keluarga Wijaya. Ia mulai khawatir jika kasus yang terjadi akan berpengaruh besar terhadap kredibilitas perusahaan.

 

Nasib Bellina, kini berada di ujung tanduk. Mama mertuanya akan semakin mendesak Lian untuk menceraikan dirinya.

 

“Ma, kenapa mama harus seperti ini?” tanya Bellina sambil menatap langit yang luas. Ia tetap tidak bisa menerima penderitaannya begitu saja sementara Yuna selalu hidup dengan baik dan bahagia.

 

Bellina tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa menyelamatkan posisi mamanya, terlebih posisinya sendiri saat ini sangat terancam.

 

“Papa? Gimana dengan dia sekarang?” batin Bellina saat ia teringat wajah papanya. Ia langsung membereskan meja kerja, menyambar tas tangan dan buru-buru keluar dari perusahaan.

 

“Semoga, papa nggak semakin terpukul dengan adanya berita ini,” tutur Bellina. Ia berpikir kalau Yuna sudah membocorkan semua masalah keluarganya hingga diketahui oleh banyak wartawan di luar sana, membuatnya semakin benci terhadap Yuna. Ia juga benci dengan kehadiran Lonan yang tiba-tiba dan merusak keluarganya dalam waktu sekejap.

 

 

 

 

 

...

 

 

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan melangkahkan kakinya beriringan dengan Lonan sambil melihat-lihat rumah yang cocok untuk mereka beli dan tinggali.

 

“Sayang, yang ini bagus juga,” tutur Lonan sambil menunjuk salah satu rumah yang ada di sana.

 

 “Berapa harganya yang ini, Pak?” tanya Melan.

 

“Kalau yang ini sembilan ratus juta. Lebih murah dari yang tadi ibu lihat karena ukurannya juga berbeda.” jawab pria yang mendampingi mereka.

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala. “Kita lihat-lihat yang lain dulu ya, Pak!”

 

Pria itu menganggukkan kepala.

 

Lonan dan Melan kembali melihat-lihat rumah yang lain.

 

“Mas, aku nggak punya banyak uang akhir-akhir ini. Kita cari rumah yang murah-murah saja. Kita juga harus menyisakan uang untuk bertahan hidup ke depannya.”

 

Lonan mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau kamu bercerai dengan Rudi, kamu akan mendapatkan banyak uang dari dia. Bisa kita gunakan untuk membeli rumah dan bersenang-senang.”

 

“Mmh ...” Melan berpikir sejenak. Kemudian, ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga.”

 

Lonan tersenyum sambil menatap wajah Melan. “Suami kamu itu banyak duitnya. Anak kamu juga seorang direktur di perusahaan suaminya. Kita nggak akan kekurangan uang.”

 

Melan mengangguk-anggukkan kepala. Ia tersenyum sambil melangkahkan kakinya.

 

Melan mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang ia temui dan menatapnya dengan raut wajah yang aneh. Orang-orang itu menunjuk-nunjuk ke arahnya dan membuat Melan penasaran.

 

“Ada apa, Mbak?” tanya Melan sambil menghampiri salah seorang wanita yang juga menunjuk ke arahnya dan membandingkan dengan layar ponsel.

 

“Ibu ... yang ada di foto ini ya?” tanya wanita itu sambil menyodorkan layar ponsel dan memperlihatkan foto vulgar Melan dengan berbagai pose. Di sisinya juga terlihat jelas wajah Lonan. Headline dari media online tersebut tergambar jelas dan membuat jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat.

 

“Kurang ajar ...! Siapa yang sudah berani mengambil dan menyebarkan foto ini? Wartawan sialan!” maki Melan dalam hati. Ia bergegas melangkah pergi dari tempat itu.

 

“Mel ...! Mau ke mana?” tanya Lonan saat melihat Melan tiba-tiba pergi dari tempat tersebut.

 

“Aku ada urusan penting!” sahut Melan tanpa menoleh ke arah Lonan. Ia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya pada Lonan. Ia hanya terpikir dengan wajah Tarudi. Ia bergegas menghentikan taksi yang kebetulan melintas dan menuju ke rumah suaminya.

 

Melan menarik napas panjang begitu ia sampai di halaman rumahnya. Ia bergegas turun dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Ia berharap kalau Tarudi tidak membaca berita yang tersebar hari ini dan bisa mengendalikan suaminya dengan baik.

 

Di ruang tamu, Tarudi duduk santai sambil menunggu kedatangan Melan. Begitu pintu rumah itu terbuka, ia langsung menatap Melan dengan tatapan dingin. Membuat Melan hampir tidak punya nyali untuk masuk ke dalam rumah itu lagi.

 

Selama beberapa menit, Melan hanya terpaku di tempatnya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, banyak hal yang terjadi dan membuat Tarudi semakin membencinya.

 

“Masuk!” perintah tarudi sambil bangkit dari sofa.

 

Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut.

 

Tarudi membalas senyuman Melan meski hatinya begitu tersayat melihat kelakuan istrinya itu. Saat Melan sudah berdiri berhadapan dengannya, ia langsung menyodorkan pena ke hadapan Melan.

 

“Apa ini?” tanya Melan sambil menatap pena yang ada di tangan Tarudi.

 

Tarudi langsung menunjuk dokumen perceraian yang sudah ia siapkan di atas meja.

 

Melan terdiam saat melihat dokumen perceraian yang sudah ada di atas meja. Ia tak menyangka kalau Tarudi akan menceraikan dirinya secepat ini.

 

“Tanda tangani dokumen itu dan kamu bisa pergi menjalani kehidupan barumu dengan tenang!” perintah Tarudi.

 

“Pa, apa nggak bisa papa pikirin lagi?” tanya Melan.

 

“Aku sudah memikirkan semuanya.”

 

“Tapi ... kita sudah tua. Untuk apa kita bercerai, Pa?” tanya Melan. “Tolong, jangan ceraikan mama!”

 

Tarudi tersenyum sinis. “Kamu masih tanya, untuk apa kita bercerai? Kamu sadar kalau kita sudah tua ... kenapa kamu masih selingkuh sama laki-laki lain?”

 

“Aku nggak selingkuh. Aku sudah menjalin hubungan lebih dulu sama Lonan daripada sama kamu,” sahut Melan.

 

“Oh ... jadi, suami kamu ini yang jadi selingkuhan kamu, hah!?”

 

Melan terdiam. Ia rasa, alasannya kali ini semakin tidak masuk akal. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar bisa mempertahankan hubungannya dengan Tarudi. Ia tidak ingin kehilangan semuanya begitu saja.

 

Tarudi tertawa melihat wajah Melan. “Bodoh banget aku. Aku cuma jadi selingkuhan kamu selama bertahun-tahun ini. Kamu bahkan bisa menyembunyikan semuanya begitu sempurna. Kalau aku nggak punya uang, apa kamu mau hidup selama bertahun-tahun sama aku?”

 

Melan menggelengkan kepala. Ia berusaha untuk menarik simpati Tarudi kembali. “Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa nggak ada rasa sayang sedikit pun ke aku? Aku yang yang selalu melayani kamu setiap hari. Walau awalnya nggak cinta, tapi aku selalu bahagia menjadi istri kamu.”

 

“Aku juga cukup bahagia menjadi suami kamu. Aku melakukan banyak hal untuk kamu karena aku mengira kalau kamu sayang sama aku. Setelah aku tahu semuanya, aku nggak akan pernah melakukan apa pun untuk kamu lagi. Aku cuma mau, kamu segera pergi dari kehidupan kami!” tegas Tarudi.

 

Melan kebingungan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk bisa mempertahankan rumah tangganya. Ia tidak ingin hidup miskin di luar sana. Ia sangat khawatir akan kehilangan semuanya begitu saja.

 

“Pa, mama mohon ... jangan ceraikan mama!” pinta Melan. “Mama janji akan berubah. Mama nggak akan menemui pria itu lagi untuk selamanya.”

 

“Sekalipun kamu berjanji akan berubah, tidak akan mengubah keputusanku!” tegas Tarudi.

 

Melan menatap wajah Tarudi dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung menjatuhkan lututnya ke lantai sambil menatap pilu. “Pa, mama mohon ...! Jangan lakukan ini ke mama! Mama tidak ingin kita berpisah. Papa pikirin lagi, Pa! Demi Bellina ... jangan sampai kita berpisah!” pintanya sambil meratap pilu.

 

Tarudi tidak ingin menjadikan Bellina sebagai alasan untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur. Terlebih, kelakuan Melan benar-benar mengotori nama keluarga besarnya.

 

((Bersambung ...))

 

Penderitaan Melan belum berakhir sampai di sini ...

Dukung terus biar aku makin semangat nulis cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas