Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 395 : Gagal Terbunuh

 


“Sayang, aku hamil ...!” seru Nada sambil menunjukkan alat tes kehamilan ke arah Surya yang baru saja keluar dari kamar mandi.

 

“Hah!? Serius?”

 

Nada menganggukkan kepala.

 

“Aargh ...! Akhirnya, aku bakal jadi ayah!” seru Surya sambil mengangkat tubuh Nada tinggi-tinggi.

 

Nada ikut tertawa bahagia. “Aku juga bakal jadi ibu!” serunya.

 

Tiga bulan setelah pernikahan Surya dan Nada, akhirnya mereka mendapatkan kabar bahagia. Janin yang kini bersarang di perut Nada, menjadi pelengkap kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka.

 

“Kita kasih tahu Mama. Mama pasti bahagia karena sebentar lagi bakal punya cucu,” ucap Surya. Ia mengecup bibir Nada, kemudian bergegas memakai baju.

 

Nada tersenyum bahagia sambil menatap suaminya yang mengenakan pakaian sambil bersenandung riang. Ia mengelus perutnya sendiri. “Nak, lihat! Papa kamu bahagia banget. Kamu juga harus bahagia jadi anak Mama,” ucapnya pada janin yang ada di dalam perut.

 

Surya tertawa bahagia. Ia langsung mengajak Nada turun dari kamar, menghampiri mamanya yang sudah menunggu di meja makan untuk makan malam.

 

“Ma, aku punya berita besar!” tutur Lutfi sambil berdiri di sebelah mamanya.

 

“Oh ya? Apa?” tanya Lela.

 

“Coba tebak!” pinta Surya.

 

Lela memerhatikan wajah Surya yang terlihat sangat sumringah. “Apa? Film baru kamu masuk rating teratas?”

 

Surya menggelengkan kepala.

 

“Penjualan album tembus lima juta copy?”

 

Surya menggeleng lagi.

 

“Artis kamu go internasional?”

 

Surya menggeleng. “Tebak lagi!” pinta Surya.

 

Lela menghela napas. “Mama sudah tua. Nggak pandai main tebak-tebakkan.”

 

“Ini nggak ada hubungannya sama kerjaan,” tutur Surya sambil melirik Nada yang berdiri di sampingnya.

 

“Maksudnya? Ini tentang ... kalian berdua?”

 

Surya menganggukkan kepala. “Ayolah ... tebak dulu!” pintanya.

 

“Mau liburan ke luar negeri?”

 

Surya menggelengkan kepala. Ia menghela napas kecewa karena mamanya tak bisa menebak kebahagiaan yang saat ini ia rasakan.

 

Lela terus menatap wajah Surya sambil menaikkan kedua alisnya.

 

“Ma, sekarang Mama udah jadi nenek.”

 

“Hah!? Maksudnya?” Lela menatap tubuh Nada. “Kamu hamil?” tanyanya kemudian.

 

Nada mengangguk sambil tersenyum.

 

“Wah ...! Mama beneran bakal punya cucu?” seru Lela. Ia bangkit dan langsung memeluk tubuh Nada. “Pokoknya, kalian harus jaga cucu Mama dengan baik! Mulai sekarang, Nada nggak usah pergi kerja, di rumah aja!” pintanya.

 

“Tapi, Ma. Aku masih harus rekaman satu lagu lagi. Aku nggak mau melanggar kontrak,” tutur Nada.

 

Lela menghela napas. “Suami kamu yang punya perusahaan. Biar dia yang urus.”

 

“Ma, nggak bisa gitu juga. Aku harus bertanggung jawab sama tim. Setidaknya, Nada harus menyelesaikan rekamannya terlebih dahulu. Lagipula, nyanyi bukan pekerjaan yang berat.”

 

Lela mengangguk-anggukkan kepala. “Oke. Asalkan semua baik-baik aja dan kalian bisa menjamin kalau cucu Mama nggak akan kenapa-kenapa.”

 

Surya dan Nada menganggukkan kepala. Mereka tersenyum bahagia.

 

“Ayo, makan dulu!” perintah Lela.

 

Surya mengangguk, ia dan Nada ikut duduk di meja makan untuk menikmati makan malam bersama.

 

Di dapur yang tak jauh dari ruang makan, Ratna bisa mendengar dengan jelas pembicaraan tiga orang majikannya. Ia sangat kesal karena Nada telah membuat dirinya tak bisa memiliki Surya. Padahal, selama ini Surya selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Sejak Nada masuk ke rumah ini, semua perhatian Surya tertuju kepada istrinya. Ia tak lagi mendapatkan perhatian dari majikannya itu.

 

Ratna tak bisa menerima kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan. Ia terus berusaha merusak rumah tangga Surya.

 

Hari terus berganti, kandungan Nada semakin membesar. Kebahagiaan Surya dan istrinya semakin terlihat jelas dan membuat Ratna semakin kesal.

 

Sampai di suatu titik, ia memiliki pemikiran untuk membuat Nada keguguran agar Nyonya Besar pemilik rumah ini menyangka kalau Nada tidak melindungi cucunya dengan baik.

 

“Ratna, Bibi mana ya?” tanya Nada saat ia bersantai di teras rumahnya.

 

“Ada di dapur.”

 

“Tolong suruh dia, buatkan saya jus mangga ya!” perintah Nada.

 

Ratna menganggukkan kepala. Ia segera ke dapur dan menggunakan kesempatan ini untuk memberikan obat di minuman Nanda. Usai membuatkan jus, ia langsung menyuguhkan jus tersebut ke hadapan Nada yang sedang bersantai.

 

“Permisi, Mbak ...! Ini jus buatan Bibi,” tutur Ratna sambil tersenyum penuh arti.

 

“Makasih, ya ...!” tutur Nada.

 

Ratna mengangguk. Ia segera pergi dengan senyum kebencian terhadap Nada.

 

Nada langsung meraih gelas jus yang ada di atas meja. Ia menyeruput perlahan. Baru dua tegukkan, ia langsung berhenti saat melihat mobil suaminya masuk ke pekarangan rumahnya.

 

“Tumben pulang cepet?” gumam Nada sambil bangkit dari tempat duduk dan berjalan perlahan menghampiri suaminya.

 

Surya langsung tersenyum bahagia saat melihat Nada berjalan ke arahnya. Perut Nada yang sudah membesar, membuatnya semakin bahagia. Ia tak sabar menantikan kelahiran anaknya.

 

“Aw ...!” Nada tiba-tiba menghentikan langkah sambil memegangi perutnya.

 

“Kenapa?” tanya Surya sambil menghampiri Nada. Wajahnya langsung panik saat melihat darah yang menetes di kaki Nada.

 

“Nggak tahu. Tiba-tiba sakit banget!” rintih Nada.

 

“Kita ke rumah sakit sekarang!” Surya langsung membawa Nada masuk ke dalam mobil dan membawa istrinya ke rumah sakit.

 

Sepanjang perjalanan, Nada terus mengerang kesakitan. Hal ini, membuat Surya semakin panik.

 

“Yang kuat ya, Sayang!” pintanya. “Pasti baik-baik aja!”

 

Nada menganggukkan kepala sambil meremas safety belt yang melingkar di dadanya.

 

Sesampainya di rumah sakit. Nada langsung masuk ke ruang IGD dan harus mendapatkan pertolongan selama beberapa menit.

 

Surya langsung menghampiri dokter yang keluar dari ruang IGD. “Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Surya.

 

“Istri dan bayi Anda baik-baik saja. Untungnya, Anda cepat membawanya ke sini.”

 

“Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kandungan istri saya, Dokter?” tanya Surya.

 

“Dari sampel darah yang kami ambil, di tubuh pasien terdapat enzim bromelain,” jawab dokter tersebut.

 

“Enzim apa itu, Dok? Dan asalnya dari mana?”

 

“Bromelain dapat memecah protein dalam tubuh. Ini sangat berbahaya bagi ibu hamil karena bisa menyebabkan perdarahan dan keguguran. Biasanya, terkandung juga dalam buah-buahan tertentu. Tapi, untuk dosis rendah ... enzim ini tidak berbahaya.”

 

“Maksud dokter?”

 

“Kandungan bromelain dalam tubuh pasien cukup tinggi. Membuat janin mengalami kontraksi. Sebaiknya, Anda menjaga asupan makanan dan minuman istri Anda selama masa kehamilan!” pinta dokter tersebut.

 

Surya terus berpikir. Ia rasa, istrinya tidak akan seceroboh itu dalam mengonsumsi makanan selama kehamilannya. “Dokter, apa saya boleh masuk?”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

 

Surya langsung menerobos masuk ke dalam ruang IGD. Ia menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah di atas brankar.

 

“Sayang, kamu nggak papa?” tanya Surya.

 

Nada mengangguk kecil sambil tersenyum. “Bayi kita ... nggak papa ‘kan?” tanyanya lirih.

 

“Nggak papa. Anak kita baik-baik aja. Kamu abis makan apa tadi?” tanya Surya.

 

Nada menggelengkan kepala. “Aku makan makanan seperti biasa. Udah agak lama makannya. Apa ada masalah dengan makananku?”

 

Surya menganggukkan kepala. “Dokter bilang, ada zat yang bikin kandungan kamu bisa keguguran.”

 

“Hah!?” Nada membelalakkan matanya. “Aku nggak minum obat lain selain vitamin dari dokter.”

 

“Coba diingat-ingat lagi! Kamu habis makan apa?”

 

“Aku cuma minum jus yang dibawain Ratna dan ...” Nada langsung menoleh ke arah Surya. “Apa dia ngasih obat di minuman itu?”

 

Surya melirik arloji di tangannya. Ia merogoh ponsel dan langsung menelepon supir yang bekerja di rumahnya.

 

“Halo ...!”

 

“Halo, Agus! Kamu di rumah?”

 

“Iya, Mas. Lagi mau nyuci mobilnya ibu.”

 

“Apa di teras rumah, masih ada jus?”

 

Hening.

 

“Gus ...!”

 

“Ada, Mas. Masih di atas meja. Jus mangga punya Mbak Nada?” tanya Agus.

 

“Iya. Saya minta tolong sama kamu. Ambil jus itu! Jangan sampai ada yang tahu. Saya di rumah sakit sekarang, kamu bawa ke sini!” perintah Surya.

 

“Baik, Mas!”

 

Surya langsung mematikan panggilan teleponnya. “Aku udah suruh agus bawa jus itu ke sini. Aku akan minta tolong pihak rumah sakit untuk mengecek jus itu. Kalau sampai benar ada obat dalam jus itu. Aku bener-bener nggak akan ngelepasin Ratna!”

 

Nada menatap wajah Surya tanpa bisa berkata-kata. “Selama ini, dia bekerja dengan sangat rajin dan baik. Kenapa dia malah jahat sama aku dan anak kita?”

 

Surya tersenyum sambil mengelus rambut Nada. “Kamu nggak usah khawatir. Aku pasti selesaikan ini. Salahku yang terlalu mengasihani dia. Sampai dia berani melakukan hal ini.”

 

Nada menatap wajah Surya dengan mata berkaca-kaca. “Andai kamu nggak pulang cepet, mungkin anak kita nggak akan selamat.”

 

Surya memeluk kepala Nada sambil mengecupnya penuh cinta. “Kamu tenang aja! Aku pasti melindungi kamu dan anak kita sekuat tenaga. Nggak ada yang boleh mencelakai kalian!”

 

Nada menganggukkan kepalanya. Ia harap, Ratna tak lagi mengganggu kehidupan rumah tangganya. Nada dan suaminya selalu berbesar hati memaafkan. Tapi kali ini, perbuatan Ratna sangat keterlaluan karena ingin membunuh anak yang ada di dalam kandungannya. Jika terbukti benar, ia tidak akan melepaskan Ratna begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

 

Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat nulis dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

Review Buku "Buku Pintar Hak dan Warisan Budaya"

 


Review Buku

"Buku Pintar Hak dan Warisan Budaya"

Karya : Iswi Hariyani, Cita Yustisia Serfiyani, F. Serfianto D.P.
Gadjah Mada University Press

Buku ini saya pegang dengan perasaan yang agak campur aduk. Di satu sisi, judulnya Buku Pintar Hak dan Warisan Budaya terdengar sangat akademik, bahkan sedikit kaku. Namun begitu halaman demi halaman dibuka, kesan itu perlahan luruh. Buku ini ternyata tidak sekadar berbicara soal hukum dalam bahasa yang dingin, melainkan mengajak pembaca memahami budaya sebagai sesuatu yang hidup, bernapas, dan—yang sering dilupakan—memiliki hak.

Selama ini, warisan budaya kerap diperlakukan seperti milik bersama yang bisa diambil, ditiru, atau dikomersialkan tanpa pertimbangan etis yang cukup. Kita bangga pada tarian daerah, kain tradisional, cerita rakyat, dan pengetahuan lokal, tetapi jarang bertanya: siapa yang seharusnya dilindungi ketika budaya itu digunakan? Di sinilah buku ini berdiri dengan cukup tegas. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap ekspresi budaya, ada komunitas, ada sejarah panjang, dan ada relasi kuasa yang tidak selalu adil.

Dengan latar belakang hukum yang kuat, para penulis menyusun pembahasan tentang hak dan warisan budaya secara sistematis. Namun menariknya, buku ini tidak terasa sepenuhnya berjarak dari pembaca awam. Istilah hukum dijelaskan perlahan, konteksnya diperluas, dan persoalan budaya ditarik ke realitas yang sering kita temui: klaim budaya, eksploitasi tradisi, hingga lemahnya perlindungan terhadap masyarakat adat. Membacanya seperti diajak duduk tenang, berpikir ulang, dan mengoreksi cara pandang kita selama ini terhadap budaya yang kerap diagungkan, tetapi jarang benar-benar dijaga.

Bagi penulis, pendidik, dan pegiat literasi, buku ini punya relevansi yang kuat. Ia menyentil kesadaran bahwa cerita rakyat, pengetahuan lokal, bahkan praktik budaya yang dituliskan ulang dalam buku atau konten digital, bukanlah ruang bebas nilai. Ada tanggung jawab moral dan hukum yang melekat di dalamnya. Budaya bukan sekadar sumber inspirasi, melainkan amanah yang menuntut kehati-hatian dan keberpihakan.

Memang, tidak bisa dipungkiri, ada bagian-bagian buku yang menuntut konsentrasi lebih. Latar akademik penulis membuat beberapa pembahasan terasa padat dan serius. Namun justru di situlah kekuatannya. Buku ini tidak berusaha menjadi ringan dengan mengorbankan kedalaman. Ia memilih jujur pada kompleksitas persoalan, sambil tetap membuka ruang bagi pembaca untuk belajar dan bertumbuh.

Menutup buku ini, saya tidak merasa menjadi orang yang paling paham tentang budaya dan hukumnya. Sebaliknya, saya merasa diingatkan bahwa selama ini kita terlalu sering merayakan budaya tanpa benar-benar memikirkan perlindungannya. Buku Pintar Hak dan Warisan Budaya tidak menawarkan jawaban instan, tetapi menghadirkan kesadaran yang penting: bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan tanggung jawab hari ini, yang seharusnya dijaga dengan pengetahuan, etika, dan keberanian untuk berpihak pada pemilik aslinya.




HAKI dan Kontrak Digital: Tentang Karya, Kesadaran, dan Keberanian Penulis Menjaga Haknya

 



Menulis itu sering lahir dari hal-hal yang sederhana. Dari keresahan, dari luka kecil yang tak sempat diceritakan, dari kegembiraan yang ingin dibagi. Tapi begitu tulisan itu bertemu platform digital dan kontrak publisher, ceritanya berubah. Tidak lagi sekadar soal rasa, tapi juga soal hak.

Di titik inilah banyak penulis mulai gamang. Antara ingin dibaca banyak orang dan takut kehilangan kendali atas karyanya sendiri. Saya juga ikut merasakannya. Ketika kita tak punya lagi hak atas karya dan ketidakjujuran publisher dalam mengadaptasi naskah-naskah kita dalam bentuk karya lain. Publisher/platform bisa menjual karya kita secara komersil tanpa sepengetahuan dari penulis dan itu sangat merugikan penulisnya.

Saya sering melihat penulis—terutama penulis digital—berada di persimpangan yang sunyi: menerima tawaran kontrak dengan perasaan campur aduk, antara bangga, takut, dan bingung. Bangga karena karyanya dilirik. Takut karena belum benar-benar paham isi kontraknya. Bingung karena istilah hukum terasa jauh dari dunia imajinasi yang biasa mereka tinggali.

Padahal, di situlah HAKI bekerja.


HAKI: Hak yang Diam-Diam Menentukan Masa Depan Karya

HAKI—Hak Atas Kekayaan Intelektual—sering terdengar kaku dan legalistik. Seolah hanya urusan pengacara dan pejabat. Padahal bagi penulis, HAKI adalah rumah tempat karya itu pulang.

Dalam hukum Indonesia, hak cipta atas sebuah karya lahir secara otomatis sejak karya tersebut diwujudkan dalam bentuk nyata. Artinya, begitu tulisan ditulis dan dipublikasikan, penulis secara hukum adalah pemilik sahnya. Tidak perlu menunggu didaftarkan lebih dulu.

Masalahnya bukan pada kepemilikan awal, melainkan pada apa yang terjadi setelah kontrak ditandatangani.

Banyak penulis tidak benar-benar kehilangan karyanya karena dijiplak, tapi karena secara sadar menyerahkannya lewat perjanjian yang tidak dipahami sepenuhnya.


Ketika Kontrak Dibaca dengan Terburu-buru

Dunia platform digital bergerak cepat. Tawaran datang dengan tenggat waktu. Kadang disertai janji: promosi, pembaca besar, peluang cetak, bahkan adaptasi.

Di titik ini, penulis sering lupa satu hal penting:
kontrak bukan sekadar formalitas, melainkan peta kekuasaan atas karya.

Ada kontrak yang secara halus memindahkan hak cipta, hak ekonomi, hingga hak turunan (adaptasi, cetak, film, audio).

Kalimatnya sering rapi, dingin, dan tampak “standar”. Tapi di situlah letak bahayanya. Karena standar bagi publisher belum tentu adil bagi penulis.


Menyikapi Tawaran Kontrak: Tidak Melawan, Tapi Sadar Posisi

Menyikapi kontrak bukan berarti harus curiga berlebihan. Tapi juga bukan berarti pasrah.

Kesadaran paling mendasar yang perlu dimiliki penulis adalah ini:
publisher adalah mitra distribusi, bukan pemilik ide.

Kontrak yang sehat seharusnya:

  • mengakui hak cipta tetap milik penulis,

  • memberi lisensi yang jelas dan terbatas pada publisher,

  • mencantumkan durasi kerja sama,

  • serta menjelaskan pembagian hak jika karya dikembangkan ke bentuk lain.

Menanyakan hal-hal ini bukan tanda penulis sulit diajak kerja sama. Justru sebaliknya, itu tanda bahwa penulis memahami nilai karyanya sendiri.


Antara Idealisme dan Realitas

Saya paham, tidak semua penulis berada pada posisi yang ideal. Ada yang menulis sambil bekerja, sambil menjahit, sambil mengurus rumah, sambil bertahan hidup. Tidak semua punya kemewahan untuk menolak kontrak.

Tapi setidaknya, penulis bisa memilih untuk tidak buta. Membaca perlahan. Mencatat poin yang tidak dipahami  dan bertanya.

Dan jika perlu, menunda.

Karena karya bisa ditulis ulang. Tapi hak yang terlepas sering kali tidak pernah kembali.


Menulis dengan Hati, Menandatangani dengan Kesadaran

Dunia kepenulisan digital akan terus berkembang. Platform akan datang dan pergi. Tapi satu hal yang seharusnya tetap ialah posisi penulis sebagai pemilik karya.

HAKI bukan tentang keserakahan. Ia tentang keberlanjutan. Tentang memastikan bahwa suara penulis tidak hanya ramai hari ini, tapi juga berdaulat di masa depan.

Menulis memang soal hati. Namun, menjaga hak atas tulisan adalah soal kesadaran diri sebagai kreator. Dan keduanya tidak pernah saling bertentangan.

Maka, pilihlah tempat menulis di mana tulisan dan kerja kerasmu benar-benar dihargai dan kamu memiliki hak penuh atas karyamu sendiri.


Sumber Referensi:

  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta
    (Sebagai dasar hukum utama perlindungan karya tulis di Indonesia)

  2. Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI
    https://www.dgip.go.id
    (Informasi resmi tentang hak cipta dan HAKI)

  3. World Intellectual Property Organization (WIPO)
    https://www.wipo.int
    (Panduan internasional tentang hak kekayaan intelektual bagi kreator)

  4. Lindsey, T. et al. (2018). Hak Kekayaan Intelektual: Suatu Pengantar.
    Jakarta: PT Alumni.

Perfect Hero Bab 394 : Salah Paham

 


Ratna tersenyum sambil menatap tubuhnya di depan cermin. “Bajunya cantik banget!” pujinya pada diri sendiri. “Hmm ... Mas Surya beliin khusus buat aku. Pasti, karena dia sebenarnya suka sama aku.”

 

Surya selalu memperlakukan semua pekerja dan pelayan di rumahnya dengan baik. Hal ini, membuat Ratna merasa kalau Surya mencintai dirinya. Semakin hari, membuat Ratna semakin terobsesi pada tuan muda di rumah itu.

 

“Bi, biar aku yang antar kopi untuk Mas Surya!” pinta Ratna sambil terus tersenyum.

 

“Nggak usah, biar Bibi aja!”

 

“Kenapa?”

 

“Ratna, kamu harus sadar sama apa yang sudah kamu lakukan. Mas Surya, sebentar lagi akan menikah. Kamu jangan terus-menerus mendekati dia!”

 

Ratna menyeringai. “Bi, Mas Surya itu sayang sama Ratna!” tegasnya.

 

“Itu cuma perasaan kamu aja!”

 

“Nggak. Selama ini, dia selalu memperlakukan aku dengan baik. Dia juga perhatian sama aku.”

 

“Mas Surya perhatian sama semua orang. Tapi, dia cuma mau menikahi Mbak Nada. Kamu jangan ngimpi!” Bibi tersebut langsung bergegas pergi meninggalkan Ratna.

 

Ratna mengerutkan wajah sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Pembantu nyebelin!” umpatnya. “Awas aja kalo aku beneran nikah sama Mas Surya. Kamu langsung aku pecat!”

 

Ratna terus berusaha selalu ada di dekat Surya. Ia tetap saja merasa kalau Surya mencintainya walau ia mengetahui kalau bosnya itu akan segera menikah dengan wanita lain.

 

 

 

Surya, selalu bekerja keras mengembangkan perusahaannya. Hampir setiap hari ia menghabiskan waktunya di tempat kerja. Seperti biasa, jam sebelas malam, Surya baru pulang kerja karena harus lembur. Ratna selalu menunggu dan menyambutnya dengan ceria.

 

“Sini, Mas. Biar aku bawain tasnya!” pinta Ratna.

 

“Makasih ...!” ucap Surya sambil tersenyum ke arah Ratna. Ia senang melihat pelayan yang bekerja dengan gigih dan penuh inisiatif untuk melayani dirinya.

 

Ratna terus tersenyum sambil melangkah mengikuti Surya sampai ke kamarnya.

 

“Taruh di situ aja!” perintah Surya sambil menunjuk meja yang ada di kamarnya.

 

Ratna mengangguk sambil tersenyum. Ia terus tersenyum sambil menatap Surya yang sedang melepas jas dan dasinya.

 

“Ngapain masih di sini?” tanya Surya.

 

“Eh!? Nggak papa, Mas. Saya permisi dulu!”

 

Surya tersenyum. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur. “Tutup pintu!” perintahnya.

 

Ratna melangkahkan kakinya keluar kamar sambil tersenyum. Ia menutup pintu kamar Surya perlahan dan melangkah menuruni anak tangga.

 

Surya menoleh ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup. Ia menghela napas dan memejamkan matanya perlahan.

 

Di bawah tangga, Nyonya Besar pemilik rumah itu berdiri menatap Ratna yang baru saja turun dari kamar anaknya.

 

“Nyonya ...!?” Ratna langsung menghentikan langkahnya.

 

“Kamu ngapain ke kamar anak saya malam-malam gini?” tanya Lela, mama Surya.

 

“Sa ... Saya ... anu, Nyonya. Saya abis melayani Mas Surya.”

 

“Apa!?” Lela langsung naik pitam begitu mendengar pernyataan Ratna. “Kamu sadar nggak sama apa yang sudah kamu lakukan, hah!? Surya itu sudah mau nikah sama Nada. Bisa-bisanya kamu godain anak saya!”

 

“Nyonya, ampuni saya!” pinta Ratna sambil berlutut di hadapan Lela. “Saya benar-benar mencintai Mas Surya. Mas Surya juga sangat menyayangi saya.”

 

“Nggak mungkin!” seru Lela. “Gimana bisa Surya suka sama pembantu kayak kamu!? Pasti kamu yang sudah godain anak saya, kan?”

 

“Nyonya, kami beneran saling mencintai.”

 

“Surya sudah mau menikahi Nada. Gimana bisa mencintai kamu?”

 

“Nyonya, Mbak Nada itu seorang Vixen. Mas Surya cuma pura-pura sayang sama dia. Perempuan yang sebenarnya dia cintai adalah saya,” jawab Ratna.

 

Lela menekan dadanya yang terasa sesak. Ia masih tidak percaya kalau putera kesayangannya telah mempermainkan hubungannya dengan wanita.

 

Di kamarnya, Surya yang baru saja menutup mata, langsung terganggu dengan suara keributan yang terdengar dari bawah.

 

“Ada apa sih ribut-ribut malam-malam gini?” gumam Surya sambil bangkit dari tempat tidur. Ia melempar dasinya ke atas tempat tidur dan membiarkan semua kancing kemejanya terbuka. Ia bergegas keluar dari kamar dan melangkah menuruni anak tangga.

 

“Ada apa ini?” tanya Surya sambil menatap Ratna yang berlutut di depan mamanya.

 

Lela langsung membungkam mulutnya saat melihat dada Surya yang telanjang. “Kamu ...!? Beneran ada main sama pembantu ini?”

 

“Hah!?” Surya menatap tubuhnya sendiri. Ia buru-buru mengancing kemejanya dan bergegas menghampiri mamanya. “Ma, ini cuma salah paham.”

 

“Dia udah mengakui apa yang sudah kalian lakukan. Sebentar lagi, kamu mau menikah. Kelakuan kamu malah kayak gini!” seru Lela kesal.

 

“Ma, aku nggak ngapa-ngapain sama dia,” sahut Surya. Ia menoleh ke arah Ratna. “Jelasin ke mamaku kalo kita nggak ngapa-ngapain!” pinta Surya.

 

Ratna malah terisak sambil menundukkan kepalanya. “Mas Surya, saya sudah melayani Mas Surya dengan baik. Sampai kapan harus menyembunyikan ini semua? Ratna juga punya hati. Mas Surya kenapa tega meniduri Ratna kalau ingin menikah dengan wanita lain?”

 

Surya membelalakkan matanya. “Heh, kamu jangan ngada-ngada. Kapan aku nidurin kamu!?”

 

Ratna semakin terisak mendengar pertanyaan Surya.

 

Lela semakin sesak melihat Ratna yang terisak di depannya. Tubuhnya sempoyongan, lututnya tak lagi punya kekuatan untuk berdiri tegak.

 

“Ma ...!” Surya langsung memapah Ratna untuk duduk di sofa.

 

“Surya, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan kamu sendiri. Gimana bisa kamu mencintai dua wanita sekaligus?” tanya Lela sambil memijat keningnya yang berdenyut.

 

“Ma, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ratna. Aku cuma cinta sama Nada. Cuma dia yang bakal jadi istriku,” tutur Surya.”

 

“Gimana sama dia?” tanya Lela sambil menatap Ratna yang masih terduduk di lantai sambil terisak.

 

Surya menghela napas. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kebaikannya selama ini, justru disalah artikan oleh Ratna dan membuat wanita itu semakin terobsesi pada dirinya hingga berani mengatakan kebohongan di depan semua orang.

 

“Ratna, selama ini aku selalu baik sama kamu. Apa ini caramu membalas kebaikanku?” tanya Surya sambil menatap Ratna.

 

Ratna tetap tak menghentikan tangisnya. “Mas, saya sangat mencintai Mas Surya. Saya rela melakukan apa pun untuk Mas Surya. Kenapa malah membuang saya setelah saya menyerahkan semuanya untuk Mas Surya?”

 

“Kamu ...!?” Surya geram melihat sikap Ratna yang sengaja memfitnah dirinya. Selama ini, ia bersikap baik pada pelayan-pelayan di rumahnya karena memiliki latar belakang kehidupan yang tidak mampu. Ia tidak ingin menjadi orang yang menindas orang yang lemah.

 

“Surya, Mama tidak akan menghalangi hubungan kalian kalau memang kalian saling mencintai. Tidak perlu harus bersikap seperti ini. Pilihlah salah satu! Ratna atau Nada?”

 

“Ma, jangan kasih aku pilihan!” pinta Surya.

 

“Kenapa? Kamu nggak bisa memilih siapa yang seharusnya bersanding dengan kamu? Kamu mau nikahi dua-duanya?”

 

Surya menggelengkan kepala. “Mama nggak perlu membuatkan pilihan. Sampai mati pun, aku tetap mencintai Nada!” tegasnya.

 

Surya menoleh ke arah Ratna. “Ratna, kamu jangan terus-menerus bikin fitnah. Aku nggak pernah nyentuh kamu sedikit pun. Kamu kebanyakan nonton drama, makanya jadi halu! Kalo kamu masih bikin kebohongan terus, aku bakal usir kamu dari rumah ini!” seru Surya kesal.

 

Ratna menggelengkan kepalanya sambil terisak. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau tinggal di mana?”

 

“Terserah, mau tinggal di kolong jembatan, kek. Terserah kamu! Asal nggak tinggal di rumah ini!”

 

Ratna menundukkan kepalanya ke lantai. “Jangan usir saya, Mas! Saya mau ngelakuin apa pun, asal jangan usir saya dari sini!”

 

Surya terdiam selama beberapa saat. Ia merasa iba melihat Ratna yang terus berlutut di hadapannya. “Sudahlah. Jangan nangis lagi!” pintanya. “Masuk ke kamar kamu dan jangan bikin ulah lagi!”

 

Ratna mengangguk. Ia tersenyum kecil sambil melirik Surya dan mamanya. Ia bergegas bangkit dari lantai dan melangkah pergi. Ia terus tersenyum sambil mengusap air matanya. Melihat kemarahan Surya, ia justru merasa sangat diperhatikan. Hal ini membuatnya tak ingin berhenti mendapatkan kasih sayang dari majikannya itu.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah support cerita ini terus. Doain author cepet sehat biar bisa nulis banyak bab setiap harinya supaya tetap bertahan di Top Rank.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas