Keesokan harinya ...
Tarudi menatap layar ponsel saat asistennya mengirim banyak tautan
berita kepadanya.
“Perempuan nggak tahu diri!” umpat Tarudi sambil menggenggam kuat
ponselnya sendiri. Ia sangat kesal dengan tingkah Melan yang semakin
menjadi-jadi.
Semua media online dan media cetak memuat kabar berita tentang
hubungan Melan dan Lonan. Terpampang jelas gambar vulgar Melan dan Lonan di
sana. Membuat semua orang sibuk membicarakan perselingkuhan keluarga yang
terjadi sejak dua puluh lima tahun silam.
Tarudi menarik napas dalam-dalam. Ia terduduk lemas di sofa sambil
memijat keningnya yang berdenyut.
“Permisi, Pak ...!” Seorang pelayan menghampiri Tarudi sembari
membawakan secangkir kopi panas. “Minumnya, Pak!”
“Taruh aja, Mbak!” perintah Tarudi sambil menunjuk meja yang ada
di depannya.
Pelayan itu mengangguk. Ia segera meletakkan cangkir kopi ke atas
meja dan bergegas pergi.
“Mbak ...!” panggil Tarudi sebelum pelayan itu benar-benar pergi
jauh.
“Iya, Pak.”
“Bantu saya mengemas barang-barang istri saya di kamar!” perintah
Tarudi.
Pelayan itu mengangguk. Ia segera mengikuti Tarudi untuk membantu
mengemas semua pakaian Melan.
Tarudi tak ingin berkompromi lagi. Ia tidak akan membiarkan Melan
masuk kembali ke dalam rumah itu setelah melakukan banyak hal memalukan di luar
sana.
Tarudi mengeluarkan semua pakaian Melan dari dalam lemari dan
menyuruh pelayan di rumahnya untuk membereskan semuanya. Ia yakin, Melan akan
kembali untuk mengambil barang-barang berharga miliknya sebelum benar-benar
pergi bersama pria selingkuhannya.
...
Bellina menatap layar ponsel dengan tangan bergetar.
“Mama ...!?” serunya dalam hati. Ia sangat membenci kelakuan
mamanya sendiri. Terlebih, semua media sudah memuat foto-foto Melan dan
selingkuhannya itu.
Bellina menarik napas dalam-dalam. Ia bangkit dari meja kerja dan
melangkah ke arah jendela.
“Kenapa keluargaku jadi kacau gini?” gumamnya sambil menitikkan
air mata.
Kelakuan mamanya, bukan hanya mencemarkan nama baik keluarganya,
tapi juga keluarga Wijaya. Ia mulai khawatir jika kasus yang terjadi akan
berpengaruh besar terhadap kredibilitas perusahaan.
Nasib Bellina, kini berada di ujung tanduk. Mama mertuanya akan
semakin mendesak Lian untuk menceraikan dirinya.
“Ma, kenapa mama harus seperti ini?” tanya Bellina sambil menatap
langit yang luas. Ia tetap tidak bisa menerima penderitaannya begitu saja
sementara Yuna selalu hidup dengan baik dan bahagia.
Bellina tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa
menyelamatkan posisi mamanya, terlebih posisinya sendiri saat ini sangat
terancam.
“Papa? Gimana dengan dia sekarang?” batin Bellina saat ia teringat
wajah papanya. Ia langsung membereskan meja kerja, menyambar tas tangan dan
buru-buru keluar dari perusahaan.
“Semoga, papa nggak semakin terpukul dengan adanya berita ini,”
tutur Bellina. Ia berpikir kalau Yuna sudah membocorkan semua masalah
keluarganya hingga diketahui oleh banyak wartawan di luar sana, membuatnya
semakin benci terhadap Yuna. Ia juga benci dengan kehadiran Lonan yang
tiba-tiba dan merusak keluarganya dalam waktu sekejap.
...
Di tempat lain ...
Melan melangkahkan kakinya beriringan dengan Lonan sambil
melihat-lihat rumah yang cocok untuk mereka beli dan tinggali.
“Sayang, yang ini bagus juga,” tutur Lonan sambil menunjuk salah
satu rumah yang ada di sana.
“Berapa harganya yang ini, Pak?” tanya Melan.
“Kalau yang ini sembilan ratus juta. Lebih murah dari yang tadi
ibu lihat karena ukurannya juga berbeda.” jawab pria yang mendampingi mereka.
Melan mengangguk-anggukkan kepala. “Kita lihat-lihat yang lain
dulu ya, Pak!”
Pria itu menganggukkan kepala.
Lonan dan Melan kembali melihat-lihat rumah yang lain.
“Mas, aku nggak punya banyak uang akhir-akhir ini. Kita cari rumah
yang murah-murah saja. Kita juga harus menyisakan uang untuk bertahan hidup ke
depannya.”
Lonan mengangguk-anggukkan kepala. “Kalau kamu bercerai dengan
Rudi, kamu akan mendapatkan banyak uang dari dia. Bisa kita gunakan untuk
membeli rumah dan bersenang-senang.”
“Mmh ...” Melan berpikir sejenak. Kemudian, ia tersenyum sambil
mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga.”
Lonan tersenyum sambil menatap wajah Melan. “Suami kamu itu banyak
duitnya. Anak kamu juga seorang direktur di perusahaan suaminya. Kita nggak
akan kekurangan uang.”
Melan mengangguk-anggukkan kepala. Ia tersenyum sambil
melangkahkan kakinya.
Melan mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang ia temui dan
menatapnya dengan raut wajah yang aneh. Orang-orang itu menunjuk-nunjuk ke
arahnya dan membuat Melan penasaran.
“Ada apa, Mbak?” tanya Melan sambil menghampiri salah seorang
wanita yang juga menunjuk ke arahnya dan membandingkan dengan layar ponsel.
“Ibu ... yang ada di foto ini ya?” tanya wanita itu sambil
menyodorkan layar ponsel dan memperlihatkan foto vulgar Melan dengan berbagai
pose. Di sisinya juga terlihat jelas wajah Lonan. Headline dari media online
tersebut tergambar jelas dan membuat jantungnya berhenti berdetak selama
beberapa saat.
“Kurang ajar ...! Siapa yang sudah berani mengambil dan
menyebarkan foto ini? Wartawan sialan!” maki Melan dalam hati. Ia bergegas
melangkah pergi dari tempat itu.
“Mel ...! Mau ke mana?” tanya Lonan saat melihat Melan tiba-tiba
pergi dari tempat tersebut.
“Aku ada urusan penting!” sahut Melan tanpa menoleh ke arah Lonan.
Ia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya pada Lonan. Ia hanya
terpikir dengan wajah Tarudi. Ia bergegas menghentikan taksi yang kebetulan
melintas dan menuju ke rumah suaminya.
Melan menarik napas panjang begitu ia sampai di halaman rumahnya.
Ia bergegas turun dari taksi dan masuk ke dalam rumah. Ia berharap kalau Tarudi
tidak membaca berita yang tersebar hari ini dan bisa mengendalikan suaminya
dengan baik.
Di ruang tamu, Tarudi duduk santai sambil menunggu kedatangan
Melan. Begitu pintu rumah itu terbuka, ia langsung menatap Melan dengan tatapan
dingin. Membuat Melan hampir tidak punya nyali untuk masuk ke dalam rumah itu
lagi.
Selama beberapa menit, Melan hanya terpaku di tempatnya. Ia tidak
tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, banyak hal yang terjadi dan membuat
Tarudi semakin membencinya.
“Masuk!” perintah tarudi sambil bangkit dari sofa.
Melan tersenyum sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah
tersebut.
Tarudi membalas senyuman Melan meski hatinya begitu tersayat
melihat kelakuan istrinya itu. Saat Melan sudah berdiri berhadapan dengannya,
ia langsung menyodorkan pena ke hadapan Melan.
“Apa ini?” tanya Melan sambil menatap pena yang ada di tangan
Tarudi.
Tarudi langsung menunjuk dokumen perceraian yang sudah ia siapkan
di atas meja.
Melan terdiam saat melihat dokumen perceraian yang sudah ada di
atas meja. Ia tak menyangka kalau Tarudi akan menceraikan dirinya secepat ini.
“Tanda tangani dokumen itu dan kamu bisa pergi menjalani kehidupan
barumu dengan tenang!” perintah Tarudi.
“Pa, apa nggak bisa papa pikirin lagi?” tanya Melan.
“Aku sudah memikirkan semuanya.”
“Tapi ... kita sudah tua. Untuk apa kita bercerai, Pa?” tanya
Melan. “Tolong, jangan ceraikan mama!”
Tarudi tersenyum sinis. “Kamu masih tanya, untuk apa kita
bercerai? Kamu sadar kalau kita sudah tua ... kenapa kamu masih selingkuh sama
laki-laki lain?”
“Aku nggak selingkuh. Aku sudah menjalin hubungan lebih dulu sama
Lonan daripada sama kamu,” sahut Melan.
“Oh ... jadi, suami kamu ini yang jadi selingkuhan kamu, hah!?”
Melan terdiam. Ia rasa, alasannya kali ini semakin tidak masuk
akal. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi agar bisa mempertahankan hubungannya
dengan Tarudi. Ia tidak ingin kehilangan semuanya begitu saja.
Tarudi tertawa melihat wajah Melan. “Bodoh banget aku. Aku cuma
jadi selingkuhan kamu selama bertahun-tahun ini. Kamu bahkan bisa
menyembunyikan semuanya begitu sempurna. Kalau aku nggak punya uang, apa kamu
mau hidup selama bertahun-tahun sama aku?”
Melan menggelengkan kepala. Ia berusaha untuk menarik simpati
Tarudi kembali. “Pa, kita sudah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Apa
nggak ada rasa sayang sedikit pun ke aku? Aku yang yang selalu melayani kamu
setiap hari. Walau awalnya nggak cinta, tapi aku selalu bahagia menjadi istri
kamu.”
“Aku juga cukup bahagia menjadi suami kamu. Aku melakukan banyak
hal untuk kamu karena aku mengira kalau kamu sayang sama aku. Setelah aku tahu
semuanya, aku nggak akan pernah melakukan apa pun untuk kamu lagi. Aku cuma
mau, kamu segera pergi dari kehidupan kami!” tegas Tarudi.
Melan kebingungan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan
untuk bisa mempertahankan rumah tangganya. Ia tidak ingin hidup miskin di luar
sana. Ia sangat khawatir akan kehilangan semuanya begitu saja.
“Pa, mama mohon ... jangan ceraikan mama!” pinta Melan. “Mama
janji akan berubah. Mama nggak akan menemui pria itu lagi untuk selamanya.”
“Sekalipun kamu berjanji akan berubah, tidak akan mengubah
keputusanku!” tegas Tarudi.
Melan menatap wajah Tarudi dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung
menjatuhkan lututnya ke lantai sambil menatap pilu. “Pa, mama mohon ...! Jangan
lakukan ini ke mama! Mama tidak ingin kita berpisah. Papa pikirin lagi, Pa!
Demi Bellina ... jangan sampai kita berpisah!” pintanya sambil meratap pilu.
Tarudi tidak ingin menjadikan Bellina sebagai alasan untuk
mempertahankan rumah tangga yang sudah hancur. Terlebih, kelakuan Melan
benar-benar mengotori nama keluarga besarnya.
((Bersambung ...))
Penderitaan Melan belum berakhir sampai di
sini ...
Dukung terus biar aku makin semangat nulis
cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi
.png)
0 komentar:
Post a Comment